Anda di halaman 1dari 6

Struktur Femur

Anastasia Tri Anggarwati


102012191
triaanastasia@gmail.com

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Alamat Korespondensi Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

Pendahuluan
Setiap manusia memiliki alat gerak, dimana alat gerak tersebut sangat penting bagi
kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Alat gerak terdiri dari tulang, sendi, jaringan ikat
dan otot. Gangguan yang paling sering dialami pada alat gerak adalah patah tulang, yaitu
terputusnya jaringan tulang, baik seluruhnya atau hanya sebagian saja. Keadaan seperti ini
tentu akan merusak sistem kerja alat gerak. Sehingga perlu dilakukan pengembalian fungsi
alat gerak tersebut sehingga pertumbuhan tulang bisa kembali normal, dan alat gerak bisa
berfungsi sebagaimana mestinya
Skenario
Seorang anak kecil terjatuh dan patah pada tulang pahanya ketika sedang menuruni
tangga. Setelah ditangani oleh dokter ortopedi, maka untuk mempercepat pertumbuhan
tulangnya dan agar oto pada tulang tersebut dapat berkontraksi kembali dengan baik, anak
tersebut kemudian diberi suplemen kalsium dan vitamin D.
Tujuan Pembelajaran
1. Memahami struktur tulang dan otot pada paha secara makroskopik dan mikroskopik
2. Memahami mekanisme kontraksi otot
3. Memahami proses pembentukkan dan pertumbuhan tulang
Identifikasi Istilah
1. Dokter ortopedi : Dokter ahli bedah tulang.1
2. Suplemen : Makanan tambahan yang bersifat nutrisi atau obat.2
Rumusan Masalah
Seorang anak yang terjatuh dari tangga dan mengalami patah tulang pada pahanya.

Analisis Masalah (Mind Map)

Modelling

Zat Kimia yang


Berperan

Re-modeling

Pembentukkan
Tulang

Mekanisme
Kontraksi Otot
Patah tulang
pada paha
Struktur Tulang
dan Otot

Pertumbuhan
Tulang

Macam-macam
Pertumbuhan
Tulang

Makroskopis (anatomi)

Mikroskopis (histologi)

Komponen

Hipotesis
Patah tulang menghambat mekanisme kerja otot dan pertumbuhan tulang.
Isi
Tulang merupakan anggota gerak, bagian ini memiliki struktur yang kuat, dimana
fungsinya adalah untuk menyongkong tubuh, memberi bentuk pada tubuh dan melindungi
organ-organ vital pada manusia.3 Anggota gerak manusia terdiri atas anggota gerak atas dan
anggota gerak bawah.4 Dengan fungsi tulang yang sangat penting tersebut, maka apabila
terjadi patah tulang, maka akan mengganggu aktifitas gerak tubuh. Patah tulang kita kenal
dengan fraktura, sehingga patah tulang paha kita sebut dengan fraktur femur. Fraktura dapat
dibedakan menjadi patah tulang terbuka yaitu apabila tulang yang patah merobek kulit, patah
tulang tertutup yaitu apabila tulang yang patah tidak merobek kulit, dan fisura yaitu apabila
tulang hanya retak.5 Pada kasus patah tulang, untuk dapat mempercepat pembentukan
kembali tulang yang patah dapat diberikan vitamin D dan suplemen kasium. Vitamin D
memiliki fungsi sebagai pengatur metabolisme kalsium dan fosfor, mendorong penyerapan
kalsium dalam usus; diperlukan untuk pertumbuhan normal dan mineralisasi tulang.6

Secara makroskopis, tulang paha atau femur masuk kedalam bagian extermitas
inferior, yang merupakan bagian yang lebih kuat dan lebih tebal dari bagian extermitas
superior.4 Hal ini dikarenakan pada tubuh bagian extermitas inferior merupakan bagian yang
akan menerima seluruh berat tubuh.4 Tulang paha menghubungkan bagian pinggul dan lutut.
Pada bagian kepala atau pada bagian proximal terdapat caput yang akan membentuk sendi
pada pinggul.7 Sedangkan proximal lainnya, yaitu trochanter major dan trochanter minor
akan menjadi tempat perlekatan otot.7 Pada bagian proximal posterior terdapat tuberositas
glutaea yang permukaannya kasar, bagian ini merupakan tempat melekatnya otot gluteus
maximus.7 Sedangkan bawahnya terdapat linea aspera, bagian ini merupakan tempat
melekatnya otot biceps femoris.7 Bagian kepala tulang paha ini mempunyai salah satu fungsi
penting, yaitu sebagai tempat produksi sel darah merah pada sumsum tulangnya. Sedangkan
pada bagian bawah atau bagian distal tulang paha terdapat condylus yang terbagi menjadi
condylus medialis (yang menghadap kedalam) dan condylus lateralis (yang menghadap
keluar). Bagian condylus ini akan membuat sendi condylar yang berhubungan dengan lutut.
Bagian bagian pada tulang paha atau femur akan dijelaskan pada gambar di bawah ini:

Gambar 1. Os Femoris
Secara makroskopis juga terdapat banyak tulang-tulang yang saling berhubungan.
Hubungan antar tulang ini disebut sendi atau artikulasi. Persendian mempunyai peran penting
dalam proses terjadinya gerak. Sendi yang terdapat di tulang paha antara lain sendi engsel
dan sendi peluru. Sendi engsel adalah persendian yang dapat digerakan ke satu arah,
persendian ini terdapat di antara tulang paha dan tulang betis. Sedangkan sendi peluru adalah
persendian yang dapat digerakan ke segala arah, persendian ini terdapat di antara gelang
panggul dan tulang paha.
Pada femur terdapat beberapa otot yang menempel pada os femur itu sendiri. otot
otot yang terdapat di os femur akan dijelaskan pada gambar di bawah ini:

Gambar 2. Musculi Femoris


Secara mikroskopis, femur tergolong ke dalam tulang keras atau biasa hanya di
sebut tulang. Tulang terdiri dari sel, serat dan substansi dasar (matrix).8 Sel tersusun atas
osteoprogenitor (sel kondrogenik), osteoblas (sel tulang muda), osteosit (sel tulang matang)
dan sel osteoklas (berisi enzim kolagenaze dan enzim proteolitik, sehingga bisa merombak
tulang).8 Serat tersusun atas kolagen (paling banyak) dan elastin.8 Sedangkan matrix tersusun
atas zat organik (serat kolagen) dan zat anorganik ( kalsium fosfat 85%, kalsium karbonat
10%, CaCl dan MgF).8 Berdasarkan arsitekturnya, tulang di bedakan atas tulang spongiosa
dan tulang kompakta. Dalam tulang keras juga terdapat saluran havers yang didalamnya
terdapat pembuluh darah yang berfungsi mengatur kehidupan sel tulang. Dilihat berdasarkan
bentuk jenis tulang ini, tulang paha mempuyai bentuk bulat, panjang dan tengahnya berongga
sehingga berfungsi sebagai tempat pembentukan sel darah merah. Tulang paha juga tergolong
kedalam tulang pipa. Disebut tulang pipa karena tulang jenis tersebut berbentuk seperti pipa
dengan kedua ujungnya yang bulat. Bagian yang bulat ini tersusun atas tulang rawan dan
epifise.9 Bagian tengah tulang pipa yang berbentuk silindris dan berongga disebut diafise.9 Di
antara epifise dan diafise terdapat bagian yang disebut metafise.9 Bagian metafise ini terdapat
cakra epifise, yang memiliki kemampuan memanjang.9 Di dalam rongga terdapat sumsum
tulang. Sumsung tulang tersusun dari pembuluh darah dan pembuluh saraf. Pada tulang pipa
terdapat dua sumsung tulang yakni sumsung tulang merah sebagai pembentuk sel-sel darah
dan kuning sebagai tempat pembentuk sel-sel lemak. Tulang pipa diselimuti oleh lapisan
periostum.
Osifikasi atau yang disebut dengan proses pembentukan tulang telah bermula sejak
umur embrio 6-7 minggu dan berlangsung sampai dewasa. Pertumbuhan tulang hanya melalui
mekanisme oposisional, tulang terus menerus dibentuk dan dirusak sesuai dengan kebutuhan
tubuh. Secara embriologis, terdapat 2 jenis perkembangan tulang, yaitu osifikasi
intramembranosa yang terjadi pada tulang tengkorak dan osifikasi endokondral /
intrakartilaginosa yang terjadi pada tulang panjang.10 Tulang paha merupakan tulang panjang,
oleh karena itu perkembangan yang terjadi pada tulang paha adalah secara osifikasi
endokondral. Osifikasi endokondral/intrakartilago adalah proses penulangan melalui cetakan
tulang rawan terlebih dahulu dengan kata lain, proses ini merupakan proses penggantian

model tulang dari tulang rawan menjadi tulang.10 Proses ini berjalan lambat dimana tulang
terus menerus tumbuh hingga mencapai ukuran yang seharusnya dan berhenti tumbuh. Proses
ini berawal didaerah perikondrium yang melingkari pertengahan diafisis. Sel sel yang
berbatasan dengan tulang rawan akan membesar dan menjadi osteoblas (sel pembentuk
tulang, membentuk ruang antar sel tulang keras, banyak mengandung zat kapur, sedikit zat
perekat, bersifat keras). Sel sel ini mulai menghasilkan tulang secara intramembranosa yaitu
akan terbentuk cincin atau kerah periosteal yang mengelilingi bagian tengah diafisis tulang
rawan. Pada pusat diafisis, sel tulang rawan akan berhipertrofi (mati dan berbentuk ruang
ruang kecil yang akan menyatu, ruang-ruang kecil akan menjadi rongga sumsum primer (ada
pembuluh darah dan jaringan ikat embrional)) dan berkapur, zat kapur tersebut dalam bentuk
kalsium karbonat ( CaCO3 )dan kalsium fosfat ( Ca(PO2)2) yang diperoleh atau dibawa oleh
darah. Di pusatnya terdapat rongga yang berisi sumsum tulang. Rongga terbentuk karena
aktivitas osteoklas (perombak tulang).
Tulang mengalami proses pembentukan dan perubahan (modelling dan
remodelling). Secara fisiologi modelling dan remodelling masa tulang dipengaruhi oleh 2
jenis sel yaitu sel osteoblas dan sel osteoklas.6 Osteoblas adalah sel yang membentuk massa
tulang, sementara osteoklas adalah sel yang bersifat merusak massa tulang. Awalnya,
pembentukkan tulang oleh osteoblas dan proses perusakan tulan oleh osteoklas berjalan
seimbang, walau pada umumnya dari usia 0 hingga sekitar 30/35 tahun biasa disebut
modelling tulang karena pada masa ini tulang masih terus mengalami pembentukan. Pada
saat memasuki usia 40 tahun, osteoklas menjadi lebih dominan, hal ini disebabkan perusakan
tulang lebih banyak terjadi dibanding pembentukan tulang sehingga kepadatan tulang juga
berkurang dan tulang menjadi semakin rapuh dan keropos.6
Otot merupakan alat gerak aktif, karena otot dapat menggerakkan bagian bagian
tubuh yang lain. Otot memiliki beberapa karakteris, yaitu eksitabilitas yang berarti peka
terhadap rangsang, kontraktilitas yang berarti memendek, ekstensibilitas yang berarti
merenggang bila ditarik dan elastisitas yang berarti kembali ke panjang dan bentuk asal
setelah kontraksi atau ekstensi. Selain sebagai alat gerak, otot juga berfungsi
mempertahankan postur dengan mempertahankan tekanan dan pengatur suhu tubuh. Otot
dapat berkontraksi, kontraksi otot dipengaruhi oleh zat-zat kimia. Terjadinya kontraksi otot
merupakan peran dari aktin-miosin. Kontraksi otot bisa terjadi pertama kali karena adanya zat
yang menyebabkan kontraksi yaitu asetilkolin (ester).11 Asetilkolin dilepas dari ujung saraf
yang merangsang pelepasan ion calsium Ca++, lalu ion calsium ini akan masuk kedalam
otot.12 Didalam otot terdapat troponin dan troponeosin yang selanjutnya akan diangkut ke
aktin, setelah itu aktin akan menempel pada miosin, sehingga terbentuklah aktomiosin yang
membuat benang (sel) menjadi pendek dan menyebabkan kontraksi otot.11 Dalam kontraksi
dibutuhkan energi. Energi diperoleh dari pemecahan ATP seperti berikut:
ATP

ADP

ANP

pospat + energi

Setelah melakukan kontraksi, otot akan melakukan relaksasi. Awal terjadinya relaksasi
adalah ion kalsium (Ca++) masuk kembali ke plasma sel , sehingga ikatan troponin dan ion

kalsium lepas, menyebabkan lepasnya perlekatan aktin dan miosin, keadaan seperti inilah
yang disebut otot relaksasi.
Ringkasan
Tulang dan otot merupakan organ yang sangat penting bagi fungsi gerak manusia.
Tulang akan membantu menopang tubuh dan memberi bentuk tubuh. Pada persambungan
antara tulang satu dengan tulang lainnya akan membentuk sendi sehingga dapat terjadi gerak
dan otok yang akan menggerakkan tubuh dengan karakteristinya yang dapat melakukan
kontraksi dan relaksasi. Maka terjadinya gangguan anggota tubuh ini akan sangat
mengganggu fungsi gerak manusia.
Daftar Pustaka
1.
2.
3.

Michael F, Roizen MD, Mehmet C, Oz MD. Being beautiful. Bandung: Qanita; 2010
Yuliarti N. A to Z food supplement. Yogyakarta: Andi; 2009
Cameron JR, Skofronick JG, Grant RM. Fisika tubuh manusia. Jakarta: Penerbit Buku
EGC; 2003
4. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk para medis. Jakarta: Gramedia; 2003
5. Patel PR. Lecture notes: radiologi. Ed 2. Jakarta: Erlangga; 2007
6. Fried GH, Hademenos GJ. Schaums outlines biologi. Ed 2. Jakarta: Erlangga; 2006
7. Yudha EK, Hany A. Buku ajar keperawatan perioperatif. Jakarta: Penerbit Buku EGC;
2006
8. Hany A. Panduan belajar: keperawatan pediatrik. Jakarta: penerbit Buku EGC; 2005
9. Asih Y. Anatomi dan fisiologi tubuh manusia: latihan dan panduan belajar. Jakarta:
Penerbit Buku EGC; 2003
10. Adrianto P. Buku ajar bedah. Jakrata: Penerbit Buku EGC; 2003
11. Neal MJ. At a glance farmakologi medis. Ed 5. Jakarta: Erlangga; 2005
12. Gabriel JF. Fisika kedokteran. Jakrta: Penerbit Buku EGC; 2004