Anda di halaman 1dari 13

Varicella pada Orang Dewasa

Vifin Rotuahdo Saragih


102012232 (B6)
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Kebun Jeruk, Jakarta Barat
rotuahdo94saragih@gmail.com

Pendahuluan
Varicella (Cacar Air) adalah penyakit infeksi yang umum yang biasanya terjadi pada anakanak dan merupakan akibat dari infeksi primer Virus Varicella Zoster. Varicella pada anak,
mempunyai tanda yang khas berupa masa prodromal yang pendek bahkan tidak ada dan dengan
adanya bercak gatal disertai dengan papul, vesikel, pustula, dan pada akhirnya, crusta, walaupun
banyak juga lesi kulit yang tidak berkembang sampai vesikel.
Normalnya pada anak, gejala sistemik biasanya ringan. Komplikasi yang serius biasanya
terjadi pada dewasa dan pada anak dengan defisiensi imunitas seluler, dimana penyakit dapat
bermanifestasi klinis berupa, erupsi sangat luas, gejala konstitusional berat, dan pneumonia.
Terdapat kemungkinan fatal jika tidak ada terapi antivirus yang diberikan.
Vaksin Live Attenuated (Oka) mulai diberikan secara rutin pada anak yang sehat diatas
umur 1 tahun 1995. Setelah itu, insidensi varisella dan komplikasinya mulai menurun di Amerika
Serikat. Telah banyak negara bagian yang mewajibkan vaksin ini diberikan sebagai syarat masuk
sekolah.

Pembahasan
Anamnesa
Dalam melakukan anamnesis tanyakanlah hal-hal yang logik mengenai penyakit pasien,
dengarkan dengan baik apa yang dikatakan pasien, jangan memotong pembicaraan pasien bila
tidak perlu. Anamnesis yang baik akan terdiri dari identitas, keluhan utama, riwayat penyakit
sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit dalam keluarga, dan anamnesis pribadi yang
meliputi keadaan social ekonomi, budaya, kebiasaan, obat-obtan dan lingkungan.1
1. Identitas
Meliputi nama lengkap pasien, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, alamat,
pendidikan, pekerjaan, suku bangsa dan agama.
2. Keluhan utama
Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan pasien yang membawanya pergi ke dokter
atau mencari pertolongan. Dalam menuliskan keluhan utama, harus disertai dengan
indicator waktu, berapa lama pasien mengalami hal tersebut.1
-

Pasien mungkin mengeluhkan ruam, bercak, gatal, ulkus atau pertumbuhan.


Mereka diminta untuk menjelaskan yang mereka cemaskan dengan pasti dan juga
distribusinya.

Faktor pemicu dan pereda, misalnya panas, dingin, hangat, atau kering.
Tanyakan kelainan meluas atau tampak semakin membaik? Walaupun sering
kali sulit, lama ruam atau kelainan kulit berlangsung harus diketahui, terutama
pada tumor kulit.

Perubahan yang terjadi setelah suatu lesi timbul juga harus diketahui. Apakah lesi
menyebar dari bagian tengah atau tepi, atau apakah lesi tiba-tiba muncul dalam
jumlah yang banyak dan kadang menghilang?

3. Riwayat penyakit sekarang


Riwayat perjalanan penyakit merupakan cerita yang kronologis, terinci dan jelas
mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum keluhan utama sampai pasien datang
2

berobat. Keluhan utama ditelusuri untuk menentukan penyebab, Tanya jawab diarahkan
sesuai dengan hipotesis yang dapat berubah bila jawaban pasien tidak cocok.1
Dalam melakukan anamnesis, harus diusahakan mendapatkan data-data sebagai
berikut:
o Waktu dan lamanya keluhan berlangsung
o Sifat dan beratnya serangan
o Lokalisasi dan penyebarannya
o Hubungannya dengan aktivias (risiko dan pencetus serangan)
o Keluhan-keluhan yang menyertai serangan
o Apakah keluhan baru pertama kali atau berulang kali
o Apakah ada saudara-saudara atau teman dekat yang menderita keluhan
yang sama
o Perkembangan penyakit
o Upaya yang telah dilakukan dan bagaimana hasilnya
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Bertujuan untuk megetahui kemungkinan-kemungkinan adanya hubungan antara
penyakit yang pernah di derita dengan penyakitnya sekarang.
Menanyakan apakah pasien sudah pernah menderita seperti ini sebelumnya?
5. Riwayat Keluarga
Penting untuk mencari kemungkinan penyakit herediter, familial, atau penyakit
infeksi. Pada penyakit yang bersifat congenital perlu juga tanyakan riwayat kehamilan
dan kelahiran.1
Perlu dipastikan apakah dari keluarga ada yang mengalami penyakit kulit yang sama?
6. Riwayat Obat
Jenis dan lama obat yang sedang diminum pasien harus diketahui. Obat adalah
kausa yang penting pada sejumlah besar kasus erupsi.2

Pemeriksaan fisik

Mengukur suhu tubuh

Inspeksi kulit pasien, melihat adanya vesikel, papula, atau crusta

Mengukur tekanan darah.

Pemeriksaan penunjang
1. Test Tzanck
Bahan diambil dari dasar vesikel dan apusan lalu diletakan pada gelas obyek dan
diwarnai dengan toluidin biru 1%. Dari hasil test ditemukan adanya giant cell atau sel-sel
raksasa yang berinti banyak.
2. Direct fluorescent assay (DFA)
Preparat diambil dari scraping dasar vesikel. Pemriksaan ini dapat membedakan
antara VVZ dengan herpes simplex virus.
3. Polymerase chain reaction (PCR)
Menggunakan bebagai jenis preparat seperti scraping dasar vesika. Tes ini dapat
menemukan nucleic acid dan virus varisela zoster.3
Diagnosis kerja
Gambaran khas :
1. Masa prodromal singkat dan ringan
2. Lesi berkembang terutama sentral
3. Perubahan lesi cepat papula berkembang menjadi vesikula berkembang kembali menjadi
pustula dan kemudian akan menjadi krusta.
4. Terdapat tingkat lesi yang sama pada saat bersamaan pada daerah yang sama
Terdapat lesi di mukosa mulut.
Dari proses anamnesis dan pemeriksaan fisik serta penunjang, dapat ditentukan diagnosis
kerjanya adalah varicella yakni penyakit infeksi yang umum yang biasanya terjadi pada anakanak yang disebabkan oleh herpes virus varicella atau disebut juga virus varicella-zoster (virus
V-Z). Virus tersebut dapat pula menyebabkan herpes zoster.
4

Diagnosis banding
1. Herpes Zooster
disebabkan oleh reaktivasi dari Virus Varisela Zooster yang oleh penderita
varisela. Herpes Zooster ini ditandai dengan lesi unilateral terlokalisasi yang mirip
dengan cacar air dan terdistribusi pada syaraf sensoris. Biasanya lebih dari satu syaraf
yang terkena dan pada beberapa pasien dengan penyebaran hematogen, terjadi lesi
menyeluruh yang timbul setelah erupsi lokal. Zoster biasanya terjadi pada pasien dengan
imun yang rentan (immunocompromised), penyakit ini juga umum pada orang dewasa
dari pada anak-anak. Pada dewasa lebih sering diikuti nyeri pada kulit.4

2. Variola (smallpox)
Variola adalah suatu penyakit akut menular dengan gejala umum yang berat yang
disebabkan oleh virus variola. Penyakit ini ditularkan secara langsung dan airbone.
Masa inkubasi biasanya 12 14 hari. Mula mula terdapat stadium prodromal
dengan gejala nyeri kepala, rasa menggigil, nyeri di punggung dan tungkai, panas tinggi
dan gejala timbul mendadak serta timbul kemerah merahan yang sukar dibedakan
dengan morbili. Rasa nyeri berkurang waktu macula menjadi papula, suhu menjadi
normal sampai pada fase pustule dan timbul vesikel yang cekung ditengahnya.5,6
Etiologi
Varisela disebabkan oleh herpes virus varicella atau disebut juga virus varicella-zoster
(virus V-Z). Virus tersebut dapat pula menyebabkan herpes zoster. Kedua penyakit ini
mempunyai manifestasi klinis yang berbeda. Diperkirakan bahwa setelah ada kontak dengan
virus V-Z akan terjadi varisela; kemudian setelah penderita varisela tersebut sembuh, mungkin
virus ini tetap ada dalam bentuk laten (tanpa ada manifestasi klinis) dan kemudian virus V-Z
diaktivasi oleh trauma sehingga menyebabkan herpes zoster. Virus V-Z dapat ditemukan dalam
cairan vesikel dan dalam darah penderita varisela.7

Epidemiologi
Sangat mudah menular, yaitu melalui percikan ludah dan kontak. Dapat mengenai semua
golongan umur, termasuk neonatus( varisela congenital), tetapi tersering pada masa anak.
Penderita dapat menularkan penyakit selama 24 jam sebelum kelainan kulit (erupsi) timbul
sampai 6 atau 7 hari kemudian. Biasanya seumur hidup, varisela hanya diderita satu kali. Residif
dapat terjadi pada penderita penyakit keganasan dan pada anak dengan pencangkokan ginjal
yang sedang diberi pengobatan imunosupresif.7
Di Amerika Serikat dan daerah beriklim sedang 90 95% individu mendapat VVZ pada
masa anak. Epidemi varisela tahunan terjadi pada musim dingin dan musim semi. Varisela
kurang lazim di daerah tropik sehingga angka rentan pada orang dewasa 20 30%. Angka
penularan rumah tangga adalah 80 90%, lebih banyak kontak secara kebetulan seperti
pemajanan ruang kelas sekolah disertai dengan angka serangan 30% atau kurang.

Patogenesis
Pada saat penyakit varisela ini aktif, maka akan sangat menular. Infeksi biasanya timbul
pada anak anak usia sekolah tetapi kadang kadang juga menyerang orang dewasa muda.
Varisela ditandai dengan malaise dan demam, yang diikuti erupsi multipel makula eritematosa
kecil, papula dan vesikel.
Varisela mulai dengan pemasukan virus ke mukosa yang dipindahkan dalam sekresi
saluran pernapasan atau dengan kontak langsung lesi kulit varisela atau herpes zoster.
Pemasukan disertai dengan masa inkubasi 10-21 hari pada saat tersebut penyebaran virus
subklinis terjadi. Akibat lesi kulit tersebar bila infeksi masuk fase viremi; sel mononuklear darah
perifer membawa virus infeksius, menghasilkan kelompok vesikel baru selama 3-7 hari. VVZ
juga diangkut kembali ke tempat-tempat mukosa saluran pernapasan selama akhir masa inkubasi,
memungkinkan penyebaran pada kontak rentan sebelum muncul ruam.
Virus varisela zoster masuk ke dalam tubuh manusia melalui mukosa salurang napas atas
atau orofaring. Multiplikasi virus di tempat tersebut diikuti oleh penyebaran virus dalam jumlah
sedikit melalui darah dan limfe (viremia primer). Virus dimusnahkan oleh sel sistem retikulo
6

endotelial, yang merupakan tempat utama replikasi virus selama masa inkubasi. Selama masa
inkubasi virus dihambat sebagian oleh mekanisme pertahanan tubuh dan respon imun yang
timbul. Pada sebagian besar individu yang terinfeksi, replikasi virus dapat mengalahkan
pertahanan tubuh yang belum berkembang, sehingga 2 minggu setelah infeksi terjadi viremia
sekunder dalam jumlah yang lebih banyak. Viremia tersebut yang menyebabkan demam dan
malase serta menyebarkan virus ke seluruh tubuh, terutama ke kulit dan mukosa.
Respon imun pasien yang kemudian berkembang akan menghentikan viremia dan
menghambat berlanjutnya lesi pada kulit dan organ lain. Terjadinya komplikasi varisela
mencerminkan gagalnya respons imun tersebut menghentikan replikasi serta penyebaran virus
dan berlanjutnya infeksi. Keadaan ini terutama terjadi pada pasien imunokompromais. Dalam 25 hari setelah gejala klinis varisela terlihat, antibodi (IgG, IgM, IgA) spesifik terhadap VVZ
dapat dideteksi dan mencapai titer tertinggi pada minggu kedua atau ketiga. Setelah itu titer IgG
menurun perlahan, sedangkan IgM dan IgA menurun lebih cepat dan tidak terdeteksi satu tahun
setelah infeksi. Imunitas selular terhadap VVZ juga berkembang selama infeksi dan menetap
selama bertahun-tahun. Pada pasien imunokompeten imunitas humoral terhadap VVZ berfungsi
protektif terhadap varisela, sehingga pajanan ulang tidak menyebabkan infeksi (kekebalan
seumur hidup). Imunitas selular lebih penting daripada imunitas humoral untuk penyembuhan
varisela. Pada pasien imunokompromais, oleh karena imunitas humoral dan selularnya
terganggu, pajanan ulang dapat menyebabkan rekurensi dan varisela menjadi lebih berat dan
berlangsung lebih lama.
Penularan virus infeksius oleh droplet pernapasan membedakan VVZ dari virus herpes
manusia yang lain. Penyebaran viseral virus menyertai kegagalan hospes untuk menghentikan
viremia, yang menyebabkan infeksi paru, hati, otak dan organ lain. VVZ menjadi laten di sel
akar ganglia dorsal pada semua individu yang mengalami infeksi primer. Reaktivasinya
menyebabkan ruam vesikuler terlokalisasi yang biasanya melibatkan penyebaran dermatom dari
satu saraf sensoris; perubahan nekrotik ditimbulkan pada ganglian terkait, kadang-kadang meluas
ke dalam kornu posterior.
Histopatologi varisela dan lesi herpes zoster adalah identik; VVZ infeksius ada pada lesi
herpes zoster, sebagaimana ia berada dalam lesi varisela, tetapi tidak dilepaskan ke dalam sekresi
pernapasan. Varisela mendatangkan imunitas humoral dan selular yang sangat protektif terhadap
7

infeksi ulang bergejala. Supresi imunitas selular pada VVZ berkorelasi dengan penambahan
risiko reaktivasi VVZ, sebagai herpes zoster.5

Gejala klinis
Masa inkubasi 11-12 hari, biasanya 13-17 hari. Perjalanan penyakit dibagi menjadi 2 stadium,
yaitu:
1. Stadium prodromal
Stadium ini berlangsung 24 jam sebelum kelainan kulit timbul, terdapat gejala
panas, perasaan lemah(malaise), anoreksia Dan kadang-kadang nyeri abdomen ringan
terjadi 24-48 jam sebelum ruam muncul. Kenaikan suhu biasanya sedang, berkisar dari
100-102OF, tetapi mungkin setinggi 106OF; demam dan gejala sistemik lainnya menetap
selama 2-4 hari pertama setelah ruam mulai muncul. Kadang-kadang terdapat suatu
kelainan scarlatlatinaform atau morbiliform.7
2. Stadium erupsi
Dimulai dengan terjadinya papula merah, kecil, yang berubah menjadi vesikel
yang berisi cairan jernih dan mempunyai eritematous. Permukaan vesikel tidak
memperlihatkan cekungan di tengah (unumbilicated). Isi vesikel berubah menjadi keruh
dalam waktu 24 jam. Biasanya vesikel menjadi kering sebelum isinya menjadi keruh.
Dalam 3-4 hari erupsi tersebar; mula-mula di dada lalu ke muka, bahu, dan anggota
gerak. Erupsi ini desertai perasaan gatal. Pada suatu saat terdapat bermacam-macam
stadium erupsi ini merupakan tanda khas penyakit varisela. Vesikel tidak hanya terdapat
dikulit, melainkan juga diselaput lendir mulut. Bila terdapat infeksi sekunder, maka akan
terjadi limfadenopatia umum.7

Gambar 1: Varisela7

Penatalaksanaan
-

Non Medikamentosa
Untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah penggarukan, sebaiknya kulit
dikompres dingin. Bisa juga dioleskan losyen kalamin, antihistamin atau losyen
lainnya yang mengandung mentol atau fenol. Untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi
bakteri, sebaiknya: kulit dicuci sesering mungkin dengan air dan sabun, menjaga
kebersihan tangan, kuku dipotong pendek, pakaian tetap kering dan bersih. Bedak
salisilat 1% mencegah infeksi sekunder.7

Isolasi untuk mencegah penularan.


Diet bergizi tinggi (Tinggi Kalori dan Protein).
Bila demam tinggi, kompres dengan air hangat
Upayakan agar tidak terjadi infeksi pada kulit, misalnya pemberian antiseptik pada air
mandi
Upayakan agar vesikel tidak pecah dengan cara jangan menggaruk vesikel, kuku jangan
dibiarkan panjang, bila hendak mengeringkan badan cukup tepal-tepalkan handuk pada
kulit dan jangan digosok.

Medikamentosa
Mengurangi rasa gatal (antihistamin). Jika terjadi infeksi bakteri atau infeksi
sekuder diberikan antibiotik. Jika kasusnya berat, bisa diberikan obat anti-virus asiklovir.
Untuk menurunkan demam, sebaiknya gunakan asetaminofen, jangan aspirin. Karena
aspirin dapat memberikan efek samping yang buruk pada anak-anak. Obat anti-virus
boleh diberikan kepada anak yang berusia lebih dari 2 tahun.8
Asiklovir adalah obat pilihan untuk varisela dan herpes zoster. Setiap penderita
yang mempunyai tanda-tanda VVZ termasuk pneumonia, hepatitis, trombisitopenia, atau
ensefalitis harus mendapat pengobatan segera dengan asiklovir intravena.
Terapi asiklovir diberikan dalam 72 jam utuk mencegah varisela progresif dan
penyebaran visceral pada penderita resiko tinggi; dosis 500mg/m2 setiap 8 jam, diberikan
selama intravena selama 7 hari atau sampai tidak ada lesi baru yang tampak selama
48jam. Asiklovir oral menghilangkan gejala-gejala klinis varisela pada anak, remaja dan
dewasa lainnya yang sehat bila diberikan 24 jam sesudah munculnya lesi kulit awal.5

Komplikasi
Komplikasi jarang pada anak-anak dan lebih sering pada dewasa, berupa ensefalitis,
pneumonia, glomerulonefritis, karditis, hepatitis, keratitis, konjungtivitis, otitis, arteritis, dan
kelainan darah (beberapa macam purpura).
Infeksi pada trimester pertama kehamilan dapat menimbulkan kelainan kongenital, sedangkan
pada beberapa hari menjelang kelahiran dapat menyebabkan varisela kongenital pada neonatus.5

Prognosis
Dengan perawatan teliti dan memperhatikan higiene akan memberikan prognosis yang
baik dan jaringan parut yang timbul akan menjadi sedikit. Pada anak-anak sehat, prognosis
varisela lebih baik dibandingkan orang dewasa. Pada neonatus dan anak yang menderita
leukemia, imunodefisiensi, sering menimbulkan komplikasi sehingga angka kematian
meningkat. Pada neonatus kematian umumnya disebabkan karena gagal napas akut, sedangkan
10

pada anak dengan degenerasi maligna dan immunodefisiensi tanpa vaksinasi atau pengobatan
antivirus, kematian biasanya disebabkan oleh komplikasinya. Komplikasi tersering yang
menyebabkan kematian adalah pneumonia dan ensefalitis. Dan sebagian orang dewasa
meninggal akibat komplikasi dari pneumonia. Angka fatalitas kasus dapat menjadi 15% pada
pasien immunicompromised dan hingga 30% pada varisela neonatal berat bila tidak diobati
dengan tepat.6
Pencegahan
Aktif: Dilakukan dengan memberikan vaksin varisela yang "live attenuated." Dianjurkan
agar vaksin varisela ini hanya diberikan kepada penderita leukemia, penderita penyakit
keganasan lainnya dan penderita dengan defisiensi imunologis untuk mencegah komplikasi dan
kematian bila kemudian terinfeksi oleh varisela. Pada anak sehat sebaiknya vaksinasi varisela
jangan diberikan karena bila anak tersebut terkena penyakit ini, perjalanan penyakitnya ringan;
lagi pula semua virus herpes dapat menyebabkan suatu penyakit laten dan akibatnya baru nyata
beberapa dasawarsa setelah vaksin itu diberikan.5
Pasif: Dilakukan dengan memberikan zoster imun globulin (ZIG) dari zoster imun plasma.
(ZIP).
ZIG ialah suatu globulin-gama dengan titer antibodi yang tinggi dan yang didapatkan dari
penderita yang telah sembuh dari infeksi herpes zoster. Pemberian ZIG sebanyak 5 ml dalam
72 jam seteiah kontak dengan penderita varisela dapat mencegah penyakit ini pada anak sehat;
tapi pada anak dengan defisiensi imunologis, leukemia atau penyakit keganasan lainnya,
pemberian ZIG tidak menye- babkan pencegahan yang sempurna; lagi pula diperlukan ZIG
dengan titer yang tinggi dan dalam jumlah yang lebih besar.
ZIP adalah plasma yang berasal dari penderita yang baru sembuh dari herpes zoster dan
diberikan secara intravena sebanyak 3-14,3 ml/kgbb. Pemberian ZIP dalam 1-7 hari seteiah
kontak dengan penderita varisela pada anak dengan defisiensi imunologis, leukemia atau
penyakit keganasan lainnya mengakibatkan menurunnya insidens varisela dan merubah
perjalanan penyakit varisela menjadi ringan dan dapat mencegah varisela untuk kedua kalinya.
Pemberian globulin-gama akan menyebabkan peralanan penyakit varisela jadi ringan tapi tidak
dapat mencegah timbulnya varisela. Dianjurkan untuk memberikan globulin-gama kepada bayi
11

yang dilahirkan dalam waktu 4 hari seteiah ibunya memperlihatkan tanda-tanda verisela; ini
dapat dilaksanakan pada jam-jam pertama kehidupan bayi tersebut.5
Imunisasi Aktif
Dilakukan dengan memberikan vaksin varisela yang dilemahkan (liveattenuated) yang
berasal dari OKA Strain dengan efek imunogenisitas tinggi dantingkat proteksi cukup tinggi
berkisar 71-100% serta mungkin lebih lama. Dapatdiberikan pada anak sehat ataupun penderita
leukemia, imunodefisiensi. Untuk penderita pasca kontak dapat diberikan vaksin ini dalam
waktu 72 jam dengan maksud sebagai preventif atau mengurangi gejala penyakit. Dosis yang
dianjurkan ialah 0,5 mL subkutan.
Pemberian vaksin ini ternyata cukup aman. Dapat diberikan bersamaan dengan MMR
dengan daya proteksi yang sama dan efek samping hanya berupa rash yang ringan.
Imunisasi Pasif
Dilakukan dengan memberikan Zoster Imun Globulin (ZIG) dan Zoster Imun Plasma
(ZIP). Zoster Imun Globulin (ZIG) adalah suatu globulin-gama dengan titer antibody yang tinggi
dan yang didapatkan dari penderita yang telah sembuh dari infeksi herpes zoster. Dosis Zoster
Imuno Globulin (ZIG): 0,6 mL/kg BB intramuscular diberikan sebanyak 5mL dalam 72 jam
setelah kontak.
Tapi pada anak dengan defisiensi imunologis, leukimea atau penyakitkeganasan lainnya,
pemberian Zoster Imun Globulin (ZIG) tidak menyebabkan pencegahan yang sempurna, lagi
pula diperlukan Zoster Imun Globulin (ZIG) dengan titer yang tinggi dan dalan jumlah yang
lebih besar.
Zoster Imun Plasma (ZIP) adalah plasma yang berasal dari penderita yang baru sembuh
dari herpes zoster dan diberikan secara intravena sebanyak 3-14,3mL/kg BB. Pemberian Zoster
Imun Plasma (ZIP) dalam 1-7 hari setelah kontak dengan penderita varisela pada anak dengan
defisiensi imunologis, leukemia, atau penyakit keganasan lainnya mengakibatkan menurunnya
insiden varisela danmerubah perjalanan penyakit varisela menjadi ringan dan dapat mencegah
varisela untuk kedua kalinya.5

12

Kesimpulan
Varisela merupakan penyakit akut, yang menular yang ditandai oleh vesikel di kulit dan
selaput lendir yang disebabkan oleh virus-varicella-zoster. Varisela sangat mudah menyebar
yaitu melalui percikan ludah dan kontak. Dapat mengenai semua golongan umur, termasuk
neonatus namun yang tersering pada anak. Biasanya seumur hidup, varisela hanya diderita satu
kali. Varisela dapat disembuhkan dengan pemberian obat-obat tertentu yang paling banyak
digunakan adalah asiklovir. Jika tidak segera ditindak, maka akan menjadi herpes zoster, yang
lebih berbahaya daripada varisela zoster. Cara pencegahannya adalah dengan melakukan vaksin
dan hindari kontak dengan para penderita varisela.

Daftar pustaka
1. Sudoyo AW, Setiyohadi B. Ilmu penyakit dalam. Jakarta: Interna Publishing; 2009.h.258.
2. Dacre J, Kopelman P. Keterampilan Klinis. Jakarta: EGC; 2002.h.257-263.
3. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi. Jakarta: EGC; 2006.h. 1446-7.
4. Cahyono SB. Vaksinasi. Yogyakarta: Kanisius; 2010.h.89.
5. Arvin BK. Ilmu kesehatan anak. Jakarta: EGC; 2003.h. 1099-1100.
6. Rampengan TH. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Jakarta: EGC; 2005
7. Hassan R, Alatas H. Ilmu kesehatan anak. Jakarta: Infomedika; 2007.h. 637-40.
8. Siregar,RS. Saripati Penyakit Kulit. Jakarta: EGC; 2003.h. 88-9.

13