Anda di halaman 1dari 8

Marsud Hamid, Hubungan Antara Target Pencapaian Kurikulum Terhadap Kemampuan

HUBUNGAN ANTARA TARGET PENCAPAIAN KURIKULUM TERHADAP


KEMAMPUAN PRAKTEK INSTALASI LISTRIK
SISWA SMK SWASTA DI MAKASSAR
Marsud Hamid

Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik UNM

e-mail : marsud_hamid@elektrounm.com
Abstrak
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif bersifat asosiatif. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara target
pencapaian kurikulum terhadap kemampuan praktek instalasi listrik Siswa
SMK swasta Makassar. Populasi sekaligus sampel dalam penelitian ini adalah
siswa jurusan listrik kelas 3 yang telah mengikuti mata pelajaran instalasi listrik
berjumlah 33 oarang. Terdiri atas 17 orang siswa SMK Kartika Wirabuana 1 dan
16 orang siswa SMK Nasional. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa
secara umum target pencapaian kurikulum jurusan listrik pada SMK Kartika
Wirabuana 1 dan SMK Nasional tergolong tinggi yaitu untuk SMK Kartika
Wirabuana sebesar 94,66% dan untuk SMK Nasional sebesar 94,97%, sementara
untuk kemampuan praktek instalasi listrik tergolong sedang yaitu: 1) SMK
Kartika Wirabuana 1 sebesar 52,94% (9 orang dari 17 siswa), dan 2) SMK
Nasional sebesar 62,25% (10 orang dari 16 siswa). Selanjutnya hasil analisis
inferensial menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
TARGET pencapaian kurikulum terhadap kemampuan praktek instalasi listrik
siswa SMK Kartika Wirabuana dan SMK Nasional dengan koefisien
determinasi sebesar 45,6% (koefisien korelasi product moment sebesar 0,456) dan
untuk SMK Kartika Wirabuana 1 sebesar 63,94% (koefisien korelasi product
moment sebesar 0,6394), sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak
dilibatkan dalam penelitian ini.
Kata Kunci : Target pencapaian kurikulum, Kemampuan praktek, Instalasi listrik

Kenyataan dewasa ini menujukkan


bahwa dengan semakin meningkatnya laju
moderenisasi dan globalisasi yang terus
dipicu
oleh
perkembanagan
ilmu
pengetahuan dan teknologi yang begitu
cepat, telah mengakibatkan timbulnya
perubahan hampir di segala bidang
pembangunan. Perubahan ini menjadikan
perilaku masyarakat dalam memahami dan
menganalisa semakin peka dan semakin
mudah menerima hal-hal yang baru
sehingga program pembangunan yang
sedang digalakkan, khususnya yang
menyangkut bidang pendidikan dan
teknologi dapat dicapai sesuai harapan.

Untuk
mewujudkan
tujuan
pembangunan nasional sangat dibutuhkan
tenaga-tenaga terampil sebagai motor
penggerak
dalam
menunjang
dan
mempercepat lajunya proses pembangunan
itu. Hal ini tentu tidak terlepas dari peran
dan konstribusi dunia pendidikan yang
merupakan
rangkaian
proses
pemberdayaan potensi dan kompetensi
individu untuk menjadi manusia yang
berkualitas dan berlangsung sepanjang
hayat. Proses ini dilakukan tidak sekadar
untuk mempersiapkan peserta didik agar
dapat
menggali,
menemukan,
dan
menempa potensi yang dimiliki tapi juga

Jurnal MEDTEK, Volume 1, Nomor 1, April 2009

untuk mengembangkannya dengan tanpa


menghilangkan
karakteristik
masingmasing. Untuk itu, sistem pendidikan
bangsa harus dirancang sedemikian rupa
sehingga kualitas sumber daya manusia
(SDM) yang dihasilkan sesuai dengan apa
yang menjadi tujuan pendidikan itu sendiri.
Sebagaimana yang diamanatkan dalam
Undang-Undang Nomor 20 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional pasal 3 yang
menyatakan bahwa pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermanfaat dalam rangka
mencerdaskan
kehidupan
bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Sekolah
Menengah
Kejuruan
Kelompok Teknologi dan Industri (SMKKTI)
merupakan
salah
satu
jalur
pendididkan formal di tingkat menengah
yang mempunyai misi menghasilkan
tenaga kerja tingkat menengah, yang
dibekali dengan kompetensi produktif,
normatif, dan afektif. Hal ini tersirat di
dalam
Garis-garis
Besar
Program
Pengajaran oleh Depdikbud (1999:1) bahwa
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK),
sebagai bagian dari pendidikan menengah,
bertujuan
menyiapkan
siswa
atau
tamatannya untuk; (a) Memasuki lapangan
kerja serta dapat mengembangkan sikap
profesional. (b) Mampu memilih karir,
mempunyai kompetensi, dan mampu
mengembangkan diri. (c) Menjadi tenaga
kerja tingkat menengah untuk mengisi
kebutuhan usaha dan industri pada saat ini
maupun di masa yang akan datang. (d)
Menjadi warga yang produktif, adaptif, dan
kreatif.
Untuk mencapai tersebut di atas,
Prof.
DR.
Dedi
Supriadi
(2004)
mengemukakan beberapa hal yang perlu
dilakukan, yaitu: Pertama, bidang-bidang
keahlian yang dibuka dan kurikulum yang
disiapkan
semestinya
benar-benar

didasarkan pada kebutuhan masyarakat,


dunia usaha/industri, dan peserta didik.
Karena itu, asesmen kebutuhan secara
berkelanjutan perlu dilakukan yang
kemudian tercermin dalam fleksibilitas
program-programnya. Kedua, relevansi
bukan hanya dalam bidang-bidang atau
program-program keahliannya, melainkan
tingkatan mutunya yang mesti sesuai
dengan tuntutan yang terus berkembang
dalam masyarakat. Ketiga, keahlian
kejuruan yang dimiliki harus mampu
dikembangkan lebih lanjut, dan karena itu
penguasaan yang memadai dalam bidangbidang keilmuan dasar mutlak diperlukan.
Keempat, dituntut untuk memberikan
konstribusi yang nyata dengan menjadikan
dirinya sebagai pusat pelatihan keahlian
kejuruan bagi remaja putus sekolah dan
calon tenaga kerja lainnya.
Berdasarkan data yang diperoleh
pada Kantor Dinas Pendidikan Kota
Makassar bahwa dari 73 SMK swasta yang
ada di Kota Makassar, terdapat 17 SMKKTI (Kelompok Teknologi dan Industri)
yang membuka jurusan atau bidang
keahlian Teknik Listrik dan 10 diantaranya
membuka program keahlian Listrik
Instalasi, Listrik Industri, dan Pemanfaatan
Tenaga Listrik.
Sebagai sekolah teknik, intensitas
penggunaan laboratorium mencapai 60%
dalam proses belajar mengajar. Dengan
intensitas seperti ini, maka sangat wajar
jika kecakapan alumni sangat tergantung
dari keberadaan sarana ini. Rusyadi dalam
Sri Rezeki Amir (1997) mengatakan lulusan
STM
masih
kesulitan
mendapatkan
pekerjaan
yang
relevan,
karena
keterampilan yang mereka miliki belum
sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh
perusahaan atau industri.
Berdasarkan latar belakang masalah
di atas, maka masalah dalam penelitian ini
adalah apakah ada hubungan antara target
pencapaian
kurikulum
terhadap
kemampuan praktek instalasi listrik siswa
SMK-KTI Swasta di Makassar?.

Kurikulum
Kurikulum mempunyai makna yang

Marsud Hamid, Hubungan Antara Target Pencapaian Kurikulum Terhadap Kemampuan

cukup luas, mencakup semua pengalaman


yang
dilakukan
siswa,
dirancang,
diarahkan, diberikan bimbingan, dan
dipertanggung jawabkan oleh sekolah.
Dalam pengertian ini kurikulum mencakup
kegiatan
belajar
dalam
kelas,
di
laboratorium, di perpustakaan, di lapangan
olah raga, di rumah, bahkan di kebun atau
di pasar yang terkait dengan tugas sekolah.
Kurikulum dalam berbagai jenis dan
jenjang
pendidikan
menekankan
pentingnya kemampuan dan kegemaran
membaca
serta
menulis,
kecakapan
berhitung, dan kecakapan berkomunikasi.
Dari
uraian
di
atas,
dapat
disimpulkan bahwa kurikulum adalah
seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, kompetensi dasar, materi
standar, dan hasil belajar, serta cara yang
digunakan
sebagai
pedomen
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai kompetensi dasar dan
tujuan pendidikan.
Untuk
menjamin
mutu
hasil
pendidikan, desain dan implementasi
kurukulum selalu di evaluasi dan
disempurnakan.
Evaluasi
dan
penyempurnaan kurikulum ini dilakukan
secara menyeluruh, atau pada bagianbagian tertentu, secara berkala atau
insidentil, secara serempak melibatkan
semua guru atau dikerjakan oleh tiap-tiap
guru.
Kaidah-kaidah yang harus diikuti
dalam penyusunan kurikulum antara lain
sebagai berikut : 1) Kurikulum harus berisi
rancangan pendidikan dan pelatihan yang
menyeluruh dan terpadu; 2) Kurikulum
harus mengandung kompoen tujuan, isi
atau materi dan evaluasi yang dirancang
menjadi satu kesatuan
yang utuh; 3)
Kurikulum secara jelas menunjukkan
tujuan langsung (tersurat) dan tujuan tidak
langsung (tersirat).
Kompetensi/Kemampuan
Kemampuan merupakan daya untuk
melakukan suatu tindakan sebagai hasil
dari pembawaan dan latihan (Seniawan,
1992). Di dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2001), kemampuan diartikan

sebagai kesanggupan; kecakapan; kekuatan


kita berusaha dengan diri sendiri.
Sementara itu Rumini, dkk (1986),
menyatakan bahwa kemampuan adalah
kesanggupan untuk mengerjakan sesuatu
terutama untuk mengerjakan dalam waktu
sekarang.
Berdasarkan uraian di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa kompetensi/
kemampuan merupakan suatu kualifikasi
dari diri seseorang yang berupa kecakapan
dan potensi yang dimiliki sejak lahir untuk
memberikan kemudahan-kemudahan guna
menguasai
suatu
keahlian
dan
kesanggupan dalam mengerjakan suatu
pekerjaan tertentu.
Slameto (1995), menyatakan bahwa
terdapat 5 macam kemampuan manusia
yang merupakan hasil dari belajar yaitu; (1)
kecakapan intelektual, (2) strategi kognitif,
(3) informasi verbal, (4) keterampilan, dan
(5) sikap. Selanjutnya menurut Anoraga
dalam Faridh (2008) bahwa untuk
mewujudkan kemampuan yang sesuai
dengan kebutuhan lapangan kerja, ada 3
hal yang perlu diketahui yaitu; tugas-tugas
yang dikerjakan di lapangan; kemampuan
yang diperlukan untuk masing-masing
tugas tersebut; dan banyaknya frekuensi
kemampuan tersebut dilakukan pada
masing-masing tugas. Sehingga dapat
dikatakan bahwa kemampuan merupakan
faktor yang penting bagi seorang individu
sebagai
salah
satu
sumber
daya
pembangunan
dan
sebagai
kunci
keberhasilan individu tersebut.
Ada banyak faktor yang berpotensi
untuk dapat mempengaruhi kemampuan
seorang individu. Bayley dalam Slameto
(1995) menemukan beberapa faktor yang
mempengaruhi
kemampuan
seorang
individu yaitu: (1) faktor keturunan, (2)
faktor latar belakang sosial ekonomi, (3)
faktor lingkungan hidup, (4) faktor kondisi
fisik, dan (5) faktor iklim emosi. Kelima
faktor ini memiliki peranan yang besar
dalam pencapaian tingkat kemampuan
siswa yang maksimal. Di sinilah peran
seorang tenaga pendidik untuk dapat
memanipulasi kelima faktor ini ke arah
yang lebih positif, agar nantinya siswa

Jurnal MEDTEK, Volume 1, Nomor 1, April 2009

Dalam
ilmu
listrik,
praktek
didefinisikan sebagai pekerjaan dengan
menggunakan alat-alat kelistrikan yang
merupakan latihan untuk keperluan
tertentu, misalnya saja bagaimana cara-cara
pemasangan komponen listrik yang baik,
cara penyambungan kabel yang benar dan
sebagainya.
Praktek adalah suatu kegiatan yang
menghasilkan
suatu
produk
atau
penguasaan ilmu yang dilaksanakan di
dalam laboraturium dan mengacu pada
materi atau pokok bahasan yang telah
diberikan
(www.yai.ac.id/aa/peraturan
akademik). Sedangkan dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia disebutkan bahwa
praktek berarti; 1) Pelaksanaan secara nyata
apa yang disebut dalam teori, 2)
Pelaksanaan pekerjaan, 3) Perbuatan
melakukan teori (kenyataan).
Praktek menurut Zainuddin (2001),
berarti strategi pengajaran atau bentuk
pelajaran
yang
digunakan
untuk
membelajarkan
secara
bersama-sama
kemampuan psikomotorik (keterampilan),
kognitif (pengetahuan), dan afektif (sikap)
menggunakan sarana laboratorium.
Melaksanakan praktek di bengkel/
laboratorium
merupakan salah satu
perwujudan untuk mengembangkan sikap
dan metode ilmiah yang dimiliki oleh
peserta didik. Oleh karena itu, kegiatan
praktek tidak lepas dari proses belajar
mengajar mata pelajaran praktek pada
khususnya dan elektro pada umumnya,
baik secara teori maupun praktek. Melalui
kegiatan ini siswa dapat memperoleh
berbagai pe ngalaman dan selanjutnya
akan mendorong siswa untuk lebih
memotivasi
dirinya
untuk
lebih
berkembang dalam rangka peningkatan
ilmu pengetahuan dan keterampilan yang
dimilikinya.

deskriptif yang bersifat asosiatif


yang
dilaksanakan di SMK Kartika Wirabuana 1
dan SMK Handayani Makassar pada bulan
Juni 2008 sampai Juli 2008.
Populasi dan sampel dalam penelitian
adalah seluruh siswa kelas III Jurusan
Teknik Instalasi Listrik SMK Kartika
Wirabuana 1 dan SMK Handayani
Makassar yang berjumlah 33 orang siswa.
Data
dalam
penelitian
ini
dikumpulkan melalui observasi pada saat
siswa melakukan praktikum. Instrumen
yang digunakan untuk mengumpulkan
data dari para siswa adalah lembaran
observasi dan dokumentasi yang telah
dibuat sebelumnya.
Analisis data dilakukan dengan
menggunakan teknik analisis statistik
deskriptif dan kolerasi pearson product
moment (PPM) yang akan memberikan
gambaran tentang karakteristik dari
responden
dan
hubungan
tingkat
pencapaian
kurikulum
terhadap
kemampuan praktek instalasi listrik siswa,
yang disajikan dalam bentuk nilai rata-rata
(mean), titik tengah (median), nilai yang
sering muncul (modus), simpangan baku
(standar deviasi), tingkat penyebaran data
(variance), rentangan (range), dan nilai
minimum dan maksimum.
Untuk memberikan gambaran yang
jelas terhadap kemampuan siswa dalam
melaksanakan praktek instalasi listrik serta
melihat persentase pencapaian dari masingmasing kriteria penilaian, maka disusunlah
pengkategorian penilaian, yang akan
dijabarkan
dalam
bentuk
distribusi
frekuensi.
Distribusi frekuensi di buat dengan
cara membuat interval yang disusun
berdasarkan nilai rata-rata (Mean) dan
simpangan baku (SD) dari tiap-tiap kriteria.
Interval yang dimaksud diisusun dalam
empat kategori, yakni :
(M + 1,5 . SD ) ke atas = sangat baik
M sampai dengan (M + 1,5.SD) = baik
(M - 1,5 . SD) sampai M = sedang
(M - 1,5 . SD) ke bawah = rendah

METODOLOGI

HASIL DAN PEMBAHASAN

dapat mencapai hasil yang maksimal dari


sebuah proses pembelajaran baik itu dari
sisi teori maupun dari sisi praktek.

Praktek Instalasi Listrik

Penelitian ini merupakan penelitian

Pada bagian ini akan di sajikan hasil

Marsud Hamid, Hubungan Antara Target Pencapaian Kurikulum Terhadap Kemampuan

analisis data berdasarkan hasil penelitian


yang telah dilakukan. Ada dua macam hasil
analisis data yang akan disajikan yaitu hasil
analisis yang statistik deskriptif dan hasil
analisis yang menggunakan statistik
inferensial. Hasil anlisis deskriptif meliputi
nilai rata-rata (mean), Median (Me) dan
Standar Deviasi (SD) sedangkan statistik
inferensial meliputi Koefisien Korelasi (R),
Koefisien Determinasi (R2).
1. Target Pencapaian kurikulum
a. Target pencapaian kurikulum di SMK
Kartika Wirabuana 1
Data yang diperoleh menunjukkan
bahwa jumlah skor sebesar 775, banyaknya
responden yaitu 17 orang, dan skor
tertinggi sebesar 4 (skor tertinggi setiap
item) x 12 (jumlah item) x 17 (jumlah
responden) = 816. Dengan demikian target
pencapaian kurikulum SMK Kartika
Wirabuanan 1 menurut 17 responden yaitu
775 : 816 x 100% = 94,97 % dari kriterium
yang ditetapkan. Apabila diinterpretasi
nilai terletak pada kategori tinggi. Secara
kontinum dapat dibuat kategori seperti
terlihat pada gambar 2 dan tabel 1.
0%

25%

Rendah

50%

Sedang

75%

Cukup

100%
94,97%

Tinggi

Gambar 2. Kategori encapaian Kurikulum


SMK Kartika Wirabuana 1
Tabel 1. Pengkategorian Persentase
Pencapaian Kurikulum SMK Kartika
Wirabuana
No
1
2
3
4

Interval
Persentase
76% - 100%
51% - 75%
26% - 50%
0% - 25%

Kategori
Tinggi
Cukup
Sedang
Rendah

Berdasarkan tabel 1, dapat diketahui


bahwa pada variabel target pencapaian
kurikulum, besaran persentase sebesar
94,97 % atau berada pada kategori tinggi.
Hal ini berarti bahwa target pencapaian

kurikulum pada SMK Kartika Wirabuana 1


tinggi.
b. Target Pencapaian kurikulum di SMK
Nasional
Data yang diperoleh menunjukkan
bahwa jumlah skor sebesar 727, banyaknya
responden yaitu 16 orang, dan skor
tertinggi sebesar 4 (skor tertinggi setiap
item) x 12 (junlah item) x 16 (jumlah
responden) = 768. Dengan demikian target
pencapaian kurikulum SMK Nasional
menurut 16 responden yaitu 727 : 768 x
100% = 94,66% dari kriterium yang
ditetapkan. Apabila diinterpretasi nilai
terletak pada kategori tinggi. Secara
kontinum dapat dibuat kategori seperti
terlihat pada gambar 3.
0%

25%

Rendah

50%

Sedang

75%

Cukup

100%
94,66%

Tinggi

Gambar 3. Kategori Pencapaian Kurikulum


di SMK Nasional
2. Kemampuan Praktek Instalasi listrik
Siswa
a. Kemampuan Praktek Instalasi listrik
Siswa SMK Kartika Wirabuana 1
Hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa nilai kompetensi siswa Jurusan
Listrik SMK Kartika Wirabuana 1
menunjukkan bahwa nilai mean (M) sebesar
7,51; median (Me) sebesar 7,40; modus (Mo)
sebesar 7,05, dan Standar Deviasi (SD)
sebesar 0,45. Adapun distribusi frekuensi
nya ditunjukkan pada tabel 2.
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Kemampuan
Praktek Instalasi Listrik Siswa SMK Kartika
Wirabuana 1
No
1
2
3
4

Katego
Interval
ri
Skor
Tinggi
> 8,18
Cukup 7,51 8,17
Sedang 6,83 7,5
Rendah
< 6,82
Jumlah

Frek.
Absolut
1
7
9
0
17

Persentase
Rel
Kom.
5,88
5,88
41,17
47,06
52,94
100
100
100
-

Berdasarkan
tabel
2,
variabel
kemampuan praktek instalasi listrik siswa

Jurnal MEDTEK, Volume 1, Nomor 1, April 2009

SMK Kartika Wirabuana 1, dari 17 orang


sampel, terdapat 1 orang (5,88%) yang
termasuk dalam kategori Tinggi, 7 orang
(41,17%) termasuk dalam kategori cukup, 9
orang (52,94%) termasuk dalam kategori
sedang, dan tidak ada yang termasuk
dalam kategori rendah. Hal ini berarti
bahwa secara umum kemampuan praktek
instalasi listrik siswa SMK Kartika
Wirabuana 1 berada pada kategori sedang.
b. Kemampuan Praktek Instalasi listrik
Siswa SMK Nasional
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
nilai kompetensi siswa SMK Nasional
Jurusan Listrik menunjukkan bahwa nilai
mean (M) sebesar 7,91; median (Me) sebesar
7,87; modus (Mo) sebesar 8,12, dan Standar
Deviasi (SD) sebesar 0,24. Adapun
distribusi frekuensi Kemampuan Praktek
Instalasi listrik Siswa SMK Nasional dapat
dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Kemampuan
Praktek Instalasi listrik Siswa
SMK Nasional
No
1
2
3
4

Kategori

Interval
Skor

Tinggi
> 8,27
Cukup
7,91 8,26
Sedang
7,55 7,9
Rendah
< 7,54
Jumlah

Frekuensi
Absolut
1
5
10
0
16

Persentase
Rel. Kom..
(%)
(%)
c
6,25
cc
37,5
62,25 100
100
100
-

Dari tabel 4 di atas, variabel


kemampuan praktek instalasi listrik siswa
SMK Nasional, dari 16 orang sampel,
terdapat 1 orang (6,25%) yang termasuk
dalam kategori tinggi, 5 orang (31,25%)
termasuk dalam kategori cukup, 10 orang
(62,25%) termasuk dalam kategori sedang,
dan tidak ada yang termasuk kategori
rendah. Hal ini berarti bahwa secara umum
kemampuan praktek instalasi listrik siswa
SMK Nasional berada pada kategori
sedang.
Pengujian Hipotesis
Hipotesis penelitian menyatakan
bahwa ada hubungan antara target
pencapaian
kurikulum
terhadap

kemampuan praktek instalasi listrik siswa.


Berdasarkan hasil analisis regresi sederhana
antara
variabel
target
pencapaian
kurikulum (X) dengan kemampuan praktek
instalasi listrik siswa (Y) jurusan listrik
SMK Kartika Wirabuana 1 dan SMK
Nasional menunjukkan bahwa:
1. SMK Kartika Wirabuana 1
Hasil analisis menunjukkan harga R
sebesar 0,675 dan pada taraf signifikansi
5% (0,05). Selanjutnya dari hasil analisis
tersebut,
diketahui
harga
koefisian
2
determinasi (R ) sebesar 0,456. Harga ini
menunjukkan bahwa 45,6% varians yang
terjadi pada kemampuan praktek instalasi
listrik siswa dipengaruhi oleh variabel
target pencapaian kurikulum, sedangkan
54,4% varians lainnya ditentukan oleh
variabel atau faktor lainnya yang tidak
dilibatkan dalam penelitian ini.
Untuk mengetahui hubungan antara
variabel bebas dan variabel terikat, maka
dalam penelitian ini digunakan analisis
korelasi product moment.
Tabel 4. Rangkuman hasil analisis korelasi
product moment
Variabel

Koefisien
Korelasi
(R)

Koefisien
Determinasi
(R2)

0,675

0,456

Berdasarkan hasil analisis korelasi


product moment sebagaimana yang terdapat
pada tabel 4 di atas, diperoleh nilai
koefisien korelasi (R) sebesar 0,675 dengan
nilai koefisien determinasi sebesar 0,456. Ini
berarti bahwa ketercapaian kurikulum
sebesar 45,6%.
Dengan menggunakan persamaan
regresi linier sederhana antara target
pencapaian kurikulum dengan kemampuan
praktek instalasi listrik siswa, maka
kemampuan praktek instalasi listrik siswa
dapat diprediksi. Dari hasil analisis regresi
ganda diperoleh model persamaan regresi
sebagai berikut:
Y =1,462 + 0,132 X
Untuk
persamaan

mengetahui
keberartian
regresi
tersebut,
maka

Marsud Hamid, Hubungan Antara Target Pencapaian Kurikulum Terhadap Kemampuan

digunakan statistik Uji F. Dari hasil analisis


regresi dapat diketahui bahwa bahwa nilai
F hitung sebesar 12,610 yang ternyata lebih
besar dari nilai F tabel yaitu sebesar 4,45
pada taraf signifikansi 5% (0,05). Ini berarti
bahwa persaman regresi yang diperoleh
dinyatakan berarti atau dengan kata lain
hipotesis penelitian dinyatakan diterima.
Hal ini menunjukkan bahwa target
pencapaian kurikulum SMK Kartika
Wirabuana 1 mempunyai hubungan yang
signifikan terhadap kemampuan praktek
instalasi listrik siswa.
2. SMK Nasional
Hasil analisis menunjukkan harga R
sebasar 0,799 pada taraf signifikansi 5%
(0,05). Selanjutnya dari hasil anlaisis
tersebut,
diketahui
harga
koefisien
2
determinasi (R ) sebesar 0,639. Harga ini
menunjukkan bahwa 63,9% varians yang
terjadi pada kemampuan praktek instalasi
listrik siswa dipengaruhi oleh variabel
target pencapaian kurikulum. Sedangkan
36,1% varians lainnya yang ditentukan oleh
variabel atau faktor lainnya yang tidak
dilibatkan dalam penelitian ini.
Untuk mengetahui hubungan antara
variabel bebas dan variabel terikat, maka
dalam penelitian ini digunakan analisis
korelasi
product
moment.
Adapun
rangkumannya dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 6 Rangkuman hasil analisis korelasi
product moment
Variabel

Koefisien
Korelasi
(R)

Koefisien
Determinasi
(R2)

0,799

0,639

Berdasarkan hasil analisis korelasi


product moment, diperoleh nilai koefisien
korelasi (R) sebesar 0,799 dengan nilai
koefisien determinasi sebesar 0,639. Ini
berarti bahwa ketercapaian kurikulum
dapat menjelaskan varians kemampuan
praktek instalasi listrik siswa sebesar 63,9%.
Dengan menggunakan persamaan
regresi linier sederhana antara target
pencapaian kurikulum SMK Nasional
dengan kemampuan praktek instalasi listrik

siswa, maka kemampuan praktek instalasi


listrik siswa dapat diprediksi. Dari hasil
analisis regresi ganda diperoleh model
persamaan regresi sebagai berikut:
Y =2,78 + 0,113 X
Untuk
mengetahui
keberartian
persamaan
regresi
tersebut
maka
digunakan statistik Uji F. Dari hasil analisis
regresi dapat diketahui bahwa nilai F hitung
sebesar 24,828 dan nilai ini lebih besar dari
nilai F tabel yaitu sebesar 4,49 pada taraf
signifikansi 5%. Ini berarti bahwa persaman
regresi yang diperoleh dinyatakan berarti,
dengan kata lain hipotesis penelitian
diterima. Hal ini menunjukkan bahwa
target
pencapaian
kurikulum
SMK
Nasional
mempunyai hubungan yang
signifikan terhadap kemampuan praktek
instalasi listrik siswa.
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan
hasil
penelitian
sebagaimana yang telah dikemukakan pada
bab IV, maka dapat dikemukakan beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1. Tingkat pencapaian kurikulum pada
SMK Kartika Wirabuana dan SMK
Nasional
sangat
baik.
Hal
ini
berdasarkan
pada
hasil
analisis
deskriptif yang menunjukkan bahwa
persentase ketercapaian kurikulum
untuk SMK Kartika Wirabuana 1 dan
SMK Nasional berada pada kategori
tinggi atau mendekati 100%.
2. Kemampuan praktek instalasi listrik
siswa SMK Kartika Wirabuana 1 dan
SMK Nasional berada pada kategori
sedang.
3. Terdapat hubungan tingkat pencapaian
kurikulum pada jurusan listrik terhadap
kemampuan praktek instalasi listrik
siswa SMK Kartika Wirabuana dan
SMK Nasional.
Sebagai
implikasi
dari
hasil
penelitian,
disarankan
untuk
mempertahankan
tingkat
pencapaian
kurikulum
tersebut
dan
senantiasa
mengembangkan kualitas pembelajaran.

Jurnal MEDTEK, Volume 1, Nomor 1, April 2009

DAFTAR PUSTAKA

Rumini, S. dkk. 1986. Psikologi Pendidikan.


Jakarta: Bina Aksara.

Arifin. 1979. Psikologi dan Beberapa Aspek


Kehidupan dan Rohaniah Manusia.
Jakarta: Bulan Bintang.

Semiawan. 1992. Pendekatan Keterampilan


Proses. Surabaya: Sinar Baru.

Dedy, S. 2004. Pengembangan Bangsa Melalui


Pendidikan.
Jakarta:
Remaja
Rosdikarya.

Sunarto. 1994. Perkembangan Peserta Didik.


Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.

E.Muliasa. 2006. Kurikulum yang Di


sempurnakan (pemgembang standar
kompetensi dan kompetensi dasar).
Bandung: Remaja Rosdakarya.

Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang


Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Cipta.

Faridh. 2008. Proposal Penelitian. Fakultas


Teknik, Universitas Negeri Makassar.
Tidak dipublikasikan.
Harten, P.V. 1991. Instalasi Listrik Arus Kuat
I. Bandung: Binacipta.
Harten, P.V. 1981. Instalasi Listrik Arus Kuat
II. Bandung: Binacipta.
Lantan, R. 1987. Belajar Keterampilan Motorik.
Pengantar Teori dan Praktek. Jakarta:
P2LPIK.
Nana, S. dkk. 2006. Mengendalikan Mutu
Pendidikan Sekolah Menengah (Konsep,
prinsip, dan instrumen). Bandung :
Rifika Aditama.
Ridwan. 2007. Belajar Mudah Penelitian untuk
Guru Karyawan dan Peneliti Pemula.
Bandung: Alfabet.

Tim

Penyusun Kamus Besar Bahasa


Indonesia. 2001. Kamus Besar Bahasa
Indonesia,
Ed.3.
Jakarta:
Balai
Pustaka.

Undang-Undang Republik Indonesia No.20


Tahun 2003. Tentang SISDIKNAS
(Sistem Pendidikan Nasional). Jakarta:
Grafika.
Zainuddin. 2001. Praktikum. Jakarta:
Departeman Pendidikan Nasional.
Zulkifli. 2005. Kemampuan Mendiagnosa
Kerusakan ARTL Mahasiswa Jurusan
Teknik Elektro FT UNM. Skripsi:
Tidak dipublikasikan.