Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kamaboko
Di zaman dulu, istilah "kamaboko" digunakan makanan yang sekarang
disebut Chikuwa, karena berbentuk bulat panjang seperti bunga (ho) sejenis
tanaman rumput yang disebut Gama. Pada perkembangan selanjutnya, kamaboko
dicetak di atas sepotong kayu sehingga disebut Itakamaboko (kamaboko di atas
papan), sedangkan Chikuwa yang dulunya disebut Chikuwa-kamaboko menjadi
cuma disebut Chikuwa. Di zaman sekarang, Itakamaboko hanya disebut sebagai
kamaboko. Di Jepang, asosiasi produsen kamaboko menetapkan tanggal 15
November sebagai Hari Kamaboko. Tanggal 15 November diambil dari angka
tahun 1115, karena pada tahun itu kamaboko pertama kali dihidangkan di istana
kaisar.
Mahalnya harga bahan baku berupa ikan berdaging putih menjadikan
kamaboko sebagai makanan mewah. Kamaboko juga merupakan salah satu
makanan yang harus ada dalam masakan Osechi (hidangan tahun baru).
Kamaboko adalah sebutan untuk berbagai makanan olahan dari ikan yang
dihaluskan, dicetak di atas sepotong kayu, dan dimatangkan dengan cara dikukus.
Irisan kamaboko bisa langsung dimakan begitu saja atau digunakan sebagai
pelengkap dan hiasan berbagai macam makanan berkuah, seperti ramen, soba,
atau udon.
Adonan diletakkan di atas potongan kayu berbentuk persegi empat dan
diratakan hingga berbentuk setengah lingkaran. Potongan kayu yang menjadi alas
kamaboko dipilih dari kayu yang tidak berbau bila dikukus. Adonan sering
dicampur pewarna makanan berwarna merah jambu agar menarik. Salah satu jenis
kamaboko yang disebut Naruto atau Naruto-maki, bila dipotong membentuk irisan

bermotif pusaran air. Kamaboko yang meniru rasa kepiting disebut kanikama atau
kanikamaboko.
Menurut Suzuki(1981) dalam Ibrahim (2002) menyatakan pada saat ini
produk kamabako sudah sangat bervaraisasi yang dapat dibedakan atas cara
pemasakan, bentuk dan bahan yang ditambah. Berdasarkan cara pemasakan dan
bentuk kamabako. Membagi kamabako menjadi atas 3 macam yaitu :
1.

Itatsuki kamabako, merupakan kamabako yang dicetak pada


potongan kayu kecil sehingga menghasilkan bentuk lempengan
(slab), dipanaskan dengan cara pengukusan atau pemanggangan.
Waktu pemanasan tergantung pada ukuranya, biasanya 80-90
menit untuk ukuran besar, dan 20-30 menit untuk ukuran yang
kecil.

2.

Fried kamabako, adalah pasta daging yang dicampur dengan


variasi bahan tambahan, dibentuk dan digoreng dalam minyak
kedelai. Jenis ini biasanya disebut satsumanage atau tempura.
Bahan yang digunakan pada kamabako jenis ini mutunya lebih
rendah dibandingkan bahan untuk itatsuki.

3.

Chikuwa, adalah kamabako yang dibuat pada cetakan yang


berbentuk tabung, pembentukanya biasanya otomtis oleh mesin
dan dimasak dengan cara dipanggang. Keistimewaan chikuwa
adalah produknya bewarna putih disebelah dalam dan coklat
keemasan disebelah luar atau permukaanya. Mutu bahan baku
untuk kamabako jenis ini juga lebih rendah dibandingkan
dengan itatsuki

Cara pembuatannya : Bahan baku berupa ikan yang memiliki daging


berwarna putih. Bagian daging ikan yang berwarna gelap dipisahkan dan tidak
digunakan. Setelah dicuci dengan air untuk menghilangkan darah dan lemak,
potongan daging ikan digiling dengan penggilingan dari batu. Adonan ditambah
tepung agar kamaboko memiliki tekstur kenyal. Bumbu yang ditambahkan ke
dalam adonan berupa gula, garam, mirin, dan putih telur. Adonan diratakan di atas
sepotong kayu dan dikukus.

2.2 Bakso
Bakso memiliki akar dari seni kuliner Tionghoa Indonesia hal ini
ditunjukkan dari istilah 'bakso' berasal dari kata Bak-So, dalam Bahasa Hokkien
yang secara harfiah berarti 'daging giling'. Karena kebanyakan penduduk
Indonesia adalah muslim, maka bakso lebih umum terbuat dari daging halal
seperti daging sapi, ikan, atau ayam. Kini, kebanyakan penjual bakso adalah orang
Jawa dari Wonogiri dan Malang. Tempat yang terkenal sebagai pusat Bakso
adalah Solo dan Malang yang disebut Bakso Malang. Bakso Malang dan bakso
Solo adalah masakan bakso dan disajikan dengan khas Jawa. Bakso berasal dari
China tetapi berbeda dengan bakso Malang dan Solo. Bakso China biasanya
terbuat dari babi atau makanan laut dan warnya agak kecokelatan serta bentuknya
tidak bulat sekali. Sedangkan bakso Malang dan Solo terbuat dari daging sapi,
berwarna abu abu dan bentuknya bulat sekali. Bakso China biasanya tidak
disajikan dengan kuah melimpah berbeda dengan bakso Malang dan Solo yang
disajikan dengan kuah melimpah.
Bakso atau baso adalah jenis bola daging yang lazim ditemukan pada
masakan Indonesia.[1] Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling
dan tepung tapioka, akan tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam,
ikan, atau udang. Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas-panas
dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi, bihun, taoge, tahu, terkadang telur,
ditaburi bawang goreng dan seledri. Bakso sangat populer dan dapat ditemukan di
seluruh Indonesia; dari gerobak pedagang kaki lima hingga restoran besar.
Berbagai jenis bakso sekarang banyak ditawarkan dalam bentuk makanan beku
yang dijual di pasar swalayan dan mal-mal. Irisan bakso dapat juga dijadikan
pelengkap jenis makanan lain seperti mi goreng, nasi goreng, atau cap cai.
Variasi

Bakso urat: bakso yang diisi irisan urat atau tendon dan daging tetelan
kasar

Bakso bola tenis atau bakso telur: bakso berukuran bola tenis berisi telur
ayam rebus

Bakso gepeng: bakso berbentuk pipih

Bakso ikan: bakso berbahan daging ikan

Bakso udang: bakso berbahan dari udang

Bakso Malang: hidangan bakso dari kota Malang, Jawa Timur; lengkap
dengan mi kuning, tahu, siomay, dan pangsit goreng. Pedagang bakso
Malang yang terkenal adalah Henky Eko Sriyantono pemilik Bakso
Malang Kota Cak Eko.

Bakso Karimunjawa atau lebih dikenal Bakso Ikan Ekor Kuning adalah
bakso yang bahannya berasal dari Ikan Ekor Kuning.

Bakso Solo dan Bakso Wonogiri: hidangan bakso yang berasal dari Solo
dan Wonogiri, bentuknya lebih kecil dari bakso Malang dan tidak
selengkap bakso Malang. Tetapi bakso Solo dan Wonogiri memiliki rasa
khas sapi yang kuat. Bakso Solo dan Wonogiri terdapat campuran irisan
daging sapi atau tetelan. Pedagang bakso Wonogiri yang terkenal adalah
Ki Ageng Widyanto Suryo pemilik Bakso Lapangan Senayan.

Bakso keju: bakso resep baru berisi keju

Bakso Bakar: bakso yang diolesi bumbu khusus dan dibakar langsung
(tanpa arang) dan disediakan bersama potongan ketupat dan kuah kaldu
yang hangat dan bumbu kacang. Biasanya bumbu oles sebelum dibakar
merupakan salah satu yang menentukan enak atau tidaknya bakso bakar.

Bakso kerikil : bahan daging relatif sama dengan bakso-bakso pada


umumnya, namun ukuran bakso ini lebih kecil hingga disebut bakso
kerikil.

Bakso Balungan: bahan dasarnya tulang

Kesehatan
Dalam proses pembuatanya, ada bakso yang dicampur dengan boraks atau
bleng untuk membuat tepung menjadi lebih kenyal mirip daging serta lebih
awet.[2] Hal ini membuat bakso pernah dianggap makanan yang kurang aman oleh
BPOM. BPOM mengingatkan bahwa mengonsumsi makanan berkadar boraks
tinggi selama kurun 510 tahun dapat meningkatkan risiko kanker hati.[3] Maka

bakso yang dijual di berbagai pasar tradisional dan pasar swalayan diwajibkan
bebas boraks.
Karena bakso terbuat dari daging, maka sebaiknya bakso disimpan dalam
kondisi beku sebelum direbus untuk dikonsumsi. Karena alasan itulah di
supermarket bakso dijual dalam kondisi beku untuk menjaga temperatur agar
bakso dapat terjaga kualitasnya dan tidak tercemar bakteri. Konsumen perlu
berhati-hati dalam memilih bakso yang dijual oleh pedagang bakso keliling.
Bakso yang dijual tetapi dipajang di etalase pada temperatur ruang rawan tercemar
bakteri, misalnya bakteri penyebab diare atau salmonela penyebab tifus. Pilihlah
bakso yang tengah direbus.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Kamaboko
http://id.wikipedia.org/wiki/Bakso
http://haadiernanda.blogspot.com/2010/11/makalah.html