Anda di halaman 1dari 36

TUGAS TEKNOLOGI PETROKIMIA

OLEH :

NYIMAS ULFATRY UTAMI

03111403021

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

1. Jelaskan bagaimana bahan baku petrokimia berikut didapatkan :


Gas alam (methane)
Liquified Petroleum Gas (LPG)
Pengolahan Off-Gasses
Hydroforming dari cadangan Petroleum
Naphta dan Minyak bahan bakar
Petroleum Coke
Jawab :
Gas Alam (Methane)
Metana merupakan gas yang terbentuk oleh adanya ikatan kovalen
antara

empat atom

H dengan satu

suatu alkana. Alkana secara

umum

atom

C.

mempunyai

Metana merupakan

sifat

sukar

bereaksi

(memiliki afinitas kecil) sehingga biasa disebut sebagai parafin. Sifat lain
dari alkana adalah mudah mengalami reaksi pembakaran sempurna dengan
oksigen menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O) dengan
reaksi:
CH4 (g) + O2( g)

CO2 (g) + H2O (g)

Metana merupakan senyawa hidrokarbon paling sederrhana yang


berbentuk gas yang tidak berwarna dan juga tidak berbau. Gas ini pertama
sekali ditemukan oleh Allessandro Volta sekitar tahun 1776-1778 yang
melakukan penelitian di danau Manggiore dan mengamati adanya
gelembung-gelembung gas dan ternyata gas tersebut dapat terbakar. Gas
metana tergolong gas-gas rumah kaca yang cukup potensial dapat berasal
dari sumber alamiah dan sumber yang diakibatkan oleh kegiatan manusia.
Proses pembuatan gas metana, terdiri dari :
a) Proses Alamiah
Tiga teori utama mengenai asal-usul metana disebut thermogenik,
biogenik dan abiogenik. Teori thermogenik mengatakan metana yang
terbentuk ketika sisa-sisa tanaman dan hewan yang dikompresi pada
tekanan jauh di bawah tanah tinggi untuk jangka waktu yang panjang.
Tumpukan sisa-sisa tumbuhan dan hewan satu sama lain ditutupi dengan

lumpur dan sedimen lainnya. Akhirnya tekanan cukup diletakkan pada


tanaman dan hewan untuk kompres itu. Suhu tinggi jauh di bawah tanah
dalam kombinasi dengan kompresi ini memecah molekul karbon.
Semakin dalam di tanah tumpukan kompos gas ini lebih alami terbentuk.
Dekat dengan permukaan deposito yang mengandung minyak lebih dari
gas alam karena minyak mengandung molekul karbon lebih dari gas alam
dan suhu tinggi tidak ada untuk memecahkan karbon.
Pada teori biogenik bahwa metana tercipta ketika bahan organik
diubah oleh mikroorganisme. Mikroorganisme ini ditemukan di usus
hewan dan di daerah yang paling dekat dengan permukaan bumi di mana
oksigen tidak tersedia. Banyak metana yang diproduksi dekat dengan
permukaan menghilang ke atmosfir. Hal ini juga terperangkap di bawah
tanah dan kemudian dapat pulih seperti gas alam. Landfill adalah contoh
dari metana biogenik.
b) Proses Pembuatan Biogas
Biogas yang dibuat dari kotoran ternak sapi mengandung gas
metana (CH4) sebesar 55 65 %, gas karbon dioksida (CO2) sebesar 30
35 % dan sedikit gas hidrogen (H2), gas nitrogen (N2) dan gas gas
lain. Panas yang dihasilkan sebesar 600 BTU/cuft. Sedangkan, biogas
yang dibuat dari gas alam mengandung gas metana (CH4) sebesar 80 %
dengan panas sebesar 1000 BTU/cuft. Kandungan gas metana (CH4) dari
biogas dapat ditingkatkan dengan memisahkan gas karbon dioksida
(CO2) dan gas hidrogen sulfida (H2S) yang bersifat korosif (Price dan
Cheremisinoff, 1981).
Reaksi pembentukan metana (Price and Paul, 1981) dari bahan
bahan organik yang dapat terdegradasi dengan bantuan enzim maupun
bakteri dapat dilihat sebagai berikut:

Secara umum, reaksi pembentukan CH4 yaitu :


CxHyOz + (x-y-z) H2O

( x-1/8y+z) CO2 + (x-1/8y+z) CH4


(2.5)

Sebagai contoh, pada pembuatan biogas dari bahan baku kotoran sapi
atau kerbau yang banyak mengandung selulosa. Bahan baku dalam
bentuk selulosa akan lebih mudah dicerna oleh bakteri anaerob. Reaksi
pembentukan CH4 adalah (Price dan Cheremisinoff,1981) :
(C6H10O5)n + n H2O

3n CO2 + 3n CH4

(2.6)

Reaksi kimia pembuatan biogas (gas metana) ada 3 tahap, yaitu :


1) Reaksi Hidrolisa / Tahap pelarutan
Pada tahap ini bahan yang tidak larut seperti selulosa, polisakarida dan
lemak diubah menjadi bahan yang larut dalam air seperti karbohidrat
dan asam lemak. Tahap pelarutan berlangsung pada suhu 25oC di
digester (Price dan Cheremisinoff, 1981).
Reaksi:
(C6H10O5)n (s) + n H2O (l)
Selulosa

Air

n C6H12O6

(2.7)

Glukosa

2) Reaksi Asidogenik / Tahap pengasaman


Pada tahap ini, bakteri asam menghasilkan asam asetat dalam suasana
anaerob. Tahap ini berlangsung pada suhu 25oC di digester (Price dan
Cheremisinoff, 1981).
Reaksi:
a) n (C6H12O6)
Glukosa

2n (C2H5OH) + 2n CO2(g) + kalor


Etanol

Karbondioksida

(2.8)

b) 2n (C2H5OH) (aq) + n CO2 (g)


Etanol

2n (CH3COOH) (aq) + n CH4 (g) (2.9)

Karbondioksida

Asam Asetat

Metana

3) Reaksi Metanogenik / Tahap gasifikasi


Pada tahap ini, bakteri metana membentuk gas metana secara perlahan
secara anaerob. Proses ini berlangsung selama 14 hari dengan suhu
25oC di dalam digester. Pada proses ini akan dihasilkan 70% CH4,
30% CO2, sedikit H2 dan H2S (Price dan Cheremisinoff, 1981).
Berbagai jenis bakteri yang digunakan untuk menghasilkan gas
metana ditunjukkan pada Tabel 1.
Reaksi:
2n (CH3COOH)
Asam Asetat

2n CH4 (g) + 2n CO2 (g)


Metana

(2.10)

Karbondioksida

Tabel 1. Berbagai Macam Bakteri Penghasil Metana dan Substratnya


(Khandelwal,1978)

Bakteri
Methanobacterium
formicum
Methanobacterium
mobilis
Methanobacterium
propionicum
Methanobacterium
ruminantium
Methanobacterium
sohngenii
Methanobacterium
suboxydans
Methanococcus mazei
Methanobacterium
vannielii
Methanosarcina barkeri
Methanobacterium
methanica

Substrat
CO
H2 + CO2
Formate
H2 + CO2
Formate

Produk
CH4
CH4

Propionate

CO2 +
Acetate

Formate
H2 + CO2

CH4

Acetate butyrate

CH4 + CO2

Caproate dan butyrate


Acetate dan Butyrate
H2 + CO2
Formate
H2 + CO2
Methanol
Acetate
Acetate
Butyrate

Propionate
dan Acetate
CH4 + CO2
CH4
CH4
CH4
CH4 + CO2
CH4 + CO2

Liquified Petroleum Gas (LPG)


LPG (Liquified Petroleum Gas) adalah campuran dari berbagai unsur
hidrokarbon yang berasal dari gas alam yang dikembangkan oleh Dr Walter
pada tahun 1910. LPG dikenalkan oleh Pertamina dengan merk Elpiji.
Dengan menambah tekanan dan menurunkan suhunya, gas berubah menjadi
cair. Fraksi yang digunakan sebagai umpan dapat berasal dari beberapa
sumber, yaitu dari gas alam maupun gas hasil dari pengolahan minyak bumi
(Light End). Komponennya didominasi propana (C3H8) dan butana (C4H10).
Elpiji juga mengandung hidrokarbon ringan lain dalam jumlah kecil,
misalnya etana (C2H6) dan pentana (C5H12).
Sesuai dengan penggunaannya sebagai bahan bakar, LPG dibedakan
atas :
a) LPG Mix
Adalah campuran propane dan butana dengan komposisi antara 70 - 80%
dan 20-30% volume dan diberi odorant (Mercaptant) dan umumnya
digunakan untuk bahan bakar rumah tangga.
b) LPG propane dan LPG butana.
Adalah elpiji yang masing-masing mengandung propane 95% dan butana
97,5% volume dan diberi odorant (mercaptant), umumnya digunakan
untuk keperluan industri.
Cara Pembuatan LPG, yaitu sebagai berikut :
Minyak bumi atau minyak mentah sebelum masuk ke dalam kolom
fraksinasi (kolom pemisah) terlebih dahulu dipanaskan dalam aliran pipa
dalam furnace (tanur) sampai dengan suhu 350C. Minyak mentah yang
sudah dipanaskan tersebut kemudian masuk kedalam kolom fraksinasi.
Untuk menjaga suhu dan tekanan dalam kolom maka dibantu
pemanasan dengan steam (uap air panas dan bertekanan tinggi). Karena
perbedaan titik didih setiap komponen hidrokarbon maka komponenkomponen tersebut akan terpisah dengan sendirinya, dimana hidrokarbon
ringan akan berada dibagian atas kolom diikuti dengan fraksi yang lebih

berat dibawahnya. Pada tray (sekat dalam kolom) komponen itu akan
terkumpul sesuai fraksinya masing-masing.

Gambar 1. Minyak bumi atau minyak mentah diambil dari dalam bumi kemudian dikirim ke
tempat produksi.

Gambar 2. Kolom fraksinasi

Minyak mentah yang sudah dipanaskan tersebut kemudian masuk ke


dalam kolom fraksinasi. Umpan yang masih berupa campuran komponen
yang lebih ringan dari hexan (C6) perlu dipisahkan. Dalam proses
pemisahan, dipisah-pisahkan menjadi komponen penyusun produk LPG,
berdasarkan perbedaan titik didihnya. Proses pemisahan komponen C3 dan
C4 dari gas dilakukan terhadap gas yang sudah ditreating terlebih dahulu,
dikurangi kadar air dan pengotornya (impurities). Dimana gas merupakan
hidrokarbon ringan berada di atas atau pemisahan gas dari minyak
(Associated gas) dan masuk ke dalam tangki pengolahan gas.
Sejumlah teknologi dasar pemisahan yang dikenal dalam rancangan
LPG Plant yang terintegrasi dengan proses produksi adalah sebagai berikut :
a) Pemisahan dengan cara distilasi bertekanan, dimana berdasarkan
perbedaan titik didih tiap-tiap komponen yang terkandung pada umpan.
b) Pemisahan dengan cara penyerapan komponen C3-C4 oleh hidrokarbon
cair ringan (light oil absorption), diikuti dengan pemisahan kembali C3C4 dari hidrokarbon cair dengan cara distilasi.
c) Pemisahan dengan cara mendinginkan gas-gas C3-C4 dengan silklus
refrigerasi hingga dibawah titik embunnya, sehingga gas-gas terpisah
sebagai produk cair.
d) Pemisahan dengan cara pendinginan, dengan memanfaatkan peristiwa
penurunan temperatur gas jika dikurangi tekanannya secara mendadak,
sehingga komponen C3-C4 mengalami pengembunan.
e) Pemisahan komponen C3-C4 dengan menggunakan membran dengan
ukuran porise demikian sehingga komponen yang lebih ringan (C1-C2)
mampu menerobos membran, sedangkan komponen LPG tertinggal
dalam aliran gas umpan.
Namun pada umumnya unit LPG yang terdapat di kilang lebih
dijumpai pemisahan berupa kolom-kolom distilasi bertekanan. Sebelum
dipisahkan umpan yang akan masuk kedalam fraksinator (kolom), pada
umumnya gas dicairkan lebh dulu, yakni dengan cara didinginkan, ditekan,
dan diekspansi. LPG yang berupa gas yang terbentuk dari unsur dominan

C3H8 (C3) dengan C4H10 (C4) dengan perbandingan komposisi C3 dan C4


sebesar 70% : 30%, dimana dilakukan pemberian tekanan sampai dengan
300 psi sehingga unsur tersebut berubah fasa menjadi cair.
Untuk memisahkan unsur-unsur yang ringan dan yang lebih
berat, dapat dipakai alat Fractinator (kolom distilasi), dimana Methane (C1),
Ethane (C2), Propane (C3), dan Butane (C4) dapat dipisahkan secara
sendiri-sendiri. Dapat pula Demethanizer digabung menjadi Demethanizer/
Deethanizer yang diatur setara dengan Demethanizer yang berfungsi
memisahkan C1dan C2 bersama-sama.
Begitu

pula

Depropanizer

digabung

menjadi

Depropanizer/

Debutanizer yang berfungsi untuk mengambil unsur C3 dan C4 dari produk


proses sebelumnya yang akan menjadi kondensat. Kedua alat tersebut
temperatur dan tekanan kerjanya dipilih kondisi optimum yang sangat
tergantung dari komposisi gas yang harus diolah. Karena yang diolah gas
bertekanan rendah maka diperlukan kompressor, agar tercapai tekanan
keluaran yang diperlukan oleh alat Demethanizer/Deethanizer serta alat
Depropanizer/Debutanizer.
Pada setiap tingkatan atau fraksi yang terkumpul kemudian
dipompakan keluar kolom, didinginkan dalam bak pendingin, lalu
ditampung dalam tanki produknya masing-masing. Produk ini belum bisa
langsung dipakai, karena masih harus ditambahkan aditif (zat penambah)
agar dapat memenuhi spesifikasi atau persyaratan atau baku mutu yang
ditentukan oleh Dirjen Migas RI untuk masing-masing produk tersebut.
Pada prinsipnya pengolahan LPG dilakukan dengan tahapan :

a) Pemisahan Impurites seperti CO2 dan H2S (gas beracun, berbau dan
korosif)

b) Pengeringan gas dari air (yang terkandung di dalamnya), dan


c) Refrigerasi (pendinginan) untuk mendapatkan gas cair yang disebut LPG.

Pengolahan Off-Gases
Perubahan kualitas udara dari waktu ke waktu dapat dipengaruhi
oleh sumber emisi gas buangan dari berbagai kegiatan dan faktor
meteorologi. Sumber emisi gas buang dapat dapat berasal dari kendaraan
bermotor, industri, dan kegiatan lainnya. Sedangkan faktor meteorologi
terdiri dari iklim, cuaca, kecepatan dan arah angin, suhu udara, dan
kelembaban.
Emisi gas buang adalah zat atau unsur hasil dari pembakaran di
dalam ruang bakar yang dilepas ke udara ambient yang ditimbulkan
kendaraan bermotor berasal dari penguapan dari tangki bahan bakar minyak,
blower dari ruang bakar, dan gas buang yang biasanya diatasi dengan
teknologi tinggi (Thandjung, 2002).
Dampak emisi gas buang merupakan masalah serius yang dihadapi
oleh negara-negara industri. Akibat yang ditimbulkan oleh emisi gas buang
tidak hanya mempunyai akibat langsung terhadap kesehatan manusia saja,
akan tetapi juga dapat merusak lingkungan lainnya, seperti hewan, tanaman,
bangunan gedung, dan sebagainya.
Beberapa polutan yang berasal dari gas buang, antara lain :
a) Karbon Monoksida (CO)
Gas buang kendaraan bermotor merupakan sumber utama bagi
karbon monoksida di berbagai perkotaan. Data mengungkapkan bahwa
60%-70% pencemaran udara di Indonesia disebabkan karena benda
bergerak atau transportasi umum yang berbahan bakar solar terutama
berasal dari Metromini. Formasi CO merupakan fungsi dari rasio kebutuhan
udara dan bahan bakar dalam proses pembakaran di dalam ruang bakar
mesin diesel.
b) Nitrogen Oksida (NOx)
Sampai tahun 2000, NOx yang berasal dari alat transportasi laut di
Jepang menyumbangkan 38% dari total emisi NOx (25.000 ton/tahun). Ada
3 teori yang mengemukakan terbentuknya NOx, yaitu :

1) Thermal NOx (Extended Zeldovich Mechanism) : Proses ini disebabkan


gas nitrogen yang beroksidasi pada suhu tinggi pada ruang bakar (>1800
K). Thermal NOx ini didominasi oleh emisi NO (NOx NO + NO2).
2) Prompt NOx : Formasi NOx ini akan terbentuk cepat pada zona
pembakaran.
3) Fuel NOx : NOx formasi ini terbentuk karena kandungan N dalam bahan
bakar.
Kira-kira 90% dari emisi NOx adalah disebabkan proses thermal
NOx, dan tercatat bahwa dengan penggunaan HFO (Heavy Fuel Oil), bahan
bakar yang biasa digunakan di kapal, menyumbangkan emisi NOx sebesar
20-30%. Nitrogen oksida yang ada di udara yang dihirup oleh manusia
dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Setelah bereaksi dengan atmosfir
zat ini membentuk partikel-partikel nitrat yang amat halus yang dapat
menembus bagian terdalam paru-paru. Selain itu zat oksida ini jika bereaksi
dengan asap bensin yang tidak terbakar dengan sempurna dan zat
hidrokarbon lain akan membentuk ozon rendah atau kabut berawan coklat
kemerahan yang menyelimuti sebagian besar kota di dunia.
c) Sulfur Oxide (SOx)
Emisi SOx terbentuk dari fungsi kandungan sulfur dalam bahan bakar,
selain itu kandungan sulfur dalam pelumas, juga menjadi penyebab
terbentuknya SOx emisi. Struktur sulfur terbentuk pada ikatan aromatic dan
alkyl. Dalam proses pembakaran sulfur dioxide dan sulfur trioxide terbentuk
dari reaksi :
S + O2

SO2

SO2 + O2

SO3

Kandungan SO3 dalam SOx sangat kecil sekali yaitu sekitar 1-5%.
Gas yang berbau tajam tapi tidak berwarna ini dapat menimbulkan serangan
asma, gas ini pun apabila bereaksi di atmosfir akan membentuk zat asam.
Badan kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa tahun 1997-2003 jumlah
sulfur dioksida di udara telah mencapai ambang batas.

d) HydroCarbon (HC)
Emisi Hidrokarbon (HC) terbentuk dari bermacam-macam mesin yang
merupakan sumber pencemar. Penyebabnya adalah karena tidak terbakarnya
bahan bakar secara sempurna dan tidak terbakarnya minyak pelumas
silinder. Emisi HC pada bahan bakar HFO yang biasa digunakan pada
mesin-mesin diesel besar akan lebih sedikit jika dibandingkan dengan mesin
diesel yang berbahan bakar Diesel Oil (DO). Emisi HC ini berbentuk gas
methan (CH4). Jenis emisi ini dapat menyebabkan leukemia dan kanker.
e) Partikulat Matter (PM)
Partikel debu dalam emisi gas buang terdiri dari bermacam-macam
komponen. Bukan hanya berbentuk padatan tapi juga berbentuk cairan yang
mengendap dalam partikel debu. Pada proses pembakaran debu terbentuk
dari pemecahan unsur hidrokarbon dan setelah proses oksidasi. Dalam debu
tersebut terkandung debu sendiri dan beberapa kandungan metal oksida.
Dalam kelanjutan proses ekspansi di atmosfir, kandungan metal dan debu
tersebut membentuk partikulat. Beberapa unsur kandungan partikulat adalah
karbon, SOF (Soluble Organic Fraction), debu, SO4, dan H2O. Sebagian
benda partikulat keluar dari cerobong pabrik sebagai asap hitam tebal, tetapi
yang paling berbahaya adalah butiran-butiran halus sehingga dapat
menembus bagian terdalam paru-paru. Diketahui juga bahwa di beberapa
kota besar di dunia perubahan menjadi partikel sulfat di atmosfir banyak
disebabkan karena proses oksida oleh molekul sulfur.
f) Timah hitam (Pb)
Pb merupakan salah satu logam beracun yang dapat masuk kedalam
sistem biologis manusia. Logam Pb di udara dikeluarkan oleh pembakaran
bahan bakar minyak (bensin) kendaraan bermotor yang mengandung TEL
sebagai peningkat nilai oktan bensin. Pb adalah racun sistemik yang apabila
terjadi keracunan Pb akan menimbulkan gejala antara lain muntah-muntah,
rasa logam di mulut, perubahan kepribadian, kelumpuhan, kebutaan dan
anemia (Duffus, 1980).

Hydroforming dari cadangan Petroleum


Pembuatan Produk Toluena dari Metilsikloheksana
Mekanisme reaksi :
C6H11CH3

C6H5CH3 + 3 H2

Proses Hidroforming Toluene : Toluen diproduksi dari fraksi


petroleum yang telah diseleksi dalam nafta dalam proses catalytic
reforming atau

Hydroforming.

Proses

ini

meliputi

catalytic

dehydrogenation untuk menghasilkan campuran hidrokarbon aromatik


utamanya toluene. Fraksi nafta yang dipilih dipanaskan dalam penukar
panas dan kemudian benar-benar menguap dalam furnace. Lalu bercampur
dengan recycle gas yang mengandung banyak hidrogen dan campuran
dilewatkan melalui reaktor dengan waktu yang konstan. Reaktor berisi
katalis dehidrogenasi yang mengandung 10 % molybdenum dioxide on
alumina. Gas reaksi melewati heat exchangers (preheating bahan baku) ke
kondesor dan separator gas-liquid. Sebagian besar wet gas dikompresi dan
diresirkulasi ke furnace dan reaktor untuk meningkatkan konsentrasi
hidrogen. Hidrogen cenderung mengurangi pembentukan coke dan dengan
demikian mempertahankan aktivitas katalitik. Sisa gas dan liquid melewati
penyerapan/absorpsi

konvensional

dan

menstabilkan

kolom,

yang

memproduksi bahan bakar gasoline dan hydroformate. Yang terakhir


mengandung sekitar 20% dari toluena dan dapat diresirkulasi melalui
reaktor untuk konversi maksimum mendapatkan dua pass hydroformate
mengandung 38% toluena.
Kondisi operasinya, yaitu :
a) Proses

pembuatan

toluene

pada

industri

yaitu

dengan

proses

hydroforming yang termasuk dehidrogenasi katalitik berlangsung pada


suhu 537,8 576,67 C dan tekanan 150 300 psi.
b) Dengan konversi pembentukan toluena 80 90 %.
c) Katalis yang digunakan adalah 10 % molybdenum dioxide on alumina.
d) Reaktor yang digunakan adalah reactor fixed bed dehydrogenation.

Naphta dan Minyak bahan bakar


Kilang minyak bumi berfungsi untuk mengubah crude oil (minyak
mentah) menjadi produk jadi seperti Liquid Petroleum Gas/LPG, gasoline,
kerosene, diesel, fuel oil, lube base oil, dan coke. Secara umum teknologi
proses kilang minyak bumi dikelompokkan menjadi 3 macam proses, yaitu :
1) Primary Processing
Unit-unit yang dikelompokkan ke dalam primary processing adalah unitunit yang hanya melibatkan peristiwa fisis, yaitu distilasi. Proses distilasi
adalah

proses

pemisahan

komponen-komponen

minyak

bumi

berdasarkan perbedaan titik didihnya. Primary processing terdiri dari


Crude Distillation Unit/CDU dan Vacuum Distillation Unit/VDU.
2) Secondary Processing
Unit-unit yang dikelompokkan ke dalam secondary processing adalah
unit-unit yang melibatkan reaksi kimia. Secondary processing terdiri dari
Hydrotreating

process,

Catalytic

Reforming/Platforming

process,

Hydrocracking process, Fluid Catalytic Cracking/Residual Catalytic


Cracking/Residual Fluid Catalytic Cracking/High Olefine Fluid Catalytic
Cracking, Hydrogen Production Unit/HPU, Delayed Coking Unit/DCU,
dan Visbraking.
3) Recovery Processing
Unit-unit yang dikelompokkan ke dalam recovery processing adalah unitunit yang bertujuan untuk memperoleh kembali minyak yang diproduksi
atau chemical yang digunakan di unit-unit primary dan secondary
processing atau untuk mengolah limbah cair atau gas sebelum dibuang ke
laut atau udara luar/lingkungan sekitar. Recovery processing terdiri dari
Amine unit, Sour Water Stripping Unit, dan Sulphur Recovery Unit.
Crude Distillation Unit (CDU) beroperasi dengan prinsip dasar
pemisahan berdasarkan titik didih komponen penyusunnya. Kolom CDU
memproduksi produk LPG, naphtha, kerosene, dan diesel sebesar 50-60%
volume feed, sedangkan produk lainnya sebesar 40-50% volume feed
berupa atmospheric residue.

Atmospheric residue pada kilang lama, yang tidak memiliki Vacuum


Distillation Unit/VDU, biasanya hanya dijadikan fuel oil yang value-nya
sangat rendah atau dijual ke kilang lain untuk dioleh lebih lanjut di VDU.
Sedangkan pada kilang modern, atmospheric residue dikirim sebagai feed
Vacuum Distillation Unit atau sebagai feed Residuel Catalytic Cracking
(setelah

sebagiannya

di-treating

di

Atmospheric

Residue

Hydro

Demetalization Unit untuk menghilangkan kandungan metal atmospheric


residue).
Crude oil terdiri dari atom carbon dan hydrogen yang bergabung
membentuk molekul hydrocarbon. Berdasarkan struktur molekuler umum,
hydrocarbon dikelompokkan menjadi 4 macam, yaitu paraffin, naphthene,
aromatic, dan olefin.
a) Paraffin
Senyawa paraffin paling simple adalah methane (CH4). Contoh senyawa
parafin lain adalah ethane (C2H6) atau biasa disebut dry gas, propane
(C3H8), butane (C4H10), pentane (C5H12), hexane (C6H14), heptane
(C7H16), octane (C8H18), dan seterusnya. Molekul paraffin mempunyai
formula standard CnHn+2 dengan n adalah jumlah atom carbon.
Penamaan senyawa parafin mempunyai keunikan, yaitu diberi akhiran ane.
b) Naphthene
Struktur hydrocarbon jenis ini lebih kompleks daripada struktur
hydrocarbon jenis paraffine karena atom carbon tersusun dalam suatu
cincin. Contoh struktur hydrocarbon jenis naphthene adalah sebagai
berikut :

Formula umum dari senyawa naphthene adalah CnH2n dengan n adalah


jumlah atom carbon.
c) Aromatic
Senyawa aromatik yang paling sederhana dan yang memiliki boiling
point paling rendah adalah benzene (C6H6). Senyawa ini serupa dengan
senyawa naphthene dalam hal struktur ring namun berbeda dalam hal
jumlah atom hydrogen yang hanya satu yang terikat pada atom carbon
(naphthene memiliki 2 atom hydrogen yang terikat pada atom carbon).

d) Olefin
Olefin sangat jarang ditemukan dalam crude oil karena komponen ini
merupakan produk dekomposisi dari jenis hydrocarbon lainnya.
Konsentrasi olefin terbesar ditemukan dalam produk thermal cracking
dan catalytic cracking.

Seperti pemberian nama pada jenis paraffin, penamaan jenis olefin


mempunyai keunikan. Jika senyawa memiliki 1 ikatan rangkap disebut
dengan akhiran -ene (seperti propene, butene) dan jika senyawa
memiliki 2 ikatan rangkap disebut dengan akhiran -adiene (seperti
butadiene, propadiene).

e) Senyawa Lain
Selain mengandung senyawa-senyawa hydrocarbon seperti tersebut di
atas, crude oil juga mengandung senyawa-senyawa lain dalam jumlah
kecil yang dikelompokkan sebagai impurities, seperti salts/garam,
senyawa sulfur, metal, sand, mineral matter, dan air.
Jenis umpan CDU dapat berupa sour crude atau sweet crude
tergantung

dari

disainnya.

Penggunaan

crude

non-disain

tetap

dimungkinkan namun terlebih dahulu harus dilakukan uji coba pemakaian


untuk mengetahui efeknya terhadap unit-unit dowstream. Tingkat ketajaman
pemisahan ditentukan berdasarkan gap antara 95% temperatur distilasi
ASTM fraksi dengan boiling point lebih rendah dan 5% temperatur distilasi
ASTM fraksi dengan boiling point lebih tinggi. Best practice gap tersebut
adalah sebagai berikut:
a) Straight run naphtha/Kerosene : 20 oF (11 oC).
b) Kerosene/Diesel : 10 oF (5,6 oC).

Gambar 3. Process Flow Diagram CDU

Petroleum Coke
Petroleum Coke atau Kokas merupakan hasil pirolisis dari bahan
organik dengan kandungan karbon yang sangat tinggi yang mana setidaknya
bagian di dalam kokas tersebut telah melewati fase cair atau kristal-cair
selama proses karbonisasi dan terdiri dari karbon non-grafit. Kebanyakan
bahan-bahan pembentuk kokas adalah karbon yang dapat berbentuk grafit.
Struktur mereka adalah campuran dari tekstur optik dengan berbagai ukuran,
dari isotropik optik hingga anisotropi (-200 m diameter) (Bahan Bacaan
OJT CE Meter).
Bila batubara dipirolisis atau di destilasi dengan memanaskannya
tanpa kontak dengan udara, ia akan terkonversi menjadi zat padat, cair, dan
gas. Dalam prakteknya, suhu tanur dijaga diatas 900 C, tetapi bisa juga
berkisar antara 500 C sampai 1000 C. Produk utamanya (menurut
beratnya) adalah kokas. Jika unit itu menggunakan suhu 450 C sampai 700
C, proses tersebut disebut karbonisasi suhu rendah (low-temperature
carbonization), sedangkan pada suhu diatas 900 C, disebut karbonisasi suhu
tinggi (high-temperature carbonization). Kokas merupakan bahan baku
dalam pembuatan anoda karbon yang akan digunakan dalam proses
elektrolisis sebagai kutub positif (Bahan bacaan OJT CE Meter).
Jenis-jenis kokas dapat dijabarkan sebagai berikut :
a) Green Coke adalah hasil karbonisasi padatan yang utama yang dihasilkan
dari pemanasan fraksi karbon pada temperatur dibawah 9000 K (juga
disebut kokas baku).
b) Calcined Coke adalah kokas yang berasal dari minyak bumi atau kokas
dari hasil pengolahan batubara dengan sebuah fraksi massa dari hidrogen
kurang dari 0,1% berat. Kokas jenis ini dihasilkan melalui pemanasan
dari Green Coke hingga suhu kira-kira 1600 K.
c) Petroleum Coke adalah hasil karbonisasi dari fraksi didih karbon yang
terbentuk dalam proses pengolahan minyak bumi
d) Coal Derived Pitch Coke adalah hasil karbonisasi padatan yang paling
utama dalam industri yang dihasilkan dari coal-tar-pitch atau ter (aspal).

e) Metallurgical Coke yang dihasilkan melalui karbonisasi batubara atau


campuran batubara pada temperatur hingga diatas 1400 K untuk
menghasilkan bahan karbon makroporos yang kuat.
f) Delayed Coke adalah bentuk yang paling umum digunakan untuk hasil
karbonisasi utama pada fraksi didih hidrokarbon melalui proses
pemasakan kokas. Delayed Coke memiliki tingkat grafit yang lebih baik
dibandingkan dengan kokas yang dihasilkan dengan proses lain bahkan
dengan bahan dasar yang sama. Hasil utama dari delayed coke ini adalah
sponge coke dan needle coke. Shot coke juga dihasilkan seperti timbunan
bola dengan diameter 1-2 mm, tapi tidak memiliki nilai jual.
g) Sponge Coke memiliki tekstur optik yang tak-terorientasi (tak-terarah)
dan digunakan sebagai pengisi untuk elektroda pada industri aluminium.
h) Needle Coke adalah bentuk umum yang digunakan untuk kokas jenis
khusus dengan tingkat grafit yang tinggi yang dihasilkan dari struktur
mikrokristal yang dimilikinya.
(Harry Marsh, 1989)
Memproduksi kokas dari bahan baku dengan konsentrasi aspal dan
resin yang tinggi akan menghasilkan kokas dengan konsentrasi pengotor
yang tinggi pula seperti sulfur dan vanadium, menjadikan kokas tersebut
tidak sesuai lagi peruntukkannya dalam produksi batangan anoda. Sebuah
bahan baku dengan kandungan molekul aromatik yang tinggi, seperti residu
vakum dengan kira-kira 50% berat karbon aromatik, menghasilkan kokas
yang sesuai untuk elektroda pada proses aluminium. Membuat kokas dari
bahan baku dengan kandungan karbon aromatik yang tinggi akan
menghasilkan sebuah kokas dengan kualitas yang baik, yang dikenal
sebagai needle coke.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar. 2011. Chapter 2011. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/


26508/4/Chapter%20II.pdf. Diakses pada tanggal 23 November 2014.
Alviyanti, Erica. 2013. Metana dan Sifat-sifatnya. http://ericaalviyanti.blogspot.
com/2013/03/metana-dan-sifat-sifatnya.html. Diakses pada tanggal 21
November 2014.
Anonim. Toluene Methods . http://www.sbioinformatics.com/design_thesis/Tolue
ne/Toluene_Methods-2520of-2520Production.pdf. Diakses pada tanggal
23 November 2014.
Cahaya S., Indra. 2005. Dampak Emisi Gas Buang Terhadap Kesehatan dan
Lingkungan. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15321/1/ikmjun2005-%20(7).pdf. Diakses pada tanggal 23 November 2014.
Hadi, W. 2010. Laporan Skripsi Penelitian Membra. http://eprints.undip.ac.id
/16669/3/Laporan_Skripsi_Penelitian_Membran.pdf. Diakses pada tanggal
21 November 2014.
Marga. 2013. Proses Pembuatan LPG di Refinery. https://www.scribd.com/doc/
129727905/Proses-Pembuatan-Lpg-Di-Refinery. Diakses pada tanggal 21
November 2014.
Nugroho, Tri Yulianto. 2014. Toluena. https://www.scribd.com/doc/247923865/
toluena. Diakses pada tanggal 23 November 2014.
Price,E.C and Cheremisinoff,P.N. 1981. Biogas Production and Utilization. Ann
Arbor Science Publishers, Inc .United States of America.
Simandjuntak, A.G. 2013. Pencemaran Udara. http://jurnal.batan.go.id/index.php
/bl/article/view/785/698. Diakses pada tanggal 21 November 2014.
Suwasono, Agus. 2011. Crude Distillation Unit CDU. http://www.agus
suwasono.com/artikel/teknologi/oil-knowledge/480-crude-distillation-unitcdu.html. Diakses pada tanggal 23 November 2014.
Tera, Septer. 2013. Proses Pembuatan Gas LPG. http://terasept.blogspot.com/
2013/04/proses-pembuatan-gas-lpg.html.
November 2014.

Diakses

pada

tanggal

21

2. Sebutkan

dan

berikan

penjelasan

umum

contoh-contoh

produk

petrokimia yang dihasilkan dari bahan baku berikut :


Grup C1
Grup C2
Grup C3
Grup C4C5
Grup Aromatis
Jawab :
Grup C1
1) Tungsten carbide (CW)
Tungsten Carbide (WC) adalah senyawa kimia anorganik yang
mengandung bagian yang sama dari atom tungsten dan karbon. Dalam
bahasa sehari-hari, tungsten karbida ini sering disebut sebagai karbida.
Bentuk dasar dari tungsten carbide ini adalah bubuk abu-abu halus, tetapi
dapat ditekan dan dibentuk menjadi bentuk untuk digunakan dalam mesin
industri, peralatan, abrasive, serta perhiasan. Tungsten Carbide adalah
sekitar tiga kali lebih kaku daripada baja, dengan modulus Young sekitar
550 GPa, dan jauh lebih padat dari baja atau titanium. Hal ini sebanding
dengan korundum (-Al2O3) atau safir dalam kekerasan dan hanya dapat
dipoles dan selesai dengan abrasive kekerasan unggulan seperti silikon
karbida, boron nitrida kubik, dan berlian, antara lain dalam bentuk
bubuk, roda dan senyawa.

Gambar 1. Tungsten carbide

Ada dua senyawa yang terdapat di dalam material tungsten carbide


ini, yaitu pada tungsten dan karbon, WC dan semicarbide tungsten, W2C.

Kedua senyawa dapat hadir dalam pelapis dan proporsi dapat bergantung
pada metode lapisan. WC dapat dibuat dengan reaksi logam tungsten dan
karbon pada 1400-2000 C.
Metode lain termasuk tempat tidur fluida proses dipatenkan yang
bereaksi baik logam tungsten atau biru WO3 dengan CO/CO2 dan H2
campuran antara 900 dan 1200 C. Deposisi uap kimia metode yang
telah diteliti meliputi : tungsten hexachloride dengan hidrogen, sebagai
zat pereduksi , dan metana , sebagai sumber karbon pada 670 C (1238
F).
Reaksi :
WCl6 + H2 + CH4 WC + 6 HCl WCl6 + H2 + CH4 WC + 6 HCl
Reaksi antara heksafluorida tungsten dengan hidrogen, untuk
mengurangi agen dan metanol , sebagai sumber karbon pada 350 C (662
F).
Reaksi :
WF6 + 2 H2 + CH3OH WC + 6 HF + H2O WF6 + 2 H2 + CH3OH
WC + 6 HF + H2O
Tungsten carbide leleh pada suhu tertinggi, 2.870 C (5.200 F),
sangat keras (8,5-9,0 pada skala Mohs, kekerasan Vickers dengan jumlah
= 2242) resistivitas listrik dengan kisaran (~210-7 Ohmm), sebanding
dengan beberapa logam (misalnya, vanadium 210-7 Ohmm). WC
mudah dibasahi oleh lelehan nikel dan kobalt.
2) Carbon disulfide (CS2)
Karbon disulfida sering disebut dengan ditiokarbonik anhidrat,
NCl-C04591, weeviltox, sulfokarbonik anhidrat. Karbon disulfida
merupakan gas yang berasal dari proses penambangan batu bara. Karbon
disulfida memiliki sifat fisik sebagai berikut :
a) Penampakan : tidak berwarna, dalam larutannya berwarna kuning dan
berbau busuk
b) Titik lebur : -112 oC
c) Titik didih : 46 oC

d) Kerapatan : 2,67
e) Tekanan uap : 300 mmHg pada 20 oC
f) Massa jenis : 1,26 gcm-3
g) Titik nyala : -30 oC
h) Daya ledak : 1-50 %

Gambar 2. Carbon disulfide

Carbon disulfide stabil, sangat mudah terbakar. sangat mudah


menguap, titik nyala rendah dan batas ledakan yang sangat luas.
Lindungi dari panas, friksi, goncangan, cahaya matahari. Bereaksi cepat
dengan fluorine, debu seng, dan chlor cair. Karbon disulfida sengangat
bersifat toksik (sangat beracun), apabila masuk lewat kulit dapat
menyebabkan terjadinya iritasi, kerusakan pada alat reproduksi, kematian
pada janin dan mandul. Gejala kronik biasa menyebabkan kerusakan
pada hati.
Dari hasil penelitian doperoleh data toksisitas dari karbon disulfide
adalah sebagai berikut :
a) Dihirup oleh manusia dengan konsentrasi terkecil 4000 ppm/30 menit
akan mengakibatkan kematian.
b) Dihirup oleh mamalia dengan konsentrasi 2000 ppm/5 menit akan
mengakibatkan kematian pada mamalia tersebut.
c) Dimakan oleh tikus dengan dosis 2780-3188 mg/kg merupakan dosis
yang dapat membunuh 50 % tikus.
d) Dihirup oleh tikus dengan dosis 10000 mg/m3 selama 2 jam
merupakan dosis yang dapat membunuh 50 % tikus.

Grup C2
1) Sodium Oxalate (C2Na2O4)
Antikoagulan ini umumnya bersifat toksik dan berbahaya. Sifat
antikoagulan didapat dari adanya oksalat yang merupakan zat penting
untuk mengikat kalsium di dalam darah, yang mana kalsium merupakan
faktor pembekuan darah, sehingga darah tidak membeku. Ada 3 macam
oksalat yang digunakan sebagai antikoagulan, yaitu ammonium oksalat,
natrium oksalat, dan kalium oksalat. Kombinasi seimbang antara
ammonium oksalat dan kalium oksalat (perbandingan 3:2) dapat
digunakan sebagai antikoagulan yang dikenal sebagi antikoagulan double
oxalate menurut Paul dan Heller.
Sodium

oxalate

atau

natrium

oksalat

dengan

rumus

molekul C2Na2O4 merupakan antikoagulan yang bekerja dengan cara


mengikat

kalsium sehingga

membentuk

kalsium

oksalat

yang

mengendap. Nama lain dari natrium oksalat adalah oxalic acid sodium
salt dengan berat molekul 134 g/mol, berbentuk bubuk putih, dan larut
dalam air. Zat ini berbahaya apabila tertelan atau mengenai kulit. Oleh
karena itu penggunaannya harus berhati-hati jangan sampai terkena mata,
kulit, atau pakaian. Penggunaannya 1 bagian oksalat +9 bagian darah.
Biasanya digunakan untuk pembuatan adsorb plasma dalam pemeriksaan
hemostasis. Digunakan juga dalam bentuk larutan dari 0,1 N untuk
pemeriksaan Plasma Protrombin Time (PPT) dengan perbandingan 9
bagian darah ditambah 1 bagian natrium oksalat.

Gambar 3. Sodium oxalate

2) Sodium Cyanide (C2N2Na2)


Cyanide adalah di antara bahan kimia yang paling berbahaya di
dunia, yang berwujud dalam berbagai bentuk. Sianida merupakan salah
satu racun yang sangat mematikan, karena zat ini mengacaukan sel dalam
menerima oksigen didalam tubuh. Racun sianida ini dapat berbentuk gas
seperti hydrogen cyanide (HCN) dan cyanogen chloride (CNCl) atau
dalam bentuk kristal seperti sodium cyanide (C2N2Na2/NaCN) dan
potassium cyanide (KCN).
C2N2Na2 adalah salah satu componen anorganic, dia memiliki
afinitas yang sangat tinggi terhadap logam, aplikasi utamanya adalah
untuk pertambangan emas, Aplikasi lainnya adalah untuk electroplating.
Sodium Cyanide adalah bahan kimia pelarut logam emas dan perak yang
efektif. Bekerja pada pH 10-11 dengan kontak waktu maksimal 72 jam
dan oksigen terlarut 7 ppm. Selain untuk pengolahan logam, Cyanide
juga dipakai untuk bahan baku membuat pestisida dan membersihkan
bakteri di tambak udang.
Pengolahan emas dengan cara sianidasi leaching. Sianida leaching
adalah proses pelarutan selektif oleh sianida dimana hanya logam-logam
tertentu yang dapat larut, misalnya Au, Ag, Cu, Zn, Cd, Co dan lain-lain.
Ekstraksi emas dengan menggunakan leaching sianida ditemukan
pertama kali oleh J. S. Mac Arthur di Glasgow, Scotland tahun 1887, dan
sekarang telah dipakai sebagian besar produksi emas dunia. Walau
sesungguhnya banyak lixiviants (leaching agent) lainnya yang dapat
digunakan, antara lain bromides (acid and alkaline), chlorides
thiourrea/thiocarbamide (CH4N2S), thiosulphate (Na2S2O3), dan iodiumiodida.
Proses sianidasi terdiri dari dua tahap penting, yaitu proses
pelarutan / pelindian (leaching) dan proses pemisahan emas (recovery)
dari larutan kaya. Pelarut yang biasa digunakan dalam proses cyanidasi
adalah sodium cyanide C2N2Na2/NaCN), potassium cyanide (KCN),
calcium cyanide (Ca(CN)2), atau ammonium cyanide (NH4CN). Pelarut

yang paling sering digunakan adalah C2N2Na2, karena mampu


melarutkan emas lebih baik dari pelarut lainnya.

Gambar 4. Sodium cyanide

Grup C3
1) Dimercaprol (C3H8OS2)
Chemical Antagonism atau Inaktifasi adalah satu reaksi diantara
dua zat kimia untuk menghasilkan satu produk yang kurang toksis.
Sebagai contoh, Dimercaprol (BAL) membuat senyawa chelat dengan
bermacam-macam logam seperti As, Hg, dan Pb yang menurunkan
keracunan mereka. Penggunaan-penggunaan antitoksin-antitoksin untuk
mengatasi bermacam-macam toksin merupakan contoh lain dari chemical
antagonism.

Gambar 5. Dimercaprol

Dimercaprol adalah salah satu senyawa organik yang bisa


digunakan sebagai khelator atau agen khelasi, dengan suatu ion logam
membentuk suatu komplek metal yang disebut khelat. Tipe ikatan yan
terbentuk dapat berupa ikatan kovalen atau ikatan kovalen koordinasi.
Khelasi merupakan suatu proses reversible pembentukan ikatan dari
suatu ligan, yang disebut khelator atau agen khelasi.
Dimercaprol merupakan salah satu zat pengkelat dapat digunakan
untuk menetralkan kandungan arsen didalam tubuh. Efek yang dihasilkan
akibat adanya arsen dalam tubuh antara lain adalah rambut rontok,

dermatitis, diare, radang hati dan ginjal, gangguan sel darah putih dan
darah merah, pusing dan sakit kepala. Akan tetapi zat ini harus diberikan
dalam jangka waktu 24 jam setelah terkontaminasi.
2) Isopropyl alcohol (C3H8O)
Isopropil alkohol adalah nama populer dari senyawa kimia dengan
rumus molekul C3H8O atau C3H7OH. Senyawa ini merupakan senyawa
tak berwarna, mudah terbakar dengan bau menyengat. Senyawa ini
merupakan alkohol sekunder yang paling sederhana, dimana atom karbon
yang mengikat gugus alkohol juga mengikat 2 atom karbon lain
(CH3)2CHOH. Merupakan isomer struktur dari 1-propanol.
Isopropyl alcohol adalah suatu zat yang biasa digunakan sebagai
pelarut pada beberapa produk untuk perawatan kulit. Zat ini bisa dibilang
cukup membahayakan karena dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan
bisa merusak lapisan asam kulit sehingga bakteri bisa dengan mudahnya
tumbuh dan berkembang karena Isopropyl alcohol digolongkan sebagai
bahan karsinogenik, yang merupakan bahan yang dapat memicu kanker.
Isopropyl alcohol banyak dipakai oleh banyak perusahaan karena
harganya relatif murah. Penelitian membuktikan bahwa Isopropyl
alcohol yang dikonsumsi dalam jangka waktu yang singkat akan
mengakibatkan kulit yang mengering, iritasi, hingga menimbulkan
peradangan. Bahkan alkohol juga memicu munculnya jerawat lebih
banyak karena Isopropyl alcohol dapat memproduksi minyak berlebih.

Gambar 6. Isopropyl alcohol

Grup C4C5
1) Diethanol amine (C4H11NO2)
Dietanolamin, sering disingkat sebagai DEA, adalah senyawa
organik dengan rumus HN(CH2CH2OH)2. Merupakan cairan tak
berwarna polifungsional, menjadi amina sekunder dan diol. Seperti
amina organik lainnya, dietanolamin bertindak sebagai basa lemah.
Diethanolamine adalah racun yang digunakan dengan DEA
cocamide dan DEA lauraminade, sebagai pengemulsi dan pembuat busa
dalam banyak produk perawatan pribadi, seperti shampo, krim cukur,
body lotion, dan baby soap. Sehingga tidak dianjurkan untuk membeli
atau mengkonsumsi barang kosmetik yang mengandung bahan tersebut
karena berbahaya bagi tubuh. Zat DEA ini banyak ditemukan pada
shampshampo dan perawatan rambut lainnya yang banyak beredar di
pasaran.

DEA

atau

bahan

yang

biasa

disebut

juga

dengan

Diethanolamine ini dianggap sebagai bahan yang bisa menghilangkan


ketombe dan obat anti gatal pada rambut.
Selain itu, kerugian lain yang dapat ditimbulkan oleh bahan
tersebut adalah adalah bisa meghilangkan hormon. Zat penghancur
hormon yang terkandung atau yang dimilikinya dapat memberikan efek
samping yang negatif pada tubuh anda apabila anda mengkonsumsinya.
Ditambah lagi juga dapat menghancurkan kandungan vitamin yang ada
didalam tubuh anda. Oleh karena itu, segeralah untuk menghindari
kosmetik yang mengandung DEA ini karena mengingat efek negatifnya
yang lebih menonjol dibanding sisi efek positifnya.

Gambar 7. Diethanolamine

DEA digunakan sebagai surfaktan dan inhibitor korosi. Hal ini


digunakanuntuk menghilangkan sulfid dan hidrogen karbon dioksida
dari gas alam. DEA dalam larutan air biasanya digunakan untuk
menghilangkan hidrogen sulfida dari berbagai proses gas. Ini memiliki
keunggulan lebih dari etanolamin yang samadalam konsentrasi yang
lebih tinggi dapat digunakan untuk korosi yang sama potensial
2) Xylitol (C5H12O5)
Xylitol adalah senyawa kimia organik yang digunakan sebagai
pemanis

buatan

pengganti

gula.

Rumus

kimia

xylitol

adalah

(CHOH)3(CH2OH)2. Gula alkohol ini dapat dijumpai secara alami pada


berbagai buah dan sayuran, seperti bermacam jenis buah beri, oat, sekam
jagung, dan jamur. Senyawa ini dapat juga diperoleh melalui ekstraksi
serat jagung, pohon birch, raspberry, plum, dan jagung.
Pertama kali, xylitol diperoleh dari tanaman birch di Finlandia
pada abad ke-20 dan diperkenalkan ke Eropa sebagai pemanis yang aman
untuk penderita diabetes. Satu sendok teh xylitol mengandung 9,6 kalori.
Sebagai pembanding, dalam satu sendok teh gula terkandung 15 kalori.
Kadar gula darah tidak banyak dipengaruhi oleh xylitol, sehingga
menyebabkan

pemanis

ini

aman

untuk

penderita

diabetes

dan

hiperglikemia.
Xylitol memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan, seperti
kemampuan untuk mengontrol kadar glukosa dan insulin dalam tubuh,
mengelola diabetes, mengurangi pertumbuhan bakteri, meningkatkan
kesehatan gusi dan gigi, mencegah makan berlebihan, membantu upaya
penurunan berat badan, melawan virus berbahaya, menyembuhkan infeksi
telinga, sinus, tulang yang kuat, memperkuat sistem kekebalan tubuh,
mengurangi bisul, mencegah bau mulut, dan bahkan mengurangi resiko
kanker usus.
Saat ini xylitol banyak dimanfaatkan untuk memberi rasa manis
pada berbagai merk permen karet di seluruh dunia. Selain digunakan
sebagai pemanis, xylitol ternyata memiliki berbagai manfaat kesehatan.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa xylitol tidak menyebabkan


kerusakan gigi. Penelitian lain di Finlandia menyimpulkan bahwa xylitol
mampu meningkatkan kepadatan tulang, sehingga dapat digunakan untuk
melawan osteoporosis.
Infeksi telinga (otitis media akut) dapat dicegah dengan
mengunyah permen karet yang diberi pemanis xylitol. Hal ini disebabkan
karena xylitol menghambat pertumbuhan bakteri di tuba Eustachio, yang
menghubungkan hidung dengan telinga. Xylitol diketahui meningkatkan
aktifitas neutrofil, yakni sel darah putih yang berguna untuk melawan
berbagai infeksi. Selain itu, infeksi oral jamur Candida juga mampu
dicegah oleh xylitol.
Xylitol tidak hanya aman bagi wanita yang sedang hamil, namun
juga terbukti mampu menurunkan 80% kemungkinan penularan bakteri
Streptococcus mutans yang merusak gigi dari ibu ke bayi. Xylitol aman
digunakan namun dapat menyebabkan mencret, hal ini karena gula alkohol
tidak diuraikan secara sempurna selama proses pencernaan. Jadi
gunakanlah xylitol sesuai kebutuhan saja.

Gambar 8. Xylitol

Grup Aromatis
1) Molybdenum hexacarbonyl (C6MoO6)
Molybdenum adalah salah satu logam pertama yang ditemukan
oleh para ahli kimia modern. Ditemukan pada tahun 1778 oleh kimiawan
Swedia Carl Wilhelm Scheele. Molybdenum adalah logam transisi,
sehingga menempatkannya di tengah-tengah tabel periodik, dengan

nomor atom 42. Molybdenum tidak larut dalam reagen kimia yang paling
umum. Reagen kimia adalah suatu zat yang digunakan untuk
mempelajari bahan-bahan lain, seperti asam atau alkali. Sebagai contoh,
molybdenum tidak larut dalam asam klorida, asam fluorida, amonia,
sodium hidroksida, atau asam sulfat encer.
Molibdenum hexacarbonyl (juga disebut molibdenum karbonil)
adalah senyawa kimia dengan rumus Mo(CO)6. Senyawa ini berbentuk
padat berwarna, seperti kromium dan tungsten analog, dicatat sebagai
volatile, turunan udara stabil dari logam dalam keadaan oksidasi nol.
Mo(CO)6 mengadopsi geometri oktahedral yang terdiri dari enam batang
seperti CO ligan memancar dari pusat Mo atom. Sebuah perdebatan kecil
yang berulang di beberapa kalangan kimia menyangkut definisi "
organologam" majemuk. Biasanya, organologam menunjukkan adanya
logam langsung terikat melalui ikatan MC untuk sebuah fragmen
organik, yang pada gilirannya harus memiliki ikatan CH. Dengan definisi
ini ketat, Mo(CO)6 tidak organologam.
Molibdenum hexacarbonyl secara luas digunakan dalam teknik
balok deposisi-induced elektron. Senyawa ini mudah menguap dan
terurai oleh sinar elektron menyediakan sumber atom molibdenum
Mo(CO)6 juga merupakan reagen populer dalam sintesis organologam
karena satu atau lebih ligan CO dapat digantikan oleh ligan donor
lainnya. Sebagai contoh, Mo(CO)6 bereaksi dengan 2,2 '-bipiridin untuk
mengambil Mo(CO)4. UV fotolisis dari THF larutan Mo(CO)6
memberikan Mo(CO)5 (THF). Banyak karbonil logam sama fotoactivatable.

Gambar 9. Molibdenum hexacarbonyl

2) Triethylenetetramine (C6H18N4)
Epoksi atau epoksida adalah sebuah polimer thermoset yang
terbentuk dari hasil reaksi epoksi (resin) dan polyamine (pengeras/katalis).
Epoksi merupakan sebuah copolymer, yang berarti dibentuk dari dua
komponen kimia yang berbeda. Satu komponen (biasa disebut resin atau
epoksi) merujuk pada komponen yang terdiri dari monomer atau polimer
rantai pendek dengan gugus epoksi pada ujung-ujungnya.
Pada umunya resin atau epoksi diproduksi dari reaksi antara
epichlorohydrin dan bisphenol-A. Struktur dari resin polimer epoksi yang
tidak termodifikasi ditunjukan oleh Gambar 10.1. Pengeras atau umum
disebut katalis pada dasarnya adalah monomer polyamine seperti
triethylenetetramine (TETA) atau m-phenylenediamine.

Gambar 10.1. Struktur epoksi

Struktur TETA yang ditunjukan oleh Gambar 10.2 menunjukan


gugus amin yang akan bereaksi dengan gugus epoksi dari resin epoksi.
Istilah katalis yang sering digunakan tidak berarti bahwa komponen
pengeras ini membantu reaksi yang terjadi sebagai katalis, karena
sebenarnya merupakan reaktan dalam reaksi kopolimerisasi. Saat kedua
bahan dicampurkan grup amine akan bereaksi dengan gugus epoksi,
membuat polimer yang saling terkait dengan baik. Fenomena ini
menyebabkan resin epoksi memiliki sifat fisik rigid dan kuat atau sering
disebut dengan proses curing. Struktur molekul resin epoksi ditunjukan
oleh Gambar 10.3.

Gambar 10.2. Struktur TETA (triethylenetetramine)

Gambar 10.3. Skema pembentukan crosslinking DGBA oleh TETA


(triethylenetetramine)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Xylitol. http://www.apoteker.info/Topik%20Khusus/xylitol.htm. Diakses


pada tanggal 24 November 2014.
Anonim. Sodium Cyanide. http://www.swewe.net/word_show.htm/?66224_1&
Sodium_cyanide. Diakses pada tanggal 24 November 2014.
Anonim. 2013. Antikoagulan Oksalat. http://analismuslim.blogspot.com/2013/06/
antikoagulan-oksalat.html. Diakses pada tanggal 24 November 2014.
Anonim. 2013. Apakah Zat DEA Diethanolamine Berbahaya. http://www.
kosmetikberbahaya.com/apakah-zat-dea-diethanolamine-berbahaya.html.
Diakses pada tanggal 24 November 2014.
Anonim. 2013. Isopropyl Alkohol. http://id.wikipedia.org/wiki/Isopropil_alkohol.
Diakses pada tanggal 24 November 2014.
Anonim. 2013. Isopropyl Alcohol Dapat Membuat Iritasi Kulit. http://www.
kosmetikberbahaya.com/isopropyl-alcohol-dapat-membuat-iritasi-kulit.
html. Diakses pada tanggal 24 November 2014.
Anonim. 2013. Manfaat Menggunakan Gula Xylitol bagi Kesehatan. http://www.
carakhasiatmanfaat.com/artikel/manfaat-menggunakan-gula-xylitol-bagikesehatan.html. Diakses pada tanggal 24 November 2014.
Damayuda. 2010. Karbon Disulfida (CS2). http://damayuda.blogspot.com/2010/12
/karbon-disulfida-cs2.html. Diakses pada tanggal 24 November 2014.
Mansyur. 2013. Kedokteran. http://repository.usu.ac.id/bitstream/1234567
89/3538/1/kedokteran-mansyur13.pdf. Diakses pada tanggal 24 November
2014.
Harip, Widya. 2013. BAB I. https://www.scribd.com/doc/136913721/BAB-I.
Diakses pada tanggal 24 November 2014.
Hidayat, Arif Nur. Khelasi (Chelation). http://arifnurh.weebly.com/sains.html.
Diakses pada tanggal 24 November 2014.
Noviani, Atma dan Kadriani. 2013. Molibdenum. http://www.scribd.com/doc/
168997768/MOLIBDENUM#download.
November 2014.

Diakses

pada

tanggal

24

Nurfansyah. 2011. Tungsten Carbide. http://webdiverg3.blogspot.com/2011/08/


tungsten-carbide.html. Diakses pada tanggal 24 November 2014.
Riani, Anastasia. Dkk. 2006. Draft Proposal Penelitian. http://old.analytical.chem
.itb.ac.id/coursesdata/37/moddata/assignment/5/945/T05_K04_DraftPropo
sal_PenelitianVer04.pdf. Diakses pada tanggal 24 November 2014.
Siswanto. 2012. Pengolaan Emas. http://siswanto5104.blogspot.com/2012/06/pen
golahan-emas-dengan-cara.html. Diakses pada tanggal 24 November
2014.
Wibisono, Haryo. 2012. Skripsi Pengaruh Penambahan Carbon Nanotube. http://
lib.ui.ac.id/file?file=digital/20301361-S42019-Haryo%20Wibisono.pdf.
Diakses pada tanggal 24 November 2014.