Anda di halaman 1dari 11

TEORI-TEORI DASAR SOSIOLOGI DAN PARA TOKOH-TOKOHNYA

oleh : Asep Sunandar

A.

PENDAHULUAN
Istilah teori sosiologi

memiliki

arti

dan

penggunaan

yang

beraneka

ragam.Keanekaragaman sedemikian ini sering membingungkan para sosiolog dan orang-orang


yang mempelajari ilmu sosiologi, karena antara dua orang atau lebih mungki saja tidak sepaham
mengenai arti teoretis dari sebuah ide (pemikiran).Kesalahpahaman sedemikian ini menyebabkan
sesuatu ide tertentu bisa hilang atau salah diinterpretasikan.Oleh karena ini adalah bijaksana
kalau kita mencoba memahami secara sungguh-sungguh aneka ragam istilah teori dalam
sosiologi.
Dahulu, biasanya teori-teori muncul sebagai suatu hasil dari upaya orang untuk
memahami suatu hal yang merupakan teka-teki baginya.Teori-teori itu tumbuh Karena adanya
masalah pokok yang kita namakan problem-problem praktis.
Teori adalah alat untuk memahami kenyataan.Teori sebagai alat untuk menyatakan hubungan
sistematik antara fenomena atau gejala yang hendak diteliti.Pernyataan ini mengandung arti
bahwa teori selalu lahir dari kenyataan dan selalu diuji pula dalam kenyataan.
Kalau demikian halnya, teori sosiologi selalu lahir dari kenyataan sosiologi. Dia akan merupakan
refleksi dari keadaan masyarakat yang digambarkannya. Karena pada kenyataannya tidak ada
masyarakat yang tidak mengalami perubahan, maka teori-teori sosiologi juga tidak ada yang
tidak mengalami perubahan. Dia akan tumbuh, berkembang seiring dengan perkembangan
masyarakat itu sendiri. Seiring perkembangan realitas yang ada di masyarakat.
B.

PEMBAHASAN

I. Perkembangan Teori Sosiologi di Prancis


a)

AUGUSTE COMTE (1798-1857)


Comte merupakan orang pertama yang menggunakan kata sosiologi dalam upaya

mempelajari tentang perilaku manusia.Meskipun Comte yang memberikan istilah positivis,


gagasan yang terkandung dalam kata itu bukan dari dia asalanya.Kaum positivis percaya bahwa
masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa metode-metode penelitian empiris dapat
dipergunakan untuk menemukan hukum-hukumnya.Comte melihat masyarakat sebagai suatu

keseluruhan organic yang kenyataannya lebih dari pada sekedar jumlah bagian-bagian yang
saling tergantung, tetapi untuk mengerti kenyataan ini.
Comte berpendirian bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa
memperoleh pengetahuan tentang masyarakat menunutut penggunaan metode-metode penelitian
empiris dari ilmu-ilmu alam lainnya, merupakan sumbangannya ang tak terhingga nilanya
terhadap perkembangan sosiologi. Comte melihat perkembangan ilmu tentang masyarakat yang
bersifat alamiah ini sebaga puncak suatu proses kemajuan intelektual yang logis melalui semua
ilmu-ilmu lainnya.
Social statics dan social dynamics
Comte membagi sosiologi menjadi dua bagian, yaitu apa yang disebut dengan social
statics dan social dynamics. Dengan social statics dimaksudkannya sebagai suatu studi tentang
hokum-hukum aksi dan reaksi antara bagian-bagian dari suatu system social. Bagian yang paling
penting dari sosiologi menurut Comte adalah apa yang disebutnya dengan social dynamics, yang
didefinisikannya sebagai teori tentang perkembangan dan kemajuan masyarakat manusia.1
Social statics dimaksudkan Comte sebagai teori tentang wajib daar masyarakat.Sekalipun social
statics merupakan bagian yang lebih elementer dalam sosiologi tetapi kedudukannya tidak begitu
penting dibandingkan social dynamic.Fungsi dari social static adalah untuk mencari hokumhukum tentang aksi dan reaksi dari pada berbagai bagian di dalam suatu system social.2
Hukum Tiga Tahap
Hukum tiga tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner
ummat manusia dari masa primitive sampai ke peradaban Prancis abad ke Sembilan belas yang
sangat maju. Hokum ini menjelaskan bahwa masyarakat-masyarakat (atau manusia) berkembang
melalui tiga tahap utama, tahap-tahap ini ditentukan menurut cara berpikir yang dominan:
teologis, metafisik, dan positif.
Tahap teologis merupakan periode yang paling lama dalam sejarah manusia, dan untuk analisa
terperinci maka Comte membaginya kedalam periode fetisisme, politeisme dan monoteisme.
Tahap metafisik terutama merupakan tahap transisi antara tahap teologis dan positif. Tahap ini
ditandai oleh satu kepercayaan akan hokum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan
dengan akal budi.

1Hotman M. Siahaan, Pengantar Ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi, (Yogyakarta: IKAPI, 1997), hal: 104-105
2Ibid, hlm 111

Tahap positif ditandai oleh kepercayaan akan data empiris sebagai data pengetahuan terakhir.
Tetapi pengetahuan

selalu

sementara

sifatnya,

tidak

mutlak;

semangat

positivisme

memperlihatkan suatu keterbukaan terus-menerus terhadap data baru atas dasar mana
pengetahuan dapat ditinjau kembali dan diperluas.3

b)

EMILE DURKHEIM (1858-1917)

Kenyataan Fakta Sosial


Asumsi umum yang paling fundamental yang mendasari pendekataan Durkheim terhadap
sosiologi adalah bahwa gejala social itu riil dan mempengaruhi kesadaran individu serta
perilakunya yang berbeda dari karakteristik psikologis, biologis, atau karakteristik individu
lainnya.Lebih lagi karena gejala social merupakan fakta yang riil, gejala-gejala itu dapat
dipelajar dengan metode-metode empiric, yang memungkinkan satu ilmu sejati tentang
masyarakat dapat dikembangkan.
Di dalam bab petama dari Rules, Durkheim mendifinisikan fakta social sebagai cara-cara
bertindak, berpikir dan merasa, yang berada diluar indiidu dan dimuati dengan sebuah kekuatan
memaksa, yang karenanya hal-hal itu mengontrol individu itu. Fakta social, menurut
pendapatnya, berada diluar diri individu dalam arti bahwa fakta itu dating kepadanya dari
diluar dirinya sendiri dan menguasai tingkah lakunya.4 Karena itu, para ilmuan social pasti
memperlakukan fakta social sebagai benda-benda dengan cara yang sama seperti ilmuan-ilmua
alam memperlakukan objek-objek fisis yang kenyataannya harus mereka terima dan jelaskan.
Karakteristik Fakta Sosial
Bagaimana gejala social itu benar-benar dapat dibedakan dari gejala yang benar-benar
individual? Durkheim mengemukakan dengan tegas tiga karakteristik yang berbeda: Pertama,
gejala social bersifat eksternal terhadap individu. Karakteristik fakta social yang Kedua adalah
bahwa fakta itu memaksa individu. Jelas bagi Durkheim bahwa individu dipaksa, di bimbing,
diyakinkan, didorong atau dengan cara tertentu di pengaruhi oleh pelbagai tipe fakta social dalam
lingkungan sosialnya.

3Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik Dan Modern, pent, Robert M.Z. Lawang (Jakarta:

PT. Gramedia Pustaka Utama, 1994). Hlm. 84-85


4Tom Campbel, Tujuh Teori Social, pent, Budi Hardiman, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm.
168

Karakteristik fakta social yang ketiga adalah bahwa fakta itu bersifat umum atau tersebar secara
meluas dalam suatu masyarakat. Dengan kata lain, fakta social itu merupakan milik bersama
bukan sifat individu perorangan. Sifat umumnya ini bukan sekedar hasil dari penjumlahan
beberapa fakta individu. Fakta social benar-benar bersifat kolektif, dan pengaruhnya terhadap
individu merupakan hasil dari sifat kolektifnya ini
Fakta social material dan nonmaterial
Durkheim membedakan dua tipe ranah fakta social, yaitu material dan nonmaterial. Fakta
material diwakili oleh gaya arsitektur, bentuk teknologi, hokum dan perundang-undangan.
Memang relative mudah di pahami karena keduanya bisa diamati secara langsung.
Durkheim mengakui bahwa fakta social nonmaterial memiliki batasan tertentu, ia ada dalam
pikiran manusia. Akan tetapi dia yakin bahwa ketika orang memulai berinteraksi secara
sempurna, maka interaksi itu akan mematuhi hukumnya sendiri. Durkheim membagi fakta social
nonmaterial menjadi empat jenis; Moraitas, kesadaran kolektif, representasi kolektif dan arus
social.

II.

Perkembangan Teori Sosiologi di Jerman

a)

KARL MARX (1818-1883)

Alienasi
Analisa Marx tetang alenasi merupakan respons terhadap perubahan ekonomis, social, dan politis
yang dia lihat di sekelilingnya.Dia tidak ingin memahami alienasi sebagai suatu masalah
filosofis. Dia ingin memahami perubahan semacam apa yang dibutuhkan untuk membuat suatu
masyarakat bias mengekspresikan potensi kemanusiannya secara memadai. Berkaitan dengan hal
ini, Marx mengembangkan suatu pengertian penting; Sistem ekonomi kapitalis adalah sebab
utama alienasi.
Alienasi terdiri dari empat unsure dasar.Pertama, para pekerja di dalam masyarakat kapitalis
teralienasi dari aktifitas produktif mereka.Kaum pekerja tidak memproduksi objek-objek
berdasarkan ide-idenya mereka sendiri atau untuk secara langsung memenuhi kebutuhankebutuhan mereka sendiri.
Kedua, pekerja tidak hanya teralienasi dari aktivitas-aktivitas produktif, akan tetapi juga dari
tujuan aktivitas-aktivitas tersebut. Produk kerja mereka tidak menjadi milik mereka sendiri,

melainkan menjadi milik para kapitalis yang mungkin saja menginginkan cara-cara yang mereka
inginkan.
Ketiga, para pekerja di dalam kapitalisme teralienasi dari sesame pekerja. Asumsi Marx adalah
bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan dan menginginkan bekerja secara kooperatif untuk
mengambil apa yang mereka butuhkan dari alam untuk terus bertahan.
Keempat, para pekerja dalam masyarakat kapitalis teralienasi dari potensi kemanusiaan mereka
sendiri. Kerja tidak lagi menjadi transformasi dan pemenuhan sifat dasar manusia kita, akan
tetapi membuat kita merasa kurang menjadi manusia dan kurang menjadi diri kita sendiri.5
Teori Konflik
Teori konflik melihat elemen-elemen dan komponen-komponen dalam masyarakat merupakan
suatu persaingan dengan kepentingan yang berbeda sehingga pihak yang satu selalu berusaha
menguasai pihak yang lain. Pihak yang kuat berusaha menguasai pihak yang lemah.Dengan
demikian konflik menjadi tak terhindarkan.Asumsi dasar teori konflik adalah.
a.

Struktur dan jaringan dalam masyarakat merupakan persaingan antar

kepentingan dan bahkan saling bertentangan satu sama lain.


b. Sehingga dalam kenyataan menunjukkan bahwa system sosial dalam
masyarakat menimbulkan konflik.
c.

Karena konflik adalah sesuatu yang tak terelak, maka konflik menjadi

salah satu cirri dari system sosial.


d. Konflik ini tampak dalam kepentingan-kepentingan dalam kelompok
kelompok masyarakat yang berbeda-beda.
e.

Selain itu konflik juga terjadi dalam pembagian sumber-sumber daya

dan kekuasaan yang tidak merata dan tidak adil.6


Sehingga konflik menungkinkan terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat. Dan
perubahan yang akan terjadi tentu saja perubahan ke arah yang lebih baik atau bisa juga
sebaliknya.
Pertentangan Kelas (Teori Kelas)

5George Ritzer, Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi, (Bantul: Kreasi Wacana, 2010), hlm. 55-

56
6Peter Worsley, Pengantar Sosiologi: Sebuah Pembanding, pent, Hartono Hadikusumo,

(Yogyakarta: PT: Tiara Wacana Yogya, 1992), hlm. 177

Teori kelas dari Marx berdasarkan pemikiran bahwa: sejarah dari segala bentuk masyarakat dari
dulu hingga sekarang adalah sejarah pertikaian antar golongan. Menurut pandangannya, sejak
masyarakat manusia mulai dari bentuknya yang primitive secara relative tidak berbeda satu sama
lain.
Analisa Marx selalu mengemukakan bagaimana hubungan antar manusia terjadi dilihat dari
hubungan antara posisi masing-masing terhadap sarana-sarana produksi, yaitu dilihat dari usaha
yang berbeda dalam mendapatkan sumber-sumber daya yang langka.
Ada dua macam kelas yang ditemukan Marx ketika menganalisi kapitalisme: yaitu kelas borjuis
dan kelas proletar. Kelas borjuis merupakan nama khusus untuk para kaum kapitalis dalam
ekonomi modern. Mereka memiliki alat-alat produksi dan mempekerjakan pekerja upahan.
Pertentangan antara konflik antar kelas borjuis dan kelas proletar adalah contoh lain dari
kontradiksi antara kerja dan kapitalisme.7

b)

MAX WEBER (1864-1920)

Tindakan Sosial
Keseluruhan sosiologi Weber didasarkan pada pemahamannya tentang tindakan social.Ia
membedakan tindakan dengan perilaku yang murni reaktif. Mulai sekarang konsep perilaku
dimaksudkan sebagai perilaku otomatis yang tidak melibatkan proses pemikiran. Bagi Weber,
sosiologi adalah suatu ilmu yang berusaha memahami tindakan-tindakan social dengan
menguraikannya dengan menerangkan sebab-sebab tindakan tersebut.8
Bagi Weber cirri yang mencolok dari hubungan-hubungan social yang menyusun sebuah
masyarakat dapat dimengerti hanya dengan mencapai sebuah pemahaman mengenai segi-segi
subjektif dari kegiatan-kegiatan antar pribadi dari para anggota masyarakat itu. Oleh karena itu
melalui analisis atas berbagai macam tindakan manusialah kita memperoleh pengetahuan
mengenai cirri dan keanekaragaman masyarakat-masyarakat manusia.9
Dalam teori tindakannya, tujuan Weber tak lain adalah memfokuskan perhatian pada individu,
pola dan regularqitas tindakan, dan bukan pada kolektivitas. Tindakan dalam pengertian orientasi

7Ibid, hlm. 65
8Peter Beilharz, Teori-Teori Social, pent, Sigit Jatmiko, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003),
9Tom Campbel, Tujuh Teori Social, hlm. 199

perilaku yang dapat dipahami secara subjektif hanya hadir sebagai perilaku seorang atau
beberapa orang manusia individual.
Weber memisahkan empat tindakan social di dalam sosiologinya, yaitu apa yang disebut:
a.

Zweck Rational (Rasionalitas instrumental), yaitu tindakan social yang menyandarkan diri

kepada pertimbangan-pertimbangan manusia yang rasional ketika menanggapi lingkungan


eksternalnya. Dengan perkataan lain zweck rational adalah suatu tindakan social yang ditujukan
untuk mencapai tujuan semaksial mungkin dengan menggunakan dana serta daya seminimal
mungkin.
b.

Wert Rational (Rasionalitas yang berorientasi nilai), yaitu tindakan social yang rasional,

namun yang mendasarkan diri kepada suatu-suatu nilai absolute tertentu. Nilai-nilai yang
dijadikan sandaran ini bisa nilai etis, estetika, keagamaan atau pula nilai-nilai lain. Jadi di dalam
tindangan berupa wert ration ini manusia selalu menyandarkan tindakan yang rasional pada suatu
keyakinan terhadap suatu nilai tersebut.
c.

Affectual (tindakan afektif), yaitu suatu tindakan social yang timbul karena dorongan atau

motivasi yang sifatnya emosional. Ledakan kemarahan seseoang misalnya, atau ungkapan rasa
cinta, kasihan, adalah contoh dari tindakan affectual.
d.

Tradisional, yaitu tindakan social yang didorong dan berorientasi kepada tradisi masa

lampau. Tradisi di dalam pengertian ini adalah suatu kebiasaan bertindak yang berkembang di
masa lampau.Mekanisme tindakan semacam ini selalu berlandaskan hukum-hukum normative
yang telah ditetapkan secara tegas-tegasan oleh masyarakat.10

c)

GEORGE SIMMEL (1858-1918)

Teori Pertukaran Nilai


Teori ini berangkat dari asumsi dasar do ut des artinya saya memberi supaya engkau juga
memberi. Menurut Goerge Simmel peletak toeri ini, semua kontak di antara manusia bertolak
dari skema memberi dan memdapatkan kembali dalam jumlah yang sama. Pendukung teori ini
merumuskan ke dalam lima proposisi yang saling berhubungan satu sama lain. Dalam setiap
tindakan, semakin sering suatu tindakan tertentu memperoleh ganjaran atau upah atau manfaat,
maka semakin sering orang tersebut akan melakukan tindakan yang sama. Misalnya, seseorang

10Hotman M. Siahaan, Pengantar Ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi, hlm. 200

akan meminta nasihat pada seorang psikiatris, kalau ia merasa bahwa nasehat orang itu sangat
berguna baginya.11
Jika di masa lalu ada stimulus yang khusus atau satu perangkat stimulus yang merupakan
peristiwa di mana tindakan seseorang mempeoleh ganjaran, maka semakin stimuli itu mirip
dengan stimuli masa lalu, semakin besar kemungkinan orang itu melakukan tindakan serupa.
Contoh, seorang nelayan menebar jala di laut yang dalam dan gelap dan menangkap banyak ikan,
maka ia cenderung melakukan hal yang sama kemudiannya.
Semakin tinggi nilai suatu tindakan, maka semakin senang seseorang melakukan tindakan itu.
Misalnya, apabila bantuan yang saya berikan kepada orang itu bernilai, maka kemingkinan besar
saya akan melakukan tindakan yang sama lagi. Sebaliknya bila bantuan kurang bernilai, tidak
mungkin diulangi lagi.
Semakin sering seseorang menerima satu ganjaran dalam waktu yang berdekatan, maka semakin
kurang bernilai ganjaran tersebut.Di sini unsure waktu memainkan peranan penting. Misalnya,
apabila seseorang menerima pujian dari orang yang sama dalam waktu yang berdekatan, maka
semakin kurang bernilai pujian itu baginya.
Bila tindakan seseorang tidak memperoleh ganjaran yang diharapkan atau menerima hukuman,
maka ia menjadi marah atau kecewa. Sebaliknya bila seseorang menerima ganjaran yang lebih
besar dari apa yang ia harapkan, maka ia merasa senang dan lebih besar kemungkinan ia
melakukan perilaku yang disenanginya.
Uang Dan Nilai
Secara umum Simmel berpendapat bahwa orang menciptakan nilai dengan menciptakan objek,
memisahkan dirinya dari objk-objek tersebut, dan selanjutnya berusaha mengatasi jarak, kendala
dan kesulitan.Semakin besar kesulitan untuk mendapatkan suatu objek maka semakin besar pula
nilainya.Prinsup umumnya adalah bahwa nilai benda berasal dari kemampuan orang untuk
menjarakkan dirinya secara tepat dengan objeknya.Benda-benda yang terlalu dekat, terlalu
mudah diperoleh, dan tidak terlalu berharga perlu upaya tertentu untuk agar dianggap
bernilai.Sebaliknya, benda-benda yang terlalu jauh, terlalu sulit, atau nyaris diperoleh juga

11Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi Klasik Dan Modern, hlm. 252

sangat tidak bernilai.Benda-benda yang menghalangi sebagian besar, jika tidak semua, upaya
untuk memperolehnya semakin tidak bernilai di mata kita.12
Dalam konteks umum nilai inilah Simmel mendiskusikan uang.Dalam ranah ekonomi, uang
berperan dalam menciptakan jarak dengan objek yang ditawarkan diri jadi sarana untuk
mengatasi jarak tersebut.Nilai uang yang melekat pada objek dalam ekonomi modrn
menyebabkan kita berjarak darinya; kita tidak dapat memperolehnya tanpa uang.Kesulitan untuk
mendapatkan uang dan objek-objek tersebut menjadikannya bernilai bagi kita. Pada saat yang
sama, sekali kita dapat uang yang banyak maka kita mampu mengatasi jarak antara diri kita
dengan objek. Dengan demikian uang memiliki fungsi yang unik, menciptakan jarak antara
orang denga objk dan kemudian menjadi sarana untuk mengatasi jarak tersebut.

12George Ritzer dan Douglas J.Goodman, Teori Sosiologi, hlm. 189

Diposkan oleh HMJ Aqidah Filsafat IAIN Sunan Ampel di 11.03

KESIMPULAN
Dari penjelasan yang sangat detail dan rumit diatas maka teori-teori sosiologi dasar bisa
disimpulkan menjadi sangat mudah sebagai berikut:
Nama tokoh

Auguste Comte

Emile Durkheim

Masa Dedikasi

Prancis 1798-1857

Prancis 1858-1917

Teori-teorinya
Social statics dan social
dynamics
Hukum Tiga Tahap
Kenyataan Fakta Sosial
Karakteristik Fakta Sosial
Fakta social material dan
nonmaterial

Karl Marx

Jerman 1818-1883

Alienasi
Teori Konflik
Pertentangan Kelas (Teori
Kelas)

Max Weber

Jerman 1864-1920

Tindakan Sosial

George Simmel

Jerman 1858-1918

Teori pertukaran nilai


Uang Dan Nilai

DAFTAR PUSTAKA

Beilharz Peter, 2003, Teori-Teori Social, pent, Sigit Jatmiko, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Campbel Tom, 2001, Tujuh Teori Social, pent, Budi Hardiman, Yogyakarta: Kanisius.

Johnson Doyle Paul, 1994, Teori Sosiologi Klasik Dan Modern, pent, Robert M.Z. Lawang,

Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

M. Siahaan Hotman, 1997, Pengantar Ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi, Yogyakarta:

IKAPI.

Ritzer George, J. Goodman Douglas, 20100 Teori Sosiologi, Bantul: Kreasi Wacana.
Worsley Peter, 1992 Pengantar Sosiologi: Sebuah Pembanding, pent, Hartono

Hadikusumo, Yogyakarta: PT: Tiara Wacana Yogya.