Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

ILMU BUDAYA SUNDA


KESENIAN SUNDA

Disusun Oleh :
Fikri Ferdiansyah 133040120
Dwiki Ramadhan 133040121
Yuda Maulana 133040124
Hafid Hanafi 133040126
Khoirul Anam 133040127
Nikko Alvian 133040129
Muhammad Ilham Firdaus 133040131

UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG


FAKULTAS TEKNIK
TEKNIK INFORMATIKA

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
Kesenian Sunda ini dengan baik.
Makalah ini diharapkan mampu membantu kami dalam memperdalam mata
kuliah Ilmu Budaya Sunda dalam kegiatan belajar. Selain itu, makalah ini diharapkan
agar dapat menjadi bacaan para mahasiswa agar menjadi mahasiswa yang selalu
menjaga dan melestarikan budaya serta kesenian yang ada di Indonesia khusus nya
daerah Sunda.
Oleh karena itu, makalah ini diharapkan agar para mahasiswa memiliki sikap
yang selalu menjaga dan melestarikan budaya serta kesenian yang ada di daerah
Jawa Barat khususnya Sunda.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada para pembaca yang sudah
berkenan membaca makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat, khususnya bagi
kami dan pembaca.

Bandung, November 2014

Penulis
i

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................................ i
Daftar Isi .................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Tujuan ............................................................................................................... 1
1.3 Manfaat ............................................................................................................. 1
BAB II LANDASAN TEORI ...................................................................................... 2
BAB III PEMBAHASAN ........................................................................................... 3
3.1 Kesenian Panjalu .............................................................................................. 3
3.2 Kesenian Banceuy ............................................................................................ 4
3.3 Kesenian Kampung Naga ................................................................................. 5
3.4 Kesenian Kampung Cireundeu ......................................................................... 5
3.5 Kesenian Baduy ................................................................................................ 6
3.6 Kesenian Kmapung Pulo ................................................................................... 9
3.7 Kesenian Kampung Mahmud ............................................................................ 9
BAB IV PENUTUP................................................................................................. 10
4.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 10
Daftar Pustaka ...................................................................................................... 11

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu
merupakan sinonim dari ilmu. Seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi
dari kreativitas manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang
diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan.
Kata Sunda bisa mengandung berbagai arti yang secara umum berkaitan
dengan suku Sunda di bagian barat Nusantara. Catatan sejarah tertua yang
sudah ditemukan mengandung kata "Sunda" adalah prasasti Kebonkopi yang
dibuat tahun 458 Saka (536 M, namun ada pula yang berpendapat bahwa
prasasti ini dibuat tahun 854 Saka, 932 M) yang menunjuk pada kerajaan Sunda.
Suku sunda adalah salah satu suku yang memiliki berbagai kebudayaan
daerah, diantaranya pakaian tradisional, kesenian tradisional, bahasa daerah,
dan lain sebagainya.
1.2 TUJUAN
Memahami kesenian Sunda
Memahami adat Sunda
Mengetahui kegiatan sehari-hari orang Sunda
Mengenal alat kesenian Sunda
1.3 MANFAAT
Dengan di susunnya makalah ini di harapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan penulis dan pembaca tentang budaya dan kesenian sunda.

BAB II LANDASAN TEORI

Alexander Baum Garton


Seni adalah keindahan dan seni adalah tujuan yang positif menjadikan
penikmat merasa dalam kebahagiaan.
Aristoteles
Seni adalah bentuk yang pengungkapannya dan penampilannya tidak pernah
menyimpang dari kenyataan dan seni itu adalah meniru alam.
Immanuel Kant
Seni adalah sebuah impian karena rumus rumus tidak dapat mengihtiarkan
kenyataan.
Ki Hajar Dewantara
Seni merupakan hasil keindahan sehingga dapat menggerakkan persasaan
indah orang yang melihatnya, oleh karena itu perbuatan manusia yang dapat
mempengaruhi dapat menimbulkan perasaan indah itu seni.
Leo Tolstoy
Seni adalah ungkapan perasaan pencipta yanng disampaikan kepada orang
lain agar mereka dapat merasakan apa yang dirasakan pelukis.
Sudarmaji
Seni adalah segala manifestasi batin dan pengalaman estetis dengan
menggunakan media bidang, garis, warna, tekstur, volume dan gelap terang.

Kata sunda kemungkinan berasal dari bahasa Sanskerta yang bisa berarti
'cahaya' atau 'air'. Dalam naskah historis lainnya menyebutkan Sunda merujuk pada
ibukota Kerajaan Tarumanagara yang bernama Sundapura. Sehingga masyarakat
yang menghuni wilayah tersebut dikenal sebagai orang Sunda yang disebut hingga
kini. Kerajaan Tarumanagara merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara
yang terbukti dengan bukti prasasti dan berita naskah kuno di negeri Tiongkok.
Letak tepat kota Sundapura masih menjadi penelitian para ahli, apakah di Jakarta,
Bekasi atau Karawang sekarang. Hanya di Karawang terdapat situs percandian
Batujaya seluas 5 km persegi yang menunjukkan tumbuh kembangnya kebudayaan
sejak abad 2 Masehi hingga abad 12 Masehi.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 KESENIAN PANJALU


Kesenian gembyungan merupakan kesenian yang dilibatkan dalam upacara
nyangku. Nyangku merupakan upacara pembersihan benda-benda pusaka
peninggalan leluhur Panjalu yang berjuang dalam penyebaran agama Islam.
Seperti pendapat Sukardja (2001:11) bahwa upacara adat sakral nyangku adalah
upacara membersihkan benda benda pusaka peninggalan para leluhur Panjalu.
Upacara ini biasanya diperingati setiap hari Senin atau Kamis terakhir di
bulan Mulud. Masyarakat Panjalu mempercayai bahwa bulan Mulud merupakan
bulan yang suci dan terkait dengan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Seni
gembyungan difungsikan karena kesenian ini bernafaskan Islam, hal ini dapat
dilihat dari teks bacaan yang digunakannya yang berasal dari teks Al Barjanzi.
Kesenian gembyungan ini mempunyai pemain yang berasal dari garis
keturunan Prabu Hariang Kuning dan hanya merekalah yang berhak
memainkannya. Seni gembyungan ini biasanya dimainkan oleh 11 orang pemain
inti dan 3 orang pemain cadangan,serta satu orang berperan sebagai biskal atau
pembaca shalawat, dan pemain lainnya berperan sebagai saurna. Kesenian
gembyungan ini termasuk ke dalam musik ansambel. Hal ini karena kesenian
gembyungan merupakan kelompok musik yang terdiri dari beberapa pemain
yang memiankan beberapa instrumen. Menurut Banoe dalam Husna (2012:18)
menyatakan bahwa ansambel adalah kelompok musik dalam satuan kecil atau
permainan bersama dalam satuan kecil alat musik.
Menurut Husna(2012) musik ansambel terdiri dari beberapa jenis ansambel
sebagai berikut:
1. Ansambel Instrumen: yaitu kelompok musik yang terdiri dari permainan alatalat musik, baik sejenis maupun campuran.
2. Ansambel Vokal: yaitu kelompok suara manusia yang terdiri dari jenis suara
sopran, alto, tenor, dan bass.
3. Ansambel Campuran: yaitu kelompok musik yang terdiri dari vokal dan alat
musik.
Berdasarkan pendapat diatas, kesenian gembyungan termasuk kelompok
musik ansambel campuran, karena didalamnya terdapat vokal dan beberapa
instrumen tepuk. Instrumen yang digunakan dalam seni gembyungan merupakan
instrumen membranofon. Membranofon adalah kelompok alat musik yang
sumber bunyinya dari getaran selaput kulit yang dipasang pada bingkai kayu
atau tabung. Seperti menurut Supanggah (2002:19) bahwa kelompok alat musik
Kesenian Gembyungan pada Upacara Nyangku selaput kulit adalah instrumen
musik yang suaranya bersumber dari getaran kulit yang dibentang pada suatu
bingkai atau frame, (dari berbagai macam bentuk dan bahan, biasanya kayu)
dengan cara dipukul, baik dengan menggunakan tangan telanjang maupun alat
pemukul. Adapun instrumen kesenian gembyungan di Desa Kertamandala antara
3

lain, dog-dog, satu buah instrumen jidor, satu buah instrumen gembyung tojo,
satu buah instrumen gembyung kempyang, dan lima buah instrumen gembyung
indung. Hal ini sependapat dengan Jaya (2010:20) yang menyatakan bahwa
waditra yang terdapat dalam kesenian gembyungan umumnya terdiri dari empat
jenis terebang yaitu: terebang tilingting, terebang bangsing, terebang kempring,
dan terebang tojo, adapun instrumen lainnya yaitu dog dog dan jidor. Kesenian
ini biasa disajikan di upacara-upacara kebudayaan masyarakat, khususnya yang
bersifat Islami, seperti diungkapkan Rosidi dalam Jaya (2010:19) bahwa
gembyung adalah seni pertunjukan yang menggunakan terebang besar
dimainkan untuk memeriahkan upacara Maulid Nabi Muhammad SAW maupun
untuk keperluan lain. Hal ini diperkuat oleh Supanggah (2002:20) bahwa
kesenian yang mayoritas mengguanakan alat musik selaput kulit ini sering dan
sangat erat diasosiasikan dengan dunia Islam dan atau keprajuritan atau
kemiliteran India Belanda. Adapun pendapat menurut salah satu artikel di
website sundanet.com yang dikutip oleh Jaya (2011) menyebutkan bahwa salah
satu kesenian keagamaan peninggalan para budaya Islam adalah seni
gembyung. Seni gembyung ini merupakan pengembangan dari kesenian
terebang yang hidup di lingkungan pesantren, konon kesenian gembyung itu
dijadikan sebagai media penyebaran agama Islam.
Dari pernyataan-pernyataan tadi dapat ditarik kesimpulan bahwa kesenian
gembyungan identik dengan perayaan-perayaan atau upacara-upacara
keagamaan khususnya Agama Islam. Gembyungan merupakan kesenian yang
mengandung unsur ritmis dan melodis. Unsur ritmis terdapat pada instrumen
tepuk/pukul yang dibunyikan secara interloking. Adapun unsur melodis yaitu
pada vokal yang dilantunkan secara biskal (bernyanyi sendiri) dan
saurna(bernyanyi bersama). Unsur ritmik pada gembyungan tampak variatif
(berbeda) dan khas yang ditimbulkan dari variasi tepukan gembyungan tersebut.
3.2 KESENIAN BANCEUY
Banceuy terletak di Desa Sanca Kec. Jl.Cagak yaitu sekitar 20 km dari Kota
Subang. Saat Tahun Baru Muharam, masyarakat dusun banceuy menggelar
acara helaran yaitu sebuah pesta adat dengan mengedepankan nilai-nilai
tradisional yang mereka miliki seperti bajidoran, kaulinan budak, wayang golek,
tutunggulan, kentongan & gembyung.
Adat dan Budaya
Masyarakat kampung adat Banceuy masih sangat kuat menjunjung
tinggi nilai gotong royong dan saling menghargai antar sesama Adat
istiadat dan ritual turun temurun pun masih sangat kental dipelihara
dan telah menjadi suatu kegiatan pariwisata yang sangat menarik
untuk dinikmati. Diantaranya: Ruwatan Bumi, Syukuran Mapag cai,
Nitembean Tandur, Hajat Solokan, Nyepitan, dll.

Kesenian Tradisional
Di Kampung Adat Banceuy terdapat berbagai macam kesenian
tradisional antara lain: Karinding, Celempungan, Gembyung,
Tarawangsa. Kesenian ini masih terjaga kelestariannya hingga saat ini.
Tradisi
Tradisi ruwatan bumi yang di laksanakan setiap tahunnya merupakan
salah satu kemenarikan yang bisa dinikmati oleh pengunjung. Tradisi
ini bermaksud mensyukuri nikmat Sang Illahi atas segala karunia yang
telah di berikan kepada masyarakat Kampung Banceuy. Dan selain itu
tradisi ini bermaksud untuk memperat tali silaturahmi warga
masyarakat Kampung Adat Banceuy.
3.3 KESENIAN KAMPUNG NAGA
Di bidang kesenian masyarakat Kampung Naga mempunyai pantangan atau
tabu mengadakan pertunjukan jenis kesenian dari luar Kampung Naga seperti
wayang golek, dangdut, pencak silat, dan kesenian yang lain yang
mempergunakan waditra goong. Sedangkan kesenian yang merupakan warisan
leluhur masyarakat Kampung Naga adalah terbangan, angklung, beluk, dan
rengkong. Kesenian beluk kini sudah jarang dilakukan, sedangkan kesenian
rengkong sudah tidak dikenal lagi terutama oleh kalangan generasi muda.
Namun bagi masyarakat Kampung Naga yang hendak menonton kesenian
wayang, pencak silat, dan sebagainya diperbolehkan kesenian tersebut
dipertunjukan di luar wilayah Kampung Naga.
Terdapat tiga pasangan kesenian di Kampung Naga diantaranya :
1. Terebang Gembrung yang dimainkan oleh dua orang sampai tidak
terbatas biasanya ini dilaksanakan pada waktu Takbiran Idul Fitri dan Idul
Adha serta kemerdekaan RI. Alat ini terbuat dari kayu.
2. Terebang Sejat, dimainkan oleh 6 orang dan dilaksanakan pada waktu
upacara pernikahan atau khitanan massal.
3. Angklung, dimainkan oleh 15 orang dan dilaksanakan pada waktu
khitanan massal.
3.4 KESENIAN KAMPUNG CIREUNDEU
Cireundeu adalah sebuah kampung yang terletak di lembah Gunung Kunci,
Gunung Cimenteng dan Gunung Gajahlangu. Secara administratif, Kelurahan
Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Tak jauh dari kampung
adalah bekas lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, yang pernah
longsor dan memangsa lebih dari seratus jiwa.
kesenian sunda yang sangat kental dengan kebudayaan leluhurnya yaitu
Kesenian Kecapi Suling dimana dalam kesenian ini para penduduk kampung
tersebut turut serta melestaikannya dengan berpartisipasi dalam semua
kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh kelompok kecapi suling tersebut
yang bernama Purwawirahma ini. Kesenian kecapi suling ini biasanya dilakukan
5

apabila ada kegiatan ritual-ritual keagamaan mereka yang mayoritas menganut


kepercayaan Sunda Wiwitan meski sekarang sudah ada beberapa penduduk
yang menganut agama Islam. Selain itu ada juga kesenian sunda lainya seperti
Angklung Buncis yang sering diiringi dengan tarian khas sunda yang dekenal
dengan sebutan Ngibing.
Salah satu ritual keagamaan besar yang sering dilakukan setiap tahunya oleh
masyarakat Kampung Cireundeu yaitu peringatan Tahun Baru 1 Sura yang
bertepatan dengan 1 muharam. Dalam kegiatan ini seluruh masyarakat asli
Kampung Cireundeu diwajibkan memakai pakaian adat khas kampung tersebut
yaitu untuk pakaian pria menggunakan pangsi dengan ditambah iket dikapala
(sejenis kain samping bermotif yang digunakan di kepala) sedangkan untuk
wanita menggunakan kebaya putih untuk atasan dan samping bermotif khas
Cireundeu yaitu lereng Kujang untuk bawahannya. Motif lereng kujang
tersebut konon melambangkan budaya asli sunda.
Selain itu ada tempat yang sering digunakan untuk malakukan kegiatan yang
bersifat keagamaan, yaitu Bale Saresehan tempat ini mempunyai khas yang
unik dari segi bangunannya yang dilapisi dengan bamboo yang sudah direndam
beberapa lama sebelum dipasang di dalam kolam atau yang sering mereka sebut
dengan balong. Bambu tersebut direndam dalam kolam atau balong bertujuan
untuk membuat bambu tidak mudah rapuh dan dimakan rayap, kemudian dari
segi pelukisan corak warnanya yang begitu kental dengan unsur-unsur
kehidupan seperti warna hitam yang melambangkan tanah, warna putih yang
melambangkan air, warna kuning melambangkan angin dan warna merah yang
melambangkan api, konon dari keempat unsure warna tersebut manusia dapat
hidup.
Kepercayaan Sunda Wiwitan yang dianut masyarakat Kampung Cireundeu,
Kota Cimahi, Jawa Barat ini merupakan pengembangan dari Sunda Wiwitan
yang dianut oleh masyarakat Baduy di wilayah Banten, walaupun ada beberapa
perbedaan yang cukup besar diantara kedua kepercayaan tersebut.
Perbedaan yang mendasar antara Sunda Wiwitan Kampung Cireundeu
dengan Baduy adalah dari kebiasaan mereka dimana orang Baduy sangat
menghargai dan menyembah beras sebagai Dewa Sri yang dikenal dengan dewi
padi, sedangkan di Kampung Cireundeu malah menghindari beras.
Suatu hal yang mencolok dari kegiatan ada masyarakat Kampung Cireundeu
adalah rutinitas menggelar hajat peringatan tahun baru Saka 1 Sura.
Kepercayaan ini dikenal juga sebagai Cara Karuhun Urang (tradisi nenek
moyang), kepercayaan sunda wiwitan, ajaran Madrais atau agama Cigugur.
Mereka percaya pada Tuhan dan teguh menjaga kepercayaan serta jatidiri sunda
mereka agar tidak berubah.
3.5 KESENIAN BADUY
Masyarakat Kanekes (Orang Baduy) pada jenis seni tradisional Kabupaten
Lebak seperti halnya daerah lain di wilayah Banten adalah Debus, Dogdog Lojor,
dan Angklung Rawayan.
6

Dalam melaksanakan upacara tertentu, masyarakat Baduy menggunakan


kesenian untuk memeriahkannya. Adapun keseniannya yaitu:
Angklung buhun
salah satu kesenian masyarakat Baduy yang pertaman kali lahir,
kesenian Tradisonal ini berbau magis dan mempunyai unsure saklar.
Angklung Buhun bukannya kesenian pagelaran yang setiap saat bisa
ditonton. Pada dasarnya, penggunaan angklung yang berada di daerah
kanekes ini hanya dimainnkan pada saat ritual yang berkaitan dengan
padi. Jadi, salah jika kemuadian keberadaannya hanya untuk hura-hura
dan hiburan. Biasaanya, angklung buhun ini akan dibunyikan jika tiba
masa tanam padi ladang.
Cara memainkannyapun terdapat perbedaan antara baduy dalam dan
baduy luar. Warga baduy dalam memainkannya secara bebas, atau dalam
bahasa sunda disebut dikurungkeun. Sementara itu, baduy luar
memainkannya dengan ritmis khusus. Semua ungkapan bertumpu pada
pakem, yang dijadikan keharusan, disamping tembang, tari, dan
tabuhannya harus bisa menyatu dengan seniman yang memainkannya.
Kendati angklung ini hanya dimainkan pada masa penanaman pagi hingga
masa mengobati pagi yang biasanya dilakukan 3 bulan setelah masa
tanam, angklung buhun masih bisa dimainkan sepanjang tidak berlebihan
dan bersifat hura-hura. Setelah lewat masa ini, alat musik apa pun tidak
boleh dimainkan hingga masa tanam kembali datang.
Adat yang mengatur penutupan penggunaan angklung buhun ini
disebut dengan musungkeun angklung atau menitipkan angklung agar
disimpan. Setiap angklung dan beduk dalam proses kesenian ini
mempunyai nama. Ada pun nama-nama angklung buhun dilihat dari
ukurannya, mulai yang terbesar hingga yang terkecil, yakni indung,
ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel.
Roel merupakan dua buah angklung. sementara, nama-nama beduk dari
yang terpanjang hingga yang terpendek adalah talingtit, dan ketuk.
Kesenian Angklung Buhun hadir bersama dengan orang Baduy, dan
punya arti penting sebagai penyambung amanat, kepada para ahli waris
untuk mempertahankan kelangsungan anak-keturunan Baduy. Unsur
seninya sebagai daya tarik yang mampu menyentuh rasa, pementasan
merupakan jembatan sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan,
ajakan, peringatan, laranagn, dan penerangan.

Filosofi angklung buhun


Bagi sebagian orang angklung hanya alat musik biasa yang digunakan
untuk mengiringin nyanyian tertentu dan bersifat menghibur orang yang
mendengarkan atau menontonnya. Namun di suku Baduy budaya
angklung bukan semata-mata sebagai media hiburan saja. Melaikan
memunculkan nilai estetika sendiri yang embuat pendengar menjadi
terhibur karana bebunyian yang menarik itu. Hal ini menandakan bahwa
7

angklung merupakan alat musik yang memadukan antara perbedaan,


toleransi, kerja sama, dan kebersamaan yang memainkannya sehingga
bunyi yang dihasilkan bersifat harmonis. Selain itu ada pula filosofi yang
membuat angklung memiliki nilai budaya yang tinggi, yakni kedekatannya
dengan alam karana bahan yang digunakan dalam membuat alat musik
tersebut adalah berupa bambu.
Biasanya, jumlah pemain angklung buhun ada 8 orang, ditambah 3
orang yang bertugas menabuh beduk kecil. Mereka berdiri sambil berjalan
dan menari sederhana membentuk jalan melingkar. Ini hanya bisa
dilakukan kaum laki-laki saja, perempuan tidak diperkenankan. Hiburan
semacam ini hanya ada di baduy luar, sementara di baduy dalam
menganggap hal ini manyalahi adat dan aturan pantangan. Bagi warga
baduy dalam, angklung hanya dimainkan pada saat ritual saja.

Rendo Pengiring Pantung


Merupakan salah satu alat kesenian Tradisional masyarakat Baduy
memberikan warna kehdupan budaya bervariasi, sebagai pembangkit rasa
ingat para warga kepada amanat leluhurnya. Rendo hadir pada setahun
sekali secara pasti, setelah selesai musim ngored, menjelang pohon padi
mulai berbunga. Peristiwa ini merupakan waktu senggang yang digunakan
untuk kesibukan membaca pantun,dalam membuka tabir sejarah
perjalanan hidup leluhurnya. Kegiatan mantun biasanya dipimpin oleh
tokoh masyarakat, yang lebih mengetahui, serta bertanggung jawab untuk
menyampaikan amanat. Mantun merupakan upacar kecil yang dilakukan
dari rumah ke rumah, pada malam hari untuk lek-lekan sampai larut
malam.
Kacapi adalah alat musik tradisional yang merupakan alat musik
kelasik yang selalu mewarnai beberapa kesenian di tanah Sunda .
Membuat kecapi bukanlah hal gampang. Meski sekilas tampak kecapi
seperti alat musik sederhana, tetapi membuatnya tidaklah gampang.
Untuk bahan bakunya saja terbuat dari kayu Kenanga yang terlebih
dahulu direndam selama tiga bulan. Sedangkan senarnya, kalau ingin
menghasilkan nada yang bagus, harus dari kawat suasa (logam campuran
emas dan tembaga), seperti kecapi yang dibuat tempo dulu.Berhubung
suasa saat ini harganya mahal, senar Kecapi sekarang lebih
menggunakan kawat baja. Nada dalam kecapi sunda memiliki 5 (
pentatonis ) tangga nada yaitu Da, Mi, Na, Ti, La, Pasangan alat musik
kecapi sunda ini biasanya adalah suling sunda yang terbuat dari bambu.
Alunan musik yang mengalir akan terasa mempesona pada telinga kita
jika di mainkan keduanya. Kalau saya sendiri suka rindu akan kampung
halaman.

3.6 KESENIAN KAMPUNG PULO


Pencak silat
Pencak Silat adalah olah raga seni beladiri, yang merupakan ciri khas
kebudayaan etnis sunda. Dilihat dari unsur seni, pencak silat merupakan
seni budaya yang sangat menarik untuk ditonton (SiIlat Ibing), permainan
seni pencak silat ini biasanya diperagakan dengan diiringi musik gendang,
terompet, dan lain sebagainya.
Bangklung
Seni tari Bangklung merupakan perpaduan dari kesenian tradisional
masyarakat Garut yang diantaranya adalah seni musik tarebang(rebana)
dan kesenian Angklung Madud. Perpaduan kesenian ini menghasilkan
kesenian baru yang sangat indah dan serasi kemudian diberi nama
Bangklung pada tanggal 12 Desember 1968. Namun demikian, kesenian
Tarebang dan Angklung Madud dapat dimainkan secara terpisah.
Jumlah pemain seluruhnya 27 orang, masing-masing membawa alat
musik tarebang (rebana), angklung, beluk (vokal), terompet, keprak dan
seorang badut. Lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu sunda dan
shalawat.
3.7 KESENIAN KAMPUNG MAHMUD
Pada hari-hari besar dan peristiwa bersejarah bagi kampung, kesenian
terbang biasanya ditampilkan di Kampung Mahmud. Terbang adalah sajian
kesenian bernuansa Islam yang penuh pesan dakwah dan nilai-nilai ajaran para
waliyullah. Bentuk kesenian ini dapat berupa komposisi musik dan syair, seperti
qasidahan. Terbang menggunakan alat musik pukul yang terdiri dari dogdog,
kecrek, dengan dominasi rebana dari berbagai ukuran. Setiap ukuran
menghasilkan suara yang berbeda dan khas.

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Kesenian yang ada di tanah sunda antara lain seni musik, bela diri dan
seni tari.
Sebagian besar masyarakat orang sunda menganut agama Islam.
Kebiasaan orang sunda sangat memegang erat warisan para leluhurnya.

10

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Seni
http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda
http://tendidwi51.blogspot.com/2013/03/macam-macam-budaya-dan-senimasyarakat.html
http://laporannurainisolihat.blogspot.com/2014/08/makalah-kebudayaan-panjaluciamis.html
http://culturefrombanceuy.blogspot.com/2011/12/selayang-pandang-kampung-adatbanceuy.html
https://aristastar21.wordpress.com/makalah-kebudayaan-masyarakat-kampungnaga-2/
http://putritiarniyasin.wordpress.com/2014/01/13/di-balik-baduy-yang-sebenarnya/
http://ajengsopha.blogspot.com/2012/09/kesenian-khas-garut.html
http://nationalgeographic.co.id/berita/2013/12/kampung-adat-mahmud-pusatpenyebaran-islam-di-bandung

11