Anda di halaman 1dari 21

konsep keluarga

BAB I
KONSEP DASAR
A. KONSEP KELUARGA
1. Pengertian
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan
keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masingmasing yang merupakan bagian dari keluarga (Friedman, 1998).
Keluarga adalah satu atau lebih individu yang tinggal bersama, sehingga
mempunyai ikatan emosional dan mengembangkan dalam interelasi social,
peran dan tugas (Spredley, 1996 dalam Murwani, 2008)
Menurut Salvicion G. Bailon & Aracelis Maglaya (1989) dalam Murwani
(2008) menjelaskan bahwa keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu
yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau
pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu
sama lain, dan di dalam perannya masing masing menciptakan serta
mempertahankan kebudayaan.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah
beberapa individu yang tinggal dalam sebuah keluarga yang mempunyai
ikatan perkawinan, ada hubungan keluarga, sanak famili, maupun adopsi yang
hidup bersama sesuai dengan tujuan keluarga tersebut.
2. Tahap tahap perkembangan keluarga
Perkembangan keluarga merupakan proses perubahan yang terjadi pada sistem
keluarga meliputi; perubahan pola interaksi dan hubungan antar anggota keluarga
disepanjang waktu. Perubahan ini terjadi melalui beberapa tahapan atau kurun
waktu tertentu. Pada setiap tahapan mempunyai tugas perkembangan yang harus
dipenuhi agar tahapan tersebut dapat dilalui dengan sukses.
Perawat perlu memahami setiap tahapan perkembangan keluarga serta tugas tugas
perkemabangannya. Hal ini penting mengingat tugas perawat dalam mendeteksi
adanya masalah keperawatan yang dilakukan terkait erat dengan sifat masalah
yaitu potensial atau aktual.
Tahap perkembangan dibagi menurut kurun waktu tertentu yang dianggap
stabil. Menurut Rodgers cit Friedman (1998), meskipun setiap keluarga melalui
tahapan perkembangan secara unik, namun secara umum seluruh keluarga
mengikuti pola yang sama.

a.

Tahap 1 : Keluarga pemula


Perkawinan dari sepasang insan menandai bermulanya sebuah keluarga baru,
keluarga yang menikah atau prokreasi dan perpindahan dari keluarga asal atau
status lajang ke hubungan baru yang intim.

b.

Tahap II : Keluarga yang sedang mengasuh anak


Tahap kedua dimulai dengan kelahiran anak pertama hingga bayi berumur 30
bulan. Biasanya orang tua bergetar hatinya dengan kelahiran anak pertama mereka,
tapi agak takut juga. Kekhawatiran terhadap bayi biasanya berkurang setelah
beberapa hari, karena ibu dan bayi tersebut mulai mengenal. Ibu dan ayah tiba-tiba
berselisih dengan semua peran-peran mengasyikkan yang telah dipercaya kepada
mereka. Peran tersebut pada mulanya sulit karena perasaan ketidakadekuatan
menjadi orang tua baru.

c.

Tahap III : Keluarga yang anak usia prasekolah


Tahap ketiga siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak pertama berusia
2,5 tahun dan berakhir ketika anak berusia 5 tahun. Sekarang, keluarga mungkin
terdiri tiga hingga lima orang, dengan posisi suami - ayah, istri ibu, anak laki-laki
saudara, anak perempuan saudari. Keluarga menjadi lebih majemuk dan
berbeda.

d.

Tahap IV : Keluarga dengan anak usia sekolah


Tahap ini dimulai ketika anak pertama telah berusia 6 tahun dan mulai masuk
sekolah dasar dan berakhir pada usia 13 tahun, awal dari masa remaja. Keluarga
biasanya mencapai jumlah anggota maksimum, dan hubungan keluarga di akhir
tahap ini.

e.

Tahap V : Keluarga dengan anak remaja


Ketika anak pertama melewati umur 13 tahun, tahap kelima dari siklus
kehidupan keluarga dimulai. Tahap ini berlangsung selama 6 hingga 7 tahun,
meskipun tahap ini dapat lebih singkat jika anak meninggalkan keluarga lebih awal
atau lebih lama jika anak masih tinggal dirumah hingga brumur 19 atau 20 tahun.

f.

.Tahap VI : Keluarga yang melepaskan anak usia dewasa muda


Permulaan dari fase kehidupan keluarga ini ditandai oleh anak pertama
meninggalkan rumah orang tua dan berakhir dengan rumah kosong, ketika anak
terakhir meninggalkan rumah. Tahap ini dapat singkat atau agak panjang,
tergantung pada berapa banyak anak yang ada dalam rumah atau berapa banyak
anak yang belum menikah yang masih tinggal di rumah.
g.

Tahap VII : Orang tua pertengahan

Tahap ketujuh dari siklus kehidupan keluarga, tahap usia pertengahan dari bagi
oarngtua, dimulai ketika anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir pada saat
pensiun atau kematian salah satu pasangan. Tahap ini biasanya dimulai ketika
orangtua memasuki usia 45-55 tahun dan berakhir
pada saat seorang pasangan pensiun, biasanya 16-8 tahun kemudian.
h. Tahap VIII : Keluarga dalam masa pensiun dan lansia
Tahap terakhir siklus kehidupan keluarga dimulai dengan salah satu atau kedua
pasangan memasuki masa pensiun, terus berlangsung hingga salah satu pasangan
meninggal, dan berakhir dengan pasangan lain meninggal.
3. Tugas perkembangan keluarga
Tugas perkembangan keluarga menurut Friedman (1998) yaitu :
a.Tahap I : Keluarga pemula
Membangun perkawinan yang saling memuaskan.
Menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis.
Keluarga berencana (keputusan tentang kedudukan sebagai orangtua).
b.Tahap II : Keluarga yang sedang mangasuh anak
Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap
(mengintegrasikan bayi baru kedalam keluarga)
Rekonsilisiasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan
anggota keluarga.
Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.
Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peranperan orangtua dan kakek-nenek.
c.Tahap III : Keluarga dengan anak usia pra sekolah
Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti rumah, ruang bermain,privasi,
keamanan.
Mensosialisasikan anak.
Mengintegrasikan anak yang baru sementara tetap memenuhi kebutuhan anakanak yang lain.
Mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga (hubungan perkawinan dan
hubungan orangtua dan anak) dan diluar keluarga (keluarga besar dan komunitas).
d.Tahap IV : Keluarga dengan anak usia sekolah
Membantu sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah dan lingkungan
Mempertahankan hubungan perkawinan bahagia
Memenuhi kebutuhan dan biaya hidup yang semakin meningkat
Meningkatkan komunikasi terbuka
e.Tahap V : Keluarga dengan anak remaja

Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja menjadi


dewasa dan semakin mandiri
Memfokuskan kembali hubungan perkawinan
Berkomunikasi secara terbuka antara orangtua dan anak-anak
f.Tahap VI : Keluarga dengan melepaskan anak usia dewasa muda.
Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar
Mempertahankan keintiman pasangan
Membantu orang tua suami/isteri yang sedang sakit dan memasuki masa tua
Membantu anak untuk mandiri di masyarakat
Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga
g.Tahap VII : Orangtua usia pertengahan.
Mempertahankan kesehatan dan Mempertahankan hubungan yang memuaskan
dengan teman sebaya dan anak-anak
Meningkatkan keakraban pasangan
h. Tahap VIII : Keluarga dalam masa pensiun dan lansia
Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.
Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan
pendapatan.
Mempertahankan keakraban suami/istri dan saling merawat.
Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.
Melakukan life review.
Mempertahankan penataan yang memuaskan merupakan tugas utama keluarga
pada tahap ini.

BAB II

A.

TINJAUAN PUSTAKA
Tahap tumbuh kembang anak usia prasekolah

tumbuh kembang pada anak Pada usia prasekolah anak mengalami


lompatan kemajuan yang menakjubkan. Tidak hanya kemajuan fisik tetapi
juga secara sosial dan emosional. Anak usia prasekolah ini sedang dalam
proses awal pencarian jati dirinya. Beberapa prilaku yang dulunya tidak ada,
sekarang muncul. Secara fisik dan psikis usia ini adalah usia yang rentan
berbagai penyakit yang akan mudah menyerang anak usia ini dan
menimbulkan masalah yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang jika
kondisi kesehatan anak tidak ditangani secara baik oleh para praktisi
kesehatan yang juga usaha-usaha pencegahan adalah usaha yang tetap paling
baik dilakukan.
1. Defenisi tumbuh kembang anak usia pra sekolah
a) Pertumbuhan (Growth)
Berkembangan dengan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi
tingkat sel, organ maupun individu yang bisa diukur dengan ukuran berat (kg/gr)
atau ukuran panjang (meter/centimeter)(Soetjiningsih : 1998).
Menurut Whaley dan Wong, pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah
atau ukuran sel tubuh yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan ukuran dan
berat seluruh bagian tubuh (Supartini, Yupi : 2004).
b)

Perkembangan (Development)
Menurut Whaley dan Wong, perkembangan manitik beratkan pada perubahan yang
terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling
tinggi dan kompleks melalui proses maturasi dan pembelajaran ( Supartini, Yupi:
2004).
Perkembangan adalah pertambahan kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang
lebih komleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari
proses pematangan ( Soetjiningsih : 1998).
3. Pertumbuhan dan perkembangan anak prasekolah
a) Pertumbuhan
Beberapa aspek pertumbuhan fisik terus menjadi stabil dalam tahun
prasekolah. Waktu rata-rata denyut jantung dan pernapasan menurun hanya sedikit
mendekati 90x/menit dan pernapasan 22-24x/menit. TD meningkat sedikit ke nilai
rata-rata 95/58mmH. Berat badan anak meningkat kira-kira 2,5 kg per tahun, berat
rata-rata pada usia 5 tahun adalah kira-kira 21 kg, hampir 6 kali berat badan lahir.
Prasekolah bertumbuh 2-3 inci per tahun, panjang mereka menjadi dua kali lipat
panjang lahir pada usia 4 tahun,dan berada pada tinggi rata-rata 43 inci pada ulang

tahun kelima mereka. Perpanjangan tungkai kaki menghasilkan penampilan yang


lebih kurus. Kepala sudah mencapai 90% dari ukuran orang dewasa pada ulang
tahun ke enam. Perbedaan kecil terjadi antara jenis kelamin, walaupun anak lakilaki sedikit lebih besar dengan lebih banyak otot dan kurang jaringan lemak.
Kekurangan nutrisi umunya terjadi pada anak-anak berusia dibawah 6 tahun adalah
kekurangan vitamin A dan C serta zat besi. Konsumsi karbohidrat dan lemak
dalam jumlah yang sangat besar dari makanan yang berlemak bisa menimbulkan
kegemukan dan menjadikan anak prasekolah dalm kondisi sangat lapar. Orang tua
dan penberi pelayanan perlu membuat asaha secara sadar untuk membantu anak
prasekolah mengembangkan kebiasaan makan yang sehat dan mencegah defisiensi
dan kelebihan.
b.) Perkembangan

Rasa keingintahuan tentang hal-hal yang berada dilingkungan semakin besar dan
dapat mengembangkan pola sosialisasinya.

Anak sudah mulai mandiri dalam merawat diri sendiri, seperti mandi, makan,
minum, menggosok gigi, BAK, dan BAB. Mulai memahami waktu.
Penggunaan tangan primer terbentuk

4. Perkembangan psikoseksual ( Sigmund Freud )


Fase berkembangan psikoseksual untuk anak usia sekolah masuk pada fase
falik. Selama fase ini, genitalia menjadi area yang menarik dan area tubuh yang
sensitif. Anak mulai mengetahui perbedaan jenis kelamin dengan mengetahui
adanya perbedaan jenis kelamin.
Negatif : Memegang genetalia,Oedipus compleks
Positif : Egosentris: sosial interaksi, Mempertahankan keinginan
5. Perkembangan psikososial ( Eric Ericson )
Fase perkembangan psikososial pada anak usia prasekolah adalah inisiatf vs
rasa bersalah. Perkembangan ini diperoleh dengan cara mengkaji lingkungan
melalui kemampuan bereksplorasi terhadap lingkungannya. Anak belajar
mengendalikan diri dan memanipulasi lingkungan. Inisiatif berkembang dengan
teman sekelilingnya. Kemampuan anak berbahasa meningkat. Anak mulai
menuntut untuk melakukan tugas. Hasil akhir yang diperoleh adalah menghasilkan
suatu prestasinya.
Perasaan bersalah akan timbul pada anak jika anak tidak mampu berpretasi.
Rasa bersalah dapat menyebabkan anak kurang bersosialisasi, lebih marah,
mengalami regresi, yaitu kembali ke perkembangan sebelumnya, misalnya
mengompol dan menghisap jempol.

6.

Perkembangan kognitif ( Jean Piaget )

Fase berkembangan kognitif anak usia prasekolah adalah fase


praoperasional. Karakteristik utama perkembangan intelektual tahap ini didasari
sifat egosentris. Pemikiran di dominasi oleh apa yang dilihat, dirasakan dan dengan
pengalaman lainnya.
Fase ini dibagi menjadi 2 yaitu:

Prokonseptual ( 2- 4 tahun )

Anak mengembangkan kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi dan


bermasyarakat. Anak mulai mengembangkan sebab-akibat, trial dan error dan
menginterpretasikan benda/kejadian. Anak mulai menggunakan sinbulkata-kata,
mengingat masa lalu, sekarang dan yang akan datang.
Intuitive thuoght ( 4-7 tahun )
Anak mampu bermasyarakat namun masih belum mampu berpikir timbal
balik. Anak biasanya banyak meniru perilaku orangdewasa tetapi sudah bisa
memberi alasan pada tindakan yang dilakukan.
B. Tugas perkembangan anak usia prasekolah
1. Personal / sosial
1. Upaya untuk menciptakan diri sendiri seperti orang tuanya, tetapi mandiri
2. Menggali lingkungan atas hasil prakarsanya
3. Membanggakan, mempunyai perasaan yang tidak dapat dirusak
4. Keluarga merupakan kelompok utama
5. Kelompok meningkat kepentingannya
6. Menerima peran sesuai jenis kelaminnya
7. agrsif
8. Motorik
Meningkatnya kemampuan bergerak dan koordinasi jadi lebih mudah
Mengendarai sepeda dengan dua atau tiga
Melempar bola, tetapi silit uintuk menangkapnya
9. Bahasa dan kognitif
Egosentrik
Ketrampilan bahsa makin baik
Mengajukan banyak pertanyaan; bagaimana, apa, dan mengapa?
Pemecahan masalah sedarhana; menggunakan fantasi untuk memahami, mengatasi
masalah.
10.
Ketakutan
Pengrusakan diri

C.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
D.

1.

Dikebiri
Gelap
Ketidaktahuan
Objek bayangan, tak dikenal.
Tugas perkembangan keluarga dengan anak usia prasekolah
Membantu anak untuk bersosialis
Beradaptasi dengan anak yang baru lahir sementara kebutuhan anak yang lain (tua)
juga harus dipenuhi.
Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam atau luar keluarga (keluarga
lain dan lingkungan sekitar)
Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak
Pembagian tanggung jawab anggota keluarga
Merencanakan kegiatan dan waktu untuk menstimulasi pertumbuhan dan
perkembangan anak.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang
Pola pertumbuhan dan perkembangan secara normal antara anak yang satu
dengan yang lainnya pada akhirnya tidak selalu sama, karena dipengaruhi oleh
interaksi banyak faktor. Menurut Soetjiningsih (2002), faktor yang mempengaruhi
tumbuh kembang, yaitu:
Faktor dalam (internal):

a) Genetika

Perbedaan ras, etnis, atau bangsa


Tinggi badan orang Eropa akan berbeda dengan orang Indonesiaatau bangsa
lainnya, dengan demikian postur tubuh tiap bangsa berlainan.

Keluarga
Ada keluarga yang cenderung mempunyai tubuh gemuk atau perawakan pendek
b) Umur
Masa prenatal, masa bayi, dan masa remaja merupakan tahap yang mengalami
pertumbuhan cepat dibandingkan dengan masa lainnya.
c)

Jenis kelamin

Wanita akan mengalami pubertas lebih dahulu dibandingkan laki-laki

Kelainan kromosom

Dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan, misalnya sindrom down.


2. Pengaruh hormon

Pengaruh hormon sudah terjadi sejak masa prenatal, yaitu saat janin berumur
empat bulan. Pada saat itu terjadi pertumbuhan yang cepat. Hormon yang
berpengaruh terutama adalah hormon pertumbuhan somatotropin yang dikeluarkan
oleh kelenjar pituitari. Selain itukelenjar tiroid juga menghasilkan kelenjar tiroksin
yang berguna untuk metabolisme serta maturasi tulang, gigi, dan otak.
3. Faktor lingkungan
Faktor kelompok yang dapat berpengaruh dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu pranatal, kelahiran, dan pascanatal.
a.

Faktor pranatal
Gizi, nutrisi ibu hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin, terutama selama
trimester akhir kehamilan
Mekanis, posisi janin yang abnormal dalam kandungan dapat menyebabkan
kelainan conginetal,
Toksin, zat kimia, radiasi
Kelainan endokrin
Infeksi TORCH atau penyakit menular sesksual
Kelainan imunologi
Psikologis ibu
b. Faktor kelahiran
Riwayat kelahiran dengan vakum ekstraksi atau forcep dapat menyebabkan
trauma kepala pada bayi sehingga beresiko terjadinya kerusakan jaringan otak.
c. Faktor pascanatal
Seperti lainnya pada masa prenatal, faktor yang berpengaruh terhadap
TUMBANG anak adalah gizi, penyakit kronis/ kelainan konginetal, lingkungan
fisik dan kimia, psikologis, endokrin, sosioekonomi, lingkungan pengasuhan,
stimulasi, dan obat-obatan.

BAB III
PEMBAHASAN
1.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Prasekolah (3-5 Tahun)
Rasa keingintahuan tentang hal-hal yang berada dilingkungan semakin
besar dan dapat mengembangkan pola sosialisasinya. Anak sudah mulai mandiri

dalam merawat diri sendiri seperti mandi, makan, minum, mengosok gigi, BAB
dan BAK, dll.
2.2

Bimbingan Selama Fase Prasekolah


Usia 3 Tahun
Persiapkan orang tua untuk peningkatan ketertarikan anak dalam hubungan yang
lebih luas.
Anjurkan untuk mendaftarkan anak ke TK.
Tekankan tentang pentingnya pengaturan waktu,
Anjurkan orangtua untuk menawarkan pilihan-pilihan ketika anak sedang
ragu/bimbang.
Perubahan pada usia 3 tahun : anak akan menjadi kurang koordinasi (antatorik
dan emosi), gelisah dan menunjukkan perubahan tingkah laku seperti bicara gagap.
Orang tua harus memberikan perhatian yang extra sebagai refleksi dari kegelisahan
emosi anak dan rasa takut anak kehilangan kasih sayang orang tua.
Ingatkan orang tua tentang keseimbangan yang telah dicapai pada usia 3 tahun
akan berubah menjadi tingkah laku yang agresif pada usia 4 tahun.
Antisipasi tentang adanya perubahan nafsu makan, seleksi makanan anak.
Tekankan tentang perlunya perlindungan dan pendidikan untuk mencegah cedera.

Usia 4 Tahun
Persiapakan pada tingkah laku anak yang lebih agresif, termasuk aktivitas motorik
dan penggunaan bahasa-bahasa yang mengejutkan.
Bersikap menentang terhadap orangtua
Explorasi perasaan ortu berkenaan dengan tingkah laku anak.
Masukkan anak ke TK
Persiapan untuk peningkatan keinginan tahuan anak tentang sex.
Tekankan tentang pentingnya menanamkan disiplin pada anak.
Anjurkan untuk belajar berenang jika belum dilakukan pada usia sebelumnya.
Adanya mimpi buruk; beritahu orangtua bahwa anak, sering anak terbangun
karena adanya mimpi yang menakutkan.
Tenangkan Ibu, bahwa masa yang tenang pada anak dimulai pada usia 5 tahun.
Usia 5 Tahun
Masa tenang pada usia 5 tahun
Siapkan anak untuk memasuki lingkungan sekolah.
Pastikan kelengkapan immunisasi sebelum memasuki sekolah.

BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN ANAK USIA PRA
SEKOLAH YANG MENDERITA DIARE
A.
1.

PENGKAJIAN
Data Umum
Kepala Keluarga (KK)
Alamat dan telepon
Pekerjaan KK
Pendidikan KK
Komposisi keluarga
(Daftar nama-nama anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Nama, Jenis
Kelamin, Umur penderita, hubungan dengan Kepala Keluarga dan status imunisasi
serta Genogram. Garis keturunan atau silsilah keluarga dari tiga generasi apakah
ada yang menderita diare/diare kronis sebelumnya.)
Tipe keluarga
Menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala atau masalah yang
terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut.
Suku bangsa
Adat istiadat di tempat tinggal keluarga, suku bangsa, agama, sosial, budaya,
rekreasi, kegiatan pendidikan, kebiasaan makan dan berpakaian. Adanya pengaruh
budaya pada peran keluarga dan kekuatan struktur, bentuk rumah, bahasa yang
digunakan sehari-hari, komunikasi dalam keluarga, penggunaan tempat pelayanan
kesehatan.
Agama
Agama yang dianut dalam keluarga dan kegiatan agama yang aktif diikuti.
Status sosial ekonomi keluarga
Status sosial ekonomi keluarga ditentukan berdasarkan tingkat kesejahteraan
keluarga, yang terdiri dari lima tingkatan yaitu : Keluarga Prasejahtera, Keluarga

Sejahtera Tahap I, Keluarga Sejahtera Tahap II, Keluarga Sejahtera Tahap III dan
Keluarga Sejahtera Tahap IV (III Plus).
Aktivitas rekreasi keluarga
Identifikasi aktivitas dalam keluarga, frekuensi aktivitas tiap anggota keluarga dan
penggunaan waktu senggang.
2. Riwayat
Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahap perkembangan setiap anggota keluarga dari yang usia bayi sampai lanjut
usia
Tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Tahap ini ditentukan sampai dimana perkembangan keluarga saat ini dan
tahap apa yang belum dilakukan oleh keluarga serta kendalanya
Riwayat kesehatan keluarga inti
Menjelaskan mengenai riwayat kesehatan keluarga inti, yang meliputi riwayat
penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing masing anggota dan sumber
pelayanan yang digunakan keluarga.
Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
o Prenatal
Kehamilan yang keberapa, tanggal lahir, gestasi (fulterm, prematur post
matur), abortus atau lahir hidup, kesehatan selama sebelumnya/kehamilan, dan
obat-obat yang dimakan serta imunisasi.
o PreNatal
Lamanya proses persalinan, tempat melahirkan, obat-obatan, orang yang
menolong persalinan, penyulit persalinan.
o Post natal
Berat badan nomal 2,5 Kg - 4 Kg, Panjang Badan normal 49 -52 cm, kondisi
kesehatan baik, apgar score, ada atau tidak ada kelainan kongenital.
o
Feeding
Air susu ibu atau formula, umur disapih (2 tahun), jadwal makan/jumlahnya,
pengenalan makanan lunak pada usia 4-6 bulan,perubahan berat-badan, masalahmasalah feeding (vomiting, colic,diare), dan penggunaan vitamin dan mineral atau
suplemen lain.
o Penyakit sebelumnya
Penyebabnya, gejala-gejalanya, perjalanan penyakit, penyembuhan, kompliksi,
insiden penyakit dalam keluarga atau masyarakat, respon emosi terhadap rawat
inap sebelumnya.
o Alergi
Apakah pernah menderita hay fever, asthma, eksim. Obat-obatan, binatang,
tumbuh-tumbuhan, debu rumah
o Obat obat terakhir yang didapat

Nama, dosis, jadwal, lamanya, alasan pemberian


o Imunisasi
Polio, hepatitis, BCG, DPT, campak, sudah lengkap pada usia 3 tahun, reaksi
yang terjadi adalah biasanya demam, pemberian serum-serum lain, gamma
globulin/transfusi, pemberian tubrkulin test dan reaksinya.
o Tumbuh kembang
Berat waktu lahir 2, 5 Kg - 4 Kg. Berat badan bertambah 150 200 gr/minggu,
TB bertambah 2,5 cm / bulan, kenaikan ini terjadi sampai 6 bulan. Gigi mulai
tumbuh pada usia 6-7 bulan, mulai duduk sendiri pada usia 8-9 bulan, dan bisa
berdiri dan berjalan pada usia 10-12 bulan.
3. Data lingkungan
a.
Karakteristik rumah
Denah rumah
Lingkungan : lingkungan sangat mempengaruhi pada pasien diare lingkungan
dengan ekonomi keluarga menengah kebawah.
Macam lingkungan tempat tinggal : Tempat tinggal yang sempit, padat, sanitasi
yang tidak terjaga, lingkungan dengan keluarga ekonomi menengah ke bawah.
b.
Karakteristik tetangga dan komunitasnya
Menjelaskan mengenai karakteristik tetangga dan komunitas setempat. Yang
meliputi kebiasaaan, lingkungan fisik, aturan atau kesepakatan penduduk setempat,
budaya yang mempengaruhi kesehatan.
Mobilitas geografis keluarga : Status rumah yang dihuni oleh keluarga apakah
rumah sendiri atau menyewa, sudah berapa lama tinggal di daerah tersebut, dan
pindah dari daerah mana.
c.
Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan mengenai waktu yang digunakan oleh keluarga untuk
beerkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada.
d. Sistem pendukung keluarga
Dukungan keluarga untuk meningkatkan status gizi pada balita sangat
penting karena kebutuhan gizi anak dapat di penuhi dengan dukungan dari
keluarga yang sangat peduli dengan gizi anak
4. Struktur keluarga
Struktur peran
Menjelaskan peran masing masing keluarga baik secara formal maupun informal
dan siapa yang menjadi model peran dalam keluarga dan apakah ada konflik dalam
pengaturan peran yang selama ini dijalani.
Nilai atau norma keluarga
Menjelaskan mengenai norma yang dianut keluarga, yang berhubungan dengan
kesehatan.

Pola komunikasi keluarga


Bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari di dalam keluarga dan waktu
yang sering digunakan untuk berkomunikasi.
Struktur kekuatan keluarga
Kemampuan anggota keluarga dalam mengendalikan dan mempengaruhi orang
lain untuk mengubah perilaku diantaranya yang perlu dikaji adalah
a) siapa yang membuat keputusana dalam keluarga
b) bagaimana cara keluarga dalam mengambil keputusan
c) apakah keluarga merasa puas dengan pola komunikasi tersebut
5. Fungsi keluarga
Fungsi ekonomi
Mengkaji tentang sejauh mana keluarga memenuhi kebutuhan sandang, pangan,
papan. Dan memanfaatkan sumber yang ada di masyarakat, dalam upaya
meningkatkan status kesehatan keluarga.
Fungsi mendapatkan status sosial
Menjelaskan upaya keluarga untuk memperoleh status sosial di masyarakat tempat
tinggal keluarga.
Fungsi pendidikan
Keadaan ekonomi yang rendah sangat berkaitan dengan masalah pendidikan, ini
disebabkan karena ketidakmampuan keluarga dalam mengatasi masalah yang
mereka hadapi dan kurangnya pengetahuan tentang masalah diare pada salah satu
anggota keluarga, sehingga tidak mampu merawat anak pre school dengan baik
yang mengakibatkan kondisi bertambah buruk, dan timbul komplikasi.
Fungsi sosialisasi
Bagaimana interraksi atau hubungan dalam keluarga dan sejauh mana anggota
keluarga belajar disiplin, norma, tahu budaya dan perilaku.
Fungsi pemenuhan (perawatan atau pemeliharaan) kesehatan
a. Mengenal masalah kesehatan
b. Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan
c. Kemampuan merawat anggota keluarga yang sakit
d. Kemampuan keluarga memelihara atau memodifikasi lingkungan rumah yang
sehat
e. Kemampuan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan
Tingkat ekonomi yang rendah dapat mengakibatkan sulutnya pengobatan dan
pemenuhan gizi pada anak preschool, ketidakefektifnya keluarga dalam
mengunjungi pelayanan kesehatan yang ada.
Transportasi merupakan sarana yang penting dan sangat diperlukan agar penderita
mendapatkan pelayanan kesehatan dengan segera. Ketiadaan sarana transportasi

menjadikan masyarakat enggan berkunjung ke pelayanan kesehatan sehingga


kondisi akan semakin memburuk.
Fungsi religius
Anak sudah mengenal beberapa hal yang bersifat ritual misalnya berdoa.
Fungsi rekreasi
Menjelaskan kemampuan dan kegiatan keluarga untuk melakukan rekreasi secara
bersama baik diluar, maupun di dalam rumah.
Fungsi reproduksi
Mengkaji berapa jumlah anak, merencanakan jumlah anggota keluarga, metode apa
yang digunakan keluarga dalam mengendalikan jumlah anggoata keluarga.
Fungsi afeksi
Mengkaji gambaran diri keluarga, perasaan dimiliki dan memiliki keluarga,
dukungan
keluarga
terhadap
anggota
keluarga
lainnya
.
6. Stres dan koping keluarga
Stressor jangka pendek dan panjang
Yaitu stressor yang dialami keluarga dalam jangka waktu krang dari 6 bulan atau
lebih dari 6 bulan.
Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor
Mengkaji sejauh mana keluarga berespon terhadap situasi atau stressor.
Strategi koping yang digunakan
Strategi koping apa yang digunakan keluarga bila menghadapi permasalahan.
Strategi adaptasi disfungsional
Menjelaskan mengenai adaptasi disfungsional yang digunakan keluarga bila
menghadapi masalah.
7. Pemeriksaan kesehatan tiap individu anggota keluarga
Pemeriksaan fisik
o Tanda-tanda vital
Suhu badan : mengalami peningkatan
Nadi : cepat dan lemah
Pernafasan : frekuensi nafas meningkat
Tekanan darah : menurun
o Antropometri
Pemeriksaan antropometri meliputi berat badan, Tinggi badan, Lingkaran kepala,
lingkar lengan, dan lingkar perut. Pada anak dengan diare mengalami penurunan
berat badan.
o Pernafasan
Biasanya pernapasan agak cepat, bentuk dada normal, dan tidak ditemukan bunyi
nafas tambahan.

o Cardiovasculer
Biasanya tidak ditemukan adanya kelainan, denyut nadi cepat dan lemah.
o Pencernaan
Ditemukan gejala mual dan muntah, mukosa bibir dan mulut kering, peristaltik
usus meningkat, anoreksia, BAB lebih 3x dengan konsistensi encer
o Perkemihan
Volume diuresis menurun.
o Muskuloskeletal
Kelemahan fisik akibat output yang berlebihan
o Integumen
lecet pada sekitar anus, kulit teraba hangat, turgor kulit jelek
o Endokrin
Tidak ditemukan adanya kelaianan.
o Penginderaan
Mata cekung, Hidung, telinga tidak ada kelainan
o Reproduksi
Tidak mengalami kelainan.
o Neurologis
Dapat terjadi penurunan kesadaran.
Pengkajian (Anak Usia 3 Tahun)
o Keluhan Utama : Buang air berkali-kali dengan konsistensi encer
o Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada umumnya anak mengeluh buang air cair berkali-kali baik disertai atau tanpa
dengan muntah, tinja dapat bercampur lendir dan darah, keluhan lain yang
mungkin didapatkan adalah nafsu makan menurun, suhu badan meningkat, volume
diuresis menurun dan gejala penurunan kesadaran
o Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Meliputi pengkajian riwayat :
- Prenatal
- Natal
- Post natal
- Imunisasi
- Feeding
- Penyakit sebelumnya
- Alergi
- Obatobat terakhir yang didapat
- Tumbuh kembang
o Riwayat Psikososial

Anak sangat menyukai mainannya, anak sangat bergantung kepada kedua


orang tuanya dan sangat histeris jika dipisahkan dengan orang tuanya. Usia 3 tahun
(toddlers) sudah belajar bermain dengan teman sebaya.
o Aktivitas Sehari-Hari
Pada usia 3 tahun sudah diajarkan toilet training.
Pemeriksaan Tingkat Perkembangan
o Motorik Kasar
Sudah bisa naik/turun tangga tanpa dibantu, mamakai baju dengan bantuan, mulai
bisa bersepeda roda tiga.
o Motorik Halus
Menggambat lingkaran, mencuci tangan sendiri dan menggosok gigi
o Personal Sosial
Sudah belajar bermain dengan teman sebayanya.
8. Harapan keluarga
Diuraikan tentang masalah kesehatan dan harapan keluarga terhadap petugas
kesehatan.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan berlebihan melalui feses dan muntah
serta intake terbatas (mual).
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d gangguan absorbsi nutrien
dan peningkatan peristaltik usus.
3 Kecemasan keluarga b.d perubahan status kesehatan anaknya
4. Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan terapi b.d
pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau keterbatasan
kognitif.
1. SKALA PRIORITAS ASKEP KELUARGA
No
Kriteria
1
Sifat masalah
Tidak/kurang sehat
Ancaman kesehatan
Keadaan sejahtera
2
Kemungkinan masalah dapat diubah
Mudah
Sebagian
Tidak dapat
3
Potensi masalah untuk dicegah

Nilai

Bobot

3
2
1

2
1
0

Tinggi
Cukup
Rendah
Menonjolnya masalah
Masalah benar-benar harus segera di tangani

2
1

Ada masalah tetapi tidak segera di tangani

Masalah tidak dirasakan

2. JUMLAH SKOR SEMUA KRITERIA


No Dx
Kriteria
kep
1. Dx I
Satu
Dua
Tiga
Empat
2. Dx II
Satu
Dua
Tiga
Empat
3 Dx III
Satu
Dua
Tiga
Empat
4. Dx IV
Satu
Dua
Tiga
Empat

Nilai
2
1
2
2
2
1
1
2
2
1
3
2
2
1
1
0

Hasil
2 3/3 = 2

3 2/3

2 4/3

4/6

C. RENCANA KEPERAWATAN
Dx.1 : Kekurangan volume cairan b/d kehilangan berlebihan melalui feses dan
muntah serta intake terbatas (mual)
Tujuan
: Kebutuhan cairan akan terpenuhi dengan kriteria tidak ada tanda-tanda dehidrasi
Intervensi
1. Berikan cairan oral dan parenteral sesuai dengan program rehidrasi.
2. Pantau intake dan output.
3. Kaji tanda vital, tanda/gejala dehidrasi dan hasil pemeriksaan laboratorium
4. Kolaborasi pelaksanaan terapi definitif

Rasional
1. Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti cairan yang keluar bersama feses.
2. Memberikan informasi status keseimbangan cairan untuk menetapkan
kebutuhan cairan pengganti.
3. Menilai status hidrasi, elektrolit dan keseimbangan asam basa
4. Pemberian obat-obatan secara kausal penting setelah penyebab diare diketahui
Dx.2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi
nutrien dan peningkatan peristaltik usus.
Tujuan
: Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria terjadi peningkatan berat badan
Intervensi
1. Pertahankan tirah baring dan pembatasan aktivitas selama fase akut.
2. Pertahankan status puasa selama fase akut (sesuai program terapi) dan segera mulai
pemberian makanan per oral setelah kondisi klien mengizinkan.
3. Bantu pelaksanaan pemberian makanan sesuai dengan program diet
4. Kolaborasi pemberian nutrisi parenteral sesuai indikasi
Rasional
1. Menurunkan kebutuhan metabolic
2. Pembatasan diet per oral mungkin ditetapkan selama fase akut untuk menurunkan
peristaltik sehingga terjadi kekurangan nutrisi.
3. Pemberian makanan sesegera mungkin penting setelah keadaan klinis klien
memungkinkan.
4. Memenuhi kebutuhan nutrisi klien
5. Mengistirahatkan kerja gastrointestinal dan mengatasi/mencegah kekurangan
nutrisi lebih lanjut
Dx 3 : Kecemasan keluarga b.d perubahan status kesehatan anaknya
Tujuan
: Keluarga mengungkapkan kecemasan berkurang.
Intervensi
1. Dorong keluarga klien untuk membicarakan kecemasan dan berikan umpan balik
tentang mekanisme koping yang tepat.
2. Tekankan bahwa kecemasan adalah masalah yang umum terjadi pada orang tua
klien yang anaknya mengalami masalah yang sama
3. Ciptakan lingkungan yang tenang, tunjukkan sikap ramah tamah dan tulus dalam
membantu klien.
Rasional
1. Membantu mengidentifikasi penyebab kecemasan dan alternatif pemecahan
masalah
2. Membantu menurunkan stres dengan mengetahui bahwa klien bukan satusatunya orang yang mengalami masalah yang demikian.
3. Mengurangi rangsang eksternal yang dapat memicu peningkatan kecemasan

Dx.4 : Kurang pengetahuan keluarga tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan


terapi b/d pemaparan informasi terbatas, salah interpretasi informasi dan atau
keterbatasan kognitif.
Tujuan
: Keluarga akan mengerti tentang penyakit dan pengobatan anaknya, serta mampu
mendemonstrasikan perawatan anak di rumah.
Intervensi
1. Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan
tentang penyakit dan perawatan anaknya.
2. Jelaskan tentang proses penyakit anaknya, penyebab dan akibatnya terhadap
gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari.
3. Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian
serta efek samping yang mungkin timbul
4. Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi
Rasional
1. Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta latar
belakang pengetahuan sebelumnya.
2. Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi keluarga
klien dan keluarga dalam proses perawatan klien
3. Meningkatkan pemahaman dan partisipasi keluarga klien dalam pengobatan.
4. Meningkatkan kemandirian dan kontrol keluarga klien terhadap kebutuhan
perawatan diri anaknya

BAB IV
PENUTUP
1

Kesimpulan
Asuhan keperawatan keluarga merupakan salah satu bentuk dari asuhan
keperawatan yang bersifat komprehensip karena yang dikaji adalah semua anggota
keluarga dalam satu rumah. Asuhan keperawatan keluarga pada anak usia
prasekolah lebih mengkhususkan pengkajian pada anak usia prasekolah. Anak usia
prasekolah adalah usia yang rentan berbagai macam penyakit. Untuk itu
pengawasan pada anak usia prasekolah sangat penting agar anak tidak terkena
penyakit
2

Saran
Bagi mahasiswa, sebagai perawat nantinya bisa mengaplikasikan ilmu ini
atau menerapkannya dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga dengan baik
dan benar.

DAFTAR PUSTAKA
Murwani, Arita. 2008. Asuhan Keperawatan Keluarga : Konsep
dan Aplikasi Kasus Jogjakarta : Mitra Cendikia.
Jhonson L & Leny R. 2010. Keperawatan Keluarga: Plus Contoh Askep

Keluarga. Cetakan 1. Yogyakarta: Nuha Medika.


Setiadi. 2008. Konsep dan Proses KSeperawatan Keluarga. Edisi Pertama.
Yogyakarta:

Graha Ilmu.

Berhman, 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: EGC.


Depkes RI, (2006). Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang

Balita. Jakarta : Direktorat Bina Kesehatan Keluarga.