Anda di halaman 1dari 20

1

Nama

NIM

Kode Mata Kuliah

PSU

1. Yanuar

502010026

Nama Mata Kuliah

Psikologi Abnormal

2. Christine Koyansauw

502010036

3. Arniasari Veronica

502010040

4. Octavani Christie

502010046

Fakultas

Psikologi

Nama Dosen

Sherly Hidayat, M.Si.

Program Studi

Psikologi

Jumlah halaman

20 halaman

GANGGUAN KEPRIBADIAN

Gangguan Kepribadian adalah kelompok gangguan yang sangat heterogen, diberi


kode pada Aksis II dalam DSM dan dianggap sebagai pola perilaku dan pengalaman internal
yang bertahan lama, pervasif, dan tidak fleksibel yang menyimpang dari ekspektasi budaya
orang bersangkutan dan menyebabkan ketidakmampuan dalam keberfungsian sosial dan
pekerjaan. Gangguan kepribadian ditandai oleh keekstremen beberapa trait dan cara
pengekspresian karakteristik tersebut yang kurang fleksibel dan maladaptif. Individu dapat
didiagnosis gangguan kepribadian apabila pola perilaku tersebut berlangsung lama, pervasif,
dan disfungsional.
Gangguan kepribadian sering kali komorbid dengan gangguan Aksis I. Gangguan
kepribadian dapat berfungsi sebagai konteks bagi gangguan Aksis I, membentuknya dengan
berbagai cara yang berbeda.
Gangguan kepribadian digolongkan menjadi tiga kelompok dalam DSM-IV-TR:
1. Kelompok A (odd/eccentric cluster)
Terdiri dari gangguan kepribadian paranoid, schizoid, dan schizotypal.
Individu dalam kelompok ini menampilkan perilaku yang aneh dan eksentrik.
2. Kelompok B (dramatic/erratic cluster)
Terdiri dari gangguan kepribadian antisosial, borderline, histrionic, dan
narcissistic. Individu dalam kelompok ini menampilkan perilaku yang dramatik atau
berlebih-lebihan, emosional dan eratik (tidak menentu atau aneh).
3. Kelompok C (anxious/fearful cluster)
Terdiri dari gangguan kepribadian avoidant, dependent, dan obsessivecompulsive. Individu dalam kelompok ini menampilkan perilaku cemas dan
ketakutan.

1. Kelompok A (odd/eccentric cluster)


Terdiri dari gangguan kepribadian paranoid, schizoid, dan schizotypal. Individu
dalam kelompok ini menampilkan perilaku yang aneh dan eksentrik.
1. Gangguan kepribadian Paranoid
Gangguan kepribadian Paranoid adalah perasaan curiga yang memiliki kecenderungan
untuk menginterpretasi perilaku orang lain sebagai hal yang mengancam atau merendahkan.
Gangguan kepribadian paranoid hanya ditandai dengan kecurigaan pada motif seseorang
namun belum sampai pada tahap delusi.
Ciri-ciri individu yang mengalami gangguan ini biasanya: 1. Selalu mencurigai orang
lain, individu tersebut akan merasa bahwa dirinya dimanfaatkan dan dieksploitasi oleh orang

lain. Lirikan atau senyuman dapat dinilai sebagai hal yang negatif., 2. Sensitif terhadap
kritikan, 3. Bersikap tertutup, individu tersebut tidak akan menceritakan hal pribadi pada
orang lain karena selalu mempertanyakan kesetiaan dan selalu berpikir orang lain akan
menggunakan hal itu sebagai cara untuk melukai atau menyakitinya walau tidak ada bukti
yang membenarkan pikirannya., 4. Bersikap sangat berhati-hati (hypervigilant), 5. Cenderung
argumentatif.
Hasanat (2004) mengemukakan bahwa gangguan kepribadian paranoid ditandai
dengan adanya perasaan curiga yang berlebihan pada orang lain. Mereka menolak tanggung
jawab atas perasaan mereka sendiri dan melemparkan tanggung jawab pada orang lain.
Mereka seringkali bersikap bermusuhan, mudah tersinggung dan marah termasuk pasangan
yang cemburu secara patologis. Mereka seringkali bertanya tanpa pertimbangan, tentang
loyalitas dan kejujuran teman atau teman kerjanya. Atau cemburu dengan bertanya-tanya
tanpa pertimbangan tentang kesetiaan pasangan atau mitra seksualnya. Gangguan ini lebih
sering terdapat pada laki-laki dibandingkan wanita. Berdasarkan suatu penelitian
menunjukkan bahwa paranoid personality disorder banyak terdapat pada pasien dengan
skizofrenia dan gangguan delusi.
Tritment yang dapat diberikan untuk individu yang mengalami gangguan kepribadian
paranoid, yaitu (Hasanat, 2004):
a. Psikoterapi.
Pasien paranoid tidak bekerja baik dalam psikoterapi kelompok, karena itu ahli terapi
harus berhadapan langsung dalam menghadapi pasien, dan harus diingat bahwa kejujuran
merupakan hal yang sangat penting bagi pasien. Ahli terapi yang terlalu banyak
menggunakan interpretasi mengenai perasaan ketergantungan yang dalam, masalah seksual
dan keinginan untuk keintiman dapat meningkatkan ketidakpercayaan pasien.
b. Farmakoterapi.
Farmakoterapi berguna dalam menghadapi agitasi dan kecemasan. Pada sebagian
besar kasus, obat antiansietas seperti diazepam (valium) dapat digunakan. Atau mungkin
perlu untuk menggunakan anti psikotik, seperti thioridazine (mellaril) atau haloperidol
(haldol), dalam dosis kecil dan dalam periode singkat untuk menangani agitasi parah atau
pikiran yang sangat delusional. Obat anti psikotik pimozide (orap) bisa digunakan untuk
menurunkan gagasan paranoid.

2. Skizoid
Sebuah gangguan yang ditandai dengan berkurang minat individu dalam hubungan
sosial, afek yang datar, dan penarikan diri dari lingkungan sosial. Orang dengan gangguan
kepribadian skizoid ditandai dengan tidak adanya keinginan dan tidak menikmati hubungan
sosial, mereka tidak memiliki teman dekat. Orang dengan gangguan ini tampak tidak menarik
karena tidak memiliki kehangatan terhadap orang lain dan cenderung untuk menjauhkan diri.
Jarang sekali memiliki emosi yang kuat, tidak tertarik pada seks dan aktivitas-aktivitas yang
menyenangkan. Riwayat kehidupan orang tersebut mencerminkan minat sendirian dan pada
keberhasilan pekerjaan yang tidak kompetitif dan sepi yang sukar ditoleransi oleh orang lain.
Kehidupan seksual mereka mungkin hanya semata-mata dalam fantasi, dan mereka mungkin
menunda kematangan seksualitas tanpa batas waktu tertentu. Mampu menanamkan sejumlah
besar energi afektif dalam minat yang bukan manusia, seperti matematika dan astronomi, dan
mereka mungkin sangat tertarik pada binatang. Walaupun terlihat mengucilkan diri, tapi pada
suatu waktu ada kemungkinan orang tersebut mampu menyusun, mengembangkan dan
memberikan suatu gagasan yang asli dan kreatif.
Tritment yang dapat diberikan yaitu (Kaplan & Saddock, 251):
a. Psikoterapi. Dalam lingkungan terapi kelompok, pasien gangguan kepribadian skizoid
mungkin diam untuk jangka waktu yang lama, namun suatu waktu mereka akan ikut terlibat.
Pasien harus dilindungi dari serangan agresif anggota kelompok lain mengingat
kecenderungan mereka akan ketenangan. Dengan berjalannya waktu, anggota kelompok
menjadi penting bagi pasien skizoid dan dapat memberikan kontak sosial.
b. Farmakoterapi. Dengan antipsikotik dosis kecil, antidepresan dan psikostimulan dapat
digunakan dan efektif pada beberapa pasien.

3. Skizotipal
Orang dengan gangguan skizotipal adalah sangat aneh dan asing walaupun bagi orang
awam karena mereka memiliki gagasan yang aneh, pikiran magis, gagasan menyangkut diri
sendiri, waham dan derealisasi yang merupakan bagian dari dunia orang skizotipal setiap
harinya. Dunia mereka terisi oleh hubungan khayalan yang jelas dan ketakutan dan fantasi
yang mirip anak-anak. Ada kecenderungan bahwa mereka percaya jika mereka memiliki
kekuatan pikiran yang khusus. Mereka mungkin mengakui bahwa mereka memiliki ilusi
perseptual atau mikropsia atau orang terlihat oleh mereka sebagai kayu atau jadi-jadian.
Pembicaraan dengan orang yang mengalami gangguan kepribadian skizotipal mungkin aneh
atau janggal dan hanya memiliki arti bagi diri mereka sendiri. Menurut David & Neale

(dalam Hasanat, 2004) orang tua dengan skizofrenia mempunyai resiko tinggi untuk memiliki
anak dengan gangguan kepribadian skizotipal. Pada penemuan lain juga menunjukkan bahwa
orang tua dengan gangguan jiwa lain juga mempunyai resiko yang sama untuk memiliki anak
dengan gangguan kepribadian skizotipal.
Tritment yang dapat diberikan yaitu :
a. Psikoterapi.
Pikiran yang aneh dan ganjil pada pasien gangguan kepribadian skizotipal harus
ditangani dengan berhati-hati. Beberapa pasien terlibat dalam pemujaan, praktek religius
yang aneh dan okultis. Ahli terapi tidak boleh menertawakan aktivitas tersebut atau mengadili
kepercayaan atau aktivitas mereka.
b. Farmakoterapi.
Medikasi antipsikotik mungkin berguna dalam menghadapi gagasan mengenai diri
sendiri, waham dan gejala lain dari gangguan dan dapat digunakan bersama-sama psikoterapi.
Penggunaan holoperidol dilaporkan memberikan hasil positif pada beberapa kasus, dan
antidepresan digunakan jika ditemukan suatu komponen depresif dari kepribadian.

B. Kelompok B (dramatic/erratic cluster)


Terdiri dari gangguan kepribadian antisosial, borderline, histrionic, dan narcissistic.
Individu dalam kelompok ini menampilkan perilaku yang dramatik atau berlebih-lebihan,
emosional dan eratik (tidak menentu atau aneh).

1. Borderline Personality Disorder (BPD)


Definisi
Borderline personality disorder (BPD) merupakan suatu gangguan kepribadian
dengan ciri utama berupa impulsivitas dan ketidakstabilan dalam hubungan dengan orang lain
dan dalam suasana hati mereka.

Ciri-ciri / Jenis
Ciri-ciri individu dengan BPD ialah argumentatif, mudah tersinggung, sarkastik dan
cepat menyerang. Perilaku mereka impulsif, dan mencakup berjudi, boros, aktivitas seksual
yang tidak pantas, penyalahgunaan zat dan makan berlebihan. Berdasarkan DSM-IV-TR,
individu dengan BPD memiliki lima atau lebih dari criteria di bawah ini: (1). Berupaya keras
mencegah agar tidak diabaikan, (2). Ketidakstabilan dan intensitas ekstrem dalam hubungan
interpersonal, (3). Rasa diri yang tidak stabil, (4). Perilaku impulsif, (5). Perilaku bunuh diri

dan memutilasi diri yang berulang, (6). Kelabilan emosional yang ekstrem, (7). Perasaan
kosong yang kronis, (8). Sangat sulit mengendalikan kemarahan, dan (9). Pikiran paranoid
dan simtom-simtom disosiatif yang dipicu oleh stress.
BPD biasanya bermula di masa remaja atau dewasa awal, dan lebih banyak terjadi
pada perempuan dibanding pada laki-laki. Individu dengan BPD umumnya mengalami
gangguan Axis I, yaitu gangguan mood. BPD berkomorbiditas dengan penyalahgunaan zat,
PTSD, dan gangguan makan serta gangguan kepribadian dalam kelompok aneh/ eksentrik.

Penyebab
1. Faktor Biologis
BPD dialami oleh lebih dari satu anggota dalam satu keluarga. Hal tersebut
menunjukkan gangguan ini dapat memiliki komponen genetik. Selain itu, pasien BPD juga
memiliki neurotisisme tinggi, suatu sifat yang diturunkan secara genetik. Hal lain lagi ialah
adanya kelemahan fungsi lobus frontalis, yang sering diduga berperan dalam perilaku
impulsif. Pasien BPD juga mengalami peningkatan aktivasi amigdala yang mengatur emosi.
Peningkatan tersebut sangat relevan dengan emosi intens dari pasien BPD. Penelitianpenelitian biologis di atas menguatkan sudut pandang mengenai keterkaitan antara fakor
biologis dengan perilaku impulsif pada pasien BPD.
2. Teori Objek-Hubungan / Object Relations Theory
Hipotesis utama dari para teoris ini ialah orang bereaksi terhadap dunia melalui
perspektif orang-orang penting di masa lalu mereka, terutama orang tua atau pengasuh utama.
Kadang perspektif tersebut bertentangan dengan harapan dan minat orang yang bersangkutan.
Kernbeg

berpendapat

bahwa

pengalaman

masa

kanak-kanak

yang

tidak

menyenangkan menyebabkan anak-anak mengembangkan ego yang tidak merasa aman,


sebuah ciri utama BPD. Orang dengan BPD tetap mampu menguji realitas dan tetap dapat
memiliki hubungan dengan realitas tersebut. Hanya saja, orang dengan BPD sering
melakukan defence mechanism berupa pembelahan, yaitu mendikotomikan objek menjadi
sepenuhnya baik atau buruk, dan tidak mampu memadukan aspek positif dan negatif pada
orang lain maupun diri sendiri menjadi satu keutuhan. Dengan kata lain, mereka cenderung
memandang segala sesuatu secara hitam putih, sehingga menjadi sulit untuk mengendalikan
emosi.

2. Gangguan Kepribadian Histrionik


Definisi
Gangguan kepribadian histrionik adalah gangguan kepribadian dimana individu
terlalu dramatis dan mencari perhatian.

Ciri-ciri
Individu dengan gangguan kepribadian histrionik ialah sering kali menggunakan ciriciri penampilan fisik untuk menarik perhatian orang lain. Mereka berpusat pada diri sendiri,
terlalu mempedulikan daya tarik fisik mereka dan merasa tidak nyaman bila tidak menjadi
pusat perhatian.
Terdapat lima atau lebih kriteria gangguan kepribadian histrionik dari ciri-ciri
dibawah ini: (1). Kebutuhan besar untuk menjadi pusat perhatian, (2). Perilaku tidak senonoh
secara seksual yang tidak pantas, (3). Perubahan ekspresi emosi secara cepat, (4).
Memanfaatkan penampilan fisik untuk menarik perhatian orang lain pada dirinya, (5).
Bicaranya sangat tidak tepat, penuh semangat mempertahankan pendapat yang kurang
memiliki detail, (6). Sangat mudah disugesti, dan (7). Menyalahartikan hubungan sebagai
lebih intim dari yang sebenarnya.

Gangguan kepribadian histrionik terjadi lebih banyak pada perempuan dibanding lakilaki dan pada kalangan orang yang mengalami perpisahan atau perceraian dengan
pasangannya dan dihubungkan dengan depresi serta kesehatan fisik yang buruk. Gangguan
kepribadian histrionik berkomorbiditas dengan BPD.

Penyebab
Teori psikoanalisis berpendapat bahwa emosionalitas dan perilaku tidak senonoh
secara seksual didorong oleh ketidaksenonohan orang tua, terutama ayah terhadap anak
perempuannya. Pasien histrionik diduga dibesarkan dalam lingkungan keluarga dimana orang
tua berbicara tentang seks sebagai sesuatu yang kotor namun berperilaku seolah seks adalah
hal yang menyenangkan dan diinginkan. Pola asuh tersebut kontras karena fokus pikiran pada
seks namun dikombinasi dengan ketakutan untuk benar-benar berperilaku secara seksual.
Oleh karena itu, ekspresi emosi berlebihan mereka dipandang sebagai simtom konflik
tersembunyi tersebut, dan kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian dipandang sebagai cara
untuk mempertahankan diri dari harga diri yang rendah.

3. Gangguan Kepribadian Narsistik


Definisi
Gangguan kepribadian narsistik adalah suatu gangguan kepribadian dimana individu
memiliki pandangan berlebihan mengenai keunikan dan kemampuan mereka, serta terfokus
dengan berbagai fantasi keberhasilan besar.

Ciri-ciri
Individu dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki 5 atau lebih kriteria yang terdapat
dibawah ini: (1). Pandangan yang dibesar-besarkan mengenai pentingnya diri sendiri,
arogansi, (2). Terfokus pada keberhasilan, kecerdasan dan kecantikan diri, (3). Kebutuhan
ekstrem untuk dipuja, (4). Perasaan kuat bahwa mereka berhak mendapatkan segala sesuatu,
(5). Kecenderungan memanfaatkan orang lain, dan (6). Iri pada orang lain.

Gangguan kepribadian narsistik paling sering dialami bersama dengan BPD.

Penyebab
Berdasarkan sudut pandang psikoanalisis modern, orang yang mengalami gangguan
kepribadian narsistik dari luar tampak memiliki perasaan luar biasa akan pentingnya diri
mereka namun itu hanyalah topeng bagi harga dirinya yang sangat rapuh.
Sementara menurut Kohut, pada dasarnya self/ diri muncul di awal kehidupan
manusia dalam struktur bipolar, yaitu di satu kutub adanya grandiose yang tidak matang,
namun di kutub lain ada idealisasi berlebihan terhadap orang lain yang bersifat tergantung.
Kegagalan untuk mengembangkan harga diri yang sehat terjadi bila orang tua tidak merespon
dengan baik kompetensi yang ditunjukkan anak berdasarkan makna diri anak itu sendiri, dan
justru dihargai untuk membangun harga diri orang tua. Pada akhirnya anak merasa diabaikan
dan sulit mengembangkan harga diri yang terinternalisasi dan sehat serta sulit menerima
kekurangan diri mereka sendiri. Narsistik berkembang dalam diri mereka, berjuang untuk
melambungkan rasa diri mereka dengan mengejar cinta dan penghargaan dari orang lain
tanpa henti.

4. Gangguan kepribadian antisosial dan psikopat


Definisi
Gangguan kepribadian antisosial ialah gangguan kepribadian dengan kriteria
diagnostic DSM-IV-TR yang terdiri dari dua komponen utama, yaitu (1) pola tidak
menghiraukan hak orang lain sejak usia 15 tahun, dan (2) adanya conduct disorder sebelum
usia 15 tahun.

Ciri-ciri (Antisosial)
Selain dua komponen utama dari ciri gangguan kepribadian antisosial, individu
dengan gangguan tersebut juga memiliki sekurang-kurangnya tiga karakteristik antara satu
hingga tujuh ditambah delapan hingga sepuluh pada daftar kriteria dibawah ini: (1)
Berulangkali melanggar hukum, (2). Menipu, berbohong, (3). Impulsivitas, (4). Mudah
tersinggung dan agresif, (5). Tidak mempedulikan keselamatan diri sendiri dan orang lain,
(6). Tidak bertanggungjawab seperti terlihat dalam riwayat pekerjaan yang tidak reliabel atau
tidak memenuhi tanggung jawab keuangan, (7). Kurang memiliki rasa penyesalan, (8).
Berusia minimal 18 tahun, (9). Terdapat bukti mengenai gangguan tingkah laku sebelum usia
15 tahun, dan (10). Perilaku antisosial yang tidak terjadi secara eksklusif dalam episode
skizofrenia atau mania.

Gangguan kepribadian antisosial berkomorbiditas dengan penyalahgunaan zat.

Ciri-ciri (Psikopat)
Cleckley berpendapat bahwa kriteria psikopati

tidak merujuk pada perilaku

antisosial, tetapi lebih kepada pikiran dan perasaan individu psikopatik. Salah satu ciri
utamanya ialah kemiskinan emosi, baik emosi positif maupun negatif. Mereka tidak memiliki
rasa malu, cenderung berpura-pura, berpenampilan menawan, memanipulasi orang lain untuk
keuntungan pribadi, kadar kecemasan rendah sehingga tidak mungkin belajar dari kesalahan,
serta perilaku antisosial pada psikopat dilakukan secara impulsif, yang memberikan
kesenangan baginya.

Penyebab
1. Peran keluarga
Kurangnya afeksi dan penolakan berat oleh orang tua merupakan penyebab utama
perilaku psikopatik. Selain itu, beberapa studi lain menghubungkan perilaku psikopatik

10

dengan ketidakkonsistenan orang tua dalam mendisiplinkan anak-anak mereka dan dalam
mengajarkan tanggungjawab terhadap orang lain, penyiksaan fisik dan kehilangan orang tua.
2. Korelasi genetika gangguan kepribadian antisosial
Penelitian menghubungkan antara lingkungan buruk dalam keluarga adopsi (seperti
masalah perkawinan dan penyalahgunaan zat) dengan gangguan kepribadian antisosial,
terlepas dari apakah orang tua tersebut mengalami gangguan kepribadian antisosial atau
tidak.
3. Emosi dan psikopati
Orang dengan permasalahan psikopati tidak mampu untuk mengambil hikmah dari
pengalaman dan bahkan dari hukuman. Dalam penjelasan teori belajar, orang-orang tersebut
tidak responsif terhadap hukuman. Kadar kecemasan mereka rendah. Psikopat sangat ahli
mengabaikan stimuli tertentu, bahkan memfokuskan perhatian pada hal-hal yang menarik
bagi mereka.
4. Modulasi respons, impulsivitas dan psikopati
Ciri utama psikopati adalah impulsivitas dan didukung dengan berbagai studi yang
menunjukkan bahwa mereka memiliki performa yang lemah dalam tes-tes neuropsikologis
terhadap fungsi frontalis dan berkurangnya bagian abu-abu di lobus frontalis. Lobus frontalis
tersebut diduga berperan penting dalam menghambat impulsivitas.

C. Kelompok C (Anxious/Fearful Cluster)


Kelompok ini terdiri dari tiga gangguan kepribadian, yaitu:
1. Avoidant personality disorder, yaitu gangguan pada individu yang memiliki ketakutan
dalam situasi sosial.
2. Dependent personality disorder, yaitu gangguan pada individu yang kurang percaya
diri dan sangat bergantung pada orang lain.
3. Obsessive-compulsive personality disorder, yaitu gangguan pada individu yang
mempunyai gaya hidup yang perfeksionis.

1. Gangguan kepribadian menghindar (Avoidant Personality Disorder)


Individu ini sangat ketakutan akan ditolak dan dikritik sehingga mereka pada
umumnya tidak ingin memasuki hubungan tanpa adanya kepastian akan penerimaan. Sebagai
hasilnya, mereka hanya memiliki sedikit teman dekat di luar keluarga inti. Mereka juga
cenderung menghindari pekerjaan kelompok atau aktivitas rekreasi karena takut akan
penolakan. Mereka lebih suka makan sendiri di meja mereka. Mereka menghindar dari

11

kegiatan piknik atau pesta perusahaan, kecuali bila mereka merasa sangat yakin akan
diterima.
Tidak semua orang dengan karakteristik skizoid, yang juga memiliki ciri menarik diri
secara sosial, individu dengan gangguan kepribadian menghindar memiliki minat dan
perasaan akan kehangatan pada orang lain. Meskipun demikian, ketakutan akan penolakan
menghalangi mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka akan efeksi dan penerimaan. Dalam
situasi sosial, mereka cenderung merapat pada dinding dan menghindari percakapan dengan
orang lain. Mereka takut dipermalukan di depan publik, berpikiran bahwa orang lain akan
melihat mereka merona, menangis, atau bertindak gugup. Mereka cenderung terikat dengan
rutinitas meraka dan melebih-lebihkan resiko atau usaha dalam mencoba hal-hal baru.
Mereka menolak datang ke pesta yang harus menempuh perjalanan selama satu jam dengan
alasan bahwa bila pulang ke rumah larut malam akan sangat melelahkan.
Berdasarkan DSM-IV-TR, terdapat minimal empat dari kriteria avoidant personality
disorder sebagai berikut: (1). Menghindari kontak interpersonal karena takut kritikan dan
penolakan, (2). Enggan untuk terlibat dengan orang lain kecuali mereka merasa yakin akan
disukai atau diterima, (3). Membatasi diri dalam hubungan yang intim karena takut
dipermalukan atau diperolok, (4). Penuh dengan kekuatiran terhadap kritikan atau penolakan,
(5). Perasaan tidak mampu, (6). Perasaan inferior (rendah diri), dan (7). Keengganan yang
ekstrem untuk mencoba hal-hal baru karena takut dipermalukan.
Prevalensi dari gangguan ini sekitar 5 persen dan sering muncul bersamaan dengan
gangguan kepribadian dependen dan borderline. Avoidant personality disorder juga sering
bercampur dengan diagnosis Aksis I yaitu depresi dan generalized social phobia. Gangguan
ini memiliki gejala yang serupa dengan generalized social phobia, tetapi gangguan ini
sebenarnya merupakan jenis generalized social phobia yang lebih kronik.
Avoidant personality disorder dan social phobia berhubungan dengan gejala yang
muncul di Jepang, yang disebut dengan taijin kyoufu. Taijin berarti interpersonal dan
kyoufu berarti takut. Seperti pada avoidant personality disorder dan social phobia, individu
yang mengalami taijin kyoufu sangat sensitif dan menghindari kontak interpersonal. Namun,
hal yang ditakuti berbeda dengan hal-hal yang umumnya ditakuti pada diagnosis DSM.
Individu dengan taijin kyoufu cenderung cemas atau malu tentang bagaimana mereka
mempengaruhi atau tampak di depan orang lain, misalnya takut bahwa mereka tampak jelek
atau bau.

12

2. Gangguan Kepribadian Dependen (Dependent Personality Disorder)


Gangguan kepribadian ini menggambarkan orang yang memiliki kebutuhan yang
berlebihan untuk diasuh oleh orang lain. Hal ini membuat mereka menjadi sangat patuh dan
melekat dalam hubungan mereka serta sangat takut akan perpisahan. Orang dengan gangguan
ini merasa sangat sulit melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan dari orang lain.
Mereka mencari saran dalam membuat keputusan yang paling kecil sekalipun. Anak-anak
atau remaja dengan masalah ini mencari orangtua mereka untuk memilihkan pakaian,
makanan, sekolah atau kampus, bahkan teman-teman mereka. Orang dewasa dengan
gangguan ini membiarkan orang lain menggambil keputusan penting untuk mereka. Kadang
mereka begitu dependen pada orang lain dalam membuat keputusan sampai mereka
membiarkan orangtua mereka menentukan dengan siapa mereka akan menikah. Setelah
menikah, orang dengan gangguan kepribadian dependen akan bergantung pada pasangannya
untuk membuat keputusan seperti dimana mereka akan tinggal, tetangga mana yang bisa
dijadikan teman, bagaimana mereka harus mendisiplinkan anak, pekerjaan seperti apa yang
mereka yang harus ambil, bagaimana mereka membuat anggaran rumah tangga, dan kemana
sebaiknya mereka berlibur. Seperti Matthew, individu dengan gangguan kepribadian
dependen menghindari posisi bertanggung jawab. Mereka menolak tantangan dan promosi
serta bekerja di bawah potensi mereka. Mereka cenderung sangat sensitif terhadap kritikan
serta terpaku pada rasa takut akan penolakan dan pencampakan. Mereka dapat merasa hancur
karena berakhirnya suatu hubungan dekat atau karena adanya kemungkinan untuk menjalani
hidup sendiri. Karena takut akan penolakan, mereka sering menomorduakan keinginan dan
kebutuhan mereka demi orang lain. Mereka setuju akan pernyataan yang aneh tentang diri
mereka sendiri dan melakukan hal-hal yang merendahkan diri untuk menyenangkan orang
lain.
Meskipun gangguan kepribadian dependen lebih sering didiagnosis pada perempuan
(APA, 2000; Bornstein, 1997), tidaklah jelas akan adanya perbedaan mendasar dalam
prevalensi gangguan antara laki-laki dan perempuan (Corbitt & Widiger, 1995). Diagnosis
sering kali dikenakan pada perempuan karena takut dicampakkan, menoleransi suami mereka
yang terang-terangan berselingkuh, menganiaya mereka, atau menggunakan keuangan
keluarga mereka untuk berjudi. Perasaan tidak adekuat dan putus asa yang mendasar
melumpuhkan mereka untuk mengambil langkah-langkah efektif. Dalam suatu lingkaran
setan, kepasifan mereka mendorong penganiayaan lebih lanjut, membuat mereka semakin
merasa tidak adekuat dan putus asa. Diagnosis yang diberikan pada perempuan dengan pola
ini dianggap kontroversial dan tampak tidak adil seolah menyalahkan korban, karena

13

perempuan dalam masyarakat kita sering disosialisasikan untuk berperan dependen. Panel
yang digelar oleh American Psychological Association mencatat bahwa perempuan juga
menghadapi stres yang lebih besar daripada laki-laki dalam kehidupan kontemporer
(Goleman, 1990b). Terlebih, karena perempuan umumnya menghadapi tekanan sosial yang
lebih besar untuk menjadi pasif, lembut, atau penuh penghormatan daripada laki-laki,
perilaku dependen pada perempuan dapat merefleksikan pengaruh budaya dan bukan
gangguan kepribadian.
Gangguan kepribadian dependen telah dikaitkan dengan gangguan psikologis lain,
termasuk depresi mayor, gangguan bipolar, dan fobia sosial, serta dengan masalah-masalah
fisik, seperti hipertensi, kanker, dan gangguan gastrointestinal seperti ulcer dan kolitis
(Bornstein, 1999; Loranger, 1996; Reich, 1996). Tampak pula adanya kaitan antara
kepribadian dependen dengan apa yang disebut oleh para teoritikus psikodinamika sebagai
masalah perilaku oral, seperti merokok, gangguan makan, dan alkoholisme (Bornstein,
1993, 1999). Penulis psikodinamika menelusuri perilaku dependen sampai pada
ketergantungan total dari bayi yang baru lahir dan pencarian makanan oleh bayi melalui
sarana oral (menghisap). Dari masa bayi, mereka menyatakan, orang menghubungkan
ketersediaan makanan dengan cinta. Makanan dapat menjadi simbol cinta, dan orang dengan
kepribadian dependen dapat makan berlebihan untuk menelan cinta secara simbolis.
Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan kepribadian dependen lebih bergantung pada
orang lain untuk mendapatkaan dukungan dan bimbingan daripada kebanyakan orang
(Greenberg

&

Bornstein,

1998a).

Orang

dengan

kepribadian

dependen

sering

mengatribusikan masalah mereka pada penyebab fisik dan bukan emosional serta mencari
dukungan dan saran dari ahli-ahli medis dan bukan psikolog atau konselor (Greenberg &
Bornstein, 1998b).
Berdasarkan DSM-IV-TR, minimal terdapat lima dari kriteria gangguan kepribadian
dependen berikut: (1). Kesulitan dalam mengambil keputusan tanpa nasihat dan dukungan
yang berlebihan dari orang lain, (2). Membutuhkan orang lain untuk memikul tanggung
jawab dalam hidupnya, (3). Kesulitan dalam mengatakan atau melakukan penolakan terhadap
orang lain karena takut kehilangan dukungan dari orang lain, (4). Kesulitan dalam melakukan
atau mengerjakan sesuatu sendiri karena kurang percaya diri, (5). Melakukan hal-hal yang
tidak menyenangkan baginya sebagai cara untuk memperoleh penerimaan dan dukungan dari
orang lain, (6). Perasaan tidak berdaya ketika sendiri karena kurang percaya pada
kemampuan diri dalam menyelesaikan sesuatu tanpa bantuan orang lain, (7). Segera mencari

14

hubungan baru ketika hubungan yang sedang terjalin telah berakhir, dan (8). Sangat
ketakutan untuk mengurus atau menjaga diri sendiri.
Prevalensi dari gangguan ini adalah sekitar 1,5 persen, lebih banyak ditemukan di
India dan Jepang. Hal itu kemungkinan dikarenakan lingkungan di kedua negara tersebut
yang memicu perilaku dependen. Gangguan kepribadian ini muncul lebih banyak pada wanita
daripada pria, kemungkinan karena perbedaan pengalaman sosialisasi pada masa kanakkanak antara wanita dan pria. Gangguan kepribadian dependen sering kali muncul bersamaan
dengan gangguan kepribadian borderline, skizoid, histrionik, skizotipal, dan avoidant, sama
seperti diagnosis Aksis I gangguan bipolar, depresi, gangguan kecemasan, dan bulimia.

3.

Gangguan

kepribadian

Obsesif-Kompulsif

(Obsessive-Compulsive Personality

Disorder)
Ciri yang menggambarkan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif meliputi derajat
yang

berlebihan,

kesempurnaan,

kelakuan,

kesulitan

melakukan

coping

dengan

ketidakpastian, kesulitan mengekspresikan perasaan, dan mendetail dalam kebiasaan kerja.


Sekitar 1% dari sampel komunitas didiagnosis dengan gangguan ini (APA, 2000). Gangguan
ini dua kali lebih umum ditemui pada laki-laki daripada perempuan. Tidak seperti gangguan
kecemasan obsesif-kompulsif, orang dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif tidak
harus mengalami obsesi atau kompulsif secara sekaligus. Jika mereka demikian kedua
diagnosis mungkin dirasa lebih tepat.
Orang dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif sangat terpaku pada
kebutuhan akan kesempurnaan sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan segala sesuatu
tepat waktu. Apa yang mereka lakukan pasti gagal memenuhi harapan mereka. Atau mereka
dapat merenungkan bagaimana menyusun prioritas tugas-tugas mereka dan tidak pernah
tampak mulai bekerja. Mereka berfokus pada detail yang orang lain anggap sebagai hal yang
kurang penting. Seperti kata pepatah, mereka sering kali gagal melihat hutan karena adanya
pepohonan. Kelakuan mereka mengganggu hubungan sosial mereka; mereka memaksa
melakukan hal-hal sesuai dengan cara mereka sendiri daripada berkompromi. Antusiasme
yang besar akan pekerjaan menjauhkan mereka dari partisipasi dalam, atau menikmati,
aktivitas sosial dan waktu senggang. Mereka cenderung perhitungan dengan uang. Mereka
merasa sulit untuk membuat keputusan dan menunda atau menghindarinya karena takut
membuat keputusan yang salah. Mereka cenderung terlalu kaku dalam masalah moralitas dan
etika karena kekakuan dalam kepribadian dan bukan karena memegang teguh keyakinan.
Mereka cenderung sangat formal dalam hubungan dan merasa sulit mengekspresikan

15

perasaan. Sulit bagi mereka untuk bersantai dan menikmati aktivitas yang menyenangkan;
mereka khawatir akan biaya dan aktivitas senggang tersebut.
Berdasarkan DSM-IV-TR, terdapat minimal empat dari kriteria obsessive-compulsive
personality disorder berikut: (1). Sangat perhatian terhadap aturan dan detail secara
berlebihan sehingga poin penting dari aktivitas hilang, (2). Perfeksionisme yang ekstrem pada
tingkat di mana pekerjaan jarang terselesaikan, (3). Ketaatan yang berlebihan terhadap
pekerjaan sehingga mengesampingkan waktu senggang dan persahabatan, (4). Kekakuan
dalam hal moral, (5). Kesulitan dalam membuang barang-barang yang tidak berguna, (6).
Tidak ingin mendelegasikan pekerjaan kecuali orang lain mengacu pada satu standar yang
sama dengannya, (7). Kikir atau pelit, dan (8). Kaku dan keras kepala.
Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif agak berbeda dengan gangguan obsesif
kompulsif. Pada gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, tidak terdapat obsesi dan kompulsi
seperti pada gangguan obsesif-kompulsif. Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif paling
sering muncul bersamaan dengan gangguan kepribadian avoidant dan memiliki prevalensi
sekitar dua persen.

Etiologi Kelompok C
Tidak banyak data yang menjelaskan penyebab dari gangguan kepribadian kelompok
anxoius/fearful. Salah satu penyebab yang memungkinkan adalah hubungan antara orang tua
dan anak. Sebagai contoh, gangguan kepribadian dependen disebabkan oleh pola asuh yang
overprotektif dan authoritarian, sehingga menghambat berkembangnya self-efficacy.
Gangguan kepribadian dependen juga dapat disebabkan oleh masalah attachment.
Pada masa kanak-kanak, anak mengembangkan attachment terhadap orang dewasa dan
menggunakan orang dewasa tersebut sebagai dasar yang aman untuk mengeksplorasi dan
mengejar tujuan lain. Perpisahan dari orang dewasa dapat menimbulkan kemarahan dan
distress. Seiring dengan proses perkembangan, anak tersebut kemudian menjadi tidak terlalu
dependen pada figur attachment. Pada attachment yang tidak normal, perilaku yang dapat
dilihat pada individu yang mengalami gangguan kepribadian dependen merefleksikan
kegagalan dalam proses perkembangan yang biasanya, yang muncul dari gangguan pada
hubungan awal antara orang tua dan anak yang disebabkan oleh kematian, pengabaian,
penolakan, atau pengasuhan yang overprotektif.
Individu yang mengalami gangguan ini menggunakan berbagai cara untuk menjaga
hubungan dengan orang tua atau orang lain, misalnya dengan selalu menuruti mereka.
Sedangkan

gangguan

kepribadian

avoidant

kemungkinan

merefleksikan

pengaruh

16

lingkungan, di mana anak diajarkan untuk takut pada orang dan situasi yang pada umumnya
dianggap tidak berbahaya. Misalnya ayah atau ibu memiliki ketakutan yang sama, yang
kemudian diturunkan pada anak melalui modeling. Kenyataan bahwa gangguan ini terjadi di
keluarga, dapat mengindikasikan adanya peran faktor genetik.
Freud berpendapat bahwa gangguan kepribadian obsesif kompulsif disebabkan oleh
fiksasi pada tahap awal dari perkembangan psikoseksual. Sedangkan teori psikodinamik
kontemporer menjelaskan bahwa gangguan kepribadian obsesif-kompulsif disebabkan oleh
ketakutan akan hilangnya kontrol yang diatasi dengan overkompensasi. Sebagai contoh,
seorang pria workaholic yang kompulsif kemungkinan takut bahwa hidupnya akan hancur
jika mereka bersantai-santai dan bersenang-senang.

Terapi Gangguan Kepribadian


Pasien gangguan kepribadian yang juga komorbiditas dengan gangguan aksis 1
membutuhkan terapi yang lebih intensif karena gangguan kepribadian terjadi dalam waktu
yang lama dan lebih ekstensif yaitu difokuskan pada banyak masalah psikologis serta
menggunakan obat psikoaktif yang disesuaikan dengan masalah aksis 1 berkaitan dengan
gangguan kepribadian yang dialaminya.
Terapi psikodinamika bertujuan untuk mengubah pandangan pasien terhadap masalah
yang dialami waktu masa kanak-kanak yang diasumsikan sebagai dasar dari gangguan
perilaku. Contoh : pengalaman klien di waktu kecil dalam mendapatkan kasih sayang dari
orang tua dengan cara harus menjadi seseorang yang sempurna, tidak perlu dibawa sampai
dewasa. Klien dapat mengambil resiko melakukan kesalahan tanpa merasa takut akan
diabaikan oleh orang lain. Tujuan dari terapi ini agar klien berani mengambil resiko dan
membuat kesalahan tanpa dirinya akan diabaikan oleh orang yang menyayanginya.
Terapi behavioral berfokus pada analisa masalah individu berkaitan dengan situasi
yang membentuk gangguan kepribadian tersebut. Terapi kognitif berfokus terhadap kesalahan
logika dan skemata disfungsional yang dialami oleh individu tersebut.
Sebagai contoh, individu yang didiagnosa memiliki kepribadian paranoid atau
avoidant sangat sensitif terhadap kritik. Sensitivitas tersebut dapat dikurangi dengan
behavioral rehearsal (social skills training), systematic desentizitation, atau rational-emotive
behavior therapy. Kepribadian paranoid bersifat argumentatif dan agresi ketika menyatakan
ketidaksetujuan atau penolakan terhadap orang lain. Dalam hal ini, terapis behavior dapat
membantu individu paranoid belajar untuk mengutarakan ketidaksetujuan dalam cara yang
lebih baik. Bagi mereka dengan kepribadian avoidant, pelatihan keterampilan sosial (social-

17

skills training) yang dilakukan dalam suatu kelompok dapat membantu mereka untuk lebih
asertif terhadap orang lain.
Pada terapi kognitif, gangguan kepribadian dianalisa memiliki hubungan dengan
logical errors dan dysfunctional schemata. Misalnya, pada individu yang mengalami
gangguan kepribadian obsesif-kompulsif, pertama-tama dibantu untuk menerima konsep
bahwa perasaan dan tingkah laku merupakan fungsi pikiran. Kesalahan logika/berpikir
(errors in logic) kemudian dieksplorasi, misalnya saat individu menyimpulkan bahwa ia tidak
mampu melakukan semua hal dengan benar hanya karena kegagalan dalam satu hal saja
(melakukan overgeneralisasi). Terapis juga mencari asumsi atau skema disfungsional yang
mungkin mendasari pikiran dan perasaan individu tersebut, misalnya keyakinan individu
bahwa setiap keputusan harus selalu benar.

Terapi Kepribadian Ambang


Penanganan terhadap pasien ambang dapat menimbulkan stres terhadap terapis
sehingga terapis juga membutuhkan dukungan dari terapi lainnya untuk mendapatkan
bantuan professional untuk dirinya sendiri. Terapis dalam memberikan terapi dan konsultasi
berkelanjutan dapat mengalami kontra transferensi (perasaan-perasaan yang dialami oleh
terapis) menurut pendekatan psikoanalisa.
Pasien ambang mengalami kesulitan yang luar biasa untuk dapat membangun dan
mempertahankan kepercayaan sehingga hal ini dapat menghambat hubungan terapeutik.
Sikap pasien ambang terhadap terapis dapat berubah-ubah, mulai dari mengidealkan sampai
merendahkan terapis. Resiko serius dari pasien ambang adalah bunuh diri, terapis mengalami
kesulitan untuk membedakan antara ini hal serius yang membutuhkan pertolongan atau hanya
sekedar manipulatif yang dilakukan untuk mengetahui perhatian yang diberikan oleh terapis
kepadanya. Bila pasien ambang memiliki resiko seperti ini, maka rawat inap di rumah sakit
lebih disarankan agar mendapatkan pengawasan yang lebih ketat. Pemberian obat kepada
pasien ambang juga harus diperhatikan agar tidak disalahgunakan oleh pasien tersebut yang
rentan untuk melakukan bunuh diri. Obat-obatan yang umum digunakan dalam farmakoterapi
adalah antidepresan dan antipsikotik.
Dua macam terapi yang digunakan sebagai berikut: (1). Psikoterapi Objek Hubungan
(Object Relation Pscyhotherapy, dan (2). Terapi Perilaku Dialektikal (Dialectical Behavior
Therapy-DBT).

18

1. Psikoterapi Objek Hubungan (Object Relation Pscyhotherapy),


Terapi ini berfokus pada cara anak-anak mengidentifikasi diri dengan orang lain yang
memiliki kelekatan emosi kuat dengan mereka. Asumsi dasar dari pandangan teori objek
hubungan Otto Kernberg adalah orang-orang yang berkepribadian ambang memiliki ego yang
lemah sehingga sangat sulit menoleransi pertanyaan mendalam yang diajukan dalam
penanganan psikoanalisis.
Tujuan dari terapi untuk menguatkan ego pasien yang lemah sehingga pasien tidak
menjadi korban pertahanan dirinya dalam bentuk pembelahan (splitting), atau pendikotomian.
Pembelahan dianggap sebagai akibat ketidakmampuan untuk membentuk berbagai pemikiran
kompleks (representasi objek) yang tidak cocok dengan dikotomi baik buruk yang sederhana.
Contoh : Pasien dapat menganggap terapis seperti dewa yang dapat dikecewakan dan dibuat
marah tapi seketika juga menganggap terapis seperti setan dan tidak kompeten saat terapis
mengatakan pasien tersebut terlambat membayar biaya terapi. Teknik yang digunakan pada
dasarnya interpretatif, yaitu terapis menunjukkan bagaimana pasien membiarkan emosi dan
perilakunya dikendalikan oleh pertahanan diri misalnya pembelahan (splitting).
Pendekatan ini juga menginterpretasikan perilaku defensif, dan pasien juga diberi
saran konkret untuk bertingkah laku adaptif dan dirawat di rumah sakit jika perilakunya
membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
2. Terapi Perilaku Dialektikal (Dialectical Behavior Therapy-DBT)
Marsha Linehan (1987), mengombinasikan empati dan penerimaan yang terpusat pada
klien dengan penyelesaian masalah kognitif behavioral dan pelatihan keterampilan sosial
(social skills training). Tujuan dari terapi ini adalah (1). Mengajari mereka untuk mengubah
dan mengendalikan emosionalitas dan perilaku ekstrem mereka, (2). Mengajari mereka untuk
menoleransi perasaan tertekan, (3). Membantu mereka mempercayai pikiran dan emosi
mereka sendiri.
Istilah dialektik menggambarkan sikap yang berlawanan, yaitu di mana terapis
harus menerima pasien tersebut apa adanya sekaligus membantunya untuk berubah. Pasien
juga tidak perlu membagi dunia secara dikotomi, tetapi dapat mencapai suatu sintetsis dari
dua hal yang tampak bertentangan. Salah satu tujuan DBT adalah mengajari pasien untuk
memandang dunia secara dialektik, suatu pemahaman bahwa hidup terus berubah dan suatu
hal tidak semuanya buruk atau semuanya baik.
DBT berpusat pada penerimaan sepenuhnya terhadap orang-orang berkepribadian ini
dengan segala kontradiksi dan kepura-puraan mereka. Penanganan dari aspek kognitifbehavioral, baik yang dilakukan secara individual atau kelompok, adalah membantu pasien

19

belajar menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih efektif dan lebih diterima secara sosial
dalam mengatasi masalah dan mengendalikan emosi serta meningkatkan kemampuan
interpersonal, dan mengendalikan amarah dan kecemasan pasien.

Dari gangguan ke gaya kepribadian : sebuah komentar mengenai tujuan.


Millon (1996), cara pendekatan yang umum dan adaptif adalah lebih realistis dengan
mengubah gangguan menjadi gaya kepribadian karena karakteristik yang menjadi ciri
gangguan kepribadian terlalu kuat untuk dapat diubah seluruhnya.
Gangguan kepribadian menghindar menjadi gaya kepribadian menghindar: hati-hati,
tidak banyak bergaul, sensistif terhadap apa yang dipikirkan orang lain, merasa nyaman
dengan rutinitas yang tidak asing, dekat dengan keluarga dan memiliki beberapan teman,
namun tidak suka beramai-ramai.
Gangguan kepribadian dependen menjadi gaya kepribadian dependen: sopan,
menyenangkan, dan penuh perhatian, menghargai otoritas dan pendapat orang lain, memiliki
komitmen kuat dengan teman-teman dan pasangan, tidak menyukai kesendirian dan lebih
menyukai kerja kelompok dengan posisi sebagai anggota.
Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif menjadi gaya kepribadian obsesif
kompulsif: penuh ketelitian, hati-hati, teratur, berprinsip secara moral, bangga melakukan
pekerjaan dengan benar, dan dengan hati-hati, teratur, berprinsip secara moral, bangga
melakukan pekerjaan dengan benar, dan dengan hati-hati mempertimbangkan berbagai
alternatif sebelum mengambil keputusan.

Terapi untuk psikopati (psychopathy)


Karakteristik seorang psikopat adalah semena-mena dan tanpa penjelasan, hal ini
menyebabkan para ahli mengatakan tidak ada gunanya mengubah karakteristik tersebut
karena pasien psikopat melakukan manipulatif untuk mendapatkan keuntungan dari terapis.
Salah satu alasan pasien psikopat mengalami kesulitan menjalani psikoterapi karena mereka
tidak mampu dan tidak termotivasi untuk membangun segala bentuk hubungan saling percaya
dan jujur dengan terapis.
Tiga prinsip utama menurut pengalaman dari ahli klinis yang menangani psikopat
adalah (1). Terapis harus selalu waspada berkaitan dengan manipulasi yang mungkin
dilakukan pasien, (2). Terapis harus berasumsi, hingga terbukti tidak benar, bahwa informasi
yang diberikan mengandung distorsi dan direkayasa, (3). Terapis harus memahami bahwa

20

kerja sama terjalin, jika ada, dengan amat sangat lambat dalam setiap hubungan terapeutik
dengan seorang psikopat.
Psikoterapi psikoanalitik sangat membantu hubungan interpersonal menjadi lebih
baik, dapat meningkatkan kemampuan untuk merasa menyesal dan empati, mengurangi
kebiasaan berbohong, terbebas dari hukuman percobaan, dan dapat mempertahankan
pekerjaan. Teknik kognitif-behavioral juga dapat memberikan efek terapeutik positif.
Semakin muda individu tersebut maka semakin baik efek yang dihasilkan dari terapi.
Penanganan harus cukup intensif agar efektif yaitu empat kali seminggu selama minimal satu
tahun.
Banyak psikopat yang dipenjara karena melakukan tindak kriminal. Namun sistem
yang diterapkan di penjara lebih berfungsi sebagai sekolah kriminal daripada tempat
rehabilitasi. Psikopat dapat menjadi kurang berbahaya di usia 40 tahun. Hal tersebut
kemungkinan disebabkan oleh perubahan biologis, insight terhadap self-defeating
(mengalahkan diri sendiri), atau merasa lelah dan tidak dapat melanjutkan hidup yang penuh
dengan tipuan, bahkan kekerasan.