Anda di halaman 1dari 5

METODE PEMANCANGAN

1. PROSEDUR PEMANCANGAN
Pemancangan mengikuti langkah-langkah sebagai berikit :

Instalasi peralatan yang digunakan


Penentuan lokasi yang digunakan
Pengangkatan/penarikan tiang pancang
Pemukulan tiang pancang

2. PEMILIHAN ALAT PANCANG


Pemilihan alat pancang tergantung pada ukuran tiang pancang, berat tiang dan daya
dukung yang direncanakan, berikut tabel tipe dan ukuran diesel hammer
Dimensi Tiang
PC pile ( mm )

Pipa Pile ( mm )

300

318.5

350

355.6

300

355.6

350

406.4

400

508

450

609.6

400

508

450

609.6

500

711.2

500

609.6

600

711.2

Diesel Hammer
Kobe/ekivalen
(KN)

Daya Dukung

K 13

20 - 50

K 25

30 - 100

K 35

50 - 150

K 45/ KB 45

65 - 200

( Ton )

812.8
3. PENGANGKATAN TIANG PANCANG
Cara Pengangkatan tiang pancang posisi slingharus ditempatkan pada 2 titik angkat
dan sling diletakkan pada jarak 1/5 x panjang tiang dikedua ujung seperti pada
gambar dibawah ini

0,2
L

0,5
L
L

0,2
L

4. PENARIKAN TIANG PANCANG DI SITE


Menyediakan tiang pancang didekat alat pancang ( yang mungkin untuk
memudahkan penarikan tiang pancang 10 m dari alat pancang).
Pengangkatan pada saat tiang pancang hendang dimasukkan dialat pancang
sebaiknya letak wire rop dengan jarak 1/3 L atau sesuai dengan gambar dibawah
ini.

1/3 L

2/3 L

5. BANTALAN ( Cushion Material )


a. Topi Pancang ( Pile Hat )
Dalam hal pemancangan tiang ( PC Pile ) hammer tidak boleh langsung
menyentuh kepala tiang pancang karena dapat merusak baik hammer itu sendiri
maupun kepala tiang pancang. Dalam hal ini topi pancang diletakkan pada kepala
tiang pancang, energi hammer ditransfer melalui hammer cushion, pile cushion
dan berakhir di kepala tiang pancang. Topi pancang fungsinya untuk menghindari
kerusakan bahan dan meratakan energi pemukulan ke tiang pancang sebagai
mana yang diuraikan dibawah ini :
Topi pancang dibuat dari baja yang fungsinya untuk menghindari
kerusakan bahan
Hammer dan tiang pancang yang bertopi diletakkan pada satu garis sumbu
Ukuran topi harus pas diatas kepala tiang pancang yang berfungsi untuk
meratakan energi pemukulan
Antara dimensi topi dan dimensi kepala tiang pancang boleh terdapat
kelonggaran sebesar 15 mm
b.

Bantalan Kepala Tiang Pancang ( Wood Cushion Material )


Gunakan bantalan kayu diantara kepala tiang pancang dan topi pancang
dengan tebal 8 10 cm untuk tiang single ( maksimum panjang 15 m )

Tebal bantalan kayu 10 15 cm untuk tiang pancangan dengan


sambungan
Bila bantalan kayu menerima tegangan terlalu tinggi sehingga bantalan
rusak/hancur maka harus diganti dengan yang baru
6. METODE PEMANCANGAN
Menggunakan mesin pancang yang mempunya panjang boom 12 18 m dan
panjang leader 18 24 m untuk panjang maksimum tiang pang panjang 9 18
m.
Gunakan mesin pancang yang sesuai dengan dimensi, berat dan daya dukung
tiang yang diperlukan.
Gunakan topi pancang baja yang sesuai dengan dimensi tiang pancang
Gunakan bantalan kayu dengan ketebalan sesuai yang disyaratkan
Penarikan tiang pancang ke titik pancang sesuai dengan yang di syaratkan
serta kondisi tiang pancang harus dijaga agar tetap dalam kondisi baik.
Posisi sumbu hammer terhadap tiang pancang dan topi baja harus lurus dalam
satu garis ( gunakan waterpass/unting-unting/ theodolit untuk memastikan
ketegak lurusannya)
Eksentrisitas sumbu tidak boleh lebih dari 10 mm
Tiang pancang diletakkan pada posisi yang benar terhadap hammer yang ada
leader dan crane
Pukulan pada pemancangan pertama harus memperhatikan soft blow driving
untuk memastikan bahwa arah pemancangan sudah benar atau sesuai
Mulai pemancangan untuk setiap taing pancang adalah bila pukulan ( blow )
berlangsung continue sampai tiang pancang mencapai lapisan tanah keras
yang diharapkan
Bila tiang pancang sudah mencapai lapisan tanah keras yang diharapkan atau
telah mencapai daya dukungnya maka pemancangan harus segera dihentikan
Pemancangan yang berlebihan ( over driving ) harus dicegah / dihentikan agar
tiang pancang tidak mengalami kerusakan.
Urutan pemancangan dilakukan dengan urutan yang sedapat mungkin
meminimalkan efek naiknya permukaan tanah dan perpindahan tanah lateral
7. SAMBUNGAN TIANG
Metode sambungan dengan pengelasan pada kedua ujung tiang yang
dilengkapi dengan plat baja.
Sistem pengelasan dengan ketebalan minimum 8 mm atau sesuai dengan mutu
elektroda las ( RB 26 / RD 260 ) atau ekivalen dengan AWS E 6013.
Cara pengelasan sambungan tiang yang akan dilas harus lebih tinggi dari
permukaan tanah minimal 50 cm dan permukaan plat sambungan / splice joint
harus dibersihkan, letakkan tiang atas ( top / middle ) diatas tiang bawah (bot )
dengan hati-hati, posisi tiang atas harus lurus terhadap sumbu tiang bawah.
8. REKAMAN PEMANCANGAN

Rekaman pemancangan ( driving record ) sering digunakan sebagai pengendalian


mutu. Rekaman pemancangan berupa pencatatan jumlah pukulan hammer dan
pencatatan set ( kalendering ) untuk setiap tiang pancang pada pemancangan terakhir,
hal ini dimaksudkan untuk mengetahui penurunan ( penetrasi ) tiang pancang
( mm/blow ), umumnya digunakan 10 pukulan terakhir.
Nilai set ini sering digunakan untuk memperkirakan daya dukung tiang berdasarkan
formula dinamik .
Pencatatan pemancangan disetiap tiang pancang dalam bentuk blanko khusus yang
umumnya meliputu seperti dibawah ini ;
Nama proyek
Tanggal pemancangan
Nomor tiang pancang
Nomor titik pancang
Dimensi
Jenis tiang pancang
Panjang tiang pancang
Jumlah pukulan
Kedalaman penetrasi
Waktu pelaksanaan
Tipe hammer
Berat hammer
Tinggi jatuhnya hammer
Final set/ 10 pukulan terakhir
9. FORMULA DINAMIK DAN APLIKASINYA
Untuk menentukan daya dukung tiang pancang digunaka formula dinamik yang
merupaka metode yang didasarkan pada hubungan daya dukung tiang pancang
dengan energi pemancangan tiang yaitu menghubungkan daya dukung tiang
dengan nilai set serta menganggap perlawanan tanah pada saat pemancangan.
Formula dinamik tidak boleh tergantung pada faktor waktu yang mana
menyebabkan formula-formula dinamik tidak tepat digunakan pada perlawanan
geser sekeliling tiang ( friction pile ) sebab pada waktu pemancangan perlawanan
geser yang bekerja disekeliling tiang belum bekerja penuh ( seperti tanah
lempung ) maka akibatnya penetrasi ujung tiang akan jauh lebih besar sehingga
hasil perhitungan rumus pancang memberikan harga daya dukung tiang yang lebih
kecil ( tidak dapat memberikan gambaran yang sebenarnya ) sedang untuk ujung
tiang ( point bearing pile ) perhitungan rumus pancang dapat membantu maka lebih
tepat digunakan pada tanah lepas.
Tujuan formula dinamik seperti telah disebutkan diatas adalah untuk menentukan
apakah suatu tiang pancang telah mencapai daya dukung yang cukup dan hubungan
energi yang diberikan oleh suatu pukulan ( blow ) merupakan energi yang
diperlukan untuk penetrasi kedalam lapisan tanah sebesar S ( set )
Daya dukung tiang dari pemancangan oleh diesel hammer diperoleh perhitungan
dari formula dinamik yang diambil dari data final set pada pemancangan. Disini

yang cukup dikenal dan banyak digunakan adala yang dikembangkan oleh versi
modifikasi Hileys formula sebagai berikut :

Ra

Eff x 2 x Wr x H Wr e 2Wp
1
x
x
SK
Wr Wp
SF

Ra

= daya dukung ultimate tiang pancang ( ton )

Wr

= Berat Ram ( Ton )

Wp

= berat tiang pancang ( ton )

Eff

= faktor efisiensidari hammer ( diambil 0,85 1,00 )

= koefisien restitusi ( tiang beton dengan bantalan kayu 0,5 )

= penurunan terakhir per pukulan ( cm )

= perpendekan elastis total dari kepala tiang pancang dan tanah ( cm )

SF

= angka keamanan diambil 3-4.