Anda di halaman 1dari 5

Dampak Negatif Tayangan Televisi

Gadget

Maraknya tayangan kekerasan melalui media televisi, baik dengan berita kriminal maupun dari sinetron-sinetron yang
tidak mendidik, dianggap telah memberi dampak negatif kepada pemirsanya. Berbagai berita kriminal, dianggap
justru menginspirasi dan mendorong makin maraknya tindakan kriminal lain di masyarakat. Sementara, tontonan
yang mengandung unsur kekerasan, juga ditengarai mendorong orang berbuat yang sama.
Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Pembangunan Nasional
(UPN) Veteran Surabaya. Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa pelaku kejahatan seperti pencurian, pembunuhan
dan pemerkosaan mencontek kejahatan yang dilakukan sebelumnya. Salah satunya, melalui referensi dari tayangan
tindak
kriminalitas
di
televisi
yang
akhirnya
membuat
pola
imitasi
di
masyarakat.
Menurut salah satu peneliti, Catur Suratnoaji, penelitian itu dilakukan pada 13 orang narapidana yang ada di Sidoarjo
dan Malang. Ke-13 narapidana itu mendapat ilham melakukan tindak pidana dari tayangan di televisi. Mereka
memodel dari apa yang ditayangkan televisi, sebut Catur dalam pemaparannya. Sebagaian narapidana itu mengaku
mendapat cara menghapus jejak atau melakukan penipuan berdasarkan apa yang mereka lihat di televisi. Dalam
pemaparannya lebih lanjut, ia juga menemukan bahwa berita kriminal justru menimbulkan rasa khawatir yang
berlebihan pada masyarakat. Karena itu, ia menyebut perlunya upaya untuk memperbaiki berita kriminalitas yang
ada
saat
ini.
Penelitian yang dilakukan ini memang belum mewakili sebagian besar masalah pertelevisian. Perlu kajian lebih jauh
apakah efek buruk itu semata karena pengaruh televisi, atau juga hal lain, seperti lingkungan? Yang jelas, apapun
tayangannya, kita sendirilah yang berkemampuan untuk menyaring, mana yang baik dan buruk. Bagaimana
pendapat
Anda?
Mencermati
Tayangan
Televisi
dan
Dampaknya
SETUJU atau tidak, kehadiran televisi yang makin marak di Indonesia dengan berbagai program tayangan dan jualan
tidak dapat dihindari. Apapun yang muncul dan sifatnya baru, ada yang menilainya positif dan ada juga negatifnya.
Sudut pandang positif, sudah pasti akan melihatnya dan memandangnya sebagai sebuah kemajuan tehnologi dan
perlu dimanfaatkan sesuai dengan porsinya. Ada yang melihat kehadiran televisi sebagai sebuah lahan subur untuk
meraup keuntungan tidak terbatas. Selagi kreativitas belum pudar, selama itu pula sarana tontotan yang bersifat
hiburan dan informatif ini bisa meraup keuntungan. Salah satu tolok ukur adalah ketika rating suatu program cukup
tinggi,
selama
itu
pula
iklan
sponsor
akan
banyak
yang
antre.
Pada sisi lain, cukup banyak keluhan masyarakat terhadap dampak negatif dari berbagai program tayangan
sehingga mengkhawatirkan sejumlah kalangan. Bahkan pihak pemerintah sendiri sudah membaca kekhawatiran
tersebut dengan membentuk Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) hingga ke tingkat provinsi dengan KPID-nya.
Hampir di seluruh lapisan masyarakat, di segala tingkat strata pendidikan, tiada hari yang terlewat tanpa menonton
televisi. Setiap orang, dari anak-anak, muda dan dewasa bahkan yang sudah uzur bisa dipastikan akan
menghabiskan beberapa jam bahkan hampir seharian duduk dan menikmati tayangan televisi. Kehadiran televisi
menyuguhkan berbagai acara yang beragam dan menarik tanpa kompromi. Artinya, ia hadir di tengah-tengah kita
dengan sukarela, kapanpun kita ingin menikmatinya, kita cukup menekan sebuah tombol. Ditambah lagi dengan
hadirnya 11 stasiun televisi nasional, seolah tidak ada kata bosan, kita merelakan setiap hari waktu kita bersamanya.
Salah satu yang sangat menggelisahkan kita yakni saat menyaksikan tayangan-tayangan televisi belakangan ini.
Hampir semua stasiun-stasiun televisi, menayangkan program acara (terutama sinetron) yang cenderung mengarah
pada tayangan berbau kekerasan (sadisme), pornografi, mistik, dan kemewahan (hedonisme). Tayangan-tayangan
tersebut terus berlomba demi rating tanpa memerhatikan dampak bagi pemirsanya. Kegelisahan itu semakin
bertambah karena tayangan-tayangan tersebut dengan mudah bisa dikonsumsi oleh anak-anak.

Para tokoh agama, budaya dan cendikiawan yang selalu konsen mengkritisi setiap gerak tayangan televisi,
belakangan seakan ikut terkesima tayangan-tayangan yang tidak lagi semipornografi, tapi malah betul-betul
menampilkan tayangan sangat memalukan sebagai bangsa yang selama ini cukup bangga dengan Orang Timur
yang berbudaya tinggi. Bahkan terkesan tiarap dan tidak lagi mau mengkritisi tayangan-tayangan yang tidak lagi
sesuai
dengan
kaidah
dan
norma
agama.
Hasil kajian Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, misalnya, mencatat, rata-rata anak usia sekolah dasar
menonton televisi antara 30 hingga 35 jam setiap minggu. Artinya pada hari-hari biasa mereka menonton tayangan
televisi lebih dari empat hingga lima jam sehari. Sementara di hari Minggu bisa tujuh sampai delapan jam. Jika ratarata empat jam sehari, berarti setahun sekitar 1.400 jam, atau 18.000 jam sampai seorang anak lulus SLTA. Padahal
waktu yang dilewatkan anak-anak mulai dari TK sampai SLTA hanya 13.000 jam. Ini berarti anak-anak meluangkan
lebih banyak waktu untuk menonton televisi daripada untuk kegiatan apa pun, kecuali tidur (data-data 2004).
Lebih parah lagi, kebanyakan orangtua tidak menyadari dampak kebebasan media yang kurang baik terhadap anakanak. Indikasi demikian terlihat anak-anak tidak diawasi dengan baik saat menonton televisi meski di layar cara itu
diterakan
kata-kata
bimbingan
orangtua
(BO),
dewasa
(DW)
dan
remaja
(R).
Dengan kondisi ini sangat dikawatirkan bahkan bisa membahayakan bagaimana dampaknya bagi perkembangan
anak-anak. Kita memang tidak bisa gegabah menyamaratakan semua program televisi berdampak buruk bagi anak.
Ada juga program televisi yang punya sisi baik, misalnya program acara pendidikan. Banyak informasi bisa diserap
dari televisi yang tidak didapat dari tempat lain. Namun, di sisi lain banyak juga tayangan televisi yang bisa
berdampak buruk bagi anak. Sudah banyak survei yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana dampak tayangan
televisi
di
kalangan
anak-anak.
Sebuah survei yang pernah dilakukan salah satu harian di negara bagian Amerika Serikat menyebutkan, empat dari
lima orang Amerika menganggap kekerasan di televisi mirip dengan dunia nyata. Oleh sebab itu sangat berbahaya
kalau anak-anak sering menonton tayangan televisi yang mengandung unsur kekerasan. Kekerasan di televisi
membuat anak menganggap kekerasan adalah jalan untuk menyelesaikan masalah (Era Muslim, 27/07/2004).
Sementara itu sebuah penelitian di Texas, Amerika Serikat yang dilakukan selama lebih dari tiga tahun terhadap 200
anak usia 2-7 tahun, menemukan bahwa anak-anak yang banyak menonton program hiburan dan kartun terbukti
memeroleh nilai lebih rendah dibanding anak yang sedikit menghabiskan waktunya menonton tayangan yang sama
(KCM,
11/08/2005).
Dua
survei
itu
sebenarnya
bisa
jadi
pelajaran.
Di Indonesia suguhan tayangan kekerasan dan kriminal seperti Patroli, Buser, TKP dan sebagainya, tetap saja
dengan mudah bisa ditonton oleh anak-anak. Bahkan tayangan program yang berbau kriminal itu terkesan sengaja
diblow-up untuk menggambarkan pada masyarakat dan atasan seakan-akan aparat betul-betul bekerja dan berhasil
mengungkap suatu kasus. Dan bukan rahasia lagi kalau ada kasus yang berhasil diungkap oleh aparat, direkaya
ulang lagi seakan-akan penangkapan yang ditayangkan murni bukan rekayasa. Padahal kalau saja mau jujur,
kameramen televisi tidak akan mau mempublikasikan tetapi daripada tidak dapat berita liputan, rekayasa pun
bolehlah.
Demikian pula tayangan yang berbau pornografi dan pornoaksi. Persoalan gaya hidup dan kemewahan juga patut
dikritisi. Banyak sinetron yang menampilkan kehidupan yang serba glamour. Tanpa bekerja orang bisa hidup mewah.
Anak-anak sekolahan dengan dandanan yang aneh-aneh tidak mencerminkan sebagai seorang pelajar justru
dipajang sebagai pemikat. Sikap terhadap guru, orangtua, maupun sesama teman juga sangat tidak mendidik.
Salah satu yang menjadi kejaran pihak sponsor untuk memasang iklan di salah satu program rating atau jumlah
penonton yang menyaksikan acara tersebut. Rating ini yang memang menjadi biang keladinya. Tidak peduli
tayangan
yang
mendapat
rating
itu
bermutu
atau
tidak.
Dikawatirkan anak-anak sekolahan meniru gaya, sikap, serta apa yang mereka lihat di sinetron-sinetron yang
berlimpah
kemewahan
itu.
Peranan
Orangtua
Memang televisi bisa berdampak kurang baik bagi anak, tetapi melarang anak sama sekali untuk menonton televisi

juga kurang baik. Yang lebih bijaksana adalah mengontrol tayangan televisi bagi anak-anak. Setidaknya memberikan
pemahaman kepada anak mana yang bisa mereka tonton dan mana yang tidak boleh. Orangtua perlu mendampingi
anak-anaknya
saat
menonton
televisi.
Memberikan berbagai pemahaman kepada anak-anak tentang suatu tayangan yang sedang disaksikan. Selain
sarana membangun komunikasi dengan anak, hal ini bisa mengurangi dampak negatif televisi bagi anak. Kebiasaan
mengonsumsi
televisi
secara
sehat
ini
mesti
dimulai
sejak
usia
dini.
Meski demikian, pihak pengelola program tayangan televisi pun punya tanggungjawab untuk melakukan penyaringan
acara-acara yang seronok, apalagi tayangan-tayangan iklan dengan menampilkan kemulusan kulit perempuan yang
bisa
disebut
70
persen
sudah
telanjang.
Perlu dipahami bahwa tempat pendidikan paling utama adalah di keluarga, dimana orangtua adalah yang paling
bertanggungjawab di dalamnya. Kenapa mesti orangtua? Karena orangtua yang bisa mengawasi anaknya lebih
lama. Orangtua paling dekat anaknya. Dalam keluargalah anak bertumbuh kembang. Membiarkan anak menonton
televisi secara berlebihan berarti membiarkan tumbuh kembang dan pendidikan anak terganggu. Kewajiban orangtua
juga untuk memantau kegiatan belajar anak di rumah. Perkembangan si anak tidak bisa terlalu dibebankan pada
sekolah.
Kita pun patut mempertanyakan peran KPI yang katanya berperan sebagai lembaga pengontrol program tayangan
televisi. Sudah seberapa banyak tayangan televisi berhasil dihentikan tayangannya karena tidak sesuai dengan
aturan dan budaya kita. Dan di mana peran ulama dan tokoh agama yang selama ini begitu getol mengkritisi dan
sekarang adem ayem?

Pembahasan
Setiap hari masyarakat dipengaruhi oleh serbuan media yang tidak terbendung salah satu
media yang sangat banyak memengaruhi pola prilaku dan pikiran masyarakat adalah televisi,
televisi bukan hanya membawa dampak positif dalam kehidupan tetapi televisi juga merupakan
pembawa perilaku negatif, bahkan dalam bukunya Neil Postman Menghibur diri sampai mati
ia mengatakan Televisi itu tidak etis, bahkan sangat buruk, keburukan itu bukan hanya kebetulan
melainkan juga menyangkut televisi pada umumnya sebagai teknologi sehingga hampir tidak
ada kemungkinan untuk memperbaikinya.
Saat sekarang ini telah banyak sekali bermunculan berbagai macam program acara televisi
baik dari Sinetron, Acara kuis, humor, talkshow, Reality show dan lainnya. Tetapi yang lebih
menjadi pilihan masyarakat adalah program-program televisi yang beraliran humor, maraknya
acara komedi di berbagai stasiun televisi saat sekarang ini menjadi fenomena yang sudah tidak
asing lagi. Maraknya acara-acara komedi di televisi kini sudah banyak yang dikemas dengan
hanya mengutamakan keuntungan semata sehingga dampaknya jauh dari pesan positif yang
dapat mendidik masyarakat.
1. Program Acara Hiburan di Televisi yang Kurang Mendidik Masyarakat
Saat sekarang ini tidak sulit untuk menemukan program acara televisi komedi bahkan sejak
puluhan tahun yang lalu jenis program ini sudah banyak bermunculan di layar kaca, pada saat
sekarang ini pun program-program televisi komedi banyak bermunculan di stasiun-stasiun
televisi, Sebut saja Opera Van Java Trans 7, Pesbukers ANTV dan lain sebagainya.
Opera Van Java Trans7 sendiri adalah acara komedi di Trans 7, Ide acaranya
adalah pertunjukkan wayang orang versi modern. Sementara Pesbukers ANTV menggunakan
konsepSketsa Reality dimana memasukan unsur gosip yang sedang hot ke dalam bentuk
sketsa, kedua program ini adalah contoh program hiburan komedi yang di gandrungi
masyarakat, untuk Opera Van Java sendiri lebih mengangat cerita-cerita wayang dan di kemas
kembali dalam bentuk lebih modern dalam perkembanganya sendiri Opera Van Java banyak
digandrungi masyarakat, Program ini masih dapat dikatakan mendidik masyarakat karena
terkadang mengangkat seni dan budaya warisan bangsa menjadi tema di setiap episode,
sementara Pesbukers program ini tidak ada nilai edukasi bagi masyarakat, tidak ada yang bisa
ditangkap selain tingkah aneh para pemainya. Salah satu pemain komedian pendatang yang
berkepala botak hitam, selalu dijelek-jelekan dengan kata-kata kotor bahkan yang menghina
seolah jijik dengan kehadirannya, setiap cerita yang disuguhkan, tidak ada yang jelas pesannya
pada penonton, artis perempuan selalu ditampilkan seksi-seksi, Olga Syaputra, menjadi artis
yang sedang dihujat banyak pemirsa TV bahkan dilaporkan ke KPI karena pembicaraan kepada
penelpon tentang ucapan salam. Ini langsung menjadi penghinaan bagi umat muslim. Dan
kejadian ini bukan pertama bagi olga, karena celotehannya sering terdengar menyinggung hati
pemirsa. di sesi terakhir menuju iklan, Kepala botak salah satu komedian akan dibedakin dengan
iringan pantun dari oppie kumis.
Program ini masih mengedepankan hiburan lelucon yang disajikan dengan kata-kata kasar,
makian, merendahkan, dan melecehkan, Pesbukers harusnya dapat belajar dari program Top
humor lainnya yang sukses bahkan dicintai penontonnya.
2. Program acara Televisi yang mendidik masyarakat
Ditengah maraknya acara televisi yang tidak mendidik masyarakat masih ada beberapa
stasiun televisi yang menghadirkan tayangan program-program televisi yang segar dan bernilai
edukasi. Berikut adalah jenis-jenis tayangan televisi yang bernilai edukasi bagi masyarakat.

a.

Tayangan Program Berita


Hampir setiap stasiun televisi mempunyai program jenis ini seperti Liputan 6 SCTV, Apa
Kabar Indonesia TVONE, Seputar Indonesia RCTI dan lain sebagainya, menonton berita sama
halnya membaca perkembangan yang terjadi, ini akan membuat wawasan dan kecerdasan
masyarakat lebih baik. Tetapi banyak pula jenis tayangan berita yang yang bersifat hiburan yang
kurang mendidik seperti infotaiment, menyaksikan berita-berita gosip tidak akan memberi
pengaruh positif bagi masyarakat yang menyaksikanya.
b. Tayangan Program Motivasi
Jenis program ini kini mulai muncul seperti Mario Teguh Golden Ways yang di tayangkan
Metro TV, tayangan ini bisa memberi pengaruh yang positif bagi masyarakat penontonya.
c. Tayangan Program Petualangan dan Ensiklopedia
Tayangan ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat contoh program ini di
banyak tayangkan di Trans 7 seperti Jejak Petualang dan lainya. Tayangan seperti ini akan
membuka wawasan dan meningkatkan motivasi untuk maju.
d. Tayangan Religi
Tayangan jenis ini sangat baik dijadikan tayangan program acara pilihan, tayangan jenis ini
biasanya banyak ditayangkan di pagi hari di berbagai stasiun televisi contohnya Mamah dan Aa
di ANTV.
3. Pengaruh yang Timbul Akibat Program Televisi yang Tidak Mendidik
Secara teoretis, Kuswandi mangatakan bahwa ada tiga dampak yang ditimbulkan acara
televisi terhadap khalayak (pemirsa), yaitu:
1. Dampak kognitif, yaitu kemampuan pemirsa untuk menyerap dan memahami acara yang
ditayangkan televisi yang melahirkan pengetahuan bagi pemirsa.
2. Dampak peniruan, yaitu pemirsa dihadapkan pada model yang sedang aktual sehingga pemirsa
ikut-ikutan untuk mencontohnya.
3. Dampak prilaku, yaitu proses tertanamnya nilai-nilai sosial budaya yang telah ditayangkan
acara televisi yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari para pemirsa.
Berdasarkan pendapat Kuswandi, timbul pro dan kontra terhadap dampak acara televisi,
beberapa pro dan kontra masyarakat berpendapat acara televisi dapat mengancam nilai-nilai
sosial yang ada dalam Masyarakat. acara televisi dapat menguatkan nilai-nilai sosial yang ada
dalam masyarakat. acara televisi akan membentuk nilai-nilai sosial baru dalam kehidupan
masyarakat.
4. Solusi yang Harus Dilakukan
1. Memberikan pendidikan yang terbaik bagi para Broadcaster dan Entertainer disertai nilai-nilai
yang benar.
2. Memproduksi program-program yang terbaik di semua bidang Entertainer.
3. Membangun jaringan dengan memanfaatkan semua infrastruktur dan fasilitas yang ada.