Anda di halaman 1dari 5

BAB 6

PEMBAHASAN POTENSI PANAS BUMI DAERAH PENELITIAN

6. 1 Hilang Panas Alamiah


Dalam penentuan potensi panas bumi disuatu daerah diperlukan perhitungan kehilangan
panas alamiah. Hal ini perlu dilakukan karena dalam suatu sistem geotermal, adanya manifestasi
permukaan berupa mata air panas (hot spring), kolam lumpur (mud pool), fumarola, solfatara,
tanah uap (steaming ground), tanah panas (hot ground), dll, adalah suatu hal yang wajar, akibat
dari adanya struktur geologi yang berkembang di sistem geotermal yang ada. Keberadaan
manifestasi tersebut berguna sebagai indikasi awal suatu sistem geotermal. Selain itu, adanya
manifestasi ini juga akan mengurangi cadangan panas yang ada di reservoar karena manifestasi
tersebut merupakan media keluarnya panas yang ada di reservoar menuju permukaan. Hilangnya
panas yang ada akan mempengaruhi besar kecilnya potensi panas bumi suatu daerah. Hilang
panas alamiah dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
Q = m*(hfT hfT 0 ) m*c*(T s T ud )
Keterangan:
Q = besarnya hilang panas alamiah
m = aliran massa fluida = debit fluida x massa jenis fluida ( fluida )
hfT hfT 0 = hf = eltalpi fluida
c = kapasitas panas spesifik (untuk air, nilai rata-ratanya: 4,2 kJ/kg.K
T s = temperatur terukur di permukaan air panas
T ud = temperatur udara bebas
Tabel 6.1 Perhitungan hilang panas alamiah

Lokasi
APT
APL
APPB
APK

Debit air
(liter/det)
3.0
2.0
0.5
0.5

Ts
( C)

T ud
(oC)

Q
(kW)

88
74
50
73

29
31
29
28
Total =

743.4
361.2
44.1
94.5
1243.2

55

Dari tabel perhitungan hilang panas alamiah di atas, didapat bahwa besar kehilangan
panas alamiah pada daerah Bonjol sebesar 1243.2 kW 1 MWe.
6.2 Sumber Panas
Sumber panas (heat sources) merupakan salah satu komponen utama dalam suatu sistem
panas bumi. Hal ini menyebabkan penentuan sumber panas dari suatu daerah panas bumi
menjadi penting untuk dilakukan. Penentuan sumber panas pada daerah Bonjol didasarkan pada
kenampakan geologi dan hasil survei metode gravitasi.
Asumsi pada metode gravitasi adalah keberadaan anomali positif pada daerah penelitian
yang menunjukkan keberadaan batuan dengan nilai densitas yang besar yang berperan sebagai
sumber panas. Pada peta penyebaran anomali residual (sisa) Bonjol, perkiraan zona potensi
sumber panas pada daerah Bonjol berada pada bagian tengah daerah penelitian, di bawah Satuan
Lava Tua (Tmv). Sumber panas ini juga berada di bawah sesar normal Takis. Kedalaman dari
sumber panas didasarkan pada penampang gravitasi daerah Bonjol dan diperkirakan mencapai 3
kilometer.
Metode gravitasi tidak dapat menentukan litologi dari sumber panas tersebut secara pasti.
Berdasarkan kenampakan pada peta geologi, penulis memperkirakan bahwa sumber panas yang
daerah Bonjol adalah intrusi batuan beku berkomposisi andesitik yang merupakan magma sisa
hasil dari pusat erupsi Bukit Gajah yang terjadi pada zaman Kuarter (Pusat Sumberdaya Geologi,
2007). Ini dikarenakan letak anomali positif tersebut berada di sekitar Bukit Gajah.

6.3 Zona Reservoar dan Batuan Penutup


Reservoar dan batuan penutup merupakan komponen-komponen utama lainnya dalam
suatu sistem panas bumi. Penentuan zona reservoar dan batuan penutup pada daerah Bonjol
didasarkan pada kenampakan geologi dan hasil survei metode resistivitas.
Penentuan zona penutup adalah daerah yang memiliki nilai resistivitas rendah (<10 m)
berdasarkan hasil survei metode resistivitas. Adapun zona reservoar panas bumi diasumsikan
berada di bawah zona batuan penutup dan ketebalan dari zona batuan penutup dan reservoar
tidak dapat ditentukan secara pasti.
Hasil pemetaan resistivitas semu daerah Bonjol (gambar 4.9, 4.10, 4.11, dan 4.12)
memperlihatkan bahwa zona reservoar dan batuan penutup daerah Bonjol mengambil tempat di
56

bagian tengah daerah penelitian, tepatnya di zona depresi Bonjol. Berdasarkan penampang
geologi daerah Bonjol, reservoar panas bumi diperkirakan batuan vulkanik tua (Satuan Lava Tua
dan Satuan Lava Bukit Malintang) yang kaya akan rekahan sehingga bersifat permeabel.
Hasil dari penampang resistivitas (gambar 4.13, 4.14, dan 4.15) menunjukkan bahwa
zona batuan penutup dimulai pada ketinggian 320 meter dari permukaan laut. Hasil dari
penampang resistivitas line E4000-E5000-E6050 dan F4500-F5200-F6000 juga merekam jejak
dari sesar normal Padang Baru yang terkubur di bawah permukaan. Hasil ini menunjukkan
bahwa penyebaran area dengan nilai resistivitas rendah dipengaruhi oleh struktur sesar yang ada
di daerah penelitian. Struktur sesar yang ada di daerah penelitian memungkinkan fluida
hidrotermal naik dan menyebabkan batuan yang dilaluinya berubah menjadi lempung
hidrotermal yang dapat bertindak sebagai batuan penutup sistem panas bumi.

6.4 Fluida dan Temperatur Reservoar


Dari plot diagram segitiga Terner Cl-SO 4 -HCO 3 , didapatkan bahwa mata air panas Takis,
Limau, dan Kambahan merupakan tipe air klorida. Sedangkan mata air panas Padang Baru
cenderung termasuk ke dalam tipe campuran air klorida dan bikarbonat (dilute Cl - HCO 3
waters). Menurut Nicholson (1993), tipe dilute ini umumnya terdapat pada mata air panas sistem
panas bumi bertemperatur rendah yang umumnya terbentuk akibat pencampuran air formasi dan
air meteorik.
Dalam penentuan temperatur reservoar panas bumi daerah Bonjol, ada 2 metode
geotermometer yang digunakan, yaitu: metode geotermometer silika (kuarsa adibatik dan kuarsa
konduktif) dan geotermometer Na-K-Mg. Dari hasil kedua metode yang digunakan untuk
menghitung temperatur reservoar, maka disimpulkan bahwa temperatur reservoar panas bumi
daerah Bonjol berada pada kisaran 180oC.

6.5 Sistem Panas Bumi


Sistem panas bumi daerah Bonjol menurut Goff dan Janik (2000) adalah sistem panas
bumi yang berasosiasi dengan vulkanisme Kuarter dan intrusi magma. Sistem ini umumnya
mempunyai temperatur 370oC dan kedalaman reservoir 1,5 km. Sistem panas bumi Bonjol
adalah sistem terbuka (cyclic system) yang bersuhu sedang (T reservoar 125o-225oC) (Hochstein dan
Browne, 2000).
57

6.6 Estimasi Energi Panas Bumi


Dengan didapatnya temperatur reservoar dan nilai densitas rata-rata dari batuan-batuan
yang terdapat di daerah penelitian maka dapat diperkirakan besarnya energi panas bumi yang
dapat dihasilkan.
Proses perhitungannya sebagai berikut:

Q Total = Q Fluida + Q Batuan


Q Fluida = df * cf * * V * (T Res T cut off )
Q Batuan = dr * cr * * V * (T Res T cut off )
QWe = (Q Total * Rf * Konversi Kelistrikan) / t
Keterangan:
df : densitas fluida (kg/km3)
cf : kapasitas panas fluida (kJ/kg.K)
: porositas (%)
V : volume reservoar (km3)
dr : densitas batuan (kg/km3)
cr : kapasitas panas batuan (kJ/kg.K)
T res : temperatur reservoar (oC)
Rf : recovery factor
t : life time (detik)

Diasumsikan bahwa saturasi air 100%, porositas 10%, konversi kelistrikan 10%, recovery
factor 50%, dan life time mencapai angka 30 tahun atau 9,5 x 108 detik, luas daerah prospek
reservoar 7,5 km2 (didapatkan dari hasil pemetaan resistivitas semu AB/2 = 1000 meter), tebal
reservoar 1000 meter, dan faktor konversi tenaga termal ke tenaga listrik sebesar 0,1.
Data- data yang diketahui, yaitu:
df = 8 x 1011 kg/km3
cf = 4,2 kJ/kg.K
dr = 26,5 x 1011 kg/km3
cr = 0.8 kJ/kg.K
V = 7,5 km3
T Res = 180oC
58

Tcut off = 120oC

Maka:
Q Fluida = 1,5 x 1014 kJ
Q Batuan = 8,6 x 1014 kJ
Q Total = 10,1 x 1014 kJ
QWe = 53158 kWe 53 MWe
Berdasarkan hasil perhitungan estimasi energi panas bumi, energi panas bumi yang dapat
dihasilkan oleh daerah panas bumi Marana ditaksir mencapai 53 MWe.

6.7 Model Konseptual Panas Bumi


Berdasarkan hasil pengolahan dan interpretasi data-data yang telah dilakukan, maka
dihasilkan model konseptual panas bumi seperti yang terlihat pada gambar 6.1.

Gambar 6.1 Model konseptual sistem panas bumi Bonjol


(dimodifikasi dari PSDG, 2007)

59