Anda di halaman 1dari 69

Membuat simplisia dan teh daun sirsak, Obat Herbal Yang Lagi Digemari

DuniaWirausaha.com - Buah sirsak kaya fitonutrien dan fitokimia. Berbagai riset menunjukkan bahwa
sirsak kaya antioksidan yang sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan mengobati penyakit.
Antioksidan yang terkandung dalam buah sirsak antara lain adalah vitamin C. Kandungan vitamin C
dalam setiap 100 g jus buah sirsak sebesar 20 mg. Oleh karena itu, buah sirsak merupakan salah satu
buah penting sebagai sumber vitamin C.

Mekanisme kerja vitamin C sebagai antioksidan yaitu menangkap dan meredam zat-zat berbahaya
yang dapat membahayakan dan merusak sel tubuh. Tubuh kita sangat membutuhkan vitamin C. Bila
tubuh kekurangan vitamin C maka akan meningkatkan resiko timbulnya berbagai penyakit seperti
kanker, diabetes mellitus, penyakit hati dan penyakit mata.

Selain vitamin C, sirsak juga kaya antioksidan lain dalam bentuk fitokimia diantaranya senyawa
aseltahid, amiloid, anonain, anomurisin, ananol, atherosperminin, betasitosterol, kampesterol, sitrulin,
galaktomanan, prosianidin, dan tanin. Senyawa-senyawa ini bermanfaat untuk mengobati berbagai
penyakit terutama kanker sehingga semakin mengukuhkan sirsak sebagai tanaman yang ajaib
(panasea) yang bermanfaat sebagai obat herbal alternatif. Bahkan, konon keampuhan manfaat sirsak
10.000 kali lebih ampuh dibandingkan dengan kemoterapi untuk penderita kanker.
Bagian tanaman sirsak yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan adalah buah, daun, kulit kayu,
bunga dan biji. Berdasarkan riset terhadap kandungan fitokimia sirsak, tanaman ini mempunyai
berbagai khasiat untuk pengobatan beragam penyakit. Pada umumnya semua bagian dari pohon
sirsak adalah bermanfaat sebagai obat namun untuk keperluan pembuatan simplisia yang digunakan
adalah daun, kulit kayu dan bunga sirsak.
Dengan segudang manfaat, tanaman sirsak dapat diolah sebagai bahan obat herbal yang selain
mendatangkan manfaat kesehatan juga mempunyai peluang ekonomi dengan memproduksinya
memperkaya khasanah obat tradisional nusantara. Sebagai wirausaha obat herbal, pada dasarnya
sirsak khususnya daunnya dapat diolah menjadi simplisia (ekstrak) menjadi kapsul atau teh herbal.
Proses pembuatan simplisia daun sirsak terdiri atas beberapa tahap yaitu pencucian, penirisan,
pengirisan, pengeringan dan pengemasan. Semua tahapan diatas harus diperhatikan untuk mencegah
hilangnya zat-zat berkhasiat yang terkandung dalam daun sirsak. Simplisia daun sirsak yang baik

adalah bila kadar airnya rendah yaitu antara 10 % - 15 %, tidak mengandung kotoran, serta tidak ada
penyimpangan warna, rasa dan aroma.
Daun sirsak yang dipilih adalah daun yang tidak terlalu tua atau terlalu muda. Sebaiknya diambil daun
ke 4 atau 5 dari ujung. Pemilihan dengan metode ini dikarenakan kandungan annonaceous acetoginin
pada kondisi ini adalah paling tinggi. Sedangkan tanaman yang baik yang digunakan sebagai sumber
simplisia adalah tanaman sirsak yang tumbuh pada ketinggian 50 meter diatas permukaan laut. Daun
yang sudah dipetik kemudian dimasukkan kedalam keranjang.
Daun sirsak dicuci dengan air bersih agar bebas dari kotoran, tanah dan debu yang menempel. Hal ini
penting dikarenakan kotoran dapat mempengaruhi khasiat yang terkandung dalam bahan baku
tersebut. Pencucian dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan.
Setelah dicuci, daun sirsak dapat ditiriskan dalam wadah keranjang yang berlubang agar airnya dapat
menetes kebawah.
Pengeringan bertujuan agar mengurangi

kadar air, mempertahankan daya fisiologis bahan serta

mengawetkan dan mempertahankan kualitas produk. Metode pengeringan dapat dilakukan melalui
dua cara yaitu dijemur dibawah sinar matahari atau diangin-anginkan pada suhu kamar.
Pengeringan simplisia daun sirsak dengan bantuan sinar matahari biasanya dilakukan selama 3-5 hari
atau setelah kadar airnya dibawah 8 %. Caranya adalah dengan menjemur daun sirsak diatas tikar
atau rangka pengering. Selama pengeringan daun sirsak harus dibolak baliksetiap 4 jam agar merata
keringnya.
Cara pengeringan lainnya adalah dengan menggunakan rak oven. Daun sirsak yang sudah ditiriskan
dihamparkan dalam loyang lalu dioven dengan suhu 60 derajat celcius selama 30 menit. Selanjutnya
simplisia daun sirsak siap dikemas dan disimpan ditempat yang kering serta terlindungi dari sinar
matahari agar tidak rusak.
Pengemasan bertujuan untuk menjaga kualitas simplisia daun sirsak yang sudah diproduksi. Kemasan
dipilih sebaiknya yang mampu mencegah uap air masuk kedalam produk yang sudah jadi. Dengan
demikian

simplisia

tidak

mudah

berjamur

yang

akan

membahayakan

kesehatan

bila

dikonsumsi.Selanjutnya simplisia dapat dibuat dengan berbagai bentuk seperti bahan rebusan, bubuk
kering, atau bahan ekstrak daun sirsak.

Pembuatan Teh daun sirsak


Cara pembuatan teh daun sirsak pada dasarnya adalah sama dengan pembuatan simplisia daun
sirsak. Hanya pada pembuatan teh daun sirsak ada proses perajangan daun sirsak setelah tahap
penirisan. Dengan demikian bila teh daun sirsak diseduh dengan air panas akan memberi senyawa
warna seperti teh pada umumnya. Selain itu, senyawa-senyawa yang terkandung dalam rajangan
dapat larut dan diekstraksi oleh air. Tahapan pembuatan teh daun sirsak adalah sebagai berikut:
Daun sirsak yang dipilih adalah daun yang tidak terlalu tua atau terlalu muda. Sebaiknya diambil daun
ke 4 atau 5 dari ujung. Pemilihan dengan metode ini dikarenakan kandungan annonaceous acetoginin

pada kondisi ini adalah paling tinggi. Sedangkan tanaman yang baik yang digunakan sebagai sumber
simplisia adalah tanaman sirsak yang tumbuh pada ketinggian 50 diatas permukaan laut. Daun yang
sudah dipetik kemudian dimasukkan kedalam keranjang.
Daun sirsak dicuci dengan air bersih agar bebas dari kotoran, tanah dan debu yang menempel. Hal ini
penting dikarenakan kotoran dapat mempengaruhi khasiat yang terkandung dalam bahan baku
tersebut. Pencucian dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan.Setelah dicuci, daun sirsak dapat
ditiriskan dalam wadah keranjang yang berlubang agar airnyanya dapat menetes kebawah.
Perajangan bertujuan untuk mempercepat proses pengeringan. Sebaiknya daun sirsak dirajang
dengan pisau tajam yang berbahan stainless steel. Kemudian bahan sirsak hasil rajangan disimpan
dalam wadah yang bersih.
Rajangan daun sirsak dikeringkan dengan cara diangin-anginkan pada suhu kamar atau dengan
menggunakan oven. Pengeringan rajangan daun sirsak dengan bantuan matahari biasanya dilakukan
dengan lama waktu antara 3-5 hari atau kadar airnya dibawah 8 %. Selama masa pengeringan
rajangan daun sirsak harus sering dibolak balik setiap 4 jam agar kadar kekeringannya merata. Cara
pengeringan lain yaitu dengan mengoven rajangan daun dalam loyang pada suhu 60 derajat celcius
selama 30 menit. Selanjutnya teh daun sirsak siap untuk dikonsumsi.

http://qsinauobat.blogspot.com/2011/04/pengeringan-simplisia.html
Minggu, 10 April 2011

pengeringan simplisia
A. PENDAHULUAN
Pengobatan tradisional, termasuk pengobatan herbal telah menunjukkan peningkatan yang cukup pesat
selama hampir dua dekade terakhir. Sayangnya, kemajuan ini juga disertai dengan banyaknya laporan
mengenai efek negatif yang diperoleh dari pengobatan herbal tersebut. Dari hasil analisis dan penelitian
yang telah dilakukan, salah satu faktor penyebabnya adalah karena rendahnya kualitas dari obat
obatan herbal yang mencakup bahan dasar tanaman obat dan penanganan pasca panen yang tidak
sesuai. Sehingga diperlukan adanya suatu quality control terhadap penangan pasca panen, agar
diperoleh simplisia yang berkhasiat dan terjamin kualitasnya.
Penanganan atau pengelolaan lepas panen perlu diperhatikan karena dapat terjadi perkembangan
penyakit yang bisa menimbulkan kerusakan atau perubahan sifat hasil tanaman. Sebagaimana kita
ketahui bahwa dalam pertumbuhan tanaman sampai menghasilkan ada beberapa jenis jamur tertentu,
antara lain Aspergillus sp dan Fusarium sp, serta beberapa mikrobia golongan khamir yang selalu
mempengaruhi kemulusan pertumbuhan dan produksinya. Kenyataannya jamur-jamur dan mikrobia
tersebut dapat terus berkembang dengan baik pada hasil tanaman lepas panen, sehingga penyakit yang
ditimbulkannya dapat menimbulkan kerusakan atau perubahan sifat hasil tanaman lepas panen (terutama
dalam penyimpanan). Penanganan atau pengolahan di sini terutama dalam pengeringan dan
penyimpanannya, yang dalam hal ini pengeringan harus benar- benar kering dan penyimpanan harus
pada wadah yang kering dan ditempatkan pada ruangan yang tidak lembab, sedikit jauh dari kontak
dengan lantai dan dinding ruangannya.
B. RUMUSAN MASALAH
Apa sajakah parameter parameter yang perlu diperhatikan dalam tahap pengeringan agar diperoleh
suatu simplisia yang terjaga kualitas dan kuantitasnya?
C. TUJUAN
1. Diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami tujuan dari dilakukannya tahap pengeringan
pada penanganan pasca panen.
2. Dapat mengetahui dan memahami parameter - parameter apa saja yang perlu diperhatikan dalam
tahap pengeringan pada penanganan Pasca Panen.

D. PEMBAHASAN
1. Tujuan dan Alasan Pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan
dalam waktu yang lebih lama. Selain itu pengeringan akan mencegah agar simplisia tidak berjamur dan
kandungan kimia yang berkhasiat tidak berubah karena proses fermentasi.
Adanya air yang masih tersisa dalam simplisia pada kadar tertentu dapat merupakan media pertumbuhan
kapang dan jasad renik lainnya. Enzim tertentu dalam sel, masih dapat bekerja menguraikan senyawa
aktif sesaat setelah sel mati dan selama bahan simplisia tersebut masih mengandung kadar air tertentu.

Berbeda pada tumbuhan yang masih hidup, pertumbuhan kapang dan reaksi enzimatik yang merusak
tersebut tidak terjadi karena adanya proses proses metabolisme, yakni proses sintesis, transformasi
dan pengunaan isi sel. Keseimbangan ini akan hilang dengan segera setelah sel tumbuhan mati.
Sehingga, dengan mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik melalui pengeringan
simplisia dapat mencegah penurunan mutu atau perusakan simplisia.
2. Cara Pengeringan
Pengeringan simplisia dilakukan dengan menggunakan sinar matahari atau menggunakan suatu alat
pengering. Hal-hal yang perlu diperhatikan selama proses pengeringan adalah suhu pengeringan,
kelembaban udara aliran udara, waktu pengeringan, dan luas permukaan bahan.
Selama proses pengeringan bahan simplisia, faktor faktor tersebut harus diperhatikan sehingga
diperoleh simplisia kering yang tidak mudah mengalami kerusakan selama penyimpanan.
Cara pengeringan yang salah dapat mengakibatkan terjadinya Face hardening, yakni bagian luar bahan
sudah kering, sedangkan bagian dalamnya masih basah. Hal ini dapat disebabkan oleh irisan bahan
simplisia yan terlalu tebal, suhu pengeringan yang terlalu tinggi atau oleh suatu keadaan lain yang
menyebabkan penguapan air permukaan bahan jauh lebih cepat daripada difusi air dari dalam ke
permukaan air tersebut, sehingga permukaan bahan menjadi keras dan menghambat pengeringan
selanjutnya. Face Hadening dapat mengakibatkan kerusakan atau kebusukan di bagian dalam bahan
yang dikeringkan.
Suhu pengeringan tergantung kepada bahan simplisia dan cara pengeringannya. Bahan simplisia dapat
dikeringkan pada suhu 300 sampai 900 C, tetapi suhu yang terbaik adalah tidak melebihi 600 C. Bahan
simplisia yang mengandung senyawa aktif dan tidak panas atau mudah menguap harus dikeringkan pada
suhu serendah mungkin, misalnya 300 sampai 450 C, atau dengan cara pengeringan vakum yaitu
dengan cara mengurangi tekanan udara di dalam ruang atau lemari pengeringan, sehingga tekanan kirakira 5 mm Hg.
Berbagai cara pengeringan telah dikenal dan digunakan orang. Pada dasarnya dikenal dua cara
pengeringan, yaitu pengeringan secara alamiah dan buatan.
1. Pengeringan alamiah
Tergantung dari senyawa aktif yang dikandung dalam bagian tanaman yang dikeringkan, dapat dilakukan
dua cara pengeringan:
a. Dengan panas sinar matahari langsung.
Pengeringan dengan sinar matahari merupakan cara tradisional. Namun, pada umumnya hasil yang
diperoleh bermutu baik. Cara ini dilakukan untuk mengeringkan bagian tanaman yang relatif keras,
seperti kayu, kulit kayu, biji, dan sebagainya, dan mengandung senyawa aktif yang relatif stabil.
Merupakan cara yang paling mudah dan biayanya relatif murah. Simplisia cukup dihamparkan merata
setipis mungkin di atas alas plastik atau tikar dan dijemur di bawah sinar matahari langsung, sambil
sering dibalik agar keringnya merata. Aktivitas pembalikan harus dilakukan secara teratur sehingga hasil
tanaman benar-benar kering. Setelah batas kering yang dipersyaratkan tercapai, penyimpanannya harus
pada wadah yang kering dan steril (bersih). Pengontrolan kualitas kering dapat dilakukan sebulan,
sekuartal, sesuai dengan keperluan dengan cara melakukan pengeringan kembali apabila diperlukan.
Kerugian pengeringan dengan sinar matahari antara lain :
1) Untuk mendapatkan hasil yang benar-benar kering memerlukan waktu yang lama terlebih kalau cuaca
kurang menguntungkan.
2) Pengeringan akan sangat tergantung pada cuaca (sinar matahari), apabila cuaca buruk untuk
beberapa hari, kemungkinan besar kerusakan endogen pada hasil tanaman telah mulai berlangsung.
3) Pengeringannya memerlukan tempat yang luas dan beberapa orang tenaga pengering.
4) Karena suhu dan waktu sukar diawasi atau diatur fluktuasinya, maka kadang-kadang selama
pengeringan dapat terjadi kerusakan akibat aktivitas mikroba.
5) kecepatan pengeringan akan sangat tergantung kepada iklim. Oleh karena itu cara ini lebih banyak

digunakan di daerah dengan udara panas atau kelembaban rendah, serta tidak turun hujan.
b. Dengan diangin - anginkan dan tidak dipanaskan dengan sinar matahari langsung.
Cara ini terutama digunakan untuk mengeringkan bagian tanaman yang lunak seperti bunga, daun, dan
sebagainya dan mengandung senyawa aktif mudah menguap.

2. Pengeringan buatan
Kerugian yang mungkin terjadi jika melakukan pengeringan dengan sinar matahari dapat diatasi jika
melakukan pengeringan buatan, yaitu dengan menggunakan suatu alat atau mesin pengering yang suhu
kelembaban, tekanan dan aliran udaranya dapat diatur.
Prinsip pengeringan buatan adalah sebagai berikut:
Udara dipanaskan oleh suatu sumber panas seperti lampu, kompor, mesin diesel atau listrik, udara
panas dialirkan dengan kipas ke dalam ruangan atau lemari yang berisi bahan yang akan dikeringkan
yang telah disebarkan di atas rak-rak pengering. Dengan prinsip ini dapat diciptakan suatu alat
pengering,yang sederhana, praktis dan murah, dengan hasil yang cukup baik.
Dengan menggunakan pengeringan buatan dapat diperoleh simplisia dengan mutu yang lebih baik
karena pengeringan akan lebih merata dan waktu pengeringan akan lebih cepat, tanpa dipengaruhi oleh
keadaan cuaca. Meskipun demikian, pengadaan alat / mesin pengering membutuhkan biaya yang cukup
besar sehingga biasanya hanya dipakai oleh perusahaan jamu yang sudah cukup besar.
3. Alat yang Digunakan dalam Pengeringan
Untuk mengurangi kerugian kerugian yang ditimbulkan saat pengeringan , sekarang telah banyak
digunakan alat-alat pengering mekanis (buatan). Cara pengeringan dengan alat pengering ini disebut
pengeringan buatan atau pengeringan mekanis, sebagai bahan pemanas yang lazim digunakan adalah
udara panas yang kering (tidak mengandung uap air), tetapi dapat pula digunakan uap panas yang
dialirkan melalui pipa-pipa, dan sebagainya. Bentuk alat pengering beraneka ragam disesuaikan dengan
bahan hasil pertanian yang akan dikeringkan. Berikut ini adalah macam-macam alat pengering, yaitu:
1. Pengering berbentuk kabinet.
Alat pengering ini memiliki rak-rak untuk menempatkan bahan yang akan dikeringkan. Satu alat
pengering kabinet rata-rata memiliki 3 atau 4 rak sebagai wadah atau tempat hasil tanaman yang akan
dikeringkan, rak-rak ditempatkan secara tersusun dalam alat dan dengan penyebaran udara panas
kedalamnya selama waktu yang telah ditentukan, pengeringan akan berlangsung dengan baik mendekati
pengeringan sempurna dengan sinar matahari.
2. Pengering berbentuk kiln
Alat pengering ini hampir sama dengan alat pengering kabinet, tetapi lebih luas dan besar. Alat ini
mempunyai pipa-pipa pemanas yang ditempatkan pada bagian bawah (lantai) dan pada bagian atas
(atap) ruangan.
3. Pengering berbentuk terowongan (tunnel dryer)
Prinsipnya tidak berbeda dengan kedua pengering di atas. Ruang pengeringan lebih luas lagi sehingga
dapat digunakan untuk mengeringkan lebih banyak bahan.
4. Pengering yang dapat berputar (rotary dryer)
Alat ini kebanyakan untuk mengeringkan bahan berbentuk biji-bijian, misalnya kedelai, jagung, padi dan
lain-lain. Bagian dalam alat yang berbentuk silindris ini, semacam sayap yang banyak. Melalui antara
sayap-sayap tersebut dialirkan udara panas yang kering sementara silinder pengering berputar. Dengan
adanya sayap-sayap tersebut bahan seolah-olah diaduk sehingga pemanasan merata dan akhirnya
diperoleh hasil yang lebih baik. Alat ini dilengkapi 2 silinder, yang satu ditempatkan di bagian dekat
pemasukan bahan yang akan dikeringkan dan yang satu lagi di bagian dekat tempat pengeluaran bahan
hasil pengeringan. Masing- masing silinder tersebut berhubungan dengan sayap- sayap (kipas) yang

mengalirkan secara teratur udara panas disamping berfungsi pula sebagai pengaduk biji- bijian yang
dalam proses pengeringan, sehingga dengan cara demikian pengeringan berlangsung merata dengan
memuaskan.
5. Pengering berbentuk silindris ( drum dryer)
Pengering ini digunakan untuk mengeringkan zat-zat berbentuk cairan, misalnya susu atau air buah.
Alatnya terdiri dari pipa silinder yang besar, ada yang hanya satu ada yang dua, bagian dalamnya
berfungsi menampung dan mengalirkan uap panas. Cairan yang akan dikeringkan disiramkan pada
silinder pengering tersebut dan akan keluar secara teratur dan selanjutnya menempel pada permukaan
luar silinder yang panas sehingga mengering, dan karena silinder tersebut berputar dan di bagian atas
terdapat pisau pengerik (skraper) maka tepung- tepung yang menempel akan terkerik dan berjatuhan
masuk ke dalam penampung, sehingga didapat tepung sari hasil tanaman yang kering dan memuaskan.
6. Pengering dengan sistem penyemprotan (spray dryer)
Jenis pengering ini juga digunakan untuk mengeringkan bahan berbentuk cairan. Pada prinsipnya cairan
disemprotkan melelui sebuah alat penyemprot (sprayer) ke dalam ruangan yang panas. Dengan
demikian air akan dapat menguap sehingga bahan dapat kering menjadi bubuk atau powder.
Dengan alat pengering mekanis di atas hasil pengeringan berkualitas baik meskipun kalau dibandingkan
dengan hasil pengeringan sinar matahari kualitas kering tersebut belum sebanding baiknya. Kelebihan
pengeringan dengan alat pengering mekanis antara lain:
a. Waktu yang diperlukan untuk mengeringkan relatif lebih singkat.
b. Suhu dapat diatur, disesuaikan dengan bahan yang dikeringkan dan hasil yang dikehendaki.
c. Tidak memerlukan tempat yang luas
d. Hasil yang diperoleh mempunyai mutu yang baik meskipun kadang-kadang mutunya lebih rendah
daripada pengeringan sinar matahari.
e. Tidak memerlukan banyak tenaga.
4. Perlakuan Terhadap Pengeringan Hasil Tanaman
Perlakuan pengeringan untuk menghindari atau mengurangi hasil tanaman dari kerusakan, yang umum
dilakukan ada dua macam cara, yaitu pengeringan dengan sinar matahari dan pengeringan dengan
udara panas, uap panas, dan sebagainya yang lebih sering dinamakan pengeringan mekanis.
Pengeringan dapat juga dilakukan dengan cara bahan ditempatkan pada rak-rak yang dibuat khusus
untuk pengeringan. Ada pula yang pengeringannya dengan cara digantungkan, misalnya tembakau dan
jagung. Tetap harus dilakukan pengontrolan yang teratur agar batas kering yang dipersyaratkan tidak
terlampaui, sebab bila terlampau kering dapat menimbulkan kerusakan.
Dengan adanya keragaman dalam bentuk bahan baku simplisia maka ada perbedaan cara
mengeringkan pada masing-masing bahan tersebut. Ada bahan yang langsung dikeringkan di bawah
sinar matahari, dikeringkan dibawah naungan, dan ada pula pengeringan lambat atau pemeraman
terlebih dahulu setelah panen. Penggunaan alat pengering buatan merupakan salah satu alternatif untuk
mendapatkan bahan olahan yang lebih baik karena terhindar dari kontaminasi debu, serangga, burung,
atau rodensia. Dari segi biaya, pengeringan matahari lebih menguntungkan, tetapi dari segi kualitas
penggunaan alat pengering buatan akan menghasilkan simplisia yang lebih baik.
Berikut ini cara pengeringan beberapa bahan tanaman obat.
(a) Bahan yang berasal dari daun (folium)
Pengolahan bahan tanaman yang berupa daun, seperti daun tempuyung, kumis kucing, dan sambiloto,
harus diperlakukan secara hati-hati untuk melindungi warna, aroma, serta kandungan zat berkhasiat dan
senyawa kimianya. Daun-daun segar mudah mengalami kerusakan selama pengolahan. Bila
penanganannya salah akan mengakibatkan perubahan warna atau bahkan tercemar mikroba.
Penanganan yang benar tersebut harus sudah dimulai sejak masa pemanenan.
Untuk memperkecil kehilangan senyawa-senyawa yang mudah menguap sebaiknya pemanenan daun

dilakukan pada pagi atau sore hari. Selanjutnya daun dilayukan dibawah naungan dan tidak dijemur
langsung dibawah sinar matahari. Untuk mencegah terjadinya fermentasi atau berjamur maka sebaiknya
daun disimpan dalam keadaan kering pada kondisi dingin. Untuk mempertahankan supaya daun tetap
segar sebelu dikeringkan maka penyimpanan harus dilakukan pada suhu rendah atau dibawah 100
Celcius.
(b) Bahan yang berasal dari kulit (cortex) dan akar (radix)
Kulit kayu dan akar dapat langsung di jemur dibawah sinar matahari setelah dibersihkan dari kotoran
yang melekat. Bila menggunakan alat pengering buatan maka suhu perlu dijaga anatara 50 - 600
Celcius.
(c) Bahan yang berasal dari buah (fructus) atau biji (semen)
Bahan yang berupa biji-bijian biasanya setelah panen dapat langsung dijemur tanpa dikupas terlebih
dahulu, seperti adas, ketumbar dan kapulaga.
(d) Bahan yang berasal dari rimpang (rhizoma)
Bahan yang berasal dari rimpang seperti jahe, kencur, bengle, temulawak dan kunyit harus diiris.
Pengirisan rimpang dilakukan tanpa dikuliti terlebih dahulu untuk memperkecil penguapan minyak atsiri
yang terkandung di dalamnya. Arah irisan dapat melintang atau membujur setelah dicuci bersih.
Ketebalan yang dianjurkan adalah 7 - 8 mm dan setelah dijemur atau kering ketebalannya menjadi 5 - 6
mm. Pengirisan sebaiknya menggunakan pisau tahan karat. Pada waktu penjemuran bahan jangan
ditumpuk terlalu tinggi. Ketebalan penumpukkan bahan waktu penjemuran maksimum antara 3 - 4 cm.
Lantai tempat penjemuran sebaiknya dialasi dengantikar atau anyaman dari bambu.
Pada waktu penjemuran, bahan harus sering dibolak-balik untuk menghindari fermentasi yang
menyebabkan bahan menjadi busuk. Bila cuaca tidak menentu sebaiknya digunakan alat pengering
buatan yang dirancang dengan bantuan panas matahari atau panas buatan.
Alat pengering hasil rekayasa Balittro yang menggunakan tenaga surya menghasilkan kisaran suhu
antara 36,3-45,60 celcius dan kelembaban nisbi 30-40 %.
(e) Bahan yang berasal dari bunga (Flos)
Pemanenan terhadap bunga sebaiknya dilakukan pagi hari atau sore hari untuk menghindari kehilangan
senyawa-senyawa yang mudah menguap. Setelah dipanen, bunga biasanya mudah menjadi kering.
Untuk itu, diusahakan bunga tidak dijemur langsung di bawah sinar matahari, tetapidilayukan dibawah
naunga. Apabila ruangan yang digunakan aerasi udarnya cukup baik maka dalam waktu dua hari bunga
sudah cukup kering. Untuk menghindari berubahnya warna bunga menjadi coklat maka selama pelayuan
sebaiknya bahan sering dibalik.
(f) Bahan herba
Sama dengan pengeringan daun.
(g) Bahan batang (tuber)
Batang dibersihkan, dipotong-potong kemudian dijemur
(h) Bahan umbi (bulbus)
Sama seperti rimpang atau digunakan dalam bentuk segar (sepert bawang merah dan bawang putih).
Berikut tabel cara pengeringannya (Sadewo, 2004)
Jenis Simplisia Cara Pengerjaan
Daun (folium)
Daun dengan minyak menguap

Herba
Rimpang (rhizome)
Batang (tuber)
Akar (radix)

Buah (fructus)
Biji (semen)
Kulit (cortex)
Kayu (lignum)
Bunga (flos)
Umbi (bulbus) Dilayukan dulu baru dijemur
Dilayukan dulu, dikeringkan tidak dengan sinar matahari langsung (diangin anginkan atau dijemur
dengan tutup berupa kain hitam)
Sama dengan pengeringan daun
Rimpang segar dibersihkan dari tanah, dirajang setebal 3 5 mm, baru dijemur.
Batang dibersihkan, dipotong potong baru dijemur
Sama dengan batang
Dimanfaatkan segar atau diperlakukan seperti rimpang
Bias dijemur di bawah sinar matahari langsung
Sama dengan batang
Sama dengan batang
Sama seperti daun dengan minyak menguap atau digunakan dalam bentuk segar
Sama seperti rimpang atau digunakan dalam bentuk segar (seperti bawang merah dan bawang putih)
Contoh pengeringan:
Pada Bunga Cengkeh
Cengkeh diperam selama satu malam agar pengeringan lebih cepat selain itu warnanya juga lebih hitam
dan mengkilap walaupun waktu pengeringan singkat. Namun kelemahannya rendemen cengkeh kering
sedikit berkurang.
Pengeringan pada tampah atau tikar bambu, dan dijemur dibawah sinar matahari.
Pengeringan dapat dilakukan dengan mesin pengering kelemahannya tidak dapat mencapai kering
patah, keuntungannya dapat disimpan sampai satu bulan tanpa merusak kualitas cengkeh. Kemudian
dapat dikeringkan lagi dibawah sinar matahari sampai kering patah. Suhu mesin tidak boleh melebihi
520 celcius, karena jika suhu sangat tinggi kemungkinan sel-sel dalam bunga akan pecah/rusak. Dan bila
direndam tidak dapat menyerap air, sedangkan bila dirajang cengkeh akan hancur menjadi tepung
sehingga minyak atsirisnya akan keluar (kelenjar minyak pada bunga telah rusak).
5. Peraturan tentang Pengeringan
Berdasarkan WHO guidelines on good agricultural and collection practices (GACP) for medicinal plants
Bab Common technical aspects of good agricultural practices for medicinal plants and good collection
practices for medicinal plants tentang pengeringan, menerangkan bahwa saat material tanaman obat
disiapkan untuk tahap pengeringan, bahan penganggu harus dihilangkan hingga seminimal mungkin
untuk mencegah pertumbuhan kapang atau infeksi dari mikroba lainnya sesuai dengan yang tercantum
dalam farmakope atau monografi lainnya. Pada Farmakope Indonesia Edisi IV menerangkan bahwa
Simplisia nabati dan simplisia hewani tidak boleh mengandung organisme pathogen dan harus bebas
dari cemaran mikroorganisme, serangga, dan binatang lain maupun kotoran hewan. Simplisia tidak boleh
menyimpang bau dan warna, tidak boleh mengandung lendir atau menunjukkan adanya kerusakan.
Jumlah benda anorganik asing dalam simplisia nabati dan simplisia hewani yang dinyatakan sebagai
kadar abu yang tidak larut dalam asam, tidak boleh lebih dari 2%, kecuali dinyatakan lain.
Dalam Farmakope Indonesia Edisi IV, Pengawetan simplisia nabati atau simplisia hewani harus
dihindarkan dari serangga atau, cemaran atau mikroba dengan pemberian bahan atau penggunaan cara
yang sesuai, sehingga tidak meninggalkan sisa yang membahayakan kesehatan.(Anonim, 1995).
Cara yang sesuai di atas tersebut, salah satunya melalui pengeringan. WHO menerangkan dalam GACP,

bahwa Tanaman obat dapat dikeringkan dengan beberapa cara yakni di udara terbuka (di bawah sinar
matahari langsung); ditempatkan pada lapisan tipis pada tempat pengeringan; dengan peng-oven-an;
dibakar; microwave; dsb. Selain itu, WHO juga menetapkan bahwa tempetur dan kelembaban harus
dikontrol untuk mencegah bahaya yang dapat ditimbulkan dari adanya konstituen kimiawi yang aktif.
Sedangkan metode dan temperatur yang digunakan untuk pengeringan dapat mempengaruhi kualitas
dari hasil simplisia. Jika memungkinkan, sumber panas untuk pengeringan harus diminimalisir dari
adanya campuran gas butane, propane, atau gas berbahaya lainnya, dan temperatur sebaiknya dijaga di
bawah 600C. Jika digunakan sumber panas lain selain api, kontak antara material, asap, dan tanaman
obat harus dihindari.

E. KESIMPULAN
1. Pengeringan bertujuan untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat
disimpan dalam waktu yang lebih lama, dan terhindar dari pertumbuhan kapang dan mikroba lainnya.
2. Parameter yang perlu diperhatikan dalam tahap pengeringan agar diperoleh simplisia yang baik dan
berkualitas di antaranya :
a. Cara pengeringan, melalui 2 cara yakni pengeringan alamiah dan pengeringan bauatan
b. Alat pengeringan, disesuaikan dengan bahan hasil pertanian yang akan dikeringkan.
c. Perlakuan pengeringan yang tepat dan sesuai untuk tiap - tiap hasil tanaman

F. DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Depkes RI. Jakarta.
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI. Jakarta.
Desrosier, Norman W. 1988. Teknologi Pengawetan Pangan. UI Press. Jakarta.
Hadiwiyoto, Soewedo dan Soehardi. 1980. Penanganan Lepas Panen, edisi 1. Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan. Jakarta.
Sadewo, Bambang. 2004. Tanaman Obat Populer Penggempur Aneka Penyakit. Argomedia Pustaka.
Yogyakarta.
Syamsulbahri. 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. Gadjah mada University Press.
Yogyakarta.
Syukur, Cheppy. 2001. Budidaya Tanaman Obat Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.

http://zehablogapa.blogspot.com/2012/11/simplisia.html
SIMPLISIA
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami
pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain simplisia merupakan bahan yang dikeringkan.
Simplisia terdiri dari simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan atau mineral.
Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau
eksudat tanaman. Yang dimaksud dengan eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan
keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya.
Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat
berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.
Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia yang merupakan bahan pelikan atau
mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia
murni.
Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaannya, maka
simplisia harus memenuhi persyaratan minimal. Dan untuk memenuhi persyaratan minimal
tersebut, ada beberapa faktor yang berpengaruh, antara lain :
1. Bahan baku simplisia.
2. Proses pembuatan simplisia termasuk cara penyimpanan bahan baku simplisia.
3. Cara pengepakan dan penyimpanan simplisia.
Agar simplisia memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan, maka
ketiga faktor tersebut harus memenuhi syarat minimal yang ditetapkan.
A. PEMBUATAN SIMPLISIA SECARA UMUM
1. Bahan Baku
Tanaman obat yang menjadi sumber simplisia nabati merupakan salah
satu faktor yang dapat mempengaruhi simplisia.Sebagai sumber simplisia, tanaman obat dapat
berupa tumbuhan liar atau berupa tanaman budidaya. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang
tumbuh dengan sendirinya di hutan atau ditempat lain, atau tanaman yang sengaja ditanam
dengan tujuan lain, misanya sebagai tanaman hias, tanaman pagar tetapi bukan dengan tujuan
untuk memproduksi simplisia. Tanaman budidaya adalah tanaman yang sengaja ditanam untuk
tujuan produksi simplisia. Tanaman budidaya dapat diperkebunkan secara luas, dapat diusahakan
oleh petani secara kecil-kecilan yang berupa tanaman tumpang sari atau Taman Obat Keluarga.
Taman Obat Keluarga adalah pemanfaatan pekarangan yang secara sengaja digunakan untuk
menanam tanaman obat. Taman Obat Keluarga selain bertujuan untuk dijadikan tempat
memperoleh bahan baku simplisia, dapat berfungsi pula sebagai tanaman hias, taman gizi, taman
buah-buahan, pagar pekarangan dan sebagainya.

Tumbuhan liar umumnya kurang baik untuk dijadikan sumber simplisia jika dibandingkan
dengan tanaman budidaya, karena simplisia yang dihasilkan mutunya tdak tetap.

Hal ini terutama disebabkan :


1. Umur tumbuhan atau bagian tumbuhan yang dipanen tidak tepat dan berbeda-beda. Umur
tumbuhan atau bagian tumbuhan yang dipanen berpengaruh pada kadar senyawa aktif. Ini berarti
bahwa mutu simplisia yang dihasilkan sering tidak sama, karena umur saat panen tidak sama.
2. Jenis (Species) tumbuhan yang dipanen sering kurang diperhatikan, sehingga simplisia yang
diperoleh tidak sama. Contoh pada Rasuk angin (Usnea sp.) bila diperhatikan dapat dipisahkan
menjadi 3 Usnea.
Sering juga terjadi kekeliruan dalam menetapkan suatu jenis tumbuhan, karena dua jenis
tumbuhan dalam satu marga (genus) sering mempunyai bentuk morfologis yang sama. Untuk itu
pengumpul harus merupakan seorang ahli atau berpengalaman dalam mengenal jenis-jenis
tumbuhan. Perbedaan jenis tumbuhan akan memberikan perbedaan pada kandungan senyawa
aktif, yang berarti mutu simplisia yang dihasilkan akan berbeda pula.
3. Lingkungan tempat tumbuh yang berbeda seringkali mengakibatkan perbedaan kadar kandungan
senyawa aktif. Pertumbuhan tumbuhan dipengaruhi tinggi tempat, keadaan tanah dan cuaca.
Perusahaan obat tradisional yang menggunakan simplisia berasal dar tumbuhan liar, selain mutu
yang berbeda, sering pula menyebabkan harga yang bervariasi. Usaha membudidayakan tanaman
obat untuk simplisia, diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. Keseragaman umur pada saat
panen, lingkungan tempat tumbuh dan jenis yang benar dapat ditentuka dan diatur sesuai dengan
tujuan untuk memperoleh mutu simplisia yang seragam. Selain itu, tanaman budidaya dapat
diusahakan untuk meningkatkan mutu simplsia dengan jalan :
1. Bibit dipilih untuk mendapatkan tanaman unggul, sehingga simplisia yang dihasilkan memiliki
kandungan senyawa aktif yang tinggi.
2. Pengolahan tanah, pemeliharaan, pemupukan dan perlindungan tanaman dilakukan dengan
saksama dan bila mungkin menggunakan teknologi tepat guna.
2. Dasar Pembuatan
a.Simplisa dibuat dengan cara pengeringan.
Pembuatan simplisia dengan cara ini pengeringannya dilakukan dengan cepat, tetapi pada
suhu yang tidak terlau tinggi. Pengeringan yang dilakukan dengan waktu lam akan mengakibatkan
simplisia yang diperoleh ditumbuhi kapang. Pengeringan yang dilakukan pada suhu terlalu tinggi
akan mengakibakan perubahan kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Untuk mencegah hal
tersebut, untuk bahan simplisia yang memerlukan perajangan perlu diatur perajangannya,
sehingga diperoleh tebal irisan yang sama pada pengeringan dan tidak mengalami kerusakan.

b. Simplisia dibuat denganproses fermentasi.


Proses fermentasi dilakukan dengan saksama, agar proses tersebut berkelanjutan ke arah yang
tidak diinginkan.

c. Simplisia dibuat dengan proses khusus.


Pembuatan simplisia dengan cara penyulingan, pengentalan, eksudat nabati, pengeringan sari
air dan proses khusus lainya dilakukan dengan berpegang pada prinsip bahwa simplisia yang
dihasilkan harus memiliki mutu yang sesuai dengan persyaratan.
d. Simplisia pada proses pembuatan memerlukan air.
Pati, talk dan sebagainya pada proses pembuatannya memerlukan air. Air yang digunakan
harus bebas dari pencemaran racun serangga, kuman pathogen, logam berat dan lain-lain.
3. Tahapan Pembuatan
Pada umumnya pemuatan simplisia melalui tahapan seperti berikut :
pengumpulan bahan baku, sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan, sortasi kering,
pengepakan, penyimpanan dan pemeriksaan mutu.
a. Pengumpulan Bahan Baku.
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda, antara lain tergantung
pada :
1. Bagian tanaman yang digunakan.
2. Umur tanaman atau bagian tanaman yang digunakan.
3. Waktu panen.
4. Lingkungan tempat tumbuh.
Waktu panen sangat erat hubungannya dengan pembentukan senyawa
aktif di dalam bagian tanaman yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian
tanaman tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah terbesar. Senyawa aktif terbentuk
secara maksimal didalam didalam bagian tanaman atau tanaman pada umur tertentu. Sebagai
contoh pada tanaman Atropa belladonna, alkaloid hiosiamina mula-mula terbentuk dalam akar.
Dalam tahun pertama, pembentukan hiosiamina berpindah pada batang yang masih hijau. Pada
tahun kedua, batang mulai mulai berlignin dan kadar hiosiamina semakin meningkat. Kadar
alkaloid hiosiamina tertinggi dicapai dalam pucuk tanaman saat tanaman berbunga dan kadar
alkaloid menurun pada saat tanaman berbuah dan makin turun ketika buah semakin tua. Contoh
lain, pada tanaman Mentha piperita muda mengandung mentol banyak dalam daunnya. Kadar
minyak atsiri dan mentol tertinggi pada daun tanaman ini dicapai pada saat tanaman tepat akan

berbunga. Pada Cinnamomum camphora,kamfer akan terkumpul dalam kayu tanaman yang telah
tua. Penentuan bagian tanaman yang dikumpulkan dan waktu pengumpulan secara tepat
memerlukan penelitian. Disampng waktu panen yang dikaitkan dengan umur, perlu diperatikan
pula simplisia yang mengandung minyak atsiri lebih baik dipanen di pagi hari. Dengan demikian
untuk menentukan waktu panen dalam sehari perlu dipertimbangkan stabilitas kimiawi dan fisik
senyawa aktif dalam simplisia terhadap sinar matahari.
Secara garis besar, pedoman panen sebagai berikut :
1. Tanaman yang pada saat panen diambil bijinya yang telah tua seperti kedawung(Parkia
roxburgiii) pengambilan biji ditandai dengan telah mengeringnya buah. Sering pula pemetikan
dilakukan sebelum kering benar, yaitu sebelum buah pecah secara alami dan biji terlempar jauh,
misalnya jarak (Ricinus communis)
2. Tanaman yang pada saat dipanen diambil buahnya, waktu pengambilan sering dihubungkan dengan
tingkat kemasakan yang ditandai dengan terjadinya perubahan pada buah, seperti perubahan
tingkat kekerasan misalnya labu merah (Cucurbita moschata). Perubahan warna, misalnya
asam (Tamarindus indica) , kadar air buah, misalnya belimbing wuluh (Averrhoe belimbi), jeruk
nipis (Citrus

aurantifolia),

perubahan

bentuk

buah,

misalnya

mentimun (Cucumis

sativus),pare (Momordica charantia).


3. Tanaman yang pada saat panen diambil daun pucuknya pengambilan dilakukan pada saat tanaman
mengalami perubahan pertumbuhan dari vegetatif ke generatif. Pada saat itu penumpukan
senyawa aktif dalam kondisi tinggi sehingga mempunyai mutu yang terbaik. Contoh tanaman yang
diambil adalah pada pucuk daun kumis kucing(Orthosiphon stamineus).
4. Tanaman yang pada saat dipanen diambil daun yang telah tua, daun yang diambil dipilih yang
telah membuka sempurna dan terletak pada bagian cabang atau batang yang menerima sinar
matahari sempurna. Contoh panenan ini misalnya sembung
( Blumea balsamifera ).
5. Tanaman yang pada saat panen diambil kulit batang, pengambilan dilakukan pada saat tanaman
telah cukup umur. Agar pada saat pengambilan tidak menganggu pertumbuhan sebaiknya
dilakukan pada musim yang menguntungkan pertumbuhan, antara lain menjelang musim kemarau.
6. Tanaman yang pada saat panen diambil umbi lapis, pengambilan dilakukan pada saat umbi
mencapai besar maksimum dan pertumbuhan pada bagian atas, misalnya bawang merah (Allium
cepa).
7. Tanaman yang pada saat panen diambil rimpangnya, pengambilan dilakukan pada musim kering
dengan tanda mengeringnya bagian atas tanaman. Dalam keadaan ini rimpang dalam keadaan
maksimum.
Pemanenan dapat dilakukan dengan tangan, menggunakan alat maupun
menggunakan mesin. Dalam hal ini ketrampilan pemetik diperlukan agar diperoleh simplisa yang
benar, tidak tercampur dengan bagian lain dan tidak merusak tanaman induk. Pemilian terhadap

peralatan untuk pemanenan juga perlu dilakukan, seperti penggunaan mesin berbahan logam
sebaiknya tidak digunakan karena akan merusak senyawa aktif simlplisia seperti fenol, glikosida
dan sebagainya. Cara pengambilan bagian tanaman untuk pembuatan simplisia dapat dilihat pada
table berikut.

Tabel 1
No.
1

2
3
4
5
6
7
8
9
10

11
12

Bagian tanaman, cara pengumpulan dan kadar air simplisia.


Bagian Tanaman
Cara Pengumpulan
Kadar Air Simplisia
Kulit Batang
Dari batang utama dan cabang,
dikelupas dengan ukuran panjang dan
10%
lebar tertentu ;untuk kulit batang
mengandung minyak atsiri/ golongan
senyawa
fenol
digunakan
alat
pengelupas bukan logam.
Batang
Dari cabang dipotong-potong dengan
10%
panjang tertentu dan diameter
cabang tertentu.
Kayu
Dari batang atau cabang, dipotong
10%
kecil atau diserut(disugu) setelah
dikelupas kulitnya.
Daun
Tua dan muda (daerah pucuk),
5%
dipetik dengan tangan satu persatu.
Bunga
Kuncup atau bunga mekar atau
5%
mahkota bunga, dipetik dengan
tangan.
Pucuk
Pucuk berbunga; dipetik dengan
8%
tangan (mengandung daun muda dan
bunga).
Akar
Dari bawah permukaan tanah,
10%
dipotong dengan ukuran tertentu.
Rimpang
Dicabut, dibersihkan dari akar;
8%
dipotong melintang dengan ketebalan
tertentu.
Buah
Masak, hampir masak, dipetik dengan
8%
tangan.
Biji
Buah dipetik:dikupas kulit buahnya
10%
dengan
pisau
atau
menggilas,
kemudian biji dikumpulkan dan
dicuci.
Kulit Buah
Seperti biji, kulit buah dikumpulkan
8%
dan dicuci.
Bulbus
Tanaman dicabut, bulbus dipisah dari

daun dan akar dengan cara dipotong


kemudian dicuci.

b. Sortasi Buah.
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan
asing lainnya dari bahan simplisia. Mislnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman
obat, baan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak, serta
pengotoran lainnya harus dibuang. Tanah mengandung bermacam-macam mikroba dalam jumlah
yang tinggi, oleh karena itu pembersihan simplisia dari tanah yang terikut dapat mengurangi
jumlah mikroba awal.

c. Pencucian.
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainnya yang
melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan menggunakan air bersih dari mata air
atau air sumur maupun PDAM.
Cara sortasi dan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah mikroba awal simplisia.
Misalnya jika air yang digunakan untuk pencucian kotor, maka jumlah mikroba pada permukaan
bahan simplisia dapat bertambah dan air yang terdapat pada permukaan bahan tersebut dapat
mempercepat pertumbuhan mikroba. Bakteri umum yang terapat dalam air adalah Pseudomonas,
Proteus, Micrococcus, Bacillus, Streptococcus, Enterbacter dan Escherichia. Pada simplisia akar,
batang dan buah dapat dilakukan pengupasan kulit luarnya untuk mengurangi jumlah mikroba awal
karena sebagian besar jumlah mikroba biasanya terdapat pada permukaan bahan simplisia. Bahan
yang telah dikupas tersebut tidak memerlukan pencucian apabila pengupasan dilakukan dengan
cara yang tepat dan bersih.
d. Perajangan.
Beberapa jenis simplisia perlu mengalami proses perajangan. Perajangan pada
bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan.
Tanaman yang baru diambil jangan lagsung dirajang tetapi dijemur dalam keadaan utuh sejama
1hari. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajang khusus. Sebagai
contoh suatu alat yang disebut RASINGKO (perajang singkong) yang dapat digunakan untuk
merajang singkong atau bahan lainnya sampai ketebalan 3mm atau lebih.
Semakin tipis bahan yang dikeringkan, semakin cepat penguapan air, sehingga
mempercepat waktu pengeringan. Akan tetapi irisan yang terlalu tipis juga dapat menyebabkan
berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang mudah menguap, sehingga mempengaruhi
komposisi, bau dan rasa yang diinginkan. Oleh karena iu, bahan simplisia seperti temulawak, temu
giring, jahe, kencur, dan bahan sejenis lainnya dihindari dari perajangan yang terlalu tipis untuk
mencegah kurangnya kadar minyak atsiri. Penjemuran sebelum perajangan diperlukan untuk

mengurangi pewarnaan akibat reaksi antara bahan dan logam pisau. Pengeringan dilakukan dengan
sinar matahari.
e. Pengeringan.
Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah
rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan
menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan simplisia.
Air yang masih tersisa dalam simplisia pada kadar tertentu dapat menjadi pertumbuhan
kapang dan jasad renik lainnya. Enzim tertentu dalam sel, masih dapat bekerja menguraikan
senyawa aktif sesaat setelah sel mati dan selama simplisia tersebut mengandung kadar air. Pada
tumbuhan yang masih hidup pertumbuhan kapang dan reaksi enzimatik yang merusak itu tidak
terjadi karena adanya keseimbangan antara proses-proses metabolism, yakno proses sintesis,
transformasi dan penggunaan isi sel. Sebelum tahun 1950, sebelum bahan simplisia dikeringkan,
terlebih dahulu dilakukan proses stabilisasi, yakni proses untuk menghentikan enzim enzimatik.
Cara yang lazim , dilakukan pada saat itu adalah merendam bahan simplisia dengan etanol 70%
atau mengaliri uap panas.
Untuk pembuatan simplisia tertentu proses enzimatik ini justru dikehendaki setelah
pemetikan. Dalam hal ini, sebelum proses pengeringan bagian tanaman dibiarkan dalam suhu dan
kelembaban tertentu agar reaksi enzimatik dapat berlangsung. Cara lain, dapat pula dilakukan
dengan pegeringan perlahan-lahan agar reaksi enzimatik masih berlangsung selama proses
pengeringan. Proses enzimatik disini masih perlu dilakukan karena senyawa yang aktif yang
dikehendaki masih dalam ikatan kompleks dan baru dipecah dari ikatan kompleks serta dibebaskan
oleh enzim tertentu. Contoh simplisia ini adalaha vanili, buah kola dan sebagainya. Pada jenis
baan simplisia tertentu, setelah panen langsung dikeringkan, proses ini dilakukan pada bahan
simplisia yang mengandung bahan senyawa aktif yang mudah menguap. Selain itu, penundaan
proses pengeringan pada bahan simplisia ini akan menurunkan kadar senyawa aktif tersebut serta
akan menurunkan mutu dari simplisia tersebut. Meskipun masih banyak jenis simplisia yang masih
dapat ditunda pengeringannya, akan tetapi prinsip pengeringan sebaiknya dilakukan setelah
pengumpulan bahan selesai dikumpulkan, kecuali apabila bahan simplisia membutuhkan proses
fermentasi.
Pengeringan simplisia dilakukan dengan cara menggunakan sinar matahari atau
menggunakan sebuah alat pengering. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengeringan simplisia
adalah suhu pengeringan, kelembaban udara, aliran udara, waktu pengeringan dan luas
permukaan bahan. Pada pengeringan bahan simplisia sebaiknya tidak menggunakan peralatan yang
terbuat dari plastik. Selama proses pengeringan simplisia hal-hal tersebut harus benar-benar
diperhatikan sehingga akan diperoleh hasil simplisia kering yang tidak mudah mengalami
kerusakan selama penyimpanan. Cara pengeringan yang salah dapat juga menyebabkan terjadinya
Face Hardening, yakni bagian luar bahan sudah kering, sedangkan bagian dalam masih basah.

Hal ini disebabkan oleh irisan bahan simplisia yang terlalu tebal, suhu pegeringan tinggi atau
terjadi suatu keadaan yang menyebabkan penguapan air pada permukaan bahan jauh lebih cepat
dari difusi air dari dalam permukaan tersebut, sehingga permukaan bahan menjadi keras dan
menghambat pengeringan selanjutnya. Face Hardening dapat mengakibatkan kerusakan atau
kebsukan di bagian dalam bahan yang dikeringkan.
Suhu pengeringan tergantung pada bahan simplisia dan cara pengeringannya. Bahan
simplisia dapat dikeringkan pada suhu 30 sampai 90 , tetapi suhu yang terbaik tidak melebihi
60 Bahan simplisia yang mengandung senyawa aktif yang tidak tahan panas atau mudah menguap
harus dikeringkan pada suhu serendah mungkin, misalnya 30 sampai 45 , atau dengan pengeringan
vakum yaitu dengan cara mengurangi tekanan udara di dalam ruang atau lemari pengeringan
sehingga tekanan kira-kira 5mm/Hg. Kelembaban juga tergantung pada bahan simplisia, cara
pengeringan

dan

tahap-tahap

selama

pengeringan,

kelembaban

akan

menurun

selama

berlangsungnya proses pengeringan.


Berbagai cara pengeringan telah dikenal dan digunakan orang, pada dasarnya dikenal dua
cara pengeringan yaitu pengeringan secara alami dan buatan.
Gambar 1
ALAT PENGERING TENDA SURYA
Alat pengering tenda surya ini adalah alat untuk mengeringkan bahan simplisia dengan
energi surya berbentuk tenda atau kemah. Kapasitas alat tergantung pada jenis bahan yang
dikeringkan. Kapasitas alat 35 kg untuk irisan simplisia, dengan waktu pengeringan efektif 8-10
jam dengan suhu pengeringan rata-rata 50
Gambar 2
ALAT PENJEMUR
Alat penjemur dirancang untuk mengeringkan simplisia dengan energi surya sebagai
alternative untuk menggantikan penjemuran dengan cara tradisional di atas alas plastic, alas
bambu, lantai semen atau tanah. Tujuannya adalah supaya tanaman simplisia lebih cepat kering,
tidak terganggu hujan dan terhindar dari kotaminasi kotoran. Suhu rata-rata yang dicapai oleh alat
ini adalah 48,5 , dengan suhu maksimum 56,2 dan suhu minimum 32,5 , dengan suhu udara luar
rata-rata adalah 33,5 . Pengeringan dengan alat ini lebih cepat 60% dari penjemuran tradisional.
1. Pengeringan Alamiah.
Tergantung dari senyawa aktif yang dikandung dalam bagian tanaman yang
dikeringkan, dapat dilakukan dua cara pengeringan, yakni :
a. Dengan panas sinar matahari langsung. Cara ini dilakukan untuk mengeringkan bagian tanaman
yang relatif keras seperti kayu, kulit kayu, biji dan lain sebagainya serta mengandung senyawa
aktif yang stabil. Pengeringan dengan sinar matahari banyak dipraktekkan di Indonesia, yang mana

merupakan salah satu cara dan upaya yang murah dan praktis. Pengeringan ini dilakuan dengan
cara membiarkan bahan yang dipotong di udara terbuka diatas tampah-tampah, tanpa kondisi yang
terkontrol, seperti suhu kelembaban dan aliran udara. Dengan cara ini kecepatan pengeringan
sangat tergantung pada keadaan iklim, sehingga cara ini hanya tepat dilakukan di daerah yang
udaranya panas atau kelembabannya rendah, serta tidak turun hujan. Hujan atau cuaca yang
mendung dapat memperpanjang waktu pengeringan sehingga memberikan kesempatan pada
kapang atau mikroba lainnya untuk tumbuh sebelum simplisia tersebut kering.
b. Dengan diangin-anginkan an tidak dipanaskan dengan sinar matahari langsung. Cara ini merupakan
cara utama yang digunakan untuk mengeringkan bagian tanaman yang lunak seperti bunga, daun
dan lain sebagainya serta mengandung senyawa aktif yang mudah menguap.
Pada kedua cara tersebut, tempa pengeringan mempunyai dasar-dasar berlubang seperti anyaman
bambu, kain kasa dan lain sebagainya. Umumnya dasar tempat pengeringan tersebut bukan dari
logam karena logam akan bereaksi dan merusak senyawa aktif tertentu. Letak pengeringan juga
diatur sehingga memungkinkan terjadinya aliran udara dari atas kebawah atau sebaliknya. Ini
berarti bahwa simplisia yang dikeringkan harus dihamparkan setipis mungkin diatas tempat
pengeringan dan di bawah tempat pengeringan diberi jarak tertentu dengan lantai atau dengan
pengering dibawahnya sehingga memungkinkan terjadinya sirkulasi udara.
2. Pengeringan Buatan.
Kerugian yang mungkin terjadi jika melakukan pengeringan dengan
pengering yang suhu kelembaban, tekanan dan aliran udaranya dapat diatur. Prinsip pengeringan
buatan adalah udara dipansakan oleh suatu sumber panas seperti lampu, kompor, listrik, atau
mesin diesel, udara panas dialirkan dengan kipas ke dalam ruangan atau lemari yang berisi bahanbahan yang akan dikeringkan yang telah disebarkan diatas rak-rak pengering. Dengan prinsip ini
dapat diciptakan suatu alat pengering yang mudah, murah, sederhana dan praktis dengan hasil
yang cukup baik. Cara yang lain misalnya dengan menempatkan bahan-bahan yang akan
dikeringkan diatas pita atau ban berjalan dan melewatkannya melalui suatu lorong atau ruangan
yang berisi udara yang telah dipanaskan dan diatur alirannya.

Dengan menggunakan pengering buatan dapat diperoleh simplisia dengan mutu yang lebih
baik, karena pengeringan akan lebih merata dan waktu pengeringan akan lebih cepat tanpa
dipengaruhi oleh keadaan cuaca. Sebagai contoh misalnya kita membutuhkan waktu 2 sampai 3
hari untuk penjemuran dengan menggunakan sinar matahari sehingga diperoleh simplisia kering
dengan kadar air 10 sampai 12 %, dengan menggunakan suatau alat pengering buatan dapat
diperoleh simplisia dengan kadar air yang sama dalam waktu 6-8 jam.
Daya tahan suatu simplisia selama penyimpanan sangat tergantung pada jenis simplisia,
kadar airnya dan cara penyimpanannya. Beberapa jenis simplisia yang dapat tahan lama jika kaar

airnya diturunkan 4 sampai 8 %, sedangkan simplisia lainnya mungkin masih dapat tahan selama
penyimpanan dengan kadar air 10 sampai 12%.
f. Sortasi Kering.
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahapan akhir dari
pembutan simplisia. Tujuan sortasi adalah untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian
tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang yang masih ada dan
tertinggal pada simplisia kering. Proses ini dilakukan sebelum simplisia dibungkus untuk
kemudiandisimpan. Seperti halnya dengan sortasi awal, sortasi disini dapat dilakukan dengan cara
mekanik. Pada simplisia berbentuk rimpang terlampau besar dan harus dibuang. Dengan demikian
pula adanya partikel-partikel pasir, besi dan benda-benda tanah lainnya yang tertinggal harus
dibuang sebelum simplisia dibungkus.
g. Pengepakan dan Penyimpanan.
Simplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya karena berbagai faktor luar
maupun dalam, antara lain
1. Cahaya

Sinar dari panjang gelombang tertentu dapat menimbulkan

Perubahan kimia pada simplisia, misalnya isomerisasi, rasemisasi dan sebagainya.


2. Oksigen udara

Senyawa tertentu pada simplisia dapat mengalami

perubahan kimiawi oleh pengaruh oksigen udara terjadi oksidasi dan perubahan ini dapat
berpengaruh pada bentuk simplisia, misalnya, yang semula cair dapat berubah menjadi kental
atau padat, berbutir-butir dan lain sebagainya.
3. Reaksi Kimia

ern

Perubahan kimiawi pada simplisia yang dapat disebabkan

oleh reaksi kima intern, misalnya oleh enzim,


polimerisasi, oto-oksidasi dan sebagainya.
4. Dehidrasi

Apabila kelembaban luar lebih rendah dari simplisia, maka

simplisia secara perlahan-lahan akan kehilangan sebagian airnya sehingga semakin lama semakin
mengecil (kisut).

5. Penyerapan air

Simplisia yang higroskopik, misalnya agar-agar, bila

disimpan dalam wadah terbuka akan menyerap lengas udara sehingga menjadi kempal, basah atau
mencair (lumer).
6. Pengotoran

Pengotoran pada simplisia dapat disebabkan oleh

berbagai sumber, misalnya debu atau pasir, eksskresi hewan, bahan-bahan asing(misalnya minyak
yang tumpah) dan fragmen wadah (karung goni).
7. Serangga

Serangga dapat menimbulkan kerusakan dan pengotoran

pada simplisia, baik oleh bentuk ulatnya maupun oleh bentuk dewasanya. Pengotoran tidak hanya
berupa kotoran serangga, tetapi juga sisa-sisa metamorfosa seperti cangkang telur, bekas
kepompong, anyaman benang bungkus kepompong, bekas kulit serangga dan sebagainya.
8. Kapang

Bila kadar air dalam simplisia terlalu tinggi, maka simplisia

dapat berkapang. Kerusakan yang timbul tidak hanya terbatas pada jaringan simplisia, tetapi juga
akan merusak susunan kimia, zat yang dikandung dan malahan dari kapangnya dapat
mengeluarkan toksin yang dapat menganggu kesehatan.
Selama penyimpanan kemungkinan bisa terjadi kerusakan pada simplisia, kerusakan
tersebut dapat mengakibatkan kemunduran mutu, sehingga simplisia yang bersangkutan tidak lagi
memenuhi persyaratan. Oleh karena itu, pada penyimpanan simplisia perlu diperhatikan hal yang
dapat menyebabkan kerusakan pada simplisia, yaitu cara pengepakan, pembungkusan dan
pewadahan, persyaratan gudang simplisia, cara sortasi dan pemeriksaan mutu serta cara
pengawetannya. Penyebab utama pada kerusakan simplisia yang utama adalah air dan
kelembaban. Untuk dapat disimpan dalam waktu lama, simplisia harus dikeringkan terlebih dahulu
sampi kering, sehingga kandungan airnya tidak lagi dapat menyebabkan kerusakan pada simplisia.
Cara menyimpan simplisia dalam wadah yang kurang sesuai memungkinkan terjadinya
kerusakan pada simplisia karena dimakan kutu atau ngengat yang temasuk golongan hewan
serangga atau insekta. Berbagai jenis serangga yang dapat menimbulkan kerusakan pada hampir
semua jenis simplisia yang berasal dari tumbuhan dan hewan, biasanya jenis serangga tertentu
merusak jenis simplisia tertentu pula. Kerusakan pada penyimpanan simplisia yang perlu
mendapatkan perhatian juga ialah kerusakan yang ditimbulkan oleh hewan pengerat seperti tikus.
Cara pengemasan simplisia tergantung pada jenis simplisia dan tujuan penggunaan
pengemasan. Bahan dan bentuk pengemasannya harus sesuai, dapat melindungi dari kemungkinan
kerusakan simplisia dan dengan memperhatikan segi pemanfaatan ruang untuk keperluan
pengangkutan maupun penyimpanannya.
Wadah harus bersifat tidak beracun dan tidak bereaksi(inert) dengan isinya sehingga
tidak menyebabkan terjadinya reaksi serta penyimpangan rasa, warna, bau dan sebagainya pada
simplisia. Selain itu wadah harus melindungi simplisia dari cemaran mikroba, kotoran, serangga
serta mempertahankan senyawa aktif yang mudah menguap atau mencegah pengaruh sinar,
masuknya uap air dan gas-gas lainnya yang dapat menurunkan mutu simplisia. Untuk simplisia yang
tidak tahan terhadap sinar, misalnya yang banyak mengandung vitamin, pigmen atau minyak,
diperlukan wadah yang melindungi simplisa terhadap cahaya, misalnya aluminium foil, plastic atau
botol yang berwarna gelap, kaleng dan lain sebagainya.
Bungkus yang paling lazim digunakan untuk simplisia adalah karung goni. Sering juga
digunakan karung atau kantong plastik, peti atau drum dari kayu atau karton. Beberapa jenis
simplisia terutaman yang berbentuk cairan dikemas dalam botol atau guci porselen. Simplisia yang
berasal dari akar, rimpang, umbi, kulit akar, kulit batang, kayu, daun, herba, buah, biji dan bunga
sebaiknya dikemas pada karung plastik. Simplisia dari daun atau herba umumnya dimampatkan

terlebih dahulu dalam bentuk yang padat dan mampat, dibungkus dalam karung plastik dan
dijahit. Untuk keperluan perdagangan dan ekspor simplisia dalam bungkus plastik tersebut
berbobot antara 50 sampai 125 kg tiap bal.
Simplisia yang mudah menyerap air, udara perlu dibungkus rapat untuk mencegah
terjadinya penyerapan kelembaban tersebut. Sesudah dikeringkan sampai cukup kering di bungkus
dengan karung atau kantong plastic, dalam peti drum atau kaleng besi berlapis. Pada
penyimpanannya, simplisia tersebut dimasukkan dalam wada yang tertutup rapat dan seringkali
perlu diberi kapur tohor sebagai bahan pengering.
Gom dan damar dikemas dalam wadah drum, peti yang terbuat dari karton, kayu atau
besi berlapis sedangkan simplisia aroma atau baunya perlu dipertahankan, harus dikemas dalam
peti kayu berlapis timah.
Kaleng atau aluminium dapat digunakan sebagai wadah untuk simplisia kering
terutama jika diperlukan penutupan secara vakum. Akan tetapi kaleng dan bahan aluminium
bersifat korosif dan mudah bereaksi dengan bahan yang disimpan di dalamnya, sehingga kaleng
atau aluminium biasanya harus diberi lapisan khusus misalnya lapisan oleoresin, vinil, malam
ataupun bahan yang lainnya. Sifat wadah gelas yang mengguntungkan adalah tidak beraksi, tetapi
penggunaan wadah gelas terbatas, karena gelas mudah pecah dan berat, sehingga menyulitkan
dalam pengangkutan. Kertas dan karton tidak dapat digunakan sebagai pembungkus simplisia
secara sempurna oleh karena itu, biasanya bahan pembungkus kertas perlu dilapis lagi dengan
lilin, damar, atau plastik untuk mencegah keluar masuknya gas dan uap air. Plastik biasanya
digunakan untuk membungkus simplisia kering, tetapi penggunaan plastik tidak tahan panas dan
mudah menguap. Sekarang ini, aluminium foil mulai banyak digunakan karena sifatnya
mengguntungkan, diantaranya mudah dilipat, ringan serta dapat mencegah keluar masuknya air
dan zat-zat yang mudah menguap lainnya.
Penyimpanan simplisia kering, biasanya dilakukan pada suhu kamar (15 sampai 30 ,
tetapi dapat pula dilakukan ditempat sejuk (5 sampai 15 ), atau tempat dingin (0 sampai 5 ),
tergantung dari sifat dan ketahanan simplisia tersebut. Kelemaban udara di ruang penyimpanan
simplisia kering, sebaiknya diusahakan serendah mungkin untuk mencegah terjadinya penyerapan
uap air. Di Indonesia daun tembakau dikemas dalam keranjang bambu yang bagian dalamnya
diberi lapisan pelepah daun pisang yang telah dikeringkan.
Simplisia harus disimpan didalam ruangan penyimpanan khusus atau dalam gudang
simplisia, terpisah dari tempat penyimpanan bahan lainnya maupun alat-alat. Gudang simplisia
harus mempunyai bentuk dan ukuran yang sesuai dengan fungsinya, dibuat dengan konstruksi
permanen yang cukup kuat dan dipelihara dengan baik. Gudang harus mempunyai ventilasi udara
yang cukup baik dan bebas dari kebocoran dan kemungkinan kemasukan air hujan. Perlu dilakukan
pencegahan kemungkinan kerusakan simplisia yang ditimbulkan oleh hewan, baik serangga maupun
tikus yang sering memakan simplisia yang disimpan. Untuk mencegah tertariknya serangga
pemakan simplisia ataupun lalat dan nyamuk, gudang harus bersih dan bebas dari sampah. Untuk

mencegah masuknya tikus ke dalam gudang simplisia, sedapat mungkun lubang ventilasi, lubanglubang saluran air dan lubang-lubang lainnya diberi tutup yang sesuai seperti kasa kawat atau yang
lainnya.
Cara penyimpanan simplisia dalam gudang harus diatur sedemikian rupa, sehingga tidak
menyulitkan pemasukan dan pengeluaran bahan simplisia yang disimpan. Untuk simplisia yang
sejenis, harus diberlakukan prinsip pertama masuk, pertama keluar , untuk itu perlu dilakukan
administrasi pergudangan yang teratur dan rapi. Semua simplisia dalam bungkus atau wadahnya
masing-masing harus diberi label dan dicantumkan nama jenis, asal bahan, tanggal penerimaan,
dan pemasukan dalam gudang. Dalam jangka waktu tertentu dilakukan pemeriksaan gudang secara
umum, dilakukan pengecekkan dan pengujian mutu terhadap semua simplisia yang dipandang
perlu. Simplisia yang setelah diperiksa ternyata tidak lagi memenuhi syarat yang ditentukan
misalnya tumbuh kapang, dimakan serangga, berubah warna, berubah bau dan lain sebagainya
dikeluarkan dari gudang dan dibuang.
h. Pemeriksaan Mutu
Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan atau
pembeliannya dari pengumpul atau pedagang simplisia. Agar diperoleh simplisia dengan mutu yang
mantap, seyogyanya disediakan contoh pada tiap-tiap simplisia dengan mutu yang pasti dan
memenuhi syarat yang mana dapat dipergunakan sebagai pembanding simplisia. Pada tiap-tiap
penerimaan atau pembelian simplisia tertentu diperlukan pengujian mutu yang dicocokkan dengan
simplisia pembanding. Contoh simplisia pembanding tersebut disimpan pada tempat secara khusus
untuk menjaga mutunya, dan setiap jangka waktu tertentu diperiksa kembali mutunya dan apabila
kedapatan penurunan mutu maka perlu dilakukan pergantian simplisa pembanding ang baru.
Secara umum, simplisia yang tidak memenuhi syarat seperti kekeringan, ditumbuhi
kapang, mengandung lendir, sudah berbau dan berubah warna, berserangga atau termakan
serangga harus dilakukan penolakan oleh penerimanya. Pada pemeriksaan mutu simplisia,
pemeriksaan dilakukan dengan cara organoleptik, makroskopik, mikroskopik atau dengan cara
kimia. Beberapa jenis simplisia tetentu ada yang perlu diperiksa dengan uji mutu secara biologi.
Pemeriksaan organoleptik dan makroskopik dilakukan dengan menggunakan indera
manusia dengan cara mengamati bentuk, warna dan bau simplisia. Ada kalanya membutuhkan alat
optik berupa kaca pembesar maupun mikroskop. Sebaiknya pemeriksaan mutu organoleptik
dilanjutkan dengan pemeriksaan mikroskopik dengan menggunakan mikroskop dengan mengamati
ciri-ciri anatomi histologi terutama untuk menegaskan keaslian simplisia dan pemeriksaan untuk
menetapkan mutu berdasarkan senyawa aktif.
Sebelum disortir, sebaiknya simplisia diayak atau ditampi dulu untuk membuang debu/
pasir yang terikut pada simplisia. Besar kcilnya lubang ayakan disesuaikan dengan ukuran
simplisia, misalnya ayakan untuk jinten hitam dan ayakan unyuk kulit kina harus berbeda. Untuk
memisahkan bahan organik asing dapat dilakukan sortasi manual dengan menggunakan tangan.

Cara mencegah kerusakan simplisia pada penyimpanan, terutama adalah memperhatikan


dan menjaga kekeringan. Untuk itu pembungkusan dan pewadahan simplisia harus disesuaikan
dengan sifat fisika dan kimia dari simplisia tersebut. Simplisia yang dapat menyerap uap air/
udara, dimasukkan atau dibungkus dalam wadah yang rapat, jika perlu dalam wadah yang diberi
kapur tohor untuk bahan pengering. Simplisia yang pada saat penerimaan belum cukup bersih,
dicuci dengan air bersih, dikeringkan sampai cukup kering, dibungkus atau dimasukkan dalam
wadah yang sesuai baru disimpan dalam gudang simplisia.

http://shofipunya.wordpress.com/2011/12/08/pembuatan-simplisia-dan-standarisasi-mutu-simplisiarimpang-temulawak-curcuma-xanthorriza-rhizoma-dengan-pengeringan-sinar-matahari-naungan-kainhitam-dan-penyimpanan-terbuka/

PEMBUATAN SIMPLISIA DAN STANDARISASI


MUTU SIMPLISIA RIMPANG TEMULAWAK (
Curcuma xanthorriza Rhizoma ) dengan
PENGERINGAN SINAR MATAHARI NAUNGAN
KAIN HITAM dan PENYIMPANAN TERBUKA
Filed under: Laporan Praktikum Tempoe Kuliah dulu, Uncategorized Leave a comment
December 8, 2011
TUJUAN
1. Mengetahui teknik pasca panen dari rimpang temulawak
2. Mengetahui pengaruh pengeringan sinar matahari dengan naungan kain hitam dan penyimpanan
terbuka terhadap mutu dari simplisia temulawak.
DASAR TEORI
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan
apapun juga dan kecuali dinyatakan lain simplisia merupakan bahan yang dikeringkan.
Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaannya, maka simplisia harus
memenuhi persyaratan minimal, dan untuk dapat memenuhi syarat minimal itu, ada beberapa faktor
yang berpengaruh, antara lain adalah:
1. Bahan baku simplisia
2. Proses pembuatan simplisia termasuk cara penyimpanan bahan baku simplisia
3. Cara pengepakan dan penyimpanan simplisia

Pemilihan sumber tanaman obat sebagai bahan baku simplisia nabati merupakan salah satu faktor
yang sangat berpengaruh pada mutu simplisia, termasuk di dalamnya pemilihan bibit (untuk
tumbuhan hasil budidaya) dan pengolahan maupun jenis tahan tempat tumbuh tanaman obat.
Pembuatan simplisia secara umum dapat menggunakan cara-cara sebagai berikut:
1. Pengeringan
2. Fermentasi
3. Proses khusus (penyulingan, pengentalan eksudat dll)
4. Dengan bantuan air (misalnya pada pembuatan pati)
Adapun tahapan tahapan pembuatan simplisia secara garis besar adalah:
1. Pengumpulan bahan baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda antara lain tergantung pada:
Bagian tanaman yang digunakan
Umur tanaman atau bagian tanaman pada saat panen
Waktu panen
Lingkungan tempat tumbuh
2. Sortasi basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing lainnya dari
bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, bahan-bahan
asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak serta pengotor-pengotor
lainnya harus dibuang
3. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotor lainnya yang

melekat pada bahan

simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih yang mengali


4. Perajangan
Beberapa jenis bahna simplisia tertentu ada yang memerlukan proses perajangan. Perajangan bahan
simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan.
5. Pengeringan
Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat
disimpan dalam waktu lama
6. Sortasi kering
Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing dan pengotor-pengotor lain yang masih ada
dan tertinggal pada simplisia kering.
7. Pengepakan dan penyimpanan
Simplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya karena faktor luar dan dalam, antara lain
cahaya, oksigen, reaksi kimia intern, dehidrasi, penyerapan air, pengotoran, serangga dan kapang
Klasifikasi tanaman

Curcuma xanthorriza Roxb.


: Curcuma zerumbet majus Rumph.

Sinonim
Klasifikasi
Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledonae

Bangsa

: Zingiberales

Suku

: Zingiberaceae

Marga

: Curcuma

Jenis

: Curcuma xanthorriza Roxb.

Kandungan kimia tanaman


Kandungan kimia yang terdapat dalam temulawak antara lain; amilum, lemak, tannin, kurkuminoid
(zat warna kuning) dan minyak atsiri (Gunawan dkk, 1988). Minyak atsiri 5% (dengan komponen
utama 1-cycloisoprene myrcene 85%). Kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin dan
demetoksikurkumin (sudarsono dkk, 1996)
Kurkumin adalah kristal berwarna kuning gelap, tidak larut dalam air, larut dalam alkohol. Dalam
larutan basa, kurkumin menghasilkan larutan yang berwarna merah kecokaltan yang apabila
ditambahkan larutan asm akan berubah warna menjadi kuning ( Sudarsono dkk, 1996)
Bentuk kristal kurkumin, adalah batang atau prisma, dengan titik leleh 183-185oC. Kurkumin sukar
larut dalam air, hexana, dan petroleum eter; agak larut daklam benzena, kloroform, dan eter, tetapi
larut dalam alkohol, aseton dan asam asetat glasial( Srinivisan, 1953; Stahl, 1985)
Kurkumin mempunyai kelarutan yang rendah, tidak stabil dalm larutan, tidak stabil pada pH dan
cahaya sehingga sukar untuk dibuat dalam bentuk sediaan (Tonnesen dan Karisen, 1997). Kurkumin
stabil pada dibawah pH 6,5. Kurkumin akan terdegradasi di bawah pH 6,5, hal ini disebabkan adanya
gugus metilen aktif. Produk degradasi kurkumin dalam lingkungan alkali (pH 7-10) akan
menghasilkan asm ferulat dan feruloil metan. Akibat degradasi ini, terjadi perubahan warna
larutanya yaitu pada pH 1-7 larutan berwarna kuning, sedang pada pH 7,5-9,1 larutan berwarna
merah jingga.
Deskripsi Simplisia.
Rimpang temulawak adalah rimpang Curcuma xanthorriza Roxb. Kadar minyak atsiri tidak kurang
dari 6% v/b .
Pemerian. Bau aromatik, rasa tajam dan pahit.
Makroskopik. Keping tipis, bentuk bundar atau jorong, ringan, keras, rapuh, garis tengah sampai 6
cm, tebal 2 mm sampai 5 mm; permukaan luar berkerut, warna coklat kuning sampai coklat; bidang
irisan berwarna coklat kuning buram, melengkung tidak beraturan, tidak rata, sering dengan

tonjolan melingkar pada batas antara silinder pusat dengan korteks; korteks sempit, tebal 3 mm
sampai 4 mm. Bekas patahan berdebu, warna kuning jingga sampai coklat jingga terang
Parameter standar simplisia
Standarisasi simplisia mempunyai pengertian bahwa simplisia yang akan digunakan untuk obat atau
sebagai bahan baku harus memenuhi standar mutu. Sebagai parameter standar yang digunakan
adalah persyaratan yang tercantum dalma monografi resmi terbitan Departemen Kesehatan RI
seperti Materia Medika Indonesia.
Penetapan kadar air
Prinsip metode uji ini adalah pengukuran kandungan air yang berada di dalam bahan, dilakukan
dengan cara yang tepat diantara cara titrasi, destilasi, atau gravimetri.
Susut Pengeringan
Susut pengeringan adalah pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada temperatur105oC selama
30 menit atau sampai berat konstan, yang dinyatakan sebagai nilai prosen. Dalam hal khusus (jika
bahan tidak mengandung minyak menguap dan sisa pelarut organik menguap) identik dengan kadar
air, yaitu kandungan air karena berada di atmosfer atau lingkungan udara terbuka.
Tujuan mengetahui susut pengeringan adalah memberikan batasan maksimal (rentang) tentang
besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan
Penetapan kadar Minyak atsiri
Penetapan kadar minyak atsiri ini dengan cara destilasi Stahl. Pada metode ini, simplisia yang akan
disuling kontak langsung dengan air mendidh. Bahan tersebut mengapung diatas air atau terendam
secara sempurna tergantung dari bobot jenis dan jumlah bahan yang disuling. Air dipanaskan
dengan metode panas langsung, mantel uap, pipa uap melingkar tertutup, atau dengan memakai
pipa uap melingkar terbuka atau berlubang. Ciri khas dari metode ini adlah kontak langsung antara
bahan dengan air mendidih (Ketaren, 1987). Penyulingan ini dilakukan pada tanaman yang
dikeringkan dan tidak dirusak oleh pendidihan ( Claus dan Tyler, 1970).
Rimpang temulawak mengandung minyak atsiri (7-30%) yang terdiri dari xanthorrhizol, -antlatone,

borneol, iso-borneol, bisacumol, bisacurol, bisacurone, bisacurone epoxide, camphene, camphor, dcamphore, cineol, 1,8-cineol, curzurene, curzerenone,-curcume, ar-curcumene, curlone, cymene,
-elemene, -elemene, turmerone, ar-turmerone, -turmerone, -turmerone, isofuranogermacrene, phellandrene, cycloisoprene, isoprenemyrcene, myrcene, p-toluyl-methyl-carbinol, (R)()xanthorrizhol, -pinen, linalool,-terpineol, limonene, -farnesene, germacrone, sesquiphellandrne, bisacurone A,B, 1-cyclo-isaoprenemyrcene, sinamaldehid ( anonim, 1979;
Wagner dkk, 1984)
Kadar Zat Aktif
KLT Densitometri

Ada 4 teknik kromatografi yang digunakan untuk pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan
atau bisa juga dilakukan dengan gabungan dari empat teknik tersebut. Keempat teknik Kromatografi
tersebut yaitu kromatografi kertas, kromatografi lapis tipis, kromatografi gas cair, dan kromatografi
cair kinerja tinggi ( Harborne, 1987)
Diantara berbagai jenis teknik kromatografi, Kromatografi lapis tipis adalah yang paling cocok untuk
analisis obat di Laboratorium farmasi karena hanya memerlukan investasi yang kecil untuk
perlengkapan, waktu analisis relatif singkat, jumlah cuplikan yang diperlukan sedikit, selain itu
kebutuhan ruang minimum serta paenanganannya sederhana ( Stahl, 1985)
KLT yang dimaksudkan untuk uji kuantitatif salah satunya dengan menggunakan densitometer
sebagaai alat pelacakbila cara penotolanya dilakukan secara kuantitatif. Prinsip kerja dari
densitometer adalah adanya pelacakan pada panjang gelombang maksimal yang telah ditetapkan
sebelumnya. Scanning atau pelacakan densitometer ada dua metode yaitu dengan cara memanjang
dan sistem zig-zag. Pada umumnya lebih banyak digunakan metode zig-zag karena pengukuranya
lebih merata serta ketelitian pengukuran lebih terjamin dibanding pengamatan secara lurus atau
memanjang (Soemarno, 2001)
Untuk keperluan standarisai sampel yang mengandung kurkumin, dibutuhkan metode analitik yang
cocok untuk memisahkan kurkuminoid dari bahn-bahan lain yang terdapat dalam tumbuhan, antara
lain dapat dikerjakan dengan KLT dan KCKT, tetapi sulit diterapkan dalam sampel biologi. Analisa
kurkumin yang yang telah berhasil dilakukan antara lain dengan cara Kromatografi kolom yang
dibantu dengan spektrofotometri ( Srinivasan,k 1953); KLT (Sudibyo, 1996), ataupun KCKT (
Tonnesen dan Karlsen, 1983)

I.

Alat dan Bahan

Pembuatan Simplisia
Bahan : Rimpang temulawak sebanyak 2 kg, didapat
Alat

: Pisau, Telenan, Pengiris mekanik, Bak Cuci, Alas pengering, Kain Hitam, Alat penumbuk

Susut Pengeringan
Bahan : Serbuk temulawak 10 gram
Alat

: Cawan petri, kertas saring, timbangan, batu kapur tohor, tempat eksikator, Pemanas (tara)

Penetapan kadar Minyak Atsiri


Bahan : Serpihan Rimpang temulawak 50 mg, aquadest..
Alat ; Destilasi stahl, flakon
Penetapan Kadar air
Bahan : Serbuk temulawak 10,06gr, toluene 200 ml
Alat

: Destilasi toluen

Penetapan kadar zat aktif

Bahan : Serbuk temulawak 1 gram, etanol 95% 5ml, kurkumin standart, Silika gel 60 F 254,
kloroform : metanol : asam formiat ( 95 : 5 : 0,5),
Alat : Tabung reaksi, kertas saring, corong, flakon, gelas ukur, chamber, densitometer

II. Cara Kerja


Sistematika Kerja

Hari ke

Tanggal

Jenis kegiatan

28 September 2006

Sortasi basah , pencucian, pengubahan bentuk,


pengeringan

2 Oktober 2006

Sortasi keirng, pengepakan, penyimpanan

49

16 November 2006

Penggerusan simplisai temualwak

56

23 November 2006

Penetapan kadar air, susut pengeringan, maserasi


serbuk

70

7 desember 2006

Penetapan kadar minyak atsiri, susut pengeringan,


penetapan kadar zat aktif (KLT-densitometri)

Pembuatan Simplisia
Penimbangan Curcuma xanthorriza rhizome

Sortasi basah

Pencucian Simplisia

Perajangan Simplisia dengan tebal 3mm-4mm

Simplisia dikeringkan dibawah sinar matahari dan ditutup kain hitam

Simplisia dibolak-balik, hingga kering merata

Sortasi Kering

Sinplisia ditempatkan di nampan, dan disimpan di tempa terbuka

Penulisan Etiket

Simplisia diserbuk dan dihancurkan

Uji kualitas simplisia

Susut Pengeringan
Panaskan cawan petri kosong

Masukkan dalam desikator

Ditimbang sebagai bobot awal

Simplisia 10 gram dimasukkan dalam cawan petri, lalu ratakan

Petri + simplisia ditmbang lagi

*Masukkan dalam tara (pemanas) selama 1 jam

Tutup dibuka untuk menghilangkan uap panas

Cawan petri + simplisia dimasukkan kembali dalam desikator

Cawan petri + simplisia ditimbang lagi

Ulangi langkah dari * dua kali tapi dengan waktu 30 menit

Penetapan Kadar Minyak Atsiri


Ditimbang 50 mg serbuk kasar temulawak

Dimasukkan ke dalam labu

Ditambahkan air secukupnya hingga serbuk terendam

Dipanaskan dengan destilasi selama 2 jam

Dihitung volume dan kadar minyak atsiri

Penetapan Kadar air


Serbuk temulawak 10,06 gr dimasukkan dalam labu

Ditambah 200 toluen murni yang talah dijenuhkan

Tunggu sampai mendidih

Hitung sakal air yang terkumpul

Penetapan Kadar Zat aktif


Ditimbang 1 gram serbuk temulawak

Maserasi dalam 5 ml etanol

Dgojog selama 30 menit

Masukkan dalm flakon

Ditambah etanol ad 5 ml

Larutan/maserat diuapkan sampai 1 ml

Ditotolkan di KLT 3 l
Orientasi Kuva Baku Kurkumin
Randemen ekstrak menurut MMI = 3,5 %
Kadar Kurkumin ekstrak etanolik tanpa terpurifikasi = 1,55%
Jadi dalam 1 gram temulawak terdapat
3,5% x 1000mg = 35 mg sari ekatrak
Dalam 1 gram temulawak terdapat
1,55% x 35 mg = 0,54 mg kurkumin
ekstrak etanolik diaddkan sampai 1 ml => kadar kurkumin 0,54mg/ml = 0,54 g/l
Jadi dengan pengambilan 1l kadar kurkumin = 0,54 g/l
Stok kadar kurkumin standar adalah 1 g/l
Jadi rentang kadar kurva baku adalah 0,5 g/l 1 g/l 2g/l 4 g/l
Volume penotolan adalah 0,5 l 1 l 2l 4 l
Volume penotolan sampel adalah 3 l

III. HASIL PERCOBAAN


Pembuatan Simplisia
1. Sortasi basah
Berat awal : 2 kg
Jenis pencemar : tanah, debu, akar
2. Pencucian
Berat awal : 2kg
Berat setelah dicuci : 2,1 kg
Masalah yang dihadapi : 3. Perajangan
Jenis alat : mekanik
Tebal : 3mm-4mm
4. Pengeringan
Jenis : Sinar matahari di tutup kain hitam
Lama pengeringan : 4 hari
5. Pengepakan
Tidak dikemas, ditempatkan di nampan
6. Penyimpanan
Jenis : Penyimpanan terbuka
7. Randemen simplisia
Bobot basah bahan : 2,1 kg
Bobot kering simplisia : 0,45 kg
Perhitungan randemen ; 0,45/2,1 x 100% = 21,428%
8. Susut Pengeringan
Susut Pengeringan I
Berat sampel temulawak = 10 gram
Bobot petri kosong = 85,32 gram
Pemansan oven = 105 o C

Menit ke

Berat petri kosong + serbuk temulawak

95,34g

60

94,23g

90

94,20g

120

94,17g

Susut pengeringan selama 60 menit


10- (94,23 85,32) gram x 100% = 10,9 %
10
Susut pengeringan selama 90 menit
10- (94,20 85,32) gram x 100% = 11,2 %
10
Susut pengeringan selama 120 menit
10- (94,17 85,32) gram x 100% = 11,5 %
10
Susut Pengeringan II
Berat sampel temulawak = 10 gram
Bobot petri kosong = 84,66 gram
Pemansan oven = 105 o C

Menit ke

Berat petri kosong + serbuk temulawak

94, 59g

60

93,35g

30

93,35g

30

93,34g

Susut pengeringan selama 60 menit


10- (93,35 85,32) gram x 100% = 13,1 %
10
Susut pengeringan selama 90 menit
10- (93,35 85,32) gram x 100% = 13,1 %
10
Susut pengeringan selama 120 menit
10- (93,35 85,32) gram x 100% = 13,2 %
10
Rata-rata susut pengeringan selama 60 menit = 10,9 + 13,1 = 12 %
2
Rata-rata susut pengeringan selama 90 menit = 11,5 + 13,1 = 12,5%
2
Rata-rata susut pengeringan selama 120 menit = 11,5 + 13,2 = 12,35 %
2

9. Penetapan Kadar Minyak Atsiri


Berat serbuk kasar = 50 mg
Volume minyak atsiri = 0,5 ml
Kadar minyak atsiri = 0,5ml/ 50 mg = 1 % b/v
Warna minyak atsiri = bening agak kuning muda
Bau minyak atsiri = khas, getir
Penetapan Kadar air
Toluen 200 ml ditambah 10 ml air, aquadest diambil tersisa 9,6 ml, jadi masih ada 0,4 ml air yang
tertinggal di toluen
Berat serbuk : 10,06 gram
Volume toluene : 200ml
Volume air dlm serbuk temulawak = Volume air yang menetes Volume air dlm toluena
= 1,0 ml 0,4 ml
= 0,6 ml
Kadar air = 0,6 ml/ 10,0 gr x 100 % = 6 % v/b

Penetapan Kadar Zat aktif


Penetapan kadar zat aktif secara KLT-Densitometri
Fase diam : Silika gel 60 F 254
Fase gerak : Kloroform : Metanol : asam formiat
Kadar kurkumin standar : 1 g/l
Penotolan untuk kurva baku satandar kurkumin ; 0,5l 1l 2l 4l
Penotolan sampel ekstrak etanolik temulawak sampel adalah ; 3l
Hasil KLT

no

Rf

Sinar tampak

2,3 / 8 = 0,28

Kuning

3,4 / 8 = 0,42

Kuning

5,3 / 8 = 0,66

Kuning

Data Kurva Baku

Konsentrasi kurkumin ( g/l)

Luas area

UV 254

UV 366

0,5

1, 10014 x 104

2,07481 x 10 4

5, 46830 x 104

6, 71978 x 10 4

Persamaan Kurva baku :a = 0,8055 ; b = 1,6187 ; r = 0,930


Y = bx + a <=> y = 1,6187x + 0,8055
Luas area sampel kurkumin = 40,69958 x 104
Jadi konsentrasi kurkumin
Y = 1,6187x + 0,8055
40,69958 = 1,6187x + 0,8055
x = 24, 645 g/l
Volume pengambilan 3l = > 24,645 g/l
Jadi dalam 1l konsentrasi kurkumin = > 24,645 g/l = 8,215 g/l
3
= 8,125 mg/ ml
= 0,8125 g/100ml
= 0,8125 % b/v

IV. Pembahasan
Pada praktikum ini bertujuan untuk mempelajari teknik pasca panen pada simplisia rimpang
Temulawak (Curcuma xanthorriza rhizhome). Penanganan pasaca panen ini akan berpengaruh
terhadap mutu simplisia yang akan dibuat bahan baku obat. Untuk mengetahui pengaruh pasca
panen tanaman obat terhadap mutu dan kandungan simplisia, dapat dilakukan uji kontrol kualitas
simplisia. Uji-uji yang dilakukan dalam praktikum ini meliputi uji kadar minyak atsiri, susut
pengeringan, kadar zat aktif dan uji kadr air. Uji ini dapat ditindaklanjuti sebagai standarisasi
simplisia untuk bahan obat.
Penanganan pasca panen tumbuhan obat pada intinya adalah membuat simplisia yang baik, benar
dan memenuhi syarat. Untuk itu perlu penanganan yang teliti pada setiap tahap teknologi pasca
panen. Tahap-tahap tersebut meliputi sortasi basah, pencucian, pengubahan bentuk, pengeringan,
sortasi kering, pengepakan, dan penyimpanan
Pada sortasi basah, Rimpang temulawak harus dipisahkan dari Pencemar-pencemar lain seperti
gulma, rumput, tanah, kerikil, bagian rimpang yang rusak dan bahn tanaman lain atau jenis rimpang

lain. Tanah mengandung bermacam-macam mikroba dalam jumlah yang tinggi, oleh karena itu
pembersihan simplisia dari tanah yang terikut dapat mengurangi jumlah mikroba awal. Pada sortasi
basah ini juga dipisahkan rimpang dari akar dan batang dari tanaman temulawak. Setelah
didapatkan rimpang yang utuh dan bebas dari pencemar, rimpang tersebut ditimbang untuk
mengetahui berat basahnya.. Berat awal didapatkan sebesar 2,1 kg.
Tahap selanjutnya adalah pencucian. Pencucian dilakukan di air yang mengalir yaitu dari sumur dan
ledeng. Pencucian menggunakan air sumur perlu memperhatikan pencemar yang mungkin timbul
akibat mikroba. Beberapa bakteri pencemar air yang perlu diketahui adalah Pseudomonas, Proteus,
Micrococus, Streptococcus, Bacillus, Enterobacter, dan Escheria coli. Dari hasil penelitian yang
diklakukan oleh Frazier (1978) dilaporkan bahwa untuk pencucian sayuran yang dilakukan sebanyak
satu kali akan menurunkan jumlah mikroba sebanak 25%. Namun pencucian yang dilakukan
sebanyak tiga kali akan menurunkan mikroba sebanyak 58%. Pada rimpang dalam keadaan basah
mungkin masih terbapat pencemar mikroba. Namun setelah pengeringan nanti pencermar tersebut
akan berkurang secara drastis, akibat sedikitnya kandungan air. Pencucian menggunakan fasilitas air
air PAM (ledeng) sering tercemar dengan kapur khlor. Jika airnya mengandung kapur klor, akan
menyebabkan suasana basa, sehingga kemungkinkan, kandungan kurkumin dalam rimpang dapat
terdegradasi menjadi asam ferulat dan feruloil metan.
Tahap pengubahan bentuk dilakukan dengan merajang rimpang secara melintang dengan tebal kirakira 3mm-4mm. Tujuan perajangan ini adalah untuk memeperluas permukaan bahan baku,
sehingga waktu pengeringan cepat kering. Irisan yang terlalu tipis dapat menyebabkan
berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang mudah menguap, sehingga mempengaruhi
komposisi, bau dan rasa yang diinginkan. Oleh karena itu bahan simplisia seperti temulawak
dihindari perajangan yang terlalu tipis untuk mencegah berkurangnya kadar minyak atsiri. Dengan
perajangan, akan terbentuk simplisia temulawak yang mempunyai bentuk yang teratur, mudah
dikemas dan mudah disimpan
Pada proses pengeringan, rimpang temulawak yang telah dicuci, dijemur di bawah sinar matahari
secara tidak langsung atau ditutup dengan kain hitam. Secara umum , pengeringan bertujuan untuk
mencegah kerusakan kandungan zat aktif yang ada dalm tanaman sehingga dapat disimpan dalam
jangka waktu yang lama. Kerusakan tersebut akibat peruraian zat aktif secar enzimatis seperti
hidroliss, oksidasi dan polimerisasi, sehingga randemenya akan turun. Pengeringan simplisia harus
dilakukan secepatnya sebab aktivitas enzim akan naik naik dengan adanya air dalam simplisia,
apalagi air tersebut dari sisa pencucian. Dengan pengeringan, kadar air yang terdapat dalam
simplisia akan berkurang sampai pada titik tertentu yang menyebabkan enzim-enzim menjadi tidak
aktif. Selain itu, dalam keadaan kering, dapt mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri. Kapang sudah
dapat berkembang dengan baik pada simplisia dengan kadar air sekitar 18%. Kadar air 10% sudah
cukup untuk meperpanjang waktu simpan simplisia(Hutapea, 1992). Selain itu pengeringan

memudahkan pada tahap selanjutnya ( ringkas, mudah dikemas, dan mudah disimpan) Penutupan
dengan kain hitam bertuuan untukmenghindari penguapan yang terlalu cepat yang dapt berakibat
menurunkan mutu minyak atsiri di dalam rimpang temulawak.
Penjemuran secara tidak langsung ini bertujuan untuk menghindari kontak langsung dengan
pancaran sinar ultra violet. Simplisia ini ditempatkan pada rak besi yang tebuka bagian sisi kanan,
kiri, dan bawah, agar aliran atau sirkulasi udara bagus. Selama penjemuran, simplisia terkadang
dibalik-balik , agar pengeringanya rata dan tidak terjadi face hardening, mengingat ketebalan irisan
temulawak sebesar 3mm-4mm. Pembolak-balikan simplisia selama pengeringa juga untuk
menghindari tumbuhnya jamur. Mengingat simplisia dijemur dengan naungan kain hitam maka,
kecepatan penguapan air dari simplisia terlalu lambat, jadi harus sering dibalik agar simplisia tidak
ditumbuhi jamur. Tumbuhnya jamur pada proses pengeringan dapat mempengaruhi komposisi dari
zat aktif maupun minyak atsiri.
Menurut teori, pengeringan simplisia sampai kadar airnya kurang dari 10%, namun dalam praktikum
ini tidak dapat ditentukan secara pasti apakah kadar air simplisia kurang dari 10%. Proses
pengeringan dihentikan bila simplisia sudah kaku dan bila dipatahkan akan muncul suara. Hal ini
dikarenakan titik kekeringan yang tepat biasanya dapat ditentukan dari kerapuhan dan mudah
patahnya bagian tanaman yang dikeringkan (Claus, 1970)
Pengeringan irisan temulawak ini berlangsung selama 4 hari, dengan pemanasan sinar matahari
pada siang hari dan tanpa tejadinya hujan. Pengeringan sinar matahari dengan naungan kain hitam,
relatif berlangsung lebih lama karena sirkulasi udar kurang bagus, sehingga transfer uap air keluar
dari rimpang menjadi lebih lambat, jadi kecepatan pengeringan lebih lambat. Pengeringan dengan
matahari mempunyai kelebihan yaitu murah, tetapi mempunyai banyak kekurangan yaitu suhu dan
kelembapan yang tidak dapat dikontrol, perlu area penjemuran yang luas, mudah terkontaminasi,
simplisia mudah hilang, misalnya diterbangkan angin, dimakan hewan atau mungkin mudah dicuri.
Setelah pengeringan, dilakukan sortasi kering. Sortasi kering ini dengan memilah-milah simplisia
yang mempunyai penampilan yang bagus, bentuk dan ukuran simplisia yang memenuhi syarat.
Mengingat simplisia dijemur di lingkungan luar, maka perlu diperhatikan adnaya pencemar.
Pencemar tersebut diantaranya adalah simplisia lain yang diterbangkan angin dan masuk dalam
wadah simplisia temulawak.Serangga yang suka hinggap di simplisia, kotoran hewan dan jenis
sampah-sampah lain. Setelah itu ditimbang berat bersih dari simplisia yaitu 0,45 kg. Rimpang
dengan bobot basah mempunyai berat basah sebesar 2,1 kg, tetapi setelah diolah menjadi simplisia
kering yang memenuhi persyaratan bentuk dan penampilan, didapatkan hasil sebesar 0,45kg. Jadi
randemen sebesar 21,48%
Tahap selanjutnya adalah pengepakan dan penyimpanan. Simplisia yang telah kering, harus segera
dikemas dan disimpan. Simplisia perlu ditempatkan dalam suatu wadah agar tidak saling bercampur
antar simplisia satu dengan yang lain. Simplisia temulawak ditempatkan dalam wadah nampan dan

disimpan dalam keadaan terbuka. Simplisia disimpan dalam suhu kamar yaitu pada suhu antara 15 o30oC. Kelembapan tidak diatur. Penyimpanan simplisia temualwak ditempatkan dalam almari
tertutup. Hal ini mempunyai keuntungan yaiu mencegah angin masuk, Serangga sukar masuk dan
simplisia tidak terkena sinar matahariyang berlebihan, namun sirkulasi udaranya kurang lancar.
Penyimpanan simplisia secara terbuka, kurang begitu melindungi simplisia, karena simplisia kontak
langsung dengan udara luar, sehingga kurang terjaganya kelembapan, keutuhan zat aktif dan
bentuknya. Dalam penyimpanannya simplisia tersebut harus diberi etiket. Etiket tersebut minimal
harus memuat nama simplisia, berat kering, berat basah, tanggal pembuatan, lama pengeringan ,
jenis pengeringan, dan nama pembuat simplisia.
Setelah pembuatan simplisia selesai, maka simplisia tersebut di uji kualitasnya, apakah memenuhi
syarat apa tidak. Uji-uji yang dilakukan pada praktikum ini diantaranya adalah susut pengeringan,
penetapan kadar minyak atsiri, penetapan kadar air, dan penetapan kadar zat aktif. Uji kualitas
simplisia setelah penyimpanan terbuka selam 45 hari.
1. Susut pengeringan
Pada uji susut pengeringan, dilakukan pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada
temperatur105oC selama 60 menit, 90 menit, dan 120 menit atau sampai berat konstan. Pada suhu
105oC ini, air akan menguap, dan senyawa-senyawa yang mempunyai titik didih yang lebih rendah
dari air akan ikut menguap juga. Susut pengeringan dinyatakan sebagai nilai prosen terhadap bobot
awal. Pada praktikum ini uji susut pengeringan tidak sampai pada berat konstan karena keterbatasan
waktu. Pada menit ke 60 susut pengeringan sebesar 12%. Pada menit ke 90 susut pengeringan
sebesar 12,15%, dan pada menit ke 120 susut pengeringan sebesar 12,35%. Dengan begitu, semakin
lama pengeringan, semakin besar nilai susut pengeringannya. Tetapi selisih kenaikan susut
pengeringan amatlah sedikit yaitu sekitar 0,15% 0,2%. Tujuan mengetahui susut pengeringan
adalah memberikan batasan maksimal (rentang) tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses
pengeringan. Pada proses pengeringan selama 30 menitnya, simplisia temulawak ini akan
kehilangan senyawanya sekitar 12%. Untuk 30 menit berikutnya , simplisia akan kehilangan senyawa
dengan kenaikan (selisih) sebesar 0,15% 0,2%.
Pada simplisia temulawak ini mengandung minyak menguap, jadi susut pengeringan ini tidak bisa
dikatakan identik dengan kadar air, karena berat simplisia yang berkurang bukan hanya disebabkan
kehilangan air, namun juga ada zat lain seperti minyak atsiri. Sedangkan kurkumin dalam bentuk
kristal mempunyai titik lebur sebesar 183-185oC. Jadi pada suhu 105oC, kristal kurkumin ini tidak
ikut menguap. Jadi pada susut pengeringan ini simplisia temulawak ini akan kehilangan senyawa
sebesar 12, 16% selama proses pengeringan. Senyawa yang hilang (menguap) paling banyak adalah
minyak menguap dan air
2. Penetapan Kadar Air

Menetapan kadar air pada simplisia kering temulawak digunakan destilasi toluen. Seperti yang
diketahui, simplisia ini sebelumnya mengalami proses pengeringan sehingga banyak kadar air yang
menguap. Sedangkan air yang masih tersisa dalm simplisia sangat sedikit, dan air tersebut berada di
dalam sel. Sehingga perlu destilasi toluen untuk mengeluarkan air dari dalam sel. Dengan
pemansan, air akan keluar dari sel, ketika keluar, air tidak dapat bercampur dengan toluen, sehingga
air memisah dan dapat diukur volumenya.
Tujuan dari penetapan kadar air ini, untuk mengetahui kadar air dalam simplisia kering temulawak.
Kadar air yang diperbolehkan dalam simplisia untuk menghambat pertumbuhan jamur dan aktivitas
enzim adalah kurang dari 10%,. Pada proses pengeringan belum diketahui secara pasti apakah kadar
air sudah kurang dari 10%. Walaupun simplisia dinyatakan sudah kering pada pengeringan matahari,
namun simplisia temulawak yang disimpan dalam keadaan terbuka kemungkinan dapat menyerapa
air dari lingkungan sekitar, apalagi bila disimpan dalam jangka waktu yang lama. Maka dari itu
diperlukan penetapan kadar air.
Hasil dari praktikum ini, didapatkan bahwa kadar air dari simplisia temulawak sebesar 6% . Hal ini
sesuai dengan persyaratan yaitu kurang dari 10%. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa ruang
penyimpanan mempunyai tingkat kelembapan yang rendah, jadi, walau simplisia disimpan dalam
keadaan terbuka, simplisia akan sedikt menyerap kelembapan lingkungan. Dari hasil kadar ini
menunjukkan bahwa proses pengeringan sinar matahari naungan kain hitam ( selama 4 hari),
berjalan optimal
III. Penetapan kadar minyak atsiri
Simplisia sebelum ditetapkan kadar minyak atsiri, dipotong-potong kecil terlebih dahulu. Proses
perajangan ini berfungsi agar kelenjar minyak dapat terbuka secara sempurna. Seperti yang kita
ketahui bahwa minyak atsiri dalam kelenjar tanaman dikelilingioleh kelenjar minyak, pembuluhpembuluh kantong minyak atau rambut glandular, sehingga apabila simplisia dibiarkan utuh, proses
ekstraksi minyak atsiri berjalan lambat dan tidak efektif. Dengan ukuran yang lebih kecil, difusi yang
terjadi berkurang, sehingga pada penyulingan, laju penguapan minyak atsiri dari simplisia menjadi
cukup cepat dan efisien, karena tidak banyak uap yang lolos. Tetapi pemotongan simplisia juga
mempunyai kelemahan yaitu randemen minyak atsiri akan berkurang, karena penguapan dan
komposisi bahan akan berubah (Guenther, 1987). Jadi simplisia dipotong kecil-kecil dan kasar,
jangan sampai halus sekali. Karena semakin halus, randemen minyak atsiri akan berkurang.
Penetapan kadar minyak atsiri ini menggunakan destilasi Stahl (penyulingan dengan air). Pada
metode ini, bahan yang akan disuling kontak langsung dengan air mendidih. Simplisia tersebut
terendam dalam air. Air dipanaskan dengan metode pemanasan yang biasa dilakukan yaitu
pemanasan langsung. Ciri khas metode ini adlah kontak langsung antara bahan dengan air mendidih
(Ketaren, 1987). Rimpang temulawak ditetapkan kadar minyak atsiri menggunakan destilasi stahl
karena alasan sebagai berikut ;Simplisia tersebut dalam keadaan kering, simplisia tersebut tidak

rusak oleh pendidihan, simplisia tersebut mudah tercelup karena bobot jenisnya tinggi, dan
simplisia tersebut mudah bergerak bebas dalam air mendidih. Metode ini mempunyai kelemahan
yaitu ekstraksi tidak dapat berlangsung sempurna walaupun bahan dirajang, selain itu ada beberapa
ester yang terhidrolisis, senyawa aldehid mengalami polimerisasi akibat pengaruh air mendidih
(Samhoedi, 1976)
Dari hasil praktikum, didapatkan kadar minyak atsiri sebesar 1 %b/v. Menurut Materia Medika
Indonesia III , rimpang temulawak mengandung paling sedikit 6% minyak atsiri. Kadar minyak atsiri
yang didapatkan dari hasil percobaan, sangat kecil bila dibandingkan dengan kadar di MMI. Hal ini
mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah :
1. minyak atsiri banyak yang hilang pada proses pengeringan. Secara teoritis, kehilangan minyak atsiri
selama pengeringan lebih besar daripada pengaruh faktor lainnya. Hal ini terjadi karena pada proses
pengeringan, air dalam rimpang basah akan berdifusi sambil mengangkut minyak atsiri dan
kemudian menguap. Penguapan minyak atsiri melalui dinding jaringan tanaman tidak dapat berjalan
secara langsung, karena minyak atsiri tersebut terlebih dahulu harus diangkut ke permukaan bahan
melalui proses hidrodifusi dengan bantuan air sebagai medium pembawa. Selama proses
pengeringan sebagian besar membran sel akan pecah dan cairan sel akan keluar masuk dari sel satu
ke sel yang lainya membentuk susunan campuran zat yang baru. Selain itu, selama proses
pengeringan akan terjadi proses oksidasi, renifikasi, dan reaksi kimia lainnya.
2. Minyak atsiri akan dioksidasi karena adanya panas. Peneringan dengan ditutup dengan kain hitam,
panas yang ditimbulkan akan lebih tinggi, karena kain hitam kan menyerap sinar matahri dan
mengubahnya menjadi panas.
3. Proses peruraian enzimatis dapat menyebabkan penurunan randemen. Reaksi enzimatis tersebut
dapat menguraikan kandungan zat aktif bagian tanaman yang dikeringkan termasuk minyak atsiri.
4. Proses oksidasi oleh udara yang dapat merusak minyak atsiri. Proses oksidasi oleh udara ini sangat
mungkin terjadi karena simplisia temulawak dikeringkan di lingkungan luar dan disimpan dalam
keadaan terbuka, Sehingga simplisia kontak langsung denga udara bebas, dan dapat dimungkainkan
terjadinya proses oksidasi minyak atsiri. Penyimpanan simplisia yang relatif lama ( 45 hari ), dan
dalam keadaan terbuka menyebabkan banyaknya minyak atsiri yang hilang selama penyimpanan.
Pengeringan sinar matahari yang dinaungi kain hitam, setidaknya dapat mengurangi resiko
kehilangan minyak atsiri lebih banyak lagi. Dengan naungan kain hitam, sinar uv yang sampai ke
simplisia berkurang karena sinar tersebut diserap oleh kain hitam. Sinar UV dapat merusak minyak
atsri yang terkandung dalam rimpang. Sinar uv kemungkinan akan mengkatalisis reaksi oksidasi,
polimerisasi dan resinifikasi, yang akhirnya akan menyebabkan berkurangnya randemen minyak
atsiri.
Selain dari segi penanganan pasca panen, kadar minyak atsiri juga ditentukan pada waktu panen
rimpang temulawak. Simplisia yang mengandung minyak atsiri lebih baik dipanen saat pagi hari.

Dengan demikian, untuk menentukan waktu panen dalam sehari perlu dipertimbangkan stabilitas
kimiawi dan fisika senyawa aktif dalam simplisia terhadap panas sinar matahari.
4. Penetapan kadar zat aktif
Pada penetapan kadar minyak atsiri ini adalah dengan Kromatografi Lapis Tipis- Densitometer.
Kelebihan metode ini adalah ; menghasilkan pemisahan kurkumin yang cukup baik dari analognya,
sensitivitasnya yang cukup baik, mudah dalam pengerjaanya, dapat mengukur sampel yang abnyak
dalam satu lempeng dan waktu elusi lebih singkat. Kekurangan metode KLT-densitometer ini adalah
repeatability jelek, tidak cocok untuk sampel dengan kadar lebih kecil dari mikrogram, dan
kesalahan manusia yang cukup besar dalam pengambilan sampel.
Sebelum dipisahkan pada kromatografi lapis tipis, simplisia temulawak diekstraksi terlebih dahulu.
Sebelum diekstraksi, simplisia temulawak diserbuk terlebih dahulu. Dalm ekstraksi ini diguanakna
serbuk temulawak, dikarenakan serbuk mempunyai ukuran partikel yang kecil sehingga diharapkan
akan lebih banyak kurkuminoid yang tersari. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut, semakin besar
ukuran partikel bahan awal akan semakin tebal lapisan batas, akibatnya akan semakin panjang jarak
yang harus ditempuh oleh cairan penyari untuk mencapai zat aktif. Sehingga proses penyarian tidak
efektif. Meskipun demikian, serbuk tidak boleh terlalu halus karena, jika dinding sel pecah, zat-zat
yang tidak larut akan keluar (anonim, 1986)
Setelah simplisia dalam bentuk serbuk, diambil 1 gram serbuk dan dimaserasi dengan etanol 95%.
Hal itu dikarenakan kurkumin sukar larut dalam air, hexana, dan petroleum eter; agak larut daklam
benzena, kloroform, dan eter, tetapi larut dalam alkohol, aseton dan asam asetat glasial( Srinivisan,
1953; Stahl, 1985). Kurkumin bersifat semipolar sehingga lebih terlarut dalam alkohol yaitu etanol .
Diguanakan etanol 95% karena denga kadar alkohol yang relatif tinggi akan menyari kurkumin
secara sempurna. Proses maserasi dilakukan selama 30 menit, sambil digojog. Menggunakan
metode maserasi karena metode maserasi lebih sederhana dari metode lain. Metode maserasi relatif
lebih mudah pengerjaanya, lebih murah, tidak perlu peralatan yang rumit, dan tidak perlu area yang
rumit. Selain itu, bahan yang akan disari yaitu rimpang temulawak dengan kandungan senyawa
kurkuminoidnya yang tinggi sehingga cukup dengan maserasi pun senyawa dapat keluar dengan
mudahnya. Setelah dimaserasi selama 30 menit, sari di addkan 5ml dengan etanol, lalu dipekatkan
sampai 1ml agar seragam dengan kelompok lain.
Ekstrak pekat etanolik, lalu ditotolkan pada plate KLT dengan fase diam silika gel 60 F 254, dengan
fase gerak kloroform : metanol : asam formiat ( 95:5:0,5). Karena tujuan sebenarnya adalah untuk
menentukan kadar kurkumin dalam simplisia yang diberi perlakuan pengeringan dan penyimpanan
tertentu, maka dibutuhkan kurva baku yang terdiri dari konsentrasi kurkumin standart dengan
rentang kadar tertentu.
Untuk menentukan rentang kadar kurva baku yang akan dibuat, maka harus memperhatikan
randemen standart dalam rimpang temulawak dan kadar kurkumin yang bisanya terdapat dalam

ekstrak etanolik. Karena dalam pengerjaan ekstraksi kurkumin tanpa pemurnian maka, kadar
kurkumin yang dimaksudkan adalah kadar pada ekstrak etanolik tanpa purifikasi. Randemen ekstrak
etanolik menurut MMI edisi III adalah sebesar 3,5%b/v. Sedangkan kadar kurkumin dalam ekstrak
etanolik tanpa terpurifikasi menurut penelitian-penelitian sebelumnya adalah sebesar 1,55%. Jadi
setelah dihitung, setiap penotolan 1l terdapat 0,54 g kurkumin. Dari data perhitungan itulah
dapat digunakan batas-batas perkiraan konsentrasi kurkumin standar yang akan dibuat kurva baku,
agar konsentrasi sampel tidak mengalami ekstrapolasi atau tidak jauh melesat dari konsentrasi
kurva baku. Dari perhitungan diatas maka dapat ditentukan bahwa konsentrasi kurva baku kira-kira
lebih tinggi dari 0,54g/l. Jadi rentang kadar yang digunakan dalam kurva baku adalah 0,5g/l
1g/l 2g/l 4g/l. Karena kadar stok standar kurkumin adalah 1g/l, maka penotolan pada
KLT sebesar 0,5l 1l 2l 4l.
Setelah plate KLT dielusi maka akan muncul tiga bercak dengan daya pemisahan yang bagus. Bercak
tersebut dalam sinar tampak akan berwarna kuning. Bercak pertama yaitu dengan intensitas warna
kuning yang paling rendah (Rf = 0,287), dalam pustaka disebut dengan bisdesmetoksikurkumin.
Bercak kedua yaitu dengan intensitas warna kuning lebuh tinggi ( Rf = 0,42 ), dalam pustaka disebut
dengan senyawa desmetoksikurkumin. Sedangkan bercak ketiga dengan ketebalan bercak yang
paling tinggi dan intensitas warna kuning paling tinggi (Rf = 0,66). Senyawa pada Rf inilah yang
disebut dengan kurkumin. Pada bercak yang nomor 3 inilah yang akan dihitung kadarnya dengan
densitometer.
Dari hasil densitometer densitas bercak dapat digambarkan sebagai luas area. Dengan perbandingan
antara konsentrasi dan luas area didapatkan persamaan y = 1,6187x + 0,8055. Sedangkaan luas
area sampel adalah 40,69958 x 104. Jadi kadar kurkumin pada simplisia temulawak yang
dikeringkan sinar matahari dengan naungan kain hitam dan penyimpanan terbuka adalah 8,125 mg/
ml. Kadar kurkumin dalam sampel tersebut sangatlah tinggi, bahkan ekstrapolasi terhadap kurva
baku. Bila dibandingkan dengan standar, tingginya kadar kurkumin, cenderung tidak dipengaruhi
oleh faktor penanganan pasca panen, khususnya faktor pengeringan dan penyimpanan. Hal tersebut
lebih disebabkan oleh faktor internal dari rimpang temulawak itu sendiri, yaitu diantaranya:
1. Tempat tumbuh dari tanaman temulawak sangat mempengaruhi keberadaan dan kadar senyawa
aktif kurkumin, misalnya; temulawak di daerah Imogiri menghasilkan kandungan kurkumin sebesar
0,625%, sedangkan di daerah samigaluh dan bagelan sebesar 0,37% (Murniwaty, 2003)
2. Identitas jenis, Jenis tumbuhan dari sudut keragaman hayati dapat dikonfirmasikan sampai informasi
geneti sebagai faktor internal untuk validasi jenis
3. Periode pemanenan rimpang temulawak. Waktu panen rimpang sangat erat hubungannya dengan
pembentukan senyawa aktif yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian tanaman
tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar. Waktu panen rimpang yang
menghasilkan kadar kurkumin tinggi adalah pada musim kering.

4. Senyawa kurkumin terbentuk secara maksimal di dalam rimpang pada umur tertentu. Di samping
waktu panen yang dikaitkan dengan umur, perlu diperhatikan pula saat panen dalam sehari.
Contohnya, simplisia yang mengandung minyak atsiri lebih baik dipanen saat pagi hari. Dengan
demikian, untuk menentukan waktu panen dalam sehari perlu dipertimbangkan stabilitas kimiawi
dan fisika senyawa aktif dalam simplisia terhadap panas sinar matahari.

I.

Kesimpulan

1. Penanganan pasca panen rimpang temu lawak meliputi; Sortasi basah, pencucian, perajangan,
pengeringan, sortasi kering, pengepakan dan penyimpanan
2. Pengeringan simplisia temulawak dengan sinar matahari dan ditutup kain hitam
3. Penyimpanan simplisia temulawak dengan penyimpanan terbuka sealma 45 hari
4. Prosentase susut pengeringan dari simplisia adalah 12, 16%
5. Kadar air dari simplisia temulawak adalah 6%
6. Kadar minyak atsiri dari simplisia adalah 1 %
7. Kadar zat aktif (Kurkumin) dari simplisia temulawak adalah 8,125 mg/ml
___________________________________________________

http://yie-myutzz.blogspot.com/2011/02/pembuatan-simplisia-daun-beluntas.html

PEMBUATAN SIMPLISIA DAUN BELUNTAS


(Pluchea indica less)
BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Pemanfaatan tanaman obat sebagai obat tradusional merupakan suatau
produk pelayanan kesehatan yang strategis karena berdampak positif
terhadap tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Tanaman obat dapat memberikan nilai tambah apabila diolah lebih
lanjut menjadi berbagai jenis produk. Tanaman obat tersebut dapat diolah
menjadi berbagai macam produk seperti simplisia (rajangan), serbuk, minyak
atsiri, ekstrak kental, ekstrak kering, instan, sirup, permen, kapsul
maupun tablet.

Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan sebagi bahan baku


obat yang mengalami pengolahan atau baru dirajang saja, tetapi sudah
dikeringkan. Permintaan bahanbaku simplisia sebagai bahan baku obat-obatan
semakin meningkat dengan bertambahnya industri jamu. Selain itu, efek
samping penggunaan tanaman obat untuk mengobati suatu penyakit lebih kecil
dibandingkan obat sintetis.
Proses pembuatan simplisia diperlukan beberapa tahapan yaitu
pengumpulan bahan baku, sortasi basah, pencuciab, perajangan, pengeringan,
sortasi kering, pengepakan dan penyimpanan. Agar simplisia memiliki mutu
dan ketahanan kualitas yang baik, selain proses pengumpulan baku, sortasi
basah, pencucian, perajangan, pengeringan dan sortasi kering, juga perlu
diperhatikan proses pengepakan dan penyimpanan karena sangat berpengaruh
pada kandungan kadar zat aktif dalam simplisia.
Beluntas (Pluchea indica L.), nama tumbuhan ini mungkin jarang kita
dengar. Tapi, sebetulnya bentuk tanaman ini tidak seasing namanya. Jika
kita perhatikan dengan seksama, hampir dapat dipastikan orang akan
langsung mengenalnya sebagai tanaman yang sering terdapat di halaman
rumah, karena sering digunakan sebagai tanaman pagar.
Secara
menghilangkan
Daun beluntas
Disamping itu

tradisional daun beluntas digunakan sebagai obat untuk


bau badan, obat turun panas, obat batuk, dan obat diare.
yang telah direbus sangat baik untuk mengobati sakit kulit.
daun beluntas juga sering dikonsumsi oleh masyarakat sebagai

lalapan.
Adanya informasi secara tradisional dari masyarakat yang telah lama
memanfaatkan daun beluntas sebagai salah satu tanaman obat mendorong kami
untuk mengolah daun beluntas tersebut menjadi simplisia yang berkhasiat
serta mengidentifikasi kandungan zat apa yang terdapat dalam simplisia
daun beluntas tersebut sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat
dikemudian hari.

1.2

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari latar belakang pembuatan simplisia daun
beluntas adalah sebagai berikut :
1.2.1

Bagaimana morfologi dari simplisia daun beluntas ?

1.2.2 Bagaimana proses pembuatan dan pengolahan simplisia daun beluntas


yang baik dan benar?
1.2.3

Adakah kandungan kimia yang terdapat dalam simplisia daun beluntas ?

1.2.4

Apakah kegunaan dan khasiat simplisia daun beluntas ?

1.2.5

Bagaimanakah pengujian mutu simplisia daun beluntas ?

1.2.6

Bagaimanakah pengamatan organoleptis terhadap simplisia daun beluntas?

1.3

Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan simplisia daun beluntas adalah sebagai

berikut :
1.3.1

Mengetahui bentuk morfologi dari simplisia daun beluntas.

1.3.2 Mengetahui proses pembuatan dan pengolahan simplisia daun beluntas


yang baik dan benar
1.3.3
Menentukan
beluntas.

kandungan

kimia

yang

terdapat

1.3.4

Mengetahui kegunaan dan khasiat simplisia daun beluntas.

1.3.5

Mengetahui pengujian mutu

1.3.6

dalam

simplisia

daun

simplisia daun beluntas.

Mengetahui pengamatan organoleptis dari simplisia daun beluntas.

1.4

Ruang Lingkup

Adapun ruang lingkup dari pembuatan simplisia daun beluntas adalah


sebagai berikut :
1.4.1

Pengetahuan tentang bentuk morfologi dari simplisia daun beluntas

1.4.2

Pembuatan dan pengolahan simplisia daun beluntas.

1.4.3

Penentuan kandungan kimia yang terdapat dalam simplisia daun beluntas.

1.4.4

Pengetahuan tentang kegunaan dan khasiat simplisia daun beluntas

1.4.5

Pengujian mutu simplisia daun beluntas.

aerah

1.4.6

Pengamatan organoleptis terhadap simplisia daun beluntas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Sistematika Daun Beluntas

Nama Latin

: Pluchea indica (L) Less

Nama Simplisia

: Plucheae Folium

Sinonim

: Sumatera : Beluntas, Jawa : Basluntas, baruntas, luntas. Nusatenggara : Lenaboui. Sulawesi : Lamutasa
Kelas

Ordo

Familia
Genus

:Asteraceae
:

2.2

Morfologi Daun Beluntas

Daun beluntas (Pluchea indica (L) Less dengan nama suku Asteraceae
,umumnya adalah tumbuhan liar di daerah kering pada tanah yang keras dan
berbatu, atau ditanam sebagai tanaman pagar. Tumbuhan ini memerlukan
cukup cahaya matahari atau sedikit naungan, banyak ditemukan di daerah
pantai dekat laut sampai ketinggian 1.00 diatas permukaan laut.
Tanaman perdu kecil, tumbuh tegak, tinggi mencapai 1 m atau
kadang-kadang lebih ini, memiliki pemerian, : berbau khas, tidak harum,
rasa agak kelat. Secara makroskopik, helaian daun tunggal bertangkai,
rapuh, berwarna hijau kekuningan sampai hijau tua, bentuk bundar telur
sampai jorong, panjang 4 cm sampai 8 cm, lebar 3 cm sampai 5 cm, ujung
daun meruncing, pangkal daun meruncing, pinggir daun bergerigi, panjang
tangkai daun 4 mm sampai 8 mm. Tulang daun menyirip, pada permukaan atas
dan bawah daun tidak licin, berambut.
Secara Mikroskopik, pada penampang melintang melalui tulang daun
tampak epidermis atas terdiri dari 1 lapis sel berbentuk empat persegi
panjang, kutikula tipis bergaris, stomata sedikit, rambut penutup terdiri
dari beberapa sel, ujungnya berbentuk kerucut runcing, lurus atau bengkok,
rambut kelenjar tipe Asteraceae. Epidermis bawah terdiri dari 1 lapis sel
berbentuk empat persegi panjang, kutikula tipis bergaris, stomata lebih
banyak daripada epidermis atas, rambut penutup terdiri dari beberapa sel,
lebih banyak daripada epidermis atas, rambut kelenjar tipe Asteraceae.
Mesofil meliputi jaringan palisade terdiri dari 1 atau 2 lapis sel,
umumnya 1 lapis sel berbentuk silindris pendek berisi banyak butir
klorofil, jaringan bunga karang terdiri dari beberapa lapis sel, terdapat
kelompok serabut berdinding tebal berlignin, berkas pembuluh tipe
kolateral. Pada sayatan paradermal tampak epidermis atas berbentuk
poligonal, dinding antiklinal lurus atau kadang-kadang bergelombang,
stromata tipe anomositik, rambut kelenjar tipe Asteraceae.
Serbuk berwarna hijau tua kekuningan, fragmen pengenal adalah rambut
penutup terdiri beberapa sel dan rambut kelenjar tipe Asteraceae lepas,
fragmen epidermis atas dan epidermis bawah, fragmen serabut, fragmen
epidermis dengan tulang daun, pembuluh kayu dengan penebalan spiral.

2.3

Kandungan Kimia Daun Beluntas (Pluchea indica less)

Daun beluntas sebagian besar memiliki kandungan kimia berupa


alkaloid dan minyak asiri.
2.3.1

Alkaloid
Alkaloid adalah
sebuah
golongan
senyawa basa bernitrogen
yang
kebanyakan heterosiklik dan
terdapat
di tetumbuhan (tetapi
ini
tidak
mengecualikan senyawa yang berasal dari hewan). Asam amino, peptida,
protein, nukleotid, asam nukleik, gula amino dan antibiotik biasanya tidak
digolongkan sebagai alkaloid. Dan dengan prinsip yang sama, senyawa netral
yang secara biogenetik berhubungan dengan alkaloid termasuk digolongan
ini.
Alkaloid biasanya diklasifikasikan menurut kesamaan sumber
asal
molekulnya
(precursors),didasari
dengan
metabolisme
pathway
(metabolic pathway) yang dipakai untuk membentuk molekul itu. Kalau
biosintesis dari sebuah alkaloid tidak diketahui, alkaloid digolongkan
menurut nama senyawanya, termasuk nama senyawa yang tidak mengandung
nitrogen (karena struktur molekulnya terdapat dalam produk akhir. sebagai
contoh: alkaloid opium kadang disebut "phenanthrenes"), atau menurut nama
tumbuhan atau binatang dimana senyawa itu diisolasi. Jika setelah alkaloid
itu dikaji, penggolongan sebuah alkaloid dirubah menurut hasil pengkajian
itu, biasanya mengambil nama amine penting-secara-biologi yang mencolok
dalam proses sintesisnya.

Golongan Piridina: piperine, coniine, trigonelline,arecoline, arecaidine,


guvacine, cytisine, lobeline,nikotina, anabasine, sparteine, pelletierine.

Golongan Pyrrolidine: hygrine, cuscohygrine, nikotina

Golongan Tropane: atropine, kokaina, ecgonine,scopolamine, catuabine

Golongan Kuinolina: kuinina, kuinidina, dihidrokuinina,dihidrokuinidina, s


trychnine, brucine, veratrine, cevadine

Golongan Isokuinolina:
alkaloidalkaloid opium(papaverine, narcotine, narceine), sanguinarine,hydrastine,
berberine, emetine, berbamine, oxyacanthine

Alkaloid Fenantrena: alkaloid-alkaloid opium (morfin,codeine, thebaine)

Golongan Phenethylamine: mescaline, ephedrine, dopamin

Golongan Indola:

Tryptamines: serotonin, DMT, 5-MeO-DMT, bufotenine,psilocybin

Ergolines (alkaloid-alkaloid dari ergot ): ergine,ergotamine, lysergic acid

Beta-carboline: harmine, harmaline, tetrahydroharmine

Yohimbans: reserpine, yohimbine

Alkaloid Vinca: vinblastine, vincristine


o

Alkaloid Kratom (Mitragyna speciosa): mitragynine, 7-hydroxymitragynine


Alkaloid Tabernanthe iboga: ibogaine, voacangine,coronaridine

o
o

Alkaloid Strychnos nux-vomica: strychnine, brucine

Golongan Purine:
Xantina: Kafein, teobromina, theophylline

Golongan Terpenoid:

Alkaloid Aconitum: aconitine


o

Alkaloid Steroid (yang


bernitrogen):

bertulang

punggung

steroid

pada

Solanum (contoh: kentang dan

struktur

yang

alkaloid tomat)

(solanidine,solanine, chaconine)
Alkaloid Veratrum (veratramine, cyclopamine, cycloposine,jervine, muldamine)
Alkaloid Salamander berapi (samandarin)
lainnya: conessine

Senyawa ammonium quaternary s: muscarine, choline, neurine

Lain-lainnya: capsaicin, cynarin, phytolaccine,phytolaccotoxin


Alkaloid
dihasilkan
oleh
banyak
organisme,
mulai
dari bakteria, fungi (jamur), tumbuhan, dan hewan. Ekstraksi secara kasar
biasanya dengan mudah dapat dilakukan melalui teknik ekstraksi asam-basa.
Rasa pahit atau getir yang
dirasakanlidah dapat
disebabkan
oleh
alkaloid.Istilah "alkaloid" (berarti "mirip alkali", karena dianggap
bersifat basa)
pertama
kali
dipakai
oleh Carl
Friedrich
Wilhelm
Meissner (1819), seorang apoteker dari Halle (Jerman) untuk menyebut
berbagai senyawa yang diperoleh dari ekstraksi tumbuhan yang bersifat basa

(pada
waktu
itu
sudah
dikenal,
misalnya, morfina, striknina,
sertasolanina). Hingga sekarang dikenal sekitar 10.000 senyawa yang
tergolong alkaloid dengan struktur sangat beragam, sehingga hingga
sekarang
tidak
ada
batasan
yang
jelas
untuknya.(http://id.wikipedia.org/wiki/Alkaloid)
Senyawa alkaloid merupakan senyawa organik terbanyak ditemukan
di alam. Hampir seluruh alkaloid berasal dari tumbuhan dan tersebar luas
dalam berbagai jenis tumbuhan. Secara organoleptik, daun-daunan yang
berasa sepat dan pahit, biasanya teridentifikasi mengandung alkaloid.
Selain daun-daunan, senyawa alkaloid dapat ditemukan pada akar, biji,
ranting, dan kulit kayu.
Berdasarkan literatur, diketahui bahwa hampir semua alkaloid
di alam mempunyai keaktifan biologis dan memberikan efek fisiologis
tertentu pada mahluk hidup. Sehingga tidaklah mengherankan jika manusia
dari dulu sampai sekarang selalu mencari obat-obatan dari berbagai ekstrak
tumbuhan. Fungsi alkaloid sendiri dalam tumbuhan sejauh ini belum
diketahui secara pasti, beberapa ahli pernah mengungkapkan bahwa alkaloid
diperkirakan sebagai pelindung tumbuhan dari serangan hama dan penyakit,
pengatur
tumbuh,
atau
sebagai
basa
mineral
untuk
mempertahankan
keseimbangan ion.
Alkaloid secara umum mengandung paling sedikit satu buah
atom nitrogen yang bersifat basa dan merupakan bagian dari cincin
heterosiklik. Kebanyakan alkaloid berbentuk padatan kristal dengan titik
lebur tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Alkaloid dapat juga
berbentuk amorf atau cairan. Dewasa ini telah ribuan senyawa alkaloid yang
ditemukan dan dengan berbagai variasi struktur yang unik, mulai dari yang
paling sederhana sampai yang paling sulit.
Dari segi biogenetik, alkaloid diketahui berasal dari sejumlah
kecil asam amino yaitu ornitin dan lisin yang menurunkan alkaloid
alisiklik, fenilalanin
dan
tirosin yang
menurunkan
alkaloid
jenis
isokuinolin, dan triftopan yang menurunkan alkaloid indol. Reaksi utama
yang mendasari biosintesis senyawa alkaloid adalah reaksi mannich antara
suatu aldehida dan suatu amina primer dan sekunder, dan suatu senyawa enol
atau fenol. Biosintesis alkaloid juga melibatkan reaksi rangkap oksidatif
fenol dan metilasi. Jalur poliketida dan jalur mevalonat juga ditemukan
dalam biosintesis alkaloid.

Berikut adalah beberapa contoh senyawa alkaloid yang telah


umum dikenal dalam bidang farmakologi :

Senyawa Alkaloid (Nama Trivial)

Aktivitas Biologi

Nikotin

Stimulan pada syaraf otonom

Morfin

Analgesik

Kodein

Analgesik, obat batuk

Atropin

Obat tetes mata

Skopolamin

Sedatif menjelang operasi

Kokain

Analgesik Piperin Antifeedant (bioinsektisida)

Quinin

Obat malaria

Vinkristin

Obat kanker

Ergotamin

Analgesik pada migrain

Reserpin

Pengobatan simptomatis disfungsi ereksi

Mitraginin

Analgesik dan antitusif

Vinblastin

Anti neoplastik, obat kanker

Saponin

2.3.2

Antibakteri

Minyak Atsiri

Minyak atsiri adalah zat berbau yang terkandung dalam


tanaman. Minyak ini disebut juga minyak menguap, minyak eteris, atau
minyak esensial karena pada suhu biasa (suhu kamar) mudah menuap pada
udara terbuka. Istilah esensial dipakai karena minyak atsiri mewakili bau
dari tanaman asalnya. Dalam keadaan segar dan murni tanpa pencemar, minyak
atsiri umumnya tidak berwarna. Namun, pada penyimpanan lama minyak atsiri
dapat teroksidasi dan membentuk resin serta warnanya berubah menjadi lebih
tua atau gelap. Untuk mencegah supaya tidak berubah warna minyak atsiri
harus terlindungi dari pengaruh cahaya, misalnya disimpan dalam bejana
gelas yang berwarna gelap. Bejana tersebut juga diisi sepenuh mungkin

sehingga tidak memungkinkan berhubungan langsung dengan oksigen udara,


ditutup rapat, serta disimpan ditempat yang kering dan sejuk.
Secara kimia, minyak atsiri bukan merupakan senyawa
tunggal, tetapi tersusun dari beberapa macam komponen yang secara garis
besar terdiri dari kelompok terpenoid dan fenilpropana. Pengelompokan
tersebut didasarkan pada
tanaman. Melalui asal usul
menjadi :

awal terjadinya minyak atsiri di dalam


biosintetik, minyak atsiri dapat dibedakan

Turunan terpenoid yang terbentuk melalui jalur biosintetis asam asetat


mevalonat dan

Turunan fenil propanoid yang merupakan senyawa aromatik, terbentuk melalui


jalur biosintesis asam sikimat.
Terpenoid berasal dari suatu unit senyawa sederhana yang disebut
isoprene. Sementara fenil propana terdiri dari gabungan inti benzene
(fenil) dan propane.Penyusun minyak atsiri dari kelompok terpenoid dapat
berupa terpena-terpena yang tidak membentuk cincin (asiklik), bercincin
satu (monosiklik) ataupun bercincin dua (bisiklik). Masing-masing dapat
memiliki percabangan gugus-gugus ester, fenol, oksida, alcohol, aldehida,
dan keton. Sementara kelompok fenil propane juga memiliki percabangan
rantai berupa gugus-gugus fenol dan eter fenol.

Minyak atsiri terkandung dalam berbagai organ, seperti


di dalam rambut kelenjar (pada famili labiatae), di dalam sel-sel parenkim
(misalnya famili piperaceae), di dalam saluran minyak yang disebut vittae
(famili umbelliferae), di dalam rongga-rongga skizogen dan lisigen (pada
famili pinaceae dan rutaceae), terkandung di dalam semua jaringan (pada
famili coniferae). Pada bunga mawar kandungan minyak atsiri terbanyak
terpusat pada mahkota bunga, pada kayu manis (cinnamon) banyak ditem

ui di kulit batang (cortex), pada famili umbelliferae banyak terdapat


dalam perikarp buah, pada menthae sp terdapat dalam rambut kelenjar batang
dan daun, serta pada jeruk terdapat dalam kulit buah dan dalam helai daun.
Minyak atsiri dapat terbentuk secara langsung oleh
protoplasma akibat adanya peruraian akibat lapisan resin dari dinding sel
atau oleh hidrolisis dari glikosida tertentu. Peranan utama dari minyak
atsiri terhadap tumbuhan itu sendiri adalah sebagai pengusir serangga
(mencegah daun dan bunga rusak) serta sebagai pengusir hewan-hewan
pengusir lainnya. Namun sebaliknya minyak atsiri juga berfungsi sebagai
penarik serangga guna membantu terjadinya penyerbukan silang dari bunga.
Kerangka

dasar

komponen

minyak

atsiri

adalah

terpena yang terdiri dari satuan isoprena. Satuan isoprene yang berperan
aktif secara biosintetik adalah isopetenil pirofosfat, dimetil alil
pirofosfat, serta senyawa-senyawa yang terbentuk dari asam asetat lewat
jalur biosintesis asam mevalonat. Geranil pirofosfat adalah precursor
C10 dari terpena dan dianggap memiliki peran utama dalam pembentukan
monoterpena serta dibentuk melalui kondensasi dari masing-masing satuan
isopentenil pirofosfat dan dimetil alil pirofosfat. Geranil pirofosfat
dianggap sebagai precursor langsung untuk monoterpena siklis. Namun
senyawa ini berupa isomer sis terhadap neril pirofosfat sebelum
monoterpena siklis dapat dibentuk. Sebab isomer trans tidak mempunyai
stereo kimia yang tepat untuk siklisasi. Kemungkinan lain adalah
pembentukan neril pirofosfat dari isopentenil pirofosfat. Dalam hal ini
dimetilalil pirofosfat tidak tergantung pada langkah geranil pirofosfat.
Bentuk pertengahan dalam pembentukan terpena siklis ditunjukkan sebagai
ion karbonium.
Prekursor utama untuk komponen fenil propanoid dalam
minyak atsiri adalah asam sinamat dan asam P-hidroksi-sinamat yang juga
dikenal sebagai asam P-komarat. Dalam tanaman, senyawa ini dibentuk dari
asam amino aromatic fenilalanin dan tirosid yang akhirnya disintesis lewat
jalur
asam
sikimat.
Jalur
biosintetik
ini
dapat
dilakukan
oleh
mikroorganisme dengan menggunakan mutan auksotropik Eschericia coli dan
Enterobacter aerogenes yang membutuhkan asam amino aromatic untuk
pertumbuhannya.

2.4

Khasiat Daun Beluntas (Pluchea indica less)

Daun beluntas berbau khas aromatis dan rasanya getir ini, memiliki
khasiat diantaranya : :
1.

meningkatkan nafsu makan (stomakik),

2.

membantu perncernaan,

3.

peluruh keringat (diaforetik),

4.

pereda demam (antipiretik), dan penyegar.

5.
akar beluntas juga berkhasiat sebagai peluruh keringat dan
penyejuk (demulcent).
Selain khasiat diatas, daun beluntas juga dapat digunakan untuk :

Menghilangkan bau badan, bau mulut, kurang nafsu makan. Daun segar

secukupnya dimakan sebagai lalap mentah atau dikukus dan dimakan bersama
makan nasi.

Menghilangkan bau badan. Daun beluntas sebanyak 15 g, buah pinang 5

g dan garam dapur seujung sendok teh.Semua bahan direbus dengan 3 gelas
air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, air rebusannya diminum. Sehari
2 kali, masing-masing ? gelas.

Gangguan pencernaan pada anak. Daun segar setelah dicuci bersih lalu

dipipis. Campurkan pada bubur saring atau nasi tim. Lakukan setiap kali
makan.

TBC kelenjar. Daun berikut tangkai beluntas segar, ekstrak gelatin

dari kulit sapi dan rumput laut hai-hai (Laminaria japonika Aresch )
masing-masing 10g, dicuci lalu dipotong-potong seperlunya. Bahan-bahan
tersebut lalu ditim sampai lunak. Makan selagi hangat. Lakukan setiap
hari.

Nyeri

pada

rematik,

sakit

pinggang. Akar

beluntas

sebanyak

15g

dicuci lalu di potong-potong seperlunya. Tambahkan 3 gelas air, rebus


sampai lunak. Makan selagi hangat. Lakukan setiap hari.

Demam, mengeluarkan keringat. Daun beluntas segar 15 g dicuci lalu

direbus atau diseduh dengan air panas, lalu minum seperti teh. Atau, daun
beluntas segar kira-kira 100 g dicuci lalu dikukus sampai matang. Dimakan
bersama makan nasi, dua kali sama banyak, pagi dan sore.

Luka. Daun beluntas segar secukupnya dicuci lalu dipipis. Tambahkan

sedikit kapur, sambil diaduk sampai rata. Ramuan ini lalu dibalurkan pada
luka.

Datang haid tidak teratur. Daun beluntas segar sebanyak 2 genggam

dicuci lalu ditumbuk sampai halus. Tambahkan air masak 2 ? gelas dan garam
sebesar biji asam. Peras dan saring lalu diminum. Sehari 3 kali, masingmasing gelas
BAB III
PEMBUATAN SIMPLISIA

3.1 Waktu Pa nen Daun Beluntas (Pluchea indica less)


Sejak

umur

50

hari

dipetik. Lakukan pemetikan


pucuk teh. Pemetikan akan
memungkinkan lebih banyak
dipanen pada periode panen

sesudah

tanam,

daun

beluntas

sudah

pada daun-daun muda seperti melakukan


merangsang pertumbuhan cabang-cabang
tunas baru tumbuh. Tunas-tunas baru
berikutnya. Panen pucuk kemangi dapat

bisa

pemetikan
baru yang
ini dapat
dilakukan

hingga tanaman berumur tua. Bila ingin tanaman berumur panjang,


jangan.biarkan sampai berbunga dan berbuah. Pisahkan tanaman yang khusus
untuk diambil bijinya sebagai bibit. Dengan cara ini, tanaman yang hendak
diambil pucuknya tak terganggu produkdvitasnya. Altematif lain dengan
menyisakan satu atau dua cabang yang dibiarkan
Setelah bijinya tua cabang ini dipangkas.

berbunga

dan

berbuah.

3.2 Pengolahan Simplisia Daun Beluntas (Pluchea indica less)


Adapun tahapan
berikut :

pembuatan

dari

3.2.1 Pengumpulan Bahan Baku


(Dilakukan pada:
a. Bagian tanaman yang digunakan : Daun
b. Umur tanaman waktu dipanen:
c. Lingkungan tempat tumbuh

simplisia

daun

beluntas

adalah

sebagai

d. Cara pengumpulan :
(lihat lampiran gambar )
Sortasi Basah
(Dilakukan pada:
Sortasi basah dilakukan dengan tujuan memishkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing
lainnya dari bahan simplisia. Dalam sortasi basah yang kami lakukan didapatkan zat asing
serangga,ranting daun,akar. pada simplisia kami. (Lihat lampiran gambar)

3.2.3 Pencucian
(Dilakukan pada:
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotor lainnya yang melekat pada
simplisia. Pada pencucian yang kami lakukan, kami menggunakan air sumur dengan alasan, air sumur
mudah dijangkau, tidak mengeluarkan biaya, dan juga tidak mengandung zat kimia yang dapat
mempengaruhi mutu simplisia. (Lihat lampiran gambar)
3.2.4 Perajangan
(Dilakukan pada:
Tujuan perajangan pada simplisia adalah untuk mempermudah proses pengeringan,
pengepakan, dan penggilingan. Namun pada daun, perajangan jarang dilakukan karena ketebalan daun
adalah kecil atau bisa dikatakan tipis.
Untuk itu, pada daun pecut kudapun demikian, tidak dilakukan perjangan. Karena dikhawatirkan, pada
saat pengeringan kadar zat aktif berkurang karena ketebalan daun sudah kecil atau tipis. (Lihat lampiran
gambar)
3.2.5

Pengeringan
(Dilakukan pada:
Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga
dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi
enzimatik akan mencegah penurunan mutu atau perusakan simplisia.
Cara pengeringan yang kami lakukan adalah dengan pengeringan alamiah dengan diangin-angin
dan tidak dipanaskan dengan sinar matahari langsung. Karena daun merupakan bagian tanaman yang
bersifat lunak dan mengandung senyawa aktif yang mudah menguap. (lihat lampiran gambar)

3.2.6 Sortasi Kering


(Dilakukan pada:
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Tujuan
sortasi ini adalah untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak
diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang masih ada dan tertinggalpada simplisia kering. (Lihat
lampiran gambar)
3.2.7 Pengepakan dan Penyimpanan
(Dilakukan pada:
Simplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya karena berbagai faktor luardan dalam,
seperti cahaya, oksigen, reaksi kimia intern, dehidrasi, penyerapan air, pengotoran, serangga, dan
kapang. Untuk itu simplisia disimpan dalam wadah yang dapat menanggulangi hal tersebut dan tempat
yang terhindar dari hal-hal tersebut. (Lihat lampiran gambar)

3.2.8 Pembuatan Serbuk Simplisia


(Dilakukan pada:

3.3
3.3.1

Pengujian Simplisia Daun Beluntas (Pluchea indica less)


Identifikasi simplisia daun beluntas

Adapun langkah identifikasi yang dilakukan


simplisia daun beluntas adalah sebagai berikut :

untuk

uji

mutu

I. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes asam sulfat P: terjadi warna


coklat.
II. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes asam klorida pekat P: terjadi
warna coklat kuning
III. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes larutan natrium hidroksida P 5 %
b/v: terjadi warna kuning.
IV. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes ammonia (25 %) P: terjadi warna
kuning hijau
V. Timbang 300 mg serbuk daun, campur dengan 5 ml methanol P dan panaskan
diatas tangas air selama 2 menit, dinginkan dan saring. Cuci endapan
dengan methanol P secukupnya hingga diperoleh 5 ml filtrate. Pada titik
pertama lempeng KLT tutulkan 30l filtrat., pada titik kedua tutulkaN
10l zat warna II LP. Eluasi dengan campuran etil asetat P-metiletil
keton P-asam format P-air (50+30+10+10)dengan jarak rambat 15 cm. Amati
dengan sinar biasa dan dengan sinar ultraviolet 366 nm. Pada kromatogram
tampak bercak-bercak dengan warna dan hRx sebagai berikut :

Catatan

Dengan sinar biasa

Dengan sinar UV 366 nm

No. hRx

Tanpa pereaksi

Dengan
pereaksi

Tanpa pereaksi

Dengan
pereaksi

1.

6 -15

biru

biru

2.

113 -121

kuning

kuning

3.

126- 131

kuning

kuning

4.

136-142

kuning

kuning

kuning

kuning

5.

158-165

kuning coklat

kuning coklat

kuning coklat

kuning coklat

6.

174-182

kuning

kuning

kuning

kuning

: Harga Rx dihitung terhadap bercak biru dari kromatogram zat warna II


LP.

hRf bercak warna merah = 51.

3.3.2

Uji Kemurnian
Kadar abu yang tidak larut dalam asam. Tidak lebih dari 1 %.
Kadar sari yang larut dalam air. Tidak kurang dari 20 %
Kadar sari yang larut dalam ethanol. Tidak kurang dari 5 %.
Bahan organik asing. Tidak lebih dari 2 %.

http://dedi-farmasi.blogspot.com/2011/01/simplisia-biologi-farmasi.html

PENGERTIAN SIMPLISIA
Simplisia merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut bahan-bahan obat alam yang
berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk. Pengertian simplisia
menurut Departemen Kesehatan RI adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum
mengalami perubahan proses apa pun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang
telah dikeringkan.
Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :
1.
Simplisia Nabati
Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat
tanaman, atau gabungan antara ketiganya, misalnya Datura Folium dan Piperis nigri Fructus.
Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara
tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau bahan-bahan
nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan/diisolasi dari tanamannya.
2. Simplisia Hewani
Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat berguna
yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni, misalnya minyak ikan (Oleum
iecoris asselli) dan madu (Mel depuratum).
3. Simplisia Pelikan atau Mineral
Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang

belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni,
contoh serbuk seng dan serbuk tembaga.
Selain ketiga jenis simplisia diatas juga terdapat hal lain, yaitu benda organic asing yang
disingkat benda asing, adalah satu atau keseluruhan dari apa-apa yang disebut dibawah ini :
A. Fragmen, merupakan bagian tanaman asal simplisia selain bagian tanaman yang disebut dalam
paparan makroskopik, atau bagian sedemikian nilai batasnya disebut monografi.
B. Hewan hewan asing, merupakan zat yang dikeluarkan oleh hewan, kotoran hewan, batu
tanah atau pengotor lainnya.
Kecuali yang dinyatakan lain, yang dimaksudkan dengan benda asing pada simplisia
nabati adalah benda asing yang berasal dari tanaman. Simplisia nabati harus bebas serangga,
fragme hewan, atau kotoran hewan tidak boleh menyimpang bau dan warnanya, tidak boleh
mengandung lendir, atau cendawan, atau menunjukkan adanya zat pengotor lainnya; pada
perhitungan penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam, kadar abu yang larut dalam air ,
sari yang larut dalam air, atau sari yang larut dalam etanol didasarkan pada simplisia yang belum
ditetapkan susut pengeringannya.
Sedangkan susut pengering sendiri adalah banyaknya bagian zat yang mudah menguap
termasuk air, tetapkan dengan cara pengeringan, kecuali dinyatakan lain, dilakukan pada suhu
150o hingga bobot tetap.
Agar simplisia yang kita butuhkan bermutu baik, maka dilakukan pemeriksaan mutu
simplisia yang bertujuan agar diperpoleh simplisia yang memenuhi persyaratan umum yang
ditetapkan oleh Depkes RI dalam buku resmi seperti materi medika Indonesia, Farmakope
Indonesia, dan ekstra Farmakope Indonesia.

2. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU


SIMPLISIA
Faktor faktor yang mempengaruhi mutu simplisia :
1. Bahan baku dan penyimpanan bahan baku
2. Proses pembuatan simplisia
3. Cara pengepakan dan penyimpanan simplisia

1. Bahan baku dan penyimpanan bahan baku


Sebagai sumber simplisia, tanaman obat dapat berupa tumbuhan liar atau berupa
tumbuhan budidaya. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang tumbuh dengan sendirinya di hutan
atau di tempat lain, atau tanaman yang sengaja ditanam dengan tujuan lain, misalnya sebagai
tanaman hias, tanaman pagar, tetapi bukan dengan tujuan untuk memproduksi simplisia.
Tanaman budidaya adalah tanaman tanaman yang sengaja ditanam untuk tujuan
produksi simplisia.

2. Proses pembuatan simplisia


a. Simplisia dibuat dengan cara pengeringan
Pembuatan simplisia dengan cara ini pengeringannya dilakukan dengan cepat, tetapi pada
suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan dengan waktu lama akan mengakibatkan simplisia
yang diperoleh ditumbuhi kapang. Pengeringan yang dilakukan pada suhu terlalu tinggi akan
mengakibatkan perubahan kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Untuk mencegah hal
tersebut, bahan simplisia yang memerlukan perajangan perlu diatur perajangannya sehingga
diperoleh tebal irisan yang pada pengeringannya tidak mengalami kerusakan.
b. Simplisia dibuat dengan proses fermentasi
Proses fermentasi dilakukan dengan saksama agar proses tersebut tidak berkelanjutan
kearah yang tidak diinginkan.

c. Simplisia dibuat dengan proses khusus


Pembuatan simplisia dengan cara penyulingan, pengentalan eksudat nabati, pengeringan
sari air dan proses khusus lainnya dilakukan dengan berpegang pada prinsip bahwa simplisia
yang dihasilkan harus memiliki mutu sesuai dengan persyaratan.
d. Simplisia pada proses pembuatan memerlukan air
Pati, talk, dan sebagainya pada proses pembuatannya memerlukan air. Air yang
digunakan harus bebas dari pencemaran racun serangga, kuman patogen, logam berat, dan lain
lain.

Tahap Pembuatan
a. Pengumpulan bahan baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbedabeda antara lain tergantung pada :
1) bagian tanaman yang digunakan..

2) Umur tanaman atau bagian tanaman pada saat panen.


3) Waktu panen.
4) Lingkungan tempat tumbuh.
Waktu panen sangat erat hubunganya dengan pembentukan senyawa aktif di dalam
bagian tanaman yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian tanaman tersebut
mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar. Senyawa aktif tersebut secara maksimal
di dalam bagian tanaman atau tanaman pada umur tertentu. Di samping waktu panen yang
dikaitkan dengan umur, perlu diperhatikan pula saat panen dalam sehari. Dengan demikian untuk
menentukan waktu panen dalam sehari perlu dipertimbangkan stabilitas kimia dan fisik senyawa
aktif dalam simplisia terhadap panas sinar matahari.

b. Sortasi Basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran kotoran atau bahan bahan asing lainya
dari bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat,
bahan bahan seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah rusak, serta pengotor
lainya harus dibuang.
c. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainya yang melekat pada
bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih, misalnya air dari mata air, air dari
sumur atau air PAM.
d. Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan. Perajangan bahan simplisia
dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan dan penggilingan.
Tanaman yang baru diambil jangan langsung dirajang tetapi dijemur dengan keadaan utuh
selama 1 hari. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajang khusus
sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki.

e. Pengeringan
Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga dapat
disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurang kadar air dan menghentikan reaksi
enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan simplisia.
f. Sortasi kering

Sortasi setelah engeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Tujuan
sortasi untuk memisahkan benda benda asing seperti bagian bagian tanaman yang tidak
diinginkan dan pengotr pengotor lain yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering.

g. Pemeriksaan mutu
Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan atau pembelian dari pengumpul
atau pedagang simplisia. Simplisia yang diterima harus berupa simplisia murni dan memenuhi
persyaratan umum untuk simplisia seperti yang disebutkan dalam Buku Farmakope Indonesia,
Ekstra Farmakope Indonesia ataupun Materia Medika Indonesia Edisi terakhir.

3.cara pengepakan dan penyimpanan simlisia


Pengepakan dan penyimpanan
Pada penyimpaan simplisia perlu diperhatikan beberapa hal yang dapat mengakibatkan
kerusakan simplisia, yaitu cara pengepakan, pembungkusan dan pewadahan, persyaratan gudang
simplisia, cara sortasi dan pemeriksaan mutu, serta cara pengawetanya. Penyebab kerusakan
pada simplisia yang utama adalah air dan kelembaban.
Cara pengemasan simplisia tergantung pada jenis simplisia dan tujuan penggunaan
pengemasaan. Bahan dan bentuk pengemasan harus sesuai, dapat melindungi dari kemungkinan
kerusakan simplisia, dan dengan memperhatikan segi pemanfaatan ruang untuk keperluan
pengangkutan maupun penyimpananya.

3. PENGAMBILAN SIMPLISIA
Cara pengambilan bagian tanaman untuk pembuatan simplisia dapat dilihat pada table berikut :

No Bagian Tumbuhan

Cara Pengambilan

1.

kulit batang

Dari batang utama dan cabang, dikelupas dengan


ukuran panjang dan lebar tertentu; untuk kulit
batang mengandung minyak atsiri atau golongan
senyawa fenol digunakan alat pengelupas bukan
logam.

2.

Batang

Dari cabang, dipotong potong dengan panjang


tertentu dan dengan diameter cabang tertentu.

3.

Kayu

Dari batang atau cabang, dipotong kecil atau diserut


(disugu) setelah dikelupas kulitnya.

4.

Daun

Tua atau muda (daerah pucuk), dipetik dengan


tangan satu persatu.

5.

Bunga

Kuncup atau bunga mekar atau mahkota bunga, atau


daun bunga, dipetik dengan tangan.

6.

Pucuk

Pucuk
berbunga;
dipetik
dengan
(mengandung daun muda dan bunga).

7.

Akar

Dari bawah permukaan tanah, dipotong potong


dengan ukuran tertentu.

8.

Rimpang

Dicabut, dibersihkan dari akar; dipotong melintang


dengan ketebalan tertentu.

9.

Buah

Masak, hampir masak; dipetik dengan tangan.

tangan

10. Biji

Buah dipetik; dikupas kulit buahnya dengan


mengupas menggunakan tangan, pisau, atau
menggilas, biji dikupas dan dicuci.

11. Kulit Buah

Seperti biji, kulit buah dikumpulkan dan dicuci.


Tanaman dicabut,

12. Bulbus

bulbus dipisah dari daun dan akar dengan


memotongnya, dicuci.

4. SIMPLISIA YANG BERMANFAAT DI INDUSTRI FARMASI


1. Tinjauan Umum Simplisia
Obat tradisional bukan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Sebelum obat-obat kimia
berkembang secara modern, nenek moyang kita umumnya menggunakan obat-obatan yang
berasal dari tumbuh-tumbuhan untuk mengatasi problem kesehatannya.
Dari tumbuhan obat tersebut dapat dibuat berbagai produk yang sangat bermanfaat dalam
menunjang industri obat tradisional, farmasi, makanan dan minuman. Ragam bentuk hasil
olahannya, antara lain berupa simplisia.
Simplisia adalah bahan baku alamiah yang digunakan untuk membuat ramuan obat
tradisional yang belum mengalami pengolahan pengeringan. Proses pembuatan simplisia pada
prinsipnya meliputi tahap- tahap pencucian, pengecilan ukuran dan pengeringan.
2. Macam-Macam Teknik Pembuatan Simplisia dan Sediaan Obat
(Ekstraksi, Maserasi, dan Perkolasi)
Ekstraksi Tumbuhan Obat
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan
pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa
melarutkan material lainnya. Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu bahan dari
campurannya, ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ekstraksi menggunakan pelarut
didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran (Suyitno, 1989).

Contoh simplisia yang bermanfaat di industry farmasi :


Nama Indonesia
Nama latinnya
Daun seriawan
Symplocos orratissima
Kayu bidara laut
Strychnos ligustrina
Daun kejibeling
Strobilanthes crispus
Daun inggu
Ruta anggustifolia
Akar kelembak
Rheum officinarum

Kulit buah delima


Daun jambu biji
Buah lada
Buah kemukus
Daun sirih segar
Daun meniran
Daun kumis kucing
Kulit batang widuri
Kulit batabg pulosari
Daun pegagan
Kulit buah jeruk nipis
Kulit buah jeruk manis
Buah ketumbar
Akar tinggal kunyit
Akar tinggal temulawak
Daging buah asam jawa
Tangkai putik jagung
Akar tinggal jahe
Kulit batang bratawali
Daun saga
Biji pala
Akar tinggal laos

punika granatum
Psidium guajava
Piper nigrum
Piper cubeba
Piper betle
Phyllantus nururi
Orthosiphon stamineus
Calotropis gigantea
Alyxis stellata
Centella asiatica
Citrus surantium subspec
Citrus sinensis
Coriandrum sativum
Curcuma domestica
Curcuma xanthorrhiza
Tamarindus indica
Zea mays
Zingiber offinicale
Tinospora tuberculata
Abrus precatorius
Myristice fragrans
Alpinia galangga

KESIMPULAN
Simplisia merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut bahan-bahan obat alam yang
berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk.
Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :
1.
Simplisia Nabati : Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman
utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya.
2. Simplisia Hewani : Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zatzat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni, misalnya minyak
ikan (Oleum iecoris asselli) dan madu (Mel depuratum).
3. Simplisia Pelikan atau Mineral : Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa
bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan
belum berupa bahan kimia murni.
Faktor faktor yang mempengaruhi mutu simplisia :
1. Bahan baku dan penyimpanan bahan baku

2. Proses pembuatan simplisia


3. Cara pengepakan dan penyimpanan simplisia

Simplisia yang bermanfaat di industri farmasi adalah dalam bidang obat-obatan:


Obat tradisional bukan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia. Sebelum obat-obat kimia
berkembang secara modern, nenek moyang kita umumnya menggunakan obat-obatan yang
berasal dari tumbuh-tumbuhan untuk mengatasi problem kesehatannya.Dari tumbuhan obat
tersebut dapat dibuat berbagai produk yang sangat bermanfaat dalam menunjang industri obat
tradisional, farmasi, makanan dan minuman. Ragam bentuk hasil olahannya, antara lain berupa
simplisia.

http://purwatiwidiastuti.wordpress.com/2012/05/17/kulit-manggis-bagaimana-cara-mengeringkannya/

Kulit manggisbagaimana
cara mengeringkannya
Filed under: kesehatan, kulit manggis, manggis 21 Komentar
Mei 17, 2012

Assalamualikum.
Blog nya sangat bermanfaat moga menjadi amal jariah (ilmu yang bermanfaat). Saya tertarik dengan
buah manggis ketika suami mau membelikan obat jus kulit manggis. Saya cari info sebanyak
banyaknya tentang manggis. Dari blog ini banyak ilmu bermanfaat yang saya peroleh. Sekedar mau
share.
Buat mengeringkan kulit manggis gak selalu harus menunggu cuaca panas. yang saya lakukan
adalah memotong kulit manggis tipis tipis, kemudian saya tebar di napan. Kemudian saya simpan di
kulkas. Insya Allah kering dengan sendirinya. Saya teringat akan cabe yang selalu kering bila saya
letakkan di kulkas. Tapi untuk penyimpanan cabe saya punya trik sendiri. Membungkusnya dengan

koran dan dimasukkan kedalam

kantong plastik. Insya Allah gak cepet

kering. Semoga bermanfaat.


Itu sebuah koment dari pembaca blog ini diartikel jus kulit manggis-sangat mudah
membuatnya.Ya karena cara membuat jus kulit manggis sangat mudah, maka cara
mengeringkannyapun juga sangat mudah. Siapapun bisa membuat jus kulit manggis apalagi cuma
mengeringkannya. Setelah kering,bisa juga dibuat wedang kulit manggis. Musim manggis segera
berlalu, maka pilihanmengkonsumsi kulit manggis segarpun juga akan segera berlalu, sehingga
pilihan mengkonsumsi kulit manggis kering adalah pilihan yang tak terelakkan lagi.
Adapun cara mengeringkan kulit manggis bisa dilakukan dengan:

Menjemur dibawah sinar matahari. Karena kulit manggis tahan panas,

maka

pengeringan kulit manggis bisa dilakukan dibawah sinar matahari. Penjemuran bisa dilakukan dalam
potongan besar, maupun setelah diiris tipis-tipis. Pada potongan besar akan membutuhkan waktu
penjemuran lebih lama dibanding kulit manggis yang sudah diiris tipis-tipis.
Dengan Oven. Meskipun kulit manggis lebih tahan panas dibanding daun sirsak tetapi disarankan
suhu pengeringan kulit manggis maksimal 60 derajad Celcius agar enzim dalam kulit manggis tidak
rusak. Pengeringan kulit manggis memakai oven bisa dilakukan dalam potongan besar, maupun
setelah diiris tipis-tipis. Pada kulit manggis potongan besar akan membutuhkan

waktu

penjemuran lebih lama dibanding kulit manggis yang sudah diiris

tipis-tipis.
Dimasukkan kulkas. Bila kulkas kita besar dan punya sisa tempat yang longgar, kita juga bisa
mengeringkan didalam kulkas/lemari pendingin dengan mengiris tipis-tipis terlebih dahulu
kemudian dimasukkan kulkas. Apabila dimasukkan dalam kulkas pada tempat yang lebar seperti
nampan, maka kulit manggis akan kering lebih cepat dibandingkan dimasukkan dalam mangkok
ataupun kantong plastik.

Nach, kulit manggis sudah kering, siap untuk dibuat jus kulit manggis, wedang kulit manggis,puding
kulit manggis, kopi kulit manggis atau sekedar direbus saja. Pilihan cara mengkonsumsi sangat

beragam, silahkan memilih sendiri.


Selamat mencoba, salam sehat

Anda mungkin juga menyukai