Anda di halaman 1dari 17

TEKNOLOGI PETROKIMIA

PROSES PEMBUATAN METANOL

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 2 (DUA)

ADE YUSRA

(03111403001)

RAHMA PARADIS

(03111403004)

VISHE DEVAH

(03111403005)

NELLA FEBRIANI

(03111403008)

METTA MONICA

(03111403009)

DOSEN PEMBIMBING :
Ir. A. RASYIDI FACHRY, M.ENG

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1. LatarBelakang
Memasuki dalam masa industrialisasi seperti Negara berkembang lainnya,
Indonesia saat ini juga sedang mengalami perkembangan dalam berbagai sector
industri. Industri kimia merupakan salah satu industri vital dan potensial di
Indonesia, sehingga perhatian pada industri petrokimia banyak diberikan
mengingat produkproduk dari industri ini mempunyai banyak keterkaitan dengan
industri lainnya. Salah satu industri yang memiliki potensi tinggi ialah industri
metanol.
Semakin banyak industri yang menggunakan bahan baku metanol,
terutama untuk industri kimia organik. Hal ini menyebabkan kebutuhan metanol
setiap tahunnya meningkat. Metanol dapat dibuat dari sumber daya alam berupa
gas alam yaitu CH4. Pada umumnya, industri pembuatan metanol di Indonesia
masih menggunakan bahan baku yang tidak dapat diperbaharui seperti gas alam
dan batubara.
Pada era modern seperti ini, industri dituntut untuk menggunakan bahan
baku yang dapat diperbaharui dan meminimalkan adanya polusi. Karena sumber
daya alam berupa gas semakin lama semakin berkurang maka pembuatan metanol
dapat dilakukan dengan menggunakan limbah maupun beberapa tumbuhan.
Pemanfaatan limbah dengan baik dapat mengurangi masalah, bahkan dapat
mendatangkan keuntungan apabila kita mengoptimalkannya. Salah satu caranya
dengan proses gasifikasi dimana proses ini dapat menghemat biaya dengan murah
dan juga lebih ramah lingkungan karena menggunakan bahan baku yang dapat
diperbaharui.

BAB II
URAIAN PROSES

Pada proses pembuatan methanol ini, bahan baku utama yang digunakan
adalah gas CH4 (gas metana). Ada beberapa proses yang perlu dilakukan agar
didapatkan methanol dengan persen kemurnian yang cukup tinggi, diantaranya:
2.1. Reformasi Gas
Unit reformasi gas adalah tempat pengubahan/pengkorversian gas alam
(natural gas) menjadi gas sintetis yang umumnya terdiri dari CO, CO2, dan H2.
a) Pemanasan awal natural gas dan desulfurisasi
Gas alam untuk proses dan bahan bakar diumpankan pada tekanan 27 bar dan
suhu 30C. Gas alam ini dipanaskan hingga bersuhu 385C dan dimasukkan ke
dalam unit desulfurisasi berkatalis CoMo untuk menghilangkan kandungan
belerang yang dapat merusak katalis nikel pada reformer. Setelah proses ini,
gas alam memiliki tekanan 24,3 bar dan suhu 385C. Sebagian besar gas alam
ini diumpankan untuk proses reformasi dan sisanya diumpankan sebagai bahan
bakar burner.
b) Proses reformasi dan underfiring
Sebelum memasuki reformer, kukus proses dan gas alam yang telah
memenuhi syarat menjadi umpan reformer dicampur untuk mendapatkan
umpan reformer yang lebih homogen. Setelah itu, campuran kukus proses dan
gas alam dialirkan ke pemanas hingga temperaturnya mencapai 500C. Katalis
yang digunakan dalam proses ini berupa katalis berbasis nikel. Selanjutnya, gas
sisa pembakaran (flue gas) bertemperatur 900C dilewatkan menuju sistem
pemanfaatan panas buangan (waste heat recovery).
c) Reformed gas waste heat recovery
Gas reformasi meninggalkan reformer dengan suhu 870C dan tekanan 19,1
bar. Panas dari gas ini kemudian digunakan untuk pemanasan awal gas alam,
menghasilkan kukus proses, dan reboiler dalam unit distilasi. Setelah
dimanfaatkan sebagai pemanas dalam seluruh proses tersebut, suhu gas
reformasi turun menjadi 103C. Selanjutnya, gas reformasi masih harus

menjalani proses pendinginan karena unit reaktor konversi methanol


membutuhkan gas reformasi bertemperatur rendah. Setelah itu, barulah gas
reformasi diumpankan ke unit methanol synthesis.
d) Pemanfaatan panas gas hasil pembakaran
Gas hasil pembakaran (flue gas) yang keluar dari reformer memiliki
temperatur 900C. Panas dari gas ini digunakan dalam pembangkit kukus
bertekanan tinggi dan menengah hingga temperaturnya menjadi 485C. Setelah
itu, flue gas didinginkan kembali hingga mencapai suhu 147C dan dibuang ke
atmosfer.
2.2. Reaktor Konversi Metanol
Unit reaktor sintesis metanol adalah unit pembentukan metanol dari gas sintesis
reformer. Reaksi-reaksi di reactor konversi metanol menghasilkan 3 produk
sampingan, yaitu air, aseton, dan etanol. Untuk memisahkan produk-produk
sampingan ini, produk reaktor harus dialirkan lagi ke unit distilasi.
a) Kompresi gas sintesis
Kompresi gas sintesis bertujuan untuk menaikkan tekanan umpan reaktor
(gas sintesis) agar didapat konversi reaktor yang tinggi. Kompresor pertama
menaikkan tekanan dan temperatur gas hasil sintesis reformasi kukus dari 17
bar 40C menjadi 68,6 bar 118C. Selanjutnya, kompresor kedua menaikkan
tekanan gas sintesis hasil kompresi pertama menjadi 72,5 bar dan menurunkan
temperaturnya menjadi 68C. Penurunan temperatur dilakukan untuk
mendapatkan hasil dengan temperatur setinggi mungkin dengan temperatur
terendah.
b) Tahap sintesa metanol pada loop sintesa
Campuran gas sintesa tambahan dan gas daur ulang yang merupakan gas
sintesa masukan reaktor diumpankan menuju kompresor gas daur ulang. Di
dalamnya, gas sintesa ditekan hingga 72,5 bar dan disalurkan melalui gas
interchanger menuju bagian atas kedua reaktor untuk dipanaskan dari 68C
menjadi 225C. Reaksi sintesis metanol yang terjadi antara gas H2, CO, dan
CO2 yang bersifat eksotermis terjadi dalam pipa reaktor berkatalis tembaga.
Setelah konversi one pass, aliran gas keluaran reaktor yang terdiri dari gas tidak

terkonversi, metanol, dan sejumlah produk samping didinginkan dari 225C


menjadi 40C. Pendinginan ini bertujuan untuk memisahkan metanol mentah
dari gas terlarut di dalamnya. Sementara itu, sebagian besar gas tidak
terkonversi didaur ulang kembali sebagai gas sintesa masukan reaktor dan
sisanya dibuang dengan dialirkan menuju sistem flare untuk dibakar agar tidak
terjadi akumulasi inert.
c) Sistem gas pembersih (purge gas)
Selain langsung dibakar dalam sistem flare, sebagian purge gas yang
dihasilkan dari aliran gas-gas tidak terkonversi dimanfaatkan untuk keperluankeperluan :
1) Digunakan sebagai gas hidrogenasi dalam tahap pemurnian belerang gas
alam karena kandungan gas hidrogennya yang tinggi
2) Dimanfaatkan sebagai bahan bakar (fuel) pembakaran gas alam dan steam
2.3. Pemisahan dan Pemurnian Produk
Adanya unit distilasi dimaksudkan untuk memisahkan metanol mentah
yang dihasilkan dari gas-gas terlarut di dalamnya. Proses pemisahan metanol
mentah dari gas terlarut, air, dan senyawa lainnya dilakukan dalam kolom distilasi
dengan prinsip perbedaan volatilitas antara senyawa-senyawa tersebut.
a) Penghilangan gas-gas
Metanol mentah pada suhu 40C dan tekanan 68,7 bar yang mengalir dari
metanol separator akan menuju ke bejana ekspansi yang beroperasi pada
tekanan 6,5 bar. Dengan adanya penurunan tekanan ini, gas-gas terlarut akan
lepas. Setelah itu, gas-gas terlarut yang telah dipisahkan dari cairan dijaga
konstan dengan menggunakan pengontrol ketinggian.
b) Penghilangan produk samping bertemperatur didih rendah
Volatile impurities seperti dimetil eter, metil format, dan gas-gas inert
terlarut dipisahkan dari metanol mentah dan dinaikkan ke bagian atas kolom
distilasi bersama sejumlah uap metanol. Uap tersebut akan melewati suatu
kondenser di mana sebagian besar uap metanol yang terbawa mengalami
kondensasi dan dikembalikan ke kolom distilasi sebagai refluks. Gas-gas ringan
lainnya yang tidak terkondensasi akan dibuang.

Metanol yang telah terstabilkan akan memasuki kolom pemurnian


metanol pada kondisi 80C dan1,5 bar. Pada kolom ini, metanol akan menjadi
produk atas sedangkan air akan menjadi produk bawah. Air proses yang
dihasilkan sebagai produk bawah kolom distilasi ini akan dipompa menuju
pemanas air proses. Uap yang menuju puncak kolom distilasi akan didinginkan
oleh suatu kondenser di mana uap metanol akan dikondensasikan secara total
menjadi cairan bersuhu 69C. Metanol terkondensasi ini selanjutnya didinginkan
lagi hingga mencapai suhu 40C dan ditampung pada suatu bejana penampung.

BAB III
DIAGRAM ALIR PROSES

BAB IV
SIFAT FISIK DAN KIMIA BAHAN BAKU PEMBUATAN METANOL

4.1. Metana
Metana adalah hidrokarbon paling sederhana yang berbentuk gas dengan
rumus kimia CH4. Metana murni tidak berbau, tapi jika digunakan untuk
keperluan komersial, biasanya ditambahkan sedikit bau belerang untuk
mendeteksi kebocoran yang mungkin terjadi. Sebagai komponen utama gas alam,
metana adalah sumber bahan bakar utama. Metana adalah molekul tetrahedral
dengan empat ikatan C-H yang ekuivalen. Struktur elektroniknya dapat dijelaskan
dengan 4 ikatan orbital molekul yang dihasilkan dari orbital valensi C dan H yang
saling melengkapi. Energi orbital molekul yang kecil dihasilkan dari orbital 2s
pada atom karbon yang saling berpasangan dengan orbital 1s dari 4 atom
hidrogen.
Pada suhu ruangan dan tekanan standar, metana adalah gas yang tidak
berwarna dan tidak berbau. Bau dari metana (yang sengaja dibuat demi alasan
keamanan) dihasilkan dari penambahan odoran seperti metanathiol atau
etanathiol. Metana mempunyai titik didih 161 C (257.8 F) pada tekanan 1
atmosfer. Sebagai gas, metana hanya mudah terbakar bila konsentrasinya
mencapai 5-15% di udara. Metana yang berbentuk cair tidak akan terbakar kecuali
diberi tekanan tinggi (4-5 atmosfer).
Reaksi-reaksi utama pada metana adalah pembakaran, pembentukan ulang
uap menjadi syngas, dan halogenasi. Secara umum, reaksi metana sulit dikontrol.
Oksidasi sebagian menjadi metanol, misalnya, merupakan reaksi yang agak sulit
untuk dilakukan karena reaksi kimia yang terjadi tetap membentuk karbon
dioksida dan air meskipun jumlah oksigen yang tersedia tidak mencukupi. Enzim
metana monooksigenase dapat digunakan untuk memproduksi metanol dari
metana, tapi karena jumlahnya yang terbatas maka tidak dapat digunakan dalam
reaksi skala industri. Adapun sifat fisik dan kimi dari metana adalah :
1)

Massa molar : 16.04 g mol1

2)

gas tidak berwarna

3)

tidak berbau

4)

Densitas : 655.6 g cm3

5)

Kelarutan dalam air : 35 mg dm3 (at 17 C)

6)

log P : 1.09

7)

Entalpi pembentukan standar (fHo) : 74.87 kJ mol1

8)

Entalpi pembakaran standar cHo298 : 891.1890.3 kJ mol1

9)

Entropi molar standar (So) : 186.25 J K1 mol1

10) Kapasitas kalor (C) : 35.69 J K1 mol1


4.2. Air
Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O. Satu molekul air
tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom
oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi
standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0C). Zat
kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memiliki kemampuan
untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam-garam, gula, asam,
beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik. Nama alternatif Air
adalah aqua, dihidrogen monoksida, hidrogen hidroksida.
Titik lebur air adalah 0C (273.15 K) (32F), sedangkan titik didih air
adalah 100C (373.15 K) (212 F). Air sering disebut sebagai pelarut universal
karena air melarutkan banyak zat kimia. Molekul air dapat diuraikan menjadi
unsur-unsur asalnya dengan mengalirinya arus listrik. Zat-zat yang bercampur dan
larut dengan baik dalam air (misalnya garam-garam) disebut sebagai zat-zat
hidrofilik (pencinta air), dan zat-zat yang tidak mudah tercampur dengan air
(misalnya lemak dan minyak), disebut sebagai zat-zat hidrofobik (takut-air).
Adapun sifat fisik dan kimia air yakni :
1)

Rumus Molekul H2O

2)

Massa Molar : 18,0153 g/mol

3)

Densitas dan Fase : 0,998 g/cm (cair pada 20C) 0,92 g/cm (padat)

4)

Titik Lebur : 0oC

5)

Titik Didih: 100oC

6)

Kalor Jenis: 4184 J/kg.K (cair pada 20oC)

BAB V
KEGUNAAN METANOL

5.1. Bahan Bakar Transportasi


Metanol adalah alkohol yang paling dasar. Sangat mudah dibawa,
tersedia, dan memiliki nilai oktan tinggi untuk performa kendaraan yang unggul
dibandingkan dengan bensin. Metanol adalah bahan bakar yang ramah
lingkungan, pembakaran metanol jika dibakar akan menghasilkan karbon dioksida
dan air. Metanol bisa digunakan sebagai sebuah aditif petrol untuk meningkatkan
pembakaran, atau kegunaannya sebagai sebuah bahan bakar independen (sekarang
sementara diteliti). Banyak negara telah mengadopsi atau sedang mengembangkan
metanol, akibatnya pertumbuhan pasar metanol sangat cepat. Hal ini sebagian
besar didorong oleh harga rendah metanol ini dibandingkan dengan bensin atau
etanol, dan biaya tambahan yang sangat kecil untuk memodifikasi kendaraan agar
dapat menerima bahan bakar metanol. Metanol juga menghasilkan emisi yang
tidak beracun dibandingkan bensin reformulasi, dengan partikel dan emisi asap
yang sedikit.
Metanol digunakan secara terbatas dalam mesin pembakaran dalam,
dikarenakan metanol tidak mudah terbakar dibandingkan dengan bensin. Metanol
juga digunakan sebagai campuran utama untuk bahan bakar model radio kontrol,
jalur kontrol, dan pesawat model. Ketika diproduksi dari kayu atau bahan oganik
lainnya, metanol organik tersebut merupakan bahan bakar terbaharui yang dapat
menggantikan hidrokarbon. Namun mobil modern pun masih tidak bisa
menggunakan BA100 (100% bioalkohol) sebagai bahan bakar tanpa modifikasi.
Salah satu kelemahan metanol jika digunakan dalam konsentrasi tinggi adalah
sifat korosif terhadap beberapa logam, termasuk aluminium. Metanol, meskipun
merupakan asam lemah, menyerang lapisan oksida yang biasanya melindungi
aluminium dari korosi:
6 CH3OH + Al2O3 2 Al(OCH3)3 + 3 H2O
Jika dibandingkan dengan bensin, yang biasanya ditambah zat antiketuk
untuk menambah nilai oktan. Salah satu zat antiketuk yang digunakan untuk

menambah nilai oktan bensin adalah TEL (Tetra Ethyl Lead). Lead = Timbal /
Pumblum (Pb) tidak bereaksi dengan oksigen sehingga emisi pembakaran
kendaraan yang menggunakan bensin ber-TEL adalah timbal (Pb), dan efek dari
timbal adalah kerusakan permanen pada otak bagi orang yang menghirupnya.
Sehingga sekarang TEL dilarang penggunaannya dan diganti dengan bensin super
TT (Tanpa Timbal). Pada bensin super TT MTBE (Methyl Tertiary Buthyl Ether).
Metanol dapat digunakan sebagai senyawanya sendiri atau direaksikan
dengan minyak seperti triolein (minyak zaitun) menjadi ester (metil oleat) dengan
katalis NaOH dan hasil samping gliserol. Sebagai senyawanya sendiri, metanol
pada suhu 15oC dapat dicampurkan dengan BBM yang disebut dengan bioalkohol.
Bioalkohol mampu menghasilkan panas yang lebih besar daripada BBM.
Kandungan metanol dalam BBM tidaklah dapat melewati 15% untuk campuran
homogen tanpa menggunakan zat-zat tambahan. Hal ini karena produk alkana
bersifat nonpolar sedangkan metanol bersifat polar sehingga kelarutan metanol
adalah rendah dalam senyawa. Tetapi pencampuran metanol pada BBM dengan
kadar 15% juga menimbulkan masalah terutama di daerah dingin. Hal ini karena
pada suhu 0oC, metanol tidak larut sepenuhnya dan tampak memisah dengan
BBM. Semakin rendah suhu, maka kelarutan senyawa akan semakin rendah.
Tetapi, metanol 15 % pun jika dibiarkan beberapa menit, ia akan memisah. Hal ini
biasanya terjadi selama proses pembakaran. Hal ini mungkin karena selama
proses pembakaran, metanol mengadakan kontak dengan udara yang mengandung
uap air. Metanol akan menyerap uap air sehingga metanol semakin jenuh oleh air.
Akibatnya, dalam beberapa menit, metanol akan memisah dari BBM.
Metanol merupakan bagian sederhana dari alkohol yang mudah menarik
uap air yang terdapat di atmosfer. Oleh karena itu, jika kandungannya pada BBM
besar, maka akan menyebabkan korosi besi pada komponen mesin sehingga dapat
merusak komponen mesin. Selain itu, karena pembakarannya yang terlalu cepat,
maka memperbesar terjadinya knocking pada mesin kendaraan. Kandungan
metanol paling irit dimana bahan bakar menghasilkan karbonmonoksida paling
sedikit dengan kandungan air seminimal mungkin adalah pada konsentrasi 5%.
Semakin rendah kadar metanol dalam BBM, maka gas buangan karbonmonoksida

semakin besar tetapi kandungan airnya semakin kecil. Sebaliknya, semakin tinggi
kadar metanol dalam BBM, maka gas buangan karbonmonoksida semakin kecil
tetapi kandungan airnya semakin besar .
Pembakaran semakin sempurna dengan bertambah pendeknya rantai
karbon. Dengan mencampurkan metanol ke dalam bahan bakar minyak, maka
akan meningkatkan bilangan oktan dari bahan bakar minyak tersebut. Bahan aditif
yang dapat ditambahkan dengan metanol agar kelarutannya dalam BBM semakin
tinggi antara lain yang terbaik adalah sabun atau detergen (Zenta, 2009).Hal ini
karena sabun dan detergen dapat mengikat metanol yang polar pada bagian abu
alkalinya sekaligus mengikat senyawa hidrokarbon pada bahan bakar minyak
yang nonpolar pada bagian asam lemak atau gliserolnya. Hal ini memungkinkan
dibuatnya metanol 20% atau bahkan lebih. Namun, perlu diingat bahwa semakin
banyak kandungan metanol dalam BBM juga mendorong semakin besar
terjadinya korosi dan knocking. Berdasarkan fakta-fakta di atas, baik metanol
maupun dalam bentuk metil esternya sebaiknya digunakan dalam konsentrasi 5%
sampai kurang dari 15% saja untuk menjaga keawetan mesin kendaraan dan untuk
menjaga kemungkinan metanol dan BBM tidak akan memisah pada penurunan
suhu.
5.2. Denitrifikasi Limbah
Metanol juga digunakan oleh fasilitas pengolahan air limbah kota dan
swasta untuk membantu menghilangkan nitrogen dari aliran limbah. Air limbah
yang terkumpul di fasilitas pengolahan, mengandung banyak amonia. Melalui
proses degradasi bakteri amonia ini diubah menjadi nitrat. Jika dibuang ke
lingkungan, limbah yang kaya akan nutrisi nitrat dapat memiliki dampak buruk
pada ekosistem air, yaitu menciptakan ganggang panjang yang mengambil
oksigen dan menutup sinar matahari dari kehidupan air. Metanol, yang cepat
terbiodegradasi, adalah cara yang hemat biaya untuk membantu merevitalisasi
saluran air tercemar oleh efek nitrat.
5.3. Fuel Cell Hydrogen Carrier
Metanol digunakan sebagai komponen kunci dalam pengembangan
berbagai jenis sel bahan bakar - yang dengan cepat berkembang untuk memainkan

peran lebih besar dalam perekonomian energi kita. Sel bahan bakar digunakan
untuk kendaraan listrik atau memberikan cadangan energi untuk peralatan remote,
untuk sel bahan bakar portabel untuk elektronik dan penggunaan pribadi. Metanol
adalah pembawa hidrogen yang ideal. Dengan rumus kimia CH3OH, memiliki
atom hidrogen lebih dalam setiap galonnya daripada cairan lain yang stabil dalam
kondisi normal.
5.4. Biodiesel Transesterification
Dalam proses pembuatan bahan bakar biodiesel, metanol digunakan
sebagai komponen kunci dalam proses yang disebut transesterifikasi. Metanol
digunakan untuk mengkonversi trigliserida dalam berbagai jenis minyak menjadi
bahan bakar biodiesel yang dapat digunakan. Pada proses transesterifikasi,
metanol bereaksi dengan minyak trigliserida yang terkandung dalam minyak
nabati, lemak hewan, atau gemuk daur ulang, membentuk asam lemak ester alkil
(biodiesel) dan gliserin sampingan. Produksi biodiesel terus tumbuh di seluruh
dunia. Pencampuran bahan bakar ini ramah lingkungan untuk penggunaan seharihari di mesin diesel.
5.5. Pembangkit Listrik
Perusahaan yang berbeda juga menjajaki penggunaan metanol untuk
menggerakkan turbin untuk menciptakan listrik. Ada sejumlah proyek sedang
berlangsung yang menggunakan metanol sebagai sumber bahan bakar untuk
membuat uap untuk turbin drive, yang merupakan pilihan yang sangat baik untuk
daerah yang kaya akan sumber selain sumber listrik tradisional.
5.6. Metanol Sebagai Zat Antibeku
Di negara yang bermusim dingin, metanol digunakan sebagai zat
antibeku/antifreeze pada radiator mobil. Pada musim dingin jika cairan yang
digunakan pada radiator adalah air, maka air tersebut akan membeku dan
berdampak pada kerusakan mesin. Untuk mengatasinya digunakan metanol.
5.7. Bahan utama bahan lainnya
Penggunaan metanol terbanyak adalah sebagai bahan pembuat bahan
kimia lainnya. Metanol merupakan komponen kunci dari ratusan bahan kimia

yang merupakan bagian integral dari kehidupan kita sehari-hari. Sekitar 40%
metanol yang ada diubah menjadi formaldehid, dan dari sana akan dihasilkan
berbagai macam produk seperti plastik, plywood, cat, peledak, dan tekstil.
Senyawa kimia lainnya yang merupakan turunan dari metanol adalah dimetil eter,
yang telah menggantikan klorofluorokarbon sebagai bahan campuran pada
aerosol, dan asam asetat. Dimetil eter juga dapat dicampur dengan gas alam
terkompresi (LPG) untuk memanaskan masakan, dan juga bisa digunakan sebagai
bahan bakar pengganti diesel. Dalam beberapa pabrik pengolahan air limbah,
sejumlah kecil metanol digunakan ke air limbah sebagai bahan makanan karbon
untuk denitrifikasi bakteri, yang mengubah nitrat menjadi nitrogen. bahan bakar
direct-metanol unik karena suhunya yang rendah, operasi pada tekanan atmofser,
mengijinkan mereka dibuat kecil. Ditambah lagi dengan penyimpanan dan
penanganan yang mudah dan aman membuat metanol dapat digunakan dalam
perlengkapan elektronik.
Metanol paling sering diubah menjadi formaldehid, asam asetat dan
olefin. Ada sejumlah produk yang dikembangkan dari metanol, terlalu banyak
untuk didata, tapi metanol ada di sekitar kita dan merupakan komponen penting
dari kehidupan modern. Berikut adalah beberapa jenis bahan yang terbuat dari
metanol:
1) Plastik
2) Serat sintetis
3) Cat
4) Resin
5) Magnetic film
6) Kaca pengaman laminasi
7) Perekat
8) Pelarut
9) Permadani
10) Isolasi
11) Refrigerants
12) Pencuci kaca depan cairan

13) Papan partikel


14) Pigmen dan pewarna
5.7.1. Metanol Sebagai Bahan Dasar Formalin
Formalin, adalah sebutan dari senyawa kimia formaldehida (juga disebut
metanal), merupakan aldehida berbentuknya gas dengan rumus kimia H2CO.
Formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung karbon.
Terkandung dalam asap pada kebakaran hutan, knalpot mobil, dan asap tembakau.
Dalam atmosfer bumi, formaldehida dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan
oksigen terhadap metana dan hidrokarbon lain yang ada di atmosfer.
Formaldehida dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan sebagai metabolit
kebanyakan organisme, termasuk manusia. Secara industri, formaldehida dibuat
dari oksidasi katalitik metanol. Katalis yang paling sering dipakai adalah logam
perak atau campuran oksida besi dan molibdenum serta vanadium. Dalam sistem
oksida besi yang lebih sering dipakai (proses Formox), reaksi metanol dan
oksigen terjadi pada 250 C dan menghasilkan formaldehida, berdasarkan
persamaan kimia :
2 CH3OH + O2 2 H2CO + 2 H2O.
Formaldehida dapat digunakan untuk membasmi sebagian besar bakteri,
sehingga sering digunakan sebagai disinfektan dan juga sebagai bahan pengawet.
Sebagai disinfektan, Formaldehida dikenal dengan nama formalin dan
dimanfaatkan

sebagai

pembersih;

lantai,

kapal,

gudang

dan

pakaian.

Formaldehida juga dipakai sebagai pengawet dalam vaksinasi. Dalam bidang


medis, larutan formaldehida dipakai untuk mengeringkan kulit, misalnya
mengangkat kutil. Larutan dari formaldehida sering dipakai dalam membalsem
untuk mematikan bakteri serta untuk sementara mengawetkan bangkai.
Dalam industri, formaldehida kebanyakan dipakai dalam produksi
polimer dan rupa-rupa bahan kimia. Jika digabungkan dengan fenol, urea, atau
melamina, formaldehida menghasilkan resin termoset yang keras. Resin ini
dipakai untuk lem permanen, misalnya yang dipakai untuk kayulapis/tripleks atau
karpet. Juga dalam bentuk busa-nya sebagai insulasi. Lebih dari 50% produksi
formaldehida dihabiskan untuk produksi resin formaldehida. Untuk mensintesis

bahan-bahan kimia, formaldehida dipakai untuk produksi alkohol polifungsional


seperti pentaeritritol, yang dipakai untuk membuat cat bahan peledak. Turunan
formaldehida yang lain adalah metilena difenil diisosianat, komponen penting
dalam cat dan busa poliuretana, serta heksametilena tetramina, yang dipakai
dalam resin fenol-formaldehida untuk membuat RDX (bahan peledak).
Sebagai formalin, larutan senyawa kimia ini sering digunakan sebagai
insektisida serta bahan baku pabrik-pabrik resin plastik dan bahan peledak. Secara
umum formalin mempunyai kegunaan sebagai berikut;
1) Pengawet mayat
2) Pembasmi lalat dan serangga pengganggu lainnya.
3) Bahan pembuatan sutra sintetis, zat pewarna, cermin, kaca
4) Pengeras lapisan gelatin dan kertas dalam dunia Fotografi.
5) Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea.
6) Bahan untuk pembuatan produk parfum.
7) Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku.
8) Pencegah korosi untuk sumur minyak
9) Dalam konsentrasi yang sangat kecil (kurang dari 1%), Formalin
digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti
pembersih barang rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut kulit,
perawatan sepatu, shampoo mobil, lilin, dan pembersih karpet.

DAFTAR PUSTAKA
Khairunnisa,Risa.2012.Metanol.http://ryessha.blogspot.com/2012/10/metanol.html.
21 September 2014 (19.59).
Methanol Institute.2011.Applications for Methanol.http://www.methanol.org/
Methanol-Basics/Methanol-Applications.aspx.21September 2014(20.04).
Sutanto,Raymond.2011.Metanol. http://id.wikipedia.org/wiki/Metanol#Kegunaan.
21 September 2014 (20.08).