Anda di halaman 1dari 9

Nama

: Fitriani sufirman

Stambuk

:D61113008
RANGKUMAN

I. Bentang Alam Vulkanik

Bentang alam vulkanik adalah bentang alam yang proses pembentukannya yang
dikontrol oleh proses vulkanisme, yaitu proses keluarnya magma dari dalam
bumi.

Dalam kaitannya dengan bentang alam, gunungapi mempunyai beberapa


pengertian antara lain :
1. Merupakan bentuk timbulan di permukaan bumi yang dibangun oleh
timbunan material/rempah gunungapi.
2. Merupakan tempat muncuknya material vulkanik lepas sebagai hasil akivitas
magma di dalam bumi (vulkanisme).

Berdasarkan proses terjadinya, terdapat 3 macam vulkanisme, yaitu :


1. Vulkanisme letusan, dikontrol oleh magma yang bersifat asam yang kaya
akan gas, bersifat kental dan ledakan kuat. Vulkanisme ini biasanya
menghasilkan material piroklastik dan membentuk gunungapi yang tinggi
dan terjal.
2. Vulkanisme lelehan, dikontrol oleh magma yang bersifat basa, sedikit
mengandung gas, magma encer dan ledakan lemah. Vulkanisme ini biasanya
menghasilkan gunungapi yang rendah dan berbentuk perisai, misalnya Dieng
dan Hawaii.
3. Vulkanisme campuran, dipengaruhi oleh magma intermediet yang agak
kental. Vulkanisme ini menghasilkan gunung api strato, misalnya Merapi
dan Merbabu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk gunungapi dan proses vulkanisme


antara lain :
1. Sifat magma (komposisi, kekentalan)
2. Tekanan (berhubungan dengan jumlah kandungan gas)

3. Kedalaman dapur magma


4. Faktor eksternal (iklim, suhu)

Gunung berapi memiliki karakteristik letusan (erupsi) tertentu berdasarkan


material yang dikeluarkan, intensitas erupsi, bentukan alam hasil erupsi dan
kekuatan letusannya. Para ahli geologi membedakan letusan gunung api dalam 7
tipe yaitu:
1. Letusan Tipe Hawaii memiliki ciri-ciri antara lain lava yang dikeluarkan dari
lubang kepundan bersifat cair, lava mengalir ke segala arah, bentuk gunung
yang dihasilkan tipe hawaai menyerupai perisai atau tameng, skala letusannya
relative lebih kecil namun intensitasnya cukup tinggi. Contoh gunung berapi
dengan tipe letusan Hawaii antara lain: Gunung Maona Loa, Maona Kea, dan
Kilauea di Hawaii.
2. Letusan Tipe Stromboli memiliki ciri-ciri antara lain seringnya terjadi
letusan-letusan kecil yang tidak begitu kuat, namun terus- menerus, dan
banyak mengeluarkan efflata. Contoh, Gunung Vesuvius di Italia, Gunung
Raung di Jawa, dan Gunung Batur di Bali.
3. Letusan Tipe Vulkano mempunyai ciri-ciri antara lain cairan magma yang
kental dan dapur magma yang bervariasi dari dangkal sampai dalam sehingga
memiliki tekanan yang sedang sampai tinggi, dan besar kecilnya letusan
didasarkan atas kekuatan tekanan dan kedalaman dapur magmanya, sera daya
rusak cukup besar.

Contoh: Gunung Vesuvius dan Etna di Italia, serta

Gunung Semeru di Jawa Timur.


4. Letusan Tipe Merapi mengeluarkan lava kental sehingga menyumbat mulut
kawah. Akibatnya, tekanan gas menjadi semakin bertambah kuat dan
memecahkan sumbatan lava. Sumbatan yang pecah-pecah terdorong ke atas
dan akhirnya terlempar keluar. Material ini menuruni lereng gunung sebagai
ladu atau gloedlawine. Selain itu, terjadi pula awan panas (gloedwolk) atau
sering disebut wedhus gembel. Letusan tipe merapi sangat berbahaya bagi
penduduk di sekitarnya.
5. Letusan Tipe Perret memiliki ciri utama ialah letusan tiangan, gas yang
sangat tinggi, dan dihiasi oleh awan menyerupai bunga kol di ujungnya.

Contoh, letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 dan St. Helens yang
meletus pada tanggal 18 Mei 1980.
6. Letusan Tipe Pelee terjadi jika terdapat penyumbatan kawah di puncak
gunung api yang bentuknya seperti jarum, sehingga menyebabkan tekanan
gas menjadi bertambah besar. Apabila penyumbatan kawah tidak kuat,
gunung tersebut meletus.
7. Letusan Tipe Sint Vincent menyebabkan air danau kawah akan tumpah
bersama lava. Letusan ini mengakibatkan daerah di sekitar gunung tersebut
akan diterjang lahar panas yang sangat berbahaya. Contoh: Gunung Kelud
yang meletus pada tahun 1919 dan Gunung Sint Vincent yang meletus pada
tahun 1902.

Morfologi Gunungapi dapat dibedakan menjadi tiga zona dengan ciri-ciri yang
berlainan yaitu :
1. Zona Pusat Erupsi: banyak radial dike/sill, adanya simbat kawah (pluge)
dancrumble breccias, adanya zona hidrotermal, endapan piroklastik kasar,
bentuk morfologi kubah dengan pusat erupsi
2. Zona Proksimal: material piroklastik agak terorientasi, pada material
piroklastik dan lava dijumpai pelapukan dicirikan oleh soil yang tipis, sering
dijumpai parasitic cone, banyak dijumpai ignimbrite dan welded tuff
3. Zona Distal: material piroklastik berukuran halus, banyak dijumpai lahar

Macam-macam Bentang Alam Vulkanik dibedakan menjadi beberapa macam,


dengan dasar klasifikasi kenampakan visual morfologinya. Srijono (1984, dikutip
Widagdo, 1984) menggambarkan klasifikasi bentang alam vulkanik berdasarkan
bentuk morfologinya. Klasifikasi tersebut dapat diuraikan menjadi :
1. Bentuk Timbulan (morfologi positif) / Kubah Vulkanik.
Menurut morfologi gunung api yang mempunyai bentuk cembung keatas.
Morfologi ini dibedakan atas dasar asal kejadiaanya menjadi :
a. Kerucut Semburan
b. Kubah Lava (Lava Dome)
c. Gunungapi Tameng/Perisai\
d. Dataran Vulkanik

e. Vulkan Semu
2. Depresi Vulkanik (Morfologi Negatif)
Depresi vulkanik adalah morfologi bagian vulkan yang secara umum berupa
cekungan. Berdasarkan material pengisinya depresi vulkanik dibedakan
menjadi :
a. Danau Vulkanik
b. Kawah
c. Kaldera

Bentuk Gunung Api. Gunung api merupakan bentukan alam yang terbentuk
karena aktivitas magma yang keluar dari perut bumi. Adapun bentuk bentuk
gunung api diantaranya:
1. Stratovolcano. Gunung api ini berbentuk seperti kerucut. Puncak
gunungapi tinggi karena endapan erupsi lava dan bahan piroklastik dari
kawah gunung. Pembentukan stratovolcano ini terjadi di zona subduksi.
Contoh

gunung

api

ini

adalah

Gunung

Merapi,

Gunung

Tangkubanperahu, Gunung Semeru.


2. Cinder Volcano. Gunung api ini memiliki karakteristik lubang
kepundannya yang berbentuk seperti corong/kubah dengan kemiringan
lereng yang curam. Contoh gunung api yang bertipe ini adalah Gunung
Vesuvius di Italia.
3. Shield Volcano. Gunung api ini berbentuk seperti perisai atau tameng.
Bentuk gunung api ini relatif datar dan landai karena jenis lava yang
dierupsikan merupakan lava cair bersifat basalt. Shield volcano banyak
terbentuk pada zona hot spot di tengah samudera. Contoh gunung api ini
adalah gunung Maona Loa di Hawaii.
4. Maar Volcano. Gunung api ini terbentuk dari erupsi eksplosif dan
dikendalikan oleh dapur magma yang dangkal. Ketinggian gunung api ini
rendah dan pasca letusan biasanya akan terbentuk danau yang dasarnya
relatif kedap air. Contoh Maar Volcano adalah Eichholz Maar.
5. Caldera adalah gunung api yang terbentuk karena runtuhan puncak
gunung api sebelumnya. Kaldera merupakan kawah gunung api yang

sangat luas dan di dalam kompleks kawah tersebut sering muncul gunung
api baru seperti Kaldera Bromo dan Yellowstone.

II. Bentang Alam Marine

Bentuk lahan asal proses marine dihasilkan oleh aktivitas gerakan air laut, baik
pada tebing curam, pantai berpasir, pantai berkarang maupun pantai berlumpur.
Aktivitas marine sering dipengaruhi\ aktivitas fluvial sehingga sering disebut
sebagai fluvio marine. Proses marine mempunyai pengaruh yang sangat aktif
pada daerah pesisir sepanjang pantai.

Bentuk lahan asal proses marine dihasilkan oleh aktivitas/ gerakan air laut, baik
pada tebing, pantai berpasir, pantai berkarang, maupun pantai berlumpur.
Gerakan tersebut meliputi :
1. Pasang surut, naik turunnya permukaan laut setiap 6 jam 12,5 menit sehingga
interval naik turun memerlukan waktu 12 jam 25 menit. Pasang surut ini
dapat mengerosi pantai apalagi kalu bersama sama dengan gelombang /
ombak.
2. Arus, aliran air laut yang disebabkan oleh angin, perbedaan suhu air laut dll.
3. Ombak sesuai dengan arah angin dapat mengerosi pantai. (abrasi).

Perkembangan bentang lahan daerah pantai juga dipengaruhi oleh:


1. Struktur, tekstur, dan komposisi batuan.
2. Keadaan bentang alam atau relief dari daerah pantai atau daerah di daerah
sekitar pantai tersebut.
3. Proses geomorfologi yang terjadi di daerah pantai tersebut yang disebabkan
oleh tenaga dari luar, misalnya yang disebabkan oleh angin, air, es,
gelombang, dan arus laut.
4. Proses geologi yang berasal dari dalam bumi yang mempengaruhi keadaan
bentang alam di permukaan bumi daerah pantai, misalnya tenaga vulkanisme,
diastrofisme, pelipatan, patahan, dan sebagainya.
5. Kegiatan gelombang, arus laut, pasang naik dan pasang surut, serta kegiatan
organisme yang ada di laut.

Hasil bentukan lahan dan klasifikasinya menurut beberapa ahli. Bentang alam
pantai dibagi menjadi beberapa macam berdasarkan :
1. Genesa (Johnson, 1919)
2. Pendekatan genesa (Vallentine, 1951)

3. Faktor-faktor pembentukannya (Shepard, 1948)


4. Adanya gerak-gerak tektonik (Catton, 1952)

Aktifitas marine yang utama adalah abrasi, sedimentasi, pasang-surut, dan


pertemuan terumbu karang. Bentuk lahan yang dihasilkan oleh aktifitas marine
berada di kawasan pesisir yang terhampar sejajar garis pantai. Pengaruh marine
dapat mencapai puluhan kilometer kearah darat, tetapi terkadang hanya beberapa
ratus meter saja. Sejauh mana efektifitas proses abrasi, sedimentasi, dan
pertumbuhan terumbu pada pesisir ini, tergantung dari kondisi pesisirnya.

Proses yang sering mempengaruhi kawasan pesisir lainnya, misalnya : tektonik


masa lalu, berupa gunung api, perubahan muka air laut (transgresi/regresi) dan
litologi penyusun.

Macam macam bentang lahan yang terbentuk adanya bentuk lahan marine:
1. Gisik
Relief

: berombak

Batuan/struktur

: pasir lepas

Proses

: sedimenrasi, deposisi, abrasi

Karakteristik

: pasir lepas, berombak, dipengaruhi pasang surut

2. Beting gisik
Relief

: berombak

Batuan/struktur

: pasir lepas

Proses

: sedimenrasi, deposisi, abrasi

Karakteristik

: sejajar garis pantai, materi pasir lepas, beromabak.

3. Clief
Relief

: terjal dan berbukit

Batuan/struktur

: batuan dasar

Proses

: abrasi dan tektonik

Karakteristik

: tebing terjal ditepi pantai

4. Dataran Abrasi
Relief

: datar

Batuan/struktur

: batuan sedimen

Proses

: abrasi dan angin

Karakteristik

: dataran ditepi pantai

5. Rataan Pasang Surut


Relief

: datar

Batuan/struktur

: batuan sedimen

Proses

: abrasi dan angin

Karakteristik

: dataran ditepi pantai

6. Rataan Lumpur
Relief

: datar

Batuan/struktur

: batuan sedimen

Proses

: abrasi, denudasional,

Karakteristik

7. Rawa Payau

Relief

: datar

Batuan/struktur

: batuan sedimen

Proses

: abrasi dan denudasional

Karakteristik

: dataran ditepi pantai, air campuran asin dan tawar

8. Rataan Terumbu
Relief

: datar

Batuan/struktur

: batuan dasar

Proses

: abrasi dan tektonik

Karakteristik

: dataran ditepi pantai

9. Dataran Aluvial Pantai


Relief

: datar

Batuan/struktur

: batuan vulkan, batuan sedimen, batuan beku

Proses

: abrasi dan tektonik

Karakteristik

: dataran ditepi pantai