Anda di halaman 1dari 11

AGAMA DAN STRATIFIKASI SOSIAL

Makalah ini Disusun Guna Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Sosiologi Agama
Dosen Pengampu: Ahamad Abbas Mustofa, M. Ag

Disusun Oleh: Fuji Octasarie

PRODI ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR


JURUSAN USHULUDDIN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU
2013

A; Pendahuluan

agama adalah suatu kepercayaan untuk menjadi pedoman hidup seseorang


yang di dalamnya terdapat beberapa aturan yang tersusun untuk dipatuhi oleh
penganutnya, yang bertujuan untuk mencapai hidup yang sejahtera. Agama
mengajarkan mana yang baik dan mana yang buruk kepada pengikutnya, dan
agama juga yang mengajarkan apa yang harus dilakukan oleh penganutnya dan
apa yang harus dijauhi oleh penganutnya.
Stratifikasi sosial merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap
masyarakat yang teratur. Mereka yang memiliki barang atau benda yang berharga
dalam jumlah banyak akan menduduki stratifikasi atas dan sebaliknya mereka
yang memiliki barang atau benda yang berharga dalam jumlah yang relatif sedikit
bahkan sama sekali tidak punya, maka dipandang berkedudukan rendah.
Menurutnya, stratifikasi sosial adalah sistem berlapis-lapis dalam masyarakat atau
pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat.
Wujudnya adalah adanya kelas-kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah.
Stratifikasi terjadi dengan sengaja atau tidak disengaja.
Agama dan stratifikasi sosial adalah dua hal yang berbeda, namun agama
dan masyarakat adalah dua unsur yang saling mempengaruhi satu sama lain.
Agama di definisikan sebagai sistem kepercayaan yang di dalamnya meliputi
aspek-aspek hukum, moral, budaya dan sebagainya. Sedangkan stratifikasi sosial
dipahami sebagai strata orang-orang yang berkedudukan sama dalam rangkaian
status sosial. Memang tidak mudah untuk dapat menentukan jumlah kelas sosial
yang ada di masyarakat. Namun beberapa ahli menyimpulkan bahwa ada enam
pembagian kelas sosial di masyarakat,

yaitu: upper-upper class, lower-upper

class, upper-middle class, lower-middle class, upper-lower class, dan lower-lower


class. Klasifikasi di atas tentu tidak berlaku secara umum di semua masyarakat.
Sebab setiap kota ataupun desa masing-masing memiliki karakteristik yang
berbeda.

B; Definisi Agama

E. B. Tylor mengemukakan apa yang dikenal dengan definisi minimum


agama yang tidak akan memberikan penilaian lagi mengenai sumber atau
fungsinya. Dia mendefinisikan agama sebagai kepercayaan terhadap adanya
wujud-wujud spiritual .1
Radcliffe-Brown, salah seorang ahli antropologi kurun waktu belakangan,
menawarkan definisa agama. Menurutnya agama merupakan ekspresi suatu
bentuk ketergantungan pada kekuatan yang spiritual atau kekuatan moral.
Baginya, ekspresi penting dari rasa ketergantungan ini adalah peribadatan. Dia
menekankan kepastian mengenai beberapa peribadatan dan mengenai kehidupan
sosial

untuk melaksanakannya,

sebagai lawan dari

ketidakpastian

dan

kemungkinan berubahnya kepercayaan-keparcayaan terhadap beberapa sasaran


ibadat. Pendapatnya sangat mendekati pendapat durkheim.2
Menurut Durkheim agama adalah sistem yang menyatu mengenai berbagai
kepercayaan dan peribadatan yang berkaitan dengan benda-benda sakral, yakni
katakanlah, benda-benda yang terpisah dan terlarang kepercayaan-kepercayaan
dan

peribadatan-peribadatan

yang

mempersatukan

semua

orang

yang

menganutnya ke dalam suatu komunitas moral yang disebut gereja. Mengenai


definisi itu, dia tidak mengulas lebih lanjut mengenai kata sakral, dan para
pengeritiknya mengatakan bahwa gagasan mengenai kata sakral itu terlalu kabur
dan cenderung kepada unsur memuaskan dalam definisi agama itu.3
Pandangan Karl Marx tentang agama dipengaruhi oleh pemikiran Feurbach
yang mana ia berpendapat bahwa manusia dalam hakekatnya ditentukan oleh
material, bahkan tuhanpun adalah ide manusia yang diberinya semboyang dengan
Homo Homini Deus (manusia itu allah untuk sesama manusia). Marx
1. Betty R.Schraf, Sosiologi Agama, Jakarta: Kencana, 2004, hlm 33.
2 . Ibid. hlm 34.
3 . Ibid.

mengambil dan melengkapi pemikiran Feurbach. Menurut Marx, manusia


melarikan diri dalam mimpi agama yang disebabkan karena dorongan
penderitaan, tekanan dari struktur sosial ekonomi yang menguras dan
mengeksploitasi dirinya. Mimpi agama itu muncul ketika manusia membutuhkan
obat bius , candu dan manusia menemukannya dalam agama.
Apa yang diperoleh dalam agama menurut Marx bukanlah terapi, tetapi
terapi yang sebenarnya ada dalam kesadaran kelas masing-masing individu, dan
dengan kesadarannya itu lalu manusia terdorong untuk mengatasi alienasi sosial
ekonomi dan juga alienasi religius.4
Melihat pandangan marx tentang tuhan adalah ide manusia dan
semboyannya yaitu manusia itu Allah untuk semua manusia , penulis kurang
setuju karena di dalam Al-Quran Allah berfirman:

1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.


2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Melihat definisi agama dari berbagai sudut pandang para ahli sosiologi yang
dikutip penulis. penulis berargumentasi, bahwasannya untuk memperoleh definisi
yang tepat tentang agama itu harus meninjau dari berbagai pendapat-pendapat
para ahli sosiologi, karena definisi agama yang ditinjau dari setiap ahli sosiologi
memiliki pandangan definisi agama yang berbeda-beda sesuai dari segi
pandangannya masing-masing.
Menurut penulis sendiri definisi agama yaitu agama adalah suatu
kepercayaan untuk menjadi pedoman hidup seseorang yang di dalamnya terdapat
4 . http://winnylinova.blogspot.com/2010/02/pandangan-karl-marxtentang.html

beberapa aturan yang tersusun untuk dipatuhi oleh penganutnya, yang bertujuan
untuk mencapai hidup yang sejahtera. Agama mengajarkan mana yang baik dan
mana yang buruk kepada pengikutnya, dan agama juga yang mengajarkan apa
yang harus dilakukan oleh penganutnya dan apa yang harus dijauhi oleh
penganutnya.
C; Definisi Stratifikasi Sosial

Stratifikasi Sosial menurut Karl Marx adalah pandangannya tentang teori


kelas. Teori kelas adalah sejarah dari segala bentuk masyarakat atau sejarah
peradaban umat manusia dari dulu hingga sekarang yang disebut dengan sejarah
petikaian antar golongan / konflik antar kelas.5
Menurut Pitirim Sorokin, sistem stratifikasi sosial merupakan ciri yang
tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang teratur. Mereka yang memiliki
barang atau benda yang berharga dalam jumlah banyak akan menduduki
stratifikasi atas dan sebaliknya mereka yang memiliki barang atau benda yang
berharga dalam jumlah yang relatif sedikit bahkan sama sekali tidak punya, maka
dipandang berkedudukan rendah. Menurutnya, stratifikasi sosial adalah sistem
berlapis-lapis dalam masyarakat atau pembedaan penduduk atau masyarakat ke
dalam kelas-kelas secara bertingkat. Wujudnya adalah adanya kelas-kelas tinggi
dan kelas yang lebih rendah. Stratifikasi terjadi dengan sengaja atau tidak
disengaja.6
Adapun pendapat penulis tentang definisi stratifikasi sosial itu sama saja
dengan pendapat Piritim Sorokin yang pendapatnya dikutip oleh penulis, Karena
pada dasarnya penulis belum menemukan perbedaan pendapat mengenai definisi
stratifikasi sosial di kalangan para ahli sosiologi sampai saat ini.
Setelah pembaca memahami definisi sosial pada makalah ini, penulis akan
menjelaskan sedikit tentang karakteristik stratifikasi sosial, karena pada umumnya
setiap kelas sosial merupakan suatu substruktur yang memiliki sejumlah sikap,
kepercayaan, nilai, dan norma perilaku yang berbeda dengan kelas sosial lainnya.
Pada hakikatnya ada tiga aspek karakteristik stratifikasi sosial:
5 . http://winnylinova.blogspot.com/2010/02/pandangan-karl-marxtentang.html
6 . Syahrial Syarbaini Rusdiyanta, Dasar-dasar Sosiologi, Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2009, hlm 52.

1; Perbedaan dalam kemampuan dan kesanggupan.


2; Perbedaan dalam gaya hidup.
3; Perbedaan dalam hal hak dan akses untuk memanfaatkan sumberdaya.7

Kelas sosial seseorang ditentukan oleh totalitas kedudukan sosial dan


ekonominya dalam masyarakat, termasuk kekayaan dan penghasilan, jenis
pekerjaan, pendidikan, identifikasi diri, keturunan, dan pengakuan orang lain.
Penyebab seseorang tergolong kedalam suatu kelas sosial tertentu antara lain:
1; kekayaan dan penghasilan.
2; Jenis pekerjaan.
3; Tinggi rendahnya pendidikan.8
Bentuk-bentuk stratifikasi sosial:suatu pelapisan sosial itu terjadi
berdasarkan suatu kriteria tertentu, dan dengan berdasarkan kriteria-kriteria
tersebut, maka dapatlah bentuk-bentuk strata sosial antara lain sebagai berikut:9
1; Kriteria biologis
a; Menurut jenis kelaminnya, maka ada:
1; Golongan laki-laki
2; Golongan wanita, selain itu ada juga sejumlah individu yang
banci.
b; Menurut umumnya:
1; Golongan anak-anak
2; Golongan dewasa
3; Golongan tua
2. Kriteria Ekonomis
Yaitu berdasarkan hak milik penduduk, maka terdapat stratifikasi Sosial
dalam tiga kelas :
1.
Kelas Ekonomi Tinggi
2.
Kelas Ekonomi Menengah
3.
Kelas Ekonomi Rendah
4.
Kriteria Status / Jabatan
Berdasarkan kriteria jabatan terdapatlah lapisan-lapisan :
a.
Golongan Status Sosial Tinggi
b.
Golongan Status Sosial Menengah
c.
Golongan Status Sosial Rendah
7 . Ibid, hlm 53.
8 Ibid, hlm 54.
9 . http://shofazakiya.blogspot.com/2011/06/makalah-stratifikasi-sosial.html

d.
Golongan bukan pegawai / pejabat
5. Kriteria Politis
Dalam kriteria politis, yang utama adalah golongan yang menganut aliran
politik, yaitu anggota partai politik dan gerakan masa,yang lain adalah golongan
non partai.
Dari golongan partai politik terdapat Strata Sosial :
a. Golongan pemegang kekuasaan politik tingkat pusat (pemimpin pusat)
berkedudukan di ibu kota negara.
b. Golongan pemegang kekuasaan politik tingkat daerah (tk. I / propinsi)
c. Golongan pimpinan Partai tingkat Cabang
D; Hubungan Agama dan Stratifikasi Sosial
Kehadiran agama dalam tatanan kehidupan sosial-kemasyarakatan di
semua tingkat lapisan di seluruh pelosok dunia mau tidak mauadalah sebuah
fakta sosial yang tak terelakkan. Berbagai bentuk tindakan baik secara individual
maupun kolektif seringkali melibatkan unsur keberagamaan yang mengikat.
Sedikit banyak kehadiran agama ini telah memberikan sumbangsih bagi
terciptanya prinsip-prinsip berinteraksi yang sejak dahulu hingga kini terbentuk
dalam masyarakat. Terlebih keberadaan agama sebagai sebuah sistem kepercayaan
dan keyakinan tersebar hampir di semua sudut geografis dunia. Sejak akhir abad
ke 18, sosiologi merupakan bagian dari satu disiplin ilmu yang memiliki
jangkauan sangat luas. Berbeda dengan disiplin ilmu lainnya, sosiologi berusaha
melihat gejala kehidupan sosial dari analisa-analisa ilmiah dan sekaligus hasil
proses reset pada suatu objek tertentu. Sehingga dalam hal ini, sosiologi dapat
dibedakan menjadi dua macam, yakni sosiologi murni dan sosiologi terapan.
Sosiologi murni (pure science) merupakan pencarian pengetahuan; penggunaan
praktisnya bukan merupakan perhatian utama. Sementara sosiologi terapan
(applied science) adalah pencarian cara-cara untuk mempergunakan pengetahuan
ilmiah guna memecahkan masalah praktis (Ishomuddin, 1996).
Dari pengertian tersebut, nampaknya pengertian kedua lebih relevan
sebagai sebuah alat analisa dalam mengkaji sebuah objek permasalahan. Atau
dalam bahasa lain, pengertian kedua dapat dijadikan sebagai kerangka analisa
terhadap fenomena agama yang berada di tengah masyarakat. Dan pada
kenyataan, banyak orang memandang sosiologi sebagai ilmu terapan guna
memecahkan persoalan sosial. Agama sebagai refleksi sosiologis setidaknya dapat

ditempatkan sebagai gejala sosial yang tidak lagi dipandang semata-mata sebagai
suatu yang sakral dan eskatologis.10
Agama dan stratifikasi sosial adalah dua hal yang berbeda, namun agama
dan masyarakat adalah dua unsur yang saling mempengaruhi satu sama lain.
Agama di definisikan sebagai sistem kepercayaan yang di dalamnya meliputi
aspek-aspek hukum, moral, budaya dan sebagainya. Sedangkan stratifikasi sosial
dipahami sebagai strata orang-orang yang berkedudukan sama dalam rangkaian
status sosial. Memang tidak mudah untuk dapat menentukan jumlah kelas sosial
yang ada di masyarakat. Namun beberapa ahli menyimpulkan bahwa ada enam
pembagian kelas sosial di masyarakat, yaitu: upper-upper class, lower-upper class,
upper-middle class, lower-middle class, upper-lower class, dan lower-lower class.
Klasifikasi di atas tentu tidak berlaku secara umum di semua masyarakat. Sebab
setiap kota ataupun desa masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda.
Manusia sering tidak sengaja dan tanpa sadar mengklasifikasikan orang lain
ke dalam suatu kelas sosial, dan yang paling sering dijadikan patokan adalah
status ia sendiri sebagai anggota masyarakat. Misalnya menialai seseorang
sederajat, lebih tinggi atau lebih rendah darinya. Selain itu sejumlah orang
menganggap orang-orang tertentu memiliki karakteristik perilaku tertentu yang
pada gilirannya menciptakan kelas sosial.
Di Amerika sekalipun yang sering dijadikan contoh Negara paling
demokratis, hubungan antara agama dan kelas sosial tetap signifikan.Maksudnya
karena tidak ada gereja Negara sebagai pemersatu agama mudah merembes ke
dalam kelas-kelas sosial, sebagaimana dikemukakan Demmerath bahwa
kegerejaan mencerminkan pengaruh sosial. Lebih lanjut dia memberi contoh
bahwa agama di Amerika, khususnya Protestanisme secara umum dilihat sebagai
kegiatan masyarakat kelas atas atau menengah.Terdapat tiga indikator yang
mendukung pernyataan diatas, yaitu keanggotaan gereja, kehadiran dalam acara
peribadatan gereja, dan keikutsertaan dalam kegiatan-kegiatan resmi gereja.Dalam
10 . http://faisal-wibowo.blogspot.com/2013/01/agama-dan-stratifikasisosial.html

setiap unsur tadi, orang-orang yang berstatus tinggi tampaknya lebih dalam
keterlibatannya daripada yang berstatus rendah.11
Contoh pengaruh agama terhadap stratifikasi pada golongan petani, sikap
mental golongan petani terbentuk oleh situasi dan kondisi dimana mereka hidup,
yang antara lain adalah faktor klimatologis dan hidrologis seperti musim dingin
dan musim panas, yang sejalan dengan musim kering dan musim penghujan.
Golongan petani selalu bergumul dengan pemainan hukum alam (pertanian).
Hukum cocok tanam kadang sulit diperhitungkan secara cermat selalu bersandar
pada kedermawanan alam yang datang lambat & tidak menentu. Maka kaum
petani lebih cenderung untuk mendayagunakan kekuatan-kekuatan magis (supraempiris) guna membantu mereka dalam menentukan hari yang tepat. Semangat
religius golongan petani itu terlihat dari pengadaan sejumlah pesta pertanian pada
peristiwa penting, misalnya kaum petani di Indonesia mengadakan selamatan pada
saat menanam benih dan waktu panen, sampai sekarang ini banyak petani di
Indonesia masih mengadakan ritual tersebut.12
Pada hakekatnya stratifikasi sosial dalam masyarakat sangat penting
adanya untuk pembagian kerja yang sesuai dengan kemampuan mereka masingmasing, tetapi akan menjadi sangat tidak stabil jika hal ini digunakan untuk
meraup keuntungan dan kekuasaan sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya
untuk dirinya sendiri, inilah yang sering kali terjadi dan menimbulkan konflik di
dalam masyarakat ketika dianggap pelapisan sosial yang terjadi di monopoli
sedemikian hingga sampai merampas hak-hak yang ada di dalam masyarakat,
tetapi apa yang terjadi jika pelapisan itu juga dengan menggunakan kekuatan
tuhan, ternyata hal ini sangat berhasil, dimana agama sebagai sesuatu yang harus
diyakini dan diamalkan tanpa ada pertanyaan kenapa, sehingga mereka yang
mengatasnamakan diri mereka wakil tuhan di dunia atau orang paling suci dengan
menggunakan

kekuatan

tuhan

dia

mengendalikan

masyarakat

dibawah

kekuasannya.
11 . http://tantridilogi10.blogspot.com/2013/06/agama-dan-stratifikasisosial.html
12 . http://abdullathiif.blogspot.com/2013/01/agama-dan-masyarakat_18.html

Dalam teori stratifikasi konfliknya Randall Collins sangat tidak setuju


dengan para penguasa yang menggunakan kekuatannya untuk keuntungan
pribadinya yang mana seharusnya itu untuk kemaslahatan masyarakat, kekuasaan
yang begitu besar menempatkan seseorang sebagai raja di muka bumi ini, padahal
pada essensinya seperti yang kita kethui bersama kita sama-sama sebagai manusia
yang dikatakan makhuk yang paling sempurna dan oleh karena itu pula kita
memiliki kekurangan dan kelebihan di dalam diri kita masing-masing tidak
menutup kemungkinan dia seorang raja atau seorang pengemis.13
Jadi sebenarnya tidak ada yang dinamakan pelapisan sosial yang ada dalam
agama manusialah sendirilah yang membuatnya dengan menggunakan kekuatan
Tuhan untuk menundukkan masyarakat yang meyakini agamanya secara kuat di
dalam hatinya.

E; Kesimpulan

Agama adalah suatu kepercayaan untuk menjadi pedoman hidup seseorang


yang di dalamnya terdapat beberapa aturan yang tersusun untuk dipatuhi oleh
penganutnya, yang bertujuan untuk mencapai hidup yang sejahtera. Agama
mengajarkan mana yang baik dan mana yang buruk kepada pengikutnya, dan
agama juga yang mengajarkan apa yang harus dilakukan oleh penganutnya dan
apa yang harus dijauhi oleh penganutnya.
Stratifikasi sosial merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap
masyarakat yang teratur. Mereka yang memiliki barang atau benda yang berharga
dalam jumlah banyak akan menduduki stratifikasi atas dan sebaliknya mereka
yang memiliki barang atau benda yang berharga dalam jumlah yang relatif sedikit
bahkan sama sekali tidak punya, maka dipandang berkedudukan rendah.
Menurutnya, stratifikasi sosial adalah sistem berlapis-lapis dalam masyarakat atau
pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat.

13 . Syahid Ismail, Blog PDF, 14 mar 2011.

Pada hakekatnya stratifikasi sosial dalam masyarakat sangat penting


adanya untuk pembagian kerja yang sesuai dengan kemampuan mereka masingmasing, tetapi akan menjadi sangat tidak stabil jika hal ini digunakan untuk
meraup keuntungan dan kekuasaan sebanyak-banyaknya dan sebesar-besarnya
untuk dirinya sendiri, inilah yang sering kali terjadi dan menimbulkan konflik di
dalam masyarakat ketika dianggap pelapisan sosial yang terjadi di monopoli
sedemikian hingga sampai merampas hak-hak yang ada di dalam masyarakat,
tetapi apa yang terjadi jika pelapisan itu juga dengan menggunakan kekuatan
tuhan, ternyata hal ini sangat berhasil, dimana agama sebagai sesuatu yang harus
diyakini dan diamalkan tanpa ada pertanyaan kenapa, sehingga mereka yang
mengatasnamakan diri mereka wakil tuhan di dunia atau orang paling suci dengan
menggunakan

kekuatan

tuhan

dia

mengendalikan

masyarakat

dibawah

kekuasannya.

Daftar Pustaka
Betty R.Schraf, Sosiologi Agama, Jakarta: Kencana, 2004
Syahrial Syarbaini Rusdiyanta, Dasar-dasar Sosiologi, Yogyakarta: Graha Ilmu,
2009, hlm 52.
http://winnylinova.blogspot.com/2010/02/pandangan-karl-marx-tentang.html
http://shofazakiya.blogspot.com/2011/06/makalah-stratifikasi-sosial.html
http://tantridilogi10.blogspot.com/2013/06/agama-dan-stratifikasi-sosial.html
http://abdullathiif.blogspot.com/2013/01/agama-dan-masyarakat_18.html
http://faisal-wibowo.blogspot.com/2013/01/agama-dan-stratifikasi-sosial.html