Anda di halaman 1dari 2

Penetapan antalgin secara iodimeteri

Tujuan: dapat menentukan kadar antalgin dengan metode iodimetri


Dasar teori:
Iodimetri merupakan analisis titrimetri yang secara langsung digunakan untuk zat reduktor
atau natrium tiosulfat dengan menggunakan larutan iodin atau dengan penambahan larutan
baku berlebihan. Kelebihan iodine dititrasi kembali dengan larutan tiosulfat. Metode titrasi
langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar dan digunakan
untuk menentukan kadar suatu reduktor.
Reduktor + I2 (2Na2S2O3 + I2 NaI+Na2S4O6)
Larutan baku yang digunakan pada titrasi iodimetri menggunakan KIO3 dan KI
karena keduanya bereaksi dan menghasilkan iodin yang stabil, dengan normalitas KI lebih
besar untuk membantu pelepasan I- menjadi I2 dari KIO3. Sedangkan baku sekunder
digunakan I2 karena iod yang dibuat ini tidak stabil maka dari itu dijadikan baku sekunder
natrium tiosulfat karena memiliki nilai potensial reduksinya lebih rendah daripada arsen
treivalen.
Untuk senyawa yang mempunyai potensial reduksi yang rendah dapat direksikan
secara sempurna dalam suasana asam. Adapun indikator yang digunakan dalam metode ini
adalah indikator kanji. Menggunakan indikator kanji karena warna biru gelap dari kompleks
iodinkanji bertindak sebagai suatu tes yang amat sensitiv untuk iodine. Warna biru yang
dihasilkan terbentuk dari spiral amilum yang ketika bereaksi dengan I2, I2 akan masuk ke
dalam spiral tersebut tetapi jika lepas maka tidak terbentuk warna biru.
Pada titrasi iodimetri digunakan katalis asam sulfat untuk membantu pelepasan
oksigen pada reaksi reduksi (mempercepat)
Mekanisme reaksi:

Monografi bahan
Antalgin / Metampiron

Antalgin / Metampiron mengandung tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari 101,0%
C13H16N3NaO4.H2O, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Pemeriannya berupa serbuk hablur, putih atau putih kekuningan.
Kegunaannya sebagai pengurang rasa nyeri.