Anda di halaman 1dari 34

KLASIFIKASI VEGETASI HUTAN

Vegetasi : adalah Masyarakat tumbuh-tumbuhan dalam arti luas


Formasi hutan : adalah satuan vegetasi hutan yang terbesar

Perbedaan formasi hutan di tropika disebabkan oleh :


Perbedaan iklim
Fisiognomi (struktur) hutan
Perbedaan habitat
Suksesinya
Beberapa istilah penting :
1. Asosiasi : adalah satuan-satuan dalam formasi hutan yang
diberi nama menurut pohon jenis dominan.
2. Asosiasi : adalah satuan dasar dalam klasifikasi.
3. Asosies : adalah istilah lain untuk asosiasi, satuan ini berada
dalam hutan yang mengalami suksesi sekunder

4. Asosiasi konkrit : adalah bagian dari asosiasi hutan


yang betul-betul diselidiki dan diketahui komposisi
jenis pohonnya.
5. Konsosiasi : adalah varian yang dikuasai oleh satu
jenis pohon.
6. Konsosies : adalah varian di dalam suatu hutan yang
mengalami subsere/suksesi sekunder.

7. Fasiasi : adalah varian yang disebabkan oleh


perbedaan topografi.
8. Losiasi : adalah varian yang disebabkan oleh
perbedaan edafis.
9. Ekoton : adalah daerah peralihan yang sering
dijumpai apabila ada dua atau lebih tipe atau
asosiasi vegetasi yang letaknya berbatasan.

10.Konsosiasi : adalah varian yang dikuasai oleh satu jenis


pohon.
11.Konsosies : adalah varian di dalam suatu hutan yang
mengalami subsere/suksesi sekunder.
12.Fasiasi : adalah varian yang disebabkan oleh perbedaan
topografi.

13.Losiasi : adalah varian yang disebabkan oleh perbedaan


edafis
14.Ekoton : adalah daerah peralihan yang sering dijumpai
apabila ada dua atau lebih tipe atau asosiasi vegetasi
yang letaknya berbatasan.

SISTEM-SISTEM KLASIFIKASI VEGETASI HUTAN TROPIKA


Ada 2 cara pendekatan di dalam klasifikasi vegetasi :
1. Menetapkan dahulu satuan besar, kemudian mengadakan
pemisahan berdasarkan sifat-sifat yang berbeda.
Contoh : - Klasifikasi Schimper (1898)
- Klasifikasi Burt Davy (1938)

2. Dimulai dengan memisahkan satuan yang kecil, kemudian


menggolongkan ke dalam satuan yang lebih besar.
Contoh : Klasifikasi oleh Beard (1944) dan Richard et.al.
(1938)

Adanya bermacam-macam sistem klasifikasi disebabkan


perbedaan kriteria yang digunakan, antara lain Sistem
Klasifikasi :
1. Fisiognomis,
2. Ekologis,
3. Fisiognomis-Ekologis,
4. Floristis,
5. Fisiognomis-Floristis, Geografis-Ekologis

Menurut Archinger pada klasifikasi vegetasi, kriteria


pertama yang digunakan adalah :
1. Fisiognomi,
2. Floristik,
3. Geografi tumbuhan,
3. Ekologi,
4. Syngenesis dan
5. Pengaruh manusia

Menurut Fosberg (1958), klasifikasi vegetasi yang rasional


harus didasarkan pada kriteria :
1. Fisiognomi (rupa vegetasi).

2. Struktur vegetasi (susunan komponen di dalam ruang,


stratifikasi, jarak, dimensi).
3. Fungsi (sifat-sifat phenothypik yang menyatakan adaptasi
terhadap keadaan lingkungan).
4. Komposisi susunan floristik.
5. Dinamika suksesi atau perubahan vegetasi dengan
perbedaan lingkungan.
6. Riwayat vegetasi.

Ellenberg (1956) memperinci kriteria yang dapat


digunakan dalam klasifikasi vegetasi, yang pada garis
besarnya adalah :
A. Sifat-sifat masyarakat tumbuh-tumbuhan
I. Kriteria Fisiognomis
a. Bentuk (life form)
b. Struktur
c. Perioditas musiman
II. Kriteria Floristis
a. Menurut taxon tumbuh-tumbuhan (2-3 taxa)
b. Menurut sekumpulan taxa
III. Hubungan numerik (koefisien masyarakat)
a. Antara taxa yang berlainan
b. Antara tegakan yang berlainan

B. Sifat-sifat di luar masyarakat tumbuh-tumbuhan


I. Keadaan terakhir dari perkembangan vegetasi (klimaks)
a. Sebagai satuan fisiognomis
b. Sebagai satuan floristis
II. Tempat tumbuh
a. Letak geografis dari tempat tumbuh
b. Faktor tempat tumbuh
c. Keadaan tempat tumbuh

BURT DAVY (1938) : BASAH, KERING, IKLIM & EDAFIS


MOIST WOODLAND
Moist Climate Formation
1. Tropical lowland evergreen rain forest
2. Tropical semi - evergreen rain forest
3. Tropical moist diciduous forest
4. Tropical upper - montane rain forest
5. Tropical high - montane conifer forest
6. Tropical montane bamboo
7. Tropical alpine woodland
Moist Edaphic Formation
8. Tropical riparian woodland
9. Tropical fresh - water swamp
10. Tropical palm swamp
11. Tropical mangrove woodland
12. Tropical littoral woodland

Nipah (Nypa fruticans)

DRY WOODLAND
13. Tropical dry evergreen forest
14. Tropical savana woodland
Subformation :
i.
ii.
iii.
iv.
v.
vi.

Tropical savana forest


Topical open woodland
Tropical orchard country
Tropical high grass-low tree savana
Tropical dry palm stards
Tropical bamboo brakes

Thorn forest in the Motagua valley

15. Tropical thornland


Subformation
i. Thorn forest

Pada sistem Burt Davy ini, kriteria klasifikasi yang menonjol


adalah faktor lingkungan, khusus keadaan air, baru menyusul
fisiognomi, struktur dan komposisi jenis.

Beard (1944) membuat Klasifikasi Amerika Tropika yang


dimulai dengan penetapan asosiasi (floristik), kemudian
asosiasi disusun dan digolongkan ke dalam beberapa
formasi berdasarkan fisiognominya dan akhirnya
dikelompokkan menurut keadaan tempat tumbuhnya
Dalam garis besarnya sistem Beard ini ialah :
A. Rain forest
B. Seasonal formation
1. Evergreen formation
2. Semi-evergreen formation
3. Deciduous seasonal forest
4. Thorn woodland
C. Dry evergreen formation
1. Xerophytic rain forest
2. Littoral woodland

D. Montane formation
E. Swamp formation
1. Lower montane rain forest
1. Swamp forest
2. Montane rain forest
2. Palm swamp
3. palm brake
3. mangrove woodland
4. Elfin woodland
5. Mountaine pine forest
6. Bamboo brake
F. Marsh of seasonal swamp
formation
1. Marsh forest
2. Marsh woodland
3. Palm marsh
4. Savana

(a). Hutan Hujan Tropis, (b). Sabana, (c). Steppa, (d). Hutan Mangrove

Menurut Fosberg (1958, 1961) Klasifikasi vegetasi di


daerah tropika perlu dibakukan dan untuk tujuan itu ia
memperkenalkan sistem yang disebutnya klasifikasi umum
yang rasional.
Dalam sistem ini klasifikasi vegetasi hutan menjadi berikut :

CLOSED VEGETATION
I. Forest
A. Evergreen
1. Rain forest : Malayan dipterocarp forest
2. Swamp forest :
a. Orthophyll swamp :
Baringtonia racemosa swamp, most fresh
water, fresh water swamp types

b. Sclerophyll (mangrove) swamp :


Rhizopora swamp, avicennia swamp, most salt or
strongly brakish water swamp
c. Megaphyll swamp :
Usually composed of palms, mauritia swamp
3. Dwarf Sclerophyll forest (mossy forest, cloud forest)
4. Hardwood orthophyll forest : dry evergreen forest of
North Thailand
5. Softwood orthophyll forest : belukar, most
secondary forest in the humid tropic
6. Broad Sclerophyll forest :
a. mesophyll : dry evergreen forest of ceylon
b. Megaphyll : palm forest

7. Narrow Scleropyill forest (needle leafed forest)


a. Resinous : pine forest
b. Non-resinous : Casuarina equisetifolia forest
8. Bamboo forest
9. Evergreen microphyll forest :
Leucaena glauca forest, prosepis forest
B. Deciduous
1. Monsoon type forest : deciduous dipterocarp forest
2. Microphyll forest
3. Thorn forest
II. Open forest with closed lower layers
A. Evergreen
1. Open ortophyll forest
2. Open broad sclerophyll forest
a. Mesophyll
b. Megaphyll : open palm or pandan forest

3. Open narraw sclerophyll forest


a. Resinous : Philipine and mexican pine forest
b.Non-resinous : Open casuarina forest
4. Open microphyll forest : open prosapis forest

B. Deciduous
1. Open deciduous ortophyll forest : deciduous
dipterocarp forest of Thailand
2. Open deciduous sclerophyll forest
3. Open deciduous microphyll forest

III. Closed scrub with scattered trees


A. Evergreen
1. Ortophyll scrub with trees
2. Sclerophyll scrub with trees
3. Microphyll scrub with trees

B. Deciduous
1. Deciduous ortophyll scrub with trees
2. Deciduous sclerophyll scrub with trees
3. Deciduous microphyll scrub with trees
IV. Savana
A. Evergreen
1. Orthophyll savana : fern savana
2. Sclerophyll savana
a. Mesophyll
b. Megaphyll : palm and pandan savana
3. Narrow sclerophyll savana : pine savana
4. Microphyll savana

B. Deciduous
1. Deciduous orthophyll savana
2. Deciduous microphyll savana
3. Thorn savana

savana

OPEN VEGETATION
V. Steppe forest (often called woodland or woodland savana)
A. Evergreen
1. Orthophyll steppe forest
2. Broad sclerophyll steppe forest
a. Megaphyll : open palm forest
b. Open sclerophyll (mangrove) swamp
3. Narrow Scleropyill forest
a. Resinous : some open pine forest
b. Non-resinous : some casuarina forest
B. Deciduous
1. Orthophyll steppe forest : some monsoon forest
2. Microphyll steppe forest
3. Deciduous bamboo forest
4. Open thorn forest : Carribean thorn forest

Raunkiaer (1934) :
Klasifikasi Life Form dan konsep spektrum biologi
(persentase jenis dalam komunitas yang memiliki
variasi Life Form)
Whittaker (1975), tipe formasi utama :
1. Tropical rain forest
2. Tropical seasonal forest
3. Temperate rain forest
4. Temperate deciduous forest
5. Temperate evergreen forest
6. Taiga (sub arctic-sub alpine needle leaved forest)
7. Elfin Woods (sub alpine zone forest on tropical
mountains)

8.

Tropical broad leaved woodlands

9. Thornwoods
10. Temperate woodlands
11. Temperate shrublands
12. Savannas (tropical grasslands)
13. Temperate grasslands
14. Alpine shrublands

15. Alpine grasslands


16. Tundra (treeless arctic plains)
17. Warm semi dessert shrubs
18. Cool semi desertArctic-Alpine semi
desert
19. True desert (sub tropical)
20. Arctic-Alpine desert

KLASIFIKASI VEGETASI (KIMMINS, 1987)


Pendekatan :
Langsung
:- Struktur & life form
- Dominasi jenis
- Komposisi floristik
- Produktivitas tumbuhan
Tak Langsung : -Iklim
- Fisiografi

Klasifikasi Menurut Whittaker, 1973 :


Pemilihan kriteria sebagai dasar klasifikasi tergantung :
1. Aksesibilitas : kriteria mudah dilihat dan diukur di lapangan
2. Signifikansi : kemampuan kriteria untuk membedakan satu
komunitas dengan yang lain (tingkat korelasi antara kriteria
dengan ciri khas komunitas dan lingkungan.
3. Efektivitas : kesesuaian untuk menggambarkan perbedaan
lingkungan pada tingkat yang diperkirakan secara detail.

A. KLASIFIKASI STRUKTUR DAN LIFE FORM

Klasifikasi fisiognomi :
1. Perintis Humboldt Grisebach (abad 19) :
- Berdasarkan karakteristik kelas vegetasi (bentuk
pertumbuhan yang dominan dan tipe lingkungan)
- Kelas vegetasi : formasi
2. Warming (1909)
Asosiasi adalah suatu komunitas yang mempunyai
komposisi floristik dalam formasi

B. KLASIFIKASI BERDASARKAN TIPE DOMINAN


Jenis dominan :

1. Biomassa
2. Kerapatan
3. Tinggi
4. Luas penutupan tajuk, dll.
Seperti : - Hutan Pinus
- Hutan Jati
- Hutan Ramin
- Hutan Meranti
Sistem klasifikasi nasional berdasarkan tipe penutupan
hutan oleh Society of American Foresters (1980)

C. KLASIFIKASI BERDASARKAN KOMPOSISI FLORISTIK

1. Vegetasi penutup tanah (ground vegetation)


a. Kelas tipe tapak : berdasarkan kelembaban dan
status kesuburan tanah
b. Tipe tapak
c. Tipe hutan
2. Komposisi lapisan tajuk (overstory compotition)
3. Komposisi dari ciri komunitas tumbuhan
a. Pendekatan BRAUN-BLANQUET
b. Pendekatan DAUBENMIRE (Habitat)

KLASIFIKASI EKOSISTEM HUTAN DI INDONESIA


Van Steenis (1957) dalam Soerianegara dan Indrawan
(1984)
tipe-tipe vegetasi yang dijumpai di kepulauan
Indonesia dan wilayah sekitarnya
sistem alami,
didasarkan atas perbedaan iklim basah dan bermusim,
perbedaan edafis dan perbedaan altitudinal.
Formasi-formasi hutan yang ditentukan dengan sistem ini adalah :
I. IKLIM BASAH
Kadang-kadang atau selalu tergenang
Air asin (laut), dipengaruhi pasang surut :1. Mangrove
Air tawar (hujan, sungai), diam :
- Eutrofik
2. Hutan Rawa
- Oligotrofik
3. Hutan Gambut
- Air tawar (tepi sungai), deras :
4. Vegetasi Rheofit

Areal hutan gambut yang terbuka

Tanah Kering
Pantai :
Pedalaman hingga batas pohon (timber line)
Tanah podsol, kuarsa dataran rendah :
Tanah kapur dataran rendah :

6. Vegetasi Tanah kuarsa


7. Vegetasi tanah kapur

Jenis-jenis tanah lain :


Elevasi 2 1000 m
Elevasi 1000 2400 m
Elevasi 2400 4150 m

8. Hutan hujan tropika


9. Hutan hujan Pegunungan
10.Hutan hujan Sub Alpin

5. Vegetasi Pantai

II. IKLIM BERMUSIM

Elevasi <1000 m
Elevasi > 1000 m

11. Hutan musim (moonson)


dataran rendah
12. Hutan musim Pegunungan

Vegetasi Pantai
Pandan (Pandanus tectorius)

Pohon-pohonan dlm hutan sub-alpine umumnya berlumut

IKLIM
I. BASAH
(A, B)

KETINGGIAN

KEADAAN TANAH
Tanah kadang-kadang/
selalu tergenang

Tanah kering

Air asin, dipengaruhi


pasang surut

Hutan Mangrove

Air tawar (hujan,


sungai), diam

Eutropik
Olagotropik
Air tawar (sungai,danau)

Hutan Rawa
Hutan Gambut

Pantai

Hutan Pantai
Hutan hujan bawah
Hutan hujan tengah
Hutan hujan atas

Tanah kadang-kadang/
selalu tergenang

Hutan Mangrove

Air asin, dipengaruhi


pasang surut
Air tawar (hujan,
sungai), diam

Tanah kering

Tanah kadang-kadang/
selalu tergenang

Tanah kering

Hutan Rawa

Eutropik

Air tawar (sungai,danau)

Akuatik

Pantai

Hutan Pantai

Pedalaman
III. KERING
(E, F)

Akuatik
<1000 m
1000-3000 m
>3000 m

Pedalaman

II. BERMUSIM
(C, D)

TIPE EKOSISTEM
MAKRO

Air asin, dipengaruhi


pasang surut

<1000 m
>1000 m

Hutan musim bawah


Hutan musim tengah
atas
Hutan Mangrove

Air tawar (hujan,


sungai), diam

Hutan Rawa

Air tawar (sungai,danau)

Akuatik

Pantai

Hutan Pantai

Pedalaman

Sabana