Anda di halaman 1dari 31

Laporan Praktikum

Dosen Pembimbing

Opeasi Teknik Kimia I

Maria Paratenta, ST. MT

Perpindahan Panas Secara Konduksi

DISUSUN OLEH:

NAMA

KELOMPOK :

Agustina

(1307035841)

Gustia Mery Indriasy

(1307035803)

Ricky Putra Siregar

(1307035722)

VIII (DELAPAN)

Tgl Praktikum 27-09-2014


Tgl Penyerahan 26-10-2014

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIKUNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2014

ABSTRAK

Perpindahan kalor adalah perpindahan energi yang disebabkan oleh


perbedaan temperatur. Kalor berpindah dari suatu titik yang bersuhu tinggi
menuju titik lain yang bersuhu lebih rendah. Perpindahan kalor terbagi atas tiga
mekanisme perpindahan, yaitu konveksi, konduksi, dan radiasi.Perpindahan kalor
secara konduksi termasuk peristiwa perpindahan panas denganperantara yang
bersifat konduktor.Perpindahan kalor konduksi merupakan perpindahan kalor
yang terjadi jika dalam suatu bahan yang bersifat kontinu terdapat gradient suhu,
dimana kalor akan mengalir tanpa disertai oleh suatu gerakan zat. Prinsip
dasarnya adalah jika ada dua benda dengan suhu yang berbeda dan kalor
menyentuh langsung bidang permukaan zat, maka kalorakan mengalir dari benda
yang bersuhu lebih tinggi ke benda yang bersuhu lebih rendah.Setiap benda
mempunyai konduktivitas termal (kemampuan mengalirkan panas) tertentuyang
akan mempengaruhi panas yang dihantarkan dari sisi yang panas ke sisi yang
lebihdingin. Semakin tinggi nilai konduktivitas termal suatu benda, maka semakin
cepatbenda tersebut mengalirkan panas yang diterima dari satu sisi ke sisi yang
lain.Percobaan ini bertujuan untuk menentukan laju aliran kalor melintasi benda
padat satu dimensi pada keadaan steady dan menentukan overall heat transfer
coefficient aliran kalor melintasi kombinasi bahan dalam susunan seri. Laju
aliran kalor yang diperoleh untuk bahan brass adalah Watt dan Overall
Heat Transfer Coefficient yang diperoleh W/m2 oC. Pada bahan stainless
stell laju aliran kalor yang diperoleh Watt, Overall Heat Transfer
Coefficient W/m2 oC. Pada bahan aluminium laju aliran kalor yang diperoleh
Watt dan Overall Heat Transfer Coefficient yang diperoleh W/m2 oC.
Sedangkan untuk alat HT12 diperoleh nilai laju aliran kalor adalah Watt
dan Overall Heat Transfer Coefficient adalah ... W/m2 oC.
Kata kunci : gradient, konduksi, konduktivitas termal, konduktor, konveksi,
overall heat transfer coefficient, radiasi, steady.

Kalor merupakan salah satu bentuk energi. Kalor adalah energi yang
berpindah dari benda yang suhunya lebih tinggi ke benda yang suhunya lebih
rendah ketika kedua benda bersentuhan.Kalor bisa diibaratkan seperti air yang
secara spontan mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah tanpa
peduli berapa banyak air yang sudah berada di bawah.Panas juga mengalir secara
spontan dari benda yang bertemperatur tinggi ke benda yang bertemperatur rendah
tidak peduli seberapa besar ukuran kedua benda itu (ukuran benda menentukan
banyaknya kandungan kalor) (Kern, 1965).
Suatu zat menerima atau melepaskan kalor, maka ada dua kemungkinan
yang terjadi.Dua kemungkinan tersebut adalah kalor sensibel (sensible heat) dan
kalor laten (latent heat). Kalor sensibel (sensible heat) adalah kalor yang
dihasilkan pada peristiwa perubahan temperatur dari zat yang menerima atau
melepaskan kalor. Apabila suatu zat menerima kalor sensibel maka akan
mengalami peningkatan temperatur dan jika zat tersebut melepaskan kalor
sensibel maka akan mengalami penurunan temperatur. Yang kedua adalah terjadi
perubahan fase zat. Kalor jenis ini disebut dengan kalor laten (latent heat). Jika
suatu zat menerima atau melepaskan kalor, pada awalnya akan terjadi perubahan
temperatur, namun demikian hal tersebut suatu saat akan mencapai keadaan jenuh
dan menyebabkan perubahan fase. Kalor yang demikian itu disebut sebagai kalor
laten. Pada suatu zat terdapat dua macam kalor laten, yaitu kalor laten peleburan
atau kalor laten penguapan (pengembunan). Kalor laten suatu zat biasanya lebih
besar dari kalor sensibelnya, hal ini karena diperlukan energi yang besar untuk
merubah fase suatu zat (MC Cabe, 1985).
Suhu adalah ukuran rata - rata energi kinetik partikel dalam suatu benda.
Kalor yang diberikan dalam sebuah benda dapat digunakan untuk 2 cara, yaitu
untuk merubah wujud benda dan untuk menaikkan suhu benda itu. Besar kalor
yang diberikan pada sebuah benda yang digunakan untuk menaikkan suhu
tergantung pada :
1. kalor jenis benda
2. perbedaan suhu kedua benda

3. massa benda
(Rudiwarman, 2011).
Bila dua buah benda atau zat yang suhunya berbeda berada dalam kontak
termal,maka kalor akan mengalir (berpindah) dari benda yang suhunya lebih
tinggi ke benda yang suhunya lebih rendah.Dalam proses perpindahan energi
tersebut tentu ada kecepatan perpindahan panas yang terjadiatau yang lebih dikenal
dengan laju perpindahan panas.Perpindahan energi kalor ini akan terus berlangsung

hingga kedua benda tersebut mencapai kesetimbangan terperatur (Rudiwarman,


2011). Pengaliran kalor itu dapat berlangsung dengan 3 ragam mekanisme, yaitu
konduksi,konveksi, dan radiasi.Konduksi adalah perpindahan kalor di mana zat
perantaranya tidak ikut berpindah. Konveksi adalah perpindahan kalor di mana zat
perantaranya ikut berpindah akibat adanya perbedaan massa jenis atau kerapatan.
Radiasi adalah perpindahan kalor secara pancaran yang berupa gelombang
elektromagnetik. Namun akan lebih banyak dibahas tentang perpindahan kalor
secara konduksi (Tim Penyusun, 2014).
Perpindahan kalor secara konduksi adalah proses perpindahan kalor
dimana kalor mengalir dari daerah yang bertemperatur tinggi ke daerah yang
bertemperatur rendah dalam suatu medium (padat, cair atau gas) atau antara
medium-medium yang berlainan yang bersinggungan secara langsung sehingga
terjadi pertukaran energi dan momentum. Konduksi tidak disertai dengan
perpindahan partikel-partikel dalam zat itu. Contoh perpindahan kalor secara
konduksi adalah perpindahan kalor pada logam cerek pemasak air atau batang
logam pada dinding tungku (Tim Penyusun. 2014).
Gambar 1.1. Perpindahan Panas Konduksi pada Dinding.
wall

Tpanas

Tdingin

Sumber :Tim Penyusun,2014.


Salah satu peristiwa sehari hari yang menyangkut tentang perpindahan
kalor secara konduksi adalah saat menyeduh teh.Beberapa saat setelah ujung
sendoktercelup teh panas, ujung yang sedang dipegang akan terasa panas juga
walaupun tidak ikut tercelup teh. Proses pindahnya panas dari teh ke sendok itu
adalah perpindahan secara konduksi. Hal ini disebabkan bahwa dalam setiap
benda (sendok) terdapat bagian bagian yang lebih kecil, yaitu pertikel. Ketika
ujung sendok dikenai panas, maka partikel partikel di ujung sendok tersebut
akan bergetar di sekitar tempatnya dan membentur partikel partikel lain di
sekitarnya. Partikel yang terbentur akan ikut bergetar juga di sekitar tempatnya
dan membentur lagi partikel di sekitarnya. Begitu seterusnya sampai getaran ini
merambat ke ujung yang lain (panas dan temperatur benda adalah akibat dari
sikap brutal molekul/partikelnya) (Tim Penyusun,2014).

1.2.1 Konduktivitas Thermal(Daya Hantar Panas)


Tetapan kesebandingan (k) adalah sifat fisik bahan atau material yang
disebut konduktivitas termal.Pada umumnya konduktivitas termal itu sangat
tergantung pada suhu.Konduktivitas termal menunjukkan seberapa cepat bahan itu
dapat menghantarkan panas konduksi. Pada umumnya nilai (k) dianggap tetap,
namun sebenarnya nilai k dipengaruhi oleh suhu (T) (Anonim 1, 2014).
Tabel 1.1 Konduktivitas Termal Berbagai Bahan pada 0 oC.
Konduktivitas Termal Bahan

W/m.C

Btu/h . ft . F

Perak ( murni )

410

237

Tembaga ( murni )

385

223

Aluminium ( murni )

202

117

Nikel ( murni )

93

54

Besi ( murni )

73

42

Baja karbon, 1% C

43

25

Timbal (murni)

35

20,3

(K)

Baja karbon-nikel

16,3

9,4

Kuarsa ( sejajar sumbu )

41,6

24

Magnesit

4,15

2,4

Marmar

2,08-2,94

1,2-1,7

Batu pasir

1,83

1,06

Kaca, jendela

0,78

0,45

Kayu maple atau ek

0,17

0,096

Serbuk gergaji

0,059

0,034

Wol kaca

0,038

0,022

Air-raksa

8,21

4,74

Air

0,556

0,327

Amonia

0,540

0,312

Minyak lumas, SAE 50

0,147

0,085

Freon 12, 22FCCI

0,073

0,042

Hidrogen

0,175

0,101

Helium

0,141

0,081

Udara

0,024

0,0139

Uap air ( jenuh )

0,0206

0,0119

Karbon dioksida

0,0146

0,00844

Sumber:Rudiwarman, 2011.
Konduktivitastermal
menunjukkan

merupakan

suatubesaran

kemampuanuntuk menghantarkan

panas

intensifbahan yang
(Anonim

2,

2014).Konduktivitas termal adalah suatu fenomena transport dimanaperbedaan


temperatur menyebabkan transfer energi termal dari satudaerah benda panas ke
daerah yang sama pada temperatur yang lebihrendah.Konduktivitas termal dari
material adalah laju perpindahan panas dengan konduksi per satuan panjang per
derajat Celcius.Hal ini dinyatakan dalam satuan W/mC.Berdasarkan daya hantar
kalor, benda dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Konduktor bahan yang mudah dalam menghantarkan kalor (mempunyai


konduktivitas yang baik)
Contoh :aluminium, besi, baja, tembaga
b. Isolatorbahan yang lebih sulit dalam menghantarkan kalor (mempunyai
konduktivitas yang jelek)
Contoh :plastik, kayu, kain, kertas, kaca
(Anonim 1, 2014).
1.2.2Perpindahan Kalor Konduksi di dalam Zat Padat
Aliran kalor konduksi terjadi jika dalam suatu bahan kontinu terdapat
gradient suhu, maka kalor akan mengalir tanpa disertai oleh suatu gerakan zat.
Pada logam-logam padat, konduksi termal merupakan akibat dari gerakan elektron
yang tidak terikat. Konduktivitas termal berhubungan erat sekali dengan
konduktivitas listrik. Pada zat padat yang bukan penghantar listrik, konduksi
termal merupakan akibat dari transfer momentum oleh masing-masing molekul di
samping gradient suhu. Contoh perpindahan kalor secara konduksi antara lain:
perpindahan kalor pada logam cerek pemasak air atau batang logam pada dinding
tungku (Anonim 4, 2014)
Hubungan dasar yang menguasai aliran kalor melalui konduksi adalah
kesebandingan antara laju aliran kalor melintasi permukaan isothermal dan
gradient suhu yang terdapat pada permukaan itu. Hubungan umum ini disebut
Hukum Fourier yang berlaku pada setiap lokasi di dalam suatu benda, pada setiap
waktu. Hukum tersebut dapat dituliskan sebagai:
(1)
dimana A = luas permukaan isothermal yang tegak lurus terhadap arah aliran
kalor(m)
n = jarak, diukur tegak lurus terhadap permukaan itu(m / det)
q = laju aliran kalor melintas permukaan itu pada arah normal terhadap
permukaan(kj / det,W)
T = suhu( C, F )

k = konstanta proporsionalitas (tetapan kesebandingan)(W/m.C)


(Tim Penyusun,2014).
Konduksi pada kondisi distribusi suhu konstan disebut konduksi keadaan
stedi (steady-state conduction). Pada keadaan stedi, T hanya merupakan fungsi
posisi saja dan laju aliran kalor pada setiap titik pada dinding itu konstan. Untuk
aliran stedi satu-dimensi, persamaan (1) dapat dituliskan :
(2)
Konstanta proporsionalitas k di atas adalah suatu sifat fisika bahan yang disebut
konduktivitas termal (Tim Penyusun,2014).

1.2.3 Aliran Kalor Melintasi Lempeng


(Tim Penyusun, Suatu lempeng rata seperti terlihat pada Gambar 1.1,
diandaikan bahwa (k) tidak tergantung pada suhu dan luas dinding sangat besar
dibandingkan dengan tebalnya, sehingga kehilangan kalor dari tepi-tepinya dapat
diabaikan. Permukaan-permukaan luar dinding tegak lurus terhadap bidang
gambar, dan kedua permukaan itu isothermal.Arah aliran kalor tegak lurus
terhadap dinding. Karena keadaan stedi, tidak ada penumpukan ataupun
pengurasan kalor di dalam lempeng itu, dan q konstan di sepanjang lintas aliran
kalor. Jika x adalah jarak dari sisi yang panas, maka persamaan 2 dapat dituliskan
:
(3)

Gambar 1.2 Pemanasan Suatu Lempeng pada Keadaan Stedi.

T1

T2

x1

x2

Sumber :Tim Penyusun,2014.


Oleh karena hanya x dan T yang merupakan variabel dalam Pers. (3), integrasi
langsung akan menghasilkan :
(4)
Dimana

= beda suhu melintas lempeng


= tebal lempeng
(Tim Penyusun,2014).
Bila konduktivitas termal k berubah secara linier dengan suhu, maka k

diganti dengan nilai rata-rata . Nilai dapat dihitung dengan mencari rata-rata
aritmetik dari k pada kedua suhu permukaan, T1 dan T2, atau dengan menghitung
rata-rata aritmetik suhu dan menggunakan nilai k pada suhu itu.
Persamaan (4) dapat dituliskan dalam bentuk :
(5)
dimana R adalah tahanan termal zat padat antara titik 1 dan titik 2 (Tim
Penyusun,2014).

Gambar 1.3Dinding Rata dalam Susunan Seri


ka

kb

kc

TI

TO

xa

xb

xc

Sumber :Tim Penyusun,2014


Karena dalam aliran kalor stedi semua kalor yang melalui tahanan
pertama harus seluruhnya melalui tahanan kedua pula, dan lalu tahanan ketiga,
maka qa, qb dan qc tentulah sama, dan ketiganya dapat ditandai dengan q.
(6)
Selanjutnya,
(

(7)

atau
(

(8)

dimana

(9)
U adalah overall heat transfer coefficient2014).

Koefisien

perpindahan

panas

menyeluruh

(overall

coefficient,

heat

transfer
U)

merupakanaliranpanasmenyeluruhsebagaihasilgabunganproseskonduksidankonve
ksi.KoefisienperpindahanpanasmenyeluruhdinyatakandenganW/m2oC. Koefisien
perpindahan panas menyeluruh menyatakan mudah atau tidaknya panas berpindah
dari fluida panas ke fluida dingin. Besar kalor yang mengalir per satuan waktu
pada proses konduksi ini tergantung pada :
c. Berbanding lurus dengan luas penampang batang
d. Berbanding lurus dengan selisih suhu kedua ujung batang, dan
e. Berbanding terbalik dengan panjang batang
(Anonim 2, 2014).

BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

2.1. Alat
Alat alat yang digunakan pada percobaan ini adalah :

HT10X Heat Transfer Service Unit

HT11 Linier Heat Conduction Accessory

HT12 Radial Heat Conduction Accesory

Chart recorder with voltage input ( 1V = 100oC)

Lempeng aluminium, stainless stell dan brass

2.2. Prosedur Percobaan


a. Set-up peralatan

Tempatkan HT11 Linier Heat Conductin Accessory berdekatan dengan


HT10X Heat Transfer Service Unit

Pada HT11, selipkan Brass Section atau Stainless Steel Section atau
aluminium antara heated section dan cooled section

Hubungkan 8 termokopel ke HT11dan set VOLTAGE CONTROL


potensiometer keminimum dan switch selector ke MANUAL

Hubungkan power heat dari HT11 ke socket markedO/P3 Service Unit

Pastikan bahwa suplai air pendingin berhubungan kemasukan Pressure


Regulating Valve pada HT11

b. Prosedur Percobaan

Alirkan air pendingin atau atur Flow Control valve pada 1,5 liter/menit
dan set heater voltage pada 2 volt (pembacaan pada voltage control
potentiometer dan top panel meter diset ke posisi V)

Tunggu sampai HT11 stabil (monitor temperaturnya dengan lower


selector swith/meter)

Jika temperaturnya stabil,catat T1,T2,T3,T6,T7,T8 (0C) dan I


(Ampere) dengan menggunakan bahan brass, stainless stell, dan
aluminium

Ulangi percobaan diatas pada voltase 4, 6, dan 8 volt.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil
Pada percobaan ini, dilakukan percobaan dengan tiga bahan yang berbeda
pada HT11, yaitu brass, stainless steel, dan aluminium beserta satu alat HT12.
Tabel 3.1 Pada Lempeng Aluminium
No.
1
2

V
(Volt)
1
2

I (Ampere)

R(ohm)

Q (Watt)

0,00004
0,00009

25000
22222,2

0,00004
0,00005

K(W/mC) U(W/mC)
-0,00103
0,00108

0,072
0,0917

0,00013
23076
0,00004
3
3
0,00017
223529,4 0,00004
4
4
Tabel 3.2 Perhitungan Pada Lempengan Brass.
V
I (Ampere)
R(ohm)
Q (Watt)
(Volt)
0,00004
25000
0,00004
1
1
0,00009
22222,2
0,00003
2
2
0,00013
23076
0,00004
3
3
0,00017
223529,4
0,00008
4
4
Tabel 3.3 Perhitungan Pada Lempengan Stainless Steel.
No.

No.
1
2
3
4

V
(Volt)
1
2
3
4

I (Ampere)

R(ohm)

0,00008
0,00009
0,00013
0,00017

12500
22222,2
23076
223529,4

0,00134
0,00179

-0,00888
-0,08

K(W/mC)

U(W/mC)

0,00093
0,00118
0,004
0,0027

-0,4
-0,5
-0,4
-0,4

Q (Watt) K(W/mC) U(W/mC)


0,00008
0,00005
0,00004
0,00010

0,0026
0,0011
0,0009
0,010

-0,16
-0,1
-0,08
-0,088

Tabel 3.4 Perhitungan PadaHT12 Radial Heat Conduction Accessory


No.
1
2
3
4

V
(Volt)
1
2
3
4

I (Ampere)

R(ohm)

Q (Watt)

K(W/mC)

U(W/mC)

0,00004
0,00009
0,00013
0,00017

25000
22222,2
23076
223529,4

0,00001
0,00011
0,00016
0,00025

0,00059
0,0056
0,0073
0,039

-0.0815
-0,088
-0,0084
-0,084

3.2. Pembahasan
Percobaan Perpindahan Panas Secara Konduksi ini bertujuan untuk
menentukan laju aliran kalor dan menentukan overall heat transfer coefficient
aliran kalor pada setiap bahan yang digunakan.Nilai voltage yang digunakan pada
setiap bahan adalah sama. Voltage yang digunakan adalah 1 v, 2 v, 3 v, dan 4 v.
Namun, hasil kuat arus yang didapat memiliki variasi yang berbeda walaupun ada
beberapa yang memiliki kuat arus yang sama.
Setelah percobaan ini dilakukan, hasil nilai konduktivitas thermal,
koefisien perpindahan panas keseluruhan, dan laju aliran kalor memiliki nilai
yang cukup kecil bahkan menyentuh nilai minus.Nilai konduktivitas thermal,

koefisien perpindahan panas keseluruhan, dan laju aliran kalor yang didapat dari
bahan brass adalah 0,00220W/moC, -0,36 W/m2oC, dan 0,0000475 Watt. Nilai
konduktivitas thermal, koefisien perpindahan panas keseluruhan, dan laju aliran
kalor yang didapat dari bahan stainless steel adalah 0,00135W/moC, -0,107W/m2
o

C, dan 0,0002925Watt. Nilai konduktivitas thermal, koefisien perpindahan panas

keseluruhan, dan laju aliran kalor yang didapat dari bahan aluminium adalah
0,000795W/moC, 0,019 W/m2 oC, dan 0,0000425Watt. Nilai untuk alat HT12
pada masing masing besaran, adalah 0,00668W/moC, 0,07W/m2 oC, dan
0,0013025Watt.
Nilai voltage dan kuat arus yang berbeda beda, akan berpengaruh pada
hasil nilai hambatan. Nilai hambatan yang besar, bila dihubungkan dengan laju
aliran kalor, maka akan menghasilkan laju aliran kalor yang kecil. Hal ini
mengindikasikan bahwa semakin besar nilai hambatan yang didapat, maka akan
semakin kecil nilai laju aliran kalor. Besar nilai kalor juga mempengaruhi nilai
konduktivitas thermal. Bila nilai laju aliran kalor dihubungakn dengan jarak benda
yang konstan, luas penampang yang konstan, dan perubahan suhu yang konstan,
makan akan menghasilkan nilai konduktivitas thermal yang besar juga. Sama
halnya dengan koefisien perpindahan panas keseluruhan yang berbanding lurus
dengan laju aliran kalor.
Berdasarkan literature, semakin tinggi nilai konduktivitas thermal suatu
benda, maka semakin cepat benda tersebut mengalirkan panas yang diterima dari
satu sisi ke sisi yang lain. Bahan brass menghasilkan nilai konduktivitas
thermalyang tertinggi pada percobaan ini yaitu 0,00220 W/moC dan nilai
konduktivitas thermal yang terkecil diperoleh dari bahah stanless steel,
yaitu0,000795W/moC.

Sehingga

dapat

merupakan bahan yang tercepat dalam

disimpulkan

bahwa

bahan

brass

mengalirkan panas yang diterima

dibandingkan bahan yang lain.


Terdapat beberapa hasil minus pada beberapa besaran untuk setiap
bahan.Nilai temperatur yang didapat juga tidak konstan atau tidak stabil.Hal ini
disebabkan karena alat-alat yang digunakan pada percobaan ini mengalami sedikit
masalah, sehingga berpengaruh pada keakuratan dalam pengukuran temperatur

dan kuat arus.Selain itu, faktor umur alat yang sudah cukup lama juga menjadi
salah satu penyebab kurang akuratnya hasil pengukuran.

Perbandingan laju aliran kalor terhadap voltage pada bahan yang bebeda
1.2
1
0.8

Brass
Stainless Steel

0.6

Aluminium

0.4
0.2
0
0

Grafik 3.1:

0.2

0.4

0.6

0.8

1.2

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Laju aliran kalorrata rata yang diperoleh dengan bahan brass yaitu
0,0000475watt. Pada bahan stainless steel laju aliran kalor rata rata yang
diperoleh 0,0002925watt. Pada bahan aluminium laju aliran kalor rata

rata yang diperoleh 0,0000425watt. Sedangkan pada alat HT12 laju aliran
kalor rata rata yang diperoleh adalah 0,001325 watt.
2. Overall heat transfer coefficientrata rata yang diperoleh dengan bahan
brass yaitu -0,36 W/m2oC. Pada bahan stainless steelOverall heat transfer
coefficientrata rata yang diperoleh-0,107W/m2

C. Pada bahan

aluminiumOverall heat transfer coefficientrata rata yang diperoleh 0,019 W/m2 oC. Sedangkan Overall heat transfer coefficientrata rata
pada alat HT12 diperoleh 0,07W/m2 oC.
3. Konduktivitas termal rata rata untuk bahan brass adalah 0,0022W/moC.
Untuk bahan aluminium diperoleh rerata 0,00135W/moC. Untuk bahan
stanless steel 0,000795W/moC. Sedangkan pada alat HT12 adalah
0,00668W/moC.
4. Bahan brass merupakan bahan yang paling baik dalam mengalirkan kalor
dibandingkan dengan aluminium dan stainless steel.

4.2 Saran
Sebaiknya alat yang digunakan pada percobaan tersebut harus benar-benar
efisien, agar hasil yang diperoleh lebih akurat dan sesuai terhadap literature yang
ada.

LAPORAN SEMENTARA

Judul Percobaan : Perpindahan Panas Secara Konduksi


Kelompok

: VIII

Nama Kelompok : Agustina


Gustia Mery Indriasy
Ricky Putra Siregar
Tabel 1.Hasil percobaan pada HT11 lempeng brass
V

T1

T2

T3

T4

T5

T6

T7

T8

Fw

0,04

33,5

32,9

33,2

33,3

33,4

32,5

1,5

0,09

34,5

34,1

34,2

34,3

34,4

33,9

1,5

0,13

36,4

35,2

37,7

32,5

31,8

35,4

1,5

0,17

37,4

34,9

36,0

36,8

35,5

35,4

1,5

Tabel 2.Hasil percobaan pada HT11lempeng aluminium


V

T1

T2

T3

T4

T5

T6

T7

T8

Fw

0,04

32,9

31,7

30,1

30,4

30,2

31,8

1,5

0,09

33,0

31,8

30,4

30,3

30,1

31,8

1,5

0,13

33,1

31,9

31,3

30,3

30,1

32,2

1,5

0,17

33,2

32,0

32,7

30,3

30,1

32,2

1,5

Tabel 3.Hasil percobaan pada HT11 lempeng stainless steel


V

T1

T2

T3

T4

T5

T6

T7

T8

Fw

0,08

33,5

32,4

34,6

30,7

30,2

32,5

1,5

0,09

33,8

32,6

36,0

31,2

30,6

32,8

1,5

0,13

34

32,8

38,3

31,8

31,2

33,1

1,5

0,17

34,1

32,9

40,4

32,3

31,7

33,2

1,5

Tabel 4.Hasil percobaan pada HT12


V

T1

T2

T3

T4

T5

T6

Fw

0,04

30,8

31,1

30,4

30,7

29,9

30,5

1,5

0,09

33,0

32,7

31,2

31,3

30,1

30,5

1,5

0,13

34,7

33,8

32,0

31,9

30,6

30,9

1,5

0,17

37,5

36,8

34,0

33,6

31,8

31,6

1,5

Pekanbaru, 03 Oktober 2014


Asisten

LAMPIRAN I (PERHITUNGAN)
Xhot

= 0,0375 m

Xint

= 0,030 m

Xcold = 0,0375 m
D

= 0,025 m

A. Perhitungan untuk aluminium

1. Pengolahan data untuk bahan aluminium pada voltase 1 V, dengan kuat


arus (I) = 0.00004 A

Heat Flow

=0.00004 watt

Cross sectional area

)(

= 0.0005m2

Temperature difference in heated section


Thot = T1 T3
= 32,9oC 30,1oC
= 2,8oC

Conductivity in heated section

=0,001 W/moC

Temperature difference in cooled section

Tcold = T6 T8
= 30,4 oC 31,8oC
= -1,4oC

Conductivity in cooled section

= -0,0021W/moC

Temperature at hotface of specimen


(

)
(

= 29,3oC
Temperature at coldface of specimen
(

)
(

= 30,5oC

Temperature difference across specimen


Tint

= Thotface Tcoldface
= 29,3oC 30,5oC
= -1,2oC

Conductivity in intermediate section

(
o

= -0,002W/m C

=-0,00103 W/moC

Overall Heat Transfer Coefficient


(

)
(

= 0,072W/m2 oC

2. Pengolahan data untuk bahanAluminium pada voltase 2 V dengan kuat


arus (I) = 0,00009 A

Heat Flow

=0,00005 watt

Cross sectional area

)(

= 0,0005 m2

Temperature difference in heated section


Thot = T1 T3
= 33,0oC 30,4oC
= 2,6oC

Conductivity in heated section

= 0,0014W/moC

Temperature difference in cooled section


Tcold = T6 T8
= 30,3oC 31,8oC
= -1,5oC

Conductivity in cooled section

= -0,0025W/moC

Temperature at hotface of specimen


(

)
(

= 29,7oC

Temperature at coldface of specimen


(

)
(

= 30,4oC

Temperature difference across specimen


Tint

= 29,7oC 30,4oC
= 0,7oC

Conductivity in intermediate section

= 0,0042 W/moC

)
(

= 0,00108 W/moC

Overall Heat Transfer Coefficient


(

)
(

= 0,0917 W/m2 oC

3. Pengolahan data untuk bahanAluminium pada voltase 3V dengan kuat


arus (I) = 0,00013 A

Heat Flow

=0,00004 watt

Cross sectional area

)(

= 0,0005 m2

Temperature difference in heated section


Thot = T1 T3
= 33,1oC 31,3oC
= 1,8 oC

Conductivity in heated section

= 0,0016W/moC

Temperature difference in cooled section


Tcold = T6 T8
=30,3oC 32,2oC
= -1,9 oC

Conductivity in cooled section

= -0,00157 W/moC

Temperature at hotface of specimen


(

)
(

=31oC

Temperature at coldface of specimen


(

= 30,4 oC

Temperature difference across specimen


Tint

= Thotface Tcoldface
= 31oC 30,4oC

= 0,6oC

Conductivity in intermediate section

=0,004W/moC

= 0,00134W/moC

Overall Heat Transfer Coefficient


(

)
(

= -0,0888 W/m2 oC

4. Pengolahan data untuk bahanAluminium pada voltase 4 V dengan kuat


arus (I) = 0,00017 A

Heat Flow

=0,00004 watt

Cross sectional area

)(

= 0,0005m2

Temperature difference in heated section


Thot = T1 T3
= 33,2oC 32,7oC
= 0,5 oC

Conductivity in heated section

= 0,006W/moC

Temperature difference in cooled section


Tcold = T6 T8
=30,3 oC 32,2 oC
= -1,9oC

Conductivity in cooled section

= -0,00157 W/moC

Temperature at hotface of specimen


(

)
(

=33,05oC

Temperature at coldface of specimen


(

)
(

= 30,55oC

Temperature difference across specimen


Tint

= Thotface Tcoldface
= 33,05oC 30,55oC
= -2,5oC

Conductivity in intermediate section

=0,00096 W/m C

= 0,00179 W/moC

Overall Heat Transfer Coefficient


(

)
(

= -0,08W/m2 oC

DAFTAR PUSTAKA

Sumber buku :
Holman, J.P. Perpindahan Panas, edisi keenam. 2001. Erlangga : Jakarta.
Kern, DQ. 1965. Process Heat Transfer. New York : Mc.Graw-Hill.
MC. Cabe, W.L, Smith, JC, Harriot, P. 1985. Unit Operation of Chemical
Enginering 4th ed. New York : Mc.Graw-Hill.
Tim Penyusun. 2014. Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia I. Pekanbaru :
Universitas Riau.
Sumber internet :
Anonim 1. 2014. Thermal Conductivity Measurement. http://en.wikipedia.org
/wiki/Thermal_conductivity_measurement. (diakses pada 5 Oktober 2014)
Anonim 2. 2014. Heat Conduction. http://en.wikipedia.org/wiki/Heat_conduction.
(diakses pada 5 Oktober 2014).
Anonim

3.

2014.

Koefisien

Pindah

Panas.

http://id.wikipedia.org/

wiki/Koefisien_pindah_panas. (diakses pada 5 Oktober 2014).


Anonim 4. 2014. Konduksi. http://perpindahankalor.blogspot.com/2012/12/
konduksi_8.html. (diakses pada 5 Oktober 2014).
Rudiwarman. 2011. Perpindahan Panas. http://www.bersahabat. blogspot.
com//2011/06/perpindahan-panas.html. (diakses pada 5 Oktober 2014)