Anda di halaman 1dari 18

ESAI-eSAI AGAMA DI RUANG PUBLIK

MAKALAH
Semester 3 dalam rangka melengkapi
Perkuliahan mata kuliah Sosiologi Agama

Oleh :
Ahmad miftachul amin

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)


BENGKULU
TAHUN 2013/2014

PEMBAHASAN
1. GLOBALISASI DAN RADIKALISME ISLAM: FORMAT KEISLAMAN
DIMASA DEPAN

a. Globalisasi Melanda Dunia


Perubahan dunia merupakan suatu yang tidak dapat di tolak
kehadirannya. Perubahan merupakan kodrat tuhan akan alam semesta, karene itu
yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana memberikan respons atas perubahan
yang terus bergerak mengepung kehidupan umat beragama. Menghindar dari
perubahan sama artinya dengan membunuh diri secara perlahan-lahan. Perubahan
dengan demikian bisa diletakkan dalam dua prespektif; sebagai pendorong umat
beragama untuk bertindak kreatif, sekaligus menempatkan diri manusia pada
posisi terjepit tatkala tidak bisa memberikan respons yang memadai atas
perubahan yang tengah terjadi.

Perubahan dunia tampak semakin jelas tatkala era komunikasi informasi


membanjiri kehidupan umat beragama. Dengan teknologi informasi nyaris tidak
ada masalah yang terjadi di muka bumi tidak diketahui. Semuanya dengan mudah
dapat di ketahui oleh semua penghuni planet bumi. Perbuatan yang beradab
sampai yang tidak beradab dapat dengan mudah di akses oleh siapa saja, nyaris
tanpa sensor. Sensor hanya ada pada diri kita sendiri, bukan pada orang lain.

Kita juga akan dengan mudah mendapatkan perubahan-perubahan yang


masif akibat globalisasi dalam hal prilaku kehidupan sehari-hari, seperti semakin
masifnya pola konsumsi umat beragama. Akibatnya umat beragama lebih percaya
pada hal yang sifatnya material, kartu ATM misalnya lebih dipercaya dari
kekuatan Doa tatkala umat beragama sedang kesusahan. Demikian pula dengan
HP lebih dipercaya tatkala orang dalam kesulitan karena ditengah hutan atau di
penjara ketimbang dengan doa dan tuhan yang menciptakan. Dengan kartu ATM
dan HP umat beragama merasa lebih aman tatkala menghadapi masalah-masalah
krusial seperti kita lihat sekarang ini. Tetnu memiliki kartu ATM dan HP tidak
dapat disalahkan. Umat beragama boleh memiliki kartu ATM dan HP, tetapi tetap

mempercayai akan tuhan sebagai penyelamatan sebenarnya jauh lebih penting,


sehingga tidak kehilangan orientasi dalam hidup.

b. Respon Islam atas Globalisasi


Bagaimana menghadirkan keislaman dalam realitas yang tengah berubah
seperti kita rasakan saat ini karena gelombang globalisasi demikian akut
menyerang seluruh wilayah kehidupan umat islam?

Keislaman dalam makna yang serius harus berani keluar dari benteng
pertahanan. Keislaman seseorang dan kelompok harus dikonstruksikan secara
manusiawi., dengan batasan-batasan foundamentalisme yang krirtis; yakni
melakukan koreksi secara terus menerus atas keyakinan dan religiositas
keagamaan kita selama ini atas realitas sosial yang dihadapi. Keislaman yang
tidak dihadirkan secara foundamentalis dalam makna seperti itu, sebenarnya
merupakan keislaman yang telah terpeleset dalam makna yang asali.sikap
foundamentalis karena itu sikap yang harus ada dan wajar. Sebab setiap agama
senantiasa membutuhkan agar umatnya merenungkan kembali secara sungguhsungguh, kritis, dan konstruktif tentang dasar dan akarnya, ciri khas dan
hakekatnya; serta tentang semangat, pesan dan tujuan para pemuka agama di
hadapan permulaannya. (Schumann, 1996: 3)

Beragama (berislam) karena itu tidak harus terpaku dan berhenti pada
pemahaman literal-tekstual, sebab paham literal-tekstual, sebab paham literaltekstual atas sumber-sumber agama akan menghasilkan suatu dogmatisme yang
sempit, disertai dengan satu formalisme dalam tingkah laku dan aturan kehidupan
yang lahir. Satu aspek lain yang akan menonjol dari cara literal-tekstual adalah
sikap konfrontatif terhadap semua pihak dan pribadi serta golongan yang tidak
sependapat dengan mereka, entah mereka berada dalam rumpun agama mereka,
apalagi jika kalau mereka berada di luar rumpun agama yang lain. Mereka tidak
bisa menerima bahwa diluar paham keagamaan mereka sendiri ada juga paham
keagamaan yang lain, yang dianut secara jujur setia dan mungkin lebih tepat.
Yang lain di cap kafir saja. (schumann, 1996: 5)

Jika kita hendak melihat agama di masa depan (islam dan agama-agama
lainnya), maka satu-satunya jalan terbaik adalah berusaha dengan sungguhsungguh menguasai sumber-sumber kekuatan pihak lain, yakni menguasai ilmu
pengetahuan. Umat islam harus menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan
manajemen organisasi. Orang islam tidak boleh tertinggal dari bidang ini,
sehingga umat islam tidak kehilangan wibawa dalam percaturan perubahan global
yang menciptakan desa universal. Umat islam tidak boleh terpeleset dalam
radikalisme yang sempit, sebagai jalan pintas beragama. Radikalisme sempit
adalah sebuah cara beragama yang bersifat defensif, subjektif dan tidak
bertanggung jawab. Memang radikalisme tidak selalu bermakna teroroisme,
tetapi radikalisme akan bisa menjadi bibit-bibit awal munculnya sikap tidak
toleran dengan paham keagamaan orang lain. Ini jelas harus ditolak.
Sepengetahuan saya, radikalisme selalu berakhir dengan malapetaka dan bunuh
diri, sebab prinsip kearifan dan lapang dada yang diajarkan islam tidak lagi
menjadi acuan dan tidak dihiraukan. (A. Syafii Maarif, 2004: 4)

Jika kita ditanya, untuk apa agama islam diciptakan; jawabannya adalah
agama islam diciptakan untuk manusia dan kemanusiaan. Keislaman dimasa
depan dengan demikian haruslah dihadirkan untuk menjawab kegagalankegagalan masa lalu tentang sentimen kelompok, sektarianisme, pandangan
sempit yang menyebabkan terjadinya bunuh-bunuhan antar kelompok beragama,
perpecahan dan ketidakpercayaan dalam masyarakat, perubahan sosial yang cepat
sehingga menjadikan banyak orang miskin, terbelakang, dan bahkan mati
kelaparan. Islam masa depan harus dikonstruksi secara lebih beradab dan
manusiawi, sebab sejatinya tuhan sendiri adalah sangat manusiawi, dengan sifatsifat kasih sayangnya. Kaum muslim tidak boleh mengubah dirinya dengan sifatsifat egoisme, otoroter serta menag sendiri dan sombong, seperti kisah firaun
dalam alquran. Tuhan sebenarnya tidak perlu di bela sebab tuhan akan tetap
maha kuasa dengan apa yang dimiliki-Nya sekalipun makhluknya berbuat tidak
sesuai dengan kehendaknya yang baik dan ramah. Namun sering kali umat tuhan
merasa membela tuhan ketika berbuat sebagaimana tuhan tidak perintahkan.

2. TERORISME, AGAMA, DAN PERAN NEGARA

a. Pemahaman Tentang Terorisme


Soal terorisme bukan persoalan mudah unruk dijelaskan. Apalagi jika
akan dicarikan definisi yang baku. Ada banyak definisi tentang terorisme. Tetapi
secara agak umum definisi terorisme menjelaskan ada hubungannya dengan
kekerasan dan perilaku tindakan yang mengancam masyarakat. Tetapi untuk
sekedar memahaminya, ada beberapa kriteria dengan terorisme. Diantaranya
adalah, pertama, berkaitan dengan persoalanlegalitas (hukum) sehingga bersifat
kriminal, dan mudah cara mengukurnya dan menindaknya. Sekaligus bersifat
politik, karena lintas ideologis, lintas geografis, lintas negara dan lintas suku
demi mempertahankan harga diri dan kekuasaan politik tertentu. (lihat, Bilver
Singh, 2007)

Kedua,

terorisme

senantiasa

dihubungkan

dengan

persoalan

ketertindasan, perebutan kebebasan (perjuangan untuk kebebasan), dari


penindasan yang dilakukan oleh partai politikdan rezimmiliter tertentu. Mereka
ini bergerak karena adanya sikap kebencian atas orang lain, karena persoalan
bukan hanya modernitas, demokrasi, ketidakadilan, dan ekonomi modern yang
tidak mengindahkan kesejahteraan tetapi penumpukan kapital. Mereka bergerak
karena hendak melawan penindasan yang sangat dominan dalam hal ekonomi,
politik dan budaya militeratau rezim tertentu.

Ketiga, perilaku terorisme itu berkaitan dengan perilaku, tindakan yang


dilakukan oleh kelompok atau individu dengan menggunakan cara-cara
kekerasan fisik maupun non-fisik (ancaman), dan menghasilkan efek publikasi
yang maksimum. Perilaku terorisme merupakan tindakan yang akan ber-efek
pada publik atas apa yang dilakukan. Teror yang dilakukan israel atas palestina
dengan membunuh banyak orang yang ada di palestina sebenarnya akan
berdampak sangat luas karena pemberitaan dari media yang demikian gencar.
Demikian pula dengan terorisme di afghanistan oleh kelompok bin laden dan
amerika. Tindakan mereka sangat mengancam dan berbahaya. (Edward W. Said,
hal. 279-279)

Ke-empat, perilaku terorisme juga berkaitan dengan soal kepuasan


bathin, karena hendak mempertahankan sebuah ideologi tertentu yang diyakini,
persoalan politik kepentingan yang ada didalamnya dan metode yang dipilih
adalah untuk menumbuhkan ancaman, rasa takut dan tindakan kekerasan seperti
kelompok-kelompok rindu masa lalu. Kita juga tidak bisa mengabaikan adanya
proyek politik internasional dalam pekerjaan terorisme.

b. Masalah Keamanan dan Kewajiban Negara


Jika kita memperhatikan persoalan hak warga negara yang paling asasi,
dan hak asasi yang paling foundamental maka salah satu pasal yang sangat
penting menjadi landasan di indonesia adalah pasal 29 UUD 1945 tentang hak
beragama di indonesia yang dijamin oleh undang-undang sebagai hak semua
warga negara yang sah dan setara. Negara harus melindungi apapun agama dan
keyakinan warga negara tersebut. nemun pada kenyataannya sering kali tidak
setara dan tidak mamadahi.

Inilah sebenarnya salah atu bentuk memberikan rasa aman warga atas
tindakan-tindakan kekerasan , terorisme, ancaman dan perlakuan semena-mena
warga negara yang lain. Negara dituntut dengan sangat oleh konstitusi yang ada,
undang-undang maupun peraturan untuk memberikan perlindungan warga negara
dari pelbagai bentuk ancaman fisik dan non-fisik.

Kewajiban negara yang sangat penting lainnya adalah melindungi


kebebasan beragama, berkeyakinan, dan mengekspresikan keyakinannya sesuai
dengan keyakinan masing-masing. Negara tidak boleh bersekutu dengan
kelompok masyarakat yang ada di sebuah negara kemudian melakukan aksi-aksi
yang hendak meniadakan atau hendak mengusir salah satu penganut agama yang
dianggap sesat. Negara tidak dibolehkan sama sekali menjadi pemicu utama
dengan mengeluarkan fatwa-fatwa tentang keagamaan masyarakat yang dianggap
sesat, sehingga warga negara lainnya menghujat bahkan merusak tempat-tempat
ibadah warga negara yang berbeda dengan mainstream. Kasus ahmadiyah, islam
wetu telu, islam adat, agama adat di beberapa daerah nusantara adalah bentuk
lemahnya perlindungan negara atas kebebasan berkeyakinan dan beragama di
indonesia.

c. Menata Kembali Agama dan Negara


Oleh sebab itu, dalam kaitannya dengan aksi-aksi terorisme, di indonesia,
perasaan aman, nyaman dalam beragama harus menjadi perhatian serius pihak
negara dan masyarakat sipil. Negara tidak bisa semena-mena menerapkan hukum
bahwa ada kelompok agama yang sesat karena itu harus diberhentikan
aktivitasnya atau menyuruh lembaga-lembaga kenegaraan untuk melakukan bumi
hangus secara semena-mena. Hal yang harus dikerjakan oleh negara dalam
kaitannya dengan terorisme, keamanan dan agama sekaligus didalamnya
pendidikan agama islam adalah:

Penegakan hukum yang adil dalam negara untuk masyarakat. Aparat


penegak hukum, termasuk aparat keamanan harus berani bertindak tegas
atas mereka yang melanggar hukum resmi atau hukum positif.

Penegak hukum dan aparat keamanan tidak boleh berlindung di balik,


delik pelanggaran HAM tatkal akan menindak tegas pelaku-pelaku
kekerasan sektarian agama, sebab pelaku kekerasan internal agamma
itulah yang telah melanggar kebebasan dalam beragama.

Melakukan desiminasi atas pelbagai macam peraturan pemerintah atau


UU yang ditetapkan pemerintah pada masyarakat khususnya terkait tata
kelola agama dalam masyarakat secara detail dan persuasif.

Negara sebaiknya tidak terlalu banyak dan terlalu mencampuri urusanurusan keimanan seseorang dengan memberikan labeling pada salah satu
kelompok agama tertentu yang akan berdampak kurang positif pada level
masyarakat. Labeling sesat, kafir, dosa besar, munafik, sebaiknya tidak
dilakukan oleh institusi negara, seperti MUI dan Departemen Agama.

Negar sebaiknya mengkhususkan pada masalah-masalah pencegahan


kekerasan berbasiskan agama, pelarangan kelompok-kelompok agama
yang hendak melakukan perusakan, mengacaukan ketertiban dan
meresahkan masyarakat.

Agama didakwahkan dengan cara yang tidak agitatif, mencedrai sesama


penganut agama, melukai agama lain, memprovokasi perbuatanperbuatan kekerasan, dan membuat keresahan di masyarakat, tetapi
dakwah transformatif.

Agama dan ormas agama sebaiknya bekerja sama dalam hal-hal yang
bersifat kemanusiaan, bukan bekerja sama dalam hal-hal yang mengarah
pada persoalan-persoalan keimanan, sebab keimanan merupakan hal
asasi dari masing-masing penganut agama.

Nilai-nilai universal dalan internal agama dan antar agama harus


menjadi landasan bersama dalam menata hubungan antara masyarakat
sipil dengan negara, sehingga antar peran negara dan peran agama tidak
saling bertabrakan satu

sama

lain.tanpa

mengindahkan adanya

kesepakatan bersama tentang kemanusiaan, maka yang akan terjadi


sebenarnya tetap beragama dalam ketegangan dan kebencian karena
masing-masing kelompok agama saling mengintip untuk mencari
kekurangan dan kesalahan pihak lain.

Lembaga-lembaga pendidikan (agama) islam khususnya harus


memberikan proses pendidikan dan pengajaran yang tidak hanya
pada satu pemahaman keagamaan saja dan yang di tekankan
bersifat kekerasan sebagai bagian dari jihad agama. Pendidikan
agama harus di desain lebih banyak menyemaikan soal-soal
tolong menolong, toleransi dan kerja sama antar sesama umat
manusia sekalipun berbeda agama dan paham agama.

Sisitem pendidikan agama harusnya di dekatkan dengan realitas


hidup masyarakat dan bercirikan memberikan pencerahan dan
pembebasan manusia dari jeratan kehidupan. Agama diajarkan
sebagai sumber nilai universal dan kemanusiaan.
Dari penjelasan diatas, sebenarnya institusi pendidikan islam di

indonesia dapat berperan dalam membantu mengurangi tumbuh dan


berkembangnya aktor-aktor terorisme yang sering kali merugikan
citra islam indonesia, bahkan citra umat islam secara keseluruhan.

3. ISLAM, KONTEKSTUALISASI DAN KONTESTASI POLITIK

a. Islam di Ruang publik


Kontestasi teologi dan ruang publik (politik) di indonesia sangat jelas
terjadi antar sesama islam yang sama-sama mengusung slogan dakwah amar
maruf nahi munkar dalam versinya masing-masing. Memang benar bahwa
doktrin amar maruf nahi munkar berasal dari kitab yang sama (Al-quran) tetapi
tentang dakwah amar maruf nahi munkar tidaklah tunggal. Sebagian
menterjemahkan dakwah amar maruf harus harus dengan model masuk politik,
sehingga membuat partai poliyik untuk artikulasinya, seperti PPP, PBB, PKS,
PBR, dan PMB. Tetapi ada yang menterjemahkan bahwa dakwah islam amar
maruf nahi munkar tidak harus dengan masuk politik kekuasaan, sekalipun
politik kekuasaan merupakanhal yang penting. Tetapi dakwah bisa dilakukan
dengan cara kultural, sehingga agama islam tidak perlu membuat partai islam.
Sebagian mendukung kelompok perlunya partai politik berasaskan islam
sebagian lagi tidak. Bahkan, ada yang tidak mendirikan partai islam tetapi
berjuang untuk mendesakkan agenda-agenda politik islam pada negara. Inilah
bukti-bukti adanya kontestasi agama diruang publik politik indonesia.

Dalam pemahaman kaum islam politik, seperti biasa mereka merujuk


pada pengalaman historis, dikatakan bahwa dalam literatur sejarah disebutkan
bahwa umat islam secara historis berperan dalam pergerakan nasional sejak
merebut kemerdekaan RI tahun 1945. Tahun 1947 departemen agama di dirikan
sebagai balas jasa negara atas umat islam sehingga dalam periode yang
berlangsung selama ini, menteri agama di indonesia senantiasa beragama islam,
sekalipun agama di indonesia tidak hanya islam. Kompromi politik rezim
kekuasaan atas umat islam menjadi alasan penting untuk departemen agama dan
menteri agama. Tahun 1955 pun masyumi menjadi partai islam yang mengikuti
pemilu pertama RI merdeka dengan perolehan suara mencapai 49 %, kalah
dengan PNI yang berada diatasnya 55%, tetapi menang atas partai komunis
indonesia yang hanya memperoleh 30% (Lihat munir mulkan, 2004). Sejak saat
itu kontestasi politik islam dan negara menjadi bagian yang sangat penting di
republik ini. Tentu saja terdapat kontestasi-kontestasi umat lain tetapi tidak

demikian hebat antara islam dan kristen sebagai agama yang mayoritas dari
minoritas lainnya.

b. Kntektualisasi Religiositas
Apa yang menyebabkan umat beragama (islam) memikirkan perlunya
melakukan kontektualisasi kebaragamaan (religiositas)? Tentu saja dengan
pelbagai pertimbangan sosiologis dan historis atas doktrin keagamaan dan
keberagamaan selama ini. Namun demikian terdapat problem yang sangat keras
terkait kontekstualisasi, sebab ada tiga mazhab besar yang berkembang dalam
tradisi keagamaan sampai saat ini. Ketiga mazhan tersebut adalah, setuju dengan
konstektualisasi secara radikal (kaum liberal radikal), tidak setuju dengan
konstektualisasi karena agama sudah sempurna, tidak perlu ada pembaruanpembaruan apalagi penyesuaian-penyesuaian dengann zaman, dan ketiga yang
moderat dalam beberapa hal setuju dengan konstektualisasi, tetapi tetap
berpegang pada kaidah memegang sesuatu yang lama yang baik, dan menuju
pada hal baru yang lebih baik. Ini doktrin yang menghendaki adanya
konstektualisasi, sekaligus ijtihad dalam islam.

Seperti diatas saya sampaikan meminjam kategori kaum sekuler, bahwa


agama berkait denan persoalan keimanan, masalah eskatologis, dan hari lain,
sementara diluar itu adalah masalah publik (yang tidak selalu) harus dihubungkan
dengan agama. Oleh sebab itu, orang beragama karena hadir ditengah masyarakat
beragam perlumemikirkan apa yang dinamakan kontektualisasi keberagamaan.
Kontektualisasi menjadi problem serius dalam islam, terutama dalam kelompok
formalis (letterlijk) karena menganggap bahwa islam dengan kitab sucinya telah
disediakan didalamnya segala hal yang terjadi dimuka bumi. Manusia tidak perlu
mencari-cari sumber hukum lain kecuali Al-quran.kontektualisasi hanya cocok
untuk agama-agama yang tidak jelas sumber rujukannya. Namun oleh kelompok
kontekstual (subtansi), Al-quran tidak menyediakan jawaban atas semua
persoalan dunia, apalagi hal-hal teknis yang dahulu belum ada dalam masa nabi
muhammad. Al-quran hanya memberikan petunjuk umum dan manusia
diharuskan melakukan ijtihad, sehingga ijtihad tidak pernah tertutup merupakan
hal yang harus diperhatikan oleh umat islam.

10

Umat beragama (islam subtansialis) sampai saat ini percaya bahwa tuhan
dengan banyak nama tidak lagi memberikan wahyu (dalil yang bersifat
perkataan), sekalipun masih memberikan dalil yang sifatnya tanda-tanda zaman,
alam dan seterusnya (ayat qauniyah). Dalil bersifat perkataan telah berhenti
semenjak kenabian dan kerasulan dalam maknanya yang konvensional telah
berakhir, muhammad saw dalam tradisi islam diyakini sebagai nabi terakhir.
Konsekuensinya setelah itu tidak ada lagi nabi dan rasul dalam maknanya yang
konvensional. Secara konvensional nabi dan rasul adalah yang mendapatkan
firman (dalil qauli) selain mukjizat-mukjizat sebagai bukti kenabian dan
kerasulannya.

Saya sendiri, untuk kepentingan tulisan ini, akan menempatkan nabi


dalam konteks islam yang sudah tidak turun lagi dan kitab pun sudah berhenti
diturunkan, tinggal nama-nama dan historis. Karena itu, pada bagian kajian ini
hendak memberikan tekanan pada pemahaman kenabian dan kerasulan dalam
makna yang konvensional (yakni telah berhenti sejak nabi muhammad saw) dan
firman qauliy tidak lagi turun semantar persoalan dunia terus terjadi bahkan
semakin kompleks. Disinilah kontektualisasi menjadi tema utama sehingga umat
beragama tidak mengalami kegagalan dalam menterjemahkan firman tuhan
dalam menjadi jembatan emas membangun dunia untuk seluruh makhluknya.
Tuhan tidak lagi berfirman namun masalah terus bergelimang tanpa berhenti.
Nabi pun telah berakhir, manusia terus bertambah dan terus bertanya mengapa
hal itu terjadi.

Latar belakang bahkan tradisi intelektual akan sangat berpengaruh pada


seseorang atau kelompok dalam memahami kitab suci (firman). Keragaman
pembacan atas teks suci tersebut bahkan sering kali menyebabkan perbedaan
dalam cara pandang atas orang sesama agama, dan sekaligus lain agama. Tetapi
yang paling ketara adalah sikap dan perilaku ekstrem. Apakah berada pada
ujung ekstrem kanan atau ekstrem kiri. Jika kita analogkan eksterm kanan
adalah radikalis-foundamentalis, yang anti dialog dengan kemodernan, anti
kontektualisasi. Semantara ekstrem kiri adalah yang sangat mendewakan dialog
dan kontektualisasi, sangat promordenitas dan dianggap sebagai sayap radikal
kiri, makaada satu kelompok yang biasanya senantiasa hadir ditengah-tengah,

11

itulah kelompok moderat. Pertanyaannya, bagaimana mempertemukan tiga


kelompok ini?
Bila kelompok ekstrem kanan dan ekstrem kiri sama-sama keras dan
tidak bisa bertemu, maka kelompok moderat diharapkan akan dapat menjadi
jembatan emas untuk pertemuan dua kubu yang sama-sama ekstern. eksterm
kanan meyakini apa yang dipahami adalah kebenaran mutlaknya, sementara
ekstrem kiri juga demikian, sehingga titik temu mereka tidak akan pernah
terjangkau. Semantara kelompok moderat adalah mereka yang masih bisa
memberikan ruang pada ekstrem kanan dan sekaligus ekstrem kiri. Tetapi
untuk kelompok moderat bukan tanpa resiko. Resikonya adalah di tuduh tidak
konsisten dan kurang jelas keberpihakannya. Hanya sekedar wasit, demikian
resiko yang seringkali harus ditanggung oleh kelompok moderat.

4. GERAKAN SALAFI RADIKAL DALAM KONTEKS KEISLAMAN


INDONESIA

a. Pendahuluan
Fenomena tumbuhnya berbagai Islam Radikal pasca jatuhnya rezim orde
baru, menjadi fokus dalam pembahasan ini. Para penulis yang tergabung dalam
tim penelitian Pusat Pengkajian Islam Yayasan Bina Mandiri Depok melakukan
penulisan ini karena melihat fenomena aksi-aksi frontal yang dilakukan gerakan
Islam radikal ini bertolak belakang dengan kelompok mayoritas Muslim di negeri
ini yang dikenal moderat.
Tim penulis menilai kelahiran gerakan-gerakan ini terkait dengan
ideologi keagamaan yang disebut dengan Salafisme. Secara ekstrim penulis
sendiri menilai gerakan-gerakan tersebut memberi citra negatif terhadap
perkembangan Islam di Indonesia. Makalah ini merupakan penelitian sekaligus
survey yang diadakan Yayasan Bina Mandiri Depok mengenai Islam dan
Konsolidasi Demorasi di Indonesia.
Makalah ini menjelaskan fenomena gerakan Islam radikal dalam bingkai
kehidupan sosial politik masyarakat Muslim Indonesia, dalam kerangka

12

kehidupan berbangsa dan bernegara, dan dalam hubungannya dengan kelompok


mayoritas Muslim di negeri ini yang dikenal moderat dan toleran.
Tim penulis memetakan empat kelompok Salafi radikal di Indonesia,
diantaranya adalah: Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia
(MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan Laskar Jihad (Yogyakarta). Bahkan
didalam buku yang ditulis Andri Rosadi Mahasiswa Al-Azhar Kairo mengenai
Hitam Putih FPI memasukkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Laskar
Jundullah (Sulawesi Selatan) dan Jamaah Islamiyah sebagai gerakan Islam
Radikal.
b.

Insiden Monas 1 Juni 2008


Kita tentunya masih ingat dengan kerusuhan di Monas tanggal 1 Juni
2008 yang lalu terkait kerusuhan sosial-keagamaan di Tanah Air. Kejadian ini
merupakan bentrokan antara FPI dan Aliansi Kerukunan Kebebasan Bangsa
Beragama (AKKBB) karena FPI menuntut pembubaran Ahmadiyah. Ini bukan
pertama kalinya FPI bentrok dengan massa. Banyak elemen bangsa yang prihatin
bahkan mengecam tindakan aksi dan organisasi yang mendalanginya.
Agresivitas dan kenekatan para pengikutnya merupakan ciri khas utama
FPI, dan itulah yang menjadikan organisasi ini sangat dikenal. Namun ditengahtengah aksi mereka, ternyata ada sisi lain humanisme yang mereka tunjukkan.
Ketika terjadi tsunami di Aceh pada tahun 2004 lalu, ada ratusan anggota FPI
yang rela meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke Aceh untuk menjadi relawan.
Ini merupakan sisi lain yang ada di dalam anggota FPI yang dicitrakan sebagai
gerakan yang frontal.
Adnan Buyung Nasution, anggota Dewan Pertimbangan Presiden bahkan
menilai tindakan yang ditunjukkan berbagai ormas yang mengklaim membela
Islam, dinilai merupakan fenomena baru yang terjadi di Indonesia. Praktisi
hukum senior ini mengatakan aksi yang ditunjukkan beberapa ormas Islam
belakangan ini merupakan radikalisme baru yang terjadi di tanah air. Ia menilai
tugas kaum intelektual Islam yang mempunyai background Islam seperti profesor
Azyumardi Azra, harus banyak memberikan pencerahan.

13

Bahkan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Adnan


Buyung Nasution mendukung desakan agar pemerintah segera membubarkan
organisasi massa Front Pembela Islam (FPI). Dia yakin pemerintah mempunyai
pertimbangan yang sama untuk menyingkirkan keberadaan organisasi radikal
yang memaksakan kehendak atas orang lain.
"Tanpa pertimbangan dari kita pun saya kira presiden, polri, mendagri
juga mempunyai sikap yang sama yaitu tidak ada satu kelompok pun di negara ini
yang bisa mendikte dan memaksakan kemaunnya. Kalau itu dibiarkan kehidupan
berbangsa dan bernegara hancur," tambahnya.
Beberapa pengamat menilai gerakan Islam radikal sangat berbahaya, Gus
Dur salah satunya. Gus Dur mengecam keras dan mengutuk penggunaan
kekerasan oleh sejumlah kelompok Islam radikal. Menurut Gus Dur, satu-satunya
alasan penggunaan kekerasan yang bias ditolerir oleh Islam adalah jika kaum
Muslimin diusir dari tempat tinggal mereka (idza ukhriju min diyarihim).
Menurut Gus Dur, lahirnya kelompok-kelompok Islam garis keras atau
radikal tersebut tidak bisa dipisahkan dari dua sebab. Pertama, penganut Islam
garis keras tersebut mengalami semacam kekecewaan dan alienasi karena
ketertinggalan umat Islam terhadap kemajuan Barat dan penetrasi budayanya
dengan segala aksesnya. Karena ketidakmampuan mereka untuk mengimbangi
dampak materialistik budaya Barat, akhirnya mereka menggunakan kekerasan
untuk menghalangi ofensif materialistik dan penetrasi Barat.
Kedua, kemunculan kelompok-kelompok Islam garis keras itu tidak lepas
dari adanya pendangkalan agama dari kalangan umat Islam sendiri, khususnya
angkatan mudanya. Pendangkalan itu terjadi karena mereka yang terpengaruh
atau terlibat dalam gerakan-gerakan Islam garis keras umumnya terdiri dari
mereka yang berlatar belakang pendidikan ilmu-ilmu eksakta dan ekonomi. Latar
belakang seperti itu yang menyebabkan fikiran mereka penuh dengan hitunghitungan matematik dan ekonomis yang rasional dan tidak ada waktu untuk
mengkaji Islam secara mendalam.

14

c. Ideologi Salaf
Kemunculan kelompok-kelompok Islam garis keras di dunia sunni
sekarang ini berkaitan dengan reformulasi ideologi salaf, sebuah paham yang
mengajarkan umat Islam agar mencontoh perilaku Nabi Muhammad SAW dan
para sahabat. Ideologi salaf, yang pada awalnya menekankan pada pemurnian
akidah, mengalami metamorfosis pada abad ke-20. salafisme tidak hanya gerakan
purifikasi keagamaan semata, namun menjadi ideologi perlawanan terhadap
berbagai paham yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama.
Akar-akar salafisme dapat dilacak pada gerakan Wahabi yang terjadi di
Hijaz pada akhir abad ke-19. Wahabi dapat diklasifikasikan sebagai kelompok,
mengikuti Arjomand, Fundamentalis-skriptualis, yang menekankan pentingnya
kembali kepada sumber Islam yang sejati, yaitu Al-quran dan Sunnah (Marti
dan Appleby, 1995). Lebih jauh akar-akar wahabi dapat ditemukan dalam
pemikiran Ibnu Taimiyah, yang memprakarsai gerakan salaf, dan selanjutnya
pemikiran Ahmad bin Hambal. Yang terakhir adalah pendiri mazhab Hambali
yang mengajarkan keutamaan sunnah ketimbang qiyas.
Pada abad ke-19, di Mesir lahir seorang pembaharu. Ia adalah
Muhammad Abduh. Pemikiran Abduh sangat penting, ia lah orang pertama yang
mengajarkan bahwa Islam dapat bertemu secara baik dengan modernitas. Namun
para penerusnya tidak dapat meneruskan semangat ini dengan baik. Malah
mereka terjebak dalam semangat salafi yang sempit. Gerakan modernisme Abduh
selajutnya melahirkan varian-varian yang berbeda, bahkan bertolak belakang
seperti Ali Abdurarziq yang dianggap Abduh Kiri sedangkan Hasan Al-Banna
adalah Abduh Kanan.
Reformulasi paham salaf dapat dilihat dalam aspek purifikasi agama,
sosial-politik, metode pendidikan, dan metode pemikiran. Purifikasi agama
adalah paham yang menolak taklid yang ditawarkan oleh fiqih dan teologi dalam
pembaharuan Islam yang tradisional, dan bertujuan mengembalikan segala
permasalahan yang ada pada sumber Islam sejati, yakni al-Quran dan Sunnah.
Pemikiran sosial-politik yang ditawarkan oleh kelompok salaf ini dapat
dilihat dari konsep kesempurnaan Islam, yang pada intinya mengajarkan doktrin

15

bahwa hanya milik Allah semata. Metode pendidikan menekankan pada nilai
moral agama, seperti taqwa, qanaah, syukur, zuhud, sabar dan tawakal. Dan
terakhir

metode pemikiran mengutamakan dimensi akidah-akhlak yang

selanjutnya menggolongkan manusia menjadi saudara dan musuh. Metode ini


juga menolak realitas kebudayaan non-Islami. Empat hal inilah yang mendasari
gerakan Salaf di seluruh dunia Islam.
d. Gerakan Islam Militan di Indonesia
Gerakan Salafi radikal di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh faktorfaktor di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh faktor-faktor di atas. Gerakan ini
juga muncul sebagai respon terhadap buruknya pelayanan Negara terhadap
masyarakat. Namun gerakan ini jelas tidak mungkin muncul pada masa orde
baru. Kuatnya kontrol Negara terhadap masyarakat mengakibatkan gerakan Salafi
radikal tidak muncul saat itu. Namun harus diingat juga bahwa benih-benih
gerakan ini telah disemai sejak dekade 1980-an ketika dunia menyaksikan
kekuatan Islam global.
Diantaranya gerakan Islam yang dilabeli radikal adalah Pertama, Majelis
Mujahidin Indonesia (MMI) yang dideklarasikan pada bulan Agustus 2000 di
Yogyakarta. MMI mempunyai agenda utama, yakni sosialisasi syariat Islam,
jihad dan penegakan syariat Islam. Kedua, Front Pembela Islam (FPI) adalah
gerakan Salafi radikal yang menitikberatkan pada formalisasi syariat Islam dan
perjuangan menegakkan amar maruf dan nahi munkar. Orientasi politik FPI
bersifat lokal. Ketiga, Laskar Jihad pimpinan Ustadz Jafar Umar Thalib. Muatan
ideologi salaf yang kental membuatnya berbeda dengan FPI. Terakhir, Hizbut
Tahrir Indonesia (HTI). Perjuangan mereka adalah menyerukan dunia Islam
bersatu dalam Khilafah Islamiyah. Orientasi politik HTI bersifat transnasional.
Banyak ahli yang berpendapat bahwa Indonesia adalah sedikit diantara
Negara-negara Muslim yang bisa menerima isu-isu demokrasi dan Globalisasi
(Hefner, 2000). Pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa Islam di
Indonesia lebih moderat dan inklusif dibandingkan Islam di Timur Tengah,
sehingga muslim Indonesia dapat menerima ide-ide demokrasi dan kebebasan
sipil. Namun, runyamnya persoalan di lapangan dan mandeknya proses reformasi,
mungkin prediksi Hefner tidak bisa terwujud dalam waktu dekat. Apalagi

16

sekarang setelah peristiwa 11 September (World Trade Center), dunia memasuki


era perang global melawan terorisme yang dilancarkan Amerika dan sekutusekutunya.

17

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Zuly Qodir, Sosiologi Agama Esai-esai di Ruang Publik, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 2011

www. Salahudin-Yuswa.blogspot.com 5:57

18