Anda di halaman 1dari 51

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kehadiran varietas udang vannamei tidak hanya menambah pilihan bagi
petambak, tetapi juga menopang kebangkitan usaha pertambakan udang di
Indonesia. Komoditas Udang pernah menjadi primadona perikanan budidaya,
tetapi sekarang keadaan tersebut sulit dipertahankan. Bahkan, keadaan tersebut
bertambah parah dengan adanya krisis multidimensi, gangguan lingkungan, dan
ancaman penyakit (Haliman, R.W dan Adijaya, D.S, 2005).
Pada tahun 1999, beberapa petambak di Indonesia mulai mencoba
membudidayakan udang vannamei. Produksi yang dicapai saat itu sungguh luar
biasa. Apalagi, produksi udang windu yang saat itu sedang berkembang,
mengalami penurunan karena serangan penyakit, terutama bercak putih (white
spot syndrome virus) (Haliman, R.W dan Adijaya D.S, 2005).
Kehadiran

udang

vannamei

diakui

sebagai

penyelamat

dunia

pertambakan udang di Indonesia. Petambak mulai bergairah kembali, begitu juga


dengan para pelaku pembenihan udang. Para pelaku mulai membenihkan udang
vannamei untuk memenuhi kebutuhan petambak (Haliman, R.W dan Adijaya
D.S, 2005).
Berdasarkan permasalahan di atas penulis melakukan Praktek Kerja
Lapang II di daerah Situbondo karena di daerah ini banyak terdapat usaha
budidaya udang vannamei.

1.2 Maksud dan Tujuan


1.2.1. Maksud
Maksud dari pelaksanan Praktek Kerja Lapang II tentang pemeliharaan
larva udang vannamei (Litopenaeus vannamei) di BBAP Situbondo adalah:
1.

Mempelajari teknik pemeliharaan larva udang vannamei (Litopenaeus


vannamei) di BBAP Situbondo Jawa Timur.

2.

Mengidentifikasi permasalahan yang muncul dalam pemeliharaan


larva udang vannamei (Litopenaeus vannamei) di BBAP Situbondo
Jawa Timur.

1.2.2. Tujuan
Tujuan Praktek Kerja Lapang (PKL) II adalah untuk memperoleh
pengetahuan dan keterampilan teknik pemeliharaan larva udang vannamei
(Litopenaeus vannamei).

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biologi Udang Vannamei


2.1.1 Morfologi
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) tubuh udang vannamei
dibentuk oleh dua cabang (biramous), yaitu exopodite dan endopodite. Vannamei
memiliki tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar atau eksoskeleton
secara periodik (moulting). Bagian tubuh udang vannamei sudah mengalami
modifikasi sehingga dapat digunakan untuk keperluan sebagai berikut.
1.

Makan, bergerak, dan membenamkan diri ke dalam lumpur (burrowing).

2. Menopang insang karena struktur insang udang mirip bulu unggas.


3.

Organ sensor, seperti pada antena dan antenula.

a. Kepala (thorax)
Kepala udang vannamei terdiri dari antenula, antena, mandibula, dan dua
pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan tiga pasang
maxillipied dan lima pasang kaki berjalan (periopoda) atau kaki sepuluh
(decapoda). Maxillipied sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai
organ untuk makan. Endopodite kaki berjalan menempel pada chepalothorax
yang dihubugka oleh coxa. Bentuk periopoda beruas-ruas yang berujung di
bagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit (kaki ke-1, ke-2, dan ke-3)
dan tanpa capit (kaki ke-4 dan ke-5). Di antara coxa dan dactylus, terdapat ruang
berturut-turut disebut basis, ischium, merus, carpus, dan cropus. Pada bagian
ischium terdapat duri yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi beberapa
spesies penaeid dalam taksonomi.

2. Perut (abdomen)
Abdomen terdiri dari 6 ruas. Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang
kaki renang dan sepasang uropods (mirip ekor) yang membentuk kipas
(Haliman, R.W dan Adijaya, D.S, 2005). Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dari
gambar 1 berikut ini :

Gambar 1. Morfologi udang vannamei (Haliman, R.W dan Adijaya, D.S 2005)

2.1.2 Klasifikasi
Menurut Haliman, R.W

dan

Adijaya, D.S (2005) klasifikasi udang

vannamei (Litopenaeus vannamei) adalah sebagai berikut :


Kingdom

: Animalia

Sub kingdom

: Metazoa

Filum

: Artrhopoda

Sub filum

: Crustacea

Kelas

: Malascostraca

Sub kelas

: Eumalacostraca

Super ordo

: Eucarida

Ordo

: Decapoda

Sub ordo

: Dendrobrachiata

Infra ordo

: Penaeidea

Super famili

: Penaeioidea

Famili

: Penaeidae

Genus

: Litopenaeus

Spesies

: Litopenaeus vannamei

2.1.3 Siklus Hidup


Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) udang vannamei bersifat
noktural, yaitu melakukan aktifitas pada malam hari. Proses perkawinan ditandai
dengan loncatan betina secara tiba-tiba. Pada saat loncatan tersebut, betina
mengeluarkan sel-sel telur. Pada saat besamaan, udang jantan mengeluarkan
sperma sehingga sel telur dan sperma bertemu.

Proses perkawinan

berlangsung sekitar 1 menit. Sepasang udang vannamei dapat menghasilkan


100.000-250.000 butir telur yang menghasilkan telur yang berukuran 0,22 mm.
Siklus udang vannamei meliputi stadia naupli, stadia zoea, stadia mysis,
dan stadia postlarva.

2.1.4

Perkembangan Stadia larva Udang Vannamei


Stadia larva dalam budidaya udang vannamei adalah sebagai berikut :

a)Stadia Naupli
Udang masih belum memiliki sistem pencernaan sempurna dan masih
memiliki cadangan makanan berupa kuning telur sehingga udang masih belum
membutuhkan makanan dari luar. Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005)
pada stadia ini, larva berukuran 0,32 - 0,58 mm. Sistem pencernaannya belum
sempurna dan masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur sehingga
pada stadia ini larva udang vannamei belum membutuhkan makanan dari luar.

Menurut Elovaara, A.K (2001) fase naupli dimulai dari pengeraman


sampai hari ke-2 yaitu N1 sampai N2.
b)Stadia Zoea
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) stadia selanjutnya adalah
stadia zoea, stadia ini terjadi setelah naupli ditebar di bak pemeliharaan sekitar
15-24 jam. Larva sudah berukuran 1,05 - 3,30 mm. Pada stadia ini, benih udang
mengalami moulting sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea 2, zoea 3. Lama
waktu proses pengantian kulit sebelum memasuki stadia berikutnya (mysis)
sekitar 4 - 5 hari. Pada stadia ini udang dapat diberi pakan alami berupa artemia.
Menurut Elovaara, A.K (2001) fase zoea dimulai dari hari ke-2 sampai
hari ke-4 yaitu Z1, Z2, Z3.
c)Stadia Mysis
Menurut Haliman RW dan Adijaya D (2005) pada stadia ini, benih sudah
menyerupai bentuk udang yang dicirikan dengan sudah terlihat ekor kipas
(uropoda) dan ekor (telson). Benih pada stadia ini sudah mampu menyantap
pakan fitoplankton dan zooplankton. Ukuran larva sudah berkisar 3,50 - 4,80
mm. Stadia ini memiliki 3 substadia, yaitu mysis 1, mysis 2, mysis 3 yang
berlangsung selama 3 - 4 hari sebelum masuk pada stadia post larva.
Menurut Elovaara, A.K (2001) fase mysis dimulai dari hari ke-5 sampai
hari ke-10 yaitu M1, M2, M3.
d)Stadia Post larva
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) pada stadia ini benih
udang sudah tampak seperti udang dewasa dan sudah mulai bergerak lurus ke
depan.
Sedangkan menurut Elovaara, A.K (2001) fase post larva dimulai dari hari
ke-11 sampai hari ke-21 yaitu PL1 sampai M2.
Fase larva udang vannamei dapat dilihat dari gambar 2 berikut :

Gambar 2. Fase larva udang vannamei (Elovaara, A.K, 2001)

2.1.5 Tingkah Laku Makan


Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005), udang merupakan
golongan hewan omnivora atau pemakan segala. Beberapa sumber pakan
udang antara lain udang kecil (rebon), fitoplankton, cocepoda, polyhaeta, larva
kerang, dan lumut.
Udang vannamei mencari dan mengidentifikasi pakan menggunakan
sinyal kimiawi berupa getaran dengan bantuan organ sensor yang terdiri dari
bulu-bulu halus (setae) yang terpusat pada ujung anterior antenula, bagian
mulut, capit, antena, dan maxillipied.
Untuk mendekati sumber pakan, udang akan berenang menggunakan
kaki jalan yang memiliki capit. Pakan langsung dicapit menggunakan kaki jalan,
kemudian dimasukkan ke dalam mulut. Selanjutnya, pakan yang berukuran kecil
masuk ke dalam kerongkongan dan oesophagus. Bila pakan yang dikonsumsi
berukuran lebih besar, akan dicerna secara kimiawi terlebih dahulu oleh
maxillipied di dalam mulut.
2.1.6 Sifat Udang Vannamei

Dalam usaha pemeliharaan larva

udang vannamei, perlu adanya

pengetahuan tentang sifat udang vannamei, menurut Haliman, R.W dan


Adijayam D.S (2005), beberapa tingkah laku udang vannamei yang perlu kita
ketahui antara lain :
a. Aktif pada kondisi gelap (sifat noktunal)
b. Dapat hidup pada kisaran salinitas lebar (euryhaline)
c. Suka memangsa sesama jenis (sifat kanibal)
d. Tipe pemakan lambat, tapi terus-menerus (continuo feeder)
e. Menyukai hidup di dasar (bentik)
f.

Mencari makanan lewat organ sensor (chemoreceptor)

2.2 Sarana Pokok dan Penunjang Hatchery


2.2.1 Sarana Pokok
2.2.1.1 Bak pemeliharaan larva
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) bak pemliharaan adalah bak unuk
pemliharan larva. Untuk membangunnya perlu diperhatikan bentuk dan
ukurannya.
a. Bentuk
Larva udang tidak memerlukan bentuk bak yang spesifik.

Bak dapat

berbentuk segi empat, bulat, atau oval. Yang penting sesuai dengan biaya yang
tersedia dan agar bentuk pekarangan tetap indah
Bak larva sudut-sudutnya tidak mati, agar sisa-sisa metabolisme, sisasisa makanan, larva yang mati, dan kotoran lainnya tidak terkumpul pada bagian
ini.

Dasar bak memiliki kemiringan 2% kearah pembuangan,agar mudah

dikeringkan dan dibersikan. Sedang dinding harus licin, agar kotoran, jamur atau
parasit tidak menempel serta mudah dibersihkan.
b. Ukuran
Baik bak yang berukuran besar maupun yang kecil keduanya sama
baiknya. Karena keduanya dapat digunakan untuk menghasilkan postlarva (PL)
jual. Namun, dari kedua ukuran itu ada keuntungan dan kerugiannya. Bak besa
akan menciptakan kondisi air media yang stabil seperti suhu dan salinitasnya,
tetapi sering mendapat serangan penyakit.
Dengan demikian ukuran yang ideal adalah yang kapasitasnya 10-20 ton;
tingginya 1,2-1,5 m; panjang dan lebarnya masing-masing 4 m dan 2,5 m.
2.2.1.2 Bak kultur pakan alami
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) bak kultur pakan alami dapat
dibuat dari kayu yang dilapisi plastik atau semen. Ukuran bak yang baik 10%
dari ukuran kapasitas bak pemeliharaan, yaitu panjangnya 2 m; lebar 2 m; tinggi
0,6 m. Bak sebesar itu sudah cukup untuk memenuhi satu siklus pemeliharaan
pada bak pemeliharaan yang berkapasitas 10 ton.
2.2.1.3 Instalasi Sistem Aerasi
Oksigen terlarut (DO) merupakan faktor pembatas bagi sebagian besar
organisme aquatik, menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) bahwa oksigen yang
terlarut saling berkaitan dengan parameter-parameter kualitas air lainya, oleh
karena itu kandungan okigen harus stabil. Untuk menjaga kestabilan oksigen
terlarut di air media, maka perlu alat yang menyuplai oksigen. Kalau hanya
mengandalkan difusi dan fotosintesis Skletonema costotum akan kurang

mencukupi. Alat yang biasa di digunakan adaah blower yang dilengkapi dengan
slang, batu aerasi, dan kran pengatur udara.
2.2.1.4 Tenaga Listrik
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) tanpa energi listrik, kegiatan
operasional tidak dapat berjalan sesui rencana. Energi listrik digunakan sebagai
penggerak blower, pompa celup, dan penerangan karenanya tenaga listrik
disalur selama 24 jam. Sumber energi listrik diperoleh dari mesin genset atau
PLN. Namun yang baik didatangkan dari PLN bila ditinjau dari tegangannya
maupun kebersihannya. Jika digunakan genset akan muncul asap sisa
pembakaran dan tumpahan solar yang akan mengganggu kehidupan larva.
2.4.1.5 Sarana Pengadaan Air Laut
1. Pompa air
Pompa air digunakan untuk pengambilan air baik untuk pengambilan air
laut maupun untuk mengalirkan air dari bak penampungan air laut ke bak
pengendapan, kemudian dari bak pengendapan ke ruang Ozonisasi yang
kemudian dialirkan ke tandon, dan yang terakhir dari tandon ke bak
pemeliharaan.
2. Bak penampungan air laut
Bak penampungan ini terdiri dari berbagai bak yang menggunakan sistem
gravitasi. Bak yang digunakan diantaranya adalah bak batu, dan bak ijuk, arang,
pasir.
3. Bak Pengendapan
Bak ini digunakan untuk mengendapakan partikel yang lolos dari proses
filter pressure.

4. Tandon
Bak yang digunakan untuk menampung air setelah dilakukan beberapa
threatment, dimana air tersebut dipakai untuk persediaan. Tandon yang ada
terdiri dari 2 tandon, hal tersebut dikarenakan agar pergantian air dapat
berlangsung setiap hari, karena untuk mengisi penuh 1 tandon dibutuhkan waktu
1 hari.
5. Bak penampungan 1
Air dari hasil budidaya dialirkan ke bak penampungan ini dan selanjutnya
diproses oleh protein skimmer.
6. Bak penampungan 2
Bak penampungan ini digunakan untuk menampung air yang telah
diproses (BBAP Situbondo, 2006).

2.3.2

Sarana Penunjang
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) yang merupakan sarana

penunjang yaitu saringan, termometer, salinometer, pompa celup, ember, wadah


penetasan Artemia sp.
2.4

Pemeliharaan Larva Udang Vannamei


Pada pembenihan udang, pemeliharaan larva merupakan aspek terpenting

dalam pengoperasian sebuah hatchery. Kegiatan pemeliharaan larva dimulai dari


stadium nauplius hingga mencapai stadium post larva (PL) yang dikenal sebagai
benih udang atau benur yang sudah menyerupai udang dewasa. Termasuk
didalamnya kegiatan-kegiatan seperti persiapan bak pemeliharaan, penebaran
nauplius,

penyediaan

dan

pemberian

pakan,

pengelolaan

kualitas

pengendalian penyakit dan proses pemanenan (Heryadi D dan Sutadi 1993).

air,

2.4.1

Persiapan Bak
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) persiapan bak meliputi :

a. Sanitsi Bak
Bak pemeliharaan yang akan digunakan harus disucihamakan sehingga
bebas dari penyakit. Caranya, bak dikeringkan (dijemur), kemudian dasar dan
dinding bak disikat. Agar lebih steril gunakan zat-zat kimia seperti klorin dengan
dosis 100 ppm, KMnO4 (kalium permanganat) 10 ppm, dan formalin 50 ppm.

b. Perlakuan air media


Air media, umumnya dibeli pada penjual khusus yang menyediakan jasa
penyaluran air laut. Air laut yang dibutuhkan adalah air yang berkadar garam 2931 permil, dan bebas bahan pencemar.

1) Sterilisasi tahap I
Sebelum dipakai, air laut diberi perlakuan dengan menggunakan zat-zat
kimia agar bebas dari bakteri, protozoa, jamur, dan mikroorganisme lainnya.
Setelah air laut ditampung dalam bak ditambahkan kaporit 30 ppm (30 g/m3 air).
Setelah itu tambahkan natrium tiosulfat sebanyak 10-12,5 ppm, kemudian
biarkan proses tersebut berlangsung selama 24 jam sambil tetap diaerasi.
Apabila air laut sudah netral kembali, tambahkan EDTA sebanyak 10 ppm
(10g/m3), dibiarkan selama 24 jam sambil diaerasi. Langkah berikutnya
menyimpan endapan sampai air jernih dan steril. Cara lain yang dapat ditempuh
yaitu dengan memindahkan air yang sudah jernih tersebut ke bak lain dengan
menggunakan pompa celup.

2) Sterilisasi tahap II
Sterilasasi air laut tahap kedua dilakukan pada saat air sudah dalam
kondisi jernih dan dilakukan 2-3 hari sebelum larva ditebar. Pada tahap ini masih
digunakan EDTA sebanyak 8 ppm yang dimasukan ke air media. Setelah itu
ditambah antibiotic, misalnya Erytromycyn sebanyak 1 ppm (1g/m3). Antibiotik
berfungsi untuk menghilangkan bakteri dan protozoa, sedangkan untuk
menghilangkan jamur dapat

ditambahkan Trefflan sebanyak 0,1 ppm

(0,1ml/m3). Dengan demikian zat kimia tersebut diberikan dalam waktu yang
sama dengan urutan, EDTA, antibiotik, dan trefflan.

c. Perlakuan terhadap organisme


Walaupun bak dan air media sudah bebas panyakit, justru organisme
yang ditebar yang membawa penyakit. Karenanya, organisme yang akan
dipelihara sebaiknya diberi perlakuan dahulu sebelum ditebar.
Apabila usahanya dimuai dari telur, maka telur diberi perlakuan dengan
meggunakan bahan kimia di antaranya Methelen Blue 1 ppm selama 10 menit
atau KMNO4 dengan dosis 3 ppm selama 30 menit. Jika usahanya mulai dari
nauplius, maka perlu direndam dengan larutan Trefflan 0,1-0,2 ppm agar
nauplius bebas jamur.

d. Memeriksa Aerasi
Sehari sebelum penebaran, aerasi perlu di cek apakah penyebaran
gelembung dari batu aerasi sudah rata. Untuk mengetahuinya, hidupkan blower
lalu kran udara dibuka. Bila gelembung udara yang dihasikan sama rata berarti
aerasinya baik. Aerasi ini juga meningkatkan kandungan oksigen sehingga gasgas beracun akan menguap keluar.

1.4.2

Penyediaan Telur
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) cara untuk mendapatkan telur

udang penaeid :
a. Menyewa Induk
Menyewa induk udang di Jawa Timur sudah lazim dilakukan oleh para
pembenih. Harga sewa induk sepasang sekitar Rp 25.000,00. Sistem ini cukup
menguntungkan pihak penyewa dan yang menyewa.
Bagi

penyewa

dengan

mengeluarkan

biaya

sewa

masih

biasa

memperoleh keuntungan, karena sekali berelur bias sebanyak 600.000-700.000


butir/induk. Daya tetas telur (hatching rate) ditingkat pembenihan antara 70-80%
b. Membeli Telur
Membeli telur udang memang menjanjikan keuntungannya dari pada
membeli nauplius karena harganya lebih murah. Namun resikonya juga lebih
besar, karena daya tetas telur dan kesehatan induknya belum diketahui.

1.4.3

Penebaran Nauplius
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993) sebelum naupli ditebar ke dalam

bak perlu diperhatikan salinitas, kondisi naupli, dan suhu air media. Ciri naupli
yang sehat, gerakannya sangat aktif terutama jika kena sinar. Dan bila terjadi
perbedaan suhu dan salinitas, maka dilakukan proses penyesuaian yang dikenal
dengan proses aklimatisasi.
Aklimatisasi salinitas dilakukan dengan cara, air media yang di dalam bak
dialirkan ke dalam baskom yang berisi naupli dengan menggunakan dengan
menggunakan slang plastik yang berdiameter kecil, sehingga aliran airnya hanya
sebesar benag jahit.
Untuk penurunan kadar garam sebesar 1 permil diperlukan waktu antara
15-30 menit. Apabila salinitas antara air media pada bak pemeliharaan sudah

sama dengan air media pada baskom naupli, maka proses akilmatisasi salinitas
dianggap selesai.
Setelah aklimatisasi selesai naupli ditebarkan ke dalam bak pemeliharaan
dengan menjungkirkan baskom yang berisi naupli perlahan-lahan. Padat tebar
nauplii yang aman berkisar 100-150 ekor/L.

2.4.4 Penyediaan Pakan


Jenis pakan yang diberikan pada larva udang vannamei selama proses
pemeliharaan yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yang biasa
diberian pada larva uadang vannamei yaitu Skeletonema costatum dan Artemia
sp. Pakan alami ini sangat dibutuhkan pada stadium akhir napulius (N-6) atau
awal stadium zoea. Sedangkan pakan buatan mulai diperlukan ketika larva
memasuki stadium zoea.

Pakan buatan ini ada yang dijual dalam bentuk

kalengan maupun bungkusan.


Dosis pakan yang diberikan pada larva tidak dihitung berdasarkan jumlah
populasi larva, tetapi diukur dengan satuan ppm, sebab larva membutuhkan
pakan yang tersedia setiap saat. Yang dimaksud dengan ppm adalah gram/ton
volume air media yang jika pakan berbentuk tepung, sedangkan yang

cair

ml/ton. Dosis terebut hanya untuk pakan buatan, sedangkan untuk dosis pakan
alami yaitu sel/cc/hari atau individu /ekor larva/hari.
Pemberian pakan dilakukan setiap 4-6 kali/hari dengan selang waktu 4-5
jam. Larva suka makan pada malam hari maka pemberian pakan pada malam
hari lebih baik dari pada siang hari, yaitu pukul 05.00, 10.00, 15.00, 20.00 dan
pukul 24.00.
Pemberian pakan dilakukan dengan cara dimasukkan kedalam saringan
yang kemudian dimaukkan ke dalam ember yang berisi air tawar. Setelah itu
saringn diremas-remas sampai pakan yang ada dalam saringan habis, kemudian

ditambahkan pakan alami. Pakan yang berada dalam ember yang berisi air tadi
langsung ditebar ke dalam bak pemeliharan (Heryadi D dan Sutadi, 1993)

2.4.5 Pengelolaan Kualitas Air


Menurut

Elovaara,

A.K

(2001)

temperatur

air

untuk

optimalkan

pertumbuhan dan transisi dari satu larva ke larva berikutnya adalah 28 0C,
sedangkan salinitas adalah 26-30 dan pH sekitar 8,0, namun pH 7,8 sampai 8,4
sudah cukup.
Menurut Heryadi, D dan Sutadi (1993), dalam pengelolaan kualitas air
ada beberapa perlakuan agar air media tetap sesuai untuk pertumbuhan dan
kelangsungan hidup larva, diantaranya :
1. Penyimponan
Penyimponan dilakukan agar sisa-sisa pakan buatan maupun sisa-sisa
metabolisme larva dapat dikeluarkan sehingga tidak terjadi penumpukan dan
pembusukandalam air media.
Penyimponan dapat dilakukan setelah larva mencapai stadium mysis,
frekuensinya 2 hari sekali, waktunyasetelah 2 jam pemberian pakan. Cara
menyimpon adalah sebagai berikut :

Blower dimatikan,setelah itu slang yang akan digunakan utuk menyedot


air diisi air penuh dan dipasang saringan pada salah satu ujungnya.

Kemudian slang dimasukkan kedalam bak dan ujungnya yang dilepas


tutupnya sehingga air keluar dengan sendirinya.

2. Pengaturan cahaya
Untuk stadium naupli dan zoea, keduaya bersifat plangtonis yang aktif
berenang di permukaan air. Bagi kedua stadium ini diusahakan agar suasana

bak pemeliharaan gelap dengan cara menutup bak. Apabila larva sudah masuk
stadium post larva, bak pemeliharaan lebih sering dibuka dalam upaya
penyesuaian lingkungan.
Parameter kualitas air untuk budidaya udang vannamei dapat dilihat dari
Tabel 1, berikut :
Tabel 1. Parameter kualitas air untuk budidaya udang vannamei
Parameter Kualitas Air

Batasan yang dianjurkan

DO
Karbondioksida
pH
Salinitas
Clorda
Sodium
Total Hardness (as CaCO3)
Calcium Hardness (as CaCO3)
Magnesium Hardness (as CaCO3)
Total Alkalinitas (as CaCO3)
Uninoized Ammonia (NH3)
Nitrit (NO2)
Nirat( NO3)
Hidrogen Sulfida (H2S)
Klorin
Kadmium
Kromium
Kopper
Lead
Merkuri
Zinc
Suhu
Total Iron
Sumber : Elovaara, A.K (2001)

5,0 9,0
20 ppm
7,0 8,3
0,5 35 ppt
300 ppm
200 ppm
150 ppm
100 ppm
50 ppm
100 ppm
0,03 ppm
1 ppm
60 ppm
2 ppb
10 ppb
10 ppb
100 ppb
25 ppb
100 ppb
0,1ppb
100 ppb
28 32 0 C
1,0 ppm

Menurut Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008) selain pengukuran


parameter-parameter tersebut dilakukan pergantian dan penambahan air secara
sirkulasi dengan cara melihat air secara visual, bila dipermukaan air telah banyak
mengandung

gelembung-gelembung

busa

yang

telah

menumpuk

dan

gelembung tersebut tidak dapat pecah kembali ini diasumsikan air pada kondisi
jenuh dan telah terjadi banyak perombakan-perombakan gas di dalam air.

Pengisian air pada awal penebaran naupli adalah sekitar 30% dari kapasitas
wadah, saat stadia zoea ditambah sampai 70%, stadia mysis 80% dan stadia
post larva 100%.
Menurut Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008), Pergantian air dilakukan
setelah mencapai stadia mysis 3 sampai PL 5 berkisar 10-30% dan PL 5 sampai
dengan panen 30-50% dari volume wadah yang terisi.

2.4.6 Penerapan Bioscurity


Menurut Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008), tindakan pencegahan
penyakit dilakukan dengan penerapan biosecurity dengan menggunakan PK
(Kalium Permanganat) sebanyak 1,5 ppm yang ditempatkan pada awal pintu
masuk sebelum memasuki dan akan memasuki ruangan.

2.4.7 Pengendalian Penyakit


Menurut Ghufron M.H Kordik K (2006) penyakit adalah segala sesuatu
yang dapat menimbulkan gangguan pada fungsi atau struktur dari alat-alat tubuh
atau sebagian alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada
dasarnya penyakit yang menyerang udang datangnya melalui tiga faktor yaitu
kondisi

lingkungan

(kualtas

air),

kondisi

inang

(Udang)

dan

jasad

organisme/penyakit.
Udang vannamei juga bukan spesies yang tahan terhadap berbagai
macam penyakit, oleh karena itu perlu penerapan sitem budidaya terbaik agar
kualitas udang yang dihasilkan lebih baik. Sedangkan menurut Elovaara, A.K
(2001) penyakit yang menyerang udang vannamei yaitu infectious hypodemal
and hematopoietic necrosis virus (IHHNV), Reo-like virus (REO), and Taura
Syndrome virus (TSV ).

Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (2005), gejala klinis


penyakit udang yaitu : bercak putih oleh virus, kematangan cepat 2-3 hari,
berenang ke dekat pematang kemudian mati, kepala kuning oleh virus YHV,
kerusakan organ limfoid dan insang, serangan MBV mengakibatkan kerdil,
penyakit bercak putih dicirikan dengan bagian kepala berukuran kecil.

2.5

Pemanenan
Pemanenan benur dilakukan mulai pada stadia PL10 atau ukuran PL telah

mencapai 1 cm dan yang telah memenuhi kriteria-kriteria benur yang siap


dipanen. Caranya adalah membuka saluran pembuangan yang telah diberi
saringan di dalamnya agar air yang keluar tidak deras dan benur tidak ikut keluar.
Sebelum hal tersebut dilakukan terlebih dahulu mengurangi ketinggian air hingga
6-10 cm sehingga benur mudah ditangkap dengan menggunakan serok. Setelah
ketinggian air mencapai 5 cm hentikan penyerokan dan buka saringan, sehinga
sisa benur akan keluar bersama air tersebut.

Langkah berikutnya adaptasi

salinitas, penghitungan, dan pengemasan (Heryadi D dan Sutadi 1993).

2.6 Pengangkutan
Menurut Heryadi D dan Sutadi (1993) pengangkutan benur ummnya
dilakukan

dengan cara tertutup dan terbuka.

Pengangkutan cara tertutup

disenangi karena pengirimannya dapat dilakukan dengan menggunakan bus,


kereta api, pesawat udara, dan kendaraan lainnya. Cara ini membutuhkan es,
kantong pastik, tabung oksigen dan kardus Styrofoam.
Kunci keberhasilan dalam pengangkutan cara tertutup adalah suhu dan
kepadatan.

Dalam pengangkutan diusahakan agar suhu tetap rendah, oleh

karena itu setelah plastik diikat, maka bagian luarnya digantungkan plastik berisi
es. Untuk daerah tropis suhu yang dianggap aman adalah 18-20 0 C.

Kepadatan yang aman dalam pengankutan cara tertutup yaitu 4.0006.000 ekor /kantong.

Setiap kantong diisi dengan 4 liter air dengan

perbandingan oksigen dan air 5:1. Pengangkutan dengan cara ini akan aman jika
lama perjalanan maksimum 6 jam.

IV. KEADAAN UMUM

4.1. Tata Letak Lokasi


Instalasi Pembenihan Udang (IPU) Gelung dibangun pada lahan seluas
7,37 ha yang berjarak 100 m dari garis pantai dan berjarak 12 km dari pusat kota
Situbondo. Sehingga untuk mencapai ke lokasi dari kota Situbondo, digunakan
kendaraan darat dengan waktu tempuh 20 menit. Sedangkan dari BBAP
Situbondo (dari Desa Pecaron) diperlukan waktu lebih kurang 30 menit.
Lokasi IPU Gelung berada pada posisi 1040000 Bujur Timur dan
074235 Lintang Selatan. Lokasi ini juga sangat strategis karena kondisi
perairan yang berkarang dan berpasir serta angin, gelombang dan arusnya relatif
kecil. Perairan pantai Gelung juga relatif aman dari pencemaran limbah pabrik.

4.2. Sejarah dan Perkembangan IPU Gelung


Unit pembenihan udang yang terletak di desa Gelung ini dibangun pada
tahun 1986 yang diresmikan oleh Bapak Dirjen Perikanan Ir. Soeprapto pada
tanggal 9 Mei 1987. Unit Pembenihan Udang (UPU) merupakan proyek
pembenihan udang milik Direktorat Jenderal Perikanan yang berada dibawah
Departemen Pertanian yang dibiayai dari dana ADB (Asian Development Bank).
Proyek UPU Gelung ini adalah salah satu proyek pembenihan udang
yang direncanakan dibangun di Indonesia selain proyek pembenihan udang yang
ada di Siddo Barru Sulawesi Selatan (UPU Siddo Barru), Pandeglang Jawa Barat
(UPU Pandeglang), Aceh Banda Aceh (UPU Aceh), Tuban Jawa Timur (UPU
Tuban) dengan nama Proyek Pengembangan Budidaya Tambak (PPBT).
Setelah 3 tahun berjalan, tepatnya bulan April tahun 1990, Ditjen
Perikanan menjalin Kerja sama Operasional (KSO) dengan PT. Sarana

Adyaboga Agung Jakarta (PT. SABA) dengan komoditas udang windu (Penaeus
monodon) sampai tahun 2000.
Sejak tahun 2000-2006 ketika Ditjen Perikanan memisahkan diri dari
Departemen Pertanian dan menjadi Departemen Kelautan dan Perikanan maka
status UPU Gelung berada dibawah koordinasi langsung Direktorat Jenderal
Perikanan Budidaya - Departemen Kelautan dan Perikanan Jakarta. Pada bulan
Januari tahun 2007 untuk lebih memudahkan dalam menjalankan kegiatan
operasionalnya maka UPU Gelung secara administrasi dan manajemen dibawah
koordinasi Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Situbondo yang pada akhirnya
berubah nama menjadi Instalasi Pembenihan Udang (IPU) Gelung - BBAP
Situbondo.

Gambar 3. Instalasi Pembenihan Udang (IPU) Gelung (Data Primer, 2009)

Instalasi Pembenihan Udang Gelung tidak hanya melakukan kegiatan


pembenihan udang saja tetapi juga melakukan kegiatan pembesaran udang
vannamei di tambak untuk memproduksi udang konsumsi. Sejak tahun 2009 IPU
Gelung dilengkapi pula fasilitas Multiplication Broodstock Center (MBC) untuk
memproduksi calon induk udang vannamei.

4.3. Struktur Organisasi


Struktur kerja di IPU Gelung BBAP Situbondo adalah sebagai berikut:
KOORDINATOR

SEKSI
ADMINISTRASI/KEUANGAN

LABORATURIUM KESLING

MULTIPLICATION
BROODSTOCK CENTER
(MBC) UDANG VANNAMEI

PERGUDANGAN
SATUAN PENGAMANAN
TRANSPORTASI

SEKSI INDUK VANNAMEI

KEBERSIHAN

SEKSI LARVA
SEKSI POST LARVA

SEKSI BUDIDAYA TAMBAK

SEKSI ALGA

Gambar 4. Struktur Kerja Pada IPU Gelung


SEKSI KELISTRIKAN

SEKSI SARANA DAN AIR

Keterangan:
1. Koordinator

: Winarno, A.Pi

2. Laboratorium Kesling

: 1. Ribut Wijayaning Putri, S.Pi


2. Juliana P

3. Bag. Admin/Keuangan

: 1. Supardi
2. Hadi Sukoco

4. Broodstock Center

: 1. Ir. Dedi Mulyadi, MP


2. Wendy Tri P, S.Pi
3. Yusron Rahman

5. Bag. Induk

: 1. Drs. Susetyo Pramudjo

2. Imron
3. Sugianto
6. Bag. Larva dan PL

: 1. Edi Muhtar
2. Sujibno
3. Syamsul Bahri
4. Baihaqi
5. Mulyadi
6. H. Nawawi

7. Bag. Alga

: 1. Ir. Praptono
2. Wafiroh
3

8. Bag. Budidaya Tambak

Asmawi

: 1. Edi Majid Romadlon, A.Md


2. Sutoyo

9. Transportasi

: Surahman

10. Kebersihan

: Suyono

11. Bag. Pengamanan

: 1. Syamsul Huda
2. Syahwan

12. Bag. Admin.Gudang

: 1. Wafiroh
2. Wahyu Endah S

13. Bag. Listrik/Mesin

: Sumardjito

14. Bag. Saran Pompa Air

: 1. Ahmad Rifai
2. Talogo

4.4. Sarana dan Prasarana


a. Sarana Pokok
Sarana pokok di IPU Gelung meliputi : bak pemeliharaan larva, bak
kultur Chaetoceros sp, tong plastik (conical tank) untuk kultur artemia, instalasi
aerasi, tenaga listrik diperoleh atau bersumber dari PLN, dan sistim pengadaan
air laut.

b. Sarana Penunjang Lainnya


Sarana penunjang meliputi: saringan (saringan pakan, larva, dan air),
termometer, salinometer, pompa celup, ember, wadah penetasan Artemia sp,
seser, timbangan, selang, alat sipon, dan peralatan panen.
c. Prasarana
Prasarana yang terdapat pada IPU Gelung adalah: 3 bangunan
hatchery,

mess

karyawan,

kantor,

laboratorium

kesehatan

lingkungan,

laboratorium plankton, ruang tamu, gudang, pos penjagaan, 2 buah mobil yang
digunakan sebagai sarana transportasi dalam memasarkan benur, musholla, dan
akses jalan mudah dilewati.

III. METODOLOGI

3.1

Lokasi dan Waktu Praktek Kerja Lapang (PKL) II


Praktek Kerja Lapang (PKL) II ini dilaksanakan di Instalasi Pembenihan

Udang Gelung Balai Budidaya Air Payau Situbondo Desa Gelung Kecamatan
Panarukan Kabupaten Situbondo-Jawa Timur pada tanggal 19 Oktober sampai
dengan 8 November 2009.
Adapun jadwal kegiatan pada Praktek Kerja Lapang II ini dapat dilihat
pada lampiran 1.

3.2

Metode Praktek Kerja Lapang (PKL) II


Metode yang digunakan dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapang

(PKL) II adalah metode survey yaitu penyelidikan yang diadakan untuk


memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keteranganketerangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik
suatu kelompok ataupun suatu daerah (Nazir, 1988).

3.3

Sumber Data
Adapun sumber data yang dikumpulkan adalah data primer dan data

sekunder. Menurut Nazir (1988) data primer adalah sumber-sumber dasar yang
merupakan bukti atau saksi dari kejadian yang lalu. Sedangkan data sekunder
adalah catatan tentang adanya suatu peristiwa, ataupun catatan-catatan yang
jaraknya telah jauh dari sumber orisinal.

3.4

Teknik Pengumpulan Data


Menurut Nazir ( 1988), data yang diperoleh diambil dengan cara :

a. Observasi Langsung
Observasi langsung atau pengamatan langsung dilakukan dengan cara
mengambil data mengunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk
keperluan tersebut.
b. Wawancara / interveiw
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan
penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau
pewawancara dengan si penjawab atu responden dengan mengunakan alat yang
dinamakan interview guide ( paduan wawancara )
Alat lain untuk mengumpulkan data adalah daftar pertanyaan, yang sering
disebutkan secara umum dengan nama kuisioner. Pertanyaan pertanyaan
yang terdapat dalam kuisioner atau datar pertanyaan tersebut cukup terperinci
dan lengkap. Ini membedakan daftar pertanyaan dengan interview guide.
Adapun daftar pertanyaaan pada Praktek Kerja Lapang II ini dapat dilihat
pada lampiran 2.

3.5

Teknik Pengolahan Data dan Analisa Data

3.5.1 Teknik Pengolahan Data


Data teknis yang didapatkan dari kegiatan pengumpulan data selanjutnya
dikelompokkan menurut jenis dan ukurannya. Setelah itu dilakukan pengolahan
data dengan tahap sebagai berikut :
a. Editing
Yaitu memeriksa daftar pertanyaan yang telah diserahkan oleh para
pengumpul data. Tujuan dari pada editing adalah untuk mengurangi kesalahan

atau kekurangan yang ada di dalam daftar pertanyaan yang sudah diseleisakan
sampai sejauh mungkin (Narbuko, C dan Achmadi, D.S, 2004).
b. Tabulating
Yaitu pekerjaan menyusun tabel-tabel mulai dari penyusunan tabel utama
yang berisi seluruh data atau informasi yang berhasil dikumpulkan dengan daftar
pertanyaan sampai dengan tabel khusus yang telah benar-benar ditentukan
bentuk dan isinya sesuai dengan tujuan penelitian (Suparmoko, 1988).

3.5.2

Analisa Data
Adapun data yang akan dianalisis adalah data teknis. Data teknis yang

terkumpul akan dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hal ini sesuai dengan
pendapat Suparmoko (1995), bahwa metode penelitian deskriptif yaitu penelitian
yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang benar mengenai suatu
objek.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1. Pemeliharaan Larva
5.1.1. Persiapan Bak
Bak yang digunakan untuk pemeliharaan larva udang vannamei di IPU
Gelung BBAP Situbondo ini berbentuk bulat dan berkapasitas 10 ton serta
memiliki kemiringan 3% ke arah pembuangan. Sebelum digunakan sebagai
tempat pemeliharaan larva, bak terlebih dahulu harus dibersihkan dari kotoran
yang menempel pada bak tersebut. Bak dibersihkan dengan cara dicuci dengan
menggunakan deterjen, seluruh permukaan dinding dan dasar bak digosok
dengan menggunakan spon untuk menghilangkan kotoran yang menempel di
bak, kemudian dibilas dengan air tawar sampai bersih setelah itu siram dengan
larutan kaporit 60% sebanyak 100 pm ke seluruh permukaan dan biarkan hingga
kering. Apabila bak akan digunaan, maka bak dan perlengkapan lainnya dicuci
kembali dengan diterejen.
Setelah persiapan selesai, maka bak sudah siap digunakan untuk
pemeliharaan larva. Setelah itu bak diisi air laut sebanyak 5 ton atau separuh
dari kapasitas bak dengan menggunakan filter ukuran 10. Tahapan selanjutnya
air pada bak di treatmen menggunakan larutan trevlan sebanyak 0,25 ppm,
kemudian aerasi dinyalakan dan disterilisasi selama 1-2 hari. Hal ini tidak sesuai
dengan pendapat Heryadi, D dan Sutadi (1993) yang menyatakan bahwa
sebelum dipakai, air laut diberi perlakuan dengan menggunakan zat-zat kimia
agar bebas dari bakteri, protozoa, jamur, dan mikroorganisme lainnya. Setelah
air laut ditampung dalam bak ditambahkan kaporit 30 ppm (30 g/m3 air).

5.1.2. Penebaran Naupli


Naupli yang akan ditebar adalah naupli yang berasal dari hatchery BBAP
Situbondo desa Pecaron. Penebaran naupli dilakukan pada malam hari, hal ini
dilakukan dengan harapan untuk menghindari fluktuasi suhu yang terlalu tinggi
terhadap lingkungan. Naupli yang sudah dihitung kemudian diseser dengan
menggunakan saringan, ditempatkan terlebih dahulu kedalam ember kecil yang
sudah diberi air laut kemudian naupli dibilas menggunakan formalin sebanyak 1
ml yang bertujuan untuk menghilangkan jamur dan bakteri yang terdapat pada
naupli.
Sebelum naupli ditebar kedalam bak pemeliharaan larva perlu dilakukan
aklimatisasi suhu dan salinitas, hal ini bertujuan agar naupli yang ditebar tidak
mengalami stress. Aklimatisasi dilakukan dengan cara meletakkan ember yang
berisi naupli di atas permukaan air pada bak pemeliharaan larva, kemudian bak
tersebut dialiri air sampai penuh dengan menggunakan slang kecil dan biarkan
naupli keluar dengan sendirinya dari baskom supaya tidak stress, hal ini sesuai
dengan pendapat Heryadi, D dan Sutadi (1993), yang menjelaskan bahwa
aklimatisasi salinitas dilakukan dengan cara, air media yang di dalam bak
dialirkan ke dalam baskom yang berisi naupli dengan menggunakan slang plastik
yang berdiameter kecil, sehingga aliran airnya hanya sebesar benag jahit.
Proses aklimatisasi selesai ditandai dengan mengumulnya naupli
kepermukaan air dalam bak pemeliharaan. Setelah penebaran dilakukan, bak
pemeliharaan ditutup dengan plastik transparan tembus cahaya agar fekuinditas
suhu tetap stabil. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3, Gambar 4
dan padat penebarannya dapat dilihat pada Tabel 2:

Gambar 3: Persiapan Penebaran

Gambar 4: Aklimatisasi Naupli

Naupli

Tabel 2: Padat Penebaran Naupli


Populasi
( ekor )

Volume Air
( ton )

Bak
A1
1.500.000
A2
1.500.000
A3
1.500.000
A4
1.500.000
Sumber: IPU Glung BBAP Situbondo

10
10
10
10

Padat
Penebaran
( ekor/liter )
150
150
150
150

Dari proses aklimatisasai yang dilakukan maka naupli tidak mengalami


stress pada saat ditebar. Sedangkan dari tabel diatas diketahui bahwa rata-rata
kepadatan penebaran naupli adalah 150 ekor/liter, hal ini sesuai dengan
pendapat Heryadi, D dan Sutadi (1993) bahwa padat tebar nauplii yang aman
berkisar 100-150 ekor/L.

5.2. Pengelolaan dan Pengamatan Kualitas Air


Pengelolaan kualitas air pada saat masa pemeliharaan larva udang
vannamei di IPU Gelung BBAP Situbondo dilakukan dengan cara pengukuran
kualitas air dan pergantian air (water Exchange). Hal ini sesuai dengan pendapat
Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008) yang menyatakan bahwa selain
pengukuran

parameter-parameter

tersebut

dilakukan

pergantian

dan

penambahan air secara sirkulasi dengan cara melihat air secara visual, bila

dipermukaan air telah banyak mengandung gelembung-gelembung busa yang


telah menumpuk dan gelembung tersebut tidak dapat pecah kembali ini
diasumsikan air pada kondisi jenuh dan telah terjadi banyak perombakanperombakan gas di dalam air.
Pengelolaan kualitas air dimaksudkan untuk meningkatkan atau menjaga
kualitas air supaya tetap dalam keadaan yang sesuai bagi pertumbuhan udang.
Pergantian air ini dilakukan pada saat memasuki stadia mysis 3 berkisar 10-30%,
hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah, S dan Pramudjo, S (2008) yang
menyatakan bahwa pergantian air dilakukan setelah mencapai stadia mysis 3
sampai PL 5 berkisar 10-30% dan PL 5 sampai dengan panen 30-50% dari
volume wadah yang terisi. Hal ini dilakukan berdasarkan pengamatan jika warna
air sudah tampak keruh dan banyak terdapat busa. Pergantian air ini
dimaksudkan untuk mengurangi kandungan bahan organik sehingga tidak
menimbulkan pada larva. Pergantian air ini dilakukan dengan cara mengurangi
volume air sedikit demi sedikit melalui pipa pembuangan.
Selain itu dilakukan monitoring kualitas air yang dilakukan setiap hari
yaitu pada pagi hari, parameter air yang dilakukan secara rutin adalah parameter
suhu dengan tujuan agar selama masa pemeliharan proses metabolisme dan
metamorfosis larva lancar yaitu pada kisaran 29-32C. Suhu berpengaruh
langsung pada metabolisme udang, pada suhu tinggi metabolisme udang dipacu,
sedangkan pada suhu yang lebih rendah proses metabolisme diperlambat. Bila
keadaan seperti ini berlangsung lama, maka akan mengganggu kesehatan
udang karena secara tidak langsung suhu air yang tinggi menyebabkan oksigen
dalam air menguap, akibatnya larva udang akan kekurangan oksigen.
Pengecekan parameter kualitas air selama pemeliharaan larva dilakukan pada
saat pergantian stadia, pH berkisar pada 7,5-8,5 sedangkan salinitas berkisar 29-

33, alkalinitas berkisar 118-112 mg/liter, bahan organik (BO) antara 73,2-110,4
mg/liter. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Grafik di bawah ini:

Sumber : Data Primer (2009)

Dari hasil pengukuran tersebut maka diperoleh kualitas air yang optimal
untuk kehidupan larva. Selama pemeliharaan larva pemantauan kualitas air juga
merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Parameter kualitas air yang
diukur meliputi, suhu, pH, dan salinitas. Untuk lebih jelasnya parameter kualitas
air selama pemeliharaan dapat dilihat pada Lampiran 5.

5.3. Pengelolaan Pakan


Pemberian pakan ini dilakukan untuk memacu pertumbuhan larva udang
vannamei, adapun jenis pakan yang diberikan yaitu :

5.3.1. Pakan alami


Jenis pakan alami yang diberikan pada larva udang vannamei di IPU
Gelung BBAP Situbondo yaitu Chaetoceros dan Artemia sp. Pemberian pakan
alami fitoplankton Chaetoceros diberikan mulai stadia zoea 1 yaitu dimana larva
sudah mulai kehabisan persediaan kuning telur ( egg yolk ) dan diberikan sampai

stadia PL 3. Hal ini sesuai dengan pendapat Subaidah, S dan Pramudjo, S


(2008) yang menyatakan bahwa pemberian Chaetoceros sp dilakukan mulai dari
stadia zoea 1 mysis 3, sedangkan pada stadia naupli belum diberikan pakan
dikarenakan pada stadia ini larva udang putih vannamei masih memanfaatkan
kuning telur (yolk) sebagai pensuplai makanan.

Pemberian Chaetoceros sp

bertujuan untuk meningkatkan anti body yang sangat dibutuhkan oleh larva
udang vannamei terutama pada fase-fase transisi seperti dari stadia naupli ke
stadia zoea, yang mana pada fase ini sering dikenal dengan istilah zoea
syndrome atau zoea lemah, yaitu larva kelihatan lemah dan tubuh kotor yang
dapat menyebabkan mortalitas hingga 90%. Selain itu, Chaetoceros sp mampu
menekan laju pertumbuhan bakteri Vibrio harveyi selama proses pemeliharaan
larva. Kultur Chaetoceros dilakukan dengan 3 cara, yaitu skala laboraturium,
skala semi massal (Intermediate) dan skala Massal. Pemberiannya dilakukan
dengan cara memompa Chaetocerosla langsung ke bak pemeliharaan dengan
slang.
Artemia salina merupakan pakan alami jenis zooplankton yang diberikan
pada larva udang mulai dari stadia larva mysis 3 post larva. Pemberian
nauplius artemia dikarenakan banyak mengandung nilai nutrisi yag sangat
dibutuhkan

oleh

larva

udang

seiring

dengan

peningkatan

nilai

usaha

pemeliharaan larva dalam masalah kualitas larva. Di samping itu, nauplius


artemia merupakan zooplankton yang bergerak aktif sehingga dapat merangsang
dan meningkatkan nafsu makan larva udang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada Gambar 5 berikut :

Gambar 5: Naupli Artemia sp

Sebelum

diberikan,

dilakukan

dekapsulasi

pada

cyste

artemia

menggunakan bahan kimia yaitu klorin 1000 ml dan soda api 500 ml dengan
perbandingan 2:1. Klorin dapat melarutkan senyawa lipoprotein pada cangkang
telur artemia yang banyak mengandung Heamatin yang dapat mempercepat
pengikisan cangkang artemia, sedangkan soda api berfungsi untuk melunakkan
cangkang. Selama proses dekapsulasi diusahakan suhu tidak lebih dari 40C
karena dapat menyebabkan artemia terbakar dan mati. Setelah proses
dekapsulasi selesai artemia ditetaskan dalam conical tank selama 1 24 jam
dan diberi aerasi. Artemia yang sudah menetas diberikan dengan cara ditebar
keseluruh permukaan air dengan menggunakan gayung. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Gambar 6 dan Tabel 3 berikut :

Gambar 6: Pemberian Pakan Alami (Chaetoceros dan Artemia sp)

Tabel 3: Jenis, Dosis dan Waktu Pemberian Pakan Alami


Stadia
Zoea - PL 3

Jenis Pakan
Alami
Chetoceros

PL1 PL7
Artemia
Sumber: Data Primer 2009

Dosis

Waktu

500 liter/1,5 juta

06:00, 16:00

larva
56 g/10ton

06:00, 16:00

b). Pakan Buatan


Pakan buatan yang akan diberikan disaring terlebih dahulu dengan
menggunakan saringan. Jenis pakan yang digunakan adalah Nosan R1, Nosan
R2, Frippak 1 CAR, Frippak 2CD, Epyfeed LHF-1,Epyfeed LHF-2, dan Riall.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 7:

Gambar 7: Jenis Pakan Buatan


Pakan yang telah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam saringan
pakan dan diaduk den sampai merata kemudian diberikan dengan cara ditebar
menggunakan gayung. Untuk dosis pemberian pakan buatan dapat dilihat pada
Tabel 4 berikut:

Tabel 4: Jenis, Dosis dan Waktu Pemberian Pakan Buatan

Stadia

Jenis Pakan
Buatan
Epyfeed LHF1,
Nosan R1, Frippak
1 CAR

Dosis ( ppm )

Waktu

0,7-1

Mysis

Epyfeed LHF1-2,
Nosan R1-R2,
Frippak 1 CAR-2CD

1-1,5

PL1 PL7

Epyfeed LHF 2,
Nosan R2, Frippak
2CD, Riall

1,5 3

04:00, 06:00,
10:00, 13:00,
16:00, 19:00,
22:00, 01:00
04:00, 06:00,
10:00, 13:00,
16:00, 19:00,
22:00, 01:00
04:00, 06:00,
10:00, 13:00,
16:00, 19:00,
22:00, 01:00

Zoea

Sumber: Data Primer 2009


Dengan pemberian pakan ini maka larva udang vannamei dapat
mengalami

pertumbuhan.

Pemberian

pakan

buatan

bersamaan

dengan

pemberian probiotik sanolife yang mengandung bakteri Bacillus licheniformis,


Bacillus Subtilus, Bacillus Pumilus. Pemberian Bacillus ini untuk menguraikan
bahan-bahan organik berupa sisa pakan dan kotoran yang berada di media
pemeliharan agar tidak menjadi racun. Pemberian probiotik ini diberikan setiap
hari pada saat memasuki stadia zoea sampai post larva. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada Gambar 8 dan untuk dosis dan waktu pemberian dapat dilihat
pada Tabel 5:

Gambar 8: Probiotik

Tabel 5: Dosis dan Waktu Pemberian Probiotik

Stadia
Zoea
Mysis
PL1 PL5

Dosis (ppm)
1
1,5
2

Waktu
10:00
10:00
10:00

Sumber:
Data Primer

(2009)
5.4. Pengamatan Pertumbuhan
Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap hari dengan cara mengambil
sampel langsung dari bak pemeliharaan dengan menggunakan beaker glass,
kemudian diarahkan ke cahaya untuk melihat kondisi tubuh larva. hal ini
bertujuan untuk mengetahui perkembangan larva, gerakan, dan sisa pakan.
Sedangkan pengamatan mikroskopis dengan cara mengambil beberapa ekor
larva dan dilakukan pengamatan menggunakan alat mikroskop, pengamatan ini
dilakukan untuk melihat dan mengamati morfologi tubuh larva, keadaan parasit,
pathogen yang menyebabkan larva terserang penyakit. Dengan mengetahui
perkembangan larva maka juga dapat menentukan perubahan stadia, gerakan
aktif juga menandakan bahwa larva tersebut baik. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada Gambar 9:

Dari
hasil pengamatan
maka
dapat diketahui
perkembangan
Gambar
9: Pengamatan
Pertumbuhan
Larva Udang
Vannameilarva dari
setiap stadia yaitu:
1). Stadia naupli

Stadia ini memiliki ciri-ciri yaitu badan berbentuk bulat telur, beranggota
badan tiga dan masih memiliki cadangan kuning telur hal ini sesuai dengan
pendapat Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005), yang menjelaskan bahwa
stadia naupli masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur sehingga
pada stadia ini larva udang vannamei belum membutuhkan makanan dari luar.
Secara visual stadia naupli terlihat seperti laba-laba kecil dengan gerakan
renang

tersedat-sedat, lalu berhenti sesaat kemudian melanjutkan renang.

Pembagian tubuh atas karapas dan abdomennya belum terlihat jelas dimana
naupli 1 badan berbentuk bulat telur dengan tiga pasang anggota tubuh, naupli 2
pada ujung antena pertama terdapat satae yang panjang dan pendek, naupli 3
terdapat dua buah furtcel mulai tampak jelas dengan masing-masing tiga duri,
tunas maxillped mulai tampak, naupli 4 masing-masing furtcel mulai tampak jelas
terdapat empat buah duri, antena kedua beruas-ruas, naupli 5 tonjolan pada
maxilliped suah mulai jelas, naupli 6 perkembangan satae semakin sempurnadan
duri pada fortcel tumbuh makin panjang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
Gambar 10 berikut :

2). Stadia zoeaGambar 10: Stadia Naupli Larva Udang Vannamei


Stadia naupli akan berubah menjadi stadia zoea setelah ditebar pada bak
pemeliharaan sekitar 15-24 jam. Pada stadia ini zoea akan mengalami ganti kulit

(moulting) hal ini sesuai dengan pendapat Haliman, R.W dan Adijaya, D.S
(2005), yang menjelaskan bahwa pada stadia ini benih udang mengalami
moulting sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea 2, zoea 3. Lama waktu
proses pergantian kulit sebelum memasuki stadia berikutnya sekitar 4-5 hari.
Secara visual stadia ini memiliki ciri yang khas, yaitu terlihat adanya kotoran yang
enempel pada ekor. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 11 dan untuk
perkembangannya dapat dilihat pada Tabel 6:

Tabel 6: Ciri-ciri stadia zoea pada udang vannamei (Litopenaeus vannamei)


Stadia
Ciri-ciri
yang
menonjol
Gambar 11: Stadia Zoea
Larva
Udang
Vannamei
Zoea 1
Badan pipih dan karapas mulai nyata, mata mulai tampak, alat
pencernaan makanan mulai jelas.
Zoea 2
Mata mulai bertangkai dan pada karapas sudah terlihat rostrum.
Zoea 3
Sepasang uropoda mulai berkembang, ruas-ruas perut mulai tumbuh.
Sumber: Data Primer (2009)

3). Stadia Mysis


Pada stadia ini larva sudah hampir menyerupai bentuk udang yang
bercirikan sudah terlihat ekor kipas (uropoda) dan ekor (telson). Larva berukuan
berkisar antara 3 4,5 mm. Pada stadia ini berlangsung selama 3-4 hari dimulai
dari stadia mysis 1-3 sebelum memasuki stadia post larva (PL). Hal ini sesuai

dengan pendapat Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) pada stadia ini, benih
sudah menyerupai bentuk udang yang dicirikan dengan sudah terlihat ekor kipas
(uropoda) dan ekor (telson). Benih pada stadia ini sudah mampu menyantap
pakan fitoplankton dan zooplankton. Ukuran larva sudah berkisar 3,50 - 4,80
mm. Stadia ini memiliki 3 substadia, yaitu mysis 1, mysis 2, mysis 3 yang
berlangsung selama 3 - 4 hari sebelum masuk pada stadia post larva. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat Gambar 12 dan pada Tabel 7 berikut:

Tabel 7: Ciri-ciri stadia mysis pada udang vannamei (Litopenaeus


vannamei)
Stadia
Ciri-ciri yang menonjol
Mysis 1
Bentuk badan sudah menyerupai udang dewasa
Mysis 2
Tunas kaki renang (pleopoda) mulai tampak nyata tetapi belum
beruas-ruas
Mysis 3
Tunas
kaki
panjang
beruas
Gambar
12:bertambah
Stadia Mysis
Larvadan
Udang
Vannamei
Sumber: Data Primer (2009)
4). Stadia Post Larva
Pada stadia ini akan tampak jelas seperti udang dewasa. Larva sudah
mulai bergerak aktif lurus ke depan serta mempunyai sifat karnivora dimulai dari
post larva (PL 1) sampai dengan panen benur. Hal ini sesuai denan pendapat
Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) pada stadia ini benih udang sudah tampak

seperti udang dewasa dan sudah mulai bergerak lurus ke depan. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada Gambar 13 berikut:

Berdasarkan pengamatan pada tingkat kelangsungan hidup larva udang


(Survival Rate/SR) pada larva udang vannamei di IPU Gelung BBAP Situbondo
didapatkan data seperti pada Tabel 8 di bawah ini :
Gambar 13: Stadia Post Larva Udang Vannamei

Tabel 8. Tingkat Kelangsungan Hidup Larva


Stadia

Naupli 6

Bak

A1

Volume

Jumlah

Larva

Bak

Tebar

Sampling

(Ton)
10

(ekor/bak)
1.500.000

1.402.500

SR (%)

93,57

A2
10
A3
10
A4
10
Zoea 3
A1
10
A2
10
A3
10
A4
10
Mysis 3
A1
10
A2
10
A3
10
A4
10
PL 7
A1
10
A2
10
A3
10
A4
10
Sumber : Data Primer (2009)

1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000
1.500.000

1.399.500
1.327.500
1.356.000
1.387.500
1.339.500
1.297.500
1.341.000
1.048.500
997.500
967.500
997.500
652.500
613.500
598.500
636.000

93,33
88,50
90,45
92,56
89,33
86,58
89,44
69,95
66,53
64,57
66,56
43,56
40,95
39,97
42,49

5.5. Penerapan Biosecurity


Penerapan biosecurity dalam kegiatan pemeliharaan larva sangat
diperlukan untuk mengurangi resiko penyebaran penyakit dari satu tempat ke
tempat lain. Tindakan penceghan dengan penerapan bioscurity dilakukan dengan
menggunakan PK (Kalium Permanganat) sebanyak 1 ppm yang ditempatkan
pada awal pintu masuk ruangan. Dengan penerapan biosecurity ini maka
diharapkan dapat meminimalisir bibit penyakit yang masuk ke area pembenihan.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 13 berikut:

Gambar 14: Biosekuritas pada IPU Gelung BBAP Situbondo

5.6. Pengendalian Penyakit


Pengendalian penyakit pada larva udang vannamei dilakukan dengan
prinsip dasar yaitu tindakan pencegahan dan pengobatan. Dengan melakukan
pencegahan diharapkan agar larva tidak sampai terserang penyakit yang dapat
mengakibatkan mortalitas dan kualitas menurun. Pencegahan penyakit dapat
pemberian probiotik. Stadia yang paling rawan dalam pemeliharaan larva yaitu
pada saat memasuki stadia zoea, jenis penyakit yang sering mewabah adalah
jenis zoothamnium sp dari golongan protozoa, menyerang ketika stadia mysis-1
dengan gejala gerakan lemah, kebanyakan larva berada di atas permukaan air,
namun selama praktek tidak ditemukan adanya penyakit pada larva udang. Hal
ini tidak sesuai dengan pendapat Elovaara, A.K (2001) yang menyatakan bahwa
penyakit yang menyerang udang vannamei yaitu infectious hypodemal and
hematopoietic necrosis virus (IHHNV), Reo-like virus (REO), and Taura
Syndrome virus (TSV ). Protozoa disebabkan oleh air media dan peralatan yang
kurang steril. Kurang sterilnya peralatan dimungkinkan pencucian menggunakan
air tawar yang belum ditrietment terlebih dahulu. Tindakan untuk mengurangi
populasi protozoa tersebut dengan melakukan pergantian air dan pemberian
obat (treflan) sesuai dengan dosis yang dibutuhkan.
Sedangkan

upaya

pencegahan

yang

dilakukan

adalah

dengan

penambahan bacillus, pencegahan yang lain adalah penerapan biosekuritas


yang membatasi pencampuran antara bagian yang satu dengan yang lain dalam
produksi. Dengan melakukan upaya pencegahan tersebut maka dapat
memperkecil kemungkinan bibit penyakit tersebut menyerang larva.

5.7. Panen dan Pemasaran


5.7.1. Panen

Waktu pemanenan dapat dilakukan kapan saja tergantung keinginan


pembeli, pada pemeliharaan larva untuk siklus ini pemanenan dilakukan pada
malam hari sekitar pukul 21:00. Pemanenan benur dilakukan dengan
mengurangi volume air hingga mencapai 50% dari daya tampung bak melalui
pipa goyang atau pipa pengeluaran dan pipa saringan bagian dalam, air yang
keluar ditampung dengan menggunakan ember saringa yang berukuran 300,
kemudian benur diseser dan ditampung dalam baskom bersaring, hal ni sesuai
dengan pendapat Heryadi, D dan Sutadi (1993), yang menyatakan bahwa
caranya adalah membuka saluran pembuangan yang telah diberi saringan di
dalamnya agar air yang keluar tidak deras dan benur tidak ikut keluar.
Setelah benur bekurang, pipa saringan bagian dalam dilepas untuk
dipanen secara total. Langkah selanjutnya yaitu disaring kembali dengan
saringan rangka besi berukuran 50x70 cm, dan airnya dialirkan melalui saluran
pembangan serta ditampung dalam ember bersaring. Setelah dipanen, dilakukan
sampling dengan menggunaka takaran yang telah diperitungkan kepadatannya.
Setelah proses sampling selesai kemudian benur dikemas.

Gambar 15 : Pemanenan dan Penghitungan Benur

5.6.2. Pengangkutan
Pengankutan yang dilakukan di IPU Gelung BBAP Situbondo adalah
pengangkutan cara tertutup, yaitu dengan menggunakan kantong plastik yang

ditempatkan dalam sterofom kemudian diberi es untuk menurunkan suhu hal ini
sesuai dengan pendapat Heryadi D dan Sutadi (1993), yang menyatakan bahwa
pengangkutan benur ummnya dilakukan

dengan cara tertutup dan terbuka,

pengangkutan cara tertutup disenangi karena pengirimannya dapat dilakukan


dengan menggunakan bus, kereta api, pesawat udara, dan kendaraan lainnya.
Cara ini membutuhkan es, kantong pastik, tabung oksigen dan kardus
Styrofoam.
Tujuan dari penurunan suhu yaitu agar selama dalam perjalanan benur
tidak aktif. Pengaruh suhu terhadap benur adalah, jika suhu dari air yang ada
dalam kantong meningkat maka akan meningkatkan metabolisme dari benur.
Dengan meningkatnya metabolisme dari benur maka sisa metabolisme atau
ekskresi akan tinggi. Jika hal ini terjadi dalam kurun waktu yang lama maka akan
mangakibatkan terjadinya penurunan kualitas air sehingga dapat mempengaruhi
benur yang ada dalam media tersebut.
Kepadatan benur dalam kantong disesuaikan dengan permintaan
pembeli dan jarak pengiriman benur. Kepadatan benur untuk jarak dekat (lokal)
yaitu 1000 ekor/liter. Kemudian diberi oksigen dan diikat kuat dengan
menggunakan karet gelang. Perbandingan antara air dan oksigen adalah 1 : 2,
hal ini untuk menjaga ketersediaan oksigen selama pengangkutan. Setelah itu
kantong plastik dimasukkan ke dalam kotak sterofoam. Pengiriman dilakukan
dengan menggunakan alat transportasi darat yaitu mobil pick up ke daerah
Situbondo,

Banyuwangi,

Jember,

Gresik,

Tuban,

Lamongan,

Sumenep,

Rembang, Yogyakarta dan Purworejo.


Sedangkan prosedur pengangkutan jarak jauh (luar pulau) perlakuanya
sama dengan pengiriman jarak dekat, hanya saja kepadatannya ditingkatkan
menjadi 4.000 8.000 ekor/kantong dan suhu air yang dipakai sebagai media
benur tidak sama. Suhu air untuk sistem pengangkutan benur jarak jauh/luar

pulau harus lebih rendah yaitu 27oC. Secara langsung keadaan ini berhubungan
dengan proses metabolisme serta reaksi kimia

dalam tubuh larva udang yang

semakin menurun sehingga menyebabkan larva bergerak pasif.

Gambar 16: Proses Packing


Pengemasan benur untuk konsumen luar pulau dilakukan dengan
menggunakan truk yang dilakukan dengan pesawat terbang. Daerah pemasaran
luar pulau adalah wilayah Tarakan dan Kalimantan Timur.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1). Lokasi IPU Gelung BBAP Situbondo sudah tepat karena berada di
daerah

pesisir,

dataran

rendah

sehingga

memudahkan

dalam

pengadaan air laut. Letaknya juga sangat strategis karena dekat


dengan jalur pantura, sehingga memudahkan dalam akses transportasi
dan sarana yang dimiliki terdiri dari, sarana pokok, sarana penunjang
dan prasarana.
2). Pengadaan air laut sudah baik karena sebelum digunakan untuk proses
produksi telah melewati proses treatment dengan menggunakan larutan
trevlan sebanyak 0,25 ppm, hasilnya telah diperoleh kualitas air yang
baik dan siap digunakan untuk proses produksi. Volume air pada
masing-masing bak yaitu 10 ton dan terdiri dari 16 bak.
3). Kegiatan pemeliharaan larva yang dilakukan di IPU Gelung BBAP
Situbondo meliputi :
a.

Persiapan bak pemeliharaan menggunakan kaporit 60% sebanyak


100 ppm dan ditreatment dengan mengunakan larutan trevlan
sebanyak 0,25 ppm.

b.

Penebaran naupli sekitar 1.500.000 ekor.

c.

Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap hari mulai dari tebar


naupli sampai panen.

d.

Pemberian pakan dilakukan dengan memberi Chaetoceros dan


Artemia sp.

e.

Pengamatan kualitas air (suhu sekitar 30-33 0 C , pH 8,0-8,5,


salinitas 33-34 ppt, alkalinitas 100-120 ppm, dan BO 70-110 ppm).

f.

Penerapan biosecurity dengan menggunakan larutan PK sebayak


1 ppm.

g.

Pencegahan penyakit dilakukan dengan tindakan pencegahan dan


pengobatan.

h.

Panen dan Pengangkutan dilakukan malam hari dengan tujuan


agar tidak terjadi perubahan suhu yang terlalu besar.

Dari rangkaian kegiatan tersebut telah dilakukan dengan baik, hanya


sehari sebelum pemanenan tidak dilakukan penyiponan dasar bak.
4). Kultur pakan alami yang dilakukan dengan baik, yaitu kultur
Chaetoceros dengan skala laboraturium, intermediet dan missal dengan
menggunakan bak berukuran 10 ton serta dekapsulasi artemia yang
dilakukan dengan menggunakan larutan klorin sebanyak 1000 ml dan
soda api sebanyak 500 ml.
5). Tingkat kehidupan (SR) pada saat pemanenan mencapai sekitar 30 %
dari padat tebar 1.500.000 ekor yaitu 450.000 ekor.
6.2. Saran
1). Sebaiknya tingkat kebersihan di IPU Gelung tersebut ditingkatkan
2.) Sebaiknya pemberian pakan harus sesuai dengan jadwal pemberian
dan tepat waktu.
3). Sebaiknya sehari sebelum panen benur dilakukan penyiponan pada
dasar bak agar kotoran dan sisa pakan tidak mencemari media.

DAFTAR PUSTAKA

BBAP

Situbondo.

2006.

Sarana

dan

Prasarana

Multipication

Center.

http://my.opera.com/sampahbermanfaat/blog/2009/09/13/manajemenakuakultur-payau-indah-rufiati-sy-ugm-2006 [ 13 oktober 2009]


Departemen Kelautan dan Perikanan. 2005. Monitoring Kesehatan Udang.
Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan. Jakarta
Elovaara, A.K. 2001. Shrimp Farming Manual Practical Technology For
Intensive Commercial Shrimp Production. Caribbean Press, LTD and
British West Indies. United Statet of America
Ghufron, M H. Kordi K. 2007. Pemeliharaan Udang Vannamei. Inda Surabaya.
Surabaya.
Haliman, R.W dan Adijaya, D.S. 2005. Udang Vannamei. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Heryadi D dan Sutadi. 1993. Back Yard Usaha Pembenihan Udang Skala Rumah
Tangga. Penebar Swadaya. Jakarta.
Narbuko, C dan Achmadi, A. 2004. Metode Penelitian. Bumi Aksara.Jakarta.
Nazir, M. 1988. Metodologi Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta Timur.
Subaidah, S dan Pramudjo, S. 2008. Pembenihan Udang Vanname. Departemen
Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Balai
Budidaya Air Payau Situbondo. Situbondo.
Suparmoko, M. 1991. Metode Penelitian Praktis. BPFE. Yogyakarta.