Anda di halaman 1dari 27

SURAH AL-BAQARAH

AYAT 1 - 20

Tafsir Fii Zilalil Quran


Surat Al-Baqarah Ayat 1-20

Ayat 1
001. (Alif laam miim) Allah yang lebih mengetahui akan maksudnya.

Ayat 2
002. (Kitab ini) yakni yang dibaca oleh Muhammad saw. (tidak ada keraguan) atau kebimbangan
(padanya) bahwa ia benar-benar dari Allah swt. Kalimat negatif menjadi predikat dari subyek
'Kitab ini', sedangkan kata-kata isyarat 'ini' dipakai sebagai penghormatan. (menjadi petunjuk)
sebagai predikat kedua, artinya menjadi penuntun (bagi orang-orang yang bertakwa)
maksudnya orang-orang yang mengusahakan diri mereka supaya menjadi takwa dengan jalan
mengikuti perintah dan menjauhi larangan demi menjaga diri dari api neraka.

Ayat 3
003. (Orang-orang yang beriman) yang membenarkan (kepada yang gaib) yaitu yang tidak
kelihatan oleh mereka, seperti kebangkitan, surga dan neraka (dan mendirikan salat) artinya
melakukannya sebagaimana mestinya (dan sebagian dari yang Kami berikan kepada mereka)
yang Kami anugerahkan kepada mereka sebagai rezeki (mereka nafkahkan) mereka belanjakan
untuk jalan menaati Allah.
Ayat 4
004. (Dan orang-orang yang beriman pada apa yang diturunkan kepadamu) maksudnya
Alquran, (dan apa yang diturunkan sebelummu) yaitu Taurat, Injil dan selainnya (serta mereka
yakin akan hari akhirat), artinya mengetahui secara pasti.
Ayat 5
005. (Merekalah), yakni orang-orang yang memenuhi sifat-sifat yang disebutkan di atas (yang
beroleh petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung) yang akan
berhasil meraih surga dan terlepas dari siksa neraka.

Ayat 6
006. (Sesungguhnya orang-orang kafir) seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan lainnya (sama saja bagi
mereka, apakah kamu beri peringatan) dibaca, a-andzartahum, yakni dengan dua buah hamzah
secara tegas. Dapat pula hamzah yang kedua dilebur menjadi alif hingga hanya tinggal satu
hamzah saja yang dibaca panjang (atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan
beriman.) Hal itu telah diketahui oleh Allah, maka janganlah kamu berharap mereka akan
beriman. 'Indzar' atau peringatan, artinya pemberitahuan disertai ancaman.

Ayat 7
007. (Allah mengunci mati hati mereka) maksudnya menutup rapat hati mereka sehingga tidak
dapat dimasuki oleh kebaikan (begitu pun pendengaran mereka) maksudnya alat-alat atau
sumber-sumber pendengaran mereka dikunci sehingga mereka tidak memperoleh manfaat dari
kebenaran yang mereka terima (sedangkan penglihatan mereka ditutup) dengan penutup yang
menutupinya sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran (dan bagi mereka siksa yang
besar) yang berat lagi tetap. Terhadap orang-orang munafik diturunkan:

Ayat 8
008. (Di antara manusia ada orang yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari
akhir.") yaitu hari kiamat, karena hari itu adalah hari terakhir. (Padahal mereka bukan orangorang yang beriman). Di sini ditekankan arti kata 'orang', jika kata ganti yang disebutkan
lafalnya, yakni 'mereka'.

Ayat 9
009. (Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman) yakni dengan berpura-pura
beriman dan menyembunyikan kekafiran guna melindungi diri mereka dari hukum-hukum
duniawi (padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri) karena bencana tipu daya itu akan
kembali menimpa diri mereka sendiri. Di dunia, rahasia mereka akan diketahui juga dengan
dibuka Allah kepada Nabi-Nya, sedangkan di akhirat mereka akan menerima hukuman setimpal
(tetapi mereka tidak menyadari) dan tidak menginsafi bahwa tipu daya mereka itu menimpa
diri mereka sendiri. Mukhada`ah atau tipu-menipu di sini muncul dari satu pihak, jadi bukan
berarti berserikat di antara dua belah pihak. Contoh yang lainnya mu`aqabatul lish yang berarti
menghukum pencuri. Menyebutkan Allah di sana hanya merupakan salah satu dari gaya bahasa
saja. Menurut suatu qiraat tidak tercantum 'wamaa yasy`uruuna' tetapi 'wamaa yakhda`uuna',
artinya 'tetapi mereka tidak berhasil menipu'.

Ayat 10
010. (Dalam hati mereka ada penyakit) berupa keragu-raguan dan kemunafikan yang
menyebabkan sakit atau lemahnya hati mereka. (Lalu ditambah Allah penyakit mereka) dengan
menurunkan Alquran yang mereka ingkari itu. (Dan bagi mereka siksa yang pedih) yang
menyakitkan (disebabkan kedustaan mereka.) Yukadzdzibuuna dibaca pakai tasydid, artinya
amat mendustakan, yakni terhadap Nabi Allah dan tanpa tasydid 'yakdzibuuna' yang berarti
berdusta, yakni dengan mengakui beriman padahal tidak.

Ayat 11
011. (Dan jika dikatakan kepada mereka,) maksudnya kepada orang-orang munafik tadi
("Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi!") yakni dengan kekafiran dan
menyimpang dari keimanan. (Jawab mereka, "Sesungguhnya kami ini berbuat kebaikan.") dan
tidak dijumpai pada perbuatan kami hal-hal yang menjurus pada kebinasaan. Maka Allah swt.
berfirman sebagai sanggahan atas ucapan mereka itu:

Ayat 12
012. (Ingatlah!) Seruan untuk membangkitkan perhatian. (Sesungguhnya mereka itulah yang
membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar) akan kenyataan itu.

Ayat 13
013. (Apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain
beriman!") yakni sebagaimana berimannya para sahabat Nabi. (Jawab mereka, "Apakah kami
akan beriman sebagaimana berimannya orang-orang yang bodoh?") Artinya kami tidak akan
melakukan seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh itu. Maka firman Allah
menolak ucapan mereka itu: (Ketahuilah, merekalah orang-orang bodoh tetapi mereka tidak
tahu) akan hal itu.

Ayat 14
014. (Dan jika mereka berjumpa) asalnya 'laqiyuu' lalu damah pada ya dibuang karena beratnya
pada lidah berikut ya itu sendiri karena bertemunya dalam keadaan sukun dengan wau
sehingga menjadi 'laquu' (dengan orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman."
Dan bila mereka telah berpisah) dengan orang-orang yang beriman dan kembali (kepada setansetan mereka) maksudnya pemimpin-pemimpin mereka. (Kata mereka, "Sesungguhnya kami ini
bersama kamu) maksudnya sependirian dengan kamu dalam keagamaan, (kami ini hanya
berolok-olok.") dengan berpura-pura beriman.

Ayat 15
015. (Allahlah yang memperolok-olokkan mereka) artinya membalas olok-olokkan itu dengan
memperolok-olokkan mereka pula (dan membiarkan mereka) terpedaya (dalam kesesatan
mereka) yakni melanggar batas disebabkan kekafiran (terumbang-ambing) dalam keadaan
bingung tanpa tujuan atau pegangan.

Ayat 16
016. (Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk) artinya mengambil
kesesatan sebagai pengganti petunjuk (maka tidaklah beruntung perniagaan mereka) bahkan
sebaliknya mereka merugi, karena membawa mereka ke dalam neraka yang menjadi tempat
kediaman mereka untuk selama-lamanya. (Dan tidaklah mereka mendapat petunjuk)
disebabkan perbuatan mereka itu.

Ayat 17
017. (Perumpamaan mereka) sifat mereka dalam kemunafikannya itu, (seperti orang yang
menyalakan) atau menghidupkan (api) dalam kegelapan (dan setelah api itu menerangi) atau
menyinari (apa yang di sekelilingnya) hingga ia dapat melihat, berdiang dan merasa aman dari
apa yang ditakutinya (Allah pun menghilangkan cahaya yang menyinari mereka) yaitu dengan
memadamkannya. Kata ganti orang dijadikan jamak 'him' merujuk kepada makna 'alladzii' (dan
meninggalkan mereka dalam kegelapan tidak dapat melihat) apa yang terdapat di sekeliling
mereka, sehingga tidak tahu jalan dan mereka dalam keadaan kecemasan. Demikianlah halnya
orang-orang munafik yang mengucapkan kata-kata beriman, bila mereka mati mereka akan
ditimpa ketakutan dan azab.

Ayat 18
018. (Mereka tuli) terhadap kebenaran, maksudnya tidak mau menerima kebenaran yang
didengarnya (bisu) terhadap kebaikan hingga tidak mampu mengucapkannya (buta) terhadap
jalan kebenaran dan petunjuk Allah sehingga tidak dapat melihatnya, (maka mereka tidaklah
akan kembali) dari kesesatan.

Ayat 19
019. (Atau) perumpamaan mereka itu, (seperti hujan lebat) maksudnya seperti orang-orang
yang ditimpa hujan lebat; asal kata shayyibin dari shaaba-yashuubu, artinya turun (dari langit)
maksudnya dari awan (padanya) yakni pada awan itu (kegelapan) yang tebal, (dan guruh)
maksudnya malaikat yang mengurusnya. Ada pula yang mengatakan suara dari malaikat itu,
(dan kilat) yakni kilatan suara yang dikeluarkannya untuk menghardik, (mereka menaruh)
maksudnya orang-orang yang ditimpa hujan lebat tadi (jari-jemari mereka) maksudnya dengan
ujung jari, (pada telinga mereka, dari) maksudnya disebabkan (bunyi petir) yang amat keras itu
supaya tidak kedengaran karena (takut mati) bila mendengarnya. Demikianlah orang-orang
tadi, jika diturunkan kepada mereka Alquran disebutkan kekafiran yang diserupakan dengan
gelap gulita, ancaman yang dibandingkan dengan guruh serta keterangan-keterangan nyata
yang disamakan dengan kilat, mereka menyumbat anak-anak telinga mereka agar tidak
mendengarnya, karena takut akan terpengaruh lalu cenderung kepada keimanan yang akan
menyebabkan mereka meninggalkan agama mereka, yang bagi mereka sama artinya dengan
kematian. (Dan Allah meliputi orang-orang kafir) baik dengan ilmu maupun dengan kekuasaanNya hingga tidak sesuatu pun yang luput dari-Nya.

Ayat 20
020. (Hampir saja) maksudnya mendekati (kilat menyambar penglihatan mereka) merebutnya
dengan cepat. (Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan padanya) maksudnya
pada cahaya atau di bawah sinarnya, (dan bila gelap menimpa mereka, mereka pun berhenti)
sebagai tamsil dari bukti-bukti keterangan ayat-ayat Alquran yang mengejutkan hati mereka.
Mereka membenarkannya setelah mendengar padanya hal-hal yang mereka senangi sehingga
mereka berhenti dari apa-apa yang dibencinya. (Sekiranya Allah menghendaki, niscaya
dilenyapkan-Nya pendengaran dan penglihatan mereka) baik yang lahir maupun yang batin
(Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu) yang dikehendaki-Nya, termasuk apa-apa
yang telah disebutkan tadi.

Tafsir Al Baghawi

Alif, Laam, Miim.

Kitab Al-Quran ini, tidak ada sebarang syak padanya (tentang datangnya dari Allah dan
tentang sempurnanya); ia pula menjadi petunjuk bagi orang-orang yang (hendak)
bertaqwa;

Iaitu orang-orang yang beriman kepada perkara-perkara yang ghaib, dan mendirikan
(mengerjakan) sembahyang serta membelanjakan (mendermakan) sebahagian dari rezeki
yang Kami berikan kepada mereka.

Dan juga orang-orang yang beriman kepada Kitab "Al-Quran" yang diturunkan kepadamu
(Wahai Muhammad), dan Kitab-kitab yang diturunkan dahulu daripadamu, serta mereka
yakin akan (adanya) hari akhirat (dengan sepenuhnya).

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orangorang yang berjaya.

Sesungguhnya orang-orang kafir (yang tidak akan beriman), sama sahaja kepada mereka:
sama ada engkau beri amaran kepadanya atau engkau tidak beri amaran, mereka tidak
akan beriman.

(Dengan sebab keingkaran mereka), Allah mematerikan atas hati mereka serta
pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutupnya; dan bagi mereka pula
disediakan azab seksa yang amat besar.

Dan di antara manusia ada yang berkata: "Kami telah beriman kepada Allah dan kepada
hari akhirat"; padahal mereka sebenarnya tidak beriman.

Mereka hendak memperdayakan Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka
hanya memperdaya dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyedarinya.

Dalam hati mereka (golongan yang munafik itu) terdapat penyakit (syak dan hasad
dengki), maka Allah tambahkan lagi penyakit itu kepada mereka; dan mereka pula akan
beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya, dengan sebab mereka berdusta (dan
mendustakan kebenaran).

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat bencana dan kerosakan
di muka bumi", mereka menjawab: " Sesungguhnya kami orang-orang yang hanya
membuat kebaikan".

Ketahuilah! Bahawa sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang sebenar-benarnya


membuat bencana dan kerosakan, tetapi mereka tidak menyedarinya.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang itu
telah beriman". Mereka menjawab: "Patutkah kami ini beriman sebagaimana berimannya
orang-orang bodoh itu?" Ketahuilah! Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh,
tetapi mereka tidak mengetahui (hakikat yang sebenarnya).

Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: " Kami
telah beriman ", dan manakala mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka
berkata pula:" Sesungguhnya kami tetap bersama kamu, sebenarnya kami hanya
memperolok-olok (akan orang-orang yang beriman)".

Allah (membalas) memperolok-olok, dan membiarkan mereka meraba-raba dalam


kesesatan mereka (yang melampaui batas itu).

Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan meninggalkan petunjuk; maka
tiadalah beruntung perniagaan mereka dan tidak pula mereka beroleh petunjuk hidayah.

Perbandingan hal mereka (golongan yang munafik itu) samalah seperti orang yang
menyalakan api; apabila api itu menerangi sekelilingnya, (tiba-tiba) Allah hilangkan cahaya
(yang menerangi) mereka, dan dibiarkannya mereka dalam gelap-gelita, tidak dapat
melihat (sesuatu pun).

Mereka (seolah-olah orang yang) pekak, bisu dan buta; dengan keadaan itu mereka tidak
dapat kembali (kepada kebenaran).

Atau (bandingannya) seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, bersama
dengan gelap-gelita, dan guruh serta kilat; mereka menyumbat jarinya ke dalam telinga
masing-masing dari mendengar suara petir, kerana mereka takut mati. (Masakan mereka

boleh terlepas), sedang (pengetahuan dan kekuasaan) Allah meliputi orang-orang yang
kafir itu.

Kilat itu pula hampir-hampir menyambar (menghilangkan) penglihatan mereka; tiap-tiap


kali kilat itu menerangi mereka (dengan pancarannya), mereka berjalan dalam cahayanya.
Dan apabila gelap menyelubungi mereka, berhentilah mereka (menunggu dengan
bingungnya). Dan sekiranya Allah menghendaki, nescaya dihilangkanNya pendengaran dan
penglihatan mereka; sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

Tafsir Ibnu Abbas

1. Alif laam miin[10].


Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran
seperti: alif laam miim, alif laam raa, alif laam miim shaad dan sebagainya. Diantara ahliahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk
ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. Golongan yang
menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang
berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para
pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al
Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad.
Kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan
Muhammad s.a.w. semata-mata, maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.
2. Kitab(Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa
Tuhan menamakan Al Quran dengan Al Kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai
isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.Takwa yaitu memelihara diri dari
siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala
larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.
Dalam suatu riwayat dikemukakan, bahwa empat ayat pertama dari surat al-Baqarah (S.
2: 2,3,4,5) membicarakan sifat-sifat dan perbuatan Kaum Mukminin, dan dua ayat
berikutnya (S. 2: 6,7) tentang kaum kafirin yang menegaskan, bahwa hati, pendengaran dan
penglihatan mereka tertutup - diperingatkan atau tidak diperingatkan, mereka tetap tidak
akan beriman -; dan tiga belas ayat selanjutnya lagi (S.2: 8 s/d 20) menegaskan ciri-ciri,
sifat dan kelakuan kaum munafiqin
3. (yaitu) mereka yang beriman[13] kepada yang ghaib[14], yang mendirikan shalat[15], dan
menafkahkan sebahagian rezki[16] yang Kami anugerahkan kepada mereka
Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan
jiwa. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.
Yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. Percaya kepada yang ghjaib
yaitu, mengi'tikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh
pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah,
Malaikat-Malaikat, Hari akhirat dan sebagainya.
Solat menurut bahasa 'Arab: doa. Menurut istilah syara' ialah ibadat yang sudah dikenal,
yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam, yang dikerjakan untuk

membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah. Mendirikan shalat ialah
menunaikannya dengan teratur, dengan melangkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adabadabnya, baik yang lahir ataupun yang batin, seperti khusu', memperhatikan apa yang
dibaca dan sebagainya.
Rezki: segala yang dapat diambil manfaatnya. Menafkahkan sebagian rezki, ialah
memberikan sebagian dari harta yang telah direzkikan oleh Tuhan kepada orang-orang
yang disyari'atkan oleh agama memberinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin,
kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain.
4. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan
Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu[17], serta mereka yakin akan adanya
(kehidupan) akhirat.
Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum Muhammad s.a.w. ialah kitab-kitab yang
diturunkan sebelum Al Quran seperti: Taurat, Zabur, Injil dan Shuhuf-Shuhuf yang tersebut
dalam Al Quran yang diturunkan kepada para Rasul. Allah menurunkan Kitab kepada Rasul
ialah dengan memberikan wahyu kepada Jibril a.s., lalu Jibril menyampaikannya kepada
Rasul.
Yakin ialah kepercayaan yang kuat dengan tidak dicampuri keraguan sedikitpun. Akhirat
lawan dunia. Kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah dunia berakhir. Yakin akan
adanya kehidupan akhirat ialah benar-benar percaya akan adanya kehidupan sesudah
dunia berakhir.
5. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orangorang yang beruntung.
Ialah orang-orang yang mendapat apa-apa yang dimohonkannya kepada Allah sesudah
mengusahakannya.
6. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau
tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.
Dalam suatu riwayat dikemukakan, bahwa firman Allah "Innalladzina kafaru sawa-un
'alaihim sampai walahum adzabun 'adhim" (S.2: 6,7) diturunkan tentang kaum Yahudi
Madinah, yang menjelaskan bahwa mereka itu walaupun diperingatkan tetap tidak akan
beriman.
Dalam riwayat lain dikemukakan, bahwa dua ayat itu (S. 2: 6,7) diturunkan di dalam
peperangan al-Ahzab yang terjadi pada tahun ke 5 Hijriah yang berupa serangan umum
yang memperlihatkan kekuatan angkatan perang kaum musyrikin menyerbu kota
Madinah.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ar-Rabi' dan Anas.)

7. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka[20], dan penglihatan mereka
ditutup[21]. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
Yakni orang itu tidak dapat menerima petunjuk, dan segala macam nasehatpun tidak akan
berbekas padanya. Maksudnya: mereka tidak dapat memperhatikan dan memahami ayatayat Al Quran yang mereka dengar dan tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda
kebesaran Allah yang mereka lihat di cakrawala, di permukaan bumi dan pada diri mereka
sendiri.
8. Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari
kemudian[22]," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
Hari kemudian ialah: mulai dari waktu mahluk dikumpulkan di padang mahsyar sampai
waktu yang tak ada batasnya.
9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya
menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
10. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka
siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan
keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi s.a.w., agama
dan orang-orang Islam.
11. Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka
bumi[24]". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan
perbaikan."
Kerosakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan bererti kerosakan benda, tetapi
hasutan orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
12. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerosakan, tetapi
mereka dalam tidak sedar.
13. Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain
telah beriman." Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang
yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang
bodoh; tetapi mereka tidak tahu.
14. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan:
"Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka[25], mereka
mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok."

Maksudnya: pemimpin-pemimpin mereka


Mengenai firman Allah Waidza laqulladziina amanu...... (S. 2: 14) diturunkan tentang
Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya, dalam peristiwa sebagai berikut: Pada suatu hari
di saat mereka bertemu dengan beberapa shahabat Nabi SAW, Abdullah bin Ubay berkata
kepada teman-temannya: "Lihatlah, bagaimana caranya aku mempermainkan mereka yang
bodoh-bodoh itu!" Ia pun mendekat dan menjabat tangan Abu Bakar sambil berkata.
"Selamat penghulu Bani Taim dan Syaikhul Islam dan orang kedua beserta Rasulullah di
gua (Tsaur) yang mengurbankan jiwa dan harta bendanya untuk Rasulullah." Kemudian ia
menjabat tangan Umar sambil berkata: "Selamat penghulu Bani Adi bin Ka'b yang
mendapat gelaran al-Faruq, yang kuat memegang Agama Allah, yang mengurbankan jiwa
dan harta bendanya untuk Rasulullah." Kemudian ia menjabat tangan Ali bin Abi Thalib
sambil berkata: "Selamat saudara sepupu Rasulullah, mantunya, dan penghulu bani Hasyim
sesudah Rasulullah." Setelah itu mereka berpisah dan berkatalah Abdullah bin Ubay
kepada kawan-kawannya. "Sebagaimana kamu lihat perbuatanku tadi, jika kamu bertemu
dengan mereka, berbuatlah seperti apa yang telah kulakukan." Kawan-kawannya pun
memuji-muji Abdullah bin Ubay. Setibanya Kaum Muslimin (Abu Bakar, Umar dan Ali)
kepada nabi SAW mereka memberitahukan peristiwa tadi, maka turunlah ayat tersebut di
atas (S. 2: 14). Ayat ini membukakan kepalsuan golongan munafik dalam menghadapi
kaum Muslimin.
(Diriwayatkan oleh al-Wahidi dan ats-Tsa'labi dari Muhammad bin Marwan dan as-Suddi asShaghir dari al-Kalbi dari Abi Shaleh yang bersumber dari Ibnu Abbas. Sanad riwayat ini
dla'if karena as-Suddi as-Shaghir pendusta, begitu juga al-kalbi dan Abi Shaleh dla'if.)
15. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terumbangambing dalam kesesatan mereka.
16. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah
beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.
17. Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu
menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan
membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
Orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang
datang dari Allah, karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka.
Keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.
18. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),
Walaupun pancaindera mereka sihat, mereka dipandang tuli, bisu dan buta oleh karena
tidak dapat menerima kebenaran.

19. Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gelita,
guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar
suara) petir,sebab takut akan mati[28]. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir[29].
Keadaan orang-orang munafik itu, ketika mendengar ayat-ayat yang mengandung
peringatan, adalah seperti orang yang ditimpa hujan lebat dan petir. Mereka menyumbat
telinganya karena tidak sanggup mendengar peringatan-peringatan Al Quran itu.
Maksudnya pengetahuan dan kekuasaan Allah melibatkan orang-orang kafir.
Dalam suatu riwayat dikemukakan, bahwa dua orang munafiq Madinah lari dari
Rasulullah kepada kaum musyrikin. Di jalan ditimpa hujan (sebagaimana diterangkan
dalam S. 2: 19, 20, bahwa hujan tersebut mengandung guruh yang dahsyat, petir dan kilat).
Tiap kali ada petir mereka menutup telinganya dengan jari, karena takut memekakkan
telinganya, dan mati karenanya. Apabila kilat bersinar, mereka berjalan. Dan apabila tiada
sinar kilat, mereka tidak dapat melihat. Mereka kembali ke jalan semula untuk pulang dan
menyesali perbuatan mereka dan keesokan harinya mereka menghadap kepada Rasulullah
SAW menyerahkan diri masuk Islam dengan sebaik-baiknya. Allah mengumpamakan
kejadian dua orang munafiq ini kepada kaum munafiqin lainnya yang ada di Madinah.
Apabila menghadiri majlis Rasulullah SAW mereka menutup telinga dengan jarinya karena
takut terkena oleh sabda Rasulullah SAW yang meneragnkan hal ihwal mereka sehingga
terbongkarlah rahasianya, atau mereka jadi tunduk, karena terpikat hatinya. Perbandingan
antara kedua orang munafiq dengan munafiqin Madinah ialah:

1. Kedua orang munafiq menutup telinganya karena takut mendengar guruh yang
memekakkan, dan apabila kilat bersinar mereka berjalan. Sedang kaum munafiqin Madinah
menutup telinga karena takut terkena sabda Rasul. Akan tetapi di saat banyak harta, anak
buah dan mendapat ghanimah atau kemenangan, mereka ikut serta dengan kaum Muslimin
dan berkata: "Nyatalah sekarang benarnya agama Muhammad itu." Dan mereka merasa
tentram.
2. Kedua orang munafiq apabila tiada cahaya kilat, mereka berhenti dan tertegun. Sedang
kaum munafiqin Madinah apabila habis hartanya, anak buahnya dan terkena musibah,
mereka berkata: "Inilah akibat agama Muhammad." Mereka kembali murtad dan kufur.

(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari abi Shaleh yang bersumber dari Ibnu Abbas, Murrah, Ibnu
Mas'ud dan beberapa orang shahabat lainnya.)
20. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari
mereka, mereka berjalan di bawah sinaran itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka
berhenti. Jikalau Allah menghendaki, nescaya Dia melenyapkan pendengaran dan
penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Tafsir Al-karim
Surah ke-2. Terdiri dari 286 ayat. Madaniyyah


Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Ayat 1-5: Golongan mukmin, membicarakan tentang sifat orang-orang yang
bertakwa, hakikat iman dan bagaimana Al Quran menjadi petunjuk bagi mereka
) (
) (

) (
)(
) (


1. Alif laam miim[2].
2. Kitab[3] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya[4]; petunjuk bagi mereka yang
bertakwa[5],
3. (yaitu) mereka yang beriman[6] kepada yang ghaib[7], mendirikan shalat[8], dan
menafkahkan sebagian rezeki[9] yang Kami anugerahkan kepada mereka.
4. Dan mereka yang beriman kepada kitab yang telah diturunkan kepadamu[10] dan kitabkitab yang telah diturunkan sebelummu[11], serta mereka yakin akan adanya (kehidupan)
akhirat[12].
5. Merekalah[13] yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka[14], dan mereka itulah
orang-orang yang beruntung[15].
Ayat 6-7: Menyebutkan sifat orang-orang kafir, menerangkan hakikat kekafiran dan
balasan untuk orang-orang kafir
) (




)(

6. Sesungguhnya orang-orang kafir[16], sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau
tidak kamu beri peringatan[17], mereka tidak juga akan beriman[18].
7. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka[19], penglihatan mereka
ditutup[20]. dan bagi mereka siksa yang sangat berat.

[1] Surat Al Baqarah yang 286 ayat ini turun di Madinah, sebagian besar diturunkan pada
permulaan tahun Hijrah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada Haji wadaa' (haji Nabi

Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang terakhir). Seluruh ayat dari surat Al Baqarah
termasuk golongan Madaniyyah, sebagai surat yang terpanjang di antara surat-surat Al
Quran yang di dalamnya terdapat pula ayat yang terpancang (ayat 282). Surat ini dinamai
Al Baqarah karena di dalamnya disebutkan kisah penyembelihan sapi betina yang
diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67 sampai dengan 74), di sana dijelaskan
watak orang-orang Yahudi pada umumnya.
Keutamaan surat Al Baqarah
Tentang keutamaan surat Al Baqarah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

.
"Bacalah Al Qur'an, karena ia akan datang memberi syafa'at kepada pembacanya. Bacalah
Az Zahrawain (dua surat yang berkilau cemerlang) yaitu Al Baqarah dan Ali Imran, karena
keduanya akan datang pada hari kiamat seakan-akan dua awan (yang menaungi panasnya
keadaan di padang mahsyar) atau dua naungan atau dua rombongan burung yang
membuka sayapnya. Kedua surat itu akan membela pembacanya. Bacalah surat Al Baqarah,
karena merutinkannya adalah keberkahan, meninggalkannya adalah penyesalan dan surat
itu tidak mampu dibaca oleh para penyihir." (HR. Ahmad dan Muslim)

"Bacalah surat Al Baqarah di rumah kalian, karena setan tidak akan masuk ke dalam rumah
yang dibacakan di dalamnya surat Al Baqarah." (HR. Hakim dan Baihaqi dalam Syu'abul
Iman, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 1170).
[2] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al
Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. Di antara
ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang
termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang
menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang
berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para
pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, atau untuk mengisyaratkan bahwa Al
Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad.
kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam semata-mata, maka cobalah mereka buat
semacam Al Quran itu. Syaikh As Sa'diy berpendapat bahwa yang lebih selamat adalah
diam tidak mencari-cari maksudnya, yang pasti Allah Ta'ala tidaklah menurunkan begitu
saja tanpa ada hikmah di balik itu hanya saja kita tidak mengetahui. Wallahu a'lam.

Imam Al Qurthubi berkata, "Para ahli tafsir berselisih tentang huruf-huruf yang berada di
awal-awal surat. Amir Asy Sya'biy, Sufyan Ats Tsauriy dan jama'ah ahli hadits berkata, "Ia
adalah rahasia Allah dalam Al Qur'an, dan Allah memiliki rahasia di setiap kitab-Nya, ia
termasuk ayat-ayat mutasyabihat yang hanya Allah saja mengetahuinya, ia tidak mesti
dibicarakan, akan tetapi kita mengimaninya dan membacanya sebagaimana telah datang
(disebutkan)."
[3] Allah Ta'ala menamakan Al Qur'an dengan Al kitab berarti "yang ditulis", sebagai
isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.
[4] Yakni tidak ada keraguan bahwa ia berasal dari Allah Ta'ala, sehingga tidak benar masih
meragukannya karena jelas sekali buktinya.
[5] Orang-orang yang bertakwa mengambil manfaat darinya, menjadikannya sebagai
petunjuk dan ilmu yang bermanfaat serta membuat mereka dapat beramal shalih. Mereka
memperoleh dua hidayah; hidayah irsyad (ilmu/petunjuk) dan hidayah taufiq (bisa
beramal). Al Quran meskipun sesungguhnya petunjuk bagi semua manusia, namun hanya
orang-orang yang bertakwa yang mau mengambilnya sebagai petunjuk dan melaksanakan
isinya.
Takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya; dan
menjauhi segala larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.
Kata huda (petunjuk) pada ayat di atas adalah umum, yakni bahwa Al Qur'an merupakan
petunjuk terhadap semua maslahat di dunia dan akhirat, ia merupakan pembimbing
manusia dalam masalah ushul (pokok seperti keyakinan) maupun furu' (cabang),
menerangkan yang hak dan menerangkan kepada mereka jalan yang dapat memberikan
manfaat di dunia dan akhirat.
[6] Iman artinya kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan
penyerahan jiwa atau pengakuan di hati yang membuahkan ketundukkan di lisan (dengan
iqrar) dan pada anggota badan. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang
dikehendaki oleh iman itu.
[7] Yang ghaib ialah yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera. Percaya kepada yang
ghjaib yaitu, mengi'tikadkan adanya yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh
pancaindera, karena ada dalil yang menunjukkan adanya, seperti: adanya Allah, malaikatmalaikat, hari akhirat dan sebagainya. Mengapa beriman itu kepada yang ghaib? Jawabnya
adalah karena beriman kepada sesuatu yang disaksikan atau dirasakan panca indera tidak
dapat membedakan mana muslim dan mana kafir. Oleh karena itu, orang mukmin beriman
kepada semua yang diberitakan Allah Ta'ala dan rasul-Nya, baik mereka menyaksikannya
atau tidak, baik mereka memahaminya atau tidak dan baik dijangkau oleh akal mereka

maupun tidak. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Tidak ada keimanan yang
diimani oleh orang mukmin yang lebih utama daripada keimanannya kepada yang ghaib",
lalu Ibnu Mas'ud membaca ayat "Alladziina yu'minuuna bil ghaib".
[8] Yakni di samping beriman kepada yang ghaib, mereka buktikan dengan mendirikan
shalat. Shalat menurut bahasa 'Arab: doa, menurut istilah syara' ialah ibadat yang sudah
dikenal, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Shalat merupakan
pembuktian terhadap pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah Subhaanahu wa
Ta'aala. Mendirikan shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melangkapi
syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir ataupun yang batin, seperti
khusu', memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya. Shalat yang seperti inilah yang
dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
[9] Rezki: segala yang dapat diambil manfaatnya. menafkahkan sebagian rezki, ialah
memberikan sebagian dari harta yang telah direzkikan oleh Allah tersebut kepada orangorang yang disyari'atkan oleh agama memberinya, baik yang wajib maupun yang sunat.
Contoh pengeluaran yang wajib adalah zakat, menafkahi anak dan istri, kerabat (seperti
orang tua) dan budak, sedangkan yang sunat adalah semua jalan kebaikan. Disebutkan
"sebagian rezeki" menunjukkan bahwa yang Allah inginkan hanyalah sedikit dari harta
mereka; tidak memadharatkan mereka dan tidak membebani, dan dipakainya kata-kata
"rezeki" untuk mengingatkan bahwa harta yang ada pada mereka merupakan rezeki dari
Allah yang menghendaki untuk disyukuri dengan menyisihkan sebagiannya berbagi
bersama saudara-saudara mereka yang tidak mampu.
Shalat dan zakat sangat sering disebutkan secara bersamaan di dalam Al Qur'an, karena
shalat mengandung sikap ikhlas kepada Allah Ta'ala, sedangkan zakat dan infak
mengandung sikap ihsan terhadap sesama hamba Allah Ta'ala. Oleh karena itu, tanda
kebahagiaan seorang hamba adalah dengan bersikap ikhlas kepada Allah dan berusaha
memberikan manfa'at kepada makhluk, sebagaimana tanda celakanya seorang hamba
adalah ketika tidak adanya kedua ini, yakni ikhlas kepada Allah Ta'ala dan berbuat ihsan
kepada sesama hamba Allah Ta'ala.
[10] Yaitu Al Qur'an, demikian juga apa yang diturunkan kepada Beliau berupa hikmah (As
Sunnah).
[11] Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa
sallam. ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran seperti: Taurat, Zabur, Injil dan
Shuhuf-Shuhuf yang tersebut dalam Al Qur'an yang diturunkan kepada Para rasul. Allah
menurunkan kitab kepada Rasul ialah dengan memberikan wahyu kepada Jibril 'alaihis
salam., lalu Jibril menyampaikannya kepada rasul.

[12] Yakin ialah kepercayaan yang kuat dengan tidak dicampuri keraguan sedikitpun.
Akhirat lawan dunia. Kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah mati dan sesudah dunia
berakhir. yakin akan adanya kehidupan akhirat ialah benar-benar percaya akan adanya
kehidupan sesudah mati (yaitu alam barzakh yang di dalamnya terdapat fitnah kubur, azab
kubur dan nikmat kubur) dan sesudah dunia berakhir (seperti kebangkitan manusia,
pengumpulan manusia di padang mahsyar, adanya hisab (pemeriksaan amalan), mizan
(penimbangan amalan), surga dan neraka). Di antara hikmah mengapa Allah sering
menyebutkan hari akhir dalam Al Quran adalah karena beriman kepada hari akhir
memiliki pengaruh yang kuat dalam memperbaiki keadaan seseorang sehingga ia akan
mengisi hari-harinya dengan amal shalih, ia pun akan lebih semangat untuk mengerjakan
ketaatan itu sambil berharap akan diberikan pahala di hari akhir itu, demikian juga akan
membuatnya semakin takut ketika mengisi hidupnya dengan kemaksiatan apalagi merasa
tentram dengannya. Beriman kepada hari akhir juga membantu seseorang untuk tidak
berlebihan terhadap dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Di antara
hikmahnya juga adalah menghibur seorang mukmin yang kurang mendapatkan
kesenangan dunia karena di hadapannya ada kesenangan yang lebih baik dan lebih kekal.
[13] Yakni orang-orang yang memiliki sifat-sifat di atas.
[14] Mereka berjalan di atas cahaya dari Tuhan mereka dan taufiq-Nya.
[15] Ialah orang-orang yang mendapat apa-apa yang dimohonkannya kepada Allah sesudah
mengusahakannya dan selamat dari sesuatu yang mereka khawatirkan atau orang-orang
yang akan memperoleh surga dan selamat dari neraka.
[16] Yakni orang-orang yang mengingkari apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.
[17] Baik engkau memperingatkan mereka dengan azab Allah atau pun tidak.
[18] Kepada mereka hanyalah ditegakkan hujjah agar mereka tidak dapat beralasan lagi di
hadapan Allah Ta'ala pada hari kiamat.
[19] Yakni orang itu tidak dapat menerima petunjuk, dan segala macam nasehat tidak akan
berbekas kepadanya disebabkan kekafiran dan kerasnya hati mereka setelah nampak
kebenaran bagi mereka. Oleh karena itu, Allah tidak memberi mereka taufiq untuk
mengikuti petunjuk itu.
[20] Maksudnya: mereka tidak dapat memperhatikan dan memahami ayat-ayat Al Quran
yang mereka dengar dan tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran
Allah yang mereka lihat di cakrawala, di permukaan bumi dan pada diri mereka sendiri.
Sarana-sarana untuk memperoleh petunjuk dan kebaikan telah ditutup bagi mereka. Ini
merupakan hukuman yang disegerakan dan hukuman yang akan datang kepada mereka
adalah azab yang sangat pedih berupa azab neraka dan kemurkaan Allah Ta'ala.

Tafsir Al Baqarah Ayat 8-16


Ayat 8-16: Menerangkan sifat orang-orang munafik, keadaan mereka, hakikat
kemunafikan dan balasan untuk orang-orang munafik
) (



) (

) (

) ( ) (

) (
) (
) (


)(

8. Di antara manusia ada yang berkata, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,"
padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman[1].
9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah
menipu diri sendiri tanpa mereka sadari[2].
10. Dalam hati mereka ada penyakit[3], lalu Allah menambah penyakitnya itu; mereka
mendapat siksa yang pedih, karena mereka berdusta.
11. Dan apabila dikatakan kepada mereka[4],"Janganlah berbuat kerusakan di bumi[5].
Mereka menjawab[6], "Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan
perbaikan[7]."
12. Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan[8], tetapi mereka tidak
menyadari.
13. Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang lain[9]
telah beriman." Mereka menjawab, "Apakah kami akan berimankah seperti orang-orang
yang kurang akal itu beriman?" Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang
kurang akal; tetapi mereka tidak tahu.

14. Dan apabila mereka[10] berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka
mengatakan, "Kami telah beriman". Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan
mereka[11], mereka berkata: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami
hanyalah berolok-olok."

15. Allah akan memperolok-olokan mereka[12] dan membiarkan mereka terombangambing dalam kesesatan[13].
16. Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk[14], Maka perdagangan
mereka itu tidak beruntung dan mereka tidak mendapat petunjuk.

[1] Mereka adalah orang-orang munafik yang luarnya menampakkan keislaman, namun
batinnya kafir. Kemunafikan ini adalah kemunafikan besar yang terkait dengan akidah dan
mengeluarkan pelakunya dari Islam. Berbeda dengan kemunafikan kecil yang terkait
dengan amalan, ia tidaklah mengeluarkan pelakunya dari Islam namun sebagai
wasilah/sarana yang bisa mengarah kepada kemunafikan besar, misalnya bila bicara
berdusta, bila berjanji mengingkari, bila diamanahkan berkhianat, malas beribadah, berat
melaksanakan shalat berjama'ah dsb. Di antara kelembutan Allah Ta'ala kepada kaum
mukminin adalah ditampakkan-Nya kepada kaum mukminin hal-ihwal serta sifat mereka
yang membedakan dengan yang lain agar kaum mukminin tidak tertipu oleh mereka.
Mereka dikatakan "tidak beriman" karena iman yang sesungguhnya adalah pengakuan
lisan yang dibenarkan oleh hati dan dipraktekkan oleh anggota badan, jika tidak seperti itu
sama saja hendak menipu.
[2] Karena akibat penipuan itu kembalinya tidak kepada siapa-siapa selain kepada diri
mereka sendiri. Namun sayang karena kebodohan mereka yang sangat membuat mereka
tidak menyadari.
[3] Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa
sallam lemah dan mereka masih ragu-ragu. Kelemahan dan keragu-raguan keyakinan itu
menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
agama dan orang-orang Islam, lalu tidak diobati sehingga Allah menambah lagi penyakit
terebut.
Penyakit yang menimpa hati ada dua; penyakit syubhat dan penyakit syahwat. Kekafiran,
kemunafikan, keraguan dan bid'ah merupakan penyakit syubhat, sedangkan kecintaan
terhadap perbuatan keji dan maksiat merupakan penyakit syahwat.
[4] Yakni ketika mereka dinasehati.
[5] Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda,
melainkan dengan melakukan kekafiran dan kemaksiatan, yang di antaranya menyebarkan
rahasia kaum muslimin kepada musuh mereka, menghasut orang-orang kafir untuk
memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
[6] Secara dusta dan bermaksud membantah.

[7] Perbuatan yang mereka lakukan itu dengan anggapan mengadakan perbaikan
sesungguhnya adalah kerusakan, akan tetapi karena kebodohan dan penentangan mereka
membuat mereka tidak menyadari bahwa yang demikian merupakan kerusakan.
Kemaksiatan yang besar adalah kemaksiatan yang dilakukan dengan meyakini benarnya
perbuatan itu dan seperti inilah keadaan mereka sehingga sangat sulit untuk rujuk,
berbeda dengan kemaksiatan yang dilakukan dengan meyakini salahnya perbuatan itu,
orang yang seperti ini lebih mudah untuk rujuk.
[8] Karena tidak ada kerusakan yang paling besar daripada mengingkari ayat-ayat Allah,
menghalangi manusia dari jalan-Nya, hendak menipu Allah dan para wali-Nya dan
menolong orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya ditambah dengan agggapan
bahwa hal itu merupakan perwujudan mengadakan perbaikan. Perbuatan maksiat
dikatakan sebagai kerusakan karena rusaknya bumi diakibatkan oleh maksiat, sebaliknya
bumi hanya akan menjadi baik dengan iman dan keta'atan kepada Allah Ta'ala. Untuk
itulah Allah menciptakan manusia dan melimpahkan rezeki kepada mereka, yakni agar
mereka gunakan untuk keta'atan dan ibadah kepada-Nya, jika yang dilakukan malah
kebalikannya maka sama saja berusaha merusak bumi.
[9] Yakni sebagaimana para sahabat Nabi radhiyallahu 'ahum beriman, di mana iman
mereka tidak sekedar di lisan tetapi masuk ke hati dan diamalkan oleh anggota badan,
mereka membantah dengan mengatakan, "Apakah kami akan beriman sebagaimana orangorang yang kurang akal beriman?" maka Allah membantah bahwa merekalah yang kurang
akal, karena hakikat kurang akal adalah tidak mengetahui hal yang bermaslahat untuk
dirinya dan mengerjakan sesuatu yang merugikannya.
[10] Yakni orang-orang munafik.
[11] Maksudnya, pemimpin-pemimpin mereka yang kafir.
[12] Sifat tersebut "mengolok-olok" menjadi sifat sempurna dalam keadaan "jika
menghadapi orang-orang yang melakukan perbuatan seperti itu, karena yang demikian
menunjukkan bahwa yang memilikinya juga memiliki kemampuan untuk membalas
musuhnya dengan melakukan tindakan yang sama atau lebih, dan sifat tersebut tentu akan
menjadi sifat kekurangan dalam keadaan selain ini. Oleh karena itu, ia sebagai sifat bagi
Allah Ta'ala namun tidak secara mutlak dan tidak menjadi nama-Nya.
[13] Allah Ta'ala membiarkan mereka agar bertambah sesat, bingung dan bimbang serta
memberikan balasan olok-olokkan yang mereka lakukan kepada kaum mukmin. Di antara
olok-olokkan-Nya kepada mereka (kaum munafik) adalah dengan dihiasnya perbuatan
yang menyebabkan mereka sengsara dan dihiasnya keadaan yang buruk, termasuk olokolokkan-Nya kepada mereka pada hari kiamat adalah dengan diberikan-Nya kepada
mereka dan kepada kaum mukmin cahaya yang nampak, ketika kaum mukmin berjalan

dengan cahayanya, tiba-tiba cahaya mereka (kaum munafik) padam sehingga mereka
dalam kegelapan lagi bingung. Alangkah besarnya putus asa jika awalnya didahului oleh
harapan yang berada di depan mata. Memang, orang-orang munafik memperoleh manfa'at
dari kekafiran yang mereka sembunyikan; darah dan harta mereka selamat, demikian juga
memperoleh keamanan, namun bisa saja maut datang menjemput sehingga yang mereka
peroleh hanyalah kegelapan kubur, kegelapan kufur, kegelapan nifak (kemunafikan) dan
kegelapan maksiat sesuai jenisnya, setelah itu adalah neraka dan neraka itulah tempat
kembali yang paling buruk.
[14] Mereka membeli kekafiran dengan iman; membeli kesesatan dengan petunjuk,
sehingga mereka tidak memperoleh apa-apa, bahkan hanya memperoleh kerugian karena
tidak mendapat petunjuk dan akan membawanya kepada neraka, yang demikian itulah
kerugian yang sesungguhnya. Jika seorang membeli uang satu dirham dengan harga satu
dinar atau mengeluarkan modal untuk usaha sejumlah sepuluh juta sisanya tinggal satu
juta tanpa keuntungan sudah dianggap rugi, lalu bagaimana dengan orang yang membeli
kesesatan dengan petunjuk, membeli kekafiran dengan keimanan dan membeli
kesengsaraan dengan kebahagiaan, alangkah ruginya perdagangan itu.