Anda di halaman 1dari 131

NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN PERATURAN DAERAH


KABUPATEN KAYONG UTARA
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH
KABUPATEN KAYONG UTARA TAHUN 2011 - 2031

DINAS PEKERJAAN UMUM


KABUPATEN KAYONG UTARA
TAHUN 2011

Kata Pengantar
Laporan Pendahuluan ini adalah laporan pertama yang dikerjakan oleh Dinas
Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Kayong Utara yang bekerja sama dengan
PT.Cipta Asri Manunggal sebagai konsultan perencana.
Laporan pendahuluan ini merupakan laporan awal penyusunan RAPERDA
Rencana Tata Ruang Wilayah yang mengacu pada ketentuan penyusunan
tentang pedoman penyusunan peraturan perundangan, dalam hal ini UndangUndang No.12 tahun 2011
Atas Selesainya Laporan Pendahuluan ini kami sebagai konsiltan perencana
mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada berbagai pihak yang telah
membantu tersusunnya RAPERDA Rencana Tata Ruang Wilayah.

Sukadana,

Oktober 2011

Pemerintah Kabupaten Kayong Utara


Dinas Pekerjaan Umum (PU)

ii

Kata Pengantar
Laporan Interim ini merupakan laporan kedua yang dikerjakan oleh Dinas
Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Kayong Utara yang bekerja sama dengan
PT.Ziar Estetika Consultant sebagai konsultan perencana.
Laporan Interim ini berisikan RAPERDA Ijin Mendirikan Bangunan yang
mengacu

pada

ketentuan

penyusunan

tentang

pedoman

penyusunan

peraturan perundangan, dalam hal ini Undang-Undang No.12 tahun 2011


Atas Selesainya Laporan Interim ini kami sebagai konsiltan perencana
mengucapkan banyak-banyak terimakasih.

Sukadana,

November 2011

Pemerintah Kabupaten Kayong Utara


Dinas Pekerjaan Umum (PU)

ii

Kata Pengantar
Laporan Pendahuluan ini adalah laporan pertama yang dikerjakan oleh Dinas
Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Kayong Utara yang bekerja sama dengan
PT.Cipta Asri Manunggal sebagai konsultan perencana.
Laporan Pendahuluan ini Naskah Akademis yang penyusunannya mengacu
pada

ketentuan

penyusunan

tentang

pedoman

penyusunan

peraturan

perundangan, dalam hal ini Undang-Undang No.12 tahun 2011.


Atas Selesainya Laporan Pendahuluan ini kami sebagai Konsultan perencana
mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada berbagai pihak yang telah
membantu tersusunnya RAPERDA Rencana Tata Ruang Wilayah.

Sukadana,

Oktober 2011

Pemerintah Kabupaten Kayong Utara


Dinas Pekerjaan Umum (PU)

ii

DAFTAR ISI

BAB 1

PENDAHULUAN............................................................................

I-1

1.1

Latar Belakang .................................................................................. I - 1

1.2

Dasar Hukum .................................................................................... I - 2

1.3

Tujuan dan Sasaran Penyusunan Peraturan Daerah ............................. I - 4

1.4

Tujuan dan Manfaat Naskah Akademis................................................. I - 5

1.5

Pentingnya Naskah Akademis dalam pembentukan Rancangan


Peraturan Daerah .............................................................................. I - 6

1.6

Ruang Lingkup .................................................................................. I - 6

1.7

Metode Penyusunan Naskah Akademis .. I - 6

1.8

Sistematika Naskah Akademis.......................... I - 7

BAB 2
2.1

KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTEK EMPIRIS.................................. II - 1


Pengembangan Wilayah ..................................................................... II - 1
2.1.1. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah .................................. II - 1
2.1.2. Konsep Wilayah dan Pengembangan Wilayah ............................. II - 2
2.1.3. Teori Lokasi dan Pusat Pertumbuhan ......................................... II - 6
2.1.4. Pembangunan Daerah .............................................................. II - 7
2.1.5. Potensi Wilayah sebagai Sumber Daya ....................................... II - 10

2.2

Struktur Ruang .................................................................................. II - 12


2.2.1. Definisi Struktur Ruang ............................................................. II - 12
2.2.2. Bentuk dan Model Struktur Ruang .............................................. II - 13
2.2.3. Pengertian Pusat dan Sub Pusat Pelayanan Kota ......................... II - 15
2.2.4. Faktor-faktor Timbulnya Pusat Pelayanan ................................... II - 16
2.2.5. Perkembangan Kota dan Struktur Ruang .................................... II - 17

2.3

Sistem Transportasi ............................................................................ II - 15


2.3.1. Jaringan Transportasi ................................................................ II - 22
2.3.2. Klasifikasi Jalan ......................................................................... II - 23
2.3.3. Fungsi Jalan Berkaitan dengan Pembangunan ............................. II - 26
2.3.4. Arah Perkembangan Jaringan Transportasi ................................. II - 27

2.4

Sumber Daya Lahan ........................................................................... II - 28


2.4.1. Pengertian Lahan ..................................................................... II - 28
2.4.2. Tata guna Lahan dan Perubahan Guna Lahan ............................. II - 29
2.4.3. Kesesuaian Lahan ..................................................................... II - 30
ii | N a s k a h A k a d e m i k

2.4.4. Perubahan Penggunaan Lahan .................................................. II - 35


2.5

Konsep Pembangunan Berkelanjutan ................................................... II - 36


2.5.1. Definisi Konsep Pembangunan Berkelanjutan .............................. II - 36
2.5.2. Dimensi Pembangunan Berkelanjutan ......................................... II - 39
2.5.3. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ........................................... II - 41
2.5.4. Indikator Pembangunan Berkelanjutan ....................................... II - 42

2.6

Pengendalian Pemanfaatan Ruang ...................................................... II - 43

2.7

Perizinan Pemanfaatan Ruang ............................................................. II - 47

2.8

Parsipatori Planning ............................................................................ II - 48

2.9

Pemerintah Daerah sebagai Pelaksana Birokrasi Pemerintah di Daerah... II - 49


2.9.1. Pemerintah sebagai Pelaksana Birokrasi Pemerintahan ................ II - 49
2.9.2. Pemerintah Daerah sebagai Pelaksana Biroikrasi Daerah
berdasarkan otonomi Daerah..................................................... II - 51

2.10
BAB 3

Praktek Empiris .................................................................................. II - 55


EVALIASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANGUNDANGAN TERKAIT................................................................... III - 1

3.1

Penyelenggaraan Pemerintah Daerah................................................... III - 1

3.2

Penataan Ruang dan Penggunaan Lahan.............................................. III - 2


3.2.1. Penataan Ruang . III - 2
3.2.2. Penggunaan Lahan .. III - 3

3.3

Sumber Daya Alam dan Penanggulangan Bencana . III - 7


3.3.1. Sumber Daya Alam .. III - 7
3.3.2. Penanggulangan Bencana III - 7

3.4

Infrastruktur .

III - 9

3.4.1. Jaringan Jalan dan Sempadan Jalan .. III - 9


3.4.2. Kepelabuhan III - 11
3.4.3. Bandar Udara .. III - 13
3.4.4. Telekomunikasi .. III - 14
3.5
BAB 4

Peran Serta Masyarakat .. III - 16


LANDASAN FILOSOFIS, SOSILOGIS DAN YURIDIS ...................... IV - 1

4.1.

Landasan Filosofis ............................................................................... IV - 1

4.2.

Landasan Sosiologis ............................................................................. IV - 2

4.3.

Landasan Yuridis ................................................................................. IV - 3

4.4.

Asas-asas Pembentukan Peraturan Daerah ............................................ IV - 4


iii | N a s k a h A k a d e m i k

BAB 5

JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN DAN RUANG LINGKUP


MATERI MUATAN PERATURAN DAERAH....................................... V - 1

5.1.

Sasaran yang Akan Diwujudkan ........................................................... V - 1

5.2.

Arah dan Jangkauan Pengaturan. V - 2

5.3.

Ruang Lingkup Materi .. V - 3


5.3.1. Ketentuan Umum .. V - 3
5.3.2. Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah . V - 10
5.3.3. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten . V - 12
5.3.4. Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten . V - 16
5.3.5. Penetapan Kawasan Strategis Kabupaten V - 18
5.3.6. Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten . V - 21
5.3.7. Ketentuan Pengendalian Pemanfaatan Ruang .. V - 23
5.3.8. Ketentuan Peralihan . V - 31

BAB 6

PENUTUP....................................................................................... VI - 1

5.1.

Kesimpulan ......................................................................................... VI - 1

5.2.

Saran VI - 1

Daftar Pustaka
LAMPIRAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH

iv | N a s k a h A k a d e m i k

Naskah Akademik

RTRW

DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Akil, S. 2001. Penataan Ruang dalam Rangka Mendorong Pengembangan Ekonomi Wilayah.
Tangerang: Cipta.
Arikunto, Suharsimi (1994), Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. , Jakarta:
Bina Aksara.
Bagir Manan, Hubungan Antara Pusat dan Daerah Berdasarkan Asas Desentralisasi Menurut
UUD 1945, disertasi, Bandung,: UNPAD, 1990
Catanese, Anthony J. dan James C. Snyder (1992), Perencanaan Kota Edisi 2.
Surabaya: Penerbit Erlangga.
Budihardjo, Eko (2005), Tata Ruang Perkotaan. Bandung: PT. Alumni.
_________ (1997), Lingkungan Binaan dan Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Penerbit
Andi.
_________ (1997), Kota Berkelanjutan. Bandung: Penerbit Alumni.
Darmawan, Edy (2003), Teori dan Implementasi Perancangan Kota. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Dunn, William N (2001), Analisis Kebijaksanaan Publik. Yogyakarta: PT. Hanindita
Graha Library.
Hadi, Sutrisno (1984), Metodologi Riset I. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas
Gadjah Mada.
Hadjisaroso, 1994. Konsep Dasar Pengembangan Wilayah di Indonesia, dalam Prisma No. 8
Agustus.
Hettne, Bjorn. 2001. Teori Pembangunan dan Tiga Dunia Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Jayadinata, Johara T. (1986), Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan Perkotaan dan
Wilayah. Bandung: Penerbit ITB Bandung.
Riyadi dan Deddy Supriady Bratakusumah (2004), Perencanaan Pembangunan
Daerah Strategi Menggali Potensi dalam Mewujudkan Otonomi Daerah.
Jakarta: Gramedia.
Sandy, I Made (1977), Tata Guna Lahan Perkotaan dan Perdesaan. Jakarta: Penerbit
Bharata Anindya.
Salim, H.A. Abbas. 1998. Manajemen Transportasi. Jakarta:
RajaGrafindo Persada.
SF Marbun dan Mahfud MD, Pokok-pokok Hukum Administrasi Negara, Yogyakarta : Liberty,
2006
Soefaat, et.al (1997), Kamus Tata Ruang Edisi 1. Jakarta: Direktorat Jenderal Cipta
Wahjono, Padmo, Indonesia Negara Berdasar Atas Hukum, Jakarta : Ghalia Indonesia,1986
Syarif Hidayat, Persoalan Mendasar Implementasi Otonomi Daerah, Harian Umum Media
Indonesia tanggal 23 Februari 2000.
Karya Departemen PU/Ikatan Ahli Perencana Indonesia.
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Undang Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan

Ekosistemnya
Undang Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
Undang Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

Naskah Akademik
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor

25

RTRW

Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional.
Undang Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan
Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Undang Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Kawasan Pesisir dan Pulau-Pulau

Kecil.
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi
Undang Undang Nomor No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Bahan Galian
Undang Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan
Undang Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan
Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
Undang Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan
Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan

Hidup
Undang Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan

Berkelanjutan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan Dan Kawasan Permukiman
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan, Pembinaan

dan Pengembangan
Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa
Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta

Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang
Peraturan Pemerintah No 07 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan
Peraturan Pemerintah No 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhan
Peraturan Pemerintah No 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah
Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan
Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan
Peraturan Pemerintan No 34 Tahun 2006 tentang Jalan
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan Dan Penyusunan Rencana
Pengelolaan Hutan, Serta Pemanfaatan Hutan
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara
Pemerintah, Pemerintah daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan
Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah
Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan
Peraturan Pemerintah No 24 Tahun 2009 Tentang Kawasan Industri
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara
Perubahan Peruntukan Dan Fungsi Kawasan Hutan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2010 tentang Penggunaan
Kawasan Hutan

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

Naskah Akademik

RTRW

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 15 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan

Penataan Ruang
Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan
Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung
Keputusan Presiden No 33 Tahun 1990 tentang Penggunaan Tanah bagi Kawasan Industri
Permen PU No. 16 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan RTRW Kabupaten
Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Negara Nomor ; 2 Tahun 1999

tentang Izin Lokasi


63/PRT/1993 tentang Garis Sempadan dan
Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai dan Bekas Sungai;
Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan
Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur
Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pedoman
Pembangunan Dan Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor

BUKU/DATA LAPORAN

Kabupaten Kubu Raya Dalam Angka Tahun 2010. BPS/Bappeda Kabupaten Kubu Raya

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

Naskah Akademik

LAMPIRAN
RANCANGAN PERATURAN DAERAH

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

RTRW

Naskah Akademik

RTRW

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Kabupaten Kayong Utara merupakan kabupaten terkecil di Provinsi Kalimantan Barat

dengan Ibukota kabupaten yang terletak di Sukadana. Kabupaten ini merupakan hasil
pemekaran dari Kabupaten Ketapang berdasarkan UU No. 6 Tahun 2007 tentang
Pembentukan Kabupaten Kayong Utara. Luas Wilayah Kabupaten Kayong Utara sebesar
4.568,26 km2 atau 3,11 % dari luas Wilayah Provinsi Kalimantan Barat (146.807 km2).
Kabupaten Kayong Utara terdiri dari 5 kecamatan, yang terbentuk dari 43 kelurahan/ desa.
Jumlah penduduk Kabupaten Kayong Utara pada tahun 2007 berjumlah 90.239 jiwa sedangan
jumlah penduduk tahun 2009 sebanyak 92.848 jiwa atau meningkat sebesar 2,89 persen.
Sebagai daerah otonom yang baru, agar Kabupaten Kayong Utara dapat berkembang
sebagai satuan kehidupan fisik, sosial dan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan
masyarakatnya, diperlukan upaya pembangunan yang terarah, terkendali, dan mampu
memanfaatkan seluruh potensi wilayah yang ada secara optimal tanpa mengganggu
kelestarian lingkungan dan sumber daya alam yang dimilikinya. Salah satu dokumen
perencanaan yang diperlukan Kabupaten Kayong Utara adalah rencana penataan ruang.
Penataan ruang merupakan alat bagi pengembangan wilayah pada dasarnya adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjamin lingkungan hidup yang berkelanjutan
dengan

memperhatikan

keunggulan

komparatif

di

suatu

wilayah,

dan

mengurangi

kesenjangan pembangunan antar kawasan. Pengembangan wilayah merupakan suatu upaya


untuk mendorong terjadinya perkembangan wilayah secara harmonis melalui pendekatan
yang bersifat komprehensif mencakup aspek fisik, ekonomi, sosial dan budaya. Adanya
dokumen perencanaan tata ruang, dapat digunakan sebagai instrumen untuk mengantisipasi
permasalahan sosial, tetapi juga instrumen untuk pengembangan ekonomi dan pengelolaan
sumber daya alam yang menjamin kesinambungan dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan
sumber daya alam.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, Kabupaten Kayong Utara sebagai daerah
otonom yang baru memerlukan rencana penataan ruang yang diwujudkan dalam Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten. RTRW ini diharapkan dapat memberikan nilai
tambah bagi terwujudnya pengembangan wilayah Kabupaten Kayong Utara yang berlanjutan
dan kompetitif sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

I1

Naskah Akademik

RTRW

Sesuai Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Pasal 11 ayat
(2) mengamanatkan pemerintah daerah kabupaten berwenang dalam melaksanakan penataan
ruang wilayah kabupaten yang meliputi perencanaan tata ruang wilayah kabupaten,
pemanfaatan ruang wilayah kabupaten, dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
kabupaten. Perencanaan tata ruang wilayah kabupaten meliputi proses dan prosedur
penyusunan serta penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten dalam bentuk
Peraturan Daerah. Penyusunan RTRW kabupaten ini dilakukan dengan berasaskan pada
kaidah-kaidah perencanaan yang mencakup asas keselarasan, keserasian, keterpaduan,
kelestarian,

keberlanjutan

serta

keterkaitan

antarwilayah

baik

di

dalam

kabupaten

bersangkutan maupun dengan kabupaten sekitarnya. Dalam rangka perencanaan tata ruang
wilayah kabupaten, perlu disusun Rancangan Peraturan Daerah RTRW kabupaten sebagai
acuan bagi semua pihak terkait untuk melaksanakan kegiatan Penataan Ruang di wilayah
kabupaten.
Berdasarkan beberapa hal diatas, maka dirumuskan bahwa penyusunan Rancangan
Peraturan Daerah mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten menjadi hal yang
sangat penting dilakukan. Begitu juga halnya dengan belum terbentuknya perangkat hukum
yang mengatur Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara. Peraturan daerah
tentang RTRW Kabupaten ini juga nantinya berfungsi sebagai dasar dan acuan penerapan
rencana tata ruang wilayah yang lebih detail.
Hasil penyusunan Peraturan Daerah mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Kayong Utara ini berperan penting dalam beberapa kegiatan perkembangan dan
pembangunan wilayah seperti proses perizinan prinsip dan izin lokasi, sebagai dasar dalam
penyusunan perangkat penataan ruang lainnya seperti Rencana Tata Ruang Wilayah Ibukota
Kabupaten, Rencana Tata Ruang Wilayah Ibukota Kecamatan, Rencana Detail Tata Ruang,
Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan serta Rencana Kawasan Strategis. Rancangan perda
yang pada prinsipnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari materi Teknis Rencana
Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara dapat menjadi pengarah dalam kegiatan
pembangunan wilayah dan arahan investasi wilayah.
1.2.

Dasar Hukum
Dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Kayong Utara Tentang

Rencana Tata Ruang Wilayah ini, dilandasi oleh beberapa peraturan perundangan yang
terkait, yakni :
a. Undang Undang :
1)

Undang Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok


Agraria

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

I2

Naskah Akademik
2)

Undang Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi

3)

Undang Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

4)

Undang Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan

5)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor

25

RTRW

Tahun 2004 Tentang Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional.


6)

Undang Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan

7)

Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

8)

Undang Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan;

9)

Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

10) Undang Undang Nomor No 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah


11) Undang Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Ke Undang
Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan
12) Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
13) Undang Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
14) Undang Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan
15) Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
16) Undang Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan
b. Peraturan Pemerintah/Keputusan Presiden;
1) Keputusan Presiden Nomor 32Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung
2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 69 tahun 1996 tentang Pelaksanaan
Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam
Penataan Ruang
3) Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 Tentang Ketelitian Peta
4) Peraturan Pemerintah No 69 Tahun 2001 Tetang Kepelabuhan
5) Peraturan Pemerintah No 07 Tahun 2001 Tentang Kebandarudaraan
6) Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan
7) Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan
8) Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah
9) Peraturan Pemerintan No 34 Tahun 2006 Tentang Jalan
10) Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2006 Tentang Kepelabuhan
11) Peraturan

Pemerintah

Nomor

38

Tahun

2007

tentang

Pembagian

Urusan

Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah daerah Provinsi, dan Pemerintahan


Daerah Kabupaten/Kota;

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

I3

Naskah Akademik

RTRW

12) Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional;
13) Peraturan Pemerintah No 24 Tahun 2009 Tentang Kawasan Industri
14) Peraturan

Pemerintah

Republik

Indonesia

No.

15

tahun

2010

tentang

Penyelenggaraan Penataan Ruang


c. Peraturan Menteri / Keputusan Menteri ;
1) Keputusan Presiden No 33 Tahun 1990 tentang Penggunaan Tanah bagi Kawasan
Industri
2) Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung;
3) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor

63/PRT/1993 tentang Garis Sempadan

dan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai dan Bekas Sungai;
4) Permen Komunikasi Dan Informatika Republik Indonesia No.02/2008 Tentang
Pedoman Pembangunan Dan Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi.
5) Permen PU No. 16 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penyusunan RTRW Kabupaten
1.3.

Tujuan dan Sasaran Penyusunan Peraturan Daerah


Tujuan Penyusunan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah

Kabupaten Kayong Utara adalah sebagai pengarah kegiatan pembangunan agar kegiatan
pembangunan sesuai dengan Potensi dan Permasalahan baik fisik, sosial budaya maupun
ekonomi serta mewujudkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara yang telah
disusun dalam bentuk materi Teknis RTRW Kabupaten.
Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten adalah tujuan yang ditetapkan pemerintah
daerah kabupaten yang merupakan arahan perwujudan visi dan misi pembangunan jangka
panjang kabupaten pada aspek keruangan, yang pada dasarnya mendukung terwujudnya
ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan
Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional.
Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah sebagi berikut:
1. Memberikan kepastian hukum sehubungan dengan legalitas Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten;
2. Mengarahkan perkembangan kegiatan wilayah kabupaten seperti perkembangan pusatpusat kegiatan, system transportasi dan system prasarana lainnya serta system
perekonomian wilayah lainnya;
3. instrumen pengendalian perkembangan dan pengembangan wilayah/kawasan/lingkungan

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

I4

Naskah Akademik

RTRW

1.4. Tujuan dan Manfaat Naskah Akademis


1.4.1. Tujuan Penyusunan Naskah Akademis
Sebagai bahan acuan untuk merumuskan pokok-pokok pikiran, konsep-konsep, asas-asas dan
norma-norma hukum dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Kayong
Utara tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara.
1.4.2. Manfaat Naskah Akademis
Menyusunan Naskah Akademis ini berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Adapun manfaat dari naskah
akademis ini adalah sebagai berikut:
a. Memberikan bahan acuan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kayong Utara sebagai
pemrakarsa pengajuan usulan pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara
b. Memberi bahan informasi kepada Pemerintah Daerah, Dinas-Dinas terkait dan Warga
Masyarakat Kabupaten Kayong Utara mengenai urgensi dan substansi pembentukan
Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara
c. Mempermudah perumusan, asas-asas dan norma pasal-pasal Rancangan Peraturan
Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara
d. mempertegas tanggungjawab dan kewenangan Pemerintah Kabupaten Kayong Utara
dalam hal penyelenggaraan Penataan Ruang;
e. mempertegas hak dan kewajiban penyelenggara/penanggungjawab Penataan Ruang
Wilayah ;
f.

menjadi pedoman bagi Pemerintah Kabupaten Kayong Utara untuk melakukan


perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pemanfaatan atas penyelenggaraan
penataan ruang menurut wewenang, tugas, dan tanggungjawabnya;

g. menjadi pedoman bagi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kayong Utara untuk
berperan dalam perencanaan, dan pengawasan atas penyelenggaraan penataan ruang
menurut wewenang, tugas, dan tanggungjawabnya;
h. menjadi pedoman bagi penyelenggara/penanggungjawab penyelenggaraan penataan
ruang untuk melakukan perencanaan dan pelaksanaan, menurut kewajiban dan haknya;
dan
i.

menjadi pedoman bagi masyarakat untuk melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan


pengawasan atas penyelenggaraan penataan ruang, menurut hak dan kewajibannya.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

I5

Naskah Akademik
1.5.

RTRW

Pentingnya Naskah Akademik dalam Pembentukan Rancangan Peraturan


Daerah

Adapun pentingnya Naskah akademis dalam proses pembentukan Peraturan Daerah antara
lain:
a. Peraturan Daerah merupakan media bagi pemerintah daerah dan peran masyarakat
untuk menuangkan kebijakan-kebijakan dan atau aspirasi masyarakat untuk tujuan
pembangunan daerah. Diharapkan dari peraturan daerah tersebut mampu diterapkan
aturan-aturan yang dapat menunjang pembangunan daerah kearah yang lebih maju.
b. Pada tahap implementasi, sebuah peraturan daerah harus tepat pada sasaran yang
diinginkan dari diberlakukannya peraturan daerah tersebut dan juga bermanfaat bagi
masyarakat. Perda dibentuk berdasarkan pada asas pembentukan peraturan
perundangan yang meliputi antara lain pedayagunaan dan keberhasilgunaan.
c. Naskah akademik memaparkan alasan-alasan, fakta-fakta atau latar belakang
mengenai hal-hal yang mendorong disusunnya suatu masalah atau urusan sehingga
sangat penting dan mendesak untuk diatur dalam peraturan daerah
d. Naskah akademik memberikan gambaran mengenai substansi, materi dan lingkup dari
peraturan daerah yang akan dibuat.
e. Naskah akademik memberikan pertimbangan dalam rangka mengambil keputusan
bagi pihak eksekutif dan legislative mengenai pembentukan peraturan daerah
mengenai permasalah yang dibahas dalam naskah akademik.
1.6.

Ruang Lingkup
Peraturan Daerah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk bersama oleh

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan Kepala Daerah baik di Provinsi maupun di
Kabupaten.

Pembentukan

Peraturan

Perundang-undangan

adalah

proses

pembuatan

Peraturan Perundangundangan yang pada dasamya dimulai dari perencanaan, persiapan,


teknik

penyusunan,

penyebarluasan.

perumusan,

Adapun

Teknik

pembahasan,
Penyusunan

pengesahan,

Rancangan

pengundangan,

Peraturan

Daerah

dan

disusun

berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturanperundangan. Sedangkan wilayah penyusunan Peraturan Daerah mengenai Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten adalah seluruh wilayah Kabupaten Kayong Utara serta wilayahwilayah yang berbatasan dengan Kabupaten.
1.7.

Metode Penyusunan Naskah Akademis


Penyusunan Naskah Akademis ini dilakukan dengan melakukan studi literatur, analisis

isi peraturan perundang-undangan, studi dokumen, rapat koordinasi, rapat konsultasi dan
rapat kerja di lingkungan pemerintah Kabupaten Kayong Utara. Melalui studi literatur dan
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

I6

Naskah Akademik

RTRW

analisis isi peraturan perundang-undangan akan dihasilkan konsep-konsep, landasan filosofis,


landasan yuridis, asas-asas, urgensi, tujuan dan norma-norma hukum yang tepat bagi
pembentukan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong
Utara. Melalui studi dokumen, akan dihasilkan informasi dan data sekunder berkenaan dengan
Pengembangan Wilayah Kabupaten Kayong Utara, sehingga dapat dijadikan acuan dalam
penyusunan Naskah Akademis dan rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Kayong Utara. Melalui rapat koordinasi, konsultasi dan rapat kerja,
diharapkan akan diperoleh kesatuan pemikiran, persamaan persepsi, pendapat, aspirasi,
informasi dan data yang diperlukan untuk diolah dan disusun secara sistematik ke dalam
Naskah Akademik serta Rancangan Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Kayong Utara.
Pembentukan Peraturan Daerah ini, menggunakan metode pendekatan :
a. Pendekatan Regulatif, yaitu mengindahkan, mentaati, dan mempedomani seluruh
peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum pembentukan Peraturan
Daerah ini dan memperhatikan peraturan perundang-undangn yang berkaitan;
b. Pendekatan Ilmiah, yaitu mempertimbangkan dan menerapkan seluruh temuan ilmu dan
teknologi yang relevan berdasarkan kondisi alami dan masyarakat Kabupaten Kayong
Utara; dan
c. Pendekatan Kultural, yaitu mempertimbangkan dan memanfaatkan seluruh unsur budaya
lokal yang berkaitan.
Metode penelitian yang digunakan yuridis dengan metode pendekatan deskriptif
analitis. Data sekunder diperoleh melalui penelitian kepustakaan yaitu peraturan perundangundangan, peraturan pemerintah, peraturan daerah, buku-buku referensi, makalah dan
dokumen-dokumen yang berkaitan dengan penyusunan rancangan peraturan daerah ini.
1.8.

Sistematika Naskah Akademik

BAB 1 Pendahuluan
Berisikan uaraian mengenai latar belakang, tujuan dan sasaran penyusunan
Rancangan perda, tujuan dan manfaat penyusunan Naskah Akademik, metode
penyusunan Naskah akademik dan sistematika Naskah Akademik.
BAB 2 Kajian Teoritis dan Praktek Empiris
Bab ini memuat uraian mengenai materi yang bersifat teoritis, asas, praktik,
perkembangan pemikiran, serta implikasi sosial, politik, dan ekonomi, dari pengaturan
dalam suatu Peraturan Daerah Kabupaten.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

I7

Naskah Akademik

RTRW

BAB 3 Evaluasi Dan Analisis Peraturan Perundang-Undangan Terkait


Bab ini berisikan tentang Penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah,
Kebijakan Pembangunan, kajian normatif mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Kayong Utara, ketentuan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
dan lain-lain.
BAB 4 Landasan Filosofis, Sosiologis Dan Yuridis
Dalam Pembentukan Peraturan Daerah paling sedikit harus memuat 3 (tiga) landasan
yaitu: Landasan filosofis sebagai landasan yang berkaitan dengan dasar atau ideologi
Negara, Landasan sosiologis sebagai landasan yang berkaitan dengan kondisi atau
kenyataan empiris yang hidup dalam masyarakat, dapat berupa kebutuhan atau
tuntutan yang dihadapi oleh masyarakat, kecenderungan, dan harapan masyarakat;
dan Landasan yuridis sebagai landasan yang berkaitan dengan kewenangan untuk
membentuk, kesesuaian antara jenis dan materi muatan, tata cara atau prosedur
tertentu, dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih
tinggi.

BAB 5 Jangkauan, Arah Pengaturan, Dan Ruang Lingkup Materi Muatan Peraturan
Daerah Kabupaten
Bab ini membahas beberapa kajian inti seperti Sasaran yang akan diwujudkan, Arah
dan jangkauan pengaturan, Ruang Lingkup Materi, Ketentuan Umum Memuat
Rumusan Akademik Mengenai Pengertian Istilah, Dan Frasa, Materi Yang Akan Diatur,
Ketentuan Sanksi dan Ketentuan Peralihan.
BAB 6 Penutup
Pada bagian penutup ini berisikan simpulan dan saran. Simpulan memuat rangkuman
pokok pikiran yang berkaitan dengan praktik penyelenggaraan, pokok elaborasi teori,
dan asas yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya. Saran memuat beberapa hal
seperti perlunya pemilahan substansi Naskah Akademik dalam suatu Peraturan
Perundang-undangan atau Peraturan Perundangundangan di bawahnya, rekomendasi
tentang skala prioritas penyusunan Rancangan Undang-Undang/Rancangan Peraturan
Daerah dalam Program Legislasi Nasional/Program Legislasi Daerah dan kegiatan lain
yang diperlukan untuk mendukung penyempurnaan penyusunan Naskah Akademik
lebih lanjut.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

I8

Naskah Akademik

RTRW

Daftar Pustaka
LAMPIRAN berisikan draft Naskah Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Kayong Utara
Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

I9

Naskah Akademik

RTRW

BAB 2
KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTEK EMPIRIS
Bab ini memuat uraian mengenai materi yang bersifat teoritis, asas, praktik,
perkembangan pemikiran, serta implikasi sosial, politik, dan ekonomi, keuangan negara dari
pengaturan dalam suatu Peraturan Daerah Mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Kayong Utara.
2.1. Pengembangan Wilayah
2.1.1. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah
Bidang kajian perencanaan pengembangan wilayah mempunyai ruang lingkup dari
berbagai disiplin keilmuan, yaitu ilmu-ilmu fisik (geografi, geofisik), ilmu sosial ekonomi
(sosiologi, ekonomi), ilmu manajemen, hingga seni/estetika. Menurut Rustiadi at al. (2009),
perencanaan pengembangan wilayah merupakan bidang kajian yang mengintegrasikan
berbagai cabang ilmu untuk memecahkan masalah-masalah pembangunan serta aspek-aspek
politik, manajemen, dan administrasi perencanaan pembangunan yang berdimensi ruang atau
wilayah.
Proses kajian perencanaan dan pembangunan wilayah memerlukan pendekatan-pendekatan
yang mencakup:
(1) aspek pemahaman, yaitu aspek yang menekankan pada upaya memahami fenomena
fisik alamiah hingga sosial ekonomi di dalam dan antar wilayah. Oleh karena itu
diperlukan pemahaman pengetahuan mengenai teknik-teknik analisis dan modelmodel sistem sebagai alat (tools) untuk mengenal potensi dan memahami
permasalahan pembangunan wilayah. Selanjutnya
(2) aspek perencanaan, mencakup proses formulasi masalah, teknikteknik desain dan
pemetaan hingga teknis perencanaan, dan
(3) aspek kebijakan, mencakup pendekatan evaluasi, perumusan tujuan pembangunan
dan proses pelaksanaan pembangunan seperti proses politik, administrasi, dan
manajerial pembangunan.
Dengan demikian bidang kajian ini ingin menjawab tidak saja pertanyaan mengapa
keadaan wilayah demikian adanya, tetapi juga menjawab bagaimana wilayah dibangun.
Oleh karenanya akan mencakup aspek-aspek perencanaan yang bersifat spasial (spatial
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II1

Naskah Akademik

RTRW

planning), tataguna lahan (land use planning), hingga perencanaan kelembagaan (structural
planning) dan proses perencanaan itu sendiri (Rustiadi at al. 2009).
Adanya kesadaran kritis tentang semakin terbatasnya sumber daya alam yang tersedia
dan kebutuhan manusia yang terus meningkat mengharuskan pendekatan pemanfaatan
sumber daya alam yang efisien. Lebih dari itu, pemanfaatan sumber daya tidak boleh
mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang. Dalam konteks
perencanaan dan pengembangan wilayah, konsep ini dikenal sebagai pembangunan
berkelanjutan (sustainable development), yakni suatu konsep pembangunan yang dapat
memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengorbankan generasi yang akan datang
(Rustiadi at al. 2009).
2.1.2. Konsep Wilayah dan Pengembangan Wilayah
Dalam Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, wilayah
adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsure yang terkait
kepadanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau
aspek fungsional. Menurut Rustiadi, et al. (2006) wilayah dapat didefinisikan sebagai unit
geografis dengan batas-batas spesifik tertentu dimana komponen-komponen wilayah tersebut
satu sama lain saling berinteraksi secara fungsional. Sehingga batasan wilayah tidaklah selalu
bersifat fisik dan pasti tetapi seringkali bersifat dinamis. Komponen-komponen wilayah
mencakup komponen biofisik alam, sumberdaya buatan (infrastruktur), manusia serta
bentukbentuk kelembagaan. Dengan demikian istilah wilayah menekankan interaksi antar
manusia dengan sumberdaya-sumberdaya lainnya yang ada di dalam suatu batasan unit
geografis tertentu. Konsep wilayah yang paling klasik (Hagget, Cliff dan Frey, 1977 dalam
Rustiadi et al., 2006) mengenai tipologi wilayah, mengklasifikasikan konsep wilayah ke dalam
tiga kategori, yaitu: (1) wilayah homogeny (uniform/homogenous region); (2) wilayah nodal
(nodal region); dan (3) wilayah perencanaan (planning region atau programming region).
Sejalan dengan klasifikasi tersebut, (Glason, 1974 dalam Tarigan, 2005) berdasarkan
fase kemajuan perekonomian mengklasifikasikan region/wilayah menjadi :
1) fase

pertama

yaitu

wilayah

formal

yang

berkenaan

dengan

keseragaman/homogenitas. Wilayah formal adalah suatu wilayah geografik yang


seragam menurut kriteria tertentu, seperti keadaan fisik geografi, ekonomi, sosial dan
politik.
2) fase kedua yaitu wilayah fungsional yang berkenaan dengan koherensi dan
interdependensi fungsional, saling hubungan antar bagian-bagian dalam wilayah
tersebut. Kadang juga disebut wilayah nodal atau polarized region dan terdiri dari

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II2

Naskah Akademik

RTRW

satuan-satuan yang heterogen, seperti desa-kota yang secara fungsional saling


berkaitan.
3) fase ketiga yaitu wilayah perencanaan yang memperlihatkan koherensi atau kesatuan
keputusan-keputusan ekonomi.
Menurut Saefulhakim, dkk (2002) wilayah adalah satu kesatuan unit geografis yang
antar bagiannya mempunyai keterkaitan secara fungsional. Wilayah berasal dari bahasa Arab
wala-yuwali-wilayah yang mengandung arti dasar saling tolong menolong, saling
berdekatan baik secara geometris maupun similarity. Contohnya: antara supply dan demand,
hulu-hilir. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan pewilayahan (penyusunan wilayah) adalah
pendelineasian unit geografis erdasarkan kedekatan, kemiripan, atau intensitas hubungan
fungsional (tolong menolong, bantu membantu, lindung melindungi) antara bagian yang satu
dengan bagian yang lainnya. Wilayah Pengembangan adalah pewilayahan untuk tujuan
pengembangan/pembangunan/development. Tujuan-tujuan pembangunan terkait dengan
lima kata kunci, yaitu: (1) pertumbuhan; (2) penguatan keterkaitan; (3) keberimbangan; (4)
kemandirian; dan (5) keberlanjutan.
Sedangkan konsep wilayah perencanaan adalah wilayah yang dibatasi berdasarkan
kenyataan sifat-sifat tertentu pada wilayah tersebut yang bisa bersifat alamiah maupun non
alamiah yang sedemikian rupa sehingga perlu direncanakan dalam kesatuan wilayah
perencanaan. Pembangunan merupakan upaya yang sistematik dan berkesinambungan untuk
menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah bagi pencapaian
aspirasi setiap warga yang paling humanistik. Sedangkan menurut Anwar (2005),
pembangunan wilayah dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan wilayah yang
mencakup aspek-aspek pertumbuhan, pemerataan dan keberlanjutan yang berdimensi lokasi
dalam ruang dan berkaitan dengan aspek sosial ekonomi wilayah. Pengertian pembangunan
dalam sejarah dan strateginya telah mengalami evolusi perubahan, mulai dari strategi
pembangunan yang menekankan kepada pertumbuhan ekonomi, kemudian pertumbuhan dan
kesempatan kerja, pertumbuhan dan pemerataan, penekanan kepada kebutuhan dasar (basic

need approach), pertumbuhan dan lingkungan hidup, dan pembangunan yang berkelanjutan
(suistainable development).
Wilayah merupakan suatu sistem atau organisme yang bersifat dinamis, didalamnya
terdapat interaksi antara sumberdaya alam, sumberdaya buatan, sumberdaya manusia dan
kegiatan usaha. Pengembangan wilayah merupakan upaya membangun dan mengembangkan
suatu wilayah berdasarkan pendekatan spasial dengan mempertimbangkan aspek sosialbudaya, ekonomi, lingkungan fisik dan kelembagaan dalam suatu kerangka perencanaan dan
pengelolaan pembangunan yang terpadu (Alkadri, 1999). Hal senada juga diungkapkan
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II3

Naskah Akademik

RTRW

Nugroho dan Dahuri (2002) bahwa perumusan suatu kebijakan ekonomi dan program
pembangunan harus mempertimbangkan aspek wilayah, lingkungan dan sosial sebagai satu
kesatuan sehingga tercapai kesejahteraan yang optimal dan berkelanjutan.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengembangan wilayah
tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, hukum, politik, lingkungan, dan
kesejahteraan masyarakat yang langgeng (sustainable welfare) (Handayani, 2006). Tujuan
tersebut dapat dicapai apabila wilayah yang bersangkutan mempunyai kondisi yang dinamis
untuk menghadapi persaingan. Untuk itu konsep pembangunan suatu wilayah harus tetap
mengacu pada kondisi wilayah itu sendiri (Alkadri, 1999).
Salah satu konsep pengembangan wilayah yang dikemukakan oleh Mangiri dan
Widiati (dalam Alkadri, dkk, 1999) adalah pengembangan wilayah berbasis sumberdaya.
Konsep tersebut digunakan karena kuantitas dan kualitas sumberdaya yang dimiliki satu
wilayah berbeda dengan wilayah lainnya. Maka, konsep ini dapat dilaksanakan dengan
beberapa pilihan strategi berikut ini:
a. Pengembangan wilayah berbasis input, tetapi surplus sumberdaya manusia
b. Pengembangan wilayah berbasis input, tetapi surplus sumberdaya alam
c. Pengembangan wilayah berbasis sumberdaya modal dan manajemen
d. Pengembangan wilayah berbasis seni, budaya dan keindahan alam
e. Pengembangan wilayah berbasis penataan ruang (lokasi strategis)
Konsep pengembangan wilayah berbasis sumberdaya dapat dikembangkan menjadi

local economic development (LED). Blakely (dalam Pamungkas, 2004) menyatakan bahwa
LED memiliki ciri yang utamanya adalah adanya kebijakan-kebijakan endogenous development
yang menggunakan potensi lokal sumberdaya manusia, institusi dan sumberdaya alam (fisik).
Berkaitan dengan pengembangan ekonomi lokal, Coffey dan Polese (dalam Pamungkas, 2004)
memberikan gambaran bahwa pengembangan lokal dapat diartikan sebagai peningkatan
peran elemen-elemen endogenous dalam kehidupan sosial-ekonomi suatu lokalitas, dengan
tetap melihat keterikatan serta integrasinya secara fungsional dan spasial dengan wilayah
(region) yang lebih luas. Inti dari LED adalah mendorong munculnya semangat kewirausahaan
lokal serta bertumbuhkembangnya perusahaan-perusahaan lokal.
Konsep pengembangan wilayah yang lainnya adalah pengembangan wilayah yang
berbasis ekologi. Konsep ini mulai berkembang sejak adanya kesadaran bahwa pembangunan
wilayah yang hanya dinilai dari segi ekonominya saja telah mengakibatkan kerusakan pada
sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Eksploitasi sumberdaya alam secara besar-besaran
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Menurut Rees (dalam Carley and Christie,
2000), sementara masyarakat bergantung pada bermacam-macam sumberdaya ekologi dan
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II4

Naskah Akademik

RTRW

fungsinya untuk memenuhi kebutuhannya, daya dukung lingkungan pada akhirnya ditentukan
oleh satu sumberdaya yang vital atau fungsi penyediaan ekologi yang paling sedikit. Hal ini
merupakan bukti dari Teori Malthus yang menyatakan bahwa pertambahan pangan mirip
deret hitung sedangkan pertambahan populasi mirip deret ukur sehingga terjadi kekurangan
sumberdaya atau lack of resources. Dampak eksternalitas yang terjadi juga semakin besar
dan menimbulkan biaya-biaya sosial yang luas.
Konsep pengembangan wilayah berbasis ekologi merupakan suatu konsep yang
memperhatikan aspek ekologis dalam perencanaan wilayah. Seberapa besar wilayah yang
harus dimanfaatkan atau disisakan untuk kepentingan ekologis. Mana saja fungsi ekologis
yang tetap harus dipertahankan serta bagaimana peran dan fungsi masing-masing ruang
ditinjau dari aspek ekologis. Konsep pembangunan yang ekologis dapat dilakukan melalui :

preservasi lingkungan alam, memanfaatkan dan memanfaatkan kembali material,


energi, air seefisien mungkin dan meminimalkan limbah

penggunaan sumberdaya yang dapat diperbaharui dan bersih melalui ekstraksi dan
pengolahan

preservasi dan memperluas pilihan untuk masa kini dan mendatang melalui
penyediaan informasi dan alternatif disain yang mendorong penggunaan sumberdaya,
teknologi dan metode yang berkelanjutan dan sesuai dengan lingkungan dan budaya
setempat
Konsep-konsep pengembangan wilayah yang dibahas di atas memiliki persamaan yang

menitikberatkan

pemanfaatan

sumberdaya

untuk

mengembangkan

suatu

wilayah.

Perbedaannya, konsep pengembangan wilayah berbasis sumberdaya dan LED cenderung


berorientasi pada aspek ekonomi sedangkan konsep pengembangan wilayah berbasis ekologis
berorientasi pada aspek ekologis. Dari uraian mengenai konsep pengembangan wilayah dapat
disimpulkan bahwa pengembangan wilayah menjadi lebih baik apabila mempertimbangkan
potensi yang ada di wilayah tersebut, seperti sumberdaya alam yang dimiliki wilayah itu
sendiri.
Pendekatan yang diterapkan dalam pengembangan wilayah di Indonesia sangat
beragam karena dipengaruhi oleh perkembangan teori dan model pengembangan wilayah
serta

tatanan

sosial-ekonomi,

sistim

pemerintahan

dan

administrasi

pembangunan.

Pendekatan yang mengutamakan pertumbuhan tanpa memperhatikan lingkungan, bahkan


akan menghambat pertumbuhan itu sendiri (Direktorat Jenderal Penataan Ruang, 2003).
Pengembangan wilayah dengan memperhatikan potensi pertumbuhan akan membantu
meningkatkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui penyebaran penduduk lebih
rasional, meningkatkan kesempatan kerja dan produktifitas (Mercado, 2002).
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II5

Naskah Akademik

RTRW

Menurut Direktorat Pengembangan Kawasan Strategis, Ditjen Penataan Ruang,


Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (2002) prinsip-prinsip dasar dalam
pengembangan wilayah adalah :
1. Sebagai growth center: Pengembangan wilayah tidak hanya bersifat internal wilayah,
namun harus diperhatikan sebaran atau pengaruh (spred effect) pertumbuhan yang
dapat ditimbulkan bagi wilayah sekitarnya, bahkan secara nasional.
2. Pengembangan wilayah memerlukan upaya kerjasama pengembangan antar daerah
dan menjadi persyaratan utama bagi keberhasilan pengembangan wilayah.
3. Pola pengembangan wilayah bersifat integral yang merupakan integrasi dari daerahdaerah yang tercakup dalam wilayah melalui pendekatan kesetaraan.
4. Dalam pengembangan wilayah, mekanisme pasar harus juga menjadi prasyarat bagi
perencanaan pengembangan kawasan.
Dalam pemetaan strategic development region, satu wilayah pengembangan
diharapkan mempunyai unsur-unsur strategis antara lain berupa sumberdaya alam,
sumberdaya manusia dan infrastruktur yang saling berkaitan dan melengkapi sehingga dapat
dikembangkan secara optimal dengan memperhatikan sifat sinergisme di antaranya
(Direktorat Pengembangan Wilayah dan Transmigrasi, 2003)
2.1.3. Teori Lokasi dan Pusat Pertumbuhan
Teori tempat pemusatan pertama kali dirumuskan oleh Christaller (1933) dan dikenal
sebagai teori pertumbuhan perkotaan yang pada dasarnya menyatakan bahwa pertumbuhan
kota tergantung spesialisasinya dalam fungsi pelayanan perkotaan, sedangkan tingkat
permintaan akan pelayanan perkotaan oleh daerah sekitarnya akan menentukan kecepatan
pertumbuhan kota (tempat pemusatan) tersebut. Terdapat tiga faktor yang menyebabkan
timbulnya pusat-pusat pelayanan :
(1) faktor lokasi ekonomi,
(2) faktor ketersediaan sumberdaya,
(3) kekuatan aglomerasi, dan
(4) faktor investasi pemerintah.
Menurut Mercado (2002) konsep pusat pertumbuhan diperkenalkan pada tahun 1949
oleh Fancois Perroux yang mendefinisikan pusat pertumbuhan sebagai pusat dari pancaran
gaya sentrifugal dan tarikan gaya sentripetal. Menurut Rondinelli (1985) dan Unwin (1989)
dalam Mercado (2002) bahwa teori pusat pertumbuhan didasarkan pada keniscayaan bahwa
pemerintah di Negara berkembang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II6

Naskah Akademik

RTRW

kesejahteraan dengan melakukan investasi yang besar pada industri padat modal di pusat
kota.
Teori pusat pertumbuhan juga ditopang oleh kepercayaan bahwa kekuatan pasar
bebas melengkapi kondisi terjadinya trickle down effect (dampak penetesan ke bawah) dan
menciptakan spread effect (dampak penyebaran) pertumbuhan ekonomi dari perkotaan ke
pedesaan. Menurut Stohr (1981) dalam Mercado (2002), konsep pusat pertumbuhan mengacu
pada pandangan ekonomi neo-klasik. Pembangunan dapat dimulai hanya dalam beberapa
sektor yang dinamis, mampu memberikan output rasio yang tinggi dan pada wilayah tertentu,
yang dapat memberikan dampak yang luas (spread effect) dan dampak ganda (multiple

effect) pada sektor lain dan wilayah yang lebih luas. Sehingga pembangunan sinonim dengan
urbanisasi (pembangunan di wilayah perkotaan) dan industrialisasi (hanya pada sector
industri). Pandangan ekonomi neo-klasik berprinsip bahwa kekuatan pasar akan menjamin
ekuilibrium (keseimbangan) dalam distribusi spasial ekonomi dan proses trickle down effect
atau centre down dengan sendirinya akan terjadi ketika kesejahteraan di perkotaan tercapai
dan dimulai dari level yang tinggi seperti kawasan perkotaan ke kawasan yang lebih rendah
seperti kawasan hinterland dan perdesaan melalui beberapa mekanisme yaitu hirarki
perkotaan dan perusahaanperusahaan besar.
Namun demikian kegagalan teori pusat pertumbuhan karena trickle down effect
(dampak penetesan ke bawah) dan spread effect (dampak penyebaran) tidak terjadi yang
diakibatkan karena aktivitas industri tidak mempunyai hubungan dengan basis sumberdaya di
wilayah hinterland. Selain itu respon pertumbuhan di pusat tidak cukup menjangkau wilayah

hinterland karena hanya untuk melengkapi kepentingan hirarki kota (Mercado, 2002).
2.1.4. Pembangunan Daerah
Ada beberapa teori yang secara parsial dapat membantu bagaimana memahami arti
penting pembangunan ekonomi daerah. Pada hakikatnya, inti dari teori-teori tersebut berkisar
pada dua hal, yaitu pembahasan yang berkisar tentang metode dalam menganalisis
perekonomian suatu daerah dan teori-teori yang membahas tentang faktor-faktor yang
menentukan pertumbuhan ekonomi suatu daerah tertentu (Arsyad, 1999).
Pengembangan metode untuk menganalisis suatu perekonomian suatu daerah penting
sekali kegunaannya sebagai sarana mengumpulkan data tentang perekonomian daerah yang
bersangkutan serta proses pertumbuhannya. Pengembangan metode analisis ini kemudian
dapat dipakai sebagai pedoman untuk menentukan tindakan-tindakan apa yang harus diambil
guna mempercepat laju pertumbuhan yang ada. Akan tetapi di pihak lain harus diakui,
menganalisis perekonomian suatu daerah sangat sulit (Arsyad, 1999). Beberapa faktor yang
sering menjadi penghambat dalam melakukan analisis perekonomian di antaranya:
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II7

Naskah Akademik

RTRW

a. Data tentang daerah sangat terbatas terutama kalau daerah dibedakan berdasarkan
pengertian daerah nodal (berdasarkan fungsinya).
b. Data yang dibutuhkan umumnya tidak sesuai dengan data yang dibutuhkan untuk
analisis daerah, karena data yang terkumpul biasanya ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan analisis perekonomian secara nasional.
c. Data tentang perekonomian daerah sangat sukar dikumpulkan sebab perekonomian
daerah lebih terbuka jika dibandingkan dengan perekonomian nasional. Hal tersebut
menyebabkan data tentang aliran-aliran yang masuk dan keluar dari suatu daerah
sukar diperoleh.
d. Bagi Negara Sedang Berkembang, di samping kekurangan data sebagai kenyataan
yang umum, data yang terbatas itu pun banyak yang kurang akurat dan terkadang
relatif sulit dipercaya, sehingga menimbulkan kesulitan untuk melakukan analisis yang
memadai tentang keadaan perekonomian yang sebenarnya di suatu daerah.
Ada beberapa teori dalam pembangunan daerah yang berhubungan dengan kajian akademis
ini adalah sebagai berikut:
a. Teori Basis Ekonomi (Economic Base Theory)
Teori basis ekonomi ini dikemukakan oleh Harry W. Richardson yang menyatakan
bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan
langsung dengan permintaan akan barang dan jasa dari luar daerah (Arsyad, 1999). Dalam
penjelasan selanjutnya dijelaskan bahwa pertumbuhan industri-industri yang menggunakan
sumberdaya lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk diekspor, akan menghasilkan
kekayaan daerah dan penciptaan peluang kerja (job creation). Asumsi ini memberikan
pengertian bahwa suatu daerah akan mempunyai sektor unggulan apabila daerah tersebut
dapat memenangkan persaingan pada sektor yang sama dengan daerah lain sehingga dapat
menghasilkan ekspor (Suyatno, 2000).
Ada serangkaian teori ekonomi sebagai teori yang berusaha menjalankan perubahanperubahan regional yang menekankan hubungan antara sektor-sektor yang terdapat dalam
perekonomian daerah. Teori yang paling sederhana dan populer adalah teori basis ekonomi
(economic base theory). Menurut Glasson (1990), konsep dasar basis ekonomi membagi
perekonomian menjadi dua sector yaitu:
1) Sektor-sektor Basis adalah sektor-sektor yang mengekspor barang-barang dan jasa ke
tempat di luar batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan atas masukan
barang dan jasa mereka kepada masyarakat yang datang dari luar perbatasan
perekonomian masyarakat yang bersangkutan.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II8

Naskah Akademik

RTRW

2) Sektor-sektor Bukan Basis adalah sektor-sektor yang menjadikan barangbarang yang


dibutuhkan oleh orang yang bertempat tinggal di dalam batas perekonomian
masyarakat bersangkutan. Sektor-sektor tidak mengekspor barang-barang. Ruang
lingkup mereka dan daerah pasar terutama adalah bersifat lokal.
Secara implisit pembagian perekonomian regional yang dibagi menjadi dua sektor
tersebut terdapat hubungan sebab-akibat di mana keduanya kemudian menjadi pijakan dalam
membentuk teori basis ekonomi. Bertambahnya kegiatan basis di suatu daerah akan
menambah arus pendapatan ke dalam daerah yang bersangkutan sehingga menambah
permintaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan, akibatnya akan menambah volume
kegiatan bukan basis. Sebaliknya semakin berkurangnya kegiatan basis akan menurunkan
permintaan terhadap produk dari kegiatan bukan basis yang berarti berkurangnya pendapatan
yang masuk ke daerah yang bersangkutan. Dengan demikian kegiatan basis mempunyai
peran sebagai penggerak utama.
b. Teori Tempat Sentral
Teori Tempat Sentral (central place theory) menganggap bahwa ada hirarki tempat
dimana setiap tempat sentral didukung oleh sejumlah tempat lebih kecil yang menyediakan
sumberdaya (industri dan bahan baku). Tempat sentral tersebut merupakan suatu pemukiman
yang menyediakan jasa-jasa bagi penduduk daerah yang mendukungnya. Teori tempat sentral
memperlihatkan bagaimana pola-pola lahan dari industri yang berbeda-beda terpadu
membentuk suatu system regional kota-kota (Supomo, 2000).
Teori tempat sentral ini bisa diterapkan pada pembangunan ekonomi daerah, baik di
daerah perkotaan maupun daerah pedesaan. Misalnya, perlunya melakukan pembedaan
fungsi antara daerah-daerah yang bertetangga (berbatasan). Beberapa daerah bisa menjadi
wilayah penyedia jasa sedangkan daerah lainnya hanya sebagai wilayah pemukiman. Seorang
ahli pembangunan ekonomi daerah dapat membantu masyarakat untuk mengembangkan
peranan fungsional mereka dalam sistem ekonomi daerah.
c. Teori Interaksi Spasial
Merupakan arus gerak yang terjadi antara pusat-pusat pelayanan baik berupa barang,
penduduk, uang maupun yang lainnya. Untuk itu perlu adanya hubungan antardaerah satu
dengan yang lain karena dengan adanya interaksi antarwilayahaka suatu daerah akan saling
melengkapi dan bekerja sama untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonominya. Dalam
teori ini didasarkan pada teori gravitasi, di mana dijelaskan bahwa interaksi antardua daerah
merupakan perbandingan terbalik antara besarnya massa wilayah yang bersangkutan dengan
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II9

Naskah Akademik

RTRW

jarak keduanya. Di mana massa wilayah diukur dengan jumlah penduduk. Model interaksi
spasial ini mempunyai kegunaan untuk:
1) Menganalisa gerakan antaraktivitas dan kekuatan pusat dalam suatu daerah.
2) Memperkirakan pengaruh yang ada dan ditetapkannya lokasi pusat pertumbuhan
terhadap daerah sekitarnya.
Interaksi antarkelompok masyarakat satu dengan kelompok masyarakat lain sebagai
produsen dan konsumen serta barang-barang yang diperlukan menunjukkan adanya gerakan.
Produsen suatu barang pada umumnya terletak pada tempat tertentu dalam ruang geografis,
sedangkan para langganannya tersebar dengan berbagai jarak di sekitar produsen.
2.1.5. Potensi Wilayah sebagai Sumberdaya
Sumberdaya adalah sesuatu yang mempunyai daya, yaitu kemampuan atau
kapasitas untuk berbuat, kata lainnya adalah energi (Prawiro, 1983). Tetapi kata energi ini
sekarang lebih banyak digunakan untuk mengatakan tenaga atau kekuatan. Bahasa Inggris
memberi istilah resources untuk sumberdaya yang mempunyai beberapa perumusan
definisi. Salah satunya berbunyi: kapasitas untuk mengambil keuntungan dari kesempatan,

atau untuk membebaskan diri dari kesulitan (Ziemmermann, 1951 dalam Prawiro, 1983).
Resources atau sumberdaya menurut definisi tersebut dapat berupa benda atau keadaan yang
memiliki kapasitas untuk memungkinkan berbuat sesuatu, yang dalam definisi di atas sesuatu
tersebut adalah untuk mengambil keuntungan dari kesempatan yang tersedia, atau untuk
membebaskan diri dari kesulitan.
Istilah sumberdaya yang lain dikemukakan oleh Reksohadiprodjo dan Pradono
(1988): Sumberdaya adalah sesuatu yang berguna dan mempunyai nilai di dalam kondisi di

mana kita menemukannya. Menurut Spencer dan Thomas (dalam Jayadinata, 1999),
sumberdaya adalah setiap hasil, benda, atau sifat/keadaan, yang dapat dihargai bilamana
produksinya, prosesnya, dan penggunaannya dapat dipahami. Sumberdaya alam bisa meliputi
semua yang terdapat di bumi baik yang hidup maupun benda mati, berguna bagi manusia,
terbatas jumlahnya dan penggunaannya memenuhi kriteria-kriteria teknologi, ekonomi, sosial
dan lingkungan. Menurut mereka sumberdaya merupakan suatu konsep yang dinamis,
sehingga ada kemungkinan bahwa perubahan dalam informasi, teknologi dan relatif
kelangkaannya dapat berakibat sesuatu yang semula dianggap tidak berguna menjadi
berguna dan bernilai. Sumberdaya juga mempunyai sifat jamak dan karena itu mempunyai
dimensi jumlah, kualitas, waktu dan tempat.
Suparmoko (2006) melihat sumberdaya sebagai bahan baku atau sumber bahan
mentah untuk produksi dan konsumsi. Untuk mengukur kelangkaan sumberdaya alam juga
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II10

Naskah Akademik

RTRW

bisa dilihat dari biaya produksi. Apabila biaya produksinya semakin meningkat dan semakin
mahal, dapat diartikan bahwa sumberdaya alam tersebut semakin langka. Sebaliknya, bila
ternyata biayanya semakin murah, maka dapat diartikan bahwa sumberdaya tersebut semakin
banyak jumlahnya. Kenaikan biaya produksi dapat dilihat dari kenaikan harga jual apabila
permintaannya tidak berubah. Lebih lanjut, Suparmoko (2006) menilai pengukuran
kelangkaan sumberdaya alam dengan cara tersebut sebenarnya kurang tepat, mengingat
kenaikan harga lebih ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran.
Berdasarkan uraian mengenai definisi sumberdaya, dapat disimpulkan bahwa
sumberdaya memiliki cakupan yang luas. Prawiro (1983) membagi sumberdaya dalam
lingkungan hidup menjadi 3 (tiga) macam, yaitu: sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan
sumberdaya kebudayaan. Prawiro (!983) juga mengemukakan bahwa tinggi-rendah nilai
sumberdaya banyak tergantung dari interaksi dari tiga aspek, yaitu: alam, manusia dan
kebudayaan. Suatu benda atau bahan alam baru berfungsi sebagai sumberdaya apabila
menjadi kebutuhan manusia. Bahan itu menjadi kebutuhan apabila ada kepentingan manusia
terhadapnya dan ada teknologi yang dapat memanfaatkan.
Dalam hal pasok sumberdaya alam terdapat istilah stock dan flow. Sumberdaya
alam yang tersedia dalam jumlah, kualitas, tempat dan waktu tertentu disebut stock
sumberdaya alam, sedangkan flow merupakan komoditi sumberdaya alam yang dihasilkan
dari stock sumberdaya alam. Stock menunjukkan apa yang diketahui tersedia untuk
penggunaan sampai masa tertentu, sedangkan flow merupakan indikasi penggunaan saat ini
(Reksohadiprodjo dan Pradono, 1988). Jumlah, keadaan, dan interaksi sumberdayasumberdaya yang terdapat dalam lingkungan senantiasa berubah, oleh karena itu nilai
penghargaan terhadap sejenis sumberdaya juga berubah. Nilai sumberdaya sangat
dipengaruhi oleh kebutuhan dan permintaan masyarakat (Prawiro, 1983).
Sumberdaya alam dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) (Hagget dalam Jayadinata
1999), yaitu: sumberdaya alam yang dapat diperbarui (renewable resources), sumberdaya
alam yang tidak dapat diperbarui (nonrenewable resources) dan sumberdaya alam lainnya
seperti: pemandangan alam untuk pariwisata, iklim dan sebagainya. Sumberdaya alam yang
dapat diperbarui adalah sumberdaya alam yang bisa dihasilkan kembali baik secara alami
maupun dengan bantuan manusia. Sumberdaya alam yang tidak dapat diperbarui adalah
sumberdaya lama yang habis sekali pakai.
Voght (dalam Jayadinata, 1999) mengemukakan bahwa istilah renewable resources
itu hanya merupakan pengertian teoritis saja, sebab sumberdaya yang dapat diperbaharui itu
hanya dapat diperbaharui jika pengelolaan peremajaannya didasarkan kepada asas produksi
yang tetap, di mana panen hasil (pengambilan hasil) dibatasi hanya pada sejumlah kapasitas
peremajaan saja. Menurut Reksohadiprodjo dan Pradono (1988), konsekuensi dari pembagian
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II11

Naskah Akademik

RTRW

sumberdaya alam antara yang renewable dan nonrenewable adalah diperlukannya


pendekatan dan model yang berbeda. Namun tujuan akhir dari pendekatan tersebut tetap
sama yaitu bagaimana mengelola sumberdaya alam secara optimal dan lestari.
Tarigan (2006) menyatakan bahwa potensi wilayah (sumberdaya) berupa pemberian
alam maupun hasil karya manusia di masa lalu adalah aset yang harus dimanfaatkan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat dalam jangka panjang dan bersifat permanen. Untuk
mencapai hal ini maka pemanfaatan aset tersebut haruslah direncanakan secara menyeluruh
dengan cermat. Ia juga mengemukakan bahwa banyak di antara sumberdaya tersebut selain
terbatas juga tidak mungkin lagi diperbanyak atau diperbarui. Kalaupun ada yang masih
mungkin untuk diperbarui, memerlukan waktu yang cukup lama dan biayanya cukup besar.
Dari berbagai uraian di atas, yang dimaksud dengan sumberdaya dalam penelitian ini adalah
sesuatu yang berguna dan mempunyai nilai yaitu sebagai faktor produksi untuk memenuhi
kebutuhan manusia. Sesuai dengan sifatnya yang jamak, sumberdaya memiliki dimensi
jumlah, waktu, kualitas dan tempat. Dimensi dimensi ini erat kaitannya dengan stock dan

flow sumberdaya tersebut yang nantinya mempengaruhi jumlah permintaan dan penawaran
pada sumberdaya itu sendiri. Hal itu dapat mengubah nilai sumberdaya tersebut karena
adanya faktor kelangkaan dimana sebagian besar sumberdaya yang ada bersifat terbatas.
Adanya keterbatasan sumberdaya menuntut efisiensi penggunaan dan pemanfaatan yang
optimal.
Penggunaan dan pemanfaatan sumberdaya yang baik dan bijaksana dapat
mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan serta meminimalisir kerusakan lingkungan
yang terjadi akibat kegiatan manusia. Sumberdaya alam banyak dimanfaatkan dalam kegiatan
pembangunan, salah satunya berupa lahan. Penggunaan lahan ini sangat erat kaitannya
dalam pengembangan wilayah. Efisiensi dan pengelolaan penggunaan lahan yang tepat
sangat penting bagi keberlanjutan kegiatan pembangunan.
2.2.

Struktur Ruang

2.2.1.

Definisi Struktur Ruang


Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman, sistem jaringan serta

sistem prasarana maupun sarana. Semua hal itu berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosialekonomi yang secara hirarki berhubungan fungsional. Tata ruang merupakan wujud struktural
dan pola pemanfaatan ruang baik yang direncanakan ataupun tidak. Wujud struktural
pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk rona lingkungan alam,
lingkungan sosial, dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural berhubungan
satu dengan yang lainnya membentuk tata ruang.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II12

Naskah Akademik

RTRW

Adapun elemen-elemen yang membentuk struktur ruang kota (Sinulingga, 2005: 97, yaitu:

Kumpulan dari pelayanan jasa termasuk di dalamnya perdagangan, pemerintahan,


keuangan yang cenderung terdistribusi secara berkelompok dalam pusat pelayanan.

Kumpulan dari industri sekunder (manufaktur) pergudangan dan perdagangan grosir


yang cenderung untuk berkumpul pada suatu tempat.

Lingkungan permukiman sebagai tempat tinggal dari manusia dan ruang terbuka
hijau.

Jaringan transportasi yang menghubungkan ketiga tempat di atas.

2.2.2. Bentuk Dan Model Struktur Ruang

Bentuk struktur ruang kota apabila ditinjau dari pusat pelayanan (retail) terbagi
menjadi tiga, yaitu (Sinulingga, 2005:103-105)
1. Monocentric city : Monocentric city adalah kota yang belum berkembang pesat, jumlah
penduduknya belum banyak, dan hanya mempunyai satu pusat pelayanan yang
sekaligus berfungsi sebagai CBD (Central Bussines District).
2. Polycentric city : Perkembangan kota mengakibatkan pelayanan oleh satu pusat
pelayanan tidak efisien lagi. Kota-kota yang bertambah besar membutuhkan lebih dari
satu pusat pelayanan yang jumlahnya tergantung pada jumlah penduduk kota.
Fungsi pelayanan CBD diambil alih oleh pusat pelayanan baru yang dinamakan sub
pusat kota (regional centre) atau pusat bagian wilayah kota. Sementara itu, CBD secara
berangsur-angsur berubah dari pusat pelayanan retail (eceran) menjadi kompleks
kegiatan perkantoran komersial yang daya jangkauan pelayanannya dapat mencakup
bukan wilayah kota saja, tetapi wilayah sekeliling kota yang disebut juga wilayah
pengaruh kota.
CBD dan beberapa sub pusat kota atau pusat bagian wilayah kota (regional centre)
akan membentuk kota menjadi polycentric city atau cenderung seperti multiple nuclei
city yang terdiri dari:
CBD, yaitu pusat kota lama yang telah menjadi kompleks perkantoran
Inner suburb (kawasan sekeliling CBD), yaitu bagian kota yang tadinya dilayani oleh
CBD waktu kota belum berkembang dan setelah berkembang sebagian masih
dilayani oleh CBD tetapi sebagian lagi dilayani oleh sub pusat kota

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II13

Naskah Akademik

RTRW

Sub pusat kota, yaitu pusat pelayanan yang kemudian tumbuh sesuai perkembangan
kota
Outer suburb (pinggiran kota), yaitu bagian yang merupakan perluasan wilayah
kegiatan kota dan dilayani sepenuhnya oleh sub pusat kota
Urban fringe (kawasan perbatasan kota), yaitu pinggiran kota yang secara
berangsur-angsur tidak menunjukkan bentuk kota lagi, melainkan mengarah ke
bentuk pedesaan (rural area)
3. Kota metropolitan : Kota metropolitan adalah kota besar yang dikelilingi oleh kota-kota
satelit yang terpisah cukup jauh dengan urban fringe dari kota tersebut, tetapi
semuanya membentuk satu kesatuan sistem dalam pelayanan penduduk wilayah
metropolitan.
Adapun model struktur ruang apabila dilihat berdasarkan pusat pusat pelayanannya
diantaranya:
1. Mono centered : Terdiri dari satu pusat dan beberapa sub pusat yang tidak saling
terhubung antara sub pusat yang satu dengan sub pusat yang lain.
2. Multi nodal : Terdiri dari satu pusat dan beberapa sub pusat dan sub sub pusat yang
saling terhubung satu sama lain. Sub sub pusat selain terhubung langsung dengan sub
pusat juga terhubung langsung dengan pusat.
3. Multi centered : Terdiri dari beberapa pusat dan sub pusat yang saling terhubung satu
sama lainnya.
4. Non centered : Pada model ini tidak terdapat node sebagai pusat maupun sub pusat.
Semua node memiliki hirarki yang sama dan saling terhubung antara yang satu dengan
yang lainnya.

Model Struktur Ruang


Sumber : Sinulingga 2005
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II14

Naskah Akademik

RTRW

Selain itu beberapa penulis juga menggolongkan tipologi struktur sebagai gambar berikut:

Tipologi Struktur Ruang


Sumber : Wiegen (2005)
2.2.3. Pengertian Pusat Dan Sub Pusat Pelayanan Kota
Pusat kota merupakan pusat dari segala kegiatan kota antara lain politik, sosial
budaya, ekonomi, dan teknologi. Jika dilihat dari fungsinya, pusat kota merupakan tempat
sentral yang bertindak sebagai pusat pelayanan bagi daerah-daerah di belakangnya,
mensuplainya dengan barang-barang dan jasa-jasa pelayanan, jasa-jasa ini dapat disusun
menurut urutan menaik dan menurun tergantung pada ambang batas barang permintaan.
Pusat kota terbagi dalam dua bagian:
1. Bagian paling inti (The Heart of The Area) disebut RBD (Retail Business District) :
Kegiatan dominan pada bagian ini antara lain department store, smartshop, office
building, clubs, hotel, headquarter of economic, civic, political.
2. Bagian diluarnya disebut WBD (Whole Business District) yang ditempati oleh bangunan
yang diperuntukkan untuk kegiatan ekonomi dalam jumlah yang besar antara lain
pasar dan pergudangan.
Sedangkan menurut Arthur dan Simon (1973), pusat kota adalah pusat keruangan dan
administrasi dari wilayahnya yang memiliki beberapa ciri, yaitu
1. Pusat kota merupakan tempat dari generasi ke generasi menyaksikan perubahanperubahan waktu.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II15

Naskah Akademik

RTRW

2. Pusat kota merupakan tempat vitalitas kota memperoleh makanan dan energi, dengan
tersebarnya pusat-pusat aktivitas seperti pemerintahan, lokasi untuk balai kota, tokotoko besar, dan bioskop.
3. Pusat kota merupakan tempat kemana orang pergi bekerja, tempat ke mana mereka
pergi ke luar.
4. Pusat kota merupakan terminal dari pusat jaringan, jalan kereta api, dan kendaraan
umum.
5. Pusat kota merupakan kawasan di mana kita menemukan kegiatan usaha, kantor
pemerintahan, pelayanan, gudang dan industri pengolahan, pusat lapangan kerja,
wilayah ekonomis metropolitan.
6. Pusat kota merupakan penghasilan pajak yang utama, meskipun kecil namun nilai
bangunan yang ada di pusat kota merupakan proporsi yang besar dari segala
keseluruhan kota, karena pusat kota memiliki prasarana yang diperlukan untuk
pertumbuhan ekonomi.
7. Pusat kota merupakan pusat-pusat fungsi administratif dan perdagangan besar,
mengandung rangkaian toko-toko eceran, kantor-kantor profesional, perusahaan jasa,
gedung bioskop, cabang-cabang bank dan bursa saham. Dalam kota kecil yang
swasembada, kawasan ini juga menyediakan fasilitas perdagangan besar mencakup
pusat-pusat administratif dan transportasi yang diperlukan.
Sedangkan pengertian sub pusat pelayanan kota adalah suatu pusat yang memberikan
pelayanan kepada penduduk dan aktivitas sebagian wilayah kota, dimana ia memiliki hirarki,
fungsi, skala, serta wilayah pelayanan yang lebih rendah dari pusat kota, tetapi lebih tinggi
dari pusat lingkungan.
2.2.4. Faktor-faktor Timbulnya Pusat Pelayanan
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya suatu pusat-pusat pelayanan, yaitu
1. Faktor Lokasi : Letak suatu wilayah yang strategis menyebabkan suatu wilayah dapat
menjadi suatu pusat pelayanan.
2. Faktor Ketersediaan Sumber Daya :Ketersediaan sumber daya dapat menyebabkan
suatu wilayah menjadi pusat pelayanan.
3. Kekuatan Aglomerasi : Kekuatan aglomerasi terjadi karena ada sesuatu yang
mendorong kegiatan ekonomi sejenis untuk mengelompok pada sutu lokasi karena
adanya suatu keuntungan, yang selanjutnya akan menyebabkan timbulnya pusatpusat kegiatan.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II16

Naskah Akademik

RTRW

4. Faktor Investasi Pemerintah : Ketiga faktor diatas menyebabkan timbulnya pusatpusat pelayanan secara ilmiah, sedangkan faktor investasi pemerintah merupakan
sesuatu yang sengaja dibuat (Artificial).
2.2.5. Perkembangan Kota Dan Struktur Ruang
Perkembangan perkotaan adalah suatu proses perubahan keadaan perkotaan dari
suatu keadaan ke keadaan yang lain dalam waktu yang berbeda. Sorotan perubahan keadaan
tersebut biasanya didasarkan pada waktu yang berbeda dan untuk menganalisis ruang yang
sama. Menurut J.H.Goode dalam Daldjoeni (1996: 87), perkembangan kota dipandang
sebagai fungsi dari pada faktor-faktor jumlah penduduk, penguasaan alat atau lingkungan,
kemajuan teknologi dan kemajuan dalam organisasi sosial.
Sedangkan menurut Bintarto (1989), perkembangan kota dapat dilihat dari aspek
zone-zone yang berada di dalam wilayah perkotaan. Dalam konsep ini Bintarto menjelaskan
perkembangan kota tersebut terlihat dari penggunaan lahan yang membentuk zone-zone
tertentu di dalam ruang perkotaaan sedangkan menurut Branch (1995), bentuk kota secara
keseluruhan mencerminkan posisinya secara geografis dan karakteristik tempatnya. Branch
juga mengemukakan contoh pola-pola perkembangan kota pada medan datar dalam bentuk
ilustrasi seperti :
a) topografi,

e) kepadatan bangunan,

b) bangunan,

f) iklim lokal,

c) jalur transportasi,

g) vegetasi tutupan dan

d) ruang terbuka,

h) kualitas estetika.

Secara skematik Branch,menggambarkan 6 pola perkembangan kota, sebagai berikut :

Pola Umum Perkembangan Perkotaan

Sumber : Branch, 1996


RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II17

Naskah Akademik

RTRW

Berdasarkan pada penampakan morfologi kota serta jenis penyebaran areal perkotaan yang
ada, Hudson dalam Yunus (1999), mengemukakan beberapa alternatif model bentuk kota.
Secara garis besar ada 7 (tujuh) buah model bentuk kota yang disarankan, yaitu;
(a) bentuk satelit dan pusat-pusat baru (satelite and neighbourhood plans), kota utama
dengan kota-kota kecil akan dijalin hubungan pertalian fungsional yang efektif dan
efisien;
(b) bentuk stellar atau radial (stellar or radial plans), tiap lidah dibentuk pusat kegiatan
kedua yang berfungsi memberi pelayanan pada areal perkotaan dan yang menjorok ke
dalam direncanakan sebagai jalur hijau dan berfungsi sebagai paru-paru kota, tempat
rekreasi dan tempat olah raga bagi penduduk kota;
(c) bentuk cincin (circuit linier or ring plans), kota berkembang di sepanjang jalan utama
yang melingkar, di bagian tengah wilayah dipertahankan sebagai daerah hijau terbuka;
(d) bentuk linier bermanik (bealded linier plans), pusat perkotaan yang lebih kecil tumbuh
di kanan-kiri pusat perkotaan utamanya, pertumbuhan perkotaan hanya terbatas di
sepanjang jalan utama maka pola umumnya linier, dipinggir jalan biasanya ditempati
bangunan komersial dan dibelakangnya ditempati permukiman penduduk;
(e) bentuk inti/kompak (the core or compact plans), perkembangan kota biasanya lebih
didominasi oleh perkembangan vertikal sehingga memungkinkan terciptanya konsentrasi
banyak bangunan pada areal kecil;
(f) bentuk memencar (dispersed city plans), dalam kesatuan morfologi yang besar dan
kompak terdapat beberapa urban center , dimana masing-masing pusat mempunyai
grup fungsi-fungsi yang khusus dan berbeda satu sama lain; dan
(g) bentuk kota bawah tanah (under ground city plans), struktur perkotaannya dibangun di
bawah permukaan bumi sehingga kenampakan morfologinya tidak dapat diamati pada
permukaan bumi, di daerah atasnya berfungsi sebagai jalur hijau atau daerah pertanian
yang tetap hijau.
2.3. Sistem Transportasi
Sistem transportasi memiliki satu kesatuan definisi yang terdiri atas: sistem, yakni
bentuk keterikatan dan keterkaitan antara satu variable dengan variable lain dalam tatanan
yang terstruktur, serta transportasi, yakni kegiatan pemindahan penumpan dan barang dari
satu tempat ke tempat lain. Dari dua pengertian di atas, pengertian sistem transportasi dapat
diartikan sebagai bentuk keterkaitan dan keterikatan yang integral antara berbagai variable
dalam suatu kegiatan pemindahan penumpang dan barang dari satu tempat ke tempat lain.
Maksud adanya sistem transportasi adalah untuk mengatur dan mengkoordinasikan
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II18

Naskah Akademik

RTRW

pergerakan penumpang dan barang yang bertujuan untuk memberikan optimalisasi proses
pergerakan tersebut.

bentuk kota: satelit, kota bintang, cincin, linear, memancar, kompak dan bawah tanah
Beberapa Alternatif Bentuk Kota
(Sumber : Hudson, 1999)
Dalam sistem transportasi terdapat 2 (dua) aspek yang sangat penting, yakni:
1. Aspek sarana, berhubungan dengan jenis atau piranti yang digunakan dalam hal
pergerakan manusia dan barang, seperti mobil, kapal, kereta api (KA) dan pesawat
terbang. Aspek ini juga sering disebut dengan moda atau jenis angkutan.
2. Aspek prasarana, berhubungan dengan wadah atau alat lain yang digunakan untuk
mendukung sarana, seperti jalan raya, jalan rel, dermaga, terminal, bandara, dan
stasiun kereta api.
Transportasi merupakan bagian integral dari suatu fungsi masyarakat yang sangat erat
kaitannya dengan gaya hidup, keterjangkauan dari lokasi kegiatan produktif, dan selingan
serta barang-barang dan pelayanan yang tersedia untuk dikonsumsi (Morlok, 2005). Sistem
transportasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan cabang-cabang ilmu lain. Beberapa
hubungan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Ekonomi; sistem transportasi berhubungan dengan proses dan analisis perhitungan
manfaat dan biaya (cost and benefit) yang timbul akibat adanya sistem pengangkutan.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II19

Naskah Akademik

RTRW

b. Planologi; transportasi memungkinkan penduduk berubah dari makhluk yang hidup


secara nomad menjadi penghuni pemukiman permanen dan akan menciptakan suatu
peradaban. Sistem transportasi berhubungan erat dengan pertumbuhan suatu daerah,
fasilitas umum, pusat-pusat kegiatan, daerah industri dan pariwisata. Dalam
perencanaan dan pengembangan kota, sistem transportasi memiliki fungsi yang
sangat urgen.
c. Sosial-Politik; dari segi sosial sistem transportasi berkaitan dengan konektivitas antar
daerah (misalnya daerah terisolir), serta pemerataan pembangunan. Dari segi politik,
sistem transportasi berkaitan erat dengan wawasan nusantara dan sistem Hankamnas
(pertahanan dan keamanan nasional).
d. Lingkungan; sistem transportasi selalu identik dan bersinggungan dengan aspek
lingkungan, seperti polusi udara dan suara. Polusi udara sebagian besar disebabkan
oleh kendaraan yang merupakan bagian dari sistem transportasi.
e. Hukum; sistem transportasi berkaitan erat dengan hukum dan perundang-undangan
sebagai aspek legal dalam hal pengaturan teknis seluruh sistem transportasi. Misalnya
UU No.22/2009 tentang Lalulintas dan Angkutan Jalan.
f.

Budaya; sistem transportasi dapat mempermudah pengembangan budaya, serta dapat


memberikan andil dalam hal aglomerasi pluralism budaya yang berdampak positif
dalam hal kesatuan berbangsa dan bernegara.

g. Geografi; dalam hal kependudukan, sistem transportasi berkaitan erat dengan


kebutuhan sarana transportasi pada lingkup area dengan tingkat kependudukan yang
tinggi. Dalam hal topografi, sistem transportasi berhubungan dengan kondisi daerah
(pegunungan, dataran). Dalam hal iklim, dapat berkaitan dengan curah hujan, banjir,
dan struktur konstruksi jalan. Jenis dermaga dan kapal yang digunakan juga
berhubungan erat dengan kondisi iklim dan jenis ombak.
Transportasi juga sangat membantu dalam menyediakan berbagai kemudahan seperti :
1. Pelayanan untuk perorangan maupun kelompok
2. Pertukaran untuk penyampaian informasi
3. Perjalanan untuk bersantai
4. Perluasan jangkauan perjalanan sosial
5. Pemendekan jarak antara rumah dan tempat kerja
6. Bantuan dalam memperluas kota atau memencarkan penduduk menjadi kelompok
yang lebih kecil (Warpani, 1990).
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II20

Naskah Akademik

RTRW

Transportasi bukan suatu tujuan akhir (ends), melainkan timbul akibat adanya
permintaan (derived demand), yaitu permintaan akan pergerakan orang atau barang dari satu
lokasi ke lokasi lain, pusat kegiatan ke pusat kegiatan lain. Permintaan pergerakan tersebut
ditunjang dan dipengaruhi oleh fasilitas dan layanan transportasi. Secara keseluruhan
transportasi sebagai suatu sistem terdiri dari sistem/sub sistem kegiatan, jaringan, dan
pergerakan (Kusbianto, 2005).
Sistem transportasi dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Sistem Kegiatan : Sistem kegiatan adalah penduduk dengan kegiatannya (demand

system). Makin tinggi kuantitas dari kualitas penduduk dengan kegiatannya, makin
tinggi pula kegiatan yang dihasilkannya, baik dari segi jumlah (Volume). Frekuensi,
jarak, moda, maupun tingkat pemusatan temporal dan atau spatial (Kusbiantoro,
2005).
b. Sistem Jaringan : Sistem jaringan adalah jaringan infrastruktur dan pelayanan
transportsi yang menunjang pergerakan penduduk dengan kegiatannya (supply

system). Makin tinggi kuantitas dan kualitas jaringan infrastruktur serta pelayanan
transportasi, makin tinggi pula kuantitas dan kualitas pergerakan yang dihasilkan
(Kusbiantoro, 2005).
c. Sistem Pergerakan : Sistem pergerakan adalah pergerakan orang atau barang
berdasarkan besaran (volume), tujuan, lokasi asal tujuan, waktu perjalanan,
jarak/lama perjalanan, kecepatan, frekuensi, mlda, dan sebagainya. Semakin tinggi
kuantitas dan kualitas sistem pergerakan, makin tinggi pula dampak yang ditimbulkan
terhadap terhadap sistem kegiatan dan sistem jaringan (Kusbiantoro, 2005). Sistem
pergerakan ini timbul akibat adanya interaksi antara sistem kegiatan dan sistem
jaringan, sehingga menghasilkan pergerakan orang dan barang dalam bentuk
pergerakan orang dan pergerakan kendaraan.
d. Sistem Kelembagaan : Sistem kelembagaan terdiri atas: (1) aspek legal, yakni
kesiapan/kesesuaian UU, PP, Kebijakan, RTRW, insentif disinsensitif, dan lain
sebagainuya, (2) aspek organisasi, yakni kesiapan organisasi pemerintahan/dunia
usaha/masyarakat, kejelasan pembagian tugas, koordinasi antar organisasi, dan
sebagainya, (3) aspek SDM, yakni kesiapan SDM (operator, user, non-user, regulator,
dan sebagainya) (Kusbiantoro, 2005). Sistem kelembagaan menjamin terwujudnya
system pergerakan yang aman, nyaman, murah, handal, dan sesuai dengan
lingkungan (Tamin, 2000).
Sistem transportasi dapat berperan secara pasif yaitu melayani dinamika permintaan
sistem kegiatan dan berperan secara aktif yaitu mengarahkan secara positif atau negative
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II21

Naskah Akademik
perkembangan sistem kegiatan (Kusbiantoro, 2005).

RTRW

Objek dasar kajian perencanaan

transportasi adalah pergerakan manusia atau barang yang pasti melibatkan banyak moda
transportasi. Pemilihan moda transportasi oleh pengguna adalah waktu perjalanan, biaya,
kenyamanan, keselamatan, tingkat kepopuleran suatu moda, maksud perjalanan dan
kelaziman menggunakan suatu moda. Perilaku pelaku perjalanan dalam memilih moda
angkutan ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya: karakteristik pelaku perjalanan (the

characteristic of trip maker), karakteristik perjalanan (the characteristic of trip) dan


karakteristik sistem transportasi (the characteristic of transportation system).
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam pemilihan moda angkutan dapat dibagi tiga faktor
yaitu:
1. Karakteristik pelaku perjalanan, meliputi: pemilihan kendaraan, pendapatan dan
tingkat sosial.
2. Karakteristik perjalanan, meliputi: tujuan, waktu dan jarak.
3. Karakteristik fasilitas transportasi, yaitu: - secara kuantitatif, meliputi waktu tunggu,
waktu yang diperlukan untuk mengakses pada moda transportasi lainnya, tarif dan
ketersediaan tempat parkir. Secara kualitatif meliputi kenyamanan, kepercayaan dan
keamanan.

2.3.1. Jaringan Transportasi


Menurut Morlok (2005) jaringan ialah suatu konsep matematis yang dapat digunakan untuk
menerangkan secara kuantitatif sistem transportasi dan sistem lain yang mempunyai
karakteristik ruang.
Jaringan transportasi secara teknis terdiri atas :
1. Simpul (node), yang berupa terminal, stasiun KA, Bandara, Pelabuhan
2. Ruas (link), yang berupa jalan raya, jalan rel, rute angkutan udara, alur kepulauan
Indonesia (ALKI).
Jaringan transportasi yang dominan berupa jaringan transportasi jalan. Jalan sebagai
bagian dari sistem transportasi nasional mempunyai peranan penting terutama dalam
mendukung bidang ekonomi, sosial, dan budaya serta lingkungan. Jalan dikembangkan
melalui pendekatan pembangunan wilayah agar tercapai keseimbangan dan pemerataan
pembangunan antar daerah, membentuk dan memperkukuh kesatuan nasional, serta
membentuk struktur ruang dalam rangka mewujudkan sasaran pembangunan nasional (UU
No.38 tahun 2004 tentang jalan). Agar transportasi jalan dapat berjalan secara aman dan
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II22

Naskah Akademik

RTRW

efisien maka perlu dipersiapkan suatu jaringan transportasi jalan yang handal yang terdiri dari
ruas dan simpul.
Menurut Stapleton dan Richards (1982) dalam Liklikwatil (2004), kaitan antara transportasi,
mobilitas, dan pemenuhan kebutuhan dasar adalah :

Kebutuhan dasar dapat diperoleh melalui pengembangan mobilitas dan transportasi,


sebagai akses yang baik menuju tempat pelayanan dan penyediaan kebutuhan dasar.
Jaringan jalan dapat memperkuat perekonomian dalam masyarakat, yang secara
umum memperbaiki posisi komunitas tersebut terhadap dunia luarnya.

Penanganan jaringan jalan memerlukan proses penentuan prioritas penenganan,


karena besarnya biaya penanganan yang ada.

Kebutuhan transport tidak selalu dapat teridentifikasi.

Diperlukan

upaya

penyelarasan

penanganan

jaringan

jalan

dan

kebutuhan

transportasi.
Jadi prioritas penanganan jaringan jalan sangat berkaitan dengan kebutuhan
transportasi karena memerlukan biaya penanganan yang besar. Penentuan prioritas
penanganan jalan didasarkan pada perbandingan antara kebutuhan dan ketersediaan jaringan
jalannya. Penentuan prioritas jaringan didasarkan pada jumlah total produk yang dipasarkan
dan prioritas ruas didasarkan pada indeks volume pergerakan lalu lintas untuk pemasaran
perkapasitas jalan dengan mempertimbangkan jalur jalan, rasio lebar jalan eksisting dengan
lebar jalan rencana, dan status fungsi jalannya Kebutuhan transportasi dapat diperkirakan
dari permintaan atas jasa transportasi. Menurut Morlok (2005) permintaan atas jasa
transportasi merupakan cerminan kebutuhan akan transport dari pemakai sistem tersebut,
baik untuk angkutan manusia maupun angkutan barang.
Permintaan atas jasa transportasi diturunkan dari :
(1) kebutuhan seseorang untuk berjalan dari satu lokasi ke lokasi lainnya untuk
melakukan kegiatan, dan
(2) permintaan akan angkutan barang tertentu agar tersedia ditempat yang diinginkan.
2.3.2. Klasifikasi Jaringan Jalan
Menurut Undang-undang RI No.38 Tahun 2004 tenteng jalan pada pasal 7 disebutkan
bahwa sistem jaringan jalan terdiri atas sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan
sekunder. Sistem jaringan jalan primer merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan
pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional,
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara
II23

Naskah Akademik

RTRW

dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat-pusat kegiatan.
Sistem jaringan jalan sekunder merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan
distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 38 Tahun 2004 pasal 8, jalan umum
menurut fungsinya dikelompokkan ke dalam:
a. Jalan arteri, merupakan jalan umum yang berfungsi malayani angkutan utama dengan
ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi
secara berdaya guna.
b. Jalan kolektor, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul
atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan
jumlah jalan masuk dibatasi.
c. Jalan lokal, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat
dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan
masuk tidak dibatasi.
d. Jalan lingkungan, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.
Menurut pasal 9 Undang-Undang RI No.38 tahun 2004 tentang Jalan, disebutkan jalan umum
menurut statusnya dikelompokkan menjadi:
a. Jalan nasional, merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan
primer yang menghubungkkan antar ibokota provinsi, jalan strategis nasional, serta
jalan tol. Wewenang pembinaannya oleh Pemerintah Pusat.
b. Jalan provinsi, merupakan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang
menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antar ibukota
kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
c. Jalan kabupaten, merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak
termasuk jalan nasional dan jalan provinsi, yang mengubungkan ibukota kabupaten
dengan ibukota kecamatan, antar ibukota kecamatan, ibukota kecamatan dengan
pusat kegiatan lokal, antar pusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem
jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.
d. Jalan kota, merupakan jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang
menghubungkan antar pusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan
dengan persil, menghubungkan antarpersil, serta menghubungkan antarpusat
pemukiman yang berada di dalam kota.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II24

Naskah Akademik

RTRW

e. Jalan desa, merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau


antarpemukiman yang berada di dalam kota.
Berdasarkan MTS (Muatan Sumbu Terberat), sistem jaringan jalan diklasifikasikan atas:
a. Jalan kelas I, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk
muatan dengan lebar 2.50 m dan panjang 18 m dan MST > 10 ton.
b. Jalan kelas II, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk
muatan dengan lebar 2.50 m dan panjang 18 m dan MST 10 ton.
c. Jalan kelas III A, yaitu jalan arteri atau kolektor yang dapat dilalui kendaraan
bermotor termasuk muatan dengan lebar 2.50 m dan panjang 18 m dan MST 8
ton.
d. Jalan kelas III B, yaitu jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk
muatan dengan lebar 2.50 m dan panjang 12 m dan MST 8 ton.
e. Jalan kelas III C, yaitu jalan local yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk
muatan dengan lebar 2.10 m dan panjang 9 m dan MST 8 ton.
f.

Untuk jalan desa ialah jalan yang melayani angkutan pedesaan dan wewenang
pembinaannya oleh masyarakat serta mempunyai MST kurang dari 6 ton belum
dimasukkan dalam UU No. 13 Tahun 1980 maupun PP No.43 Tahun 1993.
Sistem prasarana wilayah adalah jaringan yang menghubungkan satu pusat kegiatan

dengan pusat kegiatan lainnya (Tarigan, 2004). Sarana transportasi adalah salah satu dari
sekian macam alat penghubung yang dimaksudkan untuk melawan jarak. Melawan jarak
ditempuh dengan menyediakan sistem sarana dan prasarana transportasi, yaitu alat untuk
bergerak, menyediakan ruang untuk alat angkut tersebut, dan tempat berhentinya, mengatur
kegiatan transportasi, menentukan tempat perhentian, lokasi untuk berproduksi dan
mengkonsumsi, serta merencanakan untuk perkembangan selanjutnya (Tamin, 2000). Selain
itu masih ada unsur cepat dan nyaman.
Analisa jarak dan kesempatan terdekat berkaitan dengan peran jalan dan transportasi
dalam proses pembangunan. Jalan sebagai prasarana transportasi perlu mendapat perhatian
khusus, terutama untuk meningkatkan aksesibilitas penduduk dari satu wilayah ke wilayah
lainnya, atau dari wilayah pedesaan, pedalaman (hinterland). Analisis ini perlu karena
transportasi amat menentukan kegiatan ekonomi, secara langsung dapat mempengaruhi biaya
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II25

Naskah Akademik
produksi,

yang

selanjutnya

akan

berpengaruh

terhadap

harga

pasar

RTRW
(Riyadi

dan

Bratakusumah, 2003).
Dalam kehidupan ekonomi, yang penting adalah produksi barang dan jasa, penyaluran
dan pertukaran barang tersebut, dan konsumsinya. Dalam meningkatkan perkembangan
kegiatan social dan ekonomi, prasarana (infrastruktur) merupakan hal yang penting.
Pembangunan tidak dapat berjalan dengan baik jika prasarana tidak baik. Jadi prasarana
dapat dianggap sebagai faktor potensial dalam menentukan masa depan dari perkembangan
suatu wilayah perkotaan dan pedesaan (Jyadinata, 1999).
Memindahkan barang dari (dari daerah surplus) ke pasar (atau ke daerah minus)
sehingga menjadi barang berguna dan memenuhi suatu kebutuhan merupakan bagian penting
kehidupan sosio ekonomi suatu daerah. Kelancaran mbilitas barang sangat penting artinya
sebagai kelanjutan dari suatu lini pembuatan yang membentuk mata rantai terakhir seluruh
proses produksi (Warponi, 2002).
2.3.3. Fungsi Jalan Berkaitan dengan Pembangunan
Pembangunan merupakan usaha sadar dan berencana untuk meningkatkan mutu
hidup yang dalam pelaksanaanya akan selalu menggunakan dan mengelola sumber daya baik
sumber daya manusia maupun sumber daya buatan (Sugeng Martopo, 1997). Salah satu
tujuan pokok dari pembangunan itu adalah pembangunan wilayah-wilayah yang ada
didalamnya terutama dalam keserasian perkembangan atau laju pertumbuhan antar wilayah
dalam daerah tersebut. Faktor

pendorong perkembangan suatu wilayah sangat terkait

dengan ketersediaan sarana dan prasarana wilayah khususnya sarana dan fasilitas sosial
ekonomi. Sarana dan fasilitas ekonomi seringkali merupakan faktor dominan yang berperan
dalam memajukan wilayah.
Menurut Cornwall (1983) dalam Liklikwatil (2004) secara garis besar terdapat empat
faktor penting yang harus didapatkan dari fungsi sebuah jalan agar dapat mempengaruhi
pembangunan, yaitu :
a. Jalan harus dapat memberikan akses menuju kawasan potensial produksi.
b. Jalan harus dapat memberikan akses menuju pasar dimana produk dari kawasan
tersebut dapat dipasarkan.
c. Jalan harus dapat memberikan keuntungan terhadap harga produksi dan harga
transport.
d. Ukuran pasar harus mampu menyerap suplai barang baru tanpa menyebabkan harga
turun.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II26

Naskah Akademik

RTRW

Pemasaran diartikan semacam kegiatan ekonomi yang berfungsi membawa atau


menyampaikan barang dari produsen ke konsumen (Murbyanto, 1994). Menurut sudiyanto
(2004), secara umum pemasaran dianggap sebagai proses aliran barang yang terjadi dalam
pasar. Dalam pemasaran ini barang mengalir dari produsen sampai ke konsumen akhir yang
disertai penambahan guna bentuk melalui proses penyimpanan. Peterson (dalm Sudiyono,
2004) mendefinisikan pemasaran secara tradisional (Traditional Marketing) dan Modern
(Modern Marketing). Pemasaran secara tradisional merupakan aktifitas usaha yang
menunjukkan secara langsung aliran barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Pemasaran
secara modern adalah proses perencanaan, penentuan konsep, penetapan harga, dan
distribusi barang atau jasa yang menimbulkan pertukaran sehingga dapat memenuhi
kebutuhan individu atau organisasi.
2.3.4. Arah Pengembangan Jaringan Transportasi
Arah pengembangan jaringan transportasi adalah pelayanan transportasi antar moda
yang mampu memberikan pelayanan yang berkesinambungan (seamless services), tepat
waktu (just in time services), dan dapat memberikan pelayanan dari pintu ke pintu (door to

door services) di dalam operasionalisasinya perlu adanya kesesuaian (compability) antar


sarana dan fasilitas yang ada pada prasarana moda-moda transportasi yang terlibat,
kesetaraan tingkat pelayanan (level of service) sesuai dengan standar yang dibakukan,
sinkronisasi dan keterpaduan jadwal pelayanan, efektivitas dan efisiensi aktivitas alih moda
yang didukung dengan sistem tiketing dan dokumen angkutan serta teknologi informasi yang
memadai.
Perwujudan pelayanan jaringan transportasi antar moda juga harus di integrasikan
antar trayek atau rute-rute angkutan jalan, kereta api, sungai dan danau, penyeberangan,
laut dan udara, dengan memperhatikan keunggulan moda berdasarkan kesesuaian teknologi
dan karakteristik wilayah pelayanan.
Prinsip dasar penataan dan pembangunan jaringan transportasi adalah sebagai berikut ini:
1. Fungsional, yakni jaringan yang dikelompokkan dalam berbagai tatanan dengan
karakteristik funsional yang berbeda.
2. Struktural, yakni pada masing-masing tatanan dirumuskan susunan yang saling terkait,
namun dapat diklasifikasikan berdasarkan intensitasnya.
3. Keunggulan karakteristik moda dan keterpaduan, yakni dalam menentukan peran
masing-masing moda pada setiap tataran dilakukan dengan memanfaatkan secara
maksimal

keunggulan

masing-masing

moda,

sedangkan

kelemahannya

dapat

diantisipasi dengan cara pemaduan antar moda.


RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II27

Naskah Akademik

RTRW

4. Optimalisasi, yakni pilihan terhadap suatu tatanan dikaitkan dengan faktor pembatas
sumber daya dalam upaya pemanfaatan maksimal dengan pengorbanan minimal, serta
memberikan kontribusi maksimal dalam upaya pelestarian lingkungan.
Indikator output pangembangan jaringan transportasi adalah meliputi: keselamatan,
aksesibilitas yang tinggi, terpadu, kapasitas mencukupi, teratur, lancar dan cepat, mudah
dicapai, tepat waktu, nyaman, tarif terjangkau, tertib, aman, rendah polusi dan efisien.
2.4.

Sumberdaya Lahan

2.4.1. Pengertian Lahan


Pengertian lahan didefinisikan sesuai aspek mana yang menjadi titik berat. Namun
pada hakekatnya lahan merupakan permukaan muka tanah yang bias dimanfaatkan untuk
kebutuhan

manusia.

Menurut

Tejoyuwono

(1986:28-29),

lahan

adalah

merupakan

keseluruhan kemampuan muka daratan beserta segala gejala di bawah permukaannya yang
bersangkut paut dengan pemanfaatannya bagi manusia. Pengertian tersebut menunjukkan
bahwa lahan merupakan suatu suatu bentang alam sebagai modal utama kegiatan, sebagai
tempat dimana seluruh makhluk hidup berada dan melangsungkan kehidupannya dengan
memanfaatkan lahan itu sendiri. Sedangkan penggunaan lahan adalah suatu usaha
pemanfaatan lahan dari waktu ke waktu untuk memperoleh hasil.
Sedangkan Kaiser, dkk (1979), mengatakan dalam lingkup wilayah yang luas, lahan
adalah sumber (tempat) diperolehnya bahan mentah yang dibutuhkan untuk menopang
kehidupan manusia dan kegiatannya. Di sini, lahan berarti sumber (tempat) diperolehnya
bahan mentah yang dibutuhkan untuk menopang kehidupan manusia dan kegiatannnya.
Dalam pengertian ini, lahan dapat diartikan sebagai tanah. Resource use diklasifikasikan
kedalam beberapa kelompok, seperti pertambangan, pertanian, peternakan dan perhutanan.
Pengertian lahan sendiri pada hakekatnya adalah ruang tanah itu sendiri. Lahan dan
tanah menjadi identik ketika pada saat yang sama difungsikan menjadi suatu lahan yang
secara ekonomis mempunyai nilai yang tinggi. Nilai ini tidak lagi didasarkan pada tingkat
kesuburannya semata-mata, namun tergantung berbagai aspek yang lebih cenderung
ekonomis, seperti lokasi yang strategis, ketersediaan aksesibilitas, keamanan, kenyamanan
dan aspek lainnya.
Pengertian lahan yang diungkapkan oleh para ahli dan peneliti antara lain :
a. Lahan pada dasarnya merupakan sumberdaya alam yang sangat penting untuk
kelangsungan hidup manusia karena menjadi masukan utama yang diperlukan untuk
aktifitas manusia (Kustiawan, 1997 dalam Alit, 2001).
b. Lahan merupakan tempat atau lokasi berdirinya suatu kegiatan (Sanggono, 1993
dalam Alit, 2001).
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II28

Naskah Akademik

RTRW

c. Lahan merupakan komoditas yang berbeda dengan komoditas lainnya disebabkan


karena lahan mempunyai karakteristik yang kompleks, meliputi penyediaannya bersifat
tetap, tidak
d. ada biaya penyediaan, bersifat unik, tidak dapat dipindahkan, dan bersifat permanen
(Kivell 1993, dalam Pohan, 1999).
e. Lahan diartikan sebagai lingkungan fisik yang terdiri dari iklim, relief, tanah, air,
vegetasi dan benda yang ada di atasnya sepanjang berpengaruh terhadap
penggunaannya (Manik, 2003).
Kaiser, Godschalk, and Chapin (1995) menjelaskan karakteristik lahan yang membedakannya
dengan sumberdaya alam yang lain, yaitu:
a. Lahan mempunyai sifat tertentu yang berbeda dengan sumberdaya yang lain,
meliputi:

lahan merupakan aset ekonomis yang tidak terpengaruh oleh penurunan nilai
dan harganya tidak terpengaruh oleh faktor waktu

jumlah lahan terbatas dan tidak dapat bertambah, kecuali melalui reklamasi

lahan secara fisik tidak dapat dipindahkan, sehingga lahan yang luas di suatu
daerah merupakan keuntungan bagi daerah tersebut yang tidak dapat
dialihkan dan dimiliki oleh daerah lain

b. Lahan mempunyai nilai dan harga


c. Hak atas lahan dapat dimiliki dengan aturan tertentu
Terdapat pandangan yang hampir sama dalam mengemukakan pengertian lahan
antara Kustiawan, Sanggono dan Manik. Kustiawan dan Manik menggambarkan pengertian
lahan berdasarkan peran lahan bagi manusia sehingga ruang lingkup yang digunakan luas
sedangkan Sanggono peran lahan secara spasial bagi manusia. Karakteristik tertentu yang
dimiliki lahan dijelaskan oleh Kivell, 1993 dan Kaiser, Godschalk, dan Chapin (1995) sehingga
lahan tersebut mempunyai karakteristik khusus dan berbeda dengan sumberdaya alam
lainnya. Dari pengertian lahan tersebut dapat disimpulkan bahwa lahan merupakan
sumberdaya alam yang sangat penting sebagai wadah aktifitas manusia dan mempunyai
karakteristik khusus yang berbeda dengan sumberdaya alam yang lain. Oleh sebab itu perlu
adanya pengaturan tersendiri tentang penggunaan atau pemanfaatan lahan karena
melibatkan berbagai macam pihak dan kepentingan yang berbeda.
Secara teoritis penggunaan lahan bisa dilihat berdasarkan sudut pandangnya masingmasing. Sandy (1977:24), berpendapat bahwa penggunaan lahan perkotaan diklasifikasikan
sebagai berikut:

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II29

Naskah Akademik

RTRW

a) lahan permukiman, meliputi perumahan termasuk pekarangan dan lapangan olah


raga;
b) lahan jasa, meliputi perkantoran pemerintah dan swasta, sekolah, puskesmas dan
tempat ibadah;
c) lahan perusahaan, meliputi pasar, toko, kios, dan tempat hiburan; dan
d) lahan industri, meliputi pabrik dan percetakan.
Sutanto (1977:42) mengkalisifikasikan lahan menjadi:
a) lahan permukiman,

e) lahan jasa;

b) lahan perdagangan;

f)

c) lahan pertanian;

g) lahan ibadah; dan

d) lahan industri;

h) lahan lainnya.

lahan rekreasi;

Sedangkan, klasifikasi jenis-jenis penggunaan lahan berdasarkan Peraturan Menteri


Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 1 tahun 1997 tentang Pemetaan Penggunaan Tanah
Pedesaan, Pemetaan Penggunaan Tanah Perkotaan, Kemampuan Tanah dan Penggunaan
Simbol/Warna untuk penjajian dalam Peta antara lain:
1. Lahan perumahan, adalah areal lahan yang digunakan untuk kelompok rumah berfungsi
sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan
prasarana dan sarana lingkungan.
2. Lahan perusahaan, adalah areal lahan yang digunakan untuk suatu badan hokum dan
atau badan usaha milik pemerintah maupun swasta untuk kegiatan ekonomi yang
bersifat komersial bagi pelayanan perekonomian dan atau tempat transaksi barang dan
jasa.
3. Lahan industri/pergudangan, adalah areal lahan yang digunakan untuk kegiatan
ekonomi berupa proses pengolahan bahan-bahan baku menjadi barang jadi/setengah
jadi dan atau setengah jadi menjadi barang jadi.
4. Lahan jasa, adalah areal lahan yang digunakan untuk suatu kegiatan pelayanan sosial
dan budaya masyarakat kota, yang dilaksanakan oleh badan atau organisasi
kemasyarakatan, pemerintah maupun swasta yang menitik beratkan kegiatan bertujuan
pelayanan non komersial.
5. Persawahan, adalah areal lahan pertanian yang digenangi air secara periodik dan atau
terus menerus ditanami padi dan atau diselingi dengan tanaman tebu, tembakau dan
atau tanaman semusim lainnya.
6. Pertanian lahan kering semusim, adalah areal lahan pertanian yang tidak pernah diairi
dan mayoritas ditanami dengan tanaman umur pendek.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II30

Naskah Akademik

RTRW

7. Lahan tidak ada bangunan, adalah tanah di dalam wilayah perkotaan yang belum atau
tidak digunakan untuk pembangunan perkotaan.
8. Lain-lain, adalah areal tanah yang digunakan bagi prasaranan jalan, sungai dan
bendungan serta saluran yang merupakan buatan manusia maupun alamiah.
Berdasarkan
tergantung

dari

pendapat-pendapat
sejauhmana

lahan

tersebut
tersebut

penggunaan
difungsikan.

lahan

pada

prinsipnya

Pengelompokan

dan

pengklasifikasiannya disesuaikan dengan manfaat dari lahan itu sendiri. Secara garis besar
bisa di katakan dibagi dalam dua kelompok yaitu lahan yang digunakan untuk kegiatan
ekonomi dan kegiatan non ekonomi. Lahan dengan penggunaan ekonomi antara lain
digunakan untuk lahan perusahaan, lahan industri, lahan jasa, lahan pertanian dan lahan
komersial lainnya. Sedangkan untuk kegiatan non ekonomi antara lain untuk rumah atau
perumahan, sekolah, lapangan, kuburan, jalan dan penggunaan non ekonomi lainnya.
2.4.2. Tata Guna Lahan dan Perubahan Guna Lahan
Tata guna lahan merupakan rangkaian kegiatan dari penataan ruang sendiri.
Penatagunaan lahan diperlukan untuk memberikan arahan fungsi lahan kawasan yang lebih
detail, sehingga bisa dipedomani dalam pengendalian tata ruang. Secara normative tata guna
lahan ditetapkan dalam rencana tata ruang yang secara berjenjang dengan dokumen
perencanaan tata ruang mulai dari tingkat nasional sampai rencana detail di masing-masing
kawasan.
Tata guna lahan (land use) menurut Jayadinata (1999) adalah pengaturan
penggunaan lahan yang meliputi penggunaan permukaan bumi baik di daratan maupun di
lautan. Menurut Steigenga (dalam Jayadinata, 1999), dalam penggunaan lahan, Firey
menunjukkan pengaruh budaya yang besar dalam adaptasi ruang, dan ia berkesimpulan
bahwa ruang dapat merupakan lambang bagi nilai-nilai sosial. Berhubung dengan pendapat
Firey itu, Chapin (dalam Jayadinata, 1999), menggolongkan lahan dalam tiga kelompok, yaitu
yang mempunyai:
a. nilai keuntungan, yang dihubungkan dengan tujuan ekonomi, dan yang dapat dicapai
dengan jual-beli lahan di pasaran bebas.
b. nilai kepentingan umum, yang berhubungan dengan pengaturan untuk masyarakat
umum dalam perbaikan kehidupan masyarakat.
b. nilai sosial, yang merupakan hal mendasar bagi kehidupan (misalnya sebidang lahan
yang dipelihara, peninggalan, pusaka, dan sebagainya), dan yang dinyatakan oleh
penduduk dengan perilaku yang berhubungan dengan pelestarian, tradisi,
kepercayaan, dan sebagainya.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II31

Naskah Akademik

RTRW

Pertimbangan dalam kepentingan lahan di berbagai wilayah mungkin berbeda,


bergantung kepada struktur sosial penduduk tertentu akan diberikan prioritas bagi fungsi
tertentu kepada lahan (Jayadinata, 1999). Kalau hal itu tidak terpenuhi, maka kehidupan
masyarakat tersebut akan dirugikan. Akibatnya terjadi perubahan guna lahan karena sifat
lahan yang terbatas. Perubahan guna lahan atau konversi guna lahan adalah perubahan
penggunaan lahan tertentu menjadi penggunaan lahan lainnya. Karena luas lahan yang tidak
berubah, maka penambahan guna lahan tertentu akan berakibat pada berkurangnya guna
lahan yang lain (Sanggono, 1993).
Kustiawan (1997) melihat alih guna, alih fungsi, atau konversi lahan secara umum
menyangkut transformasi dalam pengalokasian sumberdaya alam dari satu penggunaan ke
penggunaan yang lain. Menurut Zulkaidi (1999) perubahan pemanfaatan lahan dapat
mengacu pada 2 hal, antara lain pemanfaatan lahan sebelumnya dan rencana tata ruang.
Pemanfaatan lahan yang mengacu pada pemanfaatan lahan sebelumnya adalah suatu
pemanfaatan baru atas lahan yang berbeda dengan pemanfaatan lahan sebelumnya,
sedangkan perubahan yang mengacu pada tata ruang adalah pemanfaatan baru atas tanah
(lahan) yang tidak sesuai dengan yang ditentukan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah yang
telah disahkan (Permendagri No.4/1996 tentang Pedoman Perubahan Pemanfaatan Lahan
Kota, ps. 1. f).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tata guna lahan adalah
pengaturan penggunaan lahan yang pertimbangannya bergantung kepada struktur sosial
penduduk untuk menentukan prioritas bagi fungsi tertentu kepada lahan. Sedangkan
perubahan guna lahan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gabungan dari pengertian
perubahan guna lahan yang dikemukakan oleh Sanggono (1993) dan Kustiawan (1997) serta
acuan perubahan penggunaan lahan yang dikemukakan oleh Zulkaidi (1999). Acuan
perubahan pemanfaatan lahan yang digunakan adalah pemanfaatan lahan sebelumnya. Hal
tersebut dilakukan sesuai dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.
Perkembangan tata guna lahan serta perubahan pemanfaatannya dibatasi oleh faktor fisik
alam, salah satunya adalah kemampuan lahan. Kemampuan lahan sangat berpengaruh
terhadap kesesuaian lahan tersebut bagi penggunaan tertentu.
2.4.3. Kesesuaian Lahan
Klasifikasi kemampuan lahan (land capability clasification) adalah penilaian lahan
secara sistematik dan pengelompokannya ke dalam beberapa kategori berdasarkan atas sifatsifat yang merupakan potensi dan penghambat dalam penggunaannya secara lestari (Manik,
2003). Evaluasi kemampuan lahan didasarkan pada pertimbangan faktor biofisik lahan dalam
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II32

Naskah Akademik

RTRW

pengelolaannya sehingga tidak terjadi degradasi lahan selama digunakan. Makin rumit
pengelolaan yang diperlukan maka makin rendah kemampuan lahan untuk jenis penggunaan
yang direncanakan. Penilaian aspek kemampuan lahan meliputi pengklasifikasian tanah, yang
didasarkan pada faktor-faktor penghambat kerusakan tanah yang bersifat permanen.
Penilaian terhadap faktor-faktor pembatas fisik tanah dapat menentukan kelas kemampuan
lahan yang menunjukkan intensitas dan macam penggunaan lahan di atasnya. Besarnya
kemampuan lahan dapat menentukan sebaran dan ketersediaan ruang beserta sumberdaya
penunjang ruang, sehingga dapat direncanakan pemanfaatan lahan yang sesuai dengan daya
tampung ruang suatu wilayah.
Kemampuan lahan merupakan kapasitas tanah untuk berproduksi secara optimal
tanpa menimbulkan kerusakan dalam jangka waktu yang panjang. Kemampuan lahan juga
dapat diartikan sebagai pengklasifikasian tanah yang didasarkan pada faktor-faktor
penghambat kerusakan tanah yang bersifat permanen. Sedangkan klasifikasi kesesuaian lahan
(land suitability classification) adalah penilaian dan pengelompokan lahan dalam arti
kesesuaian relatif lahan atau kesesuaian absolut lahan bagi suatu penggunaan tertentu
(Manik, 2003). Dalam kesesuaian lahan, peruntukan lahan untuk penggunaan tertentu
mengutamakan pertimbangan ekonomi, baik untuk konservasi maupun untuk peningkatan
produktivitas lahan. Kemampuan lahan dipandang sebagai kapasitas lahan itu sendiri untuk
suatu macam penggunaan umum, semakin banyak kapasitas yang dapat diusahakan di suatu
wilayah, maka kemampuan lahan wilayah tersebut semakin tinggi.
Kesesuaian

Lahan

dipandang

sebagai

kenyataan

kemungkinan

penyesuaian

(adaptibilitas) sebidang lahan bagi satu macam penggunaan tertentu. Kesesuaian lahan pada
hakikatnya merupakan gambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk suatu penggunaan
tertentu. Kesesuaian lahan mengutamakan pada klasifikasi mana yang cocok dg potensi yang
dimiliki oleh suatu lahan (Geologi Lingkungan,__,1986).
Faktor fisik tanah yang mempengaruhi kemampuan lahan terdiri dari:
1. Lereng atau kemiringan tanah, adalah perbedaan ketinggian tertentu pada relief
yang ada pada suatu lahan, dengan kriteria:

Datar (0 3 %)

Landai (3 8 %)

Bergelombang (8 15 %)

Miring berbukit (15 30 %)

Agak curam (30 45 %)

Curam (45 65%)

Sangat curam (> 65 %)

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II33

Naskah Akademik

RTRW

2. Kedalaman tanah, adalah suatu kedalaman yang diukur dari permukaan tanah
hingga ditemuinya lapisan kedap air (impermeable), pasir, kerikil, batuan induk.
Definisi ini hanya berlaku bagi tanah mineral dan tanah-tanah dengan bahan mineral
yang berbeda dengan bahan bergambut. Kriteria:

Dalam (>90 cm)

Sedang (50 90 cm)

Dangkal (25 50 cm )

Sangat dangkal (<25 cm)

3. Perbandingan relatif tiga unsur partikel tanah dalam suatu massa tanah, yaitu: pasir,
debu dan liat. Kriteria:

Halus (liat dan debu)

Agak halus (liat berpasir, lempung liat berpasir)

Sedang (debu, lempung berdebu, lempung)

Agak kasar (lempung berpasir)

Kasar (pasir berlempung, pasir)

4. Drainase, adalah kecepatan perpindahan air dari satu bidang tanah baik berupa
aliran air permukaan (run off), maupun peresapan air ke dalam tanah (perkolasi),
atau keadaan tanah yang menunjukkan berapa lama dalam setahun tergenang air.
Kriteria:

Baik

Agak baik

Agak buruk

Buruk

Sangat buruk.

5. Tingkat erosi, adalah perusakan tanah yang disebabkan aliran permukaan (run off),
kelongsoran, dan tingginya curah hujan. Kriteria:

Tidak ada erosi

Ringan (25% lapisan tanah atas hilang)

Sedang (25 75% lapisan atas tanah hilang)

Berat (75% lapisan tanah atas hilang dan 25% lapisan tanah bawah hilang)

Sangat berat (>25% lapisan tanah bawah hilang).

6. Faktor pembatas fisik tanah, adalah faktor-faktor khusus yang dapat mengurangi
produktivitas tanah, misal tutupan batuan, kerikil, pasir, kedalaman gambut, dan
intrusi air asin. Kriteria batu kerikil:

Tidak ada atau sedikit kerikil (0 15 % volume tanah)

Sedang (15 50 % volume tanah)

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II34

Naskah Akademik

Banyak (50 90% volume tanah)

Sangat banyak (>90% volume tanah).

RTRW

7. Bahaya banjir, adalah genangan air dalam suatu wilayah pada periode tertentu.
Kriteria:

Tidak pernah

Kadang kadang (banjir >24 jam dalam waktu <1 bulan)

Selama 1 bulan secara teratur (banjir >24 jam) 6 bulan atau lebih (banjir >24
jam).

Penggunaan lahan yang sesuai dengan kemampuan lahan akan menciptakan


pemanfaatan ruang yang tepat guna dan berhasil guna guna sehingga penting dilakukan
perhitungan terhadap faktor faktor-faktor fisik tanah untuk mengetahui besarnya kemampuan
lahan pada suatu kawasan. Semakin tinggi kelas kemampuan lahan lahan, maka semakin baik
pula daya dukungnya dan semakin kecil resiko yang ditimbulkan terhadap kerusakan
lingkungan.
2.4.4. Perubahan Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan suatu wilayah sifatnya tidak permanen. Suatu lahan memiliki
kemampuan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan. Dengan adanya kemampuan
lahan yang dapat diterapkan untuk berbagai tujuan inilah suatu lahan tidak terbatas
penggunaannya pada suatu tujuan tertentu saja. Bentuk penggunaan lahan dapat berubah
sejalan dengan perkembangan kebutuhan dan kebudayaan manusia. Perubahan pola
pemanfaatan lahan ini akan memunculkan suatu fenomena dimana satu pemanfaatan lahan
dikorbankan untuk pemanfaatan lainnya. Misalnya pemanfaatan lahan yang pada awalnya
sebagai lahan pertanian berubah sebagai lahan permukiman. Dalam hal ini dikatakan lahan
pertanian dikorbankan untuk pemanfaatan lainnya yaitu sebagai lahan permukiman.
Bentuk penggunaan lahan terjadi dalam dua bentuk yaitu perubahan dengan
perluasan atas suatu penggunaan tertentu dan perubahan tanpa perluasan untuk penggunaan
tertentu. Perubahan penggunaan lahan pada suatu lokasi dapat terjadi dengan berubahnya
penggunaan lahan tersebut dari suatu penggunaan tertentu ke penggunaan lainnya.
Perluasan penggunaan lahan untuk tujuan tertentu sering terjadi di daerah pinggiran atau
pedesaan dimana lahan masih tersedia dalam jumlah yang luas. Sedangkan perubahan
tanpa perluasan wilayah sering disebut dengan pemadatan, dan terjadi pada wilayah
perkotaan atau daerah-daerah tertentu dengan adanya faktor-faktor pembatas. Pemadatan
terjadi atas suatu penggunaan tertentu.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II35

Naskah Akademik

RTRW

Perubahan penggunaan lahan diartikan sebagai suatu proses perubahan dari


penggunaan lahan sebelumnya ke penggunaan lahan lain yang dapat bersifat permanen
maupun sementara, dan merupakan bentuk konsekuensi logis adanya pertumbuhan dan
transformasi perubahan struktur sosial ekonomi masyarakat yang sedang berkembang.
Apabila penggunaan lahan untuk sawah berubah menjadi pemukiman atau industri maka
perubahan penggunaan lahan ini bersifat permanen dan tidak dapat kembali (irreversible),
tetapi jika beralih guna menjadi perkebunan biasanya bersifat sementara. Perubahan
penggunaan lahan pertanian berkaitan erat dengan perubahan orientasi ekonomi, sosial,
budaya dan politik masyarakat. Perubahan penggunaan lahan pertanian ke nonpertanian
bukanlah semata-mata fenomena fisik berkurangnya luasan lahan, melainkan merupakan
fenomena dinamis yang menyangkut aspek-aspek kehidupan manusia, karena secara agregat
berkaitan erat dengan perubahan orientasi ekonomi, sosial budaya dan politik masyarakat
(Winoto et al. 1996).
Informasi perubahan lahan pada suatu wilayah tertentu sangat penting artinya dalam
perencanaan wilayah tersebut dimasa yang akan datang. Informasi penggunaan lahan dapat
memberikan penjelasan pada pengguna tentang apa yang harus dilakukan terhadap lahan
tersebut untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Disamping itu, angka kecepatan perubahan
lahan pertanian kearah lahan pemukiman merupakan gambaran umum perbaikan taraf hidup
dan kemampuan daya beli.
2.5.

Konsep Pembangunan Berkelanjutan

2.5.1. Definisi Konsep Pembangunan Berkelanjutan


Definisi konsep pembangunan berkelanjutan diinteprestasikan oleh beberapa ahli
secara berbeda-beda. Namun demikian pembangunan berkelanjutan sebenarnya didasarkan
kepada kenyataan bahwa kebutuhan manusia terus meningkat. Kondisi yang demikian ini
membutuhkan suatu strategi pemanfaatan sumberdaya alam yang efesien. Disamping itu
perhatian dari konsep pembangunan yang berkelanjutan adalah adanya tanggungjawab moral
untuk memberikan kesejahteraan bagi generasi yang akan datang, sehingga permasalahan
yang dihadapi dalam pembangunan adalah bagaimana memperlakukan alam dengan
kapasitas yang terbatas namun akan tetap dapat mengalokasikan sumberdaya secara adil
sepanjang waktu dan antar generasi untuk menjamin kesejahteraannya. Penyusutan yang
terjadi

akibat

pemanfaatan

masa

kini

hendaknya

disertai

suatu

bentuk

usaha

mengkompensasi yang dapat dilakukan dengan menggali kemampuan untuk mensubstitusi


semaksimal mungkin sumberdaya yang langka dan terbatas tersebut sehingga pemanfaatan
sumberdaya alam pada saat ini tidak mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi
yang akan dating (intergenerational equity).
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II36

Naskah Akademik

RTRW

Menurut Gilis and Vincent (2000) tidak ada definisi tentang pembangunan
berkelanjutan yang dapat diterima secara universal termasuk semua definisi mengenai
pembangunan berkelanjutan yang digunakan dalam pedoman praktis untuk para pembuat
kebijakan (policymakers). Scheneider (2000) juga mengungkapkan bahwa mendefinisikan
kata sustainability atau berkelanjutan merupakan pekerjaan yang sulit. Pembangunan
berkelanjutan lebih tepat didefinisikan sebagai development that maximizes the long-term

net benefits to humankind, taking into account the costs of environmental degradation (Gilis
and Vincent, 2000). Maksudnya pembangunan yang memaksimumkan manfaat (net benefits)
jangka panjang bagi manusia, dilihat dari perhitungan biaya degradasi lingkungan.
Pembangunan berkelanjutan mewakili usaha untuk melindungi hasil-hasil pembangunan
dengan tetap melindungi kepentingan generasi mendatang.

World Commision on Environment Development (WCED) dalam laporan yang berjudul


Our Common Future mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan yang
berusaha memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi
mendatang untuk memenuhi kebutuhannya (WCED, 1987). Menurut konsep pragmatis
pembangunan berkelanjutan, nilai pelestarian lingkungan bukan demi kepentingan lingkungan
itu sendiri melainkan demi konstribusi lingkungan terhadap kesejahteraan generasi sekarang
dan generasi mendatang (Gilis and Vincent, 2000). Dapat disimpulkan bahwa pembangunan
berkelanjutan dalam penelitian ini merupakan pembangunan yang berupaya untuk memenuhi
kebutuhan masa sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk
memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab itu perlu adanya pelestarian lingkungan dalam kegiatan
pembangunan.

Definisi

tentang

pembangunan

berkelanjutan

sangat

penting

untuk

menentukan tujuan dari pembangunan berkelanjutan itu sendiri.


Definisi Pembangunan berkelanjutan menurut Bond et al. (2001) pembangunan
berkelanjutan didefinisikan sebagai pembangunan dari kesepakatan multidimensional untuk
mencapai kualitas hidup yang lebih baik untuk semua orang dimana pembangunan ekonomi,
sosial dan proteksi lingkungan saling memperkuat dalam pembangunan. Bosshard (2000)
mendefinisikan

pembangunan

berkelanjutan

sebagai

pembangunan

yang

harus

mempertimbangkan lima prinsip kriteria yaitu: (1) abiotik lingkungan, (2) biotik lingkungan,
(3) nilai-nilai budaya, (4) sosiologi, dan (5) ekonomi. Marten (2001) mendefinisikan sebagai
pemenuhan kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kecukupan kebutuhan generasi
mendatang. Pembangunan berkelanjutan tidak berarti berlanjutnya pertumbuhan ekonomi,
karena tidak mungkin ekonomi tumbuh jika ia tergantung pada keterbatasan kapasitas
sumberdaya alam yang ada.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II37

Naskah Akademik

RTRW

Selain itu ada pula beberapa pakar yang memberikan rumusan untuk lebih
menjelaskan makna dari pembangunan yang berkelanjutan, antara lain (Abdurrahman, 2003):
1. Emil Salim : Pembangunan berkelanjutan atau suistainable development adalah suatu
proses pembangunan yang mengoptimalkan manfaat dari sumberdaya alam, dan
sumberdaya manusia, dengan menyerasikan sumber alam dengan manusia dalam
pembangunan (Yayasan SPES, 1992 :3) Ada beberapa asumsi dasar serta ide pokok yang
mendasari konsep pembangunan berlanjut ini, yaitu :
a. Proses pembangunan ini mesti berlangsung secara berlanjut, terus menerus di
topang oleh sumber alam, kualitas lingkungan dan manusia yang berkembang secara
berlanjut.
b. Sumber alam terutama udara, air, dan tanah memiliki ambang batas, diatas mana
penggunaannya akan menciutkan kualitas dan kuantitasnya. Penciutan ini berarti
berkurangnya kemampuan sumber alam tersebut untuk menopang pembangunan
secara berkelanjutan, sehingga menimbulkan gangguan pada keserasian sumber
alam dengan daya manusia.
c. Kualitas lingkungan berkorelasi langsung dengan kualitas hidup. Semakin baik
kualitas lingkungan, semakin positif pengaruhnya pada kualitas hidup, yang antara
lain tercermin pada meningkatnya kualitas fisik, pada harapan hidup, pada turunnya
tingkat kematian dan lain sebagainya.
d. Pembangunan berkelanjutan memungkinkan generasi sekarang untuk meningkatkan
kesejahteraannya, tanpa mengurangi kemungkinan bagi generasi masa depan untuk
meningkatkan kesejahteraannya.
2. Ignas Kleden :

Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang disatu pihak

mengacu pada pemanfaatan sumber0sumber alam maupun sumberdaya manusia secara


optimal, dan dilain pihak serta pada saat yang sama memelihara keseimbangan optimal di
antara berbagai tuntutan yang saling bertentangan terhadap sumberdaya tersebut
(yayasan SPES, 1992 : XV)
3. Sofyan Effendi:
a. pembanguna

berkelanjutan

sumberdayanya,
perubahan

arah

adalah

invesinya,

kelembagaanya

pembangunan

orientasi

dilakukan

yang

pengembangan

secara

harmonis

pemanfaatan

teknologinya

dan

dengan

dan
amat

memperhatikan potensi pada saat ini dan masa depan dalam pemenuhan kebutuhan
dan aspirasi masyarakat
b. Secara konseptual, pembangunan berkelanjutan sebagai transformasi progresif
terhadap struktur sosial, ekonomi dan politik untuk meningkatkan kepastian

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II38

Naskah Akademik

RTRW

masyarakat Indonesia dalam memenuhi kepentingannya pada saat ini tanpa


mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kepentingannya.
Konsep pembangunan yang berkesinambungan memang mengimplikasikan batas,
bukan batas absolut akan tetapi batas yang ditentukan oleh tingkat teknologi dan organisasi
sosial sekarang ini mengenai sumberdaya lingkungan serta oleh kemampuan biosfer
menyerap pengaruh-pengaruh kegiatan manusia, akan tetapi teknologi untuk memberi jalan
bagi era baru pertumbuhan ekonomi Dalam definisi diatas dapat dipahami bahwa konsep
pembangunan berkelanjutan didirikan atau didukung oleh 3 pilar, yaitu: ekonomi, sosial, dan
lingkungan. Ketiga pendekatan tersebut bukanlah pendekatan yang berdiri sendiri, tetapi
saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain. Secara skematis, keterkaitan antar 3
komponen dimaksud dapat digambarkan sebagai berikut (Munasinghe-Cruz, 1995).
2.5.2. Dimensi Pembangunan Berkelanjutan
Munasinghe (1994) menyatakan bahwa pendekatan ekonomi dalam pembangunan
yang berkelanjutan bertujuan untuk memaksimalkan kesejahteraan manusia melaluyi
pertumbuhan ekonomi dan efesiensi penggunaan kapital dalam keterbatasan dan kendala
sumberdaya serta keterbatasan teknologi. Peningkatan output pembangunan ekonomi
dilakukan dengan tetap memperhatikan kelestarian ekologi dan sosial sepanjang waktu dan
memberikan jaminan kepada kebutuhan dasar manusia serta memberikan perlindungan
kepada golongan. Usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai pembangunan yang
berkelanjutan adalah dengan melakukan analisis biaya manfaat atau suatu proyek
pembangunan. Perencanaan pembangunan hendaknya dilakukan secara komprehensip
dengan memperhatikan tujuan-tujuan jangka panjang. Selain itu yang dapat dilakukan untuk
mengurangi eksploitasi sumberdaya secara berlebihan dan menutupi dampak yang mungkin
ditimbulkan dari eksploitasi sumberdaya tersbut adalah memberikan harga kepada
sumberdaya (pricing) dan biaya tambahan (charges).
Jadi sasaran ekonomi dalam pembangunan berkelanjutan adalah peningkatan
ketersediaan dan kecukupan kebutuhan ekonomi, kelestarian aset yaitu efesiensi dalam
pembangunan sumberdaya dengan pengelolaan yang ramah lingkungan dan tetap
memperhitungkan keadilan bagi masyarakat baik saat ini maupun generasi yang akan datang.
Dalam hal ini pembangunan ekonomi tidak hanya mengejar efesiensi dan pertumbuhan yang
tinggi saja tanpa memperhatikan aspek sosial dan lingkungan. Pandangan ekologis didasarkan
kepada pertimbangan bahwa perubahan lingkungan akan terjadi di waktu yang akan datang
dan dipengaruhi oleh segala aktifitas manusia.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II39

Naskah Akademik

RTRW

Para ahli sosiologi memberikan pandangan yang berbeda dengan ahli ekonomi dalam
mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Dikemukakan oleh Cernea (1994) bahwa
pembangunan berkelanjutan adalah menekankan kepada pemberdayaan organisasi sosial
masyarakat. Penekanan pandangan para sosiolog tersebut terletak kepada manusia sebagai
kunci keberhasilan pembangunan melalui pemberdayaan organisasi sosial kemasyarakatan
yang berkembang. Pemberdayaan organisasi sosial kemasyarakatan ditujukan untuk
pengelolaan sumberdaya alam dengan memberikan motivasi yang mengarah kepada
keberlanjutan. Pendekatan partisipatif masyarakat dalam pembangunan dilakukan dengan
menciptakan kesadaran masyarakat pada peningkatan kemampuan sumberdaya manusia,
penghargaan terhadap bentuk kelembagaan dan organisasi sosial masyarakat sebagai satu
sistim kontrol terhadap jalannya pembangunan, pengembangan nilai-nilai masyarakat
tradisional yang mengandung keutamaan dan kearifan, meningkatkan kemandirian dan
kemampuan masyarakat dengan berorganisasi.
Dengan demikian faktor sosial dalam pembangunan yang berkelanjutan merupakan
salah satu faktor yang tidak kalah penting apabila dibandingkan dengan faktor ekonomi dan
ekologi. Bukti-bukti menjelaskan bahwa proyek pembangunan yang kurang memperhatikan
faktor sosial kemasyarakatan akan menjadi ancaman bagi keberhasilan proyek atau program
pembangunan yang dilaksanakan karena tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat
sekitarnya.
Menurut Serageldin (1994) Tujuan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan
memiliki hubungan dengan tujuan lingkungan. Keberhasilan dan keberlanjutan pembangunan
tidak akan tercapai apabila tidak didukung oleh kondisi lingkungan hidup yang mendukung
pembangunan ekonomi dan sosial. Pembangunan akan terhambat apabila kondisi sosial
ekonomi masyarakat penuh dengan ketidak pastian. Disamping itu pembangunan ekonomi
tanpa memperhatikan efesiensi penggunaan sumberdaya dan kelestarian alam akan
menyebabkan degradasi alam yang tidak dapat pulih kembali, sehingga usaha yang dapat
dilakukan adalah dengan efesiensi penggunaan sumberdaya alam dan juga memberikan
penilaian

terhadap

lingkungan

dengan

mengevaluasi

dampak

lingkungan

yang

ditimbulkannya. Karena bagaimanapun proses pembangunan yang berjalan sedikit ataupun


banyak akan menimbulkan eksternalitas negatif dimana masyarakat yang akan merasakan
akibat dari kerusakan tersebut. Masyarakatlah yang menanggung beban berupa biaya biaya
sosial yang harus ditanggung baik oleh masyarakat saat ini maupun generasi yang akan
datang.
Hal yang terpenting adalah bagaimana pemahaman mengenai pembangunan dimulai
dari pendekatan kepada berhasil atau tidaknya pembangunan itu mengurangi kemiskinan.
Bagaiman pertumbuhan ekonomi berperan dan bagaimana proses pertumbuhan itu
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II40

Naskah Akademik

RTRW

dipengaruhi oleh semakin berkurangnya sumberdaya dan makin meningkatnya biaya


lingkungan. Langkah selanjutnya yang harus menjadi pertimbangan global adalah bagaimana
menemukan cara yang efektif sehingga pembangunan yang dilaksanakan dapat sekaligus
memecahkan masalah kemiskinan tanpa membahayakan lingkungan atau menurunkan
kualitas sumberdaya alam untuk generasi ayang akan datang.
2.5.3. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Tujuan pembangunan berkelanjutan adalah untuk memastikan bahwa keempat
elemen, yaitu: kebutuhan dasar, ekologi, eko-efisiensi dan kewenangan masyarakat, termasuk
elemen transgenerasi betul-betul dipertimbangkan dalam proses pembuatan keputusan
(Blackburn, 2000). Kunci utama untuk mewujudkan keberlanjutan adalah sumberdaya alam
dan fungsi lingkungan tidak dipandang remeh atau kurang berharga, yang mana dalam
prakteknya keadaan sebaliknya yang sering kita jumpai (Gilis and Vincent, 2000).
Tujuan pembangunan berkelanjutan menurut Blowers (1995) meliputi 3 (tiga) aspek,
yaitu:
1. Konservasi sumberdaya , Konservasi sumberdaya dapat dilakukan melalui:
a. Mempertahankan ketersediaan sumberdaya untuk generasi mendatang.
b. Efisiensi penggunaan sumberdaya yang tak terbarui dan sumberdaya mineral melalui:
produktivitas yang lebih tinggi, daur ulang, dan mengembangkan teknologi alternatif.
Tujuan konservasi sumberdaya adalah untuk mencukupi kebutuhan sumberdaya alam
sekarang dan generasi mendatang dengan cara :
a. Penggunaan lahan yang efisien.

Menghindari pemborosan sumberdaya alam tak terbarui.

Sedapat mungkin mengganti penggunaan sumberdaya tak terbarui dengan yang


terbarui.

Mempertahankan keanekaragaman hayati.

b. Kualitas lingkungan, Sasaran dari kualitas lingkungan adalah:

Untuk mencegah atau mengurangi degradasi dan pencemaran lingkungan.

Untuk melindungi regenerative capacity ekosistem.

Untuk mencegah pembangunan yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia


dan menurunkan kualitas kehidupan.

2. Kesetaraan sosial : Pola perdagangan, bantuan modal, dan investasi dibentuk oleh
besarnya permintaan negara terkaya sehingga timbul ketidaksetaraan sosial. Perbedaanperbedaan (ketidaksetaraan atau kesenjangan) semakin menguat akibat eksploitasi
sumberdaya, perusakan ekosistem dan pencemaran. Adanya pembangunan berkelanjutan
dapat mereduksi kesenjangan sosial dan menyelesaikan konflik internal maupun antar
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II41

Naskah Akademik

RTRW

negara. Sasaran dari kesetaraan sosial adalah untuk mencegah pembangunan yang dapat
menumbuhkan dan meningkatkan kesenjangan antara kaya dan miskin, serta untuk
mewujudkan pembangunan yang mengurangi kesenjangan tersebut
3. Partisipasi : Partisipasi dalam pengertian kesetaraan yang lebih besar, berarti :

Perubahan mendasar pada pola konsumsi

Alokasi sumberdaya-sumberdaya

Gaya hidup (life-style)

Pola kehidupan di negara-negara maju, yang didasarkan atas sikap individualistik,


kompetisi, dan konsumsi menyolok (conspicuous consumption), adalah sangat bertentangan
dengan prinsip-prinsip keberlanjutan. Sasaran dari partisipasi politis ini adalah untuk
mengubah nilai, perilaku dan kebiasaan, dengan meningkatkan partisipasi dalam pembuatan
keputusan politis dan menginisiasi peningkatan kualitas lingkungan mulai dari komunitas lokal
sampai ke level yang lebih tinggi. Tujuan pembangunan berkelanjutan berdasarkan pendapat
Blackburn (2000) dan Blowers (1995) memiliki persamaan dalam memandang sumberdaya
alam dan fungsi ekologis serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan
kebijakan. Tujuan pembangunan berkelanjutan ini menjadi landasan dalam menentukan
indikator pembangunan berkelanjutan.
2.5.4. Indikator Pembangunan Berkelanjutan
Indikator pembangunan berkelanjutan adalah alat yang digunakan untuk mengukur
pembangunan berkelanjutan (Carley and Christie, 2000). Selama beberapa dekade terakhir ini
banyak dilakukan penelitian untuk mengembangkan perhitungan sumberdaya dan lingkungan
sebagai alat untuk mengembangkan pembangunan berkelanjutan. Upaya tersebut pertama
kali dipublikasikan tahun 1993 dalam bentuk pedoman sementara: The System of

Environmental and Economic Accounting (SEEA), yang berada di bawah pengawasan The UNs
Statistical Commision (UN, 1993 dalam Giljum, 2006). SEEA menyediakan kerangka yang
dapat diterima secara lebar dan komprehensif untuk memasukkan peranan sumberdaya alam
dan lingkungan ke dalam perekonomian.
SEEA memiliki 4 (empat) komponen utama yang konsepnya, apabila dimungkinkan,
mencakup satuan fisik dan satuan moneter (Giljum, 2006) :
1. Perhitungan Aset atau Modal, yang merekam volume dan nilai ekonomi dari
persediaan dan perubahan dalam stok sumberdaya alam.
2. Perhitungan Aliran Material, Energi dan Polusi, yang menyediakan informasi pada level
industri tentang penggunaan energi dan material sebagai input untuk produksi dan
permintaan akhir, serta bangkitan polutan dan limbah padat yang dihasilkannya.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II42

Naskah Akademik

RTRW

3. Perhitungan biaya pelestarian lingkungan dan pengelolaan sumberdaya serta transaksi


lingkungan lainnya. Yang termasuk dalam perhitungan ini adalah:

biayabiaya pengadaan pelestarian lingkungan dan pengelolaan sumberdaya


alam

pajak, biaya dan utang lainnya, serta hak-hak properti (property rights) yang
berkaitan dengan lingkungan.

4. Indikator-indikator lingkungan yang umum dalam pelaksanaan ekonomi makro, yang


termasuk indikator keberlanjutan seperti Gross Domestic Product (GDP), dan Net

Domestic Product (NDP).


2.6.

Pengendalian Pemanfaatan Ruang


Pengendalian tata ruang atau pemanfaatan ruang menurut undang-undang penataan

ruang merupakan kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang;


pengawasan diselenggarakan dalam bentuk pelaporan, pemantauan dan evaluasi, sedangkan
penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang
diselenggarakan dalam bentuk pengenaan sanksi. Pengendalian dilakukan agar pemanfaatan
ruang sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Pengendalian dilakukan
melalui kegiatan pengawasan, dalam hal ini adalah usaha untuk menjaga kesesuaian
pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang.
Pengendalian dilakukan dengan penertiban adalah usaha untuk mengambil tindakan agar
pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud. Pengendalian pemanfaatan ruang
selain melalui kegiatan pengawasan dan penertiban juga meliputi mekanisme perizinan (Ditjen
Bangda Depdagri, 2000).
Pemanfaatan ruang tidak bisa dilepaskan dengan pemanfaatan permukaan guna
lahan, karena pada umumya pemanfaatan ruang yang terjadi adalah pemanfaatan daratan
atau permukaan tanah/lahan. Oleh karena itu pengendalian pemanfaatan ruang bisa
dikatakan identik dengan pengendalian pemanfaatan lahan atau pengendalian alih fungsi
lahan itu sendiri. Pengendalian dan pengawasan pengembangan tanah/lahan adalah suatu
upaya untuk dapat secara kontinyu dan konsisten mengarahkan pemanfaatan, penggunaan
dan pengembangan tanah secara terarah, efisien dan efektif sesuai dengan rencana tata
ruang yang telah ditetapkan. (Jayadinata, 1999:149).
Menurut Green (1981:28), bentuk pengendalian penggunaan lahan kedalam dua
kelompok bahasan yaitu pengendalian perencanaan (planning control) dan pengendalian
bangunan (building planning). Pengendalian perencanaan menurutnya dapat berupa suatu
rencana pembangunan (development plan). Bagian dari pengendalian bangunan menurutnya

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II43

Naskah Akademik

RTRW

adalah peraturan-peraturan bangunan. Berhubung dengan hal itu, maka pengendalian dan
pengawasan pengembangan lahan didasarkan kepada:
a) Kebijaksanaan umum pertanahan (land policy),
b) Rencana tata ruang yang pengembangannya telah dilandasi oleh kesepakatan
bersama masyarakat,
c) Komitmen rasional mengenai pemanfaatan dan penggunaan lahan untuk kepentingan
perkembangan sosial dan ekonomi,
d) Kriteria pengakomodasian dinamika perkembangan masyarakat.
Perubahan penggunaan lahan yang terjadi di lapangan sering kali tidak sesuai. Hal ini
bisa dipahami dengan mengetahui faktor penggunaan lahan, yang menurut pendapat Kaiser,
dkk (1979) adalah: pertama sistem aktivitas kota. Sistem aktivitas kota adalah cara manusia
dan lembaganya seperti lembaga rumah tangga, lembaga perusahaan, lembaga pemerintahan
dan lain-lain mengorganisasikan berbagai aktivitasnya dalam rangka memenuhi berbagai
kebutuhan hidupnya dan berinteraksi satu dengan lainnya dalam waktu dan ruang. Kedua,
sistem pengembangan lahan yaitu suatu proses konversi dan rekonversi lahan dan proses
penyesuaiannya untuk berbagai penggunaan lahan dalam skala waktu dan ruang sesuai
dengan sistem aktivitas kotanya.
Dalam kaitannya dengan lahan perkotaan, sistem ini berpengaruh dalam penyediaan
lahan kota dan di dalam pengembangannya dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi kota dan
penguasaan ilmu dan teknologi dalam mengeliminasi adanya limitasi terhadap lahan yang
dimanfaatkan. Ketiga, sistem lingkungan adalah sistem kehidupan biotik dan abiotik karena
proses ilmiah yang bertitik tolak pada kehidupan tumbuhan dan hewan dan prosesproses
fundamental yang berhubungan dengan air dan udara. Sistem ini menyediakan tempat bagi
kelangsungan hidup manusia dan habitat serta sumber daya lain guna mendudkung
kehidupan manusi. Sistem lingkungan dalam hal ini lebih berfungsi sebagai sumber daya yang
mendukung kedua sistem tersebut di atas dan berada pada posisi penyediaan lahan.
Adapun pengendalian pemanfaatan lahan merupakan suatu piranti manajemen
pengelolaan kota/wilayah yang sangat diperlukan oleh manajer kota/wilayah untuk
memastikan bahwa perencanaan tata ruang dan pelaksanaan pemanfaatan ruangnya telah
berlangsung sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Dengan adanya kegiatan
pengendalian pemanfaatan ruang, maka akan dapat diketahui dan sekaligus dapat
dihindarkan kemungkinan terjadinya penyimpangan fungsi ruang yang tidak terkendalikan dan
tidak terarah sebagaimana yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang.
Tujuan dari pengendalian pemanfaatan lahan adalah untuk tercapainya konsistensi
pemanfaatan lahan dengan rencana tata ruang yang ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II44

Naskah Akademik

RTRW

perencanaan tata ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan dua sisi dari satu
mata uang. Pengendalian pemanfaatan ruang akan berlangsung secara efektif dan efisien
bilamana telah didahului dengan perencanaan tata ruang yang valid dan berkualitas.
Sebaliknya rencana tata ruang yang tidak dipersiapkan dengan mantap akan
membuka peluang terjadinya penyimpangan fungsi ruang secara efektif dan efisien dan
akhirnya akan menyulitkan tercapainya tertib ruang sebagaimana ditetapkan dalam rencana
tata ruang. Kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang akan berfungsi secara efektif dan
efisien bilamana didasarkan pada sistem pengendalian yang menyediakan informasi yang
akurat tentang adanya penyimpangan pemanfaatan ruang yang terjadi dilapangan dan
ditegaskan untuk memberikan reaksi yang tepat bagi penyelesaian simpangan-simpangan
yang terjadi di lapangan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Oleh karena itu, perlu
dipahami dan dipersiapkan dengan mekanisme pengendalian pemanfaatan, baik yang terkait
dengan piranti manajemen maupun pengendalian pemanfaatan lahan yang diterapkan untuk
menata mekanisme perijinan pembangunan yang berlaku di tingkat daerah (kabupaten dan
propinsi).
Dalam proses pembangunan kota/wilayah banyak pihak yang berpendapat bahwa
pemerintah harus ikut campur dalam mengendalikan dan menata keadaan dengan alasan
kegagalan mekanisme pasar untuk menciptakan hasil yang memuaskan masyarakat secara
keseluruhan. Kegagalan menghasilkan munculnya eksternalitas negatif dan tidak meratanya
pelayanan (Devas dan Rakodi, 1993 dalam Zulkaidi, 1999). Dengan demikian dalam
penanganan perubahan pemanfaatan lahan, campur tangan pemerintah ini paling tidak adalah
perlindungan

kepentingan

masyarakat

umum,

pengaturan

kegiatan

sektoral

melalui

peruntukan lahan serta mencegah gangguan. Secara umum ada 3 cara untuk mengarahkan
dan mengendalikan pemanfaatan lahan yaitu :
a. Pemerintah menyediakan prasarana agar terjadi proses pengembangan yang searah
dengan penyediaan prasarana tersebut.
b. Pemerintah tidak melakukan pembangunan, tetapi mendorong swasta untuk
melakukan pembangunan.
c. Pemerintah melakukan perencanaan dampak prasarana dan sarana, yaitu
memperkirakan berbagai dampak yang terjadi dan merencanakan langkah-langkah
terpadu untuk mengendalikan atau memanfaatkan dampak tersebut.
Perubahan pemanfaatan lahan tersebut bukan merupakan suatu hal yang selalu harus
ditolak. Perubahan tersebut merupakan suatu proses alamiah yang berupaya untuk
meningkatkan manfaat/keuntungan dari lahan yang bersangkutan. Walaupun tidak harus
ditolak, perubahan pemanfaatan lahan merupakan suatu aktifitas yang perlu dikendalikan.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II45

Naskah Akademik

RTRW

Pelaksanaan pengendalian pemanfaatan lahan dilakukan melalui perijinan, disinsentif dan


insentif, perpajakan serta pencabutan ijin.
Perangkat dalam pengendalian pemanfaatan ruang, terdiri dari perijinan, pengawasan
dan penertiban. Mekanisme perijinan adalah usaha pengendalian melalui penetapan prosedur
dan ketentuan yang ketat yang harus dipenuhi untuk menyelenggarakan suatu pemanfaatan
ruang. Pengawasan adalah usaha untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan
fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang, terdiri dari pelaporan, pemantauan
dan evaluasi. Penertiban adalah usaha untuk mengambil tindakan terhadap pemanfaatan
ruang yang tidak sesuai dengan rencana, melalui pemeriksaan dan penyelidikan atas semua
pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai
dengan rencana tata ruang, agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud
terdiri dari sanksi administrasi, sanksi pidana dan saksi perdata yang diatur dalam peraturan
perundangan yang berlaku.
Beberapa perangkat pengendalian pemanfaatan lahan yang diterapkan dan telah
memiliki dasar hukum adalah :
a. Mekanisme Perijinan : Mekanisme perijinan merupakan penerapan dari prinsip
pencegahan (preventif) berbagai ijin dan persyaratan yang berkaitan dengan
pemanfaatan ruang telah diatur, baik di tingkat pusat maupun ditingkat daerah,
misalnya persetujuan prinsip, ijin lokasi, Surat Ijin Usaha (SIUP), Surat Ijin Tempat
Usaha (SITU), Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), Ijin Gangguan (HO) dan AMDAL.
b. Pencabutan Ijin : Berdasarkan Ps. 37 UU No.26/2007, ijin pemanfaatan ruang (tempat
usaha, lokasi mendirikan bangunan) yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang
yang ditetapkan dapat dinyatakan batal (atau dicabut) oleh kepala daerah yang
bersangkutan. Pembatalan ijin ini dapat dimintakan penggantian yang layak bila dapat
dibuktikan ijin tersebut telah diperoleh dengan itikad baik. Pencabutan ijin yang tidak
sesuai ini merupakan penerapan dari prinsip penyembuhan (curative). Tindakan yang
lebih moderat adalah dengan menghentikan pembangunan untuk dievaluasi. Hasil
evaluasi dapat berupa pencabutan ijin, atau bentuk penertiban lainnya yang lebih
ringan.
c. Insentif dan Disinsentif : Dalam hal perubahan pemanfaatan lahan, berdasarkan Ps. 38
UU No. 26/2007, supaya pelaksanaan pemanfaatan ruang sesuai dengan RTRW dapat
diberikan insentif dan/atau disinsentif oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.
Insentif merupakan perangkat atau upaya untuk memberikan imbalan terhadap
pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang, berupa:
1) keringanan pajak, pemberian kompensasi, subsidi silang, imbalan, sewa ruang,
dan urun saham;
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II46

Naskah Akademik

RTRW

2) pembangunan serta pengadaan infrastruktur;


3) kemudahan prosedur perizinan; dan/atau
4) pemberian penghargaan kepada masyarakat, swasta dan/atau pemerintah
daerah.
Disinsentif merupakan perangkat untuk mencegah, membatasi pertumbuhan, atau
mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang, berupa:
1) pengenaan pajak yang tinggi yang disesuaikan dengan besarnya biaya yang
dibutuhkan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat pemanfaatan
ruang; dan/atau
2) pembatasan penyediaan infrastruktur, pengenaan kompensasi, dan penalti.
Insentif dan disinsentif diberikan dengan tetap menghormati hak masyarakat.
Insentif dan disinsentif dapat diberikan oleh:

2.7.

Pemerintah kepada pemerintah daerah;

pemerintah daerah kepada pemerintah daerah lainnya; dan

pemerintah kepada masyarakat.

Perpajakan

Perizinan Pemanfaatan Ruang

Menurut undang-undang penataan ruang, disebutkan mengenai perizinan pemanfaatan


ruang:
1. Perizinan pemanfaatan ruang adalah salah satu bentuk pengendalian pemanfaatan
ruang dapat berlangsung sesuai fungsi ruang yang telah ditetapkan dalam rencana
tata ruang yang telah disepakati oleh rakyat (DPRD) dan Pemerintah Kabupaten/Kota.
2. Perizinan

pemanfaatan

pemanfaatan

ruang

ruang

yang

adalah

suatu

diselenggarakan

bentuk

oleh

kegiatan

Bupati/Walikota

pengendalian
di

wilayah

Kabupaten/Kota, disamping kegiatan pengawasan dan penertiban.


3. Perizinan

pemanfaatan

ruang

adalah

merupakan

kebijaksanaan

operasional

pemanfaatan ruang yang berkaitan dengan penetapan lokasi, kualitas ruang dan tata
ruang sesuai dengan peraturan perundang-undangan, hukum adat dan kebiasaan
yang berlaku.
Perizinan pemanfaatan ruang terdiri atas tiga jenis perizinan yang memiliki struktur, sebagai
berikut:
1. Perizinan peruntukan dan perolehan lahan berjaitan dengan penetapan lokasi investasi
dan perolehan tanah dalam bentuk izin lokasi.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II47

Naskah Akademik
2. Perizinan

pengembangan

pemanfaatan

lahan

berkaitan

dengan

RTRW
rencana

pengembangan kualitas ruang dalam bentuk Persetujuan Site Plan.


3. Perizinan mendirikan bangunan berkaitan dengan pembangunan tata ruang dan tata
bangunan dalam bentuk Izin Mendirikan Bangunan.
Izin lokasi adalah izin yang diberikan kepada perusahaan dalam rangka pengerahan
lokasi penanaman modal sesuai dengan peraturan daerah tentang tata ruang wilayah
sekaligus sebagai izin untuk pelaksanaan perolehan tanah, serta berlaku pula sebagai
pemindahan hak atas tanah. Pada prinsipnya izin lokasi merupakan instrumen pelaksanaan
tata ruang (pembangunan) untuk kepentingan penanaman modal (investment). Oleh karena
itu, harus dicatat bahwa mendiskusikan izin lokasi selalu terkait dengan sektor swasta. Namun
demikian, sektor publik juga terkadang memerlukan izin lokasi untuk proyek pemerintah
seperti halnya yang terjadi pada Perumnas. Dalam pembangunan perumahan dan
permukiman, Izin Lokasi merupakan jenis izin pertama yang dibutuhkan dalam rangka
pelaksanaan pembebasan tanah yang akan dikembangkan untuk proyek perumahan dan
permukiman tersebut. Pengembangan suatu kawasan dengan luasan lebih dari satu hektar
mengharuskan pemrakarsa untuk memiliki Izin Lokasi tersebut, yang didefinisikan izin
penunjukkan penggunaan tanah yang diberikan kepada suatu perusahaan, seluas yang benarbenar diperlukan untuk pembangunan perumahan.(Johannes Tulung, 2004).
Sedangkan Pasaribu dan Y. Suprapto, mengatakan pengendalian pembangunan
dilaksanakan dalam rangka pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang sehingga lahan
perkotaan termanfaatkan secara efisien dan tidak menimbulkan dampak negative terhadap
linkungan hidup perkotaan oleh pelaku pembangunan. Rencana kota yang telah disusun oleh
pemerintah dengan melibatkan peran serta masyarakat sudah tentu berisikan kesepakatankesepakatan terhadap muatan rencana pemanfaatan ruang kota di masa yang akan datang.
Dengan demikian rencana tata ruang kota dapat dipergunakan sebagai alat pengendali dan
pengawasan dalam pelaksanaan pembangunan melalui penerbitan izin -izin pembangunan.
2.8.

Parsipatori Planning
Partisipasi masyarakat: peran serta masyarakat dalam pengambilan kebijakan

pembangunan. Level terendah partisipasi masyarakat adalah Tanpa Partisipasi. Level ini
terdiri dari dua jenis yaitu (1) Manipulasi dan (2) Terapi. Kedua hal ini nyatanya tidak
bertujuan untuk memberdayakan masyarakat tapi lebih untuk memaksakan kepentingan
penguasa. Pada level penghargaan/tokenism masyarakat dilibatkan namun keputusan akhir
tetap ditentukan penguasa. Pada level informing masyarakat baru diberikan informasi
kebijakan, pada level konsultasi penguasa melakukan konsultasi, dan pada level placation
masyarakat memberikan advis kepada penguasa tentang kebijakan pembangunan.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II48

Naskah Akademik

RTRW

Level tertingggi dalam partisipasi masyarakat adalah Kekuatan Masyarakat / citizen


power. Pada level partnership masyarakat dapat bernegosiasi dengan penguasa, Pada
delegated power kekuasaan ditentukan oleh wakil rakyat secara real, dan pada level citizen
control masyarakat sepenuhnya memutuskan kebijakan pembangunan.
Menurut Choguill, praktek Partisipasi Masyarakat di negara berkembang banyak
dipengaruhi peran pemerintah daerah. Tingkatan keberhasilan partisipasi dipengaruhi respon
dan inisiatif Pemerintah. Tingkat tertinggi partisipasi masyarakat adalah apabila pemerintah
memberikan dukungan penuh (support) dalam bentuk pemberdayaan, kerjasama, dan koalisi.
Pada kategori ini, pemerintah memberikan dukungan untuk inisiatif program komunitas. Level
kedua adalah manipulasi, yaitu ketika pemerintah bertujuan mengontrol situasi konflik. Level
konspirasi terjadi ketika pemerintah memulai untuk menolak kelompok yang tidak diharapkan.
Pada kasus ini, inisiatif masyarakat merupakan aktivitas ilegal/dilarang. Level terendah adalah
selfmanagement untuk kondisi ketika pemerintah tidak peduli dengan masyarakat.
2.9.
2.9.1.

Pemerintah Daerah sebagai Pelaksana Birokasi Pemerintahan di Daerah


Pemerintah sebagai Pelaksana Birokasi Pemerintahan
Berdasar teori due contract social 1 , negara terbentuk berdasarkan kesepakatan

masyarakat untuk membentuk kekuasaan untuk dapat menghentikan kekacauan yang terjadi
di dalam masyarakat itu sendiri. Dari kekuasaan yang diberikan pada negara tersebut negara
mempunyai kekuasaan dan wewenang untuk2 :
1. Mengendalikan dan mengatur gejala-gejala kekuasaan yang asosiasi, yakni yang
bertentangan satu sama lain yang menjadi antagonis yang membahayakan.
2. Mengorganisir dan mengintegrasikan kegiatan manusia dan golongan-golongan kearah
tercapainya tujuan masyarakat secara keseluruhan. Negara menentukan bagaimana
kegiatan asosiasi-asosiasi masyarakat disesuaikan satu sama lain dan diarahkan pada
pencapaian tujuan nasional.

Due contract social di Indonesia terjadi untuk mengusir penjajahan di Bumi Nusantara,
adanya rasa senasib dan sepenanggungan antar wilayah membangkitkan rasa kebersamaan
untuk mencapai kemerdekaan. Dan selanjutnya setelah mencapai kemerdekaan maka tujuan
kontrak social berkembang menjadi pencapaian cita-cita bangsa Indonesia dan tujuan
nasional. Selain hal tersebut cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara hukum juga
merupakan harapan yang harus di capai oleh Bangsa Indonesia.

1
2

Soeharjo, Ilmu Negara , Semarang : dahara prize, 1994, hal 7


Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta : Gramedia, 1986, hal 39

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II49

Naskah Akademik

RTRW

Banyak dokumen kenegaraan yang menyiratkan adanya ciri-ciri negara hukum seperti
yang telah di cita-citakan. Sependapat dengan uraian tersebut Mukti Arto berpendapat negara
hukum Indonesia adalah berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, yang dapat ditemukan unsurunsur negara hukum sebagai berikut 3 :
1. Adanya pengakuan terhadap jaminan hak-hak asasi manusia;
2. Adanya pembagian kekuasaan;
3. Dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya pemerintah harus selalu berdasar atas
hukum yang berlaku, baik yang tertulis maupun tidak tertulis;
4. Adanya kekuasaan kehakiman yang dalam menjalankan kekuasaannya bersifat
merdeka artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah maupun kekuasaan
lainnya.
Penegasan mengenai Indonesia adalah negara yang berdasar atas hukum (rechtstaat)
dan tidak berdasar atas kekuasaan belaka (machtstaat) sebagaimana tersebut dalam
penjelasan UUD 1945 4 . Perwujudan bahwa Indonesia adalah negara hokum tercermin dalam
sistem pembagian kekuasaan, sistem yang digunakan adalah cenderung mendekati sistem

trias politica yang dikemukakan oleh John Locke dan Montesquieu , dimana negara terbagi
dalam kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Trias Politica dalam kenegaraan Indonesia
dapat dilihat tersebar dalam konstitusi dan berbagai Undang-Undang. Antara lain adalah
terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dalam batang tubuhnya yang berisikan ketentuan
tentang lembaga tinggi dan tertinggi negara. Pembagian kekuasaan negara yang ada di
Indonesia terbagi dalam beberapa fungsi lembaga negara. Dibidang eksekutif fungsinya
dijalankan oleh lembaga kepresidenan, dibidang legislatif fungsinya dijalankan oleh Dewan
Perwakilan Rakyat, dan dibidang yudkatif fungsinya dijalankan oleh Mahkamah Agung.
Dari uraian diatas jelas bahwa penyelenggara Negara di Indonesia adalah lembagalembaga tersebut diatas, dalam bahasa hukum administrasi negara, mereka disebut sebagai
Badan Tata Usaha Negara, dan orang-orang yang menjabat didalamnya adalah Pejabat Tata
Usaha Negara. Sedangkan dalam bahasa keseharian, masyarakat cenderung menyebut
sebagai pemerintah, yang bertugas menyelenggarakan Pemerintahan negara. dalam arti
luas pemerintah adalah badan atau pejabat yang menjalankan urusan pemerintahan berdasar
undang-undang yang berlaku.

Arto, A. Mukti, Konsepsi Ideal mahkamah Agung, Redefinisi Peran dan Fungsi Mahkamah Agung untuk Membangun
Indonesia Baru, Yogyakarta,:Pustaka Pelajar, 2001, hal. 18-19.
4
Wahjono, Padmo, Indonesia Negara Berdasar Atas Hukum, Jakarta : Ghalia Indonesia,1986, hal 7-32

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II50

Naskah Akademik

RTRW

Uraian pada sub bab diatas menjelaskan tentang siapa penyelenggara pemerintahan
Pusat di Indonesia, pada tingkat Daerah pemerintahan dijalankan oleh Pemerintah Daerah
baik Kabupaten maupun Kota.
2.9.2.

Pemerintah Daerah Sebagai Pelaksana Birokrasi Pemerintahan di Daerah


berdasarkan Otonomi Daerah
Memasuki era baru, Indonesia tampaknya harus berangkat dalam kondisi yang kurang

menguntungkan. Krisis ekonomi dan politik yang merambah Indonesia sejak paruh akhir
1997, tidak dapat dihindari telah memorakporandakan basis material negara yang selama ini
telah dijadikan sebagai sumber utama dalam menggerakkan roda ekonomi dan politik. Lebih
jauh lagi, kombinasi antara dampak krisis ekonomi dan politik juga telah mengakibatkan
semakin melemahnya empat kapasitas utama negara: institusional, technical, administrative,

and political capacity, yang dibutuhkan untuk menjamin kesinambungan pembangunan


ekonomi dan politik. Di antara restrukturisasi sistem pemerintahan yang cukup penting untuk
dikemukakan adalah adanya upaya untuk memperluas otonomi daerah dan pengaturan
perimbangan keuangan antara pusat dan daerah melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun
1999 tentang Pemerintahan Daerah (selanjutnya ditulis dengan UU No. 22 Tahun 1999), dan
kemudian dirubah dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintah
Daerah. Sehingga tidak berlebihan bila fenomena yang disebut terakhir dapat diartikulasi
sebagai sebuah kecenderungan yang menjanjikan sejumlah harapan dan sekaligus tantangan
bagi pemerintah daerah, khususnya daerah kabupaten/kota.
Dikatakan sebagai harapan yang menjanjikan bagi pemerintah daerah, karena dengan
ditetapkannya UU Pemerintahan Daerah, maka akan terjadi perluasan wewenang pemerintah
daerah kabupaten/Kota, dan akan tercipta peningkatan kemampuan keuangan daerah. Secara
teorotis, kehadiran undang-undang tersebut cukup menjanjikan bagi terwujudnya local

accountability, yakni meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam memperhatikan


hak-hak dari komunitasnya.
Sebenarnya, kebijakan otonomi daerah dasar-dasarnya telah diletakkan jauh sebelum
terjadinya krisis nasional yang diikuti dengan gelombang reformasi besar-besaran di
Indonesia. Namun, perumusan kebijakan otonomi daerah itu masih bersifat setengahsetengah dan dilakukan tahap demi tahap yang sangat lamban. Setelah terjadinya reformasi
yang disertai pula oleh gelombang tuntutan ketidakpuasan masyarakat di berbagai daerah
mengenai pola hubungan antara pusat dan daerah yang dirasakan tidak adil, maka tidak ada
jalan lain kecuali mempercepat pelaksanaan kebijakan otonomi daerah itu, dan bahkan
dengan skala yang sangat luas yang diletakkan di atas landasan konstitusional dan
operasional yang lebih radikal.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II51

Naskah Akademik

RTRW

Sekarang, berdasarkan ketentuan UUD Negara Republik Indonesia 1945 yang telah
diperbarui, sistem pemerintahan telah memberikan keleluasaan yang sangat luas kepada
daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Penyelenggaraan otonomi daerah
menekankan pentingnya prinsip-prinsip demokrasi, peningkatan peranserta masyarakat, dan
pemerataan keadilan dengan memperhitungkan berbagai aspek yang berkenaan dengan
potensi dan keanekaragaman antar daerah. Pelaksanaan otonomi daerah ini dianggap sangat
penting, karena tantangan perkembangan lokal, nasional, regional, dan internasional di
berbagai bidang ekonomi, politik dan kebudayaan terus meningkat dan mengharuskan
diselenggarakannya otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab kepada daerah
secara proporsional. Pelaksanaan otonomi daerah itu diwujudkan dengan pengaturan,
pembagian, dan pemanfaatan sumberdaya masingmasing serta perimbangan keuangan pusat
dan daerah, sesuai prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan
keadilan, serta potensi dan keanekaragaman antar daerah.
Kebijakan nasional mengenai otonomi daerah dan pemerintahan daerah ini, telah
dituangkan dalam bentuk UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang
menggantikan UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dengan ditetapkannya
UU ini, maka UU yang mengatur materi yang sama yang ada sebelumnya dan dianggap tidak
sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan, dinyatakan tidak berlaku lagi. Undang-Undang
yang dinyatakan tidak berlaku lagi itu adalah Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang
Pemerintahan Derah yang sebelunnya menyatakan tidak berlakunya Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974
No. 38 dan Tambahan Lembaran Negara Tahun 1974 No.3037), Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (LN Tahun 1979 No. 56 dan TLN Tahun 1979
No.3153).
Untuk memperkuat kebijakan otonomi daerah itu, dalam Sidang Tahunan MPR tahun
2000 telah pula ditetapkan Ketetapan MPR No.IV/MPR/2000 tentang Kebijakan dalam
Penyelenggaran Otonomi Daerah yang antara lain merekomendasikan bahwa prinsip otonomi
daerah itu harus dilaksanakan dengan menekankan pentingnya kemandirian dan keprakarsaan
dari daerah-daerah-daerah otonom untuk menyelenggarakan otonomi daerah tanpa harus
terlebih dulu menunggu petunjuk dan pengaturan dari pemerintahan pusat. Bahkan, kebijakan
nasional otonomi daerah ini telah dikukuhkan pula dalam materi perubahan Pasal 18 UUD
1945. Dalam keseluruhan perangkat perundang-undangan yang mengatur kebijkan otonomi
daerah itu, dapat ditemukan beberapa prinsip dasar yang dapat dijadikan paradigma
pemikiran dalam menelaah mengenai berbagai kemungkinan yang akan terjadi di daerah,
terutama dalam hubungannya dengan kegiatan investasi dan upaya mendorong tumbuhnya
roda kegiatan ekonomi dalam masyarakat di daerah-daerah. Meski demikian, perlu disadari
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II52

Naskah Akademik

RTRW

bahwa tujuan ideal desentralisasi dan otonomi daerah tidak dengan serta merta dapat dicapai
hanya dengan kehadiran undang-undang tersebut. Untuk mencapai atau paling tidak
mendekati tujuan tersebut, sedikitnya ada tiga persoalan mendasar yang perlu mendapat
perhatian khusus dalam waktu dekat yaitu 5 :
(1) political commitment dari pemerintah pusat dan political will dari pemerintah daerah
itu sendiri untuk menata kembali hubungan kekuasaan pusat-daerah.
(2) Pengaturan hubungan keuangan pusat-daerah yang lebih didasari oleh ``itikad``
untuk memperkuat kemampuan keuangan daerah (bukan sebaliknya), dan ;
(3) Perubahan perilaku elite lokal dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Sedikitnya ada dua segi yang harus diperhatikan dalam penentuan arah kebijakan
otonomi daerah. Pertama, adalah segi manusia yang terkait dengan kebijakan ini, di
antaranya, elite politik pusat dan daerah. Kedua, segi Undang-Undang, yaitu UU No. 22 Tahun
1999 yang kini telah diganti dengan undang-undang nomor 32 tahun 2004. Dalam penentuan
arah kebijakan otonomi daerah terdapat satu hal yang sepatutnya dihindari oleh elite politik
pusat, yaitu, hasrat untuk memusatkan kembali kekuasaan. Pada era Orde Baru, sentralisme
kekuasaan sangat jelas terlihat, dan sangat menguntungkan elite pusat namun merugikan
bagi daerah. Rezim Orde Baru sering kali memakai alasan bahwa dilakukannya pemusatan
kekuasaan tersebut adalah untuk mempertahankan stabilitas politik dan menjaga keutuhan
bangsa. Yang sebenarnya terjadi ketika itu adalah ketidakadilan yang diterima daerah.
Sepatutnya pemerintahan sekarang tidak berusaha untuk mengulang kesalahan
tersebut. Kenyataan bahwa selama ini pola hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan
daerah di Indonesia cenderung sentralistik adalah sesuatu yang sulit untuk disangkal. Kendati
kebijaksanaan

desentralisasi

dan

otonomi

daerah

telah

diterapkan

semenjak

awal

kemerdekaan, namun wewenang yang diserahkan kepada daerah sangat dibatasi, baik jumlah
maupun ruang lingkupnya. Otonomi Daerah, sebagai salah satu bentuk asas desentralisasi
pemerintahan, pada hakekatnya ditujukan untuk memenuhi kepentingan bangsa secara
keseluruhan, yaitu upaya untuk mendekati tujuan-tujuan penyelenggaraan pemerintahan
untuk mewujudkan cita-cita masyarakat yang lebih baik dan lebih makmur.
Penyelenggaraan asas desentralisasi menghasilkan Daerah Otonom, sedangkan
urusan diserahkan kepada Daerah Otonom yang menjadi hak atau wewenangnya disebut
Otonomi Daerah atau otonomi saja. Otonomi Daerah atau otonomi berasal dari bahasa
Yunani, yaitu auto yang berarti sendiri dan nomes yang berarti pemerintah. Jadi, otonomi
artinya pemerintahan sendiri.
5

Syarif Hidayat, Persoalan Mendasar Implementasi Otonomi Daerah, Harian Umum Media Indonesia tanggal 23
Februari 2000.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II53

Naskah Akademik

RTRW

Dalam kesempatan lain, Bagir Manan mendefinisikan otonomi sebagai berikut 6 29:
kebebasan dan kemandirian (vrijheid dan zelfstandingheid) satuan pemerintahan lebih
rendah untuk mengatur dan mengurus sebagian urusan pemerintahan. Urusan pemerintahan
yang boleh diatur dan diurus secara bebas dan mandiri itu menjadi atau merupakan urusan
rumah tangga satuan pemerintahan yang lebih rendah tersebut. Kebebasan dan kemandirian
merupakan hakekat isi otonomi. Lebih lanjut, Bagir Manan mengatakan: Kebebasan dan
kemandirian

dalam

otonomi

bukan

kemerdekaan

(onafhankelijkheid

indefendency).

Kebebasan dan kemandirian itu adalah dalam ikatan kesatuan yang lebih besar.
Dari pemahaman tentang otonomi daerah tersebut, maka pada hakekatnya otonomi
daerah adalah:
1. Hak mengurus rumah tangga sendiri bagi suatu daerah otonomi, hak tersebut bersumber
dari wewenang pangkal dan urusan-urusan pemerintah (pusat) yang diserahkan kepada
daerah. Istilah sendiri dalam hak mengatur dan mengurus rumah tangga merupakan inti
keotonomian suatu daerah: penetapan kebijaksanaan sendiri, pelaksanaan sendiri, serta
pembiayaan dan pertanggungjawaban daerah sendiri, maka hak itu dikembalikan pada
pihak yang memberi, dan berubah kembali menjadi urusan pemerintah (pusat);
2. Dalam kebebasan menjalankan hak mengurus dan mengatur rumah tangga sendiri,
daerah dapat menjalankan hak dan wewenang otonominya itu di luar batas-batas wilayah
daerahnya;
3. Daerah tidak boleh mencampuri hak mengatur dan mengurus rumah tangga daerah lain
sesuai dengan wewenang pangkal dan urusan yang disediakan kepadanya;
4. Otonomi tidak membawahi otonomi daerah lain, hak mengatur dan mengurus rumah
tangga sendiri tidak merupakan subordinasi hak mengatur dan mengurus rumah tangga
daerah lain.
Sebenarnya otonomi adalah segala tugas yang ada pada daerah atau dalam kata lain
apa yang harus dikerjakan oleh Pemerintah Daerah. Adapun tugas daerah itu dalam
kewenangan implisit dimana di dalamnya adalah kekuasaan, hak atau kewajiban yang
diberikan kepada daerah dalam menjalankan tugasnya. Sehingga daerah akan memiliki
sejumlah urusan pemerintahan, baik atas dasar penyerahan atau pengakuan ataupun yang
dibiarkan sebagai urusan rumah tangga.
Seiring dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan daerah maka serentak diseluruh tanah air terjadi penyerahan sebagian
kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah dearah. Baik kepada pemerintah provinsi
6

Bagir Manan, Hubungan Antara Pusat dan Daerah Berdasarkan Asas Desentralisasi Menurut UUD 1945, disertasi,
Bandung,: UNPAD, 1990, hal 8.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II54

Naskah Akademik

RTRW

maupun pemerintah kabupaten/kota. Termasuk didalamnya adalah urusan Pemerintahan


Daerah. Dalam waktu sesingkat-singkatnya semua berusaha beradaptasi dengan sistem
pemerintahan yang baru, perbagai potensi disiapkan guna menerima, menjalankan dan
mengoptimalkan sistem otonomi daerah di wilayah termasuk diantaranya adalah mengenai
urusan perijinan di Daerah secara langsung guna meningkatkan tingkat kesejahteraan
masyarakat.
2.10. Praktek Empiris
Pemanfaatan lahan sangat dipengaruhi oleh tuntutan pelaku pasar, berkembang pesat
dan sebagian besar menerobos ke dalam fungsi lahan kegiatan lain. Akibatnya muncul
fenomena perubahan pemanfaatan lahan yang sering kali menimbulkan dampak negatif
terhadap lingkungan dan transportasi. Oleh karena itu diperlukan upaya pengendalian
pemanfaatan lahan yang dirumuskan berdasarkan pola perkembangan pemanfaatan lahan
dan kesesuaiannya dengan tata ruang (Susanti, 2004).
Untuk mengendalikan pemanfaatan ruang telah diatur dengan kebijakan dalam
penyusunan RTRW melalui mekanisme pengendalian, dimana dalam mekanisme tersebut
terdapat kegiatan pengawasan dan penertiban. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk
mengawal berjalannya RTRW secara konsisten. Sedangkan instrumen yang digunakan adalah
melalui mekanisme perizinan pemanfaatan ruang seperti izin prinsip, izin lokasi dan perizinan
lain yang berhubungan dengan pemanfaatan ruang.
Pemerintah Kabupaten Kayong Utara dan masyarakatnya saat ini sedang giat-giatnya
melakukan pembangunan dalam berbagai aspek. Dalam usaha meningkatkan kepastian
hukum serta meningkatkan keamanan masyarakat dalam memanfaatkan ruang serta
keleluasaan dalam menjadalankan investasi. Adapun beberapa kendala yang dihadapi dalam
pelaksanaan penyelenggaraan penataan ruang adalah sebagai berikut:

Belum terbentuknya perangkat hukum yang mengatur mengenai penataan ruang


wilayah kabupaten serta kebijakan-kebijakan yang berupa aturan pelaksana lainnya
yang merupakan turunan dari kebijakan tata ruang Kabupaten

Terbatasnya pengetahuan masyarakat akan penataan ruang dan pemanfaatan ruang


serta pengendalian pemanfaatan ruang

Untuk mencapai hal tersebut beberapa hal yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

Menyusun aturan-aturan pelaksana terkait seperti Rencana Tata Ruang Wilayah


Ibukota Kabupaten atau Ibukota Kecamatan, Rencana Detail Tata Ruang dan
Peraturan Zonasi dan Rencana-rencana Kawasan Strategis

Melakukan Sosialisasi kegiatan penataan ruang baik tingkat kota maupun wilayah

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II55

Naskah Akademik

RTRW

Membuat iklan-iklan baik berupa Baliho maupun pada media massa mengenai
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

II56

Naskah Akademik

RTRW

BAB 3
EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN
PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT
Bab ini memuat hasil kajian terhadap Peraturan Perundangundangan terkait yang memuat
kondisi hukum yang ada, keterkaitan Undang-Undang dan Peraturan Daerah baru dengan
Peraturan Perundang-undangan lain, harmonisasi secara vertikal dan horizontal, serta status
dari Peraturan Perundang-undangan yang ada, termasuk Peraturan Perundang-undangan
yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku serta Peraturan Perundang-undangan yang masih
tetap berlaku karena tidak bertentangan dengan Undang-Undang atau Peraturan Daerah yang
baru. Kajian terhadap Peraturan Perundang-undangan ini dimaksudkan untuk mengetahui
kondisi hukum atau peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai substansi atau
materi yang akan diatur. Dalam kajian ini akan diketahui posisi dari Undang-Undang atau
Peraturan Daerah yang baru. Analisis ini dapat menggambarkan tingkat sinkronisasi,
harmonisasi Peraturan Perundang-undangan yang ada serta posisi dari Undang-Undang dan
Peraturan Daerah untuk menghindari terjadinya tumpang tindih pengaturan. Hasil dari
penjelasan atau uraian ini menjadi bahan bagi penyusunan landasan filosofis dan yuridis dari
pembentukan

Undang-Undang,

Peraturan

Daerah

Provinsi,

atau

Peraturan

Daerah

Kabupaten/Kota yang akan dibentuk.


3.1.

Penyelenggaraan Pemerintah Daerah

Pelaksanaan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004
telah membawa harapan baru bagi penyelenggaraan kepemerintahan daerah, khususnya
setelah bergulirnya era reformasi dan dilaksanakannya UU No. 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah. Adapun kebijakan yang mengatur mengenai Pemerintah Daerah
diantaranya adalah sebagai berikut:

Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang Kewenangan Pengaturan,


Pembinaan dan Pengembangan ;

Peraturan

Pemerintah

Nomor

38

Tahun

2007

tentang

Pembagian

Urusan

Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah daerah Provinsi, dan Pemerintahan


Daerah Kabupaten/Kota;

Peraturan Presiden No 36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan


Pembangunan untuk Kepentingan Umum

Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu;

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III1

Naskah Akademik

RTRW

Perubahan kebijakan dari UU No. 22 Tahun 1999 ke UU No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah telah membawa perubahan paradigma penyelenggaraan otonomi
daerah, antara lain dalam pengelolaan pengaruh/titik singgung lingkungan (ekologi),
pemberian kewenangan yang berubah menjadi pemberian urusan pemerintahan, adanya
urusan wajib dan urusan pilihan, pengaturan pemilihan kepala daerah dan wakilnya (Pilkada)
Langsung, kedudukan DPRD, perubahan dalam pengaturan perencanaan daerah, pengaturan
keuangan daerah, kelembagaan daerah, dan sebagainya.
Dalam hal perencanaan daerah dapat disimpulkan bahwa kegiatan perencanaan yang
dilakukan oleh daerah senantiasa memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku, yakni
UU No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Sebagian besar
daerah kajian telah melakukan penyusunan dokumen rencana berdasarkan UU No. 26 Tahun
2007 tersebut.
Sebagai acuan dasar bagi pembentukan peraturan daerah, Undang-undang no 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pembentukan peraturan perundangan daerah yaitu :
1. Peraturan Daerah dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas
pembantuan;
2. Peraturan

Daerah

dibentuk

untuk

menjabarkan

lebih

lanjut

dari

peraturan

perundangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan cirri khas daerah;


3. Peraturan Daerah yang dibentuk dilarang bertentangan dengan kepentingan umum
dan atau peraturan perundangan yang lebih tinggi;
4. Peraturan

Daerah

dibentuk

berdasarkan

pada

asas

pembentukan

peraturan

perundang-undangan yang meliputi kejelasan tujuan, kelembagaan atau organ


pembentuk yang tepat, kesesuaian antara jenis dan materi muatan, dapat
dilaksanakan,

kedayagunaan

dan

keberhasilgunaan,

kejelasan

rumusan

dan

keterbukaan;
3.2.

Penataan Ruang dan Penggunaan Lahan

3.2.1. Penataan Ruang


Adapun kebijakan yang mengatur mengenai Penataan Ruang adalah sebagai berikut:

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor

25

Tahun 2004 Tentang Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional.

Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III2

Naskah Akademik

RTRW

Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional;

Permen PU No. 16 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penyusunan RTRW Kabupaten

Peraturan

Pemerintah

Republik

Indonesia

No.

15

tahun

2010

tentang

Penyelenggaraan Penataan Ruang


Penyelenggaraan penataan ruang berdasarkan Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman,
nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan
Nasional dengan:
a. terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;
b. terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya
buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan
c. terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap
lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Penataan ruang diklasifikasikan berdasarkan sistem, fungsi utama kawasan, wilayah
administratif, kegiatan kawasan, dan nilai strategis kawasan dijelaskan sebagai berikut:
1. Penataan ruang berdasarkan sistem terdiri atas sistem wilayah dan sistem internal
perkotaan.
2. Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan terdiri atas kawasan lindung dan
kawasan budi daya.
3. Penataan ruang berdasarkan wilayah administrative terdiri atas penataan ruang
wilayah nasional, penataan ruang wilayah provinsi, dan penataan ruang wilayah
kabupaten/kota.
4. Penataan ruang berdasarkan kegiatan kawasan terdiri atas penataan ruang kawasan
perkotaan dan penataan ruang kawasan perdesaan.
5. Penataan ruang berdasarkan nilai strategis kawasan terdiri atas penataan ruang
kawasan strategis nasional, penataan ruang kawasan strategis provinsi, dan penataan
ruang kawasan strategis kabupaten/kota.
3.2.2. Penggunaan Lahan
Dalam proses penataan ruang, pergeseran fungsi lahan hampir mustahil untuk dihindarkan.
Pergeseran fungsi lahan yang berlangsung pesat di berbagai daerah memanifestasikan
perbenturan antar kepentingan yang berbeda dan sering mengemuka sebagai isyu ketataruang-an. Penataan ruang merupakan proses yang meliputi perencanaan, pemanfaatan

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III3

Naskah Akademik

RTRW

dan pengendalian pemanfaatan ruang. Oleh karena itu, pengendalian pemanfaatan ruang
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses penataan ruang.
Pemanfaatan ruang di banyak daerah di Indonesia, dalam pelaksanaannya sering atau tidak
selalu sejalan dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Ketidaksesuaian atau
pelanggaran tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara lain, tekanan perkembangan
pasar terhadap ruang, belum jelasnya mekanisme pengendalian dan lemahnya penegakan
hukum (law enforcement). Kecenderungan penyimpangan tersebut dapat terjadi karena
produk rencana tata ruang kurang memperhatikan aspek-aspek pelaksanaan (pemanfaatan
ruang) atau sebaliknya bahwa pemanfaatan ruang kurang memperhatikan rencana tata ruang.
Syahid, (2003) mengatakan, pengendalian pemanfaatan ruang pada saat ini tidak efisien dan
efektif, karena instrumen perizinan yang merupakan langkah awal dalam pengendalian
pemanfaatan ruang seringkali saling bertentangan dan bahkan melanggar rencana tata ruang
yang ada. Disisi lain, meningkatnya kegiatan pembangunan berakibat pada kebutuhan akan
lahan bertambah, hal ini berakibat alokasi peruntukan lahan yang telah ditetapkan dalam
rencana tata ruang tidak lagi mampu mengakomodasi perkembangan yang terjadi, sehingga
terjadi pelanggaran-pelanggaran tersebut.
Adapun kebijakan yang mengatur mengenai Penggunaan Lahan adalah sebagai berikut:

Undang Undang No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria

Undang Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan

Undang Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Kawasan Pesisir dan


Pulau-Pulau Kecil.

Undang Undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan

Undang Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan

Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup

Undang Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian


Pangan Berkelanjutan

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Perumahan Dan Kawasan Permukiman

Peraturan Pemerintah No 16 Tahun 2004 Tentang Penatagunaan Tanah

Peraturan Pemerintah No 24 Tahun 2009 Tentang Kawasan Industri

Keputusan Presiden No 33 Tahun 1990 tentang Penggunaan Tanah bagi Kawasan


Industri

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III4

Naskah Akademik

RTRW

Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Negara Nomor ; 2


Tahun 1999 tentang Izin Lokasi.

Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan

Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan

Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 Tentang Tata Hutan Dan Penyusunan
Rencana Pengelolaan Hutan, Serta Pemanfaatan Hutan

Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2008 tentang Rehabilitasi dan Reklamasi


Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 201, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4947);

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Tata Cara
Perubahan Peruntukan Dan Fungsi Kawasan Hutan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan


Kawasan Hutan

Didalam UU No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria dijelaskan bahwa
Hak menguasai dari Negara adalah memberi wewenang untuk :
a. mengatur

dan

menyelenggarakan

peruntukan,

penggunaan,

persediaan

dan

pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa tersebut;


b. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dengan
bumi, air dan ruang angkasa,
c. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan
perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi, air dan ruang angkasa.
Wewenang yang bersumber pada hak menguasai dari Negara tersebut digunakan untuk
mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat, dalam arti kebahagiaan, kesejahteraan dan
kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara hukum Indonesia yang merdeka berdaulat, adil
dan makmur.
Hak-hak atas tanah sebagai yang dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) UU No 5 Tahun 1960
tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria ialah:
a. hak milik,
b. hak guna-usaha,
c. hak guna-bangunan,
d. hak pakai,
e. hak sewa,
f.

hak membuka tanah,

g. hak memungut-hasil hutan,


RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III5

Naskah Akademik

RTRW

h. hak-hak lain yang tidak termasuk dalam hak-hak tersebut diatas yang akan ditetapkan
dengan Undang-undang serta hakhak yang sifatnya sementara sebagai yang
disebutkan dalam pasal 53.
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam
hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan
lainnya tidak dapat dipisahkan. Sedangkan

Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang

ditunjuk dan/atau ditetapkan oleh Pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai


hutan tetap. Hutan dikelompokkan sebagai berikut:
a. Hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai
fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya.
b. Kawasan hutan suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai
fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa
serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah system penyangga
kehidupan.
c. Kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan cirri khas tertentu, yang
mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan
keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber
daya alam hayati dan ekosistemnya.
d. Taman buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat wisata berburu.
e. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai
perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir,
mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.
f.

Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi
hasil hutan.

g. Hutan Produksi Tetap adalah kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng, jenis
tanah, dan intensitas hujan setelah masing-masing dikalikan dengan angka penimbang
mempunyai jumlah nilai di bawah 125, di luar kawasan hutan lindung, hutan suaka
alam, hutan pelestarian alam, dan taman buru.
h. Hutan Produksi Terbatas adalah kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng,
jenis tanah, dan intensitas hujan setelah masing-masing dikalikan dengan angka
penimbang mempunyai jumlah nilai antara 125-174, di luar kawasan hutan lindung,
hutan suaka alam, hutan pelestarian alam, dan taman buru.
i.

Hutan Produksi yang dapat dikonversi adalah kawasan hutan yang secara ruang
dicadangkan untuk digunakan bagi pembangunan di luar kegiatan kehutanan.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III6

Naskah Akademik
j.

RTRW

Hutan Tetap adalah kawasan hutan yang akan dipertahankan keberadaannya sebagai
kawasan hutan, terdiri dari hutan konservasi, hutan lindung, hutan produksi terbatas,
dan hutan produksi tetap.

3.3.

Sumber Daya Alam dan Penanggulangan Bencana

Adapun kebijakan yang mengatur mengenai Pemanfaatan Sumber Daya Alam adalah sebagai
berikut:
3.3.1. Sumber Daya Alam

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya

Undang Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Bahan Galian

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63/PRT/1993 tentang Garis Sempadan dan
Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai dan Bekas Sungai;

Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai

Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1991 tentang Rawa

Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan

Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah

Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan

3.3.2. Penanggulangan Bencana


Adapun beberapa kebijakan yang mengatur mengenai penanggulangan bencana
adalah sebagai berikut

Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Kawasan Lindung

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan


Bencana

Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan


Lingkungan Hidup
Bencana

adalah

peristiwa

atau

rangkaian

peristiwa

yang

mengancam

dan

mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam
dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban
jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana
dikategorikan sebagai berikut:
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III7

Naskah Akademik

RTRW

a. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami,
gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah langsor.
b. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian
peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi,
epidemi, dan wabah penyakit.
c. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok
atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi
penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan
bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.
Prinsip-prinsip dalam penanggulangan bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, yaitu:
a. cepat dan tepat;

f.

kemitraan;

b. prioritas;

g. pemberdayaan;

c. koordinasi dan keterpaduan;

h. nondiskriminatif; dan

d. berdaya guna dan berhasil guna;

i.

nonproletisi.

e. transparansi dan akuntabilitas;


Penanggulangan bencana bertujuan untuk:
a. memberikan pelindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana;
b. menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang sudah ada;
c. menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu,
terkoordinasi, dan menyeluruh;
d. menghargai budaya lokal;
e. membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta;
f.

mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan, dan kedermawanan; dan

g. menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.


Tanggung jawab Pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi:
a. pengurangan risiko bencana dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan
program pembangunan;
b. pelindungan masyarakat dari dampak bencana;
c. penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara
adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum;
d. pemulihan kondisi dari dampak bencana;
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III8

Naskah Akademik

RTRW

e. pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam anggaran pendapatan dan


belanja negara yang memadai;
f.

pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai; dan

g. pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana.

3.4.

Infrastruktur

Adapun beberapa kebijakan yang mengatur mengenai infrastruktur adalah sebagai berikut

Undang Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi

Undang Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan;

Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi

Undang Undang Nomor No 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah

Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

Undang Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan

Peraturan Pemerintah No 69 Tahun 2001 Tetang Kepelabuhan

Peraturan Pemerintah No 07 Tahun 2001 Tentang Kebandarudaraan

Peraturan Pemerintan No 34 Tahun 2006 Tentang Jalan

Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan
Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur;

Peraturan Menteri Komunikasi Dan Informatika Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Pedoman
Pembangunan Dan Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi

3.4.1. Jaringan Jalan dan Sempadan Jalan


Struktur jaringan jalan meliputi jaringan jalan arteri primer, arteri sekunder, kolektor
primer, dan kolektor sekunder dan lokal primer. Jaringan jalan sebagai prasarana transportasi
darat yang paling utama untuk ditinjau dalam penentuan lokasi dan sempadan bangunan.
Klasifikasi fungsi jalan berdasarkan UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan dan PP Nomor 34
Tahun 2006 tentang Jalan adalah sebagai berikut:
1. Sistem jaringan jalan primer disusun mengikuti rancana tata ruang dan memperhatikan

keterhubungan antar kawasan perkotaan yang merupakan pusat-pusat kegiatan sebagai


berikut;
a. Menghubungkan secara terus menerus PKN (pusat kegiatan nasional), PKW (pusat
kegiatan wilayah), PKL (pusat kegiatan lokal) sampai ke PK-Ling (pusat kegiatan
lingkungan),
b. Menghubungkan antar-PKN.
2. Kawasan yang mempunyai fungsi primer adalah kawasan perkotaan yang mempunyai

fungsi pelayanan, baik untuk kawasan perkotaan maupun untuk wilayah di luarnya.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III9

Naskah Akademik

RTRW

3. Kawasan yang mempunyai fungsi sekunder adalah kawasan perkotaan yang mempunyai

fungsi pelayanan hanya dalam wilayah kawasan perkotaan yang bersangkutan.


4. Kawasan fungsi sekunder kesatu adalah kawasan perkotaan yang mempunyai fungsi

pelayanan seluruh wilayah kawasan perkotaan yang bersangkutan.


5. Kawasan fungsi sekunder kedua adalah kawasan perkotaan yang mempunyai fungsi

pelayanan yang merupakan bagian dari pelayanan kawasan fungsi sekunder kesatu.
6. Kawasan fungsi sekunder ketiga adalah kawasan perkotaan yang mempunyai fungsi

pelayanan yang merupakan bagian dari pelayanan


Berdasarkan UU nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan dan PP nomor 34 tahun 2006
tentang jalan, maka desain teknis jalan yang sesuai dengan fungsinya harus memenuhi
syarat-syarat antara lain sebagai berikut:
a. Bagian-bagian jalan terdiri dari Ruang Manfaat Jalan (Rumaja), Ruang Milik Jalan (Rumija)
dan Ruang Pengawasan Jalan (Ruwasja). Yang dimaksud dengan Rumaja adalah suatu
ruang yang dimanfaatkan untuk konstruksi jalan dan terdiri atas badan jalan, saluran tepi
jalan, serta ambang pengamanannya. Rumija adalah sejalur tanah tertentu diluar ruang
manfaat jalan yang masih menjadi bagian dari ruang milik jalan yang dibatasi oleh tanda
batas Rumija untuk memenuhi persyaratan keleluasaan keamanan jalan. Sedangkan
Ruwasja adalah ruang tertentu yang terletak diluar Rumija yang penggunaannya diawasi
oleh penyelenggara jalan agar tidak mengganggu pandangan pengemudi.
b. Jalan arteri primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 60 km/jam dan
dengan lebar jalan tidak kurang dari 8 meter, lebar badan jalan paling sedikit 11 meter
dengan Ruwasja tidak kurang dari 15 meter.
c. Jalan kolektor primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 40 km/jam
dan dengan lebar jalan tidak kurang dari 7 meter, dengan lebar badan jalan paling sedikit
9 meter dengan Ruwasja tidak kurang dari 10 meter.
d. Jalan lokal primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 20 km/jam dan
dengan lebar jalan tidak kurang dari 6 meter, dengan lebar badan jalan paling sedikit 7,5
meter dengan Ruwasja tidak kurang dari 7 meter.
e. Jalan lingkungan primer didesain berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 15
km/jam dan dengan lebar badan jalan paling sedikit 7,5 meter dengan Ruwasja tidak
kurang dari 5 meter.
f.

Jalan lingkungan primer yang tidak diperuntukkan bagi kendaraan beroda tiga atau lebih
didesain dengan kecepatan rencana paling rendah 15 km/jam dan dengan lebar jalan
tidak kurang dari 3,5 meter serta Ruwasja tidak kurang dari 4 meter.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III10

Naskah Akademik

RTRW

g. Jalan arteri sekunder didesain dengan Kecepatan rencana paling rendah 30 (tiga puluh)
kilometer per jam dengan lebar badan jalan paling sedikit 11 (sebelas) meter dengan
Ruwasja paling sedikit 15 (lima belas) meter;
h. Jalan kolektor sekunder didesain dengan Kecepatan rencana paling rendah 20 (dua puluh)
kilometer per jam dengan lebar badan jalan paling sedikit 9 (sembilan) meter dengan
Ruwasja paling sedikit 5 (lima) meter;
i.

Jalan lokal sekunder didesain dengan kecepatan rencana paling rendah 10 (sepuluh)
kilometer per jam dengan lebar badan jalan paling sedikit 7,5 (tujuh koma lima) meter
dengan Ruwasja paling sedikit 3 (tiga) meter;

j.

Jalan lingkungan sekunder didesain dengan

kecepatan rencana paling rendah 10

(sepuluh) kilometer per jam dengan lebar badan jalan paling sedikit 6,5 (enam koma lima)
meter dengan Ruwasja paling sedikit 2 (dua) meter.
TABEL 3.1
Standar Ruang Jalan dan Garis Sempadan Jalan

No

FUNGSI JALAN

Badan
Jalan
(Minimal)
(m)

A. ARTERI PRIMER

Diukur dari As Jalan (m)

Garis Sempadan

Diukur dari Tepi


Badan Jalan (m)

Pagar (dari
as Jalan)

Bangunan (dari
pagar-teritis)

Rumaja

Rumija

Ruwasja

(m)

(m)

5,50

12,50

15,00

12,50

8,00

5,50

12,50

15,00

12,50

8,00

11,00

1. Perumahan (rumah tinggal)


2. Pemanfaatan Lalu Lintas di Luar
Pusat Kegiatan
B. KOLEKTOR PRIMER DAN SEKUNDER

Ruang Jalan Minimal

9,00

1. Perumahan (rumah tinggal)

4,50

12,50

10 (P); 5 (S)

12,50

7,00

2. Kegiatan Usaha

4,50

12,50

10 (P); 5 (S)

12,50

7,00

4,50

12,50

10 (P); 5 (S)

12,50

7,00

3. Pendidikan
C. LOKAL PRIMER DAN SEKUNDER

7,50

1. Perumahan (rumah tinggal)


2. Kegiatan Usaha
3. Pendidikan
D. LINGKUNGAN

4,50

7,50

7 (P); 3 (S)

7,50

3,25

4,50

7,50

7 (P); 3 (S)

7,50

3,25

4,50

7,50

7 (P); 3 (S)

7,50

3,25

6,50

1. Perumahan (rumah tinggal)

2,75

5,50

5 (P); 2 (S)

5,50

2,25

2. Kegiatan Usaha

2,75

5,50

5 (P); 2 (S)

5,50

2,25

3. Pendidikan

2,75

5,50

5 (P); 2 (S)

5,50

2,25

Sumber: UU nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan dan PP nomor 34 tahun 2006 tentang jalan
Keterangan : P : Primer, S : Sekunder

3.4.2. Kepelabuhan
Pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan
batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang
dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan/atau
bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan
penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.
Kepelabuhanan meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan penyelenggaraan
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III11

Naskah Akademik

RTRW

pelabuhan dan kegiatan lainnya dalam melaksanakan fungsi pelabuhan untuk menunjang
kelancaran, keamanan dan ketertiban arus lalu lintas kapal, penumpang dan/atau barang,
keselamatan berlayar, tempat perpindahan intra dan/atau antar moda serta mendorong
perekonomian nasional dan daerah.
Adapun Klasifikasi pelabuhan adalah sebagai berikut:
1. Pelabuhan menurut kegiatannya terdiri dari pelabuhan yang melayani kegiatan :
a. angkutan laut yang selanjutnya disebut pelabuhan laut;
b. angkutan sungai dan danau yang selanjutnya disebut pelabuhan sungai dan danau;
c. angkutan penyeberangan yang selanjutnya disebut pelabuhan penyeberangan.
2. Pelabuhan menurut perannya merupakan :
a. simpul dalam jaringan transportasi sesuai dengan hirarkinya;
b. pintu gerbang kegiatan perekonomian daerah, nasional dan internasional;
c. tempat kegiatan alih moda transportasi;
d. penunjang kegiatan industri dan perdagangan;
e. tempat distribusi, konsolidasi dan produksi.
2. Pelabuhan menurut fungsinya diarahkan pada pelayanan :
a. kegiatan pemerintahan;
b. kegiatan jasa kepelabuhanan;
c. kegiatan jasa kawasan;
d. kegiatan penunjang kepelabuhanan.
3. Pelabuhan menurut klasifikasinya ditetapkan dengan memperhatikan :
a. fasilitas pelabuhan;
b. operasional pelabuhan;
c. peran dan fungsi pelabuhan.
5. Pelabuhan menurut jenisnya terdiri dari :
a. pelabuhan umum yang digunakan untuk melayani kepentingan umum;
b. pelabuhan khusus yang digunakan untuk kepentingan sendiri guna menunjang
kegiatan tertentu.
Adapun Hirarki pelabuhan adalah sebagai berikut:
1. Hirarki peran dan fungsi pelabuhan laut, terdiri dari:
a. pelabuhan internasional hub merupakan pelabuhan utama primer;
b. pelabuhan internasional merupakan pelabuhan utama sekunder;
c. pelabuhan nasional merupakan pelabuhan utama tersier;
d. pelabuhan regional merupakan pelabuhan pengumpan primer;
e. pelabuhan lokal merupakan pelabuhan pengumpan sekunder.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III12

Naskah Akademik

RTRW

2. Hirarki peran dan fungsi pelabuhan penyeberangan terdiri dari :


a. pelabuhan penyeberangan lintas Propinsi dan antar Negara;
b. pelabuhan penyeberangan lintas Kabupaten/Kota;
c. pelabuhan penyeberangan lintas dalam Kabupaten/Kota.
3. Hirarki peran dan fungsi pelabuhan khusus terdiri dari :
a. pelabuhan khusus nasional/internasional;
b. pelabuhan khusus regional;
c. pelabuhan khusus lokal.
Adapun spesifikasi teknis untuk pelabuhan adalah sebagai berikut:
(1) Pelabuhan khusus nasional/internasional ditetapkan dengan kriteria :
a. bobot kapal 3000 DWT atau lebih;
b. panjang dermaga 70 M' atau lebih;
c. kedalaman di depan dermaga - 5 M LWS atau lebih;
d. menangani pelayanan barang-barang berbahaya dan beracun (B3);
e. melayani kegiatan pelayanan lintas Propinsi dan Internasional.
(2) Pelabuhan khusus regional ditetapkan dengan kriteria :
a. bobot kapal lebih dari 1000 DWT dan kurang dari 3000 DWT;
b. panjang dermaga kurang dari 70 M', konstruksi beton/baja;
c. kedalaman di depan dermaga kurang dari - 5 M LWS;
d. tidak menangani pelayanan barang-barang berbahaya dan beracun (B3);
e. melayani kegiatan pelayanan lintas Kabupaten/Kota dalam satu propinsi.
(3) Pelabuhan khusus lokal ditetapkan dengan kriteria :
a. bobot kapal kurang dari 1000 DWT;
b. panjang dermaga kurang dari 50 M' dengan konstruksi kayu;
c. kedalaman di depan dermaga kurang dari - 4 M LWS;
d. tidak menangani pelayanan barang berbahaya dan beracun (B3);
e. melayani kegiatan pelayanan lintas dalam satu Kabupaten/Kota.
3.4.3. Bandar Udara
Bandar Udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas
landas pesawat udara, naik turun penumpang, dan/atau bongkar muat kargo dan/atau pos,
serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan
antar moda transportasi. Kebandarudaraan meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan
kegiatan penyelenggaraan bandar udara dan kegiatan lainnya dalam melaksanakan fungsi
bandar udara untuk menunjang kelancaran, keamanan, dan ketertiban arus lalu lintas

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III13

Naskah Akademik

RTRW

pesawat udara, penumpang, kargo dan/atau pos, keselamatan penerbangan, tempat


perpindahan intra dan/atau antar moda serta mendorong perekonomian nasional dan daerah.
Fasilitas pokok di bandar udara, yang meliputi :
1) fasilitas sisi udara;
2) fasilitas sisi darat;
3) fasilitas navigasi penerbangan;
4) fasilitas alat bantu pendaratan visual;
5) fasilitas komunikasi penerbangan.
Fasilitas penunjang bandar udara, yang meliputi :
1) fasilitas penginapan/hotel;
2) fasilitas penyediaan toko dan restoran;
3) fasilitas penempatan kendaraan bermotor;
4) fasilitas perawatan pada umumnya;
5) fasilitas lainnya yang menunjang secara langsung atau tidak langsung kegiatan bandar
udara.
Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan adalah wilayah daratan dan/atau perairan
dan ruang udara di sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk kegiatan operasi
penerbangan dalam rangka menjamin keselamatan penerbangan. Kawasan keselamatan
operasi penerbangan ditetapkan dengan batas-batas tertentu yang bebas dari penghalang.
Kawasan keselamatan operasi penerbangan di sekitar bandar udara umum meliputi:
a. kawasan pendekatan dan lepas landas;
b. kawasan kemungkinan bahaya kecelakaan;
c. kawasan di bawah permukaan horizontal-dalam;
d. kawasan di bawah permukaan horizontal-luar;
e. kawasan di bawah permukaan kerucut;
f.

kawasan di bawah permukaan transisi; dan

g. kawasan di sekitar penempatan alat bantu navigasi penerbangan.


3.4.4. Telekomunikasi
Penyelenggaraan

Telekomunikasi

adalah

kegiatan

penyediaan

dan

pelayanan

telekomunikasi sehingga memungkinkan terselenggaranya telekomunikasi. Menara adalah


bangunan khusus yang berfungsi sebagai sarana penunjang untuk menempatkan peralatan
telekomunikasi yang desain atau bentuk konstruksinya disesuaikan dengan keperluan
penyelenggaraan telekomunikasi.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III14

Naskah Akademik

RTRW

Pembangunan Menara harus sesuai dengan standar baku tertentu untuk menjamin keamanan
lingkungan dengan memperhitungkan faktor-faktor yang menentukan kekuatan dan kestabilan
konstruksi Menara, antara lain:
a. Tempat/Space Penempatan Antena Dan Perangkat Telekomunikasi Untuk
a. Penggunaan bersama;
b. Ketinggian Menara;
c. Struktur Menara;
d. Rangka struktur Menara;
e. Pondasi Menara; Dan
f.

Kekuatan angin.

Menara harus dilengkapi dengan sarana pendukung dan identitas hukum yang jelas.Sarana
pendukung Menara antara lain:
a. pentanahan (grounding);
b. penangkal petir;
c. catu daya;
d. lampu Halangan Penerbangan (Aviation Obstruction Light); dan
e. marka Halangan Penerbangan (Aviation Obstruction Marking).
Sedangkan Identitas hukum terhadap Menara antara lain:
a. nama pemilik Menara;
b. lokasi Menara;
c. tinggi Menara;
d. tahun pembuatan/pemasangan Menara;
e. Kontraktor Menara; dan
f.

beban maksimum Menara.

Izin Mendirikan Menara di kawasan tertentu harus memenuhi ketentuan perundang-undangan


yang berlaku untuk kawasan dimaksud.Kawasan tertentu sebagaimana dimaksud merupakan
kawasan yang sifat dan peruntukannya memiliki karakteristik tertentu, antara lain:
a. kawasan bandar udara/pelabuhan;
b. kawasan pengawasan militer;
c. kawasan cagar budaya;
d. kawasan pariwisata; atau
e. kawasan hutan lindung.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III15

Naskah Akademik
3.5.

RTRW

Peran Serta Masyarakat


Beberapa amanat peran masyarakat dalam UU 26/2007 tentang PENATAAN RUANG

adalh sebagai berikut:


a. Pasal 2: penataan ruang diselenggarakan berdasarkan asas kebersamaan dan kemitraan;
b. Pasal 7 ayat (3) Penyelenggaraan penataan ruang dilakukan dengan tetap menghormati
hak yang dimiliki orang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
c. Pasal 55 ayat (5) Peran masyarakat dalam pengawasan penataan ruang dapat dilakukan
dengan menyampaikan laporan dan/atau pengaduan kepada Pemerintah dan pemerintah
daerah.
d. Pasal 60: Dalam penataan ruang, setiap orang berhak untuk:

mengetahui rencana tata ruang;

menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang;

memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang timbul akibat pelaksanaan
kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang;

mengajukan keberatan kepada pejabat berwenang terhadap pembangunan yang tidak


sesuai dengan rencana tata ruang di wilayahnya;

mengajukan tuntutan pembatalan izin dan penghentian pembangunan yang tidak


sesuai dengan rencana tata ruang kepada pejabat berwenang; dan

mengajukan gugatan ganti kerugian kepada pemerintah dan/atau pemegang izin


apabila kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang
menimbulkan kerugian.

e. Pasal 61: Dalam pemanfaatan ruang, setiap orang wajib:

Menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan;

Memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang
berwenang;

Mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang; dan

Memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan perundangundangan dinyatakan sebagai milik umum.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1996 Tentang Pelaksanaan Hak


dan Kewajiban, serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang
(Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3776),
terdapat beberapa hal yang dapat menjadi acuan dalam penerapan dan pelaksanaan
peraturan Daerah. Adapun Bentuk Peran serta Masyarakat dapat dilakukan

Bantuan pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan pelaksanaan Peraturan


Daerah

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III16

Naskah Akademik

RTRW

Penyelenggaraan kegiatan pembangunan berdasarkan rencana tata ruang dan


program pembangunan termasuk pelaksanaan Peraturan Daerah

Perubahan atau konversi pemanfaatan ruang

Bantuan teknik dan pengolahan dalam pemanfaatan ruang dan/atau

Kegiatan menjaga, memelihara dan meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan


hidup.

Adapun bentuk peran serta masyarakat dalam pengendalian pelaksanaan peraturan Daerah
adalah sebagai berikut:

Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang skala kota, kecamatan dan kawasan,


termasuk pemberian informasi atau laporan pelaksanaan pemanfaatan ruang kawasan
dimaksud dan/atau sumberdaya tanah, air, udara dan sumberdaya lainnya.

Memberikan

masukan/laporan

tentang

masalah

yang

berkaitan

dengan

perubahan/penyimpangan pemanfaatan ruang yang telah disepakati

Bantuan pemikiran atau pertimbangan berkenaan dengan penertiban pemanfaatan


ruang.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

III17

Naskah Akademik

RTRW

BAB 4
LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS
DAN YURIDIS
Dalam Pembentukan Peraturan Daerah paling sedikit harus memuat 3 (tiga) landasan yaitu:
1. Landasan filosofis, adalah landasan yang berkaitan dengan dasar atau ideologi
Negara;
2. Landasan sosiologis, adalah landasan yang berkaitan dengan kondisi atau kenyataan
empiris yang hidup dalam masyarakat, dapat berupa kebutuhan atau tuntutan yang
dihadapi oleh masyarakat, kecenderungan, dan harapan masyarakat; dan
3. Landasan yuridis, adalah landasan yang berkaitan dengan kewenangan untuk
membentuk, kesesuaian antara jenis dan materi muatan, tata cara atau prosedur
tertentu, dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih
tinggi.
Mengingat Peraturan Daerah adalah merupakan produk politis maka kebijakan daerah
yang bersifat politis dapat berpengaruh terhadap substansi Peraturan Daerah. Oleh karena itu,
perlu dipertimbangkan kebijakan politis tersebut tidak menimbulkan gejolak dalam
masyarakat.
4.1.

Landasan Filosofis
Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten

Kayong Utara dibentuk dengan mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran, dan cita
hukum yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia yang bersumber dari
Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Adapun beberapa landasan filosofis yang mendasari penyusunan Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Kayong Utara adalah sebagai berikut:
a. Dengan memegang teguh nilai kemanusiaan yang adil dan beradap serta keadilan
Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia yang diamanatkan dalam Pancasila sebagai
Dasar Negara, maka disusunlah suatu rumusan Rencana Tata Ruang Wilayah sebagai
peraturan Daerah yang dapat menjembatani seluruh lapisan masyarakat dalam
pemanfaatan ruang baik tanah, air maupun udara secara adil dan merata;
b. Berdasarkan hal tersebut dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia
Pasal 33 ayat 3 yang menyatakan bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

IV1

Naskah Akademik

RTRW

terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar


kemakmuran rakyat, hal inilah yang menjadi landasan filosofis dalam penyusunan
Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten.
c. Dalam Undang-Undang Dasar 45 pasal 18 ayat 6 menyatakan bahwa Pemerintah
Daerah berhak menentukan Peraturan Daerah ada Peraturan lainnya untuk
melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.
Merujuk pada prinsip-prinsip dasar dalam Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) maka
diantara perwujudan keadilan sosial dibidang pertanahan dapat dilihat pada prinsip negara
menguasai. Melalui hak menguasai inilah, negara akan dapat senantiasa mengandalikan atau
mengarahkan fungsi bumi, air, ruang angkasa sesuai dengan policy pemerintah, sehubungan
dengan kepentingan nasional dan dengan adanya hak menguasai dari negara ini, maka
negara berhak di sector agraria untuk selalu campur tangan dengan pengertian bahwa setiap
pemegang hak atas tanah tidak berarti ia akan terlepas dari hak menguasai tersebut
Pemanfaatan ruang, baik tanah, air dan udara perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya
dalam rangka melindungi hak dan kewajiban masyarakat terhadap ruang dan aktifitasnya.
Oleh karena itu secara filosofis, pembentukan Peraturan Daerah Mengenai Rencana Tata
Ruang merupakan bagian dari pemenuhan tujuan bernegara Republik Indonesia, yaitu
melindungi segenap segenap rakyat dan bangsa, serta seluruh tumpah darah Indonesia,
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Upaya melindungi segenap rakyat dan bangsa dikuatkan pula dengan hak setiap orang
atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang
dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dari ancaman ketakutan untuk untuk
berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi, hak hidup sejahtera lahir
batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta
berhak memperoleh pelayanan kesehatan (Pasal 28G ayat (1) dan Pasal 28 H ayat (1) UUD
1945.
4.2.

Landasan Sosiologis
Pertimbangan sosiologis menyangkut permasalahan empiris dan kebutuhan yang

dialami oleh masyarakat berkaitan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara.
Oleh karena itu, secara sosiologis, Peraturan Derah mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Kayong Utara haruslah memberikan jawaban atau solusi terhadap permasalahan
yang berkaitan dengan Perencanaan, PEmanfaatan dan Pengendalian ruang Wilayah
Kabupaten Kayong Utara. Ada beberapa pertimbangan sosiologis yang menjadi dasar
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

IV2

Naskah Akademik

RTRW

penyusunan Peraturan Daerah mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong
Utara, yaitu sebagai berikut:

1. bahwa ruang wilayah Kabupaten Kayong Utara yang merupakan bagian dari Negara
Republik Indonesia dan Provinsi Kalimantan Barat yang khas karena terdiri dari
wilayah daratan dan kepulauan yang perlu ditingkatkan upaya pengelolaannya secara
bijaksana, berdaya guna, dan berhasil guna sehingga kualitas ruang wilayah dapat
terjaga keberlanjutannya demi terwujudnya kesejahteraan umum dan keadilan social
sesuai dengan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

2. bahwa untuk mengarahkan pembangunan di Kabupaten Kayong Utara dengan


memanfaatkan ruang wilayah secara berdaya guna, berhasil guna, serasi, selaras,
seimbang, dan berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat
dan pertahanan keamanan, perlu disusun Rencana Tata Ruang Wilayah;

3. bahwa keberadaan ruang yang terbatas dan pemahaman masyarakat yang


berkembang

terhadap

pentingnya

penataan

ruang

sehingga

diperlukan

penyelenggaraan penataan ruang yang transparan, efektif, dan partisipatif agar


terwujud ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan;

4. bahwa dalam rangka mewujudkan keterpaduan pembangunan antar sektor, daerah,


dan masyarakat maka rencana tata ruang wilayah merupakan arahan lokasi investasi
pembangunan yang dilaksanakan pemerintah, masyarakat, dan/atau dunia usaha;
4.3.

Landasan Yuridis
Pertimbangan yuridis adalah menyangkut masalahmasalah hukum serta peran hukum

dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara. Hal ini dikaitkan dengan peran
hukum dalam pembangunan, baik sebagai pengatur perilaku (social control), maupun
instrument untuk penyelesaian masalah (dispute resolution). Hukum sangat diperlukan,
karena hukum atau peraturan perundangundangan dapat menjamin adanya kepastian

(certainty) dan keadilan (fairness) dalam penanganan bencana.


Dalam kaitan dengan peran dan fungsi hukum tersebut, maka persoalan hukum yang
terkait Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara adalah bahwa sesungguhnya,
Pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan perundangundangan sebagai dasar
hukum mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah. Namun, persoalan utama yang menjadi
pertimbangan pentingnya Peraturan Daerah Mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Kayong Utara adalah belum terbentuknya Peraturan Daerah yang aplikatif yang
dapat menjadi landasan dalam penataan ruang Wilayah di Kabupaten Kayong Utara. Dengan
demikian, pertimbangan yuridis pembentukan Peraturan Daerah Mengenai Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara ini adalah sebagai berikut:
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

IV3

Naskah Akademik

RTRW

a. bahwa belum memiliki perangkat hukum yang memadai yang secara aplikatif,
komprehensif dan integrative sebagai landasan hukum pelaksanaan penataan ruang
Wilayah Kabupaten Kayong Utara.
b. bahwa dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang dan Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Nasional, serta Peraturan Daerah Nomor .......Tahun.... Tentang
Rencana Tata Riang Wilayah Provinsi Kalimantan Barat, maka perlu penjabaran ke
dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
4.4. Asas-asas Pembentukan Peraturan Daerah
Dalam pembentukan Peraturan Daerah selain didasarkan pada Pancasila yang merupakan
sumber dari segala sumber hukum negara dan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 yang merupakan hukum dasar dalam peraturan perundang-undangan,
juga didasarkan pada asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan sebagaimana
diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan, yang meliputi asas sebagai berikut:
a. Kejelasan tujuan: bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus

mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai.


b. Kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat: bahwa setiap Pembentukan

Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat Pembentuk


Peraturan Perundang-undangan yang berwenang. Peraturan Perundang-undangan
tersebut

dapat

dibatalkan

atau

batal

demi

hukum,

apabila

dibuat

oleh

lembaga/pejabat yang tidak berwenang.


c. Kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan: bahwa dalam Pembentukan

Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan


yang tepat dengan jenis Peraturan Perundang-undangannya.
d. Dapat dilaksanakan: bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

harus memperhitungkan efektifitas Peraturan Perundang-undangan tersebut di dalam


masyarakat, baik secara filosofis, yuridis maupun sosiologis.
e. Kedayagunaan dan kehasilgunaan: bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-

undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam


mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
f.

kejelasan rumusan: bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan,


sistematika dan pilihan kata atau terminologi, serta bahasa hukumnya jelas dan
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

IV4

Naskah Akademik

RTRW

mudah dimengerti, sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam


pelaksanaannya.
g. Keterbukaan: bahwa dalam proses Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

mulai dari perencanaan, persiapan, penyusunan,dan pembahasan bersifat transparan


dan terbuka. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan
yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan Peraturan
Perundang-undangan.

Asas-asas yang selayaknya diterapkan dalam pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Kayong Utara berdasarkan UUPR No 26 Tahun 2007, penataan ruang
diselenggarakan berdasarkan asas:
a. keterpaduan;
b. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan;
c. keberlanjutan;
d. keberdayagunaan dan keberhasil gunaan;
e. keterbukaan;
f.

kebersamaan dan kemitraan;

g. pelindungan kepentingan umum;


h. kepastian hukum dan keadilan; dan
i.

akuntabilitas.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

IV5

Naskah Akademik

RTRW

BAB 5
JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG
LINGKUP MATERI MUATAN PERATURAN
DAERAH KABUPATEN
Naskah Akademik berfungsi mengarahkan ruang lingkup materi muatan Rancangan Peraturan
Daerah Kabupaten yang akan dibentuk. Dalam Bab ini, sebelum menguraikan ruang lingkup
materi muatan, dirumuskan sasaran yang akan diwujudkan, arah dan jangkauan pengaturan.
Materi didasarkan pada ulasan yang telah dikemukakan dalam bab sebelumnya.
5.1.

Sasaran yang akan diwujudkan

Adapun Sasaran yang akan diwujudkan dalam rangka penyusunan Peraturan Daerah tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara ini adalah sebagai berikut:
1. Memberikan kepastian hukum sehubungan dengan legalitas Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten;
2. Mengarahkan perkembangan kegiatan wilayah kabupaten seperti perkembangan pusatpusat kegiatan, system transportasi dan system prasarana lainnya serta system
perekonomian wilayah lainnya;
3. instrumen pengendalian perkembangan dan pengembangan wilayah/kawasan/lingkungan
Fungsi RTRW kabupaten adalah sebagai:
1. acuan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD)
dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
2. acuan dalam pemanfaatan ruang/pengembangan wilayah kabupaten;
3. acuan untuk mewujudkan keseimbangan pembangunan dalam wilayah kabupaten;
4. acuan lokasi investasi dalam wilayah kabupaten yang dilakukan pemerintah,
masyarakat, dan swasta;
5. pedoman untuk penyusunan rencana rinci tata ruang di wilayah kabupaten;
6. dasar pengendalian pemanfaatan ruang dalam penataan/pengembangan wilayah
kabupaten yang meliputi penetapan peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif
dan disinsentif, serta pengenaan sanksi; dan
7. acuan dalam administrasi pertanahan.
Manfaat RTRW kabupaten adalah untuk:
1) mewujudkan keterpaduan pembangunan dalam wilayah kabupaten;
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V1

Naskah Akademik

RTRW

2) mewujudkan keserasian pembangunan wilayah kabupaten dengan wilayah sekitarnya;


dan
3) menjamin terwujudnya tata ruang wilayah kabupaten yang berkualitas.
5.2.

Arah dan Jangkauan Pengaturan


Jangka waktu RTRW Kabupaten Kayong Utara adalah 20 (dua puluh) tahun dan dapat

ditinjau kembali sebanyak 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.


RTRW kabupaten dapat ditinjau kembali kurang dari 5 (lima) tahun jika:
a. terjadi perubahan kebijakan nasional dan strategi yang mempengaruhi pemanfaatan
ruang wilayah kabupaten; dan/atau
b. terjadi dinamika internal kabupaten yang mempengaruhi pemanfaatan ruang secara
mendasar, seperti bencana alam skala besar atau pemekaran wilayah yang ditetapkan
melalui peraturan perundang-undangan.
Peninjauan kembali dan revisi RTRW kabupaten dilakukan bukan untuk pemutihan terhadap
penyimpangan pemanfaatan ruang di wilayah kabupaten.
Gambar 5.1
Diagram Arah dan Jangkauan Perencanaan Tata Ruang Wilayah Kabupaten

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V2

Naskah Akademik
5.3.

RTRW

Ruang Lingkup Materi

Adapun lingkup materi dalam penyusunan Peraturan Daerah Mengenai Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Kayong Utara terdiri dari,

ketentuan umum yang memuat rumusan

Akademik Pengertian istilah dan frasa, materi, materi yang akan diatur diantaranya seperti
tujuan, kebijakan dan strategi penataan ruag wilayah, rencana struktur ruang wilayah,
rencana pola ruang wilayah, penetapan kawasan strategis, arahan pemanfaatan ruang dan
arahan pengendaian pemanfaatan ruang, yang dilengkapi dengan ketentuan sanksi dan
ketentuan peralihan.
Gambar 5.2
Diagram Materi Perencanaan Tata Ruang Wilayah Kabupaten

5.3.1. Ketentuan Umum


Pengertian umum mengenai Sistem Pemerintahan Daerah sebagai berikut:
1. Kabupaten adalah Kabupaten Kayong Utara;
2. Kepala Daerah adalah Bupati Kayong Utara;
3. Bupati adalah Bupati Kayong Utara;
4. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah otonom yang lain

sebagai

Badan Eksekutif Daerah;


5. Perangkat Disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi pertumbuhan
mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V3

Naskah Akademik

RTRW

6. Perangkat Insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan rangsangan terhadap


kegiatan yang seiring dengan tujuan rencana tata ruang.
7. Masyarakat adalah orang perseorangan, kelompok orang termasuk masyarakat hukum
adat, korporasi, dan/atau pemangku kepentingan non pemerintahan lain dalam penataan
ruang
8. Peran Serta Masyarakat adalah partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan tata
ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang
9. Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah yang selanjutnya disebut BKPRD adalah badan
bersifat ad-hoc yang dibentuk untuk mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 26
tahun 2007 tentang Penataan Ruang di Kabupaten Kayong Utara dan mempunyai fungsi
membantu pelaksanaan tugas Bupati dalam koordinasi penataan ruang di daerah.
Pengertian umum mengenai Sistem Tata Ruang sebagai berikut:
1. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten adalah hasil perencanaan tata ruang
wilayah kabupaten yang telah ditetapkan dengan peraturan daerah.
2. Rencana Tata Ruang Kota (RTRK) adalah penjabaran dari Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) kabupaten ke dalam rencana pemanfaatan kawasan perkotaan.
3. Rencana Detail Tata Ruang Kawasan, yang selanjutnya disingkat RDTRK, adalah
penjabaran rencana tata ruang wilayah kabupaten ke dalam rencana pemanfaatan
kawasan, yang memuat zonasi atau blok alokasi pemanfaatan ruang (block plan).
4. Rencana Tata Ruang Wilayah yang selanjutnya disingkat RTRW adalah Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara;
5. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara
sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk hidup lainnya untuk
melakukan kegiatan dan kelangsungan hidupnya;
6. Tata Ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang;
7. Penataan Ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang;
8. Perencanaan Tata Ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan
pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang;
9. Rencana Tata Ruangadalah hasil perencanaantata ruang;
10. Rencana Tata Ruang Kepulauan yang selanjutnya disingkat RTR Kepulauan adalah
hasil perencanaan tata ruang wilayah pulau / kepulauan yang terbentuk dari kesatuan
wilayah geografis dan ekosistem beserta segenap unsur terkait padanya yang batasbatasnya ditentukan berdasarkan aspek administrative dan/atau aspek fungsionalnya.
11. Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan system
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V4

Naskah Akademik

RTRW

12. jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan social
ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional;
13. Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disingkat PKW adalah kawasan perkotaan
yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota;
14. Pusat Kegiatan Wilayah Promosi yang selanjutnya disebut PKWp adalah kawasan
perkotaan yang akan dipromosikan untuk menjadi PKW dengan fungsi untuk melayani
kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota.
15. Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disingkat PKL adalahkawasan perkotaan yang
berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan;
16. Pusat Pelayanan Kawasan yang selanjutnya disebut PPK adalah kawasan perkotaan
yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa.
17. Pusat Pelayanan Lingkungan yang selanjutnya disebut PPL adalah pusat permukiman
yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala antar desa.
18. Pola Ruang adalah tata guna lahan tanah, air, udara, dan sumber daya alam lainnya
dalam wujud penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah, air, udara, dan
sumber daya alam lainnya.
19. Kawasan adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budi daya;
20. Kawasan Lindung adalah wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi
kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya
buatan;
21. Kawasan Hutan Lindung adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang
mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk
mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut,
dan memelihara kesuburan tanah.
22. Kawasan Cagar Alam yang selanjutnya disingkat CA adalah kawasan suaka alam yang
karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya
atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung
secara alami.
23. Kawasan Cagar Budaya adalah tempat serta ruang di sekitar bangunan bernilai
budaya tinggi, situs purbakala dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu yang
mempunyai manfaat tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
24. Kawasan Suaka Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun
di

perairan

yang

mempunyai

fungsi

pokok

sebagai

kawasan

pengawetan

keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi


sebagai wilayah system penyangga kehidupan.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V5

Naskah Akademik

RTRW

25. Kawasan Sempadan Sungai adalah daerah sepanjang aliran sungai (pada kedua sisi
sungai) yang diperuntukkan bagi pengamanan dan kelestarian lingkungan sekitar
aliransungai.
26. Taman Nasional yang selanjutnya disingkat TN adalah kawasan pelestarian alam yang
mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk
tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata,
dan rekreasi.
27. Taman Wisata Alam yang selanjutnya disingkat TWA adalah kawasan pelestarian alam
yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.
28. Kawasan Budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk
dibudidayakan, atas dasar kondisi dan potensi sumber daya alam, sumber daya
manusia, dan sumber daya buatan;
29. Kawasan Hutan Produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
memproduksi hasil hutan.
30. Kawasan Pertanian adalah kawasan yang diperuntukkan bagi tanaman lahan basah,
tanaman lahan kering, dan tanaman tahunan / perkebunan
31. Kawasan Perikanan adalah kawasan yang diperuntukkan bagi perikanan, baik berupa
pertambakan (kolam) dan perikanan darat lainnya
32. Kawasan Pertambangan adalah kawasan yang diperuntukkan bagi pertambangan, baik
wilayah yang sedang maupun yang segera dilakukan bagi kegiatan pertambangan.
33. Kawasan Industri adalah Kawasan industri adalah kawasan tempat pemusatan
kegiatan

industri

yang

dilengkapi

sarana

dan

prasarana

penunjang

yang

dikembangkan dan dikelola oleh perusahaan kawasan industri yang telah memiliki izin
usaha kawasan industri
34. Kawasan Perdagangan dan Jasa adalah kawasan yang diperuntukkan bagi kegiatan
perdagangan dan jasa
35. Kawasan Pariwisata adalah kawasan yang diperuntukkan bagi pengembangan
kegiatan pariwisata.
36. Kawasan Permukiman adalah kawasan yang diperuntukkan bagi permukiman, baik
permukiman kota maupun desa.
37. Kawasan Perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian
termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai
tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan
kegiatan ekonomi;
38. Kawasan Perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan
pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaaan,
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V6

Naskah Akademik

RTRW

pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan
ekonomi;
39. Kawasan Pertahanan Negara adalah wilayah yang ditetapkan secara nasional yang
digunakan untuk kepentingan pertahanan
40. Kawasan Strategis Provinsi adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan
karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup provinsi terhadap
ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan.
41. Kawasan Strategis Kabupaten adalah kawasan yang penataan ruangnya diprioritaskan
karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten terhadap
ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, serta pendayagunaan sumber daya alam dan
teknologi.
42. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur
terkaityang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administrative dan
atau aspek fungsional;
43. Pengendalian Pemanfaatan Ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang;
44. Peraturan Zonasi adalah ketentuan yang mengaturtentang persyaratan pemanfaatan
ruang dan ketentuan pengendaliannya dan disusun untuk setiap blok/zona peruntukan
yang penetapan zonanya dalam rencana rinci tata ruang;
Pengertian umum mengenai Sistem Jaringan Transportasi sebagai berikut:
1. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk
bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang
berada pada permukaan tanah, diatas permukaan tanah, dibawah permukaan tanah
dan/atau air, serta di atas permukaan air kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan
kabel.
2. Jalan nasional merupakan jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan
primer yang menghubungkan antar ibukota propinsi, dan jalan strategis nasional, serta
jalan tol.
3. Jalan provinsi merupakan jalan kolektor dalam sistem jeringan jalan primer yang
menghubungkan ibukota propinsi dengan ibukota kabupaten/kota atau antar ibukota
kabupaten/kota dari jalan stategis provinsi.
4. Jalan kabupaten merupakan jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang tidak
termasuk pada (51) jalan nasional dan (52) jalan propinsi, yang menghubungkan ibukota
kabupaten dengan ibukota kecamatan, antar ibukota kecamatan, ibukota kabupaten
dengan pusat kegiatan lokal, antar pusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem
jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten dan jalan strategis kabupaten.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V7

Naskah Akademik

RTRW

5. Jalan kota adalah jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yag menghubungkan
antar pusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil,
menghubungkan antar persil serta menghubungkan antar pusat permukiman yang berada
di dalam kota.
6. Jalan desa merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau permukiman
di dalam desa, serta jalan lingkungan.
7. Jalan arteri adalah jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri
perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara
berdaya guna.
8. Jalan kolektor adalah jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau
pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang dan jumlah
jalan masuk dibatasi.
9. Jalan lokal merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan
ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah dan jumlah jalan masuk tidak
dibatasi.
10. Jalan Arteri Primer adalah jalan yang dikembangkan untuk melayani dan menghubungkan
kota kota antar-Pusat Kegiatan Nasional, antar-Pusat Kegiatan Nasional dan Pusat
Kegiatan Wilayah, dan antarkota yang melayani kawasan berskala besar dan/atau cepat
berkembang dan/atau pelabuhan-pelabuhan utama.
11. Jalan

Kolektor

Primer

adalah

jalan

yang

dikembangkan

untuk

melayani

dan

menghubungkan kota-kota antar-Pusat Kegiatan Wilayah, antar Pusat Kegiatan Wilayah


dan Pusat Kegiatan Lokal dan/atau kawasan-kawasan berskala kecil dan/atau pelabuhan
pengumpan regional dan pelabuhan pengumpan lokal.
12. Pelabuhan Sungai dan Danau Daerah adalah pelabuhan sungai dan danau yang dikelola
oleh pemerintah provinsi atau kota/kabupaten.
13. Pelabuhan Sungai dan Danau Khusus yaitu pelabuhan sungai dan danau yang dikelola
oleh instansi, badan hukum atau perorangan yang digunakan hanya untuk kepentingan
yang bersangkutan.
14. Terminal Penumpang Tipe B adalah terminal penumpang yang berfungsi melayani
kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam Provinsi (AKDP), angkutan kota dan
angkutan perdesaan. (di tiap ikk)
15. Bandara Pusat Penyebaran Tersier adalah bandar udara yang berperan melayani
penumpang dalam jumlah kecil dengan lingkup pelayanan atau daerah cakupan cukup
kecil.
16. Bandara Bukan Pusat Penyebaran adalah bandara yang berperan melayani penumpang
dengan jumlah kecil dan tidak mempunyai daerah cakupan atau layanan.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V8

Naskah Akademik

RTRW

Pengertian umum mengenai Sumber Daya Air dan Sempadan Sungai sebagai berikut:
1. Sumber daya air adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung didalamnya.
2. Air adalah semua air yang terdapat pada, diatas, ataupun dibawah permukaan tanah,
termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, air laut yang
berada di darat.
3. Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan atau buatan yang terdapat pada
diatas ataupun dibawah permukaan tanah.
4. Pengelolaan Sumber Daya Air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau
dan mengevaluasi penyelengggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan
sumber daya air dan pengendalian daya rusak air.
5. Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satau
atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari
atau sama dengan 2.000 km.
6. Daerah aliran sungai adalah suatu daratan yang merupakan satu kesatuan dengan
sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan
mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami
yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas laut sampai dengan
daerah perairan yang masih terpengaruh aktifitas daratan.
7. Sungai adalah tempat-tempat dan wadah-wadah semua jaringan pengaliran air dari
mata air sampai muara dengan dibatsi kanan kirinya sama sepanjang pengalirannya
oleh garis sempadan.
8. Danau adalah bagian dari sungai yang lebar dan kedalamannya secara alamiah jauh
melebihi ruas-ruas lain dari sungai yang bersangkutan.
9. Waduk adalah wadah air yang terbentuk sebagai akibat dibangunnya bangunan sungai
dalam

hal

ini

banguna

bendungan,

dan

terbentuk

pelebaran

alur/badan

sungan/palung sungai.
10. Bantaran sungai adalah lahan pada kedua sisi sepanjang palung sungai dihitung dari
tepi sampai dengan kaki tanggul sebelah dalam dan atau garis sempadan sungai.
11. Bangunan

sungai

adalah

bangunan

yang

berfungsi

untuk

perlindungan,

pengembangan, penggunaan dan pengendalian sungai.


12. Garis sempadan sungai adalah garis batas luas pengaman sungai.
13. Daerah sempadan sungai adalah kawasan sepanjang kiri kanan sungai termasuk
buatan yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi
danau/waduk.
14. Daerah sempadan danau/waduk adalah kawasan tertentu disekeliling danau/waduk
yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V9

Naskah Akademik

RTRW

15. Daerah manfaat sungai adalah mata air, palung sungai dan daerah sempadan yang
telah sibebaskan.
16. Daerah penguasaan sungai adalah daratan banjir, daerah retensi, bantaran atau
daerah sempadan yang tidak dibebaskan.
17. Bekas sungai adalah sungai yang tidak berfungsi lagi.
18. Tepi sungai adalah batas luar palung sungai yang mempunyai variasi bentuk.
19. Tanggul adalah bangunan pengendali sungai yang dibangun dengan persyaratan
teknik tertentu untuk melindungi daerah sekitar sungai terhadap limpasan air sungai.
20. Banjir rencana adalah banjir yang kemungkinan terjadi dalam kurun waktu tertentu.
21. Tata pengaturan air adalah susunan dan letak sumber-sumber air yang baik terdapat
diatas maupun dibawah permukaan tanah dan atau bangunan-bangunan pengairan
menurut ketentuan-ketentuan teknik pembinaannya disuatu wilayah pengairan
tertentu.
5.3.2. Tujuan, Kebijakan, Strategis Penataan Ruang Wilayah
Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah kabupaten (penataan
kabupaten) merupakan terjemahan dari visi dan misi pengembangan kabupaten dalam
pelaksanaan pembangunan untuk mencapai kondisi ideal tata ruang wilayah kabupaten yang
diharapkan.
a. Tujuan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten
Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten merupakan arahan perwujudan ruang wilayah
kabupaten yang ingin dicapai pada masa yang akan datang (20 tahun).
Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten memiliki fungsi:
1) sebagai dasar untuk memformulasikan kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah
kabupaten;
2) memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama dalam RTRW kabupaten;
dan
3) sebagai dasar dalam penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
kabupaten.
Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten dirumuskan berdasarkan:
1) visi dan misi pembangunan wilayah kabupaten;
2) karakteristik wilayah kabupaten;
3) isu strategis; dan
4) kondisi objektif yang diinginkan.
Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten dirumuskan dengan kriteria:
1) tidak bertentangan dengan tujuan penataan ruang wilayah provinsi dan nasional;
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V10

Naskah Akademik

RTRW

2) jelas dan dapat tercapai sesuai jangka waktu perencanaan; dan


3) tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
b. Kebijakan
Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten merupakan arah tindakan yang harus
ditetapkan untuk mencapai tujuan penataan ruang wilayah kabupaten.
Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten berfungsi sebagai:
1) sebagai dasar untuk memformulasikan strategi penataan ruang wilayah kabupaten;
2) sebagai dasar untuk merumuskan struktur dan pola ruang wilayah kabupaten;
3) memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama dalam RTRW kabupaten; dan
4) sebagai dasar dalam penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
kabupaten.
Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten dirumuskan berdasarkan:
1) tujuan penataan ruang wilayah kabupaten;
2) karakteristik wilayah kabupaten;
3) kapasitas sumber daya wilayah kabupaten dalam mewujudkan tujuan penataan
ruangnya; dan
4) ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.
Kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten dirumuskan dengan kriteria:
1) mengakomodasi kebijakan penataan ruang wilayah nasional dan kebijakan penataan
ruang wilayah provinsi yang berlaku pada wilayah kabupaten bersangkutan;
2) jelas, realistis, dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu perencanaan pada
wilayah kabupaten bersangkutan;
3) mampu menjawab isu-isu strategis baik yang ada sekarang maupun yang diperkirakan
akan timbul di masa yang akan datang; dan
4) tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
c. Strategi
Strategi penataan ruang wilayah kabupaten merupakan penjabaran kebijakan penataan ruang
wilayah kabupaten ke dalam langkah-langkah operasional untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
Strategi penataan ruang wilayah kabupaten berfungsi:
1) sebagai dasar untuk penyusunan rencana struktur ruang, rencana pola ruang, dan
penetapan kawasan strategis kabupaten;
2) memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama dalam RTRW kabupaten; dan
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V11

Naskah Akademik

RTRW

3) sebagai dasar dalam penetapan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah


kabupaten.
Strategi penataan ruang wilayah kabupaten dirumuskan berdasarkan:
1) kebijakan penataan ruang wilayah kabupaten;
2) kapasitas sumber daya wilayah kabupaten dalam melaksanakan kebijakan penataan
ruangnya; dan
3) ketentuan peraturan perundang-undangan.
Strategi penataan ruang wilayah kabupaten dirumuskan dengan kriteria:
1) memiliki kaitan logis dengan kebijakan penataan ruang;
2) tidak bertentangan dengan tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah
nasional dan provinsi;
3) jelas, realistis, dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu perencanaan pada
wilayah kabupaten bersangkutan secara efisien dan efektif;
4) harus dapat dijabarkan secara spasial dalam rencana struktur ruang dan rencana pola
ruang wilayah kabupaten; dan
5) tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
5.3.3. Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten
Rencana struktur ruang wilayah kabupaten merupakan kerangka tata ruang wilayah
kabupaten yang tersusun atas konstelasi pusat-pusat kegiatan yang berhierarki satu sama lain
yang dihubungkan oleh sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten terutama jaringan
transportasi. Pusat kegiatan di wilayah kabupaten merupakan simpul pelayanan sosial,
budaya, ekonomi, dan/atau administrasi masyarakat di wilayah kabupaten, yang terdiri atas:
a. PKN yang berada di wilayah kabupaten;
b. PKW yang berada di wilayah kabupaten;
c. PKL yang berada di wilayah kabupaten;
d. PKSN yang berada di wilayah kabupaten; dan
e. Pusat-pusat lain di dalam wilayah kabupaten yang wewenang penentuannya ada pada
pemerintah daerah kabupaten, yaitu:
1) Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) merupakan kawasan perkotaan yang berfungsi untuk
melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa; dan
2) Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) merupakan pusat permukiman yang berfungsi
untuk melayani kegiatan skala antar desa.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V12

Naskah Akademik

RTRW

Sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten meliputi sistem prasarana transportasi,


energi, telekomunikasi, dan sumber daya air yang mengintegrasikannya dan memberikan
layanan bagi fungsi kegiatan yang ada di wilayah kabupaten.
Rencana struktur ruang wilayah kabupaten berfungsi:
a. sebagai

arahan

pembentuk

sistem

pusat

kegiatan

wilayah

kabupaten

yang

memberikan layanan bagi kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan di sekitarnya


yang berada dalam wilayah kabupaten; dan
b. sistem perletakan jaringan prasarana wilayah yang menunjang keterkaitannya serta
memberikan layanan bagi fungsi kegiatan yang ada dalam wilayah kabupaten,
terutama pada pusat-pusat kegiatan/perkotaan yang ada.
Rencana struktur ruang wilayah kabupaten dirumuskan berdasarkan:
a. kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah kabupaten;
b. kebutuhan

pengembangan

dan

pelayanan

wilayah

kabupaten

dalam

rangka

mendukung kegiatan sosial ekonomi;


c. daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup wilayah kabupaten; dan
d. ketentuan peraturan perundang-undangan.
Rencana struktur ruang wilayah kabupaten dirumuskan dengan kriteria:
a. mengakomodasi rencana struktur ruang nasional, rencana struktur ruang wilayah
provinsi, dan memperhatikan rencana struktur ruang wilayah kabupaten/kota yang
berbatasan;
b. jelas, realistis, dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu perencanaan pada
wilayah kabupaten bersangkutan;
c. pusat-pusat permukiman yang ditetapkan oleh pemerintah daerah kabupaten memenuhi
ketentuan sebagai berikut:
1) terdiri atas pusat pelayanan kawasan (PPK), pusat pelayanan lingkungan (PPL), serta
pusat kegiatan lain yang berhirarki lebih tinggi yang berada di wilayah kabupaten yang
kewenangan penentuannya ada pada Pemerintah Pusat dan pemerintah provinsi;
2) memuat penetapan pusat pelayanan kawasan (PPK) serta pusat pelayanan lingkungan
(PPL); dan
3) harus berhirarki dan tersebar secara proporsional di dalam ruang serta saling terkait
menjadi satu kesatuan sistem wilayah kabupaten.
d. dapat memuat pusat-pusat kegiatan selain sebagaimana dimaksud pada angka 3 huruf a
dengan ketentuan sebagai berikut:
1) pusat kegiatan yang dipromosikan untuk di kemudian hari ditetapkan sebagai PKL
(dengan notasi PKLp);
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V13

Naskah Akademik

RTRW

2) pusat kegiatan yang dapat ditetapkan menjadi PKLp hanya pusat pelayanan kawasan
(PPK); dan
3) pusat kegiatan sebagaimana dimaksud dalam angka 1) harus ditetapkan sebagai
kawasan strategis kabupaten dan mengindikasikan program pembangunannya di
dalam arahan pemanfataan ruangnya, agar pertumbuhannya dapat didorong untuk
memenuhi kriteria PKL.
e. sistem jaringan prasarana kabupaten dibentuk oleh sistem jaringan transportasi sebagai
sistem jaringan prasarana utama dan dilengkapi dengan sistem jaringan prasarana
lainnya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.
f.

Merujuk pada ketentuan struktur ruang wilayah kabupaten yang terdiri atas sistem
prasarana utama pembentuk ruang dan sistem prasarana lainnya:

1) Sistem prasarana utama yang merupakan sistem jaringan transportasi, yang terdiri
atas:
a) sistem jaringan transportasi darat, mencakup:
(1) jaringan jalan yang terdiri atas:
jaringan jalan nasional yang berada pada wilayah kabupaten;
jaringan jalan provinsi yang berada pada wilayah kabupaten; dan
jaringan jalan kabupaten yang terdiri atas: jalan kolektor primer yang tidak
termasuk dalam jalan nasional dan provinsi; jalan lokal primer yang
menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, ibukota
kabupaten dengan pusat desa, antaribukota kecamatan, ibukota kecamatan
dengan desa, dan antardesa; jalan sekunder; dan jalan strategis kabupaten;
jalan khusus, berupa jalan yang dibangun dan dipelihara oleh orang atau
instansi untuk melayani kepentingan sendiri;
jalan dan jembatan, yang meliputi pembangunan jalan/jembatan baru untuk
membuka kawasan terisolasi, untuk meningkatkan kelancaran pemasaran
hasil-hasil produksi, serta untuk meningkatkan kelancaran kegiatan ekonomi,
sosial, dan budaya lainnya;
lokasi terminal sesuai dengan jenis, kelas pelayanan sebagai terminal
antarwilayah (type A), wilayah kota (tipe B), atau lokal (tipe C) sesuai dengan
hirarki pusat kegiatan dalam sistem nasional, provinsi/metropolitan, atau sub
terminal; dan
pengembangan prasarana dan sarana angkutan umum massal wilayah,
misalnya berupa jalur bus angkutan pedesaan.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V14

Naskah Akademik

RTRW

(2) jaringan sungai, danau, dan penyeberangan

alur pelayaran untuk kepentingan angkutan sungai dan alur pelayaran untuk
kegiatan angkutan danau yang terdapat pada wilayah kabupaten;

lintas penyeberangan yang terdapat pada wilayah kabupaten;

pelabuhan sungai dan pelabuhan danau yang terdapat pada wilayah


kabupaten; dan

pelabuhan penyeberangan yang terdapat pada wilayah kabupaten.

b) sistem jaringan transportasi laut, mencakup:


(1) pelabuhan laut yang terdapat pada wilayah kabupaten, yang terdiri atas
pelabuhan internasional hub, pelabuhan internasional, pelabuhan nasional,
pelabuhan regional, dan pelabuhan lokal; dan pelabuhan khusus.
(2) alur pelayaran yang terdapat pada wilayah kabupaten baik internasional maupun
nasional.
c) sistem jaringan transportasi udara, mencakup:
(1) bandar udara umum dan bandar udara khusus yang terdapat pada wilayah
kabupaten;
(2) ruang udara untuk penerbangan, yang terdiri atas ruang udara di atas bandar
udara yang dipergunakan langsung untuk kegiatan bandar udara, ruang udara di
sekitar bandar udara yang dipergunakan untuk operasi penerbangan; dan ruang
udara yang ditetapkan sebagai jalur penerbangan.
2) Sistem prasarana lainnya, yang terdiri atas:
a) rencana sistem jaringan energi/kelistrikan dapat meliputi:
(1) pembangkit listrik (skala besar maupun kecil) di wilayah kabupaten; dan
(2) jaringan prasarana energi yang mencakup:

penjabaran jaringan pipa minyak dan gas bumi, dalam wilayah kabupaten (jika
ada);

penjabaran jaringan transmisi tenaga listrik Saluran Udara Tegangan Ultra


Tinggi (SUTUT), Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), dan Saluran
Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dalam wilayah kabupaten (jika ada); dan

lokasi gardu induk distribusi maupun pembangkit listrik.

b) rencana sistem jaringan telekomunikasi dapat meliputi:


(1) infrastruktur telekomunikasi yang berupa jaringan kabel telepon;
(2) infrastruktur telepon nirkabel antara lain lokasi menara telekomunikasi termasuk
menara Base Transceiver Station (BTS); dan
(3) jaringan telekomunikasi satelit pada wilayah terpencil.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V15

Naskah Akademik

RTRW

Rencana pengembangan sistem jaringan telekomunikasi disesuaikan dengan kondisi


wilayah. Untuk wilayah berbukit/pegunungan dapat diutamakan sistem nirkabel
dengan penutupan wilayah blankspot, sedangkan untuk wilayah pulau/kepulauan
diarahkan pada penggunaan kabel bawah laut dan/atau sistem telekomunikasi satelit
pada sistem utama.
c) rencana sistem jaringan sumber daya air dapat meliputi:
(1) jaringan sumber daya air lintas negara, lintas provinsi, dan lintas kabupaten/kota
yang berada pada wilayah kabupaten;
(2) wilayah sungai kabupaten, termasuk waduk, situ, dan embung pada wilayah
kabupaten;
(3) jaringan irigasi yang berfungsi mendukung produktivitas usaha tani terdiri atas
bangunan, bangunan pelengkapnya, dan saluran yang merupakan satu kesatuan
yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan, dan
pembuangan air irigasi. Jaringan irigasi terdiri atas jaringan irigasi primer,
sekunder, dan tersier, serta jaringan irigasi air tanah;
(4) jaringan air baku untuk air bersih;
(5) jaringan air bersih ke kelompok pengguna; dan
(6) sistem pengendalian banjir di wilayah kabupaten.
d) rencana sistem jaringan prasarana wilayah lainnya dapat meliputi jaringan prasarana
lingkungan, mencakup prasarana pengelolaan lingkungan yang terdiri atas sistem
jaringan persampahan, sumber air minum kota, jalur evakuasi bencana, dan sistem
jaringan

prasarana

kabupaten

lainnya

yang

disesuaikan

dengan

kebutuhan

pengembangan kabupaten.
5.3.4. Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten
Rencana pola ruang wilayah kabupaten merupakan rencana distribusi peruntukan
ruang dalam wilayah kabupaten yang meliputi rencana peruntukan ruang untuk fungsi lindung
dan rencana peruntukan ruang untuk fungsi budi daya. Rencana pola ruang wilayah
kabupaten berfungsi:
a. sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi masyarakat dan
kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah kabupaten;
b. mengatur keseimbangan dan keserasian peruntukan ruang;
c. sebagai dasar penyusunan indikasi program utama jangka menengah lima tahunan
untuk dua puluh tahun; dan
d. sebagai dasar dalam pemberian izin pemanfaatan ruang pada wilayah kabupaten.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V16

Naskah Akademik

RTRW

Rencana pola ruang wilayah kabupaten dirumuskan berdasarkan:


a. kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah kabupaten;
b. daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup wilayah kabupaten;
c. kebutuhan ruang untuk pengembangan kegiatan sosial ekonomi dan lingkungan; dan
d. ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.
Rencana pola ruang wilayah kabupaten dirumuskan dengan kriteria:
a. merujuk rencana pola ruang yang ditetapkan dalam RTRWN beserta rencana rincinya;
b. merujuk rencana pola ruang yang ditetapkan dalam RTRWP beserta rencana rincinya;
c. mengakomodasi kebijakan pengembangan kawasan andalan nasional yang berada di
wilayah kabupaten bersangkutan;
d. memperhatikan rencana pola ruang wilayah kabupaten/kota yang berbatasan;
e. mengacu pada klasifikasi pola ruang wilayah kabupaten yang terdiri atas kawasan
lindung dan kawasan budi daya sebagai berikut:
1) Kawasan lindung yang terdiri atas:
b) kawasan hutan lindung;
c) kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya,
meliputi: kawasan bergambut dan kawasan resapan air;
d) kawasan perlindungan setempat, meliputi: sempadan pantai, sempadan
sungai, kawasan sekitar danau atau waduk, kawasan sekitar mata air, serta
kawasan lindung spiritual dan kearifan local lainnya;
e) kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya meliputi: kawasan
suaka alam, kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya, suaka margasatwa
dan suaka margasatwa laut, cagar alam dan cagar alam laut, kawasan pantai
berhutan bakau, taman nasional dan taman nasional laut, taman hutan raya,
taman wisata alam dan taman wisata alam laut, kawasan cagar budaya dan
ilmu pengetahuan;
f)

kawasan rawan bencana alam, meliputi: kawasan rawan tanah longsor,


kawasan rawan gelombang pasang dan kawasan rawan banjir;

g) kawasan lindung geologi, meliputi: kawasan cagar alam geologi, kawasan


rawan bencana alam geologi, dan kawasan yang memberikan perlindungan
terhadap air tanah; dan
h) kawasan lindung lainnya, meliputi: cagar biosfer, ramsar, taman buru,
kawasan perlindungan plasma-nutfah, kawasan pengungsian satwa, terumbu
karang, dan kawasan koridor bagi jenis satwa atau biota laut yang dilindungi.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V17

Naskah Akademik

RTRW

2) Kawasan budi daya yang terdiri atas:


a) kawasan

peruntukan

hutan

produksi,

yang

dirinci

meliputi

kawasan

peruntukan: hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, dan hutan


produksi yang dapat dikonversi;
b) kawasan hutan rakyat;
c) kawasan peruntukan pertanian, yang dirinci meliputi kawasan peruntukan:
pertanian lahan basah, pertanian lahan kering, dan hortikultura;
d) kawasan peruntukan perkebunan, yang dirinci berdasarkan jenis komoditas
perkebunan yang ada di wilayah kabupaten;
e) kawasan peruntukan perikanan, yang dirinci meliputi kawasan peruntukan:
perikanan tangkap, budi daya perikanan, dan pengolahan ikan;
f)

kawasan

peruntukan

pertambangan,

yang

dirinci

meliputi

kawasan

peruntukan: mineral dan batubara, minyak dan gas bumi, panas bumi, serta
air tanah di kawasan pertambangan;
g) kawasan peruntukan industri, yang dirinci meliputi kawasan: peruntukan
industri besar, industri sedang, dan industri rumah tangga;
h) kawasan peruntukan pariwisata, yang dirinci meliputi kawasan peruntukan:
pariwisata budaya, pariwisata alam, dan pariwisata buatan;
i)

kawasan peruntukan permukiman, yang dirinci meliputi kawasan peruntukan:


permukiman perkotaan dan peruntukan permukiman perdesaan. sebagai
kawasan budi daya maka permukiman diarahkan dalam kajian lokasi dan
fungsi masing-masing permukiman, terutama dikaitkan dengan karakter lokasi,
misalnya di pegunungan, dataran tinggi, permukiman pantai, dan sebagainya;
dan

j)

kawasan peruntukan lainnya.

5.3.5. Penetapan Kawasan Strategis Kabupaten


Kawasan strategis wilayah kabupaten merupakan bagian wilayah kabupaten yang
penataan ruangnya diprioritaskan, karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup
kabupaten terhadap ekonomi, sosial budaya, dan/atau lingkungan. Penentuan kawasan
strategis kabupaten lebih bersifat indikatif. Batasan fisik kawasan strategis kabupaten akan
ditetapkan lebih lanjut di dalam rencana tata ruang kawasan strategis.
Kawasan strategis kabupaten berfungsi:

mengembangkan,

melestarikan,

melindungi,

dan/atau

mengkoordinasikan

keterpaduan pembangunan nilai strategis kawasan yang bersangkutan dalam


mendukung penataan ruang wilayah kabupaten;
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V18

Naskah Akademik

RTRW

sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi masyarakat dan
kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah kabupaten yang dinilai mempunyai
pengaruh sangat penting terhadap wilayah kabupaten bersangkutan;

untuk mewadahi penataan ruang kawasan yang tidak bisa terakomodasi di dalam
rencana struktur ruang dan rencana pola ruang;

sebagai pertimbangan dalam penyusunan indikasi program utama RTRW kabupaten;


dan

sebagai dasar penyusunan rencana rinci tata ruang wilayah kabupaten.

Kawasan strategis wilayah kabupaten ditetapkan berdasarkan:

kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah kabupaten;

nilai strategis dari aspek-aspek eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi penanganan


kawasan;

kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang ditetapkan terhadap


tingkat kestrategisan nilai ekonomi, sosial budaya, dan lingkungan pada kawasan yang
akan ditetapkan;

daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup wilayah kabupaten; dan

ketentuan peraturan perundang-undangan.

Kawasan strategis wilayah kabupaten ditetapkan dengan kriteria:


1. memperhatikan faktor-faktor di dalam tatanan ruang wilayah kabupaten yang memiliki
kekhususan;
2. memperhatikan kawasan strategis nasional dan kawasan strategis wilayah provinsi
yang ada di wilayah kabupaten;
3. dapat berhimpitan dengan kawasan strategis nasional dan/atau provinsi, namun harus
memiliki

kepentingan/kekhususan

yang berbeda

serta

harus

ada

pembagian

kewenangan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah


daerah kabupaten/kota yang jelas;
4. dapat merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan
ekonomi yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kabupaten yaitu
merupakan aglomerasi berbagai kegiatan ekonomi yang memiliki:

potensi ekonomi cepat tumbuh;

sektor unggulan yang dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi;

potensi ekspor;

dukungan jaringan prasarana dan fasilitas penunjang kegiatan ekonomi;

kegiatan ekonomi yang memanfaatkan teknologi tinggi;

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V19

Naskah Akademik

RTRW

fungsi untuk mempertahankan tingkat produksi pangan dalam rangka


mewujudkan ketahanan pangan;

fungsi untuk mempertahankan tingkat produksi sumber energi dalam rangka


mewujudkan ketahanan energi; atau

kawasan yang dapat mempercepat pertumbuhan kawasan tertinggal di dalam


wilayah kabupaten;

5. dapat merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan sosial
budaya, antara lain kawasan yang merupakan:

6.

tempat pelestarian dan pengembangan adat istiadat atau budaya;

prioritas peningkatan kualitas sosial dan budaya;

aset yang harus dilindungi dan dilestarikan;

tempat perlindungan peninggalan budaya;

tempat yang memberikan perlindungan terhadap keanekaragaman budaya; atau

tempat yang memiliki potensi kerawanan terhadap konflik sosial.

merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis pendayagunaan sumber daya alam
dan/atau teknologi tinggi di wilayah kabupaten, antara lain:

fungsi bagi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi


berdasarkan osisi geografis sumber daya alam strategi, pengembangan teknologi
kedirgantaraan, serta tenaga tom dan nuklir;

sumber daya alam strategis;

fungsi sebagai pusat pengendalian dan pengembangan teknologi kedirgantaraan;

fungsi sebagai pusat pengendalian tenaga atom dan nuklir; atau

fungsi sebagai lokasi penggunaan teknologi tinggi strategis.

7. merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan fungsi dan
daya dukung lingkungan hidup seperti:

tempat perlindungan keanekaragaman hayati;

kawasan lindung yang ditetapkan bagi perlindungan ekosistem, flora dan/atau


fauna yang hampir punah atau diperkirakan akan punah yang harus dilindungi
dan/atau dilestarikan;

kawasan yang memberikan perlindungan keseimbangan tata guna air yang setiap
tahun berpeluang menimbulkan kerugian;

kawasan yang memberikan perlindungan terhadap keseimbangan iklim makro;

kawasan yang menuntut prioritas tinggi peningkatan kualitas lingkungan hidup;

kawasan rawan bencana alam; atau

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V20

Naskah Akademik

RTRW

kawasan yang sangat menentukan dalam perubahan rona alam dan mempunyai
dampak luas terhadap kelangsungan kehidupan.

8. merupakan kawasan yang memiliki nilai strategis lainnya yang sesuai dengan
kepentingan pembangunan wilayah kabupaten;
9. untuk mewadahi penataan ruang kawasan yang tidak bisa terakomodasi dalam
rencana struktur ruang dan rencana pola ruang; dan
10. mengikuti ketentuan pemetaan kawasan strategis kabupaten sebagai berikut:

deliniasi kawasan strategis harus dipetakan pada satu lembar kertas yang
menggambarkan wilayah kabupaten secara keseluruhan;

pada peta kawasan strategis kabupaten juga harus digambarkan deliniasi


kawasan strategis nasional dan/atau provinsi yang berada di dalam wilayah
kabupaten bersangkutan;

pada bagian legenda peta harus dijelaskan bidang apa yang menjadi pusat
perhatian setiap deliniasi kawasan strategis kabupaten; dan

penggambaran peta kawasan strategis kabupaten harus mengikuti peraturan


perundangan-undangan terkait pemetaan rencana tata ruang.

Sebaran kawasan strategis nasional dan provinsi yang berada dalam wilayah
kabupaten, serta kawasan strategis kabupaten perlu digambarkan dalam peta kawasan
strategis dengan skala peta minimal 1:50.000. Penentuan batasan fisik kawasan strategis
kabupaten pada RTRW kabupaten lebih bersifat indikatif. Penetapan kawasan strategis harus
didukung oleh tujuan tertentu daerah sesuai pertimbangan aspek strategis masing-masing
kabupaten. Kawasan strategis yang ada di kabupaten memiliki peluang sebagai kawasan
strategis nasional dan provinsi. Penetapan kawasan strategis kabupaten didasarkan pada
kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang ditetapkan
5.3.6. Arahan Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten
Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten merupakan perwujudan rencana tata
ruang yang dijabarkan ke dalam indikasi program utama penataan/pengembangan wilayah
kabupaten dalam jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan sampai akhir tahun
perencanaan (20 tahun). Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten berfungsi:
a. sebagai

acuan

bagi

pemerintah

dan

masyarakat

dalam

pemrograman

penataan/pengembangan wilayah kabupaten;


b. sebagai arahan untuk sektor dalam penyusunan program (besaran, lokasi, sumber
pendanaan, instansi pelaksana, dan waktu pelaksanaan);
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V21

Naskah Akademik

RTRW

c. sebagai dasar estimasi kebutuhan pembiayaan setiap jangka waktu 5 (lima) tahun;
dan
d. sebagai acuan bagi masyarakat dalam melakukan investasi.
Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten disusun berdasarkan:
a. rencana struktur ruang dan pola ruang;
b. ketersediaan sumber daya dan sumber dana pembangunan;
c. kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang ditetapkan; dan
d. prioritas pengembangan wilayah kabupaten dan pentahapan rencana pelaksanaan
program sesuai dengan RPJPD.
Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten disusun dengan kriteria:
e. mendukung

perwujudan

rencana

struktur

ruang,

rencana

pola

ruang,

dan

pengembangan kawasan strategis kabupaten;


f.

mendukung program utama penataan ruang nasional dan provinsi;

g. realistis, objektif, terukur, dan dapat dilaksanakan dalam jangka waktu perencanaan;
h. konsisten dan berkesinambungan terhadap program yang disusun, baik dalam jangka
waktu tahunan maupun antar lima tahunan; dan
i.

sinkronisasi antar program harus terjaga dalam satu kerangka program terpadu
pengembangan wilayah kabupaten.

Indikasi program utama dalam arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten meliputi:
a. Usulan Program Utama : Usulan program utama adalah program-program utama
pengembangan wilayah kabupaten yang diindikasikan memiliki bobot kepentingan
utama atau diprioritaskan untuk mewujudkan struktur ruang dan pola ruang wilayah
kabupaten sesuai tujuan penataan ruang wilayah kabupaten.
b. Lokasi: Lokasi adalah tempat dimana usulan program utama akan dilaksanakan.
c. Besaran: Besaran adalah perkiraan jumlah satuan masing-masing usulan program
utama pengembangan wilayah yang akan dilaksanakan.
d. Sumber Pendanaan : Sumber pendanaan dapat berasal dari APBD kabupaten, APBD
provinsi, APBN, swasta, dan/atau masyarakat.
e. Instansi Pelaksana:

Instansi pelaksana adalah pelaksana program utama yang

meliputi pemerintah (sesuai dengan kewenangan masing-masing pemerintahan),


swasta serta masyarakat.
f. Waktu dan Tahapan Pelaksanaan: Usulan program utama direncanakan dalam kurun
waktu perencanaan 20 (dua puluh) tahun yang dirinci setiap 5 (lima) tahunan,
sedangkan masingmasing program mempunyai durasi pelaksanaan yang bervariasi
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V22

Naskah Akademik

RTRW

sesuai kebutuhan. Program utama 5 tahun pertama dapat dirinci ke dalam program
utama tahunan. Penyusunan indikasi program utama disesuaikan dengan pentahapan
jangka waktu 5 tahunan RPJP Daerah Kabupaten.
Arahan pemanfaatan ruang kabupaten, sekurang-kurangnya memiliki susunan sebagai
berikut:
a. perwujudan rencana struktur ruang wilayah kabupaten, mencakup:
1) perwujudan pusat kegiatan dalam wilayah kabupaten, termasuk perwujudan pusat
kegiatan dalam sistem nasional, yaitu PKSN, PKW, PKL, dan sistem pusat kegiatan
provinsi/metropolitan di wilayah kabupaten; dan
2) perwujudan sistem jaringan prasarana kabupaten, yang mencakup pula sistem
prasarana nasional dan wilayah/regional di wilayah kabupaten;

perwujudan sistem prasarana jaringan transportasi di wilayah kabupaten, yang


meliputi sistem prasarana transportasi darat, udara, dan air;

perwujudan sistem jaringan prasarana sumber daya air;

perwujudan sistem jaringan prasarana energi dan kelistrikan;

perwujudan sistem jaringan prasarana telekomunikasi;

perwujudan sistem jaringan persampahan sanitasi dan drainase; dan

perwujudan sistem jaringan prasarana lainnya.

b. perwujudan rencana pola ruang wilayah kabupaten, mencakup:


1) perwujudan kawasan lindung; dan
2) perwujudan kawasan budi daya.
c. perwujudan kawasan-kawasan strategis kabupaten.
Susunan indikasi program utama tersebut di atas merupakan susunan minimum yang harus
diacu dalam setiap penyusunan arahan pemanfaatan ruang kabupaten. Tetapi pada masingmasing bagian dapat dijabarkan lebihrinci sesuai kebutuhan pemanfaatan ruang atau
pengembangan kawasan masing-masing wilayah kabupaten.
5.3.7. Ketentuan Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten adalah ketentuan
yang diperuntukan sebagai alat penertiban penataan ruang, meliputi ketentuan umum
peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan pemberian insentif dan disinsentif, serta
arahan pengenaan sanksi dalam rangka perwujudan rencana tata ruang wilayah kabupaten.
Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten berfungsi:
a. sebagai alat pengendali pengembangan kawasan;
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V23

Naskah Akademik

RTRW

b. menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang;


c. menjamin agar pembangunan baru tidak mengganggu pemanfaatan ruang yang telah
sesuai dengan rencana tata ruang;
d. meminimalkan pengunaan lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang; dan
e. mencegah dampak pembangunan yang merugikan.
Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten disusun berdasarkan:
a. rencana struktur ruang dan pola ruang;
b. masalah, tantangan, dan potensi yang dimiliki wilayah kabupaten;
c. kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang ditetapkan; dan
d. ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.
Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten disusun dengan kriteria:
a. terukur, realistis, dan dapat diterapkan; serta
b. penetapannya melalui kesepakatan antar pemangku kepentingan.
Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten setidak-tidaknya memuat:
a. Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kabupaten
1) ketentuan umum peraturan zonasi kabupaten adalah penjabaran secara umum
ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang persyaratan pemanfaatan ruang dan
ketentuan pengendaliannya yang mencakup seluruh wilayah administratif;
2) ketentuan umum peraturan zonasi kabupaten berfungsi sebagai:

landasan bagi

penyusunan peraturan zonasi pada tingkatan

operasional

pengendalian pemanfaatan ruang di setiap kawasan/zona kabupaten;

dasar pemberian izin pemanfaatan ruang; dan

salah satu pertimbangan dalam pengawasan pemanfaatan ruang.

3) ketentuan umum peraturan zonasi disusun berdasarkan:

rencana struktur ruang dan rencana pola ruang wilayah kota;

karakteristik wilayah;

arahan umum desain kawasan perkotaan; dan

peraturan perundang-undangan sektor terkait lainnya.

4) Ketentuan umum peraturan zonasi yang ditetapkan dalam RTRW kabupaten berisikan:

deskripsi atau definisi pola ruang (jenis zona) yang telah ditetapkan dalam
rencana pola ruang wilayah kabupaten;

ketentuan umum dan ketentuan rencana umum (design plan), yang merupakan
ketentuan kinerja dari setiap pola ruang yang meliputi: ketentuan kegiatan yang
diperbolehkan, bersyarat, atau dilarang; ketentuan intensitas pemanfaatan ruang

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V24

Naskah Akademik

RTRW

berupa tata bangunan, kepadatan bangunan, besaran kawasan terbangun,


besaran ruang terbuka hijau; dan prasarana minimum yang perlu diatur terkait
pengendalian pemanfaatan ruang;

ketentuan pemanfaatan ruang pada zona-zona yang dilewati oleh sistem jaringan
prasarana dan sarana wilayah kabupaten mengikuti ketentuan perundangundangan yang berlaku; dan

ketentuan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kabupaten


untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, seperti pada kawasan lindung,
kawasan rawan bencana, Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP),
kawasan dengan pembangunan ruang udara (air-right) atau di dalam bumi.

b. Ketentuan Perizinan
1) ketentuan perizinan adalah ketentuan yang diberikan untuk kegiatan pemanfaatan
ruang;
2) ketentuan perizinan berfungsi sebagai:

alat

pengendali

dalam

penggunaan

lahan

untuk

mencapai

kesesuaian

pemanfaatan ruang; dan

rujukan dalam membangun.

3) ketentuan perizinan disusun berdasarkan:

ketentuan umum peraturan zonasi yang sudah ditetapkan; dan

ketentuan teknis berdasarkanperaturan perundang-undangan sektor terkait


lainnya.

4) jenis-jenis perizinan terkait dengan pemanfaatan ruang antara lain meliputi:

izin prinsip;

izin lokasi;

izin penggunaan pemanfaatan tanah (IPPT);

izin mendirikan bangunan; dan

izin lain berdasarkan peraturan perundang-undangan.

5) mekanisme perizinan terkait pemanfaatan ruang yang menjadi wewenang pemerintah


kabupaten mencakup pengaturan keterlibatan masing-masing instansi perangkat
daerah terkait dalam setiap perizinan yang diterbitkan;
6) ketentuan teknis prosedural dalam pengajuan izin pemanfaatan ruang maupun forum
pengambilan keputusan atas izin yang akan dikeluarkan, yang akan menjadi dasar
pengembangan standar operasional prosedur (SOP) perizinan; dan
7) ketentuan pengambilan keputusan apabila dalam dokumen RTRW kabupaten belum
memberikan ketentuan yang cukup tentang perizinan yang dimohonkan oleh
masyarakat, individual maupun organisasi.
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V25

Naskah Akademik

RTRW

c. Ketentuan Pemberian Insentif


1) ketentuan pemberian insentif adalah ketentuan yang mengatur tentang pemberian
imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan kegiatan yang didorong
perwujudannya dalam rencana tata ruang;
2) ketentuan pemberian insentif berfungsi sebagai:

perangkat untuk mendorong kegiatan dalam pemanfaatan ruang pada promoted

area yang sejalan dengan rencana tata ruang; dan

katalisator perwujudan pemanfaatan ruang;

3) ketentuan pemberian insentif disusun berdasarkan:

rencana struktur ruang dan rencana pola ruang wilayah kota dan/atau rencana
detail tata ruang wilayah kabupaten;

ketentuan umum peraturan zonasi kabupaten; dan

peraturan perundang-undangan sektor terkait lainnya.

4) ketentuan insentif dari pemerintah kabupaten kepada pemerintah desa dalam wilayah
kabupaten dan kepada pemerintah daerah lainnya, dapat diberikan dalam bentuk:

pemberian kompensasi;

subsidi silang;

penyediaan sarana dan prasarana; dan/atau

publisitas atau promosi daerah;

5) ketentuan insentif dari pemerintah kabupaten kepada masyarakat umum (investor,


lembaga komersial, perorangan, dan lain sebagainya), dapat diberikan dalam bentuk:

pemberian kompensasi;

pengurangan retribusi;

imbalan;

sewa ruang dan urun saham;

penyediaan prasarana dan sarana;

penghargaan; dan/atau

kemudahan perizinan.

6) Ketentuan insentif dimaksud harus dilengkapi dengan besaran dan jenis kompensasi
yang dapat diberikan.
d. Ketentuan Pemberian Disinsentif
1) ketentuan pemberian disinsentif adalah ketentuan yang mengatur tentang pengenaan
bentuk-bentuk kompensasi dalam pemanfaatan ruang;
2) ketentuan pemberian disinsentif berfungsi sebagai perangkat untuk mencegah,
membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan
rencana tata ruang (atau pada non-promoted area);
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V26

Naskah Akademik

RTRW

3) ketentuan pemberian disinsentif disusun berdasarkan:

rencana struktur ruang dan rencana pola ruang wilayah kabupaten;

ketentuan umum peraturan zonasi kabupaten; dan

peraturan perundang-undangan sektor terkait lainnya.

4) ketentuan disinsentif dari pemerintah kabupaten kepada pemerintah desa dalam


wilayah kabupaten dan kepada pemerintah daerah lainnya, dapat diberikan dalam
bentuk:

pengenaan retribusi yang tinggi; dan/atau

pembatasan penyediaan sarana dan prasarana.

5) ketentuan disinsentif dari pemerintah kabupaten kepada masyarakat umum (investor,


lembaga komersial, perorangan, dan lain sebagainya), dapat diberikan dalam bentuk:

pengenaan pajak/retribusi yang tinggi;

pemberian persyaratan khusus dalam proses perizinan; dan/atau

pembatasan penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur.

6) Ketentuan disinsentif dimaksud harus dilengkapi dengan besaran dan jenis


kompensasi yang dapat diberikan.
e. Arahan Pengenaan Sanksi
1) arahan

pengenaan

sanksi

merupakan

arahan

ketentuan

pengenaan

sanksi

administratif kepada pelanggar pemanfaatan ruang yang akan menjadi acuan bagi
pemerintah daerah kabupaten;
2) arahan pengenaan sanksi administratif berfungsi sebagai:

perangkat untuk mencegah, membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan


yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang; dan

penertiban pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang

3) arahan pengenaan sanksi administratif ditetapkan berdasarkan:

hasil pengawasan penataan ruang;

tingkat simpangan implementasi rencana tata ruang;

kesepakatan antar instansi yang berwenang; dan

peraturan perundang-undangan sektor terkait lainnya.

4) arahan pengenaan sanksi administratif dilakukan secara berjenjang dalam bentuk:

peringatan tertulis: Peringatan tertulis diberikan oleh pejabat yang berwenang


dalam penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang melalui penerbitan surat
peringatan tertulis sebanyak-banyaknya 3 (tiga) kali.

penghentian sementara kegiatan:

Penghentian kegiatan sementara dilakukan

melalui langkahlangkah sebagai berikut:


RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V27

Naskah Akademik

RTRW

(1) penerbitan surat perintah penghentian kegiatan sementara dari pejabat yang
berwenang melakukan penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang;
(2) apabila pelanggar mengabaikan perintah penghentian kegiatan sementara,
pejabat yang berwenang melakukan penertiban dengan menerbitkan surat
keputusan pengenaan sanksi penghentian sementara secara paksa terhadap
kegiatan pemanfaatan ruang;
(3) pejabat

yang

berwenang

melakukan

tindakan

penertiban

dengan

memberitahukan kepada pelanggar mengenai pengenaan sanksi penghentian


kegiatan pemanfaatan ruang dan akan segera dilakukan tindakan penertiban
oleh aparat penertiban;
(4) berdasarkan surat keputusan pengenaan sanksi, pejabat yang berwenang
melakukan penertiban dengan bantuan aparat penertiban melakukan
penghentian kegiatan pemanfaatan ruang secara paksa; dan
(5) setelah kegiatan pemanfaatan ruang dihentikan, pejabat yang berwenang
melakukan pengawasan agar kegiatan pemanfaatan ruang yang dihentikan
tidak beroperasi kembali sampai dengan terpenuhinya kewajiban pelanggar
untuk menyesuaikan pemanfaatan ruangnya dengan rencana tata ruang
dan/atau ketentuan teknis pemanfaatan ruang yang berlaku.

penghentian sementara pelayanan umum: Penghentian sementara pelayanan


umum dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:
(1) Penerbitan surat pemberitahuan penghentian sementara pelayanan umum
dari

pejabat

yang

berwenang

melakukan

penertiban

pelanggaran

pemanfaatan ruang (membuat surat pemberitahuan penghentian sementara


pelayanan umum);
(2) apabila pelanggar mengabaikan surat pemberitahuan yang disampaikan,
pejabat yang berwenang melakukan penertiban menerbitkan surat keputusan
pengenaan

sanksi

penghentian

sementara

pelayanan

umum

kepada

pelanggar dengan memuat rincian jenis-jenis pelayanan umum yang akan


diputus;
(3) pejabat yang berwenang melakukan tindakan penertiban memberitahukan
kepada pelanggar mengenai pengenaan sanksi penghentian sementara
pelayanan umum yang akan segera dilaksanakan, disertai rincian jenis-jenis
pelayanan umum yang akan diputus;
(4) pejabat yang berwenang menyampaikan perintah kepada penyedia jasa
pelayanan umum untuk menghentikan pelayanan kepada pelanggar, disertai
penjelasan secukupnya;
RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V28

Naskah Akademik

RTRW

(5) penyedia jasa pelayanan umum menghentikan pelayanan kepada pelanggar;


dan
(6) pengawasan terhadap penerapan sanksi penghentian sementara pelayanan
umum dilakukan untuk memastikan tidak terdapat pelayanan umum kepada
pelanggar

sampai

dengan

pelanggar

memenuhi

kewajibannya

untuk

menyesuaikan pemanfaatan ruangnya dengan rencana tata ruang dan


ketentuan teknis pemanfaatan ruang yang berlaku.

penutupan lokasi: Penutupan lokasi dilakukan melalui langkah-langkah sebagai


berikut:
(1) penerbitan surat perintah penutupan lokasi dari pejabat yang berwenang
melakukan penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang;
(2) apabila pelanggar mengabaikan surat perintah yang disampaikan, pejabat
yang berwenang menerbitkan surat keputusan pengenaan sanksi penutupan
lokasi kepada pelanggar;
(3) pejabat

yang

berwenang

melakukan

tindakan

penertiban

dengan

memberitahukan kepada pelanggar mengenai pengenaan sanksi penutupan


lokasi yang akan segera dilaksanakan;
(4) berdasarkan surat keputusan pengenaan sanksi, pejabat yang berwenang
dengan bantuan aparat penertiban melakukan penutupan lokasi secara
paksa; dan
(5) pengawasan terhadap penerapan sanksi penutupan lokasi, untuk memastikan
lokasi yang ditutup tidak dibuka kembali sampai dengan pelanggar memenuhi
kewajibannya untuk menyesuaikan pemanfaatan ruangnya dengan rencana
tata ruang dan ketentuan teknis pemanfaatan ruang yang berlaku.

pencabutan izin: Pencabutan izin dilakukan melalui langkah-langkah sebagai


berikut:
(1) menerbitkan surat pemberitahuan sekaligus pencabutan izin oleh pejabat
yang berwenang melakukan penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang;
(2) apabila pelanggar mengabaikan surat pemberitahuan yang disampaikan,
pejabat yang berwenang menerbitkan surat keputusan pengenaan sanksi
pencabutan izin pemanfaatan ruang;
(3) pejabat yang berwenang memberitahukan kepada pelanggar mengenai
pengenaan sanksi pencabutan izin;
(4) pejabat yang berwenang melakukan tindakan penertiban mengajukan
permohonan pencabutan izin kepada pejabat yang memiliki kewenangan
untuk melakukan pencabutan izin;

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V29

Naskah Akademik

RTRW

(5) pejabat yang memiliki kewenangan untuk melakukan pencabutan izin


menerbitkan keputusan pencabutan izin;
(6) memberitahukan kepada pemanfaat ruang mengenai status izin yang telah
dicabut, sekaligus perintah untuk menghentikan kegiatan pemanfaatan ruang
secara permanen yang telah dicabut izinnya; dan
(7) apabila pelanggar mengabaikan perintah untuk menghentikan kegiatan
pemanfaatan yang telah dicabut izinnya, pejabat yang berwenang melakukan
penertiban kegiatan tanpa izin sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

pembatalan izin : Pembatalan izin dilakukan melalui langkah-langkah sebagai


berikut:
(1) membuat lembar evaluasi yang berisikan perbedaan antara pemanfaatan
ruang menurut dokumen perizinan dengan arahan pola pemanfaatan ruang
dalam rencana tata ruang yang berlaku;
(2) memberitahukan kepada pihak yang memanfaatkan ruang perihal rencana
pembatalan izin, agar yang bersangkutan dapat mengambil langkah-langkah
yang diperlukan untuk mengantisipasi hal-hal akibat pembatalan izin;
(3) menerbitkan surat keputusan pembatalan izin oleh pejabat yang berwenang
melakukan penertiban pelanggaran pemanfaatan ruang;
(4) memberitahukan kepada pemegang izin tentang keputusan pembatalan izin;
(5) menerbitkan surat keputusan pembatalan izin dari pejabat yang memiliki
kewenangan untuk melakukan pembatalan izin; dan
(6) memberitahukan kepada pemanfaat ruang mengenai status izin yang telah
dibatalkan.

pembongkaran bangunan: Pembongkaran bangunan dilakukan melalui langkahlangkah sebagai berikut:


(1) menerbitkan surat pemberitahuan perintah pembongkaran bangunan dari
pejabat yang berwenang melakukan penertiban pelanggaran pemanfaatan
ruang;
(2) apabila pelanggar mengabaikan surat pemberitahuan yang disampaikan,
pejabat

yang

berwenang

melakukan

penertiban

mengeluarkan

surat

keputusan pengenaan sanksi pembongkaran bangunan;


(3) pejabat yang berwenang melakukan tindakan penertiban memberitahukan
kepada pelanggar mengenai pengenaan sanksi pembongkaran bangunan
yang akan segera dilaksanakan; dan

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V30

Naskah Akademik

RTRW

(4) berdasarkan surat keputusan pengenaan sanksi, pejabat yang berwenang


melakukan

tindakan

penertiban

dengan

bantuan

aparat

penertiban

melakukan pembongkaran bangunan secara paksa.

pemulihan fungsi ruang: Pemulihan fungsi ruang dilakukan melalui langkahlangkah sebagai berikut:
(1) menetapkan ketentuan pemulihan fungsi ruang yang berisi bagian-bagian
yang harus dipulihkan fungsinya dan cara pemulihannya;
(2) pejabat yang berwenang melakukan penertiban pelanggaran pemanfaatan
ruang menerbitkan surat pemberitahuan perintah pemulihan fungsi ruang;
(3) apabila pelanggar mengabaikan surat pemberitahuan yang disampaikan,
pejabat

yang

berwenang

melakukan

penertiban

mengeluarkan

surat

keputusan pengenaan sanksi pemulihan fungsi ruang;


(4) pejabat yang berwenang melakukan tindakan penertiban, memberitahukan
kepada pelanggar mengenai pengenaan sanksi pemulihan fungsi ruang yang
harus dilaksanakan pelanggar dalam jangka waktu tertentu;
(5) pejabat yang berwenang melakukan tindakan penertiban dan melakukan
pengawasan pelaksanaan kegiatan pemulihan fungsi ruang;
(6) apabila

sampai

jangka

waktu

yang

ditentukan

pelanggar

belum

melaksanakan pemulihan fungsi ruang, pejabat yang bertanggung jawab


melakukan tindakan penertiban dapat melakukan tindakan paksa untuk
melakukan pemulihan fungsi ruang; dan
(7) apabila pelanggar pada saat itu dinilai tidak mampu membiayai kegiatan
pemulihan

fungsi

ruang,

pemerintah

dapat

mengajukan

penetapan

pengadilan agar pemulihan dilakukan oleh pemerintah atas beban pelanggar


di kemudian hari.

denda administratif; yang dapat dikenakan secara tersendiri atau bersama-sama


dengan pengenaan sanksi administratif dan besarannya ditetapkan oleh masingmasing pemerintah daerah kabupaten.

5.3.8. Ketentuan Peralihan


(1) izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan dan telah sesuai dengan ketentuan

Peraturan Daerah ini tetap berlaku sampai dengan berakhir masa berlakunya.
(2) izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan tetapi tidak sesuai dengan ketentuan

Peraturan Daerah ini berlaku ketentuan:


a. untuk yang belum dilaksanakan pembangunannya, izin tersebut disesuaikan dengan
fungsi kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini;

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V31

Naskah Akademik

RTRW

b. untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya, pemanfaatan ruang dilakukan


sampai izin terkait habis masa berlakunya dan dilakukan penyesuaian dengan fungsi
kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini; dan
c. ketentuan dan tata cara pemberian penggantian yang layak sebagaimana dimaksud
pada huruf c diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
(3) Izin pemanfaatan ruang yang masa berlakunya sudah habis dan tidak sesuai dengan

Peraturan Daerah ini dilakukan penyesuaian berdasarkan Peraturan Daerah ini.


(4) Pemanfaatan ruang di daerah yang diselenggarakan tanpa izin ditentukan sebagai berikut:
a. yang bertentangan dengan ketentuan Peraturan Daerah ini, pemanfaatan ruang yang

bersangkutan ditertibkan dan disesuaikan dengan Peraturan Daerah ini; dan


b. yang sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah ini, dipercepat untuk mendapatkan

izin yang diperlukan.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

V32

Naskah Akademik

RTRW

BAB 6
PENUTUP
6.1.

Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari disusunnya Naskah Akademik tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Kayong Utara adalah sebagai berikut :
a.

Pembentukan Peraturan Daerah Kabupaten Kayong Utara tentang Rencana Tata


Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara, merupakan kebutuhan mendesak sesuai
dengan amanat UUPR nomor 26 Tahun 2007

b.

Naskah Akademik ini bukan Materi Teknik yang menjadi Dasar penyusunan isi dari
Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara

c.

Naskah Akademik ini bersifat kajian dan literature terhadap variable-variabel yang
menjadi bagian dari Rancangan Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Kayong Utara

6.2.

Saran

Adapun beberapa saran dalam penyelenggaran Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Kayong Utara adalah sebagai beikut:
1. Pembentukan Peraturan Daerah Kabupaten Kayong Utara tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Kayong Utara, mengakibatkan perlunya pembentukan
peraturan Bupati sebagai pengaturan lebih lanjut pelaksanaan Peraturan Daerah ini.
2. Diperlukan kebijakan pendukung dalam rangka memudahkan aplikasi proses perizinan
setempat berupa rencana-rencana detail tata ruang seperti Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten, Rencana Tata Ruang Wilayah Ibukota Kabupaten, Rencana Detail
Tata Ruang, Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan serta Rencana Kawasan
Strategis yang berfungsi sebagai penetapan perizinan fungsi penggunaan lahan serta
intensitas bangunan.

RancanganPeraturanDaerahTentangRTRWKabupatenKayongUtara

IV1