Anda di halaman 1dari 4

Minggu, 12 Desember 2010

Cutaneus Larva Migran (CLM)


PENDAHULUAN
Cutaneus Larva Migran (CLM) adalah penyakit infeksi kulit parasit yang sudah dikenal sejak
tahun 18741. Awalnya ditemukan pada daerah daerah tropikal dan subtropikal beriklim hangat,
saat ini karena kemudahan transportasi keseluruh bagian dunia, penyakit ini tidak lagi
dikhususkan pada daerah daerah tersebut2. Creeping itch atau rasa gatal yang menjalar,
merupakan karakteristik utama dari CLM3. Faktor resiko utama bagi penyakit ini adalah kontak
dengan tanah lembab atau berpasir, yang telah terkontaminasi dengan feces anjing atau kucing1.
Penyakit ini lebih sering dijumpai pada anak anak dibandingkan pada orang dewasa. Pada
orang dewasa, faktor resiko nya adalah pada tukang kebun, petani, dan orang orang dengan
hobi atau aktivitas yang berhubungan dengan tanah lembab dan berpasir2.
DEFINISI
Kelainan kulit yang merupakan peradangan berbentuk linear atau berkelok kelok, menimbul
dan progresif, disebabkan oleh invasi larva cacing tambang yang berasal dari anjing dan kucing4.
SINONIM
Cutaneous larva migrans, creeping eruption, dermatosis linearis migrans4, sandworm disease (di
Amerika Selatan larva sering ditemukan ditanah pasir atau di pantai), strongyloidiasis (creeping
eruption pada punggung).
ETIOLOGI
Penyebab umum dari CLM adalah;
Ancylostoma braziliense (cacing pada anjing dan kucing), penyebab paling sering.
Ancylostoma caninum (anjing) penyebab paling banyak kedua setelah a.braziliense.
Uncinaria stenocephala (anjing )
Bunostomum phlebotomum (sapi)2
Penyebab yang lebih jarang ditemukan adalah:
Ancylostoma ceylonicum dan Ancylostoma tubaeforme (kucing)
Necator americanus dan Ancylostoma duodenale (manusia)
Strongyloides papillosus (kambing) dan Strongyloides westeri (kuda)
Pelodera (Rhabditis) strongyloides2
Castrophillus (the horse bot fly) dan cattle fly (Lalat)4
PATOGENESIS
Penyebab utama adalah larva yang berasal dari cacing tambang binatang anjing dan kucing, yaitu
Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. Selain itu dapat pula disebabkan oleh larva
dari beberapa jenis lalat, seperti Castrophillus (the horse bot fly) dan cattle fly. Biasanya larva ini
merupakan stadium ketiga siklus hidup. Nematoda hidup pada hospes (anjing, kucing atau babi),

ovum terdapat pada kotoran binatang dan karena kelembapan berubah menjadi larva yang mempu
mengadakan penetrasi kekulit. Larva ini tinggal di kulit berjalan jalan tanpa tujuan sepanjang
dermo epidermal, setelah beberapa jam atau hari, akan timbul gejala di kulit4.
Reaksi yang timbul pada kulit, bukan diakibatkan oleh parasit, tetapi disebabkan oleh reaksi
inflammasi dan alergi oleh sistem immun terhadap larva dan produknya3. Pada hewan, Larva ini
mampu menembus dermis dan melengkapi siklus hidupnya dengan berkembang biak di organ
dalam. Sedangkan pada manusia, larva memasuki kulit melalui folikel, fissura atau menembus
kulit utuh menggunakan enzim protease, tapi infeksi nya hanya terbatas pada epidermis karena
tidak memiliki enzym collagenase yang dibutuhkan untuk penetrasi kebagian kulit yang lebih
dalam2.
GEJALA KLINIS
Masuknya larva ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas4. Mula mula , pada point of
entry, akan timbul papul, kemudian diikuti oleh bentuk yang khas, yakni lesi berbentuk linear atau
berkelok kelok (snakelike appearance bentuk seperti ular) yang terasa sangat gatal,
menimbul dengan lebar 2 3 mm, panjang 3 4 cm dari point of entry, dan berwarna
kemerahan2,3,4. Adanya lesi papul yang eritematosa ini menunjukkan larva tersebut telah berada
dikulit selama beberapa jam atau hari4. Rasa gatal dapat timbul paling cepat 30 menit setelah
infeksi, meskipun pernah dilaporkan late onset dari CLM2.
Perkembangan selanjutnya papul merah ini menjalar seperti benang berkelok- kelok, polisiklik,
serpiginosa, menimbul dan membentuk terowongan (burrow), mencapai panjang beberapa
sentimeter dan bertambah panjang beberapa milimeter atau beberapa sentimeter setiap harinya4.
Umumnya pasien hanya memiliki satu atau tiga lintasan dengan panjang 2 5 cm. Rasa gatal
biasanya lebih hebat pada malam hari, sehingga pasien sulit tidur. Rasa gatal ini juga dapat
berlanjut, meskipun larva telah mati.
Terowongan yang sudah lama, akan mengering dan menjadi krusta, dan bila pasien sering
menggaruk, dapat menimbulkan iritasi yang rentan terhadap infeksi sekunder.
Larva nematoda dapat ditemukan terperangkap dalam kanal folikular, stratum korneum atau
dermis
Tempat predileksi adalah di tempat tempat yang kontak langsung dengan tanah, baik saat
beraktivitas, duduk, ataupun berbaring, seperti di tungkai, plantar, tangan, anus, bokong dan paha
juga di bagian tubuh di mana saja yang sering berkontak dengan tempat larva berada6.
DIAGNOSIS
Berdasarkan bentuk yang khas, yakni terdapatnya kelainan seperti benang yang lurus atau
berkelok kelok, menimbul dan terdapat papul atau vesikel di atasnya4.
DIAGNOSIS BANDING
1.
Skabies: Pada skabies terowongan yang terbentuk tidak sepanjang seperti pada penyakit ini
2.
Dermatofitosis : Bentuk polisiklik menyerupai dermatofitosis
3.
Dermatitis insect bite : Pada permulaan lesi berupa papul, yang dapat menyerupai insect bite
4.
Herpes zooster : Bila invasi larva yang multipel timbul serentak, papul papul lesi dini
dapat menyerupai herpes zooster4

PROGNOSA
Penyakit ini dapat sembuh sendiri setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. Pengobatan
dimaksudkan untuk mempercepat penyembuhan dan mengurangi rasa ketidaknyamanan pasien.
Umumnya pengobatan selalu memberikan hasil yang baik5.
MORTALITAS
Mortalitas karena penyakit ini belum pernah dilaporkan. Kebanyakan kasus larva migran sembuh
sendiridengan atau tanpa pengobatan, dan tanpa diikuti efek samping jangka panjang apapun3.
MORBIDITAS
Morbiditas dikaitkan dengan pruritus hebat dan kemungkinan infeksi bakterial sekunder. Sangat
jarang sekali, dapat terjadi migrasi ke jaringan dalam, seperti ke paru dan usus, yang dapat
menyebabkan penumonitis (Loefflers Syndrome), enteritis, myositis (nyeri otot)3

LANGKAH LANGKAH PENCEGAHAN


Di Amerika serikat, telah dilakukan de-worming atau pemberantasan cacing pada anjing
dan kucing, dan terbukti mengurangi secara signifikan insiden penyakit ini5
Larva cacing umumnya menginfeksi tubuh melalui kulit kaki yang tidak terlindungi, karena
itu penting sekali memakai alas kaki, dan menghindari kontak langsung bagian tubuh manapun
dengan tanah5.
PENATALAKSANAAN
Modalitas topikal seperti spray etilklorida, nitrogen cair, fenol, CO2 snow, piperazine citrate, dan
elektrokauter umumnya tidak berhasil sempurna, karena larva sering tidak lolos atau tidak mati.
Demikian pula kemoterapi dengan klorokuin, dietiklcarbamazine dan antimony jugatidak berhasil.
Terapi pilihan saat ini adalah dengan preparat antihelmintes baik topikal maupun sistemik2.
SISTEMIK (ORAL)
1.
Tiabendazol (Mintezol), antihelmintes spektrum luas. Dosis 50 mg/kgBB/hari, sehari 2 kali,
diberikan berturut turut selama 2 hari. Dosis maksimum 3 gram sehari, jika belum sembuh
dapat diulangi setelah beberapa hari. Sulit didapat. Efek sampingnya mual, pusing, dan muntah4.
2.
Solusio topikal tiabendazol dalam DMSO, atau suspensi tiabendazol secara oklusi selama
24 48 jam4. Dapat juga disiapkan pil tiabendazol yang dihancurkan dan dicampur dengan
vaseline, di oleskan tipis pada lesi, lalu ditutup dengan band-aid/kasa. Campuran ini memberikan
jaringan kadar antihelmints yang cukup untuk membunuh parasit, tanpa disertai efek samping
sistemik.
3.
Albendazol (Albenza), dosis 400mg dosis tunggal, diberikan tiga hari berturut turut4.
4.
Ivermectin (Stromectol)
AGEN PEMBEKU TOPIKAL
1.
Cryotherapy dengan CO2 snow (dry ice) dengan penekanan selama 45 detik sampai 1
menit, selama 2 hari berturut turut4.

2.
Nitrogen liquid4
3.
Kloretil spray, yang disemprotkan sepanjang lesi. Agak sulit karena tidak diketahui secara
pasti dimana larva berada, dan bila terlalu lama dapat merusak jaringan disekitarnya4.
4.
Direkomendasikan pula penggunaan Benadryl atau krim anti gatal (Calamine lotion atau
Cortisone) untuk mengurangi gatal4.
Daftar Pustaka
1.
Anonymous. Cutaneous Larva Migrans: The Creeping Eruption. Diunduh dari
2.
Jusych, LA. Douglas MC.Cutaneous Larva Migrans: Overview, Treatment and Medication.
Diunduh dari www.emedicine.com. Pada tanggal 29 Desember 2009. Update terakhir 20
November 2009.
3.
Anonymous. Clinical Presentation in Humans. Diunduh dari
www.stanford.edu/group/parasites/parasites2002/cutaneous_larva_migrans/clinical
%20presentation.html pada tanggal 29 Desember 2009
4.
Aisah S. Creeping Eruption dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Kelima. Penerbit
Fakultas Kedokteran FKUI. 125-6 (2007)
5.
Dugdale,DC. Diunduh dari www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001454.htm
Update terakhir 12 Maret 2008
6.
Anonymous.
Cutaneous
Larva
Migrans.
Diunduh
dari
www.en.wikipedia.org/wiki/Cutaneous_larva_migrans
TMC di 10.25
Berbagi
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Link ke posting ini
Buat sebuah Link