Anda di halaman 1dari 10

Viskositas

Tujuan
Mampu menentukan viskositas dari suatu larutan

Prinsip
Berdasarkan prinsip sifat aliran Newtonian dan Non Newtonian

Teori
Rheologi, berasal dari bahasa Yunani, mengalir (rheo) dan logos (ilmu),
digunakan istilah ini untuk pertama kali oleh Bingham dan Crawford, untuk
menggambarkan aliran cairan dan deormasi dari padatan. Viskositas adalah suatu
pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, makin tinggi viskositas, akan
makin besar tahanannya. Seperti akan terihat nanti, cairan sederhana (biasa) dapat
diuraikan dalam istilah viskositas absolute. Tetapi sifat-sifat rheologi disperse
heterogen lebih kompleks dan tidak dapat dinyatakan dalam suatu satuan tunggal.
(Martin,1990)
Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi adalah sebagai berikut:
Sistem Newton dan Sistem non-Newton. Pemilihan bergantung pada sifat-sifat
alirannya apakah sesuai dengan hukum aliran Newton atau tidak. Sistem Newton
menggambarkan bahwa makin besar viskositas suatu cairan, akan makin besar pula
gaya persatuan luas (shearing stress) yang diperlukan untuk menghasilkan suatu
rate of shear tertentu. Oleh karena itu rate of shear harus berbanding langsung
dengan shearing stress atau

Atau

Dimana

adalah koefisien viskositas, biasanya dinyatakan hanya sebagai viskositas

saja.Bila viskositas gas meningkat dengan naiknya temperatur, maka viskositas


cairan justru menurun jika temperatur dinaikkan. Fluiditas dari suatu cairan yang
merupakan kebalikan dari viskositas gas akan meningkat dengan makin tingginya
temperatur. Ketergantungan viskositas terhadap temperatur untuk sebagian besar
zat dinyatakan oleh persamaan yang analog dengan persamaan kinetika kimia
Arrhenius.(Ahmad,2007)
Penggolongan zat/bahan menurut tipe alir
1. Sistem Newtonian
Hukum alir dari Newton diilustrasikan sebagai berikut :
Diasumsikan bahwa ada sebuah balok cairan yang terdiri dari lapisan-lapisan
molekul paralel, bagaikan setumpuk kartu. Jika bidang cairan paling atas
bergerak dengan suatu kecepatan konstan, setiap lapisan di bawahnya akan
bergerak dengan suatu kecepatan yang berbanding lurus dengan jarak dari
lapisan dasar yang tetap diam.
2. Sistem Non - Newtonian
Non Newtonian bodies adalah zat zat yang tidak mengikuti persamaan
aliran

Newton; disperse heterogen cairan dan padatn seperti larutan koloid,

emulsi, suspense cair, salep dan produk produk serupa masuk dalam kelas ini.
Ada tiga kelas aliran yakni
a. Aliran Plastis

Aliran plastic diasosiasikan dengan adanya partikel-partikel terflokulasi dalam


suspense yang pekat. Akibatnya suatu struktur yang kontinu terjadi di seluruh
system. Adanya yield value dikarenakan bergabungnya partikel-partikel (yang
disebabkan gaya Van Der Waals), yang harus dipecahkan sebelum aliran
terjadi. Jadi yield value merupakan suatu indikasi dari gaya flokulasi. Makin
banyak suspense yang terflokulasi, makin tinggi yield valuenya. Gaya-gaya
friksional (geser) antara partikel-partikel yang bergerak dapat juga mempunyai

andil akan adanya yield value. Sesuai dengan bentuk kurva, maka sekali yield
value dilampaui, pemberian tekanan geser selanjutnya (F-f) akan berbanding
lurus dengan kecepatan gesernya, G. Efeknya, system aliran plastic tersebut
akan menyerupai sistem newton.
b. Aliran Pseudoplastis

Sejumlah besar produk farmasi termasuk gom alam dan sintesis, misalnya :
dispersi cair dari traga ileh polimer-polimer dalam larutan, yang merupakan
kebalikan dari sistem plastis, yang tersusun dari partikel-partikel yang
terflokulasi dalam suspensi, kurva konsistensi untuk bahan pseudoplastis
mulai pada titik (0,0) atau paling tidak mendekatinya rate of shear rendah.
Akibatnya, berlawanan dengan Bingham Bodies, tidak ada yield value. Tapi
karena tidak ada bagian kurva yang linier, maka kita tidak dapat menyatakan
viskositas suatu bahan pseudoplastis dengan suatu harga tunggal.

c. Aliran dilatan

Suspensi-suspensi tertentu dengan persentase zat padat terdispersi yang


tinggi menunjukkan peningkatan dalam daya hambat untuk mengalir dengan
peningkatan dalam daya hambat untuk mengalir dengan meningkatnya rate
of share. Pada sistem seperti itu sebenarnya volumenya meningkat jika
terjadi shear dan oleh karena itu diberi istilah dilatan. (Martin,1990)
Istilah Viskositas merupakan pengukuran dari ketahanan fluida yang diubah baik
dengan tekanan maupun tegangan. Pada masalah sehari-hari (dan hanya untuk
fluida), viskositas adalah "Ketebalan" atau "pergesekan internal". Oleh karena itu, air
yang "tipis", memiliki viskositas lebih rendah, sedangkan madu yang "tebal",
memiliki viskositas yang lebih tinggi. Sederhananya, semakin rendah viskositas suatu
fluida, semakin besar juga pergerakan dari fluida tersebut. (Rachmat,2006)
Aliran viskos adalah aliran zat cair yang mempunyai kekentalan (viskositas).
Kekentalan adalah sifat zat cair untuk melawan tegangan geser pada waktu

bergerak/mengalir. Kekentalan disebabkan karena kohesi antara partikel zat cair. Zat
cair ideal tidak mempunyai kekentalan. Aliran viskos dapat dibedakan menjadi dua
macam. Apabila pengaruh kekentalan (viskositas) adalah cukup dominan sehingga
partikel-partikel zat cair bergerak secara teratur menurut lintasan lurus maka aliran
disebut laminer. Aliran laminer terjadi apabila kekentalan besar dan kecepatan
aliran kecil. Dengan berkurangnya pengaruh kekentalan atau bertambahnya
kecepatan maka aliran akan berubah dari laminer manjadi turbulen. Pada aliran
turbulen partikel-partikel zat cair bergerak secara tidak teratur.(Satyjit,2009)
Bila fluida diberi tegangan geser, maka ia akan mengalami perubahan bentuk,
dengan kata lain ia mengalami regangan geser. Selain itu bagian yang terkena
tegangan geser, langsung akan bergerak inilah yang disebut sebagai aliran. Jadi
jelaslah bahwa zat padat tidak tergolong fluida, karena bila dikenai tegangan geser
zat padat tidak akan mengalir. Osborne Reynolds berpendapat bahwa tipe aliran
tergantung dari kecepatan, kerapatan dan kekentalan dari cairan dan ukuran dari
tempat mengalirnya dan tergantung pula dari angka Reynolds.(Didik,2008)
Kekentalan zat cair menyebabkan terbentuknya gaya-gaya geser antara dua
elemen zat cair. Keberadaan kekentalan ini menyebabkan terjadinya kehilangan
tenaga selama pengaliran atau diperlukannya energi untuk menjamin adanya
pengaliran. Viskositas gas meningkat dengan suhu, tetapi viskositas cairan berkurang
dengan naiknya suhu. Perbedaan dalam kecenderungan terhadap suhu tersebut
dapat di terangkan dengan menyimak penyebab-penyebab viskositas. Tahanan
suatu fluida terhadap tegangan geser tergantung pada kohesinya dan pada laju
perpindahan momentum molekulnya. Cairan dengan molekul-molekul yang jauh
lebih rapat dari pada gas, mempunyai gaya-gaya kohesi yang jauh lebih besar dari
pada gas. Kohesi nampaknya merupakan penyebab utama viskositas dalam cairan
dan karena kohesi berkurang dengan naiknya suhu, maka demikian pula viskositas.
Sebaliknya gas mempunyai gaya-gaya kohesi yang sangat kecil. Sebagian besar dari

tahanannya terhadap tegangan geser merupakan akibat perpindahan momentum


molekuler. (Martin,1990)
Tegangan molekular menimbulkan tegangan geser semu dalam gas, yang lebih
penting dari pada gaya-gaya kohesi, dan karena kegiatan molekular meningkat
dengan suhu, maka viskositas gas juga meningkat dengan suhu. Untuk tekanantekanan yang biasa viskositas tidak tergantung pada tekanan dan tergantung pada
suhu saja. Untuk tekanan yang sangat besar, gas-gas dan kebanyakan cairan
menunjukkan variasi viskositas yang tidak menentu terhadap tekanan.(Didik,2008)
Alat untuk mengukur viskositas adalah viskometer. Berikut adalah macammacam viskometer :
1. Viskometer kapiler
2. Viskometer bola jatuh
3. Viskometer cup dan bup
4. viskometer cone dan plate
Apabila pemilihan alat tidak tepat, maka produk farmasi yang dihasilkan pun tidak
sesuai dengan yang dikehendaki. Selain itu, prinsip rheologi digunakan juga untuk
karakterisasi produk sediaan farmasi (dosage form) sebagai penjaminan kualitas
yang sama untuk setiap batch. Rheologi juga meliputi pencampuran aliran dari
bahan, penuangan, pengeluaran dari tube, atau pelewatan dari jarum suntik.
Rheologi dari suatu zat tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi pasien,
stabilitas fisika obat, bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh (bioavailability).
Sehingga viskositas telah terbukti dapat mempengaruhi laju absorbsi obat dalam
tubuh. (Rahman,2008)
Fluida dapat digolongkan ke dalam cairan atau gas. Perbedaan-perbedaan
utama antara cairan dan gas adalah (a) cairan praktis tak kompresibel, sedangkan
gas kompresibel dan sering kali harus diperlakukan demikian dan (b) cairan mengisi
volume tertentu dan mempunyai permukaan-permukaan bebas sedangkan gas

dengan massa tertentu mengembang sampai mengisi seluruh bagian wadah


tempatnya.(Didik,2008)

Alat dan Bahan :


Alat :
a. Viskotester
b. Gelas ukur
c. Gelas Kimia
d. Kaki Tiga
e. Bunsen
Bahan :
a. Aquadest
b. Na CMC

Prosedur
Dibuat variasi kosentrasi dari zat pensuspensi, sebesar: 4%;4,25%;4,5%;4,75%;5%.
Viskotester disiapkan:
a.Spindel 01 dipasang pada viskotester
b. Larutan uji dimasukkan kedalam cup yang telah disiapkan
c. Spindel yang telah terpasang diarahkan kedalam cup secara tegak lurus
sampai
tanda batas
d. Viskotester dihidupkan, lalu jarum petunjuk diamati. Angka yang tertunjuk
oleh jarum lalu di catat (dilakukan sebanyak tiga kali)
e. Cara yang sama dilakuakn untuk kedua jenis spindle yang lainnya
Masing masing viskositas dari berbagai variasi konsentrasi larutan di catat.

Data pengamatan
Variasi kosentrasi larutan:
4%

x 100 mL = 4 gram x 20 = 80 mL

4,25% =

x 100 mL = 4,25 gram x 20= 85 mL

4,5%

x 104 mL =4,5 gram x 20 = 90 mL

4,75% =

x100 mL = 4,75 gram x 20 = 95 mL

5%

x 100 mL= 5 gram x 20 = 100 mL

Pengamatan variasi kosentrasi sampel


Viskositas (dPa.s)
KOSENTRASI

Spindle 1

Spindle 2

Spindle 3

4%

9,75

71%

2,32

18%

4,21

21%

4,25%

9,39

72%

2,93

33%

5,49

42%

4,5%

7,62

59%

1,80

13%

4,89

33%

4,,75%

11,16

85%

1,71

13%

9,37

75%

5%

17,72

97%

2,65

20%

6,09

46%

Pembahasan
Praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui viskositas dari suatu sediaan gel.
Penentuan

viskositas

kali

ini

ditentukan

dengan

menggunakan

alat

viskometer.Viskometer yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah viscometer


Brookfield. Pada viskometer ini digunakan prinsip rotasi dengan mengkombinasikan
setting spindle dan kecepatan putar spindle yang di tetapkan.
Tiga spindle yang digunakan memiliki bentuk yang berbeda-beda, ada yang
berukuran kecil,sedang dan besar. Ketiga jenis spindle ini memiliki fungsi masingmasing yang berbeda. Apabila ingin mengukur kekentalan larutan yang mempunyai
aliran Newton maka digunakan spindle 3 atau dapat juga dengan spindle 1 karena
larutan yang mempunyai daya alir Newton tidak terlalu kental (encer) sehingga
dapat diukur viskositasnya menggunakan spindle yang berbentuk besar seperti
spindle 3. Namun untuk mengukur viskositas larutan yang mempunyai aliran NonNewton dapat digunakan spindle 2 yang berbentuk kecil karena pada aliran NonNewton larutan nya mempunyai kekentalan yang tinggi.
Pergerakan jarum pada viskometer terjadi karena adanya gaya gesek antara
gaya. gesekan antara spindel dengan permukaan cairan sehingga jika cairan yang
diukur kental maka jarum akan menunjukan nilai yang tinggi. Gaya gesek adalah
gaya yang berarah melawan gerak benda atau arah kecenderungan benda akan
bergerak, Sehingga diperlukan usaha atau gaya yang besar untuk memutar cairan
dengan viskositas yang besar. Hal ini dikarenatkan ketika zat cair dikenakan
terhadap spindle maka pergerakan spindle akan terhambat,jadi semakin kecil
spindle maka semakin kecil hambatannya. Sehingga diperlukan spindle yang kecil
untuk zat cair yang viskositasnya besar, karena hanya sedikit usaha yang diperlukan
untuk memutar zat cair tersebut, sedangkan untuk zat cair yang encer digunakan
spindle yang besar, karna usaha yang diperlukan kecil.
Pada percobaan kali ini di gunakan sediaan suspensi sebagai bahan yang akan
di uji kekentalannya. sediaan suspensi yang di ukur adalah gel.

Pengukuran menggunakan Gel, Gel dibuat dengan menggunakan Na CMC, gel


yang dibuat terdiri dari beberpa konsentrasi yaitu, gel dengan kosentrasi
4%;4,25%;4,5%;4,75%;5%. . dari data pengamatan diperoleh hasil semakin besar
konsentrasi dari Na cmc semakin besar viskositasnya .

Daftar Pustaka

Ahmad, S. 2007. Mempelajari Hubungan antara Viskositas Larutan Dope dan


Karakteristik Membran Serat Berongga. pp 58.LIPI: Bandung

Kosman, Rachmat. 2006.Farmasi Fisika.pp 67.UMI: Makassar

Martin,Alfred,et al.1990. Farmasi Fisik 2. pp 558-600.Jakarta:UIP

Satyajit,et

al.2009.Kimia

Untuk

Mahasiswa

Farmasi.pp

14-16.

Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
-

Setiawan,Didik.2008. Hambatan Gesek Aliran.www.lontar.ui.ac:diakses 9 Desember


2012