Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum

EKOLOGI TUMBUHAN

DAUR KARBON

DISUSUN OLEH

Dika Muftia Patappa


NIM F05112072

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2014

ABSTRAK
Siklus karbon melibatkan seluruh lingkungan yang ada di alam semesta,
meliputi atmosfer, biosfer, hidrosfer dan geosfer. Karena itu, siklus karbon disebut sebagai
siklus biogeokimia. Pada setiap lingkungan dan antara lingkungan terjadi pertukaran karbon.
Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer,
geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi.
Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Pendidikan Biologi FKIP
Untan. Kegiatan yang dilakukan adalah memerhatikan siklus biogeokimia pada makhluk
hidup. Setelah dilakukan didapatkan hasil terjadi perubahan warna pada berbagai tabung
berisi aquades yang ditambahkan bromtimol blue. Tabung-tabung tersebut diisi secara
berturut-turut siput, hydrilla, dan hiydrilla serta siput. Waktu mereka mengalami perubahan
warna berbeda satu sama lain.
Kata Kunci : Daur Karbon, Siput, Hydrilla, Ekosistem, Produsen, Cahaya
matahari

TINJAUAN PUSTAKA
Satu elemen penting di biosfer adalah karbon. Karbon adalah tulang belulang
dari komponen organik dan tersusun mendekati dari 40% sampai 50% dari berat keadaan
alam sekitar. Ada lebih komponen yang terbuat dari karbon dari pada kombinasi elemennya.
Banyak dari karbon di bumi ditransfer dalam bentuk bahan bakar fosil, batu bara, tanah yang
dipakai sebagai bahan bakar, minyak, dan gas alam (Lim, 1998).
Dalam ekosistem terdapat dua peristiwa yang tidak terhenti yaitu aliran
energi dan aliran materi. Aliran energi berasal dari sinar surya yang memasuki ekosistem.
Energi ini digunakan untuk proses fotosintesis tanaman hijau dan selanjutnya beredar melalui
ekosistem melalui rantai makanan. Sedangkan daur materi berlangsung dari organisme hidup
ke lingkungan abiotik baik tanah atau atmosfer dan kembali lagi ke organisme hidup,
sehingga keberadaan bahan-bahan di ekosistem dalam keseimbangan dinamik.
Di dalam aliran energi terdapat aliran-aliran yang merupakan suatu peristiwa
yang terjadi terus menerus. Salah satunya adalah siklus karbon. siklus ini memperlihatkan
bahwa karbon bisa terdapat sebagai gas CO2 yang konsentrasinya sangat kecil tetapi sangat
menentukan karbon secara global. Sebagian dari karbon terlarut dalam air permukaan, dan
sumber air sebagai HCO3- atau sebagai CO2. sejumlah besar karbon terdapat dalam mineralmineral, terutama dalam bentuk kalsium dan magnesium karbonat, seperti CaCO3. Reaksi
fotosintesis menyediakan karbon dalam bentuk anorganik menjadi karbon dalam bentuk
organic. Yang dinyatakan sebagai (CH2O), yang merupakan komponen-komponen dari
molekul-molekul seluruh kehidupan.
Karbon adalah elemen penting karena dapat membentuk bahan organik yang
diperlukan bagi kehidupan di bumi. Karbon melalui rute perjalanannya di bumi mengalami
suatu siklus yang disebut siklus karbon. Melalui siklus karbon kita dapat mempelajari
aliran energi di bumi karena hampir seluruh energi kimia yang dibutuhkan untuk hidup
disimpan pada bahan organik. Siklus karbon memiliki dua bagian penting yaitu, siklus di
daratan dan siklus di perairan. Siklus karbon di perairan meninjau pergerakan karbon melalui
ekosistim laut dan siklus karbon di darat meninjau pergerakan karbon melalui ekosistim
daratan. Kandungan CO2 bebas di udara adalah sekitar 0,033%, dan cenderung mengalami
peningkatan dari hasil penggundulan hutan dan pembakaran bahan bakar fosil.
Siklus karbon melibatkan seluruh lingkungan yang ada di alam semesta,
meliputi atmosfer, biosfer, hidrosfer dan geosfer. Karena itu, siklus karbon disebut sebagai

siklus biogeochemical. Pada setiap lingkungan dan antara lingkungan terjadi pertukaran
karbon.
Karbon berpindah dari lingkungan atmosfer ke biosfer sebagai gas
karbondioksida. Gas karbondioksida digunakan tumbuhan untuk berfotosintesis. Karbon
memasuki lingkungan atmosfer dari lingkungan bisofer juga sebagai gas karbondioksida.
Gas karbondioksida dilepaskan ke atmosfer dari hasil pernafasan mahluk hidup, hasil
pembusukan/fermentasi oleh bakteri/jamur dan hasil pembakaran senyawa-senyawa organik.
Selain petukaran karbon dari lingkungan atmosfer ke biosfer atau sebaliknya,
karbon dipertukarkan dalam lingkungan bisofer melalui rantai makanan. Pertukaran karbon
pun terjadi dari lingkungan biosfer ke geosfer. Cangkang hewan-hewan lunak pada umumnya
mengandung karbonat. Karbonat kemudian diubah menjadi batu kapur melalui suatu proses
yang disebut sedimentasi. Sedangkan perpindahan karbon dari lingkungan geosfer ke
lingkungan atmosfer terjadi melalui hasil reaksi batu kapur dan erupsi gunung merapi.
Hubungan antara produsen dan konsumen dalam kaitannya dengan siklus
karbon dan mutlak diperlukan dalam suatu ekosistem untuk menjaga kestabilannya. Di
lingkungan terbuka, sangat sulit untuk menentukan faktor apa yang mempengaruhi hubungan
tersebut karena terdapat banyak faktor yang mempengaruinya. Dalam siklus karbon, atom
karbon terus mengalir dari produsen ke konsumen dalam bentuk molekul CO2 dan
karbohidrat, sedangkan energy foton matahari digunakan sebagai pemasok energi yang
utama. produsen memerlukan CO2 yang dihasilkan konsumen untuk melakukan fotosintesis.
Dari kegiatan fotosintesis tersebut, produsen dapat menyediakan karbohidrat dan oksigen
yang diperlukan oleh konsumen untuk melangsungkan kehidupannya (Anshory, 1984).
Siklus karbon sendiri memiliki arti yang luas. Dalam siklus karbon cadangan
di atmosfer adalah sangat kecil jumlahnya jika dobandingklan dengan jumlah karbon yang
ada didalam laut, minyak bumi dan cadangan-cadangan lain di dalam kerak bumi.
Kehilangan karbon dalam aktifitas pertanian (misalnya karena penambahan karbon ke
atmosfer lebih banyak dari pada yang disebabkan karena yang diikat oleh tanaman-tanaman
tidak dapat menggantikan karbon yang dilepaskan dari tanah, terutama yang diakibatkan
karena seringnya pengolahan tanah. Penebangan hutan dapat melepaskan karbon yang
tersimpan dalam kayu, terutama apabila kayu tersebut segera terbakar, dan kemudian diikuti
oleh oksidasi humus jika lahan tersebut digunakan untuk pengembangan daerah p[ertanian
dan perkotaan (Hadioetomo, 1993).

Agar dapat lebih memahami tentang siklus karbon di dalam ekosistem, akan
dimulai dari karbon dioksida (CO2) yang ada di udara atau larut di dalam air. CO2 dibentuk
menjadi senyawa tertentu melalui proses fotosintesis. Senyawa ini bergabung dengan
berbagai cara membentuk materi organism. Selama proses fotosintesis berjalan, energi
dijalinkan ke dalam senyawa organic. Senyawa organik yang dihasilkan oleh produsen dapat
diteruskan kepada konsumen. Waktu produsen atau konsumen menggunakan energi dari
senyawa-senyawa organic, CO2 dapat dilepas kembali baik ke udara maupun ke dalam air,
bergantung pada lingkungan hidup organism. Tetapi selama masih ada energi yang dapat
dipergunakan, senyawa-senyawa organic akan tetap ada. Baik produsen maupun konsumen
dapat membuang sisa materi yang mengandung karbon. Kalau organism mati tubuh mereka
akan tinggal sebagai tumpukan suatu senyawa-senyawa karbon. Organisme saprovor
(pembusuk) menyempurnakan proses pelepasan karbon (dalam bentuk CO2) dari sisa kotoran
dan jasad-jasad yang mati. Sebagian besar dari saprovor yang menjadi konsumen terakhir,
adalah mikroorganisme, kecuali jamur yang jelas dapat dilihat dengan mata bugil. Kadangkadang proses pembusukkan yang dilakukan oleh sapravor berjalan sangat lambat, sehingga
selama masa berjuta-juta tahun sejumlah besar senyawa karbon dapat menumpuk dalam
bentuk gambut, batubara dan minyak bumi. Beberapa organism mengalihkan arus karbon
melalui batu karang yang selanjutnya tertimbun sebagai batuan. Dengan demikian, lintasan
arus utama siklus karbon adalah dari atmosfer atau hidrosfer ke dalam jasad hidup, kemudian
kembali lagi ke atmosfer atau hidrosfer (Amir, 1981).
Ada beberapa persesuaian pendapat terhadap masalah CO2 dan kontribusi
dari berbagai aktivitas manusia terhadap pengkayaan CO2 di atmosfer. Suatu pandangan
yang ekstrim dari Woodwell dkk (1978), mengatakan bahwa pembinasaan atau pembakaran
pool biotik (misalnya, pembakaran hutan) sama pentingnya dengan pembakaran minyak
bumi. Broecke dkk (1977), menyimpulkan bahwa sumber CO2 terbesar berasal dari
pembakaran minyak bumi, dibandingkan dengan sumber-sumber lainnya. Bolin (1977) setuju
terhadap semua pendapat diatas, bahkan hutan-hutan merupakan cadangan karbon dalam
biomasa hutan sebanyak 1,5 kali lipat dan didalam humus tanah hutan sebanyak 4 kali lipat
dari banyaknya karbon diatmosfer (Kamajaya.1996).
Oksidasi humas yang cepat dan pelepasan gas CO2 yang pada lazimnya
ditahan dalam tanah yang mempunyai efek tajam dari pada apa yang baru diketahui sekarang
termasuk pengaruhnya terhadap peredaran nutrient lainya. Sebagai contoh, Nelson (1967)
menggunakan kerang untuk menunjukkan bahwa penggundulan hutan dan aktivitas pertanian

telah mengakibatkan penurunan jumlah trace element tertentu dalam aliran permukaan
tanah. Dia menemukan bahwa kerang yang berumur 1000 tahun hingga 2000 tahun
mengandung sekitar 50 100% lebih banyak mangan (mg) dan barium (Ba) dibandingkan
dengan kerang sekarang. Dalam proses pembersihan (eliminasi) Nelson berkesimpulan
bahwa pengurangan aliran air asam yang mengandung CO2 yang merembes ke dalam tanah
dapat mengurangi kecepatan pelarutan unsure-unsur tersebut dari batuan yang dialirinya.
Dengan kata lain, air sekarang cenderung lebih cepat mengalir di permukaan tanah dari pada
merembes kebawah melalui lapisan humas dalam tanah (Sowasono, 1987).
Karbon yang terdapat di laut cenderung mengatur karbondiokida di atmosfer.
Karbon yang terdapat di dalam suatu perairan merupakan hasil dari proses sebagai berikut:Difusi C02 dari udara- Air hujan- Respirasi organisme akuatik- Dekomposisi bahan organikGunung merapi bawah laut- Pelapukan batuan- Pelarutan batuan karbonat- Injeksi CO2 ke
dalam air Karbondiokida dari atmosfer mengalami reaksi yang cepat ketika larut dalam air.
CO2 yang larut dalam air bereaksi membentuk suatu kesetimbangan jenis ionik dan nonionik yaitu:1. karbondioksida yang terlarut bebas2. asam karbonat (H2CO3)3. bikarbonat
(HCO3-)4. karbonat (CO32-).
Tujuan pada praktikum ini adalah untuk mempelajari daur biogeokimia pada
ekosistem khususnya daur karbon serta untuk membedakan daur karbon yang terdapat di
atmosfer dan juga di akuatik

METODOLOGI
Praktikum Daur Karbon dilaksanakan pada hari Senin, 10 November 2014,
pukul 15.00 hingga selesai. Laboratorium P.Biologi FKIP UNTAN Alat yang digunakan
pada Daur Karbon adalah botol selai, keong sebagai konsumen, dan Hydrilla sp. sebagai
produsen. Sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan bromthymol blue, dan air.
Disiapkan dua percobaan A dan B, masing-masing terdiri dari empat botol
biakan. Botol-botol biakan ditandai dengan kode A1, A2, A3, A4 dan B1, B2, B3, B4. Dibuat
tiga ulangan untuk setiap percobaan.
Setiap botol diisi dengan jumlah air yang sama sampai permukaan air kirakira 20 mm di bawah mulut tabung. Kemudian 3 s/d 5 tetes Bromthymol blue ditambahkan
ke tiap-tiap botol. Siput dimasukkan ke dalam botol A1 dan B1, keong dan Hydrilla sp. ke
dalam botol biakan A2 dan B2, Hydrilla saja ke tabung A3 dan B3, dan hanya air ke botol
A4 dan B4 sebagai control Semua botol biakan ditutup rapat agar kedap udara.
Botol biakan diamati selama 24 jam kemudian dan semua warna indicator
dari setiap tabung (tabelnya dibuat) dicatat. Perubahan warna yang mungkin terjadi dengan
siput dan Hydrilla sp. juga dicatat. Setelah itu botol biakan A dipindahkan ke tempat gelap
dan btol biakan B ke tempat terang.lalu perubahanya dicatat setelah 24 jam dipindahkan.
Perpindahan ini diulangi selama 7 hari. Setelah pengamatan selama 7 hari, kesimpulan
tentang daur karbon dibuat pada percobaan ini.

HASIL PENGAMATAN DAUR KARBON


HARI KETABUNG PERLAKUAN
1

A1 (siput)

++

++

A2 (siput+
hydrilla )

++

++

++

++

++

+++

++

A3 (Hydrilla
sp)

++

++

++

++

++

++

+++

A4 (Aq)

B1 (siput))

++

++

++

++

B2 (siput+
hydrilla )

++

++

++

++

++

+++

B3 (Hydrilla
sp)

++

++

++

B4(Aq)

Keterangan :
0

= Jernih

= Biru Kekuningan

++

= Agak Kekuningan

+++

= Kuning Kemerahan

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan tentang daur karbon.
praktikum ini dilakukan untuk dilakukan untuk mempelajari daur biogeikimia pada ekosistem
khususnya daur karbon.

Digunakan siput sebagai specimen karena siput mudah diperoleh dan ia


berhabitat pada air tawar. Ukuran siput yang digunakan harus sama agar kita dapat
membandingkan dengan seimbang hasilnya dengan berbagai perlakuan. Pada praktikum kali
ini digunakan Hydrilla sp. sebagai produsen atau organisme autotrof yang dapat melakukan
fotosintesis. Digunakannya indicator Bromthymol Blue pada percobaan ini sebagai indikator
untuk dapat mengetahui apakah terdapat CO2 didalam tabung reaksi karena larutan
bromtimol biru sangat sensitif dengan CO2, kesensitifan ini dapat dilihat dengan adanya
reaksi perubahan warna. Akan berwarna biru dalam larutan basa dan berwarna kuning
kemerahan pada larutan asam.
Percobaan dilakukan pada dua tempat yang berbeda yaitu yang di tempat
terang dan yang di tempat gelap. Hal itu dimaksudkan untuk membandingkan apakah adanya
cahaya berpengaruh terhadap siklus karbon pada ekosistem aquatik. Dan ternyata
berpengaruh yaitu pada tempat terang tumbuhan dapat berfotosintesis dan dapat
memungkinkan terjadinya daur karbon pada ekosistem tersebut.
Penggunaan hewan dan tumbuhan ini dimaksudkan untuk mengetahui
peristiwa daur karbon. dimana terjadi proses fotosintesis yang dilakukan oleh Hydrilla
sp.yang menghasilkan O2, dimana O2 digunakan untuk proses respirasi yang dilakukan oleh
Lymnea sp. Penggunaan Lymnea karena praktikum ini akan melihat peristiwa fotosintesis
dalam air yang merupakan tempat hidup dari Lymnea, selain itu, ini dimungkinkan karena
Lymnea mempunyai cangkang, Cangkang berupa kalsium karbonat yang berasal dari
kombinasi Ca dan CO2.
Kalsium karbonat terbentuk karena proses fotosintesis tumbuhan laut
sehingga cangkang merupakan suatu bukti adanya daur karbon dan ketika Lymnea itu mati,
air dapat melarutkan kalsium karbonat,karena adanya CO2 yang terlarut. sedangkan
penggunaan Hydrilla karena merupakan hewan air yang kosmopolit atau ditemukan dimanamana.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada hari pertama tabung A1 yang


berisi siput hidup dan kondisi abiotik jernih. Pada A2, A3, dan B2 telah mengalami
perubahan warna.
Pada pengamatan hari kedua tidak mengalami begitu banyak perubahan ,
kondisi siput sama dengan pengamatan pertama begitu juga dengan kondisi hydrila, yang
membedakan dari kedua perlakuan tersebut yaitu kondisi abiotik yang mengalami perubahan
menjadi lebihbening dari sebelumnya (A3 dan B3), kondisi abiotik A1dan B1 menjadi lebih
keruh dari sebelumnya hal ini terjadi karena siput sudah mati, kondisi abiotik lainnya sama
saja dengan pengamatan pertama. Namun belum terjadi perubahan warna.
Pada pengamatan ketiga tidak banyak mengalami perubahandari pengamatan
sebelumnya, kondisi abiotik A1 dan B1 semakin keruh dan mulai berbau, pada tabung A2
dan A3 kondisi abiotik semakin keruh, hal ini terjadi karena di dalam tabung terjadi interaksi
antara produsen dan konsumen. Pada tabung A3 dan B3 kondisi abiotik semakin bening,
biotik tampak segar. Pada tabung A4 tetap sama kondisi abiotik tetap bening, hal ini
menunjukan bahwa air tersebut asam. Pada tabung B4 kondisi abiotik warna biru mulai
memudar.
Pada pengamatan keempat banyak mengalami perubahan, tabung A2
produsen habis dimakan oleh konsumen, hal ini terjadi karena konsumen lapar sehingga
memakan produsen dan kondisi abiotik perlakuan ini tampak keruh. Pada tabung A1 dan B1
kondisi abiotik sangat keruh, tabung A4 menjadi agak keruh, tabung A3 tampak layu, tabung
B2 dan B3 segar.
Pada pengamatan kelima kondisi perlakuan tidak begitu jauh dari
pengamatan sebelumnya, pada tabung B2 produsen habis dimakan oleh konsumen hal ini
terjadikarena konsumen lapar. Pada tabung lainnya tidak begitu berbeda dengan pengamatan
sebelumnya, kondisi A1 dan B1 semakin keruh.

KESIMPULAN
Daur karbon meliputi fotosintesis dan respirasi. Fotosintesis adalah proses
pembentukan glukosa oleh tumbuhan dengan bantuan CO2, H2O dan cahaya matahari.
Respirasi adalah proses pemecahan glukosa dengan menggunakan oksigen (O2) dan
menghasilkan CO2 dan H2O serta energi. Hubungan produsen dan konsumen saling
bergantung satu sama lain, jika salah satu tidak dapat melakukan proses dengan baik maka
proses lainnya tidak akan bisa berjalan, Dalam melakukan proses fotosintesis mutlak
diperlukan bantuan cahaya matahari, Sinar matahari, CO2, O2, dan karbohidrat sangat
diperlukan untuk menjaga kestabilan antara hubungan produsen dan konsumen, Dalam
percobaan ini dapat dilihat adanya siklus karbon, yang dapat dilihat pada tabung reaksi
kedua, terjadi interaksi timbal balik antara Hydrilla dan siput. Kondisi ruangan dapat
mempengaruhi keasamaan suatu lingkungan, ini dapat dilihat pada perbedaan warna, dan
bentuk produsen, pada kamar terang dan kamar gelap. Pada kamar gelap, kondisi asamnya
lebih pekat, daripada di kamar terang.

DAFTAR PUSTAKA

Lim, D. 1998. Microbiology Second Edition. McGraw Hill Companies : New York
Amir, A. 1981. Biologi umum. Gramedia. Jakarta.
Anshory, I. 1984. Biologi umum. Genesa Exact. Bandung
Hadioetomo, ratna Sari. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT. Gramedia: Jakarta.
Kamajaya.1996. Sains Biologi. Ganeca Exact. Bandung
Sowasono, Haddy. 1987. Biologi Pertanian. Rajawali Press, Jakarta