Anda di halaman 1dari 17

STATUS PERIODONSIA

DISKUSI KASUS SIMPEL DAN NIGHTGUARD

Farhana
NPM: 160112130535

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2014

STATUS PERIODONSIA
DISKUSI KASUS SIMPEL DAN NIGHTGUARD
Mahasiswa

: Farhana

NPM

: 160112130535

STATUS PASIEN
Nama Pasien

: Siti Khadijah

Umur

: 19 tahun

Pekerjaan

: Mahasiswa

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Bandung

No. RM

: 2013-10109

Agama

: Islam

Menikah / Belum

: Belum Menikah

Tgl. Pemeriksaan

: 12/12/2013

Keluhan Utama :
Pasien datang dengan keluhan gigi taring sebelah kiri terasa linu dan terkadang pasien
mengeluh pegal pada otot pipi. Pasien mengakui suka menggeretakkan gigi secara tidak sadar
ketika menunggu, kuliah , menonton, dan lain-lain . Hal tersebut dialami pasien sejak kurang
lebih 2 tahun yang lalu. Pasien juga mengeluhkan gigi terasa kotor dan terkadang berdarah
saat menyikat gigi. Pasien ingin diobati dan giginya dibersihkan.

PENGAMATAN DATA PERIODONTIK


1. Riwayat perawatan gigi yang lalu
a. Tanggal terakhir

:-

b. Jenis perawatan terakhir

:-

c. Frekuensi perawatan rutin

: tidak tentu

2. Alasan hilangnya gigi :


a. Berlubang (karies)

: 36

b. Trauma

:-

c. Gangguan / tidak erupsi

:-

d. Terlepas sendiri (goyang)

:-

e. Alasan tidak diganti

: masih merasa nyaman

3. Pengetahuan tentang penyakit periodontal yang diderita


a. Permulaan terasa ada kelainan

: beberapa bulan yang lalu

b. Daerah yang terganggu

: posterior RA dan RB terutama sisi


kanan

c. Derajat keparahan kelainan dihubungkan dengan


Jenis makanan tertentu

:-

Siklus menstruasi

:-

Frekuensi dan teknik menyikat gigi : ya


d. Keluhan pada
Gusi (sensitif,membengkak)

: + membengkak

Perdarahan gusi (spontan / trauma)

:+

ANUG

:-

Kebiasaan buruk (oral)

: gigi gemeretak saat tidak tidur

Impaksi makanan

: regio kiri belakang RB

4. Perawatan periodontal yang lalu


a. Tanggal terakhir

:-

b. Jenis perawatan

:-

c. Dirawat oleh ahli / bukan

:-

5. Pemeliharaan oral hygiene


a. Frekuensi menyikat gigi perhari

: 2x sehari (pagi, sore)

b. Jenis sikat yang dipakai

: tangkai lurus, berbulu keras (hard), dan


rata

c. Metode

: teknik vertikal

d. Pasta gigi

: berfluoride

e. Alat bantu lain

:-

6. Riwayat pemeriksaan medis


a. Tanggal terakhir

:-

b. Jenis perawatan

:-

c. Dirawat oleh

:-

7. Evaluasi kelainan / kondisi sistemik dan pengetahuan tentang kesehatan gigi


Pasien tidak memiliki kelainan sistemik dan pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan
mulut dinilai cukup baik.

8. Pemeriksaan Ekstra Oral dan Intra Oral


A. Keadaan Ekstraoral :

Muka

: Simetris

Mata

: pupil isokhor, konjungtiva non-anemis, sklera non-ikterik

Leher

: TAK (tidak teraba, tidak sakit)

Bibir

: TAK (simetris, tidak pucat, tidak ada lesi)

TMJ

: clicking dextra

B. Keadaan Intraoral :

Mukosa

: TAK

Gingiva

Bentuk

: oedem pada seluruh regio RA dan RB

Warna

: kemerahan pada seluruh regio RA dan RB

Konsistensi

: lunak pada seluruh regio RA dan RB

Pitting test

:+

Stippling

:+

Permukaan

: licin dan mengkilap pada seluruh regio RA dan RB

Resesi

:-

Interdental papil : membulat pada seluruh regio RA dan RB

Stillmans cleft

Mc.Calls festoon : -

:-

Frenulum

: normal

Eksudat sulkus

:-

Perkusi

:-

Mobility

:-

9. Oklusi
a. Kontak prematur

: 26, 27
37, 37

b. Faset permukaan

Atrisi

: gigi 11, 12,13, 21, 22, 23, 24, 31, 32, 33, 41, 42, 43

Abrasi

:-

Erosi

:-

c. Geligi tidak beraturan

: Gigi 32 linguoversi
Gigi 35,37 mesiolinguoversi
Gigi 38 mesial in distal out
Gigi 41 linguoversi
Gigi 42 mesial out distal in

10. Gambaran Radiografik


a. Bentuk resorbsi tulang alveolar :
o Vertikal

:-

o Horizontal

: 26, 27, 31,32, 33, 34, 41, 42

o Kawah

:-

b. Banyaknya resorbsi :
o Hebat

:-

o Sedang

:-

o Sedikit

:+

c. Keterlibatan daerah furkasi

:-

d. Perbandingan abnormal mahkota dengan akar

:-

e. Karies

: lesi radiolusen pada distooklusal dentin gigi 38

f. Kelainan periapikal

: Dalam batas Normal

g. Lain-lain

:-

h. Prognosis menyeluruh: baik

11. Evaluasi Oral Hygiene


o Nilai Plak

: sedang

o Kalkulus

12. Model Studi

: supragingival dan sub gingival; banyak; menyeluruh

: Rahang Atas dan Rahang Bawah

13. Evaluasi pra perawatan :


o Diagnosis

: Gingivitis Marginalis Kronis Generalisata disertai bruxism

o Etiologi

: plak, kalkulus, malposisi gigi, aktivitas parafungsi, gigi 36 yang


hilang, cara menyikat gigi yang salah

o Sikap pasien

: kooperatif

o Prognosa

: baik

14. Tahapan Perawatan Gigi (menyeluruh) :


1) Fase pendahuluan

:-

2) Fase initial

OHI dan Home Care


Plak Score, scaling
Kontrol perawatan (1 minggu, 1 bulan),
Pro pembuatan Nightguard
Pro perawatan ortodonti
3) Fase bedah

:-

4) Fase restoratif

: pro pembuatan gigi tiruan

5) Fase pemeliharaan

Recall visit 6 bulan

Pembimbing Diskusi

Ira Koswara, drg. Sp.Perio

NILAI PLAK
Kunjungan I
Tanggal : 12/ 12/ 2013
Persentase : 18%

Kunjungan II
Tanggal : 02/01/2014
Persentase : 25%

Kunjungan III
Tanggal : 03./02/2014
Persentase : 16%

Kunjungan IV
Tanggal : 26/02/2014
Persentase : 12%

Kunjungan V
Tanggal
Persentase

Kunjungan VI
Tanggal
Persentase

Kunjungan VII
Tanggal
Persentase

Kunjungan VIII
Tanggal
Persentase

CATATAN KEADAAN INTRAORAL


Gigi

18

17

16

15

14

13

12

11

21

22

23

24

25

26

27

28

Kunjungan I

222

323

323

323

312

212

212

212

112

212

212

222

232

222

222

322

Kunjungan III

222

213

213

313

212

122

212

212

211

211

213

212

212

212

222

222

Kunjungan I

212

212

212

212

212

212

212

212

212

222

312

212

333

431

312

312

Kunjungan III

112

111

211

212

212

212

212

212

212

212

212

212

212

212

222

312

Mobility

Resesi

BOP

Gigi

48

47

46

45

44

43

42

41

31

32

33

34

35

36

37

38

Kunjungan I

212

212

312

312

312

312

212

212

13

314

3123

213

213

222

222

Kunjungan III

212

212

212

212

211

212

112

112

212

212

312

312

222

222

222

Kunjungan I

212

212

212

212

312

222

222

222

222

222

222

212

212

212

212

Kunjungan III

222

212

212

212

212

222

212

112

222

222

212

212

111

212

212

Mobility

Resesi

BOP

Facial
Palatal

Facial
Lingual

BRUXISM DAN NIGHTGUARD (OCCLUSAL SPLINT)


Aktivitas parafungsional merupakan suatu keadaan aktifnya otot-otot secara fisiologis
sehingga menghasilkan kebiasaan-kebiasaan tanpa tujuan fungsional dan biasanya berpotensi
menyebabkan kerusakan. Contoh kebiasaan parafungsional adalah bruxism (grinding &
clenching), menghisap ibu jari, dan posisi rahang yang tidak benar.
Bruxism merupakan salah satu aktivitas parafungsional oklusal, yaitu pergerakan
oromandibular secara involunter berupa tooth grinding atau clenching yang terjadi pada saat
tidur (sleep bruxism) atau tidak (awake bruxism). Hal ini ditandai dengan :
1. Terjadinya kerusakan jaringan keras gigi (tooth wear) berupa atrisi, abfraksi, dan pit
oklusal, sehingga menyebabkan hipersensitivitas pada gigi (dapat berlanjut hingga
terjadinya kelainan pulpa)
2. Kerusakan jaringan periodontal, kegoyangan gigi, terbentuknya bony ridges, iritasi pada
mukosa bukal, dan adanya penampakan scalloped tongue
3. Perubahan dimensi vertikal oklusi
4. Nyeri pada otot-otot sistem pengunyahan, hipertrofi otot masseter dua sisi (pada bruxers
kronis), hingga terjadinya sakit kepala / temporal headache (terutama saat bangun tidur)
5. Kelainan pada sendi Temporomandibula (TMJ), seperti pembukaan mulut terbatas,
kliking, krepitasi, dan locking pada rahang.
6. Dapat merusak protesa cekat ataupun restorasi lainnya di dalam mulut.
Adapun beberapa etiologi atau faktor penyebab terjadinya bruxism adalah stres
emosional atau psikologis, ketidakharmonisan oklusi (adanya gigi hilang yang tidak diganti
atau restorasi berlebih / overhang atau jenis restorasi keramik / porselen), dan adanya
kelainan pada sendi TMJ.
Nightguard (Occlusal Splint) didefinisikan sebagai suatu splint akrilik, baik pada
rahang atas atau bawah, yang membantu kondilus rahang untuk mencapai posisi paling
anterior superior dalam fossanya (keadaan relasi sentrik), sehingga otot-otot masseter berada
dalam keadaan relaksasi. Alat ini juga dinamakan splint relasi sentrik dan orthotik.
Nightguard berfungsi dalam menanggulangi pola aktivitas otot yang abnormal,
melindungi gigi dari kerusakan, melindungi otot-otot pengunyahan, serta dapat memperbaiki
ketidakharmonisan oklusi.

Pertimbangan dalam membuat nightguard rahang atas atau rahang bawah :


Keadaan / Hal

Rahang Atas

Rahang Bawah

Jumlah / banyaknya gigi yang mengalami atrisi

Malposisi gigi (gigi berjejal atau rotasi)

Linguoversi gigi
35,41

Bentuk lengkung gigi


Adanya gigi hilang yang tidak diganti
Oral hygiene
Pilihan Nightguard

Baik

Kurang Baik

36

Sedang

sedang

Desain pembuatan nightguard rahang atas (konvensional) :


1. Dimulai dari distal 16 hingga distal 26
2. Ketebalan tidak melebihi 3 mm (free way space)
3. Perluasan ke facial hingga 1/3 incisal / oklusal
4. Perluasan ke palatal
5. Permukaan incisal dan oklusal gigi I, P merupakan bidang halus, rata, dan semua gigi
RA berkontak dengan nightguard
6. Menggunakan artikulator

Cara pemeriksaan :
1. Oklusi : dimensi vertikal sebelum dan sesudah pemakaian nightguard
2. Stabilisasi : nightguard tidak terangkat pada salah satu sisi jika sisi berlawanannya
ditekan
3. Adaptasi : semua permukaan nightguard menyentuh permukaan incisal/oklusal gigi
4. Retensi : bila ditarik dengan tekanan ringan tidak terlepas
5. Semua gigi-gigi RA berkontak dengan permukaan nightguard dan tidak ada sangkutan
(interference) pada saat gerakan lateral ke kiri dan kanan serta anterior-posterior

Pemeriksaan saat uji coba pola lilin:


1.

Adaptasi : beradaptasi pada semua permukaan, tidak ada bagian yang menekan jaringan,
semua permukaan nightguard menyentuh permukaan incisal/oklusal gigi.

2.

Dimensi vertikal : adalah ukuran vertikal antara RA dan RB


Free way space = DV saat rest position DV saat oklusi sentrik
= 70 mm 67 mm = 3 mm

3.

Oklusi : tidak melebihi batas freeway space

Tahap Polishing:
1.

Mengurangi daerah kontak premature dengan batu gerinda

2.

Permukaan nightguard mengkilap dan licin

Pemeriksaan saat insersi:


1.

Adaptasi : beradaptasi pada semua permukaan, tidak ada bagian yang tajam/menekan
jaringan, semua permukaan nightguard menyentuh incisal dan oklusal gigi, permukaan
halus, mengkilap dan licin.

2.

Retensi : tidak terlepas pada saat pasien pada posisi oklusi sentrik dan eksentrik. Jika
nightguard ditarik dengan tekanan ringan tidak terlepas.

3.

Stabilisasi : tidak goyang pada saat pasien pada posisi oklusi sentrik dan eksentrik. Jika
nightguard ditekan pada salah satu sisi dengan alat yang tumpul, maka sisi lawannya
tidak terangkat.

4.

Oklusi : tidak melebihi batas freeway space dan tidak terdapat prematur kontak.

5.

Dimensi vertikal
DV = FRP - FWS
FWS = FRP DV

6.

Semua gigi-gigi RA berkontak dengan permukaan nighrguard dan tidak ada sangkutan
(interference) pada saat gerakan lateral ke kiri dan kanan serta anterior-posterior

Pemeriksaan saat kontrol:


1.

Keluhan pasien

2.

Kondisi jaringan sekitar

3.

OHI

4.

Adaptasi : semua permukaan nightguard menyentuh incisal dan oklusal gigi

5.

Retensi : jika ditarik dengan tekanan ringan tidak terlepas.

6.

Stabilisasi : jika nightguard ditekan pada salah satu sisi dengan alat yang tumpul, maka
sisi lawannya tidak terangkat.

7.

Oklusi : DV sebelum dan sesudah memakai nightguard

8.

Semua gigi-gigi RA berkontak dengan permukaan nightguard dan tidak ada sangkutan
(interference) pada saat gerakan lateral ke kiri dan kanan serta anterior-posterior

RENCANA PERAWATAN NIGHTGUARD

Konvensional (RA)

Menyetujui,

Ira Koswara, drg. Sp.Perio

TAHAPAN PEKERJAAN PEMBUATAN NIGHTGUARD RAHANG ATAS


(KONVENSIONAL)

Nama Mahasiswa

: Farhana

NPM

: 160112130535

No.

Tanggal

Pekerjaan / Tahap

Diskusi Kasus Simpel

Diskusi Kasus Nightguard

Pola Lilin

Uji Coba Pola Lilin

Pemolesan

Insersi

Kontrol 1 Minggu

Kontrol 1 Bulan

Paraf

Gingivitis dan Peridontitis

Jaringan periodontal adalah jaringan yang mengelilingi gigi dan berfungsi sebagai
penyangga gigi, terdiri dari gingiva, sementum, ligamen periodontal dan tulang alveolar.
Sebelu memahami kerusakan jaringan periodontal, sebaiknya dimulai dengan gingival yang
sehat dan tulang pendukung yang normal. Gingiva yang sehat dapat menyesuaikan diri
dengan keadaan gigi. Permulaan terjadinya kerusakan biasanya timbul pada saat plak bacteria
terbentuk pada mahkota gigi, meluas disekitarnya dan menerobos sulkus gingiva yang
nantinya akan merusak gingiva disekitarnya. Plak menghasilkan sejumlah zat yang secara
langsung atau tidak langsung terlibat dalam perkembangan penyakit periodontal. Peradangan
pada gingiva dan perkembangannya pada bagian tepi permukaan gigi terjadi ketika koloni
mikroorganisme berkembang.
Penyakit periodontal dibagi atas dua golongan yaitu gingivitis dan periodontitis.
Bentuk penyakit periodontal yang paling sering dijumpai adalah proses inflamasi dan
mempengaruhi jaringan lunak yang mengelilingi gigi tanpa adanya kerusakan tulang,
keadaan ini dikenal dengan Gingivitis. Apabila penyakit gingiva tidak ditanggulangi sedini
mungkin maka proses penyakit akan terus berkembang mempengaruhi tulang alveolar,
ligamen periodontal atau sementum, keadaan ini disebut dengan Periodontitis

1.

Gingivitis
Gingivitis adalah inflamasi (peradangan) pada gusi.Gingivitis biasanya disebabkan

oleh buruknya kebersihan mulut sehingga terbentuk plak atau karan gigi di bagian gigi yang
berbatasan dengan tepi gusi. Plak dan karang gigi mengandung banyak bakter yang akan

menyebabkan infeksi pada gusi. Bila kebersihan mulut tidak diperbaiki, gingivitis aka
bertambah parah dan berkembang menjadi periodontitis. Gingivitis biasanya disebabkan oleh
buruknya kebersihan mulut sehingga terbentuk plak atau karang gigi di bagian gigi yang
berbatasan dengan tepi gusi. Plak dan karang gigi mengandung banyak bakteri yang akan
menyebabkan infeksi pada gusi. Bila kebersihan mulut tidak diperbaiki, gingivitis akan
bertambah parah dan berkembang menjadi periodontitis.
Perawatan gingivitis dilakukan dengan cara mengendalikan plak yaitu menghilangkan
penyebabnya dengan skeling disertai pemeliharaan kebersihan mulut dan pemberian obat
kumur jika diperlukan.

2.

Periodontitis
a. Periodontitis Kronis
Periodontitis kronis

adalah

suatu

bentuk penyakit

periodontal yang

mengakibatkan peradangan dalam jaringan pendukung gigi, kehilangan perlekatan


dan tulang yang progresif dan ditandai oleh pembentukan kantung dan/ atau resesi
gingiva. Ini adalah bentuk periodontitis paling umum, yang lazimnya pada orang
dewasa, namun dapat terjadi pada semua usia. Kehilangan perlekatan biasanya terjadi
secara perlahan, tetapi periode perkembangan yang cepat juga dapat terjadi.
Berdasarkan keparahannya diklasifikasikan menjadi 3 kategori, yaitu
periodontitis kronis ringan yaitu kehilangan perlekatan gusinya tidak lebih dari 2 mm,
periodontitis kronis sedang, yaitu kehilangan perlekatan gusinya 3-4 mm,
periodontitis kronis berat yaitu kehilangan perlekatan gusiny lebih atau sama dengan 5
mm.

Perawatan yang dilakukan secara lokal dengan menghilangkan plak dan


kalkulus secara mekanik melalui skeling, root planning, penggerindaan gigi lawan bila
ada kontak premature, kuretase, serta instruksi pemeliharaan kebersihan mulut.
b. Periodontitis agresif
Periodontitis Agresif merupakan kelainan jaringan periodontal yang lanjut dan
cepat, yang terjadi pada usia pubertas dan dewasa muda sehat, diklasifikasikan
menjadi 2 jenis yaitu periodontitis agresif lokalisata dan periodontitis agresif
generalisata.
Terapi periodontitis agresif dapat dpat berupa terapi bedah, non-bedah, atau
kombinasi keduanya yang disertai dengan antimikroba. Sejak penelitian menyatakan
bahwa bakteri A. Actinomycetemcomitans berperan penting sebagai etiologi
periodontitis agresif. Dengan kombinasi menggunakan pemakaian antimikroba ini
bertujuan untuk menghilangkan kelainan, mengurangi keganasan, mencegah
komplikasi, dan rekurensi penyakit.
Terapi non bedah dengan tindakan skeling dan penghalusan akar saja tidak
dapat mengeliminir bakteri A. Actinomycetemcomitans secara menyeluruh dari poket
periodontal. Terapi berupa aplikasi topical povidon-iodin pada poket periodontoal
penderita periodontitis agresif dan dkombinasi dengan pemberian tetrasiklin secara
sistemik terbukti cukup efektif pada terapi periodontitis agresif. Setelah pemberian
tetrasiklin sebanyak 4 x 250 mg/hari selama 2 minggu, ternyata dapat mengurangi
bakteri A. Actinomycetemcomitans secara signifikan.
Perawatan bedah resektif termasuk penambahan material bonegraft dan
membrane periodontal, memperlihatkan hasil yang memuaskan terutama pada
kelainan dengan poket > 7mm. terapi periodontitis dengan perawatan bedah
modifikasi Wildman flap dan pengambilan jaringan granulasi, serta plak control yang

teratur. Setelah pembedahan tidak digunakan pack periodontal tetapi penderita


dianjurkan untuk kumur-kumur menggunakann chlorheksidine 0,2%

2 x perhari

selama 2 minggu. Pemberian tetrasiklin perolar dilakukan setelah tindakan bedah


dengan dosis 4 x 250 mg/hari selama 2 minggu. Hasilnya menunjukan bertambahnya
perlekatan jaringan secara klinis dan pertumbuhan tulang baru pada daerah kerusakan
tulang angular. Kombinasi bonegraft dengan pemberian tetrasiklin 4 x 250 mg/hari
selama 10 hari memberikan hasil pertumbuhan tulang pada daerah furkasi setelah 1
tahun perawatan. Keberhasilan perawtan periodontitis agresif tanpa pemberian
antibiotic juga banyak dilaporkan pada perawatan 20 penderita periodontitis agresif,
berupa tindakan skelling dan penghalusan akar serta bedah flap dan anjuran
pemeliharaan kebersihan mulut secara professional tanpa pemberian antibiotic.
Setelah 6-12 tahun, tidak dijumpai adanya poket periodontal dengan kedalaman 7 mm
atau lebih dan penurunan kedalaman poket 4-6 mm dari 237 area menjadi 46 area.