Anda di halaman 1dari 8

Tauhid Al Asma' was Shifat

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ahlus Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah Azza wa Jalla dan RasulNya
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah tetapkan atas diri-Nya, baik itu dengan Nama-
Nama mahupun Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mensucikanNya dari
segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Kita wajib
menetapkan Sifat Allah sebagaimana yang terdapat dalam al-Qur'an dan as-Sunnah
dan tidak boleh ditaÂ'wil (canggah).

Al-Walid bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas, al-Auza¡'iy, al-
Laits bin Sa¡'ad dan Sufyan ats-Tsaury tentang berita yang datang mengenai Sifat-
Sifat Allah, mereka semua menjawab:

"Perlakukanlah (ayat-ayat tentang Sifat Allah) sebagaimana datangnya dan


janganlah kamu persoalkan (jangan kamu tanya tentang bagaimana sifat itu)."[1]

Imam Asy-Syafi' Rahimahullah berkata:

"Aku beriman kepada Allah dan kepada apa-apa yang datang dari Allah sesuai
dengan apa yang diinginkan-Nya dan aku beriman kepada Rasulullah dan kepada
apa-apa yang datang dari beliau, sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Rasulullah
S.a.w[2]

Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah: "Manhaj Salaf dan para Imam
Ahlus Sunnah mereka mengimani Tauhid al-Asma' wash Shifat dengan menetapkan
apa-apa yang Allah telah tetapkan atas diri-Nya dan telah ditetapkan Rasul-Nya
Shallallahu alaihi wa sallam untuk-Nya, tanpa tahrif[3] dan ta'thil[4] serta tanpa
takyif[5] dan tamtsil[6]. Menetapkan tanpa tamtsil, menyucikan tanpa ta'thil,
menetapkan semua Sifat-Sifat Allah dan menafikan persamaan Sifat-Sifat Allah
dengan makhluk-Nya"

Firman Allah Subhanahu wa Ta¡'ala:

"Artinya : Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha
mendengar lagi Maha melihat [Asy-Syuura':11]

Lafazh ayat : "Tidak ada yang serupa dengan-Nya" merupakan bantahan kepada
golongan yang menyamakan Sifat-Sifat Allah dengan makhluk-Nya.

Sedangkan lafazh ayat : "Dan Dia Maha men-dengar lagi Maha melihat" adalah
bantahan kepada orang-orang yang menafikan/mengingkari Sifat-Sifat Allah.

I'tiqad Ahlus Sunnah dalam masalah Sifat Allah Subhanhu wa Ta'ala didasari atas
dua prinsip:
Pertama.
Bahawasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala wajib disucikan dari semua sifat-sifat
kurang secara mutlak, seperti ngantuk, tidur, lemah, bodoh, mati, dan lainnya.

Kedua.
Allah mempunyai sifat-sifat yang sempurna yang tidak ada kekurangan sedikit pun
juga, tidak ada sesuatu pun dari makhluk yang menyamai Sifat-Sifat Allah.[7]

Ahlus Sunnah wal JamaÂ'ah tidak menolak sifat-sifat yang disebutkan Allah untuk
Diri-Nya, tidak menyelewengkan kalam Allah Subhanahu wa Ta'ala dari kedudukan
yang semestinya, tidak mengingkari tentang Asma' (Nama-Nama) dan ayat-ayatNya,
tidak menanyakan tentang bagaimana Sifat Allah, serta tidak pula mempersamakan
Sifat-Nya dengan sifat makhluk-Nya.

Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengimani bahawa Allah Azza wa Jalla tidak sama
dengan sesuatu apapun juga. Hal itu kerana tidak ada yang serupa, setara dan tidak
ada yang sebanding dengan-Nya Azza wa Jalla, serta Allah tidak dapat diqiaskan
dengan makhluk-Nya. Seperti mana pada ayat dalam Surah Al Ikhlas.

Yang demikian itu kerana hanya Allah Azza wa Jalla sajalah yang lebih tahu akan
Diri-Nya dan selain Diri-Nya. Dialah yang lebih benar firman-Nya, dan lebih baik
Kalam-Nya daripada seluruh makhluk-Nya, kemudian para Rasul-Nya adalah orang-
orang yang benar, jujur, dan juga yang dibenarkan sabdanya. Berbeda dengan
orang-orang yang mengatakan terhadap Allah Azza wa Jalla apa yang tidak mereka
ketahui, kerana itu Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Ertinya : Maha suci Rabb-mu, yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka
katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para Rasul, dan segala puji bagi Allah
Rabb sekalian alam. [Ash-Shaffat: 180-182]

Allah Jalla Jalaluhu dalam ayat ini mensucikan diri-Nya, dari apa yang disifatkan
untuk-Nya oleh penentang-penentang para Rasul-Nya. Kemudian Allah Azza wa jalla
melimpahkan salam sejahtera kepada para Rasul, kerana bersihnya perkataan
mereka dari hal-hal yang mengurangi dan menodai keagungan Sifat Allah.[8]

Allah Subhanahu wa Ta'Âla dalam menuturkan Sifat dan Asma'Nya, memadukan


antara an-Nafyu wal Itsbat (menolak dan menetapkan)[9] Maka Ahlus Sunnah wal
JamaÂ'ah tidak menyimpang dari ajaran yang dibawa oleh para Rasul, kerana itu
adalah jalan yang lurus (ash-Shiraathal Mustaqiim), jalan orang-orang yang Allah
kurniai nikmat, iaitu jalannya para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin[10]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul
Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama
Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]

_________
Nota kaki
[1]. Diriwayatkan oleh Imam Abu Bakar al-Khallal dalam Kitabus Sunnah, al-Laalikai
(no. 930). Lihat Fatwa Hamawiyah Kubra (hal. 303, cet. I, 1419 H) oleh Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq Hamd bin Abdil Muhsin at-Tuwaijiry, Mukhtashar al-
Uluw lil Aliyil Ghaffar (hal. 142 no. 134). Sanadnya shahih.
[2]. Lihat Lum¡'atul I'tiqaad oleh Imam Ibnul Qudamah al-Maqdisy, syarah oleh
Syaikh Muhammad Shalih bin al-Utsaimin (hal. 36).
[3]. Tahrif atau ta'wil iaitu merubah lafazh Nama dan Sifat, atau merubah
maknanya, atau menyelewengkan dari makna yang sebenarnya.
[4]. Ta'thil iaitu menghilangkan dan menafikan Sifat-Sifat Allah atau mengingkari
seluruh atau sebagian Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Perbedaan antara tahrif dan ta'thil ialah, bahwa ta'thil itu mengingkari atau
menafikan makna yang sebenarnya yang dikandung oleh suatu nash dari al-Qur'an
atau hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan tahrif ialah, merubah lafazh
atau makna, dari makna yang sebenarnya yang terkandung dalam nash tersebut.
[5]. Takyif iaitu menerangkan keadaan yang ada padanya sifat atau
mempertanyakan: "Bagaimana Sifat Allah itu?". Atau menentukan bahawa Sifat Allah
itu hakikatnya begini, seperti menanyakan: "Bagaimana Allah bersemayam?" Dan
yang sepertinya, kerana berbicara tentang sifat sama juga berbicara tentang dzat.
Sebagaimana Allah Azza wa Jalla mempunyai Dzat yang kita tidak mengetahui
kaifiyatnya. Dan hanya Allah Azza wa Jalla yang mengetahui dan kita wajib
mengimani tentang hakikat maknanya.
[6]. Tamtsil sama dengan Tasybih, iaitu mempersamakan atau menyerupakan Sifat
Allah Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya. Lihat Syarah Aqidah al-Wasithiyah (I/86-
100) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syarah Aqidah al-Wasithiyah
(hal 66-69) oleh Syaikh Muhammad Khalil Hirras, Tahqiq Alawiy as-Saqqaf, at-
Tanbiihat al-Lathifah ala Mahtawat alaihil Aqidah al-Wasithiyah (hal 15-18) oleh
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, tahqiq Syaikh Abdul Aziz bin Bazz, al-
Kawaasyif al-Jaliyyah an Ma'anil Wasithiyah oleh Syaikh Abdul Aziz as-Salman.
[7]. Lihat Minhajus Sunnah (II/111, 523), tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim.
[8]. Lihat at-Tanbiihaat al-Lathiifah hal. 15-16.
[9]. Maksudnya, Allah memadukan kedua hal ini ketika menjelaskan Sifat-Sifat-Nya
dalam al-Qur-an. Tidak hanya menggunakan Nafyu saja atau Itsbat saja.
Nafyu (penolakan) dalam al-Qur'an secara garis besarnya menolak adanya
kesamaan atau keserupaan antara Allah dengan makhluk-Nya, baik dalam Dzat
maupun sifat, serta menolak adanya sifat tercela dan tidak sempurna bagi Allah. Dan
nafyu bukanlah semata-mata menolak, tetapi penolakan yang di dalamnya
terkandung suatu penetapan sifat kesempurnaan bagi Allah, misalnya disebutkan
dalam al-Qur'an bahwa Allah tidak mengantuk dan tidak tidur, maka ini
menunjukkan sifat hidup yang sempurna bagi Allah.
Itsbat (penetapan), yaitu menetapkan Sifat Allah yang mujmal (global), seperti
pujian dan kesempurnaan yang mutlak bagi Allah dan juga menetapkan Sifat-Sifat
Allah yang rinci seperti ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, hikmah-Nya, rahmat-Nya dan
yang seperti itu. (Lihat Syarh al-Aqiidah al-Wasithiyyah oleh Khalil Hirras, tahqiq
Alwiy as-Saqqaf, hal. 76-78).
[10]. Lihat QS. An-Nisaa¡' 69 dan at-Tanbiihaat al-Lathiifah hal. 19-20.

Tauhid Uluhiyyah

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Ertinya, mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba,


yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’
(harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’anah (minta
pertolongan), isthighotsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta
perlindungan) dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah Azza wa
Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Semua ibadah ini
dan lainnya harus dilakukan hanya kepada Allah semata dan ikhlas kerana-Nya. Dan
tidak boleh ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah.

Sungguh Allah tidak akan redha bila dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Bila
ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada
Syirkun Akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya. [Lihat An-Nisaa: 48,
116] [1]

Al-Ilah artinya al-Ma’luh, iaitu sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta
pengagungan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan Rabb-mu adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang haq
melainkan Dia. Yang Maha pemurah lagi Maha-penyayang” [Al-Baqarah: 163]

Berkata Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di Rahimahullah (wafat


th. 1376 H): “Bahawasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan
perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama,
Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak
ada yang setara dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang mencipta dan
mengatur alam semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian, maka Dia adalah
satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Tidak boleh Dia disekutukan dengan
seorang pun dari makhluk-Nya[2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Ertinya : Allah menyatakan bahawa tidak ada yang berhak disembah dengan benar
selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu
(juga menyatakan demikian). Tidak ada yang berhak disembah dengan benar selain-
Nya, Yang Maha-perkasa lagi Maha bijaksana” [Ali ‘Imran: 18]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai Lata, Uzza dan Manat yang disebut
sebagai tuhan, namun tidak diberi hak Uluhiyah:

“Ertinya : Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu
mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk
(menyembah)nya...”[An-Najm: 23]

Setiap sesuatu yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bathil,
dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla.

“Ertinya : (Kuasa Allah) yang demikian itu adalah kerana sesungguhnya Allah, Dia-
lah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah
yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha tinggi lagi Maha besar” [Al-
Hajj: 62]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang Nabi Yusuf “alaihis Sallam yang berkata
kepada kedua temannya di penjara:

“Ertinya : Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang
bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha esa lagi Maha perkasa? Kamu tidak
menyembah selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan
nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun
tentang nama-nama itu…”[Yusuf: 39-40]

Oleh kerana itu para Rasul ‘Alaihimus Salam berkata kepada kaumnya agar
beribadah hanya kepada Allah saja[3]

“Ertinya : Sembahlah Allah olehmu sekalian, sekali-kali tidak ada sesem-bahan yang
haq selain daripada-Nya. Maka, mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)” [ Al-
Mukminuun: 32]

Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil


sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka menyembah, meminta
bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah
Subhanahu wa Ta’ala .

Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini telah


dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dua bukti.

Pertama.
Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan Uluhiyah sedikit pun,
kerana mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik
kemanfaatan, tidak dapat menolak bahaya, tidak dapat menghidupkan dan
mematikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Ertinya :Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah),


yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan
dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula
untuk mengam-bil) sesuatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan,
menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” [Al-Fur-qaan: 3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Ertinya : Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain
Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi,
dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit. Dan bumi
dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’ Dan
tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya
memperoleh syafaat..” [Saba’: 22-23]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


“Ertinya : Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang
tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu tidak mampu
memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiri
pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” [Al-A’raaf: 191-192]

Apabila keadaan tuhan-tuhan itu demikian, maka sungguh sangat bodoh, bathil dan
zhalim apabila menjadikan mereka sebagai ilaAh dan tempat meminta pertolongan.

Kedua:
Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu.
Mereka juga mengakui bahawa hanya Dia-lah yang dapat melindungi dan tidak ada
yang dapat melin-dungi-Nya. Ini mengharuskan pengesaan Uluhiyyah
(penghambaan), seperti mereka mengesakan Rububiyah (ketuhanan) Allah. Tauhid
Rububiyyah mengharuskan adanya konsekuensi untuk me-laksanakan Tauhid
Uluhiyyah (beribadah hanya kepada Allah saja).

“Ertinya : Hai manusia, sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-
orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dia-lah yang menjadikan bumi
sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dia menurunkan air (hujan) dari
langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki
untukmu, kerana itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal
kamu mengetahui”[Al-Baqarah: 21-22]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul
Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama
Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]

_________
Nota kaki
[1]. Disebutkan oleh Ibnu Katsir dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Atha’, Ikrimah, asy-
Sya’bi, Qatadah dan lainnya. Lihat Fathul Majiid Syarh Kitabit Tauhiid (hal. 39-40)
tahqiq Dr. Walid bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Furaiyan.
[2]. Lihat Min Ushuuli ‘Aqiidah Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah dan Aqidatut Tauhiid (hal.
36) oleh Dr. Shalih al-Fauzan, Fathul Majiid Syarah Kitabut Tauhiid dan al-Ushuul
ats-Tsalaatsah (Tiga Landasan Utama).
[3]. Lihat Taisirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan (hal. 63, cet. Mak-
tabah al-Ma’arif , 1420 H).

Tauhid Rububiyyah

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Tauhid Rububiyyah bererti mentauhidkan segala apa yang dikerjakan Allah
Subhanahu wa Ta’ala baik mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan
serta bahawasanya Dia adalah Raja, Penguasa dan Yang mengatur segala sesuatu.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

“Ertinya : Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci


Allah, Rabb semesta alam.” [Al-A’raaf: 54]

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Ertinya : ...Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabb-mu, kepunyaanNya-lah


kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah, tiada mempunyai
apa-apa walaupun setipis kulit ari.”[ Faathir: 13]

Orang musyrikin juga mengakui tentang sifat Rububiyyah Allah. Sebagaimana firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala

“Ertinya : Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu, dari langit dan
bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan
siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan
yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan.’ Maka,
mereka menjawab: ‘Allah.’ Maka, katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa
(kepada-Nya)?’ Maka, (Dzat yang demikian) itulah Allah Rabb kamu yang
sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka,
bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)" [Yunus: 31-32]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

“Ertinya : Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang
menciptakan langit dan bumi,’ nescaya mereka akan menjawab: ‘Semuanya
diciptakan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha-mengetahui"[Az-Zukhruuf: 9][1]

Kaum musyrikin mengakui bahawasanya hanya Allah semata Pencipta segala


sesuatu, Pemberi rezeki, Yang memiliki langit dan bumi, dan Yang mengatur alam
semesta, namun mereka juga menetapkan berhala-berhala yang mereka anggap
sebagai penolong, yang mereka bertawasul dengannya (berhala tersebut) dan
menjadikan mereka pemberi syafa’at, sebagaimana yang disebutkan dalam
beberapa ayat. [2]

Dengan perbuatan tersebut, mereka tetap dalam keadaan musyrik, sebagaimana


firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

"Ertinya : Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan
dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain ).”
[Yusuf: 106]

Sebahagian ulama Salaf berkata: “Jika kalian tanya pada mereka : ‘Siapa yang
menciptakan langit dan bumi ?’ Mereka pasti menjawab: ‘Allah.’ Walaupun demikian
mereka tetap saja menyembah kepada selain-Nya.” [3]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Oleh Yazid bin Abdul
Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan Pertama
Jumadil Akhir 1425H/Agustus 2004M]

_________
Nota kaki
[1]. Lihat juga QS. Al-Mu’minuun: 84-89, lihat juga ayat-ayat lain.
[2]. Lihat QS. Yunus: 18, az-Zumar: 3, 43-44.
[3]. Disebutkan oleh Ibnu Katsir dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Atha’, Ikrimah, asy-
Sya’bi, Qatadah dan lainnya. Lihat Fat-hul Majiid Syarh Kitabit Tauhiid (hal. 39-40)
tahqiq Dr. Walid bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Furaiyan.