Anda di halaman 1dari 2

Eceng gondok (Eichornia crassipes) merupakan tumbuhan air yang tumbuh di rawa-rawa,

danau, waduk dan sungai yang alirannya tenang. Menurut sejarahnya, eceng gondok di
Indonesia dibawa oleh seorang ahli botani dari Amerika ke kebun Raya Bogor. Akibat
pertumbuhan yang cepat (3% per hari), eceng gondok ini mampu menutupi seluruh
permukaan suatu kolam. Eceng gondok tersebut lalu dibuang melalui sungai disekitar Kebun
Raya Bogor sehingga menyebar ke sungai-sungai, rawa-rawa dan danau-danau di seluruh
Indonesia. Eceng gondok dewasa, terdiri dari akar, bakal tunas, tunas atau stolon, daun,
petiole, dan bunga. Daun-daun eceng gondok berwarna hijau terang berbentuk telur yang
melebar atau hamper bulat dengan garis tengah sampai 15 sentimeter. Pada bagian tangkai
daun terdapat masa yang menggelembung yang berisi serat seperti karet busa. Kelopak bunga
berwarna ungu muda agak kebirua. Setiap kepala putik dapat menghasilkan sekitar 500 bakal
biji atau 5000 biji setiap tangkai bunga, sehigga eceng gondok dapat berkembang biak
dengan dua cara yaitu dengan tunas dan biji.
Komposisi kimia eceng gondok tergantung pada kandungan unsure hara tempatnya tumbuh,
dan sifat daya serap tanaman tersebut. Eceng gondok mempunyai sifat-sifat yang baik antara
lain dapat menyeraplogam-logam berat, senyawa sulfida, selain itu mengandung protein lebih
dari 11,5% dan mengandung selulosa yang lebih tinggi besar dari non selulosanya seperti
lignin, abu, lemak, dan zat-zat lain.
Eichornia Crassipes (Eceng Gondok ) Gerbano (2005) menyebutkan, eceng gondok termasuk
famili Pontederiaceae. Tanaman ini hidup di daerah tropis maupun subtropis. Eceng gondok
digolongkan sebagai gulma perairan yang mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan
lingkungan dan berkembang biak secara cepat. Tempat tumbuh yang ideal bagi tanaman
eceng gondok adalah perairan yang dangkal dan berair keruh, dengan suhu berkisar antara
28-30C dan kondisi pH berkisar 4-12. Di perairan yang dalam dan berair jernih di dataran
tinggi, tanaman ini sulit tumbuh. Eceng gondok mampu menghisap air dan menguapkanya ke
udara melalui proses evaporasi. Bunga eceng gondok berwarna ungu muda (lila) dan banyak
dimanfaatkan sebagai bunga potong. Pada Gambar 2 dapat dilihat gambar eceng gondok
(Hidayat, 1993). Gambar 2. Eceng gondok
Eceng gondok memiliki keunggulan dalam kegiatan fotosintesis, penyediaan oksigen dan
penyerapan sinar matahari. Bagian dinding permukaan akar, batang dan daunnya memiliki
lapisan yang sangat peka sehingga pada kedalaman yang ekstrem sampai 8 meter di bawah
permukaan air masih mampu menyerap sinar matahari serta zat-zat yang larut di bawah
permukaan air. Akar, batang, dan daunnya juga memiliki kantung-kantung udara sehingga
mampu mengapung di air. Keunggulan lain dari eceng gondok adalah dapat menyerap
senyawa nitrogen dan fosfor dari air yang tercemar, berpotensi untuk digunakan sebagai
komponen utama pembersih air limbah dari berbagai industri dan rumah tangga. Karena
kemampuanya yang besar, tanaman ini diteliti oleh NASA untuk digunakan sebagai tanaman
pembersih air di pesawat ruang angkasa (Little, 1979; Thayagajaran, 1984). Menurut Zimmel
(2006) dan Tripathi (1990) eceng gondok juga dapat digunakan untuk menurunkan
konsentrasi COD dari air limbah.

Eceng gondok atau enceng gondok (Latin:Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis
tumbuhan air mengapung. Selain dikenal dengan nama eceng gondok, di beberapa daerah di
Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan
nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama
Ilung-ilung, di Manado dikenal dengan nama Tumpe.[1] Eceng gondok pertama kali
ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuwan bernama Carl Friedrich Philipp von
Martius, seorang ahli botani berkebangsaan Jerman pada tahun 1824 ketika sedang
melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brasil.[2] Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh
yang tinggi sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan
perairan. Eceng gondok dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya.
Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah. Tingginya
sekitar 0,4 - 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval.
Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung. Permukaan
daunnya licin dan berwarna hijau. Bunganya termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir,
kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak
beruang tiga dan berwarna hijau. Akarnya merupakan akar serabut.
Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang
lambat, danau, tempat penampungan air dan sungai. Tumbuhan ini dapat beradaptasi dengan
perubahan yang ekstrem dari ketinggian air, arus air, dan perubahan ketersediaan nutrien, pH,
temperatur dan racun-racun dalam air.[3] Pertumbuhan eceng gondok yang cepat terutama
disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen,
fosfat dan potasium (Laporan FAO). Kandungan garam dapat menghambat pertumbuhan
eceng gondok seperti yang terjadi pada danau-danau di daerah pantai Afrika Barat, di mana
eceng gondok akan bertambah sepanjang musim hujan dan berkurang saat kandungan garam
naik pada musim kemarau