Anda di halaman 1dari 2

.

Standarisasi adalah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan dan merevisi standar, yang
dilaksanakan secara tertib dan bekerjasama dengan semua pihak (PP 102)
Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tatacara dan metode yang
disusun berdasarkan Konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat
keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
serta pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan dating untuk memperoleh manfaat
yang sebesar-besarnya (No. 102 tahun 2000).
Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah standar yang ditetapkan oleh Badan Standarisasi Nasional dan
berlaku secara Nasional (PP 102).
Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) adalah rancangan standar yang dirumuskan oleh panitia
teknis setelah tercapai consensus dari semua pihak yang terkait (PP 102).
CONTOH STANDAR PRODUK OTOMOTIF
Helm pengendara bermotor roda dua
No SNI

: SNI 1811-2007

Abstraksi

Standar ini menetapkan spesifikasi teknis untuk helm pelingdung yang digunakan oleh
pengendara dan penumpang kendaraan bermotor roda dua, meliputi klasifikasi helm standar terbuka
(open face) dan helm standar tertutup full (full face). Syarat mutu meliputi persyaratan umum (material
dan konstruksi) dan syarat unjuk kerja.
Untuk persyaratan material, bahan helm harus memenuhi ketentuan sebagai berikut: dibuat
dari bahan yang kuat dan bukan logam, tidak berubah jika ditempatkan di ruang terbuka pada suhu 0 o
Celcius sampai 550 celcius selama paling sedikit 4 jam dan tidak terpengaruh oleh radiasi ultra violet,
serta harus tahan dari akibat pengaruh bensin, minyak, sabun, air, deterjen dan pembersih lainnya.
Bahan pelengkap helm harus tahan lapuk, tahan air dan tidak dapat terpengaruh oleh perubahan suhu.
Bahan-bahan yang bersentuhan dengan tubuh tidak boleh terbuat dari bahan yang dapat menyebabkan
iritasi atau penyakit pada kulit, tidak mengurangi kekuatan terhadap benturan maupun perubahan fisik
sebagai akibat dari bersentuhan langsung dengan keringat, minyak dan lemak si pemakai.
Konstruksi helm harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: harus terdiri dari tempurung
yang keras dengan permukaan halus, lapisan peredam benturan dan tali pengikat ke dagu, tinggi helm
sekurang-kurangnya 114 milimeter diukur dari puncak helm ke bidang utama yaitu bidang horizontal
yang melalui lubang telinga dan bagian bawah dari dudukan bola mata, dan keliling lingkaran bagian
dalam helm berkisar antara 500 mm 620 mm (berdasarkan kisaran ukuran S, M, L, XL). Syarat untuk
kerja terdiri dari sungkup, sistem penahan, ketahanan impak miring, dan pelindung dagu. Cara uji
meliputi uji penyerapan kejut, uji penetrasi, uji efektifitas sistem penaan, uji kekuatan sistem penahan

dengan tali pemegang, uji untuk pergeseran tali pemegang, uji ketahanan terhadap keausan dari tali
pemegang, uji impak miring, uji pelingdung dagu dan uji sifat mudah terbakar.
Helm dinyatakan lulus uji apabila memenuhi semua persyaratan pada pasal 4 yang terangkum
pada tabel 5. Syarat unjuk kerja helm. Pada produk dan kemasan sekurang-kurangnya harus
dicantumkan: merk atau logo, nama perusahaan, tipe/model, dan ukuran.