Anda di halaman 1dari 8

en

Oleh:
Luh Evi Aryantini
12
XI

DIARE
DEFINISI DIARE
Diare adalah peningkatan dalam frekwensi gerakangerakan usus atau pengurangan dalam bentuk tinja
(kelonggaran yang lebih besar dari tinja). Meskipun
perubahan-perubahan dalam frekwensi gerakangerakan usus dan kelonggara-kelonggaran tinja dapat
bervariasi dengan bebas dari satu sama lainnya,
perubahan-perubahan seringkali terjadi pada keduaduanya.

PENYEBAB DIARE
Diare bukanlah penyakit yang datang dengan
sendirinya. Biasanya ada yang menjadi pemicu
terjadinya diare. Secara umum, berikut ini beberapa
penyebab diare, yaitu:
1. Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit.
2. Alergi terhadap makanan atau obat tertentu.
3. Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti: Campak, Infeksi
telinga, Infeksi tenggorokan, Malaria, dll.
4. Pemanis buatan

CARA PENULARAN
Infeksi oleh agen penyebab terjadi bila makan makanan / air minum yang terkontaminasi tinja /
muntahan penderita diare. Penularan langsung juga dapat terjadi bila tangan tercemar
dipergunakan untuk menyuap makanan.

GEJALA DIARE
Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 x atau lebih dalam sehari,
yang kadang disertai:

Muntah
Badan lesu atau lemah

Panas
Tidak nafsu makan
Darah dan lendir dalam kotoran

Rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus.
Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan
nafsu makan atau kelesuan.
Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejal-gejala lain seperti flu
misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit
kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi.
Diare bisa menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit (misalnya natrium dan kalium),
sehingga bayi menjadi rewel atau terjadi gangguan irama jantung maupun perdarahan otak.
Diare seringkali disertai oleh dehidrasi (kekurangan cairan). Dehidrasi ringan hanya
menyebabkan bibir kering. Dehidrasi sedang menyebabkan kulit keriput, mata dan ubun-ubun
menjadi cekung (pada bayi yang berumur kurang dari 18 bulan). Dehidrasi berat bisa berakibat
fatal, biasanya menyebabkan syok.
PENATALAKSANAAN DIARE AKUT (TANPA DARAH)
Tujuan daripada pengobatan diare akut secara objektif ialah :

Mencegah dehidrasi, jika tidak ada tanda-tanda dehidrasi

Mengobati dehidrasi, jika ada

Mencegah kerusakan nutrisi, dengan memberi makanan selama dan setelah dehidrasi,dan

mengurangi durasi dan keparahan diare, dan timbulnya pada episode mendatang, dengan
memberikan suplemen zinc.

PENATALAKSANAAN PASIEN TERSANGKA KOLERA


Kolera dibedakan dengan diare akut penyebab lain dalam tiga cara:

Terjadi dalam wabah besar yang melibatkan anak-anak dan orang dewasa

Diare cair yang banyak, dengan cepat mengarah ke dehidrasi berat dengan syok
hipovolemik

Untuk kasus-kasus dehidrasi berat antibiotik yang tepat dapat mempersingkat durasi
penyakit.

PENATALAKSANAAN DIARE AKUT BERDARAH


Selain itu, mereka harus dirawat selama tiga hari dengan ciprofloxacin, atau selama lima
hari dengan antimikroba oral lainnya yang sensitif terhadap Shigella. Hal ini karena Shigella
menyebabkan episode diare berdarah pada anak-anak, dan hampir semua episode parah. Sangat
penting menentukan sensitivitas strain lokal Shigella, karena sering terjadi resistensi antimikroba
dan pola resistensi tidak dapat diprediksi. Antimikroba yang tidak efektif untuk pengobatan
Shigellosis, tidak boleh diberikan untuk mengobati Shigellosis. Baru-baru ini direkomendasikan
bahwa asam nalidixic tidak boleh lagi digunakan untuk pengelolaan infeksi Shigella.
Penatalaksanaan Diare Persisten
Diare dengan atau tanpa darah yang dimulai secara akut dan berlangsung selama paling
tidak 14 hari. Biasanya berhubungan dengan penurunan berat badan dan sering dengan infeksi
non intestinal. Diare persisten hampir tidak pernah terjadi pada anak yang diberi ASI eksklusif.
Anak-anak yang menderita diare persisten seringkali sudah malnutrisi sebelum diare.
Penatalaksanaan Diare Dengan Malnutrisi Berat
Status hidrasi sulit dinilai disebabkan sering tampak dalam keadaan yang normal. Turgor
kulit muncul pada anak-anak dengan marasmus yang tidak memiliki lemak subkutan, mata
tampak cekung. hilangnya turgor kulit dapat ditutupi oleh edema pada anak kwashiorkor.
Sehingga tanda-tanda yang dapat dinilai ialah : kemauan untuk minum, lesu, kedinginan, dan
kelembaban ekstrimitas, kelemahan dari a. radialis, dan urin output yang sedikit (tanda dehidrasi
berat). Pada anak dengan malnutrisi berat sering tidak mungkin untuk membedakan antar
dehidrasi sedang dan berat.

PENCEGAHAN DIARE SECARA EFEKTIF


Pencegahan diare merupakan salah satu upaya yang baik dilakukan untuk menghindari gejala
diare secara efektif. Cuci tangan terutama saat ingin makan atau aktivitas lain merupakan upaya
pencegahan diare agar virus tidak menyebar.

Untuk pencegahan diare yang disebabkan oleh makanan yang tercemar dapat dilakukan
beberapa cara, antara lain :

Sajikan makanan dimasak atau dipanaskan. Jika belum diolah dinginkan makanan dalam
kulkas. Membiarkan makanan pada suhu kamar dapat mendorong pertumbuhan bakteri
sehingga dapat dilakukan pencegahan diare.
Cuci permukaan alat atau perkakas untuk menghindari penyebaran kuman dari satu
tempat ke tempat yang lain.

Selain dari orang ke orang dalam suatu lingkungan, pencegahan diare juga sangat penting dari
Negara ke Negara sehingga mencegah penyebaran endemic. Diare biasanya mempengaruhi
orang-orang yang bepergian ke negara-negara berkembang, di mana kadang-kadang diare karena
sanitasi yang tidak memadai makanan dan air yang terkontaminasi. Untuk mengurangi resiko
perhatikan apa sanitasi, makanan dan minuman.

TYPHUS ABDOMINALIS ATAU DEMAM


DEFINISI
Typhus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang ditandai dengan bakterimia, perubahan
pada system Retikulo endothelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulseri nodus
peyer distal ileum. Penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi dengan
masa tunas 6-14 hari.

PENYEBAB
Penyebab dari Thypus Abdominalis itu adalah kuman Salmonella Thyposa.

PENULARAN
Cara Penularan Penyakit Typhus Abdominalis. Media penularan:
A. Kuman tipes masuk/ menular melalui mulut dengan makanan atau minuman yang

tercemar.
B. Pencemaran kuman tipes dapat terjadi :Dengan perantaraan lalat. Melalui aliran sungai.
PENYEBARAN KUMAN
Demam tifoid adalah penyakit yang penyebarannya melalui saluran cerna (mulut, esofagus,
lambung, usus 12 jari, usus halus, usus besar, dstnya). S typhi masuk ke tubuh manusia bersama
bahan makanan atau minuman yang tercemar. Cara penyebarannya melalui muntahan, urin, dan
kotoran dari penderita yang kemudian secara pasif terbawa oleh lalat (kaki-kaki lalat). Lalat itu
mengontaminasi makanan, minuman, sayuran, maupun buah-buahan segar. Saat kuman masuk ke
saluran pencernaan manusia, sebagian kuman mati oleh asam lambung dan sebagian kuman masuk
ke usus halus.
Dari usus halus itulah kuman beraksi sehingga bisa menjebol usus halus. Setelah berhasil
melampaui usus halus, kuman masuk ke kelenjar getah bening, ke pembuluh darah, dan ke seluruh
tubuh (terutama pada organ hati, empedu, dan lain-lain). Jika demikian keadaannya, kotoran dan air
seni penderita bisa mengandung kuman S typhi yang siap menginfeksi manusia lain melalui
makanan atau pun minuman yang dicemari. Pada penderita yang tergolong carrier (pengidap kuman
ini namun tidak menampakkan gejala sakit), kuman Salmonella bisa ada terus menerus di kotoran
dan air seni sampai bertahun-tahun. S. thypi hanya berumah di dalam tubuh manusia. Oleh kerana
itu, demam tifoid sering ditemui di tempat-tempat di mana penduduknya kurang mengamalkan
membasuh tangan manakala airnya mungkin tercemar dengan sisa kumbahan.
Sekali bakteria S. thypi dimakan atau diminum, ia akan membahagi dan merebak ke dalam saluran
darah dan badan akan bertindak balas dengan menunjukkan beberapa gejala seperti demam.

Pembuangan najis di merata-rata tempat dan hinggapan lalat (lipas dan tikus) yang akan
menyebabkan demam tifoid.

GEJALA KLINIS

Demam > 7 hari, terutama pada malam hari, dan tidak spesifik

Gangguan saluran pencernaan: nyeri perut, sembelit/diare, muntah

Dapat ditemukan: lidah kotor, splenomegali, hepatomegali

Gangguan kesadaran : iritabel-delirium, apati sampai semi-koma

Bradikardi relatif, Rose-spots, epistaksis (jarang ditemukan)

Laboratorium : titer Widal 1/200 atau lebih atau 1/320 pada pemeriksaan ulangan dan
klinis. Diagnosa pasti dengan kultur. Titer aglutinin bisa tetap positip setelah beberapa
minggu, bulan bahkan tahun, walau penderita sudah sehat. Kadang leukositosis, kadang
leukopeni

PENATALAKSANAAN

Bed rest total (tirah baring absolut) sampai minimal 7 hari bebas panas atau selama 14
hari, lalu mobilisasi secara bertahap -> duduk -> berdiri -> jalan pada 7 hari bebas panas
Diet tetap makan nasi, tinggi kalori dan protein (rendah serat) -> lihat Buku Ajar Penyakit
Dalam jilid 1, edisi 3 cetakan ke 7, halaman 439, PAPDI, tahun 2004
Medikamentosa:
1. Antipiretik (Parasetamol setiap 4-6 jam)
2. Roborantia (Becom-C, dll)
3. Antibiotika:
Kloramfenikol, Thiamfenikol : 4500 mg, jika sampai 7 hari panas tidak
turun (obat diganti)
Amoksilin/ampisilin : 1 gr/6 jam selama fase demam. Bila demam turun > 750 mg/6 jam sampai 7 hari bebas panas
Kotrimoksasol : 2 X 960 mg Selama 14 hari atau sampai 7 hari bebas
panas. Jika terjadi leukopeni (obat diganti)
Golongan sefalospurin generasi III (mahal)
Golongan quinolon (bila ada MDR)

PENCEGAHAN

Cara mencegah penularan penyakit Typhus Abdominalis. Untuk menghindari penyakit ini ada baiknya
dilakukan upaya pencegahan meliputi :

I.

LINGKUNGAN HIDUP

II.

Sediakan air minum yang memenuhi syarat. Misalnya, diambil dari tempat yang
higienis, seperti sumur dan produk minuman yang terjamin. Jangan gunakan air
yang sudah tercemar. Jangan lupa, masak air terlebih dulu hingga mendidih (100
derajat C).
Pembuangan kotoran manusia harus pada tempatnya. Juga jangan pernah
membuangnya secara sembarangan sehingga mengundang lalat karena lalat akan
membawa bakteri Salmonella typhi. Terutama ke makanan.
Bila di rumah banyak lalat, basmi hingga tuntas.

DIRI SENDIRI

Lakukan vaksinasi terhadap seluruh keluarga. Vaksinasi dapat mencegah kuman


masuk dan berkembang biak. Saat ini pencegahan terhadap kuman Salmonella
sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid)
atau tipa (tifoid-paratifoid). Untuk anak usia 2 tahun yang masih rentan, bisa juga
divaksinasi.
Menemukan dan mengawasi pengidap kuman (carrier). Pengawasan diperlukan
agar dia tidak lengah terhadap kuman yang dibawanya. Sebab jika dia lengah,
sewaktu-waktu penyakitnya akan kambuh.
Vaksinasi dengan menggunakan vaksin T.A.B (mengandung basil tifoid dan
paratifoid A dan B yang dimatikan ) yang diberikan subkutan 2 atau 3 kali
pemberian dengan interval 10 hari merupakan tindakan yang praktis untuk
mencegah penularan demam tifoid Jumlah kasus penyakit itu di Indonesia cukup
tinggi, yaitu sekitar 358-810 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Suntikan
imunisasi tifoid boleh dilakukan setiap dua tahun manakala vaksin oral diambil
setiap lima tahun. Bagaimanapun, vaksinasi tidak memberikan jaminan
perlindungan 100 peratus.