Anda di halaman 1dari 16

VISKOSITAS LARUTAN

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan angka kekentalan dinamik dan kinematik (viskositas suatu
zat cair dengan menggunakan viskometer).
Menggunakan alat penentuan viskositas (viskometer) dengan baik dan

benar.

II.

ALAT DAN BAHAN


II.1. Alat yang Digunakan

Alat viskometer Hoppler

Bola dengan berbagai macam diameter

Stopwatch

Jangka sorong

Termometer

Gelas kimia

II.2. Bahan yang Digunakan


Parafin
Etanol
Aquadest

III. GAMBAR ALAT (TERLAMPIR)


IV. DASAR TEORI
Viskositas adalah ukuran yang menyatakan kekentalan suatu cairan
atau fluida. Kekentalan merupakan sifat cairan yang berhubungan erat
dengan hambatan untuk mengalir. Kekentalan ini dipengaruhi oleh kohesi
antara zat cair.

(Garda-pengetahuan.blogspot.com/2011/01/pengertianviskositas.html)
Faktor faktor yang mempengaruhi viskositas adalah sebagai berikut
(Dird 1987) :
a. Tekanan
Viskositas cairan akan naik seiring dengan naiknya tekanan,
sedangkan viskositas gas tidak dipengaruhi oleh tekanan.
b. Temperatur
Viskositas akan turun dengan naiknya suhu, sedangkan viskositas
gas akan naik dengan naiknya suhu. Pemanasan zat cair menyebabkan
molekul molekulnya memperoleh energi. Molekul molekul cairan
bergerak sehingga gaya interaksi antar molekul melemah, dengan
demikian viskositas cairan akan turun dengan naiknya temperatur.
c. Kehadiran Zat Lain
Penambahan gula tebu meningkatkan viskositas air. Adanya bahan
tambahan seperti bahan suspensi menaikkan viskositas air. Pada minyak
ataupun gliserin adanya penambahan air akan menyebabkan viskositas
akan turun karena gliserin ataupun minyak akan semakin encer.
d. Ukuran dan Berat Molekul
Viskositas akan naik dengan naiknya berat molekul. Misalnya laju
aliran alkohol cepat, aliran minyak laju alirnya lambat dan kekentalan
tinggi serta laju aliran lambat sehingga viskositas tinggi.
e. Ikatan
Semakin banyak ikatan rangkap semakin besar viskositas. Dengan
adanya ikatan hidrogen maka viskositas akan naik.
(Hedi Hastiawan.wordpress.com/kimia-fisika/viskositas)

Viskositas dapat diukur dengan menggunakan laju aliran yang melalui


tabung berbentuk silinder. Cara ini merupakan salah satu cara yang mudah
dan dapat digunakan untuk cairan maupun gas.
Menurut hukum Polsuille, jumlah cairan yang mengalir melalui pipa
persatuan waktu mempunyai persamaan :

Dimana :
v = volume total cairan
t = waktu
P = tekanan
r = jari jari
L = panjang pipa
= viskositas cairan
Persamaan diatas juga berlaku untuk fluida gas.
Ada beberapa viskometer yang sering digunakan untuk menentukan
viskositas suatu fluida, yaitu:
1.

Viskometer Oswald : untuk menentukan laju alir kapiler.

2.

Viskometer Hoppler : untuk menentukan laju beda dalam cairan.

3.

Viskometer Silinder Putar : untuk menentukan satu dari dua silinder


yang konsentris pada suhu atau putaran sudut tertentu.

Viskometer Oswald
Pada viskometer oswald yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan
oleh sejumlah cairan tertentu untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan
gaya yang disebabkan oleh berat benda itu sendiri.
Pengukuran viskositas ini menggunakan pembanding air, hal ini
dimaksudkan untuk mengurangi kesalahan pengukuran nilai. Viskositas
cairan menggunakan viskometer oswald dapat ditentukan dengan
persamaan:

, sehingga didapat bila menggunakan viskositas air adalah :

Viskometer Hoppler
Pada Viskometer Hoppler yang diukur adalah waktu yang dibutuhkan
oleh sebuah bola untuk melewati cairan pada jarak dan tinggi tertentu,
karena adanya gaya gravitasi benda yang jatuh melalui medium yang
berviskositas dengan kecepatan yang semakin besar melalui kecepatan
maksimum.
Kecepatan maksimum dapat dicapai bila gaya gravitasi sama dengan
gaya tahan medium (f). Besarnya gaya tahan (friksi) untuk benda yang
berbentuk bola oleh Stokes dirumuskan :

Dimana :
f = friksi
= viskositas
r = jari jari
v = kecepatan

(m mo) g

Pada kesetimbangan gaya kebawah adalah (m mo) g. Sehingga :


6 r v = (m mo) g
Atau

Dimana :
m = massa bola logam
mo = massa cairan yang dipindahkan
g = gravitasi

No.
Bola
1
2
3
4
5
6
6
6.3
6.4

Bahan Bola

Densitas
(gr / cm3)

Diameter
(mm)

K
( mpa s
cm3 / gr s)

Cp
(mpa s)

2,2

15,81 0,01

0,007

0,5 10

2,2

13,3 0,05

0,89

9 100

8,1

15,6 0,05

0,09

40 700

8,1

15,2 1

0,7

8,1

14,0 0,5

8,1

11,0 1

35

> 7500

2,2

15,91 0,02

Gas

2,2

15,20

0,4

20 200

2,2

14,40

3,5

150 1500

Gelas Boron
Silika
Gelas Boron
Silika
Alloy Besi
Nikel
Alloy Besi
Nikel
Alloy Besi
Nikel
Alloy Besi
Nikel
Gelas Boron
Silika
Gelas Boron
Silika
Gelas Boron
Silika

150 5000
1500 50000

Perhitungan viskositas dinamik dalam satuan mPa.s digunakan rumus:

Dimana :
k = konstanta bola (mPa.s cm3 / gr s)
P1 = densitas bola (gr / cm3)
P2 = densitas sampel (gr / cm3)
t = waktu

Manfaat pengukuran viskositas pada industri

Viskositas digunakan sebagai parameter dari produk yang di produksi


industri tersebut. Contohnya : Oli
Contoh aplikasi dari viskositas adalah pelumas mesin. Pelumas mesin
ini biasanya kita kenal dengan nama oli. Oli merupakan bahan penting bagi
kendaraan bermotor. Oli yang dibutuhkan tiap-tiap tipe mesin kendaraan
berbeda-beda karena setiap tipe mesin kendaraan membutuhkan kekentalan
yang berbeda-beda. Kekentalan ini adalah bagian yang sangat penting sekali
karena berkaitan dengan ketebalan oli atau seberapa besar resistensinya
untuk mengalir. Sehingga sebelum menggunakan oli merek tertentu harus
diperhatikan terlebih dahulu koefisien kekentalan oli sesuai atau tidak
dengan tipe mesin. Memilih dan menggunakan oli yang baik dan benar
untuk kendaraan bermotor merupakan langkah tepat untuk merawat mesin
dan peralatan kendaraan agar tidak cepat rusak dan mencegah pemborosan.
Masyarakat umum beranggapan bahwa fungsi utama oli hanyalah sebagai
pelumas mesin. Padahal oli memiliki fungsi lain, yakni sebagai pendingin,
pelindung karat, pembersih dan penutup celah pada dinding mesin. Sebagai
pelumas mesin oli akan membuat gesekan antar komponen didalam mesin
bergerak lebih halus dengan cara masuk kedalam celah-celah mesin,
sehingga memudahkan mesin untuk mencapai suhu kerja yang ideal.
Viskositas dari oli sangat diperhitungkan untuk meminimalisir gaya
gesek yang ditimbulkan oleh mesin yang bergerak dan terkontak satu
terhadap yang lain sehingga mencegah terjadinya keausan. Pada permesinan
bagian yang paling sering bergesekan adalah piston, ada banyak bagian lain
namun gesekannya tak sebesar yang dialami piston. Disinilah kegunaan oli.
Oli memisahkan kedua permukaan yang berhubungan sehingga gesekan
pada piston diperkecil. Selain itu, oli juga bertindak sebagai fluida yang
memindahkan panas ruang bakar yang mencapai 1000-1600 derajat celcius
ke bagian lain mesin yang lebih dingin, sehingga mesin tidak over heat
(sebagai pendingin). Pembersih mesin dari sisa pembakaran dan deposit
senyawa karbon yang masuk dalam ruang bakar supaya tidak muncul
endapan lumpur.

Teknologi mesin yang terus berkembang menuntut kerja pelumas


semakin lengkap, seperti penambahan anti karat dan anti foam. Semakin
kental oli, maka lapisan yang ditimbulkan menjadi lebih kental. Lapisan
halus pada oli kental memberi kemampuan ekstra menyapu atau
membersihkan permukaan logam yang terlumasi. Sebaliknya oli yang
terlalu tebal akan memberi resitensi berlebih mengalirkan oli pada
temperatur rendah sehingga mengganggu jalannya pelumasan ke komponen
yang dibutuhkan. Untuk itu, oli harus memiliki kekentalan lebih tepat pada
temperatur tertinggi atau temperatur terendah ketika mesin dioperasikan
karena nilai viskositas masing-masing oli akan berkurang jika suhu cairan
dinaikkan. Suhu semakin tinggi diikuti makin rendahnya viskositas oli atau
sebaliknya. Beberapa kriteria yang penting yang harus dipenuhi oleh oli
antara lain :
1.

Viskositas harus cukup kental untuk menahan agar bagian peralatan


yang bergerak relatif terpisah, tetapi juga harus mencegah kebocoran
dari segel.

2.

Fluida harus cukup pada saat awal yaitu pada saat peralatan masih
dingin.

3.

Dapat membentuk film yang cukup kuat untuk pelumasan perbatasan.

4.

Tahan terhadap oksidasi suhu tinggi.

5.

Mengandung deterjen dan dispersan cukup untuk menyerap endapan


atau lumpur yanga terbentuk.

6.

Tidak membentuk emulsi dengan air yang masuk dari segel yang bocor.
Dengan tingkat kekentalan yang disesuaikan dengan kapasitas volume

maupun kebutuhan mesin. Maka semakin kental oli, tingkat kebocoran akan
semakin kecil, namun disisi lain mengakibatkan bertambahnya beban kerja
bagi pompa oli. Oleh sebab itu, peruntukkan bagi mesin kendaraan Baru
(dan/atau relatif baru berumur dibawah 3 tahun) direkomendasikan untuk
menggunakan oli dengan tingkat kekentalan minimum SAE10W. Sebab
seluruh komponen mesin baru (dengan teknologi terakhir) memiliki lubang
atau celah dinding yang sangat kecil, sehingga akan sulit dimasuki oleh oli

yang memiliki kekentalan tinggi. Selain itu kandungan aditif dalam oli, akan
membuat lapisan film pada dinding silinder guna melindungi mesin pada
saat start. Sekaligus mencegah timbulnya karat, sekalipun kendaraan tidak
dipergunakan dalam waktu yang lama.
Disamping itu pula kandungan aditif deterjen dalam pelumas
berfungsi sebagai pelarut kotoran hasil sisa pembakaran agar terbuang saat
pergantian oli. Oli jenis mesin diesel ini memerlukan tambahan aditif
dispersant dan detergent untuk menjaga oli tetap bersih karena
menghasilkan kontaminasi jelaga sisa pembakaran yang tinggi. Sedangkan
bila oli yang digunakan sudah tipe sintetik maka tidak perlu lagi diberikan
bahan aditif lain karena justru akan mengurangi kireja mesin bahkan
merusaknya.
Tingkat kekentalan oli disebut Viscosity Grade, yaitu ukuran
kekentalan dan kemampuan oli untuk mengalir pada temperatur tertentu
menjadi prioritas terpenting dalam memilih oli. Kode pengenal oli adalah
berupa huruf SAE yang merupakan singkatan dari Society of Automotive
Engineers. Selanjutnya angka yang mengikuti dibelakangnya, menunjukkan
tingkat kekentalan oli tersebut. Misalnya oli yang bertuliskan SAE 15W-50,
berarti oli tersebut memiliki tingkat kekentalan SAE 10 untuk kondisi suhu
dingin dan SAE 50 pada kondisi suhu panas. Semakin besar angka yang
mengikuti kode oli menandakan semakin kentalnya oli tersebut. Sedangkan
huruf W yang terdapat dibelakang angka awal, merupakan singkatan dari
Winter. Dengan kondisi seperti ini, oli akan memberikan perlindungan
optimal saat mesin start pada kondisi ekstrim sekalipun. Sementara itu
dalam kondisi panas normal, idealnya oli akan bekerja pada kisaran angka
kekentalan 40-50 menurut standar SAE.

V.

PROSEDUR PERCOBAAN
1.

Membersihkan alat viskometer.

2.

Menentukan massa jenis bola (lihat tabel) dan massa jenis cairan yang
akan digunakan.

3.

Memasukkan sampai kedalam tabung viskometer sampai penuh.


Usahakan tidak ada gelembung udara.

4.

Menghidupkan stopwatch pada saat bola sampai tanda batas paling atas
dan mematikan stopwatch pada saat bola sampai pada tanda batas
paling bawah.

5.

Mencatat waktu yang diperoleh.

6.

Membersihkan viskometer setelah selesai praktikum.

VI. DATA PENGAMATAN


a.

Bola alloy besi nikel

= 8,1 gr / cm3
Tetapan k = 7 mPa.s cm3 / gr.s
b. Paraffin
= 0,8 gr / cm3

No.

Temperatur (C)

Viskositas (mPa.s)

1
2
3
4
5

21
22
24
26
27

3151,337
3270,4
2776,26
3372,6
3287,26

Waktu (s)
1
2
3
52 71 62
64 64 64
64 51 48
67 67 64
65 69 59

VII. PERHITUNGAN
Temperatur 21 C
= 7 mPa.s.cm3 / gr.s . (8,1 gr / cm3 0,8 gr / cm3) . (61,67 s)
= 7 mPa.s.cm3 / gr.s . (7,3 gr / cm3) . (61,67 s)
= 3151,337 mPa.s
Temperatur 22 C
= 7 mPa.s.cm3 / gr.s . (8,1 gr / cm3 0,8 gr / cm3) . (64 s)
= 7 mPa.s.cm3 / gr.s . (7,3 gr / cm3) . (64 s)
= 3270,4 mPa.s
Temperatur 24 C

t (s)
61,67
64
54
66
64,33

= 7 mPa.s.cm3 / gr.s . (8,1 gr / cm3 0,8 gr / cm3) . (54,33 s)


= 7 mPa.s.cm3 / gr.s . (7,3 gr / cm3) . (54,33 s)
= 2776,26 mPa.s
Temperatur 26 C
= 7 mPa.s.cm3 / gr.s . (8,1 gr / cm3 0,8 gr / cm3) . (66 s)
= 7 mPa.s.cm3 / gr.s . (7,3 gr / cm3) . (66 s)
= 3372,6 mPa.s
Temperatur 27 C
= 7 mPa.s.cm3 / gr.s . (8,1 gr / cm3 0,8 gr / cm3) . (64,33 s)
= 7 mPa.s.cm3 / gr.s . (7,3 gr / cm3) . (64,33 s)
= 3287,26 mPa.s

Skala 1 : 500

VIII. ANALISA DATA

Pada percobaan ini, dilakukan pengujian viskositas pada parafin dan


etanol. Viskometer yang kami gunakan adalah viskometer Hoppler. Prinsip
kerjanya adalah menggelindingkan bola ( yang terbuat dari kaca) melalui
tabung gelas yang berisi zat cair yang diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola
merupakan fungsi dari harga resiprok sampel (Moechtar,1990).
Dari percobaan yang dilakukan didapatkan hasil bahwa setiap
terjadinya kenaikan suhu, nilai viskositas parafin tersebut juga ikut naik. Hal
ini berbanding terbalik terhadap teori yang ada yaitu viskositas dipengaruhi
oleh temperatur yaitu apabila suhu meningkat dapat menyebabkan molekul
molekul dari parafin tersebut memperoleh energi dan kemudian molekul
molekul tersebut akan bergerak dan menyebabkan gaya interaksi antar
molekul melemah. Dengan demikian viskositas larutan akan menurun.
(Tony Bird.1993.Kimia Fisika untuk Universitas.Jakarta : Gramedia)
Adanya perbedaan analisis dari pengukuan pada praktikum dan teori
yang telah ada, dapat disebabkan dari beberapa faktor. Tetapi faktor yaitu :
1.

Pengukuran waktu saat percobaan yang kurang teliti.

2. Masih adanya udara yang tertinggal didalam tabung pada saat


percobaan dilakukan.
3. Pengukuran temperatur yang kurang teliti, yaitu terdiri dari :
3.1. parafin yang telah berada didalam tabung tidak dapat diukur
temperaturnya secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan
apabila termometer dimasukkan secara keseluruhan kedalam
tabung maka parafin akan menerima tekanan dan akan
menyebabkan parafin tersebut keluar dari tabung.
3.2. Temperatur

parafin

yang

cepat

mengalami

kenaikan.

Sehingga pada saat percobaan, ternyata temperatur parafin


yang berada didalam tabung tidak sesuai dengan temperatur
parafin yang sebenarnya.

IX. KESIMPULAN

Dari percobaan yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :

Viskositas Kinematik adalah perbandingan viskositas dinaik terhadap


kerapatan (density) massa jenis dari fluida tersebut.

Viskositas dinamik adalah perbandingan tegangan geser dengan laju


perubahannya, besarnya nilai viskositas dinamik tergantung dari factorfaktor konsentrasi, bentuk partikel, dll.

Semakain besar koefisien kekentalan zat cair, semakin lambat kecepatan


benda yang dimasukkan ke dalamnya

Kekentalan zat cair mengakibatkan terjadinya perubahan laju atau


kecepatan benda.

Semakin berat bola maka semakin cepat waktu yang dibutuhkan bola

untuk mencapai dasar atau tanda paling bawah dari pipa kapiler.
Faktor yang mempengaruhi viskositas yaitu berat bola, densitas,
kecepatan, tingkat kekentalan zat cair, massa zat cair, dan gaya grafitasi.
Viskositas parafin pada percobaan diperoleh sebagai berikut :
Temperatur 21 C = 3151,337 mPa.s
Temperatur 22 C = 3270,4 mPa.s
Temperatur 24 C = 2776,26 mPa.s
Temperatur 26 C = 3372,6 mPa.s
Temperatur 27 C = 3287,26 mPa.s

DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet Praktikum Instrumentasi dan Teknik Pengukuran. VISKOSITAS
LARUTAN. Palembang : Politeknik Negeri Sriwijaya.2014.
Tony Bird.1993.Kimia Fisika untuk Universitas.Jakarta : Gramedia.

GAMBAR ALAT (LAMPIRAN)

Viskometer Hoppler

Set bola

Stopwatch

Gelas Kimia

Jangka Sorong

Termometer