Anda di halaman 1dari 73

RAHASIA KESUKSESAN HALAQOH (USROH)

Kiat Menghilangkan Kejenuhan dan Meningkatkan Produktivitas Halaqoh, Usroh, Mentoring, Ta‘lim, serta Pengajian Kelompok

Satria Hadi Lubis

Manajemen yang paling penting dalam jama’ah adalah manajemen usroh, karena ia merupakan batu bata pertama dalam bangunan. Apabila manajemen usroh baik, maka baik pulalah kondisi jama’ah secara kesuluruhan, demikian juga sebaliknya

(Dr. Ali Abdul Halim Mahmud)

Untuk semua muslim yang ingin menyumbangkan potensinya bagi perjuangan umat

Untuk semua ikhwah yang ingin mendermakan waktunya bagi da‘wah yang muntijah

Untuk semua murobbi/naqib yang ingin membaktikan dirinya bagi lahirnya generasi unggul

Untuk mereka, kupersembahkan buku ini…

PRAKATA

Segala puji bagi Allah, Ilah yang wajib dan berhak disembah. Di tangan-Nyalah terletak segala daya dan upaya. Tidak ada kekuatan selain kekuatan-Nya. Salam dan sholawat kepada pemimpin dan teladan umat manusia, Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabatnya yang mulia. Juga kepada orang-orang sholih dan para mujahid yang setia memperjuangkan risalah-Nya.

Buku ini adalah rangkaian berikutnya dari serial Manajemen Halaqoh. Serial yang membahas tentang bagaimana cara mengelola pengajian dalam kelompok kecil. Buku- buku sebelumnya berjudul ―77 Problematika Aktual Halaqoh jilid I dan II, serta Menjadi Murobbi Sukses. Setelah ini, Insya Allah akan terbit buku selanjutnya dalam serial Manajamen Halaqoh, antara lain tentang Murobbi Skills dan Manajemen Terapan untuk Pengelolaan Halaqoh.

Yang dibahas dalam buku ini adalah cara mewujudkan halaqoh/usroh yang sukses (muntijah). Bagaimana agar halaqah/usroh dapat berjalan secara dinamis dan meningkat produktivitasnya. Bagaimana agar halaqoh/usroh dapat berjalan dengan menggairahkan dan tidak terjebak dalam kejemuan. Sebab suasana jemu dapat berdampak pada tidak antusiasnya peserta dan murobbi/naqib (orang yang memimpin halaqah/usroh) untuk mengikuti halaqah/usroh. Ujung-ujungnya akan berdampak pada ketiadaan dinamisasi dan produktivitas halaqah/usroh. Hal ini tentu akan mengurangi makna dari keberadaan halaqah/usroh itu sendiri, yakni sebagai sarana pembentukan pribadi-pribadi muslim yang tangguh (syakhsiyah Islamiyah).

Seperti diketahui, saat ini kita dapat menjumpai fenomana maraknya halaqah/usroh di mana-mana. Baik itu di kampus, sekolah, kantor, masjid, maupun di rumah-rumah penduduk. Ini bukan hanya fenomena yang terjadi Indonesia, tapi juga di negara-negara Islam lainnya. Fenomena maraknya halaqah (di beberapa kalangan disebut juga dengan usroh, mentoring, ta’lim, tarbiyah, pengajian kelompok, dan lain-lain), merupakan fenomena yang wajar. Seiring dengan makin banyaknya orang yang kembali kepada Islam. Halaqah/usroh diyakini oleh mereka yang mengikutinya sebagai sarana yang efektif untuk mempelajari dan mengamalkan Islam secara rutin dan konsisten.

Dahulu, halaqah/usroh lebih banyak berjalan secara diam-diam, bahkan rahasia. Namun saat ini, bersamaan dengan datangnya era reformasi, halaqah/usroh menjadi sesuatu yang inklusif dan terbuka. Semua orang Islam bisa mempelajari dan mengikutinya, tanpa ada amniyah (rahasia informasi) yang banyak seperti dulu lagi. Walau begitu, ciri khas halaqah/usroh tetap dipertahankan, yaitu peserta yang dikelompokkan menurut tingkat pemahamannya terhadap Islam, jumlah peserta yang dibatasi, tetap, dan tidak berganti- ganti. Dipimpin oleh seorang murobbi/naqib, berlangsung rutin, dan dengan materi terpadu.

Pentingnya halaqah/usroh meningkatkan produktivitasnya dan berjalan secara dinamis serta menggairahkan tak perlu dipertanyakan lagi. Sebab secara fitrah, manusia memang tidak suka ‗berjalan di tempat‘ dan berada dalam suasana menjemukan. Mereka tak akan betah berlama-lama dalam suasana seperti itu. Padahal di halaqah/usroh kita dituntut untuk betah berlama-lama. Hal ini terkait dengan tujuan halaqah/usroh sebagai sarana pembelajaran Islam seumur hidup dalam rangka membentuk muslim paripurna. Disinilah letaknya urgensi mengapa halaqah/usroh perlu senantiasa meningkatkan produktivitasnya dan meningkatkan suasana yang menggairahkan.

Kehadiran buku ini Insya Allah akan menjadi lebih penting artinya bagi mereka yang telah mengikuti halaqah/usroh. Karena mereka dapat dengan langsung merasakan betapa tidak enaknya berada dalam suasana yang menjemukan dan tidak produktif di dalam halaqoh/usroh. Apalagi bagi mereka yang telah lama mengikuti halaqah/usroh (mungkin di atas lima atau sepuluh tahun), maka semakin lebih terasa lagi kebutuhan akan pentingnya suasana halaqah/usroh yang menggairahkan dan produktif.

Buku ini mencoba menawarkan kepada para pembacanya kiat untuk meningkatkan produktivitas dan mengatasi suasana jemu dalam halaqah/usroh. Saya sebagai penulis tentu tidak mengklaim apa yang ditawarkan dalam buku ini sebagai satu-satunya solusi meningkatkan produktivitas dan mengatasi rasa jenuh dalam halaqah/usroh. Mungkin masih banyak cara lain untuk menghasilkan halaqah/usroh yang muntijah (sukses). Bahkan buku ini barangkali tidak dibutuhkan bagi halaqah/usroh tertentu yang telah berlangsung secara dinamis dan produktif.

Namun bagi mereka yang ingin mengetahui bagaimana cara meningkatkan produktivitas dan mengatasi rasa jenuh dalam halaqah/usroh, maka buku ini tepat untuk dibaca. Mungkin setelah membaca buku ini, ada inspirasi untuk melakukan tindakan tertentu dalam rangka mewujudkan halaqah/usroh yang muntijah. Beberapa kiat pada lampiran buku ini mungkin dapat diterapkan sesuai dengan situasi yang ada pada halaqah/usroh tertentu. Yang jelas, saya berharap mudah-mudahan buku ini tidak membuat percuma untuk dibaca sampai selesai!

Agar para pembaca dapat dengan enak membaca dan memahaminya, maka buku ini disusun dalam gaya bahasa yang tidak terlalu ―ilmiah‖ dan menghindari pembahasan teoritis bertele-tele. Juga dilengkapi dengan lampiran berupa …contoh aktivitas yang bisa menghindari halaqah/usroh dari suasana monoton yang membosankan.

Saya sangat senang jika setelah membaca buku ini, ada umpan balik dari para pembaca. Umpan balik begitu penting artinya bagi saya, sehingga saya merasa perlu mencantumkan Formulir Umpan Balik pada akhir buku ini. Para pembaca bisa mengirimkan formulir uman balik tersebut melalui faks ke Lembaga Pelatihan Manajemen Syariah LP2U (021) 53678452 atau email ke satriahl@mail.com.

Jika Anda para pembaca ingin berkonsultasi atau mengikuti pelatihan yang khusus membahas apa yang disampaikan pada buku ini, silakan hubungi kami di Lembaga Pelatihan Manajemen Syariah LP2U Jl. Anggrek Nelimurni Blok B No. 12 Slipi Jakarta

Barat,

Telp.

(021)

5494719,

(021)53678452,

Faks.

(021)53678452,

atau

email:

Akhirnya, ucapan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya penulisan buku ini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Kingkin Anida, isteri dan kekasih yang selalu memberikan dukungan yang berharga. Juga kepada anak-anakku, Syahid, Faris, Sajjad, Fauzan, Sania, dan Farsya yang celotehnya menjadi ―musik‖ yang mengiringi penulisan buku ini. Tak lupa juga kepada Bang Tizar orang yang memperkenalkan penulis pada ‗dunia‘ halaqoh-- dan rekan-rekan lainnya yang tak dapat saya sebutkan satu persatu.

Ya Allah, yaa rob kami, jadikan apa yang aku lakukan ini sebagai penebus dosa- dosaku dan menjadi pemberat timbangan amal sholihku di yaumil akhir. Amiin ya Allah”

Selamat membina!

(Satria Hadi Lubis)

Prakata

Urgensi Halaqoh/Usroh

DAFTAR ISI

Halaqoh/Usroh Muntijah (Sukses)

Halaqoh/Usroh Dinamis

Halaqoh/Usroh Produktif

Keseimbangan Dinamisasi dan Produktivitas Halaqoh/Usroh

Rumus Meningkatkan Dinamisasi Halaqoh/Usroh

Rumus Meningkatkan Produktivitas Halaqoh/Usroh

Kesimpulan dan Tindak Lanjut

Lampiran I : 99 Contoh Aktivitas Mendinamiskan Halaqoh/Usroh

Lampiran II : Daftar Muwashofat Peserta Halaqoh/Usroh

URGENSI HALAQAH/USROH

Sistem usroh tidak lain merupakan realisasi hakekat Islam di kalangan ikhwan. Jika mereka telah merealisasikan hal itu pada diri mereka sendiri, maka bisa dibenarkan apabila mereka menantikan datangnya pertolongan yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang beriman(Hasan Al Hudhaibi)

Halaqoh atau usroh adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan atau pengajaran Islam (tarbiyah Islamiyah). Istilah halaqoh (lingkaran) biasanya digunakan untuk menggambarkan sekelompok kecil muslim yang secara rutin mengkaji ajaran Islam. Jumlah peserta dalam kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam dengan manhaj (kurikulum) tertentu. Biasanya kurikulum tersebut berasal dari murobbi/naqib yang mendapatkannya dari jama’ah (organisasi) yang menaungi halaqah/usroh tersebut. Di beberapa kalangan, halaqoh/usroh disebut juga dengan mentoring, ta‘lim, pengajian kelompok, tarbiyah atau sebutan lainnya.

Halaqoh/usroh adalah sekumpulan orang yang ingin mempelajari dan mengamalkan Islam secara serius. Biasanya mereka terbentuk karena kesadaran mereka sendiri untuk mempelajari dan mengamalkan Islam secara bersama-sama (amal jama’i). Kesadaran itu muncul setelah mereka bersentuhan dan menerima dakwah dari orang- orang yang telah mengikuti halaqoh/usroh terlebih dahulu, baik melalui forum-forum umum, seperti tabligh, seminar, pelatihan atau dauroh, maupun karena dakwah interpersonal (dakwah fardiyah).

Biasanya peserta halaqoh/usroh dipimpin dan dibimbing oleh seorang murobbi (pembina). Murobbi disebut juga dengan mentor, pembina, ustdaz (guru), mas’ul (penanggung jawab), atau naqib (pemimpin). Murobbi bekerjasama dengan peserta halaqoh/usroh untuk mencapai tujuan halaqoh/usroh, yaitu terbentuknya muslim yang Islami dan berkarakter da‘i (takwinul Islamiyah wa da’iyah). Dalam mencapai tujuan tersebut, murobbi/naqib berusaha agar peserta hadir secara rutin dalam pertemuan halaqoh/usroh tanpa merasa jemu dan bosan. Kehadiran peserta secara rutin penting artinya dalam menjaga kekompakkan halaqah/usroh agar tetap produktif untuk mencapai tujuannya.

Halaqah/Usroh Sebagai Wadah Pengkaderan

Halaqah/usroh sekarang ini dan Insya Allah di masa datangmenjadi alternatif sistem pendidikan Islam yang cukup efektif untuk membentuk muslim berkepribadian Islami (syakhsiyah Islamiyah). Hal ini dapat terlihat dari hasil pembinaannya yang berhasil membentuk sekian banyak muslim yang serius mengamalkan Islam. Jumlah

mereka makin lama makin banyak seiring semakin bertambahnya jumlah halaqoh/usroh yang terbentuk di berbagai kalangan.

Fenomena halaqoh/usroh berawal dari berdirinya jama’ah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1928 M di Mesir. Pendiri Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna --semoga Allah merahmatinyasangat prihatin dengan kondisi umat Islam saat itu yang jauh dari nilai-nilai Islam. Beliau berusaha keras mengembalikan umat kepada agamanya. Dari pengamatannya yang mendalam tentang kondisi umat Islam, beliau sampai pada satu kesimpulan bahwa jauhnya umat dari Islam disebabkan mereka tidak terdidik secara Islami. Lalu beliau mengenalkan sistem pendidikan alternatif yang harus dilakukan oleh anggota jama’ahnya. Sistem itu disebut dengan sistem usroh. Anggota jama’ahnya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan tingkat pemahamannya terhadap Islam. Dengan dibimbing oleh seorang naqib, para anggota Ikhwanul Mulimin saat itu secara serius mempelajari Islam yang berorientasi pada pengamalan Islam. Hasilnya, jama’ah Ikhwanul Muslimin saat itu dikenal oleh kawan dan lawannya sebagai jama’ah yang anggotanya sangat konsisten menegakkan Islam

di dalam diri dan di masyarakat. Sepeninggal Hasan Al Banna, sistem usroh

dilanjutkan oleh para pengikutnya. Sistem ini akhirnya menyebar dengan berbagai modifikasinyake berbagai gerakan Islam lainnya.

Kini, fenomena halaqoh/usroh menjadi umum dijumpai di lingkungan kaum muslimin di mana pun mereka berada. Walau mungkin dengan nama yang berbeda- beda. Penyebaran halaqoh/usroh yang pesat tak bisa dilepaskan dari keberhasilannya dalam mendidik pesertanya menjadi mukmin yang bertaqwa kepada Allah SWT. Saat

ini halaqoh/usroh menjadi sebuah alternatif pendidikan keislaman yang masif dan

merakyat. Tanpa melihat latar belakang pendidikan, ekonomi, sosial atau budaya pesertanya. Bahkan tanpa melihat apakah seseorang yang ingin mengikuti halaqoh/usroh tersebut memiliki latar belakang pendidikan agama Islam atau tidak. Halaqoh/usroh telah menjadi sebuah wadah pendidikan Islam (tarbiyah Islamiyah) yang semakin inklusif saat ini.

Keberhasilan halaqoh/usroh dalam mendidik pesertanya menjadikan berbagai organisasi (jama’ah) Islam mengandalkan halaqoh/usroh dalam mendidik para anggota atau calon anggotanya. Halaqoh/usroh difungsikan oleh berbagai jama’ah sebagai tempat untuk membentuk kader jama’ah yang militan dalam memperjuangkan Islam. Biasanya perkembangan kualitas dan kuantitas halaqoh/usroh pada sebuah jama’ah akan berpengaruh secara signifikan dengan tingkat soliditas dan produktivitas jama’ah tersebut. Bahkan bertahan atau tidaknya eksistensi jama’ah juga dipengaruhi oleh berkembang atau tidaknya sistem halaqoh/usroh dalam jama’ah tersebut. Jama’ah yang solid dan produktif biasanya adalah jama’ah yang sistem halaqoh/usrohnya berjalan dengan baik. Sebaliknya, jama‘ah yang tingkat soliditas dan produktivitasnya rendah disebabkan karena sistem halaqoh/usrohnya tidak berjalan dengan baik, atau malah tidak ada sama sekali. Karena itu, halaqoh/usroh berfungsi sebagai wadah pengkaderan yang efektif untuk keberlangsungan sebuah jama’ah (organisasi) Islam.

Keberadaan halaqoh/usroh bukan hanya penting untuk keberlangsungan jama’ah, tapi juga penting untuk keberadaan umat Islam itu sendiri. Dengan terbentuknya kader-kader Islami melalui sistem pendidikan halaqoh/usroh, maka di dalam tubuh umat akan lahir orang-orang yang senantiasa berdakwah kepada kebenaran. Jika jumlah mereka semakin banyak seiring dengan merebaknya sistem halaqoh/usroh, maka umat Islam akan menjadi ‗sebenar-benarnya umat‘. Bukan lagi sekedar bernama ‗umat Islam‘ tapi esensinya jauh dari nilai-nilai Islam seperti yang kita saksikan saat ini.

Dengan merebaknya sistem pendidikan halaqoh/usroh, proses pembentukan umat yang Islami (takwinul ummah) akan mengalami akselarasi, sehingga --Insya Allah-- umat yang benar-benar Islami akan menjadi kenyataan dalam waktu yang lebih cepat. Hal ini akan berdampak pada kehidupan manusia secara menyeluruh yang lebih berpihak kepada nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Merebaknya halaqoh/usroh juga bermanfaat bagi pengembangan pribadi (self development) para pesertanya. Halaqoh/usroh yang berlangsung secara rutin dengan peserta yang tetap biasanya berlangsung dengan semangat kebersamaan (ukhuwah Islamiyah). Dengan nuansa semacam itu, peserta belajar bukan hanya tentang nilai- nilai Islam, tapi juga belajar untuk bekerjasama, saling memimpin dan dipimpin, belajar disiplin terhadap aturan yang mereka buat bersama, belajar berdiskusi dan menyampaikan ide, belajar mengambil keputusan dan juga belajar berkomunikasi. Semua itu sangat penting bagi kematangan pribadi seseorang untuk mencapai tujuan hidupnya, yakni sukses di dunia dan akhirat.

Umat Islam akan mengalami kerugian yang besar jika sistem halaqoh/usroh tidak berkembang dan punah. Hal ini karena halaqoh/usroh merupakan sarana efektif untuk melahirkan kader-kader Islam yang tangguh dan siap berkorban memperjuangkan Islam. Bahkan, mungkin dapat disebut, jika sistem halaqoh/usroh tumpul dan mandul, maka umat akan mengalami situasi lost generation (kehilangan generasi pelanjut) yang berkarakter Islami.

Pentingnya mempertahankan sistem halaqoh/usroh dalam mencetak kader-kader Islam yang tangguh sudah teruji dalam perjalanan panjang kehadiran halaqoh/usroh di berbagai negara. Apalagi sampai saat ini para mufakir (pemikir) da‘wah juga belum dapat menemukan sistem alternatif lain yang sama efektifnya dalam mencetak kader Islam yang tangguh seperti yang telah dihasilkan oleh halaqoh/usroh. Bahkan yang terjadi sebaliknya, kini semakin banyak para mufakir, da’i dan ulama yang mendukung tarbiyah melalui sistem halaqah/usroh. Sebagian dari mereka bahkan menulis buku yang menganalisa kehandalan sistem halaqoh/usroh dalam mencetak kader-kader Islam. Termasuk menganalisanya dari sisi syar‘i, sejarah dan sunnah Rasul. Salah seorang mufakir (pemikir) da‘wah, Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, mengemukan pendapatnya tentang sistem halaqoh/usroh yang tak tergantikan :

―Tarbiyah melalui sistem usroh merupakan tarbiyah yang sesungguhnya dan tak tergantikan, karena dalam sistem usroh inilah didapatkan kearifan, kejelian dan langsung di bawah asuhan seorang syaikh atau murobbi yang ia adalah naqib

(pemimpin) usroh itu sendiri. Sedang program-programnya bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya yang diatur dengan jadwal yang sudah dikaji sebelumnya‖.

Cukuplah sudah alasan tentang pentingnya mempertahankan keberadaan halaqoh/usroh dalam tubuh umat Islam di masa kini dan di masa mendatang. Kehandalan halaqoh/usroh sebagai sistem tarbiyah yang paling efektif tak perlu diragukan lagi, sehingga sudah selayaknya setiap muslim dan para da’i mendukung penyebaran halaqoh/usroh ke seluruh penjuru dunia, jika mereka memang benar- benar ingin melihat agama Allah ini menang dan dimuliakan oleh seluruh manusia. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama, meskipun orang- orang musyrik benci‖ (QS. As Shaff : 9).

==Bagan urgensi halaqah/usroh==

HALAQOH/USROH MUNTIJAH

Islam sangat menganjurkan agar para pemeluknya membentuk kumpulan-kumpulan bernuansa kekeluargaan (usroh) dengan tujuan mengerahkan mereka untuk mencapai tingkat keteladanan, mengokohkan persatuan, dan mengangkat konsep persaudaraan di antara mereka dari tataran kata-kata dan teori menuju kerja dan operasional yang konkret. Oleh karenanya bersungguh-sungguhlah engkau wahai saudaraku untuk menjadi bata bata yang baik dalam bangunan Islam ini(Imam As Syahid Hasan Al Banna)

Peran halaqah/usroh yang begitu penting bagi keberlangsungan umat membuat halaqah/usroh harus dijaga eksistensinya sampai kapanpun. Tak ada kata selesai untuk menjaga eksistensi halaqah/usroh, walaupun telah berdiri daulah atau khilafah Islamiyah. Salah seorang ulama dakwah, Musthafa Masyhur, pernah berkata:

―eksistensi halaqah/usroh (tarbiyah Islamiyah) tak boleh berakhir, walau daulah Islamiyah telah berhasil diteggakan‖.

Kesibukan para aktivis Islam dalam menyelesaikan berbagai agenda permasalahn umat juga tak boleh menyurutkan perhatian mereka untuk menjaga keberadaan halaqah/usroh. Bahkan jika aktivis Islam berhasil memasyarakatkan halaqah/usroh, boleh jadi permasalahan umat dapat diselesaikan secara lebih cepat dan tepat. Berbagai masalah yang sekarang ini menimpa umat sesungguhnya lebih banyak disebabkan karena kebodohan umat Islam itu sendiri terhadap ajaran agamanya. Muhammad Abduh pernah berkata: ―(Kecemerlangan) Islam ditutupi oleh (kebodohan) umatnya‖.

Karena itu, salah satu cara yang paling efektif untuk mengatasi kebodohan umat adalah dengan memasyarakatkan halaqoh dan menghalaqohkan masyarakat, sehingga umat terdidik secara Islami. Umat yang terdidik secara Islami akan mampu mengatasi berbagai masalah yang muncul dengan solusi yang lebih tepat. Solusi yang datangnya dari Allah SWT. Permasalahan umat yang tak kunjung selesai saat ini disebabkan mereka tidak mau dan tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut sesuai dengan petunjuk Allah SWT.

Mewujudkan Halaqoh/Usroh Muntijah

Untuk menjadikan halaqoh/usroh sebagai wadah tarbiyah (pendidikan) yang efektif, maka para aktivis dan da‘i harus berupaya agar halaqoh/usroh berjalan dengan sukses (muntijah). Tanpa ada keinginan untuk mensukseskan perjalanan halaqoh/usroh maka tak mungkin halaqoh/usroh bisa menjadi wadah efektif untuk mencetak kader yang akan menjadi anasirut taghir (pelopor perubahan) umat. Halaqoh/usroh bisa jadi hanya sekedar rutinitas tanpa memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembangunan umat.

Hanya halaqoh/usroh yang selalu berorientasi pada kesuksesan yang berperan secara signigfikan dalam pembangunan umat.

Oleh karena itu, tugas da‘i dan para aktivis adalah memperbanyak jumlah halaqoh/usroh yang berorientasi kepada kesuksesan (muntijah). Kemudian mempertahankan sebisa mungkin agar berjalannya halaqoh/usroh, khususnya yang berada di bawah tanggung jawabnya, selalu berada dalam orientasi kesuksesan. Bukan hanya sekedar berjalan dengan rutinitas yang monoton tanpa mengetahui atau tanpa ada evaluasi apakah halaqoh/usroh tersebut berjalan dengan orientasi kesuksesan atau tidak.

Jika halaqoh/usroh tidak lagi berjalan dengan orientasi kesuksesan (muntijah), maka masa depan halaqah/usroh akan suram karena tidak lagi mampu menghasilkan kader Islam yang tangguh dan berkualitas seperti para pendahulunya, yaitu para mu’asis (pendiri) da‘wah yang membangun sistem halaqah/usroh itu sendiri. Kualitas para kader Islam di masa depan tak bisa lagi dibanggakan karena tidak lagi memiliki keistimewaan sebagai kader Islam yang tangguh (mujahid). Inilah yang harus dikhawatirkan jika sekiranya halaqoh/usroh hanya sekedar berjalan tanpa memiliki orientasi pada kesuksesan.

Lalu apa kriteria sebuah halaqoh/usroh yang muntijah? Kriterianya ada dua :

1. Tercapainya dinamisasi, sehingga jalannya halaqah/usroh berlangsung dengan menggairahkan dan tidak menjemukan.

2. Tercapainya produktivitas, sehingga tujuan halaqah/usroh dapat terwujud.

== Bagan Dinamisasi + Produktivitas = Halaqoh/Usroh Muntijah

Berbagai Tipe Halaqoh/Usroh

Dalam kenyatannya, tidak semua halaqoh/usroh muntijah. Bahkan ada halaqoh/usroh yang sangat rendah orientasinya pada kesuksesan (muntijah). Jika halaqoh/usroh diklasifikasikan berdasarkan faktor dinamisasi dan produktivitas (sebagai kriteria halaqoh/usroh yang muntijah), paling tidak ada lima tipe halaqoh/usroh yang bisa diamati, yaitu :

1. Halaqoh/usroh tipe sukses (muntijah)

2. Halaqoh/usroh tipe paguyuban

3. Halaqoh/usroh tipe jenuh

4. Halaqoh/usroh tipe sedang

5. Halaqoh/usroh tipe rendah

Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada bagan di bawah ini :

==Grafik tipe-tipe usroh==

Tipe muntijah adalah halaqoh/usroh yang faktor dinamisasinya tinggi dan faktor produktivitasnya tinggi. Inilah halaqoh/usroh yang prestasinya paling baik. Halaqoh/usroh yang menjadi idaman setiap aktivis da‘wah.

Sedang tipe paguyuban adalah halaqoh/usroh yang faktor dinamisasinya tinggi, namun pada saat bersamaan faktor produktivitasnya rendah. Tipe jenuh adalah halaqoh/usroh yang faktor dinamisasinya rendah, akan tetapi pada saat bersamaan faktor produktivitasnya tinggi. Tipe sedang adalah halaqoh/usroh yang faktor dinamisasinya sedang dan pada saat yang bersamaan produktivitasnya juga sedang. Sedang tipe rendah adalah halaqoh/usroh yang faktor dinamisasinya rendah dan pada saat bersamaan faktor produktivitasnya juga rendah. Halaqoh/usroh tipe rendah yang orientasinya kepada kesuksesan paling rendah. Halaqoh/usroh yang paling tidak diidamkan oleh setiap murobbi/naqib dan peserta.

Mengapa dinamisasi dan produktivitas menjadi faktor yang penting dalam mengukur halaqoh/usroh yang muntijah? Sebab kesuksesan sebuah halaqoh/usroh harus dilihat dari dua paradigma, yaitu proses dan hasil. Kita tidak bisa mengukur kesuksesan suatu sistem hanya dengan melihat satu paradigma saja, proses atau hasil. Apalagi jika sistem tersebut adalah sistem sosial. Sistem tempat berkumpulnya orang-orang untuk mencapai sesuatu. Dalam sistem sosial seperti halaqoh/usroh, keberhasilan tidak dapat diukur dari hasilnya saja. Sebab hal itu berpotensi besar untuk mengabaikan proses yang manusiawi dalam mencapai tujuan. Padahal manusia dalam halaqoh/usroh adalah sumber daya yang paling penting, sehingga proses dalam mencapai tujuan harus diperhatikan demi menghargai nilai-nilai dan kebutuhan manusia itu sendiri.

Sebaliknya, kesuksesan juga tidak dapat diukur dari sisi proses saja, tanpa melihat hasilnya. Tanpa ada hasil yang sesuai dengan tujuan, percuma kita berbicara tentang keberhasilan (muntijah). Jadi keberhasilan perlu diukur dari dua sisi: seperti apa proses yang terjadi dan sejauh mana tujuan telah tercapai. Dalam dunia manajemen, hal ini disebut dengan management by objective (pengelolaan berdasarkan tujuan) dan management by process (pengelolaan berdasarkan proses). Kedua-duanya penting dalam mengukur keberhasilan sebuah sistem sosial seperti halaqoh/usroh.

Dinamisasi adalah proses yang bergerak secara berubah-ubah, sehingga menumbuhkan semangat dan menghilangkan kejenuhan. Produktivitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu. Jadi berbicara tentang dinamisasi berarti berbicara dalam tataran proses. Sedang berbicara tentang produktivitas berarti berbicara dalam tataran tujuan/hasil. Kedua-duanya penting dijadikan indikator untuk mengukur kesuksesan sebuah halaqoh/usroh.

Pada bab berikutnya kita akan membahas lebih rinci tentang apa yang dimaksud dinamisasi dan produktivitas dalam halaqoh/usroh.

Peran Murobbi/Naqib dalam Mewujudkan Halaqoh/Usroh Muntijah

Murobi/naqib memiliki peran sentral dalam mensukseskan halaqoh/usroh. Perannya jauh lebih penting dan dominan daripada peserta halaqoh/usroh. Boleh dikatakan sukses atau tidaknya sebuah halaqoh/usroh ada di tangan murobbi/naqib. Hal ini disebabkan murobbi/naqib adalah pemimpin halaqoh/usroh. Ia yang memotivasi, mengarahkan, membimbing dan mengendalikan perjalanan halaqoh/usroh. Peran peserta dalam mensukseskan halaqoh/usroh lebih sebagai faktor sekunder dan pendukung. Walau peserta memiliki kemauan dan kemampuan yang tinggi untuk mensuksesakn halaqoh/usroh, tapi jika murobbi/naqib tidak memiliki kemauan dan kemampuan yang sama maka halaqoh/usroh sangat kecil kemungkinannya menjadi sukses (muntijah).

Dalam kenyataannya, tidak semua murobbi/naqib memiliki orientasi yang kuat untuk mensukseskan halaqoh/usrohnya. Tidak semua murobbi/naqib secara serius melakukan dinamisasi dan produktivas halaqoh/usroh. Hal ini mungkin disebabkan beberapa faktor :

1. Terjebak dengan rutinitas

Perjalanan halaqoh/usroh yang lama dan tak pernah mengenal kata selesai membuat seorang murobbi/naqib bisa terjebak pada rutinitas. Penyelenggaraan halaqoh/usroh menjadi sekedar kewajiban atau kebiasaan yang sudah dilakukan bertahun-tahun, sehingga makna dan tujuan halaqoh/usroh menjadi absurd (tidak jelas).

2. Sibuk dengan aktivitas da‘wah ‘ammah yang lebih ‗gegap gempita‘

Mengelola halaqoh/usroh seperti mengelola sebuah ‗dunia‘ yang sepi. Disana tidak ada publikasi, ketenaran dan keuntungan materi. Yang ada hanya keikhlasan untuk mengelola peserta yang jumlahnya terbatas dan tetap. Sedang dakwah ‘ammah (umum) adalah

da‘wah yang ‗gegap gempita‘. Disana banyak godaan berupa ketenaran, kedudukan dan keuntungan materi. Mungkin saja seorang murobbi/naqib yang dahulunya tidak sibuk dengan da‘wah ‘ammah, namun setelah sibuk dengan da‘wah ‘ammah menjadi tergoda untuk lebih memperhatikan da‘wah ‘ammah daripada mengelola halaqoh/usroh secara serius. Kehadiran dan keterlibatannya dalam halaqoh/usroh hanya bersifat sambil lalu tanpa persiapan dan pengelolaan yang matang.

3. Kesibukan dengan urusan duniawi

Kesibukan dengan urusan duniawi (seperti bisnis, bekerja, dan berkarir) bisa menjadi salah satu faktor yang membuat murobbi/naqib tidak sempat lagi memperhatikan perkembangan kualitas halaqoh/usroh yang ditanganinya. Hadir ke halaqoh/usroh tanpa

persiapan, datang ke halaqoh/usroh dalam kondisi lelah, tidak sempat lagi membuat program yang kontinyu di dalam halaqoh/usroh adalah contoh dari murobbi/naqib yang terlalu sibuk mengejar urusan duniawi.

4. Terpesona dengan jumlah (kuantitas)

Perhatian yang serius terhadap halaqoh/usroh bisa jadi berkurang karena terpesona dengan jumlah. Baik jumlah peserta yang ditanganinya maupun jumlah kader yang ada di dalam jama’ahnya. Jumlah yang banyak bisa melenakan orang terhadap pentingnya aspek kualitas. Hal ini sudah banyak contohnya. Para sahabat Rasulullah saw pernah terpesona dengan jumlah mereka yang banyak dalam perang Hunain, sehingga lalai

dalam kualitas dan strategi perang. Hingga akhirnya Allah SWT memberi pelajaran kepada mereka dengan kekalahan yang menyakitkan.

5. Merasa bahwa halaqoh/usrohnya tidak ada masalah

Orientasi terhadap kesuksesan halaqoh/usroh bisa jadi berkurang karena murobbi/naqib kurang peka terhadap masalah. Ada orang yang sensitif terhadap masalah dan ada pula orang yang tidak sensitif terhadap masalah. Hal ini disebabkan cara pandang yang berbeda dalam melihat masalah. Dalam kenyataannya, ada murobbi/naqib yang menganggap dinamisasi dan produktivitas halaqoh/usroh sebagai masalah yang tidak penting. Mereka menganggap selama peserta masih hadir dengan rutin, maka tidak ada masalah yang serius dalam halaqoh/usrohnya. Padahal jika dilihat dari sisi dinamisasi dan produktivitas, halaqoh/usroh tersebut sebetulnya berjalan monoton dan lambat

mencapai tujuannya.

6. Kurangnya motivasi dan pengingatan dari jama’ah atau ikhwah di sekelilingnya

Orientasi yang rendah terhadap kesuksesan halaqoh/usroh mungkin bisa disebabkan kurangnya motivasi dan pengingatan dari jama‘ah (terutama struktur jama‘ah terdekat) atau dari ikhwah di sekelilingnya. Kesibukan dengan aktivitas da‘wah yang lain atau dengan prioritas da‘wah musiman bisa membuat para murobbi/naqib lalai memperhatikan perkembangan halaqoh/usrohnya. Halaqoh/usroh menjadi asal jalan, tanpa sempat lagi dievaluasi sampai sejauh mana perkembangan kualitasnya.

7. Terlena dengan nostalgia masa lalu

Ketidakseriuasan dalam mengelola halaqoh/usroh bisa juga karena terlena dengan pengalaman masa lalu. Murobbi/naqib merujuk kepada pengalaman masa lalu ketika ia dibina secara ‗konvensional‘, sehingga ia enggan untuk melakukan inovasi dalam rangka mendinamiskan halaqoh/usroh. Ia juga enggan bersusah payah mengejar produktivitas karena merasa dahulu dibina tanpa target yang ‗rumit‘. Ia menggunakan pengalaman masa lalunya untuk membina halaqoh/usroh di saat sekarang. Padahal tantangan zaman selalu berubah. Dahulu mungkin ia bisa berhasil dibina karena tantangan eksternal tidak sekompleks zaman sekarang. Saat ini halaqoh/usroh menghadapi ‗pesaing‘ yang tangguh dari ‗kelompok kecil‘ lain. Kaum sekuler dan sosialis membuat ‗kelompok-kelompok kecil‘ yang dikelola secara inovatif dan profesional. Begitu pula jama’ah-jama’ah Islam yang lain. Oleh karena itu, jika murobbi/naqib tidak serius mengelola halaqoh/usroh secara inovatif dan profesional, bisa jadi ‗konsumen‘ da‘wah akan ‗direbut‘ oleh

kelompok atau jama’ah lain.

HALAQOH/USROH DINAMIS

Wahai saudaraku, sistem usroh sangat bermanfaat bagi kita dan berguna bagi da’wah. Dengan daya dan kekuatan dari Allah SWT, sistem ini akan mampu menghimpun kalangan anggota Ikhwan yang tulus, memudahkan hubungan antar mereka, mengerahkan mereka kepada teladan dalam da’wah, memperkokoh ikatan persatuan mereka, dan mengangkat persaudaraan mereka dari tataran kata-kata dan teori ke tingkat operasional(Imam As Syahid Hasan Al Banna)

Seperti yang telah disebutkan di muka, salah satu sendi halaqoh/usroh yang muntijah adalah dinamisasi. Yaitu halaqoh/usroh yang selalu berproses dan bergerak secara berubah-ubah (tidak monoton), sehingga menumbuhkan kegairahan dan menghilangkan kejenuhan. Ini bukan merupakan hal yang mudah, karena sistem halaqah/usroh berjalan ‗seumur hidup‘. Artinya, halaqoh/usroh berlangsung rutin dan tak pernah selesai untuk diikuti. Tidak mengenal kata ‗lulus‘, kecuali jika peserta sendiri yang menginginkan keluar dari halaqoh/usroh (dan itu berarti keluar juga dari jama’ah yang diikutinya).

Halaqoh/usroh dirancang untuk diikuti seumur hidup (madal hayah) oleh pesertanya. Hal ini karena tidak ada kata berhenti untuk mempelajari Islam. Selama nafas masih ada, mempelajari Islam tetap perlu dilakukan. Nabi bersabda: ―Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai ke liang lahat‖. Yang berubah hanya penempatan pesertanya yang disesuaikan dengan pemahaman dan pengamalannya terhadap Islam. Mungkin saja peserta mendapatkan murobbi/naqib yang berbeda-beda. Tempat halaqoh/usroh yang berubah-ubah. Bahkan nama ―perkumpulannya‖ juga bisa berubah (misalnya menjadi mentoring, usroh, ta’lim, atau tarbiyah). Apa pun namanya, tapi hakekatnya tetap sama, yaitu sistem pendidikan (tarbiyah) yang berlangsung seumur hidup.

Jika halaqoh/usroh berlangsung sesaat, misalnya hanya setahun atau dua tahun, mungkin menciptakan suasana dinamis dan tidak jemu menjadi mudah untuk dilakukan. Namun jika halaqah/usroh berlangsung seumur hidup, maka kecenderungan peserta untuk jenuh mengikuti halaqah/usroh menjadi tinggi. Hal ini wajar, karena suasana rutinitas yang berlangsung lama secara psikologis memang berpotensi untuk membuat jenuh.

Lalu bagaimana upaya yang perlu dilakukan agar halaqoh/usroh tidak berlangsung menjemukan? Alias senantiasa menggairahkan para pesertanya? Apakah dengan cara menjadikan halaqoh/usroh tidak berlangsung seumur hidup, tapi hanya berlangsung sebentar, misalnya setahun atau dua tahun saja? Jawabannya, tentu tidak dengan cara merubah waktu halaqoh/usroh menjadi sebentar. Sebab jika hanya sebentar, bukan saja kita tidak menjalankan anjuran Rasul supaya menuntut ilmu seumur hidup, tapi

juga mustahil jika waktu pendidikannya hanya sebentar bisa merubah orang menjadi Islami.

Yang perlu dilakukan agar suasana halaqoh/usroh yang berlangsung lama itu tidak menjemukan adalah dengan mendinamiskan perjalanan halaqoh/usroh. Yakni dengan melakukan berbagai cara kreatif yang Islami untuk merubah suasana halaqah/usroh supaya tidak membosankan.

Manfaat Mendinamiskan Halaqah/Usroh

Perhatian terhadap berjalanannya halaqoh/usroh yang dinamis dan menggairahkan merupakan hal urgen yang perlu dilakukan, baik oleh murobbi/naqib maupun peserta. Sebab pengabaian terhadap dinamisasi akan berdampak pada lambatnya pencapaian tujuan. Hal ini seringkali tidak disadari oleh murobbi/naqib maupun peserta karena mereka merasa halaqoh/usrohnya masih berjalan dengan baik. Beberapa murobbi/naqib menjadikan indikator kehadiran peserta sebagai cara menilai baik/buruknya halaqoh/usroh. Ketika peserta masih hadir dengan lengkap (walau sesekali ada juga yang tidak hadir), murobbi/naqib sering menganggap hal itu sebagai indikasi dari masih baiknya perjalanan halaqoh/usroh mereka. Penilaian ini jelas terlalu menyederhanakan persoalan. Kehadiran peserta yang masih lengkap bukanlah indikator satu-satunya untuk menilai baik atau buruknya perjalanan suatu halaqoh/usroh. Perlu ada indikator lain yang digunakan untuk mengukur baik atau buruknya perjalanan halaqoh/usroh. Indikator lain tersebut adalah dinamisasi dan produktivitas halaqoh/usroh.

Dinamisasi halaqoh/usroh akan mengukur sampai sejauh mana kepuasan aktivitas (job satisfaction) yang dialami murobbi/naqib dan peserta di dalam halaqoh/usrohnya. Kepuasan merupakan hal yang subyektif karena terkait dengan emosi (perasaan). Walau subyektif, kepuasaan bukan berarti harus diabaikan dalam mengukur keberhasilan halaqoh/usroh. Paradigma kepuasan sebagai indikator dalam mengukur keberhasilan pengelolaan SDM (Sumber Daya Manusia) sudah menjadi hal yang umum di dunia organisasi dan manajemen. Halaqoh/usroh sebagai sebuah sistem pengelolaan SDM juga perlu memperhatikan masalah kepuasan ini.

Kepuasaan beraktivitas (job satisfaction) sebenarnya merupakan kata lain dari terwujudnya nikmat ukhuwah (ni’matul ukhuwah). Bukankah Allah SWT menghendaki agar kita selalu beraktivitas dalam suasana ukhuwah yang nikmat?

ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah)

bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu. Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara‖ (QS. 3 : 103). Nikmatnya ukhuwah Islamiyah dalam halaqoh/usroh tak mungkin terwujud tanpa perhatian terhadap dinamisasi halaqoh/usroh. Tidak cukup hanya sekedar memberikan taujih (arahan) saja tentang ukhuwah untuk mewujudkan nikmat ukhuwah, akan tetapi perlu dipraktekkan di dalam halaqoh/usroh itu sendiri.

dan

Jadi, sudah saatnya murobbi/naqib dan peserta memperhatikan dinamisasi yang terjadi dalam halaqoh/usrohnya. Mereka tidak bisa lagi menyepelekan masalah ini jika ingin halaqoh/usrohnya muntijah (sukses). Lagipula ada beberapa manfaat yang akan diperoleh jika halaqoh/usroh berjalan dinamis, antara lain :

1. Kehadiran yang rutin

Halaqoh/usroh yang berjalan dinamis akan membuat murobbi/naqib dan peserta hadir dengan rutin. Mereka tidak lagi membuat seribu satu alasan untuk tidak hadir dalam halaqoh/usroh. Bahkan mereka akan berupaya sekuat tenaga untuk hadir walau berbagai kendala menghadang kehadiran mereka. Hal ini karena halaqoh/usroh telah menjadi tempat yang menyenangkan dan menggairahkan bagi mereka. Mereka sudah merasa betah. Bagi mereka halaqoh/usroh merupakan tempat idaman, sehingga

jadwal pertemuan halaqoh/usroh menjadi saat-saat yang dirindukan. Alangkah indahnya jika perasaan rindu dan betah ini sudah menjadi karakter dalam diri murobbi/naqib dan peserta. Allah SWT menghendaki agar kita sabar dan betah berlama-lama berkumpul dalam lingkungan da‘i, seperti yang terjadi di dalam halaqoh/usroh : ―Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang

(QS. 18

menyeru Robnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoan-Nya : 28).

2. Semangat yang tinggi

Murobbi/naqib dan peserta bukan hanya akan hadir secara rutin jika halaqoh/usroh berjalan dinamis, mereka juga akan hadir dengan semangat yang tinggi. Semangat ini membuat mereka hadir dengan ‗seutuhnya‘ (hati, pikiran dan fisik), tidak hanya hadir

fisiknya saja tetapi hati dan pikirannya terbang entah kemana. ‗Utuhnya‘ kehadiran membuat mereka menyimak seluruh agenda acara di dalam halaqoh/usroh. Hal ini mempercepat penambahan wawasan dan interaksi antar peserta, sehingga tujuan halaqoh/usroh dapat tercapai dengan lebih cepat. Allah memerintahkan agar kita mengobarkan semangat yang tinggi dalam berperang (dan juga dalam berbagai aktivitas, termasuk di dalam aktivitas halaqoh/usroh) : ―Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang….‖ (QS. 8 : 65).

3. Tanggung jawab yang besar

Semangat yang tinggi membuat munculnya tanggung jawab yang besar dalam melaksanakan tugas-tugas halaqoh/usroh. Sebab biasanya di dalam semangat ada

keinginan untuk melakukan tanggung jawab. Dengan berjalannya tugas-tugas halaqoh/usroh, pemahaman dan pengalaman peserta akan meningkat lebih cepat, sehingga tujuan halaqoh/usroh juga dapat dicapai lebih cepat.

4. Mempercepat pencapaian tujuan

Halaqoh/usroh yang berjalan dinamis dan menggairahkan akan mempercepat pencapaian tujuan. Hal ini karena tugas dan program yang dibuat untuk mencapai tujuan dilaksanakan dengan semangat yang tinggi dan tanggung jawab yang besar. Tidak ada tugas dan program yang terbengkalai, sehingga tugas dan program selanjutnya bisa dibuat dan akhirnya tujuan halaqoh/usroh dapat dicapai lebih cepat. Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara

hamab-hamba Kami. Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar‖ (QS. 35 : 32).

5. Meningkatkan kreativitas

Halaqoh/usroh yang berjalan dinamis biasanya lahir dari murobbi/naqib dan peserta yang kreatif. Murobbi/naqib dan peserta tidak terjebak dengan suasana monoton atau ‗pakem-pakem‘ tertentu dalam menjalankan halaqoh/usroh. Mereka tidak lagi terjebak dengan pengalaman masa lalu. Mereka berani menampilkan ide-ide dan cara- cara baru yang tidak bertentangan dengan syar‘i untuk membuat halaqoh/usroh berjalan dinamis. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana agar tujuan

halaqoh/usroh dapat tercapai melalui proses yang menggairahkan dan tidak menjemukan. ―Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencerai keridhoan) Kami,

benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami

(QS. 29 : 69).

6. Menghindari kemaksiatan

Halaqoh/usroh yang menjemukan akan menurunkan kegairahan untuk menambah wawasan dan ibadah. Hati menjadi keras. Suasana ruhiyah menjadi hilang. Iman menjadi turun, sehingga keinginan berbuat maksiat menjadi meningkat. Sebaliknya, halaqoh/usroh yang berjalan dinamis akan menghilangkan kejenuhan. Kegairahan untuk menambah wawasan dan meningkatkan ibadah akan muncul, sehingga hati akan tetap terpelihara. Iman menjadi meningkat, sehingga terhindar dari keinginan untuk berbuat maksiat. ―Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman,

untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepada mereka, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik‖ (QS. 57 : 16).

7. Memperkecil munculnya konflik/masalah

Salah satu sebab munculnya konflik/masalah adalah hati yang kering dari iman dan ukhuwah. Namun jika halaqoh/usroh berjalan secara dinamis, maka hati menjadi bergairah untuk meningkatkan iman dan ukhuwah. Hal ini berdampak pada keinginan untuk saling menghargai dan menghindari terjadinya masalah/konflik di antara

peserta satu sama lain. ―Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat‖ (QS. 49 : 10).

8. Merasakan manisnya ukhuwah

Akhirnya, manisnya ukhuwah (khulwatul ukhuwah) akan didapatkan oleh mereka yang halaqoh/usrohnya berjalan dinamis. Ukhuwah tak lagi sekedar basa-basi tanpa implementasi. Mereka mendapatkan apa yang selama ini dirindukan setiap muslim, yakni manisnya ukhuwah. Hal ini merupakan buah dari upaya tak kenal henti yang mereka lakukan untuk mendinamiskan halaqoh/usroh. Mendinamiskan halaqoh/usroh berarti menyegarkan suasana, menjinakkan hati dan menumbuhkan

kehangatan serta kegairahan untuk berukhuwah antar sesama personil halaqoh/usroh. dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana‖ (QS. 8 : 63)

Sebab-Sebab Munculnya Kejenuhan Dalam Halaqoh/Usroh

Namun perjalanan mewujudkan halaqoh/usroh yang dinamis tidaklah mudah. Butuh perjuangan untuk mewujudkannya. Tidak semua halaqoh/usroh memahami urgensi mewujudkan halaqoh/usroh yang dinamis dan menggairahkan.

Jika tidak ada kesungguh-sungguhan untuk mewujudkan halaqoh/usroh yang dinamis, maka perlahan tapi pasti halaqoh/usroh akan berubah menjadi menjemukan. Yang sebab-sebabnya antara lain :

1. Suasana yang monoton

Suasana yang monoton merupakan salah satu sebab dari munculnya kejenuhan dalam halaqoh/usroh. Ini merupakan hal yang wajar. Sebab manusia pada dasarnya menginginkan suasana yang berubah-ubah (dinamis). Tidak terperangkap dalam satu cara atau gaya. Ketika halaqoh/usroh berjalan dengan cara atau suasana yang monoton, maka besar kemungkinan peserta akan merasa jemu.

2. Ketiadaan keteladanan

Murobbi/naqib menjadi teladan bagi peserta. Peserta menjadi teladan bagi peserta lainnya. Ketika murobbi/naqib dan peserta tidak bisa memberikan keteladanan, maka halaqoh/usroh berubah menjadi menjemukan. Contoh hilangnya keteladanan adalah ketika murobbi/naqib mewajibkan peserta untuk hadir rutin, tapi ia sendiri jarang hadir dengan berbagai alasan. Atau ketika ia meminta peserta untuk bersikap menghargai pendapat orang lain, tapi ia sendiri tak bisa menghargai pendapat orang lain. Semakin hilangnya sikap dan perilaku yang bisa diteladani, maka semakin potensial halaqoh/usroh terjerumus pada suasana yang membosankan. Hal ini wajar karena ketiadaan keteladanan membuat hilangnya kepercayaan dan nilai lebih suatu kelompok. Hal ini tentu berdampak pada suasana yang tidak nyaman dan

membosankan.

3. Kurangnya upaya untuk saling memotivasi/mengingatkan

Suasana yang menjemukan bisa juga disebabkan murobbi/naqib dan peserta tidak saling mengingatkan atau memotivasi satu sama lain. Mereka mungkin terjebak pada rutinitas halaqoh/usroh yang dianggap bukan masalah. Jika pun di antara mereka ada yang mengingatkan tentang pentingnya mendinamiskan halaqoh/usroh tapi tidak ditanggapi serius oleh yang lain. Atau bisa juga pengingatan itu dilakukan, tapi tidak dilakukan secara rutin sehingga upaya untuk mendinamiskan halaqoh/usroh hanya bersifat temporer dan tidak berkesinambungan.

4.

Konflik berkepanjangan

Kejemuan dalam halaqoh/usroh bisa juga disebabkan seringnya terjadi konflik di antara peserta. Konflik itu muncul karena berbagai sebab. Bisa karena perbedaan cara

pandang, sifat/karakter atau karena perbedaan kebutuhan. Konflik yang berkepanjangan dalam halaqoh/usroh biasanya bersifat laten. Tidak muncul secara vulgar sehingga jika murobbi/naqib atau peserta kurang jeli maka mereka tidak mengetahui adanya konflik tersebut. Konflik yang tidak terselesaikan dalam halaqoh/usroh dapat berdampak pada suasana yang menjemukan.

Selain sebab-sebab yang bersifat eksternal tersebut, ada juga sebab-sebab yang datangnya dari pribadi orang yang mengalami kejemuan itu sendiri (sebab internal). Sebab-sebab itu antara lain :

1. Kurangnya keikhlasan

Salah satu sebab internal dari munculnya perasaan jemu adalah kurangnya keikhlasan. Hal ini karena ikhlas merupakan motivasi yang tertinggi sehingga jika seseorang telah ikhlas, kecil kemungkinan ia dihinggapi perasaan bosan. Bahkan walau suasana monoton, tapi jika ikhlas mengerjakannya maka rasa bosan tak akan mudah menghinggapi kita. Namun jika keikhlasan berkurang, seseorang akan mudah tertimpa penyakit jenuh.

2. Maksiat

Sebab internal lain dari munculnya perasaan jenuh adalah seringnya seseorang melakukan kemaksiatan. Semakin banyak kemaksiatan yang dilakukan seseorang, semakin mudah ia tertimpa penyakit jenuh. Sebaliknya, semakin bersih seseorang dari kemaksiatan, semakin sulit ia tertimpa penyakit jenuh. Itulah sebabnya Nabi Muhammad saw tidak pernah jemu melakukan qiyamul lail setiap malam. Hal ini juga berlaku pada halaqoh/usroh. Jika peserta halaqoh/usroh banyak melakukan kemaksiatan (kecil atau besar), maka kecenderungan untuk munculnya rasa jemu akan lebih besar dibandingkan jika peserta menjaga dirinya dari kemaksiatan.

3. Kurangnya pemahaman

Kejemuan juga bisa muncul dari kurangnya pemahaman tentang pentingnya suatu pekerjaan. Orang yang cepat bosan melakukan suatu pekerjaan biasanya karena kurang paham manfaat dari pekerjaan tersebut. Misalnya, peserta yang menyadari pentingnya halaqoh/usroh tentu akan lebih sulit tertimpa penyakit jemu daripada peserta yang mengikuti halaqoh/usroh karena ikut-ikutan tanpa mengetahui urgensi dari halaqoh/usroh itu sendiri.

Tahap-Tahap Kejenuhan Dalam Halaqoh/Usroh

Kita juga perlu mengetahui bahwa kejenuhan di dalam halaqoh/usroh tidak berlangsung secara tiba-tiba. Ada proses yang panjang sehingga suasana jenuh betul- betul terjadi dalam halaqoh/usroh. Tahapan-tahapan terjadinya kejenuhan dalam halaqoh/usroh sebagai berikut :

1.

Monoton

Suasana yang monoton adalah tahap awal dari kejenuhan yang terjadi dalam halaqoh/usroh. Monoton ditandai dengan suasana yang itu-itu saja. Tidak banyak berubah, baik dalam metode, waktu, tempat, suasana, materi, dan lain-lain.

2. Eliminasi makna

Jika suasana monoton tidak segera diperbaiki, murobbi/naqib dan peserta mulai merasa bahwa halaqoh/usroh tidak lagi memberi nilai tambah pada dirinya. Terjadi eliminasi (kemerosotan) makna halaqoh/usroh. Murobbi/naqib atau peserta tidak lagi merasakan manfaat dari kehadirannya di halaqoh/usroh. Mereka mulai membanding- bandingkan kehadirannya di halaqoh/usroh dengan kehadirannya di tempat lain yang

mungkin dianggapnya lebih bermanfaat daripada halaqoh/usroh.

3. Penghindaran

Jika makna halaqoh/usroh sudah merosot, tahap berikutnya adalah munculnya keinginan untuk menghindar dari pertemuan halaqoh/usroh. Hal ini ditandai dengan ketidakhadiran yang semakin sering atau hadir tapi sering terlambat. Mungkin murobbi/naqib atau peserta yang jemu tadi menyampaikan seribu satu alasan yang kelihatannya syar‘i dan logis untuk membenarkan ketidakhadiran atau keterlambatannya dalam halaqoh/usroh. Namun alasan yang sebenarnya adalah karena ia sudah jemu dengan halaqoh/usroh.

4. Ketidaknyamanan

Tahap berikutnya adalah munculnya perasaan tidak nyaman untuk berada di halaqoh/usroh. Kehadirannya di halaqoh/usroh semata-mata hanya untuk memenuhi kewajiban (terpaksa). Tidak ada lagi perasaan nyaman dan rindu dengan halaqoh/usroh. Nikmatnya ukhuwah menjadi semakin jauh untuk terealisir.

5. Apatis

Tahap puncak dari kejemuan dalam halaqoh/usroh adalah munculnya sifat apatis terhadap apa yang terjadi. Ia tak lagi peduli dengan tugas atau program halaqoh/usroh. Jika pun ia melaksanakannya, maka tugas atau program itu dilaksanakannya dengan perasaan terpaksa dan ogah-ogahan. Bahkan ia akan berusaha sebisa mungkin untuk menghindar dari tugas atau program halaqoh/usroh. Ia mulai banyak absen dalam pertemuan halaqoh/usroh. Jika pun hadir, biasanya terlambat dan lebih banyak bersikap pasif serta tidak mau terlibat lebih jauh. Ia hanya peduli dengan apa-apa yang terkait erat dengan kepentingan pribadinya. Tidak ada lagi idealita untuk memikirkan orang lain atau memperjuangkan Islam.

Jika tahap apatis ini dibiarkan, ada dua hal yang akan terjadi. Pertama, banyak dari peserta yang akan keluar atau pindah dari halaqoh/usroh tersebut. Kedua, kebanyakan peserta akan tetap bertahan dalam halaqoh/usroh tapi perkembangan mereka sangat lambat. Bahkan boleh dikatakan mereka ‗berjalan di tempat‘. Sebab tidak ada kemajuan yang berarti dalam diri mereka.

===(ada bagan)==

Macam-Macam Kejenuhan Dalam Halaqoh/Usroh

Ada beberapa macam kejenuhan yang mungkin terjadi dalam halaqoh/usroh. Macam- macan kejenuhan tersebut antara lain :

1. Kejenuhan berdasarkan jumlah peserta

a. Kejenuhan induvidual, yaitu kejenuhan yang terjadi pada satu atau lebih peserta halaqoh/usroh. Kejenuhan ini terjadi pada minoritas dari jumlah seluruh peserta halaqoh/usroh.

b. Kejenuhan komunal, yaitu kejenuhan yang terjadi pada sebagian besar (mayoritas) peserta halaqoh/usroh. Kejenuhan komunal lebih sulit diatasi daripada kejenuhan induvidual.

2. Kejenuhan berdasarkan waktu :

a. Kejenuhan temporer, yaitu kejenuhan di dalam halaqoh/usroh yang terjadi hanya pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, suasana membosankan yang berlangsung ketika murobbi/naqib tidak hadir karena sedang menempuh ujian kuliah. Namun setelah murobbi/naqib hadir kembali, suasana membosankan itu hilang.

b. Kejenuhan permanen, yaitu kejenuhan yang terjadi ketika halaqoh/usroh merasakan kejenuhan dalam waktu yang lama. Kejenuhan permanen lebih sulit diatasi daripada kejenuhan temporer.

3. Kejenuhan berdasarkan peran :

a. Kejenuhan

peserta,

halaqoh/usroh.

yaitu

b. Kejenuhan

murobbi/naqib,

murobbi/naqib.

kejenuhan peserta.

Kejenuhan

4. Kejenuhan berdasarkan objek :

kejenuhan

yang

terjadi

pada

diri

peserta

yaitu

murobbi/naqib

kejenuhan

yang

terjadi

lebih

berbahaya

pada

diri

daripada

a. Kejenuhan sistem belajar, yaitu kejenuhan yang diakibatkan oleh tidak pernah berubahnya sistem belajar. Misalnya, sistem belajar yang dilakukan hanya berupa gaya lesehan di dalam ruangan. Padahal semestinya bisa berubah-ubah dalam bentuk sistem kelas, belajar di ruang terbuka, metode majelis ta‘lim di mesjid, dan lain-lain.

b. Kejenuhan metode penyampaian, yaitu kejenuhan yang diakibatkan karena penyampaian materi/madah yang monoton (hanya dengan satu metode belajar saja). Misalnya, hanya dengan menggunakan metode ceramah, tidak berubah dengan menggunakan metode-metode lainnya seperti diskusi, seminar, games, studi kasus, simulasi, bedah buku, dan lain-lain.

lembaran foto kopi, padahal sebenarnya bisa menggunakan sarana belajar lain, seperti papan tulis, OHP (Over head Projector), LCD, lembar peraga, alat demo/simulasi, dan lain-lain.

d. Kejenuhan materi/madah, yaitu kejenuhan yang diakibatkan oleh isi materi yang monoton. Walau materi berbeda-beda, tapi penjabaran, ilustrasi, dalil, atau contoh diberikan secara monoton dan berulang-ulang.

e. Kejenuhan agenda acara, yaitu kejenuhan yang diakibatkan oleh monotonnya susunan dan jenis agenda acara dalam setiap pertemuan halaqoh/usroh.

f. Kejenuhan waktu pertemuan, yaitu kejenuhan yang diakibatkan tidak pernah berubahnya waktu pertemuan. Misalnya, waktu pertemuan selalu dilakukan setiap malam jum‘at.

g. Kejenuhan tempat pertemuan, yaitu kejenuhan yang diakibatkan tidak pernah berubahnya tempat pertemuan. Misalnya, tempat pertemuan selalu dilakukan di rumah murobbi/naqib.

h. Kejenuhan komposisi peserta, yaitu kejenuhan yang diakibatkan oleh tidak pernah berubahnya komposisi peserta. Peserta yang mengikuti suatu halaqoh/usroh tidak pernah berubah selama bertahun-tahun. Tidak ada yang dimutasikan dan tidak ada peserta pindahan dari halaqoh/usroh lainnya.

Tidak semua kejenuhan tersebut ada di dalam halaqoh/usroh. Sebaiknya setiap halaqoh/usroh perlu berupaya agar berbagai macam kejenuhan tersebut tidak terjadi di dalam halaqoh/usrohnya. Sebab semakin banyak macam kejenuhan yang ada di dalam halaqoh/usroh, maka semakin tinggi tingkat kejenuhan yang terjadi dan semakin besar upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi kejenuhan tersebut.

Dampak Kejenuhan Halaqoh/Usroh

Murobbi/naqib dan peserta perlu berupaya mengatasi berbagai kejenuhan yang terjadi dalam halaqoh/usroh. Sebab jika tidak segera diatasi, tingkat kejenuhan yang tadinya kecil akan berubah menjadi besar dan merambat pada berbagai kejenuhan lainnya. Persis seperti penyakit pada tubuh yang apabila tidak segera diobati akan menjalar pada bagian tubuh lainnya. Kejenuhan yang terjadi dalam halaqoh/usroh akan berdampak negatif bagi:

- Peserta halaqoh/usroh berupa :

1. Kehadiran yang tidak rutin

Peserta yang jenuh akan sering tidak hadir dalam halaqoh/usroh. Ia sepertinya mempunyai ‗jadwal tersendiri‘ untuk hadir di halaqoh/usroh. Misalnya, dua pekan hadir, pekan ketiga tidak hadir; atau pekan ini hadir, pekan depan tidak hadir. Biasanya ia tidak pernah minta izin lebih dahulu mengapa tidak hadir dalam halaqoh/usroh. Ia baru menyampaikan alasan kalau ditanya. Alasan yang diajukannya juga singkat dan meragukan alasannya. Namun lama kelamaan orang yang jenuh

semakin pandai membuat alasan, sehingga semakin lama alasannya semakin nampak logis dan syar‘i. Ia semakin terbiasa untuk tidak hadir secara rutin dalam halaqoh/usroh tanpa merasa bersalah.

2. Kedisiplinan yang menurun

Peserta yang jenuh juga akan menurun tingkat kedisiplinannya. Indikasi yang jelas adalah seringnya ia terlambat menghadiri halaqoh/usroh. Walau tidak semua keterlambatan disebabkan oleh rasa jenuh, tapi jika keterlambatan itu menjadi suatu kebiasaan cenderung disebabkan karena kejenuhan yang terjadi pada diri peserta tersebut. Kedisiplinan yang menurun juga tampak pada pelaksanaan tugas. Sering absen atau mengabaikan tugas-tugas yang membutuhkan kehadirannya di luar waktu halaqoh/usroh. Sering mengantuk dan lupa dengan apa yang semestinya dibawa

dalam pertemuan halaqoh/usroh juga merupakan indikasi dari kejenuhan yang melanda diri peserta.

3. Keterlibatan yang minim

Peserta yang jenuh juga akan minim keterlibatannya dalam halaqoh/usroh. Ketika hadir tidak begitu banyak terlibat dalam diskusi atau pengambilan keputusan. Lebih banyak menjadi pendengar pasif saja. Ketika diberikan tugas juga banyak menolak atau meminta peserta lain yang mengerjakannya. Kejenuhan pada halaqoh/usroh juga bisa berdampak pada keterlibatan yang minim dalam acara-acara da‘wah di luar halaqoh/usroh, baik yang diselenggarakan oleh halaqoh/usroh itu sendiri maupun oleh jama’ah.

4. Ketidakpuasan yang meningkat

Kejenuhan juga berdampak pada kegairahan yang menurun untuk hadir dan terlibat dalam kegiatan halaqoh/usroh. Semangat dan motivasi untuk mengikuti kegiatan halaqoh/usroh menjadi berkurang, sehingga berdampak pada perasaan tidak nyaman dan tidak puas dengan pertemuan-pertemuan halaqoh/usroh. Ketidakpuasan pada acara halaqoh/usroh dapat berdampak pada keinginan untuk mencari ‗pelarian‘ berupa acara lain yang lebih memuaskan dirinya. Disinilah mungkin seorang peserta akan lebih suka hadir di acara-acara lain dibandingkan acara halaqoh/usroh ketika waktunya berbenturan. Halaqoh/usroh tidak lagi menjadi prioritas utama dalam agenda kegiatannya.

5. Kemaksiatan yang muncul

Peserta yang jenuh juga rentan dengan kemaksiatan. Orang yang jenuh akan lebih rentan mengalami penurunan iman. Dan turunnya iman akan membuat seseorang lebih rentan melakukan kemaksiatan. Misalnya, karena jenuh mungkin saja peserta mulai mencari ‗pelarian‘ dengan melakukan kegiatan yang batil, seperti menonton konser musik rock, membaca buku-buku porno, berjalan-jalan tanpa tujuan, berpacaran, dan merokok.

6. Konflik/permasalahan yang bertambah

Kejenuhan juga bisa berdampak pada keringnya rasa ukhuwah di antara peserta. Hal ini berdampak lebih jauh pada rentannya peserta terhadap masalah dan konflik. Mulai

ada keinginan untuk memperbesar masalah yang kecil. Mulai muncul ketersinggungan karena perkataan atau perbuatan dari peserta lain yang tadinya tidak dipermasalahkan. Gara-gara jemu dengan halaqoh/usroh bisa saja seorang peserta marah ketika peserta lainnya menanyakan alasan ketidakhadirannya pada acara halaqoh/usroh.

7. Keterlambatan pencapaian tujuan

Akibat yang paling fatal dari kejemuan yang melanda peserta adalah lambatnya tujuan pembinaan pada diri peserta tersebut. Perkembangan peserta menjadi lambat, bahkan mungkin menurun. Tujuan pembinaan yang semestinya sudah dicapai tak pernah tercapai. Mungkin ia juga menyadari perkembangan dirinya yang lambat, sehingga muncul perasaan rendah diri karena merasa tertinggal dengan teman-teman seangkatannya. Mungkin juga ia merasa stres dan frustasi karena merasa tidak ada perubahan yang signifikan pada dirinya. Perasaan ini bisa berdampak pada keinginan untuk mengundurkan diri dari halaqoh/usroh dan dakwah.

Jika kejenuhan tersebut terjadi pada diri seorang murobbi/naqib, maka selain berbagai dampak di atas, murobbi/naqib juga dapat mengalami berbagai dampak negatif seperti berikut :

1. Enggan melakukan persiapan

Karena jenuh, murobbi/naqib menjadi malas melakukan persiapan yang diperlukan sebelum menghadiri halaqoh/usroh. Ia enggan melakukan persiapan materi yang akan disampaikan. Enggan untuk mempersiapkan berbagai hal yang diperlukan untuk membuat halaqoh/usroh berjalan lancar dan menggairahkan. Ia juga enggan melakukan persiapan mental (ruhiyah) dan fisik. Hal ini berdampak pada ‗penampilannya‘ yang tidak prima dalam halaqoh/usroh. Peserta akhirnya tidak mendapatkan sesuatu yang berharga dari kehadiran murobbi/naqib dalam halaqoh/usroh. Pepatah mengatakan: ―Barangsiapa yang tidak memiliki kelebihan, ia tidak bisa memberikan apa-apa‖.

2. Penyampaian yang kurang ‗berisi‘

Kejemuan yang melanda murobbi/naqib dapat berdampak pada kurangnya pengaruh (atsar) yang disampaikan murobbi/naqib kepada peserta. Hal ini karena kejemuan berdampak pada keringnya hati. Hati yang kering menyebabkan pembicaraan menjadi

kurang ‗berisi‘, sehingga apa yang disampaikan murobbi/naqib kurang memiliki pengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku peserta.

3. Lupa pada tujuan

Kejemuan yang melanda murobbi/naqib juga dapat berdampak pada pencapaian tujuan halaqoh/usroh. Murobbi/naqib tidak lagi begitu peduli mau kemana halaqoh/usroh yang dipimpinnya berjalan. Yang penting baginya sekedar menjalankan halaqoh/usroh sebagai kewajiban. Bukan lagi peduli apakah tujuan halaqoh/usroh tercapai atau tidak. Apalagi peduli apakah tujuan halaqoh/usroh bisa dicapai dengan lebih cepat atau tidak. Semua itu sudah terlupakan, karena

murobbi/naqib sudah jemu sehingga tak lagi memiliki semangat untuk mengelola halaqoh/usroh.

Begitu banyaknya dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari kejenuhan dalam halaqoh/usroh semestinya menyadarkan setiap murobbi/naqib dan peserta akan pentingnya mendinamiskan perjalanan halaqoh/usroh. Jika murobbi/naqib dan peserta menyepelekan hal ini maka kualitas pembinaan akan terus menurun, sehingga pembinaan melalui halaqoh/usroh tidak lagi memiliki keistimewaan yang mampu melahirkan kader-kader Islam yang tangguh. Hal ini tentu tak bisa terus dibiarkan, jika kita masih memiliki komitmen untuk membangun kejayaan Islam.

Ciri-Ciri Halaqah/Usroh yang Dinamis

Setelah kita mengetahui begitu banyaknya dampak negatif yang muncul dari halaqoh/usroh yang tidak dinamis (menjemukan), lalu bagaimana caranya menilai sebuah halaqoh/usroh dinamis atau tidak? Apa ciri-ciri sebuah halaqoh/usroh yang dinamis? Tidak mudah memang mendeteksi sebuah halaqoh/usroh dinamis atau tidak. Dibutuhkan pengamatan yang mendalam dan waktu yang lama untuk mengidentifikasikan kedinamisan sebuah halaqoh/usroh. Sebenarnya yang paling tepat menilai dinamisasi sebuah halaqoh/usroh adalah mereka yang berada di dalamnya. Orang luar mungkin hanya bisa mengira-ngira kualitas kedinamisan sebuah halaqoh/usroh.

Namun di bawah ini, ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur kedinamisan sebuah halaqoh/usroh. Kriteria tersebut adalah :

1. Suasana yang inovatif

Halaqoh/usroh yang dinamis ditandai oleh perubahan-perubahan yang sering terjadi

di dalam perjalanan halaqoh/usroh itu sendiri. Perubahan ini bukan berarti

halaqoh/usroh terus menerus ‗bongkar pasang‘ peserta, tetapi karena ada kreativitas dari murobbi/naqib dan peserta untuk melakukan berbagai cara baru agar pertemuan halaqoh/usroh berlangsung menggairahkan dan menarik. Mereka melakukan inovasi dalam berbagai hal. Misalnya, dalam sistem belajar, metode penyampaian, alat/media belajar, tempat pertemuan, waktu pertemuan, pembahasan madah/materi, agenda

acara, dan lain-lain. Pokoknya murobbi/naqib dan peserta tidak terjebak dengan

pakem tertentu dalam menjalankan halaqoh/usroh. Mereka gemar melakukan inovasi agar pertemuan halaqoh/usroh tidak berlangsung dalam suasana yang membosankan

dan

monoton.

2.

Komentar-komentar ‗kerinduan‘

Munculnya komentar-komentar ‗kerinduan‘, baik secara implisit maupun eksplisit bisa juga menjadi indikator kedinamisan sebuah halaqoh/usroh. Komentar yang bersifat implisit contohnya, menanyakan kapan lagi bertemu atau mengapa halaqoh/usroh tidak dilakukan lebih sering lagi. Komentar eksplisit bisa berupa perkataan, ―saya sudah kangen dengan halaqoh‖ atau komentar-komentar yang

semacam itu. Komentar tersebut tidak mesti disampaikan kepada murobbi/naqib, tapi mungkin saja disampaikan kepada sesama peserta.

3. Ingin berlama-lama

Indikator berikutnya dari halaqoh/usroh yang dinamis biasanya muncul dari keinginan untuk berlama-lama dalam halaqoh/usroh. Walau waktu pertemuan dibatasi hanya 2 jam, misalnya, tapi peserta tidak begitu kaku dengan pembatasan jam

tersebut. Murobbi/naqib dan peserta sering hadir lebih awal dan pulang lebih lambat dari jam yang telah ditentukan. Mereka masih ingin berlama-lama bercengkrama dan membahas berbagai program atau persoalan da‘wah yang ada. Peserta tidak sering melakukan interupsi untuk mengingatkan waktu halaqoh/usroh yang sudah habis. Mereka terlalu asyik mengikuti acara halaqoh/usroh, sehingga tidak terlalu kaku dalam waktu.

4. Kehadiran yang rutin

Indikator yang paling nyata dari kedinamisan halaqoh/usroh dapat dilihat dari kehadiran peserta yang rutin. Tidak ada peserta yang ‗hobi‘ untuk datang terlambat atau sering tidak hadir. Kalau pun ada peserta yang tidak hadir biasanya jumlahnya sedikit (hanya 1-2 orang). Itu pun bukan pada orang yang sama setiap pekannya. Mereka tidak hadir atau terlambat semata-mata karena ada halangan syar‘i, bukan karena alasan yang dibuat-dibuat agar kelihatan logis dan syar‘i. Peserta tidak berupaya untuk mencari-cari alasan agar tidak hadir dalam halaqoh/usroh.

Semakin banyak ciri-ciri di atas ada dalam sebuah halaqoh/usroh maka berarti semakin dinamis halaqoh/usroh tersebut. Sebaliknya, jika ciri-ciri tersebut semakin tidak ada, bahkan yang ada malah kondisi sebaliknya, yaitu :

1. Adanya kondisi yang monoton;

2. tidak ada komentar-komentar ‗kerinduan‘;

3. tidak ada keinginan untuk berlama-lama;

4. dan kehadiran yang tidak rutin

berarti halaqoh/usroh berada dalam kondisi jenuh, sehingga perlu ada upaya segera untuk mengatasinya. Jika tidak, maka ‗nasib‘ halaqoh/usroh tersebut akan semakin parah. Cita-cita untuk menjadi halaqoh/usroh yang muntijah (sukses) hanya akan menjadi utopi.

HALAQOH/USROH PRODUKTIF

Tujuan usroh adalah menyiapkan orang-orang pilihan untuk memikul tanggung jawab yang amat besar(Dr. Ali Abdul Halim Mahmud)

Halaqoh yang muntijah tidak akan terwujud tanpa tercapainya produktivitas. Produktivitas merupakan indikator yang penting untuk mengukur keberhasilan halaqoh/usroh. Tanpa produktivitas, halaqoh/usroh akan kehilangan esensinya sebagai wadah pengkaderan yang mumpuni. Halaqoh/usroh yang tidak produktif pada hakekatnya telah berubah fungsi menjadi tempat berkumpul biasa, seperti paguyuban belaka. Ia tak lagi memiliki keistimewaan sebagai marokiz taghir (wadah perubahan) bagi umat dan bangsa.

Produktivitas berbeda dengan dinamika. Jika dinamisasi terjadi dalam tataran proses, produktivitas terjadi dalam tataran tujuan (output). Ketika kita berbicara tentang produktivitas, kita berbicara tentang sejauh mana tujuan yang telah direncanakan dapat tercapai. Semakin banyak tujuan yang kita dapatkan, maka semakin produktivitas kita. Sebaliknya, semakin sedikit atau tidak terealisirnya tujuan yang diharapkan, maka semakin tidak produktif kita.

Dua hal tersebut --produktivitas dan dinamisasisama-sama penting dalam mengukur keberhasilan halaqoh/usroh. Halaqoh/usroh yang dinamis tak ada artinya tanpa produktivitas. Sebaliknya, halaqoh/usroh yang produktif tak ada artinya tanpa dinamisasi. Produktivitas dan dinamisasi sama pentingnya karena halaqoh/usroh adalah kumpulan manusia yang membutuhkan kedua hal tersebut (produktivitas dan dinamisasi).

Produktivitas memenuhi kebutuhan manusia untuk mencapai tujuan. Keinginan untuk lebih baik dari sebelumnya. Barangkali tidak ada manusia di dunia ini yang tak ingin maju. Semua manusia menginginkan kemajuan. Sedang dinamisasi memenuhi kebutuhan manusia untuk menikmati apa yang tengah dialaminya. Tidak ada manusia yang ingin apa yang dialaminya berlangsung secara membosankan atau mengecewakan. Manusia ingin merasa nyaman dan bergairah ketika melakukan sesuatu. Dinamisasi memenuhi kebutuhan rasa nyaman dan bergairah ketika kita melakukan sesuatu. Dinamisasi memenuhi kebutuhan kita akan ukhuwah (rasa persaudaraan) jika kita melakukan sesuatu bersama orang lain. Dinamisasi menjawab kebutuhan kita akan soliditas dan harmonisasi ketika kita bekerjasama dengan orang lain.

Halaqoh/usroh membutuhan produktivitas dan dinamisasi tersebut. Sebab halaqoh/usroh adalah kumpulan manusia yang ingin maju (produktif) dan ingin merasakan nikmatnya ukhuwah (dinamisasi). Allah berfirman : ―Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam‖ (QS. 3 : 102). Ayat ini berbicara tentang

produktivitas. Setiap orang perlu bergerak maju; dari iman, takwa, sebenarnya-benarnya taqwa sampai kepada Islamiyatul hayah (mengislamisasi kehidupan). Namun Allah SWT menyambung ayat tersebut dengan ayat lain tentang pentingnya ukhuwah (dinamisasi) dalam mencapai tujuan (produktivitas). ―Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamtkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk‖ (QS. 3 : 103).

Jadi, dari dua ayat tersebut dapat diambil pelajaran bahwa pencapaian produktivitas harus diiringi dengan pencapaian dinamisasi. Keduanya sama-sama penting bagi setiap induvidu dan kelompok. Oleh karena itu jika kita ingin mengukur kesuksesan sebuah halaqoh/usroh, kita tak bisa lepas dari dua indikator : sampai sejauh mana produktivitas halaqoh/usroh tercapai dan sampai sejauh mana dinamisasi halaqoh/usroh tercapai. Tanpa mengukur kedua hal tersebut, kita tak dapat mengukur kesuksesan (muntijah) sebuah halaqoh/usroh.

Pengertian Produktivitas Halaqoh/Usroh

Produktivitas adalah banyaknya hasil (tujuan) yang dicapai oleh seseorang/sekelompok orang. Produktivitas dapat dilihat dari dua sisi : kuantitas dan kualitas. Halaqoh/usroh yang produktif berarti halaqoh/usroh yang berhasil mencapai kuantitas dan kualitas dari tujuan yang ditetapkan. Semakin banyak dan berkualitas sasaran-sasaran yang dicapai oleh sebuah halaqoh/usroh berarti semakin produktif halaqoh/usroh tersebut. Sebaliknya, semakin sedikit dan tidak berkualitas sasaran-sasaran yang dicapai oleh sebuah halaqoh/usroh berarti semakin tidak produktif halaqoh/usroh tersebut.

Halaqoh/usroh telah mempunyai tujuan yang pasti. Para mufakir (pemikir) da‘wah telah merumuskan apa saja tujuan yang mesti dicapai oleh halaqoh/usroh. Di bawah ini ada intisari dari tujuan halaqoh/usroh yang pernah dikemukakan dalam berbagai buku dan pemikiran para mufakir da‘wah. Intisari ini dengan maksud agar lebih mudah dipahami dan diingat oleh segenap aktivis da‘wah, terutama oleh murobbi/naqib dan peserta halaqoh/usroh. Tujuan (sasaran) halaqoh/usroh adalah :

1. Tercapainya kenaikan jenjang

Produktivitas halaqoh/usroh diukur dari seberapa banyak peserta berhasil naik ke jenjang (marhalah) berikutnya. Kenaikan jenjang diukur dari sejauh mana peserta mencapai muwashofat yang telah ditetapkan sesuai dengan jenjangnya. Halaqoh/usroh memiliki berbagai jenjang yang di setiap jenjang mempunyai muwashofat yang berbeda-beda. (lihat pada lampiran). Sebagai wadah pengkaderan, halaqoh/usroh memiliki ukuran tentang karakter seperti apa yang perlu diwujudkan bagi orang-orang yang dibinanya. Karakter yang perlu diwujudkan itulah yang disebut dengan muwashofat (sifat-sifat). Tugas murobbi/naqib adalah membimbing peserta untuk mencapai muwashofat yang

telah ditetapkan, sehingga peserta berhasil naik ke jenjang berikutnya. Semakin banyak peserta yang berhasil naik ke jenjang berikutnya berarti semakin produktif halaqoh/usroh tersebut. Sebaliknya, semakin sedikit peserta yang berhasil naik ke jenjang berikutnya berarti semakin tidak produktif halaqoh/usroh tersebut.

Perlu dipahami disini bahwa naik ke jenjang berikutnya semestinya diukur secara obyektif dengan menggunakan muwashofat yang telah ditetapkan. Kenaikan jenjang semestinya tidak boleh dilakukan dengan ukuran yang subyektif (mengira-ngira) atau karena unsur like and dislike (suka atau tidak suka).

Kenaikan jenjang menjadi tujuan halaqoh/usroh karena jenjang adalah cara untuk menempatkan orang sesuai dengan tempatnya (the right man on the right place) di dalam tatanan jama’ah. Cara yang relatif lebih obyektif untuk mengukur kapasitas seseorang dalam memikul beban dakwah. Sebagai bagian dari pengkaderan jama’ah terhadap anggotanya, halaqoh/usroh perlu membantu jama’ah dalam menata kapasitas anggotanya, sehingga jama’ah tidak berlaku zalim dengan menempatkan orang yang tidak cocok pada tempatnya. Kenaikan jenjang adalah cara bagi jama’ah untuk menata rapi kapasitas anggotanya. Sebab tanpa penataan yang rapi tidak mungkin jama’ah mampu mengemban tugas dakwah yang besar dan berat seperti yang dituntut saat ini.

2. Tercapainya pembentukan murobbi

Sebagai wadah pengkaderan, produktivitas halaqoh/usroh diukur dari sejauh mana peserta berhasil menjadi murobbi. Halaqoh/usroh tidak bisa memisahkan diri dari sasaran pembentukan murobbi. Alasannya, ada dua. Pertama, karena tidak ada lembaga lain yang

dapat melahirkan murobbi kecuali halaqoh/usroh. Kedua, karena halaqoh/usroh tidak akan menyebar ke banyak kalangan jika tidak lahir murobbi-murobbi baru yang akan menyebarkan pembinaan melalui halaqoh/usroh. Itulah sebabnya Dr. Abdullah Qadiri Al Ahdal, seorang mufakir (pemikir) dakwah menyimpulkan : ―Sesungguhnya seorang ikhwan yang benar tidak bisa tidak kecuali dia harus menjadi murobbi‖. Musthafa Masyhur juga pernah berkata : ―Murobbi harus membiasakan binaannya untuk memberikan kontribusi,menyeru orang lain kepada Allah dan menyampaikan berbagai pelajaran. Bahkan ia harus mengkader mereka untuk menjadi murobbi yang melakukan tugas seperti dia bagi binaan-binaan yang baru‖.

Hal ini mengharuskan murobbi/naqib untuk mampu mencetak peserta agar mau dan mampu menjadi murobbi. Tidak ada alasan bagi peserta untuk tidak mau menjadi murobbi. Kaidah fiqih mengatakan : ―Jika untuk mewujudkan sesuatu yang wajib dibutuhkan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib‖. Membentuk umat (takwinul ummah) yang Islami adalah wajib, karena itu cara mewujudkannya juga menjadi wajib. Cara yang efektif untuk mewujudkan takwinul ummah adalah mentarbiyah umat melalui halaqoh/usroh. Hal ini menyebabkan pembentukan murobbi menjadi wajib. Karena tidak mungkin halaqoh/usroh itu ada jika tidak ada murobbi.

Allah SWT juga memerintahkan kita menjadi pribadi Robbani yang cirinya adalah ‗selalu mengajarkan Al Kitab dan tetap mempelajarinya‘ (QS. 3 : 79). Tidak boleh seorang muslim hanya mau menjadi pelajar (mad’u), tanpa mau menjadi pengajar (da’i). Namun

peserta halaqoh/usroh tidak cukup sekedar menjadi da’i biasa, tapi da’i yang mampu mengelola halaqoh/usroh (menjadi murobbi). Sebab hanya murobbi yang berpeluang besar untuk merubah orang berkepribadian Islami. Jika hanya mengandalkan forum- forum da‘wah ‘ammah, seperti tabligh, ceramah, baca buku, seminar, dan lain-lain, da‘wah hanya memiliki peluang kecil untuk merubah orang agar berkepribadian Islami. Hal ini sudah dibuktikan oleh perjalanan panjang da‘wah di segenap tempat dan zaman.

Jadi, produktivitas juga diukur dari seberapa banyak peserta di dalam halaqoh/usroh tersebut mampu menjadi murobbi. Idealnya, semakin tinggi jenjang keanggotaan peserta semakin banyak dan mumpuni ia dalam membina. Bukan malah sebaliknya, semakin sedikit --bahkan sama sekali tidak membina-- dan semakin menurun kualitasnya dalam membina. Oleh karena itu, semakin banyak peserta yang berhasil menjadi murobbi, maka semakin produktif halaqoh/usroh tersebut. Sebaliknya, semakin sedikit peserta yang berhasil menjadi murobbi, maka semakin tidak produktif halaqoh/usroh tersebut.

3. Tercapainya pengembangan potensi

Halaqoh/usroh yang produktif juga diukur dari sejauh mana peserta berhasil mengembangkan potensinya. Potensi adalah keunggulan terpendam yang dimiliki seseorang. Potensi ada dua macam, yaitu potensi umum dan khusus. Potensi umum adalah potensi yang dimiliki semua orang. Misalnya, potensi kreativitas, komunikasi, dan kepemimpinan. Hampir semua orang memiliki potensi tersebut. Sedang potensi khusus adalah bakat. Yakni, keunggulan unik yang tidak dimiliki semua orang, seperti kemampuan bisnis, komputer, menulis, matematika, kedokteran, kimia, fisika, dan lain- lain.

Tugas murobbi/naqib adalah membantu peserta untuk menemukan dan mengembangkan potensinya, baik potensi umum maupun khusus. Tugas ini tidak mudah dan membutuhkan ketekunan tersendiri. Realita di lapangan menunjukkan tidak sedikit murobbi/naqib yang mengabaikan tugas ini. Mereka menganggap sasaran yang ketiga ini bukanlah termasuk sasaran halaqoh/usroh. Padahal banyak sekali isyarat dari Imam Assyahid Hasan Al Banna maupun para mufakir da‘wah lainnya tentang pentingnya pengembangan potensi ini. Ada baiknya kita merenungkan kata-kata Dr. Ali Abdul Halim Mahmud di bawah ini : ―Pada dasarnya Allah telah meletakkan pada diri setiap hamba potensi, bakat, dan kemampuan yang membedakannya dari orang lain. Dalam kaitan ini, usroh sesungguhnya merupakan wahana yang tepat untuk menyingkap, mengembangkan, mengarahkan dan mendayagunakan potensi anggotanya untuk berkhidmat pada agama, jama‘ah, dan diri sendiri‖. Apalagi setiap anggota usroh adalah seorang da‘i yang sangat membutuhkan pelatihan berbagai keterampilan yang dapat mendukung kegiatan da‘wahnya‖.

Pengabaian terhadap sasaran ini akan berdampak pada lambatnya perkembangan potensi peserta. Hal ini berdampak lebih jauh pada penataan (tanzhim) jama‘ah. Peserta sebagai SDM bagi jama’ah menjadi tidak maksimal dalam memberikan kontribusi potensinya kepada jama‘ah. Jama‘ah kehilangan potensinya untuk bergerak lebih cepat dan profesional dalam menghadapi perubahan lingkungan yang semakin cepat saat ini. Hal ini terjadi karena halaqoh/usroh sebagai ‗batu bata‘ jama‘ah mengabaikan perannya yang

strategis sebagai wadah pengembangan potensi peserta. Peserta lebih banyak dibiarkan sendiri untuk mengembangkan potensinya, tanpa bimbingan dan penataan dari halaqoh/usrohnya.

Oleh karena itu, halaqoh/usroh yang produktif adalah halaqoh/usroh yang membantu pengembangan potensi pesertanya. Semakin banyak peserta yang berkembang sesuai dengan potensinya, maka semakin produktif halaqoh/usroh tersebut. Sebaliknya, semakin sedikit peserta yang berkembang sesuai dengan potensinya bahkan peserta tidak tahu potensinya apa-- maka semakin tidak produktif halaqoh/usroh tersebut. Idealnya, semakin tinggi jenjang keanggotaan peserta semakin berkembang potensinya. Bukan sebaliknya, malah semakin tidak berkembang potensinya, sehingga potensinya tidak dapat dimanfaatkan oleh jama’ah.

Tiga sasaran inilah yang perlu dituju untuk mencapai produktivitas halaqoh/usroh. Ketiga-tiganya sama pentingnya dan sama prioritasnya untuk dijadikan tujuan. Tidak boleh murobbi/naqib dan peserta memprioritaskan yang satu dan mengabaikan yang lain. Pengabaian terhadap salah satu dari ketiga sasaran itu akan mengurangi nilai keberadaan halaqoh/usroh itu sendiri. Halaqoh/usroh akan semakin jauh dari idealitanya untuk menjadi halaqoh/usroh yang muntijah.

==ada bagan==

Manfaat Halaqah/Usroh yang Produktif

Produktivitasnya sebuah halaqoh/usroh tentu akan memberikan manfaat yang banyak, baik bagi murobbi/naqib, peserta maupun jama’ah dan umat. Bagi murobbi/naqib, halaqoh/usroh yang produktif akan membuat munculnya perasaan ‗berhasil‘. Perasaan ini amat dibutuhkan untuk menumbuhkan kepercayaan diri dalam membina. Murobbi/naqib yang merasa berhasil membawa halaqoh/usrohnya menuju sasaran akan lebih percaya diri untuk membawa peserta menuju sasaran yang lebih besar lagi. Hal ini tentu akan menguntungkan bagi peserta karena ia dipimpin oleh murobbi/naqib yang bukan saja paham tentang pentingnya produktivitas halaqoh/usroh, tapi juga percaya diri untuk membimbing peserta melangkah maju menuju sasaran yang lebih besar lagi. Namun jika halaqoh/usroh dipimpin oleh murobbi/naqib yang mengabaikan produktivitas, maka suasana halaqoh/usroh menjadi tanpa arah. Mungkin banyak kegiatannya, tapi kegiatan tersebut tidak terfokus pada pencapaian sasaran, sehingga peserta dan murobbi/naqib tidak merasakan adanya kemajuan. Tidak ada rasa ‗berhasil‘ dalam mengikuti halaqoh/usroh. Perasaan ini akan berpengaruh kepada rasa percaya diri untuk mencapai sasaran berikutnya. Murobbi/naqib dan peserta akhirnya pasrah dan pesimis dengan keberhasilan perjalanan halaqoh/usroh. Hal ini tentu berdampak pada kualitas halaqoh/usroh sendiri yang kurang berhasil dalam membentuk kader-kader Islam yang tangguh.

Bagi jama’ah dan umat, halaqoh/usroh yang produktif akan memberi dampak pada akselerasi peningkatan kualitas jama’ah dan umat. Jama’ah akan memiliki kader-kader

yang berkualitas dan paham tentang misinya sebagai anggota jama’ah. Mereka tidak lagi bersikap ‗menunggu‘ untuk melaksanakan program yang dibutuhkan jama’ah dan umat. Mereka proaktif dan progresif terhadap masalah umat karena sudah terlatih untuk bersikap produktif di dalam halaqoh/usroh. Watak mereka untuk maju dan produktif akan sangat bermanfaat bagi pembangunan umat pada umumnya. Umat akan memiliki para pelopor (anashirut taghir) yang tangguh untuk membawa umat keluar dari keterpurukannya. Masa depan Islam akan cerah karena umat telah memiliki kader-kader yang produktif dan ‗haus‘ akan kemajuan menuju ridho Allah SWT.

Sebab-Sebab Tidak Produktivitasnya Halaqoh/Usroh

Permasalahannya adalah mengapa ada halaqoh/usroh yang tidak produktif? Apa sebab dari tidak produktivitasnya sebuah halaqoh/usroh? Sebab-sebabnya ada dua; sebab internal dan eksternal. Beberapa sebab internal adalah :

1. Tidak memahami tujuan

Murobbi/naqib dan peserta yang tidak memahami tujuan halaqoh/usroh tidak mungkin dituntut untuk produktif. Bagaimana bisa produktif kalau tujuan halaqoh/usroh belum dipahami secara baik? Halaqoh/usroh menjadi asal jalan tanpa arah yang jelas mau kemana. Jadi, tidak mengetahui tujuan halaqoh/usroh secara jelas akan membuat sebuah halaqoh/usroh menjadi tidak produktif.

2. Terlena dengan proses

Sebab yang kedua dari tidak produktifitasnya halaqoh/usroh adalah terlena dengan proses. Mungkin murobbi/naqib dan peserta terlalu berorientasi pada hubungan (human oriented), sehingga kelompok sangat memperhatikan harmonisasi dan kekompakan. Namun karena terlalu menikmati proses yang nyaman dalam hubungan antar personil halaqoh/usroh, sehingga mereka terlena dan lupa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Mungkin mereka asyik dengan berbagai kegiatan dan program, tetapi lupa mengkritisi apakah kegiatan atau program tersebut sesuai atau tidak dengan pencapaian tujuan. Akhirnya, halaqoh/usroh menjadi tidak produktif karena murobbi/naqib dan peserta terlena dengan nikmatnya pergaulan dan soliditas di antara mereka.

3. Kurangnya semangat bersaing

Kurangnya semangat bersaing bisa menjadi sebab tidak produktivitasnya halaqoh/usroh. Hilangnya etos bersaing membuat suatu kelompok merasa dalam kondisi ‗baik‘, sehingga tidak perlu meningkatkan produktivitasnya. Sebaliknya, tumbuhnya semangat bersaing membuat suatu kelompok bersemangat untuk meningkatkan produktivitas. Sebab mereka paham kalau kalah bersaing ‗nasib‘ mereka akan tergilas oleh pesaingnya.

Halaqoh/usroh perlu memiliki semangat bersaing, sehingga mereka terpacu untuk meningkatkan produktivitas. Pesaing mereka secara internal adalah halaqoh/usroh lainnya. Sesama halaqoh/usroh semestinya memiliki semangat bersaing untuk meningktakan kualitas. Sedang secara eksternal adalah kelompok-kelompok kajian yang dibuat oleh jama’ah atau organisasi lain. Bersaing adalah etos yang perlu dimiliki oleh

kader Islam sesuai dengan perintah Allah SWT, ―Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan‖ (QS. 2 : 148). Hilangnya semangat bersaing akan membuat sebuah halaqoh/usroh menjadi kurang produktif karena merasa tidak ada tantangan dan ancaman yang membahayakan eksistensi keberadaan halaqoh/usroh itu sendiri. Padahal di sekitar kita saat ini sudah banyak bermunculan kelompok-kelompok kajian seperti halaqoh/usroh yang memiliki semangat tinggi untuk merekrut massa. Jika halaqoh/usroh tidak produktif, maka orang tidak akan merasakan manfaatnya mengikuti halaqoh/usroh. Mereka mungkin akan beralih mengikuti kelompok-kelompok kajian lainnya yang dibuat oleh organisasi lain, baik yang beraliran Islam maupun non Islam.

4. Percaya dengan ‗takdir‘ yang salah

Ada sebagian murobbi/naqib yang percaya bahwa maju atau tidaknya seorang peserta tergantung dari kehendak Allah. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Memang segala sesuatu di dunia ini terjadi karena kehendak (takdir) Allah, tetapi manusia mempunyai ikhtiar agar takdir Allah tersebut menjadi baik untuk dirinya. Maju atau mundurnya kualitas peserta tergantung pada ikhtiar murobbi/naqib dan peserta itu sendiri untuk merubah dirinya. Seorang murobbi/naqib yang baik akan terus berusaha dengan tekun dan sabar untuk meningkatkan produktivitas peserta dan tidak buru-buru pasrah dengan berlindung pada pengertian takdir Allah yang salah. Murobbi/naqib yang cepat mengambil kesimpulan bahwa peserta yang dibinanya tidak maju karena kehendak Allah akan menyebabkan rendahnya produktivitas halaqoh/usroh. Hal ini karena ia sudah terlebih dahulu pesimis, sehingga tidak bersemangat lagi untuk meningkatkan kualitas peserta halaqoh/usroh.

Ada pun sebab-sebab eksternal dari tidak produktivitasnya sebuah halaqoh/usroh adalah :

1. Kurangnya motivasi

Murobbi/naqib dan peserta tidak saling memotivasi untuk meningkatkan produktivitas. Mereka mungkin sudah putus asa karena telah mencoba berulang kali untuk meningkatkan produktivitas tetapi selalu hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Akibatnya mereka merasa kecewa dan tidak bersemangat lagi untuk saling mengingatkan pentingnya produktivitas halaqoh/usroh.

2. Kurangnya penjelasan tentang tujuan

Sebab yang kedua bisa jadi karena peserta tidak memahami apa itu tujuan halaqoh/usroh.

Ketidakjelasan tersebut membuat peserta tidak termotivasi untuk produktif. Hal ini mungkin karena murobbi/naqib sendiri juga tidak tahu secara jelas apa itu tujuan halaqoh/usroh. Atau karena murobbi/naqib kurang memberikan penjelasan secara berulang-ulang dalam berbagai kesempatan, sehingga peserta melupakan tujuan halaqoh/usroh.

Tahap-Tahap Tidak Produktivitasnya Halaqoh/Usroh

Berkurangnya produktivitas halaqoh/usroh tidak terjadi dengan seketika. Ada berbagai tahapan yang dilalui sebuah halaqoh/usroh hingga akhirnya mereka menjadi tidak produktif. Tahapan tersebut adalah :

1. Tidak jelasnya tujuan

Tidak produktivitasnya suatu halaqoh/usroh biasanya berawal dari ketidakjelasan tujuan. Murobbi/naqib dan peserta kurang memahami secara jelas apa itu sasaran halaqoh/usroh.

Mungkin mereka tidak bisa merumuskan tujuan halaqoh/usroh dengan bahasa yang sederhana dan mudah diingat, sehingga bingung dan bias dalam memahami tujuan halaqoh/usroh.

2. Terjebak dengan tujuan ‗palsu‘

Tidak jelasnya tujuan membuat murobbi/naqib dan peserta terjebak dengan tujuan-tujuan ‗palsu‘, yaitu tujuan yang sebenarnya bukan tujuan halaqoh/usroh. Mereka terjebak dengan membuat tujuan-tujuan tertentu yang sebenarnya mungkin hanya bagian kecil atau tujuan antara dari tujuan halaqoh/usroh yang sebenarnya. Beberapa contoh tujuan ‗palsu‘ adalah meningkatkan ukhuwah (ukhuwah bukan tujuan tapi proses), meningkatkan ekonomi peserta (tujuan ini hanya bagian kecil dari muwashofat), mencetak para da’i (tujuan ini bukan tujuan sebenarnya, yang benar adalah mencetak murobbi yang da’i – da’i yang murobbi). Terjebaknya mereka pada tujuan ‗palsu‘ disebabkan mereka berupaya merumuskan sendiri tujuan halaqoh/usroh tanpa berupaya merujuk pada manhaj tarbiyah yang ada.

3. Disorientasi

Karena terjebak dengan tujuan ‗palsu‘, halaqoh/usroh menyia-nyiakan waktu dan tenaga mereka untuk ‗berputar-putar‘ pada tujuan ‗palsu‘. Hal ini suatu ketika akan mereka sadari. Mereka akan mempertanyakan kembali apa tujuan dari berkumpulnya mereka di halaqoh/usroh. Mungkin di antara mereka kemudian mengalami distorsi makna (tidak merasakan lagi manfaatnya berkumpul di halaqoh/usroh). Akhirnya, sebagian atau seluruh personil halaqoh/usroh secara terang-terangan atau diam-diam mulai mengalami disorientasi (bingung terhadap tujuan). Hal ini dapat berdampak lebih jauh pada semangat mereka untuk mengikuti halaqoh/usroh. Mereka menjadi tidak bergairah dan apatis mengikuti perjalanan halaqoh.usroh.

4. Stagnan

Akhirnya, tahap puncak dari tidak produktivitasnya halaqoh/usroh adalah munculnya kondisi stagnan (jumud). Halaqoh/usroh kehilangan semangat untuk meningkatkan kualitas. Mereka juga tertatih-tatih untuk tetap bertahan. Kejemuan menjadi penyakit umum yang melanda seluruh personil halaqoh/usroh. Disini ada dua kemungkinan yang terjadi: halaqoh/usroh bubar atau tetap bertahan tapi sekedar menjalankan kewajiban tanpa memiliki ruh lagi untuk bergerak maju.

(ada bagan)

Peran Murobbi/Naqib dalam Meningkatkan Produktivitas Halaqoh/Usroh

Murobbi/Naqib memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan produktivitas. Ia bertindak sebagai motivator, koordinator, dan evaluator dalam mencapai tujuan halaqoh/usroh. Ia ibarat dirigen dalam sebuah konser musik yang memimpin peserta untuk mencapai harmonisasi pencapaian tujuan. Di tangan murobbi/naqib, ketiga tujuan halaqoh/usroh dapat tercapai secara simultan atau tidak. Peserta biasanya sekedar mengikuti bimbingan dan arahan dari murobbi/naqibnya.

Oleh karena itu, tanggung jawab murobbi/naqib untuk meningkatkan produktivitas halaqoh/usroh jauh lebih besar daripada tanggung jawab peserta. Tugas peserta sebenarnya lebih banyak mengingatkan dan mendukung program peningkatan produktivitas di halaqoh/usrohnya. Memang ada beberapa kasus dimana murobbi/naqib berupaya keras untuk meningkatkan produktivitas halaqoh/usrohnya tapi tidak mendapatkan respon seimbang dari peserta. Hal ini tentu akan memperlambat pencapaian produktivitas halaqoh/usroh. Idealnya, murobbi/naqib dapat bekerjasama dengan peserta untuk meningkatkan produktivitas halaqoh/usroh.

Tes Halaqoh/Usroh Muntijah

Apakah Anda ingin mengetahui seperti apa tipe halaqoh/usroh yang Anda tangani atau yang Anda menjadi peserta di dalamnya? Di bawah ini ada tes sederhana untuk mengetahui tipe halaqah/usroh Anda.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan ―Ya‖ (Y) atau ―Tidak‖ (T) sesuai dengan apa yang Anda anggap paling sesuai dengan kondisi halaqoh/usroh Anda. Jawablah secara jujur dan spontan menurut pendapat pribadi Anda, bukan menurut pendapat orang lain.

1. Sebagian peserta halaqoh/usroh tidak memahami tujuan halaqoh/usroh

2. Sebagian besar peserta merasakan manisnya/indahnya ukhuwah dalam halaqoh/usroh

3. Tidak sering melakukan variasi acara dalam pertemuan halaqoh/usroh

4. Halaqoh/usroh berjalan monoton dan tanpa arah

5. Ada figuritas terhadap orang tertentu dalam halaqoh/usroh

6. Sebagian besar peserta telah mencapai muwashofat dan sepertinya sudah memenuhi syarat untuk naik jenjang

7. Ada konflik berkepanjangan di antara sebagian peserta halaqoh/usroh

8. Halaqoh/usroh tidak memiliki program kerja

9. Sebagian peserta halaqoh/usroh kurang bersemangat untuk mencapai tujuan halaqoh/usroh

10. Sebagian besar anggota merasa halaqoh/usroh membantu pengembangan potensinya

12.

Sebagian besar peserta halaqoh/usroh hadir ke usroh sekedar untuk menunaikan kewajiban

13. Sebagian besar peserta memiliki tugas struktural dalam dakwah

14. Rata-rata kehadiran peserta di bawah 80% dari jumlah peserta seharusnya

15. Sebagian besar peserta telah menjadi murobbi (memiliki binaan)

16.Murobbi/naqib kurang memberikan keteladanan, terutama dalam kehadiran 17.Murobbi/naqib jarang memberikan arahan dan tidak mampu bersikap tegas 18.Halaqoh/usroh sering berjalan tanpa agenda yang jelas 19. Ada beberapa peserta yang memiliki kebiasaan sering tidak hadir dalam halaqoh/usroh 20.Semakin besar peserta merasa halaqoh/usrohnya solid dan kompak

Kunci Jawaban :

Berilah nilai jawaban ‗ya‘ dengan nilai 1 dan jawaban ‗tidak‘ dengan nilai 0. Jumlahkan nilai setiap jawaban pada tempat yang telah disediakan. Jumlah nilai yang tertinggi menunjukkan tipe halaqoh/usroh Anda.

Jenuh:

 
 

9.

……

9.

…….

12.

……

16.

19……

 

……….

Paguyuban :

1.

….

 

5.

11. ….

18.

20.

………

Rendah:

4.

….

7.

8.

….

14.

17.

….

……

Sukses :

2.

6.

10. …

16. …

………

KESEIMBANGAN DINAMISASI DAN PRODUKTIVITAS HALAQOH/USROH

Jika kalian mampu menunaikan kewajiban-kewajiban ini, baik yang bersifat induvidul, sosial maupun finansial, maka pila-pilar sistem usroh ini pasti akan eksis. Akan tetapi apabila kalian menyia-nyiakannya, maka ia pun akan melemah dan akhirnya hancur. Pada kehancurannya ini ada kerugian besar bagi da’wah ini, padahal pada saat ini ia menjadi harapan Islam dan kaum muslimin(Imam As Syahid Hasan Al Banna)

Dinamisasi dalam melakukan proses dan produktif dalam mencapai tujuan merupakan indikator dari halaqoh/usroh yang muntijah (sukses). Tanpa dinamisasi dan produktivitas tidak mungkin sebuah halaqoh/usroh dapat memperoleh kesuksesan. Keduanya sama-sama penting dan sama-sama perlu dicapai secara seimbang jika sebuah halaqoh/usroh ingin sukses.

Dalam kenyataannya, tidak semua halaqoh/usroh mempunyai perhatian yang seimbang dalam mengembangkan dinamisasi dan produktivitas. Ada halaqoh/usroh yang lebih menitikberatkan programnya pada peningkatan dinamisasi. Akan tetapi ada juga halaqoh/usroh yang lebih mementingkan program yang terkait dengan produktivitas saja. Ketidakseimbangan dalam dinamisasi dan produktivitas cepat atau lambat akan membahayakan keberadaan halaqoh/usroh itu sendiri. Halaqoh/usroh bisa berubah menjadi sekedar wadah bernama ‗halaqoh/usroh‘, tapi sebenarnya telah kehilangan esensinya. Sebab esensi keberadaan halaqoh/usroh untuk mencetak kader Islam yang tangguh tak mungkin terwujud tanpa menyeimbangkan faktor dinamisasi dan produktivitas secara seimbang.

Bahaya Hanya Berorientasi pada Dinamisasi

Seperti yang terlihat pada bagan…(hal…

dinamisasi dan mengabaikan produktivitas akan berubah menjadi halaqoh/usroh ‗paguyuban‘. Halaqoh/usroh seperti itu terasa nikmat untuk diikuti karena suasananya yang akrab, ceria dan penuh dengan persaudaraan. Namun berasyik-asyik dengan suasana akrab dan bersaudara dapat membuat halaqoh/usroh lupa akan kewajibannya untuk mencapai tujuan.

halaqoh/usroh yang lebih berfokus pada

),

Ada beberapa bahaya yang dapat terjadi jika halaqoh/usroh hanya berorientasi pada dinamisasi dan mengabaikan produktivitas. Bahaya-bahaya tersebut antara lain :

1. Lambat mencapai tujuan

Terlalu berfokus pada pembentukan suasana yang akrab dan dinamis bisa membuat halaqoh/usroh lambat untuk mencapai tujuannya. Tujuan yang seharusnya bisa

dicapai pada periode tertentu bisa menjadi lebih lama karena murobbi/naqib dan peserta lebih mementingkan pembentukan suasana ‗ukhuwah‘. Halaqoh/usroh terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk membicarakan hal-hal yang bersifat human oriented (membina hubungan baik dengan orang lain). Terlalu banyak waktunya habis untuk ‗bermanis-manis‘ dan bersenda gurau dalam rangka mempererat pergaulan. Terlalu banyak mengadakan acara-acara yang sifatnya pengakraban. Semua itu dapat membuat halaqoh/usroh kurang memiliki waktu yang cukup untuk membahas berbagai program untuk mencapai tujuan. Akhirnya, karena waktu untuk membahas program kurang, halaqoh/usroh menjadi lambat atau bahkan tidak mencapai tujuannya.

2. Mengabaikan prioritas

Terlalu asyik dengan suasana yang menyenangkan bisa berdampak lebih jauh pada pengabaian prioritas. Halaqoh/usroh menjadi abai bahwa prioritas utama yang perlu dibicarakan adalah program dan persoalan yang terkait dengan pencapaian tujuan. Mereka lebih sibuk membahas program dan persoalan yang tak ada hubungannya dengan pencapaian tujuan. Mungkin saking banyaknya yang perlu dibahas, mereka jadi bingung menentukan skala prioritas agenda pembicaraan. Hal-hal yang mestinya dibahas menjadi terabaikan. Sebaliknya, persoalan yang semestinya tak perlu dibicarakan panjang lebar justru menyita waktu yang banyak, sehingga halaqoh/usroh kehilangan skala prioritas dalam membuat program dan kegiatan.

3. Keberhasilan semu

Bahaya berikutnya dari halaqoh/usroh yang terlalu mementingkan dinamisasi adalah munculnya keberhasilan yang semu. Sebagai contoh, ketika murobbi/naqib atau peserta ditanya oleh ikhwah lain tentang kondisi halaqoh/usrohnya mereka menjawab halaqoh/usrohnya dalam kondisi baik. Kalau ditanya lebih lanjut apa alasannya mengatakan kondisi halaqoh/usrohnya baik, mereka menjawab karena personil halaqoh/usroh akrab satu sama lain, betah dan rutin kehadirannya. Jawaban semacam itu tidak sepenuhnya benar. Jawaban tersebut menunjukkan murobbi/naqib atau peserta terjebak pada keberhasilan yang semu. Hal itu karena indikator keberhasilan sebuah halaqoh/usroh bukan hanya ditunjukkan oleh akrab dan rutinnya kehadiran para personilnya, tapi juga oleh produktivitas yang dihasilkannya. Sampai sejauh mana halaqoh/usroh berhasil mencapai tujuannya juga harus dijadikan perhatian oleh murobbi/naqib dan peserta dalam menilai kondisi halaqoh/usroh. Perasaan berhasil

yang semu akan muncul jika halaqoh/usroh terlalu asyik dengan kegiatan berorientasi dinamisasi dan pada saat yang sama lalai dengan kegiatan yang berorientasi pada produktivitas.

4. Fanatisme/figuritas

Halaqoh/usroh yang mementingkan dinamisasi dan mengabaikan produktivitas juga dapat menjadi fanatik kepada kelompoknya. Hal ini disebabkan mereka menjadi terlalu betah dengan kelompoknya. Mereka merasa senang dan suka dengan kelompoknya. Perasaan ini bisa berdampak pada pembelaan kelompok yang berlebihan. Akhirnya berlaku prinsip ―right or wrong is my team‖ (benar atau salah saya tidak peduli, yang penting dia adalah kelompok saya).

Orientasi kepada dinamisasi yang berlebihan juga berdampak pada figuritas, terutama kepada murobbi/naqib. Peserta menjadi tidak kritis lagi terhadap sikap dan perilaku murobbi/naqib. Apa yang disampaikan murobbi/naqib pasti dianggap benar. Padahal murobbi/naqib juga bisa salah dalam mengemukakan pendapatnya. Mereka juga terlalu mengidolakan murobbi/naqibnya. Mereka menjadi terlalu tergantung pada murobbi/naqib, sehingga tidak bisa mandiri dan kreatif tanpa ada campur tangan langsung dari murobbi/naqib.

Padahal yang diharapkan dari pembinaan di dalam halaqoh/usroh adalah lahirnya pribadi-pribadi yang tidak berpandangan sempit terhadap kelompoknya (ashobiyyah). Tidak menganggap hanya kelompoknya saja yang paling baik, sedang kelompok lainnya pasti lebih buruk. Halaqoh/usroh juga tidak menginginkan tampilnya pribadi- pribadi yang mengidolakan orang tertentu (termasuk mengidolakan murobbi/naqib), kecuali hanya mengidolakan Nabi Muhammad saw. Yang diinginkan adalah tampilnya pribadi-pribadi yang berpandangan luas dan mau menerima kebenaran dari mana saja. Mandiri dan kreatif dalam mengambil keputusan. Tidak tergantung pada orang tertentu dan siap menjadi kader penerus estafeta perjuangan.

Fanatisme dan figuritas yang berlebihan juga bisa menjadi problem dalam amal jama’i. Orang yang fanatik pada kelompoknya dan berfigur pada orang tertentu menjadi sulit untuk beramal jama’i dengan orang lain. Ia akan memilih-milih kepada siapa ia akan bekerja sama. Peserta yang fanatik dan berfigur juga menjadi sulit untuk dipindahkan kepada murobbi/naqib lain, sehingga bisa mempersulit proses kenaikan jenjang dan sistem penataan jama’ah.

Bahaya Hanya Berorientasi pada Produktivitas

Sebaliknya, jika halaqoh/usroh terlalu berorientasi pada produktivitas dan mengabaikan pentingnya dinamisasi akan timbul berbagai bahaya berikut :

1. Kejenuhan yang kronis

Halaqoh/usroh yang terlalu berorientasi pada produktivitas dapat berdampak pada hilangnya suasana persaudaraan. Keakraban menjadi hambar dan keceriaan menjadi langka. Suasana tersebut menimbulkan perasaan bosan. Apalagi jika di tengah-tengah perasaan bosan tersebut peserta dituntut untuk terus menerus mengejar target-target tertentu (produktif), maka perasaan bosan tersebut akan semakin memuncak lagi. Jika suasana tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, perasaan bosan akan berubah menjadi kejenuhan yang kronis. Peserta atau murobbi/naqib yang mengalami kejenuhan kronis akan semakin sulit dan lama untuk diobati. Mungkin malah tidak dapat disembuhkan sehingga walau suasana halaqoh/usroh telah berubah menjadi dinamis, personil halaqoh/usroh yang telah mengalami kejenuhan kronis tidak lagi dapat menikmati suasana halaqoh/usroh.

Kejenuhan dalam perjalanan halaqah/usroh akan berdampak pada hilangnya antusiasme. Bukan hanya hilangnya antusias pada diri peserta, tapi juga murobbi/naqib. Peserta dan murobbi/naqib akan kehilangan gairah untuk mengikuti jalannya halaqah/usroh, sehingga akhirnya agenda-agenda halaqah diselesaikan asal jalan. Ketika personil halaqah/usroh membuat tugas dan program, maka pembuatannya tanpa keterlibatan penuh dari seluruh peserta. Ada yang aktif memberikan usulan dan ada juga yang tidak. Bahkan mungkin ada peserta yang masa bodo terhadap tugas dan program yang dibuat.

Peserta dan murobbi/naqib juga menjadi enggan untuk terlibat lebih jauh dengan permasalahan yang muncul dalam halaqah/usroh. Bahkan mungkin jika ada permasalahan yang cukup berat, para personil halaqah/usroh enggan untuk membahasnya sampai tuntas. Mungkin malah persoalan tersebut dikembalikan penyelesaiannya kepada yang memiliki masalah tanpa kegairahan dari yang lain untuk membantunya.

3. Kehadiran yang tidak rutin

Dampak yang paling konkrit dari kejenuhan yang melanda halaqoh/usroh adalah kehadiran yang tidak rutin dari para personilnya. Kalau pun hadir, biasanya datang terlambat. Peserta dan murobbi/naqib berubah menjadi orang-orang yang ‗pintar‘ membuat dalih agar dapat absen atau terlambat menghadiri halaqoh/usroh. ‗Kepintaran‘ mereka tampak dari berbagai alasan yang tampak logis dan sesuai syar‘i. Namun hati kecil mereka sebenarnya tahu bahwa ketidakhadiran atau keterlambatan

mereka disebabkan jemu dengan halaqoh/usroh. Barangkali mereka juga tidak menyadari bahwa alasan ketidakhadiran atau keterlambatan mereka sebenarnya sudah tidak logis atau tidak syar‘i lagi. Mereka mungkin malah tersinggung jika ditegur atau diberitahu. Biasanya kejenuhan memang membuat orang melakukan rasionalisasi tentang perbuatannya, yang akhirnya diyakini oleh orang tersebut sebagai kebenaran.

4. Keringnya iman dan lemahnya kontrol diri

Kejenuhan yang terjadi akibat terlalu berorientasi pada produktivitas juga dapat berdampak pada keringnya iman para personil halaqoh/usroh. Mereka tidak lagi dapat merasakan siraman rohani yang menyejukkan hati. Acara halaqoh/usroh

berubah menjadi acara rapat organisasi biasa yang penuh dengan pembahasan program. Tidak ada lagi suasana yang menggetarkan kalbu dan mengakrabkan hati- hati mereka. Pertemuan menjadi kering dari nilai-nilai ruhiyah.

Keringnya iman dapat berdampak pada lemahnya kontrol diri. Kewaspadaan untuk tidak berbuat maksiat semakin melemah. Keinginan untuk berbuat maksiat semakin tinggi. Pada kondisi ini mungkin saja seorang personil halaqoh/usroh terjerumus pada perbuatan maksiat. Sebagian dari kasus tentang aktivis da‘wah yang melakukan kemaksiatan mengindakasikan adanya hubungan antara kemaksiatan yang dilakukan dengan kejenuhan di dalam halaqoh/usroh. Hal ini menunjukkan bahwa peran halaqoh/usroh memang cukup besar dalam menjaga iman seorang aktivis da‘wah.

Ketika halaqoh/usroh kehilangan daya ruhnya, maka kontrol diri personil halaqoh/usroh terhadap godaan kemaksiatan menjadi semakin lemah. Sebaliknya, ketika halaqoh/usroh mempunyai daya ruh yang kuat dalam memelihara iman para personilnya, maka kontrol diri personil halaqoh/usroh terhadap godaan kemaksiatan juga menjadi semakin kuat. Ini adalah hal yang wajar karena halaqoh/usroh pada umumnya dianggap oleh para aktivis da‘wah sebagai tempat rehabilitasi mental yang utama.

5. Tumpulnya kreativitas

Semakin jenuh perasaan seseorang biasanya semakin tumpul daya kreativitasnya. Jika para personil halaqoh/usroh sering dilanda kejenuhan, maka kemampuan mereka untuk bersikap kreatif juga menjadi tumpul. Kreativitas tidak mungkin dibangun

dalam suasana yang monoton dan membosankan. Kreativitas hanya tumbuh pada suasana yang dinamis. Dimana setiap orang bebas dan nyaman untuk menyampaikan ide-idenya. Suasana yang membosankan harus diubah dulu menjadi suasana yang dinamis untuk memancing munculnya sikap dan kebiasaan yang kreatif. Tanpa pengkondisian suasana yang dinamis tidak mungkin kreativitas akan tumbuh dengan subur.

6. Lemahnya ikatan ukhuwah

Tentu saja kejenuhan yang melanda halaqoh/usroh juga akan berdampak pada ikatan ukhuwah. Rasa persaudaraan di antara personil halaqoh/usroh menjadi renggang dan hambar. Keluhan yang sering muncul biasanya adalah keluhan tentang kurangnya rasa ukhuwah di antara personil halaqoh/usroh. Ukhuwah berubah menjadi slogan

belaka. Tanpa dapat dirasakan manisnya oleh para personil halaqoh/usroh.

7. Kalah bersaing

Saat ini model pembinaan halaqoh/usroh mendapat saingan dari kelompok-kelompok Islam ekstrim, sekuler, sosialis, dan Nasrani. Kelompok-kelompok tersebut juga membina anggotanya dengan model halaqoh/usroh. Mereka juga merekrut massa (mad’u) dengan cara pembinaan seperti dalam halaqoh/usroh. Jika murobbi/naqib tidak mampu membuat peserta senang dan betah dalam halaqoh/usroh bisa jadi peserta akan ‗lari‘ kepada kelompok lain yang model pembinaannya seperti halaqoh/usrohnya tetapi mampu berjalan dinamis. Hal ini perlu dijadikan peringatan oleh para aktivis da‘wah, khususnya para murobbi/naqib, bahwa model pembinaan yang membosankan dan monoton bisa jadi membuat mad’u mencari ‗pelarian‘ di organisasi atau jama’ah lain. Aktivis da‘wah bisa kalah bersaing dengan organisasi atau jama’ah lain dalam merekrut massa (mad’u).

8. Prestasi yang tidak maksimal

Akhirnya, kejenuhan yang terjadi dalam halaqoh/usroh dapat berdampak pada ketidaksungguhan personil untuk menyelesaikan tugas dan program. Tidak ada keinginan dari personil halaqoh/usroh untuk memperoleh prestasi maksimal. Karena kejenuhan yang dialami, mereka cukup puas hanya dengan hasil yang minimal atau tanggung. Bahkan mungkin ketika tugas dan program tersebut tidak berjalan, tidak

ada penyesalan atau rasa bersalah yang muncul. Mereka menjadi cepat puas dan tidak mempunyai antusiasme untuk meraih prestasi maksimal.

Hal-hal yang dikemukakan di atas bisa saja terjadi jika halaqoh/usroh hanya berorientasi pada satu dari dua dimensi kesuksesan halaqoh/usroh, yaitu hanya berorientasi pada dinamisasi atau pada produktivitas saja.

Bahaya-bahaya yang disebutkan di atas akan semakin besar peluang terjadinya jika halaqoh/usroh lemah pada kedua dimensi. Lemah pada dinamisasi, sekaligus lemah pada produktivitas. Jika hal itu yang terjadi, maka halaqoh/usroh telah gagal mewujudkan misinya sebagai wadah pengkaderan aktivis Islam yang mumpuni.

RUMUS MENINGKATKAN DINAMISASI HALAQOH/USROH

Para pewaris da’wah, baik dari kalangan muda maupun tua, sangat membutuhkan perhatian ekstra, pengarahan yang baik dan pembekalan dengan wawasan pengetahuan yang memadai. Semua ini merupakan amanat besar yang tidak seorang pun sanggup mengembannya kecuali yang disiapkan dalam usroh serta lebur dalam sistem dan program-programnya(DR. Ali Abdul Halim Mahmud)

Pembahasan yang agak panjang lebar tentang dinamisasi dan produktivitas serta berbagai dampak yang menyertainya mudah-mudahan menyadarkan kita tentang pentingnya memperhatikan kedua masalah ini (dinamisasi dan produktivitas) secara lebih serius dalam perjalanan halaqoh/usroh.

Sekarang masalahnya bagaimana cara meningkatkan dinamisasi dan produktivitas halaqoh/usroh? Tentu ada banyak cara yang dapat dilakukan. Salah satunya dengan menggunakan rumus di bawah ini :

- Rumus Dinamisasi Halaqoh/Usroh :

D = n(Pb) (I + K + T)

Keterangan :

D

= Dinamisasi

n(Pb)

= Jumlah Variasi Perubahan

I

= Keikhlasan

K

= Keteladanan

T

= Semangat mencapai Tujuan

- Rumus Produktivitas Halaqoh/Usroh

Buat dalam Piramid :

Evaluasi Kemenangan Kecil Tujuan

Penjelasan terhadap rumus di atas akan dibahas kemudian. Kita awali terlebih dahulu

dengan menjelaskan bagaimana cara terjadinya kejenuhan dalam halaqoh/usroh.

Formula Terjadinya Kejenuhan dalam Halaqoh/Usroh

Lawan dari dinamisasi adalah kejenuhan. Kejenuhan terjadi ketika variasi/perubahan dalam pertemuan halaqoh/usroh jarang dilakukan. Ditambah tidak adanya keikhlasan, keteladanan dan semangat untuk mencapai tujuan. Formulasinya sebagai berikut :

J =

n(Pt) / n(Pb) (I + K + T)

Keterangan :

J

= Kejenuhan

n(Pt)

= Jumlah Pertemuan

n(PB)

= Jumlah Variasi Perubahan

I

= Keikhlasan

K

= Keteladanan

T

= Semangat mencapai Tujuan

Dari formulasi/rumus di atas dapat terlihat bahwa tingkat kejenuhan di dalam

halaqoh/usroh tergantung pada lima variabel, yaitu jumlah pertemuan, jumlah variasi

perubahan yang dilakukan dalam pertemuan, keikhlasan, keteladanan dan semangat

untuk mencapai tujuan.

Jumlah pertemuan ( n(Pt) ) adalah banyaknya pertemuan yang dilakukan oleh sebuah halaqoh/usroh dalam jangka waktu tertentu. Sedang jumlah variasi perubahan ( n(Pb) ) adalah banyaknya perubahan-perubahan yang dilakukan dalam pertemuan halaqoh/usroh. Variasi perubahan tersebut berupa inovasi yang dilakukan murobbi/naqib dan peserta untuk membuat halaqoh/usroh berlangsung secara dinamis. Variasi perubahan tersebut bisa terjadi dalam :

1. Sistem belajar.

Sistem belajar yang dilakukan tidah hanya berupa gaya lesehan di dalam ruangan

tetapi diubah-ubah dalam setiap pertemuan. Misalnya, menjadi sistem kelas, belajar di ruang terbuka, metode majelis ta‘lim di mesjid, dan lain-lain.

2. Metode penyampaian.

Penyampaian materi/madah tidak melulu berupa ceramah, tetapi diubah-ubah dalam setiap pertemuan menjadi diskusi, seminar, games, studi kasus, simulasi, bedah buku,

dan lain-lain.

3. Media/alat belajar.

Misalnya, penggunaan sarana belajar tidak melulu menggunakan lembaran foto copy,

tetapi diubah-ubah dalam setiap pertemuan dengan menggunakan sarana belajar lain, seperti papan tulis, OHP (Over head Projector), LCD, lembar peraga, alat demo/simulasi, dan lain-lain.

4. Materi/madah.

Materi tidak disampaikan secara monoton, tetapi diubah-ubah penjabarannya dalam setiap pertemuan dengan menggunakan berbagai ilustrasi, dalil, atau contoh yang berbeda dalam setiap pertemuan halaqoh/usroh.

Sistematika dan jenis agenda acara dalam setiap pertemuan tidak statis, tetapi diubah- ubah dalam setiap pertemuan. Misalnya, penyampaian madah bisa disampaikan di awal atau di akhir halaqoh/usroh; pembahasan program bisa dilakukan di awal atau di pertengahan acara halaqoh/usroh. Contoh lainnya, pertemuan pekan ini ada agenda acara tentang evaluasi program, pekan depan tidak ada dan diganti dengan agenda acara lain berupa setoran hapalan ayat (muroja’ah).

6. Waktu pertemuan.

Waktu pertemuan tidak melulu berlangsung dalam waktu dua jam, tetapi berubah-

ubah, misalnya, menjadi satu jam pada pekan ini dan menjadi 3-4 jam pada pekan depan. Atau waktu pertemuan diubah tidak selalu malam Rabu, misalnya, tetapi diubah-ubah menjadi pagi atau malam lainnya.

7. Tempat pertemuan

Tempat pertemuan, misalnya, tidak melulu di rumah murobbi/naqib, tetapi berubah- ubah dalam setiap pertemuan menjadi di rumah peserta A, B, C, dan lain-lain.

8. Komposisi peserta

Komposisi peserta sewaktu-waktu perlu diubah agar tidak menimbulkan kebosanan. Ada yang dimutasikan ke halaqoh/usroh lain atau ada pindahan peserta dari halaqoh/usroh lain.

Sedang yang dimaksud Keikhlasan (K) adalah upaya yang dilakukan setiap personil untuk selalu memelihara keikhlasan dalam setiap pertemuan halaqoh/usroh. Upaya ini perlu selalu diingatkan oleh murobbi/naqib, sehingga peserta terdorong untuk memelihara keikhlasannya.

Variabel Keteladanan (K) adalah perkataan dan perbuatan yang dilakukan murobbi/naqib atau peserta yang dapat menjadi contoh bagi yang lainnya. Baik hal

tersebut menyangkut kedisiplinan, kejujuran, kedermawanan, pengorbanan, dan lain-

lain.

Variabel semangat untuk mencapai Tujuan (T) adalah kejelasan tujuan yang diiringi oleh semangat dari personil halaqoh/usroh untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu :

a. Kejelasan dan semangat untuk mencapai muwashofat yang telah ditentukan

b. Kejelasan dan semangat untuk mencapai terbentuknya murobbi-murobbi yang handal

c. Kejelasan dan semangat untuk mencapai pengembangan potensi yang maksimal

Jika kita ingin mengetahui sampai sejauh mana tingkat kejenuhan (J) sebuah halaqoh/usroh, maka kelima variabel di atas perlu diukur. Namun karena halaqoh/usroh merupakan sistem sosial kita tidak dapat mengukurnya secara eksak (pasti), tetapi secara relatif melalui perkiraan saja. Misalnya, jumlah pertemuan dalam setahun ( n (Pt) ) 50 kali, jumlah variasi perubahan ( n (Pb) ) diperkirakan sebanyak 25 kali (hal ini bisa dilihat dari berbagai perubahan dalam berbagai sisi seperti yang telah dikemukakan di atas dalam setiap pertemuan halaqoh/usroh). Kemudian tingkat Keikhlasan (K), Keteladanan (K) dan semangat mencapai Tujuan (T) kita perkirakan tinggi (misalnya : nilai 3 untuk tinggi; 2 untuk sedang; 1 untuk kurang), maka tingkat kejenuhan yang terjadi pada halaqoh/usroh tersebut adalah :

50/25 (3+3+3) = -7

Semakin kecil nilai kejenuhan, maka semakin rendah tingkat kejenuhan yang terjadi pada halaqoh/usroh. Artinya, semakin baik dinamisasi yang terjadi dalam halaqoh/usroh. Sebaliknya, semakin besar nilai kejenuhan, maka semakin tinggi tingkat kejenuhan yang terjadi dalam halaqoh/usroh. Hal ini berarti semakin tidak baik dinamisasi yang terjadi di dalam halaqoh/usroh tersebut.

Sebaiknya agar evaluasi bisa lebih obyektif, maka perlu disepakati besaran nilai untuk

setiap variabel oleh seluruh personil halaqoh/usroh, sehingga setiap personil tidak

memiliki perbedaan pendapat tentang tingkat kejenuhan yang terjadi dalam

halaqoh/usrohnya. Kemudian untuk menilai kemajuan atau kemunduran tingkat

kejenuhan yang terjadi, maka sebaiknya bandingkan hasil tingkat kejenuhan tersebut

dengan hasil tingkat kejenuhan pada periode yang lalu (misalnya setahun atau 6 bulan

yang lalu).

Penjelasan tentang Rumus Mendinamiskan Halaqoh/Usroh

Seperti yang telah dikemukakan di atas, rumus mendinamiskan halaqoh/usroh adalah:

D = n(Pb) (I + K + T)

Keterangan :

D

= Dinamisasi

n(Pb)

= Jumlah Variasi Perubahan

I

= Keikhlasan

K

= Keteladanan

T

= Semangat mencapai Tujuan

Hal ini berarti cara untuk meningkatkan dinamisasi halaqoh/usroh adalah dengan meningkatkan nilai dari masing-masing variabel. Tugas seorang murobbi/naqib dan peserta adalah bagaimana agar pertemuan halaqoh/usroh selalu bervariasi, sehingga n (Pb)-nya meningkat. Bagaimana agar Keikhlasan (I) selalu terpelihara, Keteladanan (K) selalu ada, dan semangat untuk mencapai Tujuan (T) selalu terjaga, sehingga nilai dari masing-masing variabel tersebut menjadi tinggi.

Disini perlu dijelaskan dikalikannya n (PB) dengan I+K+T menunjukkan bahwa

Keikhlasan (I), Keteladanan (K), dan semangat mencapai Tujuan (T) bobotnya lebih besar daripada jumlah variasi perubahan ( n(Pb) ). Artinya, walau jumlah variasi

perubahan ( n(Pb) ) kecil, tapi jika Keikhlasan (I), Keteladanan (K), dan semangat

mencapai Tujuan (T) besar, maka halaqoh/usroh tetap bisa mencapai dinamisasi. Hal itu karena Keikhlasan (I), Keteladanan (K), dan semangat mencapai Tujuan (T) memang memiliki peranan yang lebih besar dalam mendinamiskan perjalanan

halaqoh/usroh. Jika ketiga hal tersebut tetap tinggi di dalam halaqoh/usroh biasanya suasana dinamis tetap terpelihara, walau jumlah variasi perubahan ( n (PB) ) kecil.

Jika disimak lebih jauh, mana dari ketiga variabel (Keikhlasan, Keteladanan, dan semangat mencapai Tujuan) yang lebih besar nilainya, jawabannya adalah Keikhlasan (I) menempati urutan pertama, Keteladanan (K) menempati urutan kedua, dan semangat mencapai Tujuan (T) menempati urutan ketiga. Ini artinya murobbi/naqib dan peserta perlu memprioritaskan upaya peningkatan Keikhlasan (I), setelah itu Keteladanan (K) dan terakhir semangat mencapai Tujuan (T) agar halaqoh/usroh dapat berjalan dinamis.

Namun perlu diingatkan disini bahwa melakukan variasi perubahan ( n (Pb) ) bukan kemudian menjadi tidak penting, n (Pb) justru bisa menjadi alat untuk menstimulus munculnya Keikhlasan (I), Keteladanan (K), dan semangat mencapai Tujuan (T). Dengan suasana yang variatif, halaqoh/usroh bisa memotivasi munculnya keikhlasan, keteladanan dan semangat mencapai tujuan yang variatif pula, sehingga personil halaqoh/usroh menjadi lebih kaya dengan wawasan dan pengalaman dalam meningkatkan Keikhlasan (I), Keteladanan (K), dan semangat mencapai Tujuan (T) tersebut.

Kiat Meningkatkan Nilai n (PB)

Meningkatkan nilai n (PB) berarti memperbanyak jumlah variasi perubahan yang dilakukan dalam halaqoh/usroh. Ada banyak cara yang dapat dilakukan, baik itu yang menyangkut sistem belajar, metode penyampaian, agenda acara, alat belajar, dan lain- lain. Yang penting inovasi yang dilakukan itu tidak bertentangan dengan syar‘i.

Modal utama yang dibutuhkan dalam meningkatkan nilai n (Pb) adalah kreativitas. Yaitu, kemampuan untuk berani menghadirkan cara-cara baru dalam mendinamiskan halaqoh/usroh. Namun sayangnya tidak semua murobbi/naqib memiliki kemampuan kreatif. Kurang kreatifnya murobbi/naqib disebabkan beberapa hal, diantaranya adalah :

1. Kurangnya waktu untuk mengadakan persiapan mengisi halaqoh/usroh.

2. Kurangnya wawasan dan pengalaman menjadi murobbi/naqib.

3. Kurangnya kesadaran tentang pentingnya membina halaqoh/usroh secara kreatif.

4. Kurang terbiasanya melakukan aktivitas harian secara kreatif.

5. Kurangnya motivasi untuk membina secara serius (halaqoh/usroh hanya sekedar jalan).

Pada lampiran buku ini disertakan beberapa contoh kegiatan variatif yang bisa dilakukan halaqoh/usroh. Masih banyak lagi bentuk-bentuk kreativitas lain yang bisa dilakukan oleh halaqoh/usroh selama mereka serius mau mewujudkannya. Sesungguhnya tidak ada batasan bagi murobbi/naqib dan peserta mengkreasikan

acara halaqoh/usroh. Yang penting kreativitas tersebut tidak bertentangan dengan syar‘i dan tetap mengarah pada pencapaian tujuan halaqoh/usroh.

Selain itu, agar kreativitas dapat menjadi kultur baru dalam halaqoh/usroh, maka murobbi/naqib perlu melakukan berbagai cara, antara lain :

1. Memberikan motivasi terus menerus kepada peserta agar meningkatkan kreativitas.

2. Melakukan kegiatan-kegiatan di dalam halaqoh/usroh yang dapat menambah keakraban dan keterbukaan.

3. Membuat suasana halaqoh/usroh yang santai dan menyenangkan, tapi tetap serius agar peserta berani menyampaikan ide-idenya.

4. Menghargai prakarsa dan kritik peserta serta tidak melulu melakukan kecaman atau celaan terhadap pendapat-pendapat mereka.

5. Membudayakan musyawarah/mufakat dalam setiap pengambilan keputusan.

6. Menumbuhkan suasana saling mempercayai dan memelihara sikap adil (tidak berat sebelah).

7. Melakukan pengawasan secara wajar (tidak terlalu ketat).

8. Membuat mekanisme komunikasi yang terbuka di dalam maupun di luar halaqoh.

9. Memberikan keteladanan kepada peserta tentang kreativitas (murobbi/naqib sendiri harus menunjukkan kreativitasnya kepada peserta).

Cara-cara menumbuhkan budaya kreatif di atas akan memancing munculnya ide-ide baru yang dapat meningkatkan variasi perubahan ( n(Pb) ) di dalam halaqoh/usroh.

Perlu juga diingatkan disini bahwa inisiatif melakukan variasi perubahan tidak mesti datangnya dari murobbi/naqib, tapi bisa juga datang dari peserta. Murobbi/naqib semestinya dapat menerima berbagai usulan variasi perubahan dari peserta tanpa takut ‗kekuasaannya‘ merasa diinvasi oleh peserta. Selama usulan tersebut baik tak ada salahnya bagi murobbi/naqib untuk menerimanya. Bahkan hal tersebut dapat menumbuhkan sense of belonging (rasa memiliki) dari peserta untuk meningkatkan dinamisasi halaqoh/usroh.

Kiat Meningkatkan Nilai Keikhlasan (I)

Mengapa keikhlasan dapat meningkatkan kedinamisan dalam halaqoh/usroh? Sebab dengan ikhlas, hati menjadi bersih dari penyakit hati. Niat kita beramal hanya semata- mata untuk taqorubub ilaLlah (mendekatkan diri kepada Allah). Imam Ghazali berjata : ―Orang yang ikhlas ialah orang yang tidak ada motivasi yang membangkitkannya kecuali mencari taqorrub kepada Allah‖. Sedang perasaan bosan adalah penyakit hati. Dengan ikhlas, kita terhindar dari penyakit hati berupa kebosanan walau kita berada dalam suasana monoton sekali pun. Itulah sebabnya, Allah SWT dan Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk selalu ikhlas dalam beribadah. Sebab dengan ikhlas, ibadah yang dilakukan berulang-ulang dan monoton

seperti sholat tidak terasa menjemukan. Bahkan menjadi mengasyikan dan menentramkan. Syaratnya adalah hadirnya keikhlasan.

Hal ini juga berlaku dalam amal lain, termasuk dalam halaqoh/usroh. Dengan hadirnya keikhlasan, kita akan lebih betah berada di dalam halaqoh/usroh walau suasananya monoton. Namun hal ini membutuhkan keikhlasan yang tinggi. Ketika keikhlasan kita tercemar, perasaan bosan akan mudah muncul jika halaqoh/usroh berjalan monoton.

Sebenarnya dengan keikhlasan saja kita dapat betah (tidak bosan) mengikuti halaqoh/usroh. Permasalahannya adalah menjaga keikhlasan yang prima itu seringkali sulit. Apalagi kalau kita pernah memiliki masalah atau pernah mengalami kekecewaan dengan personil lain di dalam halaqoh/usroh. Oleh karena itu, variabel keikhlasan saja tidak cukup, perlu ada variabel lain (yaitu : variasi perubahan, keteladanan dan semangat mencapai tujuan) untuk membantu kita agar betah dan tidak jenuh mengikuti halaqoh/usroh.

Untuk meningkatkan nilai Keikhlasan (I), ada berbagai cara yang dapat dilakukan. Para ulama di berbagai masa telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara meningkatkan keikhlasan. Mungkin disini cukuplah diberikan satu contoh saja cara meningkatkan keikhlasan menurut Dr. Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya Terapi Mental Aktivis Harakah :

1. Harus mengingat akibat yang ditimbulkannya, baik di dunia maupun di akhirat. Akibatnya, antara lain :

- Tidak mendapatkan taufik dan hidayah

- Gangguan psikologis

- Tidak berwibawa

- Tidak dipedulikan orang lain

- Tidak tekun beramal

- Terungkap kejelekannya di dunia dan akan dapat disaksikan pada hari kiamat

- Terjerumus kepada tipu daya ujub, lantas tertipu oleh dirinya sendiri dan takabbur

- Amal menjadi batil

- Siksa yang besar di akhirat

2. Menjauhkan diri dari pergaulan orang-orang yang suka riya‘ (suka memamerkan amal) dan sum’ah (suka agar kebaikannya didengarkan orang lain).

3. Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.

4. Melawan hawa nafsu, sehingga terlepas dari dorongan-dorongan yang membawa kepada riya’ dan sum’ah.

5. Berpegang teguh dengan akhlak Islam dalam pergaulan, tidak berlebihan dalam memberi hormat dan penghargaan. Namun tidak pula bersikap kurang hormat dan penghargaan. Bersikap sewajarnya saja.

7.

Menghisab diri terlebih dahulu sebelum mengoreksi orang lain.

8. Bersandar secara sempurna kepada Allah dan bermohon kepada-Nya.

Kiat Meningkatkan Nilai Keteladanan (K)

Mengapa keteladanan menjadi faktor yang menentukan kedinamisan halaqoh/usroh? Hal itu karena keteladanan membuat seseorang percaya kepada orang lain. Kepercayaan itu akan membuat orang betah berlama-lama dengan orang yang dipercayainya. Para sahabat betah berlama-lama di sekeliling Nabi SAW karena beliau dapat memberikan keteladanan kepada para sahabatnya.

Untuk membuat halaqoh/usroh berlangsung dinamis, keteladanan menjadi faktor yang penting. Namun tidak ada cara yang cepat dan instan untuk membuat orang bisa saling menteladani satu sama lain. Dibutuhkan waktu saling mengenal yang lama untuk menumbuhkan budaya keteladanan.

Keteladanan adalah perbuatan yang membuat orang percaya kepada kita. Mereka percaya karena kita konsisten melakukan apa yang kita katakan atau yakini. Para nabi dan para pemimpin dunia yang melegenda, seperti Abu Bakar Shiddiq ra, Umar bin Khatab ra, Ali bin Abu Thalib, Mahatma Gandhi, atau Abraham Lincoln adalah orang-orang yang konsisten melakukan apa yang mereka yakini kebenarannya. Mereka rela berkorban apa saja, termasuk nyawa mereka sendiri, untuk mempertahankan konsistensi antara kata dengan perbuatan. Mereka mampu memberikan keteladanan.

Keteladanan membutuhkan dua hal, yaitu inisiatif dan integritas. Tanpa ada keduanya tidak ada yang dinamakan keteladanan (qudwah). Inisiatif adalah melakukan sesuatu sebelum orang lain melakukannya. Integritas adalah konsisten dengan apa yang semestinya kita lakukan dalam peran tertentu. Integritas seorang murobbi/naqib adalah konsisten dengan tuntutan peran sebagai murobbi/naqib. Jika murobbi/naqib adalah pemimpin, maka ia harus menunjukan watak kepemimpinannya, seperti percaya diri, jujur, disiplin, berani, kreatif, dan sifat-sifat mulia pemimpin lainnya.

Lalu bagaimana agar halaqoh/usroh dapat meningkatkan budaya keteladanan? Hal ini membutuhkan pionir (orang yang pertama kali memberikan keteladanan). Orang tersebut adalah murobbi/naqib. Murobbi/naqib menjadi orang yang wajib pertama kali untuk memberikan keteladanan. Tanpa ada keteladanan dari murobbi/naqib sulit rasanya bagi halaqoh/usroh menumbuhkan budaya keteladanan. Mengharapkan keteladanan dari peserta saja efeknya jauh lebih kecil dalam mendinamiskan halaqoh/usroh daripada jika keteladanan itu langsung datang dari murobbi/naqib.

Disinilah dibutuhkan morobbi/naqib teladan. Murobbi/naqib yang satu kata dengan perbuatan. Bukan sebaliknya, murobbi/naqib yang kaya berbicara, tapi miskin perbuatan. Beberapa contoh kurangnya keteladanan dari murobbi/naqib adalah:

- Meminta peserta agar hadir rutin dan tepat waktu, tapi ia sendiri sering tidak hadir atau datang terlambat.

- Mengajarkan sifat-sifat kebaikan, tapi ia sendiri memiliki sifat kurang baik (pemarah, pendengki, penakut, dan lain-lain).

- Mengajarkan pentingnya menambah ilmu, tapi ia sendiri malas meningkatkan ilmunya.

- Meminta peserta untuk rajin menghapal ayat/hadits tertentu, tapi ia sendiri tidak menghapal ayat/hadits tersebut.

- Meminta peserta untuk tidak pelit berinfaq, tapi ia sendiri pelit berinfaq

- Meminta peserta untuk melaksanakan hak-hak ukhuwah, tapi ia sendiri mengabaikannya.

- Mengajarkan agar peserta bersungguh-sungguh memperhatikan pendapat atau taujih (arahan) dari orang lain, tapi ia sendiri acuh ketika peserta menyampaikan pendapat atau taujihnya.

- Meminta peserta hadir dengan persiapan yang matang, tapi ia sendiri hadir tanpa persiapan.

- Meminta peserta berani dan tegas dalam mengambil keputrusan, tap ia sendiri kurang berani dan tidak tegas dalam mengambil keputusan.

- Mengajarkan keadilan, tapi ia sendiri bersikap berat sebelah dan tidak adil kepada peserta.

- dan lain-lain.

Kiat Meningkatkan Nilai Semangat Mencapai Tujuan (T)

Semangat mencapai tujuan penting dalam mendinamiskan halaqoh/usroh. Namun hal itu hanya terjadi jika tujuan dipahami dan sesuai dengan kebutuhan personil halaqoh/usroh. Para sahabat Rasul SAW rela menerima cobaan dan ujian yang dilakukan musuh-musuh Islam waktu itu karena mereka paham tentang tujuan yang akan diraih dan merasa tujuan tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Namun jika tujuan tidak dipahami dan tidak sesuai kebutuhan, maka orang menjadi malas dan tidak tertarik untuk memperjuangkannya. Dengan kata lain, tujuan yang tidak jelas dan tidak sesuai dengan kebutuhan peserta akan kurang berpengaruh secara signifikan dalam meningkatkan dinamisasi halaqoh/usroh.

Oleh karena itu, tugas murobbi/naqib adalah membuat agar tujuan menjadi jelas dan menarik bagi peserta, sehingga mereka bersemangat untuk mencapainya. Tujuan yang menarik akan membuat mereka betah untuk menjalani proses yang mungkin membosankan dalam mencapainya. Apalagi jika suasana tidak membosankan, maka mereka akan semakin bersemangat untuk mencapai tujuan.

Untuk meningkatkan semangat mencapai tujuan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan murobbi/naqib, antara lain :

yang handal. Akan tetapi mungkin hal ini kurang sesuai dengan kebutuhan peserta saat itu. Peserta belum tertarik untuk menjadi murobbi, maka tujuan tersebut perlu dipecah menjadi tujuan antara yang sesuai dengan kebutuhan peserta, yaitu tujuan untuk pandai berbicara di depan umum.

2. Mengkomunikasikan tujuan secara berulang-ulang dengan pendekatan yang berbeda-beda agar tujuan tetap menarik untuk dicapai. Misalnya, sekali waktu menggunakan ilustrasi ‗orang yang naik kendaraan‘ untuk menjelaskan tujuan. Waktu yang lain menggunakan ilustrasi ‗orang yang berlayar‘ untuk menjelaskan tujuan.

3. Memberikan motivasi secara berulang-ulang tentang urgensi pencapaian tujuan dengan pendekatan yang berbeda-beda. Misalnya, sekali waktu menggunakan dalil Al Qur‘an untuk menekankan pentingnya pencapaian tujuan. Akan tetapi di lain kali menggunakan dalil Siroh Nabawiyah untuk menjelaskan pentingnya pencapaian tujuan.

4. Memusyawarahkan tujuan dengan peserta agar mereka mempunyai rasa memiliki (sense of belonging) terhadap tujuan. Disini dibutuhkan kemampuan komunikasi dari murobbi/naqib untuk mempengaruhi peserta agar tujuan yang telah ditetapkan seolah-olah dianggap oleh peserta sebagai tujuan yang mereka buat, bukan tujuan yang didiktekan murobbi/naqib.

5. Menerjemahkan tujuan menjadi program dan kegiatan yang menarik bagi peserta. Peserta bukan hanya tertarik dengan program, tapi juga yakin bahwa kesulitan dan hambatan yang menghadang dalam melaksanakan program itu tidak akan sia-sia. Termasuk yakin bahwa kondisi yang membosankan dalam menjalani program tersebut akan mengantarkan mereka kepada tujuan yang mereka harapkan.

6. Membuat sistem penghargaan dan sangsi (reward dan punishment) yang mampu membangkitkan semangat peserta untuk mencapai tujuannya.

Bentuk kongkrit dari tingginya nilai semangat untuk mencapai Tujuan (T) adalah keyakinan bahwa proses yang panjang, sulit dan melelahkan untuk mencapai tujuan halaqoh/usroh adalah hal yang wajar. Personil halaqoh/usroh tidak cepat patah semangat untuk mencapai tujuan. Mereka terus mencoba mencapai tujuan dan tidak begitu peduli dengan suasana dalam proses (menjemukan atau dinamis) dalam mencapai tujuan. Keyakinan ini begitu penting bagi personil halaqoh/usroh dalam membuat mereka betah mengikuti perjalanan halaqoh/usroh.

RUMUS MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS HALAQOH/USROH

Murobbi harus mendidik binaannya agar memahami cara beramal jama’i atau tabiat amal dalam sebuah jama’ah serta tuntutan-tuntutan dan syarat-syarat yang harus dipenuhi, agar terjanimen keselamatn dalam perjalanan, potensi tersatukan, dan produktivitas dapat ditingkatkan(Musthafa Masyhur)

Seperti yang telah disebutkan pada bab sebelumnya rumus meningkatkan produktivitas halaqoh/usroh adalah sebagai berikut :

Buat dalam bentuk piramida :

1.

Evaluasi

2. Kemenangan kecil

3.

Tujuan

Rumus tersebut sengaja dibuat dalam bentuk piramida yang terbagi tiga untuk menggambarkan hubungan antar bagian satu dengan yang lain dimana antar bagian memiliki porsi yang berbeda.

Pada dasar piramida, ada tujuan yang porsinya paling besar. Tujuan adalah fundamen dari produktivitas. Tanpa ada tujuan tidak mungkin ada produktivitas. Tujuan merupakan langkah pertama yang perlu dibuat sebelum kita berbicara tentang produktivitas.

Tujuan dalam halaqoh/usroh seperti yang telah dibahas di mukaadalah :

1. Tercapainya muwashofat

2. Tercapainya pembentukan murobbi

3. Tercapainya pengembangan potensi

Tujuan inilah yang menjadi dasar dari pencapaian produktivitas halaqoh/usroh. Tujuan inilah yang berfungsi untuk melakukan langkah berikutnya, yaitu membuat ‗kemenangan-kemenangan kecil‘ dan melakukan evaluasi.

Selain itu, tujuan memiliki empat fungsi dalam perjalanan halaqoh/usroh, yaitu :

1. Memberikan arah perjalanan halaqoh/usroh

2. Memfokuskan program dan kegiatan halaqoh/usroh

3. Pedoman dalam pengambilan keputusan

Kemudian apa yang dimaksud dengan ‗kemenangan kecil‘ pada bagian kedua dari piramida produktivitas halaqoh/usroh? Kemenangan kecil adalah istilah lain dari tujuan/sasaran antara. Yaitu, tujuan/sasaran yang perlu dicapai secara bertahap untuk mencapai tujuan halaqoh/usroh yang sebenarnya. Tujuan/sasaran antara persis seperti anak tangga ketika kita menaiki tangga untuk mencapai tempat tertentu. Tanpa menginjak anak tangga sulit bagi kita untuk menaiki tangga. Namun tujuan antara yang perlu dibuat dalam halaqoh/usroh semestinya adalah tujuan yang sudah diperhitungkan akan mampu dijangkau oleh peserta. Hal ini dengan maksud agar mereka memiliki rasa ‗berhasil‘ untuk mencapai tujuan. Perasaan berhasil ini penting bagi peserta karena akan meningkatkan kepercayaan diri untuk mencapai tujuan sebenarnya.

Perasaan berhasil yang meningkatkan kepercayaan diri inilah yang dimaksud ‗kemenangan kecil‘ dalam piramida di atas. Disebut ‗kemenangan kecil‘ karena diharapkan peserta merasa seperti menang dalam perlombaan. Perasaan menang ini penting untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka untuk mencapai tujuan berikutnya yang lebih sulit lagi, sehingga akhirnya mereka berhasil mencapai tujuan sebenarnya (‗kemenangan besar‘).

Sebagai contoh, tujuan antara yang perlu dibuat untuk mencapai muwashofat menghapal juz 30 (juz ‘amma) adalah menghapal satu surat pendek dari juz 30. Tujuan antara ini relatif lebih sanggup dilakukan peserta daripada langsung dibuat tujuan menghapal juz ‘amma secara keseluruhan. Karena peserta sanggup mencapai tujuan antara ini, mereka akan merasa berhasil dan percaya diri untuk menghapal surat-surat berikutnya dari juz ‘amma. Mereka merasa memperoleh ‗kemenangan kecil‘. Lalu tujuan antara berikutnya adalah menghapal surat-surat lain dari juz ‘amma secara bertahap dan sesuai dengan kesanggupan peserta. Hal ini agar mereka terus merasa memperoleh ‗kemenangan- kemenangan kecil‘, sehingga tanpa disadari akhirnya mereka mencapai tujuan sebenarnya yaitu menghapal seluruh surat dalam juz ‘amma.

Teknik memperoleh ‗kemenangan-kemenangan kecil‘ ini juga dapat dilakukan untuk mencapai muwashofat lainnya atau untuk mencapai tujuan pembentukan murobbi dan tujuan pengembangan potensi. Mudah-mudahan dengan teknik ini tujuan menjadi lebih menarik untuk dicapai oleh peserta karena mereka merasa sanggup untuk melakukannya.

Tugas murobbi/naqib (dibantu oleh peserta) adalah membuat tujuan antara yang dapat dirasakan sebagai ‗kemenangan kecil‘ oleh peserta, sehingga mereka antusias untuk mencapai tujuan berikutnya. Sebaliknya perlu dihindari cara-cara murobbi/naqib yang dalam membuat tujuan antara terasa sulit dilakukan oleh peserta. Selain tujuan tersebut menjadi tidak menarik bagi peserta, juga membuat mereka pesimis dan akhirnya betul- betul gagal dalam memperolehnya. Mereka bukan mendapatkan ‗kemenangan kecil‘ tapi malah ‗kekalahan kecil‘. ‗Kekalahan kecil‘ ini akan membuat mereka minder (tidak percaya diri) untuk melangkah pada tujuan selanjutnya.

Langkah berikutnya dari peningkatan produktivitas adalah melakukan evaluasi. Evaluasi adalah membandingkan antara tujuan yang ditetapkan dengan realita yang ada. Jika

realita sesuai dengan tujuan berarti halaqoh/usroh berhasil mencapai tujuan. Berarti halaqoh/usroh siap untuk melangkah lebih lanjut dalam mencapai tujuan berikutnya. Sebaliknya, jika realita tidak sesuai dengan tujuan berarti halaqoh/usroh tersebut gagal mencapai tujuan, sehingga perlu ada analisa lebih jauh tentang penyebab dari kegagalan tersebut. Kemudian mencari solusi agar kegagalan tidak terjadi di masa berikutnya.

Tiga langkah dalam meningkatkan produktivitas ini (Tujuan, Kemenangan Kecil dan Evaluasi) perlu dilakukan secara serius dan konsisten oleh halaqoh/usroh jika mereka betul-betul ingin produktif. Tanpa keseriusan dan langkah berkesinambungan untuk menerapkan tiga langkah di atas tidak mungkin halaqoh/usroh dapat mencapai produktivitas yang maksimal.

Di

bawah

ini

disertakan

contoh

penerapan

tiga

langkah

produktivitas

dalam

halaqoh/usroh :

Tujuan

Kemenangan Kecil (Tujuan Antara)

 

Evaluasi

Tercapainya

- Membaca Al Qur‘an 1 halaman/hari

- Peserta berhasil membaca Al Qur‘an 1 halaman/hari

Muwashofat

- Menghapal 1 hadits arba‘in

- Peserta berhasil menghapal 1 hadits arba‘in

- Menetapkan infaq

- Peserta berhasil berinfaq

Rp500/pertemuan

Rp500/pertemuan

Tercapainya

- Keberanian mengemukakan pendapat

- Peserta berani mengemukakan pendapat

Pembentukan

Murobbi

- Kemampuan berbicara di depan umum

- Peserta mampu berbicara

di

depan umum

- Tugas menjadi muwajih di acara dauroh

- Peserta berhasil menjadi muwajih di acara dauroh

- Tugas menjadi muwajih di acara halaqoh

- Peserta berhasil menjadi muwajih di acara halaqoh

- Tugas merekrut 1 orang

- Peserta berhasil merekrut 1 orang

Tercapainya

- Tugas memimpin kepanitiaan (untuk meningkatkan potensi umum)

- Peserta berhasil memimpin kepanitiaan

Pengembangan

Potensi

 

- Acara berupa menceritakan prestasi masa lalu (untuk mengetahui potensi khusus)

- Tugas membuat desain brosur kegiatan Ramadhan (untuk mengembangkan potensi khusus)

- Peserta mengetahui apa

potensinya

- Peserta berhasil membuat brosur untuk meningkatkan potensinya

di

bidang desain grafis

KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT

Dahulu kami berupaya keras memacu laju da’wah ini dan memaksimalkan penyebarannya, namun kini justru laju da’wah tersebut yang mendahulu kami. Ia merambah segenap penjuru dan desa dan memaksa kami menanganinya dengan serius, meskipun untuk itu kami harus menghadapi berbagai persoalan berat yang sangat melelahkan(Imam As Syahid Hasan Al Banna)

Saat ini laju da‘wah bergerak semakin cepat. Dibutuhkan keseriusan untuk menanganinya. Da‘wah yang serius hanya bisa ditangani oleh orang yang serius pula. Tanpa keseriusan, da‘wah tidak mungkin berhasil (muntijah).

Selanjutnya, da‘wah yang muntijah adalah da‘wah yang berbasiskan halaqoh/usroh yang muntijah. Tanpa lahirnya halaqoh/usroh yang muntijah, da‘wah berubah menjadi syi‘ar belaka yang kurang banyak artinya bagi pembentukan umat yang tangguh (takwinul ummah). Padahal hanya dengan takwinul ummah, umat Islam dapat maju dan berjaya melawan musuh-musuhnya.

Oleh karena itu, pembentukan halaqoh/usroh yang muntijah menjadi urgen adanya. Ada dua hal penting yang perlu kita lakukan jika ingin melahirkan halaqoh/usroh yang muntijah. Meningkatkan dinamisasi dan mencapai produktivitas halaqoh/usroh. Dinamisasi adalah proses yang nyaman dan menyenangkan, sehingga nikmat ukhuwah (ni’matul ukhuwah) dirasakan oleh para personil sepanjang perjalanan menuju tujuan halaqoh/usroh. Produktivitas adalah hasil (output) yang sesuai dengan tujuan halaqoh/usroh. Dinamisasi dan produktivitas memiliki peran yang sama penting. Kedua- keduanya harus dilakukan secara simultan untuk mencapai kesuksesan halaqoh/usroh. Terbengkalainya salah satu atau kedua hal tersebut akan menyebabkan berbagai dampak negatif bagi perjalanan halaqoh/usroh. Yang akhirnya, dapat berdampak pada eliminasi makna halaqoh/usroh, sehingga halaqoh/usroh tidak mampu lagi mencetak kader-kader yang tangguh untuk da‘wah dan umat.

Untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip halaqoh/usroh yang muntijah dalam setiap pertemuan halaqoh/usroh, berikut ini ada formula yang mudah untuk diingat dan dihapal. Formula tersebut adalah formula 6 K :

1. Keseimbangan Pencapaian Tujuan

Dalam setiap pertemuan halaqoh/usroh, semua personil halaqoh/usroh, terutama murobbi/naqib, perlu merancang agenda acara yang seimbang antara tiga pencapaian tujuan halaqoh/usroh, yaitu pencapaian muwashofat, pembentukan murobbi dan pengembangan potensi. Keseimbangan bukan berarti memberikan porsi dengan waktu yang sama, tapi menyediakan kesempatan yang sama sesuai dengan kebutuhan

saat itu untuk membahas dan melakukan kegiatan yang terkait dengan pencapaian tiga tujuan halaqoh/usroh.

2. Keteladanan

Setiap personil halaqoh/usroh, terutama murobbi/naqib, perlu menyadari bahwa setiap pertemuan halaqoh/usroh merupakan ajang untuk memberikan contoh keteladanan kepada yang lain. Karena itu, setiap personil halaqoh/usroh perlu bijaksana dalam berkata dan berbuat agar tidak menjadi contoh yang buruk bagi yang lainnya. Disadari atau tidak, lontaran-lontaran pendapat dan perilaku yang spontan dari setiap personil di dalam pertemuan halaqoh/usroh dapat menjadi contoh yang baik atau buruk bagi personil lainnya.

3. Kemenangan kecil

Para personil, terutama murobbi/naqib, di dalam setiap pertemuan halaqoh/usroh perlu menghidupkan suasana dan melakukan kegiatan yang memberikan ‗kemenangan kecil‘. Yaitu, suasana atau kegiatan yang membangkitkan rasa percaya diri untuk mencapai tujuan halaqoh/usroh. Kebiasaan saling menghargai, saling percaya, dan saling memberikan harapan yang optimis merupakan hal yang perlu dihidupkan dalam setiap pertemuan halaqoh/usroh agar para personil merasakan ‗kemenangan kecil‘. Perasaan berhasil karena memperoleh ‗kemenangan kecil‘ inilah yang membuat para personil tetap dapat merasakan nilai tambah dari kehadiran mereka di dalam halaqoh/usroh.

4. Kedinamisan

Di dalam setiap pertemuan halaqoh/usroh, perlu diupayakan adanya kedinamisan dengan cara melakukan variasi perubahan pada berbagai sisi acara halaqoh/usroh. Disini dibutuhkan kemampuan kreativitas dari para personil, terutama dari murobbi/naqib, untuk berani menghadirkan cara-cara baru yang tidak bertentangan dengan syar‘i, sehingga halaqoh/usroh terhindar dari suasana monoton yang menjemukan.

5. Keaktualan

Perlu diupayakan dalam setiap pertemuan halaqoh/usroh, agar pembahasan, termasuk penyampaian materi, selalu bernuansa aktual. Nuansa yang realistis dan sesuai dengan tantangan dakwah ke depan. Bukan sebaliknya, nuansa yang kering dari isyu- isyu aktual, sehingga pembahasan menjadi tidak ‗membumi‘ dan tidak menyentuh permasalahan yang dihadapi para personil halaqoh/usroh. Hal ini dapat menyebabkan pertemuan menjadi membosankankan dan tidak menarik.

6. Keikhlasan

Para personil, terutama murobbi/naqib, di dalam setiap pertemuan halaqoh/usroh perlu menghidupkan suasana keikhlasan. Niat yang tulus semata-mata karena mengharapkan ridho Allah, baik dalam pembicaraan, perbuatan maupun infaq. Suasana keikhlasan ini yang membuat halaqoh/usroh terhindar dari konflik dan permusuhan. Membuat suasana menjadi tentram dan tawadhu‘. Tidak ada keriya‘an dan ketakaburan.

Lakukan 6 K ini dalam setiap pertemuan halaqoh/usroh. Konsisitensi dalam melaksanakan 6 K ini yang Insya Allah akan membawa halaqoh/usroh kepada kesuksesannya.

Selain itu, murobbi/naqib sebagai pemimpin halaqoh/usroh juga mesti melakukan persiapan sebelum datang ke halaqoh/usroh agar prinsip 6 K di atas bisa berjalan dengan baik. Tegasnya, agar halaqoh/usroh bisa menjalankan dinamisasi dan mencapai produktivitas yang tinggi pada setiap pertemuan halaqoh/usroh. Beberapa persiapan yang perlu dilakukan seorang murobbi/naqib sebelum datang ke halaqoh/usroh adalah :

1. Menentukan bentuk ‗kemenangan kecil‘

Sebelum datang ke halaqoh/usroh, murobbi/naqib perlu mempersiapkan ‗kemenangan kecil‘ seperti apa yang akan dilakukannya di dalam halaqoh/usroh. Bentuknya bisa dengan membuat kegiatan yang sanggup dan menarik untuk dilakukan peserta. Bisa juga dengan memberikan motivasi atau taujih yang membangkitkan semangat dan kepercayaan diri. Bisa juga dengan membuat tugas yang menarik dan mudah dilakukan peserta. Namun perlu diingat, ‗kemenangan kecil‘ sebenarnya adalah tujuan/sasaran antara untuk menuju tujuan halaqoh/usroh yang sebenarnya.

2. Mempersiapkan surprise (kejutan)

Yang dimaksud surprise disini adalah kejutan dari murobbi/naqib berupa kegiatan, acara, tugas, atau apa saja yang variatif. Berupa berbagai aktivitas atau penyampaian yang sebelumnya tidak diduga oleh peserta. Bentuknya bisa bermacam-macam tergantung dari kreativitas murobbi/naqib. Waktunya bisa sebentar, bisa juga lama tergantung dari kebutuhan. Sebaiknya dalam setiap pertemuan ada unsur kejutan yang berbeda-beda, sehingga peserta merasa bahwa halaqoh/usroh berjalan dinamis dan tidak monoton. Namun yang penting surprise tidak boleh bertentangan dengan syar‘i dan tetap sesuai dengan pencapaian tujuan halaqoh/usroh. Contoh surprise adalah memberikan hadiah kepada peserta tanpa diketahui sebelumnya, mengubah tempat pertemuan secara mendadak, merubah-ubah susunan agenda acara secara spontan, meminta agar peserta melakukan tugas dadakan, menyampaikan materi dengan cara yang berbeda, memperlama atau menyingkatkan waktu pertemuan secara mendadak,

dan lain-lain. Surprise bukan berarti meniadakan agenda acara yang telah ditetapkan oleh manhaj tarbiyah atau jama’ah, tapi merubah atau ‗mengemasnya‘ agar lebih menarik.

3. Mempersiapkan taujih

Murobbi/naqib juga perlu mempersiapkan taujih (arahan) yang akan disampaikannya. Hal ini agar taujih tidak terasa kering karena kurang memberikan dalil, ilustrasi, contoh dan penjelasan yang jelas. Taujih yang tidak dipersiapkan akan dirasakan oleh peserta sebagai taujih yang kurang ‗berbekas‘ dan tidak memberikan nilai tambah bagi mereka.

4.

Mempersiapkan evaluasi

Murobbi/naqib juga perlu mempersiapkan evaluasi apa saja yang akan dilakukan dalam setiap pertemuan halaqoh/usroh. Evaluasi yang menyangkut pencapaian tujuan

halaqoh/usroh, baik pencapaian muwashofat, pembentukan murobbi maupun pengembangan potensi.

5. Mempersiapkan ta’limat dan agenda khusus

Perlu juga dipersiapkan ta’limat (pengumuman) apa saja yang perlu disampaikan kepada peserta. Ta’limat biasanya datang dari jama’ah, tapi bisa juga datang dari murobbi/naqib sendiri asalkan tidak bertentangan dengan kebijakan jama’ah. Sedang agenda khusus yang perlu dipersiapkan adalah hal-hal yang ingin dibicarakan atau disampaikan kepada peserta tertentu. Misalnya, murobbi/naqib ingin membicarakan

masalah pernikahan si A, atau ingin menyampaikan informasi khusus kepada si B. Agenda khusus biasanya disampaikan sebelum atau setelah acara halaqoh/usroh ditutup. Mempersiapkan agenda khusus perlu dilakukan supaya murobbi/naqib tidak lupa dengan masalah-masalah khusus yang terjadi di dalam halaqoh/usroh. Kelupaan menyelesaikan agenda khusus bisa berdampak pada lambatnya murobbi/naqib dalam menyelesaikan masalah, sehingga bisa berdampak lebih jauh pada dinamisasi dan produktivitas halaqoh/usroh.

6. Menghadirkan keikhlasan

Murobbi/naqib juga perlu menghadirkan keikhlasan sebelum datang ke halaqoh/usroh. Keikhlasan akan berpengaruh terhadap kelancaran jalannya halaqoh/usroh. Sesungguhnya hasil pembinaan tidak semata-mata karena upaya murobbi/naqib, tapi juga pertolongan dan kehendak Allah SWT. Dengan ikhlas, Allah akan menolong upaya murobbi/naqib untuk membawa halaqoh/usroh menuju kesuksesannya.

7. Membugarkan tubuh

Hadir dengan tubuh yang segar dan bugar menjadi hal yang penting untuk dilakukan murobbi/naqib. Keikhlasan yang dipadu dengan kesegaran tubuh akan berdampak pada penampilan yang menarik simpati peserta. Membuat murobbi/naqib tampil dengan penuh semangat, sehingga peserta juga menjadi bersemangat mengikuti halaqoh/usroh. Sebaliknya, penampilan yang loyo karena tubuh tidak bugar akan berpengaruh terhadap penampilan yang tidak membangkitkan semangat. Hal ini dapat berpengaruh lebih jauh pada jalannya halaqoh/usroh yang menjadi tidak menarik dan menjemukan.

Murobbi/naqib perlu meluangkan waktu untuk melakukan persiapan. Jangan hadir ke dalam halaqoh/usroh tanpa persiapan dengan anggapan hanya akan bertemu peserta yang sudah tsiqoh (percaya) dan terikat dengan da‘wah. Ketahuilah, semakin kurang persiapan, maka semakin rendah pula kualitas pembinaan kita. Mungkin disini kita perlu mengingat kembali sebuah pepatah yang mengatakan: ―Barangsiapa yang naik panggung tanpa persiapan, maka ia akan turun panggung dengan kehinaan‖.

Akhirnya, lakukan prinsip 6 K dan 7 Persiapan Murobbi/Naqib ini secara konsisten agar sistem halaqoh/usroh yang kita cintai ini dapat berjalan dengan sukses (muntijah). Semoga langkah-langkah kita dalam membina halaqoh/usroh selalu mendapat ridho Allah SWT. Amin ya Robbal ‘Alamin.

Lampiran I :

99 Contoh Aktivitas Untuk Mendinamiskan dan Menghilangkan Kejenuhan dalam Halaqoh (Usroh)

I. AKTIVITAS DI DALAM HALAQOH/USROH

A. Aktivitas Utama

1. Ceramah

2. Tanya Jawab

3. Diskusi

4. Demonstrasi

5. Eksperimen

6. Simulasi

7. Partisipasi

8. Penggunaan Alat

9. Latihan

10. Penugasan

11. Sosiodrama

12. Pengalaman Terstruktur

13. Pengembangan Kelompok

14. Seminar

15. Role Play

16. Games

17. Bedah buku (Presentasi buku secara bergiliran)

18. Brainstorming (Sumbang Saran)

B. Aktivitas Variatif

1. Latihan pidato/presenter/khotib secara bergilir.

2. Presentasi bidang keahlian tertentu (misal, peserta dengan latar belakang akuntan menjelaskan bagaimana cara membuat pembukuan keuangan secara praktis)

3. Pembacaan hadits secara bergilir (bisa juga dengan arti dan/atau syarahnya)

4. Membaca terjemahan Al Qur‘an secara bergilir

5. Menterjemahkan Al Qur‘an secara per kata (bisa dengan menggunakan buku Terjemahan Al Qur’an secara Lafzhiyah)

6. Mengisi Berbagai Test Kemampuan Diri (misal: test kepercayaan diri, kepemimpinan, pengendalian emosi, dan lain-lain. Bahannya bisa didapat di buku atau majalah)

7. Sebelum dan/atau setelah acara halaqoh/usroh melakukan sholat berjama‘ah

8. Membahas studi kasus tertentu (misal, studi kasus pernikahan yang tidak Islami)

9. Evaluasi ibadah harian (yaumiah), baik secara lisan maupun tertulis.

10. Evaluasi/laporan perkembangan binaan, baik secara lisan mamupun tertulis.

11. Evaluasi/laporan kegiatan anggota, baik secara lisan maupun tertulis.

12. Mengumpulkan dan membacakan secara bergilir kata-kata mutiara dari tokoh.

13. Membacakan secara bergilir biografi tokoh tertentu.

14. Membaca makalah/bagian buku tertentu secara bergilir.

15. Presentasi secara bergilir bagaimana kiat merekrut.

16. Presentasi secara bergilir tentang materi halaqoh/usroh yang telah diberikan.

17. Memberikan hadiah (surprise) kepada peserta atas prestasi tertentu.

19.

Mempersaudarakan peserta halaqoh/usroh secara berpasang-pasangan (seperti yang dilakukan Rasulullah saw ketika hijrah ke Madinah).

20. Evaluasi perjalanan halaqah/usroh, baik secara lisan maupun tertulis.

21. Latihan nasyid.

22. Latihan drama satu babak/role play.

23. Memindahkan tempat halaqoh/usroh secara insidental keluar ruangan (pekarangan rumah/taman/kebun, dll).

24. Memindahkan posisi lesehan dalam halaqoh/usroh menjadi duduk di kursi (insidental).

25. Evaluasi lahan dakwah, baik secara lisan maupun tertulis.

26. Mendiskusikan kiat bisnis.

27. Mendiskusikan kiat mencari jodoh/keluarga harmonis.

28. Mendiskusikan kiat berkarir di tempat kerja.

29. Kultum (kuliah tujuh menit secara bergilir)

30. Tadabbur ayat secara bergilir.

31. Menonton/mendengarkan secara bersama-sama film/ceramah tertentu.

32. Renungan tentang akhirat (zikrul maut), kalau perlu dengan memindahkan tempat pertemuan ke kuburan.

33. Mengundang ―bintang tamu‖ (bisa ustadz berkafa‘ah syar‘i, ikhwah dengan keahlian tertentu, orang yang mempunyai pengalaman menarik, dan sebagainya).

34. Mengadakan ujian/test mengenai materi tertentu yang telah diberikan.

35. Setoran hapalan Al Qur‘an/Hadits.

36. Mengundang isteri/suami peserta dalam acara halaqoh/usroh tertentu (siapkan agenda acara yang sesuai).

37. Membaca ma’tsurot (zikir) bersama.

38. Membuat makalah dan membahasnya (bisa bergilir)

39. Simulasi dengan tema tertentu (memandikan jenazah, merawat bayi, memasak, memperbaiki motor, dan lain-lain)

40. Membuat acara kuis/cerdas cermat (seperti acara cerdas cerdas di TV).

41. Membaca/membuat puisi.

42. Menyepakati untuk hadir di halaqoh/usroh dengan pakaian seragam (untuk memupuk semangat kebersamaan).

43. Membuka dan menutup acara secara bergilir.

44. Membuat struktur organisasi halaqoh/usroh untuk periode tertentu.

45. Membuat kliping koran/majalah untuk tema tertentu.

46. Buka puasa (ifthor) atau sahur bersama.

47. Melakukan acara curhat (masing-masing menyampaikan isi hatinya secara bebas).

48. Proyek bisnis musiman/permanen.

49. Acara ta‘aruf (perkenalan) yang dilakukan setiap periode tertentu.

50. Evaluasi/laporan rekrutmen, baik secara lisan maupun tertulis.

51. Membuat perpustakaan halaqoh/usroh.

52. Studi lapangan (laporan untuk peristiwa tertentu).

53. Membuat jarkom (jaringan komunikasi) antar personil halaqoh/usroh.

II. AKTIVITAS DI LUAR HALAQOH (USROH)

1.

Mabit

2. Rihlah Kecil (hanya personil halaqoh/usroh)

3. Rihlah Besar (Personil halaqoh/usroh beserta isteri/suami serta anak-anaknya)

4. Tasqif

5. Mukhoyyam (berkemah)

6. Outbound

7. Training

8. Muzhoharoh (aksi damai)

9. Silaturahmi

10. Dauroh Tarkiyah (Dauroh Peningkatan Kualitas)

11. Dauroh Tausi‘ah (Dauroh Rekrutmen)

12. Kunjungan ke Tokoh Internal/Eksternal

13. Diskusi dengan Pakar di bidang tertentu

Lampiran II :

Daftar Muwashofat Peserta Halaqoh/Usroh

(Salin dari buku lain)

Al Qur‘anul Karim

Daftar Pustaka

Al Banna, Hasan, Risalah Pergerakan (Majmu’atur Rosail), Solo : Era Intermedia,

1997

Mahmud, Ali Abdul Halim, Perangkat-Perangkat Tarbiyah Ikhwanul Muslimin, Solo : Era Intermedia, 2000

Al Wa‘iy, Taufik Yusuf, Kekuatan Sang Murobbi, Jakarta : Al I‘tishom, 2003

Ridho, Abu, Urgensi Tarbiyah dalam Islam, Jakarta : Inqilab Press, 1994

Robbins, Stephen. P, Perilaku Organisasi, Jakarta : Prenhallindo, 1996

Stoner, James A.F, Manajemen, Jakarta : Prenhallindo, 1996

Lubis, Satria Hadi, Menjadi Murobbi Sukses, Jakarta : Kreasi Cerdas Utama, 2003

Lubis, Satria Hadi, 77 Problematika Aktual Halaqoh Jilid I, Jakarta: Kreasi Cerdas Utama, 2002

Lubis, Satria Hadi, Burn Your Self, Jakarta : Kreasi Cerdas Utama, 2002

Biografi Singkat Penulis (untuk di buku):

Satria Hadi Lubis, MM., MBA lahir di Jakarta pada 19 September 1965 adalah Direktur Eksekutif Lembaga Manajemen Syari’ah LP2U yang bergerak dalam bidang pemberdayaan manusia (Human Resources). Selain sebagai dosen di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), aktivitas ayah dari enam orang anak ini juga menjadi trainer pelatihan tentang manajemen dan kepemimpinan dengan lebih dari 4000 jam pelatihan, penceramah (antara lain di LATIVI) dan pembicara di berbagai seminar. Ia juga menjadi wiraniaga di berbagai usaha yang saat ini sedang dikembangkan. Peraih gelar Magister Manajemen (MM) dan Master of Business Administartion (MBA) ini aktif di berbagai kegiatan dan organisasi sejak mahasiswa tahun pertama. Termasuk aktif membina berbagai halaqah selama lebih kurang 15 tahun (1988 sampai sekarang). Sekarang ia juga menjadi salah seorang staf di Departemen Kaderisasi DPP Partai Keadilan Sejahtera. Selain buku ini, ia juga telah menulis buku lainnya: Breaking The Time, 77 Problematika Aktual Halaqah Jilid I dan II, Menjadi Murobbi Sukses, Direct Selling for Vote!, Yang Nyata dari PK Sejahtera, Burn Your Self, Agenda Besar Kemenangan Da’wah, Unstoppable Succsess dan The Habits for Success. Buku lain yang tengah disusunnya, antara lain : Manajemen Kehidupan, Murobbi Skills, dan Amazing Creativity.

--

1. cari dalil al qur‘an dan haditsnya

2. cara istilah bahasa arabnya