Anda di halaman 1dari 19

Batuan beku

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Contoh batuan beku; jalur yang berwarna lebih muda menunjukkan arah aliran

Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, "api") adalah jenis batuan yang
terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi,
baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai
batuan ekstrusif (vulkanik). Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan
yang sudah ada, baik di mantelataupun kerak bumi. Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh
salah satu dari proses-proses berikut: kenaikan temperatur, penurunantekanan, atau perubahan
komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan, sebagian besar
terbentuk di bawah permukaan kerak bumi.
Menurut para ahli seperti Turner dan Verhoogen (1960), F. F Groun (1947), Takeda (1970),
magma didefinisikan sebagai cairan silikat kental yang pijar terbentuk secara alamiah,
bertemperatur tinggi antara 1.5002.5000C dan bersifat mobile (dapat bergerak) serta terdapat
pada kerak bumi bagian bawah. Dalam magma tersebut terdapat beberapa bahan yang larut,
bersifat volatile (air, CO2, chlorine, fluorine, iron, sulphur, dan lain-lain) yang merupakan
penyebab mobilitas magma, dan non-volatile (non-gas) yang merupakan pembentuk mineral
yang lazim dijumpai dalam batuan beku.
Pada saat magma mengalami penurunan suhu akibat perjalanan ke permukaan bumi, maka
mineral-mineral akan terbentuk. Peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa penghabluran.
Berdasarkan penghabluran mineral-mineral silikat (magma), oleh NL. Bowen disusun suatu seri
yang dikenal dengan Bowens Reaction Series.
Dalam mengidentifikasi batuan beku, sangat perlu sekali mengetahui karakteristik batuan beku
yang meliputi sifat fisik dan komposisi mineral batuan beku. Dalam membicarakan masalah sifat
fisik batuan beku tidak akan lepas dari
Daftar isi
[sembunyikan]

1 Tekstur
o

1.1 Kristalinitas

1.2 Granularitas

1.2.1 Fanerik/fanerokristalin

1.2.2 Afanitik

1.3 Bentuk Kristal

1.4 Hubungan Antar Kristal

1.4.1 Equigranular

1.4.2 Inequigranular

2 Struktur

3 Komposisi Mineral

4 Klasifikasi Batuan Beku


o

4.1 Klasifikasi berdasarkan cara terjadinya

4.2 Klasifikasi berdasarkan kandungan SiO2

4.3 Klasifikasi berdasarkan indeks warna

5 Jenis-jenis batuan beku

6 Pranala luar

Tekstur[sunting | sunting sumber]


Tekstur didefinisikan sebagai keadaan atau hubungan yang erat antar mineral-mineral sebagai
bagian dari batuan dan antara mineral-mineral dengan massa gelas yang membentuk massa
dasar dari batuan.
Tekstur pada batuan beku umumnya ditentukan oleh tiga hal yang penting, yaitu:

Kristalinitas[sunting | sunting sumber]


Kristalinitas adalah derajat kristalisasi dari suatu batuan beku pada waktu terbentuknya batuan
tersebut. Kristalinitas dalam fungsinya digunakan untuk menunjukkan berapa banyak yang
berbentuk kristal dan yang tidak berbentuk kristal, selain itu juga dapat mencerminkan kecepatan
pembekuan magma. Apabila magma dalam pembekuannya berlangsung lambat maka kristalnya
kasar. Sedangkan jika pembekuannya berlangsung cepat maka kristalnya akan halus, akan
tetapi jika pendinginannya berlangsung dengan cepat sekali maka kristalnya berbentuk amorf.
Dalam pembentukannnya dikenal tiga kelas derajat kristalisasi, yaitu:

Holokristalin, yaitu batuan beku dimana semuanya tersusun oleh kristal. Tekstur holokristalin
adalah karakteristik batuan plutonik, yaitu mikrokristalin yang telah membeku di dekat
permukaan.

Hipokristalin, yaitu apabila sebagian batuan terdiri dari massa gelas dan sebagian lagi terdiri
dari massa kristal.

Holohialin, yaitu batuan beku yang semuanya tersusun dari massa gelas. Tekstur holohialin
banyak terbentuk sebagai lava (obsidian), dike dan sill, atau sebagai fasies yang lebih kecil
dari tubuh batuan.

Granularitas[sunting | sunting sumber]


Granularitas didefinisikan sebagai besar butir (ukuran) pada batuan beku. Pada umumnya
dikenal dua kelompok tekstur ukuran butir, yaitu:
Fanerik/fanerokristalin[sunting | sunting sumber]
Besar kristal-kristal dari golongan ini dapat dibedakan satu sama lain secara megaskopis dengan
mata biasa. Kristal-kristal jenis fanerik ini dapat dibedakan menjadi:

Halus (fine), apabila ukuran diameter butir kurang dari 1 mm.

Sedang (medium), apabila ukuran diameter butir antara 1 5 mm.

Kasar (coarse), apabila ukuran diameter butir antara 5 30 mm.

Sangat kasar (very coarse), apabila ukuran diameter butir lebih dari 30 mm.

Afanitik[sunting | sunting sumber]


Besar kristal-kristal dari golongan ini tidak dapat dibedakan dengan mata biasa sehingga
diperlukan bantuan mikroskop. Batuan dengan tekstur afanitik dapat tersusun oleh kristal, gelas
atau keduanya. Dalam analisis mikroskopis dapat dibedakan:

Mikrokristalin, apabila mineral-mineral pada batuan beku bisa diamati dengan bantuan
mikroskop dengan ukuran butiran sekitar 0,1 0,01 mm.

Kriptokristalin, apabila mineral-mineral dalam batuan beku terlalu kecil untuk diamati
meskipun dengan bantuan mikroskop. Ukuran butiran berkisar antara 0,01 0,002 mm.

Amorf/glassy/hyaline, apabila batuan beku tersusun oleh gelas.

Bentuk Kristal[sunting | sunting sumber]


Bentuk kristal adalah sifat dari suatu kristal dalam batuan, jadi bukan sifat batuan secara
keseluruhan. Ditinjau dari pandangan dua dimensi dikenal tiga bentuk kristal, yaitu:

Euhedral, apabila batas dari mineral adalah bentuk asli dari bidang kristal.

Subhedral, apabila sebagian dari batas kristalnya sudah tidak terlihat lagi.

Anhedral, apabila mineral sudah tidak mempunyai bidang kristal asli.

Ditinjau dari pandangan tiga dimensi, dikenal empat bentuk kristal, yaitu:

Equidimensional, apabila bentuk kristal ketiga dimensinya sama panjang.

Tabular, apabila bentuk kristal dua dimensi lebih panjang dari satu dimensi yang lain.

Prismitik, apabila bentuk kristal satu dimensi lebih panjang dari dua dimensi yang lain.

Irregular, apabila bentuk kristal tidak teratur.

Hubungan Antar Kristal[sunting | sunting sumber]


Hubungan antar kristal atau disebut juga relasi didefinisikan sebagai hubungan antara
kristal/mineral yang satu dengan yang lain dalam suatu batuan. Secara garis besar, relasi dapat
dibagi menjadi dua,
Equigranular[sunting | sunting sumber]
Yaitu apabila secara relatif ukuran kristalnya yang membentuk batuan berukuran sama besar.
Berdasarkan keidealan kristal-kristalnya, maka equigranular dibagi menjadi tiga, yaitu:

Panidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya terdiri dari mineralmineral yang euhedral.

Hipidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya terdiri dari mineralmineral yang subhedral.

Allotriomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-mineralnya terdiri dari mineralmineral yang anhedral.

Inequigranular[sunting | sunting sumber]

Yaitu apabila ukuran butir kristalnya sebagai pembentuk batuan tidak sama besar. Mineral yang
besar disebut fenokris dan yang lain disebut massa dasar atau matrik yang bisa berupa mineral
atau gelas.

Struktur[sunting | sunting sumber]


Struktur adalah kenampakan batuan secara makro yang meliputi kedudukan lapisan yang
jelas/umum dari lapisan batuan. Struktur batuan beku sebagian besar hanya dapat dilihat
dilapangan saja, misalnya:

Pillow lava atau lava bantal, yaitu struktur paling khas dari batuan vulkanik bawah laut,
membentuk struktur seperti bantal.

Joint struktur, merupakan struktur yang ditandai adanya kekar-kekar yang tersusun secara
teratur tegak lurus arah aliran. Sedangkan struktur yang dapat dilihat pada contoh-contoh
batuan (hand speciment sample), yaitu:

Masif, yaitu apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran, jejak gas (tidak menunjukkan
adanya lubang-lubang) dan tidak menunjukkan adanya fragmen lain yang tertanam dalam
tubuh batuan beku.

Vesikuler, yaitu struktur yang berlubang-lubang yang disebabkan oleh keluarnya gas pada
waktu pembekuan magma. Lubang-lubang tersebut menunjukkan arah yang teratur.

Skoria, yaitu struktur yang sama dengan struktur vesikuler tetapi lubang-lubangnya besar
dan menunjukkan arah yang tidak teratur.

Amigdaloidal, yaitu struktur dimana lubang-lubang gas telah terisi oleh mineral-mineral
sekunder, biasanya mineral silikat atau karbonat.

Xenolitis, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya fragmen/pecahan batuan lain yang
masuk dalam batuan yang mengintrusi.

Pada umumnya batuan beku tanpa struktur (masif), sedangkan struktur-struktur yang ada
pada batuan beku dibentuk oleh kekar (joint) atau rekahan (fracture) dan pembekuan
magma, misalnya: columnar joint (kekar tiang), dan sheeting joint (kekar berlembar).

Komposisi Mineral[sunting | sunting sumber]


Untuk menentukan komposisi mineral pada batuan beku, cukup dengan mempergunakan indeks
warna dari batuan kristal. Atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

Mineral felsik, yaitu mineral yang berwarna terang, terutama terdiri dari mineral kwarsa,
feldspar, feldspatoid dan muskovit.

Mineral mafik, yaitu mineral yang berwarna gelap, terutama biotit, piroksen, amphibol dan
olivin.

Klasifikasi Batuan Beku[sunting | sunting sumber]

Batuan beku dapat diklasifikasikan berdasarkan cara terjadinya, kandungan SiO2, dan indeks
warna. Dengan demikian dapat ditentukan nama batuan yang berbeda-beda meskipun dalam
jenis batuan yang sama, menurut dasar klasifikasinya.

Klasifikasi berdasarkan cara terjadinya[sunting | sunting sumber]


Menurut Rosenbusch (1877-1976) batuan beku dibagi menjadi:

Effusive rock, untuk batuan beku yang terbentuk di permukaan.

Dike rock, untuk batuan beku yang terbentuk dekat permukaan.

Deep seated rock, untuk batuan beku yang jauh di dalam bumi. Oleh W.T. Huang (1962),
jenis batuan ini disebut plutonik, sedang batuan effusive disebut batuan vulkanik.

Klasifikasi berdasarkan kandungan SiO2[sunting | sunting sumber]


Menurut (C.L. Hugnes, 1962), yaitu:

Batuan beku asam, apabila kandungan SiO2 lebih dari 66%. Contohnya adalah riolit.

Batuan beku intermediate, apabila kandungan SiO2 antara 52% - 66%. Contohnya adalah
dasit.

Batuan beku basa, apabila kandungan SiO2 antara 45% - 52%. Contohnya adalah andesit.

Batuan beku ultra basa, apabila kandungan SiO2 kurang dari 45%. Contohnya adalah
basalt.

Klasifikasi berdasarkan indeks warna[sunting | sunting sumber]


Menurut ( S.J. Shand, 1943), yaitu:

Leucoctaris rock, apabila mengandung kurang dari 30% mineral mafik.

Mesococtik rock, apabila mengandung 30% - 60% mineral mafik.

Melanocractik rock, apabila mengandung lebih dari 60% mineral mafik.

Sedangkan menurut S.J. Ellis (1948) juga membagi batuan beku berdasarkan indeks warnanya
sebagai berikut:

Holofelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna kurang dari 10%.

Felsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 10% sampai 40%.

Mafelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 40% sampai 70%.

Mafik, untuk batuan beku dengan indeks warna lebih dari 70%.

Jenis-jenis batuan beku[sunting | sunting sumber]


Batuan beku dibedakan menjadi 3 yaitu :
1. Batuan beku dalam,contohnya : Batu granit, diorit, dan Gabro
2. Batuan beku gang/ tengah,contohnya : Granit porfir
3. Batuan beku luar,contohnya : Batu andesit, obsidian, dan basalt

MINERAL PENYUSUN BATUAN BEKU, SENDIMEN DAN


METAMORFOSA
10.02 Geografi No comments

Mineral penyusun batuan beku


Untuk menentukan komposisi mineral pada batuan beku, cukup dengan
mempergunakan indeks warna dari batuan kristal. Atas dasar warna
mineral sebagai penyusun batuan beku dapat dikelompokkan menjadi
dua, yaitu:
Mineral felsik, yaitu mineral yang berwarna terang, terutama terdiri dari
mineral kwarsa, feldspar, feldspatoid dan muskovit.
Mineral mafik, yaitu mineral yang berwarna gelap, terutama biotit,
piroksen, amphibol dan olivin.
Batuan beku dapat diklasifikasikan berdasarkan cara terjadinya,
kandungan SiO2, dan indeks warna. Dengan demikian dapat ditentukan
nama batuan yang berbeda-beda meskipun dalam jenis batuan yang
sama, menurut dasar klasifikasinya.
Klasifikasi berdasarkan cara terjadinya, menurut Rosenbusch (18771976) batuan beku dibagi menjadi:
Effusive rock, untuk batuan beku yang terbentuk di permukaan.
Dike rock, untuk batuan beku yang terbentuk dekat permukaan.
Deep seated rock, untuk batuan beku yang jauh di dalam bumi. Oleh W.T.
Huang (1962), jenis batuan ini disebut plutonik, sedang batuan effusive
disebut batuan vulkanik.
Klasifikasi berdasarkan kandungan SiO2 (C.L. Hugnes, 1962), yaitu:
Batuan beku asam, apabila kandungan SiO2 lebih dari 66%. Contohnya
adalah riolit.
Batuan beku intermediate, apabila kandungan SiO2 antara 52% - 66%.
Contohnya adalah dasit.
Batuan beku basa, apabila kandungan SiO2 antara 45% - 52%. Contohnya
adalah andesit.
Batuan beku ultra basa, apabila kandungan SiO2 kurang dari 45%.
Contohnya adalah basalt.
Klasifikasi berdasarkan indeks warna ( S.J. Shand, 1943), yaitu:
Leucoctaris rock, apabila mengandung kurang dari 30% mineral mafik.
Mesococtik rock, apabila mengandung 30% - 60% mineral mafik.
Melanocractik rock, apabila mengandung lebih dari 60% mineral mafik.
Sedangkan menurut S.J. Ellis (1948) juga membagi batuan beku
berdasarkan indeks warnanya sebagai berikut:
Holofelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna kurang dari 10%.
Felsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 10% sampai 40%.
Mafelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 40% sampai 70%.
Mafik, untuk batuan beku dengan indeks warna lebih dari 70%.
Mineral penyusun batuan sendimen
Batuan endapan atau batuan sedimen adalah salah satu dari tiga
kelompok
utama batuan (bersama
dengan batuan
beku dan batuan

metamorfosis) yang terbentuk melalui tiga cara utama: pelapukan batuan


lain (clastic); pengendapan (deposition) karena aktivitas biogenik; dan
pengendapan (precipitation) dari larutan. Jenis batuan umum seperti batu
kapur, batu pasir, dan lempung, termasuk dalam batuan endapan. Batuan
endapan meliputi 75% dari permukaan bumi.
Penamaan batuan sedimen biasanya berdasarkan besar butir
penyusun batuan tersebut Penamaan tersebut adalah: breksi,
konglomerat, batupasir, batu lempung
Breksi adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar dari 2
mm dengan bentuk butitan yang bersudut
Konglomerat adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar
dari 2 mm dengan bentuk butiran yang membudar
Batu pasir adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 2 mm
sampai 1/16 mm
Batu lanau adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 1/16
mm sampai 1/256 mm
Batu lempung adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih kecil
dari 1/256 mm
Mineral penyusun batuan metamorfosa
Komposisi mineral
Mineral-mineral penyusun batuan metamorf dapat dibedakan
menjadi mineral-mineral yang :
1. Mineral yang berbentuk kubus: kuarsa, feldsfar,kalsit, garnet dan
piroksin.\
2. Berbentuk bukan kubus : mika, klorit, amfibol (hornblende), hematit,
grafit dan talk.
Susunan mineral (fabrik)
Dari kenampakan tiga dimensional, fabrik dapat dibedakan menjadi
:
1. Isotropik : susunan butir ke segala arah tampak sama.
2. Anisotropik : kenampakan susunan butir mineral tidak sama ke segala
arah.
Tekstur
Berdasarkan ukuran butir mineralnya, dapat dibedakan menjadi :
1. Fanaretik : butiran cukup besar untuk dapat dikenal dengan mata
telanjang.
2. Afanitik : butiran terlalu kecil untuk dapat dikenal dengan mata telanjang.
Struktur
Struktur dalam batuan metamorf dikenal ada tiga :
1. Granular : bila butir-butiran minerla yang berhubungan saling mengunci
(inter locking).
2. Foliasi : bila mineral-mineral pipih menbentuk rangkaian permukaan
subparalel.
Lineasi : bila mineral-mineral prismatik membentuk kenampakan
penjajaran pada batuan, seperti genggaman pensil.

Sumber: http://musbir.blogspot.com/2011/01/mineral-penyusun-batuan-bekusendimen_10.html#ixzz3CslT2QwA

http://id.wikipedia.org/wiki/Batuan_beku

Mineral Pembentuk Batuan


Posted by : Sarang KuntiMaret 05, 2013

1. Mineral pada Batuan Beku


A. Mineral Utama
Pada dasarnya mineral pembentuk batuan beku sebagian besar (90%) mengandung
oksigen, silikon, aluminium, besi, kalsium, sodium, potasium dan magnesium. Atau bisa
juga dikelompokkan berdasarkan warna mineralnya. Mineral utama dapat dilihat di
Deret Bowen.

1. Kelompok mineral gelap (Mafic) mengandung banyak unsur magnesium (Mg) dan
besi (Fe)
2. Kelompok mineral terang (Felsic) banyak mengandung unsur aluminium (Al),
kalsium (Ca), Natrium (Na), kalium (K) dan silium (Si)
Sebelah kiri mewakili mineral gelap dan sebelah kanan mewakili mineral terang.
Mineral-mineral ini terbentuk langsung dari kristalisasi magma yang menjadi penentu
dalam penamaan batuan.
Deret Bowen secara umum menggambarkan urutan kristalisasi mineral sesuai dengan
penurunan suhu (bagian kiri) dan perbedaan kandungan magma (bagian kanan),
dengan asumsi bahwa semua magma berasal dari magma induk yang bersifat basa.
Bagian ini dibagi menjadi 2 cabang, kontinyu dan diskontinyu
Deret Kontinyu
Deret ini dibangun dari feldspar plagioklas. Dalam deret kontinyu, mineral awal akan
ikut serta dalam pembentukan mineral selanjutnya. Dari bagan, plagioklas yang kaya
kalsium akan terbentuk terlebih dahulu, seiring dengan penurunan suhu, plagioklas itu
akan bereaksi dengan sisa larutan magma yang pada akhirnya akan membentuk
plagioklas yang kaya dengan sodium. Demikian seterusnya hingga plagioklas yang kaya
kalsium dan sodium habis dipergunakan. Karena mineral awal akan ter us bereaksi,
maka sulit ditemukan plagioklas yang kaya kalsium di alam bebas.
Deret Diskontinyu
Deret ini dibangun dari mineral ferro-magnesian sillicates. Dalam deret ini, satu
mineral ini akan bereaksi menjadi mineral lain pada suhu tertentu dengan melakukan
reaksi dengan larutan sisa magma. Bowen menemukan bahwa pada suhu tertentu akan
membentuk olivin yang jika diteruskan akan bereaksi dengan sisa larutan magma

membentuk pyroxene. Jika pendinginan dilanjutkan, akan terbentuk biotite (sesuai


skema). Deret ini berakhir ketika biotite mengkristal, yang berarti semua besi dan
magnesium dalam larutan magma telah habis untuk membentuk mineral.

B. Mineral Ikutan/Tambahan
Mineral tambahan adalah mineral-mineral yang terbentuk akibat kristalisasi magma,
terdapat dalam jumlah yang sedikit. Mineral ini tidak menjadi pedoman dalam
menentukan nama batuan. Contoh: Zirkon, magnesit, hematit, pirit, rutil apatit, garnet,
sphen.

C. Mineral Sekunder
Mineral sekunder merupakan mineral hasil ubahan mineral utama, dari hasil pelapukan,
dari reaksi hidrotermal maupun hasil metamorfosisme terhadap mineral utama.
Contohnya adalah serpentit, kalsit, serisit, kalkopirit, kaolin, klorit, pirit.

2. Mineral pada Batuan Sedimen


Mineral batuan sedimen dapat berasal dari mineral rombakan dari batuan beku, batuan
sedimen dan batuan metamorf.Selain mineral rombakan, mineral pembentuk batuan
sedimen dapat berasal dari presipitasi kimia secara langsung.
Adapun contoh mineral-mineral rombakan sebagai pembentuk batuan sedimen yaitu
quartz, micca, feldspar (asal batuan beku), calcite, dolomite, anhydrite (asal batuan
sedimen) dan garnet (asal pecahan dari batuan metamorf). Namun pada batuan
sedimen dapat pula satu jenis mineral (mono-mineral) mendominasi batuan karena
langsung dari pesipitasi kimiawi. Misalnya Calcite, yang mendominasi pada limestone
(batu gamping).

3. Mineral pada Batuan Metamorf


Mineral yang membentuk batuan metamorf adalah mineral asal batuan beku, batuan
sedimen dan batuan metamorf yang berubah karena proses metamorfosis. Proses
metamorfosisme mengubah mineral menjadi kondisi berikut:
1. Terbentuk mineral baru, dan/atau
2. Membentuk mineral yang sama namun memiliki sifat yang berbeda karena
menyesuaikan kondisi lingkungan yang baru.
Sebagai contoh perubahan pada kondisi pertama yaitu mineral olivine terubah menjadi
asbestos, dan mineral homblende membentuk serpentine. Sedangkan perubahan pada
kondisi kedua yaitu mineral calcite tetap calcite, dan quartz tetap quartz.
http://kyubhil.blogspot.com/2013/03/mineral-pembentuk-batuan.html

MINERAL PEMBENTUK BATUAN BEKU


Mineral pembentuk batuan beku hampir selalu mengandung silisium (Si) sehingga sering disebut
silikat alam. mineral tersebut ada yang berbentuk kristal ada yang berbentuk gelas (amorf).
Berdasarkan warna dan komposisi kimia maka mineral /kristal pembentuk batuan beku secara garis
besar dapat di bagi menjadi dua kelompok, yaitu :
kelompok mineral gelap (mafic) mengandung banyak unsur Magnesium (Mg) dan Besi (Fe).
kelompok mineral terang (felsic) banyak mengandung unsur Aluminium (Al) Kalsium (Ca), Natrium
(Na), Kalium (K) dan Silisium (Si)

BRS ( Bowen Reaksi Series )

Sebelah kiri mewakili mineral -mineral hitam (mineal mafic) dan Sebelah kanan mewakili mineralmineral terang (mineral felsic) .

Menurut W.T. Huang (1962) komposisi mineral pembentuk batuan dikelompokkan menjadi tiga
yaitu :
Mineral Utama (Essensial mineral) : mineral ini terbentuk langsung dari kristalisasi magma (mineral
mafik dan mineral felsic).
Mineral Tambahan (Accessory mineral) : mineral yang terbentuk oleh kristalisasi magma terdapat
dalam jumlah yang sedikit (kurang dari 5%). kehadirannya tidak menentukan nama batuan.
Mineral Sekunder (Secondary mineral) : mineral-mineral ubahan dari mineral utama, dapat dari hasil
pelapukan,reaksi hidrotermal, maupun metamorfisme terhadap mineral utama.
Sifat-sifat fisik mineral yang terdapan pada reaksi bowen's.
1. Olivine (Mg,Fe)2SiO4
Sistem kristal : Orthorombik
Warna

: Hijau kekuningan sampai hijau keabu-abuan, coklat kekuningan , bening.

Belahan

: Tidak ada

Kilap

: Kaca

Bentuk dan perawakan kristal : Tidak teratur, membutir seperti gula pasir.
Kekerasan : 6.5-7 skala mohs
2. Piroksen (Ca,Mg,Fe)SiO4
Sistem kristal : Monoklin
Warna

: Hijau tua sampai hitam.

Belahan

: 2 arah saling tegak lurus

Kilap

: Kaca

Bentuk dan perawakan kristal : prismatik, pendek, saling tegak lurus.


Kekerasan : 5-6 skala mohs
3. Amfibole (Horblende) NaCa2(Mg,Fe)4Al(Al2Si6O22)
Sistem kristal : Monoklin

Warna

: Hitam, coklat

Belahan

: 2 arah membentuk sudut

Kilap

: Arang,kaca

Bentuk dan perawakan kristal : prismatik, panjang.


Kekerasan : 5-6 skala mohs
4. Biotit K(Mg,Fe)3(AlSiO3O10.Oh)2
Sistem kristal : Monoklin
Warna

: Hitam, coklat, hijau tua

Belahan

: 1 arah.

Kilap

: arang, kaca

Bentuk dan perawakan kristal : melembar (memika) , tabular.


Kekerasan : 2.5-3 skala mohs
5. Plagioklas Na(AlSi2O8)-Ca(Al2Si2O30
Sistem kristal :Triklin
Warna

: Putih susu, abu-abu.

Belahan

: 1 arah.

Kilap

: Kaca, lemak

Bentuk dan perawakan kristal : prismatik, tabular panjang, masif


Kekerasan : 6 skala mohs
6. Muskovite KAl2(AlSi3O10)(OH)
Sistem kristal : Monoklin
Warna

: tidak berwarna, bening , putih

Belahan

: 1 arah.

Kilap

: Kaca, mutiara

Bentuk dan perawakan kristal : Melembar (memika)


Kekerasan : 2-2.5 skala mohs.
7. Kuarsa SiO2

Sistem kristal : Heksagonal


Warna

: Tidak berwarna, bening, putih.

Belahan

: 2 arah rombohedral

Kilap

: Kaca, lemak

Bentuk dan perawakan kristal : membutir, masif, tidak teratur.


Kekerasan : 7 skala mohs
8. Alkali Feldspar (Ortoklas)
Sistem kristal : Monoklin
Warna

: Merah jambu, merah daging, putih.

Belahan

: 2 arah .

Kilap

: Kaca, lemak

Bentuk dan perawakan kristal : membutir, prismatik, tabular.


Kekerasan : 6 skala mohs
http://bandisetiadijagoan27.blogspot.com/2012/10/mineral-pembentuk-batuan-beku.html

Mineral Pembentuk Batuan (Rock Forming Minerals )


Minerals adalah bahan atau senyawa anorganik yang terbentuk secara alamiah,
padat, mempunyai komposisi, dan mempunyai sturuktur dalam/kristal tertentu.
Sedangkan bedanya dengan mineraloid ialah tidak mempunyai struktur dalam/kristal
tertentu (amorf). Menurut W.T Huang (1962) komposisi mineral pembentuk batuan
dikelompokkan menjadi tiga kelompok mineral, yaitu:
I. MINERAL UTAMA (Essensial Mineral)
Mineral-mineral ini terbentuk langsung dari kristalisasi magma dan kehadirannya sangat
menentukkan dalam penamaan batuan. mineral utama dapat dilihat dari deret bowen series(1928).

Deret Bowen menggambarkan secara umum urutan kristalisasi suatu mineral sesuai dengan
penurunan suhu [bagian kiri] dan perbedaan kandungan magma [bagian kanan], dengan asumsi
dasar bahwa semua magma berasal dari magma induk yang bersifat basa.
Bagan serial ini kemudian dibagi menjadi dua cabang; kontinyu dan diskontinyu.

Continuous branch [deret kontinyu]


Deret ini dibangun dari mineral feldspar plagioklas. Dalam deret kontinyu, mineral awal akan turut
serta dalam pembentukan mineral selanjutnya. Dari bagan, plagioklas kaya kalsium akan terbentuk
lebih dahulu, kemudian seiring penurunan suhu, plagioklas itu akan bereaksi dengan sisa larutan
magma yang pada akhirnya membentuk plagioklas kaya sodium. Demikian seterusnya reaksi ini
berlangsung hingga semua kalsium dan sodium habis dipergunakan. Karena mineral awal terus ikut
bereaksi dan bereaksi, maka sangat sulit sekali ditemukan plagioklas kaya kalsium di alam bebas.
Bila pendinginan terjadi terlalu cepat, akan terbentuk zooning pada plagioklas [plagioklas kaya
kalsium dikelilingi plagioklas kaya sodium].

Discontinuous branch [deret diskontinyu]


Deret ini dibangun dari mineral ferro-magnesian sillicates. Dalam deret diskontinyu, satu mineral akan
berubah menjadi mineral lain pada suhu tertentu dengan melakukan melakukan reaksi terhadap sisa
larutan magma. Bowen menemukan bahwa pada suhu tertentu, akan terbentuk olivin, yang jika
diteruskan akan bereaksi kemudian dengan sisa larutan magma, membentuk pyroxene. Jika
pendinginan dlanjutkan, akan dikonversi ke pyroxene,dan kemudian biotite [sesuai skema]. Deret ini
berakhir ketika biotite telah mengkristal, yang berarti semua besi dan magnesium dalam larutan
magma telah habis dipergunakan untuk membentuk mineral.
Bila pendinginan terjadi terlalu cepat dan mineral yang telah ada tidak sempat bereaksi seluruhnya
dengan sisa magma, akan terbentuk rim [selubung] yang tersusun oleh mineral yang terbentuk
setelahnya. Tulisan ini saya ambil darihttp://apitnoparagon.wordpress.com/2010/01/21/deret-reaksibowen-bowens-reaction-series/.
Berdasarkan warna mineral, dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu,
I.I Mineral Felsik ( mineral-mineral berwarna terang )

Kelompok Plagioklas ( Anortit, bitownit, Labradorit, Andesin, oligoklas, Albit)

kelompok Alkali Feldspar (ortoklas, Mikrolin, Anortoklas, Sanidin)

Kelompok Feldspatoid (Leusit, Nefelin, Sodalit)

Kuarsa


Muskovit
Kelompok plagioklas dan kelompok alkali feldspar sering disebut kelompok feldspar. catatan : Tidak
semua mineral felsik berwarna terang tetapi ada mineral felsik yang berwarna gelap yaitu, obsidian.
Mineral yang berwarna terang disebabkan banyaknya kandungan SiO2 dan jarang mengandung Fe
dan Mg
I.2 Mineral Mafik (mineral yang berwarna gelap)

Olivin (Forsterite dan Fayalite)

Piroksen, dibagi menjadi dua kelompok yaitu Orto Piroksen (Piroksen tegak) dan klino
piroksen (piroksen miring). Orto piroksen antara lain; Enstatite dan Hypersten. Klino piroksen antara
lain; Diopsit, Augit, Pigeonit, Aigirin, Spodemen, Jadeit.

Amfibol (Hornblande, Labprobolit, Riebeokit, Glukofan)

Biotit.
II. Mineral Tembahan ( Accessory Minerals)
Adalah mineral-mineral yang terbentuk oleh kristalisasi magma, terdapat dalam jumlah yang sedikit
(kurang dari 5%). kehadirannya tidak menentukan nama batuan. Contoh dari mineral tambahan ini
antara laian : ZIRKON, MAGNESIT, HEMATIT, PYRIT, RUTIL APATIT, GARNET,SPHEN.
III. Mineral Sekunder (Secondary Minerals)
Merupakan mineral-mineral ubahan dari mineral utama, dapat dari hasil pelapukan, reaksi hidrotermal
maupun hasil metamorfosisme terhadap mineral utama. contoh dari mineral sekunder antara
lain; SERPENTIN, KALSIT, SERISIT, KALKOPIRIT, KAOLIN, KLORIT, PIRIT.

http://geologimania.blogspot.com/2010/10/mineral-pembentuk-batuan-rock-forming.html

Materi Geologi - Mineral Penyusun Batuan


1.

2.

a.

Pengertian Mineral
Mineral adalah suatu zat yang berbentuk padat yang terjadi secara alamiah dengan
suatu komposisi kimia tertentu dan memiliki susunan atom yang teratur, biasanya terbentuk
secara anorganik. Sifat sifat fisik mineral di tentukan oleh struktur kristal dan dan
komposisi kimia nya.
Mineral merupakan senyawa alami yang terbentuk melalui prosesgeologis.
Istilah mineral termasuk tidak hanya bahan komposisi kimiatetapi juga struktur mineral.
Mineral termasuk dalam komposisi unsurmurni dan garam sederhana sampai silikat yang
sangat kompleks dengan ribuan bentuk yang diketahui (senyawaan organik biasanya tidak
termasuk). Ilmu yang mempelajari mineral disebut mineralogi.

Sifat Fisik Mineral


Penentuan nama mineral dapat dilakukan dengan membandingkan sifat-sifat fisik
mineral antara mineral yang satu dengan mineral yang lainnya. Sifat-sifat fisik mineral
tersebut meliputi : Warna, Cerat (Streak), Kiap (Luster), Kekerasan (Hardness), Bentuk
kristal (Crystal form), Belahan (Cleavage), Pecahan ( Fracture), Berat jenis (Specific gravity),
Sifat dalam (Tenacity), Diaphanety dan Special properties.
Warna

b.

a.

b.

c.

Warna adalah kemampuan mineral untuk menyerap cahaya. Warna mineral dapat
dibedakan menjadi:
Putih
: Kaolin (Al2O3.2SiO2.2H2O), Gypsu
(CaSO4.H2O), Milky Kwartz (Kuarsa Susu) (SiO2)
Kuning
: Belerang (S)
Emas
: Pirit (FeS2), Kalkopirit (CuFeS2), Ema(Au)
Hijau
: Klorit ((Mg.Fe)5 Al(AlSiO3O10) (OH)),Malasit
(Cu CO3Cu(OH)2)
Biru
: Azurit (2CuCO3Cu(OH)2), Beril (Be3Al2(Si6O18))
Merah
: Jasper, Hematit (Fe2O3)
Coklat
: Garnet, Limonite (Fe2O3)
Abu-abu
: Galena (PbS)
Hitam
: Biotit (K2(MgFe)2(OH)2(AlSi3O10)), Grafit(C)
Augit
Kilap (Luster)
Kilap adalah kenampakan atau cahaya yang dipantulkan oleh permukaan mineral saat
terkena cahaya. Kilap secara garis besar dibedakan atas:
Kilap Logam (Metallic luster): bila mineral tersebut mempunyai kilap atau kilapan seperti
logam. Contoh mineral yang mempunyai kilap logam :
Galena
Pirit
Magnetik
Kalkopirit
Grafit
Hematite
Kilap Bukan Logam (Non metallic luster) : Dibagi atas :
Kilap Intan (adamantin luster), cemerlang seperti intan.
Kilap kaca (viteorus luster), misalnya pada kuarsa dan kalsit.
Kilap Sutera (silky luster), kilat yang menyeruai sutera pada umumnya terdapat pada
mineral yang mempunyai struktur serat, misalnya pada asbes, alkanolit, dan gips.
Kilap Damar (resinous luster), memberi kesan seperti damar misalnya pada spharelit.
Kilap mutiara (pearly luster), kilat seperti lemak atau sabun, misalnya pada serpentin,opal
dan nepelin.
Kilap tanah, kilat suram seperti tanah lempung misalnya pada kaolin, bouxit dan limonit.
Cerat (Streak)
Cerat adalah warna mineral dalam bentuk hancuran (serbuk). Hal ini dapat dapat
diperoleh apabila mineral digoreskan pada bagian kasar suatu keping porselin atau
membubuk suatu mineral kemudian dilihat warna dari bubukan tersebut. Contohnya :
Pirit: Berwarna keemasan namun jika digoreskan pada platporselin akan
meninggalkan jejak berwarna hitam.
Hematit: Berwarna merah namun bila digoreskan pada plat porselin akan meninggalkan
jejak berwarna merah kecoklatan.
Augite: Ceratnya abu-abu kehijauan

Biotite: Ceratnya tidak berwarna


Orthoklase: Ceratnya putih
Warna serbuk, lebih khas dibandingkan dengan warna mineral secara keseluruhan, sehingga
dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi mineral.

d.

Kekerasan (Hardness)
Kekerasan adalah ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Secara relatif sifat fisik ini
di tentukan menggunakan skala mosh. Berikut urutan kekerasan berdasarkan skala mohs:
Tabel 1.
Kekerasan Mineral

Skala
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Mineral
Talc
Gipsum
Kalsit
Fluorit
Apatit
Ortoklas
Kuarsa
Topas
Korondum
Intan

Rumus Kimia
H2Mg3 (SiO3)4
CaSO4. 2H2O
CaCO3
CaF2
CaF2Ca3 (PO4)2
K Al Si3 O8
SiO2
Al2SiO3O8
Al2O3
C

Sebagai perbandingan dari skala tersebut di atas maka di bawah ini diberikan kekerasan dari
alat penguji standar :
Kuku manusia : 2,5
Kawat tembaga : 3
Paku : 5,5
Pecahan kaca : 5,5 6
Pisau baja : 5,5 6
Kikir baja : 6,5 7
Kuasa : 7
e.

Bentuk Kristal (Crystal form)


Mineral ada yang berbentuk kristal, mempunyai bentuk teratur yang dikendalikan oleh
system kristalnya, dan ada pula yang tidak. Mineral yang membentuk kristal disebut mineral
kristalin. Mineral kristalin sering mempunyai bangun yang khas disebut amorf (tidak
berbentuk kristal). Bentuk kristal bermacam macam, antara lain :
Isometrik / kubus
: Florit, octahedron, pirit, galena
Tetragonal / balok
: Wulfenit, apophilit
Heksagonal
: Kalsit, vanadinit, kuarsa
Ortorombik
: Topas, barit, staurolit

f.

g.

Monoklin
Triklin

: Gipsum, mika
: Microcline

Belahan (Cleavage)
Belahan adalah kecenderungan suatu mineral untuk mengalami disintegrasi sepanjang
bidang lemahnya. Belahan dapat dibagi menjadi:
1 arah : Mika, muskovit
2 arah : Ortoklas, amphibole
3 arah : Halit, kalsit
4 arah : Fluorit
Pecahan (Fracture)
Pecahan adalah kecenderungan suatu mineral untuk mengalami disintegrasi tidak pada
bidang lemahnya. Pecahan dapat dibagi menjadi:
Konkoidal : Permukaan halus dan melengkung seperti kenampakan kerang atau pecahan
botol. Contoh : Kuarsa
Splintery: Permukaan seperti serat atau abon. Contoh : Asbes, augit, hipersten
Even: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan halus, contohnya pada
kelompok mineral lempung yaitu limonit.
Uneven: Permukaan kasar dan tidak teratur. Contoh : Pirit, kalkopirit, garnet, hematit,
magnetit
Hackly: Permukaan kasar, tidak teratur dan runcing runcing. Contoh: Emas, perak,
tembaga

h.

Berat Jenis (Specific gravity)


Berat jenis adalah perbandingan antara berat mineral dengan volume mineral. Cara
yang umum untuk menentukan berat jenis yaitu dengan menimbang mineral tersebut terlebih
dahulu, misalnya beratnya x gram. Kemudian mineral ditimbang lagi dalam keadaan di dalam
air, misalnya beratnya y gram. Berat terhitung dalam keadaan di dalam air adalah berat
miberal dikurangi dengan berat air yang volumenya sama dengan volume butir mineral
tersebut. Contohnya galena (SG : 7,5), perak (SG : 10 12)

i.

Sifat Dalam (Tenacity)


Sifat dalam adalah kemampuan suatu mineral untuk pecah. Tenacity ini dapat dibagi
menjadi :
Brittle : Bisa dipotong dan hancur menjadi pecahan runcing. Contoh : Kuarsa
Malleable : Dapat ditempa menjadi lapisan pipih dan tanpa pecah. Contoh : Emas, tembaga
murni
Sectile
: Dapat dipotong dengan pisau menjadi keping keping tipis. Contoh : Gipsum
Flexible : Dapat dibentuk, tapi tidak dapat dikembalikan kembali jika gaya ditiadakan.
Contoh : Talc, selenit
Elastic
: Dapat dibentuk dan dapat dikembalikan kembali seperti semula. Contoh :
Muskovit

j.

k.

Diaphanety
Diaphanety adalah kemampuan mineral untuk meneruskan cahaya. Diaphanety dapat
dibagi menjadi :
Transparent: Benda dapat tampak jika dipandang melalui suatu mineral. Contoh : Kuarsa,
kalsit, biotit
Translucent: Cahaya dapat diteruskan oleh mineral, namun bendadibalik mineral ini tidak
tampak jelas. Contoh : Gipsum
Opaque: Tidak ada cahaya yang diteruskan walaupun pada keping yang tertipis. Contoh :
Magnetit, pirit
Special Properties
Special properties disini antara lain :
1. Rasa

Asin : halit

Pahit : epsomit
2. Feel
Soapy / seperti sabun : talk, bentonit
Greasy / berminyak : grafit
3. Bau
Berbau bawang putih
: mineral As
Berbau lobak
: mineral mineral Se
Berbau belerang
:S
Berbau arang
: batubara, lignit
Berbau tanah
: kaolin basah
4. Kelistrikan
Bermuatan listrik jika digosok dengan kain,, contoh : intan, topas, turmalin
Bermuatan listrik jika dipanasi, contoh : turmalin, kuarsa
Bermuatan listrik jika ditekan, contoh : kuarsa
Berdaya hantar listrik, contoh : Cu, Fe
5. Kemagnetan
Bersifat magnetik
: magnetit, pirotit,ferroplantin
Serbuknya tetarik magnet
: magnetit, pirotit
6. Daya hantar panas
Konduktor
: Cu, Fe
Isolator
: asbes, mika
7. Keradioaktifan
Mineral bersifat radioaktif, contoh : uranitit, pitchblende
8. Fosforisensi
Dapat bercahaya atau bersinar, setelah tidak kena cahaya matahari, contoh : barium sulfida,
kalsium sulfide
9. Fluorisensi

Dapat bercahaya apabila mineral terkena cahaya, contoh : fluorit, barium, platina sianida,
willemite.
3.

Mineral Pembentuk Batuan


Mineral pembentuk batuan dapat dibagi menjadi 3 :
Mineral utama (essential minerals)
Mineral ikutan / tambahan (accessory minerals)
Mineral sekunder (secondary mineral)

Mineral Utama (Essential minerals)


Pada dasarnya sebagian besar (99%) batuan beku hanya terdiri dari unsur utama yaitu
oksigen, silikon, alumunium, besi, kalsium, sodium, potasium, dan magnesium, unsur ini
membentuk mineral yang tergolong mineral utama yaitu:
Kuarsa
Plagioklas
Ortoklas
Olivin
Piroksin
Amfibol
Mikafelpatora
Mineral Ikutan / Tambahan (Accessory minerals)
Adalah mineral-mineral yang terbentuk oleh kristalisasi magma, terdapat dalam jumlah yang
sedikit (kurang dari 5%). kehadirannya tidak menentukan nama batuan. Contoh dari mineral
tambahan ini antara laian : Zirkon, Magnesit, Hematit, Pyrit, Rutil Apatit, Ganit, Sphen.
Mineral Sekunder (Secondary mineral)
Merupakan mineral-mineral ubahan dari mineral utama, dapat dari hasil pelapukan, reaksi
hidrotermal maupun hasil metamorfosisme terhadap mineral utama. contoh dari mineral
sekunder antara lain : Serpentit, kalsit, serisit, kalkopirit, kaolin, klorit, pirit.