Anda di halaman 1dari 2

BAB IV

PEMBAHASAN
4.1. Diagnosis
Anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang dilakukan
untuk menentukan diagnosis dari penyakit pasien. Pasien ini di diagnosis
anemia dalam kehamilan berdasarkan hasil anamnesa bahwa pasien hanya 1
kali memeriksakan kandungannya di puskesma, kemudian diberi obat
penambah darah tetapi tidak diminum oleh pasien. Selain itu pasien juga
tidak suka mengkonsumsi sayur dan daging. Dari hasil pemeriksaan fisik
didapatkan konjungtiva anemis (+/+), dan dari hasil laboratorium darah
lengkap yang menunjukkan nilai hemoglobin 7,6 g/dl. Berdasarkan kadar
hemoglobin tersebut pasien ini termasuk dalam kategori anemia sedang.
Faktor resiko terjadinya anemia pada pasien ini diantaranya adalah
kurangnya asupan makanan yang bernutrisi. Hal ini diketahui dari
anamnesis bahwasanya pasien tidak suka mengkonsumsi sayuran bahkan
selama hamil ini. Hal lain yang mempengaruhi terjadinya anemia dalam
kehamilan ini adalah kebiasaan pasien yang tidak mau memeriksaka
kehamilannya secara rutin di tempat pelayanan kesehatan. Pasien hanya satu
kali memeriksakan kandungannya di puskesmas, dan pasien diberi obat
penambah darah tetapi pasien tidak mau mengkonsumsi dengan alasan tidak
bisa minum obat. Hal ini semakin meningkatkan resiko terjadinya anemia
dalam kehamilan pada pasien. Selain itu pasien ini adalah pasien dengan
resiko tinggi (grande multipara) sehingga memiliki bahaya yang lebih besar
pada waktu kehamilan dan persalinan dibandingkan dengan ibu hamil
normal.
Anemia pada kehamilan juga dapat diklasifikasikan berdasarkan
penyebabnya, yaitu: anemia defisiensi besi, anemia megaloblastik, anemia
hipoplastik, dan anemia hemolitik. Pada pasien ini termasuk dalam kategori
anemia defisiensi besi yang mempunyai cirri khas hipokrom mikrositer. Hal
ini didukung dengan dilakukannya pemeriksaan MCV, MCH dan MCHC.
19

Hasil pemeriksaan MCV pada pasien ini menurun, artinya eritrosit lebih
kecil dari biasanya (mikrositik). MCH pada pasien ini juga menurun karena
pada eritrosit yang mikrositik akan memiliki nilai MCH yang rendah.
MCHC pada pasien ini juga turun, menunjukkan keadaan hipokromia.
Sifat khas lain pada anemia defisiensi besi diantaranya yaitu kadar besi
serum rendah, daya ikat besi serum tinggi, protoporfirin eritrosit tinggi, dan
tidak ditemukannya hemosiderin dalam sumsum tulang. Akan tetapi hal ini
tidak dapat diketahui karena pada pasien ini tidak dilkukan pemeriksaan
tersebut.
4.2. Penatalaksanaan
Pasien ini diberi terapi tranfusi PRC 2 kolf/hari pasca melahirkan. Hal
ini sesuai dengan literatur bahwa transfusi darah sebagai pengobatan anemia
pada kehamilan sangat jarang diberikan walau Hb < 6 g/dl apabila tidak
terjadi perdarahan. Persiapan darah baru diindikasikan untuk dilakukan
selama proses persalinan, sehingga apabila terjadi perdarahan yang lebih
dari biasa transfusi darah dapat segera diberikan. Hal ini disebabkan karena
kemungkinan terjadinya komplikasi dan resiko pada transfusi darah jauh
lebih besar dibandingkan apabila diberi preparat besi oral ataupun
parenteral. Resiko yang dapat terjadi pada transfusi darah diantaranya yaitu
reaksi transfusi, infeksi (HIV, hepatitis B, hepatitis C, sifilis, malaria, dll),
serta kontaminasi oleh bakteri lainnya.
Adapun resiko anemia yang dapat dialami pada pasien ini (postpartum)
diantaranya yaitu atonia uteri, retensio plasenta, perlukaan sukar sembuh,
gangguan involusi uteri, dan kematian ibu yang tinggi. Akan tetapi pada
pasien ini tidak mengalami hal-hal seperti diatas, pasien dalam keadaan
sehat, tidak terjadi perdarahan, proses kelahiran berjalan baik, dan setelah
diberi transfusi darah saat postpartum kondisi pasien kembali membaik,
kadar hemoglobin pasien juga kembali normal. Hal ini dikarenakan pasien
segera ditangani, serta diberi terapi yang tepat dan sesuai, sehingga keadaan
yang tidak diinginkan dapat dicegah.

20