Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA TANAH

KONDUKTIVITAS HIDROLIK TANAH

Oleh:
Raden Fahmi Husaini
A1H012033

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konduktivitas hidrolik tanah merupakan kemampuan tanah

untuk

melewatkan air. Kemampuan ini berlaku pada dua kondisi yaitu pada saat semua
pori-pori terisi oleh air (tanah jenuh) dan pada kondisi ketika hanya sebagian dari
pori-pori yang terisi oleh air (tanah tak jenuh) dalam hal ini laju konduktivitas
tanah jenuh (Ksat) selalu lebih tinggi dari laju konduktivitas hidrolik tanah tak
jenuh (Kunsat), hal ini disebabkan oleh dua factor yaitu: pada tanah jenuh pengaruh
gaya gravitasi jauh lebih dominan dibandingkan pada tanah tak jenuh dan ukuran
pori-pori sebagai media K-sat jauh lebih besar dari ukuran pori-pori untuk ukuran
Kunsat.
Konduktivitas hidrolik tidak selamanya tetap. Artinya dalam berbagai proses
(kimia, fisika, dan biologi) konduktivitas hidrolik dapat berubah karena factor
masuk dan mengalirnya air dalam tanah. Perubahan yang terjadi pada komposisi
ion kompleks dapat dipertukarkan.

B. Tujuan
1. Menetapkan laju konduktivitas hidrolik beberapa contoh tanah dalam
beberapa contoh tanah dalam keadaan jenuh.
2. Untuk mengetahui metode pengukuran konduktivitas hidrolik dengan
menggunakan metode tinggi air tetap.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kemampuan tanah menyimpan air dipengaruhi oleh macam dari ukuran


diameter partikel penyusunnya. Partikel liat mempunyai daya ikat air lebih besar
dibandingkan partikel pasir, akan tetapi tanah liat mempunyai ruang antar partikel
(pori) lebih sempit dibandingkan tanah berpasir. Oleh karena itu, air gravitasi
pada tanah liat lebih kecil dibandingkan tanah pasir akan tetapi tanah pasir
maupun tanah liat kurang mampu menyimpan atau menyediakan air untuk
tanaman. Tanah dengan tekstur sedang (lempung) umumnya mempunyai
kemampuan menyimpan dan menyediakan air untuk tanaman lebih besar dari
tanah lainnya. (Seto, 1987).
Konduktivitas hidrolik tanah jenuh (Ksat) pada prinsipnya ditetapkan dengan
menggunakan tinggi tegangan yang tetap yang lebih dikenal sebagai Constant
Head method (Klute dan Ditson, 1986).
Secara umum konduktvitas hidrolik tanah dapat juga di artikan sebagai
kemampuan tanah untuk melewatkan air. Kemampuan ini berlaku pada dua
kondisi yaitu pada saat semua pori-pori terisi oleh air dan ketika hanya sebagian
tanah terisi oleh air (Anonim1, 2000).
Infiltrasi adalah masuknya air ke dalam tanah melalui permukaan tanah
secara vertical, sedangkan banyaknya air persatuan waktu masuk melalui
permukaan tanah dikenal sebagai laju infiltrasi (Anonim2, 2011 ).
Konduktivitas hidrolika tanah merupakan kemampuan tanah untuk melewati
air. Kemampuan ini nerlaku pada dua kondisi, yaitu pada saat kondisi semua pori-

pori terisi air (tanah jenuh) dan ketika sebagian pori-pori terisi air (tanah tak
jenuh). Dalam hal ini laju konduktivitas hidrolika tanah jenuh (K-sat) selalu lebih
tinggi dari laju konduktivitas tanah tak jenuh (K-unsat). Hal ini disebabkan dua
factor utama, sepperti tanah jenuh pengaruh gaya grafitasi jauh lebih dominant
pada tanah tak jenuh dan ukuran pori-pori sebagai media K-sat jauh lebih besar
dari ukuran pori-pori untuk K-unsat. (Praktikum, 2012 : 19)
Kemampuan tanah menyimpan air dipengaruhi oleh macam dari ukuran
diameter partikel penyusunnya. Partikel liat mempunyai daya ikat air lebih besar
dibandingkan partikel pasir, akan tetapi tanah liat mempunyai ruang antar partikel
(pori) lebih sempit dibandingkan tanah berpasir. Oleh karena itu, air gravitasi
pada tanah liat lebih kecil dibandingkan tanah pasir akan tetapi tanah pasir
maupun tanah liat kurang mampu menyimpan atau menyediakan air untuk
tanaman. Tanah dengan tekstur sedang (lempung) umumnya mempunyai
kemampuan menyimpan dan menyediakan air untuk tanaman lebih besar dari
tanah lainnya (Seto, 1987).
Konduktivitas hidrolika tanah jenuh (K sat) pada prinsipnya ditetapkan
dengan menggunakan tinggi genangan yang tetap yang lebih dikenal sebagai
Constant Head method (Klute dan Ditkson, 1986).

III. METODOLOGI

A.Alat dan Bahan

1. Contoh tanah utuh.


2. Ring sample
3. Kain kasa
4. Karet
5. Satu set alat penguku Ksat
6. Stopwatch

B.PROSEDUR KERJA

1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan.


2. Mengambil sampel tanah pada permukaan yang sudah diratakan terlebih
dahulu dengan tegak lurus.
3. Menutup ring sampel, ganti bagian bawah dengan kain kasa, kemudian
jenuhkan tanah sampai 24 jam.
4. Merangkai alat pengukur.
5. Memasang ring sampel yang berisi tanah pada alat pengukur untuk dilakukan
pengukuran.
6. Mengisikan air pada alat pengukur sampai mencapai h2.

7. Menghitung waktu penurunan air sampai h1.


8. Menghitung konduktivitas tanah dengan persamaan:

Ks =

VI.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
DIK

t1

: 34,47 s

t2

: 43,65 s

: 4,8 cm

: 5,4 cm

: 1,5 cm

:39,06

h1

: 30 cm

h2

: 25 cm

DIT

KS ?

Jawab

:a

=
= (3,14) (1,5)2
= 1,76625 cm2

= (3,14) (4,8)2
= 18,0864 cm2
Ks

= 2,3 al + log h1
At

h2

= 2,3 (1,76625) (5,4) + log 30


18,0864 (39,06)
= 0,031 + 0,079
= 0,11 cm/s

25

B. Pembahasan

Konduktivitas hidrolika tanah merupakan kemampuan tanah untuk


melewatkan air. Kemampuan ini berlaku pada dua kondisi yaitu pada saat semua
pori-pori terisi oleh air (tanah jenuh) dan pada kondisi ketika hanya sebagian
dari pori-pori yang terisi oleh air (tanah tak jenuh) dalam hal ini laju
konduktivitas tanah jenuh (K-sat) selalu lebih tinggi dari laju konduktivitas
hidrolika tanah tak jenuh (K-unsat), hal ini disebabkan oleh dua fakktor yaitu :
pada tanah jenuh pengaruh gaya gravitasi jauh lebih dominant dibandingkan
pada tanah tak jenuh dan ukuran pori-pori sebagai media K-sat jauh lebih besar
dari ukuran pori-pori untuk ukuran K-unsat. Secara umum konduktvitas hidrolik
tanah dapat juga di artikan sebagai kemampuan tanah untuk melewatkan air.
Kemampuan ini berlaku pada dua kondisi yaitu pada saat semua pori-pori terisi
oleh air dan ketika hanya sebagian tanah terisi oleh air (Tim penyusun, 2013).
Kelembaban tanah yaitu Jumlah air tanah mempengaruhi kapasitas infiltrasi.
Ketika air jatuh pada tanah kering, permukaan atas dari tanah tersebut menjadi
basah, sedang bagian bawahnya relatif masih kering. Dengan demikian terdapat
perbedaan yang besar dari gaya kapiler antara permukaan atas tanah dan yang ada
di bawahnya. Karena adanya perbedaan tersebut, maka terjadi gaya kapiler yang
bekerja sama dengan gaya berat, sehingga air bergerak ke bawah (infiltrasi)
dengan cepat.
Infiltrasi adalah aliran air ke dalam tanah melalui permukaan tanah. Di
dalam tanah air mengalir dalam arah lateral, sebagai aliran antara (interflow)

menuju mata air, danau, dan sungai; atau secara vertikal, yang dikenal dengan
perkolasi (percolation) menuju air tanah.
Gerak air di dalam tanah melalui pori-pori tanah dipengaruhi oleh gaya
gravitasi dan gaya kapiler. Gaya gravitasi menyebabkan aliran selalu menuju ke
tempat yang lebih rendah, sementara gaya kapiler menyebabkan air bergerak ke
segala arah. Air kapiler selalu bergerak dari daerah basah menuju ke daerah yang
lebih kering.
Tanah kering mempunyai gaya kapiler lebih besar daripada tanah basah.
Gaya tersebut berkurang dengan bertambahnya kelembaban tanah. Selain itu, gaya
kapiler bekerja lebih kuat pada tanah dengan butiran halus seperti lempung
daripada tanah berbutir kasar pasir. Apabila tanah kering, air terinfiltrasi melalui
permukaan tanah karena pengaruh gaya gravitasi dan gaya kapiler pada seluruh
permukaan. Setelah tanah menjadi basah, gerak kapiler berkurang karena
berkurangnya gaya kapiler.
Hal ini menyebabkan penurunan laju infiltrasi. Sementara aliran kapiler
pada lapis permukaan berkurang, aliran karena pengaruh gravitasi berlanjut
mengisi pori-pori tanah. Dengan terisinya pori-pori tanah, laju infiltrasi berkurang
secara berangsung-angsur sampai dicapai kondisi konstan; di mana laju infiltrasi
sama dengan laju perkolasi melalui tanah.

Dalam infiltrasi dikenal dua istilah yaitu kapasitas infiltrasi dan laju
infiltrasi, yang dinyatakan dalam mm/jam. Kapasitas infiltrasi adalah laju
infiltrasi maksimum untuk suatu jenis tanah tertentu; sedang laju infiltrasi adalah

kecepatan infiltrasi yang nilainya tergantung pada kondisi tanah dan intensitas
hujan. Pada grafik dibawah ini menunjukkan kurva kapasitas infiltrasi (fp), yang
merupakan fungsi waktu.
Apabila tanah dalam kondisi kering ketika infiltrasi terjadi, kapasitas
infiltrasi tinggi karena kedua gaya kapiler dan gravitasi bekerja bersama-sama
menarik air ke dalam tanah. Ketika tanah menjadi basah, gaya kapiler berkurang
yang menyebabkan laju infiltrasi menurun. Akhirnya kapasitas infiltrasi mencapai
suatu nilai konstan, yang dipengaruhi terutama oleh gravitasi dan laju perkolasi.

Gambar 1. Kurva Kapasitas Infiltrasi

1.

Faktor yang mempengaruhi infiltrasi

Laju infiltrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kedalaman genangan


dan tebal lapis jenuh, kelembaban tanah, pemadatan oleh hujan, tanaman penutup,
intensitas hujan, dan sifat-sifat fisik tanah.

2.

Kedalaman genangan dan tebal lapis jenuh

Genangan Pada Permukaan Tanah


Gambar 2. Genangan pada Permukaan Tanah

Dalam gambar di atas, air yang tergenang di atas permukaan tanah


terinfiltrasi ke dalam tanah, yang menyebabkan suatu lapisan di bawah permukaan
tanah menjadi jenuh air. Apabila tebal dari lapisan jenuh air adalah L, dapat
dianggap bahwa air mengalir ke bawah melalui sejumlah tabung kecil. ALiran
melalui lapisan tersebut serupa dengan aliran melalui pipa. Kedalaman genangan
di atas permukaan tanah (D) memberikan tinggi tekanan pada ujung atas tabung,
sehingga tinggi tekanan total yang menyebabkan aliran adalah D+L.
Tahanan terhadap aliran yang diberikan oleh tanah adalah sebanding
dengan tebal lapis jenuh air L. Pada awal hujan, dimana L adalah kecil dibanding
D, tinggi tekanan adalah besar dibanding tahanan terhadap aliran, sehingga air
masuk ke dalam tanah dengan cepat. Sejalan dengan waktu, L bertambah panjang
sampai melebihi D, sehingga tahanan terhadap aliran semakin besar. Pada kondisi
tersebut kecepatan infiltrasi berkurang. Apabila L sangat lebih besar daripada D,

perubahan L mempunyai pengaruh yang hampir sama dengan gaya tekanan dan
hambatan, sehingga laju infiltrasi hampir konstan.
3.

Kelembaban tanah

Jumlah air tanah mempengaruhi kapasitas infiltrasi. Ketika air jatuh pada
tanah kering, permukaan atas dari tanah tersebut menjadi basah, sedang bagian
bawahnya relatif masih kering. Dengan demikian terdapat perbedaan yang besar
dari gaya kapiler antara permukaan atas tanah dan yang ada di bawahnya. Karena
adanya perbedaan tersebut, maka terjadi gaya kapiler yang bekerja sama dengan
gaya berat, sehingga air bergerak ke bawah (infiltrasi) dengan cepat.
Dengan bertambahnya waktu, permukaan bawah tanah menjadi basah,
sehingga perbedaan daya kapiler berkurang, sehingga infiltrasi berkurang. Selain
itu, ketika tanah menjadi basah koloid yang terdapat dalam tanah akan
mengembang dan menutupi pori-pori tanah, sehingga mengurangi kapasitas
infiltrasi pada periode awal hujan.
4.

Pemampatan oleh hujan

Ketika hujan jatuh di atas tanah, butir tanah mengalami pemadatan oleh butiran
air hujan. Pemadatan tersebut mengurangi pori-pori tanah yang berbutir halus
(seperti lempung), sehingga dapat mengurangi kapasitas infiltrasi. Untuk tanah
pasir, pengaruh tersebut sangat kecil.
5.

Penyumbatan oleh butir halus

Ketika tanah sangat kering, permukaannya sering terdapat butiran halus.


Ketika hujan turun dan infiltrasi terjadi, butiran halus tersebut terbawa masuk ke

dalam tanah, dan mengisi pori-pori tanah, sehingga mengurangi kapasitas


infiltrasi.
6.

Tanaman penutup

Banyaknya tanaman yang menutupi permukaan tanah, seperti rumput atau


hutan, dapat menaikkan kapasitas infiltrasi tanah tersebut. Dengan adanya
tanaman penutup, air hujan tidak dapat memampatkan tanah, dan juga akan
terbentuk lapisan humus yang dapat menjadi sarang/tempat hidup serangga.
Apabila terjadi hujan lapisan humus mengembang dan lobang-lobang (sarang)
yang dibuat serangga akan menjadi sangat permeabel. Kapasitas infiltrasi bisa
jauh lebih besar daripada tanah yang tanpa penutup tanaman.
7.

Topografi

Kondisi topografi juga mempengaruhi infiltrasi. Pada lahan dengan


kemiringan besar, aliran permukaan mempunyai kecepatan besar sehingga air
kekurangan waktu infiltrasi. Akibatnya sebagian besar air hujan menjadi aliran
permukaan. Sebaliknya, pada lahan yang datar air menggenang sehingga
mempunyai waktu cukup banyak untuk infiltrasi.
8.

Intensitas hujan
Intensitas hujan juga berpengaruh terhadap kapasitas infiltrasi. Jika

intensitas hujan I lebih kecil dari kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi aktual
adalah sama dengan intensitas hujan. Apabila intensitas hujan lebih besar dari
kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi aktual sama dengan kapasitas infiltrasi.

Konduktivitas hidrolika tanah jenuh (K sat) pada prinsipnya ditetapkan


dengan menggunakan tinggi genangan yang tetap yang lebih dikenal sebagai
Constant Head method (Klute dan Ditkson, 1986).
Kemampuan tanah menyimpan air dipengaruhi oleh macam dari ukuran
diameter partikel penyusunnya. Partikel liat mempunyai daya ikat air lebih besar
dibandingkan partikel pasir, akan tetapi tanah liat mempunyai ruang antar
partikel (pori) lebih sempit dibandingkan tanah berpasir. Oleh karena itu, air
gravitasi pada tanah liat lebih kecil dibandingkan tanah pasir akan tetapi tanah
pasir maupun tanah liat kurang mampu menyimpan atau menyediakan air untuk
tanaman. Tanah dengan tekstur sedang (lempung) umumnya mempunyai
kemampuan menyimpan dan menyediakan air untuk tanaman lebih besar dari
tanah lainnya (Seto, 1987).
Penetapan konduktivitas hidrolik tanah dapat diterapkan dalam berbagai
sector, seperti pertanian maupun kehutanan.Selain itu penetapan konduktivitas
hidrolik tanah juga dapat membantu dalam perancangan bangunan jalan maupun
jembatan, dimana kita dapat memperoleh informasi bagaimana pergerakan air
dalam tanah sehingga dapat melihat bagaimana tingkat kestabilan tanahnya.
Dalam bidang lain dengan mengetahui nilai konduktivitas hidrolik kita dapat
menentukan daerah peresapan air yang optimal maupun daerah yang cenderung
hanya dilewati air .Sehingga dapat melakukan penanganan terutama yang
kaitannya dengan daerah irigasi.
Melalui penetapan konduktivitas hidrolik tanah kita juga dapat mengetahui
bagaimana tingkat perembesan dan kehilangan air dalam aliran irigasi, sehingga

dapat memperkirakan seberapa banyak air yang lewat dan seberapa banyak air
yang merembes serta dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam perancangan
pembuatan saluran irigasi yang sesuai.
Konduktivitas hidrolik tanah juga dapat membantu dalam penentuan jenis
tanaman yang akan diusahakan. Karena dengan mengetahui konduktivitas
hidrolik tanah kita dapat mengetahui kemampuan tanah dalam meloloskan air
sehingga kita dapat pula mengetahui bagaimana jenis tanah bagaimana
kemampuannya dalam menyediakan air bagi tanaman.
Parameter atau ukuran yang dapat menggambarkan kemampuan tanah
dalam melewatkan air disebut sebagai konduktivitas hidrolik (hydraulic
conductivity) (Klutw dan Dirksen 1986 diacu dalam Kurnia et al.2006).Tingkat
kemampuan tanah untuk melewatkan airsangat dipengaruhi oleh kadr air
tanah.Konduktivitas

hidrolik

tanah

dapat

dibedakan

menjadi

2,

yaitu

konduktivitas hidrolik dalam keadaan jenuh dan dalam keadaan tiak jenuh.
Menurut Kurnia et al. (2006) diacu dalam Deptan (2006) ada beberapa
metode laboratorium yang bisa digunakan untuk menetapkan konduktivitas
hidrolik

tanah

dalam

keadaan

jenuh,

diantaranya:

(1)

metode

tinggi

airkonstan/constan head method (Klute dan Dirksen 1986); (2) metode tinggi air
konstan di dalam tangki/constan head soil core/tank method (Reynold and Elrick
2002); (3) metode tinggi air terjun di dalam tangki/falling head soil
core/tankmethod (Reynold and Elrick 2002); dan (4) metode aliran air dalam
kondisi kesetimbangan/steady flow soil column method (Boolthink dan Bouma
2002). Pemilihan suatu metode sangat ditentukan oleh berbagai faktor seperti: (1)

ketersediaan alat; (2) sifat alami tanah; (3) ketersediaan contoh taKonduktivitas
Hidrolik Tanah Parameter atau ukuran yang dapat menggambarkan kemampuan
tanah dalam melewatkan air disebut sebagai konduktivitas hidrolik (hydraulic
conductivity) (Klute dan Dirksen 1986 diacu dalam Kurnia et al. 2006). Tingkat
kemampuan tanah untuk melewatkan air sangat dipengaruhi oleh kadar air tanah.
Oleh karena itu, konduktivitas hidrolik tanah dibedakan menjadi 2, yakni
konduktivitas hidrolik dalam keadaan tidak jenuh dan dalam keadaan jenuh.
Pada praktikum konduktivitas hidrolik tanah, praktikan melakukan
percobaan pengukuran konduktivitas tanah jenuh pada tanah yang telah
dijenuhkan selama 24 jam dengan 2 kali pengamatan. Pengamatan dilakukan
dengan mengisi alat hidrolik dengan air dengan ketinggian h1, kemudian mencatat
waktu hingga air pada h1 sampai ke batas h2. Untuk pengamatan pertama, waktu
yang dibutuhkan air untuk mencapai h2 adalah 98 detik, dan untuk yang kedua
memerlikan waktu 103 detik. Untuk memperoleh nilai konduktivitas hidrolik
tanah jenuh, praktikan menghitung dengan rumus sebagai berikut:
Ks=
Dari persamaan tersebut diperoleh hasil dari konduktivitas hidrolik tanah
jenuh pertama yaitu 4.42
yaitu 4.65

dan konduktivitas hidrolik pengamatan kedua

Dalam kedua pengamatan tersebut antara pengamatan pertama dan kedua


berbeda, hal tersebut disebabkan karena konduktivitas hidrolik dapat berubah
karena faktor masuk dan mengalirnya air dalam tanah. Perubahan yang terjadi
pada komposisi ion kompleks dapat dipertukarkan. Misalnya ketika air memasuki

tanah mempunyai komposisi atau konsentrasi zat terlarut yang berbeda dengan
larutan awal dan dapat merubah konduktivitas hidrolik. Secara umum
konduktivitas akan berkurang bila konsentrasi zat terlarut elektrolit berkurang.
Hal ini disebabkan oleh fenomena pengembangan dan dispersi yang juga
dipengaruhui oleh jenis-jenis kation (pada pelepasan dan perpindahan partikelpartikel lempung). Selama aliran yang lama, bisa menghasilkan penyumbatan
pori. Interaksi zat terlarut dan matrik tanah dan pengaruhnya terhadap
konduktivitas hidroulik khususnya penting pada tanah-tanah masam dan berkadar
natrium tinggi. (Anonim, 2010).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi jalanya permeabilitas adalah
sebagai berikut :
1. Tekstur, Sangat mempengaruhi permeabilitas tanah. Hal ini dikarenakan
permeabilitas itu adalah melewati tekstur tanah. Misalnya tanah yang
bertekstur pasir akan mudah melewatkan air dalam tanah.
2. Struktur, Semakin banyak ruang antar struktur, maka semakin cepat juga
permeabilitas dalam tanah tersebut. Misalnya tanah yang berstruktur
lempeng akansulit di tembus oleh air dari pada berstruktur remah.
3. Porositas atau ruang pori, merupakan rongga antar tanah yang biasanya
diisi air atau udara. Pori sangat menentukan sekali dalam permeabilitas
tanah, semakin besar pori dalam tanah tersebut, maka semakin cepat pula
permeabilitas tanah tersebut.
4. Viskositas, sama juga dengan kekentalan air, semakin kental air tersebut,
maka semakin sulit juga air untuk menembuas tanah tersebut.

5. Gaya gravitasi atau gaya tarik bumi, juga sangat menentukan permeabilitas
tanah, karena permeabilitas adalah gaya yang masuk ke tanah menrut
gaya gravitasi.
Hasil praktikum menunjukan ada perbedaan antara tiap tiap kelompok,
perbedaan tersebut terletak pada lama waktu air yang naik ke atas permukaan
gelas ukur yang menunjukan angka 30 cm, pada kelompok 4 membutuhkan
waktu 34,47 s untuk air mencapai angka 30 cm, sehingga Ks yang di dapat
yaitu 0,11 cm/s, sedangkan pada kelompok 5 membutuhkan waktu 14 s untuk
air mencapai garis 30 cm, sehingga Ks yang di dapatkan yaitu 0,212 cm/s, dan
pada kelompok 6 membutuhkan waktu 7,64 s untuk air mencapai garis 30 cm,
sehingga Ks yang di hasilkan yaitu 0,24093 cm/s.
Kendala yang dihadapi pada saat praktikum ialah air dalam tabung
terkadang tidak mengalir sehingga membuat praktikum menjadi semakin lama
dan kurangnya alat praktikum sehingga ketika praktikan bergiliran
menggunakan alat tersebut maka praktikan yang lain menunggu sehingga
waktunya tidak efisien.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Nilai konduktivitas hidrolik tanah jenuh dapat diperoleh dengan


menggunakan rumus sebagai berikut:
Ks=
2. Ada beberapa metode laboratorium yang bisa digunakan untuk
menetapkan

konduktivitas

hidrolik

tanah

dalam

keadaan

jenuh,

diantaranya: (1) metode tinggi air konstan/constan head method 2) metode


tinggi air konstan di dalam tangki/constan head soil core/tank method(3)
metode tinggi air terjun di dalam tangki/falling head soil core/tankmethod
dan (4) metode aliran air dalam kondisi kesetimbangan/steady flow soil
column method. Pemilihan suatu metode sangat ditentukan oleh berbagai
faktor seperti: (1) ketersediaan alat; (2) sifat alami tanah; (3) ketersediaan
contoh tanah; dan (4) kemampuan dan pengetahuan dari pelaku percobaan.

B. Saran

Alat-alat untuk praktikum dilengkapi lagi, Ruangan untuk


praktikum sangat panas, kalau bisa di beri kipas agar tidak begitu panas
sehingga keadaan pada saat praktikum lebih kondusif.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. http: //repository. ipb. ac. id/ BABII. TinjauanPustaka pdf. Bogor
Agricultural University: Bogor
Anonim.2010.http://www.membuatblog.web.id/2010/03 permeabilitas-tanah.html.
[ 12 Mei 2014 15.17 WIB].
Anonim.2011.http://chuseenlibrablogspotcom.blogspot.com/2011/06/pemeabilitas
-tanah.html.[ 12 Mei 2014 16.45 WIB].
Arifin,

Samsul.2013.

Konduktivitas

Hidrolik.http://makalahdottugas.blogspot.com/2013/02/konduktivitashidrolik.html. Diakses tanggal 12 Mei 2014: 12.54 WIB


Hanafiah, Ali Kemas. 2007. Dasar dasar Ilmu Tanah. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Hendrayanto. , 1999. Analysis on Spatial Variability in Hydraulic Properties of
Forest Soils [dissertation]. Kyoto: Graduate School of Agriculture,
Division of Forestry and Bio-materials Sciences, Kyoto University.
Jury WA, Horton R. 1946. Soil Physics. New York: John Wiley & Sons.
Klute, dkk. 2012. Penuntun Praktikum Dasar-dasar Ilmu tanah. Laboratorium
Ilmu Tanah Universitas Bengkulu.
Nugroho,I.danDahuri,R.(2004),PembangunanWilayah,PerspektifEkonomi,Sosial
danLingkungan,LP3ES,Jakarta.
Seto, KA. 1987. Konservasi Sumber Daya Tanah dan Air. Kalam Mulia, Jakarta.
Tim penyusun. 2013. Modul praktikum Fisika tanah. Jurusan teknologi Pertanian:
Universitas Jenderal Soedirman

Beri Nilai