Anda di halaman 1dari 18

Mata Kuliah : Mekanika Teknik

Dosen

: Rini Novrianti Sutardjo Tui, ST, MBA, MT

MAKALAH
MOMEN INERSIA

OLEH
MUHAMMAD HIADAYAT
D621 11 252

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

MAKASSAR
2014

KATA PENGANTAR
Mekanika Teknik/Statika Struktur merupakan matakuliah dasar perancangan
teknik yang dipelajari oleh mahasiswa Program Studi Teknik Mesin dan Teknik
industri. Tujuan pembelajaran matakuliah ini adalah mahasiswa mampu menerapkan
prinsip-prinsip dasar mekanika teknik yang berkaitan dengan sistem gaya, konsep
benda tegar, konsep kesimbangan, konsep gaya dalam dan konsep gesekan untuk
menghitung dan merancang konstruksi sederhana dalam bidang mekanika teknik
statis tertentu. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu disiapkan bahan yang dapat
dijadikan acuan oleh mahasiswa dalam proses pembelajaan. Makalah ini disusun
dengan tujuan memberikan panduan dalam proses pembelajaran, sehingga lebih
terarah. Diharapkan melalui makalah ini, mahasiswa lebih mampu untuk memahami
konsep-konsep dasar Mekanika Teknik Statis Tertentu.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih perlu penyempurnaan terus
menerus. Penulis sangat berharap masukan dari para Pembaca, untuk proses
perbaikan dan penyempurnaan makalah ini sehingga menjadi lebih bermutu.
Selamat membaca...........

BAB I
PENDAHULUAN

Pada pembahasan mengenai Torsi,

dijelaskan pengaruh torsi terhadap

gerakan benda yang berotasi. semakin besar torsi, semakin besar pengaruhnya
terhadap gerakan benda yang berotasi. dalam hal ini, semakin besar torsi, semakin
besar perubahan kecepatan sudut yang dialami benda. Perubahan kecepatan sudut =
percepatan sudut. Jadi kita bisa mengatakan bahwa torsi sebanding alias berbanding
lurus dengan percepatan sudut benda. Perlu diketahui bahwa benda yang berotasi
juga memiliki massa.
Dalam gerak lurus, massa berpengaruh terhadap gerakan benda. Massa bisa
diartikan sebagai kemampuan suatu benda untuk mempertahankan kecepatan
geraknya. Apabila benda sudah bergerak lurus dengan kecepatan tertentu, benda sulit
dihentikan jika massa benda itu besar. Sebuah truk gandeng yang sedang bergerak
lebih sulit dihentikan dibandingkan dengan sebuah taxi. Sebaliknya jika benda
sedang diam (kecepatan = 0), benda tersebut juga sulit digerakan jika massanya
besar. Misalnya jika kita menendang bola tenis meja dan bola sepak dengan gaya
yang sama, maka tentu saja bola sepak akan bergerak lebih lambat.
Dalam gerak rotasi, massa benda tegar dikenal dengan julukan Momen
Inersia alias MI. Momen Inersia dalam Gerak Rotasi tuh mirip dengan massa dalam
gerak lurus. Kalau massa dalam gerak lurus menyatakan ukuran kemampuan benda
untuk mempertahankan kecepatan linear (kecepatan linear = kecepatan gerak benda
pada lintasan lurus), maka Momen Inersia dalam gerak rotasi menyatakan ukuran
kemampuan benda untuk mempertahankan kecepatan sudut (kecepatan sudut =
kecepatan gerak benda ketika melakukan gerak rotasi. Disebut sudut karena dalam
gerak rotasi, benda bergerak mengitari sudut). Makin besar Momen inersia suatu

benda, semakin sulit membuat benda itu berputar alias berotasi. sebaliknya, benda
yang berputar juga sulit dihentikan jika momen inersianya besar.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Momen Inersia Partikel


Sebelum membahas momen inersia benda tegar, terlebih dahulu di pelajari
Momen inersia partikel. dalam hal ini jangan membayangkan partikel sebagai sebuah
benda yang berukuran sangat kecil. Sebenarnya tidak ada batas ukuran yang
ditetapkan untuk kata partikel. Jadi penggunaan istilah partikel hanya untuk
mempermudah pembahasan mengenai gerakan, di mana posisi suatu benda
digambarkan seperti posisi suatu titik. Konsep partikel ini yang kita gunakan dalam
membahas gerak benda pada Topik Kinematika (Gerak Lurus, Gerak Parabola, Gerak
Melingkar) dan Dinamika (Hukum Newton). Jadi benda-benda dianggap seperti
partikel.
Konsep partikel itu berbeda dengan konsep benda tegar. Dalam gerak lurus
dan gerak parabola, misalnya, kita menganggap benda sebagai partikel, karena ketika
bergerak, setiap bagian benda itu memiliki kecepatan (maksudnya kecepatan linear)
yang sama. Ketika sebuah mobil bergerak, misalnya, bagian depan dan bagian
belakang mobil mempunyai kecepatan yang sama. Jadi kita bisa mengganggap mobil
seperti partikel alias titik.
Ketika sebuah benda melakukan gerak rotasi, kecepatan linear setiap bagian
benda berbeda-beda. Bagian benda yang ada di dekat sumbu rotasi bergerak lebih
pelan (kecepatan linearnya kecil), sedangkan bagian benda yang ada di tepi bergerak
lebih cepat (kecepatan linear lebih besar). Jadi , kita tidak bisa menganggap benda
sebagai partikel karena kecepatan linear setiap bagian benda berbeda-beda ketika ia
berotasi. kecepatan sudut semua bagian benda itu sama. Mengenai hal ini sudah
dijelaskan dalam Kinematika Rotasi.

Jadi pada kesempatan ini, terlebih dahulu di tinjau Momen Inersia sebuah
partikel yang melakukan gerak rotasi. Hal ini dimaksudkan untuk membantu kita
memahami konsep momen inersia. Setelah membahas Momen Inersia Partikel, maka
akan berkenalan dengan momen inersia benda tegar. Benda tegar itu memiliki bentuk
dan ukuran yang beraneka ragam. Jadi untuk membantu kita memahami momen
Inersia benda-benda yang memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda-beda itu,
terlebih dahulu kita pahami momen inersia partikel. Bagaimanapun, setiap benda itu
bisa dianggap terdiri dari partikel-partikel.
Sekarang mari tinjau sebuah partikel yang melakukan gerak rotasi. Dapat
menggunakan gambar saja

Gambar Sebuah partikel yang memerlukan gerak rotasi


Misalnya sebuah partikel bermassa m diberikan gaya F sehingga ia melakukan
gerak rotasi terhadap sumbu O. Partikel itu berjarak r dari sumbu rotasi. mula-mula
partikel itu diam (kecepatan = 0). Setelah diberikan gaya F, partikel itu bergerak
dengan kecepatan linear tertentu. Mula-mula partikel diam, lalu bergerak (mengalami
perubahan kecepatan linear) setelah diberikan gaya. Dalam hal ini benda mengalami
percepatan tangensial. Percepatan tagensial = percepatan linear partikel ketika
berotasi.
Kita bisa menyatakan hubungan antara gaya (F), massa (m) dan percepatan
tangensial (at), dengan persamaan Hukum II Newton :

F = matan

Karena partikel itu melakukan gerak rotasi, maka ia pasti mempunyai


percepatan sudut. Hubungan antara percepatan tangensial dengan percepatan sudut
dinyatakan dengan persamaan :

atan = r.
Sekarang kita masukan a tangensial ke dalam persamaan di atas :

F = matan atan = r
F = mr
Di kalikan ruas kiri dan ruas kanan dengan r :

rF = r(mr )
rF = mr 2
Perhatikan ruas kiri. rF = Torsi, untuk gaya yang arahnya tegak lurus sumbu
(bandingan dengan gambar di atas). Persamaan ini bisa ditulis menjadi :

= (mr 2 )
mr2 adalah momen inersia partikel bermassa m, yang berotasi sejauh r dari
sumbu rotasi. persamaan ini juga menyatakan hubungan antara torsi, momen inersia
dan percepatan sudut partikel yang melakukan gerak rotasi. Istilah kerennya, ini
adalah persamaan Hukum II Newton untuk partikel yang berotasi.
Jadi Momen Inersia partikel merupakan hasil kali antara massa partikel itu
(m) dengan kuadrat jarak tegak lurus dari sumbu rotasi ke partikel (r2). Untuk
mudahnya, bandingkan dengan gambar di atas. Secara matematis, momen inersia
partikel dirumuskan sebagai berikut :

I = mr 2
Keterangan :

I = momen inersia
m = massa partikel
r = jarak partikel dari sumbu rotasi

2.2 Momen Inersia Benda Tegar


Secara umum, Momen Inersia setiap benda tegar bisa dinyatakan sebagai
berikut :

Benda tegar bisa kita anggap tersusun dari banyak partikel yang tersebar di
seluruh bagian benda itu. Setiap partikel-partikel itu punya massa dan tentu saja
memiliki jarak r dari sumbu rotasi. jadi momen inersia dari setiap benda merupakan
jumlah total momen inersia setiap partikel yang menyusun benda itu.
Ini cuma persamaan umum saja. Bagaimanapun untuk menentukan Momen
Inersia suatu benda tegar, kita perlu meninjau benda tegar itu ketika ia berotasi.
Walaupun bentuk dan ukuran dua benda sama, tetapi jika kedua benda itu berotasi
pada sumbu alias poros yang berbeda, maka Momen Inersia-nya juga berbeda.
Tabel momen inersia benda tegar :

Di mana pada tabel : I = Momen Inersia


L = Panjang Benda
M = Massa Benda

2.3 Momen Inersia Benda Pejal


Benda pejal dideskripsikan dengan fungsi kerapatan massa (r)

Luas dibagi menjadi elemen kecil dan masing-masing luas dikalikan kuadrat
lengan momennya.
Momen inersia terhadap sumbu x

Momen inersia terhadap sumbu y

Sehingga :

2.3.1

Momen Inersia Batang Pejal


Anggap suatu batang bermassa m dan panjang l diputar terhadap suatu sumbu

yang melalui pusat massanya (Gb.1). Pada batang ini ada dua variabel yaitu massa
dan panjang batang. Jika kita anggap momen inersia batang ini (Ipm) tergantung pada
kedua variabel ini maka dengan analisa dimensi kita bisa memperoleh bahwa momen
inersia batang sebanding dengan massa batang dan sebanding dengan kuadrat
panjang batang, atau secara matematika dapat ditulis:

Gambar batang yang diputar terhadap sumbu yang melalui pusat


massanya (titik A).
Sekarang perhatikan potongan batang sebelah kiri yang mempunyai panjang
l dan massa m. Momen inersia potongan batang ini terhadap sumbu yang
melalui pusat massanya dapat ditulis sebagai:

Gunakan teorema sumbu sejajar untuk menghitung momen inersia potongan


batang ini terhadap sumbu yang melalui titik A.

Catatan: r = l adalah jarak pusat massa potongan batang dengan titik A dan m =
m adalah massa dari potongan batang ini.
Dengan cara yang sama kita peroleh momen inersia potongan batang kanan
terhadap titik A adalah:

Jumlah momen inersia pada persamaan diatas dan persamaan diatasnya lagi
sama dengan momen inersia yang ditulis pada persamaan paling awal. Dari sini kita
akan peroleh persamaan:

Selesaikan persamaan diatas kita akan memperoleh c = 1/12. Sehingga kita


akan peroleh rumus momen inersia batang panjang l dan massa m yang diputar
terhadap sumbu yang melalui pusat massanya sebagai:

2.3.2

Momen Inersia Segita Pejal Sama Sisi


Anggap suatu segitiga pejal sama sisi dengan panjang sisi a dan massa m

diputar terhadap
sumbu yang melalui titik pusat massa A.

Gambar segitiga yang diputar terhadap sumbu yang melalui titik pusat massa A.
Seperti pada perhitungan momen inersia batang, dengan analisa dimensi kita
peroleh momen inersia segitiga terhadap sumbu yang melalui pusat massanya adalah:

I pm = cma2 (segitiga)
Disini c adalah konstanta, m massa segitiga dan a adalah sisi segitiga.
Selanjutnya adalah membagi segitiga ini menjadi 4 potongan segitiga dengan
panjang sisi a dan massa masing-masing segitiga m.

Gambar pembagian segitiga menjadi 4 poton


Dengan menggunakan persamaan diatas, momen inertia tiap potongan
segitiga terhadap sumbu yang melalui pusat massanya dapat ditulis:

Sekarang gunakan teorema sumbu sejajar untuk memperoleh momen inersia


masingmasing potongan segitiga 1,2 dan 3 terhadap titik A.

Disini m = m adalah massa potongan segitiga dan


adalah jarak antara pusat massa potongan segitiga ke titik A (catatan h adalah tinggi
potongan segitiga).
Berikutnya jumlahkan momen inersia ketiga potongan segitiga 1,2 dan 3
yaitu dengan mengalikan momen inersia pada persamaan diatas dengan 3 lalu
jumlahkan dengan momen inersia potongan segitiga 4.

Samakan persamaan di atas dengan persamaan awal diatas untuk memperoleh


persamaan:

Dari persamaan (12) kita peroleh c = 1/12 sehingga momen inersia


segitiga sama sisi pejal bermassa m dan bersisi a yang diputar terhadap sumbu yang
melalui pusat massanya adalah:

2.4 Teorema Sumbu Sejajar


Dalam fisika, teorema sumbu sejajar atau teorema Huygens-Steiner dapat
digunakan untuk menentukan momen inersia sebuah benda tegar di terhadap sumbu
apapun, bila diketahui momen inersia suatu objek terhadap sumbu yang melalui pusat
massa yang sejajar dengan sumbu pertama, serta jarak tegaklurus antara kedua
sumbu tersebut.
Misalkan, Icm melambangkan momen inersia suatu objek terhadap pusat
massanya M adalah massa objek dan d jarak tegaklurus antara kedua sumbu, Maka
momen inersia di sekitar sumbu baru z diberikan oleh

Kaidah ini dapat diterapkan bersama-sama kaidah regangan dan teorema


sumbu tegaklurus untuk menemukan momem inersia berbagai bentuk benda.
Aturan sumbu sejajar juga berlaku untuk momen inersia luas untuk bidang D, yang
formulanya sebagai berikut :

Di mana :
Iz adalah momen inersia bidang D terhadap sumbu sejajari
Ix adalah momen inersia D terhadap centroidnya
A adalah luas bidang D dan
d adalah jarak antara sumbu baru z terhadap centroid bidang D

Gambar kaidah sumbu sejajar untuk momen inersia suatu bidang


2.5 Penerapan Momen Inersia
2.5.1

Momen Inersia Pada Pemain Ski Es


Momen Inersia merupakan sifat yang dimiliki oleh sebuah benda untuk

mempertahankan posisinya dari gerak berotasi. Momen inersia adalah ukuran


resistansi/ kelembaman sebuah benda terhadap perubahan dalam gerak rotasi.
Momen inersia tergantung pada distribusi massa benda relatif terhadap sumbu rotasi
benda. Karena torsi yang dikerjakan oleh es adalah kecil, momentum anguler pemain
ski adalah mendekati konstan. Ketika ia menarik tangannya ke dalam ke arah
badannya, momen inersia badannya terhadap sumbu vertikal melalui badannya
berkurang. Karena momentum angularnya L = I harus tetap konstan, bila I
berkurang, kecepatan angularnya bertambah; artinya, ia berputar dengan laju yang
lebih cepat.
2.5.2

Aplikasi Momen Inersia Pada Elemen Mesin


Aplikasi moment inersia pada elemen mesin yang disebut dengan "Roda

Gila" pada mesin-mesin internal combustion (contoh: mesin diesel, mesin 4-takt).
Mesin-mesin jenis ini prinsipnya merubah energi mekanis sistem berbasis translasi
(pada piston) menjadi sistem rotasi yang ditransmisikan ke Roda Kendaraan. Contoh
pada mesin 4-Takt, Moment Inersia ini (pada elemen Roda Gila) diperlukan untuk
menyimpan sebagian energi mekanisnya untuk melakukan langkah-langkah kerja
mesin pada proses:

- Penghisapan,
- Kompresi, dan
- Pembuangan.
Sedangkan langkah Ekspansi adalah langkah kerja yg sesungguhnya pada
piston, yaitu proses langkah pembakaran. Kita gambarkan saja sebagai langkah
injeksi Energi. Pada proses Ekspansi ini energi dirubah dari energi kimia bahan
Hidrocarbon (BBM) menjadi energi mekanis translasi pada piston, yang dapat
diformulasikan sebagai delta(W) = delta(PV), selanjutnya dengan memakai poros
engkol ditransmisikan dalam bentuk rotasi ke semua bagian mesin. Sebagian kecil
energinya disimpan ke roda gila tadi, dan sebagian besar digunakan sebagai
penggerak torsi pada Objek, sesuai dengan tujuan mesin ini di aplikasi/dipakai.
Kalau untuk kendaraan ke as rodanya, kalau untuk mesin-mesin perkakas ya ke as
Pulley nya atau Gear nya dan lain-lain.

2.5.3

Aplikasi Momen Inersia Pada jaw crusher


Jaw Crusher sendiri dipakai secara luas pada industri pertambangan, industri

metal, konstruksi, pembangun jalan tol, pembangunan rel kereta dan industri kimia.
Prinsip Kerja Mesin Jaw Crusher.
Jaw Crusher bekerja mengandalkan kekuatan motor. Melalui roda motor,
poros eksentrik digerakkan oleh sabuk segitiga dan slot wheel untuk membuat jaw
plate bergerak seirama. Oleh karena itu, material dalam rongga penghancuran yang
terdiri dari jaw plate, jaw plate yang bergerak dan side-lee board dapat dihancurkan
dan diberhentikan melalui pembukaan pemakaian.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1Kesimpulan
Momen Inersia partikel merupakan hasil kali antara massa partikel itu (m)
dengan kuadrat jarak tegak lurus dari sumbu rotasi ke partikel (r2).
Momen inersia dari setiap benda merupakan jumlah total momen inersia
setiap partikel yang menyusun benda itu. Ini cuma persamaan umum saja,
bagaimanapun untuk menentukan momen inersia suatu benda tegar, kita perlu
meninjau benda tegar itu ketika ia berotasi. Walaupun bentuk dan ukuran dua benda
sama, tetapi jika kedua benda itu berotasi pada sumbu alias poros yang berbeda,
maka Momen Inersia-nya juga berbeda.
Momen inersia benda pejal dideskripsikan dengan fungsi kerapatan massa
(r), Luas dibagi menjadi elemen kecil dan masing-masing luas dikalikan kuadrat
lengan momennya.
3.2

Saran
Saran untuk para pembaca yaitu pembaca dapat memanfaatkan informasi

yang terdapat pada makalah ini, makalah ini juga masih banyak terdapat kekurangan
jadi kiranya para pembaca dapat menambahkan apa-apa saja yang mungkin dapat di
masukkan dalam makalah ini agar kekurangan tadi dapat terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2013. http: // id. answers. yahoo. com/question/index? Qid = 2 0 0 9 0 1


1 0 1 3 4 5 3 2 AAuSO3i.
Anonymous.2013. http://www.cocrusher.com/jaw_crusher.html.
Anonymous.2009. http://id.wikipedia.org/wiki/Teorema_sumbu_sejajar.
Anonymous.2010.www.httpsisfo.itp.ac.idbahanajarBahanAjarAsnalFisikaBAB
%2013%20Momen%20Inersia.pdf)
Euler, Leonhard.1765. Theoria motus corporum solidorum seu rigidorum: ex primis
nostrae cognitionis principiis stabilita et ad omnes motus, qui in huiusmodi
corpora cadere possunt, accommodata. Auctore Leonh. Eulero. Cornell
University Library. ISBN 978-1429742818.
Surya .y. 2008. Momen Inersia tanpa Kalkulus.