Anda di halaman 1dari 12

PEMBUATAN BIODIESEL DARI MIKROALGA

Botryococcus braunii

MAKALAH

Dibuat untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti Mata Kuliah


Laboratorium Unit Proses Teknik Kimia
Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik UniversitasSriwijaya

OLEH:
KELOMPOK 1
Nella Febriani

( 03111403008 )

Mahadhika Keshawa

( 03111403013 )

Nyimas Ulfatry Utami

( 03111403021 )

Dwita Lestari

( 03111403037)

Manat PL Hutajulu

( 03111403051 )

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

KATA PENGANTAR

Pujisyukur

kami

panjatkankehadiratTuhan

MahaEsaatasberkatrahmatdankarunia-Nya,

kami

Yang

dapatmenyelesaikanmakalah

yang berjudul Produksi Biodiesel Dari MikroalgaBotryococcus braunii.


Makalahinidisusununtukmenambahpemahamankhususnyatentang
Teknik

Kimia

di

bidangpembuatan

Methyl

Unit

Ester.

Proses
Selainitu,

makalahinidibuatuntukmemenuhi tugaspraktikum Unit Proses Teknik Kimia.


Dalampenyusunanmakalahini,

kami

mengucapkanterimakasihkepadasemuapihak

yang

telahmembantudalammenyelesaikanmakalahini, khususnya untuk asisten-asisten


Laboratorium

Unit

Proseskarenadenganbimbingannya

kami

dapatmemahamiproses pembuatan Methyl Ester juga pengaplikasiannya dalam


kehidupan sehari-hari.
Kami menyadaribahwamakalahinimasihjauhdarisempurna. Olehkarenaitu,
kritikdan saran darisemuapihak yang bersifatmembangunselalu kami harapkan
demi kesempurnaanmakalah. Semogamakalahinidapatbermanfaatbagikitasemua.

Palembang, Oktober 2014

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Krisis energi yang sedang melanda saat ini merupakan masalah yang harus
segera

ditanggulangi,

oleh

karena

kebutuhan

energi

yang

semakin

meningkatmenyebabkan sumber energi semakin berkurang.Eksploitasi secara


terus-menerus terhadap bahan bakar fosil yang merupakan energi yang tidak dapat
diperbaharuiuntuk

konsumsi

industri,

transportasi,

dan

rumah

tangga

mengakibatkan keberadaannya di alam semakin menipis.


Di sisi laindengan perkembangan ekonomi dan industri mengakibatkan
semakin besarnya konsumsi masyarakatIndonesia terhadap produk dari minyak
bumi. Tingkat konsumsi terhadap minyak rata-rata naik 6 % pertahun. Jika
Indonesia tidak bersiap maka pada tahun 2012 Indonesia akan menjadi net oil
importer. Danpada tahun2022 akan menjadi total oil importer karena
persediaanminyaknya habis sama sekali.
Salah

satubahanbakar

alternatif

yang

dikembangkanadalah

biodiesel.Bahan bakar ini diharapkan secara bertahap akan mengurangiperan


solar.Biodiesel merupakan bahan bakar dari minyak nabati maupun lemak hewan
yangmemiliki sifat menyerupai minyak diesel. Biodiesel terdiri dari monoalkyl
ester yang dapat terbakar dengan bersih.
Keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesiadapatdimanfaatkan untuk
menghasilkan

minyak

yangdapat

biodiesel.Salah

satunya

protein,

triacyglicerol

dan

biodiesel.Kandungan

dijadikan

sebagai

bahanpembuatan

adalahmikroalgayangmemilikikandungankarbohidrat,

minyak

yangmerupakan
dalam

alga

bahan
bervariasi

baku

pembuatan

tergantung

jenis

alganyanamun secara keseluruhan antara 20%-50%.


Mikroalga sedang dikembangkan sebagai penghasil biodiesel yang
dapatdiandalkan menggantikan bahan bakar minyak yang bersumber dari
fosil.Beberapa hasilpenelitian melaporkan bahwa spesies mikroalga seperti
Botryococcus braunii dapatmenghasilkan kandungan minyak sebesar 75% berat
kering. Kandungan minyak dari B. Brauniisebagian besar terdiri atas hidrokarbon

(1576% dari berat kering), yang disebut botryococcene.Jenis hidrokarbon ini


sangat potensial sebagai sumber energi biodiesel.
1.2.RumusanMasalah
1) Bagaimana prosesekstraksi minyak mikroalga Botryococcus braunii?
2) Bagaimana proses pemurnian biodiesel dari minyak mikroalga Botryococcus
braunii?
3) Bagaimana mutu dan kandungan minyak dari mikroalga Botryococcus
braunii??
1.3.Tujuan
1) Untuk memahami proses ektraksi minyak mikroalga Botryococcus braunii.
2) Untuk memahami pemurnian biodiesel dari minyak mikroalga Botryococcus
braunii.
3) Untuk mengetahui mutu dan kandungan minyak dari mikroalga Botryococcus
braunii
1.4.Manfaat
1) Dapat memahami proses ekstraksi minyak mikroalga Botryococcus braunii.
2) Dapat mengetahui proses pemurnian biodiesel dari minyak mikroalga
Botryococcus braunii.
3) Dapat mengetahui mutu dan kualitas minyak dari mikroalga Botryococcus
braunii.
1.5.Batasan Masalah
Batasan masalah adalah melingkupi proses ektraksi minyak mikroalga
Botryococcus braunii, proses pemurnian biodiesel dari minyak mikroalga
Botryococcus braunii, mutu dan kandungan minyak dari mikroalga Botryococcus
braunii.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Biodiesel
Indonesia memiliki beragam sumberdaya energi. Sumberdaya energi
berupa minyak, gas, batubara, panas bumi, air, dan sebagainya digunakan dalam
berbagai aktivitas pembangunan baik secara langsung ataupun diekspor untuk
mendapatkan devisa. Disisi lain, bahwa cadangan minyak yang dimiliki
Indonesia semakin terbatas karena merupakan produk yang tidak dapat
diperbaharui. Oleh sebab itu perlu dilakukan usaha-usaha untuk mencari bahan
bakar alternatif.
Ide penggunaan minyak nabati sebagai pengganti bahan bakar diesel
didemonstrasikan pertama kalinya oleh Rudolph Diesel ( tahun 1900). Penelitian
di bidang ini terus berkembang dengan memanfaatkan beragam lemak nabati dan
hewani untuk mendapatkan bahan bakar hayati (biofuel) dan dapat diperbaharui
(renewable). Perkembangan ini mencapai puncaknya di pertengahan tahun 80-an
dengan ditemukannya alkil ester asam lemak yang memiliki karakteristik hampir
sama dengan minyak diesel fosil yang dikenal dengan biodiesel.
Biodiesel adalah bahan bakar mesin diesel yang terbuat dari sumberdaya
hayati yang berupa minyak lemak nabati atau lemak hewani. Senyawa utamanya
adalah ester.Pembuatan biodiesel dari minyak nabati dilakukan dengan
mengkonversi trigliserida (komponen utama minyak nabati) menjadi metil ester
asam

lemak,

dengan

memanfaatkan

katalis

pada

proses

metanolisis/esterifikasimenghasilkan ester dan produk samping berupa gliserin


yang juga bernilai ekonomis cukup tinggi. Bahan baku biodiesel yang
dikembangkan bergantung pada sumber daya alam yang dimiliki suatu negara,
Indonesia mempunyai banyak sekali tanaman penghasil minyak lemak nabati,
salah satu diantaranya adalah dari mikroalga.
2.2.Mikroalga
Mikroalga

pada

umumnya

merupakan

tumbuhanrenik

berukuran

mikroskopik (diameter antara 3-30m) yang termasuk dalam kelas alga dan
hidupsebagai koloni maupun sel tunggal di seluruh perairantawar maupun laut.

Morfologi mikroalga berbentukuniseluler atau multiseluler tetapi belum


adapembagian fungsi organ yang jelas pada sel-selkomponennya. Hal itulah yang
membedakanmikroalga dari tumbuhan tingkat tinggi (Romimohtarto,2004).
Mikroalga diklasifikasikan menjadi empatkelompok antara lain: diatom
(Bacillariophyceae), algahijau (Chlorophyceae), alga emas (Chrysophyceae), dan
alga biru (Cyanophyceae) (Isnansetyo &Kurniastuty, 1995). Eryanto et al. (2003)
dalamHarsanto (2009) menyatakan bahwa penyebaranhabitat mikroalga biasanya
di air tawar (limpoplankton), dan air laut (haloplankton).
Mikroalga merupakan kelompok organisme yangsangat beragam dan
memiliki berbagai potensi yangdapat dikembangkan sebagai sumber pakan,
pangan,dan bahan kimia lainnya. Kandungan senyawa padamikroalga bervariasi
tergantung dari jenisnya, faktorlingkungan dan nutrisinya. Salah satu spesies
mikroalga yang cukup dikenalsebagai bahan biodiesel adalah Botryococcus
braunii.
Botryococcus braunii merupakan tanaman sel tunggal berwarnahijau,
banyak dijumpai di perairan danau, tambakataupun perairan payau sampai laut
(Metzger &Largeau, 2005). Kandungan klorofil (zat hijau daun)Botryococcus
braunii mencapai 1,52,8%, sehingga di permukaan perairan tampakberwarna
hijau-coklat kekuningan (Kabinawa, 2008).Botryococcus braunii memiliki inti sel
dengan

ukuran

1520

mdan

berkoloni,

bersifat

non

motil,

dan

setiappergerakannya sangat dipengaruhi oleh arus perairan(Kabinawa, 2008).

Gambar 1. Mikroalga Botryococcus braunii

2.3.Mikroalga sebagai Penghasil Biodiesel


Kandungan minyak mikroalga yang cukup tinggimerupakan salah satu
alasan pengembanganbiodiesel dari mikroalga oleh negara-negara maju diEropa,
selain alasan yang terkait dengan lingkungan.Komposisi asam lemak pada

mikroalga

yang

sangatbervariasi

menyebabkan

karakteristik

biodiesel

yangdihasilkan juga beragam.


Menurut Pratoomyot et al. (2005), keragamanspesies mikroalga akan
membuat

kandungan

asamlemak

pada

mikroalga

juga

bervariasi.

Penelitiannyalebih lanjut menunjukkan bahwa pada umumnyaterdapat perbedaan


kandungan asam lemak padamikroalga pada saat fase eksponensial dan fase
stationery.Asam lemak yang bervariasi pada mikroalga salahsatunya dapat
dimanfaatkan untuk biodiesel.
Biodieselmerupakan campuran dari alkali ether dan asam lemakyang
diperoleh dari proses transesterifikasi minyaknabati atau minyak hewani (Shahzad
et al., 2010).Bahan baku diesel adalah hidrokarbon yangmengandung 810 atom
karbon per molekulsementara hidrokarbon yang terkandung pada minyak nabati
rata-rata adalah 1620 atom karbon per molekulsehingga minyak nabati
viskositasnya lebih tinggi(lebih kental) dan daya pembakarannya sebagai
bahanbakar masih rendah (Mursanti, 2007). Oleh sebab ituagar minyak mikroalga
dapat digunakan sebagaibahan bakar (biodiesel) maka perlu dilakukan
prosestransesterifikasi.
2.4.Transesterifikasi Minyak
Transesterifikasi (disebut alkoholisis) adalah pertukaran antara alkohol
dengan suatu ester untuk membentuk ester lain pada suatu proses yang mirip
dengan hidrolisis, kecuali pada penggunaan alkohol untuk menggantikan air.
Proses ini telah digunakan secara luas untuk mengurangi viskositas trigliserida.
Reaksi transesterifikasi ditunjukkan pada oleh persamaan umum berikut ini:
RCOOR + ROH

RCOOR + ROH

2.5.Katalis Batu Gamping / CaO


Batu gamping merupakan batuan sedimen karbonat yang terdapat di alam.
Tampak luar bahan tambang batu gamping berwarna putih, putih kekuningan,
abu-abu hingga hitam. Berdasarkan determinasi bahan tambang batu gamping
merupakan salah satu bahan galian industri yang potensinya sangat besar.
Cadangan batu gamping di seluruh Indonesia diperkirakan lebih dari 28 milyar
ton yang tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia.

Gambar 2. Batu gamping

Menurut ilyas dkk (1985), batu gamping memiliki kandungan kimia yang
penting pada batu gamping adalah CaO, SiO2, Al2O3, H20, Fe203, Na20, MgO
dengan kadar CaO umumnya di atas 40%. Sifat fisik dari batu gamping antara lain
warna putih kotor, putih keabu-abuan sampai kuning keabu-abuan, Berbuih bila
dideteksi, massive, dan berat jenisya sekitar 2,60-2,70 g/ml.
2.6.Karakteristik Biodiesel dari Minyak Mikroalga
Biodiesel dari minyak mikroalga ini secara signifikan tidak jauh berbeda
jika dibandingkan dengan biodiesel yang diproduksi dari vegetable/plant oils yang
lain. Hal ini dikarenakan seluruh biodiesel secara utama dihasilkan dengan
menggunakan trigliserida. Berikut ini adalah beberapa karakteristik biodiesel
berbahan dasar mikroalga (Botryococcus braunii) :
1)

Mikroalga menghasilkan banyak polyunsaturated dimana dengan adanya

asam lemak polyunsaturated yang levelnya cukup tinggi ini cenderung bersifat
menurunkan stabilitas biodiesel. Akan tetapi, dengan adanya polyunsaturated ini,
biodiesel mikroalga mempunyai titik leleh yang lebih rendah daripada
monounsaturated dan unsaturated. Dengan memperhatikan sifat fisik tersebut,
yaitu titik leleh yang cukup rendah, maka seharusnya biodiesel mikroalga cukup
baik digunakan dalam cuaca yang dingin jika dibandingkan dengan biodiesel lain
yang secara umum memiliki performa yang buruk jika digunakan dalam
lingkungan yang dingin.
2)

Perbedaan yang paling signifikan adalah pada persen hasilnya (rendemen).

Rendemen dari mikroalga ini 200 kali lebih tinggi dari biodiesel yang terbaik
sekalipun.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan adalah Botryococcus braunii, batu gamping,
methanol absolute, kloroform, aquades. Alat yang digunakan seperangkat alat
gelas, seperangkat alat refluks, ayakan

120 mesh, pengaduk magnet, neraca

analitik, botol semprot,dan pengocok listrik (Shaker).


3.2.Metode Kegiatan
Metode

kegiatan

yang digunakan

adalah

metode

percobaan

di

laboratorium, di mana tahapan penelitian meliputi:


1) Preparasi dan ektraksi minyak mikroalgaBotryococcus braunii
2) Preparasi Katalis CaO
3) Perancangan sistem konversi biodiesel
4) Transesterifikasi Minyak mikroalgaBotryococcus braunii
3.3. Preparasi dan Ektraksi Minyak Mikroalga Botryococcus braunii
Alga yang dipanen dipisahkan dari air sehingga terbentuk bubur
botryococcus. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan larutan chloroform,
metanol, dan aquades dengan perbandingan 2:1:0,8. Bubur botryococcus dikocok
dengan larutan larutan chloroform, metanol, dan aquades hingga homogen, lalu
diaduk dengan kecepatan30-40 cm/detik selama 3-4 jam. Selanjutnya dimasukkan
ke dalam sonicator yang diset pada suhu 50-60C selama setengah jam lalu diputar
pada kecepatan 3.500rpm selama 15 menit. Proses itu membuat bahan yang
tadinya homogen membentuk 3 lapisan. Lapisan tengah minyak alga atau
trigliserida yang akan diproses lebih lanjut. Bagian bawah biomassa dan yang
paling atas campuran metanol dan air. Selanjutnya minyak dipisah dari metanol
air dan biomassa.
3.4. Preparasi Katalis CaO(Batu Gamping)
Batu gampingditumbuk untuk mendapatkan partikel berukuran 80 mesh
yang dilakukan dengan cara mengayak batu gampingdengan ayakan 80 mesh.

Partikel yang telah diayak digunakan sebagai sampel penelitian. Sampel


dikeringkan dalam oven pada temperatur 100oC.
3.5. Proses Pembuatan Biodiesel dan Pemurniannya
Pembuatan biodiesel dengan menggunakan proses transesterifikasi, yaitu
pemisahan trigliserida oleh alkohol menjadi asam lemak dan gliserol. Dalam
transesterifikasi ini katalis yang digunakan adalah CaO (Kalsium oksida). Proses
ini dimulai dengan memasukkan minyak alga dan alkohol pada tangki reaktor
yang kemudian dilakukan pengocokan dan pemanasan pada suhu 55-600C.
Setelah suhu mencapai 600C, dimasukkan katalis CaO dan didiamkan selama 2530 menit, kemudian larutan campuran disonikasi selama 30 menit pada suhu
600C. Setelah proses sonikasi berakhir, maka larutan dimasukkan ke dalam labu
pemisah dan diamkan selama 10-12jam. Dari proses tersebut akan terbentuk 2
lapisan, yaitu biodiesel pada lapisan atas, sedangkan lapisan bawah gliserol dan
metanol. Biodiesel dapat digunakan setelah dimurnikan dengan cara menguapkan
air yang masih bercampur.
3.6.Pemisahan Biodiesel Hasil Transesterifikasi
Campuran hasil reaksi transesterifikasi dipisahkan dengan menggunakan
ekstraksi padat cair. Campuran dipindahkan ke dalam corong pisah dan didiamkan
selama 1 jam sehingga terbentuk lapisan gliserol dan lapisan biodiesel. Lapisan
biodiesel dipisahkan dan dicuci beberapa kali dengan air pada pH netral. Air yang
terdistribusi dalam biodiesel dikeringkan dengan garam penarik air (MgSO4
anhidrid). Biodiesel dipisahkan dari garam-garam yang mengendap dengan
penyaringan.

BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
1) Untuk mendapatkan minyak mikroalga adalah dengan cara metode ekstraksi.
Alga yang dipanen dipisahkan dari air sehingga terbentuk bubur
botryococcus. Kemudian diekstraksi dengan kloroform, metanol, dan
aquades dengan perbandingan 2:1:0,8.Proses tersebut akan membentuk 3
lapisan. Lapisan tengah adalah minyak alga atau trigliserida yang akan
diproses lebih lanjut menjadi biodiesel.
2) Biodiesel dipisahkan dari pengotor dengan menggunakan ekstraksi padat
cair. Campuran dipindahkan ke dalam corong pisah dan didiamkan selama 1
jam sehingga terbentuk lapisan gliserol dan lapisan biodiesel. Lapisan
biodiesel dipisahkan dan dicuci beberapa kali dengan air pada pH netral,
sedangkan air yang terdistribusi dalam biodiesel dikeringkan dengan MgSO 4
anhidrid. Biodiesel dipisahkan dari garam-garam yang mengendap dengan
proses penyaringan.
4.2. Saran
Pengembangan biodiesel berbahan baku mikroalga (Botryococcus braunii)
agar lebih dikembangkan di Indonesia mengingat Indonesia sebagai negara
maritim yang kaya akan tanaman mikroalga dimana budidayanya sangat mudah
dan dapat menghasilkan kandungan minyak (trigliserida) yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Amini,

S.

dan

Susilowati,

R.

2010.Produksi

Biodiesel

dari

Mikroalga.http://www.bbp4b.litbang.kkp.go.id/squalenbulletin/index.php/squalen/ar
ticle/download/43/23. Diakses pada tanggal 03 Oktober 2014.
Frikardo, Agus. 2008.Kultur Mikroalga. http://afsaragih.wordpress.com/2008/12/
16/kultur-mikroalga. Diakses pada tanggal 03 Oktober 2014
Haryanto, Bode. 2002.Bahan Bakar Alternatif Biodiesel (Bagian I. Pengenalan).
http://www.researchgate.net/profile/Haryanto_Bode/publication/24248740
7_BAHAN_BAKAR_ALTERNATIF_BIODIESEL_(BAGIAN_I._PENG
ENALAN)/links/0deec52b9c49e2634d000000?origin=publication_detail.
Diakses pada tanggal 03 Oktober 2014.
Prawito.

2014.Biodiesel.

http://chemical-engineer.digitalzones.com/biodiesel.

Diakses pada tanggal 03 Oktober 2014.


Puspita, Vindi. 2012.Makalah-Biofuel.https://www.scribd.com/doc/89990335/M
akaLah-BiOfuEL #download. Diakses pada tanggal 03 Oktober 2014.
Soegiharto, A.T. Sella, K.P. Desy, A. 2014. Mikroalga: Biomassa Potensial untuk
Produksi Biodiesel. https://www.academia.edu/7693988/Mikroalga_Bio
masa_Potensial_untuk_Produksi_Biodiesel. Diakses pada tanggal 03
Oktober 2014.