Anda di halaman 1dari 12

JTM Vol. XVIII No.

2/2011

STUDI IDENTIFIKASI STRUKTUR DAN PROSPEK


HIDROKARBON DAERAH FRONTIER PADA CEKUNGAN
MELAWI-KETUNGAU, KALIMANTAN BARAT DENGAN
METODE GAYABERAT
Trias Ningrum1, Wawan Gunawan A. Kadir1, Susanti Alawiyah1, Eko Januari Wahyudi1
Sari
Cekungan Melawi-Ketungau terletak di Kalimantan Barat, Indonesia. Terbatasnya data mengenai cekungan ini
menyebabkan perkembangan eksplorasi di kawasan ini menjadi sangat terbelakang (frontier). Oleh karena itu,
penelitian ini ditujukan untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai prospek hidrokarbon dengan metode
gayaberat. Data gayaberat yang digunakan merupakan kompilasi dari berbagai data yang ada di Pulau Kalimantan.
Interpretasi struktur dan batas cekungan dilakukan berdasarkan anomali SVD dan untuk mengetahui distribusi
densitas bawah permukaan, dibuat model bawah permukaan melalui teknik forward modeling dengan Encom
ModelVision Pro version 9.0 dan inverse modeling dengan UBC Grav3D. Hasil pemodelan yang didukung oleh data
geologi menunjukkan ketebalan sedimen rata-rata daerah penelitian sekitar 4.62 0.157 km. Hasil analisis struktur
berdasarkan pola anomali SVD menunjukkan adanya dua sesar naik berarah relatif timur-barat serta dua sesar geser
menganan berarah relatif barat laut-tenggara. Subcekungan Melawi berpotensi mengan-dung hidrokarbon dan hasil
analisis prospek di kawasan ini merekomendasikan 4 daerah yang dapat dikembangkan sebagai lapangan migas, yaitu
Prospek A, Prospek B, Prospek C, dan Prospek D yang berada pada nilai anomali SVD tinggi.
Kata kunci: Cekungan Melawi-Ketungau, pemodelan gayaberat, prospek hidrokarbon.
Abstract
The Melawi-Ketungau Basin is located in West Kalimantan, Indonesia. Limited data related to this basin causes the
exploration development in this area becomes frontier, compared to Kutei Basin in the east and Natuna Basin in the
west. Therefore, the objective of this study is to obtain more information about the prospect of the hydrocarbon using
gravity method. The data used in this study is a compilation of various existing data in Kalimantan. The interpretation
of the structures and the boundary of the basin are based on the SVD anomaly and to determine the density
distribution, subsurface models were made with forward modeling technique using Encom ModelVision Pro version 9.0
and inverse modeling with UBC Grav3D. Modeling results supported by geological data indicate that the average
thickness of sediment in the study area is about 4.62 0.157 kilometers. The result of the structure analysis based on
the SVD anomaly shows two reverse faults that extends to the relative east-west direction and two dextral strike-slip
faults with the relative direction NW-SE. The Melawi Basin potentially contains hydrocarbon and the prospect analysis
in this area recommends 4 areas that can be developed as oil and gas fields: Prospect A, Prospect B, Prospect C, and
Prospect D which are located on the high anomaly SVD.
Keywords: Melawi-Ketungau Basins, gravity modeling, hydrocarbon prospect
1)

Program Studi Teknik Geofisika-Institut Teknologi Bandung


Jl. Ganesa No. 10, Bandung 40132, Telp: +62-22 2534137, Fax: +62-22 2534137, Email: trias_rush@yahoo.co.id

I. PENDAHULUAN
Gayaberat merupakan salah satu metode
geofisika yang digunakan untuk menggambarkan
struktur geologi bawah permukaan berdasarkan
variasi medan gravitasi bumi akibat perbedaan
densitas secara lateral. Salah satu penerapan
metode gayaberat yaitu dalam tahap awal
eksplorasi hidrokarbon dimana metode ini
digunakan untuk memperkirakan keberadaan
cekungan.
Cekungan Melawi-Ketungau di Kalimantan
Barat (Gambar 1) merupakan cekungan dengan
status frontier area, dimana keberadaan
hidrokarbon pada kawasan ini (khususnya
Subcekungan Melawi) belum banyak diketahui
secara luas. Salah satu kontraktor migas yang
telah melakukan kegiatan pada kawasan ini yaitu
Canadian Oxy pada tahun 1995. Beberapa
pengeboran eksplorasi (Sumur West Kayan-1

dan Sumur Kedukul-1) mengidentifikasi


keberadaan gas pada beberapa formasi batuan.
Bukti lain mengenai keberadaan hidrokarbon di
daerah Cekungan Melawi-Ketungau yaitu adanya
rembesan minyak dan gas di hulu Sungai
Melawi, Sungai Rebunge, Sungai Pocoh, dan di
sekitar antiklin Kedukul dan Antiklin Sepauk
(Tim Studi Petroleum System Cekungan MelawiKetungau Kalimantan Barat, 2004).
Dalam penelitian ini, penulis mengidentifikasi
struktur sesar dan batas cekungan daerah
penelitian, memodelkan bawah permukaan
daerah penelitian berdasarkan nilai kontras
densitas batuan untuk estimasi ketebalan sedimen
serta memetakan top basement Cekungan
Melawi-Ketungau, serta analisis daerah yang
berprospek mengandung hidrokarbon serta
memberikan rekomendasi daerah/lokasi prospek
hidrokarbon untuk eksplorasi lebih lanjut.

57

Trias Ningrum, Wawan Gunawan A. Kadir, Susanti Alawiyah, Eko Januari Wahyudi

TMNo.4/2009
kemudian diikuti tumbukan Luconian Platform
yang mendesak lempeng kerak Samudera. Pada
energi maksimum, penunjaman ini menyebabkan
kerak samudera patah sehingga membentuk
graben-graben yang selanjutnya diisi oleh
sedimen sebagai awal mula terbentuknya
Cekungan Melawi-Ketungau.

Gambar 1. Cekungan Melawi-Ketungau,


Kalimantan Barat
(Hall, 2005)
II. METODOLOGI
Pada penelitian ini, tahap-tahap yang penulis
lakukan untuk mencapai tujuan penelitian antara
lain dengan melakukan studi pustaka mengenai
metode gayaberat dan informasi sejarah geologi
Cekungan
Melawi-Ketungau,
kemudian
melakukan kompilasi data anomali Bouguer
daerah penelitian agar didapat anomali residual
melalui penapisan dengan metode moving
average dan second vertical derivative melalui
penapisan dengan FFT vertical derivative orde 2.
Dari anomali residual dilakukan pemodelan ke
depan dan kebelakang, sementara dari anomali
second vertical derivative dilakukan analisis
struktur dan batas cekungan.
Pemodelan
kedepan
dilakukan
dengan
mengunakan
perangkat
lunak
Encom
ModelVision Pro verison 9.0, sementara
pemodelan ke belakang dilakukan dengan
menggunakan UBC Grav3D.
Selain itu, dilakukan juga kajian mengenai
petroleum system cekungan untuk mengetahui
prospek
keberadaan
hidrokarbon
dalam
Cekungan Melawi-Ketungau. Dari berbagai hasil
kajian data gayaberat dan petroleum system,
dibuatlah peta pola arah migrasi untuk
menentukan daerah-daerah prospek untuk
kegiatan eksplorasi selanjutnya.
III. TATANAN GEOLOGI
Secara tektonik, Cekungan Melawi-Ketungau
merupakan cekungan yang terletak pada Paparan
Sunda.
Pembentukan
cekungan-cekungan
sedimen Tersier di daerah Kalimantan sebelah
barat dipengaruhi oleh proses subduksi dari Laut
Cina Selatan (Lempeng Eurasia) yang mengarah
ke selatan sebelum terjadi tumbukan (collision)
Luconian microcontinent (Hutchison, 1996).
Pergerakan lempeng kerak Samudera dari Laut
Cina Selatan yang berarah ke selatan menunjam
kerak Benua Sundaland (Schwaner Core),

58

Lempeng Eurasia yang bergerak selama Kapur


hingga Tersier awal menghasilkan tektonik
komplek pada daerah Cekungan MelawiKetungau. Aktivitas tektonik pra-Tersier
mengawali konfigurasi cekungan yang dibatasi
oleh tinggian (basement high) granit, basalt,
sekis dan filit pada Formasi Semitau pada umur
Triassic-Jura. Kejadian tektonik pada Kapur
akhir menghasilkan tinggian dan rendahan,
tinggian yang terdiri dari granit Kapur ini
memisahkan Subcekungan Melawi pada bagian
selatan dan Subcekungan Ketungau pada bagian
utara.
Secara umum perkembangan sesar-sesar di
Cekungan Melawi-Ketungau dipengaruhi oleh
adanya gerak sesar mendatar Luconia (Sesar
Melawi Timur) dan gerak sesar mendatar dari
Sesar Amar (Tim Studi Petroleum System
Cekungan Melawi-Ketungau Kalimantan Barat,
2004). Sistem deformasi Sesar Melawi Timur
ditandai dengan gerak mendatar menganan yang
berarah barat laut-tenggara. Sesar ini diprediksi
terbentuk pada zaman Pra-Tersier. Sistem
deformasi Sesar Amar ditandai dengan gerak
menganan yang berarah barat timur laut-timur
tenggara. Deformasi Sesar Amar diperkirakan
berlangsung sejak Pra-Tersier akibat adanya
tumbukan
mikrokontinen
Sunda
dengan
Lempeng Eurasia.
Sistem deformasi Sesar Boyan ditandai dengan
gerak sesar naik berarah timur-barat. Sesar ini
berkembang di sekitar Tinggian Semitau,
membentuk jalur lurus yang membatasi
Subcekungan Melawi di sebelah utara. Sistem ini
diperkirakan berumur Oligosen Akhir.
Konfigurasi
Cekungan
Melawi-Ketungau
dikontrol oleh beberapa aktivitas tektonik selama
Kapur awal dan Paleosen. Batuan yang
tersingkap di Cekungan Melawi-Ketungau terdiri
dari batuan praTersier berupa batuan metamorf
filit dan sekis, batuan beku basalt, granit dan
granodiorit serta sedimen klastik Kapur (Gambar
2).
Petroleum System
Batuan induk di Cekungan Melawi-Ketungau
diperkirakan berasal dari sedimen klastik halus
berumur Kapur, Eosen, dan Oligosen. Namun,
kandungan organik karbon (TOC) yang matang

Studi Identifikasi Struktur dan Prospek Hidrokarbon Daerah Frontier pada Cekungan
Melawi-Ketungau, Kalimantan Barat dengan Metode Gayaberat
terdapat pada Formasi Pendawan (TOC = 0.52%
- 2.22%) dengan Ro 0.7 0.81% dan kandungan
dominan pada formasi ini merupakan kerogen
penghasil gas (gas prone) dari jenis humik.

Perangkap hidrokarbon yang berkembang


merupakan perangkap struktur berupa lipatan
(antiklin) yang berkembang baik di daerah
selatan Subcekungan Melawi. Perangkap lain
yang dapat dijumpai yaitu berupa blok sesar dan
perangkap stratigrafi berupa batupasir yang
membaji/pinch-out.
IV. PENGOLAHAN DATA GAYABERAT
Dari peta anomali Bouguer dilakukan analisis
spektrum untuk mengestimasi kedalaman bodi
anomali serta mendapatkan lebar jendela yang
akan digunakan untuk penapisan dengan metode
moving average. Dari lima lintasan (Gambar 3)
yang diambil untuk proses ini, didapat
kedalaman rata-rata regional dan residual
berturut-turut sebesar 18,1 km dan 5,2 km
dengan lebar jendela 5 (Tabel 1). Selain itu,
dibuat juga peta anomali second vertical
derivative melalui penapisan dengan FFT
vertical derivative orde 2.

Gambar 2. Kolom stratigrafi Cekungan MelawiKetungau, Kalimantan Barat (Tim Studi


Petroleum System Cekungan Melawi-Ketungau
Kalimantan Barat, 2004)
Reservoir utama yang berkembang pada daerah
ini berupa batupasir dari berbagai formasi
batuan, antara lain Formasi Ingar, Formasi
Payak, Formasi Haloq, Formasi Tebidah,
Formasi Sekayam, dan Formasi Landak
(Hadipandoyo et al., 2007). Porositas batupasir
berkisar antara 10 29.1% yang berupa porositas
antar butir, antar partikel, pada bidang laminasi,
serta pada bidang retakan batuan.
Sementara itu, batuan tudung pada kawasan ini
berupa batuan berbutir halus seperti serpis dan
batulempung dari Formasi Silat, Formasi
Selangkai, Formasi Pendawan, Formasi Ingar,
dan Formasi Sekayam.
Hidrokarbon yang terperangkap diperkirakan
hasil migrasi vertikal melalui bidang-bidang
patahan. Migrasi lateral terjadi setelah migrasi
vertikal dengan arah umum migrasi di daerah
Subcekungan Melawi diperkirakan dari arah
utara ke selatan serta tidak menutup
kemungkinan adanya migrasi lokal (Tim Studi
Petroleum System Cekungan Melawi-Ketungau
Kalimantan Barat, 2004).

Gambar 3. Posisi lintasan untuk analisis


spektrum dan grafik hubungan ln A dan k pada
masing-masing lintasan
Tabel 1. Hasil perhitungan lebar jendela
Regional
Residual
Line
k
W
m
c
m
c
-25,53
6,10
-7,22
3,98
12,86
5,43
A-A'
B-B' -21,09 5,60 -8,10 3,63 16,85 4,14
C-C' -15,54 5,69 -4,55 4,01 16,98 4,11
D-D' -17,76 5,53 -4,11 4,18 11,00 6,34
E-E' -9,99 5,02 -2,00 3,90 15,54 4,49
Ratarata
18,1 km
5,2 km
14,397 4,90
Lebar jendela rata-rata
5

59

Trias Ningrum, Wawan Gunawan A. Kadir, Susanti Alawiyah, Eko Januari Wahyudi

TMNo.4/2009
Untuk pemodelan ke depan, model bawah
permukaan diasumsikan terdiri dari dua jenis
batuan yaitu batuan dasar dengan densitas 2,84
gr/cc dan batuan sedimen dengan densitas 2,5
gr/cc. Pemodelan ini dilakukan pada 3 lintasan,
masing-masing sepanjang 200 km hingga
kedalaman 9 km dan strike bodi 50 km.
Pada pemodelan kebelakang, data masukan
berupa anomali residual dengan parameter
sebagai berikut:
1. Ukuran sel yang digunakan adalah 5 km x 5
km x 0,5 km dengan kedalaman maksimal
yang dimodelkan yaitu 9 km. Pemodelan
dilakukan dalam mesh sebesar 115311 sel
(119 x 51 x 19).
2. Batasan (bounds) kontras densitas yang
digunakan adalah 0,169 gr/cc hingga 0,171
gr/cc untuk batuan dasar pada kedalaman
lebih dari 6500 m, dan untuk batuan sedimen
pada kedalaman 0 2500 m adalah -0,171
gr/cc hingga -0,169 gr/cc. Sementara pada
daerah yang berada di antaranya, penulis
menggunakan kisaran densitas -0,169 gr/cc
hingga 0,171 gr/cc.

Dari model inversi 3D dilakukan slice pada


kedalaman 3.000 m, 4.000 m, dan 5.000 m serta
pada posisi lintasan yang sama dengan lintasan
pada pemodelan ke depan.
V. HASIL DAN ANALISIS
5.1 Anomali Gayaberat Bouguer, Regional,
dan Residual
Peta anomali gayaberat Bouguer ditampilkan
dalam Gambar 4. Dapat dilihat sebaran nilai
anomali negatif (warna biru) terdapat pada
bagian timur daerah penelitian yang menerus ke
utara dan sedikit pada daerah barat laut.
Sementara itu nilai anomali positif (warna
merah) terdapat pada bagian tenggara, barat
daya, dan tengah daerah penelitian. Dari gambar
di bawah, dapat pula dilihat bahwa nilai anomali
gayaberat Bouguer daerah penelitian berkisar
antara -36,7 mGal hingga 61,2 mGal.
Anomali regional daerah penelitian ditampilkan
dalam Gambar 5. Secara umum, anomali
regional menunjukkan pola yang tidak jauh
berbeda dengan pola anomali CBA, hal ini
karena anomali regional memberikan pengaruh
yang besar terhadap anomali CBA dengan nilai
berkisar antara -32,7 mGal hingga 44,2 mGal.

Gambar 4. Peta anomali gayaberat Bouguer daerah penelitian

Gambar 5. Peta anomali regional daerah penelitian

60

Studi Identifikasi Struktur dan Prospek Hidrokarbon Daerah Frontier pada Cekungan
Melawi-Ketungau, Kalimantan Barat dengan Metode Gayaberat

Gambar 6. Peta anomali residual daerah penelitian

Gambar 7. Analisis jenis sesar dari anomali SVD


Sementara itu, anomali residual ditunjukkan
dalam Gambar 6, dimana peta anomali residual
ini memiliki nilai maksimum 28,2 mGal yang
ditunjukkan oleh warna merah serta nilai
minimum -15,6 mGal yang ditunjukkan oleh
warna biru. Anomali negatif yang ditandai
dengan warna biru tua hingga biru muda dengan
kisaran nilai anomali -15,6 mGal sampai 3,9
mGal ini dicurigai sebagai keberadaan cekungan
di daerah penelitian dengan sebaran yang
mengikuti trend arah barat-timur.
Tinggian pada peta anomali residual ditandai
dengan anomali positif yang berwarna kuning

hingga merah dengan nilai anomali 7,1 mGal


sampai 15,1 mGal. Tinggian yang terdapat di
daerah utara daerah penelitian merupakan Lubok
Antu Melange, sementara tinggian yang
memisahkan kedua subcekungan yaitu busur
volkanik dan sekuen ofiolit dari Tinggian
Semitau.
5.2 Anomali Second Vertical Derivative (SVD)
Analisis untuk menentukan jenis sesar yang
terdapat pada daerah penelitian ditampilkan
dalam Gambar 7. Dari hasil analisis ini didapat
Dari hasil analisis SVD, didapat sesar-sesar naik
dengan trend relatif arah barat-timur. Sesar naik

61

Trias Ningrum, Wawan Gunawan A. Kadir, Susanti Alawiyah, Eko Januari Wahyudi

TMNo.4/2009
terdapat di sebelah utara, daerah tengah, serta
sebelah selatan daerah penelitian. Sesar naik
yang memanjang di bagian tengah daerah
penelitian merupakan Sesar Boyan yang
membatasi Subcekungan Melawi di sebelah
utara. Selain sesar-sesar naik tersebut terdapat
pula beberapa sesar geser pada daerah penelitian.
Penarikan sesar geser pada peta anomali second
vertical derivative ini dibantu dengan data
geologi pada daerah penelitian. Sesar geser yang
pertama merupakan Sesar Amar yang terdapat di
sebelah utara Subcekungan Ketungau. Sesar ini
memiliki arah pergerakan menganan yang
berarah barat timur laut-timur tenggara. Sesar
Melawi Timur terdapat pada bagian tenggara
daerah penelitian, sesar ini ditandai pula dengan

gerak menganan dengan arah timur laut-tenggara


(Gambar 8).
Interpretasi batas cekungan secara kualitatif juga
dilakukan pada peta anomali SVD. Cekungan
yang terdapat dalam Gambar 9 antara lain
Subcekungan Ketungau di sebelah utara,
Subcekungan Melawi Barat di sebelah barat
daya, dan Subcekungan Melawi Timur di sebelah
tenggara. Tinggian Semitau memisahkan
Subcekungan Ketungau di sebelah selatan
dengan Subcekungan Melawi Barat dan
Subcekungan Melawi Timur. Sementara itu,
diperkirakan terdapat aktivitas tektonik lain yang
memisahkan Subcekungan Melawi menjadi
Subcekungan Melawi Barat dan Subcekungan
Melawi Timur (Gambar 10).

Gambar 8. Interpretasi struktur sesar Cekungan Melawi-Ketungau

Gambar 9. Interpretasi delineasi batas Cekungan Melawi-Ketungau

62

Studi Identifikasi Struktur dan Prospek Hidrokarbon Daerah Frontier pada Cekungan
Melawi-Ketungau, Kalimantan Barat dengan Metode Gayaberat
5.3 Pemodelan Ke Depan (Gambar 10)
Model bawah permukaan hasil pemodelan ke
depan dapat dilihat dalam Gambar 11, Gambar
12, dan Gambar 13. Dari ketiga model, dapat
disimpulkan bahwa ketebalan sedimen rata-rata
pada cekungan ini adalah sekitar 4,54 km. Secara
umum, hasil pemodelan ke depan menunjukkan

bahwa Cekungan Melawi-Ketungau merupakan


satu buah cekungan besar yang terpisah satu
sama lain. Terpisahnya Subcekungan Ketungau
dengan Subcekungan Melawi merupakan hasil
dari aktivitas tektonik pada jaman Kapur yang
membentuk Tinggian Semitau di sebelah utara
Subcekungan Melawi.

Gambar 10. Posisi lintasan untuk pemodelan ke depan dan ke belakang

Gambar 11. Model bawah permukaan hasil pemodelan ke depan penampang Line 123

Gambar 12. Model bawah permukaan hasil pemodelan ke depan penampang Line 124

63

Trias Ningrum, Wawan Gunawan A. Kadir, Susanti Alawiyah, Eko Januari Wahyudi

TMNo.4/2009

Gambar 13. Model bawah permukaan hasil pemodelan ke depan penampang Line 125

Gambar 14. Penampang model inversi pada kedalaman 3.000 m, 4.000 m, dan .5000 m
5.4 Pemodelan Ke Belakang
Untuk melihat sebaran kontras densitas hasil
pemodelan ke belakang, dari model inversi 3
dimensi dilakukan slice pada 3 kedalaman. Dari
ketiga penampang kedalaman (Gambar 14),
dapat dilihat pada kedalaman 3.000 m pada
cekungan masih berupa batuan sedimen,
kemudian pada kedalaman 4.000 m mulai dapat
terlihat adanya basement high pada daerah
Tinggian Semitau dan Lubok Antu Melange.
Sementara pada kedalaman 5.000 m, batuan
dasar sudah mulai mendominasi cekungan.

64

Pada daerah penelitian dilakukan slice pada tiga


lintasan yang melalui ketiga subcekungan dengan
tujuan melihat kecocokan antara hasil pemodelan
ke depan dengan pemodelan ke belakang. Hasil
pemodelan ke depan dan pemodelan ke belakang
diberikan dalam Gambar 15, Gambar 16, dan
Gambar 17. Secara umum, ketebalan rata-rata
batuan sedimen antara hasil pemodelan ke depan
dengan hasil pemodelan ke belakang sekitar 0,1
km sampai 0,2 km dengan rata-rata selisihnya
sebesar 0,157 km. Ketebalan rata-rata batuan
sedimen dari hasil kedua teknik pemodelan
adalah sekitar 4,62 km.

Studi Identifikasi Struktur dan Prospek Hidrokarbon Daerah Frontier pada Cekungan
Melawi-Ketungau, Kalimantan Barat dengan Metode Gayaberat

Gambar 15. Model hasil pemodelan ke depan dan ke belakang Line 123

Gambar 16. Model hasil pemodelan ke depan dan ke belakang Line 124

Gambar 17. Model hasil pemodelan ke depan dan ke belakang Line 125
Perbedaan hasil antara kedua teknik pemodelan
disebabkan oleh perbedaan nilai kontras densitas
yang diberikan sebagai input (masukan) dalam
melakukan pemodelan. Dalam pemodelan ke
depan, masukan yang digunakan terdiri dari dua
lapisan yaitu batuan dasar dan batuan sedimen

yang masing-masing memiliki satu nilai kontras


densitas, yaitu +0,1 gr/cc untuk batuan dasar dan
-0,17 gr/cc untuk batuan sedimen. Sementara
pada pemodelan ke belakang, masukan kontras
densitasnya merupakan rentang dengan nilai
+0,05 gr/cc hingga +0,15 gr/cc untuk batuan

65

Trias Ningrum, Wawan Gunawan A. Kadir, Susanti Alawiyah, Eko Januari Wahyudi

TMNo.4/2009
dasar dan -0,175 gr/cc hingga -0,165 gr/cc untuk
batuan sedimen. Sehingga hasil pemodelan
inversi menghasilkan model bawah permukaan
dengan banyak lapisan yang memiliki kontras
densitas batuan yang berbeda-beda.
5.5 Top Basement Hasil Pemodelan Ke Depan
dan Ke Belakang
Setelah melakukan pemodelan ke depan dan
pemodelan ke belakang, penulis memetakan top
basement sesuai dengan daerah yang dijadikan
lintasan untuk pemodelan. Hasil top basement
daerah penelitian ditunjukkan pada Gambar 18.
Dari gambar dapat disimpulkan bahwa top
basement hasil pemodelan ke belakang
menunjukkan hasil yang lebih detil dibandingkan
dengan top basement pemodelan ke depan. Hal
ini disebabkan oleh model 2,5D pemodelan ke
depan hanya memiliki variasi densitas terhadap
kedalaman dengan strike bodi tertentu.

maksimal top basement hasil pemodelan ke


depan mencapai 5,27 km dan kedalaman
maksimal hasil pemodelan ke belakangnya
sekitar 5,45 km.
5.6 Analisis Prospek Hidrokarbon Daerah
Penelitian
Analisis prospek hidrokarbon lebih difokuskan
pada Subcekungan Melawi, karena terbatasnya
data pendukung pada Subcekungan Ketungau
dan sedimen yang terbentuk relatif tipis sehingga
hidrokarbon dipandang belum cukup matang.
Berdasar data geologi, pengisian hidrokarbon
diperkirakan berasal dari arah utara ke selatan
dan merupakan hasil migrasi vertikal dari batuan
induk Formasi Pendawan melalui bidang-bidang
patahan, dan migrasi lateral yang terjadi
setelahnya.
Umumnya, perangkap yang berkembang di
kawasan ini yaitu perangkap struktur yang
berupa lipatan (antiklin). Tipe perangkap ini
dijumpai pada bagian selatan Subcekungan
Melawi yang berasosiasi dengan zona tinggian
berwarna merah. Struktur lipatan ini merupakan
hasil aktivitas tektonik kompresi yang
diperkirakan terjadi pada Oligosen Akhir-Miosen
Awal.
Interpretasi arah migrasi hidrokarbon pada
Subcekungan Melawi dilakukan berdasarkan
pada peta anomali SVD. Anomali negatif
mengindikasikan adanya cekungan sementara
anomali positif meng-indikasikan struktur
tinggian. Asumsi yang digunakan yaitu anomali
SVD berbanding lurus dengan ke-dalaman
cekungan.

Gambar 18. Top basement hasil pemodelan ke


depan dan pemodelan ke belakang
Kedalaman
maksimal
top
basement
Subcekungan Ketungau hasil pemodelan ke
depan pada daerah penelitian mencapai 5,48 km
dan kedalaman hasil pemodelan ke belakang
sekitar 5,49 km. Untuk Subcekungan Melawi
Barat, kedalaman maksimal top basement hasil
pemodelan ke depan mencapai 5,36 km dan
kedalaman maksimal hasil pemodelan ke
belakangnya sekitar 5,50 km. Sementara pada
Subcekungan
Melawi
Timur
kedalaman

66

Pada penelitian ini, penulis mencoba menginterpretasikan


daerah
yang
berprospek
mengandung hidrokarbon. Kawasan prospek
pada Subcekungan Melawi seperti terlihat pada
Gambar 19 antara lain Prospek A, Prospek B,
Prospek C, dan Prospek D. Interpretasi ini
didasarkan pada beberapa kriteria berikut:
1. Terpenuhinya syarat-syarat utama terbentuk
dan terperangkapnya hidrokarbon seperti
batuan induk, batuan reservoir, batuan
tudung, ke-matangan, dan perangkap
hidrokarbon.
2. Adanya stuktur tinggian yang diperkirakan
sebagai antiklin dan struktur tutupan
(closure).

Studi Identifikasi Struktur dan Prospek Hidrokarbon Daerah Frontier pada Cekungan
Melawi-Ketungau, Kalimantan Barat dengan Metode Gayaberat

Gambar 19. Interpretasi arah migrasi hidrokarbon pada Subcekungan Melawi berdasarkan
pola anomali SVD
3. Adanya sumur pemboran eksplorasi yang
mengidentifikasi keberadaan gas serta
indikasi potensi hidokarbon berupa rembesan.
4. Kecuraman kontur SVD antara nilai anomali
rendah dengan nilai anomali tinggi yang
diwakili oleh kontur anomali yang rapat.
VI. KESIMPULAN
Setelah melakukan pengolahan dan pemodelan
serta interpretasi terhadap data gayaberat di
Cekungan Melawi-Ketungau dengan didukung
oleh informasi geologi, maka dapat disimpulkan
bahwa:
1. Dari hasil analisis dan interpretasi anomali
gayaberat dan didukung oleh informasi
sejarah pembentukan cekungan, Cekungan
Melawi-Ketungau
yang
terletak
di
Kalimantan Barat merupakan satu buah
cekungan besar yang terpisah menjadi tiga
buah subcekungan, antara lain Subcekungan
Ketungau, Subcekungan Melawi Barat, dan
Subcekungan Melawi Timur.
2. Hasil analisis second vertical derivative serta
didukung
oleh
informasi
geologi
menunjukkan sesar yang berkembang di
daerah penelitian didominasi oleh sesar naik
yang memanjang dengan arah relatif timurbarat, yang salah satunya merupakan Sesar
Boyan. Selain itu terdapat pula sesar-sesar
geser menganan dengan arah relatif barat
laut-tenggara, yaitu Sesar Amar dan Sesar
Melawi Timur.
3. Hasil kedua teknik pemodelan (pemodelan ke
depan dan pemodelan ke belakang)
menunjukkan ketebalan sedimen rata-rata
daerah penelitian sekitar 4,62 0,157 km.
4. Dari hasil analisis prospek hidrokarbon,
Subcekungan
Melawi
berpotensi

mengandung
hidrokarbon
dengan
rekomendasi 4 kawasan yang dapat
dikembangkan sebagai lapangan migas,
antara lain Prospek A, Prospek B, Prospek C,
dan Prospek D yang berada pada nilai
anomali second vertical derivative tinggi
yang diasosiasikan sebagai struktur antiklin.
DAFTAR PUSTAKA
1. Blakely, R.J., 1995. Potential Theory in
Gravity and Magnetic Application, Cambrige
University Press.
2. Encom Model Vision Pro, 2009. Reference
Manual version 9.0, Pitney Bowes Business
Insight.
3. Hadipandoyo, S., Setyoko, J., Suliantara, G.
A., Riyanto, H., Saputro, H.H., Harahap,
M.D., Firdaus, N., 2007. Kuantifikasi
Sumberdaya Hidrokarbon Indonesia, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Energi dan
Sumberdaya Mineral LEMIGAS, Jakarta.
4. Hall, R., 2005. Cenozoic Tectonics of
Indonesia, Problems and Models, Indonesian
Petroleum Association and Royal Halloway,
University of London.
5. Hamilton, W., 1979. Tectonics of the
Indonesian Region, United States Geological
Survey Professional Paper 1078, p. 345.
6. Hammer, S., 1939. Terrain corrections for
gravimeter stations, Geophysics, 4, p. 184194.
7. Heryanto, N., Williams, P.R., Harahap, B. H.,
Pieters, P.F., 1993. Peta Geologi Lembar
Sintang,
Kalimantan
skala
1:
250.000, PPPG Bandung.
8. Hutchison, C.S., 1989. Geological Evolution
of South-East Asia, Clarendon Press Oxford,
p. 368.

67

Trias Ningrum, Wawan Gunawan A. Kadir, Susanti Alawiyah, Eko Januari Wahyudi

TMNo.4/2009
9. Hutchison, C.S., 1996. The Rajang
Accretionary Prism and Lupar Line
problem of Borneo, In Tectonic Evolution of
SE Asia. pp. 247-261. Edited by R. Hall and
D. J. Blundell. Geological Society of London
Special Publication 106.
10. Kadir, W.G.A., 2000. Eksplorasi Gayaberat
dan Magnetik, Jurusan Teknik Geofisika,
Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi
Mineral, ITB, Bandung.
11. Moss, S.J., and Wilson, M.E.J., 1998.
Biogeographic Implications of the Tertiary
Palaeogeographic Evolution of Sulawesi and
Borneo, in Biogeography and Geological
Evolution of SE Asia, pp. 133-163. Edited by
Robert Hall and Jeremy D. Holloway.
Backbuys
Publishers,
Leiden,
The
Netherlands.
12. Reynolds, J.M., 1997. An Introduction to
Applied and Environmental Geophysics, John
Wiley & Sons.
13. Robinson, E., and Caruh, C., 1988. Basic
exploration geophysics, Wiley and Sons.
14. Rose, R., and Hartono, P., 1978. Geological
Evolution of The Tertiary Kutei-Melawi
Basin Kalimantan Indonesia, Proceedings

68

Indonesian Petroleum Association 7th Annual


Convention.
15. Telford, M.W., Geldart, L.P., Sheriff, R.E.,
and Keys, D.A., 1990. Applied Geophysics,
Cambrige University Press.
16. Tim Studi Petroleum System Cekungan
Melawi-Ketungau Kalimantan Barat, 2004.
Petroleum System Cekungan MelawiKetungau Kalimantan Barat, Departemen
Energi dan Sumberdaya Mineral, Badan
Penelitian dan Pengembangan Energi dan
Sumberdaya Mineral, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Energi dan Sumberdaya
Mineral LEMIGAS, Jakarta. Tidak
dipublikasikan.
17. Van de Weerd, A.A., and R.A. Armin, 1992.
Origin
and
evolution
of
the
Tertiary hydrocarbon-bearing
basins
in
Kalimantan (Borneo), Indonesia, AAPG
Bulletin, v. 76, p. 1778-1803.
18. Williams, P.R., Supriatna, S., Trail, D.S., and
Heryanto, R., 1984. Tertiary Basins of West
Kalimantan, Associated Igneous Activity and
Structural Setting, Proceedings Indonesian
Petroleum
Association
13th
Annual
Convention.