Anda di halaman 1dari 18

AGAMA DAN SEKULARISME

Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Sosiologi Agama
Dosen Pengampu: Ahmad Abbas Musofa, M. Ag.

Disusun Oleh:
IMAN MAULANA ZULFA
NIM. 212 342 9480

PRODI ILMU QURAN DAN TAFSIR


JURUSAN USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Ketika agama menjadi macet disebabkan etnis, nasionalisme atau
modernisasi dan beberapa kesalahpahaman umum sekitar paradigma sekularisasi
yang menduganya dengan penyebaran atheisme.
Para ahli sosiologi mengkaji hubungan antara agama dan perubahan sosial.
Sehingga terkesan bahwa agama menghambat perubahan sosial. Pandangan ini
tercermin dalam sebuah ungkapan bahwa agama adalah candu masyarakat,
bahwa karena ajaran agamalah maka rakyat menerima begitu saja nasib buruk
mereka dan tidak tergerak untuk berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan.
Pandangan ini ditentang oleh sosiologi yang lain yang menunjukkan bahwa dalam
masyarakat kaum agama merupakan kaum revolusioner yang memimpin gerakan
sosial untuk mengubah masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Agama dan Fungsi Agama
Berdasarkan sudut pandang kebahsaan bahasa Indonesia pada umumnya
agama dianggap sebagai kata yang berasal dari bahasa sansekerta yang artinya
tidak kacau. Agama diambil dari dua suku kata, yaitu a yang berarti tidak dan
gama yang berarti kacau1. Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan
nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban
yang berkaitan dengan kepercayaan tersebut.
Adapun agama dalam pengertian sosilogi adalah gejala sosial yamg
umumnya dan dimiliki oleh seluruh masyarakat yang ada di dunia ini, tanpa
kecuali. Ia merupakan salah satu aspek dalam kehidupan sosial dan bagian dari
sistem sosial suatu masyarakat.2
Agama memberikan bimbingan dan pengajaaran dengan perantara
petugas-petugasnya (fungsionaris) seperti syaman, dukun, nabi, kiai, pendeta
imam, guru agama dan lainnya, baik dalam upacara (perayaan) keagamaan,
khotbah, renungan (meditasi) pendalaman rohani.
1. Fungsi penyelamatan.
Bahwa setiap manusia menginginkan keselamatan baik dalam hidup
seklarang ini maupun sesudah mati. Jaminan keselamatan ini hanya bias mereka
temukan dalam agama.
Agama membantu manusia untuk mengenal " yang sacral " dan " makhluk
teringgi " atau Tuhan dan berkomunikasi denganNya. Sehingga dalamyang
hubungan ini manusia percaya dapat memperoleh apa yang ia inginkan. Agama
sanggup mendamaikan kembali manusia yang salah dengan Tuhan dengan jalan
pengampunan dan Penyucian.

. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si.,Sosiologi Agama,PT.Remaja Rosdakarya,Bandung,Cet.V,2009 (Hal.13)


. Ibid (Hal.14)

2. Fungsi pengawasan social ( social control )


Fungsi agama sebagai control social yaitu :
Agama meneguhkan kaidah-kaidah susila dari adat yang dipandang baik
bagi kehidupan moral warga masyarakat.
Agama mengamankan dan melestarikan kaidah-kaidah moral ( yang
dianggap baik )dari serbuan destruktif dari agama baru dan dari system hokum
Negara modern.
3. Fungsi memupuk Persaudaraan.
Kesatuan persaudaraan berdasarkan kesatuan sosiologis ialah kesatuan
manusia-manusia yang didirikan atas unsure kesamaan.
Kesatuan persaudaraan berdasarkan ideology yang sama, seperti
liberalism, komunisme, sosialisme.
Kesatuan persaudaraan berdasarkan system politik yang sama. Bangsabangsa bergabung dalam system kenegaraan besar, seperti NATO, ASEAN dll.
Kesatuan persaudaraan atas dasar seiman, merupakan kesatuan tertinggi
karena dalam persatuan ini manusia bukan hanya melibatkan sebagian dari dirinya
saja melairtkan seluruh pribadinya dilibatkan dalam satu intimitas yang terdalam
dengan sesuatu yang tertinggi yang dipercayai bersama.
4. Fungsi transformatif.
Kata transformative barasal dari kata latin " transformare " artinya
mengubah bentuk. Jadi fungsi transformative berarti mengubah bentuk kehidupan
baru atau mengganti nilai-nilai lama dengan menanamkan nilai-nilai baru.

B. Ruang Lingkup Agama dan Jenis Ibadah Dalam Pandangan Agama


Islam
Secara garis besar ruang lingkup agama mencakup :
a) Hubungan manusia dengan tuhannya
Hubungan dengan tuhan disebut ibadah. Ibadah bertujuan untuk
mendekatkan diri manusia kepada tuhannya.

b) Hubungan manusia dengan manusia


Agama memiliki konsep-konsep dasar mengenai kekeluargaan dan
kemasyarakatan. Konsep dasar tersebut memberikan gambaran tentang ajaranajaran agama mengenai hubungan manusia dengan manusia atau disebut pula
sebagai ajaran kemasyarakatan. Sebagai contoh setiap ajaran agama mengajarkan
tolong-menolong terhadap sesama manusia.
c) Hubungan manusia dengan makhluk lainnya atau lingkungannya.
Disetiap ajaran agama diajarkan bahwa manusia selalu menjaga
keharmonisan antara makluk hidup dengan lingkungan sekitar supaya manusia
dapat melanjutkan kehidupannya.
Jenis ibadah dalam tinjauan Ushul Fiqh ada dua macam:3
1. Ibadah qashirah, yaitu ibadah yang nilai kemanfaatannya kembali pada
pribadinya sendiri.
2. Ibadah mutaadiyah, yaitu ibadah yang nilai kemanfaatannya untuk
kepentingan umum.

C. Sekularisme dan Latar Belakang Kemunculannya


Kata-kata sekuler dan sekularisasi berasal dari bahasa Barat (Inggris,
Belanda, dan lain-lain).4 Menurut kamus bahasa Indonesia sekular artinya
bersifat duniawi kebendaan (bukan bersifat keagamaan atau kerohanian). Kata
sekuler yang diadopsi dari kata latin Seaculum, pada mulanya berarti masa atau
generasi dan juga memiliki arti konotasi rangkap ditandai dengan waktu yang
tepat. Waktu menunjukkan pengertian sekarang atau pada masa kini, dan waktu
menunjukkan pada pengertian dunia atau duniawi. Tekanan maknanya terletak
pada suatu waktu tertentu atau periode tertentu di dunia yang dipandang sebagai
suatu proses sejarah.5

. Dr. Zubaedi, M. Ag., M. Pd.,Islam dan Benturan Antar Peradaban,Ar Ruzza Media, Jogjakarta,2007
(Hal.220)
4
. Nurcholish Madjid. Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan, Mizan,Bandung.1998(Hal. 216)
5
. Muhammad al-Naquib al-Attas. Dilema Kaum Muslimin, penterjemah:Anwar Wahdi Hasi dan H.M.
Mukhtar Zoemi, Bina Ilmu, Surabaya, 1986(Hal14)

Sekulerisasi, menurut Harun Nasution adalah proses penduniawian, yaitu


proses melepaskan hidup duniawi dari kontrol agama, dengan demikian
sekulerisasi adalah proses melepaskan diri dari agama dan bisa berakibat atau
mengarah kepada atheisme.6
Sekularisme atau proses sekularisasi berasal dari pengalaman sejarah
eropa. Hal ini berarti pemisahan secara bertahap hampir semua aspek kehidupan
dan pemikiran dari perkumpulan-perkumpulan dan tujuan-tujuan kependetaan,
suatu proses yang berkembang di Inggris pada abad ke enam belas dengan
peralihan kekuasaan politik dari arena keagamaan ke negara dan dalam kasus
hukum dari kehakiman yang religius ke sekular.7
Faktor lain yang menyebabkan sekularisasi di Barat tumbuh subur adalah
dalam teks injil tertulis Biarlah kaisar mengurus yang menjadi bagiannya dan
Allah mengetahui apa yang menjadi tugasnya.
Dalam pengalaman sejarah Eropa yang sangat bervariasi, proses
sekularisasi hidup bersamaan dengan intensifikasi keagamaan pada tingkat
persolan dan rakyat. Beberapa sosiolog berpendapat bahwa variasi-variasi ini
mengindentifikasikan adanya mitologi sekularisme yang mengasumsikan adanya
pada abad klasik, yang kemudian di trasnformasikan ke dalam abad sekuler;
mereka berpendapat bahwa aspek-aspek sekularisme dan religiusitas hidup
berdampingan, dan masih tetap hingga kini. Sekularisme tidak berarti merosotnya
arti penting agama, baik pada masa praindustri maupun masa industri. Praktek dan
kepercayaan agama sebagai iman, semakin tebal dan bukan semakin luntur selama
sekularisari negara dan kemudian menyusul revolusi Prancis dan revolusi industri.
Sekularisasi merupakan sebuah proses yang panjang. Paradigma
sekularisasi bukanlah sebuah konsep yang sederhana. Seorang sosiolog Steve
Bruce dalam karyanya God is Dead: Sekularization in the West menjelaskan
proses sekularisasi itu dimulai dari reformasi protestan lalu turun kepada
relativisme,

pembagian

dalam

bagian-bagian

(compartmentalization)

dan

kebebasan pribadi (privatization). Bruce juga menyentuh kekuatan-kekuatan yang


6

. Harun Nasution.Islam Rasional, Mizan, Bandung, 1995 (Hal. 188)


. Freeink11,Agama dan Sekularisme,www.rachmatfatahillah.blogspot.com

berlawanan dengan sekularisasi, ketika itu agama menjadi macet disebabkan etnis,
nasionalisme atau modernisasi itu sendiri dan atas beberapa kesalahpahaman
umum sekitar paradigma sekularisasi yang menduganya dengan penyebaran
atheisme.
Para ahli sosiologi mengkaji hubungan antara agama dan perubahan sosial.
Ada yang berpendapat bahwa agama menghambat perubahan sosial. Pandangan
ini tercermin dalam ucapan Marx bahwa agama adalah candu masyarakat,
menurutnya karena ajaran agamalah maka rakyat menerima begitu saja nasib
buruk mereka dan tidak tergerak untuk berbuat sesuatu untuk memperbaiki
keadaan. Pandangan ini ditentang oleh sosiolog yang lain yang menunjukkan
bahwa dalam masyarakat kaum agama merupakan kaum revolusioner yang
memimpin gerakan sosial untuk mengubah masyarakat. Contoh yang dapat
diajukan untuk mendukung pendapat demikian ialah antara lain: berbagai gerakan
perlawanan kaum ulama di tanah air terhadap penjajahan Belanda, kepeloporan
para rohaniawan Katolik di Polandia terhadap rezim komunis dan gerakan para
Ayatullah yang berhasil menjatuhkan rezim Shah di Iran.
Dalam banyak masyarakat, perubahan sosial sering diiringi dengan gejala
sekularisasi, yang oleh sebagian sosiolog seperti Giddens didefenisikan sebagai
proses melalui mana agama kehilangan pengaruhnya terhadap berbagai sendi
kehidupan manusia dan oleh sosiolog lain seperti Light, Keller dan Calhoun
didefenisikan sebagai proses melalui mana perhatian manusia dan institusinya
semakin tercurahkan pada hal duniawi dan perhatian terhadap hal yang bersifat
ruhaniah semakin berkurang. Para ahli sosiolog mengemukakan bahwa proses ini
seringkali memancing reaksi dari kalangan agama, yang dapat berbentuk
perlawanan maupun penyesuaian diri.
Banyak penyebab perubahan sosial, antara lain: ilmu pengetahuan,
kemajuan teknologi dan penggunaannya oleh masyarakat, komunikasi dan
transformasi, urbanisasi, perubahan atau peningkatan harapan dan tuntutan
manusia (rising demands) yang semuanya ini mempengaruhi dan mempunyai
akibat terhadap masyarakat yaitu perubahan masyarakat melalui kejutan dan
karenanyalah terjadi perubahan sosial yang disebut rapid social change.

D. Sekularisme dan Sekularisasi


Ada 2 penilaian dalam masalah sekularisme dan sekularisasi. Pertama
yang memandang bahwa sekuarisme (idiologi) adalah hasil dari sikap sekularisasi
(proses). Dalam skala global, persoalan pokok yang dihadapi agama memang
masalah sekularisasi. Sekularisasi itu menjelajahi kehidupan sosial dalam dua
bentuk, yakni sekularisasi objektif dan sekularisasi subjektif.8 Keduanya yang
menjadikan masa depan manusia adalah sekular dan transendendal atau dimana
Tuhan menjadi impersonal. Kedua yang mengangap bahwa sekularisasi berbeda
dengan sekularisme. Harvey Cox menerangkan perbedaan antara sekularisasi
dengan sekularisme sebagai berikut: Bagaimanapun, sekularisasi sebagai istilah
deskriptif mempunyai arti yang luas dan mencakup. Ia muncul dalam samaransamaran yang berbeda-beda, tergantung kepada sejarah keagamaan dan politik
suatu daerah yang dimaksudkan. Namun, di mana pun ia timbul, ia harus
dibedakan dari sekularisme. Sekularisasi menunjukkan adanya proses sejarah,
hampir pasti tidak mungkin diputar kembali, di mana masyarakat dan kebudayaan
dibebaskan dari kungkungan atau asuhan pengawasan keagamaan dan pandangan
dunia metafisis yang tertutup. Sekularisasi pada dasarnya perkembangan
pembebasan. Sedangkan sekularisme adalah nama untuk suatu idiologi, suatu
pandangan dunia baru yang tertutup yang berfungsi sangat mirip sebagai agama
baru (Sekularism is the name for an ideology, a new closed world view which
fungtion very much like a new religion).9

E. Pengaruh Sekularisme dalam Kehidupan


Masyarakat sekuler tidak memberikan tanggapan langsung terhadap
agama. Terlalu dini untuk mengatakan bahwa masyarakat ini berfungsi tanpa
agama. Masyarakat sekular dewasa ini, dimana pemikiran religius, praktekpraktek religius dan kebiasaan-kebiasaan religius mempunyai peran yang kecil
saja. Bagaimanapun adalah ahli waris nilai-nilai, aturan-aturan dan orientasi

. Dr. Zubaedi, M. Ag., M. Pd.,Islam dan Benturan Antar Peradaban,Ar Ruzza Media, Jogjakarta,2007
(Hal.217)
9
. Op. Cit.

keagamaan dimasa lampau hingga saat ini belum ada masyarakat yang benarbenar sekular. Masih perlu dilihat apakah masyarakat sekular akan mampu secara
efektif mempertahankan ketertiban umum tanpa kekerasan institusional apabila
pengaruh agama semakin kurang. Barangkali dalam beraksi terhadap institusional,
impersonalitas dan birokrasi masyarakat moderen yang semakin bertambah,
agama akan memperoleh fungsi-fungsinya yang baru. tetapi barangkali bukan
agama yang menerima nilai-nilai institusional baru yaitu agama yang
ekumenisme, melainkan agama yang bersifat sekte-sekte.
Kita mungkin dapat berkata bahwa perkembangan ini yang jelas
merupakan bagian dari proses sekularisasi adalah juga bagian dari proses
meningkatnya rasionalitas manusia itu sendiri, yaitu kesadarannya akan faktafakta yang sesungguhnya. Namun kita juga bertanya apakah kerja yang dibuat
lebih pantas untuk dipikul pekerja dan pelaksanaan lebih berharga bagi
masyarakat yang tidak terdapat satu pengorbanan atau pengabdian tanpa pamrih.
Masyarakat yang tidak religius telah berusaha mencari jalan lain untuk
menimbulkan motivasi bekerja, memenangkan itikad baik mereka yang tidak
berpamrih.10
Sekularisme menginginkan kemajuan dan kebebasan, kebebasan itu
adalah; kebebasan dari agama, kebebasan pribadi, dan kebebasan masyarakat.
Maka yang terjadi dari akibat kebebasa-kebebasan itu ada yang bersifat positif dan
ada yang bersifat negatif. Pada masa saat ini banya terjadi kejahatan yang
disebabkan oleh reaksi terhadap sekularisasi.
Terjadinya pemboman di mana (terorisme), seperti peledakan Oklahoma
City pada tahun 1995, salah satu bagian dari The Turner Diaries oleh William
Pierce.juga berbisikan pelaku pemboman seperti Eric Robert Rudolph pemboman
klinik-klinik aborsi di Brimagham, Alabama dan Atlanta; Georgia, peledakan
sebuah bar kaum lesbian di Atlanta, dan peledakan bom pada Olimpiade Atlanta
1996. Secara umum, peristiwa-peristiwa tersebut memiliki keterkaitan dengan apa
10

. B.R.Wilson, Agama di Dalam Mayarakat Sekuler, dalam Roland Robertson (ed), Sosiologi Agama, terj.
Paul Rosyadi, Aksara Persada, Jakarta,1983 (Hal.177)

yang oleh kebanyakan aktivis Kristen disebut sebagai immoralitas seksual; aborsi
dan homoseksual. Menurut Michael Bray, kemarahan Rudolph terhadap panitia
Olimpiade sebagian dikarenakan karir pembawa obor olimpiade, yang setuju
dengan sebuah ordinasi yang mengatakan yang mengatakan bahwa sodomi tidak
sesuai dengan nilai-nilai komunitas. Rudolph menginterprestasikan jalan
memutar dari perjalanan obor sebagai pandangan pro-gay dari sebafian panitia.
Namun, dalam pengertian yang luas, Rudolph merasa prihatin kepermisifan
otoritas-otoritas sekuler di Amirika Serikat dan Internasionalisme Atheistik yang
mengendalikan satu sisi yang Michael Bray menyebutkan The culture war
(perang kebudayaan) dalam masayarakat modern.11 Menurut William Pierce,
upaya-upaya seperti itu diperlukan karena pola pikir sekularisme diktatorial telah
diterapkan pada masyarakat Amerika, sebagai hasil dari sebuah konspirasi yang
rumit, yang dirancang oleh orang-orang yahudi dan kaum liberal garis-keras
berkaitan dengan pencabutan kebebasan masyarakat Kristen dan tautan-tautan
spritual. Abouhalima menjelaskan bahwa keterlibatan Amerika dalam politik
agama dukungannya terhadap negara Israel dan Musuh-musuh Islamseperti
Mubarak Mesir bukan hasil dari agama Kristen. Tetapi, hal itu berkaitan dengan
idiologi sekularisme Amerika, yang menurut Abouhalima, tidak netral, tapi
memusuhi agama, khususnya Islam.
Modernitas pencerahan memproklamirkan kematian agama. Modernitas
tidak hanya menandai kematian otoritas institusional gereja dan kontrol ulama,
tapi juga hilangnya agama idiologis dan intelektual di tengah-tengah masyarakat.
Penalaran ilmiah dan klaim-klaim moral dari kontak sosial sekular menggantikan
agama dan gereja sebagai basis kebenaran dan identitas sosial. Kiblat dari
devaluasi agama merupakan krisis umum dari keyakinan keagamaan, menurut
Bourdieu krisis bahasa keagamaan dan kemampuan performatifnya adalah
bagian dari kekacauan dan merupakan suatu pandangan dunia yang telah
usang;disentegrasi hubungan sosial seluruh alam semesta. Dalam menghadapi
disentegrasi ini, kebangkitan aktivitas-aktivitas keagamaan memproklamirkan
11

. Mark Juergensmeyer. Teror Atas Nama Tuhan: Kebangkitan Global Kekerasan Agama,Nizam Press,
Jakarta, 2002(Hal.40)

kematian sekularisme. Mereka menyingkirkan upaya-upaya budaya sekular dan


bentuk-bentuk nasionalismenya untuk menggatikan agama. Mereka menentang
pandangan bahwa masyarakat sekular dan negara-bangsa modern dapat
memberika tabiat moral yang menyatukan komunitas-komunitas nasional atau
kekuatan idiologis untuk menopang negara-negara yang diliputi oleh kegagalan
etnir, ekonomi dan militer.
Apakah kebangkitan terorisme agama memiliki keterkaitan dengan
perubahan-perubahan global? Kita tahu bahwa beberapa kelompok yang terkait
dengan kekesaran dalam masyarakat industri memiliki sebuah agenda anti
modernis. Secara ektrim, akhir dari penolakan agama terhadap modernisme
Amerika Serikat oleh anggota-anggota kelompok anti-aborsi Amerika dan lainlainnya.12
Akibat dari kekecewaan terhadap nilai-nilai Barat modern adalah apa yang
disebut hilangnya keyakinan dalam bentuk idiologi kebudayaan, nasionalisme
sekular. Meskipun beberapa tahun lalu merupakan ide yang gemerlap, ide tersebut
kini benar-benar telah menjadi tempat yang umum bagi nasionalisme sekular
tersebut, prinsip bahwa pandangan yang lebih berakar dalam suatu tatanan sekular
daripada sebuat identitas keagamaan ataupun etnis sedang mengalami krisis.
F. Metode Penyebaran Sekularisme
Melalui Pendidikan
Ada beberapa bentuk dalam menyebarkan sekularisme melalui lembaga
pendidikan, di antaranya:
1. Membatasi pendidikan agama Islam secara material dan moral.
a. Pembatasan secara material dilakukan dengan membuka pintu seluasluasnya kepada pendidikan yang kosong dari ruh agama (pendidikan
yang jauh dari penekanan agama). Pendidikan seperti ini didorong,
dibantu, dan diberi kemudahan dari segi material. Adapun pendidikan
12

. Aneka ragam makalah,Agama dan Sekularisme,www.makalahmajannaii.blogspot.com

agama Islam dibatasi bantuan keuangan, bahkan tidak menerima bantuan


sama sekali. Intinya, bantuan lebih banyak diarahkan bagi pendidikan
sekularisme.
b. Pembatasan secara moral ialah dengan lebih memprioritaskan para
pelajar dan guru mereka. Membeda-bedakan antara guru-guru agama dan
guru-guru umum dalam setiap keadaan memang satu hal yang disengaja.
Begitu juga dibedakannya lulusan lembaga pendidikan Islam dengan
lulusan bidang umum. Dari segi jabatan, lulusan sekolah Islam tidak
banyak mendapat peluang, statusnya dipandang rendah serta gajinya
kecil. Berbeda dengan lulusan bidang umum, mereka lebih mudah
mendapat peluang dengan gaji dan jabatan lumayan. Hal ini, disadari
atau tidak, akan menjadikan orang-orang lari dari agama dengan
anggapan jika memilih bidang agama tidak akan menjamin hidup dan
masa depan akan suram. Maka pendidikan agama tidak menjadi pilihan.
Bukan bermaksud di sini umat Islam tidak boleh mempelajari ilmu-ilmu
selain dari ilmu Islam. Malah sebenarnya tidak ada istilah ilmu bukan Islam,
seperti kedokteran, tehnik dan sebagainya. Ia juga merupakan ilmu Islam. Yang
menjadi persoalannya ialah umat Islam telah diabaikan dari segi penekanan ilmu
agama yang sepatutnya menjadi dasar. Tidak salah seorang muslim itu menjadi
dokter, tetapi harusnya menjadi dokter yang memiliki dasar didikan Islam. Juga
tidak salah seorang muslim itu menjadi insinyur, tetapi harusnya menjadi insinyur
yang memiliki dasar didikan Islam.
Tidak salah seorang muslim itu menjadi dokter, tetapi harusnya menjadi
dokter yang memiliki dasar didikan Islam. Juga tidak salah seorang muslim itu
menjadi insinyur, tetapi harusnya menjadi insinyur yang memiliki dasar didikan
Islam.

2. Mengirim pelajar Islam ke negara-negara kafir untuk belajar.


Misi pengiriman ini akan menjadikan pelajar itu bertambah jahil terhadap
agama, nilai serta adat yang baik dan akan menyebabkan pelajar itu tertarik
dengan budaya barat. Di samping itu, akan tertanam dalam diri pelajar itu tabiat
(kelakuan) yang menyimpang dari ajaran Islam. Dengan berlalunya waktu, tabiat
menyimpang ini akan mendarah daging dalam diri pelajar itu dan dia akan
mempraktikkannya dalam kehidupannya misalnhya dalam masalah makan
minum, pakaian, cara pergaulan dan kebiasaan buruk lainnya. Dia akan menjadi
lebih Barat daripada orang-orang Barat sendiri.
3. Menghilangkan materi agama atas nama kemajuan pendidikan.
Metode ini telah dilakukan oleh penjajah Inggris di Mesir, ketika mejajah
Mesir, yakni dengan mengkampanyekan slogan pembaharuan dalam Universitas
Al Azhar dengan memasukkan materi umum dalam materi perkuliahannya.
Percampuran ini menyebabkan pelajar lemah dalam menguasai ilmu agama.
Beberapa materi pelajaran juga telah dibuang atau dikurangi, seperti materi yang
berkaitan dengan jihad yang menyebabkan ruh jihad hilang dalam diri pelajar
Islam.
Pelonggaran pelajaran agama berlaku di seluruh negara Islam dengan
tujuan untuk melemahkan pelajar-pelajar Islam.
4. Menjamurnya institusi pendidikan asing di negara Islam.
Tujuannya ialah untuk mengeluarkan umat Islam dari agama mereka atau
sekurang-kurangnya menyelewengkan akidah mereka. Paling kurang, kesannya
menghina bahasa Arab (bahasa umat Islam) dan mengagungkan bahasa asing.
Penghinaan bahasa Arab sebenarnya menghinakan agama Islam itu sendiri. Ini
berlaku di negara-negara Arab. Penghinaan bahasa Arab sebenarnya menghinakan
agama Islam itu sendiri.

Cara yang paling berbahaya yaitu percampuran laki-laki dan perempuan


dalam pengajaran. Mereka (golongan sekular) pada awalnya, menerapkan sistem
ini di negara-negara Islam dengan dalih kemajuan dan kemoderenan. Tetapi
sebenarnya, tujuannya mengumbar nafsu manusia. Mereka juga berdalih,
percampuran itu dapat mematangkan pemikiran.
Kenyataannya, hal itu mengakibatkan munculnya masalah sosial yang
kronis akibat percampuran yang tidak dikontrol. Ilmu sains membuktikan
percampuran seperti ini akan membawa kepada 2 keadaan :
1. Akan melemahkan nafsu seks antara 2 jenis, dengan kata lain, laki- laki tidak
lagi bernafsu kepada wanita secara tabi'i tetapi lebih bernafsu kepada kaum
sejenis (satu perbuatan yang dikutuk oleh Allah SWT). Penyakit ini semakin
menular di negara-negara barat dan juga Amerika Serikat.
2. Atau ia akan merangsang api syahwat. Satu penelitian telah lakukan dengan
menaruh anak kucing dan anak tikus yang masih kecil dalam satu sangkar.
Kedua-duanya makan dan minum dari satu tempat yang sama hingga sampai
masa dewasa. Namun akhirnya anak kucing itu membunuh anak tikus dan
memakannnya walapun kedua-duanya hidup dalam satu sangkar serta makan
dan minum dari tempat yang sama. Anak kucing itu tidak lagi menaruh rasa
kasihan walaupun sudah lama hidup bersama dengan anak tikus itu. Begitulah
diibaratkan dengan percampuran pelajar dengan sebebas-bebasnya tanpa
kontrol, lama kelamaan akan membawa ke arah masalah sosial. Realita yang
berlaku di negara-negara Islam adalah bukti yang nyata betapa buruknya
masalah sosial yang terjadi.
Melalui Media Massa
Jika sekularisasi dalam pendidikan hanya melibatkan ribuan pelajar,
berbeda dengan sekularisasi dalam media massa melibatkan jutaan orang yang
menonton, mendengar dan membacanya melalui program-program yang
disediakan. Setiap perkataan atau tulisan yang baik akan menghasilkan baik yang

baik dengan izin Allah. Manakala perkataan atau tulisan itu buruk, akan
menghasilkan hasil yang buruk pula. Oleh itu media massa bisa berperan untuk
mengangkat martabat, pribadi, harga diri, dan kehormatan seseorang atau ia juga
bisa berperan sebaliknya.
Realita yang dapat dilihat melalui televisi, radio, bioskop, teater, koran,
majalah dan media massa lainnya tidak banyak yang membantu perkembangan
nilai-nilai yang baik. Ia juga tidak membantu perkembangan pengetahuan dan
pengamalan dengan akhlak Islam. Jika ada, ia hanya seperti lipstik, tidak lebih
dari itu.
Program-program televisi yang menyiarkan gambar porno dan mengumbar
aurat banyak disiarkan untuk merusak akhlak umat Islam, terutama golongan
muda-mudinya. Sepatutnya media massa itu menjadi mimbar dakwah yang
menyeru kepada kebaikan dan menyampaikan kebenaran, bukannya suara
maksiat, medan fitnah, dan penyebab kerusakan sosial masyarakat. Itulah kerja
sekularisme yang berusaha menjauhkan umat Islam dari agamanya.
Sepatutnya media massa itu menjadi mimbar dakwah yang menyeru
kepada kebaikan dan menyampaikan kebenaran, bukannya suara maksiat, medan
fitnah, dan penyebab kerusakan sosial masyarakat.
Melalui Undang-Undang
Golongan sekular berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjauhkan
Islam dari kekuasaan pemerintahan. Mereka akan memastikan agar undangundang Islam tidak dirujuk walau dalam masalah yang sangat kecil, sehinggakan
Islam kelihatan tinggal namanya saja. Ini terjadi di kebanyakan negara Islam. Di
Turki contohnya, untuk menjauhkan manusia dari Islam, mereka berusaha
mensekularkan undang-undang sedikit demi sedikit hingga akhirnya undangundang Turki menjadi sekular dan ditinggalakannya undang-undang khilafah
Islam.

Di Mesir pengsekularan undang-undang dilakukan ketika penjajahan


Inggris mewajibkan pembentukan undang-undang dengan merujuk kepada
undang-undang barat, khusunya undang-undang Perancis.
Undang-undang Islam yang tinggal hanyalah berkaitan pernikahan (Ahwal
Syakhsiah) atau yang berkait dengan adat karena ia tidak menggugat kedudukan
penjajah. Umat Islam boleh mengamalkan undang-undang ini di kalangan mereka
tetapi untuk mengamalkan undang-undang yang berkaitan dengan pemerintahan
negara, hukum peradilan dan selainnya tidak diizinkan oleh penjajah. Ini adalah
perencanaan jahat golongan sekular.

Bab III
PENUTUP
Secara sosiologis, agama ialah suatu jenis system social yang dibuat oleh
penganut-penganutnya yang berporos pada kekuatan-kekuatan non empiris yang
dipercayainya dan didaya gunakan untuk mencapai keselamatan bagi diri mereka
dan masyarakat luas umumnya.
Sekuralisme adalah suatu paham yang tertutup, suatu sistemm ideologi
tersendiri dan lepas dari agama. Linti sekularisme ialah penolakan adanya
kehidupan lain di luar kehidupan duniawi. Dari perspekti islam, sekularisme
adalah perwujudan modern dari paham dahriyyah.
Masyarakat sekuler tidak memberikan tanggapan langsung terhadap
agama. Terlalu dini untuk mengatakan bahwa masyarakat ini berfungsi tanpa
agama. Masyarakat sekular dewasa ini, dimana pemikiran religius, praktekpraktek religius dan kebiasaan-kebiasaan religius mempunyai peran yang kecil
saja.

Daftar Pustaka

Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., Sosiologi Agama, PT.Remaja Rosdakarya,


Bandung, Cet.V, 2009.

Dr. Zubaedi, M. Ag., M. Pd.,Islam dan Benturan Antar Peradaban,Ar


Ruzza Media, Jogjakarta,2007.

Nurcholish

Madjid.

Islam

Kemoderenan

dan

Keindonesiaan,

Mizan,Bandung.1998.

Muhammad

al-Naquib

al-Attas.

Dilema

Kaum

Muslimin,

penterjemah:Anwar Wahdi Hasi dan H.M. Mukhtar Zoemi, Bina Ilmu,


Surabaya, 1986.

Harun Nasution.Islam Rasional, Mizan, Bandung, 1995.

Freeink11,Agama dan Sekularisme, www.rachmatfatahillah.blogspot.com,


diakses tanggal 25 Desember 2013,pukul 22:54.

B.R.Wilson, Agama di Dalam Mayarakat Sekuler, dalam Roland


Robertson (ed), Sosiologi Agama, terj. Paul Rosyadi,Jakarta : Aksara
Persada, 1983.

Mark Juergensmeyer. Teror

Atas Nama Tuhan: Kebangkitan Global

Kekerasan Agama,Jakarta: Nizam Press, 2002.

Aneka

ragam

makalah,

Agama

dan

Sekularisme,

www.makalahmajannaii.blogspot.com, diakses tanggal 25 Desember


2013,pukul 22:54.