Anda di halaman 1dari 11

My favorite part is beginning, while yours is the epilog.

I dont want a sad ending, but that is my heart you broke.


.
Normal POV
Sandara membolak-balikkan majalahnya bosan. Tidak ada yang baru. Setiap halaman hanya dipenuhi
potret manusia-manusia tanpa lemak dengan fashion yang absurd. Dia sungguh tak habis pikir, mengapa
wanita-wanita di dunia ini berlomba untuk sekurus penderita anorexia, tidak makan apapun, sementara
dia harus berjuang untuk membiarkan jarum timbangan meliuk ke kanan. Harusnya mereka bersyukur
dengan tubuh mereka! Hiissh!
Lagipula dia pun tak mengerti dengan liuk dunia fashion, dimana penutup tubuh tak lagi berfungsi
semestinya. Hot pants, tank top, dan segala macam jenis pakaian ini, mana pula bagian tubuh yang
tertutup? Cih.
Oke. Harusnya dia tidak mempermasalahkan apa isi majalah bodoh itu. Yang penting sekarang adalah
malam semakin larut dan Seungri bahkan tak memberi tanda dia akan pulang.
Ke mana anak nakal itu hingga selarut ini?!
Haiiiisshh!!! dengusnya sembari membuang majalahnya ke lantai. Dia menghempaskan tubuhnya ke
ranjang, memberungut. Awas kamu nanti, Seungri! Tidak ada sarapan dan makan malam selama
seminggu! Aaarrgghh!!
Cant nobody hold us down~
Ponsel di meja riasnya bordering. Dara berguling menuju pelipir ranjang dan
BRUKK!
Tubuh ringkihnya terjungkal sukses di lantai keramik. Satu sikunya menumpu pemuka lantai, susah
payah menyanggah raganya sementara yang lain terangkat mengusap dahinya. Awww!! Appoo
Cant nobody hold us down~
Nee nee chakkamaann ucapnya sebal, seakan ponselnya akan berhenti bordering jika dia
mengatakannya. Dara meraih ponselnya dan mengernyit bingung. Nomor tidak dikenal. Jemarinya
menggeser tombol virtual hijau di layarnya. Yoboseyo?
Dara noona?
Nee. Nuguseyo? tanyanya bingung. Otaknya mulai mereka suara yang terkesan kalut di ujung
telepon.
Hyun Seung.
Aaaa~! Seungi-ee! serunya antusias. Apa kabar? Kenapa tidak pernah ke rumah? Sekarang kerja di
mana? Oh iya, aku lupa. Kamu ada perlu apa?
Eh, aku baik, noona. Noona Err Seungri nada panik Hyun Seung terhenti sejenak.

"Nee? Seungri?"
"Seungri..."
Hanya dari suara terbata dan penuh ragu dari lelaki itu, Dara tahu tidak ada perkara baik yang
mengekor setelahnya. Mungkin buruk. Atau sangat buruk. Seungri?
"Seungri kecelakaan, noona. Sekarang masuk rumah sakit.
Serentak jantungnya menghentak, sistem tubuhnya seakan berhenti bergerak. Bwoo?!

***

Dara menghela nafas lelah kala mobilnya memasuki kawasan rumah sakit. Tak perlu waktu lama
baginya untuk memasuki lobi dan menemukan Hyun Seung yang melambai padanya.
Noona!
Dara terenyum lega, menghampiri lelaki tanggung itu. Hey, Seungie! Mana Seungri?
Dia sudah dipindahkan, noona. Ayo ikut bersamaku, ucapnya sembari memimpin jalan melalui koridor
rumah sakit.
Dara mengekor di belakangnya, separuh berlari menjajarinya. Nafasnya masih tersengal, namun resah
menjalarinya hebat. Tangannya mencengkam lengan Hyun Seung dan bertanya menuntut, "Pindah ke
mana? Bagaimana keadaan Seungri?"
Hyun Seung hanya tersenyum kecil menenangkan, "Tenang, noona."
Alih-alih ketakutannya mereda, akalnya justru dipenuhi dengan bayangan mengerikan. Tangannya
mengcengkeram kian keras, intonasinya meninggi, "Bagaimana aku bisa tenang, Seung! Aku tidak tahu
bagaimana keadaannya sekarang. Bagaimana kalau ternyata dia pendarahan otak? Bagaimana kalau dia
lumpuh?" Dia terdiam, wajahnya seketika memucat. Kakinya terhenti, sementara kedua telapak
tangannya membungkam mulutnya. Bahkan dia kelewat takut pada benaknya sendiri. "Atau dia koma?
Atau mati"
Hyun Seung memutar bola matanya dan mendesau lirih. Noona
"Oh Tuhan!! Seungie, dia tidak
Lelaki itu menggenggam pundak Dara, menghentikan panik yang menguasainya. Dua pasang manik mata
itu bersirobok, "Noona, tenang. Dia baik-baik saja, noona. Tidak pendarahan otak, tidak lumpuh, tidak
koma. Okay?"
"Lalu?"
Alih-alih menjawab pertanyaan, dia hanya berbalik dan melangkah meninggalkan Dara. Wanita itu tak
memiliki pilihan lain selain membuntuti di belakangnya. Hyun Seung terhenti di salah satu pintu. "Ini
kamarnya, noona.

.
Sekonyong-konyong kedua irisnya melebar kala dia membuka pintunya. Seungri terbaring di tengah
ruangan, jarum infus melesap di tangan kanannya. Sandara lantas menghambur ke tengah ruangan,
menghampiri. Wajah pasi terlelap di hadapannya membuat tubuhnya seakan kehilangan tulang yang
menyangganya. Dua tangannya menggoncangkan tubuh Seungri, tak terhitung air mata yang deras
mengucur. Ada ketakutan yang menggerogotinya hingga tak sanggup berpikir apapun. SEUNGRI!!
Tidak mungkin kan, Seungri
Tidak, dia tidak mungkin meninggal kan?! Tidak mungkin. Masih ada jarum infus. Lalu berarti koma?
Andwae!!!
Dia hanya marah pada Seungri tapi tidak menginginkan adiknya meninggalkannya. Dia hanya tidak akan
membuatkan Seungri makan malam, bukan berarti dia harus marah dan membuatnya merasa bersalah
seperti ini kan?! Seungri bahkan baru bekerja, baru umur dua puluh dua, yang benar saja! Dia bahkan
baru benar-benar mencintai wanita
Tidak secepat itu!
Seungri?! panggilnya sekali lagi, menguncangkan pundak Seungri.
Dia bahkan belum mengatakan padanya jika dia ingin mengungkapkan cintanya pada Young Bae! Jika
dia serius ingin mengejar cintanya! Dia belum bilang jika dia pun harus berusaha untuk Bom. Dia
belum Oh Tuhan, banyak yang belum dia lakukan!
SEUNGRIII!! IREONAAA!!
Euh
Euh?
Sandara terkesiap, tangannya terhenti. Dara ingin menampar dirinya sendiri, tak mempercayai
penglihatannya. Kedua mata Seungri perlahan terbuka. Eh? Seungri?
Eh? Seungri? Dia sadar? Dokter!? Mana dok
Noona ribut sekali. sapanya lirih. Dia mengusap matanya, separuh sadar. Jam berapa ini?
Ah? Jam? Dara balik bertanya, bingung. Dia melirik arlojinya, Tiga pagi, Seungri. Kamu
Tiga?! tanyanya balik, kesadarannya dengan cepat kembali pada tubuhnya. "Noona, kamu kemari jam
tiga pagi?! Bagaimana kalau terjadi apa-apa denganmu di jalan?! Bagaimana kalau ada pria yang
menggodamu? Kamu naik apa kemari? Ada yang mengantar? Aigoo"
"Yaa!! Dara balik menghardik sebal dengan dua tangan di pinggang. Matanya memicing emosi, "Aku
pagi buta kemari karena mengkhawatirkanmu dan kamu malah menceramahiku seperti itu?! Aku
ucapannya terhenti. Air matanya tumpah sekali lagi, punggung tangannya bahkan tak cukup untuk
menyekanya. Aku mengkhawatirkanmu, bodoh! Aku cemas dan kamu dan kamu
Seungri menyelipkan tangan di punggung kakaknya, mengusap pelan, Mianhaeyo, noona. Aku hanya
mengkhawatirkanmu. Mianhaeyo, nee.

Air matanya perlahan mereda. Dasar! Kenapa aku harus punya adik yang bodoh sepertimu.
Seungri meringis kecil.
Aku bahkan jadi tak yakin kamu benar-benar kecelakaan, cicitnya.
Noona aku benar-benar sakit!
Gotjimal! cibir Dara.
Jinja, noona!! Lelaki itu memberungut. Dara masih menatapnya tak percaya. Noona-yah,
percayalah!! Aku benar-benar kecelakaan. Noona tidak lihat perban di kepalaku ini? tanyanya sembari
menunjuk dahinya.
Nee, nee. Jadi bagian mana yang sakit? Bagaimana keadaanmu? Apa kata dokter? Parah tidak?"
Seungri menyingkap selimutnya, memperlihatkan kakinya yang membengkak oleh gips yang terpasang
sepanjang tungkai.
Kali ini Dara tak punya pilihan lain selain mempercayainya. Omonaa!! Kakimu kenapa?!! Patah? Ini
tidak lumpuh kan? Kamu masih bisa berjalan kan?!
Seungri memutar bola matanya. Perangai kakaknya sungguh berubah drastis dalam hitungan menit bak
roller-coaster. Noona, tenanglah Ini hanya patah tulang, dan aku tidak akan lumpuh, okay?
Dara menghela lega sembari duduk di kursi samping ranjang. Matanya lantas beralih melihat Seungri,
Jadi, kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?
Ehehehe Aku masuk arena. Ternyata aku masih jago balap lho! Motorku memimpin sepanjang
pertandingan, Hyun Seung saja tidak bisa menyalipku! Tapi, waktu aku sudah masuk tikungan terakhir,
ada motor di belakangku berusaha menyalip! Dia masuk ketika jarakku dengan pembatas terlalu rapat.
Dan akhirnya BBAAAMMM!!! Aku masuk rumah sakit. The end. Hehe"
Lalu, kenapa kamu masih sadar? Sandara tanpa sadar bertanya.
Err maksud noona?
Maksudku biasanya yang aku tahu, orang kecelakaan itu darahnya mengucur dimana-mana, tidak
sadar, koma, atau apalah. Dan kamu? Kamu bahkan bisa memarahiku beberapa menit lalu. Hiihh!
Seungri menatapnya sengit. Aku berhasil menghindar, tapi kakiku tertindih motor. Kepalaku terantuk
jalanan, dokter bilang hanya sembuh dalam beberapa hari. Jangan-jangan noona lebih suka kalau aku
koma?
Dara mengedikkan bahu, terkekeh kecil. Dua lengannya lantas bertumpuk di atas ranjang, menjadi
bantal untuk kepalanya. Seungri-yah, kenapa kamu jadi ikut balap liar lagi, sih? Kamu kan sudah
berjanji padaku untuk berhenti dua tahun lalu. Lihat, jadi begini kan akibatnya.
Mian, noona. Aku hanya ingin menjernihkan pikiranku."
Ya sudahlah. Jangan ulangi lagi, key?" Satu tangan Dara mengacak pelan surai rambut adiknya. Oya,
kamu sudah mengabari Bom-ssi?

Jantung Seungri rasanya melewatkan beberapa detik tanpa degup kala mendengar nama itu. Dia
menelan ludahnya susah payah. Geliginya menggigit bibir bawahnya hingga memucat.
Bom.
Memberitahunya? Perlukah?
Cukup Seungri! Enyahlah kamu dari hadapanku sekarang juga dan jangan pernah kamu berani
muncul di hadapanku.
Sesaat kemudian, dia menjawab pelan, Jangan beritahu dia, noona.
Eh? Wae? kejar Dara bingung. Bukankah adiknya mencintai Park Bom? Tidakkah dia ingin wanita itu
menjenguknya?
Hening sejenak, sebelum Seungri kemudian menggenggam tangan kakaknya. Ayo tidur, noona. Aku
mengantuk, ajaknya. Tak menjawab pertanyaan yang terlontar. Noona tidur di sofa saja, daripada
duduk di sini.
Dara hanya menggeleng pelan dan mulai memejamkan mata. Beberapa saat berlalu, dan Seungri masih
terjaga. Matanya mengawang. Seandainya mengosongkan hati semudah mengosongkan benaknya.
jangan pernah kamu berani muncul di hadapanku."
Sudah seharusnya aku berhenti. Aku sudah melewati arena. Aku harus mulai berhenti mencintai.
Semudah itu.
Ya, aku yakin akan semudah itu.
Itu maumu kan, Bom noona?

Eh? Dara noona sudah tidur? Kenapa tidak di sofa? Hyun Seung melangkah masuk menuju ranjang
Seungri.
Masih di sini, Seung? Kenapa belum pulang? Dari mana? tanya lelaki di ranjang itu balik.
"Ini aku baru mau pulang. Hara meneleponku baru saja.
Seungri mengangguk mengerti. Seungie, bisa tolong angkat noona ke sofa?
Alih-alih merespon dengan anggukan ataupun kalimat apapun, Hyun Seung segera meletakkan
tangannya di punggung dan kaki Dara, mengangkatnya dan menidurkan di sofa pelan-pelan. Done,
ucapnya kemudian sembari mengemasi tasnya. Dia lantas menatap Seungri, meyakinkan diri, Kamu
yakin tidak ingin menceritakan apapun padaku?
Tidak ada yang perlu diceritakan, Seungie. Seungri tersenyum simpul, Pulanglah.
Hyun Seung tidak perlu memaksanya lebih lanjut. Tangannya melambai sebelum berlalu pergi.
Dia mengerti tabiat sahabatnya, tidak akan lelaki itu menceritakan sesuatu yang dirasanya tak perlu.
Atau sesuatu yang terlalu menyakitkan walau hanya sekedar untuk diingat. Kendati Seungri acapkali

terlihat cassanova dan menebar senyum, tak banyak yang bisa dikuak dari perasaan sesungguhnya dari
lelaki itu. A silent mourner who cries in his sleep. Tearless.
Seungri memejamkan matanya dan menarik nafas dalam. Tidak ada yang perlu diceritakan. Semuanya
sudah berakhir
karena dia tidak menginginkanku. Karena aku hanya ingin melupakan. Ini yang kamu inginkan kan,
Bommie noona?

As the windy April and the little cold hearted go by, where will our hearts go fly?

***

Ckreeekk!
Pintu kamar rawat inap Seungri terbuka perlahan. Decitnya membuyarkan konsentrasi Seungri yang
sejak pagi berkutat dengan game di ponselnya. Matanya segera beralih pandang. Dara sudah pergi
untuk bekerja sedari pukul delapan pagi tadi, dan seharusnya tidak ada yang mengetahui
keberadaannya selain kakaknya dan Hyun Seung.
Apa mungkin Hyun Seung?
Annyeong oppa nada mencicit kemudian menyapanya. Diikuti dengan sosok mungil yang memasuki
ruangan. Kakinya seakan menari sepanjang sosok itu berjalan, surai rambut lurusnya tergerai turut
melambai. Bibirnya melengkung, menampilkan senyum polosnya.
Seungri terperanjat. Terdiam beberapa saat, sebelum menyapanya dengan tanya,Euh? Ji Eun? Kenapa
kamu ada di sini?
"Menjengukmu.Senyumnya masih terulas kala gadis itu berdiri di samping ranjangnya, menyentuh
lengannya, Kata Hyun Seung oppa, kamu masuk rumah sakit. Aku khawatir, dan kurasa lebih baik aku
menjengukmu. Bagaimana keadaanmu?"
Menjenguk? Hyun Seung? Pintar sekali dia menyuruh mantan kekasihnya kemari. Namun, dia tak
memahami mengapa gadis itu masih tak segan menjenguknya, mengingat bagaimana cara hubungan
mereka berakhir. Tentu saja, sama seperti gadis-gadis sebelumnya, putus oleh ucapan di penghujung
lidahnya.
Seungri hanya tertawa kecil, memulas keterkejutannya. Ibu jari dan telunjuknya mengusap dagu, dan
berucap bangga, "Hahamemang orang tampan itu banyak yang mengkhawatirkan. Aku baik-baik saja.
Gomawo Ji Eun-ah"
Aigoo kenapa oppa tidak pernah berubah? Ji Eun memukul pelan lengan Seungri, tergelak kecil. Dia
meletakkan keranjang buah yang dibawanya ke atas meja. Tangannya mengambil satu buah apel dan

mengupasnya. Dia menyuapkan satu bagian buahnya pada Seungri sembari berbisik, lagipula,
mungkin saja aku bisa membuatmu kembali padaku.
Seungri terkesiap mendengarnya. Kontan matanya membola, "Eh?"
Ji Eun hanya melontarkan senyum tipis manisnya.

***
.
Bom POV
Aku membuang batang jagung ke tempat sampah dengan serampangan. Hiiiisshh!! umpatku jengkel
sembari menghempaskan tubuh ke atas ranjang. Mataku menatap langit kamar, kosong. Beberapa saat
terdiam, hingga ucapan Seungri berkelebat kembali di telinga.
Bom noona ingin memberi tahumu bahwa kini kami berpacaran.
Tanganku kontan mengepal erat, memukul ranjang berulang. Melampiaskan kekesalan yang menyentuh
ubun. Cih! Memikirkannya saja aku jengkel! Jengkel jengkeeell!!
Apa maksudnya berbohong di depan Dong Wook oppa, hah?!!
Think the reasons, Park Bom. First, dia memang ingin aku jadi pacarku. Second, Dong Wook oppa,
bersama pacarnya, di depanku melakukan lovey dovey thing yang memuakkan, dan dia berusaha
menyelamatkan.
Yeah. MENYELAMATKAN.
Tapi OH MY GOD!! KENAPA HARUS MENGATAKAN HAL SEPERTI ITU?!!! THANKS, LEE SEUNG HYUN.
Bagaimana jika Dong Wook oppa percaya dengan ucapan bodoh Seungri? Bagaimana jika
Aku tercenung. Teringat. Hal mengerikan.
Dong Wook oppa sudah bertunangan.
BERTUNANGAN.
Oh hell yeah, that engaged.
Untuk apa aku meributkan perihal Dong Wook oppa harus percaya pada Seungri atau tidak? Baginya kan
sudah bukan masalah? Iya kan?!
Cih.
Wajar jika Dong Wook oppa tidak peduli. Aku yang tidak wajar, berharap dia tidak percaya,
meninggalkan tunangannya dan kembali padaku.
Kembali padaku. Nonsense.

Baiklah, noona. Jika itu maumu, aku akan pergi dari hadapanmu sekarang juga dan kamu tidak
akan pernah melihatku.
Good. Akhirnya kamu sadar juga, huh! Pergi! Pergiii!!
Yeah, pergilah Seungri. Itu akan lebih baik. Aku tidak butuh pengacau dalam hidupku. Tidak butuh
troublemaker. Hidupku sudah sangat kacau dan aku tidak butuh lagi satu alas an bernama Seungri
untuk menambah segudang elemen kekacauan.
Yeah. Pergilah yang jauh. Kalau perlu ke ujung Pluto. Karena aku tidak akan memaafkanmu.
Saranghaeyo, noona.
Are you kidding me, Seungri? Even do you know what love is?
Aku mengerlung tubuhku. Dua tangan memeluk lututku, dan menenggelamkan kepala di antaranya. Aku
tertawa, getir. Terkekeh hingga air mataku menemukan caranya untuk terjatuh. Untuk apa aku
menangis? Hidupku? Insiden bodoh itu? Dong Wook? Apalagi yang aku tunggu? Dia yang sejak awal tidak
ada di situ?
Pathetic. Park Bom, kamu benar-benar menyedihkan.
.
TENG TONG! TENG TONG!
Heum?
Bunyi bel apartemenku lamat-lamat mengembalikanku pada realita. Aku membuka mataku malas.
Barang pasti sekarang mataku membengkak. Aku bangkit dari ranjang perlahan. Sungguh, aku tidak
berminat memperkenankan siapapun bertamu siang ini.
TENG TONG! TENG TONG!
Hiisshh Siapa sih?! Tidak sabar sekali! Gummy unnie? Seungri?
Yeah, pasti anak ingusan itu.
Katanya ingin pergi dari hadapanku, huh? Katanya tidak akan muncul lagi? Mana, hah? Sekarang kamu
berada di depan pintu apartemenku dan membnyikan bel secara brutal. What the hell, boy?!
Haha bodoh sekali aku mempercayainya. Barang pasti dia lupa kata-katanya kemarin.
Harusnya aku tahu dia tidak akan pernah serius mengatakan segala hal. Apa di dunia ini yang serius
baginya? Hahaha!
Aku beranjak dari ranjang dan bercermin barang sejenak. Dua pelupuk mataku menggembung. Tak
heran, aku lagi-lagi tak sanggup mengontrol air mata yang jatuh hingga terlelap. Menangis dalam tidur,
untuk kesekian kalinya. Aku menggelung rambut panjangku berantakan. Tidak usah repot merapikan
diri, hanya Seungri di depan pintu dan aku akan mengusirnya tanpa berpikir barang sedetik.
TENG TONG! TENG TONG!

Aku melirik pintu apartemen sebal. Kakiku menyeret enggan, dan membuka pintu tanpa minat. Anak
ingusan ini memang benar-benar butuh pelajaran.
Apalagi Seung
Sekonyong-konyong mataku membola. Dua hari berlalu dan dua hari pula aku harus menggiatkan
jantung dengan kecepatan roller-coaster. Adrenalinku dengan cepat terpacu, memicu getar pada
sekujur tubuh.
Hey, dia menyapaku sembari tangannya di belakang tengkuk. Senyum canggungnya terulas.
Dia. Lagi.
For Gods sake, mengapa dia ada di depanku sekarang?! Apa aku benar-benar makhluk hina di
kehidupanku yang dulu, Tuhan?!
Dong Wook oppa? sapaku terbata.
Hey, Bom.
Aku terpaku. Hanya ada dua pilihan yang tersedia di benakku, fight or flight. Mempersilakannya masuk
dan menghadapi nightmare yang mungkin dia bawa, merta ingatan dan rasa sakit yang saling
berkejaran menyerbu. Atau mencari jalan teraman, menutup pintu dan menyuruhnya pulang.
Pilih, Park Bom!
Bommie? panggilnya sekali lagi, menatapkku khawatir. Aku masih terkesiap, berada dalam alam
bawah sadar dan bertarung dengan diriku sendiri. Bommie? Aku boleh masuk?
Eh? Eh nee. Silakan, jawabku spontan.
Damn!
Aku bodoh sekali! Kenapa kamu memilih untuk mengiris nadimu sendiri, Park Bom?! Kenapa kamu tak
menggantungkan tali di pintu ini dan melingkarkannya di leher saja? Apartemen ini lantai lima kan?
Cukup kan untuk terjun?!! Anything, just bring me out please!!
Okay, sudah terlambat untuk menyuruhnya pulang bukan? Lidahku memang tak mampu bersekutu
denganku. Tak ada pilihan lain kemudian. Fight. Yeah, mau bagaimana lagi. Mari berharap semoga aku
tidak dihabisi oleh apapun yang membawanya kemari.
Park Bom, sure you can do.
Euh Oppa, mau minum apa? tawarku, memecah keheningan sembari berjalan ke bar dapur.
Meninggalkannya yang kini memilih untuk duduk di sofa.
Air putih saja, Bom.
Ah, nee. Aku menuangkan air mineral dalam gelas dan berjalan ke arahnya. Ada perlu apa, oppa?
Hening. Dong Wook oppa meraih gelasnya dan menggenggamnya erat. Sama eratnya dengan bagaimana
dia mengepalkan tangannya kemarin. Ada yang membebaninya? Tapi apa?

Aku tak tahu caranya membendung pikiran-pikiran buruk yang berkelebat, selain bersiap untuk berita
terburuk. Pasti ada alasan yang membuatnya seperti itu. Dan itu bukan alasan yang remeh. Mungkin
dia ingin memberi undangan pernikahan?
Bom, kuatkan hatimu. Kamu bisa, okay. Itu hanya undangan, kan?
Undangan?
I just no, I must accept it right?
Bagaimana kabar Seungri, Bom? tanyanya tiba-tiba.
Aku mengernyitkan dahi bingung, Kenapa bertanya anak itu?
Dia kekasihmu kan?
Kekasih? Cih! Itu hanya mimpi buruk terakhir yang ingin aku alami! Aku tersenyum simpul, Ani. Dia
hanya ingin membantuku dari situasi sulit kemarin. Yaa I mean, ada tunanganmu di sana. Jadi, dia
refleks mengatakannya.
Dong Wook oppa mengangguk kecil dan menghembuskan nafas panjang. Hening sekali lagi. Jemarinya
bergesek di dinding gelas, sementara aku hanya menggenggam pegangan gelas di udara, menatap dasar
ceruknya.
Aku tak bisa berhenti memutar otak mengapa dia kemari. Tidak mungkin kan dia hanya berbasa-basi
tentang Seungri? Hingga mencapai kemungkinan yang terburuk, aku memilih untuk memembiarkan
kesunyian menyelaput. Entah, aku lebih sibuk menata diriku dan bersiap, menarik nafas dan
membuangnya perlahan, meremas tanganku di ujung kaus longgar.
Bommie panggil Dong Wook oppa, akhirnya. Aku menengadah, menatap iris matanya lekat. Dia
melanjutkan, Mianhae
Aku terdiam. Dia meminta maaf. Untuk apa?
untuk? aku memberanikan diri bertanya padanya.
Memutuskan hubungan kita, jawabnya singkat.
Dia memang hanya menjawabnya dengan tiga kata. Namun efeknya jauh lebih besar dari nuklir yang
berpotensi menghancurkan separuh isi bumi. Jemariku yang berkeringat mulai bergetar. Aku menelan
ludahku sendiri. Ah, nee. Aaku mengerti.
Bom, kamu tidak mengerti, sergahnya, menatap gelasnya sendiri.
Dahiku mengernyit, Maksudmu?
Dong Wok oppa berpaling menatapku lekat, Boleh aku kembali padamu?
Sekonyong-konyong aku tersentak. Alih-alih bereaksi entah apa, aku hanya menatapnya tak percaya.
Tidak mungkin kan? aku sepertinya tidak bisa mengontrol imajinasiku.
Aku baru saja ingin menampar pipiku kala dia melanjutkan dengan nada lebih tegas, Apa kita bisa
memulai dari awal?

Ini nyata.
Memulai dari awal? Bersamanya? Aku tak mengerti apa yang seharusnya aku rasakan sekarang. senang,
sudah pasti. Baru saja aku memimpikan dia kembali padaku. Tapi bukankah sebenarnya permasalahan
bukan di sini?
Oppa? Apa maksudmu? Kamu sudah bertunangan, kan? tanyaku, tak yakin dengan pertanyaanku
sendiri.
Aku senang, tentu saja. Aduh, seharusnya bukankah aku hanya tinggal menjawab saja? Bagaimana jika
setelah aku mengatakannya, dia akan tersadar dan menarik kembali ucapannya?
Die memalingkan mukanya, memandang kosong jendela apartemen. Aaku tahu.
Lalu?
Aku tidak mencintainya, jawabnya.
Lalu kenapa kamu bertunangan dengannya? kejarku sengit.
Rumit, Bommie. Aku dipaksa meninggalkanmu dan bertunangan sengannya. Tapi dia menatapku
sekali lagi. Ada letih yang melingkari matanya. Ada resah yang melingkupi irisnya. Namun aku masih
melihat tulus yang menatapku lekat, aku tidak bisa berhenti mencintaimu. Aku ingin bersamamu.
Benarkah apa yang aku dengar? Benarkah?!
Tapi apakah semudah itu? Aku bahkan tak yakin dengannya. Kendati aku memang sangat
menginginkannya, dia sudah terikat dengan orang lain. Aku tidak
Kamu tidak mau, Bom? Wajahya memucat seketika, menatapku tak percaya.
Bbubukan begitu, sergahku. Tapi, bagaimana dengan Byul?
Dia meletakkan gelasnya di meja dan beranjak dari kursi. Berlutut di depanku hingga mata kami berada
dalam satu garis lurus. tangannya lantas menggenggam tanganku lembut. Oh Tuhan, kejut di kulitku
masih berefek hingga hentak jantungku.
Aku akan mencari cara menghentikan pertunangan ini. Yang terpenting maukah kamu kembali
padaku, Bom?
.
If you dont give a chance you will never know the possibility and capabilities.