Anda di halaman 1dari 4

Nama

: Wasi Wisnu (104704211)


Bambang Gunawan (114704054)

Hak Hak Konsumen di Luar Undang-Undang Perlindungan Konsumen


(Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan)
Pasal 31
Ayat (1)
Keterangan pada label, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30, ditulis atau dicetak atau
ditampilkan secara tegas dan jelas sehingga dapat mudah dimengerti oleh masyarakat
Ayat (2)
Keterangan pada label, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditulis atau dicetak dengan
menggunakan bahasa Indonesia, angka Arab, dan huruf latin
Ayat (3)
Penggunaan istilah asing, selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dapat dilakukan sepanjang
tidak ada padanannya, tidak dapat diciptakan padanannya, atau digunakan untuk kepentingan
perdagangan pangan ke luar negeri

BAB VI
TANGGUNG JAWAB INDUSTRI PANGAN
Pasal 41
Ayat (1)
Badan usaha yang memproduksi pangan olahan untuk diedarkan dan atau orang perorangan
dalam badan usaha yang diberi tanggung jawab terhadap jalannya usaha tersebut bertanggung
jawab atas keamanan dengan yang diproduksinya terhadap kesehatan orang lain yang
mengkonsumsi pangan tersebut.
Ayat (2)
Orang perseorangan yang kesehatannya terganggu atau ahli waris dari orang yang meninggal
sebagai akibat langsung karena mengkonsumsi pangan olahan yang diedarkan berhak
mengajukan gugatan ganti rugi terhadap badan usaha dan atau orang perseorangan dalam badan
usaha, sebagaimana
termaksud pada ayat (1).
Ayat (3)
Dalam hal terbukti bahwa pangan olahan yang diedarkan dan dikonsumsi tersebut mengandung
bahan yang dapat merugikan dan atau membayakan kesehatan manusia atau bahan lain yang
dilarang, maka badan usaha dan atau orang perseorangan dalam badan usaha, sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), wajib mengganti segala kerugian yang secara nyata ditimbulkan.

Ayat (4)
Selain ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dalam badan usaha dan atau orang
perseorangan dalam badan usaha dapat membuktikan bahwa hal tersebut bukan diakibatkan
kesalahan atau kelalaiannya, maka badan usaha dan atau orang perseorangan dalam badan usaha
tidak wajib mengganti kerugian.
Ayat (5)
Besarnya ganti rugi, sebagaimana dimaksud pada ayat (3), setinggi-tingginya sebesar Rp.
500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) untuk setiap orang yang dirugikan kesehatannya atau
kematian yang ditimbulkan.
Pasal 42
Dalam hal pihak sebagaimana dimaksud dalam pasal 41 ayat (1) tidak diketahui atau tidak
berdomisili di Indonesia, ketentuan dalam pasal 41 ayat (3) dan ayat (5) diberlakukan terhadap
orang yang mengedarkan dan atau dimasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia.
Pasal 43
Ayat (1)
Dalam hal kerugian yang ditimbulkan melibatkan jumlah kerugian materi yang besar dan atau
korban yang tidak sedikit, Pemerintah berwenang mengajukan gugatan ganti rugi, sebagaimana
dimaksud dalam pasal 41 ayat (2)
Ayat (2)
Gugatan ganti rugi, sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diajukan untuk kepentingan orang
yang mengalami kerugian atau musibah.

Pasal 44
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42, dan Pasal 43 ditetapkan lebih lanjut dengan
Peraturan Pemerintah.