Anda di halaman 1dari 5

PRINSIP-PRINSIP GOOD GOVERNANCE ABAD 21

Oleh: John Graham, Bruce Amos dan Tim Plumtre


Diterjemahkan oleh : Nurrochman
A. Pendahuluan
Governance belakangan menjadi tema yang hangat diperbincangkan di tengah masyarakat
yang tengah mengembangkan cara berpikir kritis dalam kehidupan sosial. Beberapa
kalangan menilai bahwa Good Governance adalah salah satu elemen penting dalam upaya
menghapus kemiskinan dan mempromosikan pembangunan. Tidak mengherankan jika
istilah governance (bedakan dengan government) mengalami perluasan makna, beberapa
dekade terakhir ini.
Tulisan ini akan mengelaborasi lebih lanjut mengenai prinsip-prinsip good governance di era
abad 21 yang penuh dengan tantangan. Tulisan ini akan menjawab beberapa pertanyaan
mengenai:
a. Apa karakteristik dari good governance?
b. Apakah ada prinsip universal dalam good governance, jika ada apa?
c. Dari mana prinsip-prinsip itu muncul?
d. Dalam mengaplikasikan prinsip-prinsip itu, apa standar nilai yang diperlukan?
e. Apa kriteria umum untuk membangun satu good governance?
f. Seberapa mungkin prinsip-prinsip good governance bisa diterapkan dalam rangka
membuka akses masyarakat pada suatu rezim kekuasaan?
B. Definisi Governance
Governance, berbeda dengan government, baik secara etimologis, maupun terminologis.
Dalam banyak hal, dua istilah ini sering dipakai secara bergantian dan menimbulkan
kerancuan pemahaman. Kerancuan itulah yang justru menjadikan makna governance
meluas, melebihi cakupan definisi government. Sederhananya, governance tidak selalu
merujuk pada government. Isu-isu dalam governance, memang mencakup isu government di
dalamnya. Namun, harus diketahui bahwa governance, tidak selalu hanya tentang
government.
Governance, dapat dirujukkan pada pengertian mengenai bagaimana government
(pemerintah) berinteraksi atau berhubungan dengan organisasi sosial berbasis masyarakat
sipil, bagaimana negara berhubungan dengan warganegara dan bagaimana sebuah
kebijakan diambil di tengah dinamika global yang kian kompleks. Jadi, governance adalah
proses di mana pemerintah dan masyarakat sipil menetukan sebuah kebijakan yang fital.
Ada beberapa hal penting yang menjadi fokus dalam pembahasan mengenai good
governance, yakni persetujuan, prosedur, konvensi, pengambilan kebijakan dan
akuntabilitas. Jadi fokus kajian dalam perbincangan mengenai good governance tidak akan
lepas dari pertanyaan tentang bagaimana sebuah kebijakan diambil dengan melibatkan dua
pihak, yakni negara-pemerintah (government) dan masyarakat sipil di mana di dalamnya
meniscayakan adanya persetujuan, prosedur pengambilan keputusan, konvensi serta
bagaimana sebuah keputusan atau kebijakan bisa diakses, dimonitor dan dikontrol oleh
masyarakat sipil.

C. Governance: Siapa bermain? Siapa (yang) Mempengaruhi dan Siapa (yang) Memutuskan?
Konsep governance memungkinkan untuk dipakai dalam beragam konteks, apakah itu
lingkup global, nasional, institusional dan komunitas. Memahami governance dalam lingkup
nasional akan terasa lebih mudah, dengan mempertimbangkan perbedaan dari bermacam
entitas yang bermain pada ranah ekonomi dan politik.
Dalam struktur negara modern, entitas-entitas yang bermain pada wilayah ekonomi dan
politik tersebut bisa digambarkan dalam tabel berikut ini.
Tabel 1

Tabel di muka mengilustrasikan empat sektor dalam masyarakat, yang saling berhubungan
secara luas, yakni pasar , masyarakat sipil (termasuk di dalamnya organisasi-organisasi
non-profit), pemerintah dan media massa. Bentuk hubungan masyarakat sebagaimana
diilustrasikan pada tabel pertama di atas lebih banyak dijumpai dalam struktur negara
modern Barat (Eropa dan Amerika). Masing-masing unsur dalam masyarakat pada dasarnya
saling berhubungan dan mempengaruhi karena batas-batas di antara mereka dapat
ditembus. Pada negara lain, bisa jadi bentuk hubungannya tidak seperti diilustrasikan oleh
tabel pertama. Sebagai misal, di sejumlah negara, militer berkuasa pada ranah yang lebih
luas, bahkan mendominasi kekuasaan, sebagaimana digambarkan dalam tabel kedua. Dalam
konteks yang lain, kekuasaan negara mungkin saja tidak terlalu kuat. Di beberapa negara,
perusahaan multinasional, justru yang memainkan peran-peran strategis. Pada sebagian
besar negara, kekuasaan (power) bergeser melintasi batas. Tidak bisa dimungkiri pula bahwa
sektor swasta kian mendapatkan porsi yang lebih tinimbang sektor lainnya.
Tabel 2

Pergeseran-pergeseran juga menurut cara dalam ruang dari civil society meskipun polanya
tidak selalu bersih. Dalam banyak jurisdiksi, pemerintah telah berbicara mengenai
kebutuhan untuk berganti fungsi pada sektor voluntir. Beberapa negara, belakangan ini
mencoba dengan berbagai perencanaan hubungan di dalam dengan politisi atau pelayan
publik (pegawai) dengan sektor lain dalam masyarakat.
D. Ruang Lingkup Governance: Siapa yang mengambil keputusan dan dalam kapasitas apa?
Secara prinsipil, konsep governance sendiri bisa diaplikasikan ke dalam aksi bersama.
Governance adalah tentang strategi untuk mengendalikan: keputusan yang lebih luas,
tentang arah dan peran. Maka dari itu, governance tidak hanya tentang kemana kita akan
menuju, melainkan lebih pada, siapa yang seharusnya bermain dalam setiap pengambilan
keputusan, tentunya dalam kapasitas yang jelas. Ada setidaknya empat empat wilayah di
mana konsep governance secara partikular relevan.

1. Governance dalam lingkup global, atau global governance, berhubungan dengan isu-isu
di luar bidang pemerintahan individual.
2. Governance dalam lingkup nasional, governance dalam sebuah negara. Hal ini kadang
kala dipahami sebagai governance yang eksklusif, yang terdiri atas beberapa tingkat.
Bagaimanapun, governance konsern dengan pelaku lain, seperti halnya sektor
masyarakat sipil, yang boleh memainkan peran dalam proses pengambilan keputusan.
3. Governance dalam lingkup organisasi (governance dalam sebuah ruang komunitas).
Governance dalam lingkup ini meliputi aktivitas pada tingkat lokal di mana badan yang
mengorganisasi mungkin saja tidak mengambil satu bentuk yang sesuai dengan UU, dan
tidak diberikuasa secara formal atau sesuai dengan konstitusi.
E. Lima Prinsip Good Governance
Mendefinisikan prinsip good governance adalah hal yang sulit dan acap kali menimbulkan
kontroversi. United Nation Development Program (UNDP), menjelaskan dengan terang
seperangkat prinsip, yang terkesan tidak mengindahkan keanekaragaman, sebagaimana
terlihat dalam sejumlah literatur. Di bawah ini adalah bukti kuat bahwa prinsip-prinsip yang
dikemukakan UNDP, telah diklaim menjadi pengakuan universal. Lima prinsip good
governance yang akan dikemukakan dalam tabel di bawah ini hendaknya dipahami dalam
konteks serta lingkup yang luas. Pada kenyataannya, kelima prinsip tersebut di satu sisi
saling melengkapi, namun di sisi yang lain juga acap kali justru saling berkonflik. Prinsipprinsip sebagaimana akan disebut memiliki persoalan yang kompleks, dan akan terus
berdinamika dalam kompleksitas manakala diaplikasikan ke dalam situasi sosial yang
beragam.
Karakteristik Good Governance Menurut United Nations (PBB)
Karakteristik GG Penjelasan
Legitimacy and Participation: setiap warganegara tanpa terkecuali harus terlibat dalam
Voice
setiap pengambilan kebijakan yang dilakukan pemerintah, dalam
kerangka kebebasan berpendapat, berpikir dan berorganisasi.
Consensus orientation: pemerintah harus memfasilitasi setiap
kepentingan kelompok masyarakat yang berbeda dan menjadikannya
sebagai kepentingan bersama sebuah bangsa. Diperlukan respon yang
positif dari pemerintah pada setiap kepentingan masyarakat.
Direction
Strategic vision:
Performance
Responsiveness: pemerintah adalah pelayan bagi masyarakat.
Effectiveness and efficiency: pemerintah bekerja dengan efektif dan
menggunakan sumber daya serta anggarannya dengan efisien.
Accountability
Accountability: akuntabilitas wajib diejawantahkan oleh lembaga
pemerintahan, maupun masyarakat sipil, kepada masyarakat luas.
Transparancy: transparansi (keterbukaan) terbentuk oleh keterbukaan
arus informasi. Masyarakat luas, dalam hal ini memiliki akses yang tidak
terbatas untuk memonitor sekaligus mengkontrol.
Fairness
Equity: Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama
untuk mengembangkan diri dan berkiprah di ruang publik.
Rule of Law: kerangka hukum harus berdasarkan pada prinsip keadilan
dan menjamin keterpenuhan hak asasi manusia.

Lima prinsip good governance sebagaimana disebut di atas memiliki akar yang kuat dalam
Deklarasi Hak Asasi Manusia Universal PBB 1948. Dalam tabel di bawah ini akan nampak
jelas pasal-pasal DUHAM PBB yang menjadi dasar bagi good governance.
Prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia dan Good Governance
Prinsip Good
Deklarasi HAM PBB
Governance UNDP
Legitimacy
and Participation: Pasal 19, Setiap manusia memiliki hak kebebasan untuk
voicee
beropini dan berekspresi. Pasal 20, Setiap manusia memiliki hak
kebebasan untuk berkumpul dan membentuk asosiasi secara damai.
Pasal 21, Setiap manusia memiliki hak kebebasan untuk masuk dalam
struktur pemerintahan negaranya, baik secara langsung maupun
melalui wakil-wakilnya yang terpilih secara bebas. Pasal 29, Setiap
manusai memiliki tugas-tugas pada kelompok...
Consensus Orientation: Pasal 21, Keinginan rakyat harus menjadi
basis dari otoritas pemerintahan: hal ini harus diwujudkan dalam
pemilihan umum yang periodik dan sungguh-sungguh, yang
menampung hak pilih secara universal dan setara.... Pasal 29, Dalam
menjalankan hak dan kebebasannya, setiap manusia harus tunduk
hanya pada pembatasan-pembatasan yang berdasar pada UU dengan
tujuan semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan
yang tepat terhadap hak dan kebebasan orang lain, dan untuk
memenuhi syarat yang adil dalam moralitas ketertiban dan
kesejateraan umum dalam suatu masyarakat demokratis.
Fairness
Equity: Pasal 1, Semua manusia dilahirkan dalam keadaan bebas dan
setara, dalam hal martabat dan hak.... Pasal 2, Setiap orang berhak
atas semua hak dan kebebasan yang tercantum di dalam Deklarasi ini
dengan tidak ada pengecualian apa pun, seperti pembedaan ras,
warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik, atau pandangan lain,
asal-usul kebangsaan atau kemasyarakatan, hak milik, kelahiran
maupun kedudukan lain. Pembukann, Menimbang bahwa pengakuan
atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan tidak dapat dicabut
dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar dari kemerdekaan,
keadilan dan perdamaian dunia....
Rule of Law: Pembukaan, Menimbang bahwa hak-hak manusia perlu
dilindungi oleh peraturan hukum, supaya orang tidak akan terpaksa
memilih jalan pemberontakan sebagai usaha terakhir guna menentang
kelaliman dan penjajahan.
Pasal 7, Semua manusia sama
kedudukannya di muka hukum. Pasal 10, Semua orang dalam
kedudukan yang sama, berhak atas proses peradilan yang terbuka dan
adil yang diselenggarakan oleh pengadilan yang bebas dan tidak
memihak, dalam menetapkan hak dan kewajibannya serta dalam
setiap tuntutan pidana yang dijatuhkan kepadanya. Pasal 5, Tidak
seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan secara kejam,
diperlakukan atau dihukum secara tidak manusiawi atau dihina. Pasal
17 Tidak seorang pun boleh dirampas hak miliknya dengan semenamena.

F. Penutup
Governance membuka ruang perdebatan intelektual yang relatif baru. Ia menyediakan
satu kesempatan bagi masyarakat untuk berdiskusi perihal persoalan pemerintahan
(government), meliputi isu-isu publik berikut bagaimana beberapa pihak bisa memainkan
perannya masing-masing. Ini juga membuka kemungkinan mengenai munculnya kelompok
di luar pemerintah (government) semisal kelompok masyarakat sipil yang memegang peran
yang lebih signifikan dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kepentingan
publik. Selain itu, prinsip-prinsip good governance sebagaimana dijelaskan di muka dapat
juga dipakai dalam menghadapi tantangan pemerintahan. Satu hal yang penting untuk
dipahami adalah bahwa dalam penerapannya, prinsip-prinsip good governance tidak selalu
akan berjalan tanpa konflik. Untuk itu, diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai
prinsip-prinsip good governance agar bisa diaplikasikan dalam sebuah negara demokrasi.