Anda di halaman 1dari 53

Modul #06

TE 3423
ANTENA DAN PROPAGASI

PENNGUKURAN
ANTENA
Program Studi S1 Teknik Telekomunikasi
Jurusan Teknik Elektro - Sekolah Tinggi
gg Teknologi
g Telkom
Bandung 2007

Organisasi
Modul 6

Pengukuran Antena

A. Pendahuluan

page 3

B. Persyaratan Umum Pengukuran Antena

page 8

C. Teknik-Teknik Pengukuran Antena

page 10

D. Pengukuran Diagram Arah dan Diagram Fasa

page 20

E.
E Pengukuran
P
k
Gain,
G i Direktifitas,
Di k ifi
dan
d Efisiensi
Efi i i

page 24

F. Pengukuran Impedansi, SWR, Bandwidth,


dan Distribusi Arus

ppage
g 38

G. Pengukuran Polarisasi Antena

page 47

H. Pengukuran
g
Temperatur
p
Antena

ppage
g 52

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

A. Pendahuluan
S k
Sekapur
Si
Sirih
ih ...
Pada bagian sebelumnya, telah menganalisa, mensintesa, dan menghitung
karakteristik dari antena. Ada beberapa macam sebenarnya metoda analisa antena.
Namun demikian,
demikian ada banyak juga antena yang tidak dapat diteliti secara analitis
disebabkan karena struktur dan metoda pencatuannya yang sangat rumit.
Dalam beberapa tahun belakangan ini, dikembangkan metoda-metoda analisa yang
p
Teori Difraksi
f
Geometris dan Metoda Momen,, tetapi
p tetap
p saja
j ada
khusus seperti
banyak antena yang tidak dapat dianalisis
dengan cara itu.
Karena itulah, kemudian diperlukan Pengukuran Antena, yang hasil-hasilnya
dipakai untuk menguji data teoritis
Terdapat
T
d
t beberapa
b b
k lit
kesulitan,
k tik kita
ketika
kit akan
k melakukan
l k k pengukuran,
k
yaitu
it :
Untuk antena besar, diperlukan pengukuran diagram arah yang
2
2
L
terlalu jauh. Persoalannya adalah bahwa pantulan dengan berbagai
r>

benda-benda
benda
benda di sekitar daerah pengukuran akan sulit dihindari
Sering tidak praktis untuk memindahkan antena dari tempat operasi ke tempat
pengukuran
U
Untuk
t k antena
t
tertentu
t t t seperti
ti Phased
Ph d A
Array ( Susunan
S
ddengan pengaturan
t
fasa
f
)),
mengukur karakteristik antena memerlukan waktu yang cukup lama
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

A. Pendahuluan
Untuk sistem pengukuran outdoor,
outdoor umumnya akan bergantung pada cuaca saat
pengukuran
Teknik pengukuran membutuhkan peralatan dan biaya yang sangat mahal
Sebagian dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi tersebut dapat dipecahkan
dengan :
Pemakaian teknik tertentu, seperti pengukuran medan dekat untuk prediksi medan
jauh
Pengukuran dengan model diskalakan
Pemakaian peralatan khusus, misalnya : Otomatisasi dan komputerisasi, serta
pemakaian ruang tanpa gema ( Anechoic Chamber )
Karakteristik antena yang diukur adalah , :
Diagram arah dan diagram fasa
Gain dan directivitas
Efisiensi
Impedansi, SWR, dan Bandwidth
Distribusi arus
Polarisasi
Temperatur antena
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

B. Persyaratan Umum Pengukuran Antena


Kebanyakan antena diukur sebagai penerima, sehingga
diperlukan persyaratan ideal pengukuran , yaitu : Medan gelombang
datar uniform ( Uniform Plane Wave ), beda fasa dan amplitudo

I B
I.
Beda
d ffasa dari medan yang diterima di tiap titik elemen antena diinginkan = 0,
r+
P

D = dimensi fisik antena


P = titik observator
D
r = jarak travelling gelombang dari tengah
antena
r + = jarak
j k travelling
lli gelombang
l b
dari
d i tepii
antena

Dari Phytagoras, didapatkan :


2
o
Beda fasa =
= 360
2
a
2

(r + ) = r 2 +
4

r << a
<< r

D
r
8

D 2 Dari rumusan yang didapatkan,


didapatkan beda fasa = 0 akan dicapai pada jarak r tak

8r berhingga ( Tidak mungkin diaplikasikan ) Perlu toleransi !!


TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

B. Persyaratan Umum Pengukuran Antena


S hi
Sehingga,
k
kemudian.
di
Cutler, King, dan Koch
merekomendasikan toleransi beda
fasa sebesar 22,5o atau ,

=
16
Sehingga, jarak minimum pengukuran antena adalah :
D2
r
8

16

atau

rmin

2D 2

Asumsi jarak ini sering dipakai


sebagai
b
i persyaratan medan
d jjauh
h !!

rmini

kD 2

Sebagai rumusan umum jika


g
toleransi beda fasa
diinginkan
lainnya

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

B. Persyaratan Umum Pengukuran Antena


II. Amplitudo dari kuat medan yang diterima di tiap titik elemen antena
diinginkan uniform

Lengkung
L
k
(taper)
(
) amplitudo
li d harus
h
cukup kecil

Ripple amplitudo harus cukup kecil

Polarisasi silang harus High Purity

Pada range pengukuran outdoor, variasi


kuat medan dapat disebabkan oleh
interferensi gelombang langsung dan
gelombang pantul dari tanah atau objek
l i
lain

Variasi medan hendaknya 0,25 dB

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

B. Persyaratan Umum Pengukuran Antena


III. Hal berikutnya yang harus diperhatikan
diperhatikan, untuk menghindari kesalahan ukur :
Keinginan untuk
mencapai :

Frekuensi sistem stabil


Kriteria medan jauh dipenuhi
Li k
Lingkungan
bebas
b b pantulan
t l / refleksi
fl k i
Lingkungan bebas noise dan interferensi benda sekeliling
Impedansi dan polarisasi yang sesuai
Antena diarahkan sesuai/berimpit dgn sumbu utama

Namun kondisi ideal di atas sangat sulit dicapai karena kondisi-kondisi


yang melekat saat pengukuran, yaitu :
P
Pengukuran
k
antena sering
i selalu
l l dipengaruhi
di
hi pantulan
t l gelombang
l b
yang tidak
tid k
diinginkan
Pengukuran ideal akan memerlukan jarak ukur yang terlalu besar
Sangat kompleks jika
jik melibatkan
lib tk sistem
i t antena
t
kkeseluruhan
l h (Mi
(Misall : pengukuran
k
antena pada pesawat )
Pengukuran Outdoor memberikan kondisi lingkungan EM yang tidak terkontrol
Pengukuran Indoor tidak mengakomodasikan pengukuran antena
antena-antena
antena besar
Secara umum teknologi pengukuran antena sangat mahal
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

B. Persyaratan Umum Pengukuran Antena


Untuk mengurangi pengaruh refleksi
refleksi, terutama yang berasal
dari pantulan tanah :
Menara dibuat sangat tinggi
Penggunaan absorber pada menara
Bahan menara terbuat dari fiber glass
Pada
P d antena
t
dengan
d
gain
i sangatt tinggi
ti i beam
b
kke tanah
t h lemah
l
h

Absorber

h1

Menara
Fiber

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

h2

C. Teknik-Teknik Pengukuran Antena


Berkaitan dengan lingkungan saat pengukuran
pengukuran, terdapat 2 macam
Medan ukur ( pada referensi yang lain disebut Antenna Range ), yaitu :
((1)) Medan Refleksi ( Reflection
f
Ranges
g )
Medan langsung dan pantul membentuk penurunan yang kecil
simetris ke tepi
Desain medan ukur refleksi cukup kompleks dan tergantung pada
koefisien refleksi tanah. Parameter desain utamanya adalah
menentukan ketinggian AUT ( Antenna Under Test )

(2) Medan Ruang Bebas

( Free Space Ranges )

Outdoor Free Space Ranges


a. Medan ditinggikan ( Elevated Range )
b. Medan dimiringkan ( Slant Range )

Indoor Free Space Ranges


a. Anechoic Chamber
b. Compact Antenna Test Range (CATR)

Near Field - Far Field Method

Terdiri dari

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

10

C. Teknik-Teknik Pengukuran Antena


Medan Refleksi ( Reflection Ranges )...
)
Medan refleksi didesain
sedemikian hingga gelombang
pantul menjadi interferensi yang
bersifat konstruktif, dan daerah
tes AUT adalah daerah gelombang
datar serbasama (uniform plane
wave)
Desain medan ukur refleksi cukup
kompleks dan tergantung pada
koefisien refleksi tanah. Parameter
desain utamanya adalah
menentukan ketinggian AUT
( Antenna Under Test ),
)
sedangkan ketinggian antena
sumber biasanya diketahui

Detail pengukuran dengan medan refleksi


dapat dilihat pada paper berikut :
L.H. Hemming and R.A. Heaton, Antenna gain calibration on a ground reflection
range, IEEE Trans. on Antennas and Propagation, vol. AP-21, pp. 532-537, July 1977.
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

11

C. Teknik-Teknik Pengukuran Antena


M d Diti
Medan
Ditinggikan
ik ( Elevated
El t d Ranges
R
)
)...

Rx
D

Tx

Kriteria dan
persyaratan umum :
Antena umumnya ditempatkan
pada menara atau bangunan yang
tinggi

Kondisi Line Of Sight tercapai

h1

h2

Antena sumber memiliki gain


yang tinggi / side lobe rendah ,
sehingga energi gelombang tidak
ada yang diarahkan ke permukaan
bumi
Diasumsikan bumi datar (smooth
earth)

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

12

C. Teknik-Teknik Pengukuran Antena


Medan Dimiringkan ( Slant Ranges ) ...
Kriteria dan
persyaratan umum :
AUT ( Antenna Under Test )
ditempatkan pada ketinggian tetap
diatas non conducting tower
( Misal : terbuat dari fiberglass )
Antena sumber harus memiliki null
ke arah tanah ( atau sidelobe cukup
kecil )
Memerlukan situasi daerah terbuka
untuk meminimisasi pantulan dari
bangunan-bangunan

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

13

C. Teknik-Teknik Pengukuran Antena


Anechoic Chamber ...
Anechoic Chamber adalah ruang tanpa gema
yang populer untuk pengukuran terutama untuk
antena gelombang mikro.
Anechoic chamber memberikan ketepatan
pengukuran dan lingkungan elektromagnetika
yang terkontrol, serta berfungsi sebagai suatu
sangkar
k Faraday
d sehingga
hi
mencegahh interferensi
i
f
i
EM dari dalam dan/ke luar ruangan.

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

14

C. Teknik-Teknik Pengukuran Antena


Anechoic Chamber ...

Anechoic chamber pertamakali


dikembangkan selama Perang Dunia II
oleh Jerman dan Amerika Serikat.
Pembuatan anechoic chamber menjadi
mungkin setelah materi penyerap
gelombang RF ditemukan dan tersedia
secara komersial
2 macam tipe anechoic chamber
adalah :
a. Tapered chamber (menyempit)
b. Rectangular chamber (persegi)

Ripple

Test
Zone

Tapered chamber

Rectangular chamber

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

15

C. Teknik-Teknik Pengukuran Antena


Compact Antenna Test Range (CATR) ...
Batasan yang dimiliki anechoic chamber
adalah jarak untuk memenuhi syarat
medan jauh.
jauh Hal ini diatasi oleh 2
pendekatan :
Pembuatan CATR yang memungkinkan
pembangkitan uniform plane wave
pada jarak yang sangat dekat
menggunakan pemantul parabola
Transformasi medan dekat ke medan
jauh ( near field - far field method )
Paraboloidal sebagai pemantul gelombang harus dibuat sepresisi mungkin dengan
dimensi 3 atau 4 kali dimensi antena yang diukur untuk memberikan karakteristik
uniform
f
plane
l
wave yang baik.
b ik
Daerah pengukuran antena (disebut quite zone ) yang dicapai CATR umumnya
antara 50-60 % dari ukuran reflektor. Sedangkan phase error kurang dari 10%, dan
deviasi ripple dan amplitudo tapper kurang dari 1 dB
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

16

C. Teknik-Teknik Pengukuran Antena


Near Field - Far Field (NF/FF) Method ...
Antenna Under Test pada Mode Radiasi.
Amplituda medan, fasa, dan polarisasi diukur pada medan dekat, selanjutnya data
medan dekat tersebut ditransformasikan ke pola medan jauh dengan teknik analisis
matematis yang diimplementasikan pada software komputer
Pada metoda ini, probe ukur bergerak pada bidang datar, silinder atau bidang bola.
Pola medan jauh akan didapatkan dengan Fast Fourier Transform
Lihat paper-paper berikut untuk mempelajari metoda NF/FF :
R.C. Johnson,, H.A. Ecker,, and J.S. Hollis,, Determination off ffar-field
f
antenna
patterns from near-field measurements, Proc. IEEE, vol. 61, No. 12, pp. 16681694, Dec. 1973.
D.T. Paris, W.M. Leach, Jr., and E.B. Joy, Basic theory of probe compensated nearffield measurements,
, IEEE Trans. on Antennas and Propagation,
p g
, vol. AP-26,, No. 3,,
pp. 373-379, May 1978.
E.B. Joy, W.M. Leach, Jr., G.P. Rodrigue, and D.T. Paris, Applications of probe
compensated near-field measurements, IEEE Trans. on Antennas and Propagation,
vol. AP
AP-26,
26, No. 3, pp. 379 - 389, May 1978.
A.D. Yaghjian, An overview of near-field antenna measurements, IEEE Trans. on
Antennas and Propagation, vol. AP-34, pp. 30-45, January 1986.
17
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

C. Teknik-Teknik Pengukuran Antena


Pengukuran model diskalakan
Pada pemakaian di kapal laut, kapal terbang, pesawat ruang angkasa yang besar
dan sebagainya, jika dilakukan pengukuran sesungguhnya maka struktur bisa
sangatt besar
b
sehingga
hi
antena
t
tidak
tid k bisa
bi dipindahkan
di i d hk ke
k medan
d ukur
k untuk
t k di
ukur.
Selain itu pemindahan akan menghilangkan atau mengganti keadaan
lingkungan yang berlainan dengan kondisi sebenarnya
sebenarnya. Untuk memenuhi syarat
teknis, maka biasanya dilakukan pengukuran setempat.
Suatu teknik yang dapat dilakukan untuk melaksanakan pengukuran antena
yyang
g berhubungan
g dengan
g struktur yyang
g sangat
g besar adalah dengan
g modelling
g
skala geometris. Pemakaian modelling ini bertujuan untuk :
(1) Dengan medan ukur yang kecil, dapat diakomodasikan pengukuran
yang dapat direlasikan dengan struktur yang sangat besar
(2) Memungkinkan dilakukannya kontrol eksperimental terhadap
pengukuran,
(3) Minimisasi biaya yang berhubungan dengan struktur yang sangat besar,
dan studi parameter
parameter-parameter
parameter eksperimental yang sesuai
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

18

C. Teknik-Teknik Pengukuran Antena


Modelling skala geometris dengan suatu faktor p,
p yaitu p > 1 atau p < 1
memerlukan skala berikut :
Parameter yg diskalakan

Parameter yg tetap
p

panjang

L = L p

permitivitas

waktu
k

t = t / p

permeabilitas
bili

panjang glb

= / p

kecepatan gelombang

kapasitansi

C = C / p
C

impedansi

daerah gema

Ac = Ac / p

gain

frekuensi

ff = f p

konduktivitas

= p

D l
Dalam
praktek,
kt k sering dipakai p > 1 tetap
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

19

D. Pengukuran Diagram Arah Medan dan Diagram Arah Fasa

Pengukuran diagram arah dilakukan pada suatu permukaan bola


dengan radius konstan. Sedemikian, bahwa diagram arah dapat kita duga
adalah 3 dimensi. Namun akuisisi pola 3D adalah tidak praktis, sehingga
potongan orthogonal diagram arah 2D lebih sering ditampilkan.
Sistem pengukuran
diagram
g
arah medan

Antena sumber / antena referensi :


f < 1 GHz : Log periodik / dipole /2
f > 400 MHz : Parabola / Horn
dengan bandwidth lebar

Sistem penempatan dan


pengarahan :
berupa suatu penyangga
yang dapat diputar
(azimuth dan elevasi),
dikontrol, dengan
indikator posisi

Sistem penerima :
bisa sederhana berupa
p
detektor langsung, atau
cukup kompleks
(heterodyne+PLL, dsb)

Pemancar :
Frekuensi stabil dan dapat
dikontrol, spektrum murni
(spurious dan harmonisa
kecil)

Sistem perekam dan pencatat, ada


2 macam : (1) Linear / orthogonal
(dpt di-spread) , (2) Polar
Sistem Pemroses Data berfungsi
untuk komputasi
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

20

D. Pengukuran Diagram Arah Medan dan Diagram Arah Fasa


Pada
P d pengukuran
k
di
diagram arah,
h tiap titik ukur diidentifikasi sebagai ( , )
dalam koordinat bola dengan R dibuat konstan, sedangkan antena ditempatkan pada
koordinat ( 0,0,0 )
Pengukuran lengkap diagram arah meliputi pengukuran diagram arah medan listrik
dan medan magnet , serta masing-masing diagram fasanya.
Diagram arah medan

E = f1 (, )

E = f 2 (, )

H = f 3 (, )

Diagram arah fasa

= g1 (, )

= g 2 (, )
= g 3 (, )

= g 4 (, )
H = f 4 (, )
Diagram arah sesungguhnya 3D
3D, tetapi
t t i ditampilkan
dit
ilk potongan
t
2D.
2D Biasanya
Bi
akan dipilih 2 bidang saja yang mewakili untuk menyatakan E dan H dominan.
Misal : Pada konstan ( 0 2 ) , dengan variabel ( 0 s/d )
Pada konstan ( 0 ) , dengan variabel ( 0 s/d
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

21

D. Pengukuran Diagram Arah Medan dan Diagram Arah Fasa


Pada pengukuran diagram fasa, ada 2 macam sistem dasar yaitu :
(1) sistem dengan sinyal referensi yang didapat dari sumber melalui saluran
transmisi, (2) sistem yang memakai referensi berupa sinyal yang diterima dari
antena yang tetap dan
d didekatkan
did k k antena yang diukur.
di k
Pada sistem pertama, dipakai untuk pengukuran medan dekat atau medan yang
berjarak tidak jauh dari sumber. Sedangkan sistem kedua dipakai untuk pengukuran
medan
d jauh.
j h Diagram
Di
kedua
k d sistem
i
ini
i i dapat
d
dilihat
dilih pada
d halaman
h l
berikutnya.
b ik
Pengukuran diagram fasa dilakukan dengan memutar antena yang diukur,
sedangkan antena yang tetap bertindak sebagai referensi. Rangkaian pengukur fasa
d
dapat
bberbentuk
b
k sistem
i
heterodyne
h
d
2 kanal.
k l
Pengukuran
diagram fasa

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

22

D. Pengukuran Diagram Arah Medan dan Diagram Arah Fasa


Diagram Sistem Pengukuran
Peng k ran Fasa

(a) Medan
dekat

antena yang
diukur
sumber
Rangkaian
pengukur fasa

probe gerak
referensi
yang diukur

kabel fleksibel

antena tetap

(b) Medan
Jauh

referensi
Rangkaian
pengukur fasa
antena yang
diukur

sumber jauh

alat putar
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

23

E. Pengukuran Gain, Direktivitas, dan Efisiensi

I. Pengukuran Gain
Pengukuran gain, secara esensial membutuhkan persyaratan yang sama seperti
pada pengukuran diagram arah, namun tidak terlalu sensitif terhadap pantulan dan
interferensi EM
Untuk frekuensi di atas 1 GHz digunakan medan ukur ruang bebas ( free space
range ), sedangkan untuk frekuensi antara 0,1 sampai 1 GHz digunakan medan ukur
refleksi
fl k i ( ground
d reflection
fl
range )
Pada frekuensi di bawah 0,1 GHz, dimensi antena menjadi sangat besar dan
umumnya gain langsung diukur pada tempat operasinya. Sedangkan untuk frekuensi
di bawah 1 MHz (umumnya untuk groundwave),
groundwave) gain tidak biasa diukur dan yang
diukur adalah medan listrik yang dihasilkannya.
Gain, direktivitas, dan efisiensi memiliki hubungan rumus yang sudah kita kenal :

Gain = eff Direktivitas


TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

24

E. Pengukuran Gain, Direktivitas, dan Efisiensi


Metoda Pengukuran Gain
Metoda yang dipakai untuk mengukur gain antena ada beberapa macam, yaitu :
Cara 2 antena

Metoda
pengukuran
k
gain

A. Pengukuran absolut
Dibandingkan terhadap
antena isotropis
Digunakan untuk kalibrasi
standar

Cara 3 antena
Ekstrapolasi medan dekat
Medan refleksi tanah

B. Pengukuran
g
banding
g / relatif
Perlu antena pembanding / referensi
Estimasi gain untuk antena referensi :
Dipole /2
G = 2,1 dB ( Polarisasi linear,
kecuali jika ada pantulan
menyebabkan polarisasi eliptik)
Horn piramid

12 dB G 25 dB ( Polarisasi
eliptik dengan axial ratio AR
antara ( 40 dB AR )

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

25

E. Pengukuran Gain, Direktivitas, dan Efisiensi


(a) Pengukuran gain
absolut frekuensi
tunggal
Jika BW <<

Rangkaian kopling terkalibrasi


Tuner

Tuner

Tuner

Tuner

Coupler
Adaptor

Adaptor
Attenuator

Peralatan
P
l t
yang dites A

Peralatan
P
l t
yang dites B

Tuner
Titik ukur
penerimaan

Titik ukur pancaran


Sumber

(b) Pengukuran gain


absolut frekuensi
sapu
Jika BW >>

Counter

Sinyal pengatur
Sinyal
frekuensi
sapu

Coupler

Antena
pemancar
Coupler
Peredam
variabel

Referensi frekuensi

Antena
penerima

Sinyal pancar
referensi

Peredam
presisi
variabel
Sinyal terima

Perekam
Sistem
X-Y
penerima
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

26

E. Pengukuran Gain, Direktivitas, dan Efisiensi


Metoda 2 Antena ( Two-Antenna
Two Antenna Method )
Sering juga disebut sebagai metoda
resiprositas ( reciprocity method )
Prinsip dasar :
Membandingkan daya yang masuk ke
antena Tx dengan daya yang diterima
antena Rx dengan konsep Transmisi
Friis, setelah jarak antara kedua antena
diketahui


W R = WT G T G R

4 r
GT = GR = G
G=

WR 4 r

WT

Antena yang digunakan adalah 2 buah


antena identik, satu digunakan sebagai
antena pemancar dan satu digunakan
g antena ppenerima
sebagai

G ( dBi )

1
4R
WR
+ 10 log
= 20 log

WT

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

27

E. Pengukuran Gain, Direktivitas, dan Efisiensi


Metoda 3 Antena ( Three-Antenna
Three Antenna Method )
Digunakan jika antena yang diukur
tidak identik
Prinsip dasar :
Membandingkan 3 kombinasi daya
yang masuk ke antena Tx dengan
daya yang diterima antena Rx dengan
konsep Transmisi Friis, setelah jarak
antara kedua antena diketahui
Diukur 3 kombinasi antena (1-2),
(1 2)
(1-3), dan (2-3)
Yang diukur adalah : jarak R, , dan
perbandingan antara daya terima
dengan daya kirim

Antena#1 ke Antena#2

4R
WR 2
G1 + G 2 = 20 log
+ 10 log

W
T1

Antena#1 ke Antena#3

WR 3
4R
+ 10 log
G1 + G 3 = 20 log

W
T1

Antena#2 ke Antena#3

WR 3
4R
G 2 + G 3 = 20 log
+ 10 log

T2

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

28

E. Pengukuran Gain, Direktivitas, dan Efisiensi


Metoda 3 Antena ( Three-Antenna Method )

Sehingga kita akan dapatkan


kombinasi persamaan berikut :

G1 + G 2 = A ( dBi )
G1 + G 3 = B( dBi )
G 2 + G 3 = C ( dBi )

3 persamaan dengan 3 variabel


yang tidak diketahui, dapat mudah
diselesaikan :

A+BC
(dBi )
G1 =
2
AB+C
(dBi )
G2 =
2
A+B+C
(dBi )
G3 =
2

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

29

E. Pengukuran Gain, Direktivitas, dan Efisiensi


Metoda Medan Refleksi Tanah ( Ground Reflection Method )
Adalah teknik pengukuran yg
dipakai untuk antena frekuensi
< 1 GHz
GH ddengan bberkas
k agak
k llebar
b
Memperhitungkan pengaruh
refleksi bumi
Da

Db

Dapat dipakai metoda 2 antena


atau 3 antena
Syarat :
Polarisasi horisontal, karena
refleksi pada polarisasi horisontal
sangat bervariasi.
S hi
Sehingga,
antena
t
vertikal
tik l akan
k
diukur secara horisontal

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

30

E. Pengukuran Gain, Direktivitas, dan Efisiensi


Metoda medan refleksi tanah hanya
y dipakai
p
pada antena dengan
p
g p
polarisasi linier
dan untuk antena loop harus dilakukan modifikasi
Pada medan refleksi tanah : diukur parameter-parameter daya derima, daya kirim,
y
saat medan maksimum dan minimum,, sehingga
gg gain
g
dan jjarak untuk 2 keadaan,, yaitu
akan dapat dihitung.
max
hr
ht
Medan
maksimum
Medan
minimum

min
hr
h t

4R D
Wr
rR D

G a + G b = 20 log
+ 10 log
20 log D a D b +

Wt
RR

(D ' D ') R ' D D


R D Wr
D
a b
Wr ' a b
R R R R '

r =

+R '
R D R D '
R R Wr

R
W
'
r

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

31

E. Pengukuran Gain, Direktivitas, dan Efisiensi


M d Ekstrapolasi
Metoda
Ek
l i Medan
M d Dekat
D k
Metoda ekstrapolasi adalah metoda pengukuran gain absolut yang dapat dilaksanakan
dengan metoda 3 antena dan dikembangkan untuk mereduksi kesalahan-kesalahan
karena medan antena, lintasan ganda, dan karena ketidak-identikan antena.
Metoda ini dapat pula mengukur polarisasi asal paling banyak hanya satu antena yang
berpolarisasi sirkular.
Pada cara ekstrapolasi medan dekat : Antenna Under Test (AUT) berlaku sebagai
pemancar dan probe ukur penerima ditempatkan sangat dekat dengan apertur antena
pemancar (AUT).
Cara ini meng-asumsikan bahwa semua daya yang terpancar melalui apertur Ap.
Sedangkan hasil ukur E(x,y) dapat diekstrapolasi untuk mneliti karakteristik medan
jauhnya
Pada metoda ini, diperlukan pengukuran amplitudo dan fasa jika diinginkan gain dan
polarisasi. Sedangkan jika hanya gain, maka cukup hanya amplitudo saja yang diukur.

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

32

E. Pengukuran Gain, Direktivitas, dan Efisiensi


Metoda Ekstrapolasi Medan Dekat...
Gain absolut thd isotropik diperoleh dari relasi BRACEWELL :

4Ap
A
G= 2

dengan
dengan,

E(x, y ) E(x , y )
1
dxdy

Ap Ap E av E av
E(x,y)
E(x
y)
Ap
*

= medan listrik di koordinat (x,y)


(x y) pada apertur
= apertur fisik AUT
= konjugat kompleks

1
E(x , y )dxdy
E av =

Ap Ap

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

33

E. Pengukuran Gain, Direktivitas, dan Efisiensi


Metoda Perbandingan Gain ( Gain-comparison
Gain comparison Method )
Sering juga disebut sebagai Gain Transfer Method
p dasar :
Prinsip
Memerlukan antena referensi yang nilai gainnya sudah pasti diketahui
Prosedur ini memerlukan 2 kali pengukuran. Pertama antena yang diukur
p
sebagai
g penerima
p
dengan
g polarisasi
p
yang
y g sesuai dan daya
y yang
y g
ditempatkan
diterima dicatat. Kemudian antena referensi diukur juga dengan cara yang sama
(polarisasi, orientasi, dan posisi)
p :
Maka ggain absolut terhadapp isotropik

WRX
[dBreff ]
G AUT [dBi] = G REF [dBi] + 10 log
WREF
WREF = daya terima antena referensi
WRX = daya terima AUT
GREF = gain
i antena
t
referensi
f
i absolut
b l t terhadap
t h d isotropik
i t ik (diketahui)
(dik t h i)
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

34

E. Pengukuran Gain, Direktivitas, dan Efisiensi


II Pengukuran Direktivitas
II.
Direktivitas biasanya diperoleh dari perhitungan jika fungsi diagram arah diketahui
dan fungsi itu didekati dengan membuat kurva diagram arah atas dasar pengukuran.
Dengan menghitung lebar berkas misalnya dengan komputer, maka pengarahan D
dapat dihitung dari :

4
D=
B

dengan

f (, )

B=
sin
i d d
f (, )max

Dari definisi,,

f (, )
= fungsi intensitas radiasi ternormalisasi terhadap sudut ruang
f (, )max dan ( daya per radian persegi )

maka, dapat diperoleh dari kuat medan listrik

B = Pn (, )sin d d
Pn (,) adalah normalized power pattern

E + E
2

Pn =

(E

+ E

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

max

35

E. Pengukuran Gain, Direktivitas, dan Efisiensi


Pengukuran Direktivitas...
Untuk diingat kembali, jika f (,) diketahui, maka lebar berkas B akan dapat
dihitung.
Sedangkan untuk antena unidirectional dan D > 10, lebar berkas dapat didekati
dari rumus :

B 1 1
2

Untuk polarisasi sirkular dan elliptis, maka pengukuran dilakukan 2 kali,


sehingga :
dengan syarat pada polarisasi
liniernya terdapat polarisasi silang

< - 4 dB

D=D +D

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

36

E. Pengukuran Gain, Direktivitas, dan Efisiensi


III P
III.
Pengukuran
k
Efi
Efisiensi
i i
Efisiensi biasanya dihitung setelah gain G dan direktivitas D didapat dari hasil
ppengukuran
g
yyang
g sudah dilakukan. Efisiensi dinyatakan
y
oleh rumus berikut :

eff

G
=
D

Untuk antena sederhana, efisiensi didapat dari perhitungan :

eff

Rr
=
RA

Rr tahanan pancar (dari perhitungan)


RA impedansi antena / terminasi (dari pengukuran)

Untuk antena terpasang, rugi-rugi termasuk rugi-rugi oleh keadaan


sekeliling

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

37

F. Pengukuran Impedansi, SWR, Bandwidth, & Distribusi Arus


I. Pengukuran Impedansi ( dan SWR )
Pengukuran Impedansi dapat harus tetap memenuhi syarat bahwa antena
bebas dari pengaruh sekitarnya (ingat konsep impedansi gandeng) sedemikian
sedemikian, alat
ukur pada pengukuran langsung akan memiliki jarak terhadap antena yang diukur.

Impedansi dapat

((1)) Dari p
pengukuran
g
SWR / Koefisien Refleksi
serta jarak minimum pertama

diukur dengan 2 macam


cara,
ca
a, yaitu
ya u :
(2) Pengukuran langsung dengan menggunakan
jembatan atau dengan Network Analyzer
( Umumnnya akan lebih presisi )

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

38

F. Pengukuran Impedansi, SWR, Bandwidth, & Distribusi Arus


(1) Pengukuran Impedansi ( Melalui
M l l i Pengukuran
P
k
SWR / Koefisien
K fi i Refleksi
R fl k i )
Impedansi antena dihitung dari koefisien refleksi yang terukur pada terminal antena.
Di bawah ini adalah kaitan beberapa
p pengukuran
p g
dengan
g ppengukuran
g
impedansi
p
Pengukuran

Standing Wave Ratio

Ukur :
Vmax
Vmin
Fasa koefisien pantul

SWR =

Impedansi Antena

1+
Z A = Z0
1

Vmax
Vmin
Koefisien Pantul

SWR 1
SWR + 1
1
d
= 720 0 vm
4

=

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

39

F. Pengukuran Impedansi, SWR, Bandwidth, & Distribusi Arus


Sensor koefisien refleksi dapat berupa Slotted Coax Line atau berupa Directional
Coupler. Sedangkan pengukuran koefisien refleksi dihitung dari distribusi tegangan yang
diukur sepanjang perangkat tersebut
(1) Slotted Coax Line
Instrumen sederhana dan murah
Ada bocoran medan pada celah
Tidak p
praktis untuk frekuensi sapu
p
Slotted coax line

(2) Directional Coupler


Praktis untuk frekuensi sapu
Tidak ada bocoran medan pada celah
Perlu instrumen yang rumit dan mahal
Directional Coupler

ground
plane

coaxial line to voltage probe

output utk VL
(wave to left)

sliding carriage

inner conductor

output
connector

air

R1
monopole

Vmin (short )

Vmin (short )

x V min

sumber

R1
L
t t utk
tk VR
output
(wave to right)

Vmin (antena
)
TE3423
- Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

output
connector

40

F. Pengukuran Impedansi, SWR, Bandwidth, & Distribusi Arus


Pada slotted coax line, pengukuran dilakukan 2 kali :
Ketika antena dilepas, dibuat short circuit pada terminal beban sehingga
dapat dicari 2 posisi tegangan minimum ( Vmin
i (short) )yang berurutan.
Jarak antara kedua posisi tegangan minimum yang berurutan adalah
Ketika antena dipasang, dapat dicari posisi tegangan minimum Vmin(ant) di
dalam slotted line , maka :

xvm = Selisih jarak antara Vmin(ant) I dgn Vmin(short) I


dan

x vm 1
= 720

4

0

= panjang gelombang di dalam slotted line

v
c
dengan k = velocity factor
=k
f
f

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

41

F. Pengukuran Impedansi, SWR, Bandwidth, & Distribusi Arus


(2) Pengukuran Impedansi ( Cara Langsung )
Pengukuran Impedansi harus tetap memenuhi syarat bahwa antena bebas dari
pengaruh sekitarnya, sehingga pengukuran impedansi harus dua kali , yaitu
Pengukuran impedansi antena bersama-sama dengan saluran transmisi, ZA+K
Pengukuran saluran transmisi saja yang dihubung singkat , ZKS
Harus diperhatikan
H
di h tik jjuga panjang
j
gelombang
l b
dalam
d l saluran
l
transmisi.
t
i i Umumnya
U
kecepatan gelombang dalam saluran transmisi , v c.
Sehingga,

v
c
= =k
f
f

k = velocity factor

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

42

Pengukuran Impedansi
Cara Langsung

(1)

Z=0

Zin = ZKS
(2)

Z=0

Zin = ZA+K

ZKS

ZA

ZA+K
L

SWR = K

ZA

Dengan memutar
inpedansi ZA+K pada
lingkaran SWR yang
t t melalui
tetap
l l i sudut
d t dan
d
arah yang sama dengan
pemutaran ZKS, maka
p impedansi
p
akan didapat
antena, ZA

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

43

Pengukuran Langsung
Untuk Saluran Meredam
Untuk saluran
meredam, impedansi
antena didapat dengan
memperhatikan bahwa
bah a :
r1

l1 l 2
=
r1 r2

Z=0
r2

l1

Sedangkan konstanta
redaman dapat pula
dicari dari hubungan :

l2

SWR = K

ZKS

SWR = K

ZA

ZA+K
L

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

K '1
0 =
K '+1

K=

1 + 0 e 2 L
1 0 e 2 L
44

F. Pengukuran Impedansi, SWR, Bandwidth, & Distribusi Arus

II Pengukuran Bandwidth
II.
Pengukuran bandwidth

DC

dilakukan dengan sebelumnya


melakukan pengukuran SWR
pada range frekuensi tertentu
dengan menggunakan Sweep
Generator dan Osiloskop
Lissajous

sweep
generator

x
osiloskop

Bandwidth ditentukan
berdasarkan batas maksimum
VSWR yang sudah terdefinisi (
1 1 ; 1,2
1,1
1 2 ; 1,35
1 35 ; atau 1,5
15)

VSWR
BW

1,1

fL

fH

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

45

F. Pengukuran Impedansi, SWR, Bandwidth, & Distribusi Arus

III Pengukuran Distribusi Arus


III.
Pengukuran distribusi arus kadangAntena

kadang dilakukan untuk meramalkan /


menghitung E, H, diagram arah, distribusi
pada medan jauh maupun medan dekat
U u antena
a e a tertentu,
e e u, kadang-kadang
ada g ada g
Untuk
distribusi arusnya sulit diperkirakan,
sehingga harus diukur.
p teknik ppengukuran
g
yyang
g dapat
p
Ada beberapa
dipakai : salah satu cara yang sederhana
adalah dipakai loop kecil untuk mencuplik
arus dengan menempatkan loop tersebut
didekat radiator (antena)
Syarat :
- Jarak sensor / loop ke konduktor harus tetap
- Kadang-kadang
K d
k d
perlu
l choke
h k untuk
t k isolasi
i l i

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

46

G. Pengukuran Polarisasi Antena


= 0o

Polarisasi didefinisikan sebagai


a r

lokasi
antena

= 90o
= 0o

= 90o
= 90o

y berbentuk ellips
p dan
Polarisasi biasanya
pada sistem koordinat bola dibentuk oleh
komponen medan listrik di arah dan
( E dan E)

Arah propagasi

Right hand /
putar
t k
kanan

Kurva yang dijejaki oleh kuat medan


listrik sesaat yang dipancarkan oleh
pada frekuensi
f
tertentu pada
p
antena p
bidang tegak lurus arah radial ,
seperti ditunjukkan gambar di samping !

Umumnya karakteristik polarisasi antena


ditentukan oleh : (1) Perbandingan
sumbu (axial ratio : AR), (2) Arah putar
( CW atau CCW ) , (3) Right Hand (RH)
atau Left Hand (LH), dan (4) Sudut
condong (tilt angle = )

Left hand /
putar kiri
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

47

G. Pengukuran Polarisasi Antena


H
Harus diperhatikan,
di h tik
b h umumnya polarisasi
bahwa
l i i antena
t
akan
k tidak
tid k
sama untuk arah yang berbeda. Sedemikian, polarisasi akan tergantung
pada sudut pengamatan.
Metode pengukuran polarisasi dikategorikan atas 3 macam metode :
- Metode parsial :

Sederhana, tetapi tidak memberikan informasi


g p dan pperalatan yyang
g dibutuhkan cukupp
lengkap
konvensional

- Metode perbandingan
Memberikan informasi lengkap dan membutuhkan
:
standar polarisasi

- Metode absolut:

Memberikan informasi lengkap dan tidak


membutuhkan standar polarisasi

Metode yang dipilih dalam mengukur polarisasi tergantung kepada


: macam antena yang diukur, ketelitian yang disyaratkan, waktu ,
yang
g tersedia.
dan dana y
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

48

G. Pengukuran Polarisasi Antena


Salah satu metoda parsial yang cukup
populer adalah Polarization-Pattern
Method yang menghasilkan parameter
polarisasi ellips ( axial ratio dan tilt angle )

( Polarization pattern method )

Pada metode ini, AUT dapat berada pada


receiving mode atau transmitting mode.
Sedangkan probe harus terpolarisasi linear
((misalnya
y : dipole)
p ) dan pola
p pancarnya
p
y
sudah diketahui dengan baik.
Arah radiasi dispesifikasikan oleh sudut
( dan )

( Axial ratio pattern method )

Axial ratio ppattern method termasuk


salahsatu dari metoda parsial.

Sinyal pada output probe tergantung dari 2


faktor, yaitu : (1) Polarisasi antena , dan
(2) Sudut rotasi probe.
Level sinyal diukur dan direkam, versus
sudut rotasi. Sehingga pola polarisasi
didapatkan dengan memperhatikan arah
radiasi.

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

49

G. Pengukuran Polarisasi Antena


Polarisasi Linear
Misalkan probe terpolarisasi linear sepanjang
sumbu-z, dan radiasi antena diasumsikan pada
sumbu-z, maka hasil pengukuran pada
gambar disamping ini memperlihatkan bahwa
AUT terpolarisasi linear

Polarization-pattern method
tidak memberikan informasi
mengenai arah rotasi
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

50

G. Pengukuran Polarisasi Antena


Polarisasi Sirkular

Polarisasi Elliptik

Contoh hasil pengukuran polarisasi.


G b menunjukkan
Gambar
j kk polarisasi
l i i
mendekati polarisasi sirkular
TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

51

H. Pengukuran Temperatur Antena


Temperatur antena menyatakan daya derau yang diterima antena,
antena yaitu :

Wn
TA =
k BN

Dimana,
TA Temperatur antena , ( oK )
Wn Daya derau yg diperoleh dari terminal antena penerima
k
Konstanta Boltzman, ( 1,38.10-23 Joule / oK )
B
Lebar bidang frekuensi sistem

Karena derau
d
yang diterima
dit i antena
t
bergantung
b
t
kepada
k d arahh antena,
t
maka
k pada
d
pengukuran temperatur antena lobe utama diarahkan kepada arah / zenith yang
kosong atau sumber derau yang besar (mis. matahari, pusat galaksi, dll ) tidak
pada lobe utama antena
terletak p

TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

52

H. Pengukuran Temperatur Antena


Metoda pengukuran dapat dilihat sebagai berikut. Disini digunakan
generator derau sebagai pembanding. Pembacaan indikator dibuat sama, dalam keadaan
penerima terhubung ke antena dan ke generator derau. Yaitu saklar S pada posisi 1 dan 2,
sehingga
gg : Temperatur
p
antena = Temperatur
p
ggenerator derau
Antena
adjustable

Generator
derau

1
2

Treff

Penerima
d
derau
rendah

Indikator
d
daya
d
derau

Adjustable Noise Generator


Beban

Treff =

Ts = 4o K (He)
= 80o (N)

Ts
1
+ T0 1
L
L

Peredam
L variabel

Treff

Output

B N , T0 = 290 o K

N reff = k Treff B N

Jika, 1 < L < , maka Ts < Treff < T0


TE3423 - Antena dan Propagasi - Pengukuran Antena

53