Anda di halaman 1dari 10

RESTYA FITRIANI

04111001033

Analisis Masalah
1. Anatomi pernafasan pada anak 2 tahun?
Saluran pernafasan ada 2, yaitu:
1. Saluran napas atas:
a. Nasal cavity
b. Faring
c. Epiglotis
d. Larynx
2. Saluran nafas bawah :
a. Trakea
b. Bronkus
c. Cabang bronkus
d. Bronkiolus
e. Alveolus

a. Pada anak-anak, kepala lebih besar, dan lidah juga lebih besar
b. Laring yang letaknya lebih anterior
c. Epiglottis yang lebih panjang
d. Leher dan trache yang lebih pendek daripada dewasa

e. Kartilago tiroid yang terletak berdekatan dengan airway


f. Saluran napas pada anak lebih sempit dibanding dewasa
g. Diafragma bayi lebih datar dan kurang mampu meminadahkan volume yang basar
pada arah vertikal, daya pengembangan terbatas pada kerangka ig

Fungsi:
a. Hidung: menjaga kehangatan udara, menyaring dan membersihkan udara yang
masuk, resonating chamber
b. Paranasal sinus: keseimbangan , resonasi suara
c. Faring: jalan masuk udara
d. Laring: kotak suara, mencegah masuk makanan ke saluran napas bawah, jalur
masuk udara ke paru, resonasi suara(pita suara),
e. Trakea, bronkus: jalur masuk udara ke paru
f. Alveoli: pertukaran gas pada paru
2. Apa perbedaan sianosis sentral dan sianosis perifer?
Sianosis adalah warna kebiruan pada kulit dan membran mukosa sebagai akibat dari
peningkatan kadar hemoglobin tereduksi atau derivat hemoglobin di dalam pembuluh
darah kecil pada daerah tersebut.
Sianosis sentral, terdapatdarah arteri yang tidak mengalami saturasi atau derivat
hemoglobin abnormal, dan membran mukosa & kulit terkena. Sedangkan sianosis
perifer disebabkan oleh perlambatan aliran darah ke area dan ekstraksi oksigen besar
secara abnormal dari darah arteri tersaturasi secara normal

Sebab-sebab sianosis:
Sianosis sentral
A. Penurunan saturasi oksigen arterial

1. Penurunan tekanan atmosfer di tempat tinggi


2. Gangguan fungsi pulmoner
i. Hipoventilasi pulmonalis
ii. Hubungan yang tidak setara antara ventilasi dan perfusi
pulmonalis (perfusi alveoli yang mengalami hipoventilasi)
3. Pintasan anatomik
i. Tipe tertentu penyakit jantung kongenital
ii. Fistula arteriovenosa pulmonalis
iii. Pintasan intrapulmoner yang kecil-kecil dan multipel
B. Abnormalitas hemoglobin
1. Methemoglobinemia herediter, akuisita
2. Sulfhemoglobinemia akuisita
3. Karboksihemoglobinemia ()bukan sianosis sejati)

Sianosis perifer
A.
B.
C.
D.
E.

Penurunan curah jantung


Terkena hawa dingin
Redistribusi aliran darah dari ekstremitas
Obstruksi arterial
Obstruksi venous

3. Pencegahan croup?
a. Menjaga kebersihan balita
b. Menghindari balita dari paparan infeksi (dari orang sakit, udara yang buruk, dan makanan
yang kotor)
c. Lakukan imunisasi balita secara lengkap
d. Berikan nutrisi yang lengkap pada balita
e. Memberikan Asi Eksklusif (1 hari - 6 bulan)

Learning Issue
Sindrom croup
Definisi
Croup (laryngotracheitis,laryngotracheobronchitis) adalah penyakit peradangan akut
di daerah subglotis larings, trakea,dan bronkus. Biasanya ditandai dengan suara serak, batuk
kering seperti menggonggong, dan stridor inspirasi
Etiologi

Penyakit ini biasanya menyebar melalui pernafasan dari percikan yang mengandung
virus di udara atau berhubungan langsung dengan penderita yang terjangkit melalui percikan
dahak.
A. Virus
1. Parainfluenza virus tipe I,II,III (50-75% kasus).
2. Virus influenza tipe A dan B.
3. Adenovirus.
4. Enterovirus.
5. Respiratory syncytial virus (RSV).
6. Measles.
7. Coxsackievirus.
8. Rhinovirus.
9. Echovirus.
10. Reovirus.
11. Metapneumovirus.
B. Bakteri (jika terjadi infeksi sekunder)
1. Streptococcus pyogenes.
2. Streptococcus pneumoniae.
3. Staphylococcus aureus.
4. Haemophilus influenzae.
5. Moraxella catarrhalis.
6. Mycoplasma pneumoniae.
Epidemiologi
Puncak insidensi croup kurang lebih 4,6 kasus per 100 anak usia 1sampai 2 tahun; dan
kurang lebih 1,3%-5% anak penderita croup diharuskan rawat inap
Faktor risiko

sangat sering terjadi terjadi pada musim gugur dan musim dingin
lahir prematur
Croup terutama berpengaruh pada anak usia 6 bulan sampai 3 tahun, meskipun begitu

adakalanya berpengaruh pada anak yang lebih muda ataupun lebih tua
Anak laki-laki lebih sering daripada perempuan

Tipe croup
A. Croup virus merupakan penyakit yang paling umum .Penyakit ini merupakan akibat dari

infeksi virus pada laring dan trakea.Croup jenis ini sering didahului dengan adanya
demam kemudian berlanjut menjadi batuk yang menggonggong.Jika gejala semakin parah

akan terdengar stridor.Anak yang terinfeksi virus biasanya mengalami demam yang tidak
terlalu tinggi, namun ada yang bisa mencapai 1040F.
B. Croup Spasmodic ,biasanya disebabakan oleh infeksi saluran nafas bagian atas atau
reaksi alergi. Gejala biasanya timbul pada malam hari. Tiba tiba anak mengalami sesak
nafas, diikuti stridor, dan batuk menggonggong. Anak yang menderita croup spasmodik
biasanya tidak didahului dengan demam.
Derajat keparahan penyakit
Menurut westley scale

Inspiratory stridor
None - 0 points
Upon agitation - 1 point
At rest - 2 points
Retractions
Mild - 1 point
Moderate - 2 points
Severe - 3 points
Air entry
Normal - 0 points
Mild decrease - 1 point
Marked decrease - 2 points
Cyanosis
None - 0 points
Upon agitation - 4 points
At rest - 5 points
Level of consciousness
Normal - 0 points
Depressed - 5 points

Menurut Westley scale, nilai< 3 = penyakit ringan , nilai 3-6 = penyakit sedang ,nilai > 6 =
penyakit berat.
Atau dengan klasifikasi sebagai berikut :
Ringan

Sedang

Berat

Mengacu pada

Terkadang disertai

Batuk

Batuk menggonggong

gagal nafas
Batuk

batuk

menggonggong

yang sering, terdapat

menggonggong

menggonggong,

yang sering ,

stridor inspirasi yang

(sering tapi tidak

tidak terdengar

stridor saat istirahat

menetap dan terkadang

menonjol), stridor

stridor saat istirahat,

musah terdengar,

disertai stridor

yang terdengar saat

tidak / disertai

retraksi dinding

ekspirasi, ditandai

istirahat ( pada

retraksi ringan dari

dada suprasternal

dengan adanya retraksi

umumnya sulit untk

otot suprasternal dan

dan sternal ada saat

dinding dada, timbul

didengar), tarikan

/ atau tarikan

istirahat, tetapi

distress dan agitasi

dinding dada

intercostae

tidak ada atau

yang signifikan.

(mungkin tidak

sedikit distress atau

menjadi tanda),

agitasi

letargi dan
penurunan level
kesadaran.

Manifestasi klinis
Biasanya dimulai dengan gejala pernafasan non spesific seperti :
a.
b.
c.
d.

Demam (biasanya 38-390C)


Batuk
Rhinorhea
sore throat

Dalam 1-2 hari gejalanya berkembang menjadi :


a. Suara serak
b. Barking cough
c. Stridor inspiratory
Gejala-gejala ini akan memburuk pada malam hari
Ketika usaha untuk bernafasnya mulai meningkat maka anak akan mulai stop untuk makan
Terapi
Terapi pada Croup tergantung derajat sakitnya :
A. Pada Croup Berat
1. Tenangkan anak pada posisi yang nyaman
2. Terapi Oksigen
Pada anak dengan kondisi respiratori distress yang sangat parah, harus segera
diberikan oksigen 100% melalui bag-valve-mask device. jika ada lendir jalan nafas
harus dibersihkan dangan penghisapan.

Intubasi ETT diindikasikan setelah resusitasi emergency tersebut atau jika terdapat
penyempitan jalan napas (stridor). ETT yang digunakan berukuran 0,5 1mm lebih
kecil dari perkiraan (pada anak ). Cara memperkirakan ukuran ETT yang sesuai
dengan umur anak dapat menggunakan rumus :

Internal diameter (mm) = (Age/4) + 4


Length (cm) = (Age/2) + 12 for an oral tube
Length (cm) = (Age/2) + 15 for nasal tube

Maka pada kasus ini, dapat digunakan ETT berukuran diameter 4,5 mm dengan
panjang 16 cm. Hanya 5% pasien anak dengan croup dilakukan intubasi trakea. Keputusan
melakukan intubasi ini bila terjadi takikardia, takipnea, retraksi dinding dada, atau adanya
gambaran sianosis, kelelahan, kebingungan. Semua anak yang diintubasi harus dimonitoring
kadar CO2 dan SaO2 nya.
1. Monitoring, secondary survey, dan pencarian key featrure (gambaran klinis utama)

Monitoring dengan seksama HR, RR, kerja nafas, ABG, dan tanda klinis lain untuk
menegakan diagnosis.
2. Emergency Treatment
Nebulized racemic atau L-epinephrine diberikan pada kasus respiratory distress berat atau
menengah. Obat ini bekerja dengan stimulasi adrenergic, yang menyebabkan konstriksi dari
precapillary arterioles sehingga menurunkan tekanan hydrostatic kapiler. Mekanisme ini
menyebabkan resorbsi cairan dari intrestitium mukosa laring dan menekan edema. Aktivitas
beta-2-adrenergic menyebabkan relaksasi otot polos bronchial (bronkodilator). Nebulised
adrenaline empat vial 1 mL (total 4 mL) dari 1:1000 larutan

3. Medicamentosa (definitive treatment)


Oral prednisolone 1 mg/kg BB
Dexamethasone IM 0,6 mg/kgBB
Corticosteroid, dengan mekanisme kerja anti-inflamasi, bekerja menekan edema pada
mukosa laring sehingga akan mengurangi obstruksi, Obat pilihan yang digunakan adalah
dexamethason 0.15 mg/kg (pada kondisi respiratory distress) atau 0,3 0,6 mg/kg pada
kasus mild-to-moderate croup. Dapat diberikan peroral, IV, IM tanpa mengurangi efektivitas
obat.
Obat lain yang dapat digunakan adalah prednisolone dan nebulised budesonid (2 mg).
Dexamethason dapat diberikan untuk 2 3 hari jika simtom menetap.
Dexamethasone IM
Child's weight Dose

Preparation

5-10 kg

5 mg

5 mg/ml

11-20 kg

8 mg

8 mg/2 ml

21-30 kg

10 mg 5 mg/ml

Oral prednisolone suspension


Child's weight Dose

Preparation (5mg/ml)

5-10 kg

25 mg 5 ml

11-20 kg

50 mg 10 ml

21-30 kg

75 mg 15 ml

Golongan corticosteroid ini dikontraindikasikan pada kasus anak dengan varicella


atau tuberculosis yang tak tertangani.Antibiotik tidak diindikasikan pada kasus ini, kecuali

bila telah terjadi kondisi laryngotrakeoronkitis atau laringotrakeobronkopneumonitis yang


disertai infeksi bakteri.

4. Follow up
Biarkan anak terletak pada posisi yang nyaman.Setelah itu kita pantau kondisi anak
setelah diberikan terapi.

Prinsip Penatalaksanaan Emergensi Pediatric


Dalam kondisi emergency, alogaritma prinsip assessment dan penatalaksanaan
pediatric menurut Advance Pediatric Live Support ed. 1, meliputi :
1. Primary survey
2. Resusitation
3. Secondary survey
4. Identification working diagnosis (key feature)
5. Emergency treatment
6. Stabilisasi
7. Transfer / Definitive care
Alogaritma secara lengkap digambarkan sebagai berikut :