Anda di halaman 1dari 9

TINJAUAN PUSTAKA

Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli


DAS merupakan suatu wilayah yang dibatasi oleh pemisah topografi, yang
menerima hujan, manampung, menyimpan dan mengalirkan ke sungai dan
seterusnya ke danau atau ke laut. Selain itu DAS juga merupakan suatu ekosistem
dimana di dalamnya terjadi suatu proses interaksi antar faktor-faktor biotik,
nonbiotik dan manusia. Sebagai suatu ekosistem maka setiap ada masukan ke
dalam DAS, proses yang terjadi dan berlangsung di dalam DAS dapat dievaluasi
berdasarkan keluaran sistem tersebut (Suripin, 2002).
DAS Deli berkelok-kelok melewati Kabupaten Karo, Deli Serdang dan
Kota Medan. DAS Deli yang diapit oleh DAS Percut dan DAS Belawan terdiri
dari tujuh gugus sungai yaitu Sungai Petani, Simai-mai, Deli, Babura, Bekala, Sei
Kambing dan Paluh Besar. DAS Deli mengalir sepanjang 72 kilometer dari hulu
digunung hingga ke hilir di laut.
Hasil analisis Tim SIG ESP menunjukan kawasan tangkapan air di Sungai
Deli sudah sangat kritis. Hutan negara hanya tersisa 7,59 %, dengan tutupan
vegetasi (termasuk kebun masyarakat dan kawasan mangrove) hanya 15%.
Sebaliknya lahan kritis ditambah pemukiman mencapai 34,3%. Kawasan
budidaya luasnya mencapai 45,5%. Sebaliknya badan air hanya 167,38 Ha atau
0,29%. Data Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Deli (BPDAS) Wampu-Sei
Ular mengungkapkan luas DAS Deli 48.162 Ha, sementara data ESP
mendapatkan jumlah yang sedikit lebih luas yaitu 56.848,88 Ha. Di kawasan hulu,
ancaman datang berupa penggundulan hutan melalui penebangan liar, konversi

Universitas Sumatera Utara

lahan, perambahan liar serta pencurian humus. Kerusakan ini sudah berlangsung
selama puluhan tahun tanpa adanya upaya memadai untuk menghentikannya. Para
ahli konservasi sependapat bahwa kerusakan habitat merupakan penyebab utama
punahnya keragaman hayati yang sangat kaya (ESP, 2006).

Landsat TM 7
Landsat TM 7 adalah satelit paling akhir dari Program Landsat.
Diluncurkan pada tanggal 15 April 1999. Tujuan utama Landsat 7 adalah untuk
memperbarui rasio citra satelit, menyediakan citra yang up-to-date dan bebas
awan. Meski Program Landsat Program dikelola oleh NASA, data dari Landsat 7
dikumpulkan dan didistribusikan oleh USGS. Proyek NASA World Wind
memungkinkan gambar tiga dimensi dari Landsat 7 dan sumber-sumber lainnya
untuk dapat dengan mudah dinavigasi dan dilihat dari berbagai sudut. Landsat 7
dirancang untuk dapat bertahan 5 tahun, dan memiliki kapasitas untuk
mengumpulkan dan mentrasmisikan hingga 532 citra setiap harinya. Satelit ini
adalah polar, memiliki orbit yang sinkron terhadap matahari, dalam arti dapat
memindai seluruh permukaan bumi; yakni selama 232 orbit atau 15 hari. Massa
satelit tersebut 1973 kg, memiliki panjang 4,04 meter dan diameter 2,74 meter.
Tak seperti pendahulunya, Landsat memiliki memori 378 gigabits (kira-kira 100
citra). Instumen utama Landsat 7 adalah Enhanced Thematic Mapper Plus
(ETM+) (Wikipedia, 2009).
Landsat 7 adalah satelit remote sensing yang dioperasikan oleh USGS
(United States Geological Survei), berorbit polar pada ketinggian orbit 705 Km,
dengan membawa sensor ETM+ yang dapat menghasilkan citra multispektral dan
pankhromatik yang masing-masing memiliki resolusi spasial 30 m dan 15 m. Misi

Universitas Sumatera Utara

Landsat 7 adalah untuk menyajikan data inderaja berkualitas tinggi dan tepat
waktu dari kanal tampak (visible) dan infra merah yang meliput seluruh daratan
dan kawasan di sekitar pantai di permukaan bumi dan secara berkesinambungan
memperbaharui data base yang ada. Namun setelah beroperasi lebih dari empat
tahun, satelit ini mengalami kerusakan pada bagian SLC (Scan Line Collector)
sehingga menghasilkan citra satelit yang tidak utuh, USGS telah berusaha
memperbaiki kerusakan yang terjadi, tetapi tidak berhasil, bahkan sejak
November 2003 kerusakan yang terjadi dinyatakan sebagai kerusakan yang
permanen. Satelit Landsat telah lebih dari sepuluh tahun dimanfaatkan oleh
pengguna di Indonesia untuk berbagai sektor kegiatan. Oleh karena itu sampai
saat ini masih banyak pengguna data inderaja yang bergantung pada data Landsat,
padahal banyak data inderaja satelit yang dihasilkan oleh satelit lainnya yang
mungkin dapat mensubstitusi data Landsat paska kerusakan (Arief, 2004).
Tabel 1. Karakteristik sensor Landsat 7
Instrument (Sensor)
Enhanced Thematics Mapper (ETM+)
Lebar Cakupan (swath width)
185 Km
Pengamatan Balik (revisit time)
16 hari
Orbit
Hampir Polar, Sinkron Dengan Matahari 705 Km
Ketinggian Orbit
Melintasi Ekuator (local time) 10,00 15 min
Band
Resolusi spasial (m)
Kisaran Spektral ()
1. Biru (Blue)
0,450 - 0,515
30
2. Hijau (Green)
0,525 - 0,605
30
3. Merah (Red)
0,630 - 0,690
30
4. Infra merah dekat (NIR)
0,750 - 0,900
30
5. Gelombang infra merah pendek
1,550 - 1,750
30
(SWIR)
6 Gelombang infra merah
10,40 - 12,50
60
Thermal (TIR)
Short Wave IR
2.090 - 2,350
30
Modus Mono
0,520 - 0,900
15
Tanggal diluncurkan
15 April 1999
Misi dirancang dalam waktu
5 Tahun
(Mission life)

Universitas Sumatera Utara

Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh


Sistem informasi geografis mempunyai kemampuan analisis terhadap data
spasial untuk keperluan manipulasi maupun permodelan. Fungsi analisis ini
dijalankan memakai data spasial dan data atribut. Sistem ini menjawab berbagai
pertanyaan yang dikembangkan dari data yang ada menjadi suatu persoalan yang
relevan. Data spasial dan sistem informasi geografis hanya merupakan model
penyajian yang merefleksikan berbagai aspek realitas dunia nyata, sedangkan
untuk meningkatkan peran data dalam pengambilan keputusan mengenai
kenyataan tersebut, suatu model harus ditampilkan untuk menggambarkan obyek
obyek termasuk manyajikan hubungan antar obyek (Arifin dkk, 2006).
Teknologi yang digunakan dalam sistem informasi geografis memperluas
penggunaan peta, model-model kartografi dan statistik spasial dengan
memberikan kemampuan analisis, tidak hanya tersedia untuk pengembangan
model medan kompleks dan pengujian masalah bentang lahan serta masalah
penggunaan lahan. Saat ini penggunaan SIG yang paling umum adalah untuk
pembuatan

peta

tematik

kota dan

memberikan revisi peta-peta tersebut

(Howard, 1996).
Penginderaan jauh dapat digunakan untuk analisis perhitungan beberapa
sifat fisik antara lain arah lereng dan kemiringan lereng dari peta Shuttle Radar
Topography Mission (SRTM) atau dari interpolasi kontur menjadi peta Digital
Elevation Model (DEM). Dengan data DEM juga dapat dianalisis topografi di
suatu DAS dan kelas kemiringan lereng masing-masing satuan lahan.
Karakteristik kondisi fisik suatu lahan DAS didominasi oleh faktor topografi di
suatu wilayah dan kelas kemiringan lereng. Dimana DAS yang didominasi

Universitas Sumatera Utara

kemiringan lereng yang curam dan topografi perbukitan atau pegunungan maka
akan berpotensi terhadap kekritisan suatu DAS. Parameter tersebut dari
kemiringan lereng, topografi dan ketinggian tempat suatu wilayah dapat dihitung
atau dianalisis dengan penginderaan jauh (Harjadi dkk, 2007).

Model Data Spasial


SIG dengan penyederhanaannya melakukan pendekatan terutama secara
spasial dan non spasial. Analisis spasial dalam SIG berusaha menerangkan
fenomena dunia nyata melalui model dunia nyata (real world model). Model
dunia nyata ditujukan untuk mengurangi kompleksitas dengan mengambil
fenomena-fenomena tertentu saja yang sejalan dengan tujuan. Model dunia nyata
selanjutnya diterangkan melalui model data. Proses interpretasi fenomena alami
dengan menggunakan model dunia nyata dan model data disebut dengan
pemodelan data (Bernhardsen, 1998).
Model merupakan representasi dari realita. Tujuan pembuatan model
adalah untuk membantu mengerti, menggambarkan, atau memprediksi bagaimana
suatu fenomena bekerja di dunia nyata melalui penyederhanaan bentuk fenomena
tersebut. Pemodelan spasial terdiri dari sekumpulan proses yang dilakukan pada
data spasial untuk menghasilkan suatu informasi umumnya dalam bentuk peta.
Kita dapat menggunakan informasi tersebut untuk pembuatan keputusan, kajian
ilmiah, atau sebagai informasi umum. Representasikan model dunia nyata di
dalam SIG ada dua. Pertama adalah jenis data spasial yang merepresentasikan
aspek keruangan yang disebut data-data posisi, ruang, koordinat. Kedua adalah
jenis data yang merepresentasikan aspek deskriptif terhadap fenomena yang
dimodelkan yang disebut data non-spasial (Prahasta, 2002).

Universitas Sumatera Utara

Data yang mengendalikan SIG adalah data spasial. Setiap fungsionalitas


yang membuat SIG dibedakan dari lingkungan analisis lainnya adalah karena
berakar pada keaslian data spasial. Data spasial menjelaskan fenomena geografi
terkait dengan lokasi relatif terhadap permukaan bumi (georeferensi), berformat
digital dari penampakan peta, berbentuk koordinat titik-titik, dan simbol-simbol
mendefinisikan elemen-elemen penggambaran (kartografi), dan dihubungkan
dengan data atribut yang disimpan dalam tabel-tabel sebagai penjelasan dari data
spasial tersebut (georelational data structure) (Hurvitz, 2003).
Hurvitz (2003) membagi model data spasial kedalam dua kategori dasar,
yaitu model data vektor dan model data raster.
1. Model Data Vektor
Model data vektor merepresentasikan setiap fitur ke dalam baris dalam
tabel dan bentuk fitur didefinisikan dengan titik x, y dalam space. Fitur-fitur dapat
memiliki ciri-ciri yang berbeda lokasi atau titik, garis atau poligon. Lokasi-lokasi
seperti alamat customer direpresentasikan sebagai point yang memiliki pasangan
koordinat geografis. Garis, seperti sungai atau jalan, direpresentasikan sebagai
rangkaian dari pasangan koordinat. Poligon didefinisikan dengan batas dan
direpresentasikan dengan poligon tertutup. Semua itu dapat didefinisikan secara
legal, seperti paket dari tanah; administratif, seperti kabupaten. Saat menganalisa
data vektor, sebagian besar dari analisa melibatkan atribut-atribut dari tabel data
layer.
Tiga macam model data vektor yaitu :
-

Titik, adalah representasi grafis yang paling sederhana untuk suatu


obyek Representasi ini tidak memiliki dimensi tetapi dapat

Universitas Sumatera Utara

diidentifikasi di atas peta dan dapat ditampilkan pada layar monitor


dengan menggunakan simbol-simbol.
-

Garis adalah bentuk linier yang akan menghubungkan paling sedikit


dua titik dan digunakan untuk mempresentasikan obyek-obyek dua
dimensi. Obyek atau entitas yang dapat direpresentasikan dengan garis
antara lain jalan, sungai, jaringan listrik, saluran air.

Poligon digunakan untuk merepresentasikan obyek-obyek dua dimensi,


misalkan: Pulau, wilayah administrasi, batas persil tanah adalah entitas
yang ada pada umumnya direpresentasikan sebagai poligon. Satu
poligon paling sedikit dibatasi oleh tiga garis di antara tiga titik yang
saling bertemu membentuk bidang. Poligon mempunyai sifat spasial
luas, keliling terisolasi atau terkoneksi dengan yang lain, bertakuk
(intended), dan overlapping.

2. Model Data Raster


Model data raster merepresentasikan fitur-fitur ke dalam bentuk matrik
yang berkelanjutan. Setiap layer merepresentasikan satu atribut (meskipun atribut
lain dapat diikutsertakan ke dalam sel matrik). Entiti spasial raster disimpan di
dalam layer yang secara fungsionalitas direlasikan dengan unsur-unsur petanya.
Contoh sumber entiti spasial raster adalah citra satelit (misalnya Ikonos).

Konversi Lahan
Sihaloho (2004) menjelaskan mengenai faktor-faktor penyebab konversi
lahan di Kelurahan Mulyaharja, Bogor, Jawa Barat sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara

1. Faktor pertambahan penduduk yang begitu cepat berimplikasi kepada


permintaan terhadap lahan pemukiman yang semakin meningkat dari tahun ke
tahun;
2. Faktor ekonomi yang identik dengan masalah kemiskinan. Masyarakat
pedesaan yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya melalui hasil
penjualan kegiatan pertanian yang umumnya rendah, berusaha mencari bentuk
usaha

lain

yang

dapat

meningkatkan

kesejahteraan

mereka.

Untuk

mendapatkan modal dalam memulai usahanya, petani pada umumnya menjual


tanah yang dimilikinya. Masyarakat pedesaan beranggapan akan mendapatkan
keuntungan yang lebih tinggi dari penjualan lahan pertanian untuk kegiatan
industri dibandingkan harga jual untuk kepentingan persawahan. Di sisi lain
pengerjaan lahan pertanian memerlukan biaya tinggi. Sehingga petani lebih
memilih sebagian tanah pertaniannya untuk dijual untuk kegiatan nonpertanian;
3. Faktor luar, yaitu pengaruh warga dari desa-kelurahan perbatasan yang telah
lebih dahulu menjual tanah mereka kepada pihak Perseroan Terbatas (PT);
4. Adanya penanaman modal pihak swasta dengan membeli lahan-lahan produktif
milik warga;
5. Proses pengalihan pemillik lahan dari warga ke beberapa PT dan ke beberapa
orang yang menguasai lahan dalam luasan yang lebih dari 10 hektar; dan
6. Intervensi pemerintah melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Berdasarkan RTRW tahun 2005, seluas 269,42 hektar lahan Kelurahan
Mulyaharja akan dialokasikan untuk pemukiman/perumahan real estate;

Universitas Sumatera Utara

Kecilnya manfaat ekonomi yang secara langsung dirasakan oleh


masyarakat dari penggunaan lahan sebagai hutan, mengakibatkan banyak
terjadinya perubahan penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat di
kawasan lindung menjadi penggunaan lahan yang secara ekonomi memberikan
nilai yang lebih tinggi, sehingga pola penggunaan lahan di Sub DAS Ciesek,
sesuai penelitian Sulistiyono (2006) yang ada sekarang ini tidak sesuai dengan
pola peruntukannya sebagaimana yang telah disusun dalam RTRW tahun 2000.
Sebagai dampaknya kawasan lindung menjadi tergangu akibat desakan
penggunaan lahan oleh masyarakat.
Barlow (1978) menyatakan bahwa pola penggunaan lahan ditentukan oleh
besarnya land rent (nilai manfaat lahan) yang diterima pemilik/pengguna lahan
dari suatu pola penggunaan lahan. Pola penggunaan lahan yang memberikan land
rent yang tinggi yang diterima akan mengganti pola penggunaan lahan dengan
sewa lahan yang rendah. Nilai land rent yang rendah suatu penggunaan lahan
akan digantikan oleh nilai land rent yang lebih tinggi dari suatu pola penggunaan
lahan.
Apabila dilakukan alih fungsi (konversi) lahan dari hutan menjadi lahan
pertanian (sawah atau tegalan), maka akan lepas/keluar air dari lahan tersebut
sebanyak 600- 1.050 m3 per hektar (600 ribu 1,05 juta) liter. Apalagi bila lahan
hutan dikonversi menjadi lahan pemukiman maka sekitar 1.300 m3 (1,3 juta liter)
air akan keluar/lepas dari setiap hektar kawasan yang dikonversi tersebut. Volume
air sebanyak ini jelas dapat menimbulkan banjir pada lingkungan sekitar atau di
bagian hilir suatu wilayah (Rauf, 2009).

Universitas Sumatera Utara