Anda di halaman 1dari 22

STATUS PASIEN

I.

Identitas Pasien
Nama
: Ny. MS
Usia
:55 tahun
Agama
:Islam
Pekerjaan :Guru SD
Alamat
:Rawasari
Suku
:Jawa
Medrek
: 75. 85. 72
Tgl MRS :06 November 2013

II. Anamnesis
Anamnesis dilakukan dengan autoanamnesis
Keluhan utama :
Nyeri pada bahu sebelah kiri sejak 2 bulan sebelum masuk RS
Riwayat penyakit sekarang :
OS merasa nyeri pada bahu sebelah kiri sejak 2 bulan SMRS. Nyeri
muncul dengan spontan dirasa tajam, seperti tertusuk, hilang timbul dan
menjalar dari leher sampai ke tangan kiri. Nyeri terutama bila OS
mengangkat bahu atau mencoba mengangkat benda dan membaik bila
tidak digunakan. Punggung dan bahu terasa kaku. Riwayat baal,
kelemahan atau kesemutan pada tangan, nyeri yang berpindah dan
demam disangkal. Riwayat jatuh dengan bahu atau punggung, menarik
benda berat sebelumnya disangkal.
Riwayat penyakit Dahulu:
Hipertensi(-), Diabetes mellitus(-), Penyakit Jantung (+)
Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat Hipertensi pada keluarga (-). Osteoarthritis (-), Arthritis
rheumatoid (-)
Riwayat Pengobatan :
mendapat obat untuk jantung dan pasien minum teratur
Riwayat Psikososial :
Os tidak sering berolah raga, konsumsi makanan baik banyak sayur dan
buah, jarang mengangkat benda-benda berat, sering duduk. Merokok
(-).
III. Pemeriksaan Fisik
Keadaan : Sakit Ringan
Kesadaran : Compos Mentis E4 V5 M6 : GCS: 15

Tanda-tanda Vital : :
TD : 120/80 mmHg
Pulse : 78 kali/menit (isi cukup, kuat angkat, reguler)
RR : 20 kali/ menit (reguler)
S
: 36,8 C
Status Generalis
Mata
: konjungtiva anemis(-),sclera ikterik(-).
Mulut
: lembab, stomatitis (-)
Leher
: pembesaran KGB (-), JVP normal
Thorax
: bentuk dan pergerakan dada simetris
Pulmo
: vesikuler,wheezing -/-, rhonki -/ Cor
: BJ I, II murni reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : datar, rata, BU (+) Normal
Ekstremitas
:edema (-), akral hangat, sianosis (-).
Status Neurologis
Saraf Kranial
Nervus
I (olfaktorius)
II (ophtalmikus)
III (Occulomotor)
IV (trochlear)
VI (abdusens)

V (Trigeminal)

VII (fascial)

Pemeriksaan
Daya pembau
Penglihatan
Lapang pandang
Reflek Cahaya
Ptosis
Gerak bola mata
Pupil
diplopia
Kekuatan
menggigit
Membuka rahang
Chvostek sign
Sensibilitas
M.frontalis
M. Orbikulari
okuli
M. Buccinator
M. Orbikularis

VIII (akustikus)
Nervus IX
(Glossopharingeus)

oris
M. Platisma
Tes Rinne
Tes Weber
Tes Schwabach
Uvula
Daya kecap

Dextra
Normosmia
Emetrop
Baik
+
Baik
Isokor, ukuran

Sinistra
Normosmia
Emetrop
Baik
+
Baik
Isokor, ukuran

2mm
Baik
Baik
Baik

2mm
Baik
Baik
Baik

Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

Baik
Baik
Baik
Baik
Baik

Tidak dinilai
Tidak dinilai
Tidak dinilai
Tidak dinilai
Tidak dinilai
Tidak dinilai
Simetris
+

, X (vagus)

Refleks muntah
Suara
Menggembungkan
pipi
Refleks menelan
M.Sterno

XI (aksesorius)

+
+
+
+
Tidak dapat

Tidak dapat

dinilai

dinilai

Tidak dapat

Tidak dapat

dinilai
-

dinilai
-

kleidomastoideus
M.Trapezius

XII (hipoglossus)

Atrofi lidah
Lidah mencong

Motorik
555
555

555
555

+
+

+
+

Sensori

Reflek Fisiologi
Refleks fisiologis
Triseps
Biseps
Patella
Achilles

Dextra
+
+
+
+

Sinistra
+
+
+
+

Reflek Patologis
Refleks patologis
Babinski
Chaddock
Oppenheim
Gordon
Kaku kuduk
Kernig sign
Refleks meninges
Brudzinsky I
Brudzinsky II
Lasegue sign

Dextra
+
-

Sinistra
+
-

Keseimbangan dan koordinasi

Romberg sign
Fukuda
Jari ke jari
Jari ke hidung
IV.

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Baik
Baik

Resume
OS, wanita, 55 tahun datang ke RS karena nyeri spontan pada bahu
sebelah kiri yang dirasa tajam, hilang timbul dan menjalar dari leher
sampai ke tangan kiri sejak 2 bulan SMRS. Nyeri terutama bila
mengangkat bahu atau benda dan membaik bila tidak digunakan.
Punggung dan bahu terasa kaku. Riwayat jatuh dengan bahu atau
punggung, menarik benda berat sebelumnya disangkal.

Ada riwayat

penyakit jantung
Pemeriksaan fisik :
Kesadaran compos mentis, GCS 15. TD : 120/80 mmHg , Pulse : 78
kali/menit (isi cukup, kuat angkat, reguler), RR : 20 kali/ menit (reguler), S
: 36,8 C. Status Generalis dalam batas normal. Saraf cranialis dalam
batas normal. Reflek fisiologis (+) tidak meningkat. Reflek patologis :
kaku kuduk (+), refleks meningens (-)
V.

Diagnosis
Diagnosis Klinis : nyeri pada ekstrimitas superior sinistra
Diagnosis Topis : Hernia Nucleus Pulposus setinggi C4-C5
Diagnosis Etiologi: penekanan radiks sinistra
Diagnosis Patologis : degeneratif

VI.

Rencana Pemeriksaan Penunjang


Foto Polos Cervical, MRI tulang belakang

VII.

Penatalaksanaan
Medikamentosa
NSAID
Muscle Relaxant
Analgesik
Non medikamentosa
Lakukan bugnet excessice
Traksi mekanik
Konsul bedah saraf jika keadaan makin memburuk (atrofi
otot bisep, trisep)

VIII. Prognosis
Quo ad Vitam
: dubia ad bonam
Quo ad Functionam : dubia ad bonam

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banyak orang pernah menderita akibat mengalami nyeri pada leher, bahu,
dan lengan. Nyeri tumpul maupun tajam yang bersifat menjalar dari leher hingga
ke lengan dan jari, dan kadang juga disertai dengan rasa tebal dan kesemutan.
Bahkan pada beberapa kasus dapat terjadi gangguan motorik ekstremitas bawah.
Gejala-gejala tersebut sering disebut dengan nyeri radix cervikal (Radicular
Cervical Pain) yang paling sering disebabkan oleh herniasi diskus intervertebralis
cervikalis sehingga menekan radix (akar saraf) pada cervikal dan menyebabkan
nyeri pada daerah yang dipersarafi radix tersebut. Keadaan ini disebut sebagai
HNP Cervikalis (Hernia Nukleus Pulposus Cervikalis).1,2
HNP cervikalis dapat terjadi akibat proses degeneratif maupun trauma yang
mencederai vertebra cervikalis. Proses degeneratif dan trauma ini menyebabkan
perubahan pada struktur diskus intervertebralis yang terletak diantara masingmasing badan (corpus) vertebra cervikalis, sehingga fungsinya sebagai penahan
tekanan (shock absorbers) terganggu dan menyebabkan substansi diskus keluar
(herniasi) hingga menekan radix saraf bahkan medula spinalis dan menyebabkan
gejala-gejala tersebut.1,2,3

HNP secara umum dapat terjadi pada semua columna vertebralis, dari
cervikal hingga lumbal. HNP cervikalis merupakan HNP tersering kedua setelah
kasus HNP lumbalis. Sekitar 51% dari orang dewasa pernah mengalami periode
nyeri pada leher dan lengan sepanjang hidupnya. 25% diantaranya terdapat
gambaran herniasi diskus pada hasil MRI (Magnetic Resonance Imaging) yang
terjadi pada kelompok usia kurang dari 40 tahun, dan 60% diantaranya terjadi
pada kelompok usia lebih dari 60%. Di Indonesia angka kejadian HNP cervikalis
sekitar 5-10% dari seluruh populasi penderita HNP. Sekitar 60% diantaranya
terjadi pada kelompok usia lebih dari 30-40 tahun.4,5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Hernia Nucleus Pulposus Cervicalis (HNP Cervicalis) atau Cervical Disc
Herniation adalah rupturnya atau penonjolan (bulge) annulus fibrosus pada diskus
intervertebralis cervikalis sehingga isi diskus atau nukleus pulposus keluar
(herniasi) dan menekan radix saraf pada foramina intervertebralis atau medula
spinalis pada kanalis vertebralis sehingga menyebabkan nyeri radikuler sepanjang
daerah yang dipersarafi oleh saraf yang terjepit tersebut.3
2.2 Epidemiologi
Kejadian HNP cervikalis merupakan kejadian HNP terbanyak kedua setelah
HNP lumbalis, yaitu sekitar 5-10% dari populasi penderita HNP di Indonesia.
Secara umum kejadian HNP bertambah seiring dengan pertambahan usia, namun
pada HNP cervikalis sekitar 60% penderita berada pada kelompok usia 30-40
tahun. Lebih sering terjadi pada laki-laki dari pada perempuan yaitu sekitar 2:1. 4-6
2.3 Anatomi Vertebra Cervikalis
Tulang belakang manusia (vertebra) merupakan salah satu struktur penopang
tubuh yang tersusun dari 33 ruas vertebra, yaitu: 7 ruas vertebra cervikalis, 12
ruas vertebra thorakalis, 5 ruas vertebra lumbalis, 5 ruas vertebra sakralis, dan 4
ruas coccigeus yang saling menyatu.7

Gambar 2.1 Vertebra Sumber: www.MedlinePlusMedicalEncyclopedia.com


Vertebra cervikalis merupakan penyusun vertebra yang berada tepat di bawah
tulang tengkorak (Skull), yang terdiri dari 7 ruas, yaitu cervikalis-1 (C1) hingga
cervikalis-7 (C7), yang masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda.8

Sumber: www.wikipedia.com
Gambar 2.2 Letak dan Posisi Vertebra Cervikalis
Secara umum seperti struktur vertebra yang lain, vertebra cervikalis juga
tersusun dari struktur yang berupa tulang (bone) dan jaringan lunak (soft tissues).
Struktur yang berupa tulang termasuk diantaranya adalah bagian corpus dan
processus-processus. Sedangkan jaringan lunak berupa diskus intervertebralis,
ligamen-ligamen, dan persendian.9

Sumber: www.e-anatomy.com
Gambar 2.3 Vertebra Cervikalis
Tulang vertebra ini dihubungkan satu sama lainnya oleh ligamentum dan
tulang rawan. Bagian anterior columna vertebralis terdiri dari corpus vertebra
yang dihubungkan satu sama lain oleh diskus fibrokartilago yang disebut diskus
invertebralis dan diperkuat oleh ligamentum longitudinalis anterior dan
ligamentum longitudinalis posterior. Diskus invertebralis menyusun seperempat
panjang columna vertebralis. Diskus ini paling tebal di daerah cervical dan
lumbal, tempat dimana banyak terjadi gerakan columna vertebralis, dan berfungsi
sebagai bantalan sendi dan shock absorber agar columna vertebralis tidak cedera
bila terjadi trauma.5
Diskus intervertebralis terdiri dari lempeng rawan hyalin (Hyalin Cartilage
Plate), nukleus pulposus (gel), dan annulus fibrosus. Sifat setengah cair dari
nukleus pulposus, memungkinkannya berubah bentuk dan vertebra dapat
mengjungkit ke depan dan ke belakang di atas yang lain, seperti pada flexi dan
ekstensi columna vertebralis. Diskus intervertebralis, baik anulus fibrosus maupun
nukleus pulposusnya adalah bangunan yang tidak peka nyeri. Stabilitas vertebra
tergantung pada integritas korpus vertebra dan diskus intervertebralis serta dua
jenis jaringan penyokong yaitu ligamentum (pasif) dan otot (aktif).5

Sumber: www.google.com
Gambar 2.4 Diskus Intervertebralis (terdiri dari Anulus Fibrosus dan Nucleus
Pulposus)

Sumber: www.google.com
Gambar 2.5 Ligamentum Penyokong Vertebra
Vertebra Cervikalis I (V.C1)
Vertebra cervikalis I disebut juga dengan tulang atlas. Terletak tepat di bawah
tulang tengkorak. Ciri khas pada tulang ini adalah tidak memiliki corpus, sehingga
hanya berupa arcus anterior dan posterior. Pada masing-masing arcus anterior
terdapat fovea articularis superior yang berhubngan dengan condilus occipitalis.
Sedangkan yang berhubungan dengan vertebra cervikalis II adalah facies
artikularis posterior atau disebut juga fovea dentis. Pada medio sagital terdapat
tuberculum anterior dan posterior. Dan memiliki foramen vertebralis yang
besar.5,10

Sumber: www.google.com
Gambar 2.6 Vertebra Cervikalis I (Atlas), Dilihat dari Kranial (kiri) dan Kaudal
(kanan)

Vertebra Cervikalis II (V. C2)


Vertebra cervikalis II disebut juga tulang axis yang ditandai oleh adanya
epistropheus. Ciri khas lain pada cervikalis II ini adalah adanya dens atau
processus odontoid. Memiliki corpus vertebra yang kecil, apex dentis yang
disertai facies articularis anterior dan facies articularis posterior. Facies articularis
lateralis berhubungan dengan facies articularis inferior tulang atlas. Serta
processus spinosus yang tidak selalu bercabang dua.5,10

Sumber: www.google.com
Gambar 2.7 Vertebra Cervikalis II (Axis) Dilihat dari Ventral (kiri) dan Dorsal
(kanan)

Sumber: www.google.com
Gambar 2.8 Atlas dan Axis pada Potongan Sagital

10

Vertebra Cervikalis III-VI (V. C3-C6)


Vertebra cervikalis III-VI memiliki komponen dan bentuk yang sama, yaitu
masing-masing memiliki Corpus vertebrae arcus vertebrae yang terdiri dari
pedicle dan lamina, processus articularis superior yang menghadap ke posterior,
processus articularis inferior yang menghadap ke anterior, incisura vertebralis
superior dan inferior, processus spinosus yang bercabang dua, sepasang processus
transversus pada sisi lateral, serta foramen vertebralis.10

Sumber: www.google.com
Gambar 2.9 Vertebra Cervikalis III-VI
Vertebra Cervikalis VII (V. C7)
Merupakan ruas terakhir dari vertebra cervikalis. Secara umum komponen
dan bentuknya sama dengan C3-C6, hanya ciri khas pada ruas ini adalah
processus spinosusnya panjang (prominent).10,11

Sumber: www.googe.com
Gambar 2.10 Vertebra Cervikalis VII
2.4 Etiologi dan Faktor Predisposisi
Hal yang dapat menyebabkan HNP cervikalis adalah:
Trauma
Biasanya terjadi pada kelompok usia yang lebih muda. Trauma pada vertebra
cervikal dapat terjadi akibat adanya gerakan tiba-tiba pada daerah leher,
misalnya whiplash injury.12
Proses Degeneratif

11

Terjadi pada kelompok usia yang lebih tua. Proses degeneratif menyebabkan
perubahan komponen penyusun diskus intervertebralis menjadi lebih tidak
elastis atau kaku sehingga apabila mendapatkan beban yang berlebihan atau
tiba-tiba menyebabkan isi diskus keluar atau scara langsung menyebabkan
trauma pada vertebra cerikalis.13
Faktor risiko yang dapat menyebabkan HNP cervikalis diantaranya adalah:1,2,13
1. Genetik, individu dengan riwayat genetik kelainan vertebra (skoliosis,
spondilolistesis, dan ankylosing spondilitis) lebih mudah terjadi HNP.
2. Kebiasaan beraktivitas dengan posisi tubuh yang tidak tepat, misalnya
mengangkat beban berat dengan menopangkan pada kepala, dan lain-lain.
3. Pola hidup tidak sehat, misalnya merokok, alkohol, kurang gizi, kurang olah
raga, yang akan berakibat penurunan kualitas tubuh sehingga lebih mudah
terjadi kerusakan pada vertebra.
4. Vibrational Stress
5. Aging, kejadian HNP cervikalis meningkat seiring dengan peningkatan usia.
2.5 Patogenesis
HNP cervikalis terjadi akibat keluarnya komponen nukleus pulposus dari
diskus intervertebralis cervikalis yang menekan radix saraf atau medula spinalis
sehingga menimbulkan iritasi pada saraf yang tertekan tersebut.1-4,12,13
Herniasi dari nukleus pulposus dapat terjadi akibat perubahan penyusun
komponen-komponen diskus intervertebralis, atau trauma. Diskus intervertebralis
terdiri dari nukleus pulposus yang tersusun dari komonel gel dan anulus fibrosus
dengan kolagen sebagai penyusunnya. Pada proses degeneratif komponen gel
nukleus pulposus dan kolagen dari anulus fibrosus lambat laun akan berkurang
sehingga diskus intervertebralis yang seharusnya elastis dan befungsi sebagai
bantalan atau shock absorber menjadi kaku.1-4,12,13
Pada keadaan normal, apabila tubuh menerima beban, oleh gel nukleus
pulposus diskus intervertebralis beban tersebut akan disebarkan ke segala arah
sehingga vertebra dan tubuh tetap pada posisi seimbang dan tidak terjadi prolaps
atau keluarnya nukleus pulposus dari diskus. Namun pada keadaan degeneratif,
kondisi nukleus pulposus yang tidak lagi berupa gel tidak dapat menyebarkan
beban ke segala arah, namun hanya arah tertentu saja, sehingga nukleus pulposus
akan menonjol ke arah tertentu saja, dan pada kondisi yang berat dapat sampai
menembus anulus fibrosus dan menimbulkan penekanan pada radix maupun
medula spinalis.12,13

12

Pada kasus trauma, beban atau gerakan yang tiba-tiba akan menimbulkan efek
kejut bagi diskus intervertebralis, sehingga beban tidak dapat diterima secara
imbang dan tidak dapat disebarkan ke segala arah, atau trauma tersebut secara
lagsung merusak anulus fibrosus sehingga dapat menyebabkan keluarnya nukleus
pulposus.13

Sumber: www.aafp.org
Gambar 2.11 Mekanisme Terjadinya HNP

Sumber: www.neckpainsupport.com
Gambar 2.12 HNP Cervikalis pada Trauma (trauma menyebabkan kerusakan pada
anulus fibrosus sehingga nuleus pulposus keluar)
2.6 Derajat dan Tipe
Sesuai dengan anatominya, radix saraf cervikalis akan keluar melalui
foramina intervertebralis yang terletak lateral dari kolumna vertebra, dan medula
spinalis terletak pada kanalis vertebralis yang terletak di sebelah posterior dari

13

kolumna vertebralis. Karena pada sebelah posterior terdapat ligamen longitudinal


posterior yang tebal, herniasi dari diskus intervertebralis paling sering terjadi ke
arah postero-lateral dan menekan radix saraf, sehingga gajala yang ditimbulkan
bersifat radikuler unilateral.6

Sumber: www.google.com
Gambar 2.13 HNP Menekan Radix Saraf dan Menimbulkan Iritasi pada Radix

Sumber: www.google.com
Gambar 2.14 HNP Cervikalis Menekan Medula Spinalis
Derajat HNP:1,2,4,14
Disc Degeneration, terjadi perubahan komposisi anulus pulposus sehingga
apabila ada beban nukleus pulposus menonjol ke salah satu sisi dengan anulus
fibrosus masih intak, dan belum terjadi herniasi.
Prolapse atau Bulging Disc atau Protrution Disc, terjadi penonjolan nukleus
pulposus dan anulus fibrosus, anulus fibrosus dan ligamen longitudinal

14

posterior masih utuh, sudah terjadi herniasi dan mulai terjadi penekanan pada
radix atau medula spinalis.
Extrusion, terjadi ruptur anulus fibrosus, sehingga gel nukleus pulposus
keluar dari diskus intervertebralis, tetapi ligamen longitudinal posterior masih
intak.
Sequestration atau Sequestered Disc, telah terjadi ruptur ligamen
longitudinal posterior, sehingga gel nukleus pulposus keluar melewati celah
ligamen menuju ke kanalis spinalis.

Sumber: www.google.com
Gambar 2.15 Derajat HNP

Sumber: www.google.com
Gambar 2.15 Derajat HNP (a. Normal; b. Degeneration; c. Prolapse atau Bulging;
d. Extrusion; e&f. Sequestered)
2.7 Manifestasi Klinik
HNP cervikalis paling sering terjadi pada segmen vertebra C5-C6, C6-C7,
dan C4-C5. Hal ini terjadi karena pada vertebra tersebut (C5-C6 dan C6-C7)
merupakan daerah yang paling banyak menerima beban diantara vertebra cervikal
yang lain dan yang paling banyak mengalami pergerakan. Apabila terjadi herniasi
pada C5-C6 maka radix yang tertekan adalah radix C6, sedangkan apabila terjadi
herniasi pada C6-C7, efek yang terjadi adalah gangguan pada radix C7, dan
seterusnya. 4,6
Pada umumnya herniasi terjadi pada salah satu sisi (unilateral). Gejala-gejala

15

yang dapat timbul pada HNP cervikalis diantaranya adalah nyeri yang dapat
bersifat tajam maupun tumpul pada leher atau daerah bahu, yang dapat memberat
dengan suatu gerakan atau perpindahan posisi leher. Terjadi cervical
radiculopathy, yaitu nyeri yang menjalar dari legan hingga jari-jari tangan. Rasa
tebal, kesemutan, hingga kelemahan dari bahu hingga jari-jari tangan. Namun
dapat juga herniasi terjadi dan menekan medula spinalis sehingga terjadi
gangguan bilateral, gangguang dapat berupa nyeri dan kelemahan pada kedua
tangan dan kaki (tetraplegi).4
Beberapa gejala yang dapat muncul pada HNP cervikalis adalah sesuai
dengan radix yang terkena, yaitu:4
C4-C5 (gangguan pada radix C5), terjadi kelemahan pada muskulus
deltoideus dan nyeri pada bahu
C5-C6 (gangguan pada radix C6), terjadi kelemahan pada muskulus biseps
dan wrist ekstensor, nyeri yang disertai rasa tebal dan kesemutan pada ibu jari
tangan
C6-C7 (gangguan pada radix C7), terjadi kelemahan pada muskulus triceps
dan ekstensor jari-jari tangan, nyeri menjalar yang disertai rasa tebal dan
kesemutan dari muskulus triseps hingga jari tengah

16

Sumber: www.google.com

Gambar 2.16 Persarafan Radix Cervikalis

2.8 Diagnosis
Anamnesis
Menanyakan kepada pasien tentang gejala yang muncul dan mencari faktor
risiko maupun penyebab yang mungkin. Seperti bagaimana sifat gejala yang
muncul, hal-hal yang memperberat dan memperingan gejala, hingga pengobatan
yang telah dilakukan. Ditanyakan juga tentang riwayat penyakit atau trauma
sebelumnya dan riwayat penyakit keluarga serta riwayat sosial dan kebiasaankebiasaan penderita.1
Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan klinis yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan neurologis
secara

obyektif

dan

untuk

menentukan

letak

herniasi

yang

terjadi.

Pemeriksaannya seperti memeriksa sistem motorik, sensorik, dan refleks-refleks


yang ada pada regio yang dipersarafi oleh radix cervikalis maupun medula
spinalis segmen vertebra cervikalis, sehingga dapat diketahui gejala tersebut
kemungkinan merupakan akibat dari adanya herniasi atau kelainan yang lain.1,2,15
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis
antara lain:1,2,6,15-17

17

1.

X-Ray, posisi AP (anteroposterior), Lateral, dan Obliq. Pemeriksaan


penunjang awal yang dapat dilakukan untuk melihat adanya penyempitan
diskus intervertebralis dan foramina intervertebralis pada HNP. Selain itu juga
untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab yang lain misalnya tumor,
infeksi, spondilolistesis, fraktur, atau osteoarthritis.

2.

Computed Tomography Scan (CT Scan), dapat menunjukkan struktur tulang


dan soft tissue vertebra, namun masih belum dapat menunjukkan dengan jelas
proses herniasi.

3.

Sumber: www.BuffaloNeurosurgeryGroup.com
Gambar 2.17 Gambaran HNP pada CT Scan
Magnetic Resonance Imaging (MRI), merupakan gold standart pemeriksaan
untuk HNP. Karena dapat menunjukkan lebih jelas keadaan soft tissue
daripada CT Scan, sehingga gambaran herniasi diskus dapat terlihat jelas.

4.

Sumber: www.google.com
Gambar 2.18 Gambaran HNP pada MRI
Myelography, merupakan suatu pemeriksaan X-ray dengan kontras yang
dapat menunjukkan adanya stuktur yang menekan radix dan medula spinalis
seperti HNP, tumor, ataupun spur.

Sumber: www.BuffaloNeurosurgeryGroup.com
Gambar 2.18 Gambaran HNP pada Myelography

18

2.9 Penatalaksanaan
Prinsip terapi pada kasus HNP adalah meredakan nyeri, mengembalikan
fungsi sarafnya, dan mencegah kekambuhan. Terapi berupa konservatif dan
pembedahan atau kombinasi keduanya. Pemilihan terapi dilakukan berdasarkan
gejala dan stadium HNP yang terjadi.17
Non-Surgical Treatment (Konsrvatif)1,2,4,6,,15,17-19
Non-Farmakologis, antara lain:
- Cervical collar/bracing
- Rehabilitasi fisik (traksi dan exercise)
- Bed Rest
- Ice and Heat Therapy
Farmakologis, antara lain:
- Antiinflamasi (NSID, steroid injeksi)
- Analgesik
- Muscle Relaxan
Surgical Treatment1,2,4,15-17
Discectomy (Anterior Cervical Discectomy and Fusion)/ACDF
Yaitu membuka dan membuang diskus intervertebralis yang terjadi herniasi
dari arah anterior cervikal, kemudian tempat yang kosong tersebut dapat
dilakukan bone grafting dan selanjutnya dilakukan platting untuk
menyatukan kedua segmen vertebra.

Sumber: www.ALeadigExpertinPediatricandAdultSpinalsurgery.com
Gambar 2.19 Anterior Cervical Discectomy and Fusion (ACDF)
Posterior Cervical Laminoforaminotomy
Yaitu dengan cara melakukan insisi pada bagian posterior cervikalis
(laminotomy) yang kemudian menuju ke foramina intervertebralis untuk
mengevkuasi diskus intervertebralis yang terjadi herniasi.

19

Sumber: www.wiki.com
Gambar 2.20 Posterior Cervical Laminoforaminotomy
2.10 Komplikasi
Komplikasi pada kasus HNP cervikalis dapat terjadi apabila tidak diterapi
dengan baik dan tuntas. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain adalah
gangguang saraf permanen, nyeri kronik, paralisis, dan gangguan postur tubuh
yang permanen.6
2.11 Prognosis
Prognosis dari HNP cervikalis bergantung pada keadaan masing-masing
penderita, stadium yang terjadi, terapi yang dilakukan, serta faktor penyebab.
Semakin ringan stadium, dan dini serta tepat terapinya, prognosis semakin bagus
dan angka kekambuhan menurun. Begitu juga sebaliknya.6
2.12 Diagnosis Banding
Diagnosis banding HNP cervikalis diantaranya adalah:6
Spondilosis Cervikalis, yaitu penyakit yang menyerang usia pertengahan dan
usia lanjut, dimana diskus dan tulang belakang di leher mengalami
kemunduran (degenerasi).

20

Sumber: www.google.com
Gambar 2.21 Spondilosis Cervikal
Spondilolistesis, merupakan salah satu bentuk kelainan tulang belakang
(vertebra) dimana salah satu atau beberapa segmen vertebra berada lebig
anterior daripada segmen vertebra di bawahnya.

Sumber: www.google.com
Gambar 2.22 Spondilolistesis
Canal Stenosis, merupakan penyempitan kanalis spinalis (vertebra) yang
biasanya terjadi akibat proses degeneratif.

Sumber: www.google.com
Gambar 2.23 Canal Stenosis
Abses atau Tumor, adanya massa yang berupa abses atau tumor pada daerah
sekitar

vertebra

cervikalis

yang

menekan

saraf

cervikal

sehingga

menimbulkan gejala mirip HNP cervikalis.


Discitis, adalah keradangan yang terjadi pada diskus intervertebralis yang
disebabkan oleh inokulasi hematogen atau post operasi spinal.

21

Sumber: www.google.com
Gambar 2.24 Discitis
Osteomyelitis, adalah proses inflamasi akut atau kronik pada tulang dan
struktur sekundernya karena infeksi oleh bakteri piogenik.

Sumber: www.google.com
Gambar 2.25 Osteomyelitis
2.12 Pencegahan
Terjadinya HNP cervikalis dapat dicegah dengan cara merubah faktor risiko
yang dapat dirubah, seperti pola hidup yang sehat, kebiasaan yang baik untuk
kesehatan tulang belakang, seperti tidak membebani kepala dengan beban berat,
dan menghindari trauma leher.1,2,17

22