Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

Setiap tahunnya diperkirakan terjadi 7.6 juta kematian perinatal di seluruh dunia,
dimana 57% diantaranya merupakan kematian fetal atau intrauterine fetal death (IUFD).
Sekitar 98% dari kematian perinatal ini terjadi di negara yang berkembang. Kematian janin
dapat terjadi antepartum atau intrapartum dan dapat menyebabkan komplikasi yang
berbahaya dalam kehamilan. Insiden kematian janin ini bervariasi diantara negara. Hingga
saat ini, IUFD masih menjadi masalah utama dalam praktek obstretrik.
WHO dan American College of Obstetricians and Gynecologist menyatakan Intra
Uterine Fetal Death ( IUFD ) adalah kematian pada fetus dengan berat lahir 500 gram atau
lebih. Menurut United States National Center for Health Statistic, kematian janin atau fetal
death dibagimenjadi Early Fetal Death, kematian janin yang terjadi pada usia kehamilan
kurang dari 20 minggu, Intermediate Fetal Death, kematian janin yang berlangsung antara
usia kehamilan 20-28 minggu dan Late Fetal Death, kematian janin yang berlangsung pada
usia lebih dari 28 minggu.
Angka kematian janin termasuk dalam angka kematian perinatal yang digunakan
sebagai ukuran dalam menilai kualitas pengawasan antenatal. Angka kematian perinatal di
Indonesia tidak diketahui dengan pasti karena belum ada survei yang menyeluruh. Angka
yang ada ialah angka kematian perinatal dari rumah sakit besar yang pada umumnya
merupakan referral hospital, sehingga belum dapat menggambarkan angka kematian
perinatal secara keseluruhan. Penyebab kematian janin bersifat multifaktorial baik dari
faktor fetal, maternal, plasenta, maupun iatrogenik dengan 25 35 % kasus tidak diketahui
penyebabnya. Untuk dapat menentukan penyebab pasti harus dilakukan pemeriksaan
autopsi.
Diagnosis dini dalam kasus kematian janin adalah melalui pemantauan
kesejahteraan janin serta pemeriksaan kehamilan antenatal care yang teratur. Berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dapat menegakkan diagnosis
kematian janin intra uterin.
Penatalaksanaan kematian janin intra uterin ialah melakukan terminasi kehamilan
yangdapat dilakukan melalui penanganan ekspektatif dan penanganan aktif. Ada beberapa
metodeterminasi kehamilan pada kematian janin intra uterin, yaitu dengan induksi
persalinan per vaginamdan persalinan per abdominam (Sectio Caesaria). Pemeriksaan
kehamilan (antenatal care) sangat berperan penting dalam upaya pencegahan kematian
janin dan secara tidak langsung dapat menurunkan angka kematian janin.
1

BAB II KASUS
2.1 Identitas Pasien
Nama

: Ny. N

Nama suami: Tn. U

Usia

: 30 tahun

Usia

: 45 tahun

Alamat

: Benteng Tengah RT 07 RW 02

Alamat

: Benteng Tengah RT 07 RW 02

Pendidikan: SMP

Pendidikan : SMP

Pekerjaan : IRT

Pekerjaan

: Buruh

Masuk tanggal: 17 Januari 2014 pukul 10.40


Tanggal Pemeriksaan: 18 Januari 2014 jam 15.00

2.2 Anamnesa

Keluhan Utama
Pasien merasa janin tidak bergerak.

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien merasa janin tidak bergerak sejak 4 hari SMRS. Pasein mengaku hamil 7
bulan. Pasien juga mengeluh pusing dan kesemutan pada ujung-ujung jarinya, dan
hal tersebut sudah lama sering dirasa. Keluhan seperti keputihan yang gatal dan
berbau, sakit kepala, pandangan kabur, nyeri pada ulu hati, muntah yang terus
menerus, dan sesak nafas disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat hipertensi sejak tahun 2010
Riwayat diabetes mellitus disangkal
Riwayat alergi disangkal
Riwayat asma disangkal
Riwayat trauma disangkal

Riwayat penyakit keluarga: disangkal.

Antenatal Care
6 kali oleh bidan di Puskesmas Benteng. Pada antenatal care didapatkan dari awal
kunjungan yaitu pada usia kehamilan 2 bulan, pasien mengalami hipertensi.

Riwayat Menstruasi
Menarche pada usia 14 tahun
Siklus menstruasi 25 hari
Teratur, lama menstruasi 7 hari dengan pengantian 2 pembalut perhari.
Hari pertama haid terakhir pada 5 Juli 2013.

Riwayat Pernikahan
Istri : menikah 1x pada usia 21 tahun.
Suami: menikah 1x pada usia 26 tahun.

Riwayat Obstetri

No.

Tanggal

1.

2005

Umur

Riwayat

Jenis

Berat

Gestasi

persalian

Kelamin

Badan

38 minggu

PSP

Laki-laki

2800 gram

ASI
+

Kehamilan

2.

ini

Riwayat KB: pil KB pada tahun 2006 hingga tahun 2013.

Riwayat operasi: disangkal

Riwayat kebiasaan: merokok, konsumsi alkohol, jamu, dan obat-obatan disangkal.

2.3 Pemeriksaan Fisik


Status generalis

Keadaan umum: tampak tenang

Kesadaran: kompos mentis

Tanda vital

Tekanan darah: 160/100 mmHg

Frekuensi nadi: 88x/menit

Laju pernafasan: 24x/menit

Temperatur: 36.8 o C
3

Berat badan: 88 kg

Tinggi badan: 155 cm

BMI: 36,62 (obesitas II)

Pemeriksaan Umum

Mata: konjungtiva anemis -/-. Sclera ikterik -/-

Mulut: mukosa oral basah

Leher: tidak ada perbesaran kelenjal tiroid.

Thorax
o Jantung: bunyi jantung I dan II regular, murmur -, gallop
o Paru: bunyi vesikuler +/+, wheezing -/-, rhonki -/o Mammae: hiperpigmentasi areola +/+, retraksi putting -/-, ASI-/-

Abdomen
o Inspeksi: konveks, linea nigra +, striae gravidarum o Palpasi: supel, nyeri tekan -, teraba adanya masa konsepsi,
o Perkusi: timpani pada seluruh kuadran
o Auskultasi: bising usus +, 4 kali per menit

Extrimitas: akral hangat, edema -/-, CRT <2 detik.

Pemeriksaan Obstetrik

HPHT: 5 Juli 2013

Taksiran persalinan: 12 April 2014

Tinggi fundus: 1 jari di atas pusat, 25 cm

Denyut jantung janin: - (Fetal Doppler)

His: -

Leopold :

o Leopold I

: bokong

o Leopold II

: pungung kanan

o Leopold III

: kepala

o Leopold IV

: divergen

Pemeriksaan dalam:
o Pemeriksaan inspekulo tidak dilakukan
o Vaginal toucher: vulva dan vagina tidak tampak kelainan, portio teraba
tebal kaku, tidak ada dilatasi serviks, pendataran 0%.
4

2.4 Pemeriksaan Laboratorium


Hemoglobin: 12.6 g/dL
Hematocrit: 35.9%
Leukosit: 11.000/uL
Trombosit: 397.000/uL
Golongan darah: O/Rh +
Waktu perdarahan: 2 menit
Waktu pembekuan: 8 menit 30 detik
Urine: Protein: 2.5 USG (di poli bagian kandungan):
Janin tunggal
Fetal movement: Heart activities: Kesan: IUFD.

2.6 Resume kasus


Anamnesa
Pasien merasa janin tidak bergerak sejak 4 hari SMRS. Pasein mengaku hamil 7 bulan.
Pasien juga mengeluh pusing dan kesemutan pada ujung-ujung jarinya, dan hal tersebut
sudah lama sering dirasa. Keluhan seperti keputihan yang gatal dan berbau, sakit kepala,
pandangan kabur, nyeri pada ulu hati, muntah yang terus menerus, dan sesak nafas
disangkal.

Status Generalis
Keadaan umum: tampak tenang
Kesadaran: kompos mentis
Tanda vital

Tekanan darah: 160/100 mmHg

Frekuensi nadi: 88x/menit

Laju pernafasan: 24x/menit

Temperatur: 36.8 o C

Berat badan: 88 kg
Tinggi badan: 155 cm
5

BMI: 36,62 (obesitas II)


Pemeriksaan fisik yang lain dalam batas normal

Antenatal care
6 kali oleh bidan di Puskesmas Benteng. Pada antenatal care didapatkan dari awal
kunjungan yaitu pada usia kehamilan 2 bulan, pasien mengalami hipertensi.

Status Obstetrik
Pemeriksaan Obstetrik

HPHT: 5 Juli 2013

Taksiran persalinan: 12 April 2014

Tinggi fundus: 1 jari bawah pusat, 25 cm

Taksiran berat janin: 2015 gram (berdasarkan tinggi fundus uteri)

Denyut jantung janin: - (Fetal Doppler)

His: -

Leopold :

o Leopold I

: bokong

o Leopold II

: pungung kanan

o Leopold III

: kepala

o Leopold IV

: divergen (bagian terbawah belum turun ke PAP)

Pemeriksaan dalam:
o Pemeriksaan inspekulo tidak dilakukan
o Vaginal toucher: vulva dan vagina tidak tampak kelainan, portio teraba
tebal kaku, tidak ada dilatasi serviks, pendataran 0%.

Hasil laboratorium
Protein urin: -

USG (di poli bagian kandungan):


Janin tunggal
Fetal movement: Heart activities: Kesan: IUFD.

2.7 Diagnosis kerja


G2P1A0, usia 30 tahun, gravid 28-29 minggu berdasarkan HPHT, belum inpartu, dengan
hipertensi kronis, dengan janin tunggal mati intrauterus.

2.8 Tatalaksana
persalinan pervaginam
induksi dengan misoprostol (citrosol) per vaginal 100 g
pemasangan metrolisa 80cc
drip oksitoxin pada pembukaan lengkap.
metildopa(dopamet) 3x 500 mg

2.9 Prognosis
Maternal:
Quo ad vitam: bonam
Quo ad functionam: bonam
Quo ad sanationam: bonam

2. 10 Follow up
Tanggal

Keterangan

19/1/2014

S: pusing

06.30

O:
KU: tampak tenang
Kesadaran: kompos mentis
TD: 150/80 mmHg HR: 82x/menit .RR: 24x/menit S: 36.8 C
Mata: konjungtiva anemis -/Abdomen
I: tampak cembung, linea nigra +, striae gravidarum P: supel, nyeri tekan
P: timpani diseluruh quadran
A: bising usus + 4x/menit
Extremitas: akral hangat, CRT <2s Pemeriksaan obstetri
TFU: 1 jari di bawah umbilicus
His: Pemeriksaan dalam:
7

Inspekulo tidak dilakukan


Vaginal toucher: v/v t.a.k, portio tebal lunak, dilatasi serviks 1 cm,
pendataran 10%.
A: G2P1A0, usia 30 tahun, gravid 28-29 minggu berdasarkan HPHT,
belum inpartu, dengan hipertensi kronis, dengan janin tunggal mati
intrauterus.
P:
induksi dengan misoprostol (citrosol) per vaginal 100 g
metildopa(dopamet) 3x 500 mg
17.00

PD: v/v t.a.k, portio tebal lunak, dilatasi serviks 1,5 cm, pendataran 10%.
P: dilakukan pemasangan metrolisa 80cc

21.15

PD: dilatasi serviks 10 cm, pendataran 100%.


Dilakukan induksi dengan oksitoxin 5 UI dimulai dengan 12 tpm yang
dinaikan secara bertahap. Dipimpin meneran saat his adekuat.

21.55

Bayi lahir dengan berat lahir 500 mg dan panjang lahir 30 cm.

22.00

Plasenta lahir dilakukan manual, tali pusat: rapuh, tidak lengkap, selaput
ketuban utuh, hematoma(-), kalsifikasi(-).
P: rencana kuretase

20/1/2014

S: pusing
O:
KU: tampak tenang
Kesadaran: kompos mentis
TD: 150/90 mmHg HR: 88x/menit .RR: 20x/menit S: 36.7 C
Mata: konjungtiva anemis -/Abdomen
I: tampak cembung, linea nigra +, striae gravidarum P: supel, nyeri tekan
P: timpani diseluruh quadran
A: bising usus + 4x/menit
Extremitas: akral hangat, CRT <2s, Pemeriksaan nifas
8

TFU: 2 jari dibawah umbilicus, kontraksi kuat, nyeri tekan Lokia: rubra, 40 cc.
A: P2A0, usia 30 tahun, post partus prematurus, persalian pervaginam
dengan suspek sisa plasenta
P:
rencana kuretase
dopamet 3x500 mg
nifedipine 3x10 mg
21/1/2014

S: pusing
O:
KU: tampak tenang
Kesadaran: kompos mentis
TD: 150/80 mmHg HR: 80x/menit .RR: 22x/menit S: 36.8 C
Mata: konjungtiva anemis -/Abdomen
I: tampak cembung, linea nigra +, striae gravidarum P: supel, nyeri tekan
P: timpani diseluruh quadran
A: bising usus + 4x/menit
Extremitas: akral hangat, CRT <2s.
Pemeriksaan nifas
TFU: 2 jari dibawah umbilicus, kontraksi kuat, nyeri tekan Lokia: rubra, 50 cc.
A: P2A0, usia 30 tahun, post partus prematurus, persalinan pervaginam
dengan suspek sisa plasenta.
P:
rencana kuretase
dopamet 3 x 500 mg
nifedipine 3 x 10 mg
mefinal 3x 500 mg

10.00

Dilakukan kuretase

22/1/2014

S: pusing
O:
9

KU: tampak tenang


Kesadaran: kompos mentis
TD: 130/80 mmHg HR: 82x/menit.RR: 24x/menit S: 36.8 C
Mata: konjungtiva anemis -/Abdomen
I: tampak cembung, linea nigra +, striae gravidarum P: supel, nyeri tekan
P: timpani diseluruh quadran
A: bising usus + 4x/menit
Extremitas: akral hangat, CRT <2s.
Pemeriksaan nifas
TFU: 2 jari dibawah umbilicus, kontraksi kuat, nyeri tekan Lokia: rubra, 30 cc.
A:P2A0, usia 30 tahun, post partus prematurus, persalinan pervaginam dan
post kuretase atas indikasi suspek sisa plasenta.
P:
pasien boleh pulang.

10

BAB III PEMBAHASAN KASUS


3.1 Permasalahan:
1) Apakah diagnosis pada pasien ini sudah tepat?
2) Apakah penatalaksanaan pada kasus ini sudah tepat?
3) Bagaimana prognosa kehamilan untuk pasien ini?

3.2 Pembahasan
1) Apakah diagnosis pada pasien ini sudah tepat?
Pada kasus ini pasien merasa janin tidak bergerak sejak 4 hari SMRS. Pasien
mengaku hamil 7 bulan. Pasien juga mengeluh pusing dan kesemutan pada ujung-ujung
jarinya, dan hal tersebut sudah lama sering dirasa. Keluhan seperti keputihan yang gatal
dan berbau, sakit kepala, pandangan kabur, nyeri pada ulu hati, muntah yang terus
menerus, dan sesak nafas disangkal. Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak tahun 2010,
sudah berobat ke dokter tetapi tidak teratur dan diberikan captopril. Pada saat hamil pasien
berhenti minum obat tersebut. Dari anamnesis, dapat disimpulkan: 1) maternal:
kemungkinan menderita hipertensi kronis atau terjadi hipertensi kronis superimpose
preeclampsia 2) janin: kemungkinan kesejahteraan janin kurang baik atau telah
terjadi kematian janin (IUFD).

Hipertensi dalam Kehamilan


Berdasarkan Report of the National High Blood Pressure Education Program
Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy tahun 2001, hipertensi dalam
kehamilan diklasifikasikan:1
1. Hipertensi kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum kehamilan atau sebelum
umur kehamilan 20 minggu atau hipertensi pertama kali didiagnosis setelah umur
20 minggu dan tetap menetap setelah 12 minggu pasca persalinan.
2. Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu dan disertai dengan
proteinuria.
3. Eklampsia adalah preeclampsia yang disertai dengan kejang-kejang dan/atau koma
4. Hipertensi kronis superimposed preeclampsia adalah hipertensi kronik disertai
tanda-tanda preeclampsia atau hipertensi kronis disertai dengan proteinuria.
5. Hipertensi gestational adalah hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai
dengan proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 12 minggu pasca persalinan.
11

Pada kasus, pasien mengalami hipertensi sejak tahun 2010 dan pada saat antenatal
case didapatkan pada usia kehamilan 2 bulan, pasien mengalami hipertensi, pada
pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 160/100, dan pada pemeriksaan
laboratorium urin tidak ditemukan proteinuria dapat disimpulkan bahwa ibu
mengalami hipertensi kronis dalam kehamilan.
Hipertensi kronis1
Hipertensi kronis dalam kehamilan merupakan hipertensi yang terjadi sebelum
kehamilan atau sebelum usia kehamilan 20 minggu atau setelah usia kehamilan 20 minggu
dan menetap setelah 12 minggu pasca persalinan dengan tekanan darah sistol 140 mmHg
dan/ atau diastole 90 mmHg. Penyebab dari hipertensi kronis 90% idiopatik (primer) dan
10% berhubungan dengan penyakit ginjal, kolagen vascular, endokrin, dan pembuluh
darah. Diagnosis berdasarkan terjadinya hipertensi, yaitu sebelum kehamilan atau sebelum
usia kehamilan 20 minggu atau setelah usia kehamilan 20 minggu dan menetap setelah 12
minggu pasca persalinan dan tekanan darah sistol 140 mmHg dan/ atau diastole 90
mmHg tanpa disertai dengan proteinuria. Karakteristik dari hipertensi kronik yaitu umur
ibu relatif tua diatas 35 tahun, tekanan darah sangat tinggi, umumnya multipara, umumnya
ditemukan kelainan jantung, ginjal, dan diabetes mellitus, obesitas, penggunaan
antihipertensi sebelum kehamilan, dan hipertensi menetap setelah 12 minggu pasca
persalinan.
Hipertensi kronis pada kehamilan dapat berdampak terhadap ibu dan janin. Pada
pasien yang terkontrol hipertensinya tidak berpengaruh buruk terhadap kehamilan, tetapi
tetap memiliki resiko terjadinya solusio plasenta, ataupun superimposed preeklampsia.
Hipertensi kronis dapat diperburuk oleh kehamilan yang ditandai dengan kenaikan
mendadak dari tekanan darah dan disusul dengan adanya proteinuria, tekanan darah sistol
>200 mmHg dan diastole >130 mmhg, dengan akibat segera terjadinya oligouria dan
gangguan ginjal. Dampak pada janin yaitu dapat menyebabkan pertumbuhan janin
terhambat yang disebabkan karena terjadinya insufisiensi uteroplasenta dan kelahiran
prematur.
Pemeriksaan penunjang berupa EKG, pemeriksaan mata (terdapat papilledema),
USG ginjal, dan pemeriksaan lab, yaitu fungsi ginjal, fungsi hepar, Hb, Ht, dan trombosit.
Dilakukan juga pemeriksaan KTG untuk menilai kesejahteraan janin dan USG janin untuk
mengetahui keadaan janin, seperti IUGR.

12

Pada kasus, pasien memiliki karakteristik: tekanan darah sangat tinggi,


multipara, obesitas, dan penggunaan antihipertensi sebelum kehamilan. Hal tersebut
memperkuat diagnosis hipertensi kronis pada kehamilan.

Kematian janin dalam kehamilan


Menurut WHO dan the American Collage of Obstetricians and Gynecology,
kematian janin adalah janin yang mati dalam rahim dengan berat badan 500 gram atau
lebih atau kematian janin pada usia 20 minggu atau lebih. Kematian janin merupakan hasil
akhir dari gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, atau infeksi.1
25-60% kasus penyebab kematian janin tidak jelas. Kematian janin dapat
disebabkan oleh faktor maternal, fetal, atau kelainan patologis plasenta. Faktor maternal
antara lain adalah post term, diabetes mellitus tidak terkontrol, SLE, infeksi, hipertensi,
preeclampsia, eklampsia, hemoglobinopati, umur ibu tua, penyakit rhesus, rupture uteri,
antifosfolipid sindrom, hipotensi akut, dan kematian ibu. Faktor fetal antara lain adalah
hamil kembar, IUGR, kelainan kongenital, kelainan genetic, dan infeksi. Faktor plasenta
antara lain kelainan tali pusat, lepasnya plasenta, ketuban pecah dini, dan vasa previa.
Untuk faktor resiko terjadinya kematian janin, yaitu usia ibu >40 tahun, pada ibu yang
infertil sebelumnya, hemokonsentrasi pada ibu, riwayat bayi dengan berat badan lahir
rendah, infeksi pada ibu (Ureaplasma urealitikum), kegemukan, dan ayah berusia lanjut.1
Pada penelitian yang dilakukan oleh Ezechi O.C., et al, penyebab kematian janin yaitu
hipertensi dalam kehamilan 21.6%, diabetes mellitus yang tak terkontrol 16.2%,
korioamnionitis 13.5%, insufisiensi plasenta 10.8%, trauma solusio plasenta 5.4%,
HIV/AIDS 5.4%, dan tidak diketahui penyebabnya 13.5%.2
Menurut United States National Center for Health Statistic kematian janin dapat
dibagi menjadi 4 golongan, yaitu: 1. Golongan I : kematian sebelum massa kehamilan
mencapai 20 minggu penuh (early fetal death) 2. Golongan II : kematian sesudah ibu hamil 20-28
minggu (intermediate fetal death) 3. Golongan III : kematian sesudah masa kehamilan >28 minggu (late
fetal death) 4. Golongan IV : kematian yang tidak dapat digolongkan pada ketiga golongan di atas.3
Bila janin mati dalam kehamilan yang telah lanjut terjadilah perubahan- perubahan
sebagai berikut :3

Rigor mortis: berlangsung 2,5 jam setelah mati, kemudian lemas kembali.

Maserasi grade 0 (durasi < 8 jam): kulit kemerahan.

Maserasi grade I (durasi > 8 jam): timbul lepuh-lepuh pada kulit, mula-mula terisi cairan jernih tapi
kemudian menjadi merah dan mulai mengelupas.
13

Maserasi grade II (durasi 2-7 hari): kulit mengelupas luas, efusi cairan serosa di rongga
toraks dan abdomen. Lepuh-lepuh pecah dan mewarnai air ketuban menjadi merah coklat.

Maserasi grade III (durasi >8 hari): Hepar kuning kecoklatan, efusi cairan keruh,
mungkin terjadi mumifikasi. Badan janin sangat lemas, hubungan antara tulangtulang sangat longgar dan terdapat oedem dibawah kulit.
Riwayat dan pemeriksaan fisik sangat terbatas nilainya dalam membuat diagnosis

kematian janin. Umumnya hanya mengeluh geraj janin berkurang. Pada pemeriksaan fisik
tidak ditemukan adanya denyut jantung janin. Diagnosis pasti ditegakkan dengan
pemeriksaan USG, dimana tidak tampak adanya gerakan jantung janin. Pada anamnesa
didapatkan gerakan menghilang. Pada pemeriksaan pertumbuhan janin tidak ada yang
terlihat dari tinggu fundus uterus yang menurun, berat badan ibu yang menurun, dan
lingkar perut ibu yang mengecil. Dengan fetoskopi dan Doppler tidak dapat didengar
adanya bunyi jantung janin. Dengan sarana penunjang diagnosis lain yaitu USG, tampak
gambaran janin tanpa tanda kehidupan. Dengan foto radiologic setelah 5 hari tampak
tulang kepala kolaps, tulang kepala saling tumpang tindih (gejala spalding), tulang
belakang hiperfleksi, tampak gambaran gelembung-gelembung gas pada jantung dan
pembuluh darah. Pemeriksaan B-hCG urin menjadi negatif sekitar 7 hari setelah kematian
janin. Untuk mencari sebab pasti kematian harus dilakukan otopsi janin, pemeriksaan
plasenta, dan selaput ketuban. Analisis kromosom diperlukan untuk mengetahui penyebab
kematian janin akibat kelainan kromosom.1
Komplikasi yang sering terjadi yaitu DIC dan trauma psikis pada ibu dan keluarga. 1
DIC terjadi 10% pada kematian janin hingga 4 minggu dalam kehamilan, dan 30% pada
janin lebih dari 4 minggu dalam kehamilan.4
Pada kasus, dari anamnesa pasien mengeluh janin yang tidak bergerak selama
4 hari SMRS dan riwayat hipertensi kronis, dari pemeriksaan fisik didapatkan
tekanan darah 160/100 mmHg dan tinggi fundus uteri yang tidak sesuai dengan
umur kehamilan, dari pemeriksaan fetal Doppler tidak ditemukan adanya denyut
jantung janin, dan dikonfirmasi dengan USG yang tidak ditemukan adanya gerakan
dan adanya aktivitas jantung, saat dilahirkan bahwa berat badan lahir 500 gram
dapat disimpulkan bahwa telah terjadi kematian janin dalam kehamilan. Pada janin
yang telah dilahirkan terdapat kemerahan pada kulit, kulit mulai terkelupas, dan
terdapatnya bula menunjukkan bahwa telah terjadi maserasi janin dengan perkiraan
grade II/III dengan perkiraan kematian lebih dari 8 jam dan kurang dari 2-7 hari.
Perlu dilakukan otopsi untuk mengetahui waktu kematian dan sebab kematian.
14

Dari penampakan luar: maserasi grade I

2)Apakah penatalaksanaan kasus ini sudah tepat?


A. Tatalaksana hipertensi kronis:1
Maternal:
Metildopa dengan dosis awal 3 x 500 mg, maksimal 3 gram/hari.
Ca-channel blocker: Nifedipine oral 10 mg dapat diulang setiap 30 menit dengan
dosis maksimal 120mg/hari.
Target penurunan tekanan darah yaitu sistol 160 mmHg dan/atau diastole 110
mmHg atau penurunan MAP sebanyak 20%.
Janin:
NST dan USG untuk memantau kesejahteraan janin dan mendeteksi adanya
gangguan pertumbuhan janin
Obstetri:
Kehamilan tetap dipertahankan hingga usia kehamilan cukup bulan. Bila terjadi
IUGR, tatalaksana tergantung usia kehamilan. Bila aterm dapat diinduksi dan
dilahirkan dapat secara pervaginam atau SC. Bila premature, diberikan injeksi
kortikosteroid, kemudian dilahirkan dengan induksi dan pervaginam atau SC. Bila
terjadi gawat janin dilakukan SC.

15

Pada kasus tatalaksana untuk hipertensi kronis sudah tepat dengan pemberian
metildopa dengan dosis 3 x 500 mg.
B. Tatalaksana kematian janin intrauterus3
1. Melakukan pemeriksaan konfirmasi dengan USG yang didapatkan janin tanpa tanda
kehidupan, aktivitas jantung janin, ukuran kepala mengecil, dan cairan ketuban berkurang.
Konfirmasi dengan X Ray setelah 5 hari dengan ditemukan tanda seperti overlapping
tulang tengkorak, hiperfleksi tulang vertebra, gelembung udara pada jantung, dan edema
pada kulit kepala.
2. Dukungan mental emosional perlu diberikan kepada pasien.
3.Inform consent untuk dilakukan diinduksi untuk persalinan pervaginam dan
kemungkinan bila janin sulit dikeluarkan akan dilakukan embriotomi.
4. diperlukannya pemeriksaan trombosit, fibrinogen, waktu perdarahan, waktu pembekuan,
PT, dan APTT untuk mengetahui apakah telah terjadi komplikasi DIC.
5. Bila tidak ada komplikasi, dilakukan penanganan ekspektatif dengan menunggu
persalinan spontan hingga 2 minggu dengan kemungkinan terjadinya persalinan spontan
90%.
6. Bila terjadi penurunan trombosit atau komplikasi DIC, dilakukan penanganan aktif. Bila
serviks matang, dilakukan induksi oksitosin atau prostaglandin. Bila serviks belum matang,
dilakukan pematangan serviks dengan prostaglandin atau dengan foley kateter. Amniotomi
dilakukan saat pembukaan lengkap. Amniotomi tidak dilakukan jika pembukaan belum
lengkap untuk menghindari terjadinya infeksi. SC dilakukan untuk alternatif terakhir.
7. Jika ada tanda infeksi, berikan antibiotika untuk metritis.
8. Setelah janin dilahirkan, dilakukan otopsi dan pemeriksaan histopatologi plasenta untuk
mengetahui penyebab kematian yang pasti. Bila memungkinkan dilakukan pemeriksaan
analisis kromosom.

Berdasarkan pedoman diagnosis dan terapi RS Hasan Sadikin, terminasi pada kematian
janin intrauterus dengan cara:5
Usia kehamilan 21-28 minggu:
o Misoprostol 100g intravaginal dapat diulang tiap 6 jam sesudah pemberian
pertama.
o Pemasangan batang laminaria selama 12 jam.
o Pemberian oksitosin 5 IU dalam D5 mulai dari 20 tpm sampai maksimal 60
tpm.
16

o SC bila upaya persalinan pervaginam gagal atau terdapat plasenta previa


total/parsial, bekas SC, atau letak lintang.
Usia kehamilan >28 minggu:
o Misoprostol 50g intravaginal dapat diulang tiap 6 jam sesudah pemberian
pertama.
o Pemasangan metrolisa 100cc 12 jam sebelum induksi pematangan serviks
o Pemberian oksitosin 5 IU dalam D5 mulai dari 20 tpm sampai maksimal 60
tpm, 40 tetes untuk grande multipara.
o SC bila upaya persalinan pervaginam gagal atau terdapat plasenta previa
total/parsial, bekas SC, atau letak lintang.
Pada kasus, hasil lab trombosit pasien normal, seharusnya dilakukan terapi
ekspektatif terlebih dahulu dengan menunggu selama 2 minggu untuk persalinan
spontan pervaginam dengan dilakukannya pemantauan trombosit. Hal tersebut
meningat bahwa kemungkinan untuk persalinan spontan pervagianam yang tinggi
yaitu 90%.
Pada kasus, pasien diinduksi dengan 100 g misoprostol dan dilakukan
pemasangan metrolisa 80cc. Setelah pembukaan lengkap, pasien diberi drip oxytocin
5 IU dalam RL dimulai dari 12 tpm kemudian ditingkatkan hingga kontraksi
adekuat. Untuk pemasangan metrolisa sebaiknya injeksi air sebanyak 100 cc untuk
hasil yang lebih maksimal.

3. Bagaimana prognosa kehamilan untuk pasien ini?


Prognosis pada pasien dengan kematian janin pada kehamilan baik jika didiagnosa
secara dini. Pada kasus kematian janin intrauterus yang bertahan hingga 4 minggu pada
kandungan dapat terjadi DIC sebesar 10% dan lebih dari 4 minggu dalam kehamilan dapat
terjadi DIC 30%.4 Pada kebanyakan pasien dengan kematian janin intrauterus sering terjadi
trauma psikis sehingga dibutuhkannya dukungan dari dokter, staff medis, dan keluarga
untuk mengatasi hal tersebut.1

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo, Sarwono (2011). Ilmu kebidanan. Jakarta: YBP Sarwono.
2. Ezechi oc. Kalu EKe, Ndububa VI, Nwokoro CA. Induction of Labour by Vaginal
Misoprostol for Intrauterine Fetal Death. Havana Specialist Hospital, 115 Akerele
Extension Surulere, Lagos, Nigeria. J Obstet Gynecollnd Vol. 54, No.6: NovemberDecember 2004
3. Cunningham, F. Gary; Bloom, Steven L.; Gilstrap, Larry; Wenstrom, Katharine D.;
Leveno, Kenneth J.; Hauth, John C. (2005). Williams Obstetrics. New York:
McGraw-Hill.
4. Royal Collage of Obstetricians and Gynecologists. 2010. Late Intrauterine Fetal
Death and Still Birth. NHS Evidence. Green-top Guideline No. 55.
5. K. Sofie R., et all. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi Rumah
Sakit Dr. Hasan Sadikin.

18