Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

Di Indonesia, penyakit diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat
yang utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan karena diare serta
menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan anak balita. Hasil-hasil survei
menunjukan bahwa angka kesakitan diare untuk seluruh glongan umur adalah berkisar antara
120-30 per 1000 penduduk dan untuk balita menderita satu atau dua kali episode diare setiap
tahunnya atau 60% dari semua kesakitan diare. Sebagian besar (76%) kematian karena
diare terjadi pada balita. Sebesar 15,5% kematian pada bayi dan 26,4% kematian pada
anak balita disebabkan karena penyakit diare murni. Meskipun pada akhir Repelita IV angka
kematian sudah berhasil diturukan yaitu angka kematian bayi telah menurun dari 90menjadi 58
per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian anak balita dari 17,8 menjadi 10,6 per 1000 anak
balita, namun diperkirakan pada awal Repelita V masih terdapat kematian balita karena diare
murni sebesar 5 per 1000 balita atau sekurang-kurangnya 13.500 kematian bayi dan anak balita
karena diare murni setiap tahunnya. Berarti rata-rata setiap 4 menit seorang balita meninggal
karena diare. Masih tingginya angka kesakitan dan kematian tersebut diatas disebabkan karena
kesehatan lingkungan yang masih belum memadai, disamping pengaruh faktor-faktor lainnya
seperti keadaan gizi, kependudukan, pendidikan, keadaan social ekonomi, dan perilaku
masyarakat yang secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi keadaan penyakit diare
ini.

BAB II
ISI
1.1

Upaya Pelayanan Pokok Puskesmas

1.1.1 Upaya Kesehatan Pokok Puskesmas 1,2


1. Upaya Promosi Kesehatan
2. Upaya Kesehatan Lingkungan
3. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta KB
Kesehatan Ibu dan Anak,adalah salah satu upaya kesehatan wajib puskesmas
yang memberi pelayanan kesehatan kepada ibu hamil, ibu melahirkan, ibu menyusui dan
bayi serta anak balita. Hal ini disebakan kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu
indikator dalam menetapkan derajat kesehatan suatu wilayah atau negara.
Sementara KB suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak
kehamilan

dengan

memakai kontrasepsi. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan

kesejahteraan keluarga serta menurunkan angka kematian ibu dan anak.


4. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
UPGK adalah suatu paket kegiatan yang terpadu guna menanggulangi masalah
gizi, terutama Kurang Kalori Protein (KKP). Kegiatan-kegiatannya bertolak dari usahausaha swadaya masyarakat dan sepenuhnya dilakukan oleh tenaga sukarela desa yang
telah mendapat latihan dan di bawah pengawasan puskesmas.
5. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
6. Upaya Pengobatan
1.1.2 Pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan yang diberikan di puskesmas ialah pelayanan kesehatan yang
meliputi pelayanan : 1,2
1. Kuratif (pengobatan)
Pengobatan diare berdasarkan derajat dehidrasinya :3
Tanpa dehidrasi dengan terapi A

Pada keadaan ini, BAB terjadi 3-4 kali sehari atai disebut mulai mencret. Anak
yang mengalami kondisi ini mash lincah dan masih mau makan dan minum
seperti biasa. Pengobatan dapat dilakukan dirumah oleh ibu atau anggota keluarga
lainnya dengan memberikan makanan dan minuman yang ada dirumah seperti air
kelapa, larutan gula garam (LGG), air tajin, air teh, maupun oralit. Istilah
pengobatan ini adalah dengan menggunakan terapi A.
Ada tiga cara pemberian cairan yang dapat dilakukan dirumah.
a. Memberikan anak lebih banyak cairan
b. Memberikan makan terus-menerus
c. Membawa ke pertugas kesehatan bila anak tidak membaik dalam tiga hari.
Dehidrasi ringan atau sedang dengan terapi B.
Diare dengan dehidrasi ringan ditandai dengan hilangnya cairan sampai 5% dari
berat badan , sedangkan pada diare sedang terjadi kehilangan cairan 6-10% dan
berat badan. Untuk mengobati penyakit diare pada derajat dehidrasi ringan atau
sedang digunakan terapi B, yaitu sebagai berikut :
Pada tiga jam pertama jumlah oralit yang digunakan :
Umur

<1 tahun

1-4 tahun

>5 tahun

Jumlah oralit

300 ml

600 ml

1200ml

Setelah itu, tambahkan setiap kali mencret :


Umur

<1 tahun

1-4 tahun

>5 tahun

Jumlah oralit

100 ml

200 ml

400 ml

Dehidrasi berat, dengan terapi C


Diare dengan dehidrasi berat ditandai dengan mencret terus-menerus, biasanya
lebih dari 10 kali disertai muntah, kehilangan cairan lebih dari 10% berat bdan.
Diare diatasi dengan yaitu perawatan di puskesmas atau rumah sakit untuk diinfus
RL (ringer laktat).
Teruskan pemberian makan.
Pemberian makanan seperti semula diberikan sedini mungkin dan disesuaikan
dengan kebutuhan. Makanan tambahan diperlukan pada masa penyembuhan.
Untuk bayi, ASI tetap diberikan bila sebelumnya mendapatkan ASI, namun bila

sebelumnya tidak mendapatkan ASI dapat diteruskan dengan memberikan susu


formula.
Antibiotik bila perlu
Sebagian besar penyebab diare adalah Rotavirus yang tidak memerlukan
antibiotik dalam penatalaksanaan kasus diare karena tidak bermanfaat dan efek
sampingnya bahkan merugikan penderita.
2. Preventif (upaya pencegahan) 3,4
-

Menggunakan air bersih. Tanda-tanda air bersih adalah 3 Tidak, yaitu tidak
berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa.

Memasak air sampai mendidih sebelum diminum untuk mematikan sebagian


besar kuman penyakit.

Mencuci tangan dengan sabun pada waktu sebelum makan, sesudah makan, dan
sesudah buang air besar (BAB).

Memberikan ASI pada anak sampai berusia dua tahun.

Menggunakan jamban yang sehat.

Membuang tinja bayi dan anak dengan benar.

Perbaikan makanan penyapihan atau makanan pendamping ASI (MPASI) dari


segi gizi maupun higienis nya

3. Promotif (peningkatan kesehatan) 3,4


Penyuluhan mengenai PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat ) dan diare :kemal
-

Perorangan :
o adanya penyuluhan perorangan kepada setiap penderita diare yang berobat
di BPU puskesmas secara wawancara
o kepada ibu-ibu pengunjung Posyandu
o kepada penderita/keluarganya di puskesmas
o kunjungan rumah oleh kader/petugas puskesmas

Kelompok :
o adanya penyuluhan kepada masyarakat dan ibu-ibu di Posyandu berupa
ceramah mengenai PHBS dan diare

Penyuluhan melalui media massa


4

o TV, radio, dll (oleh Dinas Kesehatan Tk.II, I, dan pusat


Penyuluhan kepada perotangan dan kelompok masyarakat diarahkan pada penyuluhan
hygiene perorangan dan kesehatan lingkungan.:4
-

Tentang gejala diare dan pengobatannya.

Pengguanaan oralit dan cairan rumah tangga misalnya larutan gula garam, air
tajin, dan kuah sayur.

Meneruskan makanan / ASI selama dan sesudah diare

Menggerakan masyarakat untuk Perilaku Hidup Bersih dan Sehat penting terutama
sebelum musim penularan (musim kemarau) yang pelaksanaannya dikoordinasikan
oleh kepala wilayah setempat. Di Puskesmas kegiatan ini seyogyanya diintegrasikan
dalam program sanitasi Lingkungan
.
4. Rehabilitatif (pemulihan kesehatan)
2.1

Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP)


Semua kasus diare yang ditemukan dicatat dan dilaporkan dengan menggunakan sistem
yang sudah ada melakukan monitoring secara terus menerus melalui kegiatan mini
lokakarya. Dilakuakan oleh kader dan petugas sarana kesehatan.3
A. Pengertian, Tujuan dan Ruang Lingkup 1
1. Pengertian 1
SP2TP adalah tatacara pencatatan dan pelaporan yang lengkap untuk pengelolaan
Puskesmas, meliputi keadaan fisik, tenaga, sarana dan kegiatan pokok yang
dilakukan serta hasil yang dicapai oleh puskesmas. Dengan melakukan SP2TP
sebaik-baiknya, akan didapat data dan informasi yang diperlukan untuk perencanaan,
penggerakan pelaksanaan, pemantauan, pengawasan, pengendalian dan penilaian
penampilan Puskesmas serta situasi kesehatan masyarakat umumnya.
2. Tujuan 1
Tujuan Umum

Tersedia data dan

informasi yang akurat, tepat waktu dan

periodik/teratur untuk pengelolaan program

mutakhir secara

kesehatan masyarakat melalui

Puskesmas di berbagai tingkat administrasi.


Tujuan Khusus

Tersedianya data yang meliputi keadaan fisik, tenaga, sarana dan kegiatan
pokok puskesmas yang akurat, tepat waktu dan mutakhir secara teratur.

Terlaksananya pelaporan data tersebut secara teratur di berbagai jenjang


administrasi, sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Termanfaatkannya

data tersebut untuk pengambilan keputusan dalam rangka

pengelolaan program kesehatan masyarakat melalui puskesmas di berbagai


tingkat administrasi.
3. Ruang lingkup 1
a. SP2TP dilakukan oleh semua Puskesmas

(termasuk Puskesmas dengan

Perawatan, Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling)


b. Pencatatan dan Pelaporan mencakup :

Data umum dan demografi wilayah kerja Puskesmas

Data ketenagaan di Puskesmas

Data sarana yang dimiliki Puskesmas

Data kegiatan pokok Puskesmas yang dilakukan baik di dalam maupun di luar
gedung Puskesmas.

c. Pelaporan dilakukan secara periodik (bulanan, tribulanan, semester dan tahunan),


dengan menggunakan formulir yang baku. Seyogyanya

berjenjang dari

Puskesmas ke Dati II, dari Dati II ke Dati I dan Dati I ke Pusat. Namun
sementara ini dapat dilakukan dari Dati II langsung ke Pusat, dengan tindasan
ke Propinsi.
B. Beberapa Batasan 1
Dalam pelaksanaan SP2TP ada beberapa batasan tentang istilah yang digunakan untuk
didapatkan kesamaan pengertian, sehingga pencatatan dilakukan dengan benar dan sama
di seluruh Puskesmas.

1. Kunjungan 1
Ada 2 (dua) macam kunjungan :
a. Kunjungan seorang ke Puskesmas, Puskesmas Pembantu, baik untuk mendapat
pelayanan kesehatan maupun sekedar mendapat pelayanan kesehatan maupun
sekedar mendapat keterangan sehat-sakit.
Untuk itu dibedakan 2 kategori :

Kunjungan

baru,

ialah

seseorang

yang

pertama

kali

datang

ke

Puskesmas/Puskesmas Pembantu, sehingga umur hidupnya hanya dicatat sebagai


satu kunjungan baru.

Kunjungan lama, ialah seseorang yang datang Puskesmas/Puskesmas Pembantu


yang kedua kali dan seterusnya untuk mendapat pelayanan kesehatan.

Perkecualian kedua kategori tersebut pada Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Balita
b. Kunjungan sebagai kasus
Kunjungan kasus adalah kasus baru + kasus lama+ kunjungan baru + kunjungan
lama suatu penyakit.
2. Kasus 1
Ada 2 macam kasus :
a. Kasus baru, adalah new episode of

illness, yaitu pernyataan pertama kali

seseorang menderita penyakit tertentu sebagai hasil diagnosa dokter atau tenaga
paramedis.
b. Kasus lama adalah kunjungan kedua dan seterusnya, dari kasus baru yang belum
dinyatakan sembuh atau kunjungan kasus lama dalam tahun/periode yang sama.
Untuk tahun berikutnya, kasus ini diperhitungkan sebagai kasus baru.
c. Keluarga
Keluarga dalam catatan SP2TP adalah satu kepala keluarga beserta anggotanya
yang terdiri dari istri, anak-anak (kandung,tiri, angkat), danorang lain yang tinggal
dalam satu atap/rumah.
d. Nomor Kode Puskesmas
7

Pemberian nomor kode Puskesmas/Puskesmas Pembantu berdasar pada letak


geografis dan jenjang administrasi serta peresmian per S.K. Bupati atas
existensinya setelah dibangun.
3. Pelaksanaan SP2TP 1
Pelaksanaan SP2TP terdiri dari 3 kegiatan,ialah :

Pencatatan dengan menggunakan format

Pengiriman laporan dengan menggunakan format secara periodik

Pengolahan analisis dan pemanfaatan data/informasi.

a. Pencatatan
Pencatatan dilakukan dalam gedung Puskesmas/Puskesmas Pembantu, yaitu
mengisi :

Family folder (Kartu Individu dan Kartu Tanda Pengenal Keluarga)

Buku register untuk : rawat jalan/rawat inap,penimbangan,kohort ibu,kohort


anak,persalinan,laboratorium,pengamatan penyakit menular,imunisasi,P.K.M.

Kartu

Indek

Penyakit

(Kelompok

Penyakit)

yang

distribusi

jenis

kelamin,golongan,umur dan desa.

Kartu perusahaan

Kartu murid

Sensus harian (Penyakit dan Kegiatan Puskesmas) untuk mempermudah pembuatan


laporan.
b. Pelaporan
Jenis dan periode laporan sebagai berikut :
1.Bulanan

Data kesakitan (Format LB.1)

Data kematian (Format LB.2)

Data operasional (Format LB.3) (Gizi,Imunisasi,KIA)

Data manajemen obat (Format LB.4)

2.Triwulan
8

Data kegiatan Puskesmas (Format LT)

3.Tahunan

Umum,Fasilitas (Format LSD.1)

Sarana (Format LSD.2)

Tenaga (Format LSD.3)

Alur pengiriman laporan adalah sebagai berikut :


1. Alur pengiriman laporan sampai saat akhir Pelita V adalah :

Laporan dari Puskesmas dikirim ke Dinas Kesehatan Tk. II untuk diolah sesuai
dengan petunjuk, dan selanjutnya direkapitulasi, laporan dikirim ke Dinkes Tk.I dan
Departemen Kesehatan c.q. Bagian Informasi Ditjen Pembinaan Kesehatan Masalah.

Umpan balik darei Departemen Kesehatan dikirim ke Ka.Kanwil Departemen


Kesehatan Propinsi.

2. Alur pengiriman laporan jangka panjang (mulai Pelita VI) adalah mengikuti jalur jenjang
administrasi organisasi. Departemen Kesehatan menerima laporan dari Kantor Wilayah
Departemen Kesehatan R.I.
3. Pengelolaan, Analisa dan Pemanfaatan
Pengolahan, analisa dan pemanfaatan data SP2TP dilaksanakan di tiap jenjang
administrasi yang pemanfaatannya disesuaikan dengan tugas dan fungsinya dalam
mengambil keputusan. Ditingkat Puskesmas, untuk tindakan segera serta untuk
pemantauan pelaksaan program (operative) sebagai early warning system. Pada tingkat
Dati II dapat digunakan untuk pemantauan, pengendalian dan pengambilan tindakan
koreksi yang diperlukan. Pada tingkat I dapat digunakan juga untuk perencanaan program
dan pemberian bantuan yang diperlukan. Pada tingkat Pusat digunakan dalam
pengambilan kebijaksanaan yang diperlukan.
4. Pemanfaatan data SP2TP 1
Pada hakekatnya data dari SP2TP mempunyai peran ganda,karena :

a. Data tersebut dilaporkan dari Puskesmas untuk kebutuhan administrasi di atasnya,


dalam rangka pembinaan,perencanaan serta penetapan kebijaksanaan
b. Data tersebut dapat dimanfaatkan oleh Puskesmas sendiri dalam rangka peningkatan
upaya kesehatan Puskesmas, melalui perencanaan (micro planning), penggerakan,
pelaksanaan (mini lokakarya) dan pengawasan,pengendalian

serta penilaian

(stratifikasi). Salah satu komponen dari pengawasan adalah pemantauan yang


merupakan tindak lanjut secara kontinu dari kegiatan program yang dikaitkan dengan
proses pengambilan keputusan serta tindakan (action).
Contoh :
Data dari hasil SP2TP dapat dimanfaatkan untuk :

Penyusunan profil Puskesmas, dengan menggunakan data dasar

Penggambaran peran serta masyarakat, dengan menggunakan data jumlah kader


(aktif/tidak aktif), pelaksanaan KB-Kes Terpadu melalui Posyandu.

Penggambaran tingkat pemanfaatan Puskesmas, dengan menggunakan data


kunjungan.

Penggambaran tingkat cakupan sasaran pelayanan kesehatan dari berbagai program


yang dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pokok Puskesmas dan sebagainya.

3.1

Surveillance
Surveillance epidemiologi adalah suatu rangkaian proses pengamatan yang terus
menerus, sistematik dan berkesinambungan dalam pengumpulan data, analisa dan
interpretasi data. Surveillance diare adalah pengumpulan data epidemiologi secara terus
menerus dan dilakukan analisa secara langsung untuk menemukan cara penyelesaian
secara tepat dan cepat. Data didapat dari laporan harian, dimana pencatatan dilakukan
setiap hari kerja, kecuali hari liur terhadap penderita diare yang datang di BPU
Puskesmas dan dilaporkan paling lambat tiap minggunya.1,5

4.1

Penyelidikan Epidemiologi
Penyakit diare merupakan penyakit kedua terbanyak diseluruh dunia setelah infeksi

saluran pernafasan akut (ISPA). Peyakit ini diperkirakan ditemukan 1 milyar kasus pertahun.
10

Merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak-anak di Asia, Afrika dan Amerika
Latin. Sekitar lima juta anak diseluruh dunia meninggal karena diare akut.3
Di Indonesia, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian
terutama pada bayi dan balita, serta sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB). DiIndonesia
pada tahun 70 sampai 80-an, prevalensi penyakit diare sekitar 200-400 per 1000 penduduk per
tahun. Dari angka prevalensi tersebut, 70-80% menyerang anak dibawah usia lima tahun (balita).
Golongan umur ini mengalami 2-3 episode diare pertahun. Diperkirakan kematian anak akibat
diare sekitar 200-250 ribu setiap tahunnya.3
Angka CFR diare menurun dari tahun ketahun, pada tahun 1975 CFR sebesar 40-50%,
tahun 1980-an CFR sebesar 12%. Data dari profil kesehatan Indonesia tahun 2002 menunjukan
bahwa angka kesakitan diare berdasarkan propinsi terjadi penurunan dari tahun 1999-2001. Pada
tahun 1999 angka kesakitan diare sebesar 25,63 per 1000 penduduk menurun menjadi 22,69 per
1000 penduduk pada tahun 2000 dan 12,00 per 1000 penduduk pada tahun 2001. Di Indones
serangan, laporan

yang masuk ke departemen Kesehatan menunjukan bahwa setiap anak

mengalami serangan diare sebanyak 1,6-2 kali setahun. Angka kesakitan dan kematian akibat
diare mengalami penurunan dari tahun ketahun. Angka kematian diare akut di Negara
berkembang telah menurun dari 4,5 juta kematian pada tahun 1979 menjadi 1,6 juta kematian
pada tahun 2002 namun angka kejadian diare akut masih masuk urutan 5 besar dari penyakit
yang sering menyerang anak Indonesia. Kejadian diare akut di Indonesia diperkirakan masih
sekitar 60 juta episode setiap tahunnya dan 1-5 persen diantaranya berkembang menjadi diare
kronis. Berbagai penelitian menunjukan bahwa dari 35% seluruh kematian balita akibat diare
disebabkan oleh diare akut. Angka kejadian diare nasional tahun 2006 sebesar 423/1000
penduduk pada semua umur. SKRT tahun 2001 menyebutkan angka kematian diare pada Balita
sebesar 75,3/100.000 balita, sementara angka kematian diare untuk semua umur sebesar
23,2/100.000 penduduk.3

11

Tabel 1. Angka kesakitan dan kematian akibat diare (semua umur) tahun 1990-1999 3
Tahun

Angka Kesakitan per 1000

CFR (%)

penduduk
1990

29,79

0,024

1991

25,64

0,027

1991

25,41

0,017

1993

28,77

0,015

1994

26,64

0,019

1995

24,26

0,021

1996

23,57

0,019

1997

26,20

0,012

1998

25,30

0,009

1999

26,13

0,006

Hasil survei Program Pemberantasan (P2) Diare di Indonesia :

Angka kesakitan diare di Indonesia tahun 2000 sebesar 301 per 1000 penduduk dengan
episode diare balita adalah 1,0-1,5 kali per tahun.

Tahun 2003 angka kesakitan penyakit ini meningkat menjadi 374 per 1000 penduduk dan
merupakan penyakit dengan frekuensi KLB kedua tertinggi setelah DBD.

Profil kesehatan Indonesia 2003, diare menempati urutan ke lima dari 10 penyakit utama
pada pasien rawat jalan di Rumah Sakit dan urutan pertama pada pasien rawat inap di
Rumah Sakit.

Tahun 2003 kejadian Luar Biasa (KLB) diare dengan 3865 orang penderita, 113 orang
meninggal, dan CFR 2,92%.

Masih sering terjadinya wabah atau KLB diare menyebabkan pemberantasannya menjadi suatu
hal yang sangat penting. Di Indonesia, KLB diare masih terus terjadi hampir disetiap musim
sepanjang tahun. KLB diare menyerang hampir semua propinsi di Indonesia. Angka kematian

12

yang jauh lebih tinggi dari pada kejadian kasus diare biasa membuat perhatian para ahli
kesehatan masyarakat tercurah pada penanggulangan KLB diare secara cepat.
Tabel 2. Kejadian Luar Biasa (KLB) diare di Indonesia tahun 1996-2000 3
Tahun

Penderita

Meninggal

CFR (%)

1996

6.139

161

2,62

1997

17.890

184

1,08

1998

11.818

275

2,33

1999

5.159

76

1,47

2000

5.680

109

1,92

Survei Departemen Kesehatan (2003), penyakit diare menjadi :

Penyebab kematian nomor dua pada balita

Nomor tiga pada bayi

Nomor lima pada semua umur

Kejadian diare pada golongan balita secara proporsional lebih banyak dibandingkan kejadian
diare pada seluruh golongan umur yakni sebesar 55%. Penyakir sering menyerang bayi dan
balita, bila tidak diatasi lebih lanjut akan menyebabkan dehidrasi yang mengkakibatkan
kematian. Data terakhir dari Departemen Kesehatan menunjukan bahwa diare menjadi penyakit
pembunuh kedua bayi dibawah lima tahun (balita) di Indonesia setelah radang paru atau
pneumonia.
Penyebab
Penyebab diare dapat dikelompokanmenjadi :3
1. Virus : Rotavirus (40-60%), Adenovirus.
2. Bakteri : Escherichia coli (20-30%), Shigella sp (1-2%), Vibri cholera, dll
3. Parasit : Entamoeba histolytica (<1%), Giardia lamblia, Cryptosporidium (4-11%)
4. Keracuanan makanan
13

5. Malabsorbsi.
6. Alergi : makanan, susu sapi.
7. Imunodefisiensi : AIDS
Cara Transmisi 3
Penyakit Diare sebagian besar (75%) disebabkan oleh kuman seperti virus dan bakteri. Penularan
penyakit diare ini melalui orofekal terjadi dengan mekanisme sebagai berikut :
1. Melalui air yang merupakan media penularan utama. Diare dapat terjadi bila seseorang
menggunakan air minum yang sudah tercemar, baik tercemar ari sembernya, tercemar
selama perjalanan sampai kerumah-rumah, atau tercemar pada saat disimpan di rumah.
Pencemaran di ruma terjadi bila tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan
yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan.
2. Melalui tinja terinfeksi. Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus atau bakteri dalam
jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh binatang dan kemudian hinggap di
makanan, maka makanan itu dapat menularkan diare ke orang yang memakannya.
3. Faktor-faktor yang meningkatkan risiko diare adalah :
a. Pada usia 4 bula bayi sudah tidak diberi ASI eksklusif lagi. Hal ini akan
meningkatkab risiko kesakitan dan kematian karena diare, karena ASI banyak
mengandung zat-zat kekbalan terhadap infeksi.
b. Memberikan susu formula dalam botol kepada bayi. Pemakaian botol akan
meningkatkan risiko pencemaran kiman, dan susu akan terkontaminasi oleh kuman
dari botol. Kuman akan cepat berkembang bila susu tidak segera diminum.
c. Menyimpan makanan pada suhu kamar. Kondisi tersebut akan menyebabkan
permukaan makanan mengalami kontak dengan peralatan makan yang merupakan
media yang sangat baik bagi perkembangan mikroba.
d. Tidak mencuci tangan pada saat memasak, makan, atau sesudah buang air besar
(BAB) akan memungkinkan kontaminasi langsung.
Diare dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:3
1. Keadaan lingkungan
2. Perilaku masyarakat
14

3. Pelayanan masyarakat
4. Gizi kependudukan
5. Pendidikan
6. Keadaan social ekonomi
4.1.1 Wabah 6
Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang
jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu
dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan mala petaka (UU No 4. Tahun 1984). Suatu wabah
dapat terbatas pada lingkup kecil tertentu (disebut outbreak, yaitu serangan penyakit) lingkup
yang lebih luas (epidemi) atau bahkan lingkup global (pandemi). Kejadian atau peristiwa dalam
masyarakat atau wilayah dari suatu kasus penyakit tertentu yang secara nyata melebihi dari
jumlah yang diperkirakan.
PEMBAGIAN WABAH MENURUT SIFATNYA :6
1. Common Source Epidemic
Adalah suatu letusan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang dalam suatu
kelompok secara menyeluruh dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Adapun Common
Source Epidemic itu berupa keterpaparan umum, biasa pada letusan keracunan makanan, polusi
kimia di udara terbuka, menggambarkan satu puncak epidemi, jarak antara satu kasus dengan
kasus, selanjutnya hanya dalam hitungan jam,tidak ada angka serangan ke dua
2. Propagated/Progresive Epidemic
Bentuk epidemi dengan penularan dari orang ke orang sehingga waktu lebih lama dan masa
tunas yang lebih lama pula. Propagated atau progressive epidemic terjadi karena adanya
penularan dari orang ke orang baik langsung maupun melalui vector, relatif lama waktunya dan
lama masa tunas, dipengaruhi oleh kepadatan penduduk serta penyebaran anggota masya yang
rentan serta morbilitas dari pddk setempat, masa epidemi cukup lama dengan situasi peningkatan
jumlah penderita dari waktu ke waktu sampai pada batas minimal abggota masyarakat yang
rentan, lebih memperlihatkan penyebaran geografis yang sesuai dengan urutan generasi kasus.
15

LANGKAH-LANGKAH INVESTIGASI WABAH 6


1. Konfimasi / menegakkan diagnosa

Definisi kasus

Klasifikasi kasus dan tanda klinik

Pemeriksaan laboratorium

2. Menentukan apakah peristiwa itu suatu letusan/wabah atau bukan

Bandingkan informasi yang didapat dengan definisi yang sudah ditentukan tentang KLB

Bandingkan dengan incidende penyakit itu pada minggu/bulan/tahun sebelumnya

3. Hubungan adanya letusan/wabah dengan faktor-faktor waktu, tempat dan orang

Kapan mulai sakit (waktu)

Dimana mereka mendapat infeksi (tempat)

Siapa yang terkena : (Gender, Umur, imunisasi, dll

4.1.2 Kejadian Luar Biasa (KLB) 6


Pengertian

kejadian

luar

biasa

(KLB)

adalh

timbulnya

atau

meningkatnya

kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam kurun waktu dan daerah tertentu.
Batasan KLB meliputi arti yang luas, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
Meliputi semua kejadian penyakit, dapat suatu penyakit infeksi akut kronis ataupun penyakit non
infeksi.Tidak ada batasan yang dapat dipakai secara umum untuk menentukan jumlah penderita
yang dapat dikatakan sebagai KLB. Hal ini selain karena jumlah kasus sangat tergantung dari
jenis dan agen penyebabnya, juga karena keadaan penyakit akan bervariasi menurut tempat
(tempat tinggal, pekerjaan) dan waktu (yang berhubungan dengan keadaan iklim) dan
pengalaman keadaan penyakit tersebut sebelumnya. Tidak ada batasan yang spesifik mengenai
luas daerah yang dapat dipakai untuk menentukan KLB, apakah dusun desa, kecamatan,
kabupaten atau meluas satu propinsi dan Negara. Luasnya daerah sangat tergantung dari cara
penularan penyakit tersebut. Waktu yang digunakan untuk menentukan KLB juga bervariasi.

16

KLB dapat terjadi dalam beberapa jam, beberapa hari atau minggu atau beberapa bulan maupun
tahun.
Kriteria Kerja Kejadian Luar Biasa (KLB) 6
KLB meliputi hal yang sangat luas seperti sampaikan pada bagian sebelumnya, maka untuk
mempermudah penetapan diagnosis KLB, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Dirjen
PPM&PLP No. 451-I/PD.03.04/1999 tentang Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan
Penanggulangan

KLB

telah

menetapkan

criteria

kerja

KLB

yaitu

Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut
menurut jenis penyakitnya. Peningkatan kejadian/kematian > 2 kali dibandingkan dengan
periode sebelumnya. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan >2 kali bila
dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya Angka rata-rata perbulan
selama satu tahun menunjukkan kenaikkan > 2 kali dibandingkan angka rata-rata per bulan tahun
sebelumnya. CFR suatu penyakit dalam satu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikkan 50 %
atau lebih dibanding CFR periode sebelumnya. Proporsional Rate penderita baru dari suatu
periode tertentu menunjukkan kenaikkan > 2 kali dibandingkan periode yang sama dan kurun
waktu/tahun sebelumnya.
Beberapa penyakit khusus :
Kholera, DHF/DSS Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis).
Terdapat satu/lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut
dinyatakan bebas dari penyakit tersebut.
Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita :
a. Keracunan makanan
b.

Keracunan pestisida

Penanggulangan pasien saat KLB 3

Jangka pendek
o Menemukan dan mengobati pasien
o Melakukan rujukan dengan cepat
o Malakukan kaporasi sumber air dan disinfeksi kotoran yang tercemar
o Meberi penyuluhan tentang hygiene dan sanitasi lingkungan
17

o Melakukan koordinasi lintas program dan lintas sektoral

Jangka panjang
o Memperbaiki faktor lingkungan
o Mengubah kebiasaan tidak sehan mnejadi sehat

5.1

Pelatihan petugas

Penanggulan Lintas Sektoral dan Lintas Program

Program Penanggulangan Diare 3


1. Tujuan umum
a. Balita : menurunkan CFR dan prevalensi episode serangannya.
b. Semua umur :

Menurunkan prevalensi

Menurunkan CFR di rumah sakit

Menurunkan CFR dan KLB

2. Kebijaksanaan
Meningkatkan kualitas dan pemerataan pelayanan dengan meningkatkan kerjasama lintas
program (LP) dan lintas sector (LS).
3. Strategi
a. Tata laksana pasien di rumah

Meningkatkan pemberian cairan rumah tangga (CRT) seperti air tajin, larutan
gula garam dan air kelapa.

Meneruskan pemberian makanan lunak dan tidak bersifat merangsang


lambung, ditambah makanan ekstra setelah diare.

Membawa pasien ke sarana kesehatan bila :


-

Buang air besar makin sering dan banyak

Makin kehasuan

Tidak dapat makan atau minum

Demam

Ditemukan darah pada tinja

Kondisi makin memburuk dalam 24 jam.


18

b. Tata laksana penderita di sarana kesehatan

Rehidrasi oral

Memberi infuse dengan ringer laktat (RL)

Menggunakan obat yang rasional

Memberi nasihat tentang makanan, rujukan, dan pencegahan

c. Pencegahan penyakit

Menanamkan hygiene pribadi (perilaku mencuci tangan sebelum makan dan


sesudah BAB)

Merebus air minum sebelum digunakan

Menjaga kebersihan lingkungan (WC dan SPAL)

4. Langkah-langkah
Untuk mencapai tujuan diatas diperlukan :
a. Kerjasama lintas program (LP) dan lintas Sektoral
b. Pelatihan atau penyegaran tentang diare
c. Penetapan manajemen serta pencatatan danpelporan (reporting recording, RR) kasus
diare.
d. Pemantapan manajemen persediaan oralit
e. Peningkatan sistem kewaspadaan dini (SKD) dalam kejadian luar biasa (KLB)
f. Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
5. Kegiatan
a. Penemuan dan pengobatan pasien sedini mungkin

Penemuan pasien oleh sarana kesehatan (penemuan pasif)

Penemuan pasien oleh kader dan petugas (penemuan aktif)

Pemberian oralit kepada pasien oleh kader

5.1.1 Penggalangan Kerjasama Tim Puskesmas 1


1. Pengertian
Dalam rangka meningkatkan fungsi Puskesmas yang terdiri dari pengembangan upaya
kesehatan, pembinaan peran serta masyarakat dan pelayanan upaya kesehatan pokok,
tenaga Puskesmas yang terdiri dari berbagai kategori, diharapkan dapat bekerjasama
secara terpadu dibawah satu pimpinan dan satu administrasi. Untuk meningkatkan
keterpaduan kerja antar anggota Puskesmas dan meningkatkan produktivitas kerjanya,
19

diperlukan pembinaan kerjasama dalam tim, sehingga ada ketebukaan dan tanggung
jawab bersama, disamping masing-masing mempunyai rasa kebanggaan sebagai anggota
tim. Diperlukan suatu proses dinamika kelompok dalam suatu pertemuan Penggalangan
Kerjasama Tim, yang

diikuti dengan analisa beban kerja, yang dikaitkan dengan

berbagai kelemahan penampilan kerja Puskesmas menurut hasil strstifikasi dan


menyusun POA untuk memperbaiki penampilan kerja Puskesmas.
2. Tujuan
Tujuan Umum
Adanya pengembangan sistem manajemen sederhana dengan cara penggalangan
kerjasama antar staf Puskesmas untuk meningkatkan fungsi Puskesmas.
Tujuan Khusus

Terciptanya semangat

kerjasama dalam suatu Tim atas dasar kemauan,

kemampuan dan kesempatan yang dimiliki.

Adanya inventaris hasil kegiatan setiap tenaga Puskesmas bulan

lalu dan

menghitung beban kerjanya.

Adanya pembagian tugas yang baru bagi setiap petugas Puskesmas berdasarkan
POA

Adanya Tim Pelayanan Terpadu dan menentukan daerah binaan/pelayanan


masing-masing tim

Tersusunnya rencana kerja harian untuk bulan yang akan datang

3. Pentahapan Pelaksanaan

Dinamika kelompok
Bertujuan untuk menanamkan pentingnya kerjasama secara tim dan keterbukaan
antara anggota tim dalam memecahkan suatu masalah

Masukan tentang konsep keterpaduan KB Kesehatan, POA Puskesmas dan POA


KB Kesehatan, bertujuan untuk mengetahui pentingnya Keterpaduan KB
Kesehatan dan perencanaan kegiatan untuk tahun ini serta cakupan pelayanan
yang harus dicapai.

20

Inventarisasi kegiatan peran serta masyarakat termasuk Posyandu, bertujuan agar


semua petugas Puskesmas mengetahui : lokasi,kegiatan,petugas yang ditugasi
membina,waktu,frekuensi dan kadernya.

Inventarisasi kegiatan petugas pada bulan lalu sebagai bahan untuk menghitung
beban kerja.

Analisa/perhitungan beban kerja, bertujuan agar semua petugas dapat menghitung


beban kerjanya dan mengetahui kekurangan atau kelebihannya.

Penyusunan pembagian tugas baru bertujuan agar semua petugas mengetahui


tugas rutin dan tugas pembinaan PSM secara adil dan merata.

Pembentukan tim pelayanan Posyandu dan pembagian tanggung jawab daerah


binaan yang bertujuan agar semua petugas Puskesmas mempunyai tanggung
jawab daerah binaan yang dibagi secara adil dan merata berdasarkan pembagian
tugas baru.

Penyusunan rencana kerja harian baru yang bertujuan agar semua petugas
Puskesmas agar membuat rencana kerja yang dibuat tiap-tiap bulan,baik untuk
tugas rutin maupun untuk pembinaan PSM.

4. Pelaksanaan

Pembimbing dan pelatih/pengarah. Pembimbing adalah Ka.Kandep/Ka.Dinkes


Dt.II dan staf. Pelatih/pengarah adalah Ka.Puskesmas dan staf.

Peserta : Peserta Lokakarya Mini ialah semua petugas ini dokter gigi/perawat gigi,
perawat/perawat kesehatan/PK.C, bidan/PK.E, sanitarian /PK.A.B, petugas gizi,
petugas SP2TP dan petugas lain yang dianggap penting.

Waktu

Tempat
Tempat Lokakarya Mini sedapat mungkin di Puskesmas atau tempat lain yang
berdekatan

Persiapan
Pertemuan Ka.Kandep/Kadinkes dan staf dengan Puskesmas dalam rangka
rencana penyelenggarakan Lokakarya Mini Puskesmas.
Kepala Puskesmas menentukan, menunjuk dan memberitahu calon peserta.

21

5.1.2 Penggalangan Kerjasama Lintas Sektorial 1


1. Pengertian
Untuk menggalang kerjasama lintas sektorial terutama dalam membina peran serta
masyarakat di tingkat kecamatan, perlu dirumuskan bersama secara jelas tentang peran
yang harus dilakukan masing-masing sektor dan mekanisme kerjanya. Dengan
perkembangan kebijaksanaan pembangunan kesehatan selama Pelita V, dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup keluarga, sasaran utamanya adalah
penurunan angka kematian bayi dan anak balita, angka kematian ibu melahirkan serta
angka kelahiran , dengan pendekatan keterpaduan KB Kesehatan, kerjasama dengan
sektor lain, ahli teknologi serta ahli kelola kepada masyarakat, dengan mengembangkan
peran serta masyarakat dalam bentuk penyelenggaraan posyandu. Oleh karena itu,
penggalangan kerjasama lintas sektorial pada saat ini diarahkan untuk merumuskan
kerjasama dalam membina upaya peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan.
2. Tujuan
Tujuan Umum
Terjalinnya kerjasama lintas sektorial dalam rangka pembinaan peran serta masyarakat
secara baik.
Tujuan Khusus
Adanya

saling mengetahui dan saling mengenal program pembinaan peran serta

masyarakat masing-masing sektor terkait di tingkat Kecamatan. Adanya saling


mengetahui peran masing-masing sektor yang saling mendukung, untuk membina peran
serta masyarakat dalam bidang kesehatan.

Terumuskannya rencana kerja tribulanan

masing-masing sektor pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan secara


terpadu.
3. Pentahapan Pelaksanaan
Tahapan Pelaksanaan Penggalangan Kerjasama Lintas Sektorial :

22

Pertemuan dalam rangka penggalangan kerjasama lintas sektorial diselenggarakan oleh


Camat bekerjasama dengan Tim Pembina PKK kecamatan dan dibantu sepenuhnya oleh
Puskesmas.
Secara garis besar, acara penggalangan kerjasama lintas sektorial adalah sebagai berikut :

Dinamika kelompok,untuk menanamkan motivasi kerjasama dalam tim dilakukan


proses dinamika kelompok dengan menggunakan Broken T yang dapat
mengungkapkan pada peserta tentang pentingnya kerjasama secara tim dalam
melaksanakan suatu program.

Penjelasan dari sektor-sektor,masing-masing sektor menjelaskan kegiatannya


dalam rangka pembinaan peran serta masyarakat.

Penjelasan tentang POA

Penyajian hasil-hasil kesepakatan kerjasama lintas sektorial

Inventarisasi peranan saling mendukung dari masing sektor

Analisa peranan masing-masing sektor

Merumuskan masing-masing sektor dalam pembinaan peran serta masyarakat

Membuat rencana kerja tribulan masing-masing sektor

4. Pelaksanaan
a. Penyelenggaraan pertemuan dengan susunan :

Ketua Penyelenggara : Ketua Tim Penggreak PKK Kecamatan

Pimpinan Pertemuan : Camat

Pengarah/pelatih : Kepala Puskesmas

Pembimbing : Tim Pembina Dati II

b. Peserta :

Tim Pembina

PKK Kecamatan

Puskesmas

Bangdes Kecamatan

Sektor lain yang terkait


23

6.1

Jumlah peserta : 10-15

Evaluasi Program dengan Sistem Pendekatan 3


a. Pemantauan wilayah setempat (PWS)
b. Evaluasi program dapat dilaksanakan dengan menggunakan laporan hasil pemantauan,
sehingga dapat diketahui :

Cakupan pelayanan :

x 100%
Perkiraan kasus diare di masyarakat = 3% x jumlah penduduk

Kualitas tata laksana pasien

Kualitas tata laksana pasien baik jika hasil perhitungan >95%

Masalah tata laksana pasien

Masalah tata laksana pasien diare dikatakan baik jika hasil perhitungan <3%

Proporsi pasien per golongan umur

Bila golongan umur dewasa lebih besar : awas kolera!!! Lakukan rectal swab

CFR

24

Peran serta masyarakat (PSM)

Peran serta masyarakat baik jika hasil perhitungan >50%

Fungsi Evaluasi :7
Mengevaluasi secara sederhana berarti menguji/memperkirakan nilai dari. Namun,
evaluasi bergantung pada pemeriksaan atau pengukuran atau penilaian, yang harus dilakukan
untuk mendapatkan informasi sehingga evaluasi dapat terlaksana. Secara umum, istilah
evaluasi dipakai untuk keseluruhan proses pemeriksaan atau pengukuran dan penilaian akhir
dari nilai.
Istilah penilaian (assessment) kadang-kadang dipakai sebagai sinonim untuk evaluasi.
Penilaian kinerja staf merupakan bagian yang penting dari evaluasi program kesehatan, dan
merupakam cara langsung untuk mengukur mutu perawatan kesehatan. Istilah penaksiran
(appraisal) biasanya lebih banyak dipakai dari pada evaluasi dalam hubungannya dengan
pengkajian ulang tahunan pengawas terhadap kinerja staf perawatan kesehatan.
Keputusan manajemen yang berkaitan dengan evaluasi adalah keputusan yang berhubungan
dengan tim kesehatan :
-

Efektivitas atau pencapaian hasil

Kinerja kegiatan

Efisien, atau penggunan sumberdaya secara ekonomis.

Karena evaluasi berkaitan pertama-tama dengan efektivitas, atau pencapaian hasil, pertanyaanpertanyaan berikut ini diajukan dahulu :
-

Apakah hasilnya sesuai dengan yang diharapkan?


25

Apakah hasilnya bernilai?

Bila jawabannya dari kedua pertanyaan ini adalah ya, keputusan yang paling mungkin adalah
meneruskan rencana. Bila kedua jawaban itu adalah tidak, keputusan berikutnya biasanya
adalah mengubah tujuan atau kegiatan atau keduanya.
Dalam kaitannya dengan kinerja (performance), seseorang yang melakukan

evaluasi

menanyakan pertanyaaan berikut ini :


-

Apakah hasil yang dicapai telah baik-baiknya?

Bila tidak, mengapa?

Bila hasil yang telah dicapai adalah hasil sebaik-baiknya, keputusan tidak akan diubah. Namun,
bila hasil kurang dari yang diharapkan semula, keputusannya adalah mengubah rancangan
kegiatan atau penggunaan staf atau sumber daya lain.
Akhirnya, berkaitan dengan efisiensi, pengevaluasi menanyakan :
-

Dapatkah hasil yang sama dicapai dengan biaya yang lebih sedikit?

Bia ya, dengan mengganti sumber daya yang mana dari yang telah digunakan?

Bila hasil dapat dicapai dengan biaya yang lebih murah, maka keputusan berikutnya adalah
menggunakan sumber daya dengan lebih hemat. Jenis keputusan kontrol seperti ini dapat
diambil, misalnya dalam mempersiapkan anggaran kerja tahunan.
Pendekatan umum dalam evaluasi sebagai berikut :
-

Pengukuran atas pencapaian yang diamati

Perbandingan dengan norma,standar, atau hasil yang diinginkan

Penilaian sampai sejauh mana sejumlah nilai dapat dipenuhi

Analisis penyebab kegagalan

Keputusan (umpan balik)

Cara pengukuran efektivitas harus dipilih dengan cermat. Sebelum pengukuran efektivitas untuk
mengevaluasi program dimulai, pertanyaan berikut ini harus diajukan :
-

Rencana atau keputusan pelaksanaan apa yang akan terpengaruh oleh temuan ini?
26

Bagaimana temuan ini akan digunakan untuk mengambil keputusan?

Bagaimana, dan sejauh mana, penerapan keputusan dapat meningkatkan efektivitasnya?

Evaluasi, khususnya bila memerlukan analisis mengenai penyebabnya kegagalan, adalah cara
terbaik untuk menjamin menajemen memfokuskan perhatiannya pada hal yang paling penting ;
evaluasi membantu agar keputusan-keputusan besar/penting didahulukan.
Mengevaluasi pencapaian 7
Mengevaluasi efektivitas suatu program adalah menentukan nilai dari hasil yang dicapai oleh tim
kesehatan.

Evaluasi

memerlukan

diadakannya

pengukuran

sejauh

mana

masyarakat,

mendapatkan pelayanan yang direncanakan untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan menilai
berapa besar keuntungan yang mereka dapat dari pelayanan. Informasi yang dikumpulkan
dipakai untuk memperbaiki kuantitas, aksesibilitas, efisiensi, dan lain sebagainya, dari
pelayanan.
Dua pertanyaan harus diajukan :
-

Apakah hasil yang didapat merupakan hasil yang diharapkan?

Apakah hasil-hasil itu berarti/bernilai?

Pendekatan dalam umum dalam evaluasi (dalam hal ini, untuk efektivitas) terdiri dari kelima
lingkah langkha berikut :
-

Menentukan aspek apa dari program yang akan dievaluasi dan bagaimana cara
pengukuran efektivitas.

Mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk memberikan bukti

Membandingkan hasil dengan target atau tujuan

Menentukan apakah dan sejauh mana target dan tujuan telah dicapai

Menetapkan apakah program akan diteruskan tanpa perubahan, diubah, atau dihentikan.

Evaluasi sering yang diartikan sebagai fungsi yang terus-menerus. Evaluasi dilakukan oleh staf
kesehatan, yang diharapkan akan mengumpulkan dan menganalisa informasi yang diperlukan
sebagai dasar untuk evaluasi.
1. Memutuskan apa yang dievaluasi dan bagaimana efektivitas akan diukur.
27

Pada prinsipnya, sebuah rencana harus memerinci bagaimana cara setiap program atau
kegiatan yang ada didalamnya akan dievaluasi dan hal-hal apa yang akan dianggap
sebagaibukti pencapaian tahun ini.
2. Mengumpulkan informasi yang diperlukan
Pada evaluasi, informasi yang dibutuhkan untuk memantau dan mengevaluasi kemajuan
harus tersedia sepanjang periode waktu yang direncanakan.
3. Membandingkan hasil dengan target atau tujuan
4. Menentukan derajat nilai hasil yang telah dicapai
Mengevaluasi kemajuan pekerjaan 7
Kemajuan pekerjaan dievaluasi untuk mengukur tingkat efisiensi tim kesehatan, yaitu untuk
mengetahui apakah tim telah menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan untuk mencapai target
(kuantitas), apakah mutu pekerjaan sesuai dengan yang diharapkan dan apakah pekerjaan
diselesaikan tepat waktu, dan apakah pekerjaan diselesaikan tepat waktu, dan apakah terjadi
pemborosan anggaran atau tidak.
Pertanyaan dasar yang perlu diajukan adalah :
-

Apakah hasilnya sesuai dengan yang diharapkan?

Bila tidak, mengapa?

Evaluasi efisiensi meliputi lima langkah serupa seperti yang telah dibicarakan :
-

Memutuskan aspek-aspek apa dari program yang akan dipakai untuk mengevaluasi
efisiensi, dan bagaimana cara mengukur atau menilai efisiensi

Mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk mengukur pencapaian

Membandingkan hasil dengan norma dan standar

Menentukan nilai kerja yang telah dicapai

Menentukan apa yang akan dilakukan selanjutnya.

1. Menentukan apa yang akan dievaluasi dan memilih ukuran efisiensi operasional.
2. Mengumpulkan informasi yang diperlukan
3. Membandingkan pencapaian dengan norma dan target
28

4. Menilai derajat pencapaian target


5. Menentukan langkah selanjutnya
Menilai kinerja staf 7
Tujuan utama evaluasi adalah belajar dari pengalaman, sehingga program dapat diperbaiki.
Kinerja staf dinilai agar para staf dapat belajar dari pengalaman dan oleh karenanya dapat
meningkatkan atau mempertahankan kinerjanya yang baik.
Satu tujuan khusus dari penilaian kinerja staf adalah agar dapat diambil keputusan mengenai
kebutusan belajar staf.
Proses penilaian juga melibatkan lima langkah berikut ini :
-

Menentukan aspek kinerja apa yang akan dinilai

Mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk menilai kinerja

Membandingkan hasil-hasil dengan norma yang relevan

Menilai derajat pencapaian norma

Menentukan langklah selanjutnya

1. Menentukan apa yang akan dinilai dan memilih indicator kinerja


2. Mengumpulkan informasi yang diperlukan
3. Membandingkan pengamatan dengan norma dan standar
4. Menilai seberapa jauh kinerja staf telah sesuai dengan standar yang diinginkan
5. Memutuskan langkah selanjutnya
Mengevaluasi penggunaan sumber daya 7
Dalam hal ini, evaluasi berbeda dengan pemantauan karena ia menekankan bagaimana
pemakaian sumber daya sehubungan dengan hasil yang dicapai selama jangka waktu tertentu,
katakanlah satutahun dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan berikut :
5. Dapatkah sumber daya mencapai hasil atau keluaran yang lebih baik?
6. Dapatkah hasil dicapai dengan menggunkaan lebih sedikit sumber daya?
Beberapa aspek praktis dari konsep tersebut dibahas dalam bagian ini, mengikuti lima langkah
seperti yang digunakan dalam bagian terdahulu :
29

Menetukan aspek apa dari penggunaan sumber daya yang akan dievaluasi

Mengumpulkan informasi yang diperlukan

Membandingkan penggunaan sumber daya dengan norma dan standar

Menilai derajat pencapaian norma

Memnetukan langkah selanjutnya

1. Menentukan aspek apa dari penggunaan sumber daya yang akan dievaluasi
Salah satu ukuran yang paling berguna dalam penggunaan sumber daya adala besarnya
sumber daya tertentu yang dipakai untuk mengerjakan sejumlah satuan kerja atau mencapai
sejumlah satuan hasil.

2. Mengumpulkan informasi yang perlu

3. Membandingkan penggunaan sumber daya dengan norma dan standar


Norma dan standar untuk penggunaan sumber daya tidak dapat ditetapkan sebelumnya,
keduanya akan muncul sebagai hasil evaluasi. Dalam menjawab pertanyaan dapatkah
sumber daya ini menghasilkan lebih banyak?, hasil terbanyak yang diperolah per unit
sumber daya akan menjadi norma; sebaliknya pertanyaan dapatkah hasil sebesar itu
didapatkan dengan menggunakan lebih sedikit sumber daya? akan menghasilkan norma
yang setara dengan biaya terendah perunit hasil.

4. Menilai derajat pencapaian norma


Bila pendekatan termurah untuk mencapai hasil tetentu telah ditentukan, terciptalah dasar
untuk memeriksa pendekatan lain. Demikian juga jika hasil tertinggi diperoleh dari sejumlah
tertentu sumber daya yang telah ditentukan, dapat dibicarakan bagaimana hasil yang rendah
dapat dicapai. Pertimbangan semacam ini penting untuk meningkatkan strategi program,
tetapi siapa yang mengerjakannya, dimana dan kapan, akan bergantung pada susunan
administratif Negara masing-masing.

5. Menentukan penggunaan sumber daya pada masa mendatang

30

Dari keputusankeputusan yang mungkin timbul dari pertimbangan tersebut, salah satunya
mungkin adalah menghentikan sutau komponen program bila terbukti memerlukan biaya
yang jauh melebihi apa yang akan dicapainya. Jenis keputusan kedua dapat berupa
menurunkan target cakupan yang terlalu tinggi untuk masa mendatang bila tidak ada sumber
daya tambahan yang dapat diperoleh. Jenis keputusan yang ketiga adalah mencoba
mempengaruhi pihak berwenang untuk meningkatkan anggaran sehingga tim kesehatan dapat
memenuhi targetnya.
6.1.1 Pola Transmisi 6
A. HOST (pejamu) 6
Yang dimaksud dengan faktor pejamu ialah smua factor yang terdapat pada diri manusia
yang dapat mempengaruhi timbulnya serta perjalanan suatu penyakit. Factor tersebut
banyak macam, antara lain:
a. Faktor keturunan
Dalam dunia kedokteran dikenal pelbagai macam penyakit yang dapat diturunkan
seperti misalanya penyakit alergis, kelainan jiwa, dan beberapa jenis penyakit
kelainan darah.
b. Mekanisme pertahanan tubuh
Secara umum mekanisme pertahanan tubuh dapat dibedakan atas 2 macam yakni
pertahanan tubuh umum dan pertahan tubuh khusus. Jika kedua pertahanan tubuh
ini baik, tentu dalam batas-batas tertentu beberapa jenis penyakit akan dapat
diatasi.
c. Umur
Pada saat ini banyak dikenal penyakit tertentu yang hanya menyerang golongan
umur tertentu saja. Misalnya penyakit campak, polio dan dipteri yang banyak
ditemukan pada anak.
d. Jenis kelamin
Beberapa jenis penyakit tertentu hanya pada jenis kelamin tertentu saja. Misalnya
tumor prostat yang ditemukan pada laki laki sedangkan tumor leher rahim
ditemukan pada wanit.
e. Ras
31

Beberapa ras tertentu diduga lebih sering menderita beberapa penyakit tertentu,
seperti misalnya penyakit hemofili yang lebih banyak ditemukan pada orang
barat.
f. Pekerjaan
Para menejer yang memimpin suatu perusahaan lebih sering menderita penyakit
ketegangan jiwa daripada bawahan atau karyawan lainnya.
g. Kebiasaan kebiasaan hidup
seseorang yang biasa hidup kurang bersih, tentunya lebih mudah terkena penyakit
infeksi daripada sebalaiknya.
h. Keadaan fisiologis tubuh
Kelelahan, kehamilan, pubertas, stress, atau keadaan gizi.
i. Tingkah laku (behavior)
Gaya hidup (life style), personal hygiene, hubungan antar pribadi, dan rekreasi.
B. AGENT (bibit penyakit) 6
Yang dimaksud dengan bibit penyakit adalah suatu substansi atau elemen tertentu yang
kehadirannya atau ketidak hadirannya dapat menimbulkan atau mempengaruhi perjalanan
suatu penyakit. Substansi dan elem yang dimaksud banyak macamnya, yang secara
sederhana dapat dikelompikkan dalam 5 macam yakni:
a. Golongan nutrient.
Yang dimaksud dengan golongan nutrient adalah zat gizi yang dibutuhkan tubuh
untuk melangsungkan fungsi kehidupan.
b. Golongan kimia
Adalah zat kimia yang ditemukan dalam (exogenous chemical substance) dan atau
zat kimia yang dihasilkan oleh tubuh (endogenous chemical substance)
c. Golongan fisik
Golongan fisik seperti suhu yang terlalu tinggi atau rendah, suara yang terlalu
bisisng, kelembaban udara, tekanan udara, radiasi atau trauma mekanis dpat
menimbulkan pelabagai macam penyakit.
d. Golongan mekanik

32

Sama seperti golongan fisisk. Bedanya, pada golonga mekanik unsure capur
tangan manusia lebih banyak ditemukan, seperti misalnya kecelakaan di jalan
raya, pukulan dan lain sebagainya.
e. Golongan biologic
Penyebab penyakit yang termasuk golongan biologic dapat berupa jasat renic
(micro organisme) dan atau yang bukan jasat renik baik yang berasal dari hewan
atau yang berasala dari tumbuh- tumbuhan. Misalnya: protozoa, bakteri, virua,
jamur, metazoan (arthropoda dan helminthes).

Jika penyakit penyakit tergolong dalam kelompok biotis, maka penyakit yang
ditimbulkan disebut dengan nama penyakit infekasi (infectious diseases). Penyakit infeksi ini ada
yang bersifat menular (communicable diseases) dan ada pula yang tidak bersifat menular (non
communicable desease). Berat ringannya suatu penyakit infeksi yang dialami ditentukan oleh
sifat bibit penyakit yang menyerang. Sifat tersebut dapat dibedakan 4 macam:

1. Patogenisiti
Kemampuan bibit penyakit untuk menimbulkan reaksi pada pejamu sehingga timbul
penyakit. Jika kemampuan ini tidak dimiliki, penyakit tidak akan muncul.
2. Virulensi
Yang dimaksud dengan virulensi ialah ukuran keganasan atau derajat kerusakan yang
ditimbulkan, maka bibit penyakit tersebut termasuk dalam golongan bibit penyakit
yang virulen.
3. Antigenesiti
Kemampuan bibit penyakit merangsang timbulnya mekanisme pertahanan tubuh
(antigen) pada diri pejamu. Apabila antigen ini banyak dihasilkan, maka bibit
penyakit memiliki antigenisitas yang tinggi.
4. Infektiviti
Kemampuan bibit penyakit mengadakan invasi dan menyesuaikan diri, berkembang
biak dan bertempat tinggal dalam diri pejamu.

33

C. LINGKUNGAN (ENVIRONMENT) 6
Yang dimaksud dengan lingkungan ialah agregat dari seluruh kondisi dan pengaruhpengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan suatu organisasi.
Secara umum lingkungan ini dibedakan atas dua macam yakni:

Lingkungan fisik
Yang dimaksud dengan lingkungan fisik adalah lingkungan alamiah yang terdapat
disekitar manusia. Lingkungan fisik ini banyak macamnya, misalnya cuaca, musim,
keadaan geografis dan struktur geologi

Lingkungan non- fisik


Ialah lingkungan yang muncul sebagai akibat adanya interaksi antar manusia.
Misalnya social budaya, norma, nilai dan adat istiadat.

Peran lingkungan dalam menyebabkan timbul atau tidaknya penyakit dapat bermacammacam. Salah satu diantaranya ialah sebagai reservoir bibit penyakit (environmental
reservoir).

7.1

Perencanaan Tahunan
Perencanaan adalah proses penyusunan rencana tahunan Puskesmas untuk mengatasi
masalah kesehatan diwilayah kerja Puskesmas. Rencana tahunan Puskesmas dibedakan
atas dua macam. Pertama, rencana tahunan upaya kesehatan wajib. Kedua, rencana
tahunan upaya kesehatan pengembangan.

7.1.1 Perencanaan Upaya Kesehatan Wajib 2


Jenis upaya kesehatan wajib adalah sama untuk setiap Puskesmas, yakini Promosi
Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Ibu dan Anak termasuk Keluarga
Berencana, Perbaikan Gizi Masyarakat, Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
Menular serta Pengobatan.
Langkah-langkah perencanaan yang harus dilakukan Puskesmas adalah sebagai berikut :2
a. Menyusun Usulan Kegiatan
Langkah pertama yang dilakukan oleh puskesmas adalah menyusun usulan kegiatan
dengan memperhatikan berbagai kebijakan yang berlaku, baik nasional maupun
daerah, sesuai dengan masalah sebagai hasil dari kajian data dan Informasi yang
tersedia di puskesmas. Usulan ini disusun dalam bentuk matriks (Gantt Chart) yang
34

berisikan rincian kegiatan, tujuan, sasaran, besaran kegiatan (volume), waktu, lokasi
serta perkiraan kebutuhan biaya untuk setiap kegiatan.
Contoh Gantt Chart Usulan Kegiatan (RUK)
N

Upaya

Puskesmas

Keg

Tujuan

Sasaran

Target

Waktu

Vol.

Hasil yg

Kegiatan

diharapkan

Rencana ini disusun melalui pertemuan perencanaan tahunan puskesmas yang


dilaksanakan

sesuai

dengan

siklus

perencanaan

kabupaten/kota

dengan

mengikutsertakan BPP serta dikoordinasikan dengan camat.


b. Mengajukan Usulan Kegiatan
Langkah kedua yang dilakukan Puskesmas adalah mengajukan usulan kegiatan ke
dinas kabupaten/kota untuk persetujuan pembiayaan. Perlu diperhatikan dalam
mengajukan usulan kegiatan harus dilengkapi dengan usulan kebutuhan rutin, sarana
dan prasarana dan operasional Puskesmas beserta pembiayaannya.
c. Menyusun Rencana Pelaksanaan Kegiatan
Langkaha ketiga yang dilakukan adalah menyususn rencana pelaksanaan kegiatan
yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan kabupaten/kota (Rencana Kerja
Kegiatan/Plan of Action) dalam bentuk matriks (Gantt Chart) yang dilengkapi dengan
pemetaan wilayah (mapping).
Contoh Gantt Chartt Rencana Pelaksanaan (POA)
Upaya Kesehatan ..
No

Keg

Sasaran

Target

Vol.

Rincian

Lokasi

Tenaga

keg

pelaksanaan

pelaksanaan

pelaksanan

7.1.2 Penggerakan partisipasi masyarakat

Jadwal

Keb.
Pelaksanaan

P e n g g e r a k a n p a r t i s i p a s i m a s y a r a k a t d i l a k u k a n a n t a r a l a i n m e l a l u i pendidik
an kader tentang pemberantasan diare, sehingga kader mampu melakukan penyuluhan kepada
masyarakat.
35

Melarutkan oralit dan memberikan.

M e n d e t e k s i d i n i , m e n g o b a t i p e n d e r i t a d i a r e d a n m e l a k u k a n rujukan.

Memberikan penyuluhan tentang kesehatan perseorangan dan lingkungan.

Penyuluhan tentang penggunaan air bersih.

36

BAB III
KESIMPULAN

Upaya untuk menangani KLB diare ditentukan berdasarkan prinsip-prinsip administrasi


kesehatan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan penilaian atau
evaluasi. Dimana pada perencanaan dilakukan pemilihan prioritas masalah melalui
pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan analisa data. Kemudia dilakukan prioritas jalan keluar
dan pelaksanaan prioritas tersebut. Setelah hal-hal diatas dilaksanakan kemudian dilakukan
penilaian terhadap hasil kegiatan dengan pendekatan sistem yang meliputi masukan, proses,
keluaran dan dampak yang dipengaruhi oleh lingkungan.

37

DAFTAR PUSTAKA
1. Kk
2. Keputusan Menteri Republik Indonesia Nomor 128/MENKES/SK/II/2004. Kebijakan
Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta :Departemen Kesehatan Republik
Indonesia; 2004
3. Kk
4. Pemberantasan

penanggulangan

diare.

Diunduh

dari

http://pmkdinaskesehatan.2010/11/
5. Kemal Zachariah. Evaluasi Program Pemberantasan Penyakit Diare Di Puskesmas
Kelurahan Jelambar Baru. Jakarta : Universitas Kristen Krida Wacana; 2008
6. K
7. Mc mahon Rosemary. Manajemen Pelayanan Kesehatan Primer. Ed 2. Jakarta: EGC;
2003

38