Anda di halaman 1dari 6

DASAR TEORI

Diazotasi adalah reaksi antara amina aromatis primer dengan asam nitrit yang berasal dari
natrium nitrit dalam suasana asam untuk membentuk garam diazonium (Fox, 2003).
Prinsip spektrofotometri visibel adalah interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan materi
pada daerah panjang gelombang visibel (cahaya tampak) 380-800 nm. Materi (molekul)
mengapsorpsi sinar visibel dan teriktasi ke level tinggi. Beberapa senyawa yang berwarna
mampu mengabsorpsi radiasi elektromagnetik pada daerah panjang gelombang visibel
sehingga dapat diukur dengan metode spektrofotometri visibe (beran, 2010).
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis spektrofotometri UV-Vis terutama
untuk senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri
visibel karena senyawa tersebut harus diubah dahulu menjadi senyawa berwarna, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis


Waktu operasional (operating time)
Pemilihan panjang gelombang
Pembacaan absorpsi sampel
Pembuatan kurva baku

Spektrofotometer yang sesuai untuk pengukuran didaerah spektrum ultra violet dan sinar
tampak terdiri atas suatu sistem optik dengan kemampuan menghasilkan sinar monokromatis
dalam jangkauan panjang gelombang 200-800 nm. Komponen-komponennya meliputi
sumber sinar monokromator dan sistem optik.
GAMBAR.........................
Serapan cahaya oleh molekul dalam spektrum terlihat/tampak tergantung pada struktur
elektronik dari molekul. Spektra terlihat dari senyawa organik berkaitan erat dengan transisitransisi diantara tenaga elektronik, maka serapan UV-tampak sering dikenal sebagai
spektroskopi elektronik. Transisi- transisi tersebut biasanya antara orbital ikatan atau orbital
pasangan bebas dan orbital non ikatan tak jenuh atau orbital anti ikatan (Sastrohamidjojo,
2001).
Saat radiasi elektromagnetik dilewatkan ke sampel, sebagian dari radiasi tersebut diserap.
Energi elektromagnetik di transfer ke atom atau molekul dalam sampel, dan kemudian
partikel-partikel tereksitasi dari tingkatan energi yang lebih rendah ke tinggi. Kemudian atom
atau molekul tersebut kembali ke tingkatan energi yang lebih rendah dan menghasilkan emisi.
Salah satu proses keluarnya emisi adalah fluoresesi atau fosforesensi yang disebut sebagai
fenomena luminescene (Khopkar, 2004).
Radiasi elektromagnetik yang mana sinar ultraviolet dan sinar tampak merupakan salah
satunya, dapat dianggap sebagai energi yang merambat dalam bentuk gelombang. Sinar
tampak mempunyai panjang gelombang 400-750 nm (Gandjar, 2007).

Warna sinar tampak dapat dihubungkan dengan panjang gelombangnya. Sinar putih
mengandung radiasi pada semua panjang gelombang didaerah sinar tampak. Sinar pada
panjang gelombang tunggal (radiasi monokromatik) dapat dipilih dari sinar putih (Gandjar,
2007).
Serapan cahaya oleh molekul pada spektrum ultraviolet dan terlihat tergantung pada struktur
elektronik pada molekul. Spektra ultraviolet dan terlihat dari senyawa-senyawa organik
berkaitan erat dengan transisi-transisi di antara tingkatn tingkatn tenaga elektronik.
Disebabkan karena hal ini maka serapan radiasi ultraviolet atau terlihat sering dikenal sebagai
spektroskopi eleltronik(Cannors, 1982).
Spektra dapat digunakan sebagai bahan informasi yang bermanfaat untuk analisis kualitatif.
Banyaknya sinar yang diabsorbsi pada panjang gelombang tertentu sebanding dengan
banyaknya molekul yang menyerap radiasi sehinga spektra absobsi juga dapat dipakai untuk
analisis kuantitatif (Gandjar, 2007).
Parasetamol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2
dihitung terhadap zat anhidrat. Pemerian serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.
Kelarutan; larut dalam air mendidih dan dalan batrium hidroksida 1N; mudah larut dalam
ethanol (Dirjen POM, 1995).

PEMBAHASAN KUALI PCT


Tujuan praktikum kali ini adalah...
Pada praktikum ini dilakukan pengujian secara kualitatif dan kuantitatif. Uji kualitatif
digunakan untuk mengetahui ada tidaknya senyawa parasetamol dalam sampel yang diuji,
sedangkan uji kuantitatif digunakan untuk mengetahui kadar parasetamol dalam sampel yang
diuji.
Uji kualitatif meliputi percobaan pendahuluan yaitu pemeriksaan organoleptis, kelarutan,
fluoresensi, dan pengarangan. Pemeriksaan organoleptis meliputi bau, warna, dan bentuk
sampel yang diuji. Hasil yang didapat yaitu serbuk halus, warna putih dan tidak berbau. Hal
ini sesuai dengan yan g tetera pada Farmakope Indonesia IV yaitu.....
Untuk pengujian kelarutan dilakukan dalam air dingin,air panas, NaOH 3N dingin, NaOH
3N panas, dalam H2SO4 3N dan dalam alkohol. Hasil yang didapat yaitu sampel yang diuji
larut dalam NaOH 3N panas dan dingin serta dalam alkohol. Sedangkan dalam air panas
maupun dingin serta dalam H2SO4 sampel yang diuji tidak larut. Pengujian kelarutan ini
bertujuan untuk mengetahui apakah sampel tersebut bersifat asam atau basa. Karena sampel
yang diuji larut dalan NaOH maka kemungkinan sampel tersebut bersifat asam.
Syarat suatu senyawa dapat berfluoresensi adalah memiliki struktur yang rigid, memiliki
kromofor, dan auksokrom. Dilihat dari struktur parasetamol yang tidak rigid walaupun
memiliki gugus kromofor dan auksokrom maka seharusnya senyawa tersebut tidak
berfluoresensi. Hasil yang didapat dari pengujian ini yaitu tidak berfluoresensi baik pada
panjang gelombang 254 maupun 365 nm untuk serbuk dan serbuk dalam H2SO4 3N.
Pengujian pengarangan dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat karbon dalam struktur
senyawa sampel yang diuji yang menunjukkan bahwa senyawa tersebut adalah senyawa
organik atau bukan. Muka-mula serbuk berwarna putih kemudian meleleh berwarna agak
kekuningan dan sisanya berupa kerak berwarna coklat kehitaman, hal ini menunjukkan
bahwa senyawa dalam sampel merupakan senyawa organik.
Uji kualitatif selanjutnya yaitu analisa gugus dan analisa golongan. Untuk analisa gugus
menghasilkan hasil positif pada pengujian gugus fenol yaitu dengan FeCl3 setelah
dipanaskan berwarna abu-abu kehitaman, untuk gugus amin aromatis hasilnya negatif
berwarna kuning, seharusnya berwarna merah jingga jika dalam sampel terdapat gugus amin
aromatis, lalu analisa gugus dengan reaksi gabungan asam sulfanilat menunjukkan hasil
positif berwarna orange muda.
Untuk analisa golongan anilin dilakukan pengujian dengan reaksi isonitril dan reaksi
indofenol yang keduanya menunjukkan hasil positif. Reaksi identifikasi lain menunjukkan
hasil negatif saat direaksikan dengan NaOH, asamm sulfanilat dan NaNO2 seta saat
direaksikan dengan HCl dan kalium bikromat. Hasil positif ditunjukkan saat direaksikan
dengan FeCl3 yaitu warna biru keunguan, dan dengan HNO3 encer yaitu warna putih bening.

Untuk reaksi kristal dengan aseton dan air menunjukkan gambar mikroskopis kristal erbentuk
balok dengan perbesaran 6 x 10.
Dari pengujian secara kualitatif tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa dalam sampel yang
diuji mengandung senyawa parasetamol.
PEMBAHASAN KUANTI PCT
Selanjutnya dilakukan uji kuantitatif untuk mengetahui kadar parasetamol yang terkandung
dalam sampel. Uji kualitatif ini dilakukan dengan spektrofotometri tampak (visibel). Prinsip
dari metode ini yaitu adanya interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan sampel pada
panjang gelombang 400-800nm. Interaksi ini berupa penyerapan energi dari cahaya yang
diteruskan melewati sampel yang menyebabkan elektron pada sampel tereksitasi dari ground
state ke excited state yang kemudian karena tidak stabil maka elektron tersebut akan turun
lagi ke ground state . Yang diukur adalah energi yang digunakan elektron untuk tereksitasi
yang dibaca sebagai absorbansi.
Menurut Hukum Lambert-Beer, absorbansi dari suatu sampel sebanding dengan konsentrasi
sampel tersebut. Ditunjukkan dengan rumus A = .b.c , A adalah absorbansi, adalah
koefisien absorptivitas, b adalah tebal kuvet, dan c adalah konsentrasi senyawa. Absorbansi
yang baik berkisar antara 0,2-0,8 karena pada daerah ini instrumetal error yang terjadi kecil.
Perbedaan spektrofotometri UV dengan visibel terletak pada senyawa yang diukur yaitu
untuk UV merupakan sneyawa tidak berwarna sedangkan visibel merupakan senyawa yang
berwarna, selain itu panjang gelombang untuk UV yaitu 200-400 nm nm sedangkan visibel
pada 400-800 nm. Senyawa yang berwarna memiliki gugus kromofor yang panjang, semakin
panjang gugus kromofornya maka pengukuran dilakukan pada panjang gelombang ynag
semakin tinggi. Semakin tinggi panjang gelombang maka energinya semakin kecil, sesuai
dengan rumus

E : energi
H : tetapan planc
C : kecepatan cahaya
Lamda : panjang gelombang
Untuk pengujian ini, pertama-tama baik baku parasetamol maupun sampel dihidrolisis dahulu
karena merupakan senyawa amina aromatis sekunder, sehingga untuk diubah menjadi primer
perlu dihidrolisis. Hidrolisis dilakukan pada suhu 80o C selama 2 jam dan setiap 10 menit
digojog kuat agar reaksi berjalan maksimal, dan dilakukan dengan pelarut HCl 4 N.
Reaksinya yaitu :
......................................................................

Amin aromatis primer yang terbentuk ini dengan asam nitrit dari NaNO2 akan bereaksi
membentuk garam diazonium, reaksi ini disebut reaksi diazotasi, reaksi ini terjadi
dilingkungan asam :
......................................................
Sisa asam nitrit (kelebihan asam nitrit) direaksikan dengan asam sulfamat, karena asam nitrit
berlebih dapat merusak warna yang terbentuk.
Setelah itu dilanjutkan dengan reaksi pengkoplingan. Reaksi pengkoplingan bertujuan untuk
memperpanjang gugus kromofor, sehingga nantinya dapat diukur pada panjang gelombang
visibel. Pengkoplingan dilakukan dengan penambahan naftilamin dan bila peru ditambahkan
NaOH 4 N.
....................................................................
Fungsi masing-masing bahan :
HCl : memberi suasana asam, sumber H+ saat reaksi diazotasi
NaNO2 : Penyedia NO2
Asam Sulfamat : menghapus kelebihan asam nitrit yang dapat merusak warna.
NaOH : penyedia suasana basa saat reaksi pengkoplingan.
Pada saat pembentukan garam diazonium dilakukan diatas penangas es karena garam
diazonium mudah teruari menjadii fenol dan N2 pada suhu kamar. Selain itu digunakan labu
tertutup agar gas N2 yang terbentu tidak hilang serta dilapisi alumunium foil karena senyawa
yang terbentuk bersifat fotosensitif. Pada praktikum ini dilakukan optimasi operating time
pada 15, 20, dan 25 menit. Operating time ini adalah waktu yang dibutuhkan senyawa untuk
bereaksi secara optimal. Diharapkan OT yang didapat maksimal sehingga absorbsi senyawa
tersebut juga maksimal, lamda maks menunjukkan absorbansi maksimum dan sensitifitasnya
tinggi.
Setelah itu juga dilakukan scanning panjang gelombang maksimal. Hasil yang didapat yaitu
pada panjang gelombang 424,5 nm. Penambahan asam sulfamat untuk menghapus kelebihan
asam nitrit karena asam nitrit dapat merusak warna dengan memecah ikatan dari senyawa
yang terbentuk ditunjukkan dengan reaksi :
........................................................
Setelah penambahan asam sulfamat ini, perlu degassing untuk menghilankan N2 yang dapat
mengganggu pengamatan dalam pengukuran absorbansi. Engukuran blanko dilakukan untuk
mengetahui apakah pelarut yang digunakan mempunyai absorbansi atau tidak, jika ada maka
digunakan untuk auto zero sehingga absorbansi yang terukur adalah absorbansi sampel saja.
Standartnya merupakan standar eksternal yaitu dari baku parasetamol yang dibuat kurva
bakunya sehingga dapat digunakan untuk menetapkan kadar sampel. Kurva baku digunakan

untuk validasi dengan mengetahui harga r yang menunjukkan linieritas. Harhga r yang baik
yaitu 1. Selain itu juga untuk mendapatkan kurva baku y= a + bx dimana a merupakan
intersep (perpotongan x dan y), sedangkan b merupakan slope. Semakin kecil intersep maka
serro yang terjadi semakin kecil. Semakin besar slope, sensitifitasnya semakin sensitif. Hasil
persamaan yang didapat yaitu y = 32,9x + 0,0116
Dari praktikum ini didapat OT 20 menit dengan absorbansi 0,090 dan untuk menetapkan
kadar didapat absorbansi 0,252; 0,278; dan 0,261. Sehingga kadarnya replikasi I : 34,450%
b/b; replikasi II : 41,033 %b/b; dan replikasi III : 36,725 %b/b. Kadar rata-ratanya 37,
403%b/b dengan persen kesalahan 29, 467%. SD yang didapat 3,343 dan CV nya 8,937 %,
semakin kecil SD dan CV menunjukkan bahwa data tersebut akurat dan presisi. Range kadar
yang didapat yaitu antara 34,06 %b/b sampai 40,746 % b/b. Replikasi 1 dan 3 masuk range
kadar ini tetapi replikasi 2 diatas range kadar.
Data yang digunakan merupakan data simulasi, karena pada praktikum ini praktikan tidak
mendapatkan data. Hal ini bisa disebabkan karena berbagai macam hal, antara lain
parasetamol belum terhidrolisis maksimal, dan pengaturan pH juga tidak dilakukan, untuk pH
pada pembentukan garam diazonium seharusnya dibawah 3, sedangkan pada waktu
pengkoplingan pH diantara 5-9, jika pH tidak diatur sehingga reaksi dilakukan pada pH
dibawah 5 atau diatas 9 maka ion-ionnya tidak reakstif sehingga reaksi tidak maksimal,
kelebihan spektrofotometri Vis : spesifik, sensitif
Kekurangan spektrofotometri Vis : mahal, butuh ketelitian tinggi.